Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 26-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-26-03
Dan justru karena itu maka untuk sesaat Ken Umang terdiam. Dipandanginya Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Sebenarnyalah Ken Umang menjadi heran, kenapa Mahisa Agni begitu saja mengiakan kata-katanya tentang Anusapati.

Karena Ken Umang tidak segera menyahut, maka Mahisa Agni melanjutkannya, “Tuan Puteri. Perkenankanlah hamba mohon maaf atas segala kelakuan dan tingkah laku Anusapati sampai saat ini apabila tidak berkenan di hati tuan Puteri Ken Umang.”

Ken Umang masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang. Namun sejenak kemudian tampaklah ia menjadi kebingungan.

Baru sejenak kemudian Ken Umang berkata patah-patah, “jadi, jadi kau membenarkan kata-kataku bahwa Anusapati memang anak muda yang tidak tahu diri?”

“Karena hamba tidak berada di Singasari tuanku, maka hamba tidak dapat menyebutkannya. Tetapi karena menurut tuanku, Anusapati telah berbuat kurang baik, maka biarlah hamba memperingatkannya.”

Justru Ken Umanglah yang menjadi jengkel karenanya. Ia tidak berhasil memancing pertengkaran. Jika Mahisa Agni menjadi marah, dan mereka berbantah, maka ada alasan untuk segera minta kepada Sri Rajasa, agar Mahisa Agni segera diperintahkan kembali ke Kediri, karena Mahisa Agni sudah menghinakan isteri Sri Rajasa.

Tetapi usaha itu ternyata belum berhasil. Namun demikian Ken Umang masih juga berusaha. Katanya, “Kakang Mahisa Agni. Siapakah yang bertanggung jawab atas segala perbuatan Anusapati itu?”

“Ampun tuan Puteri. Tentu tanggung jawab Anusapati sendiri. Apalagi Anusapati kini sudah bukan anak-anak lagi. Ia sudah seorang dewasa, bahkan ia sudah seorang ayah. Itulah sebabnya maka ia harus sudah bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Sadar atau tidak sadar.”

“Tetapi ia tidak tiba-tiba saja menjadi dewasa. Tentu ada yang mendidiknya sejak kanak-anak. Orang itulah yang bertanggung jawab atas segala macam tingkah laku Anusapati.”

“Maksud tuanku, apakah yang bertanggung jawab tuanku Permaisuri?”

Ken Umang menjadi ragu-ragu sejenak. Namun untuk memancing pertengkaran ia menjawab, “Ya. kanda Permaisuri dan kau.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sekilas kesudut halaman itu, dilihatnya beberapa orang prajurit bertugas. Demikian juga didepan regol bangsal Ken Umang.

Karena itu Mahisa Agni harus berhati-hati. Bukan karena ia takut menghadapi tindakan kekerasan, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa Ken Umang memang sedang memancing perselisihan. Jika ia bersikap keras dan berbantah, tentu prajurit-prajurit itu akan menjadi saksi. Demikian juga beberapa orang emban yang duduk tidak begitu jauh dari Ken Umang.

Jika demikian, maka akan timbul berbagai macam akibat yang barangkali terlalu jauh baginya.

Karena kesadaran itulah maka Mahisa Agni tetap pada sikapnya. Ia sekali-sekali membungkukkan kepala dengan tangan bersilang. Sama sekali tidak ada sikap menentang dan melawan setiap kata-kata Ken Umang.

“Apa katamu Mahisa Agni,” Ken Umanglah yang mulai membentaknya.

Sekali lagi Mahisa Agni membungkukkan kepalanya. Jawabnya, “Ampun tuan Puteri. Jika menurut pendapat tuan Puteri hamba ikut bertanggung jawab, maka baiklah hamba akan mencoba membetulkan kesalahan hamba. Sudah hamba katakan, bahwa hamba akan mencegah Anusapati, agar ia kemudian bersikap baik dan tidak memusuhi tuanku Tohjaya. Tetapi tentang sikap dan tanggung jawab tuanku Permaisuri, itu ada diluar kekuasaan hamba. Hamba tidak berhak menegurnya meskipun ia adalah adik hamba.”

“Kenapa kau tidak berhak? Kau adalah saudara tuanya. Meskipun ia seorang Permaisuri, ia tetap adikmu.”

“Hamba tidak berani melakukannya. Hamba takut kepada tuanku Sri Rajasa. Tuanku Permaisuri kini bukan menjadi tanggungan hamba lagi sejak ia bersuami. Segala tingkah laku dan perbuatannya telah menjadi tanggung jawab suaminya.”

“O. jadi kau menyalahkan tuanku Sri Rajasa?”

“Bukan maksud hamba. Tetapi sebaiknya tuanku Sri Rajasalah yang memberinya peringatan. Hamba justru takut kepada Sri Rajasa.”

“Pengecut? Kenapa kau takut? Tentu Sri Rajasa tidak sempat berbuat seperti itu. Tuanku Sri Rajasa adalah Maharaja yang berkuasa di Singasari. Ia tidak sempat mengurusi isterinya saja. Apalagi kakanda Permaisuri yang hampir tidak pernah menarik perhatian Sri Rajasa.”

Terasa dada Mahisa Agni berguncang. Tetapi ia masih harus menahan hati. Sambil membungkukkan kepalanya ia berkata. “Sebenarnyalah hamba akan menjalankan semua perintah karena hamba hanyalah seorang abdi di istana ini. Meskipun hal itu bertentangan dengan kemauan hamba sendiri misalnya, tetapi apabila hal itu harus hamba kerjakan, hamba akan mengerjakannya. Jika memang tuanku Sri Rajasa memerintahkan kepada hamba untuk memberikan peringatan kepada tuanku Permaisuri.”

“Kau memang bodoh sekali,” Ken Umang menjadi marah, “Jika tuanku Sri Rajasa sempat memerintahkan kepadamu, ia tidak memerlukan kau lagi. Mengerti?”

Mahisa Agni menahan nafasnya sejenak. Lalu, “Hamba mengerti tuanku.”

“Jadi kaulah yang bertanggung jawab seluruhnya atas kelakuan Anusapati itu. Mengaku atau tidak mengaku.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia masih tetap sadar. Jika ia bersikap seperti Ken Umang pula, maka orang-orang yang melihatnya akan dapat menjadi saksi, bahwa ia telah berani menentang isteri Sri Rajasa.

Karena itu, sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata betapa-pun ia menahan hati, “Hamba tuan Puteri. Hamba memang bersalah karena hamba tidak dapat mengajar anak itu bersikap baik. Tetapi hamba berjanji untuk memperbaiki kesalahan itu.”

“O, gila, gila. Kau memang bukan laki-laki jantan. Kau hanya berani merunduk seperti budak yang paling hina. Apakah kau sadar, bahwa sikapmu sama sekali bukan sikap seorang Senapati besar?”

“Mungkin tuan Puteri benar,” jawab Mahisa Agni, “hamba memang tidak dapat bersikap lain kali ini, karena hamba berhadapan dengan junjungan hamba. Memang sangat berbeda dengan sikap seorang Senapati di peperangan.”

Kemarahan Ken Umang sudah sampai ke puncaknya sehingga ia berteriak, “Apakah kau dapat bersikap yang lebih baik dari sikap seorang penjilat.”

Sebenarnya kesabaran Mahisa Agni-pun sudah sampai diujung ubun-ubun. Tetapi ia masih memaksa diri untuk tetap bersabar.

Sementara itu beberapa orang prajurit yang melihat dari kejauhan-pun menjadi heran. Semula mereka memang menjadi berdebar-debar. Jika Mahisa Agni berbantah dengan Ken Umang, meskipun Mahisa Agni adalah seorang Senapati, tetapi ia dapat dianggap bersalah dan ia dapat dengan serta-merta diperintahkan untuk meninggalkan istana Singasari ke Kediri. Tetapi ternyata sikap Mahisa Agni itu diluar dugaan mereka. Mahisa Agni sama sekali tidak menunjukkan sikap menentang. Bahkan sikap hormatnya agak berlebih-lebihan.

“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh tuan Puteri,” berkata para prajurit itu di dalam hati. Namun sebenarnyalah mereka dengan mudah dapat menduga, bahwa Ken Umang sengaja memancing persoalan agar Mahisa Agni segera diperintahkan meninggalkan Singasari. Tetapi para prajurit itu tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Mereka hanya menganggap bahwa kehadiran Mahisa Agni itu menguntungkan Anusapati, karena setiap orang-pun mengetahui bahwa Anusapati dan Tohjaya agaknya sukar dirukunkan, dan setiap orang tahu bahwa Sri Rajasa agak berpihak kepada Tohjaya. Bukan kepada Anusapati. Bagi mereka yang mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya-pun mengerti, bahwa Sri Rajasa ternyata tidak dapat menerima kehadiran anak Tunggul Ametung itu dengan sepenuh hati.

Sedang prajurit yang lain, yang mengetahui persoalan yang sedang dihadapinya itu-pun berkata, “Mahisa Agni memang seorang yang bijaksana. Sebagai seorang Senapati Agung di Singasari ia membiarkan dirinya dicaci maki oleh isteri muda Sri Rajasa. Tampaknya itu suatu kekalahan baginya, tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Agnilah yang menang, jika ia tetap dapat bertahan.

Prajurit itu terkejut ketika ia melihat tiba-tiba saja Ken Umang menghentak-hentakkan tangannya sambil berteriak, “Pengecut yang paling buruk di seluruh Singasari. Aku akan mengatakannya kepada Sri Rajasa, bahwa kau tidak pantas menjadi seorang Senapati Agung di Singasari. Kau hanya pantas menjadi seorang penjilat yang rendah dan hina. Ternyata kau tidak dapat mempertahankan sikapmu dan mempertanggung jawabkan segala macam perbuatanmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus berlahan sedikit lagi. Ternyata bahwa Ken Umang sendiri sudah kehilangan kesabarannya meskipun ia telah dengan sengaja memancing persoalan.

“Pergi, pergi dari hadapanku penjilat yang rendah,” berkata Ken Umang, “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang semacam kau. Kau hanya pantas berhubungan dengan budak-budakku, dengan hamba-hambaku yang paling rendah.”

Dada Mahisa Agni bagaikan retak karenanya. Tetapi ia masih tetap bertahan dengan segenap kemampuan perasaannya. Rasanya lebih mudah untuk bertahan melawan sepuluh orang prajurit dalam benturan jasmaniah daripada harus bertahan membiarkan dirinya dihinakan.

“Pergi, pergi,” teriak Ken Umang kemudian.

“Hamba tuanku, hamba akan pergi jika memang tuanku kehendaki.”

“Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”

Mahisa Agni membungkuk dalam-dalam. Namun ia-pun kemudian terkejut ketika ia mendengar seseorang berkata, “Paman, kita tetap disini. Aku adalah Putera Mahkota. Paman harus mendengarkan segala perintahku.”

Semua orang yang mendengar suara itu-pun berpaling. Mereka melihat Anusapati berdiri bertolak pinggang dengan wajah yang merah padam.

Ternyata bukan Mahisa Agnilah yang kehabisan kesabaran, tetapi justru Anusapati yang justru sedang mencarinya.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berbisik, “Tahankan perasaanmu Anusapati. Ingat, kau mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada harga dirimu. Aku sudah membiarkan diriku dihinakan dihadapan banyak orang karena kepentingan yang lebih besar itu.”

Anusapati menggeretakkan giginya. Bahkan ia masih juga berkata, “Hanya perintah Ayahanda Sri Rajasa sajalah yang berada diatas perintahku, karena aku adalah Pangeran Pati. Bahkan ibunda Permaisuri-pun tidak dapat mengubah keputusanku.”

Semua orang yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar. Para prajurit yang sedang bertugas menjadi termangu-mangu. Prajurit yang bertugas di halaman bagian istana yang lama dan bagian istana yang baru. Kedua pihak tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Yang mereka cemaskan adalah apabila Tohjaya mengetahui persoalan itu. Ia pasti tidak akan tinggal diam.

Sementara itu, wajah Ken Umang menjadi bagaikan menyala mendengar kata-kata Anusapati orang yang paling dibencinya itu. Sehingga justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam karenanya.

Anusapati yang sudah sampai pada batas kesabarannya itu masih juga berkata, “Paman Mahisa Agni. Aku perintahkan paman tetap tinggal disini. Paman harus mengawasi setiap orang yang ada di halaman ini. Seluruh halaman istana Singasari. Yang lama mau-pun yang baru adalah wewenang Ayahanda Sri Rajasa. Dan limpahan kekuasaan Putera Mahkota adalah sama dengan kekuasaan Maharaja.”

“Omong kosong,” teriak Ken Umang. “kau sudah gila. Kau sangka Sri Rajasa senang melihat tampangmu?”

Anusapati sama sekali tidak menjawab kata-kata Ken Umang. Bahkan kemudian dibelakanginya perempuan itu sambil berkata lantang, “Aku akan merobah halaman istana ini. Aku akan menutup regol ini dengan dinding batu.”

Kemarahan Ken Umang bagaikan memecahkan dadanya. Hampir diluar sadarnya ia berteriak, “Emban, panggil Tohjaya. Ada orang gila masuk ke dalam istana.”

Emban itu tidak menunggu lebih lama. Berlari-lari ia pergi ke bangsal Ken Umang untuk memanggil Tohjaya yang ada didalamnya.

“Anusapati,” desis Mahisa Agni kemudian, “kau lihat, akibat dari peristiwa ini akan berkepanjangan.”

“Aku sudah siap paman. Apa-pun yang akan terjadi, aku akan menghadapinya. Meskipun seandainya harus ada pertentangan terbuka dengan Sri Rajasa. Aku akan menyatakan diriku di depan setiap orang, bahwa akulah yang berhak atas tahta ini.”

“Anusapati,” potong Mahisa Agni, “kendalikan perasaanmu.”

“Maaf paman. Aku akan mengendalikan persaanku. Tetapi tidak sekarang.”

Mahisa Agni masih akan menjawab. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar suara Ken Umang, “Nah, itulah orang gila itu Tohjaya. Kau harus mengusirnya. Bukan saja mengusir dari regol itu, tetapi kau harus mengusirnya dari istana dan bahkan dari Singasari.”

Tohjaya tidak menghiraukan apa-pun lagi. Ia tidak rela menyaksikan ibunya yang dihinakan oleh siapa-pun juga, meskipun ia seorang Pangeran Pati. Apalagi ia sadar, bahwa Pangeran Pati ini memang harus disingkirkan.

Karena itu maka ia-pun segera mendekati Anusapati sambil berkata lantang, “Apakah kau memang sudah mulai gila Kakanda Anusapati?”

Anusapati memandang Tohjaya sejenak. Namun kemudian terdengar ia tertawa, “Ha, aku memang menunggu kau adinda. Aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa aku punya hak untuk berbuat apa saja di istana ini, karena aku adalah Pangeran Pati. Jika sampai saat Ayahanda Sri Rajasa tidak lagi memegang pemerintahan, entah karena atas kehendak sendiri, atau karena umurnya yang pendek.”

“Tutup mulutmu,” teriak Tohjaya.

“Anusapati,” Mahisa Agni masih ingin mencegah, “kenapa kau kehilangan akal he? Apakah kau memang benar-benar gila?”

Tetapi Anusapati benar-benar tidak menghiraukannya lagi. Bahkan katanya, “Kau mau apa Tohjaya. Coba berbuatlah sesuatu kalau kau berani.”

Tohjaya benar-benar terbakar mendengar tantangan itu. Karena itu, makan tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Anusapati sudah memperhitungkannya. Karena itu, ia sama sekali tidak terkejut. Bahkan serangan membabi buta itulah yang ditunggu-tunggunya.

Dengan gerak yang lebih cepat dari gerak Tohjaya, maka Anusapati-pun menghindar. Tetapi ia tidak sekedar menghindari serangan Tohjaya. Bahkan sekaligus ia menyerangnya pula.

Serangan itu benar-benar tidak diduga oleh Tohjaya. Apalagi kecepatan bergerak Anusapati jauh melampaui kemampuannya, sehingga karena itu, maka Tohjaya-pun kemudian terlempar dan jatuh terguling di tanah.

Ternyata Anusapati yang sudah kehabisan akal itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia masih ingin meloncat membunuhnya. Namun ia tidak dapat menghindarkan diri dan sebuah benturan yang dahsyat sehingga Anusapati itulah yang kemudian terlempar dan jatuh terguling.

Dengan serta-merta Anusapati meloncat bangkit. Namun ia tertegun ketika ia melihat, pamannya Mahisa Agnilah yang berdiri dihadapannya.

Sejenak Anusapati melihat Tohjaya tertatih-tatih bangun. Namun kemudian dipandanginya wajah pamannya yang tegang.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni. Betapa tegang wajahnya, namun kata-katanya tetap sareh dan tenang, “Apakah kau memang sengaja ingin membuat tontonan di halaman Istana ini atau kau ingin memamerkan kemampuanmu. Aku berterima kasih bahwa kau mempertahankan martabatku. Tetapi aku kurang senang melihat darahmu yang masih terlampau mudah menyala. Cobalah, tenanglah sedikit. Lihatlah banyak orang yang menonton peristiwa ini, seperti orang melihat ayam bersabung. Padahal kalian adalah bangsawan tertinggi di Singasari saat ini. Apakah kau mengerti?”

Anusapati tidak segera menjawab. Dengan wajah yang tegang dipandanginya pamannya yang berdiri tegak seperti batu karang. Alangkah garangnya. Tentu dipeperangan Mahisa Agni akan tampak lebih garang lagi. Dengan senjata di tangan dan wajah yang tegang.

Ternyata perbawa itu meresap kedalam dada Anusapati. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Sebuah penyesalan telah merayapi hatinya. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan rasa-rasanya semakin lama semakin banyak mata yang memandanginya.

Perlahan-lahan terdengar suaranya bergumam didalam mulutnya, “maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan pengamatan diri. Penghinaan yang tiada batasnya itu membuat dadaku bagaikan terbelah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi berlega hati ketika dilihatnya bahwa Anusapati sudah mulai berhasil menguasai perasaannya.

Namun selagi Mahisa Agni mulai merasa tenang, setelah ketegangan yang sangat mencengkam hatinya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Tohjaya lantang, “Ayahanda, inilah orang gila yang ingin mengacaukan istana itu.”

Dengan serta-merta Mahisa Agni berpaling. Dadanya berdesir ketika dilihatnya Sri Rajasa berdiri tegak diiringi oleh beberapa orang pengawal. Dengan sorot mata yang menyala dipandangnya Mahisa Agni dan Anusapati berganti-ganti.

“Sudah tiba saatnya bagi ayahanda untuk bertindak.”

Tetapi Sri Rajasa masih tetap berdiri diam seperti patung.

Tohjaya menjadi heran sejenak. Demikian ibunya Ken Umang. Perlahan-lahan isteri muda Sri Rajasa itu melangkah maju sambil berkata, “Kakanda Sri Rajasa. Alangkah cemasnya hati hamba melihat ananda Anusapati berbuat di luar sadarnya. Hamba tidak tahu apa yang seharusnya hamba lakukan. Sedangkan kakang Mahisa Agni sama sekali tidak berbuat apa-pun juga untuk menenangkan keadaan. Bahkan ia sama sekali tidak bersikap seperti orang tua.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati Anusapati yang berdiri termangu-mangu di sebelah Mahisa Agni. Beberapa langkah daripadanya berdiri Tohjaya dengan wajah yang tengadah.

“Kakanda,” berkata Ken Umang, “sebaiknya kakanda menimbang dengan adil. Hamba lihat pakaian Tohjaya yang kotor dan kusut itu? Ananda Anusapati lah yang telah melakukannya tanpa disangka-sangka.”

Sri Rajasa menjadi semakin dekat, sehingga dada Mahisa Agni-pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Jika semuanya harus terjadi saat ini, apaboleh buat,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “meskipun aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhir dari setiap persoalkan yang dapat timbul karenanya.”

Agaknya Anusapati-pun mencemaskannya pula. Jika ayahandanya tidak dapat mengekang dirinya pula, maka yang terjadi adalah bencana yang maha dahsyat. Bukan saja bagi pimpinan tertinggi Singasari, tetapi bagi Singasari dan rakyatnya.

Gejolak hati Anusapati itu telah mendorongnya berbisik ditelinga Mahisa Agni, “Paman, Trisula itu aku bawa sekarang.”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah. Tetapi ada semacam air yang menitik di jantungnya yang sedang membara. Sadar atau tidak sadar, Mahisa Agni harus mengakui, bahwa Sri Rajasa adalah bukan manusia kebanyakan. Ia memiliki kelebihannya. Ia memiliki kelebihan yang tidak dapat dimengerti oleh sesamanya.

Sejenak Sri Rajasa berdiri dengan tegang. Namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti apa yang telah terjadi. Seorang perwira yang melihat peristiwa ini langsung menyampaikannya kepadaku. Dengan tergesa-gesa aku datang kemari, karena yang terjadi adalah sepercik noda yang paling kotor pada keluarga Maharaja di Singasari. Dan aku melihat bagian terakhir dari tontonan yang mengasyikkan ini.”

Semua orang yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar. Suara Sri Rajasa sudah menjadi agak gemetar oleh perasaaan yang tertahan didalam dadanya.

Ken Umang memandang Sri Rajasa tanpa mengedipkan matanya. Seakan-akan ia menunggu, keputusan apakah yang akan diambilnya didalam keadaan itu.

Sementara itu Tohjaya bergeser selangkah mendekati ayahandanya. Dalam ketegangan itu ia berkata, “Ayahanda dapat bertindak sekarang.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku memang dapat bertindak. Dan aku memang akan bertindak sebaik-baiknya.”

“Tentu ayah,” sahut Tohjaya.

Anusapati membeku ditempatnya, sedang wajah Mahisa Agni tidak lagi disaput ketegangan yang dalam membayang di wajah itu.

Sekilas ia memandang berkeliling. Dilihatnya beberapa orang Senapati berdiri tegang. Bahkan Panglima pasukan pengawalnya-pun telah ada di halaman itu pula.

“Benar seperti sabungan ayam,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “Tetapi apaboleh buat. Aku tidak dapat menduga, apa saja yang akan dilakukan oleh para prajurit ini.”

Sejenak Mahisa Agni memandang ke kejauhan menembus kesuraman senja yang mulai turun. Seorang juru taman berdiri di sebelah gerumbul yang lebat. Sekali-sekali ia berlindung dibalik gerumbul itu, dan sekali ia menampakkan dirinya jika kebetulan Mahisa Agni memandangnya. Juru taman itu adalah Sumekar.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu akan dapat ikut menentukan akhir dari peristiwa yang tidak diinginkannya apabila hal itu terpaksa terjadi di halaman ini, dibatas antara istana yang lama dan yang baru.

Sejenak orang-orang yang berdiri berpencaran itu termangu-mangu. Mereka memandang Sri Rajasa dan Mahisa Agni berganti-ganti. Tanpa mereka sadari, nafas mereka-pun seakan-akan berkejaran. Yang berdiri dengan tegang itu adalah dua orang Raksasa yang tidak ada bandingnya di Singasari.

Sri Rajasa adalah seorang yang bagi Mahisa Agni adalah orang yang aneh. Orang yang memiliki kelebihan tanpa dicarinya. Karena itulah maka orang mengatakan bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu adalah kekasih dewa-dewa.

Tetapi bagi Sri Rajasa, Mahisa Agni adalah orang yang aneh. Satu-satunya anak muda yang mampu mengimbanginya selagi ia masih berkeliaran di Padang Karautan. Dan Ken Arok vang bergelar Sri Rajasa itu mengetahui, bahwa Mahisa Agni pada waktu itu, memiliki sebuah pusaka yang baginya sangat mengerikan. Jauh lebih mengerikan dari pusaka yang selama ini dianggapnya pusaka yang paling keramat, Keris Empu Gandring. Dan pusaka itu hanyalah sebuah trisula yang tidak seberapa besarnya. Tetapi dapat bercahaya seperti matahari yang menyilaukan.

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang tidak akan berbuat apa-apa. Setelah beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam, maka ia-pun berkata, “Aku minta kalian kembali kebangsal masing-masing.”

Tohjaya terkejut mendengar perintah itu. Bahkan yang lain-pun tidak kalah terkejut pula. Mahisa Agni yang tegang dan Anusapati yang berdebar-debar saling berpandangan sejenak.

“Aku tidak senang melihat pertengkaran itu,” berkata Sri Rajasa lebih lanjut, “sejak lama aku selalu memperingatkan, sikap bermusuhan itu sangat memalukan. Apalagi kalian adalah Putera seorang Maharaja yang sangat dihormati. Tindakan kalian itu tentu merendahkan martabatku sebagai seorang Raja yang memerintah seluruh Singasari sekarang ini.”

Ken Umang memandang ken Arok dengan sorot mata yang aneh. Memang ia tidak mengerti akan perintah itu. Ia berharap agar Sri Rajasa mengambil tindakan yang paling keras terhadap Anusapati. Hukuman yang dapat merendahkan nilainya sebagai seorang Putera Mahkota. Menghinakannya, dan akan lebih baik lagi jika kemudian mengusirnya dari Istana.

Ken Umang menjadi lebih heran lagi ketika ia mendengar Sri Rajasa itu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepadamu Mahisa Agni.”

Tohjaya menjadi tegang sejenak. Dan ia mendengar Sri Rajasa melanjutkan, “Aku melihat dari kejauhan apa yang kau lakukan. Ternyata bahwa kau berdiri diatas ikatan keluarga yang ada pada dirimu. Meskipun kau paman Anusapati dari saluran darah ibunya, retapi kau sudah berusaha sebaik-baiknya mencegah pertengkaran ini. jika kau tidak menghalangi Anusapati, maka aku kira Tohjaya akan mengalami cidera yang dapat membahayakan jiwanya. Jika demikian maka tidak akan ada gunanya lagi aku membina daerah ini dengan mempertaruhkan semua yang ada padaku.”

Tidak seorang-pun yang menyahut. Bahkan tidak seorang-pun yang bergerak meskipun hanya sekedar ujung jari kakinya.

“Jika Tohjaya mengalami cedera, apalagi sampai membahayakan jiwanya, maka Anusapati harus dihukum. Dengan demikian aku akan kehilangan kedua-duanya sekaligus. Kehilangan Pangeran Pati yang akan menggantikan kedudukanku, dan kehilangan Tohjaya satu-satunya orang akan dapat menggantikan kedudukan Anusapati apabila terjadi sesuatu dengannya. Memang aku masih mempunyai beberapa orang anak laki-laki. tetapi aku harus membinanya dari permulaan sekali.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “karena itu tindakan Mahisa Agni memang pantas dipuji.”

Betapa mereka yang mendengar kata-kata Sri Rajasa itu tidak dapat mengartikannya dengan segera. Ada yang heran, ada yang tidak percaya kepada pendengarannya, tetapi ada yang menganggap, bahwa itu adalah sikap yang bijaksana.

“Nah,” sekali lagi Sri Rajasa berkata, “Sekarang kembalilah kebangsal masing-masing. Jangan menjadi tontonan di sini. Semakin cepat semakin baik.”

“Kakanda,” Ken Umanglah yang akan memotong kata-kata Sri Rajasa. Tetapi Sri Rajasa mendahuluinya, “Kau-pun sebaiknya meninggalkan tempat ini. Adalah kurang baik jika kau berada di antara wajah-wajah yang tegang dan sikap bermusuhan.”

Ken Umang menahan gejolak didalam dadanya. Tetapi ia tidak berani membantahnya. Digamitnya Tohjaya dan dengan isyarat diajaknya Tohjaya meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu Mahisa Agni-pun kemudian menggandeng Anusapati meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Sri Rajasa, “Sikap Tuanku sangat bijaksana. Hamba mengucapkan terima kasih.”

“Apakah mungkin aku berbuat lain?” bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia-pun menjawab, “Memang tidak ada sikap lain bagi seorang yang bijaksana.”

“Bagi yang tidak bijaksana?”

“Tuanku, hamba tidak dapat mengatakannya, karena ternyata yang ada adalah seorang yang sangat bijaksana.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya langkah Anusapati di samping Mahisa Agni, dan di arah yang lain Tohjaya berjalan di belakang ibunya, Ken Umang.

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya ketika perasaannya mulai menilai kedua anak muda itu. Ia tidak mau melihat kenyataan bahwa ternyata anak Tunggul Ametung itu mempunyai banyak kelebihan dari anaknya.

“Ibunyalah yang memiliki kelebihan. Adalah bodoh sekali bahwa aku tidak pernah memikirkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu merenung sejenak. Ia mulai membayangkan kemungkinan yang ada pada Mahisa Wonga Teleng. Ia adalah anaknya dan anak Ken Dedes. Jika benar Ken Dedes memiliki kemungkinan yang besar pada keturunannya, maka Mahisa Wonga Teleng-pun pasti memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

“Tetapi sudah terlambat,” ia berkata didalam hatinya, “Anusapati sudah mulai meloncati pagar yang selama ini berhasil aku lingkarkan mengelilingi. Tetapi ternyata pada suatu saat anak itu telah melepaskan dirinya dari semua kungkungan. Sebelumnya ia tidak pernah berani berbuat apa-apa-pun jangankan seperti yang dilakukannya saat ini.”

Tiba-tiba terlintas didalam angan-angannya. Ken Dedes yang sedang terbaring di pembaringannya. Tentu Ken Dedes sudah mengatakan semuanya tentang Anusapati. Tentu Ken Dedes juga mengatakan saat-saat kematian Tunggul Ametung, dan tentu sekarang Anusapati sedang di dalam gejolak yang paling dahsyat yang pernah dialaminya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang sama-sama. Seakan-akan ia sedang memandang cahaya matahari yang kemerah-merahan, yang sebentar lagi akan turun dan hinggap dipunggung pegunungan. Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir untuk memandang wajah bumi karena sebentar lagi matahari itu akan tenggelam.

“Tentu tidak akan mungkin lagi dapat terbit di Timur,” katanya didalam hati, “aku memang bukan matahari. Jika saat tenggelam itu datang, maka biarlah namaku tenggelam pula bersamanya. Tetapi jangan Singasari.”

Ken Arok itu-pun kemudian perlahan-lahan melangkahkan kakinya kembali kebangsalnya. Pengawal-pengawalnya-pun mengikutinya dari kejauhan. Ketika Ken Arok kemudian masuk kedalam bangsalnya, maka para prajurit itu-pun tinggal di gardu penjagaan mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni membawa Anusapati ke bangsalnya. Ketika mereka berjalan lewat didepan seorang juru taman yang sedang berjongkok, maka Mahisa Agni-pun memberikan isyarat kepadanya sambil berbisik, “Nanti malam aku datang ke gubugmu.”

Sumekar sama sekali tidak menyahut. Justru ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Baru ketika keduanya sudah menjadi semakin jauh. Sumekar itu baru berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.

Dalam pada itu, cahaya matahari memang sudah mulai pudar. Semakin lama semakin suram. Dan sebentar lagi, maka seluruh Singasari itu-pun ditelan oleh kegelapan malam.

Di bangsal Anusapati, Mahisa Agni duduk tepekur dihadap oleh Anusapati. Agak sulit baginya untuk memberikan beberapa nasehat kepada Putera Mahkota itu. Karena ia tahu, bahwa selama ini Anusapati selalu menjaga perasaan isterinya. Ia selalu berusaha untuk menghindarkan semua pembicaraan yang dapat membuat isterinya menjadi semakin berkecil hati. Sebagai seorang perempuan yang hidup dilingkungan yang asing, maka ia memerlukan ketenangan di dalam lingkungannya yang baru itu.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun menunggu hingga pada suatu kesempatan ia dapat mengatakannya.

Ketika Mahisa Agni yakin bahwa isteri Anusapati itu tidak berada di dalam bilik sebelah yang mungkin dapat mendengar suaranya, barulah ia berkata, “Anusapati. Ternyata keadaan sudah menjadi semakin panas dan gawat. Tetapi aku melihat perkembangan lain pada Sri Rajasa itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya hampir berbisik, “Aku masih belum yakin paman. Tetapi mudah-mudahan Ayahanda Sri Rajasa dapat melihat kebenaran tentang hubunganku dengan Adinda Tohjaya. Tetapi seandainya demikian, hal itu tentu sudah terjadi beberapa saat lamanya.”

“Pikiran dan perasaan seseorang dapat berkembang Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “dan aku berharap, bahwa Sri Rajasa akan mengalaminya.”

“Mungkin pada suatu saat paman. Tetapi jika ibunda Ken Umang mendapat kesempatan berbicara maka ayahanda tentu akan bersikap lain pula.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit bagi Ken Arok untuk berjalan surut. Dan jika ia tetap maju, maka jarak perjalanan itu menjadi semakin dekat.

“Hati-hatilah Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku berharap keadaan bertambah baik. Tetapi aku juga berharap agar kau tidak lengah. Sudah sepantasnya kau membawa trisula kecil itu kemana-pun kau pergi. Tetapi ingat, jangan kau pergunakan jika kau tidak dalam keadaan terpaksa. Terpaksa sekali.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku berjanji akan menemui Sumekar. Malam sudah menjadi semakin gelap. Besok aku kembali melihat keris itu. Sekarang waktunya agaknya kurang baik bagiku untuk melihat keris itu. Jika ada satu dua orang yang sempat melihatnya, maka udara yang panas ini tentu akan mendidih. Besok aku akan kembali untuk melihat keris itu.”

“Apakah aku harus membawanya ke bangsal paman?”

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak mengatakan demikian sekarang. Aku tidak tahu, jika keadaan besok akan berkembang.”

Anusapati menundukkan kepalanya.

“Sekarang, biarlah aku pergi ke gubug Sumekar. Aku perlu berbicara sedikit dengan juru taman itu.”

“Silahkanlah paman.”

“Ingat, dalam keadaan serupa ini, trisula kecil itu jangan terpisah dari dirimu. Bukanlah trisula itu tidak mengganggumu jika kau sembunyikan di dalam lapisan ikat pinggangmu.”

Anusapati menganggukkan kepalanva. Pesan itu menyatakan bahwa Mahisa Agni-pun menjadi sangat cemas terhadap perkembangan keadaan.

Namun Mahisa Agni itu-pun kemudian berpesan, “Tetapi ingat pula Anusapati, bahwa trisula itu bukan senjata dan yang dipergunakan jika itu bukan cara terakhir satu-satunya jalan yang dapat kau tempuh.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk sambil menjawab, “Ya paman, aku mengerti.”

“Nah, tinggal sajalah di bangsalmu. Kau dapat sedikit memberikan pesan, meskipun tidak berterus-terang terhadap para pengawal di halaman, agar mereka-pun berhati-hati pula.”

“Ya paman.”

“Nah, biarlah aku pergi sekarang. Bukankah anakmu sudah tidur?”

“Sudah paman.”

“Besok saja aku menemuinya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Ia tidak segera pergi kegubug Sumekar tetapi ia berjalan kebangsalnya sendiri. Perlahan-lahan seperti seorang jejaka berjalan di bawah cahaya bulan yang sedang purnama.

Mahisa Agni harus yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahui sedap pertemuannya dengan Sumekar, mau-pun Anusapati dengan Sumekar agar Sumekar tidak segera terlibat dalam keadaan yang panas itu. Dengan demikian ada seorang yang kuat, yang masih dapat diharapkan berbuat sesuatu di luar perhitungan Sri Rajasa.

Tetapi jika pertentangan yang tampaknya akan menjadi terbuka itu berkembang, Mahisa Agni memerlukan kekuatan di luar istana itu. Jika kemudian terjadi bentrokan-bentrokan senjata dengan terbuka, dan Sri Rajasa mempergunakan kekuasaan dan haknya sebagai seorang Maharaja, maka dengan sangat terpaksa Mahisa Agni-pun harus menghadapinya dengan cara serupa. Tetapi karena ia tidak berhak memberikan perintah langsung kepada para prajurit yang ada di Singasari, maka ia harus mendapatkan kekuatan lain yang dapat melindungi Anusapati bersamanya. Bukan sekedar melindunginya karena ia takut mati, tetapi melindungi dirinya dan Anusapati bersama segala macam cita-cita dan kemungkinannya.

Setelah malam menjadi semakin gelap, maka Mahisa Agni-pun keluar lagi dari bangsalnya. Kepada prajurit yang mengawal bangsalnya ia berkata, “Udara sangat panas didalam. Aku akan keluar sebentar.”

Prajurit-prajurit itu memandanginya sejenak. Seakan-akan ingin bertanya, kemanakah ia akan pergi didalam keadaan yang bagi para prajurit, agak kalut itu? Meskipun mereka tidak melihat pertentangan sampai keakar hati Mahisa Agni, Anusapati, Tohjaya dan orang-orang yang terlibat lainnya termasuk Sri Rajasa sendiri, namun mereka melihat pertengkaran antara Anusapati dan Tohjaya sebagai anak-anak muda yang kian tidak mau hidup dalam suasana persaingan. Sayang persaingan diantara mereka itu sama sekali tidak mendorong mereka kearah yang lebih baik dari pertengkaran yang kasar. Seperti pertengkaran anak-anak seorang rakyat kebanyakan saja. Bahkan hampir saja mereka berkelahi dalam arti yang sebenarnya di hadapan banyak orang.

Mahisa Agni dapat menangkap dari sorot mata para prajurit itu, pertanyaan-pertanyaan yang bergulat di dalam hati mereka. Karena itu ia-pun tersenyum sambil berkata, “jangan cemas. Anak-anak itu tidak akan berkelahi lagi, apalagi memperluas pertengkaran mereka, meskipun orang-orang tua terpaksa ikut campur.”

Para prajurit itu-pun tersenyum pula. Bahkan tersipu-sipu karena Mahisa Agni dapat menebak pertanyaan didalam hatinya dengan tepat.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...