Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 02-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 02-02*


Karya.   : SH Mintardja

“Sesuatu telah terjadi dengan tawanan itu,” desis seorang prajurit dengan wajah yang tegang.

Para pengawal itu terbangun dengan dada yang berdebaran. Seakan-akan denyut jantung mereka menjadi semakin cepat. Ketika dilihatnya seorang prajurit penjaga berdiri di depan gardu salah seorang dari mereka bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Bertanyalah kepadanya,” jawab prajurit penjaga bangsal itu.

Hampir berbareng ketiganya turun dari gardu. Dengan gerak naluriah mereka telah menggenggam senjata masing-masing.

“Ada apa?” bertanya salah seorang dari mereka.

Seorang prajurit berdiri dengan tubuh gemetar dan wajah yang tegang. Kegelisahan yang amat sangat tampak membayang disorot matanya.

“Ada apa?”

“Aku harus menghadap Tuanku Anusapati,” katanya dengan nafas terengah-engah.

“Ada apa?”

“Aku harus menyampaikan kabar yang mengejutkan meskipun kepalaku harus dipenggal.”

“Ya, tetapi ada apa?”

“Senapati yang kami tawan itu kedapatan mati di dalam biliknya.”

“He, mati?” para pengawal itu hampir berbareng mengulang.

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan suara bergetar, “Aku harus menghadap Tuanku Anusapati.”

Berita itu benar-benar telah mengejutkan. Anusapati yang belum sempat tertidur itu terkejut mendengar seorang pelayan dalam menghadap di depan pintu bilik di bangsalnya.

“Ada apa?” bertanya Anusapati.

“Para pengawal akan menghadap Tuanku. Ada sesuatu yang sangat penting akan disampaikan kepada Tuanku,” jawab pelayan dalam dari luar pintu.

Ketika Anusapati kemudian keluar dari biliknya dan didapatkannya ketiga pengawalnya, maka mereka pun segera menyampaikan maksud seorang prajurit yang akan menghadap.

“Bawa kemari!”

Di hadapan Anusapati prajurit itu pun mengulang keterangannya, bahwa tawanan itu telah mati di dalam biliknya.

Anusapati pun terkejut bukan buatan, sehingga suaranya menjadi bernada tinggi, “Kenapa ia mati? Kenapa?”

“Itulah yang sedang hamba cari bersama dengan para penjaga Tuanku. Hamba masih belum menemukan sebab-sebab yang pasti atas kematiannya. Tetapi yang pasti adalah, bahwa senapati itu mati terbunuh. Bukan karena bunuh diri atau dicengkam oleh penyakit yang aneh.”

“Dibunuh? Bagaimana mungkin?”.

“Kami mendengar suara sesuatu terjatuh di dalam bilik itu Tuanku. Ketika kami membuka pintu, kami menemukan senapati itu sudah mati, sedang atap bilik itu terbuka sedikit.”

Terasa sesuatu menghentak dada Anusapati. Dengan serta-merta ia berkata sambil berdiri, “Aku akan berkemas. Kita pergi sebentar melihat tempat itu.”

Anusapati pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Sejenak ia membenahi pakaiannya dan menyambar sebilah keris yang tergantung di atas pembaringannya. Bersama para pengawal ia pun kemudian pergi ke bilik tawanannya.

Seperti yang dikatakan oleh prajurit penjaga itu, tawanan itu memang sudah mati terbunuh. Tubuhnya masih terbaring di tempatnya, sedang atap di atasnya masih juga tetap terbuka.

Perlahan-lahan Anusapati mendekati mayat yang masih tetap berada di tempatnya itu.

“Belum ada perubahan sama sekali Tuanku,” berkata perwira penjaga bangsal tawanan itu, “hamba hanya meraba tubuhnya yang dingin membeku untuk meyakinkan, apakah ia memang sudah meninggal.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tawanan ini memang sudah mati. Bawa lampu itu kemari.”

Seseorang pun kemudian membawa sebuah lampu minyak mendekat. Dengan demikian, maka mayat itu menjadi semakin tampak jelas.

“Darah di kepalanya Tuanku,” desis seorang perwira.

Anusapati pun melihat darah yang sudah membeku di kepala senapati itu. Ketika lampu minyak itu semakin dekat dengan titik-titik darah yang sudah menjadi ke-hitam-hitaman itu, maka Anusapati pun berdesis, “Paser beracun.”

“Ya,” desis beberapa orang hampir bersamaan.

Mengerikan sekali. Sebuah paser beracun telah menancap di ubun-ubun senapati itu, sehingga ia hampir tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggeliat, kemudian terdiam untuk selama-lamanya.

“Ampun Tuanku,” berkata perwira yang bertanggung jawab atas penjagaan bilik itu, “hamba agaknya telah lengah, sehingga pembunuh itu sempat memanjat atap tanpa kami ketahui.”

Anusapati tidak menyahut. Sekilas dipandanginya wajah perwira itu. Namun kemudian katanya, “Apa yang kau ketahui sebelum kau memasuki bilik ini?”

“Kami mendengar suara seseorang terjatuh. Ketika kami masuk, kami melihat mayat itu sudah terbaring di tempat itu, Tuanku.”

Anusapati menengadahkan kepalanya. Dilihatnya lubang di atas kepalanya. Agaknya seseorang telah membunuh tawanan itu dari lubang itu. Tetapi bahwa terdengar suara seseorang terjatuh itu telah menimbulkan dugaan, bahwa orang yang berada di dalam bilik itu sedang berusaha untuk memanjat ke atas.

Dengan demikian maka Anusapati mempunyai dugaan bahwa orang itu telah dipancing untuk memanjat. Sementara itu, kepalanya segera dibidik dengan sebuah paser beracun.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan para panglima pun telah berdatangan. Ternyata sebagian besar dari mereka telah mengambil kesimpulan yang sama.

“Baiklah salah seorang melihat ke atas atap itu,” berkata Mahisa Agni, “mungkin masih dapat dijumpai sesuatu yang akan dapat menjadi bahan mengurai masalah ini.”

Demikianlah salah seorang dari para senapati yang ada di depan bilik itu pun segera meloncat memanjat dinding. Ketika ia sampai di atas atap, maka dilihatnya seutas tali yang besar masih terkapar di atas atap itu.

“Benar juga dugaan itu,” berkata senapati itu di dalam hatinya, “ternyata orang itu telah dipancing untuk memanjat dan mencoba lari dari tahanan. Tetapi ketika ia sudah hampir mencapai atas rumah ini, maka kepalanya pun telah dikenai dengan sebuah paser beracun sehingga ia mati seketika.”

Perlahan-lahan dan hati-hati ia merayap di dalam kegelapan memungut tali itu.

Namun tiba-tiba ia pun terkejut bukan buatan ketika ia melihat lubang yang justru lebih besar di sebelah lubang di atas bilik itu.

Dengan serta-merta ia mencoba menjenguk ke dalam. Dilihatnya dalam cahaya lampu, beberapa orang terbaring diam di dalam bilik sebelah dari bilik senapati yang tertawan itu.

Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa pergi ke lubang yang sebelah sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba menemukan seutas tali yang besar. Namun lebih daripada itu, hamba melihat lubang yang besar di atas bilik sebelah.”

“He?” Anusapati menyahut dengan dada yang berdebaran, “kau lihat lubang di bilik sebelah?”

“Hamba Tuanku. Karena hamba tergesa-gesa ingin menyampaikan kepada Tuanku, hamba telah berteriak dari tempat ini. Hamba mohon ampun Tuanku.”

Terasa dada Anusapati bergetar. Sejenak kemudian ia bergumam, “Kita lihat bilik sebelah.”

Mereka yang ada di dalam bilik itu pun segera menyibak ketika Anusapati melangkah keluar dan pergi ke bilik sebelah. Seorang prajurit telah berlari-lari mendahuluinya dan membuka pintu bilik itu.

Demikian Anusapati melangkahkan kakinya memasuk bilik itu, dilihatnya beberapa sosok mayat terbaring membeku di atas lantai.

Dengan tergesa-gesa Anusapati mendekati salah seorang dari mereka, dan langsung ditemukannya sebatang paser di kepalanya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sebuah paser. Tetapi tidak tepat di-ubun-ubun.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu orang ini tidak sempat dipancingnya. Paser itu dilontarkan pada saat orang itu sedang tidur nyenyak.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ia tentu hanya sempat menggeliat. Tetapi tidak sempat berteriak.”

“Ya, Paman,” berkata Anusapati kemudian, “mereka masih tetap berbaring di lantai meskipun barangkali mereka masih juga menggeliat sebelum direnggut oleh maut. Ternyata letak mereka yang terbujur silang. Tetapi jika tidak demikian mereka pasti sempat berteriak atau salah seorang dari mereka terbangun oleh keributan yang dapat timbul. Namun agaknya hal itu tidak sempat terjadi.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang terjadi itu adalah pertanda bahwa yang mereka cari berkeliaran di dalam istana. Setidak-tidaknya kaki tangannya ada di dalam halaman istana. Dengan demikian, maka bahaya akan selalu mengancam hidup Anusapati selanjutnya. Kali ini mereka hanya berusaha menghilangkan jejak. Tetapi lain kali mereka akan berusaha langsung membunuh Anusapati dan orang-orang yang dekat dengan maharaja itu.

Anusapati yang menyaksikan para tawanan yang sudah meninggal itu dengan hati yang bergejolak, berdesis kepada Mahisa Agni, “Kita telah kehilangan sumber keterangan, Paman.”

“Ya. Agaknya terlampau sulit untuk mendapatkan gantinya.”

“Semula, ketika aku melihat mayat senapati itu, aku masih mempunyai harapan, bahwa salah seorang perwiranya akan dapat memberikan keterangan. Tetapi mereka pun telah terbunuh semuanya. Sedang kita tidak akan dapat mengharapkan apapun dari prajurit dan perwira rendahan.”

“Ya, Tuanku. Persoalan ini akan merupakan persoalan yang akan tetap gelap untuk sementara. Mudah-mudahan kita menemukan cara lain untuk mengungkapkannya,.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku berharap demikian Paman. Dan aku harap Paman sekarang juga pergi ke bangsal. Aku ingin berbicara.”

Demikianlah maka Mahisa Agni pun mengikuti Anusapati memasuki bangsalnya. Ketika mereka duduk di ruang depan, maka Anusapati pun segera bertanya, “Apakah Pamanda menaruh kecurigaan kepada para penjaga?”

“Aku belum dapat menyebutkan Tuanku. Tetapi kita harus menyelidikinya. Namun yang pasti, mereka harus mendapat hukuman, setidak-tidaknya peringatan keras atas kelengahan mereka sehingga tawanan itu semuanya mati terbunuh.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kematian para tawanan itu adalah kehilangan yang besar baginya untuk mencari kesaksian atas rencana kekacauan yang sengaja, ditimbulkan di Singasari.

“Namun,” berkata Mahisa Agni selanjutnya, “untuk membeberkan kesalahan itu seluruhnya kepada para penjaga, tentu saja kita tidak akan sampai hati.”

“Baiklah Paman. Untuk sementara aku tidak akan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Aku hanya akan memberikan peringatan keras dan pembatasan atas tugas mereka. Tetapi sudah barang tentu kita akan mencari siapakah sebenarnya pembunuh dari para tawanan itu. Jika kita menemukannya, maka kita akan mendapat ganti yang telah mati di dalam tahanan.”

“Adalah demikian Tuanku, meskipun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Menemukan pembunuhnya itu adalah usaha yang memerlukan waktu dan ketekunan, kemudian menyimpan orang itu agar tidak mati terbunuh merupakan pekerjaan lain yang cukup berat dan sulit. Sedang kemudian memaksanya untuk berbicara itu pun akan memerlukan suatu cara tersendiri.”

“Aku menyadari Paman. Tetapi aku harus melakukannya.”

“Hamba Tuanku. Tuanku memang harus melakukannya,” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “sudah pernah terjadi hal yang serupa pada masa kekuasaan Sri Rajasa. Ketika Tuanku harus berkelahi dan membinasakan Kiai Kisi, maka beberapa orang tawanan pun telah terbunuh pula di halaman ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira sumber perbuatan itu tidak berbeda. Tetapi kita memang memerlukan kesaksian yang meyakinkan untuk melontarkan tuduhan.”

“Agaknya memang demikian Tuanku.”

“Baiklah Paman. Aku akan segera melakukan tindakan-tindakan yang perlu. Agaknya kekuatan itu tidak hanya akan terhenti sampai sekian. Mungkin, di saat mendatang mereka akan memilih sasaran yang lain. Bukan saja pemerintahan Singasari yang akan mereka kacaukan dengan tujuan yang lebih luas, tetapi mungkin sekali mereka akan langsung memotong pokok dari kekuasaan Singasari.”

“Maksud Tuanku, akan ditujukan langsung terhadap Tuanku?”

“Ya Paman. Dan ada firasat padaku, bahwa demikianlah agaknya yang akan terjadi.”

“Tuanku, jika demikian, Tuanku memang harus berhati-hati. Tetapi bukan karena firasat itu Tuanku kehilangan gairah di dalam pemerintahan. Tuanku pernah disebut sebagai Kesatria Putih, sehingga Tuanku akan tetap memiliki jiwa Kesatria Putih itu untuk selanjutnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba mohon diri. Jika Tuanku memerlukan hamba, hamba akan segera menghadap. Karena peristiwa ini, jika berkenan di hati Tuanku, hamba akan tinggal untuk sementara di Istana Singasari. Mungkin hamba dapat berbuat sesuatu untuk membantu menjernihkan kegelapan ini.”

“Tentu paman. Aku tidak pernah berkeberatan jika Paman memang ingin tinggal di Singasari. Agaknya Kediri sudah jadi semakin baik, dan tidak perlu terlampau langsung mendapat pengawasan.”

“Terima kasih Tuanku.”

“Mungkin pada masa pemerintahan Ayahanda Sri Rajasa, Pamanda memang sengaja disingkirkan. Tetapi kini Pamanda justru aku perlukan. Bahkan menurut pertimbanganku, jika ada orang lain yang pantas menggantikan kedudukan Pamanda di Kediri, sebaiknya Pamanda tetap berada di istana Singasari.”

“Terima kasih Tuanku. Tetapi biarlah untuk sementara hamba berada di Kediri. Hamba harus menahan pertumbuhan Kediri yang pesat. Bukan dari segi kemakmuran rakyatnya, tetapi untuk menahan agar tidak dinyalakan kembali dendam yang masih saja ada di antara para bangsawan. Hamba masih harus meyakinkan bahwa kesatuan yang sudah ada sekarang, yang telah dibangunkan oleh Sri Rajasa harus dipertahankan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepala. Katanya, “Terserahlah menurut pertimbangan Paman. Namun sementara ini memang sebaiknya Paman tetap berada di Singasari.”

Demikiankah maka Mahisa Agni pun kemudian mohon diri dan kembali ke bangsalnya. Di sepanjang halaman, dilihatnya para prajurit sedang sibuk berbincang tentang kematian yang aneh itu.

Ketika kemudian matahari terbit, berita tentang kematian itu tidak dapat dibatasi lagi. Dari mulut ke mulut, maka berita itu pun segera tersebar. Seluruh kota segera mendengar, bahwa tawanan yang tertangkap oleh Maharaja Singasari itu sendiri, ternyata mati di dalam biliknya, hanya beberapa saat saja setelah Anusapati sendiri menengoknya ke dalam bilik itu.

“Kami tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa kami pun akan tersentuh oleh kesalahan yang telah terjadi,” berkata seorang prajurit yang sedang bertugas di regol bangsal Mahisa Agni.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Inilah yang sering disebut terantuk di tanah datar, terbentur di kekosongan.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada hujan, tidak ada mendung di langit, tiba-tiba saja petir menyambar. Kita sama sekali tidak bermimpi akan mengalaminya. Tentu seluruh malam ini di seluruh halaman akan mengalami pemeriksaan yang keras.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun menjadi cemas, jika mereka harus ikut bertanggung jawab, karena halaman istana ternyata telah dimasuki oleh orang-orang yang sengaja akan membuat kekisruhan. Bahkan kekisruhan itu sudah terjadi, dan kekisruhan yang sangat merugikan.

Berbeda dengan para prajurit yang menjadi cemas akan nasib masing-masing, karena mereka tidak akan dapat ingkar dari kesalahan, karena halaman istana telah dimasuki oleh orang yang ternyata telah membunuh para tawanan, maka Anusapati pun mencemaskan dirinya sendiri bukan karena kesalahan yang dilakukan, tetapi justru karena ancaman orang lain atas dirinya.

Kematian para tawanan itu memberikan kesadaran kepada Anusapati bahwa masih ada juga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi yang tidak menyukainya, terbukti dengan pembunuhan itu.

“Pada suatu saat, selagi aku tidur dengan nyenyaknya, maka atap bilikkulah yang akan dilubanginya dan kepalakulah yang akan di lubangi pula dengan paser beracun,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Sebenarnya Anusapati bukan seorang pengecut. Bahkan ia telah melakukan tindakan yang berdasarkan keberanian tiada taranya, yaitu menjadi salah seorang dari mereka yang disebut Kesatria Putih di antara beberapa orang yang lain. Yang dilakukannya sebagai Kesatria Putih adalah tindakan yang berani dan kadang-kadang sangat berbahaya.

Namun, tiba-tiba ia kini merasa dirinya selalu dibayangi oleh maut.

Anusapati tidak dapat ingkar, bahwa di dalam dirinya bergolak suatu perasaan bersalah atas kematian Sri Rajasa. Ia tidak dapat lari dari kenyataan bahwa tangannya yang memegang keris Empu Gandringlsah yang telah membinasakan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa. Sengaja atau tidak sengaja. Dan seolah-olah ia mendengar keris itu selalu berkidung tentang kematian. Seolah-olah keris yang pernah minum darah seseorang itu setiap kali menjadi haus.

“Oh,” Anusapati yang duduk seorang diri di dalam biliknya menjadi ngeri mengenangkan semua itu. Kematian Tunggul Ametung, Empu Gandring sendiri, dan kemudian Sri Rajasa dan selalu terbayang tentang dirinya sendiri.

“Apakah namaku juga akan dipasang berderet dengan nama-nama yang lain itu? Termasuk Paman Sumekar dan Kebo Ijo?” pertanyaan itu selalu melonjak di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Anusapati lebih banyak dibayangi oleh perasaan bersalah daripada ketakutan itu sendiri. Dan kematian para tawanan itu seolah-olah merupakan peringatan baginya, bahwa sebenarnyalah masih ada kekuatan yang akan dapat membinasakannya, seperti ia menyingkirkan Sri Rajasa.

“Persetan!” Anusapati itu menggeram, “Aku bukan penakut. Aku tidak akan takut terhadap siapa pun. Di sini aku adalah seorang maharaja yang memiliki kekuasaan tertinggi. Di sini ada Pamanda Mahisa Agni. Bahkan Pamanda Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana akan dapat melindungi aku dari segala tindakan pengecut. Di luar dan di dalam istana aku mempunyai kekuatan, yang berujud prajurit-prajurit Singasari dan yang tidak nampak adalah orang-orang tua yang memiliki kelebihan itu.”

Namun demikian, jika Anusapati sempat memandang ke dirinya sendiri, sebenarnyalah ia selalu dicengkam oleh kecemasan itu.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat terlalu lama merenung di dalam biliknya. Hari itu ia menghadapi persoalan yang rumit. Yaitu kematian para tawanan itu.

Dengan resmi Anusapati membicarakan masalah itu dengan para pembantunya. Para pemimpin Singasari di dalam olah pemerintahan, panglima dan senapati prajurit.

Tidak seorang pun dari mereka yang dapat menyatakan sikapnya dengan pasti menghadapi persoalan itu. Yang dapat mereka bicarakan di dalam paseban adalah sekedar sikap terhadap pada penjaga yang langsung mengawasi para tawanan itu, dan bagi mereka yang malam itu bertugas di halaman.

“Aku tidak dapat menghukum mereka,” berkata Anusapati, “yang akan aku lakukan lewat panglima dari pasukan masing-masing yang sedang bertugas adalah peringatan yang keras. Jika hal yang serupa terjadi dalam bentuk apapun, maka barulah aku akan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap mereka.”

Para panglima, senapati dan para pemimpin Singasari menundukkan kepalanya. Terasa betapa besar kemurahan hati Anusapati terhadap rakyatnya.

Namun demikian, Anusapati tidak dapat menyembunyikan rasa cemasnya sehingga ia berkata, “Tetapi, pengampunan ini harus diartikan sebagai cambuk bagi mereka, agar mereka lebih baik lagi berbuat bagi ketenangan halaman istana Singasari yang mulai diraba oleh tangan yang hitam. Sekarang yang menjadi korban adalah tawanan-tawanan yang bagi kita sangat penting artinya itu, namun lain kali adalah para panglima, para pemimpin Singasari dan bahkan aku sendiri seperti pada saat meninggalnya Ayahanda Sri Rajasa.”

Dan Anusapati pun tidak dapat menyembunyikan suatu tuduhan, “Tidak mustahil bahwa pembunuh dari para tawanan itu bukan seseorang yang memasuki halaman istana ini di malam hari dan berhasil mengelakkan diri dari pengawasan para penjaga. Tetapi orang itu adalah penghuni halaman ini sendiri. Hal yang serupa pernah terjadi beberapa saat yang lampau, ketika para prajurit yang mengemban tugas ke timur bersama aku membawa beberapa orang tawanan pula.”

Para pemimpin dan Panglima mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu memang dapat saja terjadi. Betapa para pemimpin Singasari dan para panglima itu menunaikan tugasnya sebaik-baiknya, namun bahwa mereka tidak akan dapat dengan cermat mengetahui hati seorang yang ada di dalam halaman istana itu. Namun sebenarnyalah bahwa sebagian besar di antara mereka mempunyai arah pandangan yang serupa di dalam hal itu.

Namun demikian Anusapati masih dapat menahan hatinya, sehingga ia tidak menjatuhkan tuduhan kepada seseorang.

Tetapi ketika paseban itu selesai, dan para panglima melakukan tugasnya masing-masing terhadap setiap orang di dalam pasukannya yang langsung atau tidak langsung terlibat di dalam kelengahan malam itu. Anusapati masih berbincang dengan Mahisa Agni di ruang dalam.

“Apa kata Pamanda tentang Tohjaya?” bertanya Anusapati.

“Tuanku memang harus berhati-hati terhadapnya.”

“Tampaknya ia pasrah diri dan menyesuaikan dengan keadaan. Tampaknya ia tidak lagi mempunyai banyak pamrih dan tingkah.”

“Apakah Tuanku menghubungkan namanya dengan peristiwa yang baru saja terjadi?”

“Aku mencoba untuk tidak berbuat demikian. Tetapi di luar kehendakku sendiri, nama itu selalu hadir setiap kali aku membayangkan persoalan yang sedang aku hadapi sekarang.”

“Dan kesimpulan yang akan Tuanku ambil?”

“Paman. Bagaimanapun juga aku mencurigainya. Aku tidak yakin bahwa tidak ada seorang pengikutnya yang dapat dibawanya berbuat sesuatu untuk kepentingan mereka.”

“Ampun Tuanku. Sebenarnya hamba pun berpendapat demikian. Karena itulah maka hamba katakan bahwa Tuanku harus berhati-hati terhadap Tuanku Tohjaya. Meskipun nampaknya ia patuh terhadap semua perintah dan peraturan yang Tuanku jatuhkan, namun agaknya ia bukan seorang yang berhati lemah dan cepat luluh, apalagi ibundanya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah Pamanda, Karena itu aku mengharap Pamanda tinggal beberapa lama di halaman istana ini, sehingga dengan demikian Pamanda akan lebih mengenal apakah yang sebenarnya sedang bergejolak di Istana Singasari sekarang ini.”

Dalam pada itu, tindakan yang paling lunak telah dikenakan terhadap para petugas yang malam itu berada di halaman. Mereka yang tidak langsung terlibat hanya sekedar mendapat peringatan. Sedang mereka yang saat itu bertugas menjaga para tawanan yang terbunuh itu pun mendapat peringatan yang keras. Jika mereka mengulangi kesalahan yang serupa, maka mereka akan mendapat hukuman yang cukup berat.

Sejak peristiwa itu, Anusapati merasa selalu dibayangi oleh bahaya. Ia selalu merasa seakan-akan Sri Rajasa memandanginya dengan sikap yang tidak dimengerti. Kadang-kadang Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya kepadanya, namun kadang-kadang rasa-rasanya Sri Rajasa itu akan menerkamnya dengan penuh kemarahan. Dan dengan demikian setiap kali Tohjaya datang menghadapnya, hatinya pun menjadi berdebar-debar.

Namun Tohjaya tidak pernah menunjukkan sikap yang mencurigakan. Ia pun terkejut mendengar bahwa para tawanan yang berhasil ditangkap langsung oleh Anusapati itu terbunuh di bilik tawannya.

“Sayang sekali,” desahnya, “jika mereka tetap hidup, maka tidak akan ada orang yang berprasangka terhadap orang lain yang tidak disukainya. Dengan kesaksiannya, maka akan dapat ditunjuk dengan tegas, siapakah yang bersalah. Kini sepeninggal para tawanan itu, maka setiap orang dapat dicurigai. Perbuatan mereka akan dapat menjadi sumber fitnah yang tidak ada habis-habisnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya, “apakah para prajurit yang tertawan itu tidak dapat memberikan kesaksian apa-apa?”

“Tidak Adinda Tohjaya. Mereka hanya sekedar menjalankan perintah para perwira dengan janji yang menyenangkan. Tetapi mereka tidak mengetahui, siapakah yang berdiri di belakang para perwira yang memberikan janji kepada mereka itu.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ampun Kakanda. Sebenarnyalah aku merasa ngeri mendengar hal itu terjadi. Di masa lampau, aku adalah saudara muda Kakanda yang paling bengal. Aku adalah anak yang sangat dimanjakan oleh Ibunda, sehingga kadang-kadang aku berbuat sesuatu yang aneh dan tidak dapat dimengerti nalar. Aku pernah menantang Kakanda berkelahi. Bahkan pernah terjadi kita berkelahi di arena, meskipun mula-mula aku tidak mengetahui bahwa Kesatria Putih itu adalah Kakanda. Karena itu, kenakalanku di masa lampau memberikan kesan yang sangat tidak baik kepadaku. Apalagi di dalam keadaan serupa ini.”

“Sudahlah Tohjaya,” berkata Anusapati, “kita tak akan saling menyalahkan atau mencari sasaran kesalahan dari peristiwa ini. Tetapi kita akan berusaha untuk menemukan bukti, siapakah yang sebenarnya bersalah. Selebihnya kita tidak akan dapat berbuat apa.”

“Terima kasih Kakanda. Ternyata Kakanda adalah seorang maharaja yang berjiwa besar. Yang sebelumnya tidak aku bayangkan. Aku mengucapkan terima kasih, bahwa tidak ada kecurigaan atasku dan saudaraku seibu.”

Tohjaya berhenti sejenak, lalu, “Aku pun mohon, agar perbedaan darah keturunan yang mengalir pada diri kita masing-masing, karena kita berbeda ibu tidak menjadikan Kakanda memandang aku orang lain.”

“Tidak Adinda. Aku telah berusaha menyingkirkan perasaan itu sejak lama. Sejak Ayahanda Sri Rajasa masih memerintah. Kau tidak ada bedanya dengan adik-adikku yang lain. Yang seibu, maupun yang bukan seibu.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan Anusapati terkejut ketika ia kemudian melihat air yang membasahi pipi Tohjaya.

“Tohjaya,” desis Anusapati, “kenapa kau menangis?”

“Ampun Kakanda. Aku merasa sangat terharu akan kemurahan hati Kakanda. Justru karena itu, aku akan mengabdikan diriku sepanjang umurku kepada Kakanda.”

“Baiklah Adinda. Tetapi Adinda adalah seorang laki-laki. Dan tidak sepantasnya seorang laki-laki menitikkan air mata.”

“Aku tidak akan dapat menitikkan air mata meskipun seandainya aku dihukum picis di alun-alun. Tetapi justru karena Kakanda terlampau baik terhadap diriku yang sebenarnya pantas diusir dari halaman istana inilah, aku tidak dapat menahan air mataku lagi.”

“Kau sangat perasa. Sudahlah. Lupakanlah semuanya.”

Tohjaya pun kemudian mohon diri meninggalkan Kakandanya duduk termangu-mangu.

Sepeninggal Tohjaya, maka Mahisa Wonga Teleng lah yang kemudian menghadap. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Kakanda Tohjaya baru saja menghadap Kakanda?”

“Ya. Adinda Tohjaya baru saja menghadap. Betapa lembut hatinya. Ketika ia mendengar aku melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukannya, ia menjadi terharu dan menitikkan air mata.”

Mahisa Wonga Teleng mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kakanda Tohjaya menangis?”

“Ya.”

“Aneh,” desisnya.

“Memang terasa aneh. Tohjaya adalah seseorang yang keras dan bahkan agak kasar. Tetapi ternyata hatinya sangat mudah tersentuh.”

“Bukan itu Kakanda. Bukan kelembutan hati Kakanda Tohjaya yang kasar,” Mahisa Wonga Teleng berhenti sejenak, lalu, “aku tanpa sengaja bertemu dengan Kakanda Tohjaya di luar regol. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan suatu perasaan yang kalut, atau bahkan suatu persoalan yang dalam di hatinya. Wajahnya justru tampak segar dan bahkan aku mendengar ia tertawa di antara pengawalnya. Baru ketika ia melihatku, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi buram.”

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Di regol ia bertanya kepadaku apakah aku akan menghadap Kakanda.”

“Apa saja yang dikatakannya?”

“Ia hanya bertanya apakah aku akan menghadap. Selebihnya tidak ada. Meskipun wajahnya menjadi buram, namun ia tetap seperti biasa. Angkuh.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Sebaiknya kita berusaha menyingkirkan segala macam prasangka. Kita agaknya masih dibayangi oleh hubungan yang kurang baik dengan Adinda Tohjaya di masa lampau.”

“Mungkin aku masih saja dibayangi oleh prasangka. Tetapi sebaiknya Kakanda berhati-hati terhadap Kakanda Tohjaya. Mudah-mudahan prasangka yang tidak berhasil aku singkirkan ini sekedar bayangan kecemasan yang tidak berarti apa lagi kita.”

Mahisa Wonga Teleng berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ampun, Kakanda. Apakah Kakanda tidak pernah menghubungkan kematian para tawanan itu dengan Kakanda Tohjaya?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terngiang juga kata Mahisa Agni bahwa ia harus berhati-hati terhadap Tohjaya. Namun baru saja ia melihat sikap yang meyakinkan dari adiknya itu.

“Apakah Tohjaya mengerti bahwa ia sebenarnya tidak ada hubungan darah sama sekali dengan aku?” pertanyaan itu selalu mengganggu hatinya. Namun melihat titik air mata di pipi Tohjaya, rasa-rasanya ia melihat betapa penyesalan yang dalam telah mencengkam hati adiknya itu. Meskipun demikian peringatan yang didengarnya dari Mahisa Wonga Teleng itu sama sekali tidak dapat diabaikan. Bahkan setiap kali peringatan itu selalu bergema bersama sikap Pamandanya, Mahisa Agni.

“Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng kemudian, “kedatanganku menghadap Kakanda sebenarnya adalah justru untuk mohon kepada Kakanda agar Kakanda lebih banyak memperhatikan Ibunda Ken Umang. Nampaknya Ibunda Ken Umang terlampau sering berada di luar bangsalnya dan berhubungan dengan para abdinya. Tanpa aku sadari, aku sering mengawasinya dari sela-sela regol yang memisahkan bagian istana itu dengan istana ini. Ternyata bahwa bagian yang terpisah itu terlampau memberinya keleluasaan berbuat jika mereka menghendaki.”

“Adinda, ibunda Ken Umang pun telah pernah menyatakan kesetiaannya kepadaku.”

“Kakanda terlampau jujur menanggapi persoalan yang rumit ini. Menurut pengalaman, Kakanda, kita tidak akan dapat mempercayainya lagi. Jika suatu saat Kakanda melihat air mata di pelupuknya, maka Kakanda harus berhati-hati. Ada beberapa kemungkinan, apakah Kakanda Tohjaya benar-benar menyesal atau sekedar menyatakan dirinya seolah-olah menyesal. Mungkin akulah orang yang paling buruk hati. Tetapi rasa-rasanya jika Kakanda Tohjaya benar-benar menyesal di hadapan Kakanda Anusapati sekalipun, maka ia akan segera melupakannya dan melakukan perbuatan tercela itu lagi di hari mendatang.”

Anusapati menarik nafas. Katanya, “Aku akan berhati-hati Adinda. Aku akan mencoba melihat persoalan ini dengan hati yang bersih.”

Mahisa Wonga Teleng menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah Kakanda. Memang sebagai seorang maharaja, Kakanda harus melihat segala sesuatu dengan adil. Namun demikian kadang-kadang kita kehilangan pegangan untuk menyebut manakah yang adil dan manakah yang sekedar karena kebaikan hati sehingga kesalahan dapat dilupakan.”

“Baiklah Adinda. Aku memang harus memperhatikan setiap segi. Tetapi peringatan Adinda merupakan bahan pertimbangan yang penting, karena apa yang kau katakan, sebenarnyalah aku juga melihatnya.”

Mahisa Wonga Teleng memandang Anusapati dengan berbagai macam perasaan yang agaknya tertahan di dalam dadanya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Kakanda, aku mohon diri. Setiap saat Kakanda dapat memanggil aku. Dan aku akan berbuat apa saja untuk kepentingan Kakanda dan tahta Singasari.”

Sepeninggal Mahisa Wonga Teleng, maka Anusapati pun mulai merenungi lagi keadaannya dan keadaan Singasari dalam ke seluruhan. Memang banyak persoalan yang harus dipertimbangkan, terutama sikap yang sebenarnya dari Tohjaya.

“Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Tohjaya,” berkata Anusapati di dalam hati ketika terkilas bayangan kematian para tawanannya dan usaha mereka untuk mengacaukan pemerintahan di Singasari. Namun jika terbayang wajah Tohjaya yang buram dan bahkan kemudian air mata yang menitik di pelupuknya, rasa-rasanya hatinya menjadi luluh.

Namun setiap kali terngiang kata-kata Mahisa Wonga Teleng, ‘Namun demikian kita kadang-kadang kehilangan pegangan untuk menyebut, manakah yang adil dan manakah yang sekedar karena kebaikan hati sehingga kesalahan dapat dilupakan’.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata kepada diri sendiri, “Aku harus berbuat sebaik-baiknya, justru untuk keutuhan Singasari.”

Meskipun demikian, Anusapati tidak dapat ingkar bahwa hatinya memang terlalu lemah untuk bersikap. Keadaan di masa kanak-kanaknya ternyata masih tetap mempengaruhi jalan hidupnya dan sikapnya di dalam mengambil keputusan. Keragu-raguan dan kadang-kadang hampir tidak berani menentukan apakah yang harus dilakukan.

Tetapi lebih dari itu, ternyata Anusapati mulai dijalari oleh perasaan bersalah. Bagaimanapun juga, sebelum Ayahanda Sri Rajasa terbunuh oleh keris Empu Gandring di tangannya, memang ada sepercik harapan, bahwa Sri Rajasa itu akan mengalami kematian seperti yang sudah terjadi. Dan ia tidak dapat bersembunyi dari dirinya sendiri, sebenarnyalah ia melihat suatu keinginan di dalam hatinya untuk melakukannya seperti yang terjadi.

Dengan demikian, maka dalam hidupnya sehari-hari, Anusapati tidak dapat melepaskan dirinya lagi dari perasaan itu.

Dalam pada itu, ternyata Tohjaya masih selalu menunjukkan sikap yang rendah hati. Ia tidak pernah berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaan.

Bahkan Tohjaya ternyata tenggelam ke dalam suatu kegemaran baru. Untuk melupakan persoalan yang dapat memberati hatinya sepeninggal ayahandanya, maka ia mulai tertarik dengan sabung ayam. Hampir setiap hari Tohjaya selalu menghabiskan waktunya di gelanggang sabung ayam. Bahkan kadang-kadang ia memanggil beberapa orang di sudut halaman belakang untuk menyabung ayam.

Kegemaran menyabung ayam itu ternyata semakin menjauhkan Anusapati dari berbagai macam prasangka. Agaknya, menurut dugaan Mahisa Agni, Tohjaya benar-benar sudah melupakan apa yang telah terjadi.

Tetapi jika ia terlena dalam angan-angannya, Mahisa Agni yang terlalu sering berada di Singasari selalu memperingatkan, agar ia tetap berhati-hati menghadapi keadaan yang nampaknya sudah mereda.

Apabila demikian, seakan-akan hati Anusapati menjadi tergugah kembali oleh perasaan yang sebenarnya tidak dikehendakinya sendiri. Yaitu perasaan bersalah.

“Paman,” berkata Anusapati ketika Mahisa Agni berada di Singasari, “sebaiknya aku tidak selalu diganggu oleh perasaan yang tidak menentu. Seandainya ada juga dendam di hati Adinda Tohjaya, bagaimanakah caranya agar aku tidak selalu harus dikejar oleh kecemasan. Agar aku dapat tidur nyenyak.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ada semacam isyarat di dalam hatinya, bahwa Anusapati memang perlu merasa dirinya tidak lagi dikejar-kejar oleh kecemasan tanpa meninggalkan kewaspadaan. Selama ini Anusapati yang merasa tidak memperhatikan lagi persoalan yang menyangkut pemerintahan, namun dengan demikian ia justru meninggalkan kewaspadaan. Tetapi jika Mahisa Agni atau Mahisa Wonga Teleng, memberinya peringatan, maka ia pun segera jatuh kedalam kecemasan yang dalam.

“Tuanku” berkata Mahisa Agni kemudian, “baiklah tuanku memikirkan sebuah benteng yang paling baik tanpa menumbuhkan kecurigaan apapun bagi orang lain. Dengan demikian tuanku dapat tidur nyenyak tanpa berprasangka, tetapi Tuanku pun akan dijauhkan dari kemungkinan yang paling pahit yang dapat terjadi.”

“Penjagaan yang kuat maksud paman?”

“Semacam itu, tetapi yang tidak semata-mata”

Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang berkerut-merut seakan-akan ingin melihat tanggapan dari kata-katanya itu langsung ke dalam nurani.

Tetapi untuk beberapa saat Anusapati justru terdiam dengan kepala yang tunduk.

“Paman” katanya sejenak kemudian, “apakah aku merasa perlu untuk berlindung? Sebenarnyalah bahwa aku telah pasrah. Jika yang pernah terjadi itu suatu tindakan yang dibenarkan sebagai lantaran datangnya hasil perbuatan Ayahanda Sri Rajasa, maka aku akan terbebas dari segala macam usaha pembalasan dendam. Namun apabila perbuatanku ini adalah perbuatan tidak dapat dibenarkan, maka tentu akan datang saatnya bahwa akupun harus memetik hasil perbuatanku itu. Pembalasan itu tidak dapat terhindar dimanapun aku bersembunyi.”

“Tuanku benar” sahut Mahisa Agni, “tetapi manusia dibenarkan untuk melakukan usaha. Usaha melindungi diri sendiri seperti usaha untuk mendapatkan sesuap nasi di ladang bagi para petani. Meskipun makan dan minum kita seakan-akan telah disediakan, namun jika kita diam menunggu, maka tidak akan ada sebutir padi pun yang akan jatuh kepangkuan kite.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti paman. jadi bagaimanakah sebaiknya menurut paman?”

“Tuanku. Sebagaimana kita ketahui, tawanan itu terbunuh di hadapan hidung para penjaganya. Kita dapat mengetahui apa sebabnya. Seperti kita dapat memasuki longkangan belakang bangsal yang dipergunakan oleh Ayahanda Sri Rajasa pada waktu itu.”

Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu tuanku” berkata Mahisa Agni seterusnya, “kita harus berusaha, agar hal yang serupa itu tidak akan dapat terjadi atas Tuanku.”

“Apakah yang harus kita lakukan paman? Apakah di sekitar bangsal ini harus dibangun benteng yang tinggi?”

Mahisa Agni memandang Anusapati sejenak, lalu sambil menggeleng ia berkata, “Tidak tuanku. Tuanku tidak sepatutnya membangun dinding yang tinggi di sekitar bangsal ini, sehingga terdapat beberapa lapis dinding batu di halaman.”

“Jadi, apakah yang harus kita lakukan?”

“Tuanku dapat membuat dinding serupa itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Tuanku dapat membangun sebuah kolam di sekitar bangsal ini, seakan-akan tuanku sengaja membuat bangsal tuanku menjadi sebuah bangsal sang dikelilingi oleh air, bunga-bunga dan binatang air di dalam kolam itu.”

Sejenak Anusapati merenung. Lalu katanya, “Maksud paman, bahwa aku sebaiknya membangun sebuah taman yang khusus di sekitar bangsal ini. Katakanlah, taman yang dikelilingi oleh sebuah kolam yang dalam?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar Tuanku. Dengan kolam itu, maka bahaya yang dapat mendekati Tuanku rasa-rasanya semakin berkurang. Tuanku akan dikelilingi oleh pengaman yang sulit ditembus. Sementara itu, jika benar-benar Tuanku berada di dalam bahaya, maka rasa-rasanya bahaya itu telah jauh berkurang. Dengan kolam itu Tuanku tidak perlu berprasangka lagi seperti yang selalu hamba sebut-sebut terhadap Adinda Tuanku, Tuanku Tohjaya.”

“Ia tidak lagi berbuat sesuatu yang pantas menimbulkan prasangka. Aku rasa ia sudah menyesali semua tingkah lakunya.”

“Mudah-mudahan. Tetapi seandainya dugaan itu keliru, maka Tuanku tidak akan mudah diterkam oleh kelengahan.”

Anusapati merenung sejenak. Ia masih ragu-ragu menerima pendapat Mahisa Agni itu, akhirnya ia mengangguk kecil sambil berkata, “Baiklah paman. Tetapi aku tidak akan membangunnya sekaligus. Aku tidak mau menjadi seorang maharaja yang selalu dibayangi oleh kecurigaan dan apalagi ketakutan. Ilmu yang Pamanda berikan kepadaku merupakan salah satu benteng yang paling dapat aku banggakan dari semua alat pengaman yang ada di sekitarku. Para prajurit penjaga dan para pelayan dalam, rasa-rasanya masih belum merupakan imbangan yang pantas bagi kemurahan hati Pamanda.”

“Ah,” desis Mahisa Agni, “suatu ketika kita dapat lengah. Dan kita harus menjaga diri di dalam keadaan lengah sebelumnya hal itu terjadi.”

“Baiklah. Mulai besok aku akan melakukan pesan itu. Tetapi perlahan-lahan.”

Seperti yang dikatakan, maka Anusapati pun mulai menaruh perhatian terhadap taman-taman di sekitarnya. Pohon-pohon bunga menjadi semakin rimbun.

“Alangkah baiknya jika ada kolam di dekat gerumbul pohon soka itu,” berkata Anusapati kepada seorang juru taman yang sedang menyiangi tanamannya.”

“Ampun Tuanku,” juru taman itu mendekat sambil merunduk, “apakah Tuanku menghendaki hamba membuat sebuah kolam kecil di sebelah gerumbul pohon soka itu?”

“Buatlah. Jangan terlalu besar, tetapi jangan terlalu kecil. Kau dapat mengupah beberapa orang yang akan kau pekerjakan. Aku ingin kolam itu menyilang jalan samping bangsal ini. Dari sudut yang satu sampai sudut yang lain.”

“Oh, jadi kolam itu agak luas Tuanku.”

“Ya. Aku ingin memelihara binatang air dan binatang darat di taman ini. Aku ingin dapat melihat taman dari dalam bangsal, sehingga aku tidak perlu pergi ke taman di sisi halaman itu.”

“Hamba Tuanku. Jika memang itu yang Tuanku kehendaki.”

Demikianlah maka di sisi bangsal Anusapati itu pun kemudian digali sebuah kolam buatan. Karena Anusapati menghendaki kolam itu dari sudut bangsal yang satu sampai ke sudut bangsal yang lain, maka beberapa orang pekerja telah melakukan penggalian itu.....

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...