*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 18-02*
Karya. : SH Mintardja
Mahisa Bungalan benar-benar telah kehilangan pertimbangan. Ia tidak mau melepaskan orang yang berbahaya itu. Karena itu maka dengan kecepatan melampaui kecepatan lawannya iapun meloncat sambil menyerang dengan senjatanya.
Serangan Mahisa Bungalan itu tidak tertahankan lagi. Senjata anak muda itu tidak dapat ditangkisnya disaat kakinya menjejak dinding.
Yang terdengar adalah sebuah jerit ngeri yang tertahan Kemudian, tubuh yang baru saja melayang naik itu terjatuh kembali kebahagian dalam halaman yang luas itu.
Witantra terkejut melihat sergapan Mahisa Bungalan yang langsung mematikan itu. Agaknya Mahisa Bungalan tidak sadar lagi, bahwa sebaiknya ia menangkap lawannya hidup-hidup. Jika terpaksa melumpuhkannya, maka ia harus berusaha membiarkan ia terluka, tetapi tidak terbunuh.
Ylang terdengar adalah suara Witantra “Jangan dibunuh.”
Tetapi ia sudah terlambat. Tubuh itu sudah terbanting di tanah dan tidak akan bangun lagi selama-lamanya.
Mahisa Bungalan pun mendengar peringatan paman gurunya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Senjatanya sudah terbenam terlalu dalam dan sekaligus membunuh lawannya. Kemarahannnya dan darah mudanya, ternyata tidak mampu menahan dirinya untuk melakukan pembunuhan itu.
Witantra tidak dapat berbuat banyak. Kematian orang berilmu hitam itu telah memutuskan kemungkinan untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keadaan mereka.
Linggadadi pun menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ternyata lawannya berusaha untuk menangkap orang berilmu hitam itu hidup-hidup.
“Ia tentu akan berbuat serupa atasku.“ berkata Linggadadi di dalam hatinya, lalu, “Tetapi aku tidak sudi menjadi tawanan. Lebih baik mati, atau menyingkir dari arena ini.”
Demikianlah, maka ketika Linggadadi akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat mengalahkan orang tua itu. meskipun ia berdua, dan apalagi anak muda yang terluka itu sudah kehilangan lawan dan akan dapat membantu orang tua itu, iapun memutuskan untuk melepaskan diri dari kemungkinan tertangkap hidup.
Sesaat kemudian terdengar Linggadadi memberikan isyarat kepada kawannya. Isyarat yang tidak diketahui artinya oleh Witantra dan Mahisa Bungalan.
Dengan demikian Mahisa Bungalan pun menjadi semakin berhati-hati. Ia masih berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia menyadari, bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk menangkap Linggadadi hidup-hidup.
Tetapi ia sudah terlambat pula sesaat. Isyarat yang diberikan oleh Linggadadi adalah isyarat, bahwa mereka harus berusaha melepaskan diri dari tangkapan lawannya.
Linggadadi sempat meloncat meninggalkan arena. Tanpa menghiraukan harga dirinya lagi, maka ia pun segera menghilang di dalam kegelapan. Namun kawannya ternyata tidak selincah Linggadadi. Serangan Witantra benar-benar telah mengikatnya, sehingga ia tidak sempat berlari meninggalkan arena.
Witantra tidak mau kehilangan kedua-duanya. Itulah sebabnya ia dengan sengaja tidak mengejar Linggadadi. Ia sadar, bahwa sulit baginya menangkap Linggadadi hidup. Tetapi agaknya berbeda dengan yang seorang lagi.
Mahisa Bungalan pun menyadarinya pula. Karena itu ketika Witantra menyebut namanya, ia mengerti. Anak muda yang sudah terluka dan kehilangan banyak tenaga dalam perkelahiannya itupun tidak mengejar Linggadadi. Ia mencoba mencegat kawan orang yang telah melarikan diri itu.
Tetapi Witantra dani Mahisa Bungalan itu terkejut ketika ia melihat orang itu justru terhuyung-huyung dan terjatuh di tanah.
Untuk sesaat Witantra dan Mahisa Bungalan termangu-mangu. Mereka memandang orang yang terbuyur diam itu. Berbagai pertanyaan telah memercik di dalam hati mereka.
Namun sesaat kemudian, setelah mereka yakin bahwa orang itu tidak bergerak lagi, maka keduanya pun mendekatinya. Dengan ragu-ragu Witantra meraba tubuh itu. Ternyata tubuh itu sudah menjadi beku.
“Mati “desis Witantra.
“Kenapa paman?“ bertanya Mahisa Bungalan.
Witantra tidak segera menjawab. Namun kemudian ia berkata, ”Ambillah lampu minyak di pendapa itu. Aku ingin melihat, apakah yang menyebabkannya mati. Aku tidak melihat luka dan darah di tubuhnya. Mungkin dengan lampu minyak itu kita akan dapat mengetahui, apakah sebab kematiannya.”
Mahisa Bungalan pun kemudian berlari kependapa. Diambilnya lampu minyak yang berkerdipan disentuh angin. Dengan hati-hati ia membawa lampu itu turun ke halaman, ke dekat mayat yang sudah terbujur diam itu.
Di bawah cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan Witantra mengamati tubuh yang terbaring itu. Tiba-tiba ia menarik nafas sambil berdesis “Racun. Lihat luka ini.”
“Siapakah yang telah menusuk dengan senjata beracun itu paman?”
Witantra termangu-mangu. Katanya “Agaknya Linggadadi memang mempergunakan senjata beracun. Racun yang sangat tajam.”
“Tetapi bukankah orang ini kawan Linggadadi?“
Witantra menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian berkata, “Agaknya Linggadadi memang tidak yakin bahwa orang ini akan berbasil meloloskan dirinya. Karena itu, maka sambil lari ia telah menghunjamkan senjatanya pada kawannya sendiri agar orang ini tidak dapat kami tangkap hidup-hidup dan memberikan keterangan tentang lingkungan mereka.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba Witantra bertanya, “Mahisa Bungalan, bagaimana dengan lukamu sendiri?”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Katanya, “Lukaku terasa pedih paman. Apakah senjata orang berilmu hitam itu juga beracun?”
Witantra menggeleng. Katanya “Dari lukamu mengalir darah yang berwarna merah wajar. Tentu senjatanya tidak mengandung racun.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Tetapi luka itu pun harus segera diobati.”
“Ya paman.“ Sahut Mahisa Bungalan. “Untunglah bahwa senjata itu tidak beracun seperti senjata Linggadadi. Jika senjata itu beracun, maka aku pun tidak akan sempat keluar dari halaman ini.”
“Tentu tidak secepat itu Mahisa Bungalan.“ jawab Witantra, ”Kau tentu sempat menelan obat yang kau bawa untuk bertahan terhadap racun.”
“Tetapi kematian itu datang begitu cepat paman. Apalagi dalam keadaan yang sibuk karena perkelahian yang sengit. Jika aku menyempatkan diri mengambil obat itu, maka mungkin kematian dari sebab lain akan menerkam aku. Ujung senjata lawan itupun akan dapat menghunjam di jantung.”
“Dan kematian orang ini bukan karena kecepatan racun sajalah yang menyebabkannya. Jika kita tidak segera dapat melihat lukanya, karena darah di luka itu segera membeku. Tetapi luka itu sendiri agaknya cukup dalam meskipun tidak terlampau besar, sehingga tanpa darah dan di dalam kegelapan, luka itu tidak segera nampak.”
“Darah itu langsung membeku di mulut luka paman”
“Itulah kerja racun itu Bungalan.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Suatu pengalaman baru telah didapatkannya. Seseorang dengan tanpa ragu-ragu telah membunuh kawan sendiri, dan senjata beracun yang kuat yang harus mendapat perhatian khusus di setiap arena pertempuran. Meskipun ayahnya maupun Mahisa Agni selalu memperingatkannya agar ia membawa bekal obat penawar racun, tetapi ia harus tetap memperhitungkan waktu dan kekuatan racun. Meskipun ia membawa obat yang betapapun besar kasiatnya, tetapi jika ia tidak sempat menelannya atau membaurkan pada lukanya, maka obat itu tidak akan dapat menolongnya sama sekali.
Dalam pada itu, maka Witantra pun kemudian menyuruh Mahisa Bungalan mengobati lukanya, karena betapapun juga, luka itu akan dapat mempengaruhinya. Jika terlampau banyak darah keluar, maka tubuhnya akan menjadi lemah.
“Kau mempunyai obat itu bukan?”
“Ya paman.”
“Berikanlah. Biarlah aku yang menaburkan obat itu di lukamu.”
Mahisa Bungalan pun kemudian mengambil sebuah bumbung kecil yang berisi obat untuk memampatkan darah. Karena ia sendiri tidak dapat membaurkan dilukanya, maka Witantralah yang menolongnya.
Baru kemudian keduanya membicarakan keempat mayat yang terbaring di halaman itu.
“Mau tidak mau kita harus memberitahukan kepada saudagar itu.“ berkata Witantra.
“Aku ragu-ragu paman. Apakah ia tidak justru menjadi ketakutan?”
“Tetapi mayat itu harus dikuburkan. Dan barangkali ia pun telah mengetahui bahwa ada diantara orang-orang yang berkelahi di halamannya ini terbunuh.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin paman. Bagaimanapun juga, agaknya ia memang harus mengetahuinya.”
Witantra mengangguk-angguk. Memang kematian di halaman itu tentu tidak akan dapat disembunyikannya lagi kepada pemilik halaman itu sendiri.
“Marilah.“ berkata Witantra, “Kita menemui saudagar ternak itu.”
Mahisa Bungalan pun kemudian menyimpan bumbung obatnya kembali di dalam kantong ikat pinggangnya. Bersama Witantra maka iapun segera menemui saudagar ternak yang ketakutan di dalam rumahnya.
Demikian saudagar itu melihat Witantra dan Mahisa Bungalan masuk, maka iapun dengan tergopoh-tergopoh mendapatkannya sambil bertanya dengan serta merta. “Apa yang telah terjadi?” Namun kemudian wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat darah pada pakaian Mahisa Bungalan. “He anak muda, kau terluka?”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun menjawab, “Tidak seberapa paman.”
“Tetapi kenapa luka itu? Apakah kau terlibat dalam perkelahian atau orang-orang itu telah menyakitimu?”
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun dalam pada itu Witantra lah yang berkata, “Ki Saudagar. Ternyata bahwa Pegatmega bukan seorang pengecut. Bagaimanapun juga ia telah mempertahankan dirinya terhadap orang-orang yang bermaksud jahat dan saling bertempur itu.”
“Paman Sempulur telah menyelamatkan aku.“ desis Mahisa Bungalan kemudian.
“Kemarilah, kemarilah.“ desis saudagar itu dengan suara yang bergetar.
Witantra dan Mahisa Bungalan pun kemudian duduk di ruang dalam. Ternyata saudagar itu benar menjadi ketakutan dan tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
“Ki Saudagar.“ berkata Witantra kemudian, “Ketahuilah bahwa di halaman rumah Ki Saudagar ini terdapat beberapa sosok mayat dari orang-orang yang sedang bertempur itu. Mereka saling membunuh di antara mereka.”
“O.”
“Mereka berempat telah terbunuh.”
“Semuanya?“ bertanya saudagar itu, “Malang sekali nasibku ini.”
“Kenapa justru Ki Saudagar yang merasa bernasib malang, bukan orang-orang yang terbunuh itu?”
“Mereka saling berbunuhan di halaman rumahku. Jika kawan-kawan mereka saling mendendam maka aku tentu akan menjadi sasaran. Setidak-tidaknya sasaran pertanyaan mereka, siapakah yang telah membunuh kawan-kawan mereka.”
“Mereka semuanya terbunuh. Tidak ada yang dapat memberi keterangan tentang paman.“ berkata Mahisa Bungalan, meskipun terbayang juga di dalam pikirannya, bahwa Linggadadi akan dapat berbuat demikian. Tetapi tentu Linggadadi pun mempunyai pertimbangan bahwa saudagar itu tidak terlibat sama sekali di dalamnya.
“Tetapi ternyata mereka yang berilmu hitam dan Linggadadi tidak banyak berbeda tabiat dan wataknya.“ Mahisa Bungalan berkata kepada diri sendiri, “Ternyata bahwa Linggadadi sampai hati membunuh kawannya sendiri untuk mengamankan Iingkunngannya.”
Dalam pada itu Saudagar itupun kemudian bertanya, ”Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu Ki Sempulur? Apakah aku harus melaporkannya kepada prajurit-prajurit Singasari?”
“Sebaiknya demikian Ki Saudagar. Dengan demikian maka prajurit Singasari telah mengambil tanggung jawab pula atas kemungkinan yang dapat terjadi kemudian.”
Saudagar itu termangu-mangu.
“Paman.“ desak Mahisa Bungalan, ”Aku sependapat dengan paman dan paman Sempulur. Tak ada yang lebih baik dari menyerahkan semua persoalan kepada yang berkewajiban menanganinya. Prajurit Singasari adalah kekuatan yang akan dapat melindungi kita semuanya.”
“Tetapi apakah aku tidak akan terlibat dalam banyak kesulitan? Apakah prajurit Singasari tidak akan justru menuduh aku terlibat dalam lingkungan kejahatan? Jika yang terjadi adalah perselisihan di antara kelompok-kelompok penjahat, dan justru ajang perselisihan itu adalah halaman rumahku, maka prajurit Singasari dapat mengaitkan pertentangan itu dengan aku sendiri.“
“Tidak Ki Saudagar. Aku dan Pegatmega adalah saksi yang dapat memberikan banyak penjelasan, justru karena aku melihat apa yang sudah terjadi. Mudah-mudahan keteranganku dapat dimengerti oleh prajurit-prajurit Singasari, justru aku sendiri adalah bekas seorang prajurit. Dan barangkali Ki Mahisa Agni akan dapat dihubungi untuk melepaskan Ki Saudagar dari kemungkinan yang buruk itu.”
Sardagar itu mengangguk-angguk. Kemudian, “Jadi apa yang dapat aku kerjakan sekarang?”
“Melaporkan peristiwa ini kepada prajurit Singasari di gardu penjagaan terdekat.“ tetapi Witantra pun kemudian berkata kepada Mahisa Bungalan, “Bersihkan dirimu dan berganti pakaian. Kita akan memberikan keterangan kepada para prajurit itu bahwa kita tidak terlibat. Kau juga tidak. Yang terjadi adalah pertempuran di antara penjahat-penjahat itu sendiri. Mereka telah sampyuh.”
“Tetapi letak mayat itu?“ desis Mahisa Bungalan.
“Yang seorang berusaha untuk melarikan diri dalam ke adaan luka. Tetapi ia gagal meloncati dinding batu, karena lukanya yang parah. Kita tidak usah merubah letak mayat itu sampai prajurit-prajurit itu datang.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi agaknya ia harus berhati-hati, agar tidak didengar oleh Ki Saudagar.
“Baiklah paman.“ berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Aku akan membersihkan diri. “Namun kemudian ia berbisik sambil melangkah, “Apakah paman Mahisa Agni tidak diberi tahukan lebih dahulu?”
Witantra mengangguk-angguk. Namun jawabnya, “Cepatlah sedikit agar semuanya segera dapat diselesaikan.”
Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan ruang itu. Tetapi Witantra segera menyusulnya sambil berkata kepada saudagar ternak itu, “Tunggu sebentar Ki Saudagar.”
Saudagar ku hanya tercenung ditempatnya. Ia sudah tidak mampu memikirkan, apa yang harus segera dilakukannya.
Di ruang belakang Mahisa Bungalan dan Witantra sejenak berbincang. Apakah Mahisa Agni sebaiknya segera diberitahu atau tidak.
“Laporan hal ini akan sampai juga padanya.“ berkata Witantra.
“Tetapi sementara itu, mungkin Senapati yang bertanggung jawab sudah menentukan kebijaksanaan lain.”
“Apakah pemberitahuan kepadanya tidak melibatkan pamanmu Mahisa Agni secara langsung?”
“Hanya sekedar diberitahu paman. Mungkin ada gunanya.”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi bersama Ki Saudagar. Kami akan melaporkan kepada prajurit Singasari digardu terdekat. Tetapi sementara itu aku akan pergi menemui pamanmu Mahisa Agni.”
Mahisa Bungalan hanya mengangguk-angguk saja. Memang tidak ada cara lain yang lebih baik Jika mereka langsung menyampaikannya kepada Mahisa Agni tanpa memberitahukan kepada prajurit yang bertugas, tentu akan menumbuhkan pertanyaan pula, kenapa persoalannya langsung ditangani oleh Mahisa Agni.
Karena itu, maka Witantra mencoba menempuh cara yang paling baik, dengan memberitahukan kedua-duanya. Mungkin Mahisa Agni dapat menemukan jalan yang baik untuk memecahkan persoalannya.
Demikianlah setelah Mahisa Bungalan selesai membersihkan diri, maka Witantra pun segera pergi bersama saudagar ternak itu. Tetapi ternyata mereka tidak dapat dengan begitu saja memasuki halaman istana di malam hari tanpa alasan yang kuat.
“Aku akan memanjat dinding.“ berkata Witantra di dalam hatinya.
Karena itu, maka iapun mengajak saudagar itu singgah sejenak di belakang dinding istana, ditempat yang sepi.
“Tunggulah disini.”
“Aku tidak mengerti. Kita tidak langsung ke gardu terdekat.”
“Aku akan singgah kerumah kawanku sebentar untuk mendapatkan nasehatnya.”
“Dimana rumah kawanmu?”
“Di sebelah.”
“Kenapa aku harus menunggu disini. Apakah aku tidak boleh ikut?”
“Aku hanya sebentar.”
Witantra tidak menunggu lagi. ia langsung meloncat melintasi jalan, justru keseberang dinding istana. Tetapi ditempat lain ia menyeberang kembali dan langsung meloncat dinding.
Ternyata penjagaan istana Singasari tidak sekuat masa-masa lampau. Rasa-rasanya keamanan sudah berangsur baik, sehingga prajurit-prajurit tdak perlu mengawasi setiap jengkal dinding yang melingkari halaman.
Witantra tidak menemui kesulitan untuk mencapai bangsal Mahisa Agni. Dengan isyarat yang sudah biasa diberikan, maka iapun segera dapat menemui Mahisa, Agni dan mengatakan peristiwa yang sudah terjadi.
“Aku sependapat dengan kau.“ berkata Mahisa Agni, “Prajurit di gardu terdekat harus diberitahu. Katakan apa yang kau lihat dan apa yang telah terjadi.”
“Bagaimanakah jika Senapati prajurit itu mengenal aku?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Persoalan itu sudah menjadi persoalan prajurit Singasari, sehingga kau tidak usah bersembunyi lagi. Tetapi sebaiknya untuk sementara nama Mahisa Bungalan masih harus disembunyikan, agar orang orang berilmu hitam itu tidak semakin mendendamnya. Jika pada. suatu saat, mereka mencium kabar kematian kawan-kawanyna di rumah saudagar itu melawan orang-orang yang tidak dikenal, tetapi bahwa di rumah itu ada Mahisa Bungalan, maka sasaran kemarahan mereka tentu pada anak muda itu.”
Witantra mengangguk-angguk, lalu katanya, “Jadi biarlah kita sebar kabar, bahwa orang berilmu hitam itu telah mati dibunuh oleh sorang yang bernama Linggadadi.”
“Mungkin ada keuntungan yang kita peroleh, meskipun Linggadadi tentu akan menyebarkan ceritera lain.”
“Baiklah.“ berkata Witantra kemudian, “Saudagar itu menunggu aku di luar dinding ini.”
Witantra pun kemudian segera minta diri, kembali kepada saudagar yang menunggunya dengan gelisah.
Demikianlah maka mereka berdua pun segera pergi ke gardu prajurit Singasari yang terdekat dengan peristiwa yang meng gemparkan itu. Ternyata bahwa berita tentang empat orang penjahat dari dua kelompok yang saling bermusuhan itu segera tersebar di seluruh kota.
Namun seperti yang dikehendaki oleh Witantra, bahwa kematian orang-orang berilmu hitam itu adalah sampyuh dengan anak buah Linggadadi, sedang Linggadadi sendiri berhasil melarikan diri.
Dalam waktu yang singkat, maka beberapa orang prajurit dibawah pimpinan seorang perwira yang sedang bertugas malam itu telah datang ke halaman rumah saudagar ternak itu. Dengan saksama mereka memperhatikan keadaan di sekitar arena pertempuran yang berlangsung dengan sengitnya itu.
Untunglah bahwa perwira yang masih muda itu tidak mengenal Witantra, apalagi dalam pakaian orang kebanyakan. Apalagi Mahisa Bungalan yang memang belum lama berada di kota Singasari.
Beberapa hal telah menumbuhkan keheranan di hati perwira itu. Namun ia tidak mendapatkan petunjuk-petunjuk lain kecuali empat sosok mayat dengan lukanya masing-masing. Seorang di antaranya telah terluka oleh senjata yang mengandung racun.
“Kami tidak menemukan senjata beracun itu.“ berkata perwira itu kepada prajuritnya.
“Mungkin senjata itu adalah senjata seorang yang bernama Linggadadi dan sempat melarikan dirinya.“ gumam salah seorang prajuritnya.
Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih memerlukan keterangan tentang peristiwa itu dari penghuni rumah itu.
“Aku tidak melihat apapun juga.“ berkata saudagar itu.
“Siapakah yang telah melihatnya.”
“Sempulur.“ jawab saudagar itu, “Ia adalah…”
Witantra yang berdiri di dekatnya menggamitnya. Dan ialah yang kemudian mengatakan, “Aku adalah saudara tua Ki Saudagar meskipun dalam hubungan yang jauh. Tua dalam hitungan umur dan tua menurut garis keturunan yang jauh itu.”
“Kau melihat perkelahian ku?”
“Ya tuan. Aku melihat pertempuran itu, karena aku berada di dalam kegelapan, di bawah pohon di sudut halaman.”
“Ceriterakan apa yang kau lihat.”
Witantra pun kemudian menceriterakan apa yang telah dilihatnya meskipun ia berusaha untuk tidak melibatkan dirinya dan Mahisa Bungalan.
“Apakah kau mengetahuinya, barangkali dari pembicaraan mereka selama mereka bertempur, siapakah mereka itu?”
“Aku hanya mendengar salah seorang dari mereka bernama Linggadadi. Justru ialah yang berhasil keluar dari perkelahian itu.”
“Yang lain?”
Witantra menggeleng. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku mendengar pula Linggadadi menyebut lawannya sebagai iblis berilmu hitam.”
“Berilmu hitam?”
“Demikianlah. Aku tidak tahu kebenarannya.“ Perwira itu termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun bertanya, “Yang manakah yang berilmu hitam?”
“Lawan Linggadadi.”
“Ya, yang mana?”
Witantra pun kemudian menunjukkan dua orang berilmu hitam yang terbunuh.
Perwira itu merenung sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Dengan demikian maka orang yang mati karena racun itu adalah kawan Linggadadi.”
Witantra mengerutkan keningnya. Tetapi cepat ia menjawab, “Tetapi aku tidak tahu pasti, apakah yang aku sebutkan itu benar seluruhnya. Bagiku pertempuran itu sangat membingungkan.”
Perwira ku mengangguk-angguk.
Sementara itu Saudagar ternak itupun menjadi bingung. Menurut Mahisa Agni yang dikenalnya dengan baik. Witantra yang disebutnya bernama Sempulur itu adalah seorang bekas prajurit. Tetapi sikapnya sangat mengherankannya. Iapun tidak mau mengatakan seluruhnya yang diketahuinya. Juga agaknya ia merahasiakan anak muda yang bernama Pegatmega yang telah terluka di dalam perkelahian itu. Bahkan agaknya iapun telah merahasiakan dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja di hati saudagar itu telah menyelinap kecurigaannya kepada Witantra dan Mahisa Bungalan meskipun bukan prasangka yang buruk. Ia percaya kepada Mahisa Agni yang sudah tentu tidak akan mencelakainya. Tetapi justru kedua orang itu mampu mengatasi jika keluarganya akan ditimpa oleh malapetaka.
“Siapakah sebenarnya kedua orang itu.“ bertanya saudagar itu di dalam hatinya. Tetapi ia akan tetap menyimpannya sehingga pada suatu saat ia dapat bertemu dengan Mahisa Agni.
Demikianlah, setelah perwira bersama beberapa orang prajurit itu mendapat keterangan yang cukup tentang empat orang yang terbunuh di halaman itu, maka mereka pun segera memerintahkan tetangga-tetangga saudagar yang terbangun dan berkemurun di luar halaman itu untuk membantu menyelenggarakan penguburan mayat itu.
Di pagi harinya, hampir setiap mulut telah memperkatakan peristiwa yang mengerikan itu. Bahkan kemudian berita tentang dua orang yang sering datang ke beberapa rumah dan mengambil uang itupun telah membubui ceritera tentang kematian empat orang itu.
Dalam pada itu, saudagar ternak yang masih diselimuti oleh kecemasan dan kebingungan itu sempat bertanya kepada Witantra. “Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan selama ini di rumahku. Kau dan anak muda yang bernama Pegatmega itu membuatku bertanya-tanya. Ada rahasia yang menyelimuti dirimu. Dan apakah sudah waktunya aku mengerti?”
Witantra tersenyum. Katanya, “Tidak ada rahasia apa-apa. Jika ada yang aku sembunyikan kepada prajurit-prajurit itu, adalah karena kita harus berhati-hati. Orang-orang yang mati itu tentu masih mempunyai kawan yang dapat membalas dendam. Jika mereka disebut sampyuh, maka biarlah golongan-golongan penjahat itu saling mendendam, tampa melibatkan kita disini.”
Saudagar itu mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak puas oleh jawaban itu, sehingga ia masih tetap berhasrat untuk bertemu dengan Mahisa Agni dan bertanya tentang dua orang yang diserahkannya kepadanya itu dengan alasan yang berbeda.
Sementara itu Witantra dan Mahisa Bungalan pun mencoba untuk mengurai keadaan yang mereka hadapi. Justru karena Linggadadi sempat meninggalkan arena, maka persoalannya tentu masih akan berkepanjangan.
“Paman.“ berkata Mahisa Bungalan, “Apakah pada suatu saat Linggadadi tidak akan datang kemari?”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah yang aku cemaskan. Jika yang tetap hidup itu orang lain. maka mereka telah mendengar jawaban kita selagi kita masih ada di dalam bilik, bahwa kita adalah tamu di rumah ini. Tetapi Linggadadi tentu menganggap bahwa kita, penghuni rumah ini telah terlibat langsung. Dan ini berarti bahaya bagi saudagar ternak itu.”
“Dan sudah barang tentu bahwa kita tidak akan dapat tetap tinggal disini untuk seterusnya. Jika saja kita tahu kapan Linggadadi akan datang. Tetapi ia pasti akan datang seperti pencuri di malam hari. Diam-diam. Namun, tiba-tiba saja ia sudah mencengkam dengan sengitnya. Meskipun Linggadadi tidak berilmu hitam, tetapi tingkah lakunya tidak ada ubahnya. Ia sampai hati membunuh kawannya sendiri untuk menghindarkan diri dan kelompoknya dari pengamatan prajurit Singasari.“ sahut Mahisa Bungalan.
“Kita akan bertemu dengan Mahisa Agni.”
“Segera paman.“ gumam Mahisa Bungalan, “Tetapi bagaimana jika Ki Saudagar itu diminta untuk pindah saja?”
“Tidak banyak artinya. Linggadadi akan dengan mudah mencari tempat tinggalnya yang baru.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Memang sebaiknya kita bertemu dengan paman Mahisa Agni.”
Demikianlah ternyata bahwa Witantra dan Mahisa Bungalan telah mendahului saudagar ternak itu untuk bertemu dengan Mahisa Agni. Meskipun mereka tidak berterus terang dengan Saudagar yang kecil hati itu, namun mereka sempat meninggalkan rumah itu bersama-sama.
“Apakah kau juga akan pergi Pegatmega?“ bertanya Ki Saudagar ketika Mahisa Bungalan minta diri untuk mengikuti Sempulur keluar sebentar.
“Hanya sebentar paman. Aku akan segera kembali.”
“Kenapa kalian pergi bersama-sama. Sebaiknya kalian bergantian tinggal di rumah.”
“Di siang hari tidak akan ada seorang pun yang berani mengganggu paman.”
Demikianlah maka Witantra dan Mahisa Bungalan pun pergi ke istana, menghadap Mahisa Agni.
Mahisa Agni mengangguk-angguk mendengar semua laporan itu. Katanya, “Aku sudah memikirkannya. Sejak kau datang malam itu, maka aku sudah mempertimbangkan kemungkinan seperti yang kau katakan.”
“Jadi apakah dapat diusahakan perlindungan bagi Saudagar ternak itu?”
Mahisa Agni merenung sejenak. Lalu, “Sebenarnya aku menganggap bahwa kakang Witantra tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Jika akhirnya diketahui bahwa orang yang bertempur melawan Linggadadi itu adalah Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati, maka tentu Linggadadi akan berpikir lagi untuk membalas dendam.”
Witantra mengangguk-angguk.
“Tetapi aku masih ingin melindungi nama Mahisa Bungalan. Jika namanya disebut satu kali lagi, maka orang-orang berilmu hitam akan semakin mendendamnya. Bahkan mungkin juga Linggadadi, sehingga tidak mustahil, bahwa untuk melepaskan sakit hati, kedua pihak itu dapat bekerja bersama, meskipun hanya untuk sementara.”
“Aku tidak berkeberatan.“ jawab Witantra, “Jika hal itu dapat melindungi nama Saudagar ternak itu.”
“Aku kira tidak ada cara yang lebih baik.”
“Jadi, untuk itu, apakah yang harus aku lakukan?”
“Tentu para prajurit masih akan mendengar keteranganmu. Untuk itu kau dapat menjawab tentang dirimu sendiri sesuai dengan maksudmu untuk melindungi nama Saudagar itu.”
“Apakah para prajurit akan percaya? Menurut penglihatanku mereka adalah Senapati-senapati dan perwira-perwira muda yang masih belum mengenal aku.”
“Sebutlah namamu. Mereka akan segera mengenalmu.“
Witantra mengangguk-angguk. Katanya kepada Mahisa Bungalan, “Nah, kau dengar. Perananku sudah selesai. Tetapi kau masih harus tetap bermain dengan nama Pegatmega.”
Mahisa Bungalan tersenyum. Namun ia masih bertanya kepada Mahisa Agni, “Paman, apakah salahnya jika orang-orang berilmu hitam itu mengetahui tentang diriku?”
“Mahisa Bungalan, sebenarnyalah kita belum tahu pasti, bahkan gambaran yang samar-samar pun belum, tentang kekuatan yang sebenarnya dari orang-orang berilmu hitam itu dan juga kelompok Linggadadi. Karena itu tidak ada salahnya jika untuk sementara kau tetap bersembunyi.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman. Tetapi pada suatu saat, mereka juga akan tahu.”
“Sementara itu kita mencoba mengetahui serba sedikit tentang ilmu hitam itu. Aku akan mencoba mencari jejak mereka di tempat-tempat yang pernah aku dengar menjadi sarang orang-orang berilmu hitam.”
Witantra dan Mahisa Bungalan dapat mengerti pendapat Mahisa Agni. Karena itu maka mereka masih saja mengangguk. Agaknya untuk melindungi Saudagar itu, tidak ada nama lain yang lebih berwibawa dari nama Witantra.
Karena itulah maka kemudian ketika para prajurit masih memerlukan keterangan lagi mengenai empat sosok mayat di halaman rumah Saudagar ternak itu, maka mereka bertemu dengan seseorang yang tidak lagi merasa perlu untuk menyembunyikan namanya.
“Apakah keterangan yang pernah aku berikan masih belum cukup?“ bertanya Witantra kepada perwira yang menemuinya.
“Jika sudah cukup, aku tidak perlu memanggilmu lagi.“ Jawab perwira muda itu.
Witantra memandang Mahisa Bungalan dan Saudagar ternak yang juga hadir bersamanya. Mahisa Bungalan tersenyum sedikit, sedang Saudagar ternak itu nampak bersungguh-sungguh mendengarkan pertanyaan-pertanyaan perwira muda itu.
“Ki Sempulur.“ berkata perwira itu, “Sulit untuk mengerti bahwa keempat mayat itu telah sampyuh. Keteranganmu mengenai salah seorang dari mereka yang mati karena racun memberikan banyak arti yang bersimpang siur. Senjata beracun itu tidak kami ketemukan di halaman itu. Sudah tentu senjataku harus berada di tangan orang berilmu hitam karena yang mati itu adalah kawan Linggadadi.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam.
Dalam pada ku, Saudagar ternak itupun justru ingin mengetahui, peran apakah yang sebenarnya dilakukan oleh Sempulur. Karena itu tiba-tiba saja ia berkata, “Sempulur, bukankah kau dapat memberikan keterangan yang lebih jelas? Kau tentu mengetahui apa yang telah terjadi di peperangan itu karena kau adalah bekas seoarng prajurit.”
Witantra mengerutkan keningnya. Dan perwira itu agaknya tertarik pada keterangan saudagar itu.
“Siapakah yang bekas seorang prajurit?”
“Sempulur.“ desis Saudagar itu.
“Benar kau bekas seorang prajurit?”
“Jika tidak.“ potong Saudagar ternak itu. “Ia tidak akan berani keluar halaman dalam perkelahian yang mengerikan itu.”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Dipandanginya Witantra sejenak, lalu iapun bertanya lagi, “Kau memang pantas untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi sayang, aku belum pernah mengenalmu. Bahkan namamu pun belum pernah aku dengar.”
“Ada berapa ribu prajurit di seluruh daerah Singasari yang luas ini.“ desis Witantra, “Adalah wajar, bahwa ada di antara mereka yang tidak saling mengenal.”
“Kau benar. Tetapi katakanlah, apakah benar kau bekas seorang prajurit?”
Witantra mengangguk. Jawabnya, “Ya, aku memang bekas seorang prajurit.”
“Jika demikian keteranganmu memang perkelahian di halaman itu tentu tidak lengkap. Ada bagian yang kau sembunyikan.”
“Ya.”
“Apakah kau seorang pengecut yang takut bertanggung jawab atas peristiwa yang kau saksikan itu? Dan barangkali telah melibatkan kau dalam perkelahian di halaman itu?”
“Demikianlah. Semula aku mencoba menghindarkan diri dari keterlibatan yang lebih jauh. Mungkin kawan-kawan dari mereka yang terbunuh itu akan menuntut balas. Tetapi ternyata aku tidak akan dapat melepaskan diri untuk seterusnya.”
“Kau mempersulit kami. Kau harus memberikan keterangan yang jelas. Nah, katakan, apalagi yang harus kau lengkapi pada keteranganmu yang samar-samar itu.”
“Agaknya ada beberapa hal yang tidak tepat seperti yang aku katakan. Sebenarnyalah bahwa orang yang mati karena racun itu memang kawan Linggadadi. dan ia memang mati oleh Linggadadi sendiri.”
“Bagaimana mungkin demikian?”
“Tentu Linggadadi ingin menghilangkan jejak, karena orang itu tidak sempat melarikan diri lagi.”
“Kenapa tidak sempat? Tidak ada luka yang lain kecuali luka beracun itu.”
“Ya. Tetapi aku dapat menguasainya. Bahkan berdua dengan Linggadadi, sehingga terpaksa ia dibunuh agar ia tidak dapat tertangkap hidup-hidup.”
“Kau bertempur melawan keduanya?”
“Ya. Setelah dua orang terbunuh. Benar-benar sampyuh.”
“Kau berpihak kepada orang-orang berilmu hitam?”
“Tidak. Aku ingin menangkap siapapun diantara mereka untuk mendapatkan keterangan.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kau terlampau yakin akan dirimu. He, apakah kau sangka bahwa orang-orang itu dapat kau kalahkan? Ceriteramu menjadi mirip sebuah dongeng. Dan tokoh dari dongeng itu adalah dirimu sendiri.”
Witantra menarik keningnya. Lalu katanya, “Ceriteraku kali ini benar. Aku tidak membual karena aku terpaksa memberikan keterangan yang sebenarnya.”
Perwira itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau mempunyai gelar di dalam tugas keprajuritan sehingga barangkali aku dapat mengenalmu?”
Witantra merenung sejenak. Kemudian iapun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya. Aku memang mempunyai gelar keprajuritan.”
Senapati yang bertanya kepadanya menjadi termangu-mangu. Keterangan Witantra agak berbelit-belit menurut penilaiannya. Baginya terasa memang ada sesuatu yang tersembunyi.
Dan kini orang itu mengaku bahwa ia mempunyai gelar ke prajuritan.
Sejenak Senapati itu memandang Witantra dengan tajamnya. Kemudian iapuun medesaknya, “Coba, sebutkan gelar keprajuritanmu agar aku dapat bersikap sewajarnya. Bagiku keteranganmu masih membingungkan.”
Witantra masih agak ragu-ragu. Namun dalam pada itu Saudagar ternak itupun mendesaknya pula. “Kenapa kau tidak mau segera menyebut gelarmu?”
Witantra masih mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya wajah Mahisa Bungalan. Anak muda itu nampak tersenyum. Teta pi ia tidak mengatakan sesuatu.
“Baiklah. Jika kau pernah mendengar gelarku, sukurlah. Tetapi ada beribu-ribu prajurit di Singasari, sehingga mungkin sekali kau tidak mengenal gelarku pula seperti kau tidak mengenal namaku.”
“Sebutlah.“ Senapati itu menjadi jengkel. “Apakah kau Pengawal Istana, atau Pelayan Dalam atau yang lain?”
“Aku pernah ditempatkan di Kediri untuk beberapa saat yang tidak terlalu lama.”
“Ya sebutlah.”
“Gelarku Panji Pati-Pati.”
“Panji Pati-Pati?“ Senapati muda dan Saudagar ternak itu mengulang bersama-sama.
“Ya, aku adalah Panji Pati-Pati. Kenapa? Apakah kau pernah mendengar?”
Senapati muda itu termangu-mangu sejenak. Diamatinya Witantra dengan saksama. Dan Witantra pun menjelaskan. “Namaku adalah Witantra.”
“Tetapi…..“ prajurit muda itu termangu-mangu.
“O.“ desis Saudagar ternak, “Bukan main. Ternyata kakang Mahisa Agni senang bergurau. Tetapi kali ini benar-benar membuat aku bingung.”
“Kau menyebut nama Ki Mahisa Agni?“ bertanya Senapati itu.
“Ya. Ki Mahisa Agni lah yang menempatkan Ki Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati di rumahku. Tetapi katanya namanya Sempulur.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya aku sudah curiga, bahwa tentu ada sesuatu yang tersembunyi padanya. Dan siapakah anak muda yang disebut Pegatmega itu?”
“Pegatmega. Ia adalah Pegatmega. Anak muda itu sebenarnya bernama Pegatmega.”
Witantra melihat wajah Saudagar ternak yang ragu-ragu. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Ia adalah kemanakanku. Juga kemanakan Mahisa Agni. Sebenarnyalah bahwa anak itu harus mendapat asuhan tentang unggah-ungguh.”
Saudagar ternak itu termangu-mangu, sementara Senapati muda yang kebingungan itu masih juga berdesis di luar sadarnya, “Jadi apakah benar aku berhadapan dengan Panji Pati-Pati?”
“Aku yakin sekarang.“ berkata Saudagar itu, “Yang membawa Ki Sempulur dan ternyata adalah Ki Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati adalah Ki Mahisa Agni.”
Senapati itu mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian benarlah tuan Panji Pati-Pati. Aku mohon maaf bahwa aku sudah bertindak deksura.”
“Kau tidak bersalah.“ berkata Witantra, “Kau sedang menjalankan tugasmu.”
“Sekarang aku justru menjadi jelas. Ki Mahisa Agni sudah mengetahui bahwa rumah ini akan mengalami gangguan. Bukan oleh penjahat biasa yang dapat ditangani oleh prajurit yang bertugas. Tetapi yang datang adalah orang-orang berilmu Hitam dan anak buah Linggadadi yang masih gelap bagi Singasari.”
“Begitulah kira-kira persoalannya.“ jawab Witantra, “Orang-orang berilmu hitam itu memang sulit untuk dilawan. Karena itu memang harus ada orang-orang khusus yang mendapat tugas untuk melawannya. Tetapi sampai saat ini semuanya masih gelap. Aku mengharap untuk dapat menangkap hidup-hidup salah seorang dari mereka, atau salah seorang anak buah Linggadadi yang hampir tidak ada bedanya dengan orang-orang berilmu hitam itu.”
Senapati muda itu mengangguk-angguk.
“Tetapi aku gagal. Aku harus membunuh orang-orang berilmu hitam itu.”
Saudagar ternak itu mengangguk-angguk. Namun diluar sadarnya ia berkata, “Tetapi kenapa angger Pegatmega terluka?”
Witantra mengerutkan keningnya. Lalu, “Anak nakal. Aku sudah menyuruhnya menyingkir. Tetapi ia terlampau dekat dari arena sehingga senjata orang berilmu hitam itu sempat menyentuhnya.”
Prajurit itu menggangguku Kini semuanya menjadi agak terang baginya. Justru setelah ia mengenal bahwa orang yang bernama Sempulur itu adalah Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati. Namun dengan demikian prajurit itupun sadar, bahwa yang mereka hadapi bukanlah lawan yang ringan. Tetapi Mahisa Agni menganggap perlu bahwa orang-orang itu harus langsung dihadapi oleh seorang Senapati yang bergelar Panji Pati-Pati.
“Singasari harus bersiaga.“ desis Senapati muda itu di dalam hatinya, “Ada dua golongan yang mengancam kedamaian negeri ini.”
Namun Senapati itu yakin bahwa Singasari masih tetap memiliki kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan. Maharaja dan Ratu Angabaya semakin lama menjadi semakin masak dalam pimpinan pemerintahan, sementara orang-orang terpenting sejak masa pemerintahan Sri Rajasa, kini masih ada. Meskipun umur mereka menjadi semakin tua.
Demikianlah, maka seperti yang diharapkan, maka tersebarlah berita baru tentang kematian kedua orang berilmu hitam yang dikabarkan sampyuh dengan dua orang golongan penjahat yang lain.
Setiap orangpun kemudian memperbincangkan berita yang kemudian tersebar di seluruh Singasari.
“Bukan sampyuh.” desis seseorang yang merasa dirinya paling mengetahui, “Tetapi Ki Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati lah yang telah membunuh mereka.”
“Keempatnya?“ bertanya kawannya.
Orang itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu, tetapi orang terakhir mati karena Panji Pati-Pati.”
Berita itulah yang kemudian tersebar luas, sehingga akhirnya telinga Linggadadi pun mendengarnya pula.
“Gila “ geramnya “Suatu tantangan bagi orang-orang berilmu hitam itu.”
“Kenapa?“ bertanya Linggapati.
“Semula orang-orang Singasari ingin membenturkan kita dengan orang-orang berilmu hitam itu. Mereka menyebarkan berita bahwa kedua orang berilmu hitam itu mati sampyuh dengan anak buah Linggadadi, tetapi Linggadadi berhasil melarikan diri. Kini mereka memperbaiki berita itu, dan dengan tegas mereka menyebut nama Witantra yang bergetar Panji Pati-Pati.”
“Tetapi siapakah sebenarnya yang telah membunuhnya?”
“Bukan aku.“ Linggadadi menarik nafas dalam-dalam, “Mungkin benar Witantra.”
“Yang seorang dari orang berilmu hitam itu? Bukankah yang membunuh adalah anak muda yang kau katakan? Bukan orang tua yang mungkin benar bernama Witantra dan bergelar Panji Pati-Pati itu?”
“Menurut penglihatanku demikian. Orang tua itu bertempur melawan kami berdua. Aku melihat anak muda itu berhasil membunuh orang berilmu hitam itu setelah hampir saja ia terjerat oleh kesombongannya sendiri karena ia mencoba-coba mempergunakan berbagai cara untuk melawannya. Ketika ia terluka barulah ia sadar akan kesalahannya, bahwa melawan orang berilmu hitam itu tidak dapat dilakukannya dengan mencoba-coba.”
“Gila.“ geram Linggapati. “Tentu ada maksud tersembunyi. Apakah kau mendengar kabar tentang anak muda itu?”
“Namanya Pegatmega.”
“Itu tentu bukan namanya. Kau tahu, bahwa Witantra itu tidak mempergunakan namanya sendiri. Menurut pendengaran orang-orang kita, ia mempergunakan nama Sempulur untuk menjebak orang berilmu hitam. Tetapi kedua orang kita pun terjebak pula dan mati bersama kedua orang berilmu hitam itu.”
Linggadadi mengangguk-angguk.
“Meskipun yang seorang sempat kau dahului, karena betapapun juga ia akan mati. Mati dalam segala arti.”
Linggadadi masih mengangguk-angguk.
“Tetapi bukankah pernyataan orang-orang Singasari itu agaknya dapat sedikit mengurangi tanggung jawab kita?”
“Kita tidak tahu, apakah orang-orang berilmu hitam itu percaya. Kehadiran kita di halaman itu tentu menimbulkan kecurigaan mereka meskipun tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan, apa yang sudah kita lakukan. Tetapi bahwa dua orang dari mereka terbunuh, meskipun Witantra menyatakan dirinya bertanggung jawab, namun orang-orang berilmu hitam itu akan tetap mendendam kita.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Katanya, “Kita tidak usah cemas. Orang-orang berilmu iblis itu bukannya iblis itu sendiri. Kita mempunyai kekuatan cukup untuk melawan mereka. Bahkan aku berniat untuk mencari mereka di pusat sarangnya.”
“Maksudmu?”
“Kita pernah mendengar ceritera tentang orang-orang berilmu hitam dari beberapa daerah. Tentu yang masih tinggal sekarang dan mulai berkembang adalah peninggalan dari salah satu daerah itu.”
“Kita akan menjelajahi tempat-tempat yang pernah disebut di dalam dongeng-dongeng tentang jin. peri, perayangan itu?”
“Bukan kita yang harus pergi. Tetapi satu dua orang yang dapat kita percaya. Namun demikian, mumpung kita masih belum mempunyai kesibukan apapun menjelang rencana kita dalam jangka waktu yang panjang itu, sebaiknya kita sekali-kali juga menempuh perjalanan yang panjang.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin menyenangkan juga menjelajahi daerah dongeng tentang orang-orang berilmu hitam. Tetapi nyatanya ilmu itu tidak terlampau mengerikan. Ternyata seorang anak muda dapat melawannya. Akupun sudah mencoba bertempur melawan orang berilmu hitam itu sebelum anak muda itu mengambil alih, karena aku harus bertempur melawan Witantra.”
“Dan kau tidak terdesak oleh ilmu itu.“ desis Linggadadi.
“Ya. Aku berhasil memotong gerakannya yang membingungkan. Dengan demikian maka orang berilmu hitam itupun kehilangan kesempatan untuk bertempur menurut cara-canya.”
“Dan anak muda itu berbuat demikian pula.”
“Ya. Sesudah ia mencoba-coba dengan cara yang lain, yang sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu saja. Ia mencoba ikut berputaran, bahkan dengan gila ia mencoba mengitari lawannya yang kelelahan. Tetapi hampir saja ia. harus menebus kegilaan yang kekanak-anakan itu dengan nyawanya.”
“Anak yang luar biasa. Ia akan dapat menjadi orang yang ditakuti oleh kawan dan lawan. Ia akan menguasai berbagai macam ilmu. Bahkan ilmu hitam itu pun akan dikuasainya. Percayalah bahwa Witantra dan anak muda itu tentu akan mencari tempat yang tersebut dalam dongeng tentang orang berilmu hitam itu.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Ia pun mengira bahwa Witantra, dan bahkan mungkin atas perintah Maharaja Singasari, beberapa orang akan mencari sarang orang-orang berilmu hitam sesuai dengan ceritera tentang mereka pada masa lampau.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar