BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-23-03
“Agaknya para prajurit dapat mengusirnya,” berkata isteri Anusapati pula didalam hatinya.
Demikianlah maka dipeluknya puteranya semakin erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.
Sejenak kemudian gardu induk di halaman istana Singasari itu-pun menjadi gempar. Seorang perwira yang sudah ubanan memilin kumisnya sambil berkata, “Ada juga demit yang mau mengganggu halaman istana ini?”
“Kami tidak berhasil menangkapnya.”
“Berapa orang yang kau lihat?”
“Satu orang berkerudung hitam.”
“Satu orang, dan kalian tidak dapat menangkapnya?”
“Ia lari kedalam gelap, dan seakan-akan ia dapat menghilang begitu saja.”
“Apakah kau percaya kepada hantu itu?”
“Tidak. Ketika kami berkelahi, aku berhasil menyentuhnya. Ia sama sekali bukan hantu. Tetapi kemampuannya jauh melampaui prajurit kebanyakan.”
“Gila. Kalian memang gila. Kenapa kalian tidak dapat menangkap hanya satu orang?”
Pemimpin peronda itu tidak menjawab. Tetapi perwira itu tidak bertanya lagi. Terkenang olehnya peristiwa yang serupa beberapa waktu yang lalu. Orang berkerudung hitam. Dan tidak seorang-pun yang dapat menangkapnya. Tetapi ketika kemudian ada kesatria Putih, mereka menyangka bahwa orang berkerudung hitam itu adalah Kesatria Putih juga yang sedang berbuat sesuatu untuk tujuan tertentu.
“Tetapi tentu tidak. Tentu bukan Kesatria Putih. Sejak pertama kali orang-orang berkerudung hitam itu mempunyai ciri-ciri berbeda,” berkata perwira itu, namun kemudian, “tetapi ceritera tentang Kiai Kisi yang kemudian dapat diketahui, bahwa yang berkerudung hitam adalah Putera Makota.”
Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menjadi pening memikirkan persoalan-persoalan itu. Namun kesimpulannya adalah, “Tidak hanya ada seorang berkerudung hitam di istana ini. Apalagi ketika Putera Mahkota tidak ada di istana.”
Kemudian bersama beberapa orang prajurit perwira yang sudah ubanan itu-pun segera pergi ke bangsal Putera Mahkota. Sejenak ia mengamati gardu peronda. Kemudian dilihatnya dua orang prajurit yang terbujur.
“Kenapa?”
“Terluka,” jawab pemimpin peronda.
“Kau diamkan saja?”
“Kami sudah memanggil seorang dukun bagi para prajurit.”
“Bawa kegardu induk. Disana suasananya jauh lebih baik dari tempat ini.”
Demikianlah kedua orang yang terluka itu-pun segera dibawa kegardu induk. Gardu induk memang lebih luas dan terang daripada gardu di muka bangsal Putera Mahkota itu.
Sejenak kemudian perwira itu-pun telah mengelilingi bangsal itu. Dilihatnya bekas abu getah yang berbau harum itu.
“Jadi kalian berhasil melihat orang itu datang dan membakar getah ini.”
“Ya.” jawab pemimpin peronda.
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Laporan itu akan menjadi bahan pembicaraan dengan para perwira dan sudah tentu dicari sebab dan tujuannya.
“Jika bau ini sekedar untuk menakut-nakuti, apakah keuntungan yang diperolehnya?” bertanya perwira itu kepada diri sendiri.
Tetapi perwira itu tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnya ia-pun telah mengetahui persaingan antara Anusapati dan Tohjaya yang semakin lama agaknya menjadi semakin tajam. Meskipun nampaknya Anusapati lebih banyak diam, tetapi ternyata bahwa ia telah berhasil membentengi diri dengan kemampuan yang luar biasa dan kesetiaan rakyat Singasari kepadanya, justru karena ia adalah Kesatria Putih.
Meskipun demikian perwira yang sudah berambut rangkap itu tidak mengambil sikap sendiri. Sebagai seorang prajurit, maka ia-pun akan membawa persoalan itu kepada atasannya. Kepada para perwira yang lebih tinggi, dan karena persoalannya menyangkut ketenteraman hidup keluarga Putera Mahkota, maka persoalannya pasti akan dibicarakan oleh para Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Dalam.
Setelah barang-barang yang dapat dijadikan bukti atas peristiwa itu dikumpulkan, maka perwira itu-pun kemudian meninggalkan bangsal itu dengan pesan, “Hati-hatilah. Mungkin ada persoalan-persoalan baru yang menyusul. Jika kalian tidak mampu mengatasi persoalan berikutnya itu sendiri, berilah tanda.”
“Baiklah. Kami akan selalu bersiap menghadapi apapun yang akan terjadi.”
Tetapi salah seorang prajurit yang berdiri di belakang gardu berdesis, “bersiap untuk membunyikan tanda.”
“Sst,” desis kawannya.
“Kawan kita sudah berkurang dua orang. Apa yang dapat kita lakukan? Sedang menghadapi satu orang saja, kita semuanya tidak dapat berbuat banyak. Bagaimana jika orang itu nanti kembali bersama dua atau tiga orang kawannya?”
“Ternyata kau pengecut seperti juru taman itu.”
Kawannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia mendengar perwira itu bertanya, “Siapa yang ada digardu itu?”
Pemimpin peronda itu berpaling. Dilihatnya seseorang duduk meringkuk disudut gardu.
“O, seorang juru taman,” jawab pemimpin prajurit peronda itu. “Kenapa ia ada di sini. Didalam gardu peronda hanya boleh ada prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal yang sedang bertugas. Bukankah kalian mengetahui?”
“Ia baru saja ada di dalam gardu ketika kami ketemukan ia hampir mati ketakutan.”
“Kenapa?”
“Karena orang berkerudung hitam itu.”
“Apakah ia juga melihat?”
“Tidak. Ia hanya mendengar kami bertempur.”
“Sebelum itu.”
“Ia sekedar bercakap-cakap dengan para peronda yang sedang beristirahat digardu.”
Perwira yang berambut ubanan itu memandang Sumekar dengan tatapan mata yang tajam. Lalu katanya, “Apakah bukan orang itu yang membakar getah.”
“O, tidak. Ia berada digardu ketika aku menemukan orang berkerudung hitam itu.”
“Atau ia sengaja memancing perhatian karena orang berkerudung itu adalah kawannya?”
Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya.
Dan perwira itu berkata selanjutnya, “Ia sengaja membawa kalian berbicara, berkelakar dan barangkali dengan cara-cara yang lain agar kedatangan kawannya itu tidak kalian ketahui. Sehingga dengan demikian ia akan dapat berbuat leluasa.”
Tiba-tiba saja beberapa orang prajurit telah mengerumuni mulut gardu itu, sehingga juru taman yang ada didalamnya menjadi semakin berkeriput.
Hampir saja beberapa orang prajurit mengikuti jalan pikiran itu. Namun tiba-tiba pemimpin peronda itu berkata, “Tidak. Bukan orang ini, jika ada yang berusaha berbuat demikian. Justru orang inilah yang tanpa disengaja telah memberikan jalan kepada kami, sehingga kami sempat mengetahui bahwa sebenarnya bau yang telah beberapa kali tercium ini adalah bau semacam getah yang terbakar.”
“He? “ perwira itu menjadi heran, “bagaimana mungkin hal itu terjadi?”
Pemimpin peronda itu memandang Sumekar yang ketakutan. Kemudian katanya, “Ia adalah seorang yang merasa dirinya mengerti tentang berbagai macam bunga dan baunya. Juga tentang binatang.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pemimpin prajurit peronda itu-pun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Sumekar, dan tentang taruhan seekor kuda yang tegar. Tetapi yang mereka jumpai bukan sebangsa burung dan bukan sebangsa kucing, tetapi getah yang terbakar itulah.
Perwira itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Maaf, bahwa aku telah membuatmu ketakutan. Bukan maksudku. Aku wajib mencurigai setiap orang dalam keadaan serupa ini. Sekarang pergilah. Tidak boleh ada orang lain di dalam gardu peronda selain prajurit-prajurit dari pasukan Pengawal. Untunglah bahwa tidak timbul salah paham karena kebetulan kau dapat menunjukkan kebodohanmu. Jika tidak, maka kau dapat menjadi korban.”
“Tetapi, tetapi … “ Sumekar tergagap.
“Tetapi kenapa?” bertanya perwira itu.
Sumekar tidak segera menjawab, sehingga pemimpin peronda itulah yang berkata, “Kau takut kembali ke gubugmu?”
Sumekar mengangguk.
“Kau benar-benar pengecut yang dungu,” berkata pemimpin peronda itu, lalu katanya kepada seorang prajurit. “antarkan orang ini.”
Prajurit itu menganggukkan kepalanya. Tetapi terbayang juga keragu-raguan dimatanya, sehingga pemimpinnya berkata pula, “Bawalah, seorang kawan.”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia ingin mendapat seorang kawan. Bagaimana-pun juga ada sesuatu yang masih menggetarkan hatinya. Jika ia bertemu dengan orang berkerudung hitam itu, ada juga seorang saksi yang akan dapat melihat dan membantunya meskipun dengan seorang kawannya mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Namun pasti masih ada kesempatan untuk memberikan isyarat.
Di dalam perjalanan mengantarkan Sumekar, salah seorang prajurit itu berdesis, “Apakah orang berkerudung itu bukan Putera Mahkota sendiri?”
“Kenapa Putera Mahkota sendiri?” bertanya kawannya.
“Bukan maksudku berniat jelek. Tetapi seandainya ada persoalan di antara keluarga mereka dan mungkin dengan sengaja Putera Mahkota membuat isterinya tidak tenang dan tidak kerasan di istana ini.”
“Hus,” desis yang seorang, “aku tahu betul bahwa keduanya sangat mengasihi yang satu dengan yang lain meskipun seakan-akan mereka baru saling mengenal setelah mereka duduk bersama di hari perkawinan itu. Ternyata bahwa orang tua mereka yang berusaha menjodohkan putera dan puterinya tidak salah pilih.” ia berhenti sejenak, lalu “karena itu menurut penilaianku, tentu bukan Putera Mahkota.”
“Tetapi siapa tahu keadaan isi hati Putera Mahkota jawab yang lain, mungkin di dalam petualangannya sebagai Kesatria Putih ia menjumpai seorang gadis lain yang cantik dan mempunyai gairah yang lebih panas.”
“Ah,” yang lain berdesah, “meskipun hal itu berlaku pula bagi Sri Rajasa, tetapi agaknya lain bagi Putera Mahkota. Ternyata bahwa pengenalanmu atas Putera Mahkota terlampau sempit.”
Kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara Sumekar menyambung, “Yang aku ketahui keduanya mempunyai kesukaan pada jenis bunga yang sama.”
“Apa?”
“Soka ungu.”
“O, itu sudah pertanda bahwa cinta mereka akan abadi.”
“Bagaimana kau tahu.”
“Bunga soka yang ungu memang mempunyai pengaruh yang sangat baik bagi sepasang suami iseteri. Dan apalagi keduanya sama-sama menyukainya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan. Lalu, “Selain itu juga sebatang kantil yang kerdil, yang tidak dapat tumbuh terlalu tinggi meskipun bunganya lebat sekali. Akulah yang dahulu mendapatkan benihnya justru dari padepokan jauh dari istana. Aku membawanya masuk ke dalam istana ini dan akulah yang menanamnya dipetamanan. Ternyata aku berhasil menyenangkan hati Putera Mahkota, dan…”
Sebelum Sumekar melanjutkan, salah seorang prajurit telah memotongnya, “Kaulah yang membuat Putera Mahkota dan isterinya menyukainya, dan kau pulalah yang telah memperkembangkan bunga kerdil itu, dan kau pulalah yang ini dan itu, dan kau dan kau…“ Suaranya menjadi serak parau, lalu “macam kau. Kami sedang mempercakapkan Putera Mahkota dan isterinya, bukan berbicara tentang kau. Kenapa kau berceritera tentang dirimu sendiri jauh lebih banyak dari tentang Putera Mahkota itu sendiri.”
“O, begitulah?”
“He,” sahut prajurit yang lain, “kau masih bertanya?”
Sumekar hanya tersenyum saja. Tetapi ditundukkannya kepalanya.
Sejenak kemudian langkah mereka-pun berhenti. Agaknya mereka sudah sampai pada deretan rumah-rumah kecil bagi para hamba istana Singasari.
“Terima kasih,” berkata Sumekar, “aku mengucap diperbanyak terima kasih.”
“Kau tinggal masuk dan berguling-guling di pembaringan. Kami masih harus kembali kegardu dan bertugas sampai pagi dan siang hari besok sebelum pengganti kami datang. Mudah-mudahan kau nanti malam diterkam oleh orang berkerudung itu.”
“Ah tentu tidak. Kenapa aku?”
“Kaulah yang menyebabkan para prajurit menemukannya.”
“Tidak, tidak.”
Kedua prajurit itu tersenyum. Ditinggalkannya Sumekar yang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam biliknya dan menutup pintunya rapat-rapat.
Namun ketika langkah kedua prajurit itu menjauh Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia duduk di pembaringannya sambil berdesah. Agaknya Anusapati hampir terdesak oleh Tohjaya untuk tidak dapat ingkar lagi dari perselisihan yang terbuka.
“Mahisa Agni-pun sudah menyadarinya,” berkata Sumekar di dalam hati. “Tetapi bahwa orang itu telah mengganggu isteri dan putera Anusapati itu sama sekali kurang dapat dimengerti. Dan itu adalah tindakan yang sangat licik.”
Sekali lagi Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Memang ia tidak dapat berpendapat lain, bahwa guru Tohjaya itu adalah orang yang licik sekali. Kegagalannya membunuh Mahisa Agni tanpa diketahui sebab-sebabnya itu telah membuatnya semakin bingung. Sampai saat ini guru Tohjaya itu tidak tahu, kenapa Mahisa Agni masih hidup dan kenapa saudara-saudara seperguruannya yang diandalkan itu tidak berbuat sesuatu atau akibat-akibat lain yang telah timbul.
Sehingga baik bagi guru Tohjaya maupun bagi Sri Rajasa, akhir dari ceritera orang-orang yang mereka perintahkan untuk membunuh Mahisa Agni itu masih merupakan teka-teki yang belum terjawab, karena mereka tidak dapat bertanya kepada siapa-pun apa yang sebenarnya telah terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kini satu peristiwa telah terjadi lagi. Tentu bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Hal ini pasti hanya merupakan suatu rangkaian dari rencana yang lebih besar dan panjang.
Ternyata peristiwa malam itu telah menggemparkan isi istana Singasari. Laporan berjalan bersimpang siur menuju ke saluran masing-masing. Namun pada hari itu juga hampir semua Senapati dan Panglima sudah mendengar, apa yang telah terjadi di bangsal Putera Mahkota.
Anusapati sendiri tidak dapat menentukan apakah yang sebenarnya sedang berlangsung di bangsalnya karena ia malam itu sedang tidak berada di istana.
“Tetapi hal ini telah menjadi pembicaraan para Senapati Tuanku,” berkata Sumekar ketika ia sempat menemui Anusapati disudut halaman bangsalnya.
“Ya. Tetapi sampai dimana akibat dari laporan-laporan mereka itulah yang masih harus ditunggu.”
“Namun yang penting adalah persoalan ini menjadi persoalan yang terbuka. Hampir semua orang mendengar peristiwanya, sehingga mereka-pun akan menunggu hasil penyelidikan para prajurit.”
“Jawabnya akan sangat mudah,” berkata Putera Mahkota, “seperti yang sudah. Para prajurit dari pasukan pengawal belum menemukan jejaknya. Apakah orang-orang di istana, bahwa para prajurit dan Senapati pernah mempersoalkan, kenapa orang berkerudung hitam yang pernah langsung berhadapan dengan Sri Rajasa sendiri, dan orang berkerudung yang lain-lain? Semuanya itu berlaku dengan diam-diam.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia menjawab, “Tetapi yang penting bagi tuanku, rakyat mengetahui bahwa tuanku sedang mengalami gangguan. Bukan saja secara pribadi tetapi juga keluarga tuanku.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Apabila pada suatu saat dapat diketemukan, maka kebencian orang terhadap mereka yang berusaha mengganggu tuanku akan memuncak dan mematangkan sikap yang dapat tuanku ambil terhadap mereka itu.”
Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau benar paman. Tetapi kapan aku dapat mengambil sikap itu?”
Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tuanku masih harus menunggu isyarat dari Pamanda Mahisa Agni. Tetapi sebaiknya tuanku segera mempersiapkan suatu sikap terakhir yang dapat tuanku ambil segera. Kegagalan orang-orang yang tidak menyukai tuanku tentu tidak hanya akan terhenti pada membakar semacam getah untuk menakut-nakuti tuan puteri dan putera tuanku itu.”
Putera Mahkota mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya justru menjadi semakin murung. Apakah pada suatu saat ia akan benar-benar dihadapkan pada Ayahanda Sri Rajasa? Apakah pantas bahwa seorang anak harus bermusuhan dengan ayah sendiri?
Anusapati masih dapat mengerti, jika ia harus bertengkar dan bahkan sampai pada puncak perselisihan dengan adiknya Tohjaya, karena tidak seibu. Dan seandainya setiap orang menilai bahwa perselisihan itu timbul karena Singgasana Singasari, itu-pun masih cukup berharga, karena ia sudah diangkat menjadi Putera Mahkota, sehingga setiap perselisihan ia berada pada keadaan mempertahankan diri.
Tetapi alangkah tidak pantasnya apabila ia pada suatu saat harus membela diri sekali-pun atas ayahnya sendiri. Tidak banyak orang yang dapat mengerti persoalan yang sebenarnya. Tidak banyak orang yang akan mengatakan bahwa Sri Rajasa telah berpihak kepada Tohjaya di dalam perselisihan antara putera-puteranya. Sebagian rakyat Singasari pasti akan menuduhnya berusaha mempercepat penyerahan Mahkota kepadanya atas keinginannya. Dan itu sangat tidak pantas.
Meskipun demikian, apakah ia tidak berhak membela dirinya sendiri meskipun terhadap ayahandanya? Dan apakah benar-benar akan terjadi, bahwa ayahandanya akan tenggelam dalam perselisihan ini dan langsung berpihak kepada Tohjaya?
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, ia harus mematangkan sikap. Apa yang harus dilakukannya, jika keadaan memang memaksa.
Sekilas terbayang wajah ibunya yang selalu muram. Kecantikan ibunya tinggal merupakan bayangan yang kabur di wajahnya yang terlampau cepat menjadi tua. Sedang ibunya yang lain, Ken Umang masih tetap tampak muda dan segar, meskipun puteranya, Tohjaya telah menjadi dewasa pula.
Semakin tua ibunda permaisuri, semakin besar dorongan ibunda Ken Umang atas Ayahanda Sri Rajasa untuk menyingkirkan aku dan menempatkan Tohjaya pada kedudukan ini.
Namun tiba-tiba saja Anusapati menggeram. “Hanya keturunan Ken Dedes sajalah yang dapat menduduki Singasari. Apa-pun yang harus aku lakukan untuk mempertahankannya.”
Dalam pada itu, sekali lagi guru Tohjaya itu mengumpat-umpat. Ia gagal lagi untuk membuat suatu kesan tersendiri pada keluarga Anusapati dengan menakut-nakutinya.
“Prajurit-prajurit itu bodoh sekali. Kenapa mereka ribut dengan bau wangi itu juga, sehingga usahaku untuk menakut-nakuti isteri Anusapati itu gagal? Jika ada bau wangi lagi di sekitar bangsal itu, tidak akan ada lagi orang yang berpikir tentang hantu. Semua orang sekarang tahu, bahwa usaha itu adalah usaha seseorang,” guru Tohjaya itu mengumpat-umpat tidak ada habis-habisnya.
“Setiap orang kini mempersoalkannya,” katanya kepada diri sendiri, “untunglah bahwa aku sempat melarikan diri malam itu. Jika tidak, maka aku akan menyeret diriku sendiri ke tiang gantungan tanpa perlindungan. Sri Rajasa tidak akan mengaku dan memberikan ampunan untuk membersihkan namanya sendiri.”
Dan kegagalan ini agaknya membuat penasehat Sri Rajasa itu benar-benar kebingungan. Apalagi yang dapat dilakukan untuk mengecilkan Anusapati dari segala segi. Ia berharap bahwa dengan demikian isteri Anusapati akan menuntut suaminya untuk tetap tinggal di rumah seperti anggapan rakyat Singasari dahulu terhadapnya, sebelum ia menemukan jalan lain yang lebih baik.
Namun akhirnya Tohjaya berkata kepada gurunya, “Guru, tidak ada jalan yang lebih baik daripada membunuh Kakanda Anusapati itu sendiri.”
Gurunya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah tuanku. Seperti tuanku ketahui, ternyata tuanku Putera Mahkota memiliki kemampuan yang tiada taranya.”
“Guru harus dapat membujuk ayahanda. Kakanda Anusapati tidak akan tersingkir dari kedudukannya selain mati.”
