BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-19-01
Pemimpin pengawal di seluruh istana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia-pun telah mendengar kematian kedua tawanan itu. Tapi ia memang menunggu laporan resmi dari petugasnya.
“Kalau begitu kau harus tetap berada di istana,” berkata pemimpin pengawal itu.
“Ya. Itulah sebabnya aku melapor.” ia berhenti sejenak. Lalu, “aku ingin minta tolong agar keluarga kami dapat diberitahu. Tetapi tidak seluruh persoalannya, supaya mereka tidak menjadi sangat gelisah.”
“Baik. Aku sendiri akan menemui keluargamu dan kawan-kawanmu yang bertugas saat itu.”
“Aku sangat berterima kasih.”
“Kemudian, apakah masih ada persoalan?”
“Ya. Bagaimana dengan kedua mayat itu?”
“Apakah tidak ada perintah Sri Rajasa?”
“Tidak.”
Pemimpin yang lebih tinggi itu mengangguk-anggukkan kepalannya. Lalu, “Aku akan menghadap Sri Rajasa, apabila aku mendapat kesempatan.”
“Aku menunggu.”
Pengawal tiu-pun kemudian kembali ketempatnya. Ia masih harus menunggu keputusan Sri Rajasa dan keputusan-keputusan yang menyangkut kedua sosok mayat itu.
Tetapi ternyata pemimpin pengawal istana itu tidak sempat menghadap, karena Sri Rajasa sedang berada di bangsal isteri mudanya. Karena itu, ia harus menunggu. Baru setelah Sri Rajasa kembali ke bangsalnya, ia sempat menghadap hanya sejenak.
“Lihatlah mereka baik-baik. Ingatlah ciri-cirinya dan tanda-tanda kematiannya. Kemudian kuburkan mereka.” hanya itulah titah Sri Rajasa.
Dalam pada itu, Senapati pasukan kecil yang telah berhasil menjalankan tugasnya itu-pun telah berada di tengah-tengah prajuritnya kembali.
Diceriterakannya apa yang telah terjadi dengan kedua tawanan itu. Meskipun para prajurit itu sudah mendengar bahwa kedua tawanan itu mati, tetapi baru dari Senapatinya mereka mendapat keterangan yang jelas.
“Kita tidak dianggap bersalah, dan kita boleh pulang beristirahat. Waktu yang diberikan kepada kita tidak disebutkan, tetapi tentu seperti peraturan yang berlaku. Setelah melakukan tugas-tugas kecil kita beristirahat dua hari dua malam.”
“Tugas kecil?” bertanya seorang prajurit.
Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya saja prajurit itu yang kemudian menundukkan kepalanya.
Dalam pada itu, Anusapati-pun berkata, “Jadi, kita semuanya mendapat waktu beristirahat dua hari dua malam, sebelum kita kembali ke pasukan induk?”
“Hamba tuanku,” jawab Senapati itu.
“Tetapi aku tidak mempunyai pasukan induk,” berkata Anusapati kemudian. “Apakah dengan demikian berarti bahwa aku mungkin sekali akan mendapat tugas pada kesatuan lain untuk suatu tugas yang lain?”
“Hamba tuanku. Tuanku memang tidak mempunyai kesatuan khusus, karena tuanku sebenarnya memang bukan seorang prajurit biasa. Untuk waktu-waktu yang akan datang, tugas-tugas tuanku akan diatur langsung oleh tuanku Sri Rajasa.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau begitu aku akan mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepadamu dan kepada seluruh pasukan yang telah melindungi aku, sehingga aku boleh ikut merasa bangga bahwa tugas ini dapat terlaksana.”
“Ah,” desah Senapati itu, “ternyata tuanku tidak memerlukan perlindungan. Tuanku adalah seorang prajurit. Dalam tugas yang baru saja kita selesaikan, tuanku ternyata dapat menyejajarkan diri dengan kita semua, sehingga tuanku tidak lagi menjadi tanggungan bagi kami. Bahkan tuanku telah memperkuat pasukan kami.”
Putera Mahkota itu tersenyum. Sambil menepuk bahu Senapati itu ia berkata. “Sebenarnya aku senang melakukan tugas bersamamu, bersama pasukanmu yang kecil tetapi bertanggung jawab itu. Kau adalah seorang pemimpin kecil yang berwibawa. Aku berharap bahwa kelak kau akan meningkat semakin tinggi dan mempunyai pengaruh yang mantap dikalangan keprajuritan Singasari.”
Senapati itu tersenyum pula. Jawabnya, “Terima kasih tuanku. Tetapi waktunya masih jauh sekali. Mungkin lebih jauh dari jarak umur hamba.”
“Jangan terlampau merendahkan diri. Siapa tahu, tugas ini salah satu pancatan bagimu.”
Tetapi Senapati itu bahkan tertawa.
Sejenak kemudian Anusapati-pun minta diri kepada Senapati itu dan seluruh prajurit-prajuritnya. Dan ia-pun akan kembali ke bangsalnya. Isterinya pasti sudah menunggu. Bahkan ibunya pasti juga menantinya dengan cemas.
Namun sambil menghitung langkahnya ia selalu dibayangi oleh tugas-tugas mendatang yang pasti akan lebih berat. Namun lebih dari itu, ternyata pula ia sudah menghadapi pengkhianatan-pengkhianatan yang ada di dalam dan di luar istana, sehingga Putera Mahkota itu benar-benar telah merasa terkepung.
Langkah Anusapati tertegun ketika ia lewat di sebelah pintu gerbang taman. Dilihatnya seorang juru taman sedang menjinjing bumbung bambu berisi air.
Dengan serta merta Anusapati berhenti. Namun kemudian disadarinya kedudukannya sebagai seorang Putera Mahkota, sedang orang itu tidak lebih dari seorang juru taman. Namun demikian ia melangkah perlahan-lahan mendekatinya.
“Ampun tuanku,” juru taman itu menyapa, “ternyata tuanku telah kembali dengan selamat.”
“Ya Paman Sumekar,” jawab Putera Mahkota, “perjalanan kali ini sangat menarik.”
Tetapi Anusapati tidak sempat mengatakannya, karena beberapa orang juru taman yang lain segera datang mendekat.
Mereka-pun kemudian menanyakan keselamatan Anusapati berebut dahulu.
“Terima kasih paman,” jawab Anusapati kepada mereka itu, “seperti paman lihat, aku sehat walafiat.”
“Tuanku menjadi bertambah hitam,” berkata seorang juru taman yang gemuk, “tetapi dengan demikian tuanku menjadi semakin gagah.”
Anusapati tersenyum. Sedang juru taman yang lain berkata. “Tetapi tuanku menjadi sedikit kurus.”
“Mungkin paman. Aku kurang tidur. Di istana aku hampir tidak pernah meninggalkan pembaringan. Tetapi di perjalanan aku tidak sempat tidur, meskipun di malam hari.”
“Siang malam tuanku berjalan?”
“Ya, siang malam.”
“Tidak berhenti?”
Anusapati tertawa. Jawabnya, “Tentu ada juga kesempatan untuk berhenti, sedikit beristirahat dan tidur.”
“O, jadi ada juga waktu untuk tidur.”
“Tentu ada, tetapi terlampau sedikit dibanding dengan waktu tidurku di istana.”
Para juru taman itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat bertanya lebih banyak lagi, karena Anusapati segera minta diri, “Aku masih sangat lelah. Aku akan pergi ke bangsal. Bukankah tidak ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak tuanku,” jawab seorang juru taman, namun tiba-tiba wajahnya berkerut, “eh, maksudku, tidak ada apa-apa.”
“Tidak tuanku,” Sumekarlah yang menyahut, “tidak terjadi sesuatu.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang ragu-ragu itu membuatnya justru berdebar-debar. Sehingga dengan demikian sekali lagi ia mendesak, “Benar tidak ada sesesuatu yang terjadi?”
“Benar tuanku,” jawab Sumekar, “adalah biasa saja, apabila seorang emban berceritera bahwa tuan puteri merindukan tuanku Putera Mahkota. Dan itu bukan berarti sesuatu yang harus dipersoalkan.”
“Ya, ya tuanku,” juru taman yang gemuk menyahut, “memang tidak ada apa-apa.”
Anusapati masih berdiri termangu-mangu. Ditatapnya wajah Sumekar sejenak, namun ia-pun kemudian meninggalkan tempat itu.
Namun kini Anusapati tidak lagi berjalan perlahan-lahan. Langkahnya manjadi tergesa-gesa, seakan-akan ada sesuatu yang mengejarnya. Kesan dari percakapannya dengan para juru taman membuatnya agak berdebar-debar. Jawaban mereka agaknya tidak sewajarnya.
Ketika ia melihat bumbungan bangsalnya, serasa ia ingin segera meloncat. Tetapi ternyata Anusapati masih harus tetap mengekang dirinya sendiri.
Ketika ia sampai di halaman bangsal tempat tinggalnya, dilihatnya seorang emban berlari-lari masuk ke dalam. Tentu ia akan memberi tahukan kedatangannya kepada isterinya.
Sebenarnyalah ketika Anusapati menaiki tangga bangsalnya, ia melihat isterinya berlari-lari mendapatkannya. Begitu ia memasuki pintu, isterinya segera memeluknya erat-erat seolah-olah tidak akan dilepaskannya kembali.
Apalagi ketika ia melihat air mata yang berlinang di pelupuk mata isterinya yang sedang mengandung itu.
“Apakah yang terjadi sepeninggalku?” bertanya Anusapati yang menjadi semakin curiga.
Tetapi isterinya justru mencoba mengusap air matanya. Dipaksakannya bibirnya untuk tersenyum sambil Berkata, “Maafkan kakanda. Bukan maksud hamba membuat kakanda gelisah. Marilah kakanda masuk dan perkenankan hamba bertanya tentang keselamatan kakanda di perjalanan.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak boleh gelisah. Kalau ia menjadi gelisah, maka isterinya akan menjadi semakin gelisah pula.
Perlahan-lahan Anusapati melangkah masuk. Tidak ada perubahan apa-pun di dalam bangsal itu. Tidak ada barang-barang yang rusak atau berpindah tempat. Masih seperti ketika ditinggalkannya.
Sejenak kemudian beberapa emban telah menyediakan pakaian yang bersih bagi Anusapati, karena isterinya tahu, bahwa di dalam perlawatannya, Anusapati pasti tidak sempat menghiraukan pakaiannya yang menjadi kotor dan kumal itu.
“Silahkanlah kakanda minum dahulu. Kemudian membersihkan diri dan kemudian makan telah hamba sediakan.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia-pun ingin segera mendengar apa yang telah terjadi. Tetapi ia tidak mau merusak suasana lebih parah lagi.
Karena itu, maka Anusapati-pun kemudian minum beberapa teguk air hangat yang telah dihidangkan oleh embannya. Segar sekali rasanya, seakan-akan telah sekian lamanya ia tidak meneguk air sesegar itu.
Kemudian seperti yang diminta oleh isterinya, ia-pun pergi kepakiwan untuk membersihkan diri. Baru setelah ia berpakaian, maka Putera Mahkota itu-pun duduk menghadapi makan yang telah tersedia.
“Sejak kemarin hamba menyiapkan makan dan minum apabila setiap saat tuanku datang.”
“Tetapi bukankah aku tidak terlambat? Aku datang, tepat pada waktunya.”
“Hamba menyangka bahwa kakanda datang kemarin sebelum malam, langsung kembali ke bangsal ini. Tetapi ternyata tuanku datang setelah larut malam dan baru saat ini kakanda sampai di bangsal ini.”
“Ada sedikit persoalan dengan tawanan yang kami bawa.”
“Ya. Hamba telah mendengar. Bahkan hamba menjadi cemas, jangan-angan hal itu menyebabkan kakanda tidak segera dapat pulang untuk beberapa hari.”
Anusapati tersenyum. Jawabnya, “Aku pasti segera pulang.”
Isterinya itu masih menanyakan beberapa hal tentang perjalanannya. Kesulitan-kesulitan yang dialami dan bahaya-bahaya yang dihadapinya.
“Bukankah perjalanan ini perjalanan yang berat Kakanda Anusapati?”
“Memang agak berat. Tetapi atas perlindungan Yang Maha Agung, aku sampai di bangsal ini dengan selamat.”
“Hamba juga bersyukur.”
“Ternyata bahwa aku telah berhasil mengatasi perjalananku yang pertama sebagai seorang prajurit. Tentu akan segera disusul dengan tugas-tugas berikutnya. Mungkin tugas-tugas yang lebih berat.”
“Apakah tuanku akan segera pergi lagi?”
“Tentu tidak segera.”
Isterinya menundukkan kepalanya. Dan Anusapati-pun segera teringat sikap para juru taman yang mencurigakan. Karena itu maka ia-pun segera bertanya, apakah yang telah terjadi sepeninggalnya.
“Apakah kau mengalami sesuatu yang tidak baik?”
Isterinya menelan ludahnya. Kemudian jawabnya, “Ampun kakanda. Sebenarnya hamba malu mengatakannya, seperti kelakuan anak-anak yang cengeng saja.”
Anusapati mengerutkan keningnya. “Apakah yang terjadi?”
Isterinya tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah seorang emban yang duduk bersimpuh disudut ruangan itu. Tetapi emban itu justru menundukkan kepalanya.
“Kakanda,” berkata isterinya kemudian, “sepeninggal tuanku, bangsal ini telah diganggu oleh hantu.”
“Hantu? Hantu maksudmu?”
“Ya, mungkin roh halus atau jenisnya yang lain.”
Anusapati mengerutkan dahinya sambil mengangguk-angguk.
Kemudian ia bertanya, “Apakah yang dilakukan oleh hantu-hantu itu?”
“Para embanlah yang paling banyak mengalami gangguan. Tetapi hamba-pun pernah melihatnya sekali.”
“Bagaimanakah bentuknya?”
“Hitam. Hanya hitam saja.”
Anusapati termenung sejenak. Lalu, “Apakah hantu itu menimbulkan suatu kerusakan, atau apa-pun yang parah?”
Isterinya menggelengkan kepalanya, “Tidak tuanku.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Kini semakin jelas padanya, bahwa memang ada pengkhianatan di dalam istana ini. Sudah tentu bukan roh halus atau semacam itu yang datang menakut-nakuti isterinya, karena selama ia berada di istana itu, belum pernah terdengar berita semacam itu.
Tetapi Anusapati tidak mengatakannya kepada isterinya. Dengan demikian ia menjadi semakin cemas dan ketakutan, “Jadi, apakah yang dilakukan oleh hantu itu?”
“Tidak ada tuanku. Tetapi hamba menjadi takut sekali. Pertama kali hamba melihat, hamba hampir menjadi pingsan.”
“Hanya itu?”
“Ada juga yang dilakukannya. Merusak barang-barang di belakang rumah ini.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dan ia-pun kemudian bertanya, “Sampai kapan?”
“Semalam hantu itu sudah tidak ada.”
“Kemarin malam?”
Isterinya mengingat-ingat. Lalu, “Tidak ada. Dihari terakhir, hamba mendengar keributan di belakang. Tetapi hamba tidak berani melihatnya. Namun seorang emban berusaha mengintip dari biliknya. Dan emban itu melihat dua sosok hantu sedang berkelahi.”
“Berkelahi?”
Isterinya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Sekarang aku sudah ada dirumah ini. Hantu itu tidak akan kembali. Atau, perkelahian itulah agaknya yang telah mengusirnya. Mungkin hantu itu berkelahi dengan para peronda.”
“Para peronda ada di depan bangsal tuanku. Hamba pernah bertanya kepada salah seorang dari mereka, tetapi ia tidak melihat dan mendengar apa-pun juga.”
Akhirnya Anusapati tersenyum. Ditepuknya bahu isterinya sambil berkata, “Jangan takut lagi kepada hantu itu. Aku akan menemuinya kelak apabila ia datang kembali. Aku akan bertanya, apakah yang dikehendaki dari rumah ini.”
Isterinya tidak menyahut. Tetapi kehadiran Anusapati membuat hatinya menjadi tenteram.
Demikianlah di sore hari, ketika Anusapati sudah beristirahat sajenak, diperlukannya menemui Sumekar, ketika juru taman itu sedang menyiram batang-batang perdu dan bunga di halaman bangsalnya.
“Aku sudah mendengar,” berkata Anusapati.
“Apakah yang tuanku dengar.”
“Yang tidak kau katakan, dihadapan kawan-kawanmu para juru taman.”
“O, hantu itu?”
“Ya.”
“Demikianlah tuanku. Memang tersiar kabar bahwa di bangsal tuanku itu terdapat hantu. Para emban menjadi ketakutan, sehingga mereka kadang-kadang berkumpul di depan bangsal, mendekati para penjaga.”
“Dan para penjaga itu tidak berbuat apa-apa.”
“Mereka mencoba mencari di sekitar bangsal itu tuanku. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Mereka tidak bertemu dengan hantu yang menakut-nakuti isi bangsal itu. Bahkan ketika hampir separuh malam mereka berada di belakang, mereka tidak melihat apa-apa.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Tetapi para emban melihat hantu itu berkelahi pada suatu malam.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya tuanku. Hamba memang mendengar bahwa hantu itu berkelahi.”
Tetapi Anusapati tersenyum sambil berkata, “Jadi paman sendiri harus turun tangan?”
Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu sambil tersenyum pula ia menjawab, “Hamba tuanku. Hamba tidak sampai hati membiarkan seisi bangsal itu ketakutan, sehingga hamba berusaha untuk menemukan hantu itu. Itulah agaknya yang dikatakan oleh para emban bahwa ada hantu berkelahi dengan hantu.”
“Terima kasih paman. Aku memang sudah menyangka.” Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “siapakah yang berusaha menakut-nakuti isi bangsal itu?”
Sumekar menjadi ragu-ragu sejenak. Sekilas teringat olehnya, bagaimana Anusapati telah membunuh gurunya yang pertama. Darah mudanya kadang-kadang masih juga tidak terkendali, sehingga dengan demikian, maka ia harus berhati-hati. Ia tidak dapat mengatakan dengan pasti, siapakah yang telah mencoba menakut-nakuti bangsal itu karena ia tidak berhasil memaksanya membuka kedok hitamnya, justru karena hantu itu berusaha memancing perhatian beberapa orang prajurit. Ketika prajurit-prajurit itu datang, maka baik hantu itu maupun Sumekar, harus segera melarikan dirinya. Tetapi sebenarnya Sumekar mempunyai dugaan yang kuat, siapakah hantu itu. Meskipun demikian Sumekar tidak dapat mengatakannya kepada Anusapati. Jika darahnya mendidih, maka ia dapat berbuat di luar pengamatan nalar yang bening. Padahal, yang diketahui barulah dugaan semata-mata.
“Siapa?” desak Anusapati.
“Ampun tuanku,” jawab Sumekar, “hamba tidak berhasil mengetahui hantu itu, karena ia sempat melarikan dirinya. Hamba tidak dapat mengejarnya, karena para prajurit yang meronda dan yang berjaga-jaga bertebaran di halaman. Seperti hantu-hantuan itu, hamba-pun berusaha menyembunyikan diri ketika para prajurit mendengar sedikit keributan. Tetapi kesimpulan mereka, agaknya memang ada roh halus yang sedang mengganggu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Sayang sekali. Kalau kau dapat mengetahui siapakah orang itu, aku akan dapat menelusur pengkhianat yang ada di istana ini, sehubungan dengan terbunuhnya dua orang tawanan itu, dan peristiwa-peristiwa yang aku alami di daerah perampok yang terpencil itu.”
Samekar tidak segera menjawab. Tetapi kata-kata Anusapati itu sangat menarik perhatiannya. Pengkhianatan itu terjadi tidak saja di istana, tetapi ternyata juga di medan.
Karena itu, maka Sumekar-pun mencoba bertanya dengan hati-hati, “Tuanku, apakah yang sudah terjadi di medan itu?”
“Juga sebuah pengkhianatan paman,” jawab Anusapati, “pengkhianatan yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.”
Sumekar mengerutkan keningnya.
“Ternyata para perampok itu sudah mengetahui akan kehadiran kami.”
Sumekar terkejut. Tetapi ia tidak menyahut.
“Bahkan mereka telah mengundang seseorang yang mereka anggap akan dapat menyelesaikan peperangan yang akan terjadi.”
Sumekar menjadi semakin heran.
“Paman,” berkata Anusapati kemudian, “kedatanganku benar-benar mendapat sambutan yang hangat. Mereka dapat tepat mengetahui saat kami akan datang dan bahwa di antara prajurit Singasari terdapat Putera Mahkota.”
“Begitu jauh pengkhianatan itu tuanku?”
“Ya,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu diceriterakannya apa yang telah dialami selama ia berada dalam perjalanan. Dipadukuhan terpencil itu telah menunggu Kiai Kisi. Adalah suatu kurnia keselamatan bahwa ia sempat bertemu dengan Kiai Kisi sebelumnya, sehingga ia berhasil menggagalkan niatnya menangkap Putera Mahkota, tanpa membuka kedoknya.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendapat gambaran yang agak jelas, apakah yang sebenarnya telah terjadi di istana ini. Tentu suatu usaha untuk menyingkirkan Putera Mahkota. Dan dengan demikian sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukan orangnya.
Tetapi Sumekar tidak mengatakannya. Ia tetap menyimpannya di dalam hati, meskipun ia yakin bahwa Anusapati yang bukan seorang anak muda yang dungu itu, pasti sudah mempunyai perhitungan serupa.
“Biarlah Putera Mahkota menyimpan dugaan itu di dalam hatinya, seperti aku juga menyimpan di dalam hati,” berkata Sumekar kepada diri sendiri, “kelak apabila Mahisa Agni berkunjung kemari, aku akan dapat memperbincangkannya.”
“Paman,” berkata Anusapati kemudian, “aku mengharap bahwa yang aku katakan itu dapat menjadi bahan bagi paman, untuk menghubungkan apa yang telah terjadi di istana. Mudah-mudahan kita akan dapat menemukan, siapakah sebenarnya yang telah melakukan pengkhianatan itu dengan pasti. Bukan sekedar dugaan yang tidak beralasan.”
“Hamba tuanku. Hamba akan mencoba. Tetapi percayalah, bahwa hamba akan tetap pada pendirian hamba. Bahwa hamba akan membantu apa-pun juga yang dapat hamba lakukan buat tuanku.”
“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih paman. Aku akan tetap mengharap bantuan paman. Agaknya di hari mendatang aku akan menghadapi lebih banyak kesulitan-kesulitanan.”
“Tetapi tuanku tidak berdiri sendiri. Di samping tuanku ada kakang Mahisa Agni. Ada hamba, ada Witantra dan sudah tentu ada juga kesetiaan kepada Putera Mahkota dari para prajurit Singasari.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak dapat berbincang lebih lama lagi, karena ada beberapa orang juru taman yang lain yang berkeliaran di sekitar mereka.
Dalam pada itu, maka Anusapati-pun segera kembali ke bangsalnya. Sebenarnya masih ada persoalan yang akan dikatakannya kepada Sumekar, tetapi ia harus menyimpannya untuk beberapa saat, sampai ia mendapat kesempatan berikutnya.
Ketika malam turun, menyelubungi tanah Singasari, maka Sri Rajasa telah berada di dalam bilik yang khusus. Bilik yang dipergunakannya untuk membicarakan masalah-masalah yang dianggapnya rahasia. Rahasia pribadi, mau-pun rahasia Singasari.
Di dalam bangsal itu, selain Sri Rajasa, maka penasehatnya yang tua duduk bersila sambil menundukkan kepalanya. Sekali-sekali terdengar ia menarik nafas dalam-dalam.
“Paman,” berkata Sri Rajasa kemudian, “jadi paman telah melakukannya?”
“Ampun tuanku. Hamba sekedar menjalankan perintah tuan Puteri Ken Umang.”
“Apa katanya?”
“Semakin cepat Putera Mahkota disingkirkan, akan menjadi semakin baik bagi Singasari. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk berbakti kepada tanah ini selain menjalankan perintah itu?”
“Apakah Tohjaya mengetahui hal ini?”
“Hamba tidak mengatakan kepada tuanku Tohjaya. Hamba tidak tahu, apakah tuanku Ken Umang juga tidak mengatakannya.”
“Mudah-mudahan anak itu tidak mengetahui rencana ini,” geram Sri Rajasa.
Kepala penasehat itu menjadi semakin tunduk.
“Kau tahu bahwa rencana itu telah gagal sama sekali?”
“Hamba tuanku.”
“Dan kau juga yang membunuh kedua tawanan itu?”
“Hamba tuanku.”
“Kau pula yang menghubungi para perampok itu dan mengundang orang yang bernama Kiai Kisi?”
“Hamba tuanku.”
“Itulah agaknya kau menunjuk tempat itu untuk melihat kemampuan Putera Mahkota.” Sri Rajasa terdiam sejenak. Lalu, “tetapi ternyata kau tidak memperhitungkan kemungkinan yang ternyata telah terjadi. Orang berkerudung hitam itu. Agaknya orang yang telah masuk ke halaman istana ini pula.”
Penasehat Sri Rajasa, sekaligus guru Tohjaya itu menganggukkan kepalanya.
Baru kini ia merasa cemas akan rencananya itu. Ia menganggap bahwa rencana itu akan terlaksana dengan sempurna. Kiai Kisi akan berhasil menangkap Putera Mahkota, dan mempergunakannya untuk banyak kepentingan. Kiai Kisi pasti akan berhasil memeras Sri Rajasa lewat Permaisuri. Sedang niat menyingkirkan Putera Mahkota itu dapat dilaksanakan, sehingga jalan bagi Tohjaya menjadi semakin lapang.
Tetapi cara yang dipergunakannya ini sama sekali tidak berhasil. Bahkan hampir saja ia terjebak karena dua orang pembantu terdekat Kiai Kisi dan sekaligus murid-muridnya yang paling tua dapat ditangkap.
“Hampir tidak masuk akal bahwa hal itu dapat dilakukan oleh pasukan kecil itu,” berkata penasehat itu di dalam hatinya. Namun ternyata bahwa ada pihak lain yang langsung telah mempengaruhi rencananya, bahkan telah menyebabkan rencana itu gagal sama sekali.
Penasehat Sri Rajasa itu mengerutkan lehernya ketika ia mendengar Sri Rajasa berkata, “Aku tidak senang dengan tindakanmu itu.”
“Ampun tuanku. Tetapi maksud hamba adalah membantu putera tuanku yang terkasih. Tuanku Tohjaya.”
“Aku sudah mempunyai rencana sendiri. Aku tidak sebodoh dan sekasar kau,” berkata Sri Rajasa, “apalagi kita harus memperhitungkan pihak ketiga yang tidak kita ketahui. Namun yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Bukan sekedar hanya satu orang. Tetapi lebih dari dua orang.”
“Hamba tuanku. Hamba mohon ampun karena kelancangan itu.”
“Kali ini aku masih mengampuni kau. Tetapi lain kali aku akan menentukan sikap.”
“Terima kasih tuanku. Hamba tidak akan bertindak sendiri untuk seterusnya.”
“Kau masih sangat aku perlukan. Tetapi kau jangan berbuat sesuatu diluar pengetahuanku. Apalagi yang menyangkut kedudukan Putera Mahkota. Kau harus menyadari, bahwa Putera Mahkota itu-pun tidak berdiri sendiri, sehingga kita tidak dapat melakukannya dengan kasar. Ia adalah kemanakan Mahisa Agni. Dan kau tahu, siapa Mahisa Agni itu.”
“Hamba tuanku. Hamba tahu.”
“Kau sangka bahwa ia tidak dapat mempergunakan pengaruhnya untuk berbuat sesuatu apabila ia kecewa?”
“Hamba tuanku.”
“Perhitungkan semua pihak sebelum berbuat sesuatu. Orang-orang yang berkerudung itu. Mahisa Agni dan mungkin ada pihak-pihak lain yang tidak sependapat dengan kita.”
Penasehat raja itu mengangguk dalam-dalam sehingga kepalanya hampir menyentuh tikar tempat duduk bersila.
“Pergilah. Tetapi ingat, lawanmu bukan orang-orang sedungu Anusapati itu sendiri. Ada orang-orang yang berotak cerah. Dan itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Aku juga tidak mau bahwa rencanaku sendiri akan justru terganggu karenanya.”
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya.”
“Dengar, kalau rencanaku juga gagal, bukan hanya kau dan aku sajalah yang akan mengalami bencana, tetapi Singasari yang aku bangun dengan susah payah ini akan ikut tenggelam bersama rencana itu. Dengan demikian kita masih harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan itu. Kita harus membuat timbangan antara kepentingan pribadi, termasuk keturunanku, dan kepentingan seluruh Singasari yang sudah menjadi semakin besar ini.”
Penasehat Raja itu menjadi semakin tunduk.
“Selain semuanya itu, jaga agar Tohjaya tidak mengetahuinya. Kalau ia tahu, maka ia akan menjadi semakin bernafsu. Bahkan mungkin ia sendiri berbuat sesuai dengan seleranya, dan dengan demikian maka rencana yang besar itu akan hancur.”
Penasehat itu hanya dapat mengangguk dan mengangguk. Bahkan sampai ia berada di halaman bangsal itu-pun ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sesadarnya.
“Rencana yang gila,” terasa kulitnya meremang apabila teringat kegagalan rencana yang dibuatnya, “untung saja aku masih dapat membunuh kedua tawanan itu. Kalau tidak, mungkin Sri Rajasa tidak akan dapat melindungi aku lagi, dan membiarkan aku terayun di tiang gantungan karena aku telah berkhianat kepada Putera Mahkota.”
Demikianlah maka Sri Rajasa-pun telah mendapatkan kepastian siapakah yang melakukannya, sehingga dengan demikian maka para penjaga yang lengah itu-pun mendapatkan pengampunannya, meskipun mereka mendapat peringatan yang cukup keras.
“Sekali lagi hal yang serupa terjadi,” berkata Sri Rajasa, “kalian akan digantung di alun-alun. Kali ini kalian aku ampuni karena sebelum hal serupa ini terjadi, kalian adalah pengawal-pengawal yang baik.”
Para pengawal itu membungkuk dalam-dalam. Dengan kerongkongan yang panas, salah seorang berkata, “Terima kasil tuanku. Hamba masih dapat melihat anak isteri hamba. Di rumah dua orang anak hamba yang masih kecil menunggu kedatangan hamba.”
“Pulanglah. Jadikanlah hal ini peringatan. Bukan sekedar untuk hari ini, tetapi untuk selanjutnya.”
Para pengawal itu-pun kemudian diperbolehkan pulang, meskipun mereka tidak tahu, kenapa mereka sama sekali tidak mendapat hukuman. Dan mereka-pun masih selalu bertanya-tanya apakah pembunuh itu tidak dicari sama sekali atau sebenarnya sudah tertangkap. Adalah aneh sekali bagi mereka, apabila hal itu begitu saja dilupakan tanpa pengusutan sekali.
Tetapi karena mereka telah diijinkan pulang kepada anak isteri, maka mereka berusaha untuk tidak mempedulikannya lagi.
“Itu adalah persoalan para pemimpin,” berkata para pengawal itu didalam hatinya.
Dalam pada itu, untuk sementara Anusapati telah hidup didalam suasananya sehari-hari. Namun demikian, ia tidak putus-putusnya melatih diri di dalam setiap kesempatan untuk menyempurnakan ilmunya, karena ia yakin bahwa pada suatu saat ia harus mempergunakannya. Bahkan ia merasa seakan-akan hidupnya kini selalu dibayangi oleh bahaya. Sedangkan di dalam istana yang luas Anusapati merasa hidup sendiri menghadapi persoalan-persoalan yang semakin rumit.
Untunglah bahwa di halaman istana itu ada Sumekar. Ia satu-satunya orang yang kadang-kadang dapat diajaknya berbincang. Bahkan banyak sekali nasehat-nasehatnya yang sangat bermanfaat bagi jalan hidupnya kemudian.
Di samping Sumekar, orang yang mengerti tentang dirinya adalah isterinya. Namun sudah tentu tidak keseluruhannya. Anusapati tidak dapat mengatakan kepada isterinya, bahwa hidupnya dibayangi oleh bahaya. Dengan demikian isterinya akan menjadi semakin ketakutan.
Selebihnya dari itu, Anusapati tidak dapat menyebutnya. Apakah ada orang yang dapat menerimanya sebagai Putera Mahkota yang sebenarnya di dalam istana Singasari itu.
Dalam pada itu seperti yang telah direncanakan, maka istana Singasari telah mulai disibukkan dengan persiapan perkawinan Mahisa Wonga Teleng. Meskipun waktunya masih belum genap setahun, tetapi tahunnya sudah berganti, sehingga istana Singasari telah dapat melaksanakan peralatan perkawinan Mahisa Wonga Teleng, mendahului perkawinan Tohjaya sendiri.
“Tohjaya masih harus memberikan banyak sekali waktunya untuk menyempurnakan dirinya,” berkata Sri Rajasa kepada Ken Umang, “perkawinan akan menghambat segala kemajuannya. Ia harus menjadi laki-laki yang paling baik di Singasari.”
Tetapi Sri Rajasa tidak mengetahui, sebenarnyalah bawa Anusapati telah lebih dahulu menyempurnakan dirinya meskipun ia sudah menginjak kehidupan yang baru. Bahkan isterinya sudah mengandung semakin lama menjadi semakin besar, sehingga pada suatu saat, Anusapati pasti akan menjadi seorang ayah.
Namun saat-saat perkawinan Mahisa Wonga Teleng itu ternyata merupakan saat-saat terpenting didalam hidup Anusapati. Pada saat Singasari menyelenggarakan peralatan maka Mahisa Agni-pun telah memerlukan hadir, karena Mahisa Wonga Teleng adalah kemanakannya pula.
Memang Mahisa Agni melihat kelainan pada peralatan ini dibandingkan dengan saat-saat perkawinan Anusapati. Mahisa Wonga Teleng adalah putera Sri Rajasa yang lahir dari Permaisuri. Karena itu, maka Sri Rajasa-pun tampaknya lebih mantap menyelenggarakan perkawinan ini dari perkawinan Anusapati.
Untunglah bahwa Anusapati sendiri tidak pernah mempersoalkannya kepada siapapun, meskipun ia mempersoalkannya di dalam hati. Tetapi Mahisa Wonga Teleng adalah adiknya yang menurut pengertiannya adalah adiknya seayah dan seibu.
“Pasti hanya suatu kebetulan,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “kalau ayahanda sengaja membedakan upacara yang diselenggarakan saat ini dan dihari perkawinanku, apakah keuntungannya? Mungkin dapat terjadi apabila Tohjayalah yang kawin kelak. Tetapi seperti aku, Mahisa Wonga Teleng bukan orang yang dekat dengan ayahanda seperti Tohjaya.”
Didalam kesibukan hari-hari perkawinan itulah, maka perasaan iba menusuk semakin dalam dihati Mahisa Agni, yang melihat Anusapati yang rasa-rasanya menjadi semakin tersisih. Apalagi Mahisa Agni mengetahui, siapakah sebenarnya Anusapati itu. Ia mengetahui dengan pasti, bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa.
Adalah karena kesetiaan isi istana, sehingga sampai usia dewasanya Anusapati tetap tidak mengerti keadaan dirinya sendiri. Setiap orang-orang tua yang sebenarnya mengetahui keadaan itu berusaha menutup mulutnya dan menyimpan rahasia itu. Mereka sama sekali tidak mau memperbincangkannya dengan siapapun, meskipun dengan orang-orang sebayanya, agar hal itu tidak menjalar kesetiap telinga dan yang kemudian akan didengar oleh Putera Mahkota.
Pada kesempatan kehadiran Mahisa Agni itu pulakah, Anusapati dan Sumekar berusaha untuk mendapat waktu berbicara dengan Mahisa Agni, apa saja yang telah terjadi dengan Putera Mahkota selagi ia menjalani pendadaran pada tingkat permulaan.
“Kau yakin ada pengkhianat itu?” bertanya Mahisa Agni yang terperanjat juga mendengar pengaduan itu.
“Ya paman. Aku yakin,” jawab Anusapati.
“Apa yang telah dilakukan oleh Sri Rajasa?”
“Ayahanda telah memeriksa beberapa orang. Ayahanda-pun agaknya sependapat, bahwa memang ada sesuatu yang tidak wajar. Ternyata kedua tawanan yang kami bawa itu telah terbunuh di bilik tahanan bagi mereka.”
“Tentu pengkhianatan. Dan Sri Rajasa tidak berhasil menemukannya?”
“Belum paman. Ayahanda sudah memerintahkan semua Panglima untuk menyelidiki. Kalau kita dapat menangkap pembunuh kedua tawanan itu, maka kita akan dapat menelusur pengkhianat-pengkhianat itu dan mungkin menemukannya. Tetapi sampai saat ini tidak seorang-pun yang menemukan pembunuh tawanan-tawanan itu.”
“Bagaimana dengan para pengawal saat itu?”
“Mereka tidak mengetahuinya. Hanya suatu kelengahan saja. Demikian menurut pengamatan ayahanda. Dan aku mempercayainya, bahwa bukan para pengawal itulah yang berkhianat, setidak-tidaknya terlibat dalam pengkhianatan ini.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti Sumekar ia mempunyai dugaan yang kuat, siapakah yang telah berkhianat itu. Tetapi ia tidak mengatakannya, meskipun juga seperti Sumekar, Mahisa Agni-pun yakin, bahwa Anusapati pasti mempunyai dugaan-dugaan pula tentang pengkhianatan itu.
Namun demikian Mahisa Agni berpendapat, bahwa bekal bagi Anusapati memang harus disempurnakan. Setiap saat ia akan dapat mengalami bencana yang sebenarnya. Kalau ia tidak siap dengan kemampuan tertinggi, maka Anusapati benar-benar akan musna.
Sebenarnya bagi Mahisa Agni, apakah yang akan mewarisi Singasari itu putera Sri Rajasa atau putera peninggalan Tunggal Ametung, tidaklah penting baginya. Tetapi mereka itu harus lahir dari Ken Dedes. Ken Dedeslah yang wajib menurunkan pemegang kekuasaan di Singasari, karena Tunggul Ametung pernah menyerahkan hak atas tanah ini kepadanya. Sadar atau tidak sadar.
Bagi Mahisa Agni, Sri Rajasa adalah seorang yang sangat berjasa bagi Singasari yang jauh lebih besar dan kuat dari Tumapel yang kecil. Sri Rajasa berbuat jauh lebih banyak, bagi rakyat dan negaranya. Tetapi kehadiran Ken Umang ternyata telah membuat Mahisa Agni agak kecewa. Karena itu, seandainya harus keturunan Sri Rajasa yang akan menduduki tahta, ia harus bukan anak Ken Umang.
“Tetapi Asusapati sangat baik hubungannya dengan adiknya yang seibu,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “namun agaknya Sri Rajasa lebih condong pada anak Ken Umang itu daripada Mahisa Wonga Teleng. Dan itulah yang harus dicegah.”
Mahisa Agni adalah seorang yang dibesarkan di padepokan yang kecil. Tetapi berkat tuntunan dari gurunya, maka ia menjadi seorang yang memiliki kecerdasan yang mengagumkan, sehingga ia mampu menerawang persoalan yang sebenarnya terjadi di Singasari. Betapa ia menyasak karena ia telah mengalahkan Witantra di dalam arena perang tanding meskipun ia tidak membunuhnya. Saat itu perasaannya sedang dikaburkan karena kematian pamannya, Empu Gandring, sehingga pikirannya seakan menjadi buram. Tetapi setelah ia mencoba melihat persoalan-persoalan yang berkecamuk di Singasari dengan bening, dan setelah ia mendengar keterangan-angan dari Witantra, maka dapatlah Mahisa Agni mengambil kesimpulan.
“Ken Arok memang seorang yang cerdik dan licin. Ia dapat menguasai Singasari yang saat itu masih bernama Tumapel, sekaligus dengan Ken Dedes. Ia tidak perlu mempergunakan kekerasan, karena Ken Dedes datang sendiri kepadanya menyerahkan kekuasaan Tumapel saat itu dan dirinya sendiri. Namun dalam pada itu, dengan nafsu ketamakan yang menyala-nyala Ken Umang telah hadir pula di dalam kehidupan Ken Arok setelah ia berhasil menjebaknya dengan dirinya sendiri.” kenangan itulah yang tampak jelas di dalam angan-angan Mahisa Agni.
“Dan sekarang,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “Ken Arok pasti akan mempergunakan cara yang sama untuk menampilkan Tohjaya. Pasti tidak akan sekasar yang baru saja terjadi.”
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun berniat ingin meyakinkan, apakah dugaannya itu benar. Apakah ia tidak menuduh orang yang salah meskipun hanya di dalam hatinya.
Apakah ia mendapat keyakinan tentang rencana menjebak Putera Mahkota itu. maka ia akan dapat menentukan sikapnya.
Demikianlah di dalam kesibukan upacara peralatan Mahisa Wonga Teleng itulah, maka Mahisa Agni-pun telah menyusun rencananya sendiri bersama Sumekar di luar pengetahuan Anusapati.
“Kita akan menemukan orang itu,” berkata Mahisa Agni. “yang sementara ini Anusapati tidak perlu kita beritahu lebih dahulu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau dapat menjadi orang berkerudung itu. Kau tahu serba sedikit tentang apa yang telah dilakukan Anusapati atas Kiai Kisi, dan kau dapat langsung menuduhnya atas petunjuk Kiai Kisi. Kau dapat menyebut dirimu orang yang telah membunuh Kiai Kisi itu, sementara aku akan selalu berada didekat Ken Arok.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Memang tidak mungkin Mahisa Agni lah yang berbuat demikian, karena setiap kali ia harus berada dekat dengan Sri Rajasa.
“Agaknya Sri Rajasa memang menaruh kecurigaan kepadaku. Sejak aku disingkirkan ke Kediri, aku sudah merasa.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan mencari kesempatan.”
Dan Sumekar yang memang sudah berada di dalam halaman istana itu tidak terlampau sulit untuk menemukan kesempatan itu. Ia harus memaksa orang yang dicurigainya mengaku. Kemudian bersama Mahisa Agni, ia dapat menyusun rencana yang lebih jauh lagi.
Demikianlah, maka selagi para pemimpin Singasari mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan peralatan itulah, maka Sumekar mencari kesempatan sebaik-baiknya. Dengan diam-diam ia menyelinap diantara pepohonan perdu di malam hari. Seperti yang digambarkan oleh Anusapati, maka ia-pun memakai kerudung hitam, sehingga selain ia dapat menyebut dirinya orang yang bertemu dengan Kiai Kisi seperti yang diceriterakan oleh Senapati pasukan kecil kepada Sri Rajasa dan didengar oleh semua pemimpin Singasari, maka kerudung hitam itu dapat pula membantunya, berlindung di dalam kegelapan.
“Ia masih ada dipondoknya,” berkata Sumekar didalam hatinya ketika ia melihat pintunya masih terbuka, “malam ini ia pasti akan menghadap Sri Rajasa untuk menyelesaikan persoalan perkawinan ini.”
Dan dengan demikian ia menunggu di dalam kegelapan, sehingga orang itu keluar dan dapat dipancingnya ketempat yang sepi. supaya tidak segera diketahui oleh para peronda apabila terpaksa terjadi benturan kekerasan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar