Senin, 04 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 033-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 033-02*

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Cairan itulah yang seharusnya ditawarkan. Lihat, tanah yang kita naikkan dari lubang yang kita gali itu berpengaruh pula pada tetumbuhan.”

“Apakah yang dapat kita lakukan?“ bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun sebelum ia menjawab, mereka berempat dikejutkan oleh suara tertawa yang melingkar-lingkar di pategalan itu.

Keempat orang itu tidak tergesa-gesa berbuat sesuatu. Mereka memusatkan indra mereka untuk mengetahui arah suara yang menggetarkan dada mereka.

“Jangan menyerah,“ bisik Mahisa Murti kepada Mahisa Ura yang masih saja merasa dirinya terlalu kecil di antara mereka berempat. “Kau mempunyai kemampuan yang cukup untuk mempertahankan dirimu.”

Mahisa Ura tersentuh oleh kata-kata itu. Ketika mula-mula ia mendengar suara tertawa itu, hatinya sudah mulai kecut. Sehingga dengan demikian maka pertahanannya pun menjadi goyah sebelum terbentur oleh kekuatan yang sebenarnya.

Kata-kata Mahisa Murti itu seolah-olah telah mendorong kekuatan yang besar ke dalam dirinya, sehingga iapun kemudian telah menghentakkan kekuatan di dalam tubuhnya. Mengerahkan daya tahannya untuk melawan suara tertawa yang mengguncang isi dadanya itu.

Ternyata bahwa Mahisa Ura berhasil mengerahkan tenaga cadangan di dalam dirinya untuk meningkatkan daya tahannya, sehingga suara tertawa yang menghentak-hentak itu tidak merontokkan isi dadanya.

Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu tidak segera berbuat sesuatu meskipun mereka berada dalam kesiagaan tertinggi. Namun mereka masih tetap duduk di tempatnya.

Meskipun demikian, mereka perlahan-lahan berhasil menangkap getaran arah suara tertawa itu. Meskipun suaranya seakan-akan masih tetap melingkar-lingkar, namun keempat orang itu sama sekali tidak lagi menjadi kebingungan. Mereka mampu bertahan dari hentakkan suara tertawa yang mengetuk-ngetuk jantung itu dan bahkan telah mengetahui arah sumbernya.

Justru karena itu, maka Tatas Lintang pun sama sekali tidak menunjukkan perhatiannya, ia masih saja duduk dan bahkan seakan-akan ia tidak mendengar sesuatu.

Untuk beberapa saat kemudian, suara itu masih tetap menggetarkan udara pategalan itu. Bahkan semakin keras. Tetapi keempat orang itu seakan-akan tidak terpengaruh sama sekali oleh suara itu. Mereka masih duduk tanpa bergeser sama sekali.

“Bukan main,“ terdengar suara itu berubah nadanya. Bukan lagi suara tertawa, “Kalian memang orang-orang berilmu sangat tinggi.”

Tatas Lintang berpaling ke arah sumber suara yang sudah diketahuinya itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya dengan suara wajar, “Marilah Ki Sanak. Silahkan duduk bersama kami. Kami sedang menunggu kiriman makanan dan minuman hangat dari rumah pemilik pategalan ini.”

Sejenak tidak terdengar sesuatu. Namun kemudian terdengar suara yang menggetarkan jantung itu, “Ki Sanak memang merendahkan diri. Kenapa Ki Sanak tidak membalas?”

“Membalas apa?“ Tatas Lintang masih tetap mempergunakan suara wajarnya. “Aku tidak merasa mendapat serangan dari siapapun dan serangan macam apapun. Entahlah jika serangan itu terlalu lemah sehingga aku tidak merasakannya. Atau daya tahan kami terlalu tinggi dibanding dengan serangan itu.”

“Gila,“ terdengar geram yang menggetarkan udara, “ternyata kalian bukannya orang yang rendah hati sebagaimana aku duga. Tetapi kalian ternyata seorang yang sangat sombong. Mungkin demikian pula orang-orang lain yang bersamamu itu?”

“Ki Sanak,“ berkata Tatas Lintang kemudian, “kemarilah. Duduklah. Kita dapat berbicara dengan baik. Apakah sebenarnya keperluan kalian. Agaknya kalian bukan sekedar datang hari ini. Sebelumnya kalian telah berulang kali datang dengan cara yang berbeda-beda.”

“Mungkin kau benar Ki Sanak. Aku memang mempunyai kepentingan dengan kalian. Kalian telah membuat kami merasa terganggu. Untuk apa sebenarnya kalian berkeliaran di tempat ini?”

“Kenapa kau merasa terganggu Ki Sanak?“ Tatas Lintang justru bertanya, “bukankah kami tidak pernah mengganggumu? Bahkan kami pun masih akan bertanya, siapakah kau sebenarnya?”

“Jangan berpura-pura Ki Sanak,“ berkata suara itu, “aku kira permainanku selama ini sudah cukup baik. Namun kalian sama sekali tidak merasa gentar karenanya. Aku sudah mengirimkan beberapa ekor harimau dan bahkan sempat menakut-nakuti padukuhan ini. Demikian pula dengan beberapa ekor ular dan permainan racunku hari ini. Kalian sama sekali tidak terusik karenanya. Karena itu, maka sekarang kami tidak akan mempergunakan binatang-binatang apapun juga, tetapi kami ingin langsung berbicara dan memberikan beberapa peringatan langsung kepada kalian.”

“Oo, begitu,“ bertanya Tatas Lintang, “karena itu silahkan Ki Sanak. Kita berbicara dengan wajar.”

Tidak terdengar jawaban. Namun tiba-tiba terasa angin yang semilir bertiup di pategalan itu. Kemudian terasa sesuatu yang kurang wajar pada diri keempat orang yang tersentuh angin yang semakin sejuk itu.

Tatas Lintang yang tertua di antara mereka dan memiliki pengalaman terbanyak tiba-tiba saja berdesis perlahan, “berhati-hatilah. Sesuatu tengah menyerang kita. Lebih dahsyat dari suara tertawa itu. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, bentuk ilmu apa lagi yang dipergunakannya.”

Mereka berempat kemudian telah berusaha untuk bertahan. Sementara itu Tatas Lintang berbisik, “Sasarannya bukan wadag kita. Tetapi ketahanan jiwa kita. Berhati-hatilah.”

Keempat orang itupun menjadi semakin dalam memusatkan nalar budi mereka. Apalagi ketika kemudian mereka seakan-akan merasakan angin pusaran yang membelit udara di sekitar tempat mereka duduk. Tidak terlalu besar, tetapi pengaruhnya terasa sekali menusuk ke dada.

Keempat orang itupun bertahan dengan sekuat-kuatnya Mereka berusaha menolak getaran yang seakan-akan menusuk nusuk berusaha menyusup ke dalam diri mereka. Justru ke dalam pribadi mereka.

Tatas Lintang yang duduk sambil menyilangkan tangannya di dadanya, merasa sesuatu bergejolak di dalam dirinya. Terasa seakan-akan kesadarannya mulai dibayangi oleh kabut tebal. Kemudian seolah-olah paruh dari angin pusaran itu telah mematuk ubun-ubunnya menyusup ke dalam dirinya. Demikian cepatnya pusaran itu berputar seakan-akan mempunyai kekuatan menghisap yang sulit dilawan. Kesadarannya serasa mulai goyah, terhisap oleh angin pusaran yang berputar di atas ubun-ubunnya yang paruhnya menyusup ke dalam dirinya itu.

Tatas Lintang harus mengerahkan segenap kekuatan jiwani untuk melawan hisapan yang sangat besar terhadap kesadarannya itu. Kekuatan pribadinya ternyata mampu mengatasinya sehingga kesadarannya masih tetap utuh di dalam dirinya, ia tetap menyadari apa yang terjadi. Sehingga karena itu, ketika terjadi kekuatan lain dari pusaran di atas ubun-ubun itu, Tatas Lintang masih tetap siap untuk melawan.

Karena sejenak kemudian, tidak lagi terasa kekuatan yang menghisap itu. Tetapi justru sebaliknya. Ada kekuatan yang berusaha memasuki pribadinya, mempengaruhi penalarannya. Sesaat terjadi kegoncangan di dalam diri Tatas Lintang. Namun sekali terjadi kegoncangan di dalam diri Tatas Lintang. Namun sekali lagi kekuatan pribadinya mampu mengatasinya, sehingga Tatas Lintang masih tetap berdiri di atas kesadaran dan pribadinya.

Demikian pula terjadi atas Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura. Mereka masih belum berpengalaman sebanyak Tatas Lintang. Namun mereka pun berusaha untuk melawan, justru karena Tatas Lintang telah memperingatkan mereka.

Dengan menghentakkan kekuatannya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha mempertahankan kesadarannya. Mereka sudah terlatih untuk pemusatan nalar budinya dalam pengerahan ilmu puncak. Karena itu, maka mereka pun seakan-akan mampu menutup dirinya sehingga kesadarannya tidak terhisap. Demikian pula ketika terjadi sebaliknya, ketika kekuatan yang tidak dikenal seolah-olah menyusup ke dalam diri dan pribadi mereka.

Untuk mempertahankan pemusatan nalar budinya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tanpa berjanji telah bersama-sama mempergunakan kemampuannya dalam pemusatan kekuatan ilmu puncaknya, meskipun ilmu itu tidak akan dilontarkannya.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berhasil. Meskipun mereka masih muda tetapi kekuatan pribadi mereka ternyata mampu mengatasi kesulitan yang timbul karena paruh pusaran yang seakan-akan menusuk menyusup ke dalam diri mereka. Landasan ilmu dan tempaan lahir batin yang pernah mereka alami, ternyata sangat membantu keduanya mengatasi kekuatan yang berusaha menyusup ke dalam pribadi mereka.

Yang mengalami kesulitan adalah Mahisa Ura. Ketika ujung pusaran itu menyusup menusuk ke dalam ubun-ubunnya, menghisap kesadarannya, Mahisa Ura telah mengalami kesulitan itu. Betapapun ia bertahan, namun agaknya ia tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mempertahankannya. Karena itulah, maka perlahan-lahan kesadarannya mulai goncang. Terasa yang kemudian berputar bukan saja udara di atas ubun-ubunnya tetapi dirinya pun seakan-akan telah hanyut pula oleh arus angin pusaran itu. Pengalamannya atas dirinya dan lingkungannya mulai kabur, sehingga akhirnya iapun merasa telah terlepas dari dirinya sendiri, pada saat kesadarannya benar-benar telah hilang.

Itulah sebabnya Mahisa Ura tidak mampu melawan kekuatan yang masuk menyusup ke dalam dirinya. Mahisa Ura sama sekali tidak tahu, apa yang dilakukannya. Ia benar-benar telah kehilangan kesadaran dan kepribadiannya.

Sejenak kemudian terdengar Mahisa Ura itupun menggeram. Kemudian terdengar iapun telah tertawa perlahan-lahan. Semakin lama menjadi semakin keras.

Berbareng dengan itu, maka angin pusaran yang memutar udara di pategalan itupun mulai susut, dan akhirnya lenyap sama sekali. Pusaran-pusaran kecil yang menyerang setiap pribadi dari keempat orang itupun telah lenyap.

Tatas Lintang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai melepaskan diri dari pemusatan nalar budinya. Namun mereka-pun telah dikejutkan oleh suara tertawa Mahisa Ura yang hanya beberapa langkah saja dari mereka.

Tatas Lintang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meloncat bangkit dan bergeser mundur. Mereka memandang tingkah laku Mahisa Ura dengan heran.

Mahisa Ura yang juga sudah berdiri tegak itu masih saja tertawa. Namun tiba-tiba saja suara tertawanya telah berhenti. Dengan tajam Mahisa Ura itupun memandang ketiga orang yang berdiri di depannya itu berganti-ganti. Bahkan tatapan dan sorot matanya yang aneh itu membuat ketiga orang itu seakan-akan tidak dapat mengenalinya lagi.

“Mahisa Ura,“ desis Mahisa Murti.

Mahisa Ura memandanginya. Tetapi tiba-tiba saja iapun menggeram sambil bergeser maju.

Mahisa Murti justru bergeser surut, ia melihat ketidakwajaran pada Mahisa Ura. Sementara itu Mahisa Pukat pun telah memanggilnya, “Mahisa Ura, kenapa kau ?”

Mahisa Ura berpaling ke arah Mahisa Pukat. Sejenak ia memandang dengan sorot yang menyala. Namun tiba-tiba saja Mahisa Ura telah menerkamnya dengan garangnya. Kedua tangannya teracu ke depan dengan jari-jari yang mengembang.

“Pukat, “ teriak Mahisa Murti memperingatkan saudaranya.

Untunglah Mahisa Pukat bergerak cepat. Dengan tangkas ia meloncat ke samping. Hampir saja jari-jari Mahisa Ura berhasil menyambar keningnya. Sementara itu jantungnya menjadi berdebaran.

“Apa yang terjadi pada dirinya,“ Mahisa Pukat hampir berteriak pula.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Tatas Lintang menjadi sangat tegang. Sementara itu Mahisa Ura memandang mereka berganti-ganti dengan tatapan mata yang liar.

Dengan nada dalam dan bagaikan gaung di relung goa yang dalam terdengar Mahisa Ura berkata, “Marilah. Aku tantang kalian bertiga. Aku tidak lagi mempergunakan binatang yang dungu untuk melawan kalian. Kini lawan aku. Aku datang langsung kepada kalian.”

Tatas Lintang menggeram. Kemarahannya memuncak sampai ke ubun-ubun. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau licik. Licik sekali. Kau pergunakan wadag salah seorang di antara kami.”

Mahisa Ura itu tertawa. Namun suara tertawa itu memang bukan suara Mahisa Ura sendiri.

Di sela-sela derai suara tertawanya yang bergema di seluruh pategalan itu, terdengar ia berkata dengan suara yang bergulung-gulung, “Siapa yang licik he? Salah kalian sendiri. Seorang di antara kalian ternyata tidak mampu mempertahankan dirinya, sehingga ia memberi kesempatan dan bahkan bersedia membantuku membunuh kalian.”

Tatas Lintang bergeser selangkah surut ketika wadag Mahisa Ura yang telah kehilangan kepribadiannya itu bergeser mendekatinya.

Dalam pada itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Tatas Lintang telah mengetahui dengan pasti, apakah yang terjadi. Namun mereka dihadapkan pada satu keadaan yang sulit. Tubuh yang mereka hadapi adalah tubuh Mahisa Ura. Jika mereka melawan langsung dalam benturan ilmu, maka jika terjadi sesuatu atas lawannya itu, maka wadag Mahisa Ura lah yang akan menderita. Jika mereka berusaha membunuh lawannya, maka wadag itulah yang rusak, dan Mahisa Ura pun terbunuh pula, sementara pribadi yang menguasai seluruh pribadi Mahisa Ura itu dapat meloncat meninggalkan wadag itu.

“Ayo,“ terdengar gaung suara Mahisa Ura, “siapakah yang akan mati lebih dahulu, atau kalian akan membunuh aku? Marilah. Majulah bertiga.”

Tatas Lintang lah yang menjawab, “Kenapa kau begitu pengecut, licik dan tidak tahu diri? Kenapa kau tidak mencoba untuk bertempur dengan jantan. Barangkali kau tidak berani menghadapi kami berempat. Ada banyak cara dapat kau tempuh. Kau dapat memanggil kawan-kawanmu di padepokanmu. Bukankah kau mempunyai banyak pengikut? Jika tidak ada orang yang memiliki kemampuan yang kau anggap cukup, kau dapat menantang kami perang tanding. Kau dapat memilih seorang di antara kami bertiga.”

“Aku sudah memilih dan aku sudah mengalahkannya. Anggaplah kawanmu yang seorang ini sudah mati. Karena itu jangan segan-segan bertempur. Nanti, dalam keadaan letih, aku akan dapat mengambil seorang yang lain di antara kalian dan mempergunakannya pula, sehingga akhirnya, jika kalian bersisa dua orang, akan terjadi perang tanding yang seru dan menarik.“ berkata mulut Mahisa Ura itu.

Tatas Lintang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi bingung. Mereka tidak segera dapat menemukan jalan untuk mengatasinya.

Namun sementara itu wadag Mahisa Ura itupun tertawa semakin keras. Dan tiba-tiba saja tubuh itu telah melenting menyerang Tatas Lintang.

Serangan itu datang begitu cepat. Namun Tatas Lintang-pun memiliki kemampuan yang sangat besar sehingga ia mampu mengelakkan serangan itu.

Namun tubuh itupun segera meloncat menyerang Mahisa Murti. Seperti Tatas Lintang, maka Mahisa Murti pun hanya dapat mengelakkan dirinya tanpa berusaha untuk menyerang kembali. Demikian pula Mahisa Pukat meskipun sambil mengumpat dengan sangat marah.

Wadag Mahisa Ura itu tertawa pula. Katanya, “Kenapa kalian tidak membalas menyerangku. Kau takut tubuh ini menjadi rusak? Sudah aku katakan, anggap saja seorang kawanmu ini telah terbunuh. Jika tidak demikian, maka akulah yang akan membunuh kalian bertiga. Cara ini memang menyenangkan sekali.”

“Gila,“ geram Tatas Lintang. Namun iapun terdiam ketika wadag Mahisa Ura itu telah menyerang pula.

Meskipun Tatas Lintang masih dapat mengelakkan diri, tetapi sambaran angin yang dihentakkan oleh ayunan serangan tubuh Mahisa Ura itu memberikan isyarat kepadanya, bahwa lawannya itu memang mempunyai kekuatan yang besar sekali.

Ternyata seseorang yang telah mempergunakan wadag Mahisa Ura itupun telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan tangkasnya ia berloncat menyerang ketiga orang lawannya bergantian, sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Tatas Lintang masih menjaga agar mereka tidak menyakiti tubuh Mahisa Ura yang telah dipergunakan oleh lawannya itu.

Karena itu, maka pertempuran pun menjadi berat sebelah. Dengan tangkasnya wadag Mahisa Ura itu menyerang tanpa takut mendapat serangan balasan. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Tatas Lintang pun hanya berloncatan menghindar.

Namun bagaimanapun juga ketiga orang itu menjaga diri untuk tidak menyakiti apalagi melukai wadag Mahisa Ura, namun sekali-sekali dalam keadaan yang sulit, mereka tidak sempat untuk mengelak, sehingga mereka harus menangkis serangan-serangan yang datang bahkan beruntun.

Mahisa Pukat yang terdesak ke sudut pategalan, terpaksa membentur serangan lawannya. Keduanya terdorong selangkah surut, sehingga Mahisa Pukat membentur pagar.

Namun dalam keadaan yang demikian lawannya berkata, “Bagus. Kau telah menyakiti tubuh saudaramu he? Aku berharap agar kau melakukannya sekali lagi dan sekali lagi.”

Mahisa Pukat menggeram, ia berada dalam keadaan yang serba sulit sebagaimana Mahisa Murti dan Tatas Lintang. Yang akan dilakukan kemudian adalah sekedar melepaskan diri dari tempat yang hampir terkurung.

Tetapi lawannya agaknya tidak memberinya kesempatan. Dengan hati-hati wadag Mahisa Ura itu maju. Bukan karena ia takut mengalami serangan. Tetapi ia menjaga agar Mahisa Pukat tidak dapat terlepas. Dengan demikian maka Mahisa Pukat itu akan terpaksa melawan dan menyakiti tubuh Mahisa Ura. Demikian juga jika kedua orang yang lain ingin menolongnya.

Karena itu, sambil tertawa lawannya itu berkata, “kau akan terjebak di sudut pategalan. Aku akan menyerangmu, membunuhmu dan mencincangmu menjadi sewalang-walang. Melawan lah agar kau tidak mati. Biarlah tubuh ini sajalah yang mati dan hancur sama sekali. Sebaiknya kedua orang saudaramu yang lain itu berusaha menolongmu.”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Ia memang tidak melihat jalan keluar selain melakukan perlawanan dengan membenturkan ilmu mereka. Namun dengan demikian, tubuh Mahisa Ura itu memang akan dapat menjadi cidera. Jika orang itu meninggalkannya dan membiarkan pribadi Mahisa Ura kembali, maka Mahisa Ura itu akan berada dalam keadaan yang gawat.

Mahisa Murti dan Tatas Lintang pun menjadi bingung pula. Mereka mengerti apa yang mungkin terjadi.

Namun mereka tidak segera menemukan jalan untuk membantu membebaskan Mahisa Pukat. Sedangkan Mahisa Murti menjadi semakin cemas karena ia mengenal watak dan tabiat Mahisa Pukat. Pada saat yang terjepit, kadang-kadang ia tidak berpikir terlalu panjang. Sehingga menurut dugaan Mahisa Murti. Mahisa Pukat yang marah akan dapat berbuat sesuatu yang membahayakan tubuh Mahisa Ura.

Sementara itu tubuh Mahisa Ura yang berada di bawah pengaruh lawan itu maju lagi selangkah sambil memperdengarkan suara tertawa yang menjengkelkan.

Tetapi pada saat yang demikian, Tatas Lintang harus bertindak. Dengan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Tatas Lintang telah mencoba menyerang. Diacukannya tangannya serta dikembangkannya telapak tangannya. Seberkas sinar memancar dari telapak tangannya itu menyambar tanah sejengkal dari tempat Mahisa Ura berpijak.

Serangan yang tiba-tiba itu ternyata memang mengejutkan. Tanah yang dikenai serangan itu bagaikan meledak. Dan ledakan itu telah membuat pribadi yang mempengaruhi wadag Mahisa Ura itu terkejut pula dan dengan gerak naluriah meloncat ke samping.

Mahisa Pukat ternyata mampu menanggapi peristiwa itu. Pada saat wadag Mahisa Ura itu melenting ke samping, maka Mahisa Pukat pun telah mempergunakan kesempatan itu, meloncat, melepaskan diri dari keadaan yang tidak menguntungkannya. Menjauhi sudut pategalan itu.

Namun demikian Mahisa Pukat benar-benar menjadi marah sehingga tubuhnya bergetar. Justru karena ia tidak mendapat kesempatan untuk melawan.

“Gila,“ geram Mahisa Pukat, “licik, pengecut. Pergunakan wadagmu sendiri. Kita berperang tanding.”

Tetapi orang yang telah berhasil mempengaruhi pribadi Mahisa Ura itupun menjadi marah juga. Ternyata ia telah dapat dikejutkan oleh lawannya sehingga Mahisa Pukat sempat melepaskan dirinya tanpa harus benar-benar membenturkan ilmunya, sehingga wadag yang dipergunakannya itu mengalami cidera.

“Baiklah,“ geram orang itu, “kau berhasil melepaskan dirimu. Tetapi keadaan yang serupa akan terulang kembali, justru karena kalian tidak berani melawan aku. Mungkin kau mungkin kau dan mungkin kau.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Memang sulit untuk melawan seorang yang licik seperti kau. Tetapi baiklah. Jika memang terpaksa, apa boleh buat. Mungkin aku atau kedua kemanakanku yang lain akan menyakiti wadag yang kau pergunakan. Tetapi aku pun yakin, bahwa aku akan dapat mengobatinya.”

“Omong kosong,“ geram orang itu, “jika tubuh ini sudah berada pada tataran mati, tidak seorang pun akan dapat mengobatinya. Aku akan meninggalkannya, dan tubuh ini akan terkapar dengan darah yang membeku. Apa yang akan kau lakukan?”

Tatas Lintang hanya dapat mengumpat di dalam hati. Yang dikatakan orang itu memang benar. Sementara itu, ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Sejenak kemudian, maka tubuh Mahisa Ura itupun telah kembali berloncatan menyerang ketiga orang lawannya. Suara tertawa berderai mengiringi geraknya yang cepat cekatan.

Untunglah ketiga lawannya memiliki kemampuan bergerak yang melampaui kebanyakan orang, sehingga karena itu, mereka sempat menghindari serangan-serangan itu.

“Ayo,“ berkata Mahisa Ura di bawah ketidak sadaran pribadinya sendiri, “sampai kapan kalian mampu berloncatan, berlari-lari dan menghindari serangan-seranganku he?”

Tidak ada jawaban, sementara mereka masih saja berkejar-kejaran di pategalan itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Tatas Lintang menemukan satu cara yang mungkin akan dapat memecahkan persoalan mereka. Meskipun ia masih belum yakin, namun tiba-tiba saja ia berteriak, “Hambat orang itu, meskipun kita harus mengorbankan tubuh Mahisa Ura. Tetapi jaga agar tubuh itu tidak kalian rusakkan. Aku akan memecahkan rahasia keadaan yang memusingkan kepala kita ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Mahisa Murti sambil menghindari serangan lawannya.

“Lakukan yang aku katakan. Tahan orang itu agar tidak mencegah langkah-langkah yang akan aku ambil,“ jawab Tatas Lintang.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Mereka melihat Tatas Lintang berlari meninggalkan medan yang berat sebelah itu.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah, melakukan sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang meskipun hal itu akan sangat sulit dilakukan.

Sementara itu, tubuh Mahisa Ura itupun berteriak nyaring, “He, akan lari ke mana kau?”

Tatas Lintang tidak menghiraukannya. Tetapi ia justru berlari semakin cepat.

Sejenak Mahisa Ura yang berada di bawah pengaruh pribadi seseorang itu menggeram. Katanya lantang, “Jangan lari. Berhenti, atau aku hancurkan tubuh ini.”

Tatas Lintang berlari terus tanpa berpaling.

Tubuh Mahisa Ura itupun tiba-tiba telah meloncat pula mengejar Tatas Lintang.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk menghalanginya. Mereka telah berusaha untuk menghentikan langkahnya dengan mencegatnya.

Tetapi tubuh Mahisa Ura yang berada di bawah pengaruh pribadi orang lain tidak menghiraukannya. Dengan kuat tubuh itu membentur Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di garis derap langkah kakinya.

Ketiga orang itu ternyata telah terpental dan jatuh berguling. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan tangkas telah melenting berdiri tegak di atas kedua kakinya. Namun ternyata wadag Mahisa Ura itupun telah bangkit pula berdiri. Bahkan tubuh itu telah siap untuk berlari mengejar Tatas Lintang.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membiarkannya. Dengan tangkas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meloncat mendekatinya.

Wadag Mahisa Ura itu tertegun. Pribadi yang mempengaruhinya itupun menjadi sangat marah. Terdengar ia menggeram sambil berkata, “Jangan halangi aku, atau aku akan membinasakan kalian berdua atau wadag yang aku pergunakan.”

“Aku melakukan perintah pamanku. Kami berdua harus menghambatmu jika kau akan mengejarnya,“ jawab Mahisa Murti.

Tubuh itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia telah menyerang dengan dahsyatnya. Sama sekali tanpa ragu-ragu meskipun ia sadar bahwa lawannya pun memiliki ilmu yang tinggi. karena pribadi di dalam diri Mahisa Ura itu memang dengan sengaja ingin membenturkan wadag yang dipergunakannya.

Tetapi Mahisa Murti tidak membentur kekuatan itu. Dengan tangkas pula ia menghindar meskipun hampir saja keningnya disambar oleh tangan tubuh Mahisa Ura yang berada di luar kepribadiannya sendiri.

Ternyata bahwa orang yang mempengaruhi pribadi Mahisa Ura itu tidak menghiraukannya, iapun dengan cepat meloncat berlari mengejar Tatas Lintang. Namun Tatas Lintang telah menjadi semakin jauh.

”Berhenti,“ teriak orang yang mempergunakan wadag Mahisa Ura, “jika kau tidak berhenti, aku benturkan kepala tubuh ini pada sebatang pohon cangkring yang berduri tajam itu.”

Tatas Lintang tidak menghiraukannya. Ia berlari semakin kencang.

Sementara itu Mahisa Pukat telah meloncat menerkam tubuh Mahisa Ura itu. Ternyata yang dapat ditangkapnya hanyalah kakinya. Namun dengan demikian Mahisa Ura itu telah jatuh terjerembab.

Ternyata yang terjadi telah mengejutkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ketika keduanya meloncat dan mempersiapkan diri ternyata tubuh Mahisa Ura itu tidak segera bangkit berdiri.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ragu-ragu sejenak. Mereka terkejut ketika mereka kemudian melihat tubuh itu bergerak sambil berdesah. Perlahan-lahan Mahisa Ura itu menggeliat. Diusapnya matanya sambil bertanya lirih, “Apa yang telah terjadi?”

Mahisa Ura terengah-engah. Nafasnya terasa belum mengalir wajar. Namun iapun kemudian bangkit sambil memegangi pinggangnya, “Aku kehilangan kesadaranku. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan diriku.“

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Mahisa Ura telah kembali kepada kepribadiannya sendiri. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Mahisa Ura. Wadagmu memang telah terlepas dari kuasa pribadimu sendiri. Kau baru saja berada di bawah pengaruh lawan kita.”

