Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 09-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 09-01*

Karya.   : SH Mintardja

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kemuliaan di hati tuanku adalah perlambang kasih Yang Maha Agung yang ada di dalam diri tuanku. Aku merasa menjadi terlampau kecil di hadapan tuanku sekarang ini. Meskipun umurku jauh lebih tua dari tuanku, namun ternyata bahwa sifat asli tuanku jauh lebih dewasa dari aku.”

“Jangan berpikir terlampau jauh. Jika paman Mahendra dan paman Witantra dan bergelar Panji Pati-pati tidak berkeberatan, biarlah paman Lembu Ampal ada di sini. Kita sama-sama orang buruan. Dan marilah kita menikmati kedamaian di tempat terpencil ini.”

“Tetapi tuanku, seperti kedatanganku ke tempat ini, yang seakan-akan hanyut saja dibawa angin, maka tidak mustahil bahwa pada suatu saat, seorang petugas sandi akan menemukan tempat ini.”

“Tempat ini terlampau jauh paman. Jika paman sampai di sini, sama sekali bukan karena paman mencari aku berdua.”

“Darimana tuanku mengetahuinya?”

“Tidak, aku hanya menduga. Aku tidak tahu, apakah dugaanku itu benar.”

“Tuanku memang bijaksana. Dugaan tuanku benar. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mencari tuanku berdua.”

“Aku mendengar paman mengatakan, bahwa kedatangan paman seakan-akan hanyut saja dibawa angin. Karena itu kedatangan paman di sini adalah karena pengembaraan paman.”

“Ya tuanku.”

“Kenapa paman pergi mengembara? Apakah memang sambil menyelam minum air?”

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diceriterakannya semua yang terjadi atas dirinya. Kegelisahan dan kesetiaan berbenturan di dalam diri, sehingga akhirnya ia lari kepada pendeta istana. Pendeta istana itulah yang sebenarnya telah membebaskan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dengan mempergunakan tangan-tangan Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra.

“Yang pertama-tama adalah karena keragu-raguan itulah.“ berkata Mahendra kemudian.

Lembu Ampal tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia telah terlepas dari bencana yang dahsyat yang siap menerkamnya.

“Baiklah Ki Sanak.“ berkata Mahendra kemudian, “Ternyata bahwa yang terjadi itu adalah angin prahara yang bertiup di atas Singasari, jika angin itu telah lampau maka keadaan akan menjadi tenang kembali, meskipun kadang-kadang sempat meninggalkan bekas-bekas dan kerusakan. Tetapi yang kemudian harus memperbaikinya dan membangun kembali.“ Mahendra berhenti sejenak lalu, “Sekarang, baiklah aku mempersilahkan Ki Sanak singgah di padepokan kami. Padepokan yang tenang dan damai. Padepokan yang jauh dari sikap dan tingkah laku yang kasar dan kekerasan. Itulah sebabnya kami harus bersembunyi di tengah hutan apabila kami berlatih diri, mendalami ilmu kekerasan yang sebenarnya sangat kasar bagi sifat kasih Yang Maha Agung.”

Lembu Ampal hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Namun agaknya kami pun seorang yang lemah hati di antara isi dunia yang memang kotor ini. Itulah agaknya yang masih saja mempengaruhi hati kami untuk mempelajari olah kanuragan.”

Lembu Ampal masih tetap berdiam diri. Tetapi kepalanya nampak terangguk-angguk kecil.

“Nah mari Ki Sanak.“ ajak Mahendra kemudian, “Jangan berprasangka pula terhadapmu.”

Lembu Ampal merasakan sesuatu yang menyangkut di kerongkongannya. Perlahan-lahan kepalanya terangguk lemah, “Aku sangat berterima kasih.”

Demikianlah, maka mereka pun segera meninggalkan tempat itu. Beriringan mereka pergi ke padepokan. Tetapi di jalan sempit di luar hutan itu, Mahendra sempat memperingatkan Lembu Ampal. “Taruhlah senjatamu di bawah kain panjangmu. Atau bawalah pedang itu seperti para orang-orang padepokan kami membawa parang pembelah kayu.”

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia sadar bahwa kesan senjata yang ada pada pedangnya harus disembunyikan di depan rakyat padepokan yang damai itu.

Ketika sekilas ia melihat senjata yang tergantung di lambung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka tahulah Lembu Ampal, karena hal itulah maka sarung senjata kedua anak muda itu mirip dengan sarung parang pembelah kayu seperti yang terselip di lambung para pekerja di padepokan terpencil itu, karena itulah maka Lembu Ampal pun kemudian me-nyembunyikan senjatanya di balik kain panjangnya.

Ketika mereka memasuki padepokan itu, terasa oleh Lembu Ampal, bahwa padepokan itu memang padepokan yang damai. Meskipun orang-orang di padepokan itu pernah juga mengalami dan menyaksikan kekerasan, tetapi mereka kini lebih senang hidup damai dan tenang. Agaknya cara hidup itulah yang paling sesuai dengan mereka. Kekerasan dan kekasaran membuat hati seseorang selalu dibayangi oleh kekawatiran dan bahkan ketakutan. Tetapi hidup tanpa kekerasan benar-benar telah memberikan kedamaian hati.

Di padepokan Lembu Ampal mendapat sambutan yang sewajarnya. Tidak ada kesan kecurigaan dan prasangka dari setiap orang yang dijumpainya. Sekilas mereka memperhatikan kedatangannya. Mengangguk sambil tersenyum, kemudian membi-arkannya berlalu menuju ke rumah Witantra.

“Sebuah padepokan yang tenang sekali.“ desisnya.

“Ya, karena itu maka kami tidak sampai hati mengganggunya.”

“Bagaimana tanggapan mereka pada saat tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka datang?”

“Biasa saja. Tidak ada persoalan apa-apa.”

“Para pengawal? Apakah senjata di tangan para pengawal itu tidak mengejutkan orang-orang padepokan ini?”

“Sebagian dari mereka tidak memasuki padepokan ini. Hanya dalam jumlah yang sangat kecil mereka mengantar keduanya sampai ke rumah ini bersama aku dan kakang Witantra. Tetapi para pengawal itu sudah meninggalkan senjata mereka pada kawannya yang mengawasi keadaan di luar padepokan.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk kecil.

“Meskipun demikian, di sini ada beberapa orang cantrik yang memiliki ilmu kanuragan. Mereka dahulu juga berlatih dengan tekun. Tetapi kehidupan yang damai itu akhirnya telah menjadi pilihan mereka.”

“Tentu bukan dengan tiba-tiba saja.“ sahut Lembu Ampal.

Mahendra tersenyum. Katanya, “Kakang Witantra mencoba mengarahkannya. Tetapi jusru kakang Witantra lah orang yang jiwanya paling lemah, sehingga sampai saat ini ia masih saja mempergunakan kekerasan untuk melaksanakan sikap batinnya.”

“Tetapi itu masih diperlukan dalam keadaan seperti sekarang.”

“Tentu bagi kita.”

“Tanpa kekerasan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka mungkin sudah tidak dapat melihat padepokan ini lagi.”

“Itu adalah salah satu cara untuk membela diri, kenapa kita harus mempergunakan kekerasan. Aku juga berpendirian demikian. Tetapi itu adalah pertanda kelemahan jiwa. Kita masih kurang percaya akan perlindungan Yang Maha Agung.”

“Manusia wajib berusaha. Tanpa usaha, kita akan ditelan oleh keadaan. Tanpa kekerasan aku tidak dapat dipaksa untuk mengurungkan niatku membunuh tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

“Itu adalah pendirian kesatria, bukan pendirian seorang yang benar-benar telah pasrah diri kepada Yang Maha Agung dalam pengabdiannya yang hakiki. Dalam sengsara dan derita itulah seseorang akan merasa dirinya semakin dekat dengan penciptanya.”

Lembu Ampal tidak menyahut. Ia mengerti, bahwa sikap seorang pendeta dan mereka yang pasrah diri dalam pengabdian kasih akan berbeda dengan sikap seorang kesatria yang masih harus melindungi dunia ini dari angkara murka, yang bagi seorang kesatria kadang-kadang masih harus mempergunakan kekerasan untuk melawan kekerasan yang sewenang-wenang. Tetapi Lembu Ampal pun menyadari, bahwa setiap kekerasan akan sangat sulit untuk membatasi dengan pasti, daerah pengabdian dan pamrih.

Sejak saat itu, Lembu Ampal mulai dengan kehidupan barunya di padepokan terpencil itu. Ia pun kemudian mengetahui bahwa para pengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sebagian kecil berada agak jauh dari padepokan itu dan hidup sebagai petani. Sedang yang lain telah kembali ke Kediri bergabung dengan induk pasukan masing-masing. Mereka tidak perlu cemas bahwa Tohjaya atau para panglimanya akan mengusut dan mengambil tindakan terhadap mereka, karena keadaan yang agaknya masih belum mapan sama sekali.

Di padepokan itu Lembu Ampal berusaha menyesuaikan diri. Ia hidup seperti Mahendra dan dua anak-anak muda yang sedang bersembunyi. Lembu Ampal mulai belajar bertani dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di padepokan.

Bahkan kemudian oleh Mahendra, Lembu Ampal dibawa menemui para pengawal yang sedang menyamar dan mengawasi keselamatan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dari kejauhan.

Ternyata bahwa satu dua orang dari mereka sudah dikenal oleh Lembu Ampal sebagai prajurit Singasari pilihan yang berada di Kediri.

“Kalian tidak usah mencurigainya.“ berkata Mahendra kepada para pangawal yang bertani itu. “Lembu Ampal sudah merubah keputusannya untuk tidak mengganggu Rang-gawuni dan Mahisa Cempaka.”

Para pengawal itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi masih nampak kecurigaan di sorot mata mereka.

“Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal kemudian, “Bukan saja aku sudah merubah keputusan, tetapi bahwa aku gagal membunuh keduanya itu ternyata merupakan kurnia yang tidak terhingga bagiku. Aku tidak perlu lagi menyesali perbuatanku, dan aku sudah terhindar dari penyesalan yang berkepanjangan. Sekarang aku merasa bahwa tanganku tidak dicemari oleh noda darah anak-anak muda yang tidak bersalah sama sekali.“ Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Terlebih dari pada itu aku merasa berhutang budi tiada taranya. Jika kedua anak-anak muda yang ingin aku bunuh itu mendendam di dalam hati maka aku pun sudah terbunuh, bukan membunuh. Tetapi ternyata kesalahanku itu sudah dimaafkan, dan aku boleh tetap hidup di padepokan ini.”

Para pengawal mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka mulai percaya bahwa Lembu Ampal memang tidak akan berbahaya lagi bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Di hari-hari kemudian, Lembu Ampal menjadi semakin dekat dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Semula Mahendra masih selalu mengawasinya. Namun kemudian Mahendra tidak lagi terlampau banyak memperhatikannya lagi, karena ia yakin bahwa Lembu Ampal benar sudah menyesal. Bukan sekedar karena kalah di dalam perkelahian, tetapi benar-benar menyadari bahwa yang akan dilakukannya itu sesat.

Apalagi ketika Witantra datang pula dari Kediri seperti yang sering dilakukan. Maka Lembu Ampal menjadi semakin mantap untuk tetap berada di padepokan itu.

“Apakah kau tidak merindukan jabatanmu Lembu Ampal?“ bertanya Witantra.

Lembu Ampal menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ternyata aku menemukan yang nilainya jauh lebih tinggi dari pangkat dan kedudukan di sini. Dan aku mendapat kepuasan karenanya.”

“Itu hanya sekedar pemupus. Karena kau tidak dapat mengharapkan pangkat dan kedudukanmu kembali, maka kau berkata seperti itu.”

“Witantra.“ jawab Lembu Ampal, “Kukira setiap insan menginginkan semua hasrat, cita-cita dan gegayuhannya tercapai. Dengan demikian maka mereka akan mendapatkan kepuasan. Yang penting ternyata bukan sekedar pencapaian itu, tetapi bila kemudian menimbulkan kepuasan. Kepuasan itulah yang mahal harganya.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Dan aku sudah mendapatkan kepuasan itu di sini.”

Witantra tidak menjawab. Kepalanya sajalah yang terangguk-angguk kecil.

Dengan demikian maka Lembu Ampal tidak lagi berhasrat untuk meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin kembali kepada pangkat dan jabatannya, tetapi juga tidak ingin menerus-kan pengembaraannya yang tanpa arti. Di padepokan itu ia merasa dapat hidup tenang di dekat kedua anak muda itu yang seharusnya dibunuhnya.

“Aku harus ikut mengawasi keselamatan mereka,“ kata Lembu Ampal di dalam hati, “Jika terjadi sesuatu atas keduanya, maka akulah yang pertama-tama harus mempertanggung jawabkannya, karena akulah yang pernah mengancam hidup mereka.”

Untuk beberapa lamanya mereka hidup damai dan tenang. Tidak banyak persoalan yang timbul di daerah terpencil. Mereka hanya memerlukan air untuk bertani. Alat-alat dapat mereka buat sendiri meskipun sederhana. Binatang-binatang peliharaan dapat membantu mereka untuk menggarap sawah.

Biarpun demikian, dalam waktu-waktu tertentu setiap hari mereka pergi ketengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat untuk menyempurnakan ilmu mereka. Ilmu yang sebenarnya bertentangan dengan sifat-sifat damai dari padukuhan itu.

Namun mereka sadar, kekerdilan jiwa merekalah yang mendorong mereka untuk tetap mempelajari ilmu kekerasan.

Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra bergantian menunggui dan menggurui Mahisa Cempaka dan Ranggawuni. Apa bila Witantra pergi ke Kediri, maka Mahendra menetap di padepokan itu beberapa lama. Bila mana kemudian Witantra datang, untuk beberapa hari Mahendra pulang ke rumahnya sendiri.

Untunglah keluarga Mahendra sudah mengenal dengan baik sifat dan tabiatnya, sehingga kepergiannya yang kadang-kadang sampai berpekan-pekan tidak menimbulkan banyak persoalan. Apalagi Mahendra sendiri adalah seorang pedagang keliling yang memerlukan banyak waktu meninggalkan kampung halamannya. Namun kehidupan keluarganya bukan tergantung atas usahanya itu.

Mahendra memiliki sawah dan ternak yang cukup. Sedang perdagangan yang dilakukan, yang kadang-kadang memang dapat memberikan penghasilan yang baik juga didorong oleh jiwa pengembaraannya, meskipun dengan agak terselubung oleh kerja itu.

Dari hari kehari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi semakin maju. Bahkan Lembu Ampal pun kemudian telah pasrah diri untuk ikut menyadap beberapa bagian dari ilmu yang tidak ada taranya itu, selain ilmu di dalam diri Mahisa Agni.

Demikianlah maka Lembu Ampal benar-benar telah menyatukan diri dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Semakin banyak ia mendapatkan ilmu dari padepokan terpencil itu, maka ia pun merasa semakin dekat dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Bahkan hatinya pun menjadi semakin terbuka atas segala peristiwa yang pernah terjadi di istana Singasari. Dari Mahendra dan Witantra ia mendengar urut-urutan ceritera tentang pimpinan pemerintahan sejak jaman Akuwu Tunggung Ametung. Kematian Akuwu Tunggul Ametung, dan siapakah sebenarnya Anusapati dan Tohjaya. Dengan demikian maka Lembu Ampal tahu pasti, bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang hampir saja dibunuhnya itu benar-benar memiliki hak atas tahta di Singasari. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah keturunan dari seorang ibu tetapi berlainan ayah, namun rasa-rasanya keduanya adalah orang yang paling pantas untuk memegang pimpinan di Singasari.

“Tohjaya adalah jalur yang lain dari tahta Singasari.“ berkata Witantra kepada Lembu Ampal. “Meskipun Ken Umang sebenarnya lebih dekat dengan keluargaku daripada Ken Dedes tetapi aku tidak dapat membenarkan keinginan yang telah membakar hati anaknya untuk menguasai tahta. Pembunuhan yang dilakukan bukan semakin memantapkan pemerintahan, tetapi justru sebaliknya. Jika berhasil membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka adik-adik Anusapati yang lain tentu akan menjadi hantu yang sangat menakutkan juga bagi Tohjaya. Mereka pun tentu akan dibunuhnya seorang demi seorang sehingga ia merasa aman. Tetapi Tohjaya untuk sepanjang hidupnya tidak akan pernah merasa tenang dan damai.”

Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin jelas menanggapi peristiwa yang hampir saja membuatnya tidak dapat tidur sepanjang umurnya.

“Jika demikian.“ bahkan Lembu Ampal pun kemudian berkata, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan? Tentu kita tidak akan dapat membiarkan Tohjaya menguasai tahta seterusnya.”

“Kita akan menunggu sampai saatnya kita akan bertindak.“ jawab Witantra, “Kita harus menunggu isyarat. Sampai saat ini Mahisa Agni masih tetap berada di lingkungan istana Singasari.”

“Apakah ia mengetahui bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka masih tetap hidup?”

“Setiap saat aku dapat menemuinya tanpa kesulitan. Ia mengetahui semuanya yang telah terjadi. Ia mengetahui bahwa kau berada di sini sekarang ini.”

“O”

”Lembu Ampal.“ berkata Witantra kemudian, “Pada suatu saat kau harus mengenal jalan untuk menemui Mahisa Agni itu. Dengan demikian maka kau pun akan dapat berbuat banyak bagi tegaknya kebenaran di Singasari.”

Lembu Ampal sama sekali tidak berkeberatan. Apalagi ia pun merasa mendapat kepercayaan dari Witantra dan Mahendra. Karena ia mengikuti petunjuk-petunjuk keduanya dengan baik dan latihan-latihan yang teratur, maka ilmu Lembu Ampal itu pun dengan cepatnya meningkat, karena ia pun memiliki bekal yang kuat sebelumnya.

Pada saatnya, ketika ilmu Lembu Ampal sudah meningkat cukup banyak, sehingga Witantra menganggap bahwa ia sudah dapat dipercaya untuk ikut bersamanya, maka dibawanya Lembu Ampal memasuki halaman istana Singasari untuk menemui Mahisa Agni di bangsalnya.

“Jadi kau sering melakukan hal itu?“ bertanya Lembu Ampal.

Witantra tersenyum. “Kenapa?” ia bertanya.

”Kau memang luar biasa.“ berkata Lembu Ampal pula.

“Kau pun akan dapat melakukannya. Tidak ada kesulitan apa-apa.”

”Mudah-mudahan aku tidak mengganggumu, jika aku memiliki ilmu setinggi ilmumu, aku tidak akan menjadi berdebar-debar.”

“Ilmumu sudah meningkat cukup jauh. Dan kau sekarang sudah meninggalkan Senapati-Senapati kawan-kawanmu dahulu. Mungkin para Panglima yang sekarang, harus berlatih dua tiga tahun lagi untuk dapat dengan mudah menangkapmu.”

“Ah.“ desah Lembu Ampal sambil tersenyum pula.

Demikianlah dengan hati-hati keduanya meloncati dinding halaman. Tidak seorang prajurit pun yang dapat melihat mereka. Karena itu, maka mereka pun dapat memasuki halaman tanpa gangguan apapun juga.

Lembu Ampal menjadi heran terhadap dirinya sendiri. Dinding yang dahulu disangkanya kokoh kuat dan rapat itu, ternyata tidak begitu sulit ditembus.

“Dinding halaman itu cukup panjang.” berkata Witantra, “Sehingga sudah barang tentu ada bagian-bagian yang tidak terawasi sepanjang malam. Bahkan jika tidak ada peristiwa yang penting seperti hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, para prajurit menjadi semakin lengah. Disiang hari punkita akan dapat memasuki halaman ini dengan aman.”

Lembu Ampal kini tidak dapat membantah lagi. Ia sendiri sudah berhasil memasuki halaman istana dengan mudah. Bahkan tanpa Witantra punia merasa, bahwa ia akan dapat melakukan tugas sebaik-baiknya jika ia harus menjumpai Mahisa Agni.

Ternyata Mahisa Agni punkemudian menerima Lembu Ampal tanpa berprasangka apapun. Sambil tersenyum Mahisa Agoi berkata, “Aku sudah mendengar semuanya tentang kau.”

Lembu Ampal menundukkan kepalanya.

“Akupun bersyukur bahwa kau tidak sampai terjemurus ke dalam kesalahan yang tidak termaafkan itu. Jika kau berhasil membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka kau akan segera berhadapan dengan kami. Aku, Witantra dan Mahendra. Tetapi lebih dari itu, kau akan berhadapan dengan kebenaran.”

Lembu Ampal masih tetap berdiam diri. Namun kata-kata Mahisa Agni itu rasa-rasanya menusuk langsung kepusat jantungnya. Bahkan terasa tengkuknya meremang karenanya. Betapa ia akan hidup dalam ketegangan dan ketakutan jika pembunuhan itu dapat dilaksanakan.

Untunglah bahwa kini ia justru dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Namun sebagai seorang kesatria, maka ia tidak akan dapat tinggal diam di padepokan, seperti juga Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Itulah bedanya kesatria dan orang-orang yang hidup utuh dalam pendekatan diri dengan Yang Maha Agung.

Hubungannya dengan Mahisa Agni, telah membuka persoalan baru di dalam hati Lembu Ampal. Darah kesatria yang ada di dalam dirinya telah mendidih kembali. Dalam persembunyiannya di halaman istana setiap kali ia masuk, ia selalu melihat prajurit-prajurit Singasari yang resah dan nampaknya kehilangan pegangan. Mereka berjaga-jaga dengan senjata telanjang. Namun mereka tidak lagi menyadari, apakah yang sebenarnya sedang mereka lakukan itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa istana Singasari menjadi semakin suram. Tohjaya yang kecewa tidak dapat menemukan ketenangan lagi di dalam hidupnya. Bahkan rasanya ia dapat melihat semakin jelas tentang dirinya sendiri. Tentang noda-noda yang melekat di dalam dirinya terpercik oleh noda-noda yang mengotori ibunya.

Sedangkan Ken Umang rasa-rasanya menjadi hampir gila karena orang-orang yang telah dihubunginya masih belum berhasil membunuh Mahisa Agni. Bahkan sama sekali belum didengar usaha yang telah dilakukan untuk membunuhnya dan dengan demikian maka rahasianya tidak akan tersebar luas.

Tetapi Ken Umang yang dicengkam oleh kebingungan yang sangat menghadapi sikap Tohjaya itu, tidak pernah dapat berpikir bening lagi. Seandainya Mahisa Agni dengan se-ngaja menyebarkan lukisan tentang dirinya di antara para pemimpin Singasari, maka kabar itu tentu sudah merambat keseluruh isi istana, bahkan seluruh Singasari.

“Orang gila itu harus mati, harus, harus.“ kadang-kadang ia menggeram. Tetapi tidak seorang punyang dapat melakukannya. Apalagi Tohjaya sama sekali kehilangan segala gairah dan minat di dalam pemerintahan.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Lembu Ampul dengan bulat telah mengabdikan dirinya kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia sadar, bahwa Tohjaya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi duduk di atas tahta. Jika tidak segera ada perubahan terjadi di pemerintahan Singasari, maka Singasari akan benar-benar menjadi beku, atau sebaliknya akan koyak sama sekali. Beberapa orang pemimpin pemerintahan, para Panglima atau Akuwu yang merasa dirinya kuat dapa saja menghimpun kekuatan untuk mendukungnya mengangkat diri menjadi Maharaja di Singasari, seperti Ken Arok yang saat itu menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel, yang memisahkan diri dari Kediri.

“Semua peristiwa itu tidak boleh terulang kembali.“ berkata Lembu Ampal di dalam hatinya.

Karena itu, maka Lembu Ampal punmulai mengambil sikap. Ia memberanikan diri mengatakannya kepada Mahisa Agni niatnya untuk mengembalikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ke istana Singasari dengan aman.

“Aku dapat membunuh Tohjaya dengan cara apapun juga.“ berkata Lembu Ampal.

“Tohjaya dikelilingi oleh para Panglima dan Senapati.“ jawab Mahisa Agni, “Sekarang dalam keadaan yang buram ini, Tohjaya rasa-rasanya sudah tidak berbuat apa-apa lagi kecuali menyesali dirinya sendiri. Beberapa orang Panglima dan pemimpin pemerintahan mencoba untuk menyelamatkan Singasari dari kehancuran. Mereka mencoba melakukan tugas Tohjaya sebaik-baiknya. Mereka merasa wajib karena merekalah yang pernah mendukung Tohjaya sehingga Tohjaya berani mengambil tindakan untuk membunuh Anusapati.”

“Tetapi aku akan dapat menembus mereka.“ sahut Lembu Ampal.

Namun Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan kau keruhkan lagi Singasari dengan pembunuhan.”

“Jadi?”

“Kau boleh berusaha mengembalikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Aku akan membantunya. Tetapi mereka harus kembali sebagai kesatria, tidak seperti pencuri yang memasuki rumah orang lain diwaktu malam. Tidak dengan bersembunyi-sembunyi dan dengan licik membunuh lawannya. Jika Ranggawuni dan Mahisa Cempaka masih melakukannya seperti yang pernah dilakukan oleh Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, oleh Anusapati dan kemudian oleh Tohjaya, maka akan terjadi yang serupa pula atas mereka.”

Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku mengerti. Tetapi aku belum menemukan jalan yang paling baik untuk melakukannya.”

“Kau tidak sendiri. Ada Witantra ada Mahendra dan ada aku di sini. Kita akan dapat berbicara untuk menentukan sikap. Namun sementara itu, kita tidak boleh melupakan Ken Umang yang tentu tidak akan tinggal diam. Ia tentu tidak akan mau kehilangan anak lakinya, meskipun ia tidak mati, karena anak lakinya itu tidak lagi berbuat sesuatu. Dan ia tentu tidak akan mau kehilangan kedudukannya sebagai ibunda Maharaja di Singasari, sebagai perempuan yang paling terhormat. Dan karena itupula ia tidak pernah memikirkan apakah anak lakinya akan mengawini seorang permaisuri. Sebab ia akan segera terdesak oleh kedudukan menantunya itu.”

Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya, la memang sudah mendapat gambaran tentang keluarga Tohjaya. Ibundanya yang tamak dan dicengkam oleh nafsu yang berlebihan. Tohjaya yang manja dan perajuk. Yang mula-mula merasa dirinya adalah orang yang paling kuat dimuka bumi. Namun yang kemudian bagaikan terlempar ke dalam lembah kehinaan setelah ia mengetahui tentang dirinya sendiri.

Dengan demikian maka ia punmenjadi seorang yang rendah diri dan merasa tidak berharga. Namun untuk menyembunyikan perasaan itu, maka Tohjaya adalah seorang yang hampir gila. Ia adalah pemarah tiada taranya, yang dengan berlebihan minta dihormati dan dijunjung tinggi sebagai seorang Maharaja Singasari. Namun dalam pada itu, ia sudah tidak dapat berbuat apapun lagi dalam pemerintahannya.

Karena itulah maka seisi istana dan para Panglima serta pemimpin pemerintahan menjadi kebingungan. Mereka sebagian telah menyesal bahwa mereka mendukung Tohjaya menduduki pemerintahan dan jabatan tertinggi di Singasari. Meskipun Tohjaya tidak ingkar dan memberikan kedudukan, pangkat dan harta benda seperti yang pernah ia janjikan apabila ia berhasil menduduki tahta Singasari, namun Tohjaya sendiri kemudian sama sekali telah kehilangan dirinya sendiri.

“Ia terpukul oleh kenyataan tentang dirinya sendiri.“ para pemimpin itu punsaling berbisik. Yang disembunyikan itu justru bagaikan terungkapkan karena sikap Tohjaya sendiri, sehingga memancing orang tua-tua untuk mulai berbicara berbisik tentang dirinya.

Dalam keadaan yang kalut itulah Lembu Ampal mulai mencoba berbuat sesuatu untuk mengembalikan hak atas tahta Singasari kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Kenyataan yang dihadapinya adalah bagaikan hitam dan putih jika ia memperbandingkan sifat dan watak Tohjaya dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Tohjaya yang dicengkam oleh nafsu dan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang bijaksana.

Atas petunjuk Mahisa Agni, maka Lembu Ampal punmulai mempersiapkan segala sesuatunya tidak di halaman istana, tetapi di padukuhan terpencil di luar kota, dan justru di garis yang menghubungkan Singasari dengan Kediri.

“Pasukan Singasari di Kediri akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya.“ berkata Mahisa Agni.

“Tetapi apakah tuan akan keluar dari halaman istana dan langsung berada di tengah-tengah kami?”

“Tidak. Aku akan tetap berada di halaman istana. Aku sudah memperkuat kedudukanku. Pengawal-pengawal cukup kuat untuk melindungi aku, keluarga Anusapati terdekat dan orang tua Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Beberapa orang prajurit Singasari telah aku hubungi dan mereka adalah kawan-kawan yang setia.”

“Apakah kedudukan mereka mirip dengan kedudukanku?”

“Maksudmu?”

“Mula-mula berpihak kepada tuanku Tohjaya, namun kemudian menyadari kekeliruan diri?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Mungkin. Tetapi ada diantaranya yang sejak semula tidak berpihak kepadanya. Hanya karena kedudukannya sebagai prajurit sajalah yang membuat mereka untuk sementara berdiam diri.”

Lembu Ampal merenung sejenak. Kemudian sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Barangkali aku akan dapat segera memulainya. Aku akan keluar dari kota ini dan mencoba membuat kedudukan yang mantap bagi tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dijalur lurus antara kota Singasari dan Kediri.”

“Biarlah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk sementara tetap di padepokan tersembunyi itu.”

“O, baiklah. Semuanya akan aku coba sebaik-baiknya.”

“Mudah-mudahan kau akan berhasil. di sini aku tidak akan dapat melepaskan tanggung jawabku atas Ken Dedes yang semakin tua dan sakitan, ibu Ranggawuni dan kedua orang tua Mahisa Cempaka. Kemudian adik-adik Anusapati yang lain, yang lahir dari Ken Dedes dan Sri Rajasa.”

Demikianlah mereka telah membagi pekerjaan. Tugas Mahisa Agni bukanlah tugas yang ringan. Tetapi Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya tidak tinggal diam. Betapapun kecilnya mereka masih juga mempunyai pengaruh. Bahkan pengikut Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, ada yang menganggap bahwa Mahisa Wonga Teleng mempunyai hak yang lebih banyak dari Tohjaya yang hanya karena dukungan yang kuat tiba-tiba saja telah merampas hak atas tahta Singasari.

Sementara itu Ken Umang masih tetap bernafsu untuk membunuh Mahisa Agni. Beberapa orang yang setia kepadanya telah memberikan keterangan, bahwa berbahaya sekali untuk bertindak dalam keadaan seperti itu. Tetapi agaknya Ken Umang yang telah kehilangan pikiran beningnya itu tidak mau mengerti. Ia tetap bertekad, untuk membinasakan Mahis Agni secepat-cepatnya.

“Sukar untuk melaksanakan saat ini.“ berkata Pranaraja.

“Aku tidak peduli. Tetapi jika kau tidak berhasil, aku justru berkata kepada Mahisa Agni, bahwa kaulah yang mula berpendapat bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka harus dibunuh. Kau akan ingkar Tohjaya adalah anakku. Ia mengatakan apa saja yang diketahuinya dan dihayatinya selama ia memegang pemerintahan dengan bijaksana seperti ini.”

Ancaman itu memang membuat Pranaraja menjadi bingung. Jika demikian maka nyawanya tentu terancam. Keadaan di istana Singasari agaknya lambat laun sudah berubah. Kesetiaan kepada Tohjaya sudah mulai goyah. Bukan karena Tohjaya tidak memenuhi janjinya kepada orang-orang yang membantunya, tetapi ternyata hati Tohjaya sangat lemah.

Disaat terakhir yang dapat dilakukan tidak ada lain kecuali hanya marah-marah saja. Ia sama sekali tidak lagi menghiraukan perkembangan Singasari, apalagi meningkatkan hidup rakyatnya.

Usaha beberapa orang perwira yang merasi sudah terlanjur mendukung Tohjaya, agaknya tidak begitu banyak membawa hasil. Bahkan, kadang-kadang Tohjaya sendiri menolak setiap pendapat yang diajukan oleh para Panglima dan Senapati untuk mengatasi keadaan.

Perlahan-lahan para prajurit mulai berpaling kepada Mahisa Agni. Ia adalah saudara tua Ken Dedes. Meskipun umurnya sudah menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang tidak ada duanya di dalam istana Singasari.

Arah pandangan yang lain adalah Mahisa Wonga Teleng, yang masih tetap berada di halaman istana itu pula. Ia sama sekali tidak gentar jika pada suatu saat Tohjaya akan mengambil tindakan apapun terhadapnya seperti yang telah direncanakan untuk dilakukan atas anak lakinya. Mahisa Cempaka.

Namun demikian belum ada seorang punyang berani menyatakannya dengan berterus terang. Mereka pada umumnya masih diliputi oleh keraguan yang satu dengan yang lain, karena ternyata bahwa Tohjaya masih tetap seorang Maharaja.

Dalam pada itu, Ken Umang yang tidak sabar lagi masih saja selalu mendesak. Ia dihantui oleh tingkah lakunya sendiri yang diketahui dengan pasti oleh Mahisa Agni. Bagi ken Umang, Mahisa Agni adalah ular yang sangat berbisa. Dalam keadaannya, Ken Umang masih mengharap Tohjaya melupakan apa yang sudah didengarnya. Tetapi jika Mahisa Agni masih hidup, maka ia justru dapat menambah lagi kecemaran tingkah laku dimasa mudanya, bahkan sampai ia sudah berada di istana Singasari itu pula.

Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan cara bagaimana menyingkirkan Mahisa Agni.

Sementara itu, di padepokan terpencil, Mahendra dan Lembu Ampal masih saja selalu menemani Ranggawuni dan Mahisa Cempaka melatih diri. Dengan pesatnya keduanya maju dibidang kanuragan. Bahkan Lembu Ampal kadang-kadang bertanya kepada diri sendiri, cara yang manakah yang dipergunakan oleh Witantra dan Mahendra, sehingga mereka dengan mudah sekali dapat membentuk Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi dua orang anak muda yang luar biasa.

Atas pembicaraan antara Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Lembu Ampal, maka mereka punmulai menyusun rencana untuk memulihkan kembali kekuasaan Singasari yang sebenarnya. Usaha untuk memerintah Singasari sebaik-baiknya sesuai dengan kepentingan rakyatnya. Bukan semata-mata kekuasaan yang ada ditangan Tohjaya tanpa arti apa-apa bagi Singasari sendiri.

Untuk memulihkannya, maka Mahisa Agni telah menyerahkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kepada Witantra yang mempunyai pengalaman yang cukup di dalam pemerintahan pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.

“Pada suatu saat, aku akan berada diamara mereka pula.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Aku juga merasa perlu untuk memberikan sedikit tuntunan bagi mereka apabila mereka berhasil mendapatkan haknya kembali di Singasari.”

Demikianlah maka atas usaha Lembu Ampal, maka ia mendapatkan tempat yang tersembunyi di pinggir kota. Dengan menanggung kemungkiran yang berat, sehingga dengan demikian setiap saat Mahisa Agni dapat dengan diam-diam meninggalkan halaman istana dan berada diantara kedua anak-anak muda itu untuk memberikan banyak petunjuk-petunjuk tentang pemerintahan Singasari.

Sementara itu, bukan saja kedua anak-anak muda itulah yang dipersiapkan. Tetapi pada suatu saat, apabila diperlukan akan dapat timbul pertempuran antara para pengikut Tohjaya dengan mereka yang setia kepada hak yang sebenarnya atas tahta Singasari. Dengan demikian tidak mustahil bahwa perang yang besar akan pecah di Singasari.

“Mudah-mudahan jika terpaksa timbul perang, Singasari tidak terkoyak karenanya. Jika terpaksa Singasari terbakar ujungnya, adalah korban yang harus diberikan untuk kelak membangun Singasari yang jauh lebih besar dari Singasari yang sekarang.“ berkata Mahisa Agni.

Meskipun tidak nampak sama sekali, tetapi sebenarnyalah bahwa persiapan-persiapan yang matang telah disusun. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah diberitahu apa yang akan dilakukan bagi kepentingan mereka. Dengan demikian maka mereka punharus berusaha menyesuaikan diri.

“Tetapi bagaimana kemudian dengan pamanda Tohjaya.“ bertanya Ranggawuni.

“Sudah barang tentu pamanda Tohjaya harus meninggalkan tahta.“ jawab Mahisa Agni.

“Apakah tidak ada jalan lain? Aku tidak sampai hati melihat pamanda Tohjaya terusir dari kedudukannya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku tahu bahwa pamanda Tohjaya telah berbuat curang atas ayahanda. Tetapi pamanda Tohjaya belum cukup lama menikmati basil perjuangannya.”

Mahisa Agni memandang kedua anak-anak muda itu dengan saksama. Ia melihat perasaan Mahisa Cempaka yang tidak banyak bedanya dengan perasaan Ranggawuni atas pamandanya Tohjaya.

“Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.“ berkata Mahisa Agni, “Perjuangan yang pantas dinikmati hasilnya, meskipun bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh mereka yang diperjuangkan, adalah perjuangan yang dilandasi atas hak dan kebenaran. Sedang perjuangan yang pernah dilakukan oleh pamandamu Tohjaya adalah perjuangan yang semata-mata dilandasi oleh nafsu dan ketamakan. Karena itu, maka sekarang yang telah dicapainya sama sekali tidak bermanfaat bagi Singasari. Bahkan akhirnya tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri.”

“Tetapi paman.“ Ranggawuni masih menjawab, “Pamanda Tohjaya tentu tidak akan begitu saja melepaskan tahta Singasari, sehingga apakah dengan demikian tidak akan berarti peperangan yang sukar dikendalikan lagi?”

“Memang mungkin peperangan itu dapat terjadi Ranggawuni. Tetapi pengorbanan itu harus diberikan untuk kepentingan Singasari sekarang. Karena jika kita membiarkannya lebih lama lagi, maka keadaan akan menjadi semakin parah bagi Singasari.”

“Apakah tidak ada harapan pamanda Tohjaya memperbaik keadaan ini?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Tidak akan ada kesempatan lagi bagi Tohjaya selain memanjakan nafsu. Apalagi dibelakang Tohjaya berdiri Ken Umang. Seorang yang benar-benar dikendalikan oleh ketamakannya. Karena itu, kau berdua harus segera mulai. Jika kau berdua terlambat, mungkin keadaannya akan menjadi jauh berbeda. Rakyat dan prajurit yang sudah jemu melihat cara Tohjaya memerintah akan mudah sekali terpengaruh oleh harapan-harapan baru bagi mereka. Jika pada suatu saat seorang Senapati atau seorang Akuwu bangkit mendahuluimu, maka semua kejemuan akan segera tertumpah pada harapan yang belum pasti dapat menumbuhkan kecerahan bagi Singasari. Bahkan mungkin budi yang luhur akan ditelan oleh nafsu ketamakan yang lain.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Cempaka berkata, “Paman. Apakah paman yakin, bahwa keadaan sekarang ini sudah ada pada puncak kesuraman bagi Singasari, sehingga perlu ada kejutan untuk menjernihkannya?”

“Ya.“ jawab Mahisa Agni, “Apalagi Tohjaya sekarang sedang dicengkam oleh gejolak perasaannya sendiri, sehingga sifat-sifatnya tidak lagi dapat diselami. Bahkan oleh orang-orang yang dekat padanya.”

Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ditatapnya wajah Mahisa Cempaka yang menegang. Ia sadar, bahwa latar belakang hubungan keluarganya agak berbeda dengan hubungan keluarga antara Mahisa Cempaka dengan Tohjaya.

Dalam hal itu, Mahisa Agni sudah berterus terang kepada keduanya. la tidak mau melihat kekecewaan, kejutan dan ketegangan perasaan terjadi kelak apabila mereka tidak melihat diri mereka sejak semula. Anusapati bergejolak ketika ia menyadari keturunannya, bahwa ia bukan putera Sri Rajasa. Dan Tohjaya punkemudian membunuh Anusapati karena baginya Anusapati sama sekali bukan apa-apa. Apalagi karena Anusapati telah membunuh Sri Rajasa pula.

“Anak-anak muda itu kelak tidak boleh dijangkiti penyesalan atau kekecewaan kelak. Mereka harus menyadari sejak semula.“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Demikianlah mereka berada dalam kediaman sejenak. Semuanya menunggu pendapat Mahisa Cempaka, karena sebenarnyalah bahwa Tohjaya adalah pamannya. Tohjaya adalah saudara seayah dengan ayahandanya, Mahisa Wonga Teleng.

“Paman.“ berkata Mahisa Cempaka kemudian sambil menundukkan kepalanya, “Aku mengerti, bahwa Singasari memerlukan tangan yang kuat untuk merubah keadaan yang lesu seperti ini. Tetapi aku tidak ingin melihat pamanda Tohjaya harus mengalami nasib seperti Maharaja yang pernah memerintah Singasari sebelumnya. Pembunuhan itu harus dihentikan.”

“Maksudmu?“ bertanya Mahisa Agni, “Apakah kita harus menunggu, atau kita harus berbuat sesuatu?”

Mahisa Cempaka terdiam.

“Mahisa Cempaka.“ berkata Mahisa Agni, “Sudah barang tentu bahwa akan terjadi sedikit benturan dengan pamandamu. Aku yakin, bagaimanapun juga pamanmu tidak akan dengan suka rela menyerahkan tahta. Tetapi ia tentu tidak akan menerima seandainya kau berdua datang kepadanya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran. Betapapun kalian berbuat dengan jujur dan bersungguh-sungguh, tetapi kalian akan te-tap menjadi arah ujung pedang. Jika bukan Lembu Ampal, maka tentu akan ada orang lain yang mendapat perintah membunuh kau berdua.”

Mahisa Cempaka merenung sejenak. Kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Mahisa Cempaka. Memang kau berada disimpang jalan yang sulit. Kau harus memilih arah yang sama-sama berat bagimu. Jika kau memilih Singasari, kau harus melepaskan pamandamu. Tetapi jika kau memilih pamandamu Tohjaya, maka keadaan Singasari tidak akan tertolong lagi.”

Perlahan-lahan Mahisa Cempaka mengangkat kepalanya Kemudian perlahan-lahan pula kepala terangguk lemah. Katanya dalam nada yang dalam, “Aku mengerti paman. Memang aku tidak akan dapat memilih selain bagi Singasari.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sangat berat untuk memilih. Tetapi dengan jiwa besar kau sudah menyebutnya.”

Mahisa Cempaka menundukkan kepalanya lagi. Seakan-akan ia sedang mencari diantara kedua kakinya. Ia sadar bahwa ia memang harus memilih Singasari yang dengan demikian harus mengorbankan pamannya, Tohjaya.

Tetapi korban yang akan jatuh bukan hanya sekedar pamannya seorang diri. Tetapi tentu ada orang lain. Prajurit-prajurit dan bahkan rakyat Singasari sendiri.

Meskipun demikian, jalan itu harus ditempuh, karena tidak ada jalan lain bagi keselamatan dan keutuhan Singasari.

Demikianlah maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sudah bertekad untuk menegakkan Singasari, meskipun korban yang diserahkan adalah cukup besar bagi mereka. Yaitu pamanda Tohjaya.

Persiapan punsegera disusun semakin matang. Pasukan Singasari yang berada di Kediri sudah siap berada dijalan yang menuju kepintu gerbang. Mereka dengan diam-diam memasuki daerah di seputar kota Singasari. Sedang sementara itu prajurit-prajurit yang di Singasari telah pula terpecah. Beberapa orang Senapati yang berhasil dihubungi oleh kawan-kawannya yang berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka punkemudian menyatakan kesediaan mereka untuk membantu, apalagi setelah mereka mengerti persoalan yang sebenarnya telah terjadi di istana Singasari itu.

Dalam pada itu, Witantra, Mahendra, Mahisa Agni dan Lembu Ampal punsegera membagi tugas. Mahisa Agni tetap berada di halaman istana. Jika perlu langsung memberikan perlindungan kepada orang-orang yang sudah menjadi tua dan sakit-sakitan. Ken Dedes yang sudah hampir kehilangan seluruh kesehatannya karena tekanan lahir dan batin. Mahisa Wonga Teleng yang tetap berada di tempatnya bersama isteri Anusapati dan adik-adiknya yang lain. Serta orang-orang yang dapat terancam jiwanya apabila pergolakan benar terjadi.

Tetapi Mahisa Agni sudah tidak seorang diri. Diantara para Senapati telah berhasil dihubunginya dan dengan teliti menyiapkan diri bersama beberapa orang prajurit-prajurit yang dapat dipercaya. Kecuali mereka, para pengawal Mahisa Agni masih tetap berada di bangsalnya pula. Mereka masih tetap mengenakan secarik kain putih di lehernya sebagai pertanda bahwa mereka benar-benar sudah berada di puncak penyerahan diri pada tu-gasnya, tanpa menghiraukan nyawa mereka sendiri. Dan ternyata bahwa kain putih di leher para pengawal Mahisa Agni itu mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi orang-orang yang tidak menyukainya.

Selain Mahisa Agni maka Witanira pun mendapat tugasnya pula. Ia harus menyiapkan dan memimpin pasukan yang teratur, yang sudah dengan diam-diam bergeser dari Kediri mendekati kota Singasari. Hanya sebagian kecil sajalah yang masih tetap berada di Kediri bersama pasukan keamanan yang disusun oleh Kediri sendiri dibawah pengawasan Singasari.

Sedang Mahendra mendapat tugas untuk selalu berada di dekat kedua anak muda itu, agar ia selalu dapat memberikan nasehat dan perlindungan. Karena tidak mustahil bahwa masih akan terjadi percobaan untuk langsung membunuh keduanya apabila Tohjaya dapat menemukan mereka.

Dalam pada itu Lembu Ampal mempunyai tugasnya tersendiri. Sebelum sampai saatnya, mereka mulai dengan tindakan sesungguhnya, Lembu Ampal bertugas untuk membuat hubungan dengan orang-orang yang disangkanya dapat memberikan bantuan kepada mereka.

Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak bendanya melatih diri untuk bekal dimasa mendatang yang akan menjadi semakin berat membebani mereka dengan tanggung jawab. Apalagi mereka harus sudah mulai dengan langkah-langkah tertentu.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...