Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 18-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-18-03
“Mereka telah datang?” bertanya panglima prajurit Singasari.

“Ya. Mereka telah datang.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tepat seperti waktu diperhitungkan,” berkata Panglima itu, “benar-benar suatu perjalanan yang baik. Tetapi apakah hasilnya juga baik?”

“Menurut pendengaran kami, para pengawal, perjalanan itu berhasil baik.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Suruhlah mereka menunggu. Nanti, apabila Sri Rajasa telah hadir di paseban mereka akan kami beritahukan. Senapati pasukan itu akan dipanggil menghadap.”

Prajurit penghubung dari pasukan pengawal itu-pun kemudian meninggalkan paseban yang semakin lama menjadi semakin banyak dihadiri oleh para pembesar dan pemimpin Singasari. Bukan saja pimpinan pasukan-pasukan bersenjata, tetapi juga pimpinan pemerintahan dan para penasehat.

Sejenak kemudian, maka Sri Rajasa-pun telah hadir pula di paseban. Seperti paseban yang diselenggarakan pada saat-saat tertentu, mereka akan membicarakan masalah pemerintahan sehari-hari. Hanya apabila Singasari menghadapi masalah khusus, maka Sri, Rajasa kadang-kadang mengadakan paseban khusus, bahkan paseban Agung. Namun kadang-kadang Sri Rajasa-pun mengambil keputusan sendiri. Dan tidak seorang-pun yang berani mempersoalkannya, meskipun seandainya mereka tidak sependapat.

Demikianlah pada hari itu, Sri Rajasan telah memanggil para pembantunya untuk suatu pembicaraan yang tidak mempunyai persoalan-persoalan khusus. Dalam kesempatan yang demikian kadang-kadang Sri Rajasa memberikan penilaian kepada para Panglima, Senapati dan para pemimpin pemerintahan yang lain.

Kini, didalam persidangan itu. Panglima prajurit Singasari menyampaikan berita, bahwa pasukan kecil yang membawa serta Putera Mahkota itu telah datang.

“Bagaimana dengan mereka?” bertanya Sri Rajasa.

“Mereka masih menunggu. Hamba belum memanggil Senapatinya, karena hamba menunggu perintah Tuanku.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bawa ia kemari. Aku tidak mempunyai persoalan yang penting saat ini. Kehadirannya dapat dijadikan bahan pembicaraan kita. Baik mengenai pasukan itu beserta Senapatinya, maupun mengenai Anusapati.”

Panglima itu-pun kemudian memerintahkan seorang prajurit memanggil Senapati pasukan kecil itu bersama Putera Mahkota, untuk menghadap di paseban.

Dengan kepala tunduk Senapati pasukan kecil itu bersama Anusapati duduk di paseban, di antara para pemimpin pemerintahan dan para panglima serta senapati-senapati besar yang mempunyai pasukan tidak hanya sekelompok kecil, tetapi segelar sepapan.

“Ceriterakan, apa yang telah kau lakukan,” berkata Sri Rajasa.

Senapati itu menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia merasa terlampau kecil di paseban itu. Namun demikian, dengan suara yang bergetar ia mencoba menceriterakan apa yang sudah dilakukannya. Sejak pasukan kecilnya berangkat, sehingga semalam saat mereka datang kembali memasuki kota Singasari dengan membawa dua orang tawanan yang terpenting.

Semua orang di dalam paseban itu mendengarkannya dengan saksama. Tidak ada sepatah kata-pun yang tidak mendapat perhatian para pemimpin Singasari itu. Ternyata beberapa orang di antara mereka menjadi berdebar-debar. Mereka menyesal bahwa hal itu telah terjadi atas Putera Mahkota. Untunglah bahwa ia tidak mengalami sesuatu. Ternyata ia masih dapat menghadiri sidang di paseban itu.

Sri Rajasa sendiri mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya. Setelah Senapati itu selesai dengan ceriteranya, maka Sri Rajasa-pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata perjalanan itu cukup berat. Apalagi secara kebetulan, orang yang bernama Kiai Kisi itu ada dipadukuhan yang kalian datangi. Untunglah secara kebetulan pula ada orang lain yang merasa mempunyai persoalan dengan Kiai Kisi dan membunuhnya pula.”

“Ampun Tuanku,” sahut Senapati itu. “mungkin juga bukan suatu kebetulan karena ternyata bahwa para penjahat itu sudah mengetahui bahwa pasukan Singasari akan datang.”

Kata-kata Senapati itu ternyata telah mengejutkan hampir semua orang yang ada di dalam paseban itu. Hampir berbareng mereka berpaling memandang kepada pemimpin pasukan kecil yang membawa Putera Mahkota kedalam tugasnya yang pertama.

Sri Rajasa yang duduk di Singgasananya-pun terkejut pula. Bahkan dengan serta merta ia bertanya, “Bagaimana kau dapat mengetahui, bahwa kedatanganmu telah ditunggu oleh para perampok itu bahkan bukan suatu kebetulan bahwa Kiai Kisi ada ditempat itu pula.”

“Ampun Tuanku. Hamba mendengar percakapan mereka,” jawab Senapati itu, “ketika hamba mulai menyerang, hamba telah mendahului pasukan hamba dan bersembunyi di belakang sebuah rumah yang dipergunakan oleh para penjahat itu. Ternyata bahwa mereka sudah membicarakan akan kedatangan pasukan Singasari dipadukuhan itu. Tentu mereka akan mempersiapkan diri menjelang fajar karena sesuai dengan rencana kami saat itu, pasukan kecil kami harus menyerang pada hari yang mereka katakan itu pula. Tetapi karena peristiwa yang kebetulan terjadi, seseorang yang tidak kami kenal membunuh Kiai Kisi, maka kami telah mengajukan rencana kami, dan menyerang di malam hari, sebelum mereka mengetahui bahwa Kiai Kisi sudah terbunuh.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Senapati yang menundukkan wajahnya itu. Kemudian tatapan matanya yang tajam beredar dari satu wajah ke wajah yang lain. Tetapi yang dilihatnya adalah wajah-wajah yang dibayangi oleh keheranan.

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi,” desis Sri Rajasa, “tidak ada orang lain yang mengetahui rencana itu, selain orang-orang di dalam istana ini.”

Senapati itu tidak menjawab.

“Jika kata-katamu benar Senapati, maka itu akan berarti ada pengkhianatan di dalam ruang ini disaat-saat kalian akan berangkat. Tidak ada sumber lain dari kita semuanya. Pasukan kecil itu merupakan rahasia bagi kita semua. Apalagi di dalamnya ada Putera Mahkota. Prajurit-prajurit Singasari mengetahui itu, tepat pada saat kalian berangkat. Seandainya ada di antara mereka yang berkhianat, maka kedatangan pengkhianat itu atau salah seorang penghubungnya tidak akan terpaut banyak dari kedatanganmu disana. Tentu mereka tidak akan sempat mengundang orang yang kau sebut bernama Kiai Kisi itu. Sedang orang yang mengetahui sebelumnya selain kita, kau adalah prajurit-prajurit sandi yang berangkat lebih dahulu daripadamu. Nah, apakah kau mencurigai prajurit sandi itu?”

“Tidak tuanku. Hamba tidak mencurigainya. Mereka adalah prajurit-prajurit yang dapat dipercaya.”

“Kalau begitu, kau mencurigai salah seorang dari kami.”

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Sejenak Senopati itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan suara tergagap ia berkata, “Tidak Tuanku. Bukan maksud hamba mencurigai seseorang. Tetapi hamba sekedar menjadi heran, kenapa mereka dapat mengetahui saat-saat kedatangan kami. Bahkan di dalam itu mereka masih sempat mengadakan bujana makan dan minum di dalam padepokan mereka, menjelang kedatangan kami menurut rencana yang sudah kami tentukan sebelumnya.”

“Jadi, kenapa mereka mengetahui? Tentu ada kecurigaan bahwa seseorang telah membocorkan rahasia. Dan kau tidak mencurigai kedua prajurit sandi itu. Jadi bagaimana kau mengelak, bahwa kau telah mencurigai satu atau dua orang diantara kami.”

“Tuanku. Hamba percaya bahwa ada seseorang yang mempunyai panggraita yang tajam, yang seakan-akan mengetahui apa yang akan terjadi. Mungkin ada di antara mereka yang mempunyai ketajaman panggraita semacam itu, sehingga mereka melihat rencana yang kami rahasiakan di dalam hati kami.”

“Tetapi kenapa mereka tidak mengetahui kehadiran pasukanmu yang sebenarnya?”

“Hal itu terjadi dengan tiba-tiba, justru diluar rencana yang meskipun sekedar tersimpan dihati kami.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Kita harus menemukan pemecahan. Aku akan mencari jalan, melihat apakah ada pengkhianatan itu, atau karena kecerobohanmu sehingga petugas-tugas sandi merekalah yang telah melihat kehadiranmu di sekitar sarang mereka, sehingga mereka-pun langsung dapat menduga, bahwa kalian akan menyerang mereka. Menurut perhitungan mereka kalian pasti akan menyerang di siang hari, karena kalian tidak mengetahui dengan baik keadaan medan yang akan kalian tempuh. Sedang kehadiran Kiai Kisi itu-pun hanyalah kebetulan saja seperti kehadiran orang yang mendendamnya itu.”

Senapati itu tidak menjawab. Kepalanya hanya tertunduk dalam-dalam meskipun ia tidak membenarkan dugaan itu. Namun kemudian ia berkata tanpa menjawab kata-kata Sri Rajasa, “Ampun Tuanku. Hamba telah membawa dua orang tawanan kawan Kiai Kisi. Mungkin mereka dapat menolong memberikan penjelasan apa yang telah terjadi sebenarnya, dan kenapa Kiai Kisi telah berada ditempat itu, tepat pada saat ia diperlukan, diluar peristiwa yang tidak mereka duga-duga, bahwa hadir seseorang yang bahkan kemudian membunuhnya.”

“Kau bawa tawanan itu?”

“Hamba tuanku. Hamba membawanya.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpikir. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Nanti aku akan memeriksanya. Aku akan memanggilnya dan memaksa untuk mengatakan apa yang mereka ketahui tentang Kiai Kisi, dan tentang pengetahuan mereka akan kedatangan pasukanmu.”

Senapati itu mengangguk dalam-dalam. Ia dapat mengerti, bahwa tidak mungkin untuk memeriksa tawanan di dalam paseban semacam ini. Tentu Sri Rajasa akan memanggilnya di dalam ruangan yang khusus, sehingga pemeriksaan dapat berlangsung dengan saksama.

Karena itu, Senapati pasukan kecil itu tidak berkata apa-pun lagi. Ia hanya menundukkan kepalanya sambil berdiam diri. Sekali ia mencoba memandang Anusapati, tetapi Putera Mahkota itu-pun hanya menundukkan kepalanya pula.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja tanpa diduganya, Sri Rajasa bertanya, “Apakah kau sudah bertanya sesuatu kepada kedua tawanan itu?”

Senapati itu mengangkat wajahnya sesaat. Namun kemudian sambil menunduk kembali ia berkata, “Ampun tuanku. Hamba sudah mencoba mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi keduanya agaknya benar-benar seorang pembantu yang baik atau murid yang baik bagi Kiai Kisi, karena keduanya sama sekali tidak mau menjawab setiap pertanyaan. Hamba sama sekali tidak dapat memaksa mereka untuk berkata apa-pun juga, karena mereka masih akan hamba bawa menempuh perjalanan yang jauh.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku sendirilah yang akan menanganinya. Kalau benar yang terjadi adalah suatu penkhianatan, maka aku akan meneruskan pengkhianatan itu. Tetapi kalau yang terjadi adalah kesalahanmu sehingga kehadiranmu sudah diketahui lebih dahulu oleh petugas-tugas sandi para perampok itu, maka kau akan mendapat hukuman, karena di dalam pasukanmu terdapat Putera Mahkota. Sadar atau tidak sadar, kelengahan yang demikian dapat membahayakan jiwa Putera Mahkota.”

Senapati itu mengangkat kepalanya sejenak. Tetapi sekali lagi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Baiklah,” berkata Sri Rajasa kemudian, “kalian berdua boleh meninggalkan paseban. Kami akan berbincang dengan para Senapati tertinggi dan para pemimpin pemerintahan serta para Panglima.”

Senapati bersama Putera Mahkota itu-pun meninggalkan paseban. Ketika mereka berada di halaman, mereka berpandangan sejenak. Tetapi kata-kata yang akan terucapkan seakan-akan tertelan kembali ke dalam kerongkongan.

Anusapati sama sekali tidak mengerti, kenapa Ayahanda Sri Rajasa sama sekali tidak menyapanya, bertanya tentang sesuatu kepadanya atau apa-pun juga.

“Mungkin perhatian ayahanda tercengkam pada pengkhianatan itu,” berkata Anusapati didalam hatinya.

Keduanya-pun kemudian berjalan kembali kepada pasukan mereka. Beberapa orang prajurit segera mengerumuni Senapati itu dan bertanya hasil dari kehadirannya di paseban.

“Masih ada persoalan yang harus kami tunggu,” berkata Senapati itu.

“Jadi kami masih belum dapat meninggalkan istana dan pulang ke rumah kami masing-masing,” bertanya prajurit-prajurit itu.

“Kita tunggu sejenak. Sri Rajasa mau-pun Panglima masih belum memberikan perintah itu.”

Para prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka-pun kemudian bertebaran di halaman belakang istana. Sebagian berada dikebun buah-buahan yang kebetulan tidak berbuah, yang lain berada ditaman. Mereka masih harus menunggu perintah untuk beristirahat. Sebelum perintah itu mereka terima, mereka masih belum berani beranjak, karena masih mungkin ada persoalan-persoalan yang memerlukan kehadiran mereka, terutama Senapatinya.

Dalam pada itu, beberapa orang di antara prajurit-prajurit itu duduk bersama Putera Mahkota yang masih belum berani meninggalkan pasukannya dan Senapatinya.

Mereka berbicara tentang sambutan Sri Rajasa atas hasil yang telah mereka capai. Ada diantara mereka yang menjadi kecewa meskipun disimpannya di dalam hati. Tugas yang berat itu rasa-rasanya telah mereka tunaikan sebaik-baiknya. Putra Mahkota-pun telah berbuat sebaik-baiknya pula. Tetapi Kenapa ada juga kecurigaan atas kecerobohan mereka di dalam tugas itu?

Sejenak kemudian para prajurit itu melihat bahwa Sri Rajasa telah membubarkan paseban. Beberapa orang pemimpin pemerintahan telah meninggalkan istana, keluar pintu gerbang dan kembali ke rumah masing-masing.

“Sidang ini agak lebih cepat dari sidang-sidang yang biasa diadakan pada hari-hari tertentu,” desis seorang prajurit.

Senapati pasukan kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun.

Sebenarnyalah bahwa Sri Rajasa telah membubarkan paseban itu lebih cepat dari biasa. Tawanan yang dibawa oleh pasukan kecil itu sangat menarik perhatiannya. Keterangan yang didengarnya dari Senapati pasukan yang dikirimnya untuk menumpas para perampok yang disertai oleh Putera Mahkota itu membuatnya berdebar-debar.

“Ada juga pengkhianat-pengkhianat yang bodoh di dalam istana ini,” gumam Sri Rajasa didalam hati, “cara yang ditempuh adalah cara yang gila. Kalau Anusapati berhasil menemukan pengkhianat itu sendiri, maka istana ini akan menjadi kacau dan rencanaku akan rusak.”

Dan agaknya kemarahan Sri Rajasa tidak dapat ditunda lagi. Ia benar-benar ingin meyakinkan siapakah orang yang telah melakukan kebodohan itu, meskipun sudah ada juga dugaan padanya.

Karena kegelisahan itulah maka paseban-pun segera dibubarkannya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang prajurit untuk mengambil tawanan yang telah dibawa oleh pasukan kecil itu.

“Senapati itu pasti masih ada di halaman. Katakan kepadanya, perintah Sri Rajasa, tawanan itu akan dibawa menghadap.”

“Hamba tuanku,” jawab prajurit-prajurit itu.

Dengan tergesa-gesa prajurit-prajurit itu-pun segera mencari pimpinan pasukan yang berhasil membawa dua orang tawanan itu. Seperti perintah Sri Rajasa, maka dikatakannya, bahwa kedua tawanan itu harus dibawa menghadap.

“Silahkan. Ambillah. Aku serahkan mereka kepada prajurit pengawal.”

“Baiklah. Tetapi karena kaulah yang menyerahkan kepada mereka, marilah kita mengambilnya bersama-sama.”

Senapati yang kelelahan itu mengerutkan keningnya. Ia berpikir sejenak. Sebenarnya ia masih senang duduk bersandar dinding kebun sambil terkantuk-kantuk. Tetapi karena perintah itu perintah Sri Rajasa, maka ia-pun kemudian berdiri sambil mengibaskan pakaiannya yang kotor.

“Apakah setelah tawanan itu menghadap, kami, para prajurit yang lelah ini diperkenankan beristirahat?”

“Aku tidak tahu,” jawab prajurit yang mengemban perintah Sri Rajasa.

Senapati itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Prajurit itu memang tidak mengerti. Dan agaknya Sri Rajasa tidak mengeluarkan perintah apapun.

“Apakah Panglima masih di paseban?” bertanya Senapati itu.

“Panglima yang mana yang kau maksudkan?”

“Panglima prajurit Singasari.”

“Bukan Panglima Pasukan Pengawal.”

“Panglimaku adalah Panglima prajurit Singasari itu.”

“Tetapi Panglimaku lain.”

“O, jadi apakah para Panglima masih berada bersama dengan Sri Rajasa?”

“Tidak. Sri Rajasa hanya seorang diri.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Sri Rajasa akan memeriksa tawanan itu tanpa diketahui oleh orang lain.

Sejenak kemudian mereka-pun telah sampai di ruang yang tertutup rapat. Hanya beberapa lubang sajalah yang terdapat pada dinding kayu yang tebal. Di depan ruang yang berpintu kuat itu berdiri seorang pengawal sambil membawa sebatang tombak di tangan, sedang beberapa langkah daripadanya, di sebuah gardu kecil, terdapat dua orang yang sedang duduk terkantuk-kantuk.

Memang kemungkinan untuk melepaskan diri terlampau kecil. Kedua tawanan yang masih terikat tangannya itu. telah diikat pula dengan tonggak di dalam ruangan sempit itu. sehingga mereka tidak akan mendapat kesempatan berbuat apapun, karena keduanya dianggap sebagai tawanan yang penting.

Setelah menyampaikan perintah Sri Rajasa, maka prajurit yang bertugas menjaga tawanan itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ambillah. Kedua tawanan itu membuat kami selalu berdebar-debar.”

“Tetapi sudah tentu, setelah Sri Rajasa selesai memeriksa keduanya, keduanya akan kami kembalikan ke tempat ini.”

“Mudah-mudahan Sri Rajasa marah dan membunuh keduanya.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Keduanya adalah tawanan yang penting. Masalahnya pasti akan menyangkut penkhianatan. Seandainya bukan terhadap Singasari, setidaknya pengkhianatan terhadap Putera Mahkota. Akan tetapi akibat dan hukumannya akan sama bagi pelakunya. Putera Mahkota adalah lambang keteguhan Singasari dimasa mendatang.”

Para penjaga itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Marilah, aku bukakan pintu. Bawalah mereka. Tetapi berhati-hatilah. Keduanya agaknya memang orang-orang yang keras kepala.”

“Aku sudah mengenalnya dengan baik,” berkata Senapati itu, “aku bersama-sama dengan keduanya selama perjalanan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

“O,” pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “hampir aku lupa. Kaulah yang membawanya kemari?”

Pengawal itu-pun kemudian membuka selarak pintu yang besar. Kemudian dengan hati-hati ia menarik daun pintu bilik itu, sehingga sejenak kemudian daun pintu itu-pun telah terbuka lebar-lebar.

Sejenak, para prajurit itu menyesuaikah diri dengan keremangan di dalam bilik yang rapat dan kuat itu. Dan semakin lama mereka-pun melihat semakin jelas, dua orang yang masih terikat pada tiang di dalam bilik itu.

Tetapi hampir bersamaan mereka meloncat masuk. Ternyata kedua orang itu sudah terkulai tidak bernafas lagi. Tangannya masih terikat dan sama sekali tidak terdapat luka apa-pun pada tubuh mereka.

“He, keduanya sudah mati.”

Para prajurit yang berada di dalam bilik itu diam mematung. Mereka memandang kedua tawanan itu dengan mata yang terbelalak, seakan-akan mereka tidak percaya pada penglihatannya.

“Apakah yang sebenarnya telah terjadi di sini,” desis Senapati itu, “kau apakan mereka berdua, sehingga mereka telah mati di tiang.”

“Kami tidak berbuat apa-apa,” pengawal itu menjadi tegang. Pertanyaan itu benar-benar tidak menyenangkan, “kami memasukkan mereka semalam, setelah kami menerima keduanya dari kalian. Begitu mereka terikat di dalam dan kemudian pintu tertutup, hanya sekali kami membukanya, ketika kami memberi makan kepada mereka. Kami membuka tangannya, tetapi kami mengikat kakinya. Setelah mereka makan, kami mengingkatnya kembali.”

“Apakah mereka makan seluruh bagian yang kalian berikan kepadanya?”

“Tidak. Justru sebagian dilemparkan kepada penjaga yang berdiri di muka pintu.”

“Dan apakah penjaga itu marah dan memukul mereka?”

“Tidak. Itu akan membuatnya senang. Tetapi kami hanya mentertawakan mereka. Dan ternyata merekalah yang marah.”

“Apakah sisa makan mereka masih ada?”

“Kau curiga, bahwa kami meracunnya?”

“Bukan kau. Tetapi mungkin ada kesalahan dipihak yang lain.”

Pengawal itu menjadi tegang. Ternyata kecurigaan atas kematian kedua tawanan itu harus mereka tanggungkan. Dan ia memang tidak dapat mengelak, apabila tanggung jawab atas kematian mereka itu dibebankan kepadanya dan kawan-kawannya.

Karena itu, maka para pengawal itu mengumpat habis-habisan. Namun dengan demikian, mereka telah meneliti tempat itu sebaik-baiknya. Mungkin ada petunjuk yang dapat dipakainya sebagai pegangan untuk mempertanggung jawabkan peristiwa itu.

Pada prajurit yang lain-pun ikut serta membantunya. Mereka memang tidak dapat menuduh para pengawal tanpa dapat memberikan bukti-bukti. Tetapi sebaliknya apabila para pengawal tidak dapat membuktikan kebersihan diri merekapun, mereka pasti terlibat dalam kesulitan.

Sejenak kemudian, halaman istana itu menjadi gempar. Kematian kedua tawanan itu segera tersebar sampai kesegenap sudut. Setiap orang yang mendengar hal itu menjadi heran. Belum pernah terjadi, seorang tawanan, apalagi dua orang, mati bersama-sama di dalam bilik itu.

“Kita harus segera melaporkannya kepada Sri Rajasa,” berkata prajurit pengawal yang mendapat tugas untuk mengambil tawanan itu, “marilah. Kau ikut pula bersama kami, supaya tanggung jawab kami sedikit berkurang.”

Senapati itu-pun tidak dapat ingkar. Ia ikut menyaksikan kematian kedua tawanan itu. Karena itu, maka ia-pun sebaiknya ikut pula melaporkannya.

Tetapi selagi keduanya akan meninggalkan tempat itu, seorang prajurit berkata, “Lihat, ada sesuatu yang mencurigakan. Bukalah pintu lebar-lebar.”

Setiap prajurit yang ada ditempat itu berpaling. Salah seorang menyahut. “Pintu sudah terbuka sepenuhnya.”

“Menepilah. Jangan berdiri dipintu. Kami memerlukan cahaya untuk melihat gejala yang ada pada kedua orang ini.”

Senapati yang menangkap kedua tawanan itu mendekat. Ternyata ditubuh orang itu terdapat noda-noda yang berwarna kebiru-biruan. Semula noda-noda itu memang tidak jelas. Tetapi semakin lama menjadi semakin biru kehitam-hitaman.

“Racun,” desis Senapati itu, “keduanya mati kena racun.”

“Kau tetap menuduh aku meracunnya?” bertanya pemimpin pengawal. Wajahnya menjadi semakin tegang.

“Aku tidak berhak menuduh siapa-pun juga,” jawab Senapati itu, “tetapi aku hanya mengatakan bahwa ia mati karena racun. Itulah yang harus aku sampaikan kepada Sri Rajasa. Terserah kepada Sri Rajasa, kesimpulan apakah yang diambilnya?”

Pengawal itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Apakah kau tidak dapat melaporkan hal-hal yang lain kecuali racun itu?”

“Racun itu adalah penyebab dari kematiannya. Jadi apakah yang harus aku katakan selain racun? Mabuk? Bunuh diri atau mati kedinginan?”

Pengawal itu tidak menjawab. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia bergeser mendekati mayat yang masih terikat. Sekali lagi ia mencoba mengamat-amati mayat itu baik-baik. Persoalannya pasti akan berkisar pada dirinya. Dan itu adalah wajar sekali.

“Terkutuklah tugas yang membawa aku kedalam kesulitan ini. Kalau aku tidak bertugas semalam, aku tidak akan terlibat dalam perkara yang mungkin dapat menjerat, leher di tiang gantungan yang tinggi.”

Tiba-tiba saja bulu-bulu para pengawal itu meremang.

Namun dengan demikian mereka bekerja lebih teliti.. Kini setiap orang yang tidak berkepentingan sekali disuruhnya keluar dan tidak diperbolehkannya berdiri di muka pintu, agar cahaya matahari dapat masuk sebanyak-banyaknya, meskipun tidak langsung.

Diperiksanya kembali setiap bagian tubuh orang yang sudah meninggal terikat pada tiang itu.

“Sebelum menemukan sesuatu, aku tidak akan menghadap,” katanya kepada diri sendiri.

Karena itu, ketika Senapati mengajaknya sekali lagi, ia berkata, “Tunggu sebentar. Aku harus menemukan sesuatu.”

“Tuanku Sri Rajasa akan lebih senang menerima laporan ini dari kita daripada orang lain mendahuluinya. Apalagi kita akan dapat memberikan keterangan sewajarnya. Tidak ditambah dan tidak dikurangi.”

Pengawal itu tidak menjawab. Ia masih meneliti dengan saksama tubuh yang terkulai itu.

Tiba-tiba saja wajahnya menegang. Matanya terbelalak ketika ia melihat sesuatu dibetis orang itu.

“Kemarilah,” ia memanggil Senapati yang membawa kedua tawanan itu, “aku melihat sesuatu yang barangkali kita perlukan.”

“Apa?”

“Kemarilah.”

Senapati itu-pun segera mendekat. Sambil menunjuk ke betis orang yang meninggal, pengawal itu berkata, “Kau dapat mengatakan, apakah ini?”

“Supit,” desis Senapati itu, “ternyata mereka telah dibunuh dengan supit racun. Bagaimana dengan yang seorang?”

Ketika para pengawal mencari dengan saksama, mereka-pun menemukan sebuah noda yang hitam. Ditengah-tengah noda itu terdapat sepucuk duri yang panjang dan tajam, duri yang sudah direndam di dalam racun.

“Dengan duri ini mereka membunuh keduanya,” desis Senapati itu.

“Ya. Racun itu pasti racun, yang tajam sekali.”

Senapati itu menggeram. Terdengar suaranya berat, “Ada juga pengkhianat di dalam halaman istana ini. Pasti orang-orang yang mengadakan hubungan dengan para perampok itu. Mereka perlu menghilangkan jejak dengan membunuh kedua orang ini, agar orang ini kelak tidak membuka rahasia.”

“Licik sekali,” seru pengawal itu, “hampir saja akulah yang akan digantung.”

“Tetapi … “ namun kata-kata itu tidak dilanjutkan.

Bahkan justru pemimpin pengawal itulah yang menyahut. “Tetapi mungkin juga salah seorang dari kami yang melakukannya. Atau aku sendiri. Begitu?”

“Bukan maksudku. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan tanpa kalian ketahui.”

Pengawal itu memandang wajah Senapati yang membawa kedua tawanan itu sejenak. Namun wajahnya-pun kemudian tertunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar, bahwa itu adalah tanggung jawabnya.

Dengan demikian, maka telah terbayang di dalam rongga matanya, kemarahan Sri Rajasa tanpa ampun. Bahkan mungkin ia akan dihukum mati karenanya.

Tetapi bagaimana-pun juga ia harus menghadap. Ia tidak dapat mengelak lagi ketika Senapati itu berkata, “Marilah. Sekarang kita menghadap. Kita semuanya telah kehilangan. Aku telah membawa mereka dari jarak yang jauh. Tetapi ketika mereka telah berada di dalam bilik yang tertutup, mereka akhirnya hanya mati tanpa arti disini.”

Pengawal itu hanya diam saja. Ia tidak dapat membantah. Bahkan seandainya ada tuduhan atas diri mereka.

Karena itu, maka mereka berdua-pun segera pergi menghadap Sri Rajasa diantar oleh prajurit yang mendapat perintah mengambil tawanan-tawanan itu. Beberapa orang prajurit memandang keduanya dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi untuk menyampaikan hal yang pahit itu kepada Sri Rajasa, tidak seorang-pun yang ingin mengikutnya. Bahkan prajurit yang diperintahkan oleh Sri Rajasa untuk mengambil para tawanan itu-pun menjadi sangat kecut. Mereka sama sekali tidak mengerti tentang tawanan itu dan kenapa mereka mati terbunuh. Tetapi mau tidak mau mereka akan mendengar Sri Rajasa marah bukan buatan.

Demikianlah dengan hati yang bergejolak prajurit-prajurit itu menghadap Sri Rajasa yang agaknya masih menunggu ditempatnya.

Demikian para prajurit itu menghadap, Sri Rajasa mengangkat wajahnya. Kemudian melambaikan tangannya, memanggil prajurit-prajurit itu untuk mendekat.

Seolah-olah prajurit itu telah merangkak maju dengan kaki gemetar. Semakin dekat mereka dengan Sri Rajasa, rasa-rasanya menjadi semakin panas.

“Duduklah,” suara Sri Rajasa menggelegar di telinga mereka.

Mereka-pun segera duduk dengan kepala tunduk dalam-dalam dihadapan Sri Rajasa.

“Hampir aku keliru. Aku kira dua orang prajurit yang ada di muka inilah kedua tawanan itu. Jadi dimana tawanan-tawanan itu sekarang?”

Prajurit-prajurit itu mulai gemetar. Karena itu sejenak mereka tidak dapat menyahut.

Sri Rajasa menjadi heran melihat tingkah laku prajurit-prajurit itu. Maka sekali lagi ia bertanya, “Dimana kedua tawanan itu?”

Senapati yang. membawa tawanan itulah yang kemudian beringsut sedikit. Namun kepalanya masih tertunduk dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ditenggorokannya ia berkata, “Ampun tuanku. Segala kesalahan hamba semuanya, hamba mohon diampunkan.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sudah terlampau biasa mendengar kata-kata itu. Sehari seribu kali. Setiap orang yang akan berkata sesuatu kepadanya, pasti mohon diampuni apabila ada kesalahannya.

Karena itu, ia menunggu saja prajurit-prajurit itu berkata seterusnya.

“Tuanku. Perkenankanlah hamba menyampaikan berita yang sama sekali tidak tuanku harapkan.”

Sri Rajasa bergeser sedikit mendengar kata-kata itu. Sambil memandang Senapati yang menundukkan kepalanya dalam-dalam ia bertanya, “berita apa yang kau bawa. Cepat katakan.”

“Ampun tuanku. Kedua tawanan itu meninggal di dalam bilik tahanan.”

“He,” Sri Rajasa-pun benar-benar terkejut mendengar berita itu. Hampir berteriak ia berkata, “Mati. Kau bilang kedua tawanan itu mati he?”

Senapati itu mengerutkan lehernya, seakan-akan sebuah pedang yang tajam telah menyentuh tengkuknya, “Hamba tuanku. Ketika hamba datang kebilik tahanan untuk mengambil keduanya, keduanya telah hamba ketemukan mati di tiang tempat mereka terikat.”

Sejenak Sri Rajasa terdiam. Sesuatu sedang bergolak di dalam hatinya. Tawanan itu sebenarnya penting baginya untuk memastikan siapakah yang telah mencoba berkhianat kepada Putera Mahkota meskipun ia sudah dapat membuat tuduhan. Dengan demikian ia akan dapat mengambil tindakan seperlunya untuk mengamankan rencananya sendiri. Tetapi tawanan itu sudah mati. Dan Sri Rajasa-pun dapat menduga, siapakah yang telah membunuhnya.

Namun Sri Rajasa tidak senang sekali, bahwa seseorang telah bertindak sendiri tanpa setahunya. Karena itu, sebenarnyalah ia kecewa sekali.

Prajurit-prajurit yang menghadap menjadi semakin berdebar-debar, justru karena Sri Rajasa masih tetap berdiam diri.

Terasa dada mereka seolah-olah retak ketika Sri Rajasa menggeram, “Jadi kalian menemukan kedua tawanan itu telah mati?”

“Hamba tuanku.”

Tiba-tiba Sri Rajasa membentak, “Siapa yang bertugas menjaga tawanan itu. Kau sendiri?”

“Ampun tuanku, hamba telah menyerahkan tawanan itu kepada pasukan pengawal sementara kami saat itu beristirahat, karena kelelahan yang sangat bagi seluruh pasukan hamba.”

“Dimana pengawal itu?”

Senapati itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berpaling memandang dengan sudut matanya, prajurit pengawal yang duduk di sampingnya.

“Ampun tuanku. Hambalah yang bertugas menjaga tawanan-tawanan itu.”

“Kau,” suara Sri Rajasa menjadi sangat berat ditelinga prajurit pengawal itu.

“Hamba tuanku.”

Sejenak Sri Rajasa memandang pengawal yang menjadi semakin tertunduk itu. Rasa-rasanya nyawanya sudah di ubun-ubunnya. Dengan sebuah hentakan, Sri Rajasa dapat membunuhnya di tempat itu juga.

Tetapi Sri Rajasa tidak membunuhnya. Sejenak kemudian ia-pun bertanya dengan suara yang tajam, “Kenapa kedua orang itu mati he?”

“Ampun tuanku. Menurut pengamatan hamba dan beberapa orang saksi, ternyata pada tubuh kedua tawanan itu terdapat sepucuk duri yang dipergunakan sebagai anak supit. Duri itu telah dibubuhi dengan racun, sehingga pada kedua mayat itu terdapat tanda-tanda keracunan.”

“Tetapi kenapa hal itu dapat terjadi he? Apakah kalian, para penjaga tertidur semuanya? Dan apakah gunanya kalian ada di tempat itu, kalau kalian tidak dapat mengawasi keadaan dengan saksama, sehingga ada juga orang yang berhasil mendekat tanpa kau ketahui?”

Pertanyaan itu memang sudah diduganya. Namun ketika pertanyaan itu diucapkan, prajurit pengawal itu menjadi gemetar. Ia tidak akan dapat ingkar. Bahwa hal itu dapat terjadi karena lelengahannya.

Rasa-rasanya darahnya membeku ketika Sri Rajasa membentak pula. “Apakah kau sendiri yang telah membunuhnya, karena kau termasuk dalam gerombolan pengkhianatan itu?”

Mulut pengawal itu bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah kata-pun yang meloncat dari sela-sela bibirnya. Karena itu maka Sri Rajasa-pun membentak semakin keras, “Jadi benar begitu? Kau yang membunuhnya?”

Dan pengawal itu memaksa dirinya untuk menjawab, “Ampun tuanku. Hamba tidak berbuat.”

“Jadi siapa? Siapa yang telah membunuhnya?”

“Hamba tidak tahu tuanku.”

“Kenapa kau tidak tahu?”

Sekali lagi orang itu terdiam. Tetapi tubuhnya kini benar-benar menjadi gemetar. Wajahnya menjadi pucat seputih kapas.

Namun dengan demikian Sri Rajasa mengetahui, sebenarnyalah bahwa para penjaga itu tidak tahu, siapakah yang sebenarnya telah membunuh, sehingga kemungkinan untuk menelusuri persoalan itu akan dapat terputus sampai kematian kedua tawanan itu saja bagi orang-orang lain. Tetapi Sri Rajasa sendiri telah mempunyai jalan tersendiri untuk mencari, siapakah sebenarnya pembunuh kedua tawanan itu dan siapa pula yang telah berkhianat, sehingga kedatangan Anusapati di padakuhan para perampok itu dapat diketahui, dan bahkan telah hadir pula seorang yang bernama Kiai Kisi.

Yang menjadi persoalan bagi Sri Rajasa kemudian adalah orang yang dikatakan kebetulan saja ada ditempat itu untuk membalas dendam kekalahannya beberapa puluh tahun yang lalu terhadap Kiai Kisi. Bagi Sri Rajasa, hal itulah yang harus mendapat perhatian sepenuhnya. Apakah orang itu mempunyai hubungan dengan orang-orang berkerudung hitam yang pernah datang ke istana ini, atau benar-benar suatu kebetulan? Tetapi kalau orang itu benar-benar orang yang datang sekedar membawa dendam bagi Kiai Kisi, kenapa ia memakai kerudung hitam untuk menyembunyikan wajahnya.

Oleh angan-angan itu, maka Sri Rajasa untuk beberapa saat hanya termenung saja. Ia masih mencoba menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di istana ini. Bahkan kemudian angan-angannya beterbangan dari waktu ke waktu.

“Tentu bukan Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa didalam hatinya, “ketika orang berkerudung hitam itu datang di istana, Mahisa Agni ada bersamaku.”

Bagi para prajurit yang menghadap, kediaman Sri Rajasa itu membuat darah mereka serasa membeku. Ketakutan yang sangat telah menjalar di urat nadi mereka, sehingga mereka sama sekali tidak berani bergerak meskipun hanya ujung jari kakinya.

Baru kemudian Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Ia masih belum menemukan pemecahan. Tetapi dengan demikian, perhatiannya sebagian terbesar justru tertuju kepada orang berkerudung itu.

Ketika ia melihat prajurit yang masih ada dihadapannya, maka katanya, “Ingat, peristiwa ini bukan peristiwa yang kecil. Kalau terbukti bahwa kematian kedua orang itu berakibat jauh, maka para pengawal dapat dikenakan hukuman mati. Tetapi kalau masih ada jalan untuk mengampuninya, aku akan berusaha memperkecil akibatnya. Tetapi jangan mengharap terlampau banyak. Aku sendiri dapat melakukan hukuman itu setiap saat.”

Pengawal itu menjadi semakin gemetar. Yang terdengar dari mulutnya adalah suaranya parau hampir tertelan kembali. “Ampun tuanku. Hamba mohon ampun.”

“Hal itu tergantung perkembangan keadaan,” jawab Sri Rajasa, “tetapi sebelum ada keputusan jatuh tentang kau dan kawan-kawanmu, kau tidak boleh meninggalkan istana. Kalau kau mencoba lari, aku akan membunuh seluruh keluargamu pada garis keturunan di atas dan dibawah sampai tujuh tingkatan.”

Terasa dada pengawal itu akan pecah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-pun juga. Nasibnyalah yang agaknya memang terlampau jelek, dan kelengahannya itulah yang telah mencelakakannya.

Dan sejenak kemudian Sri Rajasa berkata, “Pergilah. Aku akan mengambil langkah-langkah selanjutnya.”

Namun sebelum mengundurkan diri, Senapati yang baru datang itu memberanikan diri untuk bertanya. “Tuanku, apakah dengan demikian, hamba dapat memberikan istirahat kepada para prajurit di dalam pasukan hamba?”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi karena perhatiannya sebagian terbesar masih tertuju kepada orang berkerudung itu, maka katanya asal saja. “Pergilah. Suruh mereka pergi.”

Prajurit-prajurit itu tidak berani bertanya sesuatu lagi. Mereka beringsut sedikit demi sedikit meninggalkan tempat itu.

Ketika mereka sampai diluar pintu, mereka-pun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan mereka ingin menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Sedang bagi prajurit pengawal yang merasa bersalah, karena kelengahannya, rasa-rasanya mereka tidak akan sempat lagi menghirup udara di kesempatan lain.

Sejenak kemudian maka prajurit-prajurit itu-pun segera berpisah. Senapati pasukan kecil yang baru kembali itu pergi kepasukannya sedang pengawal yang malang itu pergi kekawan-kawannya untuk mengabarkan keputusan Sri Rajasa untuk sementara, bahwa mereka tidak diperbolehkan meninggalkan istana.

“Sampai kapan?” bertanya seorang kawannya.

Pengawal itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Dan aku sama sekali tidak berani bertanya. Mudah-mudah an akibat dari kesalahan kami ini bukan maut.”

Kawan-kawannya menundukkan kepapalanya. Namun masih juga tersangkut kekecewaan dihatinya, bahkan penyesalan, bahwa hal itu telah terjadi.

“Orang yang membunuh itu pasti bukan orang kebanyakan,” desis pengawal itu tiba-tiba, “tetapi tentu orang dalam istana ini sendiri.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya mereka-pun melayangkan pandangan mata mereka ke bilik tempat menyimpan kedua tawanan itu.

“Mereka pasti datang lewat belakang bangsal itu,” desis salah seorang dari mereka, “kemudian melingkari pagar dan mendekati lubang-lubang itu. Bilik itu hanya diterangi dengan lampu minyak yang samar-samar. Tetapi orang itu dapat mengenainya dengan tepat.”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi pemimpin pengawal itu berdesis, “Lalu, apakah kita akan menguburkan mayat itu sekarang?”

“Bagaimana perintah Sri Rajasa?”

“Tidak ada perintah, dan aku tidak berani bertanya.”

“Kita bertanya kepada pemimpin pengawal istana keseluruhan. Kalau ia tidak dapat memberikan jalan, kita minta ia melaporkannya kepada Panglima.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk. Katanya, “Aku juga akan melaporkan keputusan Sri Rajasa atas kita.”

Pemimpin pengawal itu-pun kemudian pergi mendapatkan perwira yang bertugas memimpin seluruh penjagaan di dalam istana dan halamannya, untuk menyampaikan persoalannya dan keputusan Sri Rajasa.

“Kenapa kau tidak melaporkannya kepadaku lebih dahulu tentang kematian itu?” bertanya pemimpin yang lebih tinggi itu.

“Tidak sempat. Demikian prajurit-prajurit yang diutus oleh Tuanku Sri Rajasa datang, barulah aku ketemukan tawanan itu sudah menjadi mayat.”

“Dan kau langsung menghadap Sri Rajasa?”

“Ya. Senapati yang membawa tawanan itu, dan prajurit pengawal yang diutus Sri Rajasa, mengajak aku langsung menghadap, agar Sri Rajasa tidak terlalu lama menunggu.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...