Mahisa Ura termangu-mangu. Namun iapun kemudian berdesis sambil berkata, “Pinggangku sakit sekali. Juga lenganku bagaikan retak. Tetapi apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Tidak banyak waktu yang tersedia,“ berkata Mahisa Murti, “marilah kita lihat, apa yang terjadi dengan Tatas Lintang.”

Ketiganya pun kemudian telah bersiap untuk menyusuri arah langkah Tatas Lintang yang sudah tidak nampak lagi, karena terlindung oleh dedaunan dan pepohonan di pategalan itu.

Namun ketika mereka mulai berlari, Mahisa Ura masih harus mengeluh lagi, karena tubuhnya terasa sangat sakit di beberapa tempat.

“Pergilah dahulu,“ berkata Mahisa Ura.

“Marilah, agar tidak terjadi sesuatu lagi dengan kau,“ sahut Mahisa Murti.

Mahisa Ura pun kemudian telah memaksa dirinya berlari mengikuti arah Tatas Lintang menghilang.

“Apa yang dilakukannya ?“ bertanya Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi agaknya mereka mulai mengerti apa yang dilakukan oleh Tatas Lintang. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk lebih banyak berbicara, karena mereka harus dengan cepat menyusul Tatas Lintang dan mengetahui lebih banyak, apa yang telah terjadi kemudian.

Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk menemukan Tatas Lintang. Ketika mereka menyelinap di belakang beberapa jenis pohon buah-buahan di pategalan itu maka mereka melihat Tatas Lintang tengah bertempur dengan seseorang.

Pertempuran itu memang merupakan pertempuran yang luar biasa. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi.

Demikian ketiga orang itu mendekat, maka terdengar suara lawan Tatas Lintang itu, “Ayo apakah kalian berempat akan bertempur melawan aku?”

Namun Tatas Lintang lah yang menjawab, “Aku akan bertempur seorang diri melawan kau seorang diri pula. Betapapun tinggi ilmumu, aku tidak akan gentar, karena ilmumu yang terutama adalah ilmu yang sangat licik sebagaimana baru saja kau tunjukkan kepada kami.”

“Persetan,“ geram orang itu, “ternyata kalian berhasil menyelematkan seorang di antara kalian. Sayang aku tidak sempat membenturkan kepalanya pada sebatang pohon cangkring, sehingga pecah karenanya.”

“Satu cara membunuh yang tidak terhormat,“ berkata Tatas Lintang sambil bertempur, “jika kau memang seorang berilmu tinggi, bunuhlah aku sekarang.”

Lawannya tidak menjawab. Namun serangannya pun menjadi semakin berbahaya mengejar Tatas Lintang yang masih selalu memperhitungkan kemampuan lawan.

Pertempuran antara kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin seru. Mereka semakin meningkatkan ilmu mereka masing-masing sehingga kekuatan dan kecepatan gerak mereka pun menjadi semakin meningkat pula.

Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura hanya dapat menyaksikan saja pertempuran itu. Tatas Lintang sudah memberikan isyarat bahwa ia berada dalam keadaan perang tanding, sehingga ia tidak mengharapkan bantuan dari siapapun juga. Apapun yang mungkin terjadi atas dirinya.

Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan wajah yang tegang. Kemarahannya benar-benar membakar dadanya karena peristiwa yang telah terjadi atas dirinya. Meskipun ia masih belum mengetahui sepenuhnya, tetapi ia sudah dapat mengerti, bahwa orang yang bertempur melawan Tatas Lintang itu telah berhasil mempengaruhi pribadinya dan mempergunakan wadagnya. Namun agaknya Tatas Lintang telah memburu ke arah tubuh lawannya itu ditinggalkannya, sehingga lawannya itu telah meninggalkan wadagnya dan kembali ke dalam dirinya sendiri. Pada saat yang demikian maka pribadinya sendiri telah muncul kembali di dalam wadagnya, meskipun wadag itu terasa lemah dan kesakitan.

“Untunglah Tatas Lintang mengambil langkah yang tepat untuk menyelamatkan tubuhku,“ berkata Mahisa Ura di dalam hatinya.

Tetapi betapapun kemarahan bergejolak di dalam dirinya, tetapi yang disaksikannya adalah pertempuran yang sengit dari dua orang yang berilmu sangat tinggi.

Dalam pada itu, Tatas Lintang yang bertempur itupun telah merambah kepada ilmunya yang jarang ada duanya. Namun lawannya pun memiliki ilmu andalannya pula yang mengagumkan. Karena itu, maka keduanya benar-benar telah terlibat dalam pertempuran yang sulit dimengerti oleh orang kebanyakan. Bahkan Mahisa Ura pun mulai dibingungkan oleh sikap dan gerak yang tidak diduganya sama sekali yang berhubungan dengan ilmu kedua orang itu masing-masing.

Sebenarnyalah bahwa lawan Tatas Lintang itupun memiliki kemampuan untuk menyerang dari jarak jauh. Meskipun dengan landasan ilmu yang lain, namun akibatnya tidak jauh berbeda. Lawan Tatas Lintang itupun mampu menghentakkan tangannya mengarah ke tubuh lawannya, sehingga semacam sinar telah terlontar dan menyambar. Sementara itu Tatas Lintang pun telah melakukannya pula. Telapak tangannya yang terbuka telah melontarkan cahaya yang menyambar sasaran dengan kekuatan yang sulit diperhitungkan.

Karena itulah, maka ketiga orang yang menyaksikan pertempuran itu harus mengambil jarak. Mereka harus berada di tempat yang paling baik. Mungkin lawan Tatas Lintang yang memang licik itu dengan sengaja mengarahkan ilmunya kepada salah seorang di antara mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun telah berusaha berdiri di sebelah sebatang pohon yang cukup besar.

Ternyata yang mereka perhitungkan itu memang terjadi. Pada satu saat yang tiba-tiba, ternyata orang itu telah mengarahkan serangannya kepada Mahisa Murti yang memang berada dekat dengan garis serangannya. Orang itu mengira, bahwa Mahisa Murti tidak menyadari, justru karena perhatiannya tertuju kepada pertempuran itu sendiri.

Namun Mahisa Murti cukup berhati-hati. Ketika ia melihat arah tangan orang itu agak bergeser dengan garis serangannya atas Tatas Lintang, justru mengarah kepadanya, maka iapun cepat bergeser ke balik sebatang pohon.

Terdengar batang pohon itu bagaikan meledak. Namun pohon itu ternyata tidak tumbang meskipun berguncang dengan kerasnya.

Terdengar orang itu mengumpat. Ia telah gagal membunuh setidak-tidaknya menghancurkan tubuh seorang yang lain karena Tatas Lintang telah mengambil satu langkah yang semula tidak diduganya.

Namun serangan itu telah memperingatkan Mahisa Pukat dan Mahisa Ura. Karena itulah maka mereka pun tidak beranjak dari sisi sebatang pohon yang cukup dapat melindungi dirinya apabila serangan itu datang dengan tiba-tiba.

Dalam pada itu, maka pertempuran itupun telah berlangsung semakin sengit. Serangan datang silih berganti semakin lama semakin cepat dan semakin dahsyat.

Keduanya pun berloncatan menghindari serangan demi serangan yang datang beruntun. Keduanya berebut kesempatan dan beradu kecepatan.

Pepohonan di sekitar mereka pun telah menjadi berpatahan. Batang-batang kayu yang besar telah menjadi hangus oleh ledakan-ledakan serangan berjarak di antara mereka. Pohon-pohon perdu pun bagaikan telah ditebas berserakan dan berhamburan.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura masih tetap berusaha untuk berada di dekat batang-batang pohon yang besar, yang akan dapat melindungi mereka dari serangan-serangan lawan. Sengaja atau tidak sengaja.

Namun dalam pada itu. beberapa saat kemudian, ternyata keseimbangan pertempuran itupun telah berubah. Kecepatan gerak Tatas Lintang yang tinggi agaknya telah mampu membuat lawannya menjadi agak terdesak. Selain kemampuannya bergerak cepat, ternyata Tatas Lintang memiliki ketahanan tubuh yang lebih tinggi. Karena mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu, maka ketahanan tempur lawan Tatas Lintang itupun mulai menjadi susut. Karena itulah.»maka setiap kali orang itu berusaha mengambil jarak dan berusaha berlindung di balik pepohonan untuk dapat sekedar beristirahat meskipun hanya sekejap.

“Jangan licik,“ berkata Tatas Lintang.

Orang itu sama sekali tidak menghiraukannya, ia masih saja bertempur dengan caranya. Menyerang, kemudian meloncat jauh dan menghindar.

Dengan demikian maka Tatas Lintang pun telah mendesaknya semakin jauh, sehingga arena itupun telah bergeser pula.

Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah bergerak pula mengikuti arena yang bergeser. Tetapi mereka masih selalu berusaha untuk berada di dekat batang-batang pohon yang cukup besar.

Tetapi ternyata orang itu tidak bertahan lebih lama lagi. Sebelum ia benar-benar kehabisan nafas, maka iapun telah mengambil satu ke-putusan. Meninggalkan pertempuran itu.

Demikianlah, selagi mereka masih berada di antara batang-batang pohon buah-buahan, maka lawan Tatas Lintang itupun telah mengambil satu kesempatan. Pada saat Tatas Lintang memburunya, selagi lawannya itu berhasil menyelinap di balik sebatang pohon, maka orang itupun telah mendahuluinya menyerang dengan satu hentakkan yang memancarkan semacam berkas-sinar yang menyambar Tatas Lintang.

Tetapi Tatas Lintang cukup tangkas untuk menghindarinya. Namun diluar dugaan, bahwa pada saat Tatas Lintang meloncat menghindar orang itu telah meloncat pula. justru menjauhinya. Berlari menyusup di antara pohon-pohon buah-buahan pategalan itu.

“Jangan lari,“ teriak Tatas Lintang.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawanya berderai menggetarkan dada orang-orang yang mendengarnya.

Namun Tatas Lintang yang marah itupun menyahut tidak dengan suara tertawanya, tetapi dengan teriakan yang menggetarkan dinding jantung “ Baiklah. Ternyata kemenanganmu terletak pada kemampuanmu berlari dengan licik meninggalkan arena.

Suara tertawa itu terhenti. Yang terdengar kemudian adalah geram yang menyeramkan, “Persetan. Jika kau mampu, tangkap aku.”

“Aku merasa kasihan kepadamu. Justru karena kau melarikan diri dari arena,“ jawab Tatas Lintang dengan suaranya yang bagaikan guruh.

Tetapi tidak ada jawaban lagi. Agaknya orang itu telah menjadi semakin jauh.

“Ia memang memiliki kemampuan melarikan diri,“ berkata Tatas Lintang.

“Tetapi kau memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi,“ sahut Mahisa Murti.

Mungkin, tetapi aku tidak mampu menangkapnya karena ia memiliki kesempatan beberapa kejap lebih dahulu,“ sahut Tatas Lintang.

Mahisa Pukat pun kemudian telah mendekati Tatas Lintang pula sebagaimana Mahisa Murti. Namun tiba-tiba Mahisa Pukat itu bertanya, “Di mana Mahisa Ura?”

Ketika mereka mengedarkan pandangan mereka di sekitar pategalan itu, maka mereka melihat Mahisa Ura yang melangkah tertatih-tatih sambil memegangi dadanya.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti dengan tergesa-gesa mendekatinya. Namun Mahisa Ura masih sempat tersenyum sambil berkata, “Aku sudah berusaha. Tetapi keadaan tubuhku yang masih lemah, membuat daya tahanku agak menurun.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku melupakan keadaannya, sehingga aku telah mempergunakan kemampuanku untuk menjawab serangan orang itu dengan getaran suaranya. Tetapi ternyata kaulah yang paling menderita karena suara-suara itu.”

“Aku sudah berusaha mengatasinya,“ jawab Mahisa Ura yang mendekat dibantu oleh Mahisa Pukat.

“Duduklah,“ berkata Tatas Lintang, “kau dapat memperbaiki keadaanmu. Mungkin karena benturan suara ini, tetapi juga mungkin karena tubuhmu yang telah dipergunakan oleh orang yang belum kita kenal itu.”

Mahisa Ura pun kemudian duduk di atas seonggok dedaunan perdu yang terserak di tanah akibat pertempuran yang baru saja terjadi untuk menenangkan gejolak jantungnya serta mengatur pernafasannya.

“Aku menyesal, bahwa orang itu sempat terlepas dari tangan kita,“ berkata Tatas Lintang kemudian.

“Aku tidak dapat mencampurinya, karena agaknya kau memang ingin menyelesaikannya sendiri,“ sahut Mahisa Murti.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Aku memang ingin menghadapinya sendiri. Bukan karena kesombonganku, tetapi aku memang ingin menunjukkan, bahwa kita bukan orang yang mudah dipermainkan.”

Namun di luar dugaan Mahisa Ura berkata dengan nada rendah, “Maaf. Aku benar-benar tidak mampu menyesuaikan diriku. Agaknya aku telah menghambat kalian menghadapi orang itu.”

Tatas Lintang memandanginya sejenak. Lalu katanya, “Jangan menyesali diri sendiri. Bagaimanapun juga kami memerlukanmu. Setiap orang yang bersedia membantu kita akan kita hargai. Apalagi kita sendiri. Mungkin memang ada kekurangan padamu. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau telah mengganggu tugas-tugas kita dalam keseluruhan.”

Mahisa Ura tidak menjawab. Sementara Tatas Lintang pun berkata, “Sudahlah. Usahakan agar keadaanmu menjadi semakin baik.”

Mahisa Ura tidak menjawab. Ia masih duduk di atas seonggok dedaunan untuk menenangkan dirinya dan mengatur pernafasannya.

Sementara itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Tatas Lintang mulai memperhatikan keadaan. Pategalan itu memang menjadi rusak. Banyak tanaman yang berpatahan. Bahkan beberapa batang pohon buah-buahan yang disambar oleh serangan-serangan kedua orang yang bertempur itu, akan menjadi layu dan mungkin mati karena batangnya menjadi hangus.

“Apakah pemiliknya akan marah?“ desis Mahisa Murti.

“Kita akan memberikan laporan sesuai dengan keadaan,“ jawab Tatas Lintang, “mudah-mudahan pemilik pategalan ini akan dapat mengerti.”

Ketiga orang itupun kemudian telah membersihkan pategalan itu. Mereka telah menimbun dedaunan dan ranting-ranting yang berpatahan di pagar pategalan itu.

Sementara itu keadaan Mahisa Ura pun menjadi berangsur baik. Dengan demikian, maka mereka pun telah kembali ke tempat mereka bekerja. Namun sekali lagi Mahisa Ura memperingatkan, bahwa mereka masih berhadapan dengan racun yang telah disebarkan oleh orang yang tidak dikenal itu.

Mahisa Murti pun kemudian telah pergi ke padukuhan di sebelah pategalan itu. Setelah melewati beberapa tonggak, barulah ia sampai ke batas pategalan dan memasuki jalan sempit menuju ke padukuhan.

Dari padukuhan Mahisa Murti mendapatkan sebuah kelenting. Namun Mahisa Murti pun telah mengatakan bahwa kelenting itu tidak akan dikembalikan, karena kelenting itu akan dipergunakan untuk mencairkan racun.

Namun air sekelenting itu agaknya tidak cukup, sehingga karena itu, maka ia harus mendapatkan kelenting yang lain untuk mengambil dan membawa air ke pategalan.

Demikianlah, maka Tatas Lintang telah mencoba untuk melawan racun yang telah dituangkan ke setiap lubang yang telah dibuat bersama-sama itu. Tetapi ia memerlukan bahan yang agak banyak, sehingga karena itu, maka ia tidak dapat menyelesaikannya pada hari itu. Penawar racun yang ada padanya terlalu sedikit. Namun ia telah mencoba untuk menawarkan racun pada salah satu lubang yang ada di pategalan itu. Setelah lubang itu disiramnya dengan penawar racun yang dicairkannya di dalam kelenting, maka ternyata bahwa kekuatan racun itu menjadi jauh susut. Tanah dari lubang itu ketika dibaurkan pada sebatang pohon, ternyata pohon perdu itu tidak menjadi layu.

Karena itu, maka penawar yang tersedia itupun kemudian telah dicairkannya pula dan disiramkannya ke lubang-lubang yang ada meskipun baru sebagian.

“Aku harus mengusahakan penawar racun itu lagi,“ berkata Tatas Lintang.

“Bagaimana kita akan mendapatkannya?“ bertanya Mahisa Murti.

“Aku harus membuatnya. Jika tidak, maka lubang-lubang itu akan tetap berbahaya. Bukan saja jika kita menanam pohon di dalamnya yang akan mati, tetapi jika seseorang atau seekor binatang yang terperosok ke dalamnya, tentu akan terbunuh pula.” Jawab Tatas Lintang.

“Bagaimana kau dapat membuatnya?“ bertanya Mahisa Pukat, “kapan lagi kau akan melakukannya?”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Manakah yang lebih baik. Apakah kita akan membiarkan lubang-lubang ini merupakan lubang-lubang bisa yang dapat membunuh, atau kita mengorbankan waktu sedikit untuk menawarkannya?”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun berkata, “Bagaimanapun juga kita harus memberitahukan hal. ini kepada Ki Bekel dan pemilik tanah ini. Tempat ini harus menjadi tempat tertutup, sementara kita belum dapat menawarkan racun dalam keseluruhan.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa dengan demikian mereka harus mengorbankan waktu lagi. Tetapi ia tidak akan dapat mengingkari tugas yang tidak kalah pentingnya, menyelamatkan lingkungan itu dari kerasnya racun yang berbahaya.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...