*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 15-01*
Karya. : SH Mintardja
Serangan Tapak Lamba itu ternyata bagaikan aba-aba yang diberikan kepada ketiga orang kawannya. Dengan serta mereka mereka pun segera berloncatan mencari sasaran masing-masing.
Serangan-serangan itu benar-benar tidak diduga. Selagi perhatian orang-orang yang ada di halaman itu tertuju kepada Tapak Lamba yang menyerang secepat kilat, maka serangan-serangan berikutnya telah datang membadai.
Dengan demikian ,maka sekejap kemudian perkelahian telah menyala dengan dahsyatnya di halaman itu. Tapak Lamba tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diperolehnya pada serangan pertama. Selagi lawannya itu kehilangan keseimbangan, maka tangan kirinya dengan cepat pula telah menghantam tengkuk orang itu sehingga ia pun segera jatuh tersungkur.
Dengan serta merta Tapak Lamba memungut senjata orang itu. Sebilah padang yang cukup panjang. Dan dengan pedang itu di tangan kanannya, dan memindahkan keling di genggaman tangan kirinya, ia pun segera bertempur melawan orang-orang yang dengan serta merta telah menyerangnya.
Tiga kawan Tapak Lamba ternyata tidak mengecewakannya. Mereka berhasil menguasai keadaan pada benturan pertama meskipun selanjutnya mereka sadar, bahwa lawan mereka tentu akan dapat menekan mereka dan bahkan mengalihkannya jika mereka tidak berhasil mempergunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya. Bahkan mereka pun sadar, bahwa di balik dinding itu tentu masih ada beberapa orang yang akan segera turun ke halaman dan bertempur bersama-sama.
“Memang tidak ada pilihan lain kecuali mati.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya, “Tetapi matilah dengan cara yang paling baik. Mati sebagai seorang prajurit meskipun aku sudah bukan lagi seorang prajurit.”
Dengan demikian maka Tapak Lamba pun bertempur semakin dahsyat. Pedangnya terayun-ayun mengerikan sekali. Sementara ketiga lawannya berusaha berkelahi dalam pasangan yang rapat. Mereka berputaran dan kadang-kadang berlari-larian membi-ngungkan lawan-lawan mereka.
Dari tujuh orang yang masih mampu bertempur, Tapak Lamba harus melawan dua orang yang bertempur berpasangan. Sedang tiga orang kawannya, bersama-sama melawan lima orang yang Jain. Mereka bertempur dalam kelompok-kelompok yang dengan sengaja dikacaukan oleh tiga orang kawan Tapak Lamba. Sekali-sekali mereka berdiri beradu pungung. Namun tiba-tiba mereka berlari-larian memencar. Namun kemudian mereka telah berada dalam satu lingkaran yang rapat lagi.
Tetapi bagaimanapun juga, lawan mereka adalah jumlah yang hampir berlipat. Apalagi mereka pun bukan orang-orang ke¬banyakan yang sama sekali tidak mengenal ilmu kanuragan.
Karena itulah, maka pertahanan Tapak Lamba dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin berat.
Namun dalam pada itu, ketiga orang kawan Tapak Lamba itu berhasil mengurangi seorang lawannya yang terpelanting oleh sentuhan keling di pelipisnya. Meskipun sentuhan itu tidak terlampau tajam membenturnya, namun kulit pelipisnya itu bagaikan terkelupas. Darah yang segar memerah diseluruh wajahnya.
Tertatih-tatih melangkah menepi. Ia mencoba menyeka darahnya dengan kain panjangnya. Namun darah itu masih saja mengalir terus.
Dengan demikian, maka jumlah lawan pun menjadi semakin berkurang. Tetapi sejalan dengan itu, tenaga Tapak Lamba dan kawan-kawannya pun menjadi semakin berkurang pula.
Untuk beberapa saat lamanya, perkelahian itu masih berjalan dengan sengitnya. Tapak Lamba bertempur dengan perhitungan yang masak. Sebagai seorang bekas Senapati ia mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di dalam perkelahian itu.
Karena itu, maka ia pun dengan segenap kemampuannya telah bertempur untuk mengurangi jumlah lawan secepat-cepatnya. Meskipun dengan demikian ia harus mengerahkan tenaga, tetapi ia berharap bahwa lawannya yang tersisa tidak akan memerlukan tenaga terlampau banyak.
Karena itulah, maka serangan-serangan Tapak Lamba justru dia¬rahkan kepada lawannya yang paling lemah. Ujung pedangnya bagaikan lalat yang selalu mengejar kemana pun lawannya menghindar.
Dengan mempergunakan segenap kekuatan ilmunya, ujung pedang Tapak Lamba mulai menyentuh tubuh lawannya yang paling lemah. Meskipun hanya segores kecil dan sama, sekali tidak menimbulkan perasaan sakit yang mengganggu. Tetapi titik darah yang kemudian meleleh dilengannya akan dapat mempengaruhi ketahanan perasaan lawannya itu.
Tapak Lamba bertempur semakin seru. Serangan-serangannya bagaikan angin pusaran yang dahsyat sekali.
Demikian juga ketiga orang kawannya. Setelah kawannya susut, mereka menjadi semakin garang. Apalagi di hati masing-masing mulai tumbuh harapan untuk dapat bertahan dan hidup lebih lama lagi. Jika lawannya bukan orang-orang yang memiliki kelebihan melampaui mereka berempat, maka harapan untuk meninggalkan halaman itu tentu masih ada. Meskipun menarik diri dari peperangan agak menimbulkan gangguan pada rasa harga diri tetapi melawan orang-orang yang berjumlah jauh lebih banyak, bukannya cara yang pantang dilakukan.
Karena itulah, maka ketiga orang itu pun berusaha untuk bertempur sambil mendekati Tapak Lamba. Ketika ada kesempatan pada salah seorang dari mereka, maka orang itu pun berdesis di dekat Tapak Lamba, “Apakah kita akan bertempur terus?”
Tapak Lamba segera mengerti maksudnya. Karena itu, ia pun mulai mempertimbangkannya, sementara serangan-serangannya justru menjadi semakin garang. Ia telah berhasil menyentuh lagi lawannya dengan ujung pedangnya dan kemudian mendesaknya ke sudut halaman.
Tetapi dalam pada itu, keadaan ketiga kawannya menjadi agak berbeda. Tangan-tangan mereka yang memegang keling menjadi terasa pedih. Setiap kali mereka harus menangkis senjata lawan dengan keling yang tergenggam di tangan. Dan setiap kali tangannya menjadi terasa nyeri.
Tapak Lamba pun mempertimbangkan keadaan itu. Memang keling bukan senjata yang baik untuk melawan senjata panjang. Hanya karena terpaksa tidak ada senjata yang lain sajalah, maka keling itu dipergunakannya.
Akhirnya Tapak Lamba mengambil keputusan yang serupa pula. Ia yakin bahwa masih akan datang lawan-lawan yang lain yang akan mengepung mereka didalam halaman itu.
Karena itu, maka ia pun segera mencari kesempatan. Betapa banyak lawannya, jika ia berhasil melepaskan diri dari halaman itu, tentu ia dan ketiga kawan-kawannya akan dapat lolos dari tangan orang-orang padukuhan itu.
“Kita masih memiliki tenaga untuk lari.” desis Tapak Lamba yang kemudian bersiap-siap untuk memberikan isyarat sambil mencari kesempatan.
Namun dalam pada itu, sepasang mata memperhatikan pertempuran yang terjadi di halaman dari balik pintu regol di samping pendapa. Dengan wajah yang tegang ia mengikuti setiap perkembangan. Kadang-kadang wajahnya mengendor sejenak, tetapi kemudian menjadi tegang kembali.
Tiga orang pengawal yang berdiri di belakangnya, rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi melihat keadaan kawan-kawannya di halaman. Tetapi orang itu masih tetap diam saja.
Di halaman perkelahian semakin lama menjadi semakin sengit. Ketika Tapak Lamba merasa, saat yang sebaik-baiknya untuk lari telah terbuka, karena lawan mereka kebetulan berada di satu sisi, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada ketiga orang kawannya untuk saling mendekat.
“Ki Buyut.” desis salah seorang yang berada dibalik regol samping pendapa, “Mereka akan lari.”
“Ya, mereka akan melarikan diri.”
“Kita harus bertindak cepat sebelum mereka lolos.”
“Ya.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi mereka tidak akan lari.”
“Lihat. Mereka telah bergabung. Kesempatan itu kini benar-benar telah terbuka. Menilik kemampuan mereka, tentu sulit untuk mengejar dan menangkap mereka semuanya. Padahal menurut apa yang telah mereka lakukan di halaman itu, mereka pantas mendapat hukuman yang paling berat. Dibunuh di sarang semut salaka.”
Ki Buyut justru tertawa. Katanya, “Membunuh di sarang semut memang menyenangkan sekali. Apalagi dengan cara yang paling baik. Mereka tidak akan diikat. Tetapi mereka akan dilepaskan dalam kerangkeng.”
“Bagus sekali Ki Buyut. Orang-orang itu sempat meIonjak-Ionjak kesakitan dan berlari-larian di dalam kerangkeng, sebelum mereka akan jatuh menjadi mangsa semut salaka, sehingga hanya kerangka mereka saja yang tinggal.”
Ki Buyut tertawa perlahan-lahan. Tetapi ia masih berdiri di tempatnya memandangi orang-orang yang berusaha untuk mendekati pintu gerbang.
“Mereka tentu berhasil lari Ki Buyut. Tanpa meloncati dinding. Mereka dapat menempuh jalan yang paling aman. Lari lewat pintu gerbang, sementara orang-orang kita yang dungu itu menjadi semakin lelah.”
Tetapi Ki Buyut masih tetap berdiam diri.
Seperti yang diduga oleh ketiga pengawal Ki Buyut itu, maka Tapak Lamba memang mencari jalan yang paling aman. Lari melalui pintu gerbang. Dengan demikian maka cara mereka bertempur pun saling menyesuaikan diri untuk dapat bergeser mendekati pintu gerbang itu.
Pada saat yang terakhir, maka Tapak Lamba pun tiba-tiba telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya. Pedangnya bagaikan angin prahara yang mengamuk di tengah-tengah padang ilalang.
Dengan demikian, maka lawan-lawannya pun telah terdesak mundur beberapa langkah, sehingga memberi kesempatan kepada kawan-kawannya untuk dengan cepat mencapai regol halaman yang masih terbuka itu.
Dengan demikian, maka saat untuk melarikan diri itu benar-benar telah terbuka. Menurut pengamatan mereka, di luar regol masih belum ada orang-orang lain yang datang dengan atau tidak dengan isyarat.
Tetapi ketika mereka sudah siap untuk meninggalkan halaman itu, terdengarlah salah seorang dari Iawan-Iawannya bersuit nyaring. Agaknya ia merasa bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya untuk menahan keempat orang yang akan melarikan diri itu.
“Terlambat.” desis salah seorang dari para pengawal Ki Buyut.
“Isyarat itu yang terlambat.” desis Ki Buyut.
“Mereka mengira bahwa kita selalu mengikuti perkelahian itu. Dengan atau tanpa isyarat kita akan turun kehalaman.”
Tetapi Ki Buyut justru tertawa lagi sambil berdesis, “Mereka tidak akan lari.”
Baru saja mulutnya terkatub, maka seorang dari ketiga kawan Tapak Lamba telah melangkah surut ke pintu regol disusul oleh kawannya yang lain. Dua orang yang lain, masih tetap bertempur sambil mundur perlahan-perlahan mendekati pintu regol, sebelum mereka akan meloncat berlari.
Tetapi, ketika Tapak Lamba yang paling akhir berdiri di regol itu, siap meneriakkan isyarat untuk berlari, tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa meledak di balik regol kecil di sebelah pendapa. Di sela-sela suara tertawa itu terdengar Ki Buyut berkata, “He, kampret, ternyata kau memang luar biasa.”
Panggilan itu telah menghentikan langkah Tapak Lamba. Dalam keragu-raguan ia mendengar kawannya berdesis, “Marilah. Jangan hiraukan pangilan itu.”
Tetapi Tapak Lamba menjadi termangu-mangu.
Lawan-lawannya pun menjadi heran melihat sikap Tapak Lamba. Justru karena Tapak Lamba tidak segera berlari meninggalkan halaman, maka mereka pun menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Apa lagi setelah mereka mendengar suara tertawa Ki Buyut dari balik regol di sisi pendapa.
“Marilah, cepat.” sekali lagi kawan Tapak Lamba memperingatkan.
“Tunggu.” desis Tapak Lamba, “Kau mendengar suara tertawa itu?”
“Ya.”
“Dan kau mendengar orang yang tertawa itu menyebut kita kampret?”
“Jangan pedulikan. Kita akan terjebak oleh lawan yang jumlahnya tidak terhitung.”
“Tetapi kita harus menunggu sebentar.” desis Tapak Lamba yang tiba-tiba saja berteriak, “He, keluarlah.”
Sejenak suasana halaman rumah Ki Buyut itu menjadi sangat tegang. Tapak Lamba berdiri tegak di tempatnya dengan kepala tengadah. Ditangannya masih tergenggam sebilah pedang. Dan di tangan kirinya sebuah keling.
Suara tertawa masih terdengar dari balik regol di sebelah pendapa. Tetapi Tapak Lamba dan kawan-kawannya masih belum melihat siapakah yang telah tertawa itu.
Dalam pada itu, ketiga pengawal Ki Buyut menjadi semakin tidak sabar. Mereka melihat Ki Buyut tertawa berkepanjangan, sedang orang-orang yang berdiri di regol itu sudah siap untuk melarikan diri.
“Kita akan turun lebih dahulu.” desis salah seorang dari mereka.
“Sst, mungkin itu suatu cara baru dari Ki Buyut untuk menahan orang-orang yang akan lari meninggalkan halaman ini.”
“Persetan.” desis yang lain.
Tetapi suara tertawa Ki Buyut pun segera terhenti. Dengan senyum dibibirnya ia berkata kepada ketiga orang pengawalnya, “Nah, kau lihat? Ia tidak akan pergi meninggalkan halaman ini.”
“Kenapa Ki Buyut?”
Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi ia berdesis, “Kita akan turun ke halaman.”
Ki Buyut pun kemudian membuka pintu regol itu lebar-lebar. Diiringi oleh ketiga orang pengawalnya, ia kemudian menuruni tangga regol disisi pendapa itu.
“He kampret yang buruk.” Katanya, “Kau benar-benar memiliki kelebihan yang tidak mudah dicari tandingnya. Kemarilah. Jangan lari. Tidak pantas seorang Senapati melarikan diri dari gelanggang.”
Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Sedang kawannya di belakang regol berdesis, “Jangan hiraukan. Jangan hiraukan.”
“Lihatlah.” berkata Tapak Lamba kepada kawan-kawannya, “Ki Buyut sendiri agaknya sudah keluar dari sarangnya. Menilik sikap dan pakaiannya, ia adalah pimpinan tertinggi di sini.”
“Kita tidak peduli. Kita tinggalkan saja tempat ini.”
“Kemarilah dan lihatlah. Aku menjadi curiga.”
Ketiga orang kawannya menjadi ragu-ragu. Sementara Ki Buyut menjadi semakin dekat. Sekali lagi suaranya yang besar mengumandang di halaman itu, “He kau kampret dan cucurut-cucurut kecil? Apakah kalian akan lari? Bukankah kalian prajurit-prajurit pilihan pengawal pribadi tuanku Tohjaya.”
Ketiga kawan Tapak Lamba menjadi ragu-ragu pula mendengar suara itu. Perlahan-lahan mereka menjengukkan kepala mereka untuk melihat siapakah sebenarnya Ki Buyut yang dibayangi oleh kekaburan dan rahasia.
“He, kemarilah kampret.” desis Ki Buyut itu, “Kita akan berbicara dengan baik. Ternyata kau adalah satu-satunya tamuku yang dapat memaksa aku keluar dari ruang yang aku sediakan untuk menerima tamu-tamuku.”
Tapak Lamba memandang orang itu dengan saksama. Orang itu tidak begitu tinggi, tetapi tegap. Matanya tajam sedang daun telinganya agak lebih lebar dari daun telinga yang kebanyakan. Bibirnya tipis dan rambutnya agak keriting.”
“He.” desis Tapak Lamba kepada kawan-kawannya, “Kau lihat orang itu.”
Ketiga kawannya pun termangu-mangu. Hampir mereka tidak mempercayai penglihatannya. Ternyata orang itulah yang sedang dicarinya. Sunggar Watang.
Tetapi menghadapi kenyataan itu, Tapak Lamba dan ka¬wan-kawannya menjadi ragu-ragu. Apakah orang itu telah berubah sikap terhadap kawan-kawannya atau ada perhitungan lain, sehingga ia harus membunuhnya.
“Setiap orang asing dibunuhnya.” desis Tapak Lamba, “Mungkin ia dengan demikian berusaha untuk melenyapkan setiap kemungkinan untuk mengenalinya.”
“Ia benar-benar tidak mau dikenal lagi.” bisik kawannya, “Apakah itu bukan berarti bahwa kita pun harus dilenyapkan.”
“Apalagi kita sudah pasti dapat mengenalnya dengan sebaik-baiknya.” gumam yang lain.
“Kita akan melihat perkembangan keadaan ini.” berkata Tapak Lamba, “Namun selama ini kita tidak melihat isyarat apa pun yang diberikan oleh orang-orang di dalam halaman ini. Bukankah tidak ada orang diluar regol?”
Sejenak Tapak Lamba dan kawan-kawannya masih tetap mematung, sementara Ki Buyut melangkah menjadi semakin dekat.
“Kampret, kau masih mengenal suaraku?” bertanya Ki Buyut.
Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kau Buyut dari pedukuhan ini?”
“Ya.”
“Siapa namamu?” bertanya Tapak Lamba.
“Kau cukup hati-hati. Terima kasih atas pertanyaanmu itu.”
Ketiga orang pengawal Ki Buyut itu menjadi terheran-heran. Sikap Ki Buyut kali ini agak lain terhadap tamu-tamunya. Biasanya ia bertanya sepatah dua patah kata saja. Kemudian menentukan, apa yang harus dilakukan terhadap tamu itu. Dibebaskan meskipun sambil ditakut-takuti, atau dibunuh dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang menyenangkan sekali bagi mereka.
“Sebut namamu.” desis Tapak Lamba.
“Namaku Kidang Pengasih.”
“He.” Tapak Lamba terkejut mendengar nama yang baginya terdengar lucu.
Kidang Pengasih mengerutkan keningnya melihat perubahan wajah Tapak Lamba. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
Dengan nada yang tinggi, disela-sela suara tertawanya ia berkata, “Kau heran mendengar namaku he? Aku adalah seseorang yang digadang-gadang oleh orang tuaku menjadi seorang yang baik hati, penolong dan penuh dengan belas kasihan. Aku memang pernah bertapa di hutan-hutan sebelah padukuhan ini. Tapa Kidang. Apakah kalian tidak percaya?”
“Aku percaya.” berkata Tapak Lamba, “Lalu apakah maksudmu menahan aku disini? Aku sudah akan pergi meninggalkan halaman ini. Tetapi kau menahan kami.”
“Ki Sanak.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Kau memang tamuku yg khusus, yang mempunyai cara tersendiri untuk menjumpaiku.”
“Aku tidak ingin bertemu dengan kau lagi. Aku tahu, bahwa kau tidak mau berhubungan dengan siapa pun juga. Orang yang pingsan itu berkata, bahwa tidak ada orang yang sempat keluar dari halaman ini.”
“Ah itu tidak benar. Aku dapat menilai seseorang dengan beberapa pertanyaan. Jika ia tidak mengkhawatirkan padukuhan ini, tentu akan aku bebaskan. Tetapi jika mereka aku anggap berbahaya, maka aku akan melenyapkannya demi padukuhanku. Bukan sekedar karena aku seorang pendendam.”
“Itu pun suatu kebohongan besar. Kau adalah pendendam yang paling menarik hati. Dendammu kau tumpahkan kepada sasaran yang tidak tepat. He, kita sudah terlalu banyak berbicara. Biarlah aku pergi, atau kau akan memaksa aku membuat padukuhanmu ini menjadi karang abang?”
Ki Buyut tertawa semakin keras. Katanya, “Kau memang kampret kecil yang nakal. Tetapi dengan demikian aku justru ingin mempersilahkan kau duduk. Aku akan merubah kebiasaanku untuk menerima tamuku di bagian belakang rumahku ini. Sekarang, aku akan menerima kalian di pendapa.”
Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Dan kawannya yang ada di belakangnya berbisik, “Apakah ini bukan sekedar sebuah jebakan?”
Tapak Lamba berdesis perlahan-lahan sekali, “Kita akan mencobanya. Ia tentu tidak akan dapat segera berterus terang. Agaknya pengawal-pengawalnya pun tidak mengetahui siapakah ia sebelumnya.”
“He.” berkata orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, “Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian ragu-ragu? Atau curiga?”
“Ya.” jawab Tapak Lamba tegas.
Orang itu tertawa pula. Lalu ia pun bertanya, “He, siapa namamu, he? Apakah aku tadi sudah bertanya?”
“Namaku Tapak Lamba.”
Orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu pun tertawa semakin keras. Katanya, “Bagus. Namamu bagus sekali. Tapak Lamba.” ia berhenti sejenak, lalu, “Kemarilah Tapak Lamba. Kita dapat berbicara dengan baik di pendapa.”
Tapak Lamba termangu-mangu. Sedang ketiga orang pengawal Ki Buyut dan orang-orangnya yang masih sadar akan dirinya menjadi bingung atas sikap itu.
Sejenak Tapak Lamba merenung. Kemudian ia berpaling kepada ketiga orang kawannya. Katanya berbisik, “Kita akan mencobanya. Nampaknya ia pun harus tetap menjaga kedudukannya di hadapan para pengawalnya.”
“Kau dengar kesempatan yang aku berikan kepadamu.” berkata orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, “Aku melihat kelainan pada kalian berempat. Karena itu, kita akan berbicara sebaik-baiknya.”
Ketiga pengawal Ki Buyut menjadi semakin tidak mengerti. Maka salah seorang dari mereka pun bertanya, “Kenapa sikap kita tiba-tiba menjadi sangat lunak? Bukankah mereka telah berbuat onar, dan bahkan menjatuhkan beberapa orang korban? Seharusnya mereka mendapat hukuman jauh lebih berat dari siapa pun yang telah datang ketempat ini.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kau tidak melihat sikap dan tandangnya? Ia dapat menjatuhkan korban lebih banyak lagi di antara kita. Mereka memiliki kemampuan yang luar biasa. He, apakah kau tidak melihat bahwa mereka bertempur dengan cara yang hampir tidak dapat disembunyikan lagi.”
“Apa itu Ki Buyut.”
“Mereka adalah Senopati-Senopati Singasari.”
“Gila.” desis pengawalnya, “Bukankah dengan demikian berarti mereka harus dilenyapkan?”
“Jika kita mampu. Jika tidak, aku dapat menyumbat mulutnya dengan apapun yang dimintanya.”
“He.” ketiga pengawalnya termangu-mangu. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.
Ki Buyut pun kemudian melangakah semakin dekat dengan Tapak Lamba yang masih berdiri di regol.
“Ki Sanak. Aku memenuhi tuntutanmu. Aku tidak akan menerima di bagian belakang rumahku ini. Sebaiknya kau melenyapkan semua perasaan curiga itu.”
“Apakah aku dapat mempercayaimu?” desis Tapak Lamba.
“Itu terserah kepadamu. Tetapi aku bermaksud baik. Aku akan bersikap lain terhadapmu.”
Tapak Lamba masih dicengkam oleh keragu-raguan. Sekali-sekali ia berpaling kepada kedua kawannya yang juga termangu-mangu.
“Aku berjanji.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Tidak akan terjadi sesuatu apapun lagi di halaman ini.”
“Kau dapat merubah janjimu dalam sekejap.” berkata Tapak Lamba.
“Jadi bagaimana?” betanya Ki Buyut, “Baiklah kau yang menentukan, apakah yang harus aku lakukan untuk menerima kalian.”
“Aku akan berbicara sendiri. Maksudku, berdua saja dengan Ki Buyut Kidang Pengasih. Ini adalah tuntutanku yang terakhir. Semula aku memang berharap untuk dapat berbicara dtngan Ki Buyut di pendapa. Tetapi ternyata keadaan berkembang semakin buruk bagi kami.”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu, “Maksudmu hanya kau dan aku?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana dengan kawan-kawanmu itu?”
“Ia akan menunggu aku diregol ini. Dan orang-orangmu harus menjauh sampai ke dinding halaman sebelah menyebelah.”
Ki Buyut tertawa. Jawabnya, “Tuntutan yang gila. Lebih mirip dengan tuntutan seorang pengecut. Baiklah kampret. Aku bersedia memenuhinya.”
“Ki Buyut.” desis pengawalnya, “Itu berbahaya sekali bagi Ki Buyut.”
Ki Buyut masih tertawa. Katanya, “Aku bukan tikus curut. Jika ia mau bermain gila, aku dapat memenggal lehernya di pendapa, sementara ketiga kawannya itu dapat kau cincang di halaman.”
“Aku atau kau.” kata Tapak Lamba, “Kau jangan membuat gambaran yang salah terhadap anak buahmu. Kau tidak akan dapat memenggal leherku. Tetapi justru aku mungkin sekali untuk melakukannya.”
“Itu pun suatu gambaran yang keliru. Kita tidak dapat memperbandingkan kemampuan kita sekarang ini.” berkata Ki Buyut, “Nah, kita sudah berbicara terlampau panjang. Naiklah.” lalu katanya kepada pengawalnya, “Mundur sampai ke dinding itu. Kalian dapat melihat apa yang kami lakukan di pendapa. Jika ia curang, terserahlah kepadamu apa yang pantas kalian lakukan terhadap ketiga kawannya yang akan tetap berdiri diregol. Sebagai tiga orang yang merasa dirinya terlampau lemah, maka mereka selalu mencari tempat yang paling baik untuk segera dapat melarikan diri.”
Tapak Lambalah yang menjawab, “Tidak dalam perang tanding. Tetapi dalam perkelahian bersama seperti ini, maka lari bukannya sikap yang tercela.”
“Suaramu seperti guruh yang meledak di langit. Tetapi itulah yang menarik. Aku memang memerlukan beberapa orang prajurit. Marilah, naiklah ke pendapa.”
Ki Buyut kemudian melangkah ke pendapa sambil memberikan isyarat kepada pengawal-pengawalnya untuk surut dan berdiri di tepi halaman, sementara ketiga kawan Tapak Lamba masih tetap berdiri di regol.
“Hati-hatilah.” pesan Tapak Lamba kepada mereka, “Aku yakin bahwa ia adalah orang yang kita cari. Tetapi aku tidak tahu sikap yang sebenarnya daripadanya.”
“Kau pun harus berhati-hati.” berkata ketiga kawannya itu hampir bersamaan.
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dengan langkah yang tetap ia berjalan menuju ketangga pendapa pula.
Sejenak kemudian keduanya pun telah naik dan untuk sejenak mereka berdiri termangu-mangu.
“Ah, duduklah.” Ki Buyut pun kemudian mempersilahkan tamunya duduk di atas sehelai tikar yang memang terbentang di pendapa itu.
“Apakah kau lupa kepadaku.” tiba-tiba saja Ki Buyut bertanya.
“Tidak. Aku datang memang dengan harapan dapat bertemu dengan kau. Tetapi kami menjadi ragu-ragu setelah kami melihat keadaan disini.”
“Apakah mula-mula kau bertanya tentang aku?”
“Ya. Aku mencari seseorang. Tetapi aku tidak dengan jelas menyebut namamu, Sunggar Watang.” sahut Tapak Lamba, “Tetapi yang aku jumpai kemudian adalah suatu usaha untuk membunuhku.”
“Bukan maksudku.”
“Agaknya selama ini kau telah menjadi iblis yang paling buruk di sini. Kau membunuh setiap orang yang tersesat ke dalam lingkunganmu.”
“Jarang sekali orang yang memasuki daerah ini. Tetapi kau pun harus ingat, bahwa aku sedang bersembunyi disini. Jika ada orang yang mengenalku, meskipun hanya ciri-ciri bentuk tubuhku, aku akan dapat diseret ke tiang gantungan.”
“Ternyata keadaan di Singasari tidak seburuk itu. Aku juga bersembunyi, justru di dalam kota raja. Tetapi aku dikenal sebagai seorang yang tua, kurus dan terbungkuk-bungkuk.”
“Kau terlampau gila. Bagaimana kau berani tinggal di dalam kota raja, he?”
“Ternyata aku selamat sampai sekarang. Tidak ada orang yang mencari aku, atau dengan sengaja menyelidiki kemanakah aku bersembunyi.”
“Tetapi aku langsung dapat mengenalmu.”
Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku datang kemari sebagaimana aku adanya. Aku tidak menyapu wajahku dengan warna-warna yang kegelapan dan membuat kumisku agak keputih-putihan. Aku tidak berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk sambil terbatuk-batuk.”
“Menggelikan sekali.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Bagaimanapun juga, maka orang-orang yang telah mengenalmu dengan baik akan tetap mengenalmu.”
“Tetapi ternyata tidak. Apalagi memang tidak ada usaha untuk mengenali orang-orang yang hilang sejak tuanku Tohjaya tidak memerintah lagi. Juga tidak ada orang yang berusaha mencarimu kemana pun juga.”
Tiba-tiba wajah Ki Buyut itu berkerut. Katanya, “Tetapi apakah aku dapat percaya kepadamu? Seperti kau kepadaku, aku pun curiga keadamu. Apakah kau tidak sedang mengemban tugas dari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dan mengkhianati kekeluargaan kita? Apakah kau sedang mencari aku dan akan menangkapnya?”
“Jika karena itu, aku dapat menjawab dengan pasti, bahwa aku tidak sedang melakukan tugas yang demikian. Tetapi jika nyawaku terancam, aku dapat berbuat kasar, tetapi untuk melindungi hidupku. Sudah aku katakan, setidak-tidaknya aku harus membunuh orang dalam jumlah yang sama. Empat orang. Dan aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya di sini meskipun kau ada.”
“Kau jangan membuat persoalan baru lagi disini.”
“Kau mencurigai aku.” sahut Tapak Lamba, “Padahal aku memang mencarimu. Ada persoalan yang ingin aku bicarakan. Bukankah kau telah memberikan petunjuk bahwa aku harus datang ke tempat ini? Tetapi yang aku ketemukan ternyata suatu daerah pembantaian yang mengerikan sekali.”
Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada datar, “Sebenarnyalah aku terlalu dihantui oleh ketakutanku sendiri. Aku mencurigai setiap orang, sehingga aku memang berusaha melenyapkan siapa pun juga yang aku sangka dapat menjadi sebab orang lain dapat mengenalku.”
“Tetapi ketakutanmu membawa akibat yang sangat buruk bagi orang lain. Adalah salahmu bahwa tiba-tiba saja kau telah menjadikkan dirimu seorang Buyut dipadukuhan ini. Tetapi kau adalah Buyut yang paling gila yang pernah aku jumpai. Jika kau memilih kedudukan seperti kedudukanku, maka kau tidak perlu mencurigai setiap orang, karena tidak seorang pun yang akan pernah tertarik kepadku.”
“Apakah ada bedanya? Justru karena aku seorang Buyut di sini, maka aku dapat melindungi diriku seperti sekarang ini. Aku dapat memerintahkan orang-orangku untuk membuat pengamatan yang berlapis-lapis.”
“Itu pikiran yang paling bodoh. Bukankah seorang Buyut akan selalu menjadi sorotan orang lain? Jika seseorang datang ke padukuan ini dan bertemu dengan kau, maka orang itu harus kau lenyapkan. Akhirnya, hal itu berkembang menjadi semakin buruk. Bukan saja setiap orang yang datang ke¬padamu harus dilenyapkan, tetapi orang yang sama sekali tidak berkepentingan sama denganmu pun akan dipancing untuk datang ke halaman rumah ini dan memasuki regol samping itu untuk tidak pernah keluar lagi.”
Ki Buyut tegang karenanya. Lalu, “Agaknya memang begitu. Sebenarnya banyak sekali orang yang hanya sekedar lewat. Tetapi orang-orangku memancingnya untuk singgah dan akhirnya tidak akan pernah keluar lagi.”
“Nah, bukankah itu suatu pembantaian yang tidak ada taranya?” ia berhenti sejenak, lalu, “Aku juga seorang pembunuh. Aku pun akan melepaskan dendamku kepada orang-orang yang tidak mau mengerti arti perjuanganku. Tetapi tidak seperti yang kau lakukan. Aku, seorang pembunuh pula, merasa ngeri melihat caramu dan orang-orangmu yang berusaha menjilat dihadapanmu. Mereka merasa berjasa dan mendapat kehormatan darimu jika mereka dapat menghadapkan satu atau lebih korban yang akan kau cincang di halaman belakang rumahmu ini. Agaknya yang terjadi atasmu adalah gabungan antara dendam, ketakutan dan pelepasan sakit hati yang tidak terkendali.”
“Ya. Kau benar. Dan orang-orangku sudah terbiasa berbuat demikian.”
“Terserah kepadamu. Apakah kau masih akan tetap berbuat demikian atau tidak. Jika kau masih tetap akan membunuh siapa pun termasuk kami, maka kami pun dapat berbuat serupa. Karena kami tahu, orang-orangmu bukanlah prajurit-prajurit yang mampu mengimbangi kemampuan kami.”
“Sebagian kau benar. Tetapi sebagian salah. Bagaimanapun tinggi ilmumu, namun jumlah yang berlipat ganda akan dapat menentukan akhir sebuah perkelahian.”
“Jadi kau tetap bersikap demikian.”
“Bukan maksudku berkata seperti itu. Aku akan memikirkannya. Tetapi sementara ini, aku harus dapat mengambil sikap terhadap kalian.”
“Itu terserah kepadamu. Tetapi aku akan tetap menggenggam senjata ini.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya nampak di pelupuk matanya, apa yang pernah dilakukannya selama ia berada di padukuhan itu.
Peristiwa demi peristiwa, seakan-akan baru saja terjadi dua tiga hari yang lalu.
“Semuanya seolah-olah terjadi diluar sadarku.” berkata Ki Buyut itu.
“Bagaimana kau dapat menjadi Buyut di padukuhan ini?” bertanya Tapak Lamba.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya orang-orangnya yang berdiri dengan gelisah di pinggir halaman, se¬dang ketiga kawan Tapak Lamba termangu-mangu di depan regol.
“Memang sebuah ceritera yang menarik.” berkata Ki Buyut, “Semula aku memang tidak bermimpi untuk menjadi Buyut disini.”
“Apakah Buyut yang lama atau keturunannya yang berhak telah kau bunuh pula?”
“Pertanyaanmu membuat aku berdebar-debar.”
“Jika demikian, sesungguhnya kau telah melakukannya.”
“Bukan begitu. Aku tidak membunuh Ki Buyut yang lama atau keturunannya yang berhak. Aku justru telah berjasa kepadanya, dan aku diambilnya menjadi menantunya.”
Tapak Lamba mengerutkan keningnya.
“Aku telah membunuh seorang laki-laki yang ingin merampas anak gadis Ki Buyut itu. Karena itulah maka aku mendapat kesempatan yang baik dan karena aku adalah menantunya, maka aku telah menggantikan kedudukannya.”
“Setelah Ki Buyut meninggal?”
“Tidak. Ki Buyut menyerahkan jabatan itu karena ia sudah tua dan tidak sanggup lagi melakukan tugasnya.”
“Dan anaknya masih tetap menjadi isterimu?”
“Ya.”
“Hatinya tentu tersiksa jika ia tahu apa yang telah kau lakukan.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Nampak kekecewaan membayang diwajahnya. Sambil memandang kekejauhan ia berkata, “Beberapa kali kau salah tebak.”
“Jadi, bagaimanakah yang sebenarnya?”
“Isteriku senang sekali melihat perbuatanku.”
“He.”
“Kau akan mengenalnya nanti. Kadang-kadang ia berbuat lebih gila daripadaku. Ia memilih korbannya dan cara yang paling disukai untuk membunuh korban itu.”
“Gila. He, apakah kau berkata sebenarnya?”
“Aku berkata sebenarnya. Ia adalah pembunuh yang jarang dicari duanya. Bahkan diantara seribu laki-laki sekalipun.”
“Bagaimana hal itu terjadi?”
Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Jawabnya , “Aku tidak tahu. Aku jumpai perempuan itu sudah dalam sifatnya yang demikian. Ia mengagumiku setelah aku berhasil membunuh laki-laki yang paling ditakuti dipadukuhan ini.”
“Yang mula-mula dikagumi oleh perempuan itu?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Kali ini kau menebak tepat. Kami memang sedang bersaing. Meskipun umurku lebih tua, namun ternyata aku masih lebih kuat daripadanya. Apalagi kemudian aku dapat memberinya kepuasan dengan memberikan korban-korban yang dapat diperlakukan menurut kehendaknya.”
“Gila.” tiba-tiba saja Tapak Lamba menggeram, “Aku tidak percaya. Sejak dahulu kau selalu membuat ceritera khayal yang mengerikan. Dan ceritera-ceritera khayal itulah agaknya yang telah membuatmu menjadi liar dan buas. Apalagi setelah kau mendapat kesempatan di padukuhan ini. Maka ceritera khayal yang bergabung dengan dendam dan sakit hati itu telah kau ujudkan. Aku tidak pernah dapat membayangkan perempuan seperti yang kau katakan itu.”
“Kali ini aku tidak sedang berkhayal. Aku berkata sebenarnya. Nanti kau akan dapat berkenalan dengan perempuan itu. Tetapi jangan terkejut jika tiba-tiba ia meraba kulitmu atau salah seorang kawanmu sambil bergumam, “Alangkah bagusnya kulit ini.”
“Apa maksunnya dengan kata-kata itu?”
“Ia menginginkan kulit itu untuk membuat barbagai macam barang yang disenanginya. Mungkin alas tempat duduk, atau hiasan yang akan dilekatkan pada dinding dan barangkkali sebuah selubung songsong atau benda-benda yang dikeramatkannya.”
“Gila. Itu lebih gila lagi. Maksudmu, ia sampai hati menