Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 06-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 06-01*


Karya : SH Mintardja

Para Senapati hanya memandang Mahisa Agni saja. Seolah-olah mereka ingin menitipkan pertanyaan yang berdesakan di hati mereka.

“Tetapi yang penting.“ berkata Panglima itu kemudian, “bahwa aku telah membawa panji-panji dan tunggul kerajaan. Kalian harus tetap terikat dengan kesetiaan kalian terhadap Singasari. Dan Panji-panji serta tunggul ini adalah lambang kekuasaan Singasari. Meskipun barangkali aku belum menjatuhkan perintah yang harus kalian kerjakan, namun kalian harus sudah mendasarkan diri kepada kesetiaan kalian terhadap panji-panji dan tunggul ini. Bukan terhadapku.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Mahisa Agnipun tidak.

Dan Panglima itu kemudian berbicara lagi. “Baiklah. Kalian barangkali baru mencernakan keteranganku. Masih banyak waktu. Aku tidak berkeberatan jika kita semalam suntuk duduk di sini berbicara tentang Singasari dan hari depannya. Namun yang penting kalian ketahui, selain keterangan yang harus aku sampaikan kepada kalian, aku pun telah membawa perintah yang penting bagi pimpinan pemerintahan Singasari yang dikuasakan di Kediri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

Panglima itu berkata selanjutnya. “Nah, dengarlah, perintah ini. Atas nama kekuasaan tertinggi di Singasari, aku perintahkan kepada Mahisa Agni untuk mengikuti aku kembali ke Istana Singasari untuk menghadap Tuanku Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Kau tidak akan dapat membantah.”

Mahisa Agni memandang Panglima itu sejenak, lalu, “Aku Tidak akan membantah. Tetapi sebaiknya kau mempergunakan istilah lain yang lebih baik dari istilahmu itu?”

“Maksudmu?”

“Kau dapat berkata, bahwa atas perintah tuanku Tohjaya, aku harus menghadap, atau istilah-istilah lain seperti itu. Tidak seperti yang kau ucapkan.”

“Apakah salahnya? Aku membawa panji dan tunggul kerajaan.”

Mahisa Agni hampir tidak dapat menguasai perasaannya. Hanya karena ia menyadari sepenuhnya, bahwa persoalan Singasari berada di atas persoalan apapun, ia masih berhasil menahan dirinya. Jika ia saat itu kehilangan pengamatan diri, dan berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan di dalam pendapa itu, maka persoalan yang sekedar memercik di pendapa itu akan menjalar ke seluruh Singasari.

Meskipun demikian ia masih menjawab, “Siapapun yang membawa panji-panji dan tunggul itu adalah mereka yang mendapat limpahan kekuasaan dari tuanku Tohjaya. Karena itu apapun yang kau lakukan adalah sekedar menyampaikan perintahnya. Bukan kau sendirilah yang memerintahkannya. Apalagi aku adalah wakil kekuasaan Singasari di Kediri.”

Sejenak Panglima itu menjadi termangu-mangu. Dipandanginya para Senapati yang ada di sekitarnya. Kemudian para pengawalnya yang sebagian berada di luar pendapa.

Namun ketika terpandang olehnya wajah Mahisa Agni, maka tiba-tiba saja ia telah melontarkan tatapan matanya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengatasi wibawa wakil Mahkota yang ada di Kediri itu.

Untuk melontarkan kegelisahan yang mencengkamnya, maka tiba-tiba saja ia berkata lantang tanpa memandang Mahisa Agni. “Apapun bunyinya, tetapi kau harus menghadap tuanku Tohjaya di Singasari.”

“Baiklah. Aku akan menghadap. Kapan kita akan berangkat.”

“Besok pagi. Semakin cepat semakin baik.”

“Besok pagi adalah waktu yang paling cepat dapat kita lakukan.”

“Ya.”

Mahisa Agni pun kemudian memandang para Senapati yang ada di pendapa itu. Katanya, “Baiklah. Besok aku akan berangkat ke Singasari. Tetapi aku akan minta diri dahulu kepada para prajurit dan para pengawal di Kediri. Usahakan agar mereka dapat berkumpul di alun-alun. Sebagian yang mungkin dapat dihubungi tanpa menimbulkan kegelisahan. Tidak ada apa-apa, selain aku akan minta diri kepada mereka. Bukan saja para Senapati yang berkumpul sekarang, tetapi juga beberapa golongan prajurit dan pengawal yang pernah berhubungan dengan tugasku.”

Panglima Pelayan Dalam yang hadir di pendapa itu pun menjadi berdebar-debar pula. Persiapan itu akan dapat disalah gunakan oleh Mahisa Agni, sehingga karena itu, maka Panglima itupun berkata, “Itu tidak perlu. Tidak boleh ada kesibukan keprajuritan yang dapat menimbulkan kesan yang tidak aku kehendaki.”

“O.“ Mahisa Agni tersenyum, “kau berprasangka? Jika aku ingin memberontak, aku tidak perlu menunggu kau datang dan duduk di pendapa ini. Aku dapat menyongsongmu di regol dan membunuhmu tanpa banyak perlawanan.”

Wajah Panglima itu menjadi merah. Sambil menggeram ia menjawab. “Tetapi kau akan dipancung di alun-alun Singasari atau dihukum picis di perapatan.”

“Itu soal kemudian. Jika aku sudah bertekad untuk memulai, tentu aku tidak akan takut dipancung atau dihukum picis. Tetapi soalnya tidak begitu sederhana. Soalnya adalah Singasari yang dengan susah payah diperjuangkan sejak masa pemerintahan Sri Rajasa. Tentu, aku yang ikut mempersatukan Kediri dan Tumapel sehingga menjadi Singasari yang besar tidak akan dengan mudah ikut menghancurkannya. Memang berbeda dengan kau. Kau hadir pada saat Singasari sudah utuh seperti sekarang. Dengan mengorbankan harga diri sedikit saja kau sudah dapat menduduki jabatan tertinggi di Singasari yang sudah menjadi besar.”

“Cukup.“ Panglima itu membentak, “apakah kau tidak sadar bahwa kau berhadapan dengan Panglima yang mendapat limpahan kekuasaan tertinggi di Singasari.”

“Ya.”

“Kau sudah menodai kedudukanku.”

“Tidak. Aku tidak mengatakan apapun tentang panji dan tunggul itu. Tetapi aku mengatakan tentang kau. Tentang seorang Panglima Pelayan Dalam. Tanpa panji-panji dan tunggul itu.”

“Persetan. Tetapi aku sekarang membawa panji-panji dan tunggul itu.”

“Kita semua harus menghormati panji-panji dan tunggul itu. Karena itu, sebaiknya panji-panji dan tunggul itu tidak dipergunakan untuk memaksakan kepada orang lain bagi kepentingan pribadi. Kau tidak dapat memaksa aku dan para Senapati yang lain untuk menghormatimu sebagai suatu pribadi meskipun kau membawa panji-panji dan tunggul itu karena kami semuanya sudah mengetahui siapakah kau sebenarnya.”

Wajah Panglima itu menjadi semakin tegang. Dengan suara gemetar ia berkata, “Aku dapat menjatuhkan hukuman apapun terhadapmu seperti tuanku Tohjaya melakukan, selama panji-panji dan tunggul itu ada padaku.”

“Jangan membakar Singasari. Mungkin kau tidak begitu mencintainya karena kau tidak ikut membangunnya seperti aku.”

“Kau justru menghina Singasari.”

Sambil tersenyum Mahisa Agni menjawab, “Sadarilah. Jika kau memaksa aku melawan, maka itu berarti Singasari akan mengoyak dadanya sendiri. Dan kaulah penyebabnya. Dan kau tentu akan dihukum sesuai dengan kesalahan itu. Mungkin aku juga jika aku tertangkap hidup-hidup, karena aku dapat mati di dalam pemberontakan itu, sehingga kita akan bersama-sama menjalani hukuman picis yang dahsyat itu.”

Panglima Pelayan Dalam itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang tegang. Kini ia menyadari sepenuhnya, bahwa Mahisa Agni adalah orang yang matang di dalam setiap tingkah lakunya, meskipun bagi para Senapati di Kediri, sikap itu dianggap terlampau lemah.

“Apakah karena sikap itulah maka Panglima Pasukan Pengawal berkeberatan pergi ke Kediri dan memberikan tugas ini kepadaku?“ Panglima Pelayan Dalam itu bertanya kepada diri sendiri.

Namun demikian ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya. Ia harus tetap bersikap sebagai seorang Panglima yang mendapat limpahan kekuasaan Singasari. Karena itu maka katanya, “Mahisa Agni. Jangan bersikap seperti seorang penyamun yang menakut-nakuti korbannya di bulak yang sepi. Aku bukan pengecut dan bukan pula kanak-kanak yang dapat kau ancam. Aku adalah seorang Panglima dan lebih dari itu aku membawa lambang kekuasaan atas Singasari.”

“O. Jangan salah menilai kata-kataku. Aku tahu kau seorang yang berani. Jika tidak, kau tidak akan dapat memanjat sampai jabatanmu yang sekarang. Tetapi aku sekedar ingin memperingatkanmu, bahwa jika kau salah langkah, kau akan menjadi penyebab hancurnya Singasari. Soalnya bukannya apakah kau seorang pengecut atau seorang pemberani. Seorang pengkhianat biasanya seorang pemberani. Tetapi jarang sekali seseorang yang menyediakan dirinya untuk menjadi seorang pengkhianat.”

“Cukup.“ potong Panglima itu, “aku tidak memerlukan sesorahmu. Besok kau harus pergi bersamaku ke Singasari.”

“Bukankah aku tidak membantah?“ sahut Mahisa Agni, lalu, “nah, sekali lagi aku ingin minta kepada para Senapati agar besok berkumpul di alun-alun dengan para prajurit yang ada saja. Yang mungkin dapat diberi tahu dan diperintahkan berkumpul. Yang kira-kira agak sulit tidak perlu. Yang bertugas di tempat yang agak jauh, cukup diberitahu sesudah aku berangkat. Aku minta diri kepada mereka.”

“Kau tidak akan pergi ke Singasari untuk digantung.“ potong Panglima itu, “kau masih mungkin kembali pada tugasmu di sini.”

“Ya, aku tahu. Tetapi biarlah aku minta diri kepada mereka. Keberatanmu hanya sekedar berdasarkan atas prasangka saja.”

Panglima itu tidak melarangnya lagi. Ia tahu bahwa Mahisa Agni masih selalu mengekang diri, jika ia bertindak lebih keras lagi, maka mungkin sekali Mahisa Agni akan bersikap lain, dan tugasnya akan gagal sama sekali.

Demikianlah maka Senapati yang ada di pendapa itupun kemudian meninggalkan tempatnya. Panglima yang mendapat tugas ke Kediri itu sama sekali bukan seorang yang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan yang di datanginya. Ia hanya sekedar membanggakan kekuasaan yang ada padanya, karena ia membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.

Beberapa orang Senapati masih saja berbincang di sepanjang jalan. Mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan kekuasaan tertinggi. Dan mereka tidak dapat menggambarkan dengan sesungguhnya, sikap prajurit-prajurit Singasari di daerah lain.

“Yang penting, tuanku Mahisa Agni tidak ingin melihat pertumpahan darah terjadi lagi di Singasari.“ berkata seorang Senapati yang sudah menginjak setengah abad.

“Tetapi dengan mengorbankan harga diri dan kedudukan kita seperti ini?“ jawab Senapati yang masih muda.

“Kita akan melihat perkembangannya.“ jawab yang lain, “tetapi kita harus menyatakan diri bahwa kita cukup kuat untuk diperhitungkan. Besok kita akan membawa pasukan yang kuat ke alun-alun. Semuanya sudah lama siap. Perintah akan menjalar dengan cepat ke seluruh kota dan bahkan keluar kota tanpa menimbulkan kesan yang menggelisahkan.”

“Panglima itu tentu akan mengirimkan petugas sandinya keluar dan mengamati kegiatan di kota ini.”

“Tidak akan ada tanda-tanda apapun. Hubungan dapat berlangsung dengan tenang. Yang nampak hanyalah dua tiga ekor kuda saja di jalan-jalan raya. Tidak lebih.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya memang sudah disusun sebelum Panglima itu datang, sehingga dengan isyarat yang sederhana, setiap prajurit tahu apa yang harus mereka lakukan. Dan yang mereka lakukan pun bukannya persiapan perang, karena mereka hanya harus berkumpul di alun-alun, meskipun dengan perlengkapan perang.

Seperti yang diduga oleh para Senapati, sebenarnyalah bahwa Panglima itu telah mengirimkan beberapa orangnya untuk mengamati keadaan kota. Tetapi seperti yang sudah diperhitungkan pula oleh para Senapati, mereka tidak melihat kesibukan yang dapat menumbuhkan kecurigaan. Karena itu, maka mereka menganggap bahwa tidak akan timbul kerusuhan apapun di Kediri.

Meskipun demikian Panglima Pelayan Dalam itu masih juga selalu dibayangi oleh prasangka. Karena itu, hampir semalam suntuk ia tidak dapat tidur nyenyak meskipun di muka biliknya dua orang pengawalnya selalu berjaga-jaga bergantian.

Dalam pada itu, Mahisa Agni sempat juga menemui Witantra di biliknya. Seperti yang sudah direncanakan, maka Mahisa Agni minta agar Witantra besok hadir di alun-alun. Ada sesuatu yang akan menarik perhatian para prajurit.

Witantra hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

Demikianlah maka di malam itu telah terjadi kesibukan di antara para prajurit. Kesibukan yang tidak begitu nampak bagi orang lain, karena mereka sudah mempersiapkannya lebih dahulu. Yang tampak hanyalah satu dua ekor kuda yang menghubungkan dari barak yang satu kebarak yang lain. Sesudah itu, maka perintah itu mengalir bagaikan air yang sudah disediakan salurannya.

Karena itulah, maka Kediri rasa-rasanya tetap tenang. Petugas-petugas sandi yang berkeliaran di dalam kota hanya melihat hubungan yang wajar, karena Mahisa Agni ingin minta diri kepada prajurit dari kalangan yang lebih luas lagi di alun-alun. Dan menurut pengamatan para prajurit sandi itu, sama sekali tidak ada persiapan perlawanan dari para prajurit di Kediri.

“Jika mereka ingin melakukan pelawanan dan membinasakan kami, maka mereka tidak perlu memanggil setiap prajurit yang ada di Singasari.“ berkata salah seorang prajurit sandi kepada kawannya.

“Ya. Para Senapati yang tadi berkumpul di pendapa itupun sudah cukup kuat untuk membinasakan kami semua. Panglima Pelayan Dalam itu tentu tidak akan dapat melawan tuanku Mahisa Agni yang memiliki kemampuan dan ilmu setingkat dengan Sri Rajasa. Sedang jumlah para Senapati yang ada di pendapa dan para petugas yang meronda di istana tuanku Mahisa Agni itu cukup banyak untuk menghancurkan kami.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Untunglah bahwa tuanku Mahisa Agni tidak mau berbuat sesuatu. Ia memiliki hak juga atas Singasari betapapun kecilnya. Ia adalah saudara laki-laki tuanku Permaisuri Ken Dedes. Dan ia ikut mempersatuan Kediri dengan Singasari. Jika ia bangkit dan mengadakan perlawanan atas tuanku Tohjaya, maka Singasari benar-benar akan hancur karena tingkahnya sendiri.”

“Kau dengar apa yang dikatakan di pendapa itu?”

“Ya. Ia tidak mau membelah jantung sendiri.”

Para prajurit sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Mahisa Agni adalah orang yang jauh lebih berwibawa dari Panglima Pelayan Dalam itu, meskipun membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.

Menjelang fajar para prajurit yang bertugas mengawal Panglima dari Singasari itu sudah berkumpul di halaman istana wakil Mahkota di Kediri. Mereka tidak membawa laporan apapun yang dapat menggelisahkan hati Panglimanya, karena rasa-rasanya Kediri tetap tenang.

“Hari ini kita kembali sambil membawa Mahisa Agni.“ berkata Panglima itu, “betapa sombongnya orang itu, namun ia tidak akan berani melawan perintahku.”

Pengawalnya tidak menyahut. Namun terasa di dalam hati mereka, bahwa Panglima yang baru saja diangkat itu telah merasa dirinya terlampau besar, karena prajurit-prajurit itu pun mengetahui, siapakah Panglima itu sebelum ia diangkat menggantikan Panglima yang terbunuh oleh Kuda Sempana di dalam kerusuhan di arena sabung ayam itu.

Demikianlah ketika matahari terbit di Timur, Panglima yang hampir semalam suntuk tidak tidur dan selalu menghubungi petugas-petugas sandinya itu, sudah siap. Dengan gelisah ia menunggu Mahisa Agni yang masih berada di biliknya.

“Bangunkan Mahisa Agni.“ perintah Panglima itu, “kita akan berangkat pagi-pagi benar.”

Pengawalnya yang mendapat perintah itu menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bukankah di istana ini ada pelayan yang dapat membangunkannya? Tentu pelayan itu tahu kebiasaan tuanku Mahisa Agni, dan tahu bagaimana caranya membangunkannya.”

“Cepat, cari pelayan itu.”

Pengawal itupun kemudian mencari pelayan yang bertugas di dalam istana hari itu, dan menyuruhnya membangunkan Mahisa Agni.

Pelayan itu tidak dapat membantah. Karena itu meskipun ia agak ragu-ragu, tetapi iapun pergi ke bilik Mahisa Agni dan membangunkannya.

Tetapi pelayan itu terkejut ketika tangannya baru saja menyentuh pintu, maka pintu itu sudah terbuka.

“Ampun tuanku.“ berkata pelayan itu, “hamba mendapat perintah dari para pengawal Panglima Pelayan Dalam itu untuk membangunkan tuanku.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku sudah bangun sejak pagi-pagi tadi. Tetapi aku memang sengaja untuk tinggal saja di dalam bilik.”

“O.“ pelayan itu hanya menundukkan kepalanya.

“Katakan kepada pengawal itu bahwa aku sudah bangun.”

Pelayan itupun kemudian meninggalkan bilik Mahisa Agni dan mengatakan kepada pengawal itu bahwa Mahisa Agni telah bangun.

“Panglima menunggunya, agar ia segera siap. “ berkata pengawal itu.

“Tuanku Mahisa Agni sudah mengatakannya, bahwa ia akan segera siap.”

Pengawal itu pun kemudian melaporkannya kepada Panglimanya bahwa Mahisa Agni akan segera siap.

Tetapi persiapan Mahisa Agni memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga Panglima itu menjadi gelisah. Bahkan kemudian dengan tidak sabar ia memerintahkan pengawalnya untuk menghubungi Mahisa Agni.

“Tuan.“ berkata pengawal itu, “Panglima sudah lama siap. Kita harus segera berangkat.”

Mahisa Agni tersenyum sambil menepuk bahu pengawal itu. Katanya, “Biarlah Panglima belajar bersabar sedikit. Katakan, aku hampir selesai.”

Pengawal itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam. Ia tidak mempunyai keberanian cukup untuk mendesak agar Mahisa Agni bersiap lebih cepat lagi, meskipun ia sadar bahwa Panglimanya tentu akan membentak-bentaknya lagi.

Karena itu, ketika Panglima Pelayan Dalam itu benar-benar membentaknya, pengawal itu sudah tidak terkejut lagi.

“Gila. Kita harus segera berangkat. Katakan kepadanya, bahwa aku telah memerintahkannya.“ Panglima itu hampir berteriak sehingga sebenarnya Mahisa Agni telah mendengarnya.

“Sebentar lagi tuanku Mahisa Agni tentu telah siap.“ jawab pengawal itu.

“Aku menghendaki ia siap sekarang.”

“Baiklah.“ gumam pengawal itu seakan-akan kepada diri sendiri.

Tetapi sebelum ia berdiri dan melangkah Mahisa Agni telah berdiri di ruang dalam itu sambil berkata, “Aku sudah siap.”

Panglima itu berpaling. Sambil menggeram ia berkata, “Kau berbenah diri seperti perempuan. Aku tidak telaten. Kita akan segera berangkat.”

“Bukankah kita akan pergi ke alun-alun sejenak untuk minta diri kepada para Senapati dan prajurit yang sempat dihubungi malam tadi? Tentu prajurit yang ada di sekitar istana ini saja. Namun bagiku yang sudah lama bekerja bersama dengan mereka menganggap perlu untuk sekedar minta diri.”

“Kau tidak akan pergi berperang dan mati di peperangan.”

“O, tentu. Tetapi anak-anak yang pergi bermain-main keluar rumah pun sebaiknya minta diri.”

“Persetan. Bagaimana jika aku menganggap hal itu tidak perlu?”

“Akulah yang akan minta diri kepada mereka. Bukan kau.”

“Aku dapat memerintahkan kepadamu untuk membatalkan rencanamu bertemu dengan prajurit-prajurit itu.”

“Tentu kau dapat melakukannya. Tetapi apakah kau menganggap hal itu perlu kau lakukan? Sekali lagi aku peringatkan, sebaiknya kau jangan mempersoalkan masalah-masalah yang sebenarnya tidak penting sehingga akan membakar Singasari menjadi abu. Jika kau tidak keras kepala, dan merasa dirimu terlampau besar, jauh lebih besar yang sebenarnya, kau tidak akan memberikan perintah yang aneh-aneh. Seandainya yang datang kemari tuanku Tohjaya sendiri, tentu ia tidak akan berkeberatan. Bahkan ia akan berbangga bertemu dengan prajurit-prajuritnya yang ada di Kediri. Dan kau pun akan berbangga berdiri di hadapan prajurit dan Senapati yang sebagian besar sudah kau kenal itu dengan panji-panji dan tunggul kerajaan.”

Panglima itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat menolak lagi. Meskipun demikian ia masih membentak, “Aku beri waktu sampai matahari naik ke ujung pepohonan. Kita akan berangkat sebelum panas matahari itu menyengat kulit.”

“Tidak banyak bedanya. Apakah kita berangkat segera atau kita akan menunggu tengah hari. Kita tidak akan dapat mencapai Singasari hari ini. Perjalanan di daerah yang masih berhutan-hutan itu akan memerlukan waktu yang panjang. Kita akan bermalam di perjalanan.”

“Tidak. Kita akan mencapai Singasari meskipun sudah gelap. Karena itu, cepat, lakukan jika kau akan minta diri kepada para prajurit di alun-alun.”

“Baiklah.“ berkata Mahisa Agni, “aku akan pergi ke alun-alun. Tetapi sebaiknya kau pergi juga untuk melihat pasukan Singasari yang ada di Kediri. Panji-panji dan tunggul itu akan dapat menjadi pertanggungan jawabku kepada mereka, karena aku telah meninggalkan Kediri untuk waktu yang tidak ditentukan.”

“Kau memang banyak tingkah. Bahkan kau selama ini hilir mudik antara Kediri dan Singasari?”

“Tetapi keadaan Singasari tidak seperti sekarang ini. Kita berada disuatu masa perpindahan yang belum pasti.“

“Sudah pasti. Kau jangan mengada-ada.”

“Baiklah. Aku tidak memerlukan waktu yang lama. Tetapi aku persilahkan kau pergi juga ke alun-alun dengan panji-panji dan tunggul itu.”

Panglima itu termenung sejenak. Memang senang sekali dapat menunjukkan limpahan kekuasaan Maharaja Singasari kepadanya itu kepada prajurit-prajurit dan Senapati yang memang sebagian besar telah dikenalnya. Bahkan Senapati yang dahulu merupakan perwira sejajarnya. Kini ia telah jauh mendahuluinya, dan menjabat sebagai seorang Panglima di Singasari.

“Apakah kau tidak berkeberatan?“ bertanya Mahisa Agni.

“Baiklah. Aku akan pergi bersamamu dan para pengawal yang aku bawa dari Singasari.”

“Terima kasih atas kesediaanmu. Aku sudah siap. Dan kita akan segera berangkat.”

Demikianlah maka para pengawal pun segera menyiapkan kuda dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke alun-alun. Sementara itu beberapa orang pengawal Mahisa Agni pun bersiap pula. Di antara mereka terdapat Witantra yang berpakaian seperti seorang prajurit biasa.

Meskipun mula-mula pemimpin pengawal Mahisa Agni menjadi agak segan setelah ia mengetahui bahwa orang itu adalah Witantra, seorang Panglima Pasukan Pengawal di Tumapel pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Namun kemudian iapun berhasil membiasakan diri dengan sikapnya sebagai pemimpin.

Demikianlah maka rombongan itu pun segera keluar dari regol istana. Yang berada di paling depan adalah dua orang pengawal dari Singasari. Kemudian Panglima itu berkuda bersama-sama dengan Mahisa Agni. Di belakangnya pengawalnya yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan, lambang kekuasaan yang dilimpahkan kepadanya oleh Maharaja yang berkuasa di Singasari.

Perlahan-lahan iring-iringan itu menyusuri jalan kota menuju ke alun-alun di muka istana Maharaja Kediri yang telah gugur melawan Sri Rajasa, dan yang kemudian istana itu seakan-akan tidak lagi mempunyai arti di dalam pemerintahan. Meskipun demikian di dalam istana itu masih tetap tinggal keluarga dan keturunan raja di Kediri.

Panglima Pelayan Dalam yang memiliki limpahan kekuasaan itu tiba-tiba saja menjadi bertambah bangga melihat rakyat Kediri berdiri berderet di pinggir jalan. Mereka melihat kemegahan panji-panji dan tunggul kerajaan Singasari itu. Namun dengan demikian maka mereka pun tahu bahwa yang datang itu tentu sekedar seorang pemimpin Singasari yang membawa kekuasaan Mahkota. Tentu bukan Maharaja itu sendiri.

Karena itu, maka Rakyat di Kediri tidak perlu berjongkok di sepanjang jalan. Mereka tetap berdiri meskipun agak jauh dari jalan yang dilalui oleh iring-iringan itu.

Dihadapan istana Kediri beberapa orang Senapati telah siap menerima iringan itu ketika seorang penghubung berkuda yang mendahului iringan itu memberi tahukan bahwa utusan dari Singasari dan Mahisa Agni sedang menuju ke alun-alun.

Namun yang sangat mengejutkan Panglima Pelayan Dalam itu dan para pengawalnya adalah sambutan yang mereka terima ketika mereka mendekati regol alun-alun itu.

“Mahisa Agni.“ desis Panglima itu, “apakah artinya ini?”

“Tidak berarti apa-apa. Bukankah aku akan minta diri kepada mereka?”

Panglima itu menjadi tegang. Ternyata yang dilihatnya di alun-alun itu adalah pasukan segelar sepapan. Pasukan Singasari yang ada di Kediri dan pasukan pengawal keamanan yang disusun oleh Mahisa Agni di Kediri itu sendiri.

Sejenak Panglima itu termangu-mangu. Kemudian dipanggilnya seorang Senapati pengawalnya mendekat. Katanya, “Gila, apa yang dilakukan oleh petugas-petugasmu yang mengawasi keadaan? Apakah mereka sama sekali tidak melihat kesibukan apapun sehingga di alun-alun dapat terkumpul sekian banyak orang?”

Senapati itu tidak segera menjawab. Ia sendiri heran, bahwa di Kediri sempat dikumpulkan sekian banyak prajurit yang lengkap dengan senjata masing-masing.

Namun sebelum Senapati itu menjawab, Mahisa Agnilah yang menyahut, “Apakah kau sudah melepaskan petugas-petugas sandi?”

Panglima itu tidak menjawab. Tetapi dipandanginya Mahisa Agni dengan tajamnya.

“Aku sudah menyusun jalur hubungan yang sebaik-baiknya di Kediri. Setiap perintah akan mengalir melalui aluran yang sudah ditentukan. Apa salahnya? Bukankah tuanku Sri Rajasa dahulu sudah mulai menyusun saluran perintah yang teratur dan tuanku Anusapati pun berusaha untuk menyempurnakan? Namun agaknya di saat terakhir, terutama di Singasari, jalur itu telah terputus-putus. Setiap pimpinan dan Senapati memilih jalurnya masing-masing.”

“Omong kosong.“ potong Panglima itu.

“O, kau tidak merasakannya?”

“Tidak. Semuanya berjalan wajar.”

“Jika demikian yang kau lihat inipun adalah hasil usaha yang tekun untuk mempercepat semua perintah lewat saluran yang dari sedikit aku sempurnakan. Agaknya hasilnya cukup memuaskan. Nah, sebaiknya kau laporkan pula nanti jika kita menghadap, bahwa saluran perintah di Kediri sudah berjalan sesuai dengan keinginan para pemimpin di Singasari sejak masa pemerintahan Sri Rajasa.”

Panglima itu tidak menyahut. Tetapi terdengar giginya gemeretak.

Ketika ia memasuki alun-alun, maka terasa dadanya bergetar. Ia melihat prajurit-prajurit Singasari di Kediri dan para pengawal dari Kediri sendiri telah siap menunggu kedatangan mereka di alun-alun. Di bagian depan terdapat sebuah panggungan kecil yang dibuat dengan tergesa-gesa, sekedar dipergunakan untuk berbicara.

“Marilah.“ ajak Mahisa Agni, “kita pergi ke panggung kecil itu.”

Panglima itu tidak menjawab. Seorang penunjuk jalan segera mendampingi kedua orang berkuda yang ada di depan Panglima Pelayan Dalam itu dan membawanya ke hadapan para prajurit diikuti oleh iringkan itu.

Panglima Pelayan Dalam itu benar-benar tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni sempat mengumpulkan prajurit sebanyak itu. Maka mulailah ia menyadari kesalahan prajurit sandinya, yang justru melihat-lihat Kediri di malam hari, tidak saat menjelang fajar. Di malam hari Kediri itu memang sepi, tetapi menjelang fajar, semua jalan menuju ke alun-alun itu telah dipenuhi oleh pasukan yang akan berkumpul di alun-alun, justru saat pasukan sandinya tidak lagi mencurigai adanya kegiatan prajurit di Kediri.

Dengan dada yang berdebar-debar maka iring-iringan prajurit utusan dari Singasari itu menuju kehadapan para prajurit yang sudah berkumpul itu. Dibelakang panggung kecil itu mereka berhenti dan disambut oleh beberapa orang Senapati yang semalam telah mendengarkan penjelasan dari Panglima Pelayan Dalam itu.

“Kami mengucapkan selamat datang.“ berkata salah seorang Senapati itu, “agaknya ada baiknya pula memperkenalkan diri sebagai seorang Panglima yang baru di Singasari.”

Dada Panglima itu menjadi semakin berdebar-debar. Dipandanginya Senapati yang mengucapkan selamat datang kepadanya itu. Ia tidak dapat mengelak lagi, bahwa Senapati itu adalah Senapati yang pernah dikenalnya di dalam pasukan pengawal sebelum ia mendapat tugas di dalam pasukan Pelayan Dalam.

“Panglima.“ berkata Senapati itu, “apakah Panglima lupa kepadaku? Kita pernah berada di dalam satu medan perang. Tentu Panglima masih ingat, selagi kita berada di hutan Kusu.”

Panglima itu terpaksa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Ya aku ingat. Tetapi itu sudah lama terjadi.”

“Ya. Sudah lama.”

“Ternyata selama ini kau masih saja seperti keadaanmu dahulu. Kau sama sekali tidak maju di dalam segala hal. Aku kini datang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.”

“Aku sudah melihat.“ jawab Senapati itu, “aku akan mengucapkan selamat atas pengangkatanmu menjadi seorang Panglima.”

Panglima itu tidak menjawab, meskipun kepalanya terangguk-angguk kecil.

Ketika seorang prajurit siap menerima kudanya, maka Panglima itu pun kemudian turun dari kudanya diikuti oleh para pengawalanya, Mahisa Agni dan prajurit-prajurit Singasari yang mengiringinya.

Sejenak mereka berdiri berderet bersama dengan Senapati yang sudah berada di Kediri. Beberapa orang Senapati itupun berganti-ganti mengucapkan selamat kepada Panglima yang baru pertama kali berada di Kediri.

“Nah.“ berkata Mahisa Agni, “biarlah aku minta diri kepada para prajurit dan biarlah aku menunjuk seorang perwira yang dapat mewakili aku selama aku tidak ada di Kediri.”

“Hanya Maharaja di Kediri yang berhak menunjuk seorang wakil Mahkota.”

“Aku tidak menunjuk wakil Mahkota di Kediri. Aku hanya ingin menyerahkan pengawasan prajurit-prajurit yang ada di Kediri kepada seorang perwira yang aku percaya.”

Panglima itu tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja Mahisa Agni yang kemudian melangkah mendekati panggung kecil itu dan kemudian memanjat naik.

Sebelum Mahisa Agni berbicara sepatahpun, terdengar tepuk tangan dan sorak yang bagaikan meledak menyambutnya dengan sepenuh hati.

Tepuk tangan dan sorak sorai itu bagaikan menghentak-hentak dada Panglima itu. Ia sadar bahwa agaknya pergantian pimpinan pemerintahan di Singasari tidak mendapat sambutan yang baik di Kediri. Dan iapun sadar, bahwa kekuatan di Kediri tampaknya melampaui kekuatan yang diketahui oleh Singasari.

“Kekuatan di Kediri ini harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.” berkata Panglima itu dalam hatinya.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada di atas panggung kecil itu menerima sambutan dengan lambaian tangan. Namun sejenak kemudian maka iapun memberikan isyarat agar para prajurit itu menjadi tenang.

“Saudara-saudaraku.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku berdiri di sini atas nama kekuasaan tertinggi yang berada di Kediri. Namun di sini kini ada kekuasaan yang lebih tinggi lagi, yaitu Panglima Pelayan Dalam yang baru yang kini membawa limpahan kekuasaan Maharaja di Singasari dengan pertanda panji-panji dan tunggul kerajaan.”

Alun-alun itu justru menjadi hening. Para prajurit yang memang sudah mengetahui kehadiran Panglima itu hanya memandangi panji-panji dan tunggul itu saja tanpa memberikan sambutan apapun.

Terasa sesuatu berdesir di dada Panglima itu. Jika Mahisa Agni ternyata akan berbuat curang, maka tidak banyak yang dapat dilakukan dihadapan prajurit yang sekian banyaknya lengkap dengan senjata masing-masing. Adalah pekerjaan yang hampir tidak berarti, seandainya Mahisa Agni memerintahkan pasukannya untuk menangkapnya dan merampas panji-panji dan tunggul itu. Apalagi setiap orang mengetahui bahwa Mahisa Agni memiliki kemampuan yang tidak ada taranya. Hampir tidak ada tandingnya di seluruh lingkungan istana Singasari. Apalagi Maharaja yang baru saja duduk di atas tahtanya itu.

Namun agaknya Mahisa Agni tidak ingin berbuat demikian. Seperti yang dikatakan, ia ternyata hanya minta diri kepada prajuritnya, bahwa ia dipanggil oleh tuanku Tohjaya, yang kini duduk di atas tahta Singasari.

“Aku akan menghadap.“ berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan aku akan mendapat perintah yang akan dapat menempatkan kedudukan kita semua bertambah baik. Agaknya kini sudah waktunya kita memikirkan keadaan kita seorang demi seorang. Bukan saja para prajurit, tetapi seluruh rakyat yang berada dilingknngan Kerajaan Singasari.”

Panglima itu masih saja berdebar-debar. Mahisa Agni masih berbicara terus. Kadang-kadang sambutan yang bagaikan menyentuh langit terdengar memekakkan telinga.

Dan setiap kali sambutan itu meledak, maka dada Panglima itu menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang dengan sengaja ingin menunjukkan kekuatan yang ada di Kediri agaknya telah mencapai maksudnya. Ia sudah berhasil memberikan kesan, kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Bukan saja prajurit yang cukup jumlahnya, namun mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki kemampuan berbuat sesuatu dengan cepat.

Panglima Pelayan Dalam yang baru itu berserta para pengawalnya termenung saja di tempatnya. Setiap kali para prajurit itu bertepuk atau bersorak menyambut kata-kata Mahisa Agni, maka rasa-rasanya hati mereka pun tergores karenanya.

Namun akhirnya Mahisa Agni selesai juga berbicara. Tidak ada tanda-tanda bahwa Mahisa Agni telah menghasut mereka untuk melakukan perlawanan.

Dengan demikian maka perlahan-lahan tumbuh pula kebanggaan mereka atas panji-panji dan tunggul kerajaan itu. Karena itu, maka ketika Mahisa Agni telah turun dari panggung kecil itu, maka Panglima Pelayan Dalam itupun berkata kepadanya, “Aku juga akan berbicara dengan mereka atas nama kekuasaan tertinggi di Singasari.”

“Apa yang akan kau bicarakan?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tentang keadaan terakhir di Singasari.”

“Kau akan menyampaikan dongengmu seperti semalam?”

“Dongeng yang mana?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Sama sekali tidak perlu. Biarlah para Senapati yang semalam telah mendengarkan sesorahmu nanti menyampaikannya kepada para prajurit. Kini kepentinganku sudah selesai. Bukankah kau ingin berangkat lebih cepat?”

”Tetapi aku akan berbicara.“ desak Panglima.

“Itu tidak perlu.”

Tetapi Panglima itu selalu mendesak. Bahkan kemudian ia mengancam, “Aku datang dengan panji-panji dan tunggul kerajaan. Apakah kau akan menolak perintahku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri memandang Panglima itu dengan tajamnya, sehingga suasana menjadi tegang sejenak. Para Senapati yang ada di sekitar menunggu dengan hati yang berdebar-debar.

“Jika kau memaksa.“ berkata Mahisa Agni, “terserahlah kepadamu. Kau memang berhak. Tetapi kau tidak akan dapat menguasai keadaan. Kau harus mengetahui jiwa setiap prajurit Singasari yang ada di Kediri. Kau harus mengetahui jiwa prajurit Singasari dari semua lingkungan dan pasukan. Bukan sekedar Pelayan Dalam.”

“Aku memahami. Dan aku akan berbicara dengan mereka.”

“Jika demikian aku akan pergi. Aku akan mendahului menghadap tuanku Tohjaya. Karena aku tidak yakin bahwa kau akan berhasil menguasai perasaan para prajurit itu. Kau tentu tidak akan dapat meyakinkan mereka, bahwa tuanku Anusapati telah dibunuh oleh rakyat Singasari karena bagi mereka tuanku Anusapati adalah seorang pahlawan yang sangat dicintai rakyatnya. Sejak ia masih seorang Pangeran Pati dengan ujudnya sebagai Kesatria Putih, namanya sudah dikenal dan disuyuti.”

Panglima itu termangu-mangu sejenak.

“Sekarang terserahlah kepada pilihanmu.“ berkata Mahisa Agni kemudian.

Panglima itu menjadi termangu-mangu. Ia berdiri di simpang jalan yang sulit. Sebagai seorang yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan, makan kata-katanya seharusnya berlaku sebagai ketentuan yang tidak dapat dirubah. Tetapi jika ia benar-benar berbicara dihadapan prajurit-prajurit itu, peringatan Mahisa Agni itu merupakan pertanda buruk baginya. Jika Kediri bergolak justru karena kesalahannya, maka ia tentu harus mempertanggung jawabkannya.

Sejenak Panglima itu termangu-mangu. Namun demikian ia berkata, “Aku akan tetap naik keatas panggung. Dan aku perintahkan kau tetap berada di sini.”

“Apakah kau takut sendirian berdiri di atas panggung itu? Jika demikian, baiklah, aku kawani kau sebentar. Tetapi yang terjadi kemudian bukan tanggung jawabku.”

Jawaban Mahisa Agni benar-benar telah menusuk jantungnya. Sejenak ia memandang wajah pengawalnya. Namun pengawalnya sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk lesu, seperti dedaunan yang dipanggang diteriknya matahari.

Ketika Panglima itu mencoba memandang wajah para Senapati Singasari yang ada di Kediri, dilihatnya para Senapati itu memalingkan wajah-wajah mereka, seakan-akan mereka tidak mendengar percakapannya dengan Mahisa Agni.

Untuk beberapa lamanya Panglima itu termangu-mangu. Tetapi ia adalah seorang prajurit. Ia tidak dapat begitu saja meninggalkan ucapan tanpa melaksanakannya hanya karena orang lain mencegahnya. Padahal ia membawa panji-panji dan tunggul kerajaan lambang kekuasaan tertinggi.

Sejenak kemudian maka Panglima itupun membulatkan hati. Sambil menggeretakkan giginya iapun kemudian memanjat tangga dan naik ke atas panggung kecil itu.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Bukan karena ia harus mentaati perintah Panglima itu, atau bukan karena ia merasa tersinggung karena ia tidak berhasil mencegahnya. Namun justru jika Panglima itu salah lidah, akibatnya akan sangat parah.

Tetapi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata Panglima itu hanya berbicara beberapa patah kata saja, katanya, “Aku, atas nama kekuasaan tertinggi Singasari telah diperintahkan untuk memanggil Mahisa Agni. Dan aku, atas nama kekuasaan tertinggi telah memberikan wewenang kepada Mahisa Agni untuk menunjuk seseorang sebagai kepercayaannya selama ia berada di Singasari. Kata-kataku berlaku sebagai sabda Maharaja Singasari.”

Ketika Panglima itu terdiam maka tiba-tiba saja dada Mahisa Agni telah menjadi berdebar-debar kembali.

Sejenak ia memperhatikan Panglima Pelayan Dalam itu. Jika ia masih akan berbicara lagi, maka akan membuka kemungkinan pembicaraannya tersesat dan membakar hati para prajurit itu. Kalimat yang pertama diucapkan agaknya sama sekali tidak mendapat tanggapan yang baik. Semakin banyak yang akan dibicarakan, maka akan semakin banyak terdapat lubang-lubang yang dapat menyeretnya terperosok ke dalamnya.

Namun agaknya Panglima itu sadar, bahwa ia tidak mendapat sambutan yang baik dari para prajurit. Maka iapun segera menyelesaikan kata-katanya. “Aku tidak akan banyak berbicara di hadapan kalian. Semuanya akan dijelaskan oleh para Senapati.”

Panglima itupun kemudian melangkah turun dari panggung kecil itu tanpa sambutan apapun dari para prajurit.

“Kita segera kembali ke Singasari.“ geramnya. Tetapi Mahisa Agni berkata, “Bukankah aku masih harus menunjuk seorang wakilku?”

Panglima itu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku akan menunjuk dan membawanya naik kepanggung kecil itu untuk memperkenalkannya kepada para prajurit.”

“Mereka pasti sudah kenal.”

“Ya. Tetapi aku ingin meyakinkan mereka, bahwa benar orang itulah yang aku tunjuk.”

Panglima itu terdiam sejenak, lalu, “Cepat, waktu kita akan habis disini.”

Mahisa Agni pun kemudian berbicara dengan beberapa orang Senapati. Kemudian merekapun sepakat menunjuk seorang Senapati yang tertua di antara mereka.

“Aku akan membawanya naik dan mengumumkannya.“ berkata Mahisa Agni kemudian.

Demikianlah maka Mahisa Agnipun membawa Senapati tertua itu naik keatas panggung kecil itu. Sambil mengacukan tangan kanan Senapati tertua itu Mahisa Agni berkata, “Berdasarkan kekuasaan yang ada pada Panglima Pelayan Dalam yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan, maka aku menunjuk Senapati ini sebagai wakilku selama aku tidak ada di Kediri.”

Para prajurit Singasari yang ada di Kediri itu pun menyambutnya dengan sorak yang gemuruh. Senapati itu sudah dikenal oleh setiap prajurit. Ia adalah seorang Senapati yang senang sekali bergurau meskipun masih tetap dalam batas-batas yang wajar. Apalagi Senapati itu memiliki kemampuan yang cukup dibidangnya dan di dalam olah kanuragan.

“Selama aku tidak ada, maka kalian harus mentaati perintahnya.“ berkata Mahisa Agni kemudian, lalu, “tetapi di samping Senapati tertua itu, aku akan mengangkat seorang penasehat baginya. Ia akan selalu mendampinginya dan memberikan pertimbangan dan nasehat. Diminta atau tidak diminta. Tetapi Senapati ini pun dapat menerima atau menolak nasehat itu.”

Semua menjadi hening. Mereka mulai menebak-nebak siapakah yang akan menjadi penasehat itu. Tetapi agaknya para prajurit itu tidak begitu banyak menaruh perhatian, karena jabatan itu mereka anggap tidak begitu penting dan tidak begitu banyak pengaruhnya bagi kedudukan wakil Mahisa Agni itu.

“Nah.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku menunjuk seorang prajurit tua dari pasukan pengawal yang selama ini pengawal aku di istana. Ia banyak mengetahui tentang rencana yang pernah aku susun. Ia mengetahui kelemahan-kelemahannya dan ia mengetahui manakah yang baik dan berarti.“ sejenak Mahisa Agni terdiam. Ia mencoba melihat apakah keterangannya itu mendapat tanggapan. Tetapi agaknya para prajurit itu menjadi acuh tidak acuh saja terhadap kedudukan yang kurang mereka kenal itu.

Namun kemudian Mahisa Agnipun berkata, “Saudara-saudaraku, para prajurit. Mungkin kalian sudah ada yang mengenalnya. Sudah lama sekali tidak menampakkan diri dengan namanya sendiri. Tetapi ia berada di antara kita dengan nama yang lain. Pati-pati. Dan sekarang aku harap Pati-pati itu tampil ke atas panggung ini.”

Tidak seorang pun yang bergerak dari tempatnya. Tidak seorang pun yang biasa disebut Pati-pati. Namun Mahisa Agni pun kemudian menjelaskan, “Orang itu sebenarnya bukan orang baru. Tetapi ia adalah seorang prajurit yang justru sudah terlampau lama berada di lingkungannya.”

Semua mata saling mencari, siapakah agaknya yang disebut oleh Mahisa Agni. Mereka yang mula-mula tidak begitu berminatpun menjadi tertarik juga mendengarkan penjelasan itu. Bukan karena mereka tertarik pada jabatan yang kurang mereka kenal itu, tetapi mereka tertarik kepada orang yang bernama Pati-pati itu.

Karena tidak ada seorang pun yang bergerak, maka Mahisa Agnipun kemudian berkata, “Ia berada di antara pasukan pengawalku.“ Dan sambil berpaling kepada seorang yang berpakaian prajurit di belakang panggung ia berkata, “Naiklah bersama kami.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun iapun sadar, bahwa ia agaknya memang diperlukan oleh Mahisa Agni.

Karena itulah maka dengan ragu-ragu ia melangkah mendekati panggung dan memanjat naik. Dengan termangu-mangu ia pun kemudian berdiri di samping Mahisa Agni dan Senapati tertua yang akan mewakili Mahisa Agni selama ia tidak berada di tempatnya.

“Nah, inilah prajurit itu.“ berkata Mahisa Agni kemudian.

Semua mata kini tertuju kepada prajurit yang berdiri di sebelah Mahisa Agni. Prajurit yang sebenarnya sudah cukup tua. Tetapi dari sepasang matanya memancar kepribadian yang mengesankan.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...