Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 29-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 29-02*

Karya.  : SH Mintardja

Orang-orang Mahibit yang datang dengan bangga di bawah pimpinan Linggadadi menjadi heran, bahwa dipadepokan itu ada juga orang yang mampu mengimbangi lawannya. Meskipun nama Mahisa Bungalan pernah mereka dengar, tetapi mereka tidak menyangka bahwa Mahisa Bungalan benar-benar seorang yang luar biasa, sehingga untuk beberapa lamanya ia masih Mampu bertahan melawan Linggadadi.

Orang-orang dari Mahibit benar-benar merasa heran. Bagi mereka, Lingadadi tidak ada duanya selain Linggapati.

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kini Linggadadi tidak segera mampu mengalahkan Mahisa Bungalan. Betapa pun dahsyatnya ia menyerang tetapi Mahisa Bungalan masih saja Mampu bertahan

Namun agaknya bagi kedua belah pihak pertempuran itu merupakan pertempuran yang berat.

Ketika Mahisa Bungalan agak terdesak, maka Linggadadi tidak mau melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga ia mendesak terus dan memaksa Mahisa Bungalan untuk berloncatan surut.

“Sebaiknya kau hentikan perlawananmu” teriak Linggadadi, “carilah kesempatan untuk berdoa sebelum ajalmu sampai”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Ketika senjata Linggadadi hampir menyentuh tubuhnya, ia masih sempat meloncat kes amping. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah. serangan Linggadadi telah menyusul dengan dahsyatnya.

Mahisa Bungalan hampir kehilangan kesempatan sama sekali. Tetapi ia masih dapat mengelak dengan menjatuhkan diri meskipun ia tahu, bahwa perjuangan yang kemudian akan menjadi bertambah berat. Tetapi ia tidak melihat cara lain yang dapat menyelamatkan nyawanya.

Ketika ia melenting berdiri, maka Mahisa Bungalan telah memperhitungkan bahwa serangan berikutnya tentu akan menghantam dengan serunya, sehingga iapun telah bersiap untuk meloncat sambil menjatuhkan dirinya kembali.

Serangan itu benar-benar datang dengan cepatnya. Lebih cepat dari dugaan Mahisa Bungalan. Itulah sebabnya, maka ia tidak sempat menghindarkan diri seluruhnya. Ketika ia meloncat dan menjatuhkan diri sekali, lagi. maka terasa ujung senjata lawannya telah menyengat pundaknya.

Mahisa Bungalan berdesis. Sambil berguling ia memperhatikan sikap lawannya. Tetapi agaknya lawannya menyadari bahwa senjatanya berhasil mematuk tubuh Mahisa Bungalan, sehingga justru karena itu, maka ada kesempatan sekejap baginya selama lawannya meyakinkan diri atas kemenangannya yang sesaat itu.

Mahisa Bungalan sempat mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Itulah sebabnya, maka ia tidak mau terlambat. Ketika ia melenting berdiri, maka ia justru berusaha mendekat lawannya dan dengan dahsyatnya menebaskan senjatanya mendatar.

Linggadadi terkejut. Meskipun ia melihat darah, tetapi ternyata luka lawannya tidak terlalu parah. Karena itulah maka ketika serangan Mahisa Bungalan datang, Linggadadi lah yang kemudian harus menghindar.

Namun demikian ia masih sempat berteriak, “Lukamu telah menitikkan darah. Semakin lama akan menjadi semakin banyak sehingga akan datang saatnya kau tidak Mampu lagi untuk melawan.”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi serangannya lah yang kemudian datang membadai. Dengan cepat senjata menyambar lawannya seperti kilat menyambar dilangit.

Linggadadi mengumpat. Ia mencoba untuk menghindar sambil menyerang. Tetapi tekanan serangan Mahisa Bungalan ternyata sangat dahsyatnya, sehingga ia justru kehilangan keseimbangan.

Linggadadi lah yang kemudian menjatuhkan dirinya karena ia tidak mau dadanya pecah oleh senjata lawan. Dengan cepat ia berguling. Kemudian ia mencoba menangkis serangan Mahisa Bungalan yang datang beruntun masih dalam keadaannya, terbaring di tanah.

Ketika terjadi benturan senjata, maka terasa, bahwa kekuatan Linggadadi yang kurang mapan itu tidak mampu menahan ayunan senjata Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia masih harus bergeser pada pungungnya, sehingga ujung senjata lawannya tidak mengenai wajahnya.

Tetapi agaknya Linggadadi cukup cekatan. Demikian ia berkisar, maka kakinya pun segera menyilang dengan kerasnya menghantam betis Mahisa Bungalan, sehingga Mahisa Bungalan pun terlempar dan jatuh pula di tanah.

Namun keduanya ternyata memiliki kecepatan bergerak diluar jangkauan orang kebanyakan, karena sesaat kemudian keduanya telah tegak berhadapan dengan senjata teracung

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Bungalan mempunyai kelebihan waktu sekejap. Dengan serta merta iapun segera meloncat menyerang dengan dahsyatnya. Serangannya yang mengejutkan itu, masih dapat dielakkan oleh Linggadadi. Tetapi putaran kaki Mahisa Bungalan benar-benar tidak diduga oleh Linggadadi. Ia menyangka bahwa Mahisa Bungalan akan terdorong oleh kekuatannya yang tersalur lewat serangannya itu, sehingga ia harus berusaha mencari keseimbangan sebelum Linggadadi membalas menyerang- Namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan telah berbuat lain. Perhitungannya ternyata mendahului satu lapisan dari lawannya, sehingga karena itu, maki serangannya yang berikut benar-benar telah mengejutkan Linggadadi.

Dengan gugup Linggadadi meloncat kesamping. Ia masih berusaha mencari jarak untuk menentukan sikap yang kemudian. Tetapi serangan Mahisa Bungalan datang beruntun seperti gelombang di lautan.

Sejenak kemudian terdengar desah tertahan. Sebelum Mahisa Bungalan menjadi semakin lemah karena darahnya yang mengalir dari lukanya, maka ia telah berhasil melukai lawannya pula. Sebuah goresan yang panjang telah menyobek kulit Linggadadi di dadanya.

Linggadadi menggeram. Tetapi ia tidak dapat melepas kenyataan yang dialaminya. Badannya terluka. dan darahnya meleleh dari luka itu, lebih deras dari darah yang mengalir dari luka Mahisa Bungalan

Sejenak keduanya berdiri berhadapan, seolah-olah masing-masing ingin menilai keadaan. Masing-masing sadar, bahwa mereka telah terluka. Karena itulah, maka mereka berdua bertekad untuk menghentakkan semua kemampuan dan ilmunya untuk segera mengalahkan lawannya.

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat lagi dalam pertempuran yang dahsyat. Namun ternyata bahwa luka masing-masing mula, terasa berpengaruh. Darah yang menetes telah menyusutkan kemampuan mereka mengerahkan tenaga cadangan. Apalagi perasaan sakit yang menggigit kulit rasa-rasanya telah memecahkan semua pemusatan pikiran dan nalar.

Tetapi ternyata bahwa tenaga Linggadadi lah yang lebih cepat susut, karena lukanya yang lebih parah. rasa-rasanya tulang-tulangnya mulai dilepas dari dirinya. Tangannya semakin lama menjadi semakin gemetar dan bahkan kemudian seolah-olah tangannya tidak lagi mampu menggenggam senjatanya.

Mahisa Bungalan pun merasa seakan-akan tenaganya menjadi semakin susut. Tetapi dalam kecemasannya, ia melihat lawannya selalu meloncat surut. Bahkan kemudian terasa perlawanannya tidak lagi menentu.

“Darahnya lebih banyak mengalir” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu. Linggadadi merasa bahwa kekuatannya sudah semakin larut, membuat perhitungan terakhir. Ia telah terlanjur berada dalam arena yang sama sekali tidak disangkanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan bertemu dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan yg mendapat gelar seperti dirinya sendiri, pembunuh orang berilmu hitam. Dan bahkan ternyata bahwa ia sama sekali tidak dapat mengatasi kemampuan ilmu anak muda itu

Keadaannya yang terakhir telah memaksanya untuk mengambil suatu sikap yang menentukan. Menang atau mati.

Itulah sebabnya, maka dalam kesempatan terakhir, Linggadadi telah menghimpun semua sisa tenaga yang ada. Ketika ia melihat sebuah kesempatan, maka dengan serta merta. sambil berteriak nyaring ia menyerang, dengan dahsyatnya. Senjatanya berputar seperti baling-baling, kemudian dengan kekuatan raksasa senjata itu telah menghantam lawannya.

Mahisa Bungalan yang sudah terluka pun terkejut melihat serangan yang dahsyat itu. Serangan yang sama sekali tidak diduganya. Apalagi di saat terakhir nampaknya Linggadadi telah kehilangan hampir separo dari kekuatannya.

Tetapi tiba-tiba serangan itu datang dahsyat sekali.

Itulah sebabnya, maka diluar kemampuannya, maka Mahisa Bungalan pun harus mengambil sikap yang cepat. Ia pun dengan serta merta menghimpun sisa tenaganya pula. Iapun menghentakkan kemampuan yang masih ada padanya untuk menangkis serangan yang tidak sempat dihindarinya itu.

Maka terjadilah benturan kekuatan: yang sangat dahsyat. Meskipun kekuatan itu telah jauh susut, tetapi hentakan yang tiba-tiba dengan pengerahan segenap tenaga cadangan yang tersisa, maka benturan itu benar-benar merupakan benturan yang. menentukan.

Terdengar dentang senjata beradu dengan kerasnya sehingga bunga-bunga api berloncatan dalam cahaya bulan yang semakin rendah di ujung barat. Kemudian disusul oleh keluhan yang tertahan dan tubuh yang terlempar jatuh terbanting di tanah.

Beberapa langkah dari benturan itu, Linggadadi jatuh terlentang. Senjatanya terlepas dari tangannya. Sedang dari lukanya mengalir darah yang bagaikan tidak akan kering. Nafasnya yang terengah-engah kadang-kadang terputus untuk beberapa saat dan tarikan yang kemudian sama sekali sudali tidak teratur lagi.

Di arah yang lain, Mahisa Bungalan terdorong beberapa langkah dan terhuyung-huyung beberapa saat. Ia pun tidak lagi dapat menguasai keseimbangannya dan bertelekan senjatanya ia terjatuh pada lututnya. Tetapi sejenak kemudian, ia sama sekali tidak mampu lagi untuk berlutut. Dengan nafas yang sendat ia jauh terguling di tanah sambil memejamkan matanya.

Sejenak kemudian keduanya telah terbaring diam dalam usapan cahaya bulan yang kekuning-kuningan.

Beberapa orang melihat akibat dari benturan itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang Mahibit ingin berLari-lari melihat linggadadi. Tetapi ternyata lawan-lawan mereka pun telah menahan dengan sekuat tenaga, agar orang-orang Mahibit tidak berbuat curang terhadap Mahisa Bungalan yang terbaring pula. Tetapi orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru pun tidak dapat segera mendekati Mahisa Bungalan karena lawan-lawan mereka pun selalu menghalang-halangi.

Dalam pada itu Empu Baladatu benar-benar tidak menduga, bahwa serangan yang dianggapnya tidak akan mendapat rintangan yang berarti itu telah mengalami banyak kesulitan. Ia sama sekali tidak mengerti. bahwa ada sepasukan prajurit Singasari pilihan dan cantrik-cantrik yang terlatih baik berada di antara pasukan Empu Sanggadaru. Meskipun pasukan Empu Baladatu sendiri telah ditempa dengan sejauh-jauh dapat dilakukan, namun menghadapi prajurit-prajurit pilihan, orang-orangnya ternyata banyak mengalami kesulitan. Bukan saja dalam perang seorang lawan seorang, tetapi juga dalam olah ketrampilan dan tata cara peperangan dalam kelompok-kelompok yang besar

Dalam silirnya angin malam yang berbau darah, kedua sosok tubuh ilu masih saja terbaring diam. Namun kemudian perlahan-lahan Mahisa Bungalan mulai membuka matanya. Dalam saat-saat berikutnya, mulailah ia menyadari apa yang telah terjadi, sehingga dengan sepenuh sisa kekuatannya, iapun mencoba untuk bangkit dan duduk bertelekan pada kedua lengannya.

Tak seorang pun yang dapat mendekat. Empu Sanggadaru pun tidak, karena Empu Baladatu telah melibatnya dalam perkelahian yang sengit.

Karena itulah maka seolah-olah, pertempuran yang dahsyat itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Dibiarkannya ia bangkit dan duduk sambil memijit keningnya. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. seolah-olah ingin mengusir kebimbangan yang masih mencengkam hatinya.

Tetapi kepalanya masih terasa pening, dan tubuhnya masih lemah, sehingga Mahisa Bungalan pun kemudian memutuskan untuk memusatkan segenap daya lahir dan batinnya untuk memulihkan kekuatannya.

Ia pun kemudian duduk bersila dan menyilangkan tangannya di dadanya. Kemudian dicobanya mengatur pernafasannya sebaik-baiknya.

Mahisa Bungalan hanya melakukannya untuk beberapa .saat yang pendek. Ia sadar, bahwa setiap saat bahaya datang mengancam. Jika ada seorang saja dari lawan yang lolos dari pertahanan orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru, maka itu akan berarti maut baginya. Siapapun orang itu.

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Bungalan dapat memper gunakan waktu yang singkat itu sebaik-baiknya- Meskipun kekuatannya masih belum pulih seluruhnya,

Perlahan-lahan Mahisa Bungalan mengurai tangan dan kakinya Dan perlahan-lahan pula ia bangkit seperti seorang yang baru bangun dari tidurnya.

Yang pertama-tama menarik perhatiannya adalah orang yang terbaring beberapa langkah daripadanya. Ia masih ingat benar bahwa telah terjadi benturan kekuatan yang dahsyat saat senjata mereka beradu.

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Bungalan tidak kehilangan senjatanya. Senjata itu masih ada di tempatnya terbaring. Sehingga karena itu, maka ia pun telah memungut senjatanya, sebelum kemudian perlahan-lahan mendekati lawannya yang terbaring diam.

Pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, dida lam dan diluar halaman- Tetapi mereka yang sedang bertempur itu seakan-akan tidak menghiraukan Mahisa Bungalan sama sekali. Apalagi setelah Mahisa Bungalan bangkit berdiri dan menggenggam senjatanya kembali.

Jika semula lawannya tidak sempat mengganggunya selagi ia masih terbaring, maka setelah ia berdiri dengan senjata nya, justru lawannya akan berusaha menjauhinya

Sejenak Mahisa Bungalan berdiri di samping tubuh Linggadadi yang terbaring diam. Dengan hati-hati Mahisa Bungalan pun kemudian berjongkok pada satu lututnya. Ketika tangannya meraba tubuh lawannya, terasa tuhuh itu telah dingin,

“Mati” desis Mahisa Bungalan.

Sebenarnyalah hahwa Linggadadi telah mati. la telah mengerahkan tenaga yang tersisa, sementara dadanya telah terluka parah. Benturan yang terjadi kemudian, seakan-akan telah menghentakkan segenap sisa darahnya memancar dari lukanya. Itulah sebabnya, maka ia sudah tidak dapat ditolong lagi karena darahnya bagaikan telah hahis mengalir,

Pada saat Linggadadi pingsan, maka meneteslah titik darahnya yang terakhir dari jantungnya, sehingga nafasnya pun tidak mampu lagi menyusuri lubang hidungnya.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya pertempuran yang sengit. Namun kemudian ia masih mempergunakan sedikit waktu untuk mengobati luka-lukanya meski pun tidak terlalu parah dengan obat yang dibawanya.

Baru sejenak kemudian ia mengangkat kedua belah tangannya. la menggeliat sambil berdesis, seolah-olah ingin melihat, apakah urat-uratnya masih berjalan sewajarnya.

Meskipun tenaganya belum pulih seperti sediakala, tetapi pertempuran ia harus dihadapinya. Karena itulah maka setapak demi setapak, iapun melangkah mendekati arena yang seru. Bahkan kemudian iapun segera melihat, bahwa pasukan Empu Sanggadaru memang agak terdesak oleh lawannya.

Empu Sanggadaru melihat semua yang terjadi atas Mahisa Bungalan. Itulah sebabnya ia menjadi berdebar-debar. Apakah dalam keadaannya Mahisa Bungalan masih sanggup untuk bertempur terus?

Tetapi Empu Sanggadaru tidak sempat mencegah Mahisa Bungalan, karena ia sendiri masih terikat dalam pertempuran yang sengit.

Dalam pada itu, Empu Baladatu yang tidak dapat ingkar dari kenyataan, menggeretakkan giginya. Linggadadi, orang yang dianggapnya memiliki kemampuan yang luar biasa, telah terbunuh oleh seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan dan bergelar Pembunuh orang-orang berilmu Hitam seperti Linggadadi sendiri.

Sementara itu. ternyata Empu Sanggadaru sendiri juga me miliki ilmu yang tidak dapat diatasinya. Setelah ia bertempur beberapa lama, kakaknya masih tetap nampak segar dan bertempur dengan sepenuh tenaga.

Kadang-kadang teringat oleh Empu Baladatu, bagaimana kakaknya berburu binatang buas dengan tangannya, sehingga hatinya menjadi berdebar-debar. Kakaknya adalah seorang yang memiliki tenaga raksasa dan nafas yang panjang tanpa batas. Kebiasaannya berburu dan berlatih dengan cara yang aneh, membuatnya menjadi orang yang mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Seperti yang pernah didengarnya, Empu Sanggadaru sering berlatih bersama cantriknya dengan berjalan kaki mendaki gunung dan menuruni tebing, sehari penuh tanpa berhenti sama sekali.

Itulah sebabnya, maka tenaga Empu Sanggadaru sejak mereka mulai hertempur sampai saat-saat terakhir tidak terlampau banyak susut seperti tenaga Empu Baladatu meskipun mereka bersama-sama telah mengerahkan segenap kemampuan.

Dalam pada itu, di luar dinding padepokan, pertempuran masih juga membakar arena. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang bertempur dengan cara yang berbeda, telah berhasil mengurangi jumlah lawan dengan beberapa orang. Apalagi keduanya masih saja nampak segar seolah-olah mereka baru saja mulai di arena pertempuran itu.

Jika mula pasukan Empu Baladatu mampu mendesak maka lambat laun, keseimbangannya pun menjadi semakin berubah. Satu demi satu lawan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti dapat dilumpuhkan. Bahkan selain keduanya, para prajurit Singasari pun satu-satu dapat menyingkirkan lawan mereka pula, meskipun dibagian lain, orang-orang padepokan Empu Sangadaru yang kurang terlatih juga mengalami banyak kesulitan. Untunglah bahwa para prajurit dan para cantrik yang terlatih selalu berusaha untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti benar-benar merupakan hantu yang menakutkan. Seolah-olah keduanya men jadi penentu bagi datang maut. Siapa yang telah menarik perhatiannya, maka orang itu seakan-akan sudah pasti akan mengalami bencana.

Karena itulah, maka setiap orang di dalam pasukan lawan, berusaha untuk menjauhi kedua anak muda itu. Jika ia maju setapak demi setapak mendekati seseorang, maka itu adalah pertanda bahwa maut sudah siap untuk menjemput oraig itu.

Tetapi tidak seorang pun yang mampu mencegahnya. Setiap orang didalam pasukan lawan merasa tidak akan mampu menghadapinya, sementara mereka tidak akan sempat menyusun kelompok kecil untuk melawannya.

Karena itulah, maka arena di luar dinding padepokan itu betapapun lambatnya, seolah-olah sudah menemukan kepastiannya. Kedua orang anak muda itu akan menjadi penentu dari pertempuran yang dahsyat itu.

“Gila”geram seorang bertubuh kekar dari Mahibit, “dua orang dapat menentukan akhir dari pertempuran seperti ini “

“Apa yang dapat kita lakukan?”

Orang bertubuh kekar itu tidak menjawab. Ia harus bertempur melawan seorang cantrik yang terlatih baik, sehingga ia tidak banyak mendapat kesempatan untuk menentukan pilihan.

Karena itulah, maka yang telah berjalan itu tetap berjalan terus. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil melumpuhkan lawan-lawannya seorang demi seorang, jauh lebih cepat dari korban yang juga berjatuhan dari orang yang berdin dipihak Empu Sanggadaru.

Di dalam dinding padepokan, Mahisa Bungalan masih berdiri tegak. Kadang-kadang ia masih menyempurnakan pernafasannya yang masih terasa belum pulih benar. Namur agaknya silirnya angin malam telah menyebabkan semuanya serasa menjadi bertambah segar. Cahaya bulan yang bulat di langit, membuat malam bagaikan diterangi oleh berpuluh-puluh obor. Tetapi diarena pertempuran itu, darah yang membasahi tanah, sekali-kali memantulkan cahaya bulan yang berkilauan melontarkan pengaruhnya yang aneh.

Sejenak Mahisa Bungalan berdiri tegak. Namun ia pun kemudian melangkah lagi semakin dekat dengan arena.

Orang-orang yang melihat langkahnya yang tetap, menjadi berdebar-debar. Apalagi mereka yang herdiri di arah langkahnya itu, seolah-olah mereka sudah mulai bercanda dengan maut, seperti yang terjadi dengan Linggadadi.

Kematian Linggadadi benar-benar telah membuat setiap hati orang-orang Mahibit menjadi kecut. Bagi mereka. Linggadadi adalah siluman yang tiada ada duanya. Ilmunya rasa-rasanya relah menyentuh langit.

Tetapi dipadepokan ini, ia telah mati terbunuh oleh seorang anak muda dalam perang tanding yang mengerikan.

“Mahisa Bungalan adalah anak dan sekaligus murid Mahendra. Jika anaknya Mampu membunuh Linggadadi, apa sajakah yang dapat dilakukan oleh ayahnya?” gumam orang-orang itu di dalam hati.

Namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Mereka harus menerima kehadiran Mahisa Bungalan, mau tidak mau.

Dan sebenarnyalah Mahisa Bungalan yang telah merasa dirinya menjadi semakin segar itu pun menjadi semakin dekat dengan arena.

Ketika Mahisa Bungalan mulai menggerakkan senjatanya, maka tiba-tiba saja arena itu seakan-akan telah menyibak. Beberapa orang lawan segera terdesak sebelum mereka bertahan, karena Mahisa Bungalan memang belum berbuat apa-apa.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya.Di dalam cahaya bulan ia melihat wajah-wajah yang cemas dan bahkan ketakutan. Mereka tidak dapat lagi memusatkan perhatian mereka kepada lawan-lawan yang sebenarnya harus mereka hadapi, karena sebagian perhatian mereka telah mereka tujukan kepada Mahisa Bungalan.

Dengan demikian, sebelum Mahisa Bungalan kembali menerjunkan diri kekancah pertempuran, maka pasukan lawan pun telah terdesak perlahan-lahan.

Betapa dada Empu Baladatu didera oleh kemarahan yang memuncak. Kematian Linggadadi memang menggetarkan jantungnya, tetapi kecemasan dan ketakutan yang melanda pasukannya benar-benar merupakan suatu penghinaan.

Karena itu, maka iapun berteriak, “He orang-orang yang menguasai ilmu yang dahsyat dan orang-orang Mahibit yang perkasa, yang memiliki kemampuan seperti burung alap-alap. Kenapa kalian menjadi kecut melihat tingkah laku anak muda yang tidak tau diri itu? Apakah kalian mengira hahwa Mahisa Bungalan memang memiliki ilmu melampaui Linggadadi? itu sama sekali tidak benar. Itu hanyalah sebuah mimpi huruk yang kalian hadapi. Linggadadi memang sering meremehkan lawannya. Dan ternyata ia sudah membuat kesalahan. Ia tidak menyangka hahwa Mahisa Bungalan adalah seorang yang licik, yang memanfaatkan setiap kelemahan lawannya, tanpa mengingat harga diri dan kejantanan.”

Empu Baladatu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena serangan Empu Sanggadaru yang justru bagaikan membadai. Namun demikian, Mahisa Bungalan telah mendengar dan mengerti maksudnya. Sehingga karena itulah, maka iapun kemudian perlahan-lahan melangkah mendekat sambil berkata, “Empu Sanggadaru. Jika Empu tidak berkeberatan, serahkanlah Empu Baladatu kepadaku. Aku ingin melihat, apakah guru segala ilmu hitam itu Mampu membuktikan kata-katanya.”

“Persetan” teriak Empu Baladatu.”

“Aku sudah bersedia digelari pembunuh orang-orang berilmu hitam, bukan karena aku merasa kuat dan tidak terlawan. Tetapi se-mata-mata karena aku ingin menyatakan betapa bencinya aku kepada ilmu yang sama sekali tidak berperikemanusia an itu. Karena itu. biarlah aku mencoba, apakah aku benar-benar akan tetap mempergunakan gelar itu setelah aku bertemu dengan guru dari segala macam ilmu hitam itu.”

Empu Baladatu menggeretakkan giginya Tetapi Empu Sanggadaru yang menyerangnya terus berkata, “Biarlah anak muda. Ia adalah adikku. Aku ingin mengajarnya agar ia sedikit mengenal sopan santun, seperti aku mengajarinya di masa kanak-kanak. Aku memang sering mencubitnya, atau menarik telinganya jika nakal. Sekarang, aku akan memperlakukannya seperti itu.”

“Gila. Aku bukan anak-anak lagi. Aku akan membunuhmu.”

“Itulah kenakalanmu sekarang.”jawab Empu Sanggadaru.

Empu Baladatu menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemarahannya sudah tersalur sepenuhnya pada tata gerak dan serangan-serangannya. Tetapi Empu Sanggadaru pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula, sehingga Empu Baladau masih helum herhasil menguasainya. Bahkan ternyata bahwa Empu Sanggadaru mempunyai ketahanan jasmaniah yang lebih baik karena latihannya yang meskipun tidak terlampau berat, terapi selalu dilakukannya pada saat-saat tertentu.

Dalam pada itu pertempuran pun menjadi semakin seru. Tetapi di beberapa bagian dari arena itu. telah terjadi perubahan. Orang-orang Mahibit yang kehilangan Linggadadi seolah-olah tidak lagi mempunyai kepercayaan bahkan kepada dirinya sendiri bahwa mereka masih akan Mampu hertahan.

Itulah sebabnya. maka pada bagian-bagian tertentu, pasukan Empu Baladatu telah mulai terdesak, meskipun Mahisa Bungalan masih belum ikut langsung terjun kearena.

Demikian pula yang terjadi di luar dinding padepokan. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang tidak lagi bermain-main. telah membuat setiap lawan mereka menjadi berdebar-debar. Mereka telah dapat menilai, betapa tinggi ilmu kedua anak-anak muda itu.

Dua tiga orang yang berhasil melepaskan diri dari lingkungan pertempuran yang riuh itu mencoba untuk menyusun diri dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi kedua anak muda itu. Tetapi menghadapi kelompok-kelompok kecil yang demikian, keduanya itupun bertempur berpasangan. Maka kelompok kecil itu sama sekali tidak Mampu lagi untuk menahan keduanya.

Dengan demikian, maka lambat laun, semakin jelaslah keseimbangan dikedua arena pertempuran itu. Tidak banyak kesempatan lagi bagi Empu Baladatu. Rencananya untuk menyelenggarakan korban terbesar menjadi semakin buram. Yang lebih banyak menitikkan darah adalah justru orang-orangnya yang salah menilai lawan, sehingga pada benturan yang pertama mereka relah memberikan korban terlampau banyak.

Kematian Linggadadi adalah suatu isyarat, bahwa kematian akan menyusul lebih hanyak lagi. Dan bahkan mungkin, tanpa dapat dihitung.

Ketika bulan yang bulat dilangit menjadi semakin rendah di sebelah Barat, maka pasukan Empu Baladatu yang terdiri dari orang-orangnya yang terpilih, orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, orang-orang dari Mabibit. telah tidak mempunyai harapan lagi untuk menang. Kekalahan yang mutlak nampak menjadi semakin dekat dihadapan hidung mereka.

Orang-orang dari Mahibit yang berangkat dari padepokannya yang tersembunyi dengan dada tengadah, karena mereka merasa mendapat kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka, baik dari orang-orang padepokan Empu Sanggadaru, maupun dari pasukan Empu Baladatu yang lain, harus melihar kenyataan. Terlebih lagi setelah Linggadadi menemui ajalnya.

Dalam pada itu, kemarahan yang membakar jantung telah mendorong Empu Baladatu untuk memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Namun ia sama sekali tidak Mampu memaksakan kehendaknya karena Empu Sanggadarupun telah bertempur dengan segenap kekuatan yang ada padanya untuk mengalahkan adiknya.

Benturan-benturan senjata yang terjadi, menyatakan, bahwa kekuatan Empu Sanggadaru yang mengagumkan itu, masih selalu mengatasi kekuatan Empu Baladatu. Bahkan seolah-olah tenaga Empu Sanggadaru sama sekali tidak berkurang meskipun ia sudah bertempur beberapa saat lamanya.

“Aku akan menarik telinganya” berkata Empu Sanggadaru kepada orang-orangnya, “seperti masa kanak-kanak, jika ia nakal aku selalu menarik telinganya.”

“Aku akan membunuhmu” teriak Empu Baladatu

“Kau memang nakal dan keras kepala” sahut Empu Sanggadaru yang menjadi semakin tenang, ketika ia melihat pasukannya yang mula-mula jumlah jauh lebih sedikit, lambat laun berhasil menguasai keadaan. Namun dengan demikian ia dapati membayangkan bahwa korban tentu telah berserakkan. Baik dari pihaknya, dan terlebih lagi dari pihak lawan.

Empu Sanggadaru yang menyadari kehadiran Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti merasa bersukur, karena meskipun mereka hanya bertiga, tetapi kehadirannya itu ternyata mempunyai arti yang sangat penting. Demikian juga prajurit-prajurit Singasari yang jumlahnya terhitung tidak terlalu banyak.

“Tanpa mereka, padepokan ini telah hancur menjadi debu” berkata Empu Sanggadaru di dalam hatinya. Dan ia menjadi ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan oleh adiknya dengan upacara korbannya yang garang dan tidak berperi kemanusiaan itu.

“Cantrik yang menguasai senjata dengan baik tidak terlalu banyak jumlahnya” berkata Empu Sanggadaru didalam hatinya. Dan ia sadar, bahwa kekuatan padepokan itu sendiri tidak banyak berarti dalam pertempuran itu.

Namun demikian, meskipun pasukannya menjadi semakin terdesak, Empu Baladatu sama sekali tidak berpikir untuk menarik serangannya dan menghindar dari arena. Ia telah di kuasai oleh nafsu kemarahan yang tidak terkendali. Yang ada di dalam angan-angannya hanyalah nafsu untuk membunuh.

Tetapi Empu Sanggadaru masih tetap hertempur dalam kesadaran. Itulah sebabnya, maka ia masih menahan diri. Meskipun dengan demikian kadang-kadang ialah yang justru harus berloncatan surut.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan, yang bertempur di dalam dinding padepokan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di luar padepokan, benar-benar telah menjadi hantu bagi lawannya. Kehadiran, mereka di setiap sudut arena, telah mendesak lawan-lawannya. bahkan sebelum mereka mencoba melawan.

Beberapa orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang sebagian telah tidak herdaya lagi, sedangkan orang dari Mahibit, terutama yang berada didalam dinding padepokan, benar-benar telah kehilangan keberanian.

Karena itulah, maka pertempuran itupun kemudian seolah. telah berpusat pada kedua kakak beradik itu. Seolah-olah mereka berdualah yang akan menentukan, kapan pertempuran itu akan berakhir.

Empu Sanggadaru yang menyadari hal itu, telah membuat perhitungan-perhitungan tertentu. Ia tidak ingin melihat korban lebih banyak lagi yang jatuh. Karena itulah, maka iapun kemudian mengambil keputusan untuk segera mengakhiri pertempuran. Jika Empu Baladatu dapat dikuasainya, maka orang-orang yang menyerang padepokan itu akan kehilangan kedua pemimpinnya.

Karena itulah, maka Empu Sanggadaru pun kemudian mulai mempercepat serangan-serangannya. Pertimbangannya menjadi semakin jauh ketika ia menyadari korban telah berserakan silang melintang.

“Jika terpaksa adikku menjadi korban, apa boleh buat.Tetapi tidak harus menambah jumlah tanpa dapat dihitung lagi.”katanya di dalam hati.

Sejenak kemudian, maka Empu Sanggadaru itupun menggeram. Seolah-olah kekuatan yang tersisa itupun telah dikembangkannya dengan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam alam di sekitarnya. sehingga menjadi berlipat ganda.

Tata geraknya menjadi semakin cepat, dan kekuatannya pun bagaikan kekuatan raksasa yang sedang mengamuk.

Empu Baladatu terkejut melihat perubahan yang timbul pada kakaknya itu- Karena itu, maka iapun herusaha untuk mengimbanginya. Iapun herusaha untuk dapat menggerakkan semua kekuatan yang tersisa sehingga ia tidak akan dapat didesak oleh serangan-serangan kakaknya yang kemudian datang bagaikan banjir bandang .

Dengan demikian, kedua orang kakak beradik itu telah bertempur semakin sengit dengan mempertaruhkan hidupnya.

Mahisa Bungalan sempat memperhatikan pertempuran antara kedua orang bersaudara itu. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, ia segera dapat mengetahui, bahwa keduanya benar-benar telah sampai pada puncak kemampuan. Sekali-kali Mahisa Bungalan melihat Empu Sangggadaru terdesak. Namun kemudian ia melihat Empu Baladatu ada dalam bahaya yang langsung mengancam jiwanya.

Namun dalam pada itu, maka ketahanan tubuh keduanyalah yang akan menentukan akhir dari pertempuran itu. Empu Sanggadaru masih tetap dalam batas kemampuannya, sementara Empu Baladatu seolah-olah telah kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit.

Ketika Empu Sanggadaru menyadarinya, maka iapun segera membuat pertimbangan terakhir. Dengan perhitungan yang mapan maka iapun kemudian memaksa Empu Baladatu mengerahkan segenap sisa tenaganya. Serangannya pun datang dengan kekuatan dan kecepatan bergerak yang sudah sampai pada hatas kemampuannya. Ternyata usaha Empu Sanggadaru herhasil. Ia dapat memaksa Empu Baladatu memeras semua tenaga yang tersisa, sehingga sejenak kemudian, nafasnyapun mulai mengalir berkejaran semakin cepat di lubang hidungnya.

Mahisa Bungalan yang berdiri termangu-mangu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat pertempuran yang riuh itu. Ia dapat saja terjun kedalamnya dan membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Jika baru saja ia berada didalam hiruk pikuk pertempuran, maka yang dilakukannya adalah sekedar menakut-nakuti lawan dan jika terpaksa melumpuhkan mereka tanpa membunuhnya.

Sekilas Mahisa Bungalan melihat bulan bulat dilangit yang menjadi semakin rendah. Sebentar lagi, langit diujung Timur akan menjadi ke-merah-merahan oleh fajar yang menyingsing.

Bukan saja Mahisa Bungalan, namun Empu Baladatu pun menyadari bahwa sisa malam tinggallah sedikit sekali. Jika bulan lenyap cahayanya karena fajar, maka upacara yang terbesar yang akan dilakukannya itu akan gagal. Rencananya untuk menyerahkan korban sebanyak-banyaknya ternyata sama sekali tidak akan dapat terwujud.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya, ketika ia memperhatikan pertempuran yang mulai menurun itu. Ia melihat Empu Baladatu meloncat jauh-jauh surut sementara Empu Sanggadaru melangkah maju dengan ragu-ragu.

Baru kemudian Mahisa Bungalan melihat, bahwa sepercik darah telah memerah pada tubuh Empu Baladatu.

“Gila” teriak Empu Baladatu.

Empu Sanggadaru berdiri membeku. Dipandanginya adik nya yang terluka didadanya.

“Baladatu” desisnya.

Wajah Baladaku menjadi merah padam dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan. Dengan telapak tangan kirinya ia meraba lukanya. Dengan tatapan mata yang membara karena ke marahan yang menghentak, ia melihat darah mewarnai jarinya.

“Kau melukai aku kakang” geramnya.

Empu Sanggadaru tenmangu-mangu sejenak. Kemudian sambil maju selangkah ia berkata, “Bukan maksudku Baladatu. Aku hanya ingin memperingatkanmu, “

“Inikah caramu memperingatkan aku.”

“Aku tidak sengaja “

“Omong kosong. Kau akan membunuh aku” ia berhenti sejenak, lalu, “daripada aku mati karena tanganmu, lebih baik aku sajalah yang membunuhmu. Kau sudah tua. Kau sudah cukup banyak makan garam. Karena itu, biar sajalah kau mati”

Empu Sanggadaru termangu-mangu- Tetapi ia masih tetap berhati-hati, betapapun hatinya dicengkam oleh keragu-raguan.

Empu Baladatu yang sudah menjadi semakin lemah itu masih saja tidak melihat kenyataan yang dihadapinya. Karena itu, maka dengan serta merta ia meloncat menerkam kakaknya yang sedang memperhatikannya dengan hati yang berdebar-debar.

Serangan itu sangat mengejutkan. Namun Empu Sanggadaru memang sudah menduga, bahwa luka itu tidak akan menghentikan perlawanan adiknya. Karena itulah, maka ia pun kemudian dengan cepat pula mengelak, dengan sebuah loncatan ke samping.

Namun dalam pada itu, terkilas di dalam pikirannya, hahwa sudah saatnya ia menghentikan perlawanan adiknya sebelum ia kehabisan darah, jika masih mungkin, maka ia akan mengalahkan dan melumpuhkan, adiknya tanpa membunuhnya.

Karena itulah, ketika Empu Baladatu gagal mengenainya, Empu Sanggadaru lah yang menyerang dengan garangnya. Ia meloncat menyusul arah serangan adiknya. Dengan ayunan tangan kirinya ia menghantam punggung Empu Baladatu yang sedang berusaha mencapai keseimbangannya kembali.

Serangan secepat itu, sangat sulit dihindari oleh Empu Baladatu dalam keadaannya. Ia telah mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk menyerang, sehingga darahnya bagaikan ditekan keluar dari luka.

Itulah sebabnya, maka serangan Empu Sanggadaru itu langsung telah mengguncang seisi dadanya bagaikan rontok. Pukulan pada punggungnya benar-benar telan melumpuhkan segenap kekuatannya, sehingga terhuyung-huyung ia terdorong selangkah maju. dan kemudian ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya.

Sejenak kemudian Empu Baladatu itu pun telah terjatuh di tanah. Sekali ia berguling dan herusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya lelah menjadi sangat lemah dan tidak berdaya.

Empu Sanggadaru berdiri tegak bagaikan patung memandang adiknya yang terbaring di tanah. Sekilas ia melihat wajah yang pucat dan darah yang mengalir dari luka.

Dalam pada itu, pertempuran di dalam lingkaran dinding padepokan itu pun menjadi riuh. Orang-orang dari padepokan Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit telah kehilangan pemimpinnya. Meskipun sebenarnya jumlah mereka masih cukup, tetapi keberanian mereka telah susut dan bahkan kemudian larut sama sekali.

Apalagi apabila tatapan mata mereka tertumbuk kepada Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan yang telah kehilangan lawan masing-masing, maka hati merekapun menjadi kecut.

Itulah sebabnya, maka perlawanan mereka sama sekali sudah tidak berarti. Bahkan tiba-tiba saja tanpa diketahui diantara mereka terdengar seorang yang kemudian disahut oleh beberapa orang yang menjalar dengan cepatnya, “Lari, lari, lari.”

Terjadilah kekisruhan di seluruh arena di dalam dinding padepokan. Orang-orang yang kehilangan pemimpinnya itu herlari-larian tanpa arah. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri masing dari ujung senjata orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru.

Beberapa orang berhasil meloncati dinding padepokan sambil berteriak-teriak sehingga teriakan mereka telah mengejutkan orang-orang yang bertempur di luar dinding.

Sejenak kekisruhan itu pun mengejutkan orang-orang yang bertemput di luar,. yang sebenarnya masih cukup seru. Orang-orang dari padepokan Serigala Putih. Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit sebenarnya masih cukup kuat untuk mendesak lawannya meskipun kedua orang anak-anak muda bertempur bagaikan hantu itu tetap merupakan lawan yang sangat herat-

Tetapi orang-orang yang berlari-larian dari dalam dinding telah menghentakkan mereka. Apalagi ketika mereka mendengar teriakan, “Linggadadi terbunuh.”Kemudian disambut, “Empu Baladatu mati.”

Maka mereka yang berada di luar dinding padepokan Empu Sanggadaru itupun seolah-olah telah kehilangan pegangan. Mereka tidak dapat mempertahankan diri lagi untuk bertempur terus, sehingga karena itu. maka mereka pun mulai berpencaran.

Beberapa orang prajurit dan cantrik masih berusaha mengejar mereka dan berhasil menangkap beberapa orang. Tetapi yang lainpun segera menyelinap dan hilang didalam kegelapan.

Sejenak kemudian, arena yang hiruk pikuk itu menjadi sepi. Yang ada kemudian adalah para prajurit Singasari, para cantrik dan orang-orang yang berada dalam lingkungan padepokan Empu Sanggadaru. Beberapa orang prajurit masih sibuk mengurus beberapa orang yang tertawan. Yang lain langsung menangani kawan mereka yang. menjadi korban, terutama yang terluka dan masih dapat diharapkan hidup terus

Dalam pada itu, Empu Sanggadaru berlutut di dekat adik nya terbaring. Di sampingnya Mahisa Bungalan pun berlutut pula dengan wajah yang tegang.

“Ia masih hidup” berkata Empu Sanggadaru, “mungkin masih dapat diobati. Aku yakin, ketahanan tubuhnya sangat tinggi, sehingga ia masih akan dapat bertahan.”

Empu Sanggadaru pun kemudian memerintahkan seorang kepercayaannya untuk menyediakan obat-obatan yang akan diper gunakan untuk megobati adiknya yang, terluka parah itu.

Beberapa saat kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun telah datang mendekati kakaknya. Sejenak mereka memandang Empu Baladatu yang terbaring. Kemudian dengan perlahan-lahan Mahisa Pukat hertanya, “Bagaimana dengan orang itu?”

“Ia adalah Empu Baladatu. adik Empu Sanggadaru sendiri “

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti menganggukkan kepala nya. Merekapun pernah mendengar nama itu.

“Apakah lukanya parah?” bertanya Mahisa Murti., “Cukup parah” jawah Mahisa Bungalan, “Empu Sanggadaru sedang berusaha untuk mengobatinya.”

Pertolonganpun segera diberikan kepada Empu Baladatu. Tubuhnya yang lemah itu pun kemudian dibawa masuk ke dalam padepokan, sementara orang-orang lain sibuk mengurus tawanan, mengurus kawan dan lawan yang terluka. Sedangkan yg lain mengumpulkan korban-korban terbunuh di dalam peperangan itu

Suasana duka telah meliputi padepokan itu. Beberapa orang yang kehilangan sanak kadang, menggeretakkan giginya dan seolah-olah ingin melepaskan dendamnya kepada tawanan yang ketakutan.

Tetapi para prajurit Singasari telah menahan dan memperlakukan para tawanan seperti yang seharusnya, karena mereka adalah justru prajurit.

“Itulah salahnya” geram seorang yang kehilangan adiknya, “jika disini lidak ada para prajurit itu, kita akan membantai setiap orang yang tertangkap.”

“Empu Sanggadaru tidak akan membenarkan” sahur yglain.

“Kita dapat minta dan agak mendesak. Tetapi terhadap prajurit-prajurit itu, kita tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Tetapi seorang yang agak tua berkata, “Tanpa prajurit-prajurit itu kitalah yang akan menjadi tawanan. Dan seperti yang kau katakan, kita memang akan dibantai dan dijadikan korban pada upacara ngeri yang dilakukan oleh orang-orang berilmu hitam disaat purnama naik.”

“He?” kawannya yang mendendam itu berdesis, “apakah benar begitu?”

“Kau ingin mencoba bertemu lagi dengan mereka tanpa prajurit Singasari?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng, “Tidak Tidak.”

Kawan-kawannya tidak menyambung lagi. Tetapi mereka pun menyadari betapa dahsyatnya pertempuran yang baru saja terjadi. Tanpa prajurit Singasari, maka padepokan itu tentu akan hancur, dan upacara yang mengerikan itu akan berlangsung tanpa dapat dicegah lagi.

Tetapi kini mereka yang berada di padepokan itulah yang berhasil mengusir musuhnya. Bahkan mereka dapat menawan beberapa orang selain yang terbunuh Di antara mereka yang terbunuh adalah Linggadadi, dan yang tertawan adalah Empu Baladatu yang terluka parah.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...