“Kita sudah menjebaknya dengan bermacam-macam cara. Tetapi usaha itu selalu gagal. Ia adalah Putera Mahkota yang berhak mendapatkan pengawalan setiap saat ia kehendaki. Selebihnya ia sendiri mampu mengimbangi kekuatan seseorang yang paling kuat sekalipun di Singasari, selain Sri Rajasa sendiri dan Mahisa Agni.”
“Aku belum meyakini,” berkata Tohjaya, “namanya terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada kekuatan sebesar itu padanya.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi mungkin kita lebih baik berhati-hati. Karena itu alangkah baiknya jika ayahanda sendiri melakukannya dengan cara dan alasan apa-pun juga.”
Penasehat Sri Rajasa itu menelan ludahnya. Wajahnya menjadi tegang dan untuk sejenak ia tidak berkata sepatah katapun.
Tohjaya-pun mengerti betapa beratnya seorang yang harus memusuhi anaknya sendiri, apalagi membunuhnya. Tetapi ayahnya memang harus memilih. Anusapati atau Tohjaya. Jika ayahnya memang ingin menyingkirkan Anusapati dan memberi kesempatan kepada Tohjaya, maka jalan satu-satunya adalah membunuh Anusapati.
“Baiklah tuanku,” berkata gurunya, “hamba akan mencoba membujuk Ayahanda Sri Rajasa jika memang tidak ada jalan lain. Tetapi setiap kali kita masih harus memperhitungkan peranan Mahisa Agni. Jika terjadi perselisihan terbuka antara Ayahanda Sri Rajasa dengan Mahisa Agni yang kini berada di Kediri, maka kemungkinan yang luas dapat terjadi. Mahisa Agni bukan tidak mempunyai pengikut. Apalagi jika ia berusaha menyusun kekuatan, maka itu akan sangat membahayakan Singasari sendiri.”
“Terserah kepada kebijaksanaanmu,” berkata Tohjaya, “kau harus memperhitungkan segala kemungkinan dari segala segi. Tetapi tujuan terakhir adalah membinasakan Kakanda Anusapati. Akan lebih baik lagi jika paman Mahisa Agni-pun telah terbunuh pula.”
“Ya, ya. Tetapi kita harus sadar, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang berat sekali.”
Namun ternyata bahwa penasehat Sri Rajasa itu menyampaikannya pula kepada Sri Rajasa meskipun tidak langsung. Dengan hati-hati dan penuh dengan perumpamaan dan sindiran. Apalagi penasehat Sri Rajasa itu sudah mengetahui pula, bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa.
“Apakah Tohjaya mengetahuinya?” bertanya Sri Rajasa.
“Aku kira belum tuanku.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah merasa prihatin karena sikap Tohjaya itu. Tanpa mengetahui bahwa Anusapati itu bukan saudaranya, ia sampai hati mengajukan tuntutan sejauh itu seperti yang pernah didengarnya, meskipun samar-samar. Dan kini sekali lagi ia disentuh oleh perasaan itu.
“Apakah jika sampai saatnya, Tohjaya yang sampai hati melepaskan kakaknya itu akan sampai hati pula melepaskan ayahnya?” pertanyaan itu timbul juga di hati Sri Rajasa.
Tetapi Sri Rajasa sudah menuntun anak laki-lakinya itu sampai ke tengah sungai yang banjir. Bagaimana-pun juga ia sudah menjadi basah. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan perjalanan sampai ke seberang. Dan di dalam hati Sri Rajasa itu-pun berkata, “Baiklah. Anusapati memang harus mati.”
Demikianlah meskipun belum terucapkan, janji itu sudah terpateri di dalam hati Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa. Ia mulai menginjakkan kakinya di istana Tumapel dengan, mencuci tangannya dengan darah. Kini ia akan melangsungkannya dengan tetesan darah pula.
Memang bagi Ken Arok tugas yang paling akhir harus dilakukan di dalam kedudukannya, adalah berusaha menyingkirkan semua bekas-bekas kekuasaan Tunggul Ametung. Anusapati apabila sempat duduk di atas tahta, akan berarti kembalinya kekuasaan Tunggul Ametung itu. Dan habislah darah keturunan Sri Rajasa yang hanya berkuasa satu keturunan saja. Dirinya sendiri.
Kadang-kadang terbersit pula suatu pertanyaan, kenapa ia tidak berusaha untuk mengangkat keturunannya yang lahir dari Ken Dedes, karena mau tidak mau ia harus mengakui, kekuasaan yang ada padanya, bersumber kepada kekuasaan yang diwarisi oleh Ken Dedes dari Tunggul Ametung, yang sadar atau tidak sadar, telah menyerahkan semua yang ada padanya, kepada permaisurinya itu.
“Jika aku mengangkat Mahisa Wonga Teleng, maka keadaannya akan berbeda. Mungkin Anusapati tidak akan banyak menentang keputusan itu, karena ia amat cinta kepada ibunya. Apalagi jika berterus terang kepadanya, bahwa ia adalah keturunan Tunggul Ametung,” berkata Ken Arok di dalam hati, “kenapa aku tergesa-gesa mengangkatnya menjadi Putera Mahkota sekedar untuk mendapat kesempatan memanjakan Tohjaya dan ibunya?”
Tetapi Ken Arok-pun tidak dapat ingkar, bahwa maksudnya bukan saja sekedar menyenangkan hati Ken Dedes karena ia lebih banyak berhubungan dengan Ken Umang, tetapi juga karena waktu itu masih ada kekuatan yang tidak dapat melupakan kekuasaan Tunggul Ametung. Pengangkatan Anusapati membuat mereka diam dan tidak berbuat banyak, sehingga akhirnya kedudukan Sri Rajasa menjadi kuat. Namun dalam pada itu di luar perhitungannya, Anusapati telah berhasil mengangkat namanya sendiri atas dukungan Mahisa Agni, sehingga bagi rakyat Singasari Kesatria Putih adalah lambang perlindungan mereka.
“Tetapi Kesatria Putih tidak berhasil melindungi bangsalnya sendiri,” tiba-tiba saja pada suatu saat Ken Arok justru memanggil Anusapati dan menuduhkannya berbuat lengah, sehingga menimbulkan sedikit gangguan keamanan di halaman istana.
“Kau terlalu banyak meninggalkan keluarga dan bangsalmu di malam hari sehingga menjadi sasaran gangguan orang jahat. Akibatnya seluruh istana mengalami kejutan.”
“Hamba akan menegur para prajurit yang bertugas waktu itu ayahanda,” berkata Anusapati, “mereka seharusnya tidak membiarkan hal itu terjadi.”
“Apakah yang dapat dilakukan oleh Kesatria Putih di rumahnya sendiri?”
Pertanyaan ini sangat mengherankan bagi Anusapati. Ia tidak menyangka bahwa ayahandanya dapat melemparkan kesalahan itu kepadanya.
“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “kau harus ikut bertanggung jawab atas keamanan istana ini. Kau jangan sekedar mendapat pujian saja dengan usahamu itu, dengan nama yang besar, Kesatria Putih, tetapi justru karena itu kau sudah melepaskan tanggung jawabmu sendiri di dalam istana ini.”
Benar-benar suatu keadaan yang tidak diduganya.
“Sejak sekarang, kau tidak boleh lagi memberikan peluang kepada siapa-pun untuk mengguncangkan keamanan istana. Aku tidak menghalangi usahamu untuk memupuk nama baikmu, tetapi kau tidak boleh melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Putera Mahkota.”
Anusapati benar-benar tidak tahu, apakah tugas itu tugas seorang Putera Mahkota. Seharusnya ayahandanya marah dan meletakkan tanggung jawab kepada Senapati yang bertugas waktu itu. Bukan kepadanya.
Tetapi Anusapati tidak menghiraukannya lagi. Ia justru sudah menemukan dirinya sendiri, sehingga tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia harus tetap berdiri pada garis perjuangannya.
Tetapi ketika ia keluar dari bangsal, ia masih harus menelan kata-kata Tohjaya yang seolah-olah memang sengaja menunggunya, “Kakanda Anusapati, siapakah sebenarnya orang yang membuat seisi istana ini merasa terhina?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?”
“Orang itu hadir setiap saat Kakanda Anusapati sedang pergi.”
“Aku tidak tahu. Aku akan bertanya kepada para penjaga.”
Tetapi Tohjaya tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kakanda masih saja suka bermain-main dengan kerudung hitam.”
“He,” Anusapati terkejut.
“Bukankah kadang-kadang kakanda mengenakan kerudung putih tetapi kadang-kadang mengenakan kerudung hitam? Apakah kakanda sebenarnya sudah jemu terhadap isteri dan anak kakanda yang mungil itu?”
“Adinda Tohjaya. Kenapa kau berpikir sampai kesitu? Aku sama sekali bukan pengecut seperti yang kau bayangkan. Jika aku akan mengusir mereka, aku tidak perlu menakut-nakuti seperti permainan anak-anak cengeng. Apakah pada saat aku harus datang kepadamu dan membawa orang yang kau cari itu?”
Wajah Tohjaya menjadi merah. Apalagi gurunya yang ada didekatnya pula. Meskipun Anusapati hanya berkata asal saja melepaskan kejengkelannya, namun tumbuh pertanyaan di hati mereka, apakah sebenarnya Anusapati sudah mengetahui siapakah yang melakukannya?
Anusapati tidak menunggu Tohjaya menjawab lagi. Dengan tanpa berpaling ditinggalkannya adiknya berdiri termangu-mangu.
Namun pertemuan yang sepintas itu telah membuat jarak antara kedua kakak beradik itu menjadi semakin jauh. Anusapati menjadi semakin yakin, bahwa adiknya sama sekali tidak lagi dapat mendekatkan diri kepadanya, bahkan tampaknya semakin lama menjadi semakin jauh.
“Suasana di istana ini bagaikan gunung Kelut yang dengan perlahan-lahan menjadi semakin panas. Pada saatnya pasti akan terdengar ledakan yang dahsyat, yang akan mengguncangkan sendiri kehidupan di seluruh Singasari,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
Dan Anusapati-pun tidak dapat tinggal diam menunggu apa yang akan terjadi. Ia harus siap menyongsong keadaan jika benar-benar istana Singasari akan meledak.
“Aku harus menghubungi paman Mahisa Agni,” berkata Anusapati kepada Sumekar, “semuanya sekarang rasa-rasanya menjadi lain. Aku tidak mengerti, kenapa ayahanda semakin menjauhi aku, dan Adinda Tohjaya tampaknya semakin membenciku. Aku sudah berusaha sejauh mungkin tidak menimbulkan persoalan apa-pun dengan Adinda Tohjaya. Tetapi ada saja persoalan-persoalan yang dipakainya sebagai alasan.”
“Tuanku memang harus berhati-hati,” berkata Sumekar. “baiklah hamba akan menghubungi orang-orang yang akan dapat menyampaikannya kepada pamanda tuanku di Kediri. Mungkin Witantra, mungkin kakang Kuda Sempana.”
“Terima kasih paman. Baik dalam hubungan sehari-hari, maupun firasat di dalam hati, rasa-rasanya sesuatu akan segera terjadi.”
Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia-pun sependapat. Namun yang lebih memberati perasaan Anusapati adalah justru keadaan diri sendiri. Bahkan ledakan itu seakan-akan akan terlontar dari dirinya.
Dan sikap Sri Rajasa di hari-hari berikutnya memang tidak menyenangkan sama sekali. Bahkan hampir tidak masuk akal, bahwa pada suatu saat Anusapati dipanggil oleh Sri Rajasa, bukan pada saatnya ia harus menghadap. Adalah di luar nalarnya, bahwa ia sebagai Putera Mahkota telah dimarahi oleh Ayahanda Sri Rajasa dihadapan beberapa orang Panglima, hanya karena ia dianggap menghina Tohjaya.
“Kau harus menjadi contoh yang sebaik-baiknya bagi rakyat Singasari,” berkata Sri Rajasa, “jika kau masih bersikap cengeng, kau akan mengalami perlakuan yang cengeng pula.”
Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia mengharap Sri Rajasa mengambil suatu sikap atas peristiwa yang pernah terjadi di bangsalnya, namun yang dihadapinya justru adalah persoalan lain, persoalan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu.
“Jika kau masih menganggap Tohjaya sebagai sainganmu,” berkata Sri Rajasa pula, “hanya karena ia berbeda ibu, maka kau adalah orang yang berpikiran sangat sempit. Kau jangan menganggap dirimu mempunyai kelebihan daripadanya. Hanya karena kau lahir lebih dahulu sajalah maka kau diangkat menjadi Putera Mahkota. Tetapi itu bukan hak mutlak bagimu. Jika aku menganggap kau tidak mampu menunaikan tugas itu, apalagi kelak menjadi Maharaja Singasari, aku dapat mengambil keputusan lain.”
Rasa-rasanya Anusapati hampir tidak tahan lagi duduk bersimpuh dihadapan ayahanda dan para Panglima. Ingin agaknya ia meloncat berlari kembali ke bangsalnya. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa ia sedang menghadap Ayahanda Sri Rajasa.
“Nah, kembalilah ke rumahmu. Renungkan kata-kataku. Ternyata kau sangat mengecewakan aku.”
Serasa dada Anusapati akan pecah. Namun ia masih tetap berhasil menguasai dirinya dan meninggalkan bangsal itu. Tetapi tanpa disadarinya terasa matanya menjadi basah.
Dengan langkah yang berat ia berjalan di lorong-lorong di halaman istana Singasari. Kepalanya tertunduk dalam-dalam memandang batu-batu kerikil dibawah kakinya. Dan kaki itu seakan-akan bergerak sendiri di luar kemauannya.
Anusapati berhenti termangu-mangu ketika ia sadar, bahwa ia berada didepan bangsal Permaisuri. Dengan hati yang berdebar-debar ia melangkah naik. Ibunda Permaisuri sudah lama tidak lagi nampak pada paseban agung. Agaknya ia justru telah mengasingkan dirinya sendiri.
Ketika Ken Dedes melihat kehadiran anaknya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya wajah Anusapati yang pucat dan dadanya yang bergetar.
“Kemarilah anakku,” suara Ken Dedes parau.
Memang rasa-rasanya ada getaran yang telah lebih dahulu menyentuh dinding jantung ibunda Ken Dedes.
Dengan wajah yang tunduk Anusapati duduk dihadapan ibunya.
“Kau datang dengan wajah yang terlampau muram Anusapati?” bertanya ibunya.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Kebimbangan yang dalam telah membayangi perasaannya.
“Apakah ada sesuatu yang merisaukan hatimu?”
Anusapati menjadi semakin tunduk. Dan tiba-tiba seperti kanak-anak Anusapati menitikkan air matanya.
“He, Anusapati,” berkata ibunya, “kau adalah seorang laki-laki. Kau adalah seorang Kesatria, dan apalagi kau telah dinamai Kesatria Putih. Kenapa kau menitikkan air mata seperti seorang perempuan? Jangan anakku. Jangan menjadi cengeng. Kau adalah seorang laki-laki jantan yang mengagumkan.”
Kata-kata ibunya itu telah menyentuh hati Anusapati. Dengan tergesa-gesa ia mengusap air mata yang membasahi pelupuknya dan menahan gejolak perasaan di dalam dadanya.
“Anusapati,” suara ibunya menjadi serak, “kenapa kau tidak lagi dapat menahan perasaanmu. Aku sudah terlampau sering melihat wajahmu yang muram. Tetapi kali ini kau telah menitikkan air mata. Tentu ada sesuatu yang telah menyayat hatimu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah kau datang untuk mengatakan kepadaku, bahwa hatimu telah tersentuh oleh sikap atau kata-kata seseorang?”
Perlahan-lahan Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Ayahandamu Sri Rajasa?”
Sekali lagi Anusapati mengangguk.
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan Ken Dedes bergeser mendekati puteranya. Diusapnya kepala Putera Mahkota itu sambil berkata, “Anusapati. Kau harus tetap sadar, bahwa kau adalah seorang laki-laki. Seorang Kesatria. Apa-pun yang terjadi atasmu, sentuhan lahiriah atau sentuhan batiniah harus kau tanggapi dengan sikap kesatria. Kau tidak boleh lekas tersinggung karenanya. Kau harus memandang jauh ke depan, tetapi juga ke belakang. Kau harus mencoba mencari pada dirimu sendiri, apakah kau memang bersalah.”
“Ibunda,” berkata Anusapati, “hamba selalu mencoba mencari, apakah hamba bersalah. Setiap, kali Ayahanda Sri Rajasa marah kepada hamba, hamba selalu mencoba mencari kesalahan hamba seperti yang dituduhkan Ayahanda Sri Rajasa kepada hamba. Dan persoalannya selalu serupa, yaitu bahwa Adinda Tohjaya telah mengadu kepada ayahanda.” Anusapati berhenti sejenak. Terasa tenggorokannya menjadi panas. Tetapi ia mencoba bertahan sebagai seorang laki-laki seperti yang dikatakan oleh ibunya.
“Ibunda,” berkata Anusapati kemudian, “hamba sekarang sudah bukan kanak-anak lagi. Tetapi persoalan itu masih saja berulang. Ayahanda telah marah kepada hamba dihadapan beberapa orang pemimpin tertinggi di Singasari, dan menuduh hamba bahkan diancam oleh ayahanda, bahwa kedudukan hamba itu akan dapat diambilnya. Apabila ayahanda menghendaki, maka ayahanda dapat menunjuk Adinda Tohjaya untuk menggantikan hamba.”
“Tidak. Tidak mungkin.” ibunya menyahut dengan serta merta. Namun kemudian suaranya menurun, “Tidak Anusapati. Seharusnya ayahandamu tidak mengatakan demikian.”
“Kenapa tidak ibunda. Ayahanda adalah seorang Maharaja yang paling berkuasa di daerah Singasari. Ayahanda telah berhasil menjadikan Singasari ini suatu negara yang besar. Ayahanda mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Kenapa ayahanda tidak dapat berbuat demikian?”
“Kau adalah putera tertua yang lahir dari Permaisuri. Kaulah paling berhak atas tahta Singasari. Bukan orang lain. Bahkan seandainya kau tidak dapat melakukan tugasmu karena suatu sebab yang sah, maka adindamu Mahisa Wonga Teleng lah yang berhak menggantikan kedudukanmu. Bukan Tohjaya.”
Anusapati menundukkan kepalanya semakin dalam, lalu katanya, “Ibunda. Ayahanda lebih berkuasa dari ketetapan-ketetapan yang berlaku. Ayahanda dapat membuat ketetapan-ketetapan baru. Janganlah atas tahta Singasari. Bahkan tahta Kediri-pun telah diputusnya sama sekali dan direnggutnya dari hak yang sewajarnya. Apakah arti hak atas tahta Singasari itu bagiku, ibunda?”
Ken Dedes tidak segera menjawab. Ia mengerti kata-kata anaknya, bahwa Sri Rajasa dapat saja memindahkan hak kepada siapa-pun yang dikehendakinya, karena kekuasaannya.
Namun demikian ia berkata, “Jangan risau anakku. Aku adalah Permaisuri di Singasari. Aku tidak pernah mempersoalkan hak atas diriku sendiri. Aku tidak pernah mempersoalkan hadirnya seorang perempuan lain di dalam istana ini. Tetapi aku akan mempersoalkan hakmu, hak atas tahta di Singasari, sebagai kelanjutan hak tahta Tumapel.”
“Apa hubungannya dengan hak atas tahta Tumapel ibunda. Tumapel adalah suatu daerah Akuwu yang kecil, yang kemudian menurut sejarahnya, oleh ayahanda telah dijadikan suatu negara Singasari yang sekarang. Apakah artinya Tumapel itu bagi Ayahanda Sri Rajasa?”
Ken Dedes terdiam sejenak. Terasa sesuatu menghentak-hentak didadanya. Sekilas terkenang olehnya kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung yang kecil yang berada di bawah kekuasaan Kediri. Yang kemudian oleh Sri Rajasa berhasil dikembangkan, dan berhasil mengikat Kediri dalam suatu daerah kekuasaan yang disebutnya Singasari.
“Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apa yang telah terjadi sebenarnya,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya.
Namun serasa hatinya tergores duri ketika ia mendengar Anusapati bertanya, “Ibunda, apakah sebenarnya latar belakang dari tindakan-akan ayahanda yang hamba rasa kurang adil, karena selama ini hamba tidak pernah menemukan kesalahan pada diri hamba, sehingga kadang-kadang terpikir oleh hamba, bahwa sebenarnya kesalahan yang dituduhkannya itu adalah kesalahan yang sekedar dicari-cari.”
“Anusapati,” potong Ken Dedes, “jangan berpikir begitu. Jangan menyiksa diri dengan dugaan-dugaan dan khayalan-khayalan yang menakutkan itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Apakah ibu masih menganggap aku berkhayal?”
Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga karena itu maka sejenak ia menjadi bingung dan tidak mengerti bagaimana harus menjawab.
Anusapati memandang wajah ibunya yang tiba-tiba menjadi pucat. Karena itu, maka Ia-pun segera menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata ibunya yang suram.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar