*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 29-03*
Karya. : SH Mintardja
Dalam pada itu, Empu Sanggadaru sedang sibuk dalam usahanya menolong jiwa adiknya. Beberapa orang yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan telah dipanggil dan bersama-sama berusaha untuk mengobati Empu Baladatu yang nampaknya benar-benar terluka parah.
“Usahakan agar ia hidup” desah Empu Sanggadaru.
Orang-orang yang berusaha mengobati itu pun mencoba dengan sepenuh kemampuan yang ada, karena mereka melihat, bahwa Empu Sanggadaru telah minta dengan sungguh-sungguh. Meskipun Empu Baladatu telah berusaha membunuhnya, namun ia adalah adiknya. Bagaimanapun juga, Empu Sanggadaru tidak akan sampai hati untuk membiarkan Empu Baladatu mati dibawah hidungnya tanpa berbuat berbuat apa-apa. Apalagi Luka-luka parah itu adalah karena tangannya yang sedang didorong oleh kemarahan yang tidak tertahankan.
“Apakah aku akan menyebabkan kematian adikku?” pertanyaan itu selalu mengejarnya. Sehingga seolah-olah ia tidak menghiraukan lagi apa yang telah terjadi di halaman padepokannya.
Semetara itu, orang-orangnya sedang sibuk menyingkirkan mayat dan mengangkat orang-orang yang terluka. Beberapa orang telah mendapat pertolongan, namun masih saja terdengar desah dan keluh kesah. Bahkan masih terdengar gemeretak gigi dan kadang-kadang sesambat yang panjang.
Sementara itu, Empu Sanggadaru masih saja dicengkam oleh ketegangan menunggui adiknya yang terbaring diam dengan mata terpejam. Nafasnya bekejaran melalu lubang hidungnya. Bahkan kadang-kadang nafas itu berhenti sesaat dan seolah-olah hilang sama sekali.
Empu Sanggadaru benar-benar menjadi gelisah. Seolah-olah ia berdiri dihadapan ayah dan ibunya. Dengan wajah yang marah oleh kemarahan, kedua menudingnya sambil menuntut pertanggungan jawab atas keadaan Baladatu.
“Ia adikmu” terdengar suara itu mengumandang di dalam dadanya.
“Tetapi ia akan membunuhku, dan aku hanyalah sekedar membela diri” Empu Sanggadaru mencoba membantah
“Kau boleh mencubitnya jika ia nakal. Kau boleh memukulnya dengan rotan, atau menarik kupingnya. Tetapi kenapa kau sampai hati membunuhnya? Kau adalah saudara tuanya Kau wajib memperingatkan jika ia sedang lupa diri. Tetapi bukan kuwajiban saudara tua untuk membunuh adiknya”
Empu Sanggadaru menjadi semakin berdebar-debar. Suara itu bagaikan mengumandang di telinganya tanpa henti-hentinya.
Empu Sangggadaru menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Empu Baladatu bergerak. Bahkan kemudian terdengar suara keluhan dari mulutnya.
“Ia mulai hidup”desisnya, “cepatlah. Usahakanlah agar ia cepat sadar.”
Orang-orang yang sedang herusaha mengobatinya itupun men jadi tegang. Mereka sudah melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk keselamatan Empu Baladatu.
Namun mereka pun sadar, bahwa jika mereka gagal, Empu Sanggadaru pun akan kecewa sekali. Penyesalan yang tidak herkeputusan akan memukul hatinnya setiap saat.
Tetapi ternyata bahwa usaha mereka tidak sia-sia. Sejenak kemudian, maka mereka melihat Empu Baladatu itu pun membuka matanya
“Baladatu, Baladatu” Empu Sanggadaru memanggil berulang-ulang dengan penuh harapan.
Empu Baladatu membuka matanya. Kemudian dicobanya untuk melihat setiap orang yang ada di sekitarnya di bawah cahaya obor yang terang.
“Tahankanlah. Bukankah kau memiliki ketahanan tubuh yang tidak terhingga. Kau tentu akan sembuh sama sekali dalam waktu yang singkat” desis kakaknya.
Empu Baladatu memandang kakaknya sejenak. Tetapi masih nampak kecemasan yang sangat membayang di tatapan matanya yang pudar.
“Baladatu, kau harus sembuh” desis Empu Sanggadaru. Empu Baladatu tidak menyahut. Mulutnya masih terasa berat dan hatinya masih dicengkam oleh kebimbangan. Namun wajahnya yang pucat berangsur menjadi merah. Melalui bibir nya telah dapat diteguk beberapa titik air yang segar, sehingga tubuh yang letih itu pun rasa-rasanya telah dijalari oleh kesegaran itu pula.
Namun dengan demikian, perasaan sakit dan nyeri pun telah menjalar pula di seluruh tubuhnya. Tetapi bagi Empu Ba ladatu yang memiliki pengalaman yang luas, segera mengetahui, bahwa dengan demikian urat dan syarafnya di seluruh tubuhnya masih dapat bekerja sewajarnya.
Ketika beberapa titik air dituangkan kebibirnya, Empu Baladatu merasa hadannya bertambah segar, sehingga ia mulai mencoba menggerakkan ujung-ujung jari tangan dan kakinya Kemudian pergelangan tangannya dan seluruh lengannya.
“Jangan bayak bergerak” kakaknya mencoba menahannya.
Empu Baladatu mengejapkan matanya, sebagai isyarat bahwa ia mengerti yang dikatakan oleh kakaknya itu.
Beberapa orang pandai yang ada disekitarnya pun mulai merasa lega. Mereka mulai bernafas dengan teratur, dan terlepas dari ketegangan yang mencengkam
“Mudah-mudahan keadaanya berangsur menjadi baik” gumam salah seorang dari mereka
Empu Sanggadaru pun mengangguk, la melihat wajah adiknya menjadi berangsur hidup pula, dan nafasnya pun mulai teratur.
Empu Sanggadaru meraba pergelangan tangan adiknya. Ia sendiri adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang obat dan pengobatan. Tetapi ketika adiknya sendiri yang terkena, maka ia seolah-olah telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Sehingga dengan demikian ia telah memanggil beberapa orang yang dianggapnya cukup mempunyai pengetahuan tentang obat dan pengobatan.
Tetapi ternyata bahwa keadaan adiknya itu memang berangsur baik.
Karena itulah, maka Empu Sanggadaru pun mulai teringat kepada keadaan padepokannya. Halaman yang rusak karena injakan kaki dan sentuhan senjata yang berputaran, serta mayat yang berserakan di antara orang-orang yang terluka.
Dengan ragu-ragu Empu Sanggadaru pun kemudian berbisik kepada salah seorang dari orang-orang yang menunggui Empu Baladatu, “Aku akan turun kehalaman” Orang itu mengangguk.
Sejenak kemudian Empu Sanggadaru pun telah meninggalkan bilik itu bersama Mahisa Bungalan. Di halaman mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sedang berdiri termangu-mangu melihat orang-orang yang sedang sibuk dengan mereka yg terluka dan dengan mayat-mayat.
Keduanya menyongsong ketika mereka melihat Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan mendekati mereka.
“Bagaimana dengan kalian?” bertanya Empu Sanggadaru.
“Kami tidak mengalami sesuatu Empu” jawab Mahisa Murti.
“Syukurlah” jawab Empu Sanggadaru, “beristirahatlah di dalam. Aku akan mengawasi orang-orang yang sedang mengatur tawanan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”
Empu Sanggadaru pun kemudian melintasi halaman menuju ke seberang longkangan dan memasuki sebuah rumah samping. Di dalam sebuah bilik terdapat beberapa orang, yang sedang ditawan. Sedangkan bagian yang lain telah ditempatkan di beberapa bilik yang terpencar.
Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan mendekati pintu bilik yang tertutup rapat dan di selarak kuat-kuat itu. Sejenak ia memperhatikan beberapa orang penjaga di setiap sudut dan di depan pintu.
“Aku ingin bertemu dengan mereka” berkata Empu Sanggadaru.
Seorang penjaga yang bersenjata telanjang telah membuka selarak pintu itu dan membukanya.
Ketika Empu Sanggadaru memasuki ruangan itu bersama Mahisa Bungalan, maka nampaklah wajah-wajah yang ketakutan dari beberapa orang yang berada didalamnya. Seorang yang masih sangat muda duduk di sudut bilik itu sambil menyilang kan tangannya di dada. Sedang dari matanya terpancar penyesalan, bahwa ia telah terlempar kedalam bilik itu bersama beberapa orang lain
Sejenak Empu Sanggadaru mengamati orang-orang yang berada di dalam bilik itu. Satu persatu, seakan-akan ia ingin melihat langsung ke bilik tatapan mata mereka yang sayu.
“Siapakah kalian masing-masing masih harus ditanyakan” berkata Empu Sanggadaru, “kedatangan kalian kali ini memang agak aneh bagi kami. Jika diantara kalian terdapat orang-orang berilmu hitam, tetapi kenapa diantaraa kalian terdapat pula Linggadadi yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Tidak seorangpun yang menjawab. Beberapa orang justru saling berpandangan.
“Aku memang tidak bertanya kepadamu dan menunggu jawabanmu sekarang” berkata Empu Sanggadaru, “tetapi besok aku akan mulai dengan orang yang pertama. Aku ingin bertanya kepada kalian seorang demi seorang. Mudah-mudahan kalian masih akan kami dorong masuk kembali kedalam bilik masing-masing.”
Kata-kata itu sungguh telah menggetarkan dada mereka. Menurut pengalaman yang mereka lakukan, maka meteka telah memperlakukan tawanan-tawanan mereka sekehendak hati. Orang-orang berilmu hitam kadang-kadang telah mempergunakan tawanan-tawanannya untuk korban disaat purnama naik. Sedang orang-orang Mahibit sering dengan sengaja memperlakukan tawanan mereka dengan tindakan yang aneh-aneh sekedar untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan atas sengsara dan penderitaan orang lain.
Sejenak Empu Sanggadaru masih berdiri di pintu sambil memandang orang-orang yang ada didalam bilik itu. Namun sejenak kemudian wajah-wajah itupun segera menunduk dalam-dalam.
“Kau tentu sudah tahu. Bahwa Linggadadi telah terbunuh dan Empu Baladatu terluka parah, yang barangkali akan memerlukan waktu yang lama sekali untuk menyembuhkannya” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “sehingga karena itu, kami tidak akan dapat menanyakan apapun kepada mereka. Itulah sebabnya kami memerlukan kalian. Mungkin keterangan yang dapat kalian berikan kepada kami, akan memberikan jalan penyelesaian yang sebaik-baiknya. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Apalagi jika kalian menjadi keras kepala dan berusaha untuk menyembunyikan sesuatu.”
Wajah-wajah yang menunduk itu menjadi tegang sejenak. Namun merekapun kemudian menyadari, bahwa dapat terjadi apa saja atas mereka yang sudah tertawan.
Sejenak kemudian, Empu Sanggadaru itu pun meninggalkan tawanannya dan pintu itupun ditutup dan diselarak kembali.
Demikianlah, maka padepokan yang tenang itu, kemudian telah menemukan kesibukan baru. Ketika fajar menyingsing nampaklah wajah-wajah yang kuyu dan kusut. Mereka yang selamat dan tidak terluka. harus bekerja keras menyingkirkan mayat dan orang-orang yang terluka.
Tetapi kerja mereka masih belum selesai. Mayat-mayat itu tentu tidak cukup hanya sekedar disingkirkan. Itulah sebabnya, mereka masih harus bekerja keras menyelenggarakan mayat-mayat Itu.
Di bagian yang lain, orang-orang yang terluka berbaring sambil menggerang. Ada yang sudah sedemikian parahnya, sehingga tidak dapat mengenal kawan-kawannya lagi. Tetapi ada di antara mereka yang luka-luka ringan, masih dapat membantu mengatur suasana padepokan yang diliputi oleh kengerian itu.
Dalam pada itu selagi para cantrik dan orang-orang di padepokan itu menyelenggarakan tugas masing-masing. maka Empu Sanggadarupun mulai memanggil satu dua orang tawanannya. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya masih terbatas pada sekedar penjajagan saja. Empu Sanggadaru masih belum sempat memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terperinci dan mendalam.
Dihari berikutnya itulah maka semua perkejaan diselesai kan. Dengan demikian maka padepokan itu akan segera dapat dibersihkan dari noda-noda darah dan bekas-bekas pertempuran yang mengerikan itu.
Meskipun demikian, mereka tidak dapat memaksa orang-orang yang terluka sembuh pada hari itu dan menyingkirkan para tawanan, sehingga mereka masih merupakan kenyataan yang harus mereka hadapi untuk beberapa hari mendatang.
“Tetapi para tawanan itu dapat diserahkan kepada para prajurit Singasari” berkata salah seorang dari cantrik padepokan itu.
“Ya. Tetapi tentu tidak besok atau lusa. Mungkin sepekan, mungkin sepuluh hari. karena untuk membawa para tawanan itu, tentu diperlukan persiapan.” jawab yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk. Namun jawabnya, “Itu lebih baik daripada mereka akan tetap tinggal disini untuk selama-lamanya. Atau bagaimanakah seandainya jika mereka itu dilepaskan saja?”
“Mereka akan datang lagi mencekikmu besok atau lusa demikian mereka dilepaskan.”
” Atau dibunuh?”
“Jangan mengganggu saja. Bekerjalah sesuatu. Aku sudah bekerja sampai keringatku kering.”
Kawannya tersenyum. Iapun kemudian meninggalkan kawannya dan mulai melakukan kerja apapun juga.
Sejak saat itu, maka padepokan Empu Sanggadaru selalu diliputi oleh kemuraman. Para prajurit Singasari masih tetap berada ditempat itu, karena mereka masih mencemaskan kemungkinan yang kurang baik di saat mendatang. Mungkin orang-orang yang berhasil melarikan diri itu akan kembali dengan kawan-kawannya untuk membebaskan para tawanan atau karena dendam.
Apalagi ketika dari para tawanan diketahui, bahwa Linggadadi mempunyai seorang kakak di Mahihit bernama Linggapati yang memiliki kematangan ilmu melampaui Linggadadi.
“Ia akan dapat menghimpun kekuatan yang masih tersisa di Mahibit untuk melepaskan dendamnya karena kematian adiknya.” berkata salah seorang prajurit.
Pemimpin prajurit Singasari di padepokan itu pun kemudian menentukan sikap, apakah yang harus mereka lakukan.
“Dua orang akan memberikan laporan kepada pimpinan di Singasari, bahwa telah terjadi pertempuran yang mengerikan di padepokan ini. Tetapi agaknya yang terjadi bukannya tujuan utama. Laporan juga tentang Linggapati di Mahibit”
Demikianlah dua orang petugas telah pergi ke Singasari.
Mereka membawa pesan bagi Senopati Lembu Ampal, tentang pertempuran yang telah terjadi, tentang tawanan dan tentang Mahibit.
Dalam pada itu, keadaan Empu Baladatu pun berangsur menjadi baik. Ketahanan tubuhnya memang luar biasa, sehingga selelah ia beristirahat semalam, maka ia telah dapat bangkit dan duduk bersandar dinding.
Dihari berikutnya Empu Baladatu sudah dapat bangkit berdiri dan berjalan mondar mandir didalam biliknya.
“Beristirahatlah” berkata Empu Sanggadaru ketika ia melihat adiknya berjalan hilir mudik.
Empu Baladatu memandang wajah kakaknya dengan tatapan mata yang aneh. Namun ia sama sekali tidak menjawab. “Duduk sajalah. Luka-lukamu masih berbahaya bagimu.” Empu Baladatu pun kemudian duduk di pembaringan. Kepalanya ditundukkannya seolah-olah sedang, merenungi hari-harinya yang telah lewat.
“Kau masih harus banyak beristirahat” berkata Empu Sanggadaru, “dengan demikian kau akan cepat menjadi sembuh.”
Empu Baladatu masih tetap diam sambil duduk termenung
Empu Sanggadaru tidak berbicara terlalu banyak. Ia merasa senang karena semua obat yang diberikan pasti dipergunakan oleh Empu Baladatu. Yang berupa minuman pasti diminumnya. Yang harus ditaburkan, ditaburkannya dengan rajin, dibantu oleh orang-orang yang diserahi untuk mengawasinya.
“Mudah-mudahan ia lekas sembuh” berkata Empu Sanggadaru kepada orang yang menjaga bilik Empu Baladatu itu, “Bagaimana dengan makannya?”
“Cukup baik Empu. Empu Baladatu berusaha untuk makan sebanyak-banyaknya.”
“Syukurlah Ia masih mempunyai keinginan untuk hidup terus.”
Sebenarnyalah bahwa Empu Baladatu masih ingin tetap hidup. Ia adalab seorang yang memiliki gairah dan cita-cita, sehinga ia tidak terlalu cepat menyerah kepada mati
Karena itulah, maka luka-lukanya itupun rasa-rasanya menjadi terlalu cepat sembuh. Luka-lukanya cepat menjadi kering dan nampaknya tenaganya pun menjadi berangsur pulih
“Sebentar lagi kau akan pulih” berkata Empu sanggadaru yang sekali-kali menengok kedalam biliknya,
“Terima kasih kakang” berkata Empu Baldatu. Namun dalam pada itu, Singasari yang dihubungi oleh para prajurit yang bertugas dipadepokan itupun telah mendengar semua peristiwa yang terjadi. Karena itulah maka pimpinan keprajuritan di Singasari telah mengirimkan beberapa orang perwira untuk menilai keadaan. Diantara mereka adalah Mahisa Agni sendiri.
“Ketiga kemanakanku ada di sana” berkata Mahisa Agni
Demikianlah Mahisa Agni pun segera mempersiapkan diri. Perjalanan yang pernah ditempuhnya, sama sekali tidak membawanya kepada orang-orang berilmu hitam itu sehingga akhirnya ia kembali sebelum berhasil menemukan padepokan orang-orang berilmu hitam itu. Dan kini orang-orang berilmu hitam itu telah berada di padepokan Empu Sanggadaru justru bersama dengan orang-orang Mahibit.
Dihari berikutnya, lima orang prajurit termasuk Mahisa Agni telah berpacu menuju ke padepokan Empu Sanggadaru. Kehadirannya itu telah diberitahukan lebih dahulu kepada para pemimpin prajurit di padepokan Empu Sanggadaru sehingga merekapun segera bersiap untuk menyambutnya.
Namun dalam pada itu, ketika pagi yang cerah mulai membayang diatas padepokan, sebelum mereka mempersiapkan penyambutan yang memadai, maka padepokan itu telah digemparkan oleh peristiwa yang tidak terduga-duga.
Ketika seorang pengawal yang bertugas dipagi hari datang kemuka bilik Empu Baladatu untuk menggantikan penjaganya, maka ia tidak menemukan penjaga itu. Beberapa saat ia mencarinya, tetapi ia tidak menemukannya.
Ia menjadi ragu-ragu ketika ia melihat pintu bilik Empu Baladatu itu terbuka sedikit. Perlahan-lahan ia menyentuh daun pintu itu,. dan kemudian membukanya dengan hati-hati
Pengawal itu hampir terpekik ketika ia melihat sesosok tubuh terbaring dilantai dengan berlumuran darah. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya. Ternyata orang itu adalah kawannya yang akan digantikannya.
Kegemparan itupun segera menjalar. Ketika Empu Sanggadaru, Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mendengarnya, maka merekapun segera berlari-lari ke dalam bilik itu.
Sebenarnyalah yang mereka jumpai adalah sesosok mayat yang dadanya pecah, dan tulang iganya berpatahan.
Terdengar Empu Sanggadaru menggeretakkan giginya. Ketika ia mengangkat wajahnya, betapa matanya bagaikan membara menahan kemarahannya.
“Baladatu benar-benar telah menjadi gila”geramnya. Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Iapun sadar bahwa perbuatan itu tentu dilakukan oleh Empu Baladatu. Dan sudah tentu bahwa Empu Baladatu telah melarikan diri dari padepokan itu.
“Aku menyesal” berkata Empu Sanggadaru dengan nada yang dalam dan gemetar karena kemarahan yang menghentak-hentak, “ia adalah satu-satunya adikku. Aku mencoba untuk melunakkan hatinya. Tetapi ternyata ia telah berbuat gila di padepokanku ini.”
Tidak seorang pun yang menyahut. Tetapi kekesalan telah membayang di setiap wajah.
“Jika aku mengerti, bahwa ia akan melarikan diri, aku tentu sudah membunuhnya” sambung Empu Sanggadaru, “adalah kesalahanku, bahwa aku terlalu percaya kepadanya. Tentu ia dengan mudah dapat melarikan diri, karena aku memang tidak menempatkan penjagaan yang memadai. Aku kira ia menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya. Setiap aku menemuinya di dalam bilik ini, nampaknya ia sudah menyesal dan bertaubat. Tetapi ternyata akulah yang dungu.”
Mahisa Bungalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun merekapun menyadari, bahwa mereka sudah terlambat untuk mencarinya, karena Empu Baladatu yang sudah hampir sembuh benar-benar itu tentu sudah jauh dan menempuh jalan yang tidak diketahui.
Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yg masih muda itupun tidak mudah menyerah. Karena itu maka katanya, “Kami akan mencoba mencarinya.”
Empu Sanggadaru memandang kedua anak muda itu sejenak. Namun kemudian iapun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak usah anak mas. Kita belum mengetahui dengan pasti, apakah orang-orang yang melarikan diri dalam pertempuran yang telah terjadi itu tidak akan datang lagi membawa kawan yang lebih banyak. Khususnya orang-orang Mahibit. Mungkin mereka sekedar ingin melepaskan dendam, tetapi mungkin juga mereka ingin melepaskan kawan-kawan mereka yang tertawan ”
Mahisa Bungalan pun mengangguk sambil menyambung, “Memang, keadaannya masih belum dapat kita ketahui dengan pasti. Adalah berbahaya sekali jika kau berdua akan pergi mencarinya “
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ke mudian terdengar Mahisa Murti berkata, “Tetapi apakah kita akan membiarkannya melarikan diri?”
“Tentu kita akan mencarinya. Tetapi dengan perhitungan yang cukup, tidak dengan tergesa-gesa” berkata Mahisa Bungalan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian mengerti, bahwa mencari Empu Baladatu tentu memerlukan banyak pertimbangan. Ia tentu sudah agak lama menanggalkan padepokan itu. Dan tidak seorang pun yang dapat menduga, ke arah manakah ia pergi. Selebihnya, seperti yang dikatakan oleh Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan. keadaannya akan dapat berbahaya sekali.
Dengan demikian, maka yang dilakukan oleh orang-orang di padepokan itu adalah sekedar mengumpat-umpat dan kemudian duduk sambil membicarakan kemungkinan-kemingkinan yang dapat terjadi.
“Jika prajurit Singasari itu datang, mereka tidak akan dapat menemukan Empu Baladatu lagi disini” berkata Mahisa Bungalan.
Empu Sangggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu itu pun masuk perhitungan Baladatu. Ia tidak mau jatuh ketangan prajurit-prajurit Singasari yang sudah lama mencarinya. Ia tentu membayangkan, apakah yang akan dialaminya jika ia berada ditangan para prajurit.”
“Sebenarnya ia tidak akan mengalami apapun juga” sahut Mahisa Bungalan.
“Ia mendapat gambaran yang salah tentang prajurit Singasari” sambung Mahisa Pukat.
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk lagi. Sekilas dipandanginya pemimpin prajurit Singasari yang berada di padepokan itu. Kemudian katanya, “Aku menjadi cemas, bahwa prajurit Singasari akan menjadi salah paham”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Mungkin mereka menyangka, bahwa aku sengaja melepaskannya.”
Pemimpin prajurit Singasari yang berada di padepokan itupun kemudian menyahut” Empu terlalu cemas terhadap sikap para prajurit.”
Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak.
“Kami menjadi saksi” sambung pemimpin prajurit Singasari itu, lalu, “Empu sudah melakukan sejauh dapat kau lakukan. Jika yang terjadi itu bukan yang kita kehendaki, itu adalah di luar kemampuan kita semua. Empu Baladatu benar-benar tidak tahu diri. sehingga sudah barang tentu, ia telah menyalah-gunakan kepercayaan Empu terhadapnya.”
“Itulah yang aku cemaskan. Kelengahanku dapat dianggap sebagai suatu kesempatan baginya.”
Pemimpin prajurit itu menggeleng, “Tidak Empu. Tentu tidak akan ada anggapan yang demikian.”
“Aku tidak menempatkan penjagaan yang kuat, sehingga Baladatu dapat melarikan diri. Memang penjaga yang terbunuh itu tidak berarti apa-apa baginya.”
“Tetapi Empu harus percaya kepada kami yang akan dapat menjadi saksi.” sahut Mahisa Bungalan.
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Terima kasih. Mudah-mudahan mereka percaya, bahwa kepergian Baladatu bukannya karena keselamatan yang aku berikan. Tetapi karena kelengahanku semata-mata. Aku berharap bahwa Baladatu akan menerima kenyataan tentang dirinya, dan bahwa aku adalah satu-satunya saudara tuanya.”
“Ilmunya telah mempengaruhi watak dan pandangan hidupnya” berkata Mahisa Bungalan, “Agaknya tidak ada lagi ikatan unggah ungguh dan ikatan yang dapat mengekang perasaannya. Juga hubungan keluarga tidak berarti sama sekali. Sehingga ia dapat melakukan apa saja untuk mencapai maksudnya tanpa ragu-ragu..”
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia adalah satu-satunya adikku.”
“Tetapi cara hidupnya tidak lagi dapat diharapkan bahwa ia akan menjadi baik dan menyadari segala kekurangannya, “
Empu Sanggadaru tidak menyahut. Tetapi wajahnya diliputi oleh keragu-raguan dan penyesalan yang tidak ada taranya. Bukan saja karena Empu Baladatu telah melarikan diri sambil membunuh seorang anak buahnya, sehingga dengan demikian banyak tanggapan akan dapat diberikan terhadapnya, justru karena Empu Baladatu adalah adiknya.
Sementara itu, sekelompok prajurit Singasari memang sedang dalam perjalanan menuju kepadepokan Empu Sanggadaru. Mereka mengharap bahwa mereka akan dapat bertemu dengan orang terpenting dari lingkungan orang berilmu hitam.
Meskipun tidak terlalu cepat, sekelompok prajurit itupun berpacu menuju kepadepokan Empu Sanggadaru. Bagi mereka tertangkapnya Empu Baladatu merupakan peristiwa yang cukup penting, karena dengan demikian, maka semua rahasia orang berilmu hitam itu akan dapat terungkap.
Ketika mereka kemudian sampai dipadepokan Empu Sanggadaru, maka mereka telah disongsong nleh Empu Sanggadaru sendiri, Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti, pemimpin prajurit Singasari di padepokan itu dan beberapa pengawal kepercayaan Empu Sanggadaru.
Dengan dada yang berdebar-debar Empu Sanggadaru mempersilahkan mereka naik kependapa dan duduk melingkar diatas tikar pandan yang putih ber-garis-garis hitam.
Setelah tegur sapa tentang keselamatan masing-masing maka pembicaraan merekapun langsung sampai kepada peristiwa yang telah terjadi dipadepokan Empu Sanggadaru itu.
“Pertempuran itu tentu terjadi sangat sengit”desis Mahisa Agni.
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya agak tagu, “Demikanlah agaknya yang telah terjadi padepokan ini, meskipun barangkali tidak berarti apa bagi para Senopati di Singasari.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Sekilas dilihatnya anak-anak muda anak Mahendra duduk sambil menundukkan kepala mereka.
“Tentu mereka ikut menentukan, akhir dari pertempuran yang telah terjadi dipadepokan ini”desis Mahisa Agni didalam hatinya.
Dalam pada itu. seorang Senopati prajurit Singasari yang datang bersama Mahisa Agni itupun berkata, “Adalah perjuangan yang sangat berat bagi padepokan ini. Kami telah menerima laporan lengkap tentang jalannya pertempuran. Orang-orang berilmu hitam dan orang-orang Mahibit ingin menghancurkan padepokan ini dengan cara yang licik.”
“Adalah kebetulan sekali, bahwa kami dapat mengetahui kedatangan kedua kelompok itu. Unsur ketidaksengajaan dan kebetulan ikut memegang peranan dalam kemenangan kami. Sehingga karena itu, sama sekali bukan karena kemampuan kamilah yang telah menyebabkan kemenangan kami itu. Hadirnya prajurit Singasari dipadepokan ini, serta ketiga anak-anak muda putera Mahendra itupun ikut menentukan pula. Tanpa mereka padepokan ini akan menjadi karang abang.”
“Berterima kasihlah kepada Yang Maha Agung, karena yang kebetulan itu adalah perlindungannya.” jawab Mahisa Agni.
“Ya, ya” sahut Empu Sanggadaru dengan serta merta, “memang itu adalah belas kasihannya “
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan para prajurit dari Singasaripun kemudian minta diberi kesempatan untuk melihat akibat dari pertempuran itu. Mereka ingin melihat bekas-bekas pertempuran yang sudah hampir hilang sama sekali, dan melihat beberapa orang tawanan yang masih ada didalam padepokan itu termasuk mereka yang terluka.
Meskipun bekas pertempuran itu seakan-akan sudah tidak nampak lagi karena telah dibersihkan, namun Mahisa Agni masih melihat betapa serunya pertempuran yang terjadi. Didalam dan diluar dinding padepokan. Apalagi ketika para prajurit itu melihat; mereka yang terluka dan para tawanan.
Sambil melihat-melihat dibekas arena dan para tawanan itulah, maka Empu Sanggadaru melaporkan batiwa adiknya, Empu Baladatu yang tertawan, telah melarikan diri setelah membunuh seorang penjaganya.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya mendengar laporan itu. Beberapa orang Senopati yang pergi bersamanya termangu-mangu sejenak. Sepercik kecurigaan telah melonjak didalam hati mereka.
Ternyata Empu Sanggadaru melihat bayangan kecurigaan itu disorot mata beberapa orang Senopati, sehingga karena itu maka iapun berkata, “Bahwa Baladatu sempat melarikan diri itu memang sesuatu yang dapat dianggap mustahil terjadi. Tetapi barangkali para prajurit yang berada disini akan dapat memberikan kesaksiannya.”
Mahisa Agni lah yang kemudian menyahut, “Kami yakin bahwa yang terjadi itu tentu sebuah kecelakaan. Tetapi sudah barang tentu, bahwa kepergian Empu Baladatu tidak akan dapat kita anggap sebagai suatu peristiwa yang dapat ditanggapi sambil lalu.”
“Ya, ya Senopati” sahut Empu Sanggadaru, “kepergiannya membawa dendam dan kebencian. Terutama kepadaku dan padepokanku ini. Apalagi selain Linggadadi yang terbunuh, di Mahibit ada saudara tuanya yang bernama Linggapati.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Mahibit memang perlu mendapat perhatian. Tetapi agaknya kepergian Empu Ba ladatu dan dendam Linggapati yang tentu akan mendengar berita tentang kematian adiknya itu, merupakan bahaya yang setiap saat dapat melanggar bukan saja padepokan ini. tetapi tentu juga ketenangan Singasari.”
“Ah” desah Empu Sanggadaru, “apakah artinya mereka bagi Singasari. Sebagian kecil prajurit Singasari yang ada dipadepokan ini telah berhasil menghancurkan sebagian besar pasukan mereka. Apalagi seluruh kekuatan Singasari.”
“Jangan salah menilai Empu” jawab Mahisa Agni, “apakah Empu yakin bahwa yang datang ini adalah seluruh kekuatan Empu Baladatu dan kekuatan Mahibit?”
Empu Sanggadaru tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.
“Kami akan mengetahuinya dari para tawanan” berkata. Mahisa Agni kemudian.
“Ya Senopati”berkata Empu Sanggadaru, “yang aku dengar dari mereka, kekuatan di Mahibit memang tidak dapat diketahui dengan pasti. Juga kekuatan yang ada di padepokan Empu Baladatu sendiri.”
“Jika kedua kekuatan yang tersisa, tetapi masih dengan pemimpinnya masing-masing itu bergabung, maka kekuatan itu harus diperhitungkan.”
“Kita akan mendapat petunjuk dimanakah letak padukuhan mereka” berkata Empu Sanggadaru, “kita tidak akan menuggu. Jika diperkenankan, kekuatan padepokan yang tidak seberapa ini akan bersedia ikut serta para prajurit Singasari menuju ke Mahibit dan padepokan Baladatu.”
Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak tergesa-gesa. Mereka sekarang tentu sudah tidak berada di padepokan masing-masing. Mereka menyadari bahwa beberapa orang mereka tertawan, sehingga mereka tentu akan mengambil sikap yang cepat untuk mengamankan kedudukan mereka.”
Empu Sanggadaru meng-angguk-angguk. Katanya, “Ya, ya. Agaknya memang demikian. Kita masih memerlukan waktu barang sehari untuk mempersiapkan diri.”
“Semuanya akan direncanakan dengan cermat Empu. Sekarang kami ingin mendapat kesempatan untuk berbicara dengan para tawanan”
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam- Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Jawabnya, “Baiklah Senopati. Silahkanlah. Mungkin ada hal-hal yang dapat kita jadikan pegangan. Aku sudah berbicara dengan mereka. Tetapi barangkali masih ada yang belum terucapkan.”
Mahisa Agni pun kemudian menemui beberapa orang tawanan. Beberapa lamanya ia berbicara dengan mereka. Seperti sikap dan pembawaannya, maka Mahisa Agni pun berbicara dengan sabar dan lembut.
Tetapi justru sikapnya itu menumbuhkan berbagai tanggapan bagi para tawanan. Tetapi sebagian dari mereka justru menjadi gemetar. Mereka menyangka bahwa sikap itu adalah sikap pura-pura semata-mata. Jika dengan sikap pura-pura itu mereka masih menyembunyikan sesuatu, maka kemudian akan mereka alami perlakuan yang sebenarnya dari prajurit yang nampaknya ramah dan lembut itu.
Dengan demikian, maka sebagian besar dari para tawanan itu tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Apa yang ditanyakan oleh Mahisa Agni dijawabnya dengan jelas dan menurut pengenalan mereka sepenuhnya.
Orang-orang Mahibit menceriterakan apa yang mereka ketahui tentang Linggadadi dan Linggapati. Tentang padepokan yang tertutup tanpa pintu, tetapi sudah mereka tinggalkan, dan tentang padepokannya yang kemudian.
“Apakah padepokan yang baru itu juga tidak berpintu?” bertanya Mahisa Agni.
“Ya Seperti itu. Padepokan yang baru itu juga tidak berpintu.” jawab salah seorang dari orang Mahibit itu.
“Siapakah yg berhak tinggal di dalam padepokan itu?”
“Orang-orang pilihan. Hanya empat puluh orang yang boleh tinggal di dalam padepokan yang tidak berpintu gerbang itu. Dan empatpuluh orang itu adalah orang-orang pilihan”
“Lalu, di manakah yang lain tinggal?”
Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian katanya, “Kami tiggal di padukuhan-padukuhan yang terpisah dari padepokan itu. Kami tinggal dikampung halaman kami.”
Tetapi bukankah kalian pengikut Linggadadi dan Linggapati?”
“Pengaruh kedua orang itu menjadi semakin luas. Padukuhan-padukuhan di sekitar Mahibit seolah-olah telah dipengaruhinya. Bahkan para pemimpin pemerintahan di Mahibit telah berada di bawah perintahnya. Bahkan pada daerah di sekitarnya, pengaruhnya sudah merata. Meskipun nampaknya pemimpin pemerintahan di Mahibit masih melakukan tugasnya, tetapi apa yang mereka lakukan adalah semua perintah yang turun dari Linggapati.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah dengan demikian berarti bahwa Linggapati dan Linggadadi merupakan orang-orang yang paling terhormat di Mahibit?”
“Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati dalam keadaan mereka .yang sebenarnya.” jawab tawanan itu
“Aku tidak tahu maksudmu”sahut Mahisa Agni.
“Linggapati dan Linggadadi kadang-kadang berkeliaran dalam ujudnya yang lain dari Linggapati dan Linggadadi yang sangat dihormati itu. Kadang-kadang mereka berada di sepanjang jalan kota Mahibit sebagai petani-petani biasa yang memerlukan sesuatu dikota kecil itu. Tetapi kadang-kadang mereka duduk di simpang tiga sebagai seorang yang tidak mempunyai kerja apapun selain berkeliaran. Tetapi kadang-kadang merekapun melintasi daerah yang panjang sebagal pedagang yang melakukan perjalanan yang jauh.”
“Apakah orang-orang Mahibit tidak langsung dapat mengenalnya?”
“Keduanya seolah-olah merupakan rahasia yang tidak mudah diungkapkan oleh orang-orang Mahibit sendiri. Hanya orang-orang yang sangat dekat sajalah yang dapat langsung mengenal wajahnya Teramasuk empatpuluh orang di dalam padepokan itu “
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang ada diantara merekapun bertanya pula, “Apakah kau tahu, kenapa kau diikut sertakan dalam serangan kali ini ?”
“Tidak. Aku tidak tahu, kenapa aku terpilih. Tetapi adalah suatu kebanggaan bagi kami, bahwa kami dapat ikut bersama Linggadadi saat itu.”
“Dan kau juga berbangga?”
Orang itu tidak menjawab.
“Apakah kau sebelumnya juga pernah menerima latihan-latihan olah kanuragan secara khusus?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Ada beberapa orang dari keempat puluh orang yang ada dipadepokan itu yang keluar khusus untuk melatih kami.”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Bungalan lah yang bertanya, “Apakah di antara kalian ada seorang dari keempat puluh orang itu?”
Orang itu terdiam. Ia sudah menjawab semua pertanyaan. Setiap kali seseorang bertanya kepadanya, maka jawabnya tidak pernah berubah, karena jawabnya itu adalah keadaan yg sebenarnya yang ia ketahui. Kepada Empu Sanggadaru ia mengatakan seperti yang dikatakannya. Kepada prajurit Singasari dan kemudian kepada Mahisa Agni. Tetapi pertanyaan yg di lontarkan oleh Mahisa Bungalan itu adalah pertanyaan yang sangat sulit baginya.
“Jawablah” desak Mahisa Agni. Suaranya masih tetap sareh dan lembut, “kami tidak akan berbuat diluar wewenang kami sebagai prajurit.”
Tiba-tiba saja terasa dada orang itu bergetar. Ia menjadi sangat bingung. Sepercik ketakutan membayang diwajahnya yg pucat.
Ternyata Mahisa Agni cukup bijaksana menanggapi keadaan. Ia sadar, bahwa, tentu orang itu tidak berani mengatakannya bahwa di antara mereka yang tertawan tentu ada seorang atau lebih dari yang empat puluh itu.
Karena itu, Mahisa Agni tidak memaksanya. La pun kemudian meninggalkan orang itu dan melihat mereka yang terluka. Orang-orang Mahibit yang. terluka dibaringkan diantara orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang dibawah penjagaan yang sangat kuat, apalagi setelah Empu Baladatu melarikan diri.
“Empu akan mengalami kesulitan untuk merawat mereka terus menerus” berkata Mahisa Agni.
“Ya Senopati. Kami memang akan menyerahkannya kepada prajurit Singasari.”
“Kami tidak akan ingkar Kami akan membawa mereka ke Singasari berangsur-angsur.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Agni berkata, “Tetapi kami masih ingin mendapat penjelasan tentang empat puluh orang yang tinggal di dalam padepokan itu”
“Mereka tidak mau mengatakannya” sahut Empu Sanggadaru, “jika benar-benar ada di antara mereka, maka siapa yang mengatakannya mungkin akan dibunuhnya.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan memanggil mereka dan bertanya secara terpisah. Menilik tingkah laku tawanan itu, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa tentu ada salah seorang dari antara keempat puluh orang itu disini.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Dan iapun kemudian telah mempersiapkan segala sesuatunya, agar salah satu atau lebih dari para tawanan itu dapat mengatakan tenang salah seorang dari keempat puluh orang itu.
Untuk tidak menimbulkan kecemasan dan kebingungan, maka yang mula-mula dipanggil dihari berikutnya adalah justru orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang. Kemudian berturut-turut sehingga akhirnya orang Mahibitpun terpanggil pula memasuki ruang yang sudah disediakan.
Ternyata orang Mahibit itu sudah menjadi pucat. Agaknya ia menyadari, bahwa ia akan ditekan dengan berbagai macam pertanyaan yang lebih penting dari pertayaan-pertanyaan yang dia jukan di dalam bilik tawanan mereka.
Meskipun sikap Mahisa Agni masih tetap sareh dan lembut, tetapi keringat dingin sudah membasahi seluruh orang Mahibit itu.
“Ki Sanak” bertanya Mahisa Agni kemudian, “sudah banyak pertanyaanku yang kau jawab dengan jelas. Demikian juga kawan-kawanmu. Hampir semuanya menjawab dengan jujur, karena hampir tidak ada selisih sama sekali. Tetapi selain yg sudah kami tanyakan, maka masih ada satu pertanyaan lagi, apakah ada diantara kalian salah satu atau lebih dari keempat puluh orang yang ada didalam padepokan tertutup itu?”
Wajah orang itu menjadi semakin pucat. Apalagi ketika kemudian Mahisa Bungalan berdiri dan melangkah mendekati orang itu. Sebuah sentuhan di punggungnya terasa bagai kan ujung pedang yang siap menghunjam ke dalam dagingnya.
“Katakanlah” bisik Mahisa Bungalan, “apakah kau takut kepada kawanmu itu?”
Orang itu memandang Mahisa Bungalan dengan keringat yang mengembun dikening.
“Aku tahu, jika orang itu mengerti bahwa kau telah mengatakannya, maka kau tentu akan dicekiknya meskipun kau berada di antara para tawanan yang lain. Tetapi aku berani menjamin bahwa kau tidak akan disentuhnya karena aku tidak akan mengatakan bahwa kaulah yang telah memberikan keterangan.”
Orang itu menjawab Tetapi keringatnya semakin basah banyak mengalir di tubuhnya.
“Katakanlah, apakah kau melihat salah seorang dari mereka.”
Orang itu masih tetap berdiam diri.
Mahisa Bungalan berjalan mengelilinginya, la masih terlalu muda untuk menunggu jawaban yang tidak kunjung diucapkan itu. Apalagi Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Tetapi karena Mahisa Agni masih saja duduk dengan tenang, maka mereka pun masih tetap menahan diri.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Agni kemudian, “ada dua kemungkinan. Pertama, seperti yang di katakan oleh Mahisa Bungalan kau tidak berani mengatakannya karena orang itu akan membunuhmu. Tetapi kemungkinan yang lain adalah, bahwa kau sendirilah salah seorang dari keempat puluh orang itu–
“Bukan, bukan aku”orang itu menjawab dengan serta merta.
Mahisa Agni menarik nafas. Katanya, “Jika bukan kau lalu siapa?”
Orang itu termangu-mangu.
“Jawablah” suara Mahisa Pukat mulai menjadi keras.
Tetapi Mahisa Agni tersenyum dan menyahut, “Jangan berteriak Mahisa Pukat. Orang itu tentu akan menjadi semakin diam. Cobalah bayangkan, seandainya ia adalah salah seorang dari keempat puluh orang itu. Ia tentu bukan kebanyakan pengawal yang takut kepada tekanan yang berupa apapun. Bahkan ia tentu tidak akan menghiraukan seandainya kita mengadakan tekanan jasmaniah. Dengan kekerasan misalnya. Karena tentu seorang yang kebal. Bahkan ujung pedang sekalipun tidak akan dapat menyobek kulitnya”
“Bukan, Aku bukan salah seorang dari mereka. Dan mereka itupun sama sekali bukan orang-orang kebal” sahut orang yang ketakutan itu.
Mahisa Agni masih tersenyum. Katanya, “Jangan merendahkan diri. Aku tahu, kau adalah orang yang kebal “
Orang itu menjadi semakin ketakutan. Senyuman Mahisa Agni bagaikan senyuman maut yang memanggilnya dari alam yang lain.
Dan Mahisa Agni masih tetap tersenyum. Katanya, “Kau tentu tidak akan menjawab. Kau akan membuktikan kepada kami bahwa kau adalah orang yang kebal “
“Tidak. Sama sekati tidak. Jika aku orang yang kebal, aku tidak akan menyerah. Juga salah satu atau dua orang dari ke empat puluh orang itu, tidak kebal, sehingga merekapun harus menyerah “
“Kau tidak ingin menyerah. Seperti yang aku katakan. Kau hanya ingin menunjukkan kekebalanmu jika sekali kami menyentuh tubuhmu dengan senjata apapun juga, maka kau akan dengan bangga mengangkat kepala sambil berkata, “Aku orang kebal. Nah prajurit Singasari, lihatlah “
“Tidak. Tidak.”
“Tetapi sudah tentu kami tidak akan mengecewakan mu. Kami ingin memenuhi keinginanmu agar dapat berbangga karena kekebalanmu.”
“Tidak Jangan, jangan. Aku akan berbicara.” Mahisa Pukat yang sudah berdiri tegak dihadapan orang itu mengerutkan keningnya. Bahkan hampir-hampir ia tidak menahan tertawanya meskipun ia menjadi kecewa, bahwa ia tidak dapt membuktikan bahwa orang itu kebal.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Apakah kau akan berhicara tentang salah seorang dari ke empat puluh orang itu?” Orang, itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun menganguk, “Ya, Aku akan berbicara.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar