Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 13-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 13-02*

Karya.  : SH Mintardja

“Kakang.” berkata Ken Dedes, “Aku pun menjadi makin lemah. Sebenarnya umurku lebih muda daripadamu kakang. Tetapi nampaknya aku menjadi jauh lebih tua daripadamu.”

“Ah. Mungkin begitu. Tetapi itu bukan hal yang perlu dihiraukan. Kakang Witantra pada suatu saat nampak jauh lebih tua daripadaku.”

Ken Dedes yang selalu berbaring di pembaringannya itu masih juga tersenyum. Katanya, “Mungkin kau benar kakang. Tetapi rasa-rasanya agak lain dengan diriku. Aku sudah menjadi sakit-sakitan. Bahkan sudah agak lama. Sehari dua hari badanku seakan-akan sudah menjadi baik. Tetapi kemudian penyakitku yang tidak diketahui namanya ini kambuh lagi. Mungkin penyakit inilah yang disebut penyakit tua.”

“Tuan puteri memang harus banyak beristirahat. Pada saatnya tuan puteri akan sembuh.”

Namun Ken Dedes tersenyum pula. Katanya, “Kau ingin membuat aku menjadi tenang. Aku memang tidak gelisah kakang. Bahkan seandainya janji itu sampai juga menjemput aku. Rasa-rasanya hidupku yang pahit selama ini telah terobati. Di saat-saat terakhir aku melihat bahwa cucu-cucuku akan dapat menemukan masa-masa yang cerah. Kita agaknya tidak perlu cemas lagi bahwa Singasari akan diguncang dengan pertentangan yang tidak berkesudahan.”

“Mudah-mudahan tuan puteri.”

“Aku melihat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dapat bekerja sama dengan baik. Bahkan keduanya seolah-olah tidak dapat dipisahkan lagi. Aku sadar, bahwa peran kakang Mahisa Agni cukup besar sehingga jiwa kedua anak itu dapat terbentuk seperti sekarang ini.”

“Nampaknya memang demikian tuan puteri. Beberapa orang di dalam lingkungan istana ini, yang semula, masih diragukan kesetiaannya setelah pimpinan pemerintah berada di tangan cucunda Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, agaknya kini tidak lagi menjadi persoalan. Mereka meskipun perlahan-lahan telah dapat menerima kenyataan, bahwa di bawah pimpinan cucunda Ranggawuni dan Mahisa Cemaka, keadaan menjadi semakin baik.”

Ken Dedes mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Semuanya merupakan kenyataan yang sangat manis di saat-saat terakhir ini.”

Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas. Namun sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang seolah-olah jenuh, maka ia dapat menduga bahwa saat terakhir bagi Ken Dedes itu memang sudah dekat.

Meskipun demikian, seperti Ken Dedes sendiri, Mahisa Agni selalu menyatakan syukur di dalam hati, bahwa Ken Dedes yang seakan-akan di sepanjang umurnya selalu dicengkam oleh keprihatinan itu, kini mendapat juga sekedar obat bagi jiwanya, la sempat melihat keturunannya memegang kekuasaan. Betapapun juga, agaknya ramalan seorang yang mumpuni pada masa Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa, masih muda. Bahwa seorang gadis yang pada tubuhnya nampak cahaya yang khusus, akan dapat melahirkan orang-orang yang akan memiliki kewibawaan yang tinggi, kini menjadi kenyataan. Ken Dedes telah menurunkan seorang yang bernama Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang kemudian memegang pimpinan tertinggi di Singasari.

Demikianlah, keadaan kesehatan Ken Dedes semakin hati menjadi semakin susut. Tetapi jiwanya nampak semakin hari menjadi semakin segar. Agaknya Ken Dedes benar-benar telah siap menghadap apabila saatnya telah datang, ia dipanggil oleh kekuasaan tertinggi untuk menghadap.

Ketahanan hati Ken Dedes, membuat keluarga istana menjadi tabah pula. Meskipun mereka tidak dapat menghindarkan diri dari kecemasan, tetapi mereka pun telah pasrah, apa saja yang akan terjadi, terjadilah.

Maharja di Singasari dan Ratu Angabhaya, yang keduanya adalah cucu Ken Dedes, akhirnya harus mengendapkan kegelisahan hati mereka. Ken Dedes sendiri sempat memanggil keduanya menghadap di pembaringannya.

“Cucunda.” berkata Ken Dedes yang sudah semakin lemah, “Tidak ada kelanggengan di dunia yang fana ini. Semua yang nampak akan menjadi tiada. Semua yang hidup akan mati. Perubahan akan selalu terjadi, selain perubahan itu sendiri. Karena itu, cucunda berdua harus menghadapinya dengan sepenuh kesadaran bahwa pada suatu saat aku harus meninggalkan cucunda. Aku sudah wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung, bahwa aku sempat menyaksikan cucu-cucuku menjadi orang yang terpandang di Singasari.”

Kedua cucunda Ken Dedes itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Pada suatu saat akan datang pelayan kepada cucunda berdua dan memberitahukan bahwa aku sudah tidak ada lagi.”

Keduanya masih mengangguk-angguk.

Untuk beberapa saat lamanya Ken Dedes masih dapat memberikan beberapa pesan sebelum ia berkata kepada kedua cucunya, “Biarlah aku beristirahat. Aku masih ingin tjdur sejenak. Mungkin aku masih diperkenankan bertemu dengan beberapa orang lagi sebelum saat itu datang besok atau lusa.”

“Kami akan menunggui di sini.” berkata Maharaja Wisnuwardana.

Ken Dedes menggeleng, “Itu tidak perlu. Bukankah tugas seorang Maharaja dan Ratu Angabhaya itu terlampau banyak. Pada saat-saat yang paling dekat, aku akan berusaha memberitahukan kepada cucunda berdua. Bukan maksudku mengatakan bahwa aku akan dapat mengerti batas-batas yang penuh dengan rahasia itu. Tetapi setidak-tidaknya kelemahan tubuhku akan memberikan petunjuk tentang hal itu.”

Kedua cucunda memandang kepada Mahisa Agni yang selalu menunggui Ken Dedes, hampir siang dan malam itu.

“Tinggalkan neneknda beristirahat tuanku. Tuanku berdua tidak dapat mengesampingkan tugas tuanku dan menunggui neneknda untuk waktu yang terlalu lama.” berkata Mahisa Agni, “Hamba akan tetap berada di sini.”

Kedua cucu Ken Dedes itu pun kemudian meninggalkan neneknda yang semakin lemah, tetapi masih tetap sadar sepenuhnya apa yang dihadapinya.

Pada saat-saat terakhir itu, seolah-olah beberapa orang sahabat Mahisa Agni pun telah berkumpul pula di halaman istana. Di antara mereka adalah Witantra dan Mahendra.

Mahendra di saat-saat terakhir itu memerlukan datang untuk menengok Ken Dedes. Sebuah kenangan khusus telah menyentuh hatinya semasa ia masih muda. Ia pernah tergila-gila kepada Ken Dedes dan mempertaruhkan apa saja yang ada padanya. Bahkan ia pernah melakukan perang tanding dengan Mahisa Agni yang pada waktu itu menyebut dirinya bernama Wiraprana, karena Wiraprana sendiri, seorang anak muda yang dicintai oleh Ken Dedes, sama sekali tidak mampu mempertahankan gadis itu dengan cara yang keras.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam jika kenangan itu mulai membayang.

“Tetapi semuanya sudah lama lampau.” berkata Mahendra kepada diri sendiri.

Namun, bayangan itu bagaikan lewat dengan urutan yang jelas di dalam angan-angannva. Ken Dedes yang kemudian jatuh di tangan Akuwu Tunggul Ametung yang bujukan Kuda Sempana. Tetapi akhirnya Kuda Sempana sendiri mendendam karenanya. Ken Ddes benar-benar telah diperisteri sendiri oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Sesuatu telah terjadi saat itu. Mahendra pun akhirnya mendengar bahwa Tunggul Ametung pernah mengucapkan kepada Ken Dedes, bahwa ia telah menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada isterinya. Ken Dedes itu.

Meskipun kemudian Ken Dedes diperisteri oleh Ken Arok sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung karena dibunuh oleh Ken Arok itu sendiri, namun ternyata sampai saat terakhir, garis keturunan Ken Dedes lah yang memegang kekuasaan di Singasari. Tohjaya hanya berhasil menguasai Singasari yang besar untuk waktu yang sangat pendek. Tidak lebih dari setahun.

Akhirnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lah yang menjadi Maharaja dan Ratu Angabhaya dengan gelar Wisnuwardana dan Batara Narasinga.

Mahendra tidak dapat menghapus kenangan itu. Pada saat ia bersama Witantra diperkenankan memasuki bangsal Ken Dedes, maka bayangan itu pun rasa-rasanya menjadi semakin jelas membayang.

Dengan hati yang berdebar-debar keduanya bergeser mendekati pembaringan.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Ken Dedes yang terbaring diam. Wajahnya yang dibayangi dengan garis-garis umur nampak pucat. Tetapi bagi Mahendra yang melihat wajah itu di masa mudanya, seolah-olah melihat kecantikan yang dahulu masih membayang. Kecantikan yang menyeret Ken Dedes ke tempat yang sama sekali tidak dikehendaki dan tidak diduganya sama sekali.

Mahisa Agni yang ada di ruang itu pula sempat melihat wajah Mahendra yang menegang. Namun hanya sejenak, karena Mahendra berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasai perasaannya.

Ketika Ken Dedes kemudian membukakan matanya, Mahendra menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia berhasil menghapus kesan-kesan itu dari wajahnya.

Meskipun keadaan tubuh Ken Dedes sudah sangat lemah, tetapi ingatannya masih cukup baik. Ia tidak melupakan masa-masa lampau yang agaknya membayang juga di angan-angan Mahendra.

“Mahendra.” berkata Ken Dedes perlahan-lahan sekali.

Mahendra bergeser mendekat. “Hamba tuan puteri.”

“Aku mengucapkan terima kasih. Bantuanmu besar sekali bagi cucu-cucuku, dan terutama bagi Singasari.”

“Itu sudah menjadi kuwajiban hamba tuan puteri.”

“Mahendra.” berkata Ken Dedes pula, “Kesempatan terakhir ini akan aku pergunakan untuk selain mengucapkat terima kasih, juga minta maaf kepadamu. Aku menyimpan kesalahan yang mungkin telah menyakiti hatimu.”

“Ah, sudahlah tuan puteri. Sekarang tuan puteri tinggal menenteramkan hati. Cucunda telah sampai pada jenjang yang seharusnya. Yang lampau biarlah lampau.”

Ken Dedes tersenyum. Katanya, “Mungkin aku tidak akan dapat menunggu cucuku lebih dari saat-saat purnama naik besok lusa. Kepadamu, kepada kakang Witantra dan kepada Kakang Mahisa Agni aku mohon, agar cucuku selalu mendapatkan perlindungan.”

“Pesan itu akan selalu kami junjung tinggi tuan puteri.”

Ken Dedes tersenyum. Kemudian katanya kepada Witantra, “Kakang, sejak masa pemerintahan Akuwu Tumapel, kau adalah orang yang banyak memberikan arah dalam pemerintahan. Apakah kau juga akan berbuat demikian pada saat-saat cucu-cucuku memegang pemerintahan di Singasari?”

“Tuan puteri.” berkata Witantra, “Selagi hamba, mendapat kesempatan, hamba akan melakukannya.”

Keri Dedes tersenyum pula. Kehadiran Witantra dan Mahendra membuat hatinya semakin besar. Seolah-olah ia dengan hati yang lapang, dapat meninggalkan cucu-cucunya tanpa kecemasan apapun, karena di sekitar Baginda Wisnuwardana dan Batara Narasinga, berdiri orang-orang yang dapat dipercaya, sementara kedua cucu-cucunya itu tumbuh menjadi orang yang cukup kuat untuk kemudian berdiri sendiri.

Kehadiran Witantra dan Mahendra agaknya menambah lapang jalan yang akan ditempuh oleh Ken Dedes. Ternyata sepeninggal mereka, wajah Ken Dedes yang semakin pucat, menjadi semakin cerah pula.

Dan pada akhirnya saat yang tidak dapat dihindari itu pun tiba. Saat-saat terakhir dari kehidupan seorang yang semula adalah gadis padepokan kecil di sebelah padukuhan Panawijen, namun yang perjalanan hidupnya menelusuri kekuasaan demi kekuasaan sejak saat Tumapel sampai Singasari. Sejak suaminya yang pertama, yang mengambilnya dengan paksa dari padukuhan, sampai pada saat cucu-cucunya berkuasa, setelah melampaui masa yang penuh dengan duri-duri tajam.

Hari itu adalah hari berkabung bagi seluruh daerah Singasari. Seorang puteri telah pergi. Bagi rakyat Singasari, mereka menganggap bahwa Ken Dedes adalah pepunden, tetapi sekaligus ibu mereka.

Tetapi hanya sedikit orang yang mengerti, bahwa semasa gadisnya, Ken Dedes pernah menggetarkan hati seorang yang disebut putera Brahma, karena tubuh gadis itu memancarkan cahaya yang aneh, yang menurut ramalan seorang ahli, bahwa gadis yang demikian itulah yang kelak akan menurunkan orang-orang yang berkuasa di seluruh tlatah kepulauan yang berhamburan di katulistiwa.

Sampai saat terakhir, ramalan itu ternyata benar. Cucu-cucu Ken Dedes yang akhirnya berkuasa memegang tampuk pemerintahan di Singasari.

Dan orang yang meramalkan tentang gadis yang bercahaya itu adalah seorang pendeta bernama Lohgawe jauh sebelum Ken Dedes menjadi isteri Sri Rajasa.

Dan ramalan itulah yang telah mendorong Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu untuk melakukan beberapa pembunuhan dan perbuatan licik lainnya, meskipun kemudian sebagai seorang raja ia adalah raja yang besar.

Disaat terakhir itu, Ken Dedes mendapat kehormatan tertinggi dari seluruh rakyat Singasari.

Namun dalam pada itu, selagi rakyat Singasari sibuk dengan upacara yang khitmat, tiga orang berjalan di antara rakyat Singasari yang sedang berkabung itu. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan serupa dengan orang-orang lain yang sedang merasa kehilangan. Yang nampak pada wajah itu justru dendam dan kebencian yang menyala di dalam dadanya.

Tetapi, tidak banyak orang yang menghiraukannya. Orang-mang yang berpapasan dengan ketiga orang itu hanya menganggap bahwa orang-orang itu memang berwajah keras. Tanpa prasangka apapun juga.

“Rakyat Singasari sudah dibius oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.” berkata salah seorang daripadanya.

“Juga orang-orang Kediri menjadi banci. Mereka tidak melihat-lihat saat-saat yang sebenarnya menguntungkan.” sahut yang lain.

“Apa peduli kita terhadap Kediri. Di Kediri tidak ada lagi orang-orang yang dapat dipercaya. Apalagi jika mereka mendengar nama Mahisa Agni. Rasa-rasanya mereka sudah mati berdiri.”

“Mahisa Agni memang seorang yang tidak ada duanya.” desis yang tertua di antara ketiganya, “Tetapi bukan berarti bahwa Mahisa Agni tidak akan terlawan. Ia kini sudah menjadi semakin tua. Sebentar lagi kemampuannya, betapapun tingginya akan retak ditelan umurnya. Ia akan mati tanpa dibunuh oleh siapapun.”

“Tetapi sementara itu ia sempat membentuk sepasang ular itu menjadi orang seperti dirinya.” bantah yang lain.

Ketiganya terdiam sejenak. Mereka sempat memperhatikan betapa orang-orang Singasari menjadi sibuk karena wafatnya Ken Dedes.

“Kita akan sampai pada saat yang tepat. Selagi orang-orang Singasari memusatkan perhatian mereka kepada saat-saat penguburan Ken Dedes, kita akan dapat mulai dengan goncangan-goncangan yang dapat membangunkan rakyat dari tidurnya.”

“Apa yang dapat kita kerjakan sekarang?”

“Bahwa sepeninggal tuanku Tohjaya, Singasari menjadi kisruh.”

“Hanya kisruh?”

“Untuk sementara. Selebihnya harus kita atur kemudian.”

“Tetapi jangan diberi kesempatan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka memerintah dengan tenang. Kekisruhan ini akan mempengaruhi hubungan Singasari dengan Kediri pula.”

“Sekali lagi aku katakan, aku tidak dapat mengharapkan Kediri. Tetapi aku lebih mengharapkan bantuan satu atau dua orang Akuwu. Dengan demikian kita akan mempunyai pacatan kekuasaan bagi diri kita sendiri. Tidak bagi orang-orang Kediri, karena orang-orang Kediri pun akan berjuang bagi diri mereka sendiri.”

“Tetapi untuk sementara Kediri dapat dipergunakan untuk menarik perhatian atau setidak-tidaknya mengurangi kekuatan Singasari. Selebihnya, kita akan menarik keuntungan dari benturan itu.”

“Harapannya kecil sekali. Sekarang Kediri justru masih dapat dihisap oleh Mahisa Agni.”

“Jadi?”

“Kita akan menunggu. Kita melihat, apa yang dilakukan oleh rakyat Singasari pada saat-saat kematian Ken Dedes sekarang ini.”

“Harus ada kesan, bahwa tidak seluruh rakyat Singasari berkabung. Dengan demikian, maka kesan itu akan tersebar luas, karena justru pada saat ini banyak sekali orang-orang dari luar kota Singasari berada di sini. Jika kita dapat menimbulkan atas Ken Dedes sekarang ini, maka usaha kita yang pertama sudah berhasil.”

“Apakah keuntungannya?”

“Sudah aku katakan. Bahkan kesan yang didapat, tidak semua orang setia kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Sehingga orang-orang Singasari tidak menganggap bahwa mereka adalah manusia yang memiliki wewenang langsung dati yang Maha Agung untuk memerintah Singasari seperti anggap beberapa orang.”

“Apakah begitu?”

“Sebagian rakyat Singasari menganggap bahwa kedua orang itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin bagi mereka, sehingga mereka menjadi silau dan tidak dapat menilai dengan sewajarnya.”

“Jika mereka dapat menilai dengan sewajarnya?” bertanya kawannya.

“Ah. kau gila. Aku berharap bahwa rakyat Singasari ini menjadi terbuka matanya, bahwa ada kekuatan lain yang perlu dipertimbangkan.”

“Kau benar.” sahut yang lain. Lalu, “Aku setuju bahwa kita harus menumbuhkan kesan, bahwa kematian Ken Dedes, bukan sesuatu yang harus disesalkan. Dan bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah manusia lumrah yang pada suatu saat akan dapat ditumbuhkan.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Lalu tiba-tiba salah seorang dari mereka bergumam, “Bagaimana dengan kekuasaan Linggapati di Mahibit?”

Yang lain mengerutkan keningnya. Kemudian salah seorang dari mereka di Mahibit mempunyai kekuatan yang memadai untuk melaksanakan rencana ini.

“Tetapi seperti Kediri, ia akan berbuat bagi dirinya sendiri. Aku lebih condong untuk berhubungan dengan Akuwu di Babatu.”

“Kita pikirkan kemudian.” potong yang lain, lalu, “Apa yang pantas kita lakukan sekarang.”

“Kita sebut-sebut nama tuanku Tohjaya.”

“Itu terlampau berbahaya.”

“Jadi?”

“Sebaiknya kesan yang timbul bukan karena kita mendendam karena tuanku Tohjaya telah disingkirkan. Dengan, demikan maka pengaruhnya akan kecil sekali bagi rakyat Singasari, karena mereka menganggap lumrah jika kita, pengikut-pengikut tuanku Tohjaya menjadi sakit hati sepeninggalnya.”

“Jadi?”

“Kita membuat rajapati. Kita mengambil seseorang dan membunuhnya di gerbang kota. Kita lemparkan kepada para prajurit penjaga pintu gerbang. Jika mereka mengejar kita. Kita selesaikan sama sekali di luar kota.”

“Kita sisakan salah seorang dari mereka. Kita perkenalkan diri kita dan perguruan kita. Kita tunjukkan ciri-ciri kita yang bukan lagi prajurit-prajurit seperti saat-saat kita belum berguru.”

“Apakah itu tidak berbahaya? Mahisa Agni akan bertindak atas perguruan kita.”

“Tidak seorang pun akan dapat menemukan padepokan kita itu.”

Ketiga orang itu terdiam sejenak. Lalu salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata, “He, kau lihat anak muda itu?”

“Ya. Anak muda yang tampan. Ia berjalan seorang diri.” jawab kawannya, “Apa maksudmu?”

Kawannya tidak segera menjawab. Di pandanginya saja anak muda yang disebutnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “He, ia tidak sendiri. Ia berjalan bersama kawannya. Atau barangkali adiknya. Rupanya mirip sekali.”

Kedua kawannya yang lain mengangguk-angguk. Anak muda yang dimaksud memang berjalan bersama seorang anak muda yang lain, yang mula-mula sedikit terpisah, namun yang kemudian bergabung kembali.

“Kau mengenal anak muda itu?” bertanya orang yang mula-mula menunjuknya.

Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya.

“Tidak.” jawab salah seorang dari padanya.

“Aku senang kepada anak-anak muda itu.”

“Maksudmu? Apakah anak-anak itu akan kau ajak makan bersama kita atau kau ajak pulang atau akan kau beri uang?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kita buat anak itu menjadi bahan.”

“Bahan?”

“Bukankah kita sepakat untuk membuat keributan? Kita bawa anak itu ke dekat perbatasan kota. Kemudian anak ini kita bunuh dan kita lemparkan kepada para prajurit yang bertugas. Jika prajurit-prajurit ku mengejar kita, kita akan membunuh mereka pula. Bukankah begitu? Bukankah kita akan membiarkan seorang dari mereka hidup dan mengenal ciri-ciri perguruan kita. Sehingga dengan demikian, Singasari akan menyadari, bahwa sebuah perguruan yang besar telah memusuhinya untuk jangka waktu yang panjang, maka perguruan itu akan menghimpun rakyat yang menyadari keadaannya dan menumbangkan kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka melihat kedua anak muda itu berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan kota yang sedang diliputi oleh suasana berkabung.

“Marilah kita ikuti anak yang malang itu, karena tiba-tiba saja ia telah diterkam oleh bahaya maut. Tidak seorang pun yang dapat menolak nasib, yang telah menggerakkan hati kita untuk memilihnya menjadi korban yang pertama, karena korban-korban berikutnya akan berjatuhan.”

Ketiganya pun kemudian berjalan mengikuti kedua anak muda yang mereka sebut sebagai anak-anak muda yang malang, yang tiba-tiba saja telah diterkam oleh nasib buruk.

Semakin lama ketiga orang itu menjadi semakin dekat, sehingga mereka mendengar pembicaraan kedua orang anak-anak muda itu.

“Marilah kita kembali.” ajak yang muda.

“Kita belum mengelilingi kota ini seluruhnya.” jawab yang lebih tua.

“Bukankah ayah berpesan, agar kita segera kembali? Upacara penyelenggaraan jenazah itu sudah akan dilakukan dan sebaiknya kita sudah berada di halaman istana.”

Yang tua termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi kita akan menempuh jalan yang lain. Bukan jalan yang kita lalui pada saat kita pergi dari istana sampai ke tempat ini.”

Yang muda pun mengangguk-angguk.

Ketiga orang yang dengan sengaja ingin menimbulkan kekacauan itu mengikutinya saja. Mereka mencari kesempatan untuk membujuk anak-anak itu pergi keperbatasan kota.

Ketika kedua anak muda itu tiba-tiba berhenti dan termangu-mangu maka tahulah ketiga orang yang mengikutinya bahwa anak itu menjadi bingung. Mereka tidak mengetahui, jalan yang manakah yang menuju keistana Singasari.

Salah seorang dari ketiga orang yang mengikutinya itu pun kemudian mendekatinya sambil bertanya, “He anak muda, Apakah ada yang sedang kau cari?”

Anaka muda itu memandang orang yang bertanya kepadanya dengan heran, karena ia merasa sama sekali belum pernah mengenalnya.

“Kau tentu belum mengenal aku.” berkata orang itu, “Karena aku pun belum pernah mengenal kalian. Tetapi aku dapat melihat bahwa kalian agaknya sedang kebingungan. Apakah kau orang baru di kota ini?”

“Kami bukan orang baru di kota ini.” jawab yang lebih tua, “Kami adalah anak padesan, yang saat ini mengikuti ayah ke istana, karena di istana ada seorang puteri yang wafat.”

Orang yang mengikutinya itu mengangguk-angguk. Lalu, “Bukankah sedang mencari jalan ke istana?”

“Darimana kau tahu?”

“Menilik sikapmu. Kau bingung?”

“Ya. Kami agak bingung. Jika kami tidak menemukan jalan ke istana, kami akan menempuh jalan pada saat kami meninggalkan istana pergi menyusuri jalan sampai ke tempat ini.”

“Apakah kau masih ingat jalan yang baru saja kau lalui sampai ke tempat ini?”

“Tentu masih ingat.”

“Berjalan sajalah terus. Bukankah kau ingin melihat lebih banyak dari kota Singasari?”

“Ya.”

“Berjalanlah mengikuti jalan ini. Jika kau sampai ke simpang tiga, kau berbelok saja kekiri, kemudian sekali lagi kau belok ke kiri.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu. Kemudian yang lebih tua bertanya, “Apakah kau tidak keliru. Menilik arah dari letak istana itu, jalan yang tunjukkan menjadi semakin jauh dari tujuan.”

Orang itu tertawa, “Kami adalah penghuni kota ini. Sudah tentu kami mengenal setiap lorong dengan baik.”

Anak yang lebih tua itu menengadahkan wajahnya memandang kelangit. Gumamnya, “Bukan jalan itu.”

Ketiga orang yang mencoba menunjukkan jalan itu saling berpandangan sejenak. Mereka merasa heran bahwa anak-anak muda itu tidak mau mempercayainya.

“Kenapa kau tidak percaya kepada kami.” bertanya salah seorang dari ketiganya.

“Bukan maksudku tidak percaya Ki Sanak. Tetapi kami merasa yakin bahwa jalan yang kau tunjukkan adalah salah. Mungkin kalian bertiga adalah penduduk kota ini. Tetapi suatu ketika kalian telah menjadi bingung.”

Seorang di antara ketiga orang itu tiba-tiba membentak, “Jangan gila anak-anak muda. Kau membuat kami marah. Kami ingin berbuat baik terhadap kalian, tetapi kalian justru menghina kami. Kau sangka bahwa kami orang-orang pikun yang sudah tidak tahu kiblat?”

“Bukan. Sama sekali tidak. Tetapi apa boleh buat. Kami akan mengambil jalan lain. Menurut perhitunganku, kami berada di sebelah Timur istana. Jadi kami harus berjalan terus ke Selatan. Itu benar. Tetapi kami harus berbelok justru ke kanan, dan sekali lagi ke kanan. Itu arahnya.”

He, kau sekarang menghadap kemana?”

“Ah, mudah sekali. Lihatlah matahari.”

Ketiga orang itu termenung sejenak. Namun salah seorang di antara mereka tidak sabar lagi. Katanya, “Baiklah. Kau anak-anak muda yang cukup cerdas. Tetapi aku tidak peduli kemana kalian akan pergi. Kalian harus berjalan menurut arah yang kami tunjuk.”

“Kenapa? Sebaiknya kita tidak usah ribut. Aku berterima kasih bahwa Ki Sanak berusaha menunjukkan jalan bagi kami. Tetapi anggaplah bahwa kami tidak pernah bertemu. Biarlah kami memilih jalan kami sendiri meskipun kami harus tersesat. Sejauh-jauhnya kami akan tersesat sampai ke gerbang kota. Di gerbang kota kami akan dapat bertemu dengan dua atau tiga orang prajurit yang dapat membetulkan arah perjalanan kimi.”

“Persetan.” geram salah seorang dari ketiganya. “Ikuti kami.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mempersoalkan jalan ke istana lagi. Tetapi kami memerlukan kalian berdua. He, siapa nama kalian?”

“Apakah keperluan kalian dengan kami?” bertanya anak muda yang lebih tua.

“Kau tidak usah bertanya. Sebut lebih dahulu namamu.”

Kedua anak muda itu justru menjadi semakin curiga. Karena itu maka yang tua menjawab, “Kalian tidak perlu mengetahui namaku. Aku tidak tahu hubungan apakah yang sudah terjadi di antara kita sekarang. Karena itu, maka nama kami tidak ada gunanya bagi kalian. Kecuali jika persoalan yang ada di antara kita menjadi jelas.”

“Gila.” geram salah seorang dari ketiga orang yang sengaja ingin menumbuhkan keributan itu. “Aku tidak peduli lagi nama kalian. Sekarang ikutlah kami.”

“Maaf Ki Sanak, kami harus segera kembali ke istana.”

Tiba-tiba saja kedua orang yang telah berdiri di arah yang berlainan. Salah seorang berkata, “Kalian tidak dapat menolak perintah kami.”

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian yang muda berkata, “Kalian tidak akan dapat memaksa kami. Jika kami berteriak, maka orang-orang di sekitar tempat ini tentu akan tertarik perhatiannya.”

Salah seorang dari ketiga orang itu tertawa. Katanya, “Sebelum kau sempat berteriak, dadamu sudah sobek jika kau ingin membuat keributan.”

“Tetapi orang-orang akan beramai-ramai menangkap kalian bertiga.”

“Mereka akan menyesal, karena mereka akan mati seperti kau.”

“Prajurit-prajurit yang meronda akan berdatangan.”

“Kami sudah hilang dari daerah ini. Cepat sekali membunuh kalian berdua. Dan cepat sekali untuk menghilangkan jejak. Nah, sekarang jangan membantah. Ikutlah kami.”

Yang tua menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan memaksa kami berteriak. Sebenarnya kami akan berteriak.”

“Gila.” yang paling tua di antara tiga orang itu berkata, “Kita bunuh saja mereka di sini. Kemudian kita berlari dan bersembunyi di tempat yang sudah kita siapkan itu. Kawan kita tentu akan memberikan tempat perlindungan yang sangat baik jika kita tidak sempat keluar kota.”

“Ki Sanak.” berkata anak muda yang lebih tua, “Apa salah kami, maka kalian akan membunuh kami.”

“Kalian tidak mau mengikuti perintahku, jika kalian tidak membantah, nasib kalian tidak akan terlampau jelek.”

“Mungkin jauh lebih buruk. Di sini kami akan segera mendapat pertolongan.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebaiknya kita tidak saling mengganggu. Kota ini akan menjadi kacau, justru pada saat yang penting sekarang. Kita wajib bersama-sama berkabung atas wafatnya tuan puteri Ken Dedes.”

“Persetan dengan Ken Dedes. Aku tidak berkepentingan atas kematiannya. Apabila kemudian timbul kekacauan karena kematianmu, itulah tujuan kami yang utama.”

Tiba-tiba saja wajah anak-anak muda itu menjadi merah. Yang muda tidak dapat menahan hati lagi dan berkata, “Sekarang kami menjadi jelas. Jika demikian, kami akan segera minta bantuan untuk menangkap kalian bertiga, karena kalian dengan sengaja akan menimbulkan kekacauan.”

Orang-orang itu justru tertawa. Katanya, “Setiap usahamu akan mempercepat saja kematianmu. Pasrahlah agar kalian mati dengan baik.”

Sejenak suasana menjadi tegang. Beberapa orang lain yang lewat beberapa langkah dari mereka yang sedang bertengkar itu sama sekali tidak mengetahui bahwa bahaya maut sedang mengancam kedua anak-anak muda itu.

Namun, sejenak kemudian jawaban anak-anak muda itu justru mengejutkan ketiga orang yang akan membunuhnya. Yang tua di antara kedua anak muda itu menjawab, “Ki Sanak. Kami tidak mempunyai sangkut paut dengan Ki Sanak. Kebetulan saja kita berjumpa. Dan aku pun tahu, kebetulan saja kalian memilih kami berdua untuk menjadi korban usaha kalian mengacaukan suasana berkabung sekarang ini. Tetapi dalam keadaan yang kebetulan itu aku tetap pada pendirian yang pernah diberikan oleh ayahku kepadaku. Aku tidak mencari musuh dimana pun juga. Tetapi aku pun tidak mau mati sambil menyilangkan tangan di dada.”

“He.” wajah ketiga orang yang akan membunuhnya itu menjadi merah, “Jadi apa maumu?”

“Sebagai seorang laki-laki, aku memilih mati dengan jantan. Apakah dengan demikian kematian itu akan semakin cepat atau lambat. Aku akan berusaha menyelamatkan diri, bagaimanapun juga caranya. Melawan, berteriak atau apa saja.”

Ketiga orang itu tertawa. Yang seorang berkata di antara derai tertawanya meskipun mengandung nada kemarahan, “Aku cincang kau menjadi kepingan tulang yang akan berserakan di sepanjang jalan kota ini.”

Sekali lagi jawab yang didengarnya adalah mengejutkan sekali, “Itu lebih baik. Setiap orang akan mempercakapkan kami berdua.”

“Persetan.” tiba-tiba yang paling tua di antara ketiga orang itu membentak, “Kita bunuh saja anak itu sekaligus. Kita pukul dadanya, dan kita remukkan iganya.”

Dua orang yang lain tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja keduanya mendekati anak-anak muda itu.

“Kita bunuh dengan cepat, dan kita akan segera hilang di lorong-lorong sempit. Mereka tidak akan menemukan tempat persembunyian kita meskipun prajurit di seluruh Singasari akan dikerahkan.”

Kedua orang yang lain tetap berdiam diri. Namun tiba-tiba mereka mempersiapkan diri untuk meremukkan tulang-tulang iga ke dua anak-anak muda itu.

Tetapi, sekali lagi ketiga orang itu terkejut. Kedua anak muda itu benar-benar tidak menjadi takut karenanya. Bahkan tiba-tiba saja mereka berloncatan dan herdiri beradu punggung. Menilik sikapnya, maka kedua anak muda itu benar-benar akan melawan. Bukan saja karena mereka ingin bersikap jantan, tetapi menilik sikap tangan dan kakinya, keduanya mempunyai bekal untuk berbuat demikian.

“Gila.” yang tertua dari orang-orang yang akan membunuh kedua anak muda itu pun menggeram. “Bunuh mereka. Cepat.”

Tidak ada waktu terbuang lagi. Kedua orang yang lain pun segera meloncat, langsung memukul ke arah dada kedua anak-anak muda itu.

Tetapi ternyata anak-anak muda itu tidak membiarkan diri mereka diremukkan oleh serangan lawannya. Mereka pun dengan lincahnya meloncat ke arah yang berbeda, sehingga dengan demikian serangan itu sama sekali tidak dapat menyentuh tubuhnya. Bahkan yang lebih muda dari kedua anak-anak muda itu, tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia tidak sekedar menghindarkan diri saja dari serangan itu. Tetapi hampir di luar nalar lawan-lawannya bahwa anak muda itu pun segera meloncat menyerang pula. Ketika kakinya yang sebelah menyentuh tanah saat ia menghindar, maka kaki itu berputar di atas tumitnya dan sebuah loncatan kecil telah mendorong tubuhnya maju mendekati lawannya. Sebuah putaran yang deras mengayunkan kakinya yang lain menghantam ke arah lambung lawannya.

Gerakan itu sangat mengejutkan dan hampir tidak terduga. Dengan demikian, maka lawannya sudah tidak sempat lagi memperhitungkan kemana ia harus mengelak. Karena itu, maka lawannya segera merendahkan diri sambil menangkis serangan itu dengan sikunya.

Ternyata anak muda itu benar-benar cekatan. Ia masih sempat mengurungkan serangan kakinya. Tetapi tiba-tiba saja ia berdiri tegak menghadap lawannya yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan gerak lawannya yang demikian cepatnya. Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh lawannya, ia maju selangkah. Tubuhnya menjadi condong kedepan bersama dengan kedua tangannya yang terjulur lurus kedepan. Yang kanan langsung mengarah ke jantung, yang kiri ke ulu hati.

Gerakan itu terlampau cepat bagi lawannya. Ia hanya berhasil menangkis sebuah serangan. Sedang serangan yang lain berhasil menyusup masuk mengenai dada di arah jantung.

Serangan itu benar-benar terasa betapa sakitnya. Rasa-rasanya jantungnya telah berhenti berdentang, dan darahnya terhenti mengalir.

Untunglah, bahwa ia adalah orang yang memiliki daya tahan yang luar biasa. Pengalamannya yang tertimbun di dalam perbendaharaan ilmunya, dan latihan-latihan yang mantap, telah menyelamatkannya. Dadanya tidak pecah oleb serangan itu, dan jantungnya tidak runtuh. Namun ia harus terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan dengan sekali berguling ia baru dapat memperbaiki keadaannya.

Sambil menyeringai, ia mulai menyadari keadaannya. Ternyata lawannya bukan sekedar seekor tikus yang mati dengan sekali injak. Kesalahannya yang besar adalah, menganggap anak-anak muda itu korban yang sangat lunak.

Dengan demikian maka orang yang sudah menyadari kesalahannya itu pun segera mencoba memperbaikinya sebelum terlambat sama sekali.

Dalam pada itu, ia pun sempat sekilas melihat kawannya yang berkelahi dengan anak muda yang nampaknya lebih tua dari yang seorang lagi. Ternyata ia pun mengalami nasib yang sama. Bahkan agak lebih parah sedikit, karena kawannya itu sudah terbanting di tanah oleh sebuah dorongan kaki yang keras. Hanya karena pengalamannya yang luas dan ketahanan tubuhnya seperti dirinya sajalah, ia kemudian berhasil meloncat dan berdiri tegak. Tetapi ia masih belum dapat menemukan keseimbangannya yang utuh.

Agaknya anak yang lebih tua itu tidak mau kehilangan ke sempatan. Selagi lawannya belum berhasil menguasai dirinya sebaik-baiknya, ia pun telah meluncur menyerang dengan kakinya yang terjulur lurus, seolah-olah merupakan sebuah lontaran tonggak yang lurus dengan seluruh tubuhnya, mendatar mengarah ke lehernya.

Lawannya itu terkejut bukan buatan. Wajahnya menjadi pucat. Ia hanya dapat melihat serangan itu meluncur dengan derasnya tanpa dapat berbuat sesuatu.

Demikian juga kawannya yang masih berdiri di luar arena. Ia pun terkejut bukan buatan. Ia sadar, bahwa kawannya yang masih belum berhasil menguasai dirinya sepenuhnya itu dikenai serangan yang demikian, maka ia akan mengalami kesulitan yang barangkali tidak akan dapat ditolong lagi.

Karena itu, maka ia pun tidak berpikir lebih panjang lagi. Dengan serta merta ia pun segera meloncat membentur serangan anak muda yang meluncur dengan derasnya itu.

Akibatnya ternyata dahsyat sekali. Benturan itu telah melemparkan kedua belah pihak beberapa langkah surut. Namun karena anak muda itu telah dengan sepenuh tenaga sengaja membenturkan diri, maka ia berada dalam keadaan yang lebih baik. Apalagi ternyata bahwa tenaganya agak lebih kuat dari lawannya yang menganggapnya sasaran yang tidak berarti.

Lawannya, salah seorang dari ketiga orang yang berusaha untuk membunuhnya itu pun terlempar surut. Tetapi keadaannya agaknya tidak terlampau jelek pula. Sambil menyeringai menahan sakit, ia jatuh terguling. Namun dengan sigapnya ia pun berhasil meloncat berdiri dan segera bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.

Apalagi sementara itu, kawannya pun telah berhasil pula memperbaiki keadaannya untuk menghadapi keadaan berikutnya. Menghadapi anak-anak muda yang sama sekali tidak diduga memiliki kemampuan yang luar biasa.

Ternyata anak yang lebih muda itu pun masih juga berdiri tegak ditempatnya. Di luar sadarnya ia tersenyum melihat orang orang yang tidak dikenalnya, dan yang tiba-tiba saja ingin membunuhnya itu terdesak dan bahkan untuk beberapa saat ada dalam kebingungan.

Dalam pada itu, selagi kedua anak-anak muda itu termangu-mangu, maka orang yang paling tua di antara ketiga lawannya itu pun menggeram sambil bertanya, “He, siapakah kalian sebenarnya?”

Yang lebih tua di antara anak-anak muda itu menyahut, “Apakah kau perlu mengetahui siapakah kami?”

“Persetan. Aku harus mengetahui siapakah kalian sebelum kalian mati. Kalian menunjukkan ilmu yang pernah aku kenal sebelumnya.”

“Kalian masih tetap akan membunuh kami?”

“Ya.”

“Itu tidak mungkin. Perkelaian ini telah menarik perhatian. Sebentar lagi tentu ada prajurit yang datang kemari. Lihat di kejauhan orang-orang berlari-larian mendekat. Mungkin mereka ingin melerai. Tetapi agaknya perkelahian yang kita lakukan, yang nampaknya seolah-olah perkelahian antara orang-orang yang berilmu, sekali lagi, hanya nampaknya saja, justru karena kekasaran kita masing-masing telah menjadi ragu-ragu. Tetapi tentu ada di antara mereka yang melaporkannya kepada prajurit Singasari.”

“Aku akan membunuh prajurit-prajurit yang mendekat.”

“Jumlahnya tentu banyak sekali. Di tambah dengan kami berdua.”

“Persetan, siapa kau berdua.”

Sesaat kedua anak muda itu ragu-ragu. Namun kemudian yang tua menjawab, “Kami adalah dua orang bersaudara. Jika kalian memang ingin mengetahui, kami berasal dari padesan. Kami baru saja datang untuk ikut bersama ayah kami menyatakan bela sungkawa atas kematian tuan puteri Ken Dedes.”

“Siapa ayahmu itu, siapa?”

“Namanya Mahendra.”

“Gila. Jadi kau anak Mahendra saudara seperguruan Witantra yang juga disebut Panji Pati-Pati.”

“Ya. Apakah kau sudah mengenal ayahku.”

“Gila. Kalian memang harus dibunuh. Ayahmu ikut bersama Mahesa Agni merobohkan kekuasaan tuanku Tohjaya.”

“Ayahku yang ikut. Bukan aku dan bukan adikku. Jika kau mendendam kepada ayahku, aku akan memanggilnya. Ia berada di istana sekarang bersama pamanda Witantra dan Mahisa Agni. Mungkin pamanda Lembu Ampal ada juga di sana. Jika kau ingin aku dapat memanggil mereka.”

Wajah orang-orang itu menjadi merah padam. Tiba-tiba saja mereka menyadari, bahwa mereka telah terbentur batu yang keras tiada taranya. Anak-anak Mahendra yang mau tidak mau tentu memiliki ilmu ayahnya. Dan ternyata keduanya tidak mengecewakan meskipun belum masak. Tetapi karena kelengahan ketiga orang itu, maka mereka tidak segera dapat berhasil membunuh anak-anak itu.

Namun mereka telah terlanjur melakukannya. Karena itu, mereka tidak dapat lagi menarik diri. Kedua anak-anak muda itu harus mati.

Tetapi pekerjaan itu harus dilakukan dengan cepat, sebelum ada orang lain yang ikut campur di dalam perkelahian vang harus mereka lakukan dan tidak mereka duga sebelumnya akan terjadi.

Demikianlah ketiga orang itu pun segera bersiap. Yang tertua di antara mereka berkata kepada seorang kawannya, “Ikatlah yang tua itu dalam perkelahian. Kami berdua akan membunuh yang muda ini lebih dahulu. Kemudian yang tua itu kita bunuh beramai-ramai. Dengan demikian pekerjaan ini akan segera selesai.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka pun segera mempersiapkan diri. Dan sejenak kemudian perkelahian pun segera telah mulai lagi.

Yang tua dari kedua bersaudara itu memang menjadi cemas. Adiknya harus bertempur melawan dua orang yang mungkin akan sulit dilawannya. Karena itu, maka katanya kepada adiknya sambil bertempur, “Kita bertempur berpasangan.”

Adiknya tidak bertanya lagi. Ia pun segera menyesuaikan diri, sehingga jarak perkelahian mereka menjadi semakin dekat.

“Tahan yang tua itu.” berteriak salah seorang dari kedua orang yang sedang berkelahi melawan yang muda di antara kedua bersaudara itu.

Tetapi jawabnya, “Aku sudah berusaha.”

Namun usaha itu tidak berhasil. Bahkan dua orang yang bertempur melawan seorang, yang muda di antara kedua bersaudara itu pun tidak berhasil menahan jarak dari keduanya.

Ternyata kedua anak-anak muda itu memang memiliki ilmu yang dapat mereka banggakan. Apalagi ketika mereka kemudian menjadi semakin dekat. Rasa-rasanya ada hubungan yang tidak terpisahkan di antara keduanya. Seakan-akan keduanya telah digerakkan oleh satu otak yang mempergunakan dua tubuh yang berloncatan dengan lincahnya.

Yang tua dari kedua bersaudara itu mendesak semakin dekat. Lawannya tidak mampu menahannya, dan akhirnya batas yang mereka usahakan itu pun dapat dipecahkannya.....

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...