Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 30-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 30-01
Dalam pada itu, selagi pasukan Watu Mas mulai memasuki hutan perbatasan, asap pun telah mengepul membakar perkemahan yang berisi perbekalan dan perlengkapan yang tidak dapat disingkirkan oleh orang-orang Watu Mas. Lebih baik segalanya itu musna daripada jatuh ke tangan orang-orang Kabanaran. Namun agaknya orang-orang Watu Mas masih beruntung. Demikian mereka memasuki hutan perbatasan dalam gerak mundur, maka langit pun menjadi muram. Matahari yang rendah pun segera menyusup ke balik pegunungan.

Malam itu ditandai dengan cahaya api yang berkobar membakar perkemahan orang-orang Watu Mas.

Akuwu Suwelatama yang melihat bahwa Watu Mas telah menghancurkan sendiri perbekalannya, mempunyai perhitungan bahwa pasukan Watu Mas itu akan terus bergerak mundur kembali ke Pakuwonnya. Sementara malam turun dan gelap bagaikan tabir hitam di pelupuk mata, maka Akuwu pun segera memerintahkan membunyikan isyarat agar pasukan Kabanaran segera berkumpul di pinggir hutan. Akuwu tidak menghendaki pasukannya mengejar terus memasuki hutan di malam hari, karena hal itu tidak akan menguntungkan.

Dengan demikian, maka pasukan Kabanaran telah berkumpul di pinggir hutan perbatasan. Dengan cemas mereka menyaksikan perkemahan orang-orang Watu Mas yang terbakar. Jika api itu kemudian menjilat bibir hutan, maka kebakaran akan timbul lebih mencemaskan lagi dari kebakaran perkemahan itu, atau bahkan kebakaran di padukuhan sekalipun. Karena kebakaran hutan akan dapat menjadi bencana yang besar karena api akan sulit dipadamkan.

Karena itu, maka agaknya Akuwu pun melihat bahaya yang demikian, sehingga ia pun kemudian memerintahkan pasukannya untuk memadamkan api dengan alat yang ada. Dengan pasir, dengan air yang harus dicari pada sungai-sungai kecil yang terdapat di hutan itu sendiri.

Mereka mengatasi kesulitan membawa air dari sungai-sungai kecil itu dengan tapas atau kayu yang dapat mereka buat dengan tergesa-gesa. Meskipun kurang memadai, tetapi karena jumlah para pengawal cukup banyak, maka akhirnya usaha mereka pun perlahan-lahan dapat berhasil. Sebagian dari para pengawal itu telah menebang pepohonan hutan yang akan mudah dijilat oleh api sementara yang lain berusaha memadamkan api itu sendiri.

Perjuangan melawan api itu pun cukup melelahkan. Sementara itu beberapa orang yang berkewajiban telah berusaha merawat orang-orang yang terluka dan menjadi korban di dalam peperangan itu.

Malam itu, pasukan Kabanaran menarik diri ke padukuhan induk pertahanan dalam keadaan yang sangat letih. Setelah bertempur dengan segenap kemampuan, mereka harus berjuang melawan api dan merawat mereka yang terluka. Bukan hanya orang-orang Kabanaran, tetapi juga orang-orang Watu Mas, karena pasukan Watu Mas sendiri telah mengundurkan diri dari arena. Yang lain masih harus menyelenggarakan kawan-kawan mereka dan juga lawan-lawan mereka yang terbunuh di peperangan.

Namun demikian, orang-orang Kabanaran dapat merasakan kebanggaan, bahwa mereka dapat menyelesaikan peperangan dengan mengusir orang-orang Watu Mas dari daerah mereka. Bahkan tidak mustahil, bahwa apabila pasukan Watu Mas mendapat kemenangan dalam pertempuran itu, mereka akan merambat menuju ke kota Pakuwon dan bahkan mungkin sekali Watu Mas benar-benar akan menguasai Kabanaran. Baru kemudian dengan dalil apapun juga Watu Mas dapat saja memberikan laporan ke Kediri dengan memutar-balikkan kenyataan.

Malam itu Akuwu masih memanggil para senopatinya untuk membicarakan perkembangan terakhir dari peperangan yang nampaknya telah hampir selesai seluruhnya itu. Meskipun demikian, Akuwu masih ingin memperingatkan, bahwa mereka masih harus bersiaga menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang masih akan dapat terjadi.

Di antara para senopati itu terdapat Mahisa Bungalan. Secara khusus Akuwu telah menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Mahisa Bungalan dan berharap untuk beberapa lama masih tetap berada di Kabanaran.

Dalam pada itu, pasukan Watu Mas benar-benar telah terusir dari medan. Meskipun pasukan Kabanaran tidak mengejar pasukan Watu Mas karena malam telah turun, namun pasukan Watu Mas sendiri tidak akan mungkin lagi untuk kembali ke medan seperti keadaannya waktu itu.

Dalam gerak mundur, Akuwu masih tetap berhasil mengikat pasukan Watu Mas. Karena itu, ia masih dapat memanggil pula para senopatinya, demikian mereka sempat beristirahat di tengah-tengah hutan perbatasan.

“Kita menarik diri untuk sementara.” berkata Akuwu.

Pangeran Indrasunu menarik nafas. Rasa-rasanya ia pun sudah jemu dengan peperangan itu. Tiba-tiba saja telah timbul rencananya yang lain, didorong oleh dendamnya kepada Mahisa Bungalan.

“Aku akan mengambil gadis itu,” katanya berulang kali di dalam hatinya, “bersama kedua orang guru saudara-saudaraku itu, aku tentu akan berhasil. Di rumah Mahisa Bungalan tidak ada orang yang cukup kuat untuk melindungi gadis itu, justru karena Mahisa Bungalan ada di sini. Tentu kedua orang pamannya itu berada di sini pula. Seandainya ayah Mahisa Bungalan ada di rumah, maka ia tentu akan mampu melawan dua orang pemimpin padepokan yang mumpuni itu. Sementara aku dan kedua orang Pangeran itu akan mengambil Ken Padmi dan membawanya pergi kemana pun juga.”

Pangeran Indrasunu itu tersenyum sendiri.

Selanjutnya Pangeran Indrasunu itu seakan-akan tidak menghiraukan apa yang telah terjadi. Ia tidak menghiraukan lagi rencana-rencana Akuwu yang secara kasar diuraikan kepada pada Senopatinya, bahwa dalam waktu tidak terlalu lama, maka ia akan menebus kekalahan itu.

Namun demikian, ketika mereka kemudian memasuki Pakuwon Watu Mas dalam keadaan yang parah, Pangeran Indrasunu telah memaksa dirinya untuk mengatur orang-orang yang dibawanya.

Sebenarnya bahwa orang-orang yang dibawa oleh Pangeran Indrasunu dari dua padepokan yang besar dan berpengaruh itu, memiliki kemampuan yang lebih baik dari para pengawal dari Watu Mas. Apalagi para pengawal yang dibentuk menghadapi keadaan yang gawat di saat-saat terakhir.

Ternyata bahwa korban yang jatuh di antara orang-orang yang diperbantukan oleh Pangeran Indrasunu itu terhitung sedikit dibanding dengan korban yang jatuh dari antara pasukan pengawal Watu Mas sendiri.

Kehadiran pasukan pengawal Watu Mas di antara rakyatnya di hari berikutnya telah disambut dengan wajah-wajah muram. Di beberapa wajah nampak air mata yang mengalir, karena anak laki-laki yang dicintainya, suami yang melindungi hidupnya atau ayah yang mengasihinya telah direnggut oleh peperangan.

Apalagi pasukan Watu Mas tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa mereka telah terpukul mundur, sehingga mereka kembali ke Pakuwon dengan membawa kepahitan yang tidak terlupakan.

Sementara itu, pasukan Kabanaran masih berada di padukuhan induk pertahanan mereka. Mereka masih harus membenahi akibat peperangan yang parah bagi kedua belah pihak. Namun demikian beberapa bagian dari pasukan itu sudah dipersiapkan untuk ditarik kembali ke daerah tugas mereka yang lama.

Namun dalam pada itu, ternyata Akuwu masih minta Mahisa Bungalan untuk beristirahat barang beberapa saat di Pakuwon Kabanaran. Akibat peperangan itu masih harus diatasi.

“Mungkin sepekan, mungkin dua,” berkata Akuwu, “tetapi sebenarnya semakin lama semakin baik bagi kami.”

Mahisa Bungalan tidak dapat menolak. Ia pun merasa sangat letih, sehingga memerlukan waktu beberapa lama untuk beristirahat sebelum ia kembali ke Singasari.

Berbeda dengan Mahisa Bungalan, Pangeran Indrasunu ternyata dengan tergesa-gesa minta diri untuk meninggalkan Watu Mas.

“Aku harus mempertanggung-jawabkan orang-orang yang datang bersamaku,” berkata Pangeran Indrasunu, “aku akan membawa mereka segera kembali ke padepokan mereka masing-masing.”

“Sebaiknya Pangeran beristirahat lebih dahulu.” Akuwu di Watu Mas berusaha untuk mencegahnya.

Tetapi Pangeran Indrasunu menggeleng. Ia sudah mempunyai rencana sendiri. Dan ia mempunyai cukup kekayaan untuk memancing kedua pemimpin padepokan, guru dari kedua orang Pangeran yang telah bekerja bersamanya mengusir Pangeran Suwelatama dari kota Pakuwon. Justru pada saat pasukan Kabanaran sebagian berada di daerah Kedung Sertu, hutan perbatasan dan daerah-daerah rawan yang lain.

“Aku dapat menjanjikan kepada mereka, sebidang tanah yang luas untuk memperluas padepokan mereka.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya. ”Tidak perlu pasukan segelar sepapan. Dua orang guru dari kedua orang saudaraku, bersama kedua orang saudaraku itu sendiri. Tidak akan ada pertempuran yang besar dan kalut seperti yang baru saja terjadi. Tetapi sekedar permainan pendek untuk membunuh orang-orang yang mencoba menghalangi niatku.”

Pangeran Indrasunu yakin bahwa dua orang Pangeran itu akan bersedia membantunya. Tetapi seorang yang lain, yang telah kehilangan gurunya, masih belum dapat diharapkan, karena hatinya seakan-akan telah patah.

“Jika kedua pemimpin padepokan itu menolak, aku akan menghubungi Sepasang Serigala yang berada di padang perdu Geneng.” berkata Pangeran Indrasunu. “Meskipun orang lain menyebut namanya saja ketakutan, namun ia akan berpikir ulang untuk menolak tawaranku.”

Demikianlah, meskipun pasukannya baru beristirahat sehari di Pakuwon Watu Mas, namun Pangeran Indrasunu telah minta diri kepada Akuwu setelah ia tahu pasti, siapa saja di antara pasukannya yang menjadi korban. Sementara yang terluka parah dan tidak mungkin melakukan perjalanan, telah dititipkan di Pakuwon Watu Mas.

Tidak seorang pun yang mengetahui rencana Pangeran itu yang sebenarnya. Namun alasannya memang dapat di mengerti, bahwa ia harus mempertanggung-jawabkan pasukannya kepada para pemimpin padepokannya.

Kegagalan itu telah membuat para pemimpin di kedua padepokan yang telah menyerahkan sekelompok orang-orangnya menjadi kecewa. Beberapa di antara mereka telah menjadi korban, sementara Pangeran Indrasunu tidak berhasil melepaskan dendamnya meskipun ia telah bertempur bersama pasukan Watu Mas.

“Kita dahulu dapat memilih waktu yang paling tepat,” berkata Pangeran Indrasunu, ”meskipun hal itu hanya terjadi secara kebetulan dan tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.”

“Ya,” sahut salah seorang dari kedua Pangeran yang telah bergabung dengan Pangeran Indrasunu, “tetapi agaknya Akuwu Watu Mas kurang menghitung keadaan dengan cermat.”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Namun pada satu kesempatan ia berkata kepada kedua Pangeran itu, ”Aku mempunyai rencana khusus.”

“Apa?” bertanya salah seorang dari kedua Pangeran itu.

“Mengambil Ken Padmi. Gadis yang membuat dendamku menyala sampai sekarang.” jawab Pangeran Indrasunu.

Kedua Pangeran itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu salah seorang dari mereka bertanya, “Kau akan memperisterikannya?”

“Jangan bodoh,” jawab Pangeran Indrasunu, “aku sama sekali tidak tertarik lagi kepada perempuan itu. Tetapi yang penting bagiku kemudian adalah menyakiti hati Mahisa Bungalan.”

“Jadi apa yang akan kau kerjakan?” bertanya Pangeran yang lain.

“Sudah aku katakan, mengambil perempuan itu dan membawanya pergi. Menghinakannya sebagaimana Mahisa Bungalan akan merasa terhina.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Kita bertiga?” bertanya Pangeran itu.

Pangeran Indrasunu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Aku akan mohon kedua guru kalian masing-masing untuk menyertaiku. Aku akan dapat menyediakan sebidang tanah untuk memperluas padepokan mereka masing-masing.”

Tetapi kedua Pangeran itu agaknya tidak sependapat. Salah seorang berkata, “Guru sedang dibakar oleh kekecewaan. Bantuan yang diberikan kepada Akuwu di Watu Mas lewat kakangmas Indrasunu ternyata sama sekali tidak membawa hasil sebagaimana yang diharapkan.”

“Aku tetap akan menyerahkan sebidang tanah.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Hanya sebidang tanah. Tetapi jika rencana Akuwu di Watu Mas itu berhasil, maka yang akan diperoleh oleh guru adalah sebuah tanah Perdikan betapapun sempitnya.” berkata Pangeran itu.

Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat memberikan sebagaimana yang dikehendaki. Ia dapat membeli tanah yang luas dan memberikannya kepada orang-orang yang dikehendaki. Namun untuk memberikan kedudukan sebagai Tanah Perdikan, ia memang tidak berhak. Akuwu di Watu Mas akan dapat melakukannya atas kuasa yang diterimanya, meskipun yang berhak mengukuhkannya adalah Raja sendiri.

Karena itu, maka Pangeran Indrasunu itu pun berkata, “Tetapi bagaimana dengan kalian berdua?”

“Jika guru kami tidak dapat ikut bersama kami, apakah yang dapat kami lakukan? Bukankah gadis itu akan mendapat perlindungan dari orang-orang berilmu tinggi?” bertanya salah seorang Pangeran itu.

“Kita dapat berhubungan dengan orang-orang berilmu tinggi yang barangkali setingkat dengan guru kalian, meskipun dari daerah kehidupan yang berbeda.” Jawab Pangeran Indrasunu.

“Siapa?” bertanya salah seorang dari kedua Pangeran itu.

“Bagaimana dengan Wangkot dan Mendu yang terkenal dengan sebutan Sepasang Serigala dari padang perdu Geneng itu?” desis Pangeran Indrasunu.

Kedua Pangeran itu termangu-mangu. Salah seorang berkata, “Kedua orang itu sangat berbahaya.”

“Tetapi apakah keduanya berani berbuat sesuatu atas kita masing-masing? Mereka tentu mengetahui, siapakah kita masing-masing.” jawab Pangeran Indrasunu.

“Tetapi mereka pun tentu akan bertanya, kenapa kita minta tenaga mereka. Kenapa bukan guru. Bukankah mereka mengetahui bahwa guru memiliki ilmu yang tidak kalah dahsyatnya dengan ilmu mereka?” bertanya salah seorang dari kedua Pangeran itu.

“Guru sedang sibuk. Atau ambil saja alasan lain. Katakan bahwa guru telah mengenal dengan keluarga gadis itu, atau alasan apapun juga.” jawab Pangeran Indrasunu, “Kemudian aku akan menyediakan upah yang menyenangkan mereka. Bahkan mungkin tidak perlu sebanyak jika aku harus menyediakan sebidang tanah bagi padepokan kalian masing-masing.”

Kedua Pangeran itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka bertanya, “Tetapi apakah yang akan aku dapatkan dengan perbuatan ini? Kau akan mendapatkan gadis itu dan kau akan mendapat kepuasan untuk melepaskan dendam. Tetapi kami berdua?”

“Aku tidak memerlukan gadis itu lagi,” jawab Pangeran Indrasunu, “sudah aku katakan berulang kali. Ambillah jika kalian menghendaki. Gadis itu memang cantik sekali. Aku hanya ingin melihat betapa Mahisa Bungalan menjadi sakit hati dan kepahitan di sepanjang hidupnya. Dan sudah barang tentu, aku akan bersedia membantu kalian pada kesempatan lain jika kalian memerlukannya. Selebihnya, kalian akan dapat mengambil sebagian dari hakku. Aku memang bersedia membayar mahal sekali untuk kepuasan dendamku ini.”

Kedua Pangeran itu mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang kemudian berkata, “Terserahlah kepadamu. Tetapi jika Wangkot dan Mendu bersedia, maka pekerjaan kita memang sudah menjadi ringan. Keduanya adalah orang yang jarang ada bandingnya di seluruh tlatah Singasari. Ternyata bahwa mereka masih belum juga dapat ditangkap meskipun keduanya sudah lama dianggap sebagai orang yang tidak dikehendaki.”

“Sebenarnya mereka bukannya orang yang tidak terlawan. Aku yakin guru kalian akan dapat melawannya. Para Senapati di Kediri atau Singasari akan dapat mengalahkan mereka meskipun satu dua saja di antara mereka. Namun memburu keduanya di padang yang luas memerlukan waktu, kesempatan dan juga tenaga.” Pangeran Indrasunu berhenti sejenak, lalu “Tetapi untuk mengambil gadis itu, kedua sudah cukup memadai. Karena di samping keduanya kita bertiga akan pergi juga bersama mereka.”

Kedua Pangeran itu mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi aku akan minta ijin guru sepengetahuan Sepasang Serigala itu, agar serigala itu tidak akan berbuat jahat justru kepada kita di perjalanan.”

Pangeran Indrasunu ternyata sependapat. Dengan demikian akan nampak ada kekuatan yang berdiri di belakang para Pangeran muda itu. Hanya karena kekuatan itu tidak dapat dipergunakan untuk maksud yang khusus itu, mereka meminjam kekuatan lain. Sehingga dengan demikian, maka Sepasang Serigala itu tidak akan dapat berbuat jahat kepada para Pangeran, sebab itu berarti mereka akan berhadapan dengan guru-guru para Pangeran itu.

Demikianlah, maka Pangeran Indrasunu pun telah mengatur agar rencana itu dapat dilaksanakan secepatnya. Yang menurut perhitungannya, Mahisa Bungalan dan mungkin paman-pamannya masih berada di Pakuwon Kabanaran.

“Mahisa Bungalan akan ikut menikmati kemenangan itu.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah mencari hubungan dengan orang yang disebut Sepasang Serigala itu.

Dalam pada itu, sebenarnya Ken Padmi masih berada di rumah Mahisa Bungalan yang sedang berada di Pakuwon Kabanaran. Yang tinggal bersamanya di rumah itu, selain Mahendra dan kedua anaknya, hanyalah para pelayan dan para pembantunya saja. Sehingga dengan demikian, hari-hari Ken Padmi di rumah itu diisinya dengan kegiatan yang sangat khusus untuk mengisi waktunya yang terluang, dan untuk menghalau kesepiannya karena Mahisa Bungalan tidak ada di rumah.

Mahendra yang melihat, bahwa pada gadis itu telah tertanam bekal kemampuan, telah berusaha membantunya untuk mengembangkan ilmunya sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka seakan-akan segenap waktunya yang panjang telah dipergunakan untuk berada di dalam sanggar.

Jika Ken Padmi sudah selesai membantu para pembantu di dapur, maka ia pun langsung berada di dalam sanggar. Mahendra pada saat-saat tidak sedang pergi mengurusi dagangannya, telah berusaha meningkatkan kemampuan gadis itu. Dengan mempelajari bekal ilmu pada gadis itu, maka Mahendra yang memiliki ilmu yang mumpuni itu, dapat mengatur dan menyesuaikan tuntutan yang diberikan berdasarkan atas bekal yang sudah ada pada gadis itu.

Ken Padmi ternyata memang seorang gadis yang memiliki kelebihan dari kebanyakan gadis yang lain. Dengan sungguh-sungguh ia mengikuti segala petunjuk dan tuntutan Mahendra. Seolah-olah ia tidak pernah mengenal lelah jika ia berada di dalam sanggar.

Setelah beberapa lama Ken Padmi berusaha menyesuaikan dirinya, maka akhirnya Mahendra mengambil satu keputusan untuk memberikan kesempatan latihan bersama antara Ken Padmi dengan kedua anak-anaknya yang lain.

Bersama-sama mereka meningkat dengan cepat. Kedua adik Mahisa Bungalan itu pun semakin dewasa menjadi semakin menyadari, betapa pentingnya mereka memperdalam ilmu. Sebagaimana pengalaman mereka, dan apa yang mereka lihat pada ayah, kakaknya dan orang-orang di sekitarnya, bahwa pada suatu saat, mereka memerlukan perlindungan dari tindak kejahatan.

“Ilmu bukannya alat untuk memaksakan kehendak,” berkata Mahendra setiap kali, “kelebihan seseorang atas orang lain bukannya berarti bahwa ia dapat bertindak sewenang-wenang. Tetapi justru sebaliknya. Dengan ilmu, maka orang dapat menunjukkan pengabdiannya kepada orang lain. Karena sebenarnyalah ilmu adalah satu karunia dari Yang Maha Agung yang harus dipergunakan untuk memancarkan kasihNya kepada sesama. Dengan pengabdian, perlindungan dan pertolongan kepada mereka yang lemah, yang diperlakukan tidak adil dan yang mengalami kesulitan, maka ilmu kanuragan tidak nampak sebagai satu perbuatan kekerasan, tetapi mempunyai makna yang sebaiknya.”

Dengan bekal itulah, sebagaimana yang selalu di katakan oleh Mahendra kepada Mahisa Bungalan, kedua adik Mahisa Bungalan itu mempunyai dasar ilmu yang berbeda, namun yang telah berhasil menyesuaikan dirinya karena tuntutan Mahendra.

Bersama-sama, ketiganya meningkat setapak demi setapak. Tetapi kesungguhan mereka, telah mempercepat peningkatan dan pengembangan ilmu itu. Ken Padmi berkembang sesuai dengan perkembangan wadag dan jiwanya. Sebagai seorang gadis, maka ia mempunyai beberapa perbedaan wadag dari seorang laki-laki. Bahkan juga mempunyai dasar yang berbeda dalam pertimbangan nalar dan perasaan.

Namun demikian, sesuai dengan pribadinya, maka Ken Padmi menekuni bagian yang tidak kalah nilainya dari bagian yang diperdalam oleh kedua adik Mahisa Bungalan. Ken Padmi lebih mementingkan kecepatan gerak dan ketrampilan tangan. Langkahnya tidak terlalu panjang, tetapi kecepatannya sulit untuk diikuti, sehingga seolah-olah kakinya tidak berjejak di atas tanah. Sementara itu, kedua adik Mahisa Bungalan meningkatkan kemampuan dan kekuatan wadagnya semakin mantap. Bukan berarti bahwa keduanya, perkembangan kekuatan wadagnya lebih nampak dari peningkatan kecepatan gerak.

Meskipun demikian, baik kedua adik Mahisa Bungalan, maupun Ken Padmi, telah meningkat pula pada bagian-bagian yang lain, kecuali bagian yang lebih diutamakannya.

Semakin lama Mahisa Bungalan meninggalkan rumahnya, maka semakin tekun Ken Padmi berada di dalam sanggar. Tidak ada yang menarik baginya, kecuali meningkatkan dan mengembangkan oleh kanuragan. Meskipun Ken Padmi tidak tahu, apakah ia masih akan mempunyai kesempatan untuk mengabdikan ilmu itu kepada sesamanya.

Dengan latihan-latihan yang keras, tidak mengenal lelah dan kemauan yang bulat, maka ketiga orang anak muda itu pun telah berhasil mencapai satu tingkatan yang tinggi. Ketiganya ternyata telah berhasil menguasai tataran-tataran tertinggi dari ilmu yang diturunkan oleh Mahendra kepada mereka.

Dengan dasar itulah, maka mereka akan dapat mengembangkannya sehingga mereka akan menjadi orang-orang yang pilih tanding.

Dalam pada itu, nampaknya Ken Padmi, seorang gadis yang berasal dari padepokan itu, memiliki daya serap yang luar biasa. Ia sudah menempa dirinya di padepokan menghadapi sayembara tanding yang diadakannya. Dengan bekal ilmunya itulah, maka ia telah memanjat kepada tataran tertinggi dari ilmu yang diterima dari Mahendra. Bahkan ia pun telah menerima anugerah dari Mahendra, bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, untuk menguasai ilmu puncaknya.

“Kalian akan mempergunakannya sebagai landasan pengabdian,” berkata Mahendra, “karena itu tidak ada alasan bagiku untuk ragu-ragu.”

Sebenarnyalah bahwa dengan alasan yang kuat, ketiganya mampu menguasai ilmu puncak dari perguruan yang dianut Mahendra itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan karena mereka bertiga sempat menempa diri bersama-sama, maka mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mereka lebih cepat daripada jika mereka bekerja sendiri-sendiri, yang sudah barang tentu di bawah pengawasan langsung dari Mahendra sendiri.

Mahendra telah mengorbankan waktunya di saat-saat terakhir bagi kepentingan ketiga orang anak-anak muda itu. Pada bulan terakhir, ia sama sekali tidak meninggalkan rumahnya. Justru pada saat-saat ia ingin menurunkan ilmu puncaknya.

Namun setelah saat-saat itu lewat, Mahisa Bungalan masih juga belum segera pulang.

Yang datang kemudian adalah Witantra seorang diri. Dengan singkat ia menceritakan apa yang mereka lakukan di Pakuwon Kabanaran. Mengapa Mahisa Bungalan masih harus tinggal.

“Aku dan Mahisa Agni telah mendahului,” berkata Witantra, “untuk beberapa lama kami berada di Singasari. Namun pasukan yang lain pun telah kembali mendahului Mahisa Bungalan yang masih harus tinggal di Kabanaran. Bahkan pasukan itu telah mendahului kami berdua sehingga mereka tidak sempat menyaksikan apa yang pernah kami saksikan tentang ular-ular yang mengerikan itu.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Bergumam ia berkata seolah-olah kepada diri sendiri, “Jadi Mahisa Bungalan tinggal seorang diri.”

“Ya. Tetapi ia berada di antara para pengawal Kabanaran.” jawab Witantra, “Sementara itu, Mahisa Agni masih menyelesaikan beberapa persoalannya di Singasari, maka aku telah memerlukan datang kemari untuk memberitahukan kepadamu tentang Mahisa Bungalan. Agar kau tidak terlalu lama menunggu tanpa kabar berita.”

Mahendra mengangguk-angguk. Hampir berbisik ia berkata, “Ken Padmi sudah mengharapkannya pulang. Ia datang kemari karena ia mengikuti Mahisa Bungalan. Tetapi setelah gadis itu berada di sini, Mahisa Bungalan telah pergi untuk waktu yang seakan-akan tidak terbatas.”

“Tetapi itu lebih baik,” berkata Witantra, “sepanjang Mahisa Bungalan tidak mau mengalami kesulitan di perjalanan, maka lebih baik ia tidak terlalu sering berada di rumah selama Ken Padmi berada di rumahmu.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi ia mempergunakan waktunya untuk menempa diri. Sungguh di luar dugaan. Gadis padepokan itu mampu menyamai kedua adik Mahisa Bungalan.”

“Gadis itu juga sudah berbekal ilmu,” berkata Witantra, “di padepokan ia pernah menempa diri untuk menghadapi sayembara tanding. Ilmu dasarnya sudah meningkat dengan pesat. Di sini, ia mengisi kekosongannya dengan ilmu. Agaknya kepergian Mahisa Bungalan memang sudah terlalu lama.”

Mahendra mengangguk-angguk. Sementara itu Witantra pun berkata, “Sebaliknya kau tempa anak itu agar menjadi lebih baik bersama anak-anakmu. Kau tidak akan menyesal. Pada dasarnya Ken Padmi adalah seorang gadis padepokan yang baik. Apalagi dalam keprihatinan seperti sekarang ini.”

“Kau dapat membantuku. Biarlah kita mengisi waktu sambil menunggu Mahisa Bungalan.” berkata Mahendra.

Sebenarnyalah kepergian Mahisa Bungalan terasa terlalu lama. Apalagi bagi Ken Padmi. Namun dengan demikian, maka kesepian keprihatinan dan tekadnya yang besar, telah mendorongnya untuk menjadi seorang gadis yang luar biasa.

Bersama Mahendra, maka Witantra yang untuk beberapa lama tinggal di rumah Mahendra, telah membantu membentuk Ken Padmi. Dengan dasar ilmu yang sama, maka Witantra dan Mahendra bersama-sama telah mengisi kekosongan yang terasa menyesak di dalam dada Ken Padmi pada saat-saat senggang. Justru karena itu, maka Ken Padmi selalu tenggelam di dalam kesibukan apapun juga, terutama kesibukan di dalam sanggar, meskipun ia tidak melupakan tugasnya sebagai seorang gadis.

Pada saat-saat yang demikian itulah, Pangeran Indrasunu yang mendendam Mahisa Bungalan sampai ke ujung rambut, telah merencanakan untuk mengambil Ken Padmi bersama dengan dua orang Pangeran dan Sepasang Serigala dari padang Geneng.

Dengan tergesa-gesa Pangeran Indrasunu mempersiapkan rencananya. Menurut perhitungannya Mahisa Bungalan dan kedua pamannya tentu masih berada di Kabanaran.

“Seandainya mereka telah kembali, maka mereka tentu akan berada di Singasari untuk beberapa hari sebelum Mahisa Bungalan pulang ke rumahnya.” berkata Pangeran Indrasunu.

Dalam pada itu, setelah hari-hari yang sangat panjang, sejak Mahisa Bungalan meninggalkan rumahnya menuju ke Kabanaran untuk membantu Pakuwon itu memecahkan masalahnya, kemudian disambung dengan persoalan-persoalan yang timbul kemudian, Mahisa Bungalan mulai memikirkan untuk kembali. Meskipun demikian ia masih harus memenuhi permintaan Akuwu Suwelatama, agar ia bersedia untuk tinggal beberapa lamanya.

Mahisa Bungalan memang tidak dapat menolak. Apalagi karena ia masih mendengar laporan-laporan bahwa pasukan Watu Mas masih saja dipersiapkan.

“Tetapi di dalam peperangan aku tidak bertemu langsung dengan Pangeran Indrasunu.” berkata Mahisa Bungalan kepada Akuwu Suwelatama.

“Memang sulit untuk dapat bertemu dengan seseorang sesuai dengan keinginan kita dalam perang gelar yang luas,” sahut Pangeran Suwelatama, “namun menurut beberapa keterangan yang aku dengar, adimas Indrasunu telah meninggalkan Watu Mas. Ia harus mempertanggung-jawabkan pasukan yang dibawanya kepada para pemimpin padepokan.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya aku ingin dapat menemuinya. Dendam itu berkembang dan tidak dapat dikendalikannya lagi, sehingga sasarannya telah bergeser. Karena itu, bagiku Pangeran Indrasunu adalah orang yang berbahaya. Ia tidak mengekang diri dan membatasi persoalan yang sebenarnya dihadapinya.”

“Aku mengerti,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi mudah-mudahan ia dapat belajar dari pengalamannya.”

“Mudah-mudahan, Akuwu. Tetapi baginya pengalamannya itu sudah terlalu banyak. Namun nampaknya ia selalu berusaha untuk mempergunakan segala kesempatan yang ada. Sakit hatinya telah membuatnya menjadi seorang yang tidak terkendali. Kadang-kadang yang dilakukannya telah terlepas dari tujuan tertentu, selain membuat keonaran.” sahut Mahisa Bungalan.

Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Untuk sementara ia tidak mencampuri persoalan di antara Watu Mas dan Kabanaran. Meskipun itu bukan berarti bahwa Akuwu di Watu Mas akan menghentikan segala kegiatannya. Ia tentu tidak mau menerima kenyataan yang pahit itu begitu saja.”

“Ia akan mempertimbangkan,” berkata Mahisa Bungalan, “ia telah melihat, korban yang jatuh. Seandainya ia berhasil memang dan kemudian menduduki kota Pakuwon Kabanaran, tentu ia pun akan melihat, bahwa perang tidak akan berakhir sampai sekian. Dan ia pun akan menilai kembali keputusan yang akan diambilnya jika ia sempat memperhitungkan, apakah yang sebenarnya diinginkannya.”

Akuwu Suwelatama mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan ia menyadari, bahwa yang dilakukannya semata-mata terdorong oleh satu keinginan yang tidak menentu ujung pangkalnya. Harga diri, ketidakpastian dan masa depan yang kurang cerah. Dan mudah-mudahan Akuwu di Watu Mas menemukan jalan pemecahannya yang lain kecuali dengan tetangga.”

“Tetapi agaknya desakan dan ceritera-ceritera khayal Pangeran Indrasunu ikut menentukan sikap itu.” sahut Mahisa Bungalan.

Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia pun telah menduga, bahwa peranan Pangeran Indrasunu tentu ikut pula berbicara pada persoalan itu.

Dalam pada itu, ternyata Mahisa Bungalan tidak menyadari, bahwa Pangeran Indrasunu telah bekerja cepat. Ia telah menghubungi Serigala dari Geneng. Dan bahkan, Pangeran Indrasunu itu telah membuat rencana tertentu untuk mengambil Ken Padmi dari rumahnya.

Sepasang Serigala itu ternyata telah menerima tawaran Pangeran Indrasunu dengan baik. Meskipun demikian, dua orang pemimpin padepokan yang berpengaruh, telah memberikan beberapa pesan kepadanya, agar kedua orang itu menjalankan kesanggupannya sebaik-baiknya.

“Ingat, kedua Pangeran itu adalah murid-muridku,” berkata para pemimpin padepokan itu “jika kau mengingkari dan apalagi mengkhianati, maka kalian akan berhadapan dengan seluruh isi dari padepokan ini.”

“Aku akan melakukannya dengan baik, asal semua kesanggupan Pangeran Indrasunu dipenuhi.” jawab salah seorang dari sepasang serigala itu.

“Aku tidak pernah ingkar,” berkata Pangeran Indrasunu, “tetapi jika kalian ternyata tidak mampu memenuhi kesanggupan kalian, maka kalian tidak akan menerima sekeping uang pun, apalagi sebidang tanah atau hadiah-hadiah yang lain.”

“Kami berdua adalah orang-orang yang tidak mendapat tempat di antara sesama,” berkata Mendu, “karena itu, percayalah bahwa aku tidak akan ragu-ragu berbuat apa saja terhadap siapa saja. Apalagi sekedar mengambil seorang gadis.”

“Jangan merendahkan kemampuan orang yang belum kau kenal,” berkata Pangeran Indrasunu, “aku pernah menjajagi kemampuan orang-orang di sekitar gadis itu.”

Kedua orang padang Geneng itu tertawa. Salah seorang berkata, “Kami telah mendapatkan puncak dari ilmu kami di padang Geneng setelah kami mesu diri bertahun-tahun.”

“Mudah-mudahan yang kau katakan itu benar,” desis Pangeran Indrasunu, “karena itu, kita akan segera berangkat. Aku sudah mendapat keterangan terakhir, bahwa seseorang masih melihat Mahisa Bungalan berada di Kabanaran.”

“Siapa Mahisa Bungalan itu?” bertanya Mendu.

”Ia adalah calon suami gadis yang akan kita ambil.” jawab Pangeran Indrasunu.

Sepasang Serigala itu memandang Pangeran Indrasunu dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah mereka ingin mengatakan, bahwa seandainya Mahisa Bungalan itu pun ada di rumahnya, maka keduanya tidak akan gentar menghadapinya.

Dalam pada itu, maka rencana itu pun telah siap untuk dilaksanakan. Sepasang Serigala itu akan bersama-sama dengan tiga orang Pangeran pergi ke rumah Mahendra untuk mengambil Ken Padmi dengan paksa. Mereka dapat berbuat apa saja atas gadis itu untuk menyakiti hati Mahisa Bungalan dan akan membuatnya hidupnya kering di sepanjang umurnya.

Setelah segalanya masak diperhitungkan, maka mereka berlima pun telah berangkat menuju ke sebuah padukuhan di luar kota Singasari. Perjalanan mereka memang panjang. Tetapi didorong oleh dendam yang menyala, maka perjalanan itu rasa-rasanya adalah perjalanan yang menggairahkan.

Dalam pada itu, kedua Pangeran yang mengikuti Pangeran Indrasunu itu selain terdorong oleh keterangan Pangeran Indrasunu dan keinginan mereka untuk bertualang, mereka pun sebenarnya telah terbujuk oleh pernyataan Pangeran Indrasunu, bahwa gadis yang bernama Ken Padmi itu adalah gadis yang cantik sekali.

“Kalian dapat memperlakukan apa saja.” berkata Pangeran Indrasunu.

Kedua Pangeran yang pergi bersamanya itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari keduanya menjawab, “Yang penting bagi kami adalah mendapatkan pengalaman dalam petualangan yang menarik seperti ini. Meskipun kali ini guru yang sedang merenungi keresahannya karena kekalahan Watu Mas itu tidak dapat menyertai kita, tetapi kedua orang itu nampaknya cukup meyakinkan, meskipun keduanya masih nampak liar dan kasar.”

“Cara mereka menyadap ilmu pun berbeda. Tetapi ternyata bahwa mereka pun memiliki ilmu yang mengagumkan. Bahkan guru kalian pun mengakui, bahwa sebenarnya kedua orang itu mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi dari jenis ilmu yang kasar. Meskipun demikian namun mereka akan dapat menyelesaikan persoalannya.” jawab Pangeran Indrasunu, “Apalagi jika paman-paman Mahisa Bungalan itu tidak ada di rumah.”

Kedua Pangeran yang menyertainya itu mengangguk-angguk. Mereka yakin bahwa rencana mereka akan dapat berhasil dengan baik, karena mereka yakin akan kemampuan kedua orang yang menyertai mereka, dan justru karena Mahisa Bungalan masih nampak berada di Kabanaran.

Ketiga orang Pangeran itu pun kemudian telah bersepakat, bahwa mereka akan datang pada malam hari. Mereka akan menghancurkan siapa saja yang mencoba menghalangi mereka, dan mereka akan membawa Ken Padmi ke tempat yang tidak akan diketahui oleh Mahisa Bungalan.

“Setelah tiga atau ampat bulan perempuan itu akan kita lemparkan kembali ke padukuhan itu.” berkata Pangeran Indrasunu. “Biarlah ia menjadi sumber malapetaka dalam keluarga Mahisa Bungalan.”

Ketiga orang Pangeran itu tertawa. Sementara itu, Sepasang Serigala yang berkuda di belakang, mengerutkan kening. Salah seorang berkata, “Anak-anak muda yang gila. Guru-guru mereka pun juga gila. Apa sebenarnya keuntungan mereka dengan sikapnya ini. Apakah upah yang mereka janjikan itu sepasang dengan gadis yang mereka kehendaki?”

“Bukan gadis itu,” jawab kawannya, “tetapi dendamnya yang membara. Itulah gilanya Pangeran Indrasunu.”

Yang lain tertawa. Katanya, “Apapun yang dikehendaki. Tetapi upah yang dijanjikan memang menarik.”

Demikianlah mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan tujuan. Tetapi mereka tidak tergesa-gesa. Mereka dapat beristirahat ketika matahari terik. Mereka pun dapat bermalam di perjalanan, karena mereka baru akan memasuki padukuhan pada malam berikutnya.

“Sebenarnya kita tidak usah membuang waktu sehari,” berkata Wangkot, “jika kita berjalan terus, maka lewat tengah malam kita akan sampai ke tujuan.”

“Terlalu tergesa-gesa,” jawab Pangeran Indrasunu, “mungkin kita akan melihat suasana. Kau berdua akan dapat berjalan-jalan di padukuhan itu di siang hari, karena belum ada orang yang mengenal kalian. Baru pada malam hari kita memasuki halaman rumahnya.”

Sepasang Serigala itu tidak membantah. Mereka dapat berbuat kapan saja, karena bagi keduanya tidak ada orang yang ditakutinya.

Seperti yang dikehendaki oleh Pangeran Indrasunu, maka mereka telah bermalam di perjalanan. Pada pagi hari mereka akan mendekat. Namun mereka akan melihat keadaan lebih dahulu. Kedua orang dari padang Geneng, dan kedua Pangeran itu masih belum dikenal oleh orang-orang padukuhan itu, atau oleh keluarga Mahendra. Kecuali jika Mahisa Bungalan sudah berada di rumah. Namun agaknya yang paling baik, adalah Wangkot dan Mendu sajalah yang akan mengamati keadaan, setelah mereka diberi beberapa petunjuk tentang tempat tinggal Mahendra, anak-anaknya dan Ken Padmi.

Demikianlah maka setelah mereka mencari tempat yang paling baik untuk beristirahat di hari berikutnya, di sebuah hutan yang tidak terlalu jauh, maka Wangkot Dan Mendu telah berusaha mendekati padukuhan tempat tinggal Mahendra. Mereka meninggalkan kuda mereka di hutan kecil ditunggui oleh ketiga orang Pangeran itu.

Namun sebenarnyalah Wangkot dan Mendu melakukannya dengan segan, karena bagi mereka, hal itu tidak banyak gunanya.

Sebagaimana dikatakannya, Sepasang Serigala itu tidak takut menghadapi siapa pun juga. Siapa pun yang berada di rumah itu, keduanya akan sanggup membinasakannya.

Tetapi keduanya telah berusaha juga untuk mengamati rumah yang ditunjukkan oleh Pangeran Indrasunu.

“Sepi.” berkata Wangkot

“Aku sudah siap.” jawab Mendu, “Seandainya rumah itu tidak sepi pun tidak ada kesulitannya. Pangeran Indrasunu terlalu berhati-hati.”

“Biar sajalah.” jawab Wangkot, “Kita penuhi saja keinginannya. Ia sudah bersedia membayar mahal bagi dendamnya.”

Mendu tertawa. Katanya, “Kenapa kedua orang pemimpin padepokan itu tidak melakukannya sendiri? Mereka pun orang yang memiliki kemampuan cukup.”

“Pemimpin-pemimpin padepokan adalah orang-orang malas. Mereka memiliki ilmu, dan mereka hidup dari ilmunya itu. Namun mereka tidak mau berjuang menentang buasnya dunia olah kanuragan. Mereka sekedar menjual ilmunya kepada cantrik-cantrik kecil. Dengan sedikit tenaga dan tanpa kemungkinan yang berbahaya mereka dapat hidup dengan padepokan-padepokannya.” desis Wangkot, “Namun orang yang demikian tidak akan dapat melihat betapa dahsyatnya benturan ilmu di dunia petualangan ini. Mereka tidak pernah mengalami kegembiraan dan kepuasan sejati karena ilmunya itu.”

“Persetan,” sahut Mendu, “orang-orang malas itu akan mati dalam kemalasannya. Tetapi bagi kita, dunia petualangan adalah dunia yang memberikan kesenangan dan kepuasan.”

Wangkot tidak menjawab. Mereka sudah melintas di depan rumah yang ditunjukkan. Namun sebelum mereka keluar dari ujung lorong itu, mereka di depan melangkah kembali. Sekali lagi mereka melewati lorong di depan rumah Mahendra. Lorong itu sepi, seperti juga halaman rumah itu sepi. Namun ketika mereka melihat seorang gadis cantik melintas di halaman, maka keduanya berhenti sejenak.

“Agaknya gadis itulah yang disebut Ken Padmi,” berkata Wangkot, “seorang gadis yang memang sangat cantik. Itulah agaknya maka Pangeran Indrasunu menjadi gila.”

“Tetapi kini yang berkembang adalah dendamnya.” sahut Mendu, “Ia sudah berusaha untuk melupakan gadis itu. Yang akan dilakukannya itu adalah sekedar menyakiti hati bakal suami gadis itu.”

“Omong kosong,” geram Wangkot, “jika gadis itu sudah dibawanya, maka ia akan berubah pikiran. Mungkin justru akan timbul perselisihan di antara ketiga orang Pangeran itu karena gadis yang cantik sekali itu.”

“Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. He, bukankah tugas kita melindungi ketiga orang Pangeran yang akan menculik gadis itu? Apapun yang akan terjadi dengan gadis itu, bukan persoalan kita. Persoalan kita, jika pekerjaan ini selesai, maka kita akan mendapatkan upah kita.”

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian kembali ke hutan kecil tempat ketiga orang Pangeran itu menunggu. Dengan singkat mereka melaporkan, apa yang telah mereka lihat pada rumah yang dimaksud.

“Aku sudah melihat gadis itu.” berkata Wangkot.

“Di mana?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Di halaman rumah itu. Aku melihat seorang gadis melintasi halaman. Cantik sekali. Berkulit halus seperti sutera yang dibeli dari pada pendatang.”

“Gila,” geram Pangeran Indrasunu, “gadis itu gadis padepokan. Kulitnya tentu tidak sehalus yang kau katakan. Ia bekerja keras sebagaimana gadis-gadis padepokan yang lain. Bahkan dipanggang di teriknya matahari dan di embun yang dingin di malam hari.”

“Agaknya justru karena itu,” jawab Mendu, “tetapi entahlah. Mungkin di rumah itu ada gadis yang lain kecuali yang dimaksud oleh Pangeran Indrasunu.”

Pangeran Indrasunu tiba-tiba menggeram. Katanya, “Mahisa Bungalan memang gila. Karena itu, gadis itu harus dibawa.”

Selebihnya Pangeran Indrasunu bertanya, apakah melihat tanda-tanda yang dapat menyulitkan rencananya.

“Rumah itu sepi,” jawab Mendu, “tidak ada orang. Pintu pringgitan di belakang pendapa nampak tertutup. Gandok pun rasa-rasanya tertutup pula.”

“Tetapi siapa tahu, di belakang pintu tertutup itu terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi.”

“Persetan!” geram Wangkot, “Pangeran harus percaya kepada kami di sini. Jika tidak, maka tidak ada gunanya kami berada di sini.”

“Bukan tidak percaya,” jawab Pangeran Indrasunu, “tetapi aku hanya ingin berhati-hati.”

Karena ingin berhati-hati itulah agaknya, ketika senja turun, Pangeran Indrasunu minta agar Wangkot dan Mendu sekali lagi melihat-lihat sasaran yang akan mereka datangi.

“Tidak perlu,” jawab Wangkot, “aku bertanggung jawab.”

“Jangan sombong menghadapi orang-orang Singasari.” desis Pangeran Indrasunu.

“Aku lebih berhati-hati menghadapi orang-orang Kediri daripada orang-orang Singasari.” jawab Mendu.

Pangeran Indrasunu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan berangkat, meskipun aku masih ingin mengamati rumah itu sebelum bertindak.”

Demikianlah, setelah makan bekal yang mereka bawa, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mahendra. Sesaat mereka memeriksa senjata masing-masing, seolah-olah mereka sedang bersetuju dengan senjata-senjata itu untuk melakukan satu tugas yang sangat penting.

Ketika gelap turun, maka mereka berlima pun telah meninggalkan tempat persembunyian mereka menuju ke padukuhan tempat tinggal Mahendra.

Dengan hati-hati mereka memasuki lorong padukuhan itu. Mereka telah memilih jalan sempit yang tidak diawasi oleh anak-anak muda yang mungkin berada di gardu di lorong induk padukuhan itu.

Sebagaimana biasa, maka demikian malam menjadi kelam, pintu-pintu rumah pun tertutup rapat. Meskipun di gardu-gardu anak-anak muda duduk bergurau di antara mereka, tetapi pada umumnya padukuhan memang terasa sepi.

Sebagaimana dikehendaki oleh Pangeran Indrasunu, maka mereka pun mendekati halaman rumah Mahendra. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Wangkot, halaman rumah itu memang sepi. Apalagi di malam hari.

“Kita akan mendengarkan, apakah ada kesan-kesan tertentu di rumah itu.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Silahkan.” berkata Mendu.

Pangeran Indrasunu dengan hati-hati memasuki regol halaman yang ternyata tidak diselarak. Dengan penuh kewaspadaan ia menelusuri bayangan pepohonan mendekati seketheng. Dengan berjingkat ia memasuki seketheng sebelah kiri. Ternyata bahwa longkangan di belakang seketheng itu nampak gelap dan sepi.

Bahkan Pangeran Indrasunu tidak mendengar suara seseorang.

“Memang sepi.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya.

Namun ia melangkah ke serambi. Sejenak ia menunggu. Namun kemudian ia bergeser sejengkal maju ketika ia mendengar suara seseorang.

Agaknya kedua adik Mahisa Bungalan sedang bercakap-cakap. Mereka baru saja selesai makan malam di ruang dalam. Ternyata pula kemudian terdengar suara mangkuk beradu.

Terasa jantung Pangeran Indrasunu berdebaran ketika ia mendengar suara seorang Perempuan.

“Gadis itu.” desis Pangeran Indrasunu.

Tetapi Pangeran Indrasunu tidak terlalu jelas apa yang dibicarakannya. Salah seorang adik Mahisa Bungalan berkata, “Kita tidak ke sanggar malam ini.”

“Sama sekali tidak?” terdengar suar perempuan itu.

”Tidak,” jawab suara laki-laki yang agaknya adalah adik Mahisa Bungalan, “hari ini kita sudah cukup berlatih.”

Tidak terdengar jawaban. Namun terasa jantung Pangeran Indrasunu berdebar-debar.

”Agaknya mereka selalu berlatih dengan tertib dan teratur.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya. Meskipun ada juga terasa kecemasan di dalam dadanya, tetapi ia berkata lebih lanjut di dalam hatinya, “Tetapi mereka tidak akan banyak memberikan perlawanan yang berarti. Apabila yang ada hanya anak-anak itu.”

Tetapi Pangeran Indrasunu datang dengan dua orang yang memiliki ilmu raksasa. Yang sulit dicari bandingnya.

Pangeran Indrasunu masih beberapa saat berada di serambi. Tetapi ia tidak mendengar lagi percakapan. Bahkan kemudian ia mendengar salah seorang di antara mereka yang berada di dalam berdesis, “Malam terasa sangat sepi. Aku tiba-tiba saja merasa mengantuk.”

Yang lain tertawa pendek. Tetapi tidak terdengar jawaban.

Dalam pada itu, Pangeran Indrasunu pun segera bergeser dari tempatnya. Tetapi ia pun merasa aneh. Udara malam itu terasa lain dengan malam-malam sebelumnya. Dan yang kemudian kurang di mengertinya pula, bahwa Pangeran itu pun merasa mengantuk.

Dengan hati-hati Pangeran Indrasunu meninggalkan serambi itu. Demikian ia melalui seketheng, maka terasa seakan-akan sulit baginya untuk melawan perasaan kantuknya.

Justru karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa mendapatkan kawan-kawannya. Sepasang Serigala dan padang Geneng dan kedua Pangeran itu, yang bersembunyi di sudut halaman di bawah pohon perdu.

“Terasa ada kelainan malam ini.” desis Pangeran Indrasunu.

Wangkot dan Mendu tertawa pendek. Dengan berbisik Wangkot berkata, “Aku telah menyebarkan sirep di halaman rumah ini. Kedua Pangeran ini pun telah menjadi mengantuk. Tetapi aku mohon mereka mengerahkan daya tahan mereka gar sirep ini tidak mempengaruhinya. Jika Pangeran bertiga tidur, maka aku tidak akan dapat berbuat banyak, karena kami berdua akan sibuk mengurusi Pangeran berdua saja.”

Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian duduk di sebelah kedua Pangeran yang lain untuk memusatkan daya tahannya melawan sirep yang mencengkam halaman rumah itu.

Ternyata bahwa Pangeran Indrasunu memiliki kekuatan yang cukup. Bahkan melampaui kedua orang Pangeran yang lain. Namun akhirnya mereka bertiga berhasil juga membebaskan dirinya dari pengaruh sirep itu, justru karena mereka sadar bahwa sirep itu ada.

“Tanpa mengetahui bahwa di di halaman ini tersebar pengaruh sirep, maka aku kira, aku sudah tertidur nyenyak.” berkata salah seorang dari ketiga orang Pangeran itu.

“Ya,” desis Pangeran Indrasunu, “aku pun tadi mendengar salah seorang yang berada di ruang dalam, di sebelah serambi, berdesis bahwa ia menjadi sangat mengantuk. Mereka malam ini tidak akan pergi ke sanggar. Agaknya di malam-malam yang lain mereka selalu berada di dalam sanggar.”

Wangkot tertawa pendek. Katanya perlahan-lahan, “Kita akan menunggu beberapa saat. Aku berharap bahwa seisi rumah akan tertidur nyenyak. Dengan demikian kita akan dapat menyelesaikan tugas ini dengan mudah sekali. Kita akan membunuh orang-orang yang sedang tidur. Kemudian membawa gadis yang sedang tidur pula keluar dari rumah dan halaman ini.”

Wangkot dan Mendu tertawa tertahan. Mereka merasa bahwa usaha mereka pasti akan berhasil dengan mudah. Karena itu, maka Mendu pun berkata, “Nah, bukankah apa yang kami katakan bukan sekedar bualan yang tidak berarti. Kami sama sekali tidak cemas, siapa pun lawan kami.”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...