*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 07-03*
Karya. : SH Mintardja
Tetapi bahwa pendeta itu dengan sengaja telah memberitahukan akan hal itu, benar-benar telah menyinggung perasaannya sebagai seorang prajurit, sehingga ia akan mendapat noda karenanya. Bukan saja ia akan dihukum mati, tetapi tentu juga mencemarkan nama baiknya karena Tohjaya dapat mengambil alasan apapun untuk membunuhnya.
Meskipun Lembu Ampal berkata terus terang, dan meskipun kemudian diketahui bahwa pendeta itulah yang telah membuka rahasia istana itu, namun tentu dirinyalah yang akan mendapat hukuman terberat, karena ialah yang pertama-tama telah membocorkannya kepada pendeta itu.
Karena itu maka dengan wajah yang tegang ia berkata, ”Tuan. Aku datang kepada tuan dengan penuh kepercayaan bahwa keragu-raguanku akan dapat berkurang. Aku akan menemukan ketetapan hati, apapun keputusanku. Jika aku ingin melaksanakan tugas itu dan membunuh keduanya, aku akan melakukan dengan ketenteraman hati. Jika tidak, aku akan menjalani hukuman dengan damai. Tetapi sekarang keadaannya sangat berbeda. Anak itu hilang sebelum aku dapat memastikan sikapku.”
“Tidak banyak bedanya Lembu Ampal. Aku telah mendesakmu untuk mengambil keputusan seperti kata nuraniku.”
“Tetapi tidak dengan nuraniku. Bagaimana jika aku kemudian memutuskan untuk membunuh keduanya.”
“Keduanya telah tidak ada lagi di istana.”
“Aku dapat menuntut karena persoalannya akan menyangkut bukan saja mati dan hidupku. Tetapi juga nama baikku.”
“Aku tidak keberatan. Sejak semula aku memutuskan untuk mengatakan hal itu kepada orang-orang yang akan dapat menyelamatkan, aku sudah menyediakan diriku, nyawaku dan apa saja yang dapat aku berikan. Aku bersedia menjalani hukuman mati, atau karena kemarahanmu yang tidak terkendali kau akan membunuhku.”
“O, tuan.” Lembu Ampal menunduk lesu, ”Tuan telah membuat aku semakin bingung. Aku dapat menjadi gila karena perintah ini.” namun tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, ”Siapakah yang telah tuan beritahu dan kemudian melarikan anak itu. Siapa?”
“Aku tidak akan mengatakannya. Tetapi orang-orang itu ternyata telah berhasil.”
“Mahisa Agni?”
“Mahisa Agni masih ada di istana atau ikut serta mencarinya bersama Mahisa Wonga Teleng dan beberapa orang Senapati.”
“Jadi siapa?”
“Sudah aku katakan, aku tidak akan menyebut namanya.”
“Apakah tuan tahu bahwa dengan demikian tuan telah berkhianat?”
“Aku tidak berniat untuk berkhianat. Niatku semata-mata hanyalah melindungi dua nyawa yang tidak bersalah. Hanya itu.”
“Tetapi tuan harus mengatakan, siapakah orang yang telah berhasil melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
“Aku tidak dapat menyebutkan Lembu Ampal. Sudah berkali-kali aku katakan. Dan aku sudah siap menerima akibat apapun. Aku akan pasrah diri untuk menerima hukuman. Hukuman mati sekalipun dengan cara apapun.”
“O.” Lembu Ampal menggelengkan kepalanya. Terasa seakan-akan kepalanya berputar seperti baling-baling.
“Tuan.” tiba-tiba Lembu Ampal berkata, ”Tuan telah berhasil melakukan sesuatu sesuai dengan nurani tuan, sehingga karena itu hati tuan menjadi damai. Tetapi aku tidak. Aku selalu dikejar oleh kegelisahan dan ketakutan.”
“Lembu Ampal. Kau masih mempunyai waktu untuk menentukan sikap.”
“Tidak. Kedua anak-anak itu sudah hilang.”
“Maksudku, kau dapat memastikan sikapmu. Apakah kau akan melaporkan semuanya kepada Tohjaya, atau kau akan pergi mencari kedua anak-anak itu sampai ketemu.”
Sejenak Lembu Ampal merenung. Namun kemudian ia berkata, ”Tidak. Aku tidak akan mencari kedua anak-anak itu. Biarlah mereka tetap hidup. Mereka benar-benar tidak tahu, apakah sebenarnya maka nyawa mereka terancam karenanya.”
“Jadi kau akan menghukum aku? Atau kau sendiri akan pasrah diri?”
Lembu Ampal tidak menyahut.
“Lembu Ampal. Memang ada bedanya antara seorang prajurit dan seorang pendeta. Aku adalah seorang pendeta yang tidak lagi diikat oleh persoalan hidup dan mati di dalam sikap yang didasari atas keyakinan sesuai dengan kata nuraniku. Tetapi kau tidak. Kau dapat bersikap lain justru karena kau adalah seorang kesatria yang wajib melindungi sesama dengan jalan yang jantan. Karena itu, kau dapat menghindari hukuman yang seharusnya kau jalani.”
“Maksud tuan?”
“Kau tidak perlu kembali menghadap tuanku Tohjaya.”
Lembu Ampal menegang sejenak. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, ”Aku mengerti tuan. Maksud tuan aku harus lari?”
“Bukan lari dalam arti seorang pengecut Lembu Ampal. Tetapi menghindari maut adalah perbuatan yg wajar.”
Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Terasa sebuah pergolakan telah terjadi di dalam dadanya. Sebagai seorang prajurit ia harus mempertanggung jawabkan beban yang dipikulkan dipundaknya. Kesetiaannya kepada raja dan Singasari membuatnya ragu-ragu untuk memenuhi anjuran Pendeta itu.
“Lembu Ampal.” berkata pendeta itu kemudian, ”Bagiku, keragu-raguanmu yang memberi kesempatan kepada kedua anak-anak itu untuk diselamatkan, adalah perbuatan yang lebih baik dari sikap seorang prajurit. Tentu saja ini berlawanan dengan pendirianmu. Juga usaha untuk menyelamatkan diri itu pun tentu tidak akan sesuai dengan sifat seorang prajurit. Namun barangkali kelak kau mempunyai kesempatan yang baik untuk membuktikan tugas kesatria yang harus kau pikul. Justru melindungi yang lemah dari kesewenang-wenangan.”
Lembu Ampal tidak segera menjawab.
“Tetapi jika kau menghadap tuanku Tohjaya, maka kau akan mendapat hukuman yang berat. Atau jika kau jujur dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka aku pun akan dihukum.” Pendeta itu berhenti sejenak, lalu, ”Lembu Ampal, bukan karena aku ingin membebaskan diri dari hukuman dengan membujukmu untuk pergi, sehingga dengan demikian kau tidak akan sempat menyebut namaku, tetapi mati bukanlah kebanggaan yang harus kau dambakan, meskipun kau seorang prajurit.”
Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesempatan itu memang ada. Sebelum persoalan yang sebenarnya dapat di ketahui dengan pasti, maka Tohjaya pasti belum menjatuhkan perintah untuk menangkapnya.
Karena itu, maka akhirnya Lembu Ampal berkata, ”Tuan. Aku memang akan mempertimbangkan tindakan apakah yang sebaiknya aku lakukan. Mungkin aku akan lari, tetapi mungkin pula aku memilih tiang gantungan.”
“Terserahlah kepadamu. Kau memang seorang prajurit. Dan aku pun tidak akan ingkar bahwa akulah yang telah menguakkan rahasia itu, sehingga kedua anak-anak itu diselamatkan oleh orang yang aku sendiri tidak mengetahuinya.”
Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian minta diri dan meninggalkan sanggar itu dengan persoalan yang semakin rumit di dalam dirinya. Pada pendeta istana itu ia sama sekali tidak menemukan ketenangan yang dicarinya. Pendeta itu tidak menunjukkan keputusan yang harus diambilnya atas kedua anak-anak itu. Bahkan kini ia telah menyebabkan kedua anak-anak itu diselamatkan oleh orang lain. Dan itu adalah suatu sentuhan pada perasaannya.
“Aku mengharap ia menunjukkan jalan bahwa aku dapat melakukan tugasku itu dengan tenang dan tidak selalu di bayangi oleh penyesalan. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Ia tidak memberikan ketenangan itu kepadaku seperti yang aku harapkan, bahkan ia telah mengacaukan segala-segalanya. Dan kini ia membujukku untuk lari menghindari tanggung jawab.”
Namun semakin dalam dipikirkannya, maka Lembu Ampal pun menemukan kesimpulan lain. Katanya kepada diri sendiri, ”Apakah artinya kesetiaanku kepada tuanku Tohjaya jika aku harus melakukan tugas yang bertentangan dengan nuraniku. Keragu-raguanku adalah pertanda bahwa yang harus aku lakukan itu tidak sejalan dengan kata-kata hatiku sendiri. Selama aku menjadi prajurit, aku menjalankan tugasku dengan patuh. Jika kadang-kadang ada keragu-raguan, maka aku segera dapat mengatasinya. Tetapi sekali ini, sebenarnyalah bahwa tuanku Tohjaya sudah berlaku tidak adil.” Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam, lalu, ”Apakah artinya kesetiaanku terhadap ketidak adilan itu?”
Sejenak Lembu Ampal menjadi bingung. Namun akhirnya Lembu Ampal pun berkata kepada diri sendiri, ”Apa salahnya jika aku berusaha menyelamatkan diri, sementara aku dapat mencari kedua anak-anak itu. Jika suatu saat aku memutuskan untuk membunuhnya, aku akan membunuh mereka dan menyerahkan persoalannya kepada tuanku Tohjaya. Tetapi jika aku tetap berpendapat, bahwa kematian kedua anak-anak itu tidak adil, aku tidak akan mempedulikan mereka lagi.”
Demikianlah, setelah dada Lembu Ampal bergejolak dengan dahsyatnya, akhirnya ia memutuskan untuk meninggal kan pusat pemerintahan Singasari.
“Aku dapat hidup dimana saja.” katanya.
Dengan tekad yang bulat akhirnya Lembu Ampal meninggalkan kota dengan diam-diam, justru ketika para prajurit sedang berusaha mengejar Witantra dan Mahendra yang telah melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Sedang Mahisa Agni dan beberapa orang prajurit yang lain sedang mengelilingi kota untuk berpura-pura mencari kedua anak-anak itu pula.
Dengan lajunya Lembu Ampal pun melarikan kudanya. Ia meninggalkan Singasari dengan persoalan yang belum terpecahkan. Apakah ia akan tetap mencari dan membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk mendapatkan pengampunan, atau sama sekali tidak mempersoalkannya lagi, namun dengan demikian ia akan hidup dipelarian sepanjang umurnya.
Tetapi Lembu Ampal tidak cemas. Ia mempunyai banyak kawan yang dapat melindunginya di padepokan-padepokan terpencil. Ia dapat menyebut dirinya dengan nama lain dan dengan bentuk yang sedikit berbeda dengan bentuknya sekarang.
Dan persoalan itulah yang masih harus dipertimbangkannya untuk waktu yang cukup lama. Namun agaknya hidup adalah keadaan yang paling baik baginya saat itu, sehingga dengan demikian maka Lembu Ampal pun memutuskan bahwa ia harus mempertahankan hidupnya lebih dahulu sebelum ia dapat memikirkan, apakah yang akan dilakukannya nanti.
Karena Lembu Ampal pun kemudian meninggalkan Singasari sebelum memberikan laporan tentang dirinya sendiri dan bahwa ia sama sekali belum melakukan tugasnya, maka Tohjaya pun tidak segera dapat memastikan, apakah yang sebenarnya terjadi. Bahkan ia menjadi cemas bahwa para prajurit yang mencari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan menghukum Lembu Ampal apabila benar-benar ia telah melaku kan tugas yang dibebankan kepadanya.
Kegelisahannya itulah yang mendorongnya untuk memanggil Pranaraja menghadap.
“Ampun tuanku, apakah titah tuanku kepada hamba?”
“Kau dengar keributan yang telah terjadi?”
“Hamba tuanku. Hamba mendengar bahwa tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah hilang.”
“Dan kau tahu pasti, siapakah yang telah mengambil mereka?”
“Hamba belum tahu dengan pasti tuanku. Tetapi pasti bukan tuanku Mahisa Agni.”
“Ya. justru paman Mahisa Agni menuntut perlindungan keselamatan kedua kemanakannya itu.”
Pranaraja tertawa, katanya, ”Dan tuanku tentu menyanggupinya.”
“Ya, aku menyanggupinya.”
“Tetapi jika yang diketemukan adalah mayatnya, itu sama sekali bukan salah tuanku.”
“Paman Mahisa Agni dengan beberapa orang prajurit sedang mencarinya.”
Pranaraja mengerutkan keningnya. Lalu, “Bagaimana jika tuanku Mahisa Agni berhasil menyelamatkannya?”
“Jaraknya terlampau panjang. Sejak anak itu hilang sehingga paman Mahisa Agni meninggalkan istana, memerlukan waktu cukup lama bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Tetapi, siapakah sebenarnya yang telah membawanya pergi? Apakah kau sudah berhubungan dengan Lembu Ampal?”
“Belum tuanku. Tetapi menurut perhitungan hamba, tentu Lembu Ampallah yang melakukannya. Jika tidak, maka para prajurit dan Senapati tentu akan menemukannya,”
“Pranaraja. Ada beberapa persoalan yang mendesak di dalam hatiku. Jika yang melarikan bukan Lembu Ampal kita masih mempunyai harapan, bahwa keduanya dapat diketemukan. Tetapi bagaimana jika Lembu Ampallah yang telah membawanya.”
“Lembu Ampal akan membunuhnya.”
“Bagaimana jika terjadi salah paham, dan Lembu Ampal justru terbunuh oleh para prajurit dan Senapati yang mengejarnya?”
Pranaraja mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru tertawa sambil menjawab, ”Itu lebih baik tuanku.”
“Pranaraja.” Tohjaya tiba-tiba membentak, ”Kau jangan bergurau dalam keadaan seperti ini.”
“Hamba tidak bergurau tuanku.”
“Jadi apa maksudmu?”
“Tuanku. Jika mereka yang mengejar tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu membunuh Lembu Ampal, maka akan lenyaplah semua jalur penyelidikan yang mungkin dilakukan oleh Mahisa Agni. Dengan demikian maka tidak seorang pun yang dapat berceritera bahwa tuanku telah memerintahkan kepada Lembu Ampal untuk membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Tohjaya menjadi tegang. Sejenak ia merenungi kata-kata Pranaraja itu. Namun kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, ”Kau benar Pranaraja. Aku kira kita memang tidak memerlukan lagi orang seperti Lembu Ampal. Di Singasari masih banyak terdapat Senapati yang jauh lebih baik dari Lembu Ampal itu.”
“Demikianlah tuanku. Sebaiknya tuanku tidak usah menghiraukan lagi. Jika yang membawa lari itu bukan Lembu Ampal, kita dapat mengharapkan kedua anak-anak itu akan dibawa kembali oleh para Senapati. Jika kita dapat menangkap satu dua orang diantara mereka, kita akan dapat menyelediki siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Tetapi jika usaha itu adalah usaha Lembu Ampal melakukan tugas yang dibebankan kepadanya, biarlah apa yang akan terjadi atasnya.”
“Tetapi.” tiba-tiba Tohjaya mengerutkan keningnya, ”Bagaimanakali jika karena tekanan para prajurit yang menangkapnya, Lembu Ampal justru mengatakan yang sebenarnya kepada mereka?”
“Jika demikian kitalah yang akan membunuhnya karena Lembu Ampal telah memberikan kesaksian palsu untuk menyelamatkan dirinya.”
“Yang manakah yang kau maksud kesaksian palsu itu Pranaraja?”
Pranaraja tertawa. Katanya, ”Tentu sebenarnya bukan palsu. Kitalah yang harus berlaku palsu. Kita ingkari perintah itu, dan kita bunuh saja Lembu Ampal.”
Tohjaya mengangguk-angguk. Lalu, ”Baiklah. Aku mengerti. Tetapi sebaiknya kau pun pergi melihat apa yang sedang berlangsung sekarang ini. Jika keadaan kira-kira tidak menguntungkan kita, kau harus cepat memberitahukan kepadaku. Aku akan segera berbicara dengan para Panglima dan Senapati yang dapat kita percaya sepenuhnya.”
“Baiklah tuanku. Hamba mohon diri. Hamba akan pergi ke regol depan. Jika perlu hamba akan keluar halaman istana untuk mencari keterangan.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia dapat menyetujui pendapat Pranaraja dan membiarkan Lembu Ampal dibunuh oleh para prajurit jika ia tertangkap.
Dalam pada itu, para prajurit yang mengejar Witantra dan Mahendra, masih terus menyelusuri jejak yang semakin lama tampak semakin jelas. Meskipun Witantra melintasi padang rumput, batu-batu padas dan daerah yang basah, namun beberapa orang yang ahli mengenal jejak tidak dapat dikelabuinya, sehingga kemanapun Witantra pergi, para prajurit dapat mengikutinya. Bahkan kelompok yang berikutnya pun tetap mengikuti jejak itu sampai kemanapun.
Witantra pun sadar, bahwa seperti yang terdahulu, ia tidak akan dapat menghindar lagi. Pada suatu saat ia harus sekali lagi menjebak para prajurit. Namun Witantra pun mengetahui bahwa jumlah prajurit yang mengejarnya itu tentu bertambah semakin banyak.
“Kita mencari tempat yang cukup luas untuk bermain-main lagi.” berkata Witantra kepada Mahendra.
Ranggawuni yang kemudian berkuda dengan orang lain menyahut, ”Apakah masih ada orang lain yang mengejar kita paman?”
“Masih ada Ranggawuni. Tetapi jangan cemas. Kita akan menghalaunya lagi seperti tadi.”
“Tetapi setiap kali pengawal kita akan berkurang paman. Bukankah ada di antara kita yang terluka?”
“Kita akan berusaha.” sahut Witantra, ”Mudah-mudahan kita tidak perlu memberikan korban. Yang terluka di antara kita agaknya tidak begitu parah. Mereka sudah membalut luka-luka mereka sehingga darahnya sudah mampat.”
“Tetapi apakah mereka masih mampu bertempur?”
“Mereka akan mengawani kalian berdua. Hanya jika terpaksa mereka akan bertempur. Jika tidak, maka biarlah mereka beristirahat.”
Ranggawuni tidak begitu mengerti. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dahinyalah yang kemudian berkerut merut ketika kudanya menyeberangi sebuah rawa yang sempit.
Tetapi ketika mereka sudah melintasi rawa-rawa itu dan berada di tempat yang agak terbuka, maka mereka pun mulai melihat prajurit-prajurit Singasari yang semakin mendekat.
“Itulah mereka.” desis Mahendra.
“Seperti yang kita duga. Jumlah mereka lebih banyak.”
“Tetapi masih belum melampaui kemampuan kita.” sahut Mahendra.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia memandangi wajah-wajah para pengawal yang mengiringinya. Pengawal-pengawal terpilih dari antara prajurit yang ada di Kediri. Bahkan sebagian dari mereka adalah prajurit-prajurit Singasari juga.
Demikianlah maka akhirnya Witantra harus mengatur siasat bersama Mahendra. Beberapa orang ditugaskan untuk melindungi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka di samping orang yang menjagainya di punggung kuda. Sedang Witantra dan Mahendra bersama orang-orang yang lain akan menjebak mereka seperti yang pernah terjadi.
“Mereka tentu telah mempersiapkan diri.” berkata Mahendra, ”Orang-orang yang telah terjebak itu tentu dapat memperingatkan kawan-kawannya yang datang kemudian.”
“Kita akan menghadapi mereka.” sahut Witantra, ”Tetapi memang sebaiknya kita berpencaran.”
Demikianlah maka setelah mereka sampai ketempat yang agak lapang, Witantra dan Mahendra sengaja memperlambat kuda mereka, sedang Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mendahului mereka beberapa puluh langkah di depan.
Ketika jarak itu sudah dipandang cukup oleh Witantra, maka ia pun segera memberikan aba-aba kepada anak buahnya, Dengan cekatan anak buahnya menarik kendali kudanya dan berputar haluan. Dengan tiba-tiba mereka menghentakkan kudanya dan berlari menyerang lawannya yang sedang memburu mereka.
Serangan itu meskipun sudah diperhitungkan, namun cukup mengejutkan. Senapati yang memimpin prajurit Singasari itu menyangka bahwa Witantra dan anak buahnya akan menebar dan menyerang mereka dari lambung sebelah menyebelah seperti yang telah mereka lakukan. Tetapi kini ternyata bahwa Witantra dan Mahendra menyerang mereka langsung dari depan, sedang anak buahnyalah yang berpencaran di sebelah menyebelah.
Sejenak kemudian maka terjadilah benturan kedua kelom pok itu dengan dahsyatnya. Keduanya adalah prajurit-prajurit yang sudah terlatih menghadapi medan yang berat, sehingga karena itu, maka pertempuran yang segera terjadi adalah pertempuran yang sengit.
Namun kedua belah pihak segera dapat mengenal, bahwa sebenarnya mereka adalah prajurit-prajurit dari kesatuan yang sama. Meskipun ada di antara pengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang terdiri dari orang-orang pilihan dari Kediri. Tetapi sebagian besar dari mereka adalah prajurit-prajurit Singasari.
Yang mengejutkan para prajurit Singasari yang sedang berusaha mengambil kembali Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah Witantra dan Mahendra. Ternyata keduanya memiliki kemampuan yang jauh berada di atas kemampuan para prajurit. Bahkan Senapati yang memimpin prajurit singasari itu pun merasa dirinya terlampau kecil menghadapi mereka.
Tetapi Senapati itu tidak dapat ingkar. Bersama beberapa orang prajurit yang dipilihnya, ia mencoba melawan Witantra dan memutar pedangnya seperti baling-baling. Namun dalam pada itu, Mahendra telah bertempur bagaikan harimau lapar. Banyak prajurit yang terpaksa menghindari dan dengan tergesa-gesa berusaha menyusun sebuah kelompok yang dapat membatasi gerak Mahendra.
Namun para pengawal yang datang dari Kediri itu pun tidak tinggal diam. Mereka segera melibat para prajurit Singasari sehingga mereka tidak sempat berbuat apa-apa.
Dengan demikian maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin kisruh. Para prajurit dari Singasari menjadi bingung menghadapi Witantra dan Mahendra. Meskipun mereka dapat membatasi gerak para pengawal yang datang dari Kediri, namun mereka tidak dapat berbuat banyak menghada pi Wintantra dan Mahendra.
Karena itulah maka pasukan Singasari itu pun segera terdesak. Korbannya pun berjatuhan dan bahkan ada di antara mereka yang kehilangan nyawanya.
Akhirnya Senapati yang memimpin prajurit dari Singasari itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak akan dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya.
Untuk menghindari kemusnahan maka Senapati itu pun segera memerintahkan pasukannya untuk mengundurkan diri sambil menunggu pasukan yang akan datang kemudian. Namun menurut perhitungan Senapati itu, meskipun ada dua gelombang pasukan yang bakal datang, tetapi mereka tidak akan dapat memaksa orang-orang yang diburunya itu untuk menyerahkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Witantra dan Mahendra tertegun sejenak, melihat lawannya menarik diri dengan tergesa-gesa. Tetapi keduanya kemudian bersepakat untuk tidak mengejar mereka.
“Lebih baik kita menghindar.” berkata Witantra.
“Jejak kita akan selalu dapat diikuti.”
“Kita akan memilih jalan rawa-rawa. Jika cukup lama berada di daerah berair, maka jejak kita akan sulit diikuti. Sementara itu, kita melingkar dan menuju kepadepokanku.”
Mahendra menganggukakan kepalanya. Katanya kemudian, ”Baiklah kakang. Kita memilih jalan rawa-rawa meskipun agak sulit. Kemudian kita akan menyeberang sungai dan hilang di hutan-hutan perdu seberang.”
Demikianlah maka Witantra pun kemudian melanjutkan perjalanan. Ia masih memperhitungkan bahwa pasukan yang lebih besar masih akan mengejarnya.
Karena itu seperti yang direncanakan, maka ia pun memilih jalan rawa-rawa. Ia mencoba menghilangkan jejak iring-iringan itu di dalam air. Beberapa kali kudanya hampir saja terperosok ke dalam endapan lumpur yang dalam. Namun akhirnya iring-iringan itu berhasil keluar dari rawa-rawa dan langsung turun ke dalam sungai yang tidak terlampau dalam. Namun dengan melawan arus air sebentar, mereka pun kemudian naik ke tebing sebelah.
Seperti yang diharapkannya, maka amat sulitlah untuk menemukan jejak iring-iringan itu. Di rawa-rawa jejak kuda-kuda mereka telah hilang-hilang timbul. Adalah terlampau lama untuk menemukan jalur jejak iring-iringan itu, karena sebagian dari jejak mereka telah hilang di dalam air yang keruh.
Di seberang Witantra berhenti sejenak sambil memandang rawa-rawa dan yang ditumbuhi ilalang setinggi tubuh, di antara gerumbul-gerumbul yang rimbun. Sambil tersenyum ia berkata, ”Mereka tidak akan dapat mengikuti perjalanan kita. Bahkan mungkin satu dua dari kuda-kuda mereka seandainya mereka berusaha juga untuk mengikuti kita, akan terperosok ke dalam lumpur yang dalam-dalam. Tentu mereka tidak pernah mengenal daerah ini sebelumnya. Berbeda dengan aku yang mengenal jalan ini menuju kepadepokaku.”
Mahendra mengangguk-anggukan kepalanya. Ia pun yakin bahwa para prajurit itu tidak akan dapat menemukan jejak mereka lagi.
“Marilah.” berkata Witantra, ”Biarlah kita tinggalkan mereka.”
Sejenak mereka masih memandang arus sungai yang tidak begitu deras itu. Namun kemudian kuda-kuda itu pun mulai melangkahkan kaki mereka di atas pasir menjauhi batang sungai yang mengalirkan air yang jernih di sisi daerah-daerah rawa-rawa berlumpur yg kotor.
Namun dalam pada itu, sesuatu telah menyentuh perasaan kedua anak-anak yang masih sangat muda itu. Rasa-rasanya mereki benar-benar akan pergi jauh sekali dan tidak akan pernah kembali ke Singasari.
Karena itu hampir di luar sadarnya Ranggawuni bertanya, ”Jika aku pergi jauh sekali, bagaimana dengan ibunda di Singasari?”
“Ya.” sahut Mahisa Cempaka, ”Bagaimana dengan ibunda, ayahanda dan neneknda Ken Dedes?”
“Di sana ada pamanmu Mahisa Agni.” berkata Witantra, ”Percayakan ibunda, ayahanda dan nenenda kepadanya. Pamanda Mahisa Agni akan menjaga mereka dengan baik.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka terdiam. Namun sesuatu terasa menjadi semakin lama semakin jauh, bahkan seolah-olah tidak akan pernah dapat dicapainya lagi.
Meskipun demikian mereka tidak bertanya lagi. Mereka pun sudah dapat menyadari keadaan mereka. Bahaya yang setiap saat akan dapat menerkam mereka dari segala penjuru.
Demikianlah iringan itu pun menembus hutan kecil menuju ketempat yang terpencil. Sebuah padepokan kecil yang terpisah dari padukuhan di sekitarnya. Padepokan itu adalah padepokan Witantra yang kemudian juga disebut Pati-pati.
Sementara itu, para prajurit Singasari yang merasa tidak mampu lagi melawan Witantra dan para pengawalnya mencoba menunggu pasukan yang bakal datang berikutnya. Dengan pasukan itu mereka menyusun kekuatan mereka kembali dan berusaha mengikuti jejak Witantra dan pengawalnya yang telah melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Tetapi yang mereka lakukan kemudian adalah kesiapan saja. Meskipun sekelompok pasukan berikutnya benar-benar datang, namun mereka tidak berhasil menemukan jejak Witantra dan Mahendra yang seakan-akan telah hilang di dalam rawa-rawa.
“Kita memerlukan waktu yang panjang untuk dapat menyelusuri jejak mereka.” berkata seorang yang memahami berbagai jenis jejak manusia dan binatang.
“Tetapi mereka tidak akan dapat terbang. Jejak mereka tentu masih ada.” berkata Senopati yang bertanggung jawab atas pasukan yang kemudian bergabung itu.
“Tentu. Tetapi kali kita harus mencarinya di seberang rawa-rawa dan genangan-genangan air. Belum tentu satu dua kali kita dapat menemukan arah. Untuk maju sampai beberapa patok saja, kita sudah akan kemalaman di perjalanan.”
“Bodoh kau. Matahari baru saja naik.”
“Dan kerja mengikuti jejak itu akan maju selangkah demi selangkah secepat siput merangkak di tanah kering.”
Senapati itu termenung sejenak. Lalu, ”Jadi menurut pen dapatmu, kita tidak akan dapat mengejar orang-orang yang telah melarikan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu?”
Pencari jejak itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, ”Mungkin kita dapat mengikutinya sampai berhari-hari. Tetapi sementara itu mereka yang kita cari sudah sampai ke seberang gunung.”
“Gila.” bentak Senapati itu, ”Katakan saja bahwa kau sudah tidak sanggup lagi.”
Pencari jejak itu menundukkan kepalanya. Namun terdengar suaranya datar, ”Demikianlah. Tetapi penjelasan dari ketidak sanggupanku perlu.”
Senapati itu menggeretakkan gigiknya. Namun ia pun tidak dapat menolak kenyataan bahwa untuk dapat mengejar orang-orang yang melarikan kedua anak-anak yang masih sangat muda itu adalah suatu kemustahilan.
Karena itu, maka pasukan Singasari itu pun terpaksa menarik diri meninggalkan daerah yang berrawa-rawa.
“Kita kembali dan melaporkannya kepada tuanku Tohjaya.” berkata Senopati yang memimpin pasukan itu.
Demikianlah maka pasukan itu pun segera ditarik kembali ke Singasari. Iring-iringan dari beberapa kelompok pasukan yang kemudian bergabung itu terpaksa memasuki kota tanpa membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, tetapi balikan membawa kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh.
“Tentu Mahisa Agni tidak dapat mencuci tangan.” berkata seorang perwira, ”Pada malam hari saat anak-anak itu hilang, para pengawalnya melakukan hal yang aneh-aneh. Dan ternyata pula di antara mereka yang melarikan kedua anak-anakitu terdapat prajurit-prajurit Singasari yang berada di Kediri. Tentu mereka telah mendapat perintah lebih dahulu dari Mahisa Agni sebelum ia pergi ke Singasari.”
Yang lain hanya menganggukkan kepalanya saja. Namun mereka masih dicengkam keheranan. ”Siapakah yang telah membawa kedua anak-anak itu. Mereka tentu bukan orang kebanyakan. Mereka mampu memasuki halamanan istana tanpa diketahui oleh para prajurit. Bahkan ketika mereka keluar dari istana mendukung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun mereka masih dapat melepaskan diri.”
Demikianlah Senapati yang telah gagal membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kembali itu pun segera melaporkan semua peristiwa yang telah terjadi.
“Jadi kalian telah gagal?” bertanya Tohjaya.
“Ampun tuanku. Kami tidak dapat mengikuti mereka seterusnya. Mereka masuk ke dalam rawa-rawa dan jejak mereka pun menjadi kabur. Meskipun kemudian kami dapat menelusur terus, namun kami memerlukan waktu yang sangat panjang, sehingga orang-orang itu tentu sudah menjadi semakin jauh.”
“Siapakah mereka itu?” bertanya Tohjaya.
“Kami tidak dapat menyebutnya dengan pasti tuanku. Tetapi hamba yakin bahwa di antara mereka ada beberapa orang prajurit Singasari yang ada di Kediri.”
“Apakah kalian melihat Lembu Ampal?” tiba-tiba saja Tohjaya bertanya.
Senapati itu menjadi bingung. Kemudian jawabnya, ”Tidak tuanku. Hamba tidak melihat Lembu Ampal. Tetapi apakah hubungannya hal ini dengan Lembu Ampal?”
Tohjaya terdiam sejenak. Ia menjadi agak bingung. Namun kemudian Pranarajalah yang menyahut, ”Lembu Ampal mempunyai banyak hubungan dengan prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri.”
“Maksudmu dengan Mahisa Agni.” bertanya seorang perwira kepada Pranaraja.
Tetapi Pranaraja menggeleng. Katanya, ”Mereka mempunyai jalur yang berlainan.”
“Jika Lembu Ampal terlibat di dalamnya. apakah pamrihnya?” bertanya seorang Senapati yang lain.
Pranaraja menggelengkan kepalanya, ”Kita tidak tahu.”
“Jadi, kenapa tiba-tiba hal ini menyangkut Lembu Ampal?” seorang Senapati yang lain bertanya.
Pranaraja menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, ”Ada persoalan yang perlu dipecahkan dengan Lembu Ampal. Tetapi belum waktunya dibicarakan sekarang.” lalu katanya kepada Tohjaya, ”Bukankah begitu tuanku.”
“Ya. Persoalannya masih ada di tanganku. Tetapi jika ia kemudian tidak nampak lagi di istana, persoalan ini akan menjadi semakin jelas.”
Beberapa orang yang menghadap Tohjaya itu menjadi heran. Persoalan anak-anak yang hilang itu agaknya telah menyangkut Lembu Ampal. Tetapi Tohjaya tidak mau mengatakan persoalan itu kepada para Senapati.
Dalam pada itu, seorang Senapati telah bertanya, ”Dan bagaimana dengan tuanku Mahisa Agni?”
Tohjaya masih saja termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Aku sudah mendengar laporan kalian tentang orang-orang yang mengambil Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Sekarang kalian boleh meninggalkan tempat ini.”
Senapati yang menghadap Tohjaya itu pun menjadi bingung. Mereka belum mendapat jawaban atas pertanyaan mereka tentang Mahisa Agni. Namun mereka tidak berani memaksa agar Tohjaya memberikan jawaban. Apalagi nampaknya Tohjaya sedang diliputi oleh kebingungan dan kecemasan.
Sepeninggal para Senapati itu, maka Tohjaya pun segera membicarakannya dengan Pranaraja. bahwa agaknya ada persoalan yang gawat sedang terjadi di Singasari.
“Siapakah menurut pendapatmu yang telah melarikan anak-anak itu? Apakah mereka ada hubungannya dengan Lembu Ampa! atau Mahisa Agni?”
Pranaraja termangu-mangu sejenak, namun kemudian jawabnya, ”Ampun tuanku, hamba memang menjadi bingung. Agaknya memang ada benarnya kita mencurigai Mahisa Agni.”
“Tetapi ia justru mohon perlindungan bagi kedua kemanakannya itu.”
“Hamba kira itu sekedar usahanya untuk membersihkan diri.”
“Jadi bagaimana dengan Lembu Ampal?” Pranaraja tidak menyahut.
“Pranaraja.” berkata Tohjaya dengan wajah yang tegang, ”Suruhlah memanggil Lembu Ampal sekarang. Aku harus mendapat penjelasan daripadanya Jika ia tidak ada di rumahnya ia harus dicari di mana saja. Ia harus menghadap aku sekarang.”
Pranaraja pun kemudian memerintahkan dua orang prajurit untuk memanggil Lembu Ampal.
“Kau harus mencarinya sampai kau dapat menemukannya.”
Kedua prajurit itu pun kemudian dengan tergesa-gesa berkuda ke rumah Lembu Ampal. Karena Lembu Ampal tidak ada, maka mereka pun kemudian bertanya kepada setiap orang yang mengenal Lembu Ampal. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya kemana ia pergi.
“Kemana lagi kita harus mencarinya.” desis salah seorang dari kedua prajurit itu.
Keduanya menjadi bingung. Mereka harus menemukan Lembu Ampal. Padahal mereka sudah mencarinya hampir di seluruh kota. Hampir setiap orang yang mungkin dapat memberikan petunjuk kepada mereka, sudah mereka temui. Tetapi mereka tidak berhasil menemukan Lembu Ampal, seperti juga Mahisa Agni yang memasuki hampir setiap rumah, tetapi tidak diketemukan yang dicarinya.
Akhirnya kedua prajurit itu memberanikan diri kembali Mereka tidak berani langsung melaporkannya kepada Tohjaya, tetapi mereka menghadap Pranaraja.
“Gila.” Pranaraja menggeram, ”Jadi Lembu Ampal tidak dapat kau ketemukan?”
“Kami sudah mengelilingi seluruh kota.”
“Kau masih harus mencarinya sampai ketemu. Malam nanti dan besok sehari penuh. Jika sampai besok malam kau tidak dapat menemukan Lembu Ampal, maka kita akan menghadap bersama-sama.”
“Tetapi apakah hal itu merupakan kesalahan kami ?”
“Kalian tidak bersalah.”
Kedua prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian mereka masih tetap berdebar-debar. Jika besok malam Pranaraja berkata lain, maka nasib mereka akan menjadi sangat buruk. Adalah kebetulan saja mereka waktu itu sedang bertugas, pada saat Tohjaya memerlukan Lembu Ampal. Jika karena Lembu Ampal tidak ada, kemudian kesalahan itu ditimpakan kepada mereka, alangkah malangnya mereka berdua.
Ketika prajurit itu kemudian melanjutkan usahanya, Pranaraja sudah mendahului menghadap Tohjaya, dan mengatakan bahwa kedua prajurit itu tidak dapat menemukan Lembu Ampal, sedang keduanya masih terus melakukan usaha pencarian itu.
“Apakah Lembu Ampal memang sedang menunggu kedua anak-anak itu di suatu tempat?”
Pranaraja termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, ”Memang mungkin tuanku. Mungkin Lembu Ampal menyusul atau justru mendahului orang-orang yang telah mengambil kedua anak-anak itu. Di suatu tempat yang jauh, keduanya akan diselesaikannya agar tidak ada seorang pun yang melihat mereka”
“Tetapi memang mungkin Mahisa Agni telah menyingkirkan mereka karena ia tahu bahwa kedua anak-anak itu akan di bunuh.”
“Dari siapakah ia mendengarnya tuanku.” Tohjaya menggelengkan kepalanya, ”Aku tidak tahu.”
“Tidak ada orang lain yang mendengarnya.”
“Bahkan mungkin dari Lembu Ampal sendiri.” Wajah Pranaraja menegang sesaat, lalu, ”Apakah mungkin Lembu Ampal berkhianat?”
Tohjaya tidak segera menjawab. Tetapi nampak wajahnya sedang diliputi oleh ketegangan yang luar biasa.
“Tidak mustahil para prajurit yang mendapat perintah berjaga itu menjadi curiga, dan mereka membuat perhitungan dan dugaan semacam itu.”
Pranaraja mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Tohjaya, bahwa prajurit-prajurit yang mendapat tugas untuk menjaga dan mengawasi Mahisa Agni, kemudian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mempunyai dugaan demikian, sehingga mereka tidak dengan sengaja saling berbicara di antara mereka sendiri.
Namun bagaimanapun juga Tohjaya dan Pranaraja tidak dapat melepaskan kecurigaan mereka terhadap Mahisa Agni. Apalagi setelah mereka mendengar laporan bahwa pada malam itu para pengawal Mahisa Agni bersikap aneh. Mereka hampir tidak tidur semalam suntuk, bahkan ada di antara mereka yang berada di halaman.
“Tetapi mereka tidak pergi kemanapun.” berkata Pranaraja, ”Bahkan hamba sudah memerintahkan untuk menghitung para pengawal. Ternyata pengawal-pengawal Mahisa Agni jumlahnya masih tetap, sehingga orang yang melarikan kedua anak-anak itu tentu bukan pengawal-pengawal Mahisa Agni yang di bawanya dari Kediri, meskipun diketahui bahwa mereka sebagian adalah prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri.”
“Baiklah.” berkata Tohjaya, ”Aku harus berbicara dengan Mahisa Agni. Jika ternyata Mahisa Agni pantas dicurigai, apa boleh buat. Ia harus ditangkap bersama para pengawalnya. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak akan dapat melawan semua Panglima dan Senapati yang ada di Singasari.”
Pranaraja mengerutkan keningnya. Katanya, ”Tetapi tuanku. Hamba masih selalu mengingatkan kepada tuanku pendapat Panglima Pelayan Dalam yang pada saat itu pergi ke Kediri dan melihat sendiri apa yang tumbuh di sana.”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian sambil menggeretakkan giginya ia berkata, ”Aku tidak peduli. Aku adalah Maharaja yang paling berkuasa di Singasari. Jika aku tidak berani bertindak terhadap seseorang, maka aku tidak akan dapat menegakkan keadilan di atas Singasari ini. Dengan demikian kedudukanku tidak akan ada artinya sama sekali.”
Pranaraja tidak berani membantah lagi. Karena itu ia hanya dapat menundukkan kepalanya saja.
“Pranaraja.” berkata Tohjaya kemudian, ”Sekarang kau pergi kepada Senapati yang sedang bertugas. Kau minta laporan dari perkembangan keadaan. Apakah orang yang mencari Lembu Ampal sudah ketemu atau perkembangan yang lain. Aku akan menghadap ibunda untuk mohon pertimbangannya.”
Demikianlah, di dalam keadaan yang paling sulit, Tohjaya masih selalu datang kepada ibunya dan minta pertimbangannya.
“Kita pantas mencurigai Mahisa Agni.” berkata Ken Umang, ”Sejak dahulu Mahisa Agni adalah orang yang paling banyak membuat kesulitan. Sejak pada masa Akuwu Tunggul Ametung memerintah Tumapel. Ia adalah orang yang menentang Akuwu ketika Ken Dedes, gadis dari Panwijen itu diambil ke istana.”
“Bukankah ia saudara laki ibunda Ken Dedes?”
“Saudara angkatnya. Ia ingin mengawinkan Ken Dedes dengan putera Buyut Panawijen.”
“Bodoh sekali.”
“Nah, kau sudah dapat menilainya. Kemudian pada jaman ayahandamu memegang kekuasaan, Mahisa Agni pun selalu membuat kesulitan di Singasari Anusapati ditempanya menjadi seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian Mahisa Agni dengan sengaja telah berusaha menyingkirkan ayahandamu dan menempatkan Anusapati di atas tahta. Hanya di saat Anusapati berada di atas tahta Mahisa Agni tidak berbuat apa-apa. Sekarang, setelah kau menggantikan Anusapati, Mahisa Agni kembali melakukan pengacauan dengan caranya.”
“Jadi menurut ibunda, aku pantas menangkapnya?”
“Jika kau menangkapnya, bawa ia kepadaku. Aku akan memaksanya untuk berbicara.”
“Ibunda?”
“Ya.”
“Tetapi ibunda, Mahisa Agni memiliki kekuatan yang cukup di belakangnya.”
“Kekuatan yang manakah yang kau maksud?”
Tohjaya pun kemudian menceriterakan sikap para prajurit yang ada da Kediri.
“Dan itu adalah pertanda bahwa orang-orang yang melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah bagian dari mereka yang mendukung Mahisa Agni di Kediri.”
“Tetapi Lembu Ampal sampai saat ini belum diketemukan. Jika orang-orang yang melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu bukan orang-orang Lembu Ampal, maka Lembu Ampal tentu akan datang menghadap dan melaporkan peristiwa ini.”
“Kau pernah mengancamnya. Jika ia gagal, maka ia akan menerima hukuman yang sangat berat.”
Tohjaya merenung sejenak, lalu, ”Tetapi ia belum gagal. Bahkan ia belum melakukan apa-apa.”
Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya Tetapi nafsunya untuk menghinakan Mahisa Agni masih saja menyala di dadanya. Ia merasa bahwa hutang Mahisa Agni kepadanya, karena penolakannya di masa mudanya, bahkan setelah ia berada di istana, adalah penghinaan yang harus dibalas dengan penghinaan pula.
“Tohjaya.” berkata ibunya kemudian, ”Baiklah, jika kau tidak dapat menangkapnya, panggillah Mahisa Agni. Aku akan berbicara kepadanya.”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Terasa persoalan ibundanya agaknya telah bergeser dari kepentingannya. Namun mungkin sekali akan dapat ditelusur pula lewat persoalan yang dikemukakan oleh ibunya, apakah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah disembunyikannya.
Karena itu maka untuk memenuhi permintaan ibundanya Tohjaya pun segera memerintahkan memanggil Mahisa Agni. Ia harus menghadap Tdhjaya di bangsalnya.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Panggilan di dalam saat yang kabur itu membuatnya berprasangka sehingga karena itu maka ia pun segera berpesan kepada para pengawalnya yang masih ada di bangsalnya, ”Kalian harus melihat keadaan. Kalian dapat menentukan manakah yang baik kalian lakukan. Jika kalian harus berbuat sesuatu karena pertanda keadaan, maka lakukanlah dengan hati-hati. Tetapi kalian harus yakin bahwa kalian harus melakukannya. Dengan demikian kalian tidak boleh tergesa-gesa.”
Setelah memberikan pesan-pesan dan petunjuk, maka Mahisa Agni pun segera minta diri kepada para pengawalnya, katanya, ”Aku hlarus pergi sekarang. Tidak mustahil bahwa mereka telah mengetahui apa yang telah terjadi. Mereka tentu akan memperhitungkan tingkah laku kalian semalam.”
Demikianlah maka Mahisa Agni pun segera pergi menghadap Tohjaya di bangsalnya. Bangsal yang pernah dipergunakan oleh Anusapati. Sebuah bangsal yang dikelilingi oleh kolam buatan dan kebun-kebun bunga yang sedang berkembang manis sekali.
Para penjaga yang sudah mengetahui bahwa Mahisa Agni akan datang ke bangsal itu, menerima kedatangannya dengan penuh hormat, dan mempersilahkannya memasuki regol, jembatan di atas kolam yang dibuat pada masa kekuasaan Anusapati itu.
Di atas jembatan Mahisa Agni berhenti sejenak. Dilihatnya beberapa ekor ikan emas yang kekuning-kuningan sebesar telapak tangan berenang hilir mudik di sela-sela daun teratai. Dengan cekatan ikan-ikan emas itu menggeliat dan hilang di bawah dedaunan ketika idua ekor angsa nampak berenang dengan tenangnya mendekati mereka.
“Ikan pun secara naluriah berusaha menyelamatkan hidupnya.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, ”Apalagi seseorang.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling dilihatnya beberapa orang prajurit termangu-mangu di depan regol. Agaknya mereka menjadi curiga melihat Mahisa Agni berhenti dan berdiri bersandar pagar jembatan kecil itu.
Mahisa Agni tersenyum. Bahkan ia pun melambaikan tangannya sehingga para prajurit itu justru menjadi tersipu-sipu. Sambil menundukkan kepala mereka pun segera bergeser menepi dan berlindung di balik tiang regol di mulut jembatan itu.
Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya sejenak. Kemudi an ia pun melangkahkan kakinya menuju kepintu bangsal itu.
Seorang Pelayan Dalam yang sedang bertugas agaknya sudah mendapat pesan pula bahwa Mahisa Agni akan segera datang. Karena itu, maka ia pun segera mempersilahkannya masuk dan menyampaikannya kepada Tohjaya.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar