BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-25-03
Sumekar melihat kedua kaki prajurit yang sudah siap untuk meluncur itu. Sejenak ia termangu-mangu. Sebenarnya kesabarannya sudah sampai pada batasnya.
“Jika saja kakang Mahisa Agni tidak berpesan mawanti-mawanti,” katanya didalam hatinya.
Dalam keragu-raguan itu ia melihat prajurit itu mulai bergerak. Karena ia masih belum dapat menemukan keputusan, maka tiba-tiba saja mulutnya benar-benar telah berteriak, “Tolong, tolong.”
Suaranya terputus ketika kedua tangan prajurit itu menerkam lehernya. Tangan itu bagaikan hendak mematahkan tulangnya sehingga karena itu Sumekar berusaha untuk melepaskannya.
Dalam saat yang pendek dan tiba-tiba itu ia tidak mempunyai kesempatan berpikir. Karena itu yang dapat dilakukannya justru menjatuhkan dirinya sehingga keduanya-pun berguling-guling beberapa kali.
Dalam keadaan itu, prajurit itu-pun tidak segera dapat memusatkan kekuatan pada kedua tangannya untuk mencekik juru taman itu, bahkan tangannya mengendor sejenak dan prajurit itu masih harus menahan dirinya yang sedang berguling itu. Tetapi rasa-rasanya dorongan loncatannya terlalu keras sehingga untuk beberapa lamanya ia tidak berhasil menahan dirinya dan karena itu maka keduanya masih saja berguling beberapa kali.
Dalam pada itu, ternyata suara juru taman itu dapat didengar oleh beberapa prajurit yang sedang bertugas. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun suara itu jelas mereka dengar sehingga sejenak kemudian pemimpin peronda digardu yang terdekat dengan taman itu-pun bersama dengan dua orang prajurit pengawal yang lain, berlari-lari memasuki taman yang gelap.
Sejenak mereka berdiri termangu-mangu karena mereka tidak segera melihat sesuatu. Namun sejenak kemudian mereka mendengar suara di sudut yang gelap seseorang yang mengaduh tertahan.
Dengan sigapnya ketiganya berlari-lari kearah suara itu. Beberapa langkah mereka berhenti dan dengan isyarat pemimpinnya memberikan perintah untuk memencar.
Dengan senjata telanjang ketiganya melangkah mendekati arah suara itu. Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah orang berlari-lari menjauh. Tetapi sejenak kemudian suara itu-pun hilang dari telinga mereka.
Namun demikian, mereka masih mendengar dengus nafas dan keluhan tertahan-tahan itu.
Pemimpin peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun sejenak kemudian ia meloncat ke balik gerumbul pohon bunga-bunga an sambil mengacungkan senjata.
“Siapa?”
Yang terdengar adalah suara keluhan pendek.
“Kenapa kau he? Siapa kau?”
Kedua prajurit yang lain-pun segera mendekat. Mereka melihat seseorang terbaring di tanah dengan nafas yang hampir terputus.
“Kau juru taman he?”
Yang terbaring itu adalah Sumekar. Ia-pun kemudian duduk dengan pertolongan para prajurit peronda itu. Namun nafasnya masih tetap terengah-engah.
“Kenapa kau he?”
“Itu, itu,” suara Sumekar terputus-putus.
“Apa yang terjadi?”
“Leherku,” jawab Sumekar sambil memegangi lehernya sendiri.
“Kau dicekik. He?”
Sumekar menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tetapi tangannya masih tetap memegang lehernya.
“Siapakah yang mencekikmu?”
Sumekar menggelengkan sambil menjawab, “Aku tidak tahu. Seseorang tiba-tiba saja mencekik leherku sehingga aku hampir mati. Aku hanya mendapat kesempatan berteriak sekali.”
“Ya, kami mendengar. Dan kami mendengar langkah orang berlari. Untunglah bahwa kau masih hidup.”
“Hampir saja aku mati,” berkata Sumekar.
“Marilah,” berkata pemimpin prajurit pengawal yang sedang meronda itu, “tetapi kenapa kau berada disini malam-malam begini?”
“Aku sedang mencoba menanam sebatang manggis putih. Setiap saat aku menitikkan air pada batang yang sedang mulai tumbuh itu. Adalah jarang sekali terdapat sebatang pohon manggis putih di Singasari. Aku mendapat benihnya dari seorang kawanku di Batil.”
“Kau tanam ditaman ini?”
“Ya. Aku tanam ditaman ini.”
“Lalu, kenapa kau dicekik orang?”
“Orang itu telah mencuri batang manggis putih itu. Aku mencoba mempertahankannya. Tetapi aku dicekiknya sampai hampir saja aku mati.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah tuah pohon manggis putih sehingga seseorang telah mencurinya?”
“Ketenteraman dan derajat. Kawanku di Batil menemukan benihnya di hutan belantara. Ia mendapatkan beberapa batang di tengah hutan, dan sebuah manggis putih yang masak. Diambilnya buah masak itu bijinya-pun ditanamnya di rumah. Ternyata hanya dua batang pohon manggis putih yang dapat tumbuh. Satu ditanamnya sendiri dan yang satu lagi dibawanya kemari.”
Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Ketenteraman dan derajad.” Lalu tiba-tiba, “Tetapi siapakah orang itu? Dari mana ia tahu bahwa kau mempunyai sebatang pohon manggis putih?”
“Aku tidak tahu. Dan aku belum pernah melihat orang itu.”
Prajurit itu berpikir sejenak. Kemudian katanya kepada prajurit yang lain, “Kita cari di halaman istana ini. Jika ada orang yang tidak dikenal atau siapa-pun yang membawa sebatang pohon manggis orang itu harus ditangkap.”
“Apakah aku harus pergi ke gardu induk.”
“Ya.”
Prajurit itu-pun segera meninggalkan taman dan pergi ke gardu induk untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di dalam taman dan seperti yang dikatakan oleh pemimpinnya, sebaiknya dicari di seluruh taman dan halaman, seseorang yang telah mencuri batang manggis putih itu.
Dalam pada itu, maka pemimpin peronda itu-pun memapah Sumekar dibawa kegardunya. Tetapi Sumekar minta agar ia dibawa saja keponooknya.
Aku akan mencoba untuk beristirahat sebaik-baiknya. Jika pernafasanku berjalan baik, aku kira aku sudah tidak apa-apa lagi.”
“Apakah orang itu tidak mengancammu lagi?”
“Aku kira ia tidak akan berani datang lagi, apalagi karena orang itu mengetahui bahwa suaraku telah didengar oleh para prajurit.”
Pemimpin peronda itu berpikir sejenak. Lalu, “Baiklah, Aku bawa saja kau ke gubugmu.”
Sejenak kemudian maka Sumekar-pun telah berbaring di dalam biliknya, setelah ia menyelarak pintu, “Apakah kau dapat berjalan kepembaringanmu?” bertanya prajurit-prajurit itu dari luar pintu.
“Ya, aku sudah berbaring sekarang.”
“Baiklah. Hati-hatilah.”
“Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun segera duduk di bibir pembaringannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata nafasnya benar-benar menjadi sesak. Bukan karena cekikan prajurit yang akan membunuhnya, tetapi justru karena ia harus menahan nafas beberapa saat dan berpura-pura kesakitan.
“Kenapa aku tidak membunuhnya saja,” tiba-tiba ia menggeram. Tetapi kemudian terngiang ditelinganya suara Mahisa Agni yang melarangnya melakukan pembunuhan-pembunuhan serupa itu apa-pun alasannya.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia kehilangan pengendalian diri. Prajurit itu hampir saja memaksanya untuk melawan dan membunuhnya sama sekali.
Untunglah bahwa ia masih sempat mengendalikan dirinya. Meskipun demikian lehernya terasa juga agak sakit oleh cengkaman prajurit yang mencekiknya itu.
Dalam pada itu, prajurit pengawal yang meronda dan menjumpai seorang juru taman yang hampir mati dikebun itu-pun telah melaporkannya ke gardu induk. Karena itulah maka beberapa prajurit-pun segera berpencaran mencari orang yang telah berusaha membunuh juru taman itu.
Tetapi mereka tidak menemukan seseorang di dalam halaman istana Singasari itu. Mereka tidak menemukan orang lain kecuali para prajurit yang sedang bertugas. Dan sudah barang tentu bukan salah seorang dari para prajurit itulah yang telah melakukannya. Jika yang melakukannya salah seorang dari mereka maka juru taman itu akan dapat mengenalnya. Setidak-tidaknya dari pakaian dan kelengkapannya. Tetapi juru taman itu mengatakan bahwa yang melakukannya itu bukan seorang prajurit Singasari.
Sementara itu, prajurit yang telah berusaha membunuh juru taman itu menjadi berdebar-debar. Kegelisahan yang sangat mencengkam hatinya. Tentu juru taman itu dapat mengenalnya dan apabila ia dibawa oleh para peronda untuk menemukan orang yang telah berusaha membunuhnya, maka ia akan dapat mengenalnya.
Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada menunggu. Jika juru taman itu datang dan menunjuk hidungnya, maka ia akan ingkar. Tidak ada bukti-bukti yang dapat memberatkan tuduhan itu.
Namun ternyata bahwa juru taman itu tidak ikut dengan para peronda yang sedang mencarinya. Juru taman itu tidak datang menunjuk hidungnya dengan tuduhan itu. Dengan demikian maka para prajurit itu-pun tidak menemukan seorang-pun yang pantas mereka curigai melakukan percobaan pembunuhan itu.
“Beberapa hal serupa ini terjadi,” desis seorang prajurit, “setiap kali terjadi sesuatu, maka setiap kali kita tidak dapat menemukan seorang-pun yang dapat dituduh melakukannya. Apalagi benar-benar berhasil menangkap mereka selagi mereka sedang berbuat.”
Kawannya menganggukkan kepalanya. Katanya, “Suatu pertanda buruk. Sejak di halaman ini muncul bayangan yang berkerudung hitam dan bahkan yang telah dikejar sendiri oleh Sri Rajasa. Kemudian berturut-turut peristiwa yang aneh, dan yang terakhir adalah bau yang menusuk hidung itu, rasa-rasanya Singasari telah diraba oleh suatu peristiwa yang menggetarkan isi dada.
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hampir setiap orang di dalam istana Singasari sebenarnya telah merasakan nafas yang agaknya semakin menyesakkan isi istana. Tetapi mereka tidak mengerti dan sama sekali tidak mempunyai gambaran apakan yang sebenarnya akan terjadi.
“Kita tidak usah melaporkan hal ini kepada Panglima Pasukan Pengawal,” berkata perwira yang malam itu bertugas memimpin penjagaan di seluruh istana dan lingkungannya. Hal ini hanya akan menambah persoalan yang semakin bertumpuk di istana ini. Bagaikan rasa-rasanya langit menjadi semakin buram. Setiap saat hujan dapat turun dengan lebatnya. Bahkan dengan petir dan guruh.”
Para prajurit yang ada di sekitarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti, bahwa laporan yang disampaikan tentang hal itu hanya akan menambah kemarahan Panglima yang sudah menjadi semakin pening memikirkan keamanan di dalam lingkungan istana yang menjadi semakin memburuk.
Demikianlah, malam itu Sumekar benar-benar telah menghindari suatu pembunuhan. Bahkan justru dirinya sendirilah yang telah dibiarkannya menjadi sasaran kemarahan prajurit itu, sehingga mencengkam lehernya dan mencekiknya. Jika juru taman itu bukan Sumekar maka di taman itu tentu sudah terjadi pembunuhan. Tetapi juru tamannyalah yang mati terbunuh oleh prajurit itu, bukan sebaliknya.
Di pagi-pagi benar, Mahisa Agni telah bangun dan membersihkan dirinya. Tanpa menimbulkan kecurigaan ia berjalan-jalan di taman di halaman istana itu. Dilihatnya beberapa orang juru taman sudah mulai melakukan tugas mereka dan terpencar di halaman yang luas. Seorang berjalan hilir mudik membawa air untuk menyiram tetamanan. Yang lain menyapu halaman dan membersihkan tanaman disekitar bangsal-bangsal. Yang lain membersihkan daun-daun kuning yang gugur dibawah pohon-pohon besar dan pohon bunga-bungaan.
Sumekar-pun telah sibuk pula di antara mereka. Dengan tekun dan sungguh-sungguh ia menyiangi pohon-pohon bunga yang sedang tumbuh.
Perlahan-lahan Mahisa Agni yang berjalan-jalan menghirup udara dipagi yang cerah itu mendekatinya. Lalu berdiri di sampingnya sambil bertanya, “Apakah yang terjadi?”
Sumekar-pun menceriterakannya apa yang telah terjadi semalam ditaman itu.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku juga mendengar derap kaki para prajurit. Tetapi aku tetap diam di pembaringanku. Agaknya mereka sedang mencari prajurit yang siap membunuhmu.”
“Ya, demikianlah agaknya.”
Mahisa Agni masih tersenyum. Ia dapat membayangkan bagaimana Sumekar harus menahan diri. Jika ia tidak berhasil mengendalikan dirinya, maka ia tidak akan menemui kesulitan apa-pun untuk membunuh prajurit itu.
“Kau telah berhasil adi Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian, “jika kau tidak berhasil, maka suasana pagi ini di istana Singasari akan menjadi sangat keruh. Prajurit Singasari akan berlari-larian dari sebuah gardu kegardu yang lain, mengabarkan bahwa seorang prajurit telah terbunuh di taman. Tetapi karena kau berhasil mempertahankan kesabaranmu, maka pagi ini kita tidak melihat keributan apapun. Mungkin beberapa orang prajurit pengawal sedang membicarakan peristiwa yang mereka lihat semalam tentang dirimu, tetapi pembicaraan itu akan segera berakhir. Tetapi jika sesosok mayat prajurit pengawal terbujur mati, persoalannya pasti akan menjadi berkepanjangan. Bagaimana-pun juga prajurit pengawal di istana Singasari memiliki kesetia-kawanan yang mendalam.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Karena mereka tidak menemukan pembunuhnya, maka setiap orang di istana ini akan dicurigai. Bahkan mungkin mereka akan mencuriga aku, mencurigai Putera Mahkota dan beberapa orang lain. Kecurigaan itu tentu akan menyulitkan gerak kita selanjutnya, dan apabila akhirnya mereka mengetahui bahwa orang itu termasuk salah seorang pengawal Tohjaya, maka mereka pasti akan segera mencari sasaran kecurigaan mereka pada pihak yang lain. Hal itu akan dapat menimbulkan kesan yang kurang dan tidak menguntungkan bagi Pangeran Pati.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun merasa beruntung juga bahwa ia tidak membiarkan luapan perasaannyalah yang berbicara.
“Lebih dari itu Sumekar,” berkata Mahisa Agni, pagi ini Anusapati akan menghadap ibunda Permaisuri untuk membicarakan sesuatu yang penting sebagai kelanjutan pembicaraannya kemarin. Jika suasana pagi ini suram, maka pembicaraan itu tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan oleh anak itu.”
“Aku mengerti kakang. Aku akan tetap berusaha mempertahankan keseimbangan perasaanku untuk waktu-waktu mendatang.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni, “mungkin aku tidak dapat terlalu lama tinggal di Singasari. Jika Sri Rajasa menganggap kehadiranku di sini mengganggu, maka aku pasti akan segera diperintahkannya untuk kembali ke Kediri. Namun sementara ini aku berusaha untuk lebih lama lagi tinggal dan minta agar Permaisuri masih tetap berpura-pura sakit.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mudah-mudahan Mahisa Agni masih dapat memperpanjang kehadirannya di istana Singasari dalam keadaan yang gawat ini. Jika demikian maka ia tidak akan dibebani oleh perasaan tanggung jawab yang terlampau berat atas Putera Mahkota, karena tanpa Mahisa Agni, maka ialah orang yang paling tua yang dapat dianggap menjadi pelindung Anusapati.
Sejenak kemudian, pembicaraan itu-pun mulai berkisar dari keadaan yang semakin meruncing itu kepembicaran lain yang tidak berarti. Ketika seorang juru taman yang lain mendekati mereka, maka Mahisa Agni sedang bertanya kepada Sumekar tentang manggis putihnya yang hilang.
“Aku tidak melihat batang manggis putih yang kau tanam dan kau katakan hilang itu,” bertanya seorang kawannya.
“Aku menanamnya di sudut itu,” jawab Sumekar, “pohon manggis putih itu tidak dapat tumbuh sebesar pohon manggis biasa. Batangnya lebih kecil, tetapi daunnya lebih rimbun dan lebih kecil sedikit.”
“Aku belum pernah melihatnya,” berkata kawannya.
“Aku juga belum,” sahut Sumekar kemudian, “aku baru mendengar dari kawanku yang melihat pohon itu tumbuh di tengah hutan dan berhasil menanam bijinya meski-pun, hanya dua batang.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “sayang. Jika benar yang hilang itu sebatang pohon manggis putih.”
“Tentu benar. Kawanku itu tidak pernah berbohong.”
“Mungkin kawanmu itu memang tidak pernah berbohong, tetapi kaulah yang berbohong.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Terasa dadanya berdebaran. Hampir saja ia menyangka bahwa juru taman itu telah mengetahui bahwa sebenarnya ia tidak menanam sebatang pohon manggis putih.
Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Mahisa Agni tertawa pendek sambil berkata, “Apakah juru taman yang seorang ini sering berbohong.”
“Tidak, tidak tuan,” jawab juru taman kawan Sumekar itu, “aku tidak bermaksud mengatakan demikian.”
Sumekar-pun tertawa pula. Katanya, “Hampir saja aku marah. Aku kira kau bersungguh-sungguh.”
“Tentu tidak. Kau adalah seseorang yang paling baik di taman ini. Kau membiarkan rangsum makananmu diterima oleh siapa-pun yang memerlukannya, dan bahkan kau kadang-kadang membawa makanan jika kau bekerja.”
“Ada-ada saja kau,” sahut Sumekar, “hanya apabila aku sedang mutih sajalah aku tidak menerima rangsumku karena aku sedang tidak makan nasi.”
Mahisa Agni tersenyum, sedang juru taman itu-pun tertawa.
Dan sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun berkata, “Kerjalah. Agaknya aku di sini mengganggu kalian karena kalian telah berhenti bekerja. Atau kalian memang memanfaatkan kehadiranku ini untuk bermalas-malas?”
Kedua juru taman itu tertawa semakin keras, sehingga beberapa orang yang mendengarnya memandanginya dengan heran. Seorang juru taman yang lain yang kebetulan sedang melintas sambil membawa seonggok sampah, telah berhenti termangu-mangu.
“Berjalanlah terus,” berkata juru taman yang sedang tertawa itu. Lalu, “Aku telah menerima hadiah dari tuanku Mahisa Agni.”
Orang itu tidak berjalan terus, justru ia berhenti sambil mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian diletakkannya sampah itu dan berjalan mendekat, “Apakah aku juga akan menerima hadiah.”
“Mintalah kepada kawanmu itu,” sahut Mahisa Agni, “ialah yang membagi hadiah hari ini, karena hari ini adalah hari yang baik baginya.”
Juru taman itu bersungut-sungut. Tetapi ia tidak berani berbuat apa. Sambil berjongkok ia memandang Mahisa Agni yang melangkah pergi meninggalkan taman itu.
“Gila kau,” juru taman itu menggerutu, sedang kawannya masih saja tertawa berkepanjangan, sedang Sumekar hanya tersenyum-senyum saja memandang kawannya yang kecewa.
Dalam pada itu, selagi para juru taman itu berkelakar, Anusapati telah meninggalkan bangsalnya menuju ke bangsal ibundanya. Meskipun kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu tetapi akhirnya ia menetapkan bahwa ia harus melangkah terus menjumpai ibunda Permaisuri.
“Mudah-mudahan ibunda tidak salah sangka,” berkata Anusapati.
Kedatangannya ternyata telah mengejutkan tuan Puteri. Selagi hari masih pagi. Putera Mahkota sudah datang menghadapnya.
“Ampun ibunda,” berkata Anusapati. “hamba datang terlampau pagi.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Anusapati, aku menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan ini kau tentu mempunyai kepentingan yang mendesak.”
Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ibunda, sebenarnya hamba tidak mempunyai kepentingan yang memaksa hamba untuk datang terlampau pagi. Tetapi, agaknya karena hamba tidak mempunyai tugas hari ini, maka daripada hamba tidak berbuat sesuatu di bangsal hamba, maka hamba telah berjalan tanpa tujuan di halaman. Tetapi akhirnya hamba telah memasuki bangsal ibunda.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebagai seorang ibu, Ken Dedes seakan-akan dapat membaca perasaan puteranya, sehingga karena itu maka dengan lembut ia berkata, “Anusapati, kemarilah. Adik-adikmu tidak ada di bangsal ini. Karena itu, jika kau memang mempunyai kepentingan, katakanlah! Aku masih tetap ibumu.”
Anusapati mengangkat wajahnya sejenak, namun kemudian kepalanya itu-pun ditundukkannya.
“Kemarilah, mendekatlah.”
Anusapati bergeser maju. Tetapi ia masih belum mengatakan sesuatu. Sikap ibunya yang lembut justru membuatnya menjadi ragu-ragu.
“Anusapati,” berkata Ken Dedes, “jangan menyimpan sesuatu lagi di dalam hatimu. Jika kau ingin mengatakan sesuatu itu, katakanlah. Kau sudah tahu siapakah sebenarnya dirimu dan kau-pun bukan lagi anak-anak yang belum pandai membuat pertimbangan-angan.”
Anusapati masih dicengkam oleh kebimbangan.
“Katakanlah. Jika kau tidak mengatakan sesuatu, hatiku akan menjadi risau, karena aku tahu, bahwa kau masih menyimpan sesuatu yang tidak kau ucapkan.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah ibunda. Jika ibunda dapat membaca hati hamba, maka sebenarnyalah masih ada sesuatu yang menyangkut di dalam dada ini. Tetapi sebelumnya hamba minta maaf yang sebesar-besarnya, apabila hamba akan menyinggung perasaan ibunda.”
Ibunya tersenyum betapa pahitnya. Katanya, “Katakanlah Anusapati. Hatiku telah menjadi kebal. Maksudku, aku sudah terlampau sering berjuang melawan perasaanku. Kini lebih baik kau berterus terang.”
“Ibunda,” berkata Anusapati, “bukankah menuruti ibunda, ayahanda telah mati terbunuh oleh Sri Rajasa?”
Ibunya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun menganggukkan kepalanya.
“Ibunda,” sambung Putera Mahkota, “bukankah ayahanda terbunuh oleh sebilah keris?”
Wajah Ken Dedes menegang sejenak. Tetapi sekali lagi ia menganggukkan kepalanya.
“Dan bukankah keris itu kini masih tetap di dalam simpanan.”
“Ya anakku,” sahut Ken Dedes, “ayahandamu Sri Rajasa telah menyimpan keris itu.”
Sejenak Anusapati terdiam. Dipandanginya wajah ibundanya dengan sorot mata yang mengandung beribu macam pertanyaan.
Tetapi bagi Ken Dedes meskipun Anusapati tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tatapan mata Anusapati itu rasa-rasanya bagaikan sikap yang langsung tidak mempercayainya, sehingga Permaisuri itu berkata, “Anusapati, apakah kau tidak percaya kepadaku?”
“Tidak, ibunda. Tentu aku percaya kepada ibunda. Apalagi sekarang. Ibunda sudah mengatakan tentang hamba berterus terang. Jika ibunda ingin mengatakan yang tidak benar kepada hamba, maka tentu ibunda tidak akan mengatakan kepada diri hamba, dan tentang ayahanda yang sebenarnya.”
Sesuatu berdesir didada Ken Dedes.
“Sekarang hamba sudah mengetahui bahwa ayahanda Tunggal Ametung terbunuh. Dan pembunuhnya adalah Sri Rajasa yang telah mengangkat hamba menjadi seorang Putera Mahkota, tetapi yang telah mengancam hamba pula untuk melepas jabatan hamba itu,” sambung Anusapati kemudian. “Dan lebih dari itu hamba mengetahui bahwa keris yang telah mengambil jiwa ayahanda yang sebenarnya, yaitu Akuwu Tunggul Ametung ada pada Sri Rajasa Batara Sang Ainurwabumi.”
Ken Dedes tidak segera menyahut.
“Ibunda,” berkata Anusapati lebih lanjut, “menurut pendengaran hamba, Sri Rajasa memang seseorang yang luar biasa sejak mudanya. Meskipun ayahanda Akuwu Tunggul Ametung-pun seseorang yang memiliki kelebihan, tetapi suatu kenyataan, bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah terbunuh oleh Sri Rajasa, sehingga dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sri Rajasa memang orang linuwih.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya.
“Jika demikian ibunda,” berkata Anusapati, “maka nasib hamba-pun sudah dapat dibayangkan. Dengan keris itu Ayahanda Sri Rajasa yang sakti dapat berbuat apa saja yang diingininya. Itulah sebabnya maka hamba datang kepada ibunda. Jika keris itu ada pada ibunda, karena keris itu diketemukan pada tubuh Ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, yang saat itu adalah suami ibunda, maka hamba ingin agar keris itu diberikan kepada hamba, semata-mata untuk keselamatan hamba. Dari pada hambalah yang bersembunyi, maka lebih baik hamba menyembunyikan saja keris itu.”
Tetapi sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sayang Anusapati. Keris itu tidak ada padaku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudan dengan suara yang dalam ia berkata, “Baiklah ibunda. Jika demikian, maka hamba-pun akan pasrah. Meskipun barangkali hamba masih akan berusaha menyembunyikan diri, terutama pada malam hari, namun barangkali usaha itu tidak akan banyak bermanfaat.”
“Maksudmu,” bertanya Ken Dedes.
“Ibunda,” berkata Anusapati kemudian, “selagi Pamanda Mahisa Agni ada di Singasari, biarlah hamba akan mohon diri kepada pamanda.”
“Apa maksudmu Anusapati? Apa?”
“Ampun ibunda. Sebenarnya bukan maksud hamba. Tetapi seakan-akan hamba melihat sesuatu yang tidak akan dapat hamba hindari. Seolah-olah hamba berjalan di sepanjang jalan yang amat panjang dan sempit. Jalan lurus tanpa jalan simpang sama sekali. Di depan dan di belakang hamba adalah api yang semakin lama menjadi semakin besar menjalar di sepanjang jalan, sedang di sebelah menyebelah jalan adalah jurang yang sangat dalam.” Anusapati berhenti sejenak, lalu. “O, itulah mimpi hamba ibunda. Dan mimpi itu berkata kepada hamba, bahwa hamba harus mohon diri kepada Pamanda Mahisa Agni yang sudah memimpin hamba dan mengasuh hamba dengan diam-diam sehingga hamba berhasil menamakan diri hamba sebagai Kesatria Putih. Tetapi betapa dikagumi dan dipuji oleh rakyat Singasari, namun Kesatria Putih tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Sri Rajasa yang masih menyimpan Keris sakti buatan Empu Gandring. Keris yang bertangkai kayu cangkring dan mempunyai kemampuan yang tidak terkirakan, sehingga baik Tunggul Ametung maupun siapa saja, tidak akan dapat bertahan sampai fajar, jika dimalam hari ia tergores oleh ujung keris itu meskipun lukanya hanya seujung rambut.”
“Anusapati, anakku,” suara Ken Dedes menjadi serak.
“Hamba akan mohon diri ibunda. Hamba-pun akan mohon diri kepada pamanda, kepada siapa-pun yang hamba kenal dengan baik. Kepada, isteri hamba dan terlebih-lebih lagi kepada anak hamba yang sedang tumbuh. Hamba tahu pasti, bahwa pada suatu saat, keris itu-pun akan menggores tubuh hamba meskipun hanya seujung rambut. Tanda-tanda itu sudah hamba lihat. Bau wangi yang tidak terkirakan di sekitar bangsal hamba. Kemudian batu yang besar terjatuh tanpa sangkan. Keributan di taman dan berbagai tanda-tanda yang lain. Yang terakhir mimpi hamba yang buruk dan keris yang tidak ada pada ibunda itu.” Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon agar segala kesalahan hamba dimaafkan. Dan hamba titipkan anak isteri hamba kepada ibunda.”
“Anusapati. Anusapati,” Ken Dedes tidak dapat menahan air matanya yang dibendungnya di pelupuk. Perlahan-lahan air yang bening itu-pun meleleh di pipinya.
Anusapati hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia-pun terharu mendengar sedu-sedan ibundanya.
“Anusapati,” berkata ibunda, “kenapa kau minta diri kepadaku, kepada pamanmu dan kepada semua orang yang kau kenal dengan baik? Kenapa kau begitu yakin bahwa ayahandamu yang sekarang akan melakukannya atasmu, seperti yang pernah dilakukannya atas ayahandamu yang sebenarnya Tunggul Ametung?”
“Ibunda,” berkata Anusapati, “jika Ayahanda Sri Rajasa membunuh ayahanda Akuwu Tunggul Ametung tentu bukannya dilakukan dengan tanpa maksud. Tentu ada sesuatu yang mendorongnya berbuat demikian. Tentu Sri Rajasa ingin duduk di atas Singgasana Tumapel waktu itu atau keinginan yang lain yang bagi Sri Rajasa yang bernama Ken Arok itu tidak kalah nilainya, yaitu ibunda Ken Dedes. Dan bagi Sri Rajasa, hamba adalah semacam noda yang mengotori keinginannya itu. Hamba juga menodai keinginan Sri Rajasa untuk tetap berada di atas tahta Tumapel yang telah berhasil dikembangkannya menjadi Singasari sekarang. Dan hamba-pun akan merupakan noda dalam hubungan keluarga antara Sri Rajasa dan ibunda Ken Dedes, karena hamba lahir bukan karena hubungan tersebut.”
“Anusapati,” potong Ken Dedes, “sudahlah. Tetapi itu bukan berarti bahwa jiwamu selalu terancam.”
“Tentu ibunda,” sahut Anusapati, “betapa tidak, jika Sri Rajasa ingin tetap mempertahankan apa yang sudah dicapainya, maka aku harus disingkirkan. Jika Sri Rajasa telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan berhasil menguasai tahta Singasari sekarang, maka ia tidak akan melepaskan tahta itu kepada orang lain. Dan hamba adalah orang lain bagi Sri Rajasa. Juga setelah Sri Rajasa berhasil memperisteri ibunda Ken Dedes, maka bagi Sri Rajasa aku telah mengotori hubungan itu karena hamba lahir bukan atas kehendaknya.”
“Anusapati, sudahlah. Sudahlah.”
“O, maaf ibunda. Hamba telah berbicara terlampau jauh. Tetapi maksud hamba adalah semata-mata untuk menekankan keyakinan hamba, dan kenapa hamba telah memohon diri.” Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “jika hamba masih sempat memandang matahari terbit, maka hamba pasti masih akan menghadap ibunda di hari-hari mendatang. Tetapi jika tidak, hamba sudah mohon diri dan mohon maaf atas semua kesalahan hamba, sehingga kematian hamba tidak lagi dibebani oleh rasa bersalah kepada ibunda. Sedangkan kepada Ayahanda Sri Rajasa, hamba tidak akan mohon maaf, karena hamba tidak merasa pernah bersalah kepadanya, karena hamba tidak berbuat sesuatu selain mengalami kepahitan perasaan yang tiada taranya.”
“Anusapati,” suara Ken Dedes terputus.
“Sudahlah ibunda. Hamba mohon diri. Hamba mohon diri dari hadapan ibunda dan hamba mohon diri untuk seterusnya jika hamba sudah tidak sempat menghadap ibunda lagi. Mudah-mudahan hamba dapat sampai kehadapan Yang Maha Agung tanpa membawa setitik dosapun.”
“Tidak. Tidak,” suara Ken Dedes terputus oleh isaknya, “kau tidak boleh pergi Anusapati. Aku memerlukanmu. Isteri dan anakmu memerlukanmu dan terlebih-lebih lagi Singasari memerlukanmu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya ibunda. Yang jelas bagi hamba adalah isteri dan anak hamba memerlukan hamba. Tetapi apakah Singasari memerlukan hamba?”
“Ya. Ya. Kau adalah keturunan Akuwu Tunggul Ametung dan keturunan Ken Dedes. Jalur itulah sebenarnya yang memegang hak atas tahta Tumapel yang kemudian menjadi Singasari sekarang.”
“Tetapi Tumapel bukan Singasari ibunda. Tumapel lebih kecil dari Singasari yang meliputi daerah Kediri lama.”
“Tetapi alas berpijak Sri Rajasa waktu itu adalah Tumapel dengan segala isi dan kekuatan yang terkandung di dalamnya.”
“Ya,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “mungkin jalur itu benar. Tetapi yang berkuasa sekarang sama sekali tidak menghendaki hal itu. Dan apalagi keris yang bertuah itu ada ditangannya. Maka segores kecil itu akan melukai tubuh hamba yang tidak berguna ini, dan hamba akan segera terkapar mati seperti ayahanda Tunggul Ametung, seperti Empu Gandring dan seperti, Kebo Ijo yang tidak pernah mengetahui kesalahannya yang sebenarnya sampai akhir hayatnya karena fitnah.”
“Tidak. Kau tidak akan mati karena keris itu Anusapati.”
“Kenapa? Kenapa ayahanda Tunggul Ametung mengalami? Kenapa justru Empu Gandring sendiri mengalami dan kenapa orang yang sama sekali tidak bersalah seperti Kebo Ijo juga harus mati?” suara Anusapati menurun, “dan kini akan segera datang giliran hamba. Singasari akan memiliki Pangeran Pati yang lain. Tohjaya, putera Sri Rajasa yang lahir dari isteri yang dicintainya sampai sekarang, Ken Umang.”
“Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin,” Ken Dedes yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya itu-pun kemudian meletakkan dirinya dipembaringan sambil menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Sudah ada yang akan menyambung umur hamba. Yaitu anak hamba. Biarlah anak hamba itu tetap hidup.”
Kata-kata Anusapati itu justru membuat tangis ibundanya semakin pedih. Di sela-sela tangisnya itu ia masih akan berkata sesuatu. Tetapi yang terdengar adalah kata-kata yang tidak begitu jelas.
Anusapati-pun kemudian berdiri termangu-mangu. Tetapi isak ibunya yang menyesakkan dada itu membuatnya menjadi iba. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berjongkok di sisi pembaringan.
“Sudahlah ibunda. Jangan menangis. Biarlah adinda Mahisa Wonga Teleng menemani ibunda untuk menenteramkan hati ibunda. Biarlah hamba menyuruh seseorang memanggilnya.”
“Jangan, jangan Anusapati.”
“Atau adinda yang lain, adinda yang lebih muda lagi.”
“Tidak. Semuanya jangan melihat aku menangis seperti ini. Biarlah mereka tidak mengetahui betapa hatiku menjadi sangat pedih mengenangkan semuanya yang pernah terjadi, justru semakin dekat aku dengan hari-hari tua, dan saat-saat aku akan menghadap kembali ke hadapan Yang Maha Agung. Dan ini adalah hukuman yang berat yang harus aku tanggungkan karena dosa-dosaku di waktu aku masih muda. Diwaktu aku tidak pernah merasakan kepuasan hidup, sehingga aku telah bertualang tanpa meninggalkan istana Tumapel dan yang sekarang menjadi Singasari ini.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri ibu.”
“Bukankah kau juga melihat kesalahan itu? Kadang-kadang kita memang perlu melihat kesalahan sendiri Anusapati. Dan aku sudah melihatnya.”
“Tetapi ibu tidak perlu menangis lagi.”
Ken Dedes mencoba menahan isak tangisnya. Namun terasa dadanya seakan-akan menjadi retak karenanya. Sehingga karena itulah ia masih saja berbaring dipembaringannya. Bahkan kini terasa seluruh tubuhnya gemetar dan matanya berkunang-kunang.
“Anusapati, Anusapati,” desisnya.
Anusapati bergeser mendekat, “Ibu, ibunda.”
“Dengarlah Anusapati,” berkata Ken Dedes kemudian, “aku tidak dapat melepaskan kau. Aku tidak dapat membiarkan kau terbunuh seperti ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah kau tidak mempunyai suatu cara untuk menyelamatkan diri? Misalnya kau ikut bersama pamanmu ke Kediri atau daerah lain di luar istana ini?”
“Aku adalah Putera Mahkota ibu. Putera Mahkota harus berada di istana. Memang mungkin seorang Pangeran Pati keluar dari istana. Tetapi hanya untuk waktu yang pendek. Selanjutnya ia harus segera kembali keistana.”
“Tetapi untuk keselamatanmu Anusapati. Kau dapat pergi untuk waktu yang cukup lama meskipun pada suatu saat kau akan kembali lagi keistana ini.”
“Ibunda,” berkata Anusapati selanjutnya, “yang berkuasa di Singasari adalah Ayahanda Sri Rajasa. Jika Ayahanda Sri Rajasa memanggil, kapan-pun hamba harus datang menghadap. Hamba tidak dapat dengan alasan apa-pun memperpanjang waktu kepergian hamba. Apalagi apabila ayahanda mengetahui bahwa hamba sedang bersembunyi.”
“Ah,” Ken Dedes berdesah, “jadi apakah kau tidak melihat jalan apa-pun untuk menghindarkan diri?”
Ken Dedes menjadi heran ketika ia melihat Anusapati tersenyum. Agaknya anaknya itu sudah demikian ihlas menyerahkan jiwanya. Katanya, “Ibunda, hamba tidak ingin bersembunyi. Biarlah apa yang akan terjadi atas hamba itu terjadi. Jika hamba bersembunyi dimana-pun dengan alasan apapun, maka hamba adalah seorang pengecut. Apalagi Sri Rajasa akan dapat mengambil suatu keputusan untuk menetapkan orang lain menjadi Pangeran Pati. Dan Sri Rajasa dapat mengambil keputusan dan mengumumkan bahwa hamba adalah seorang buruan karena kesalahan apa-pun yang dapat dibuatnya. Jika demikian maka keadaan hamba akan menjadi sangat sulit. Jika prajurit-prajurit menemukan hamba, maka hamba akan mati di ujung berpuluh-puluh tombak dan pedang. Tombak yang tumpul dan sama sekali tidak bertuah. Tetapi jika hamba tetap berada di istana, maka hamba akan mati tergores keris yang telah membunuh ayahanda Tungul Ametung. Keris bertuah yang telah diciptakan seorang Empu yang sakti pada jaman Tumapel itu. Bukanlah dengan demikian hamba akan menjadi lebih berbangga hati? Apalagi tuah keris itu akan dapat mengantarkan sukma hamba kepada Yang Maha Agung. Tetapi tidak demikian dengan tombak-tombak dan pedang-pedang besi karatan itu.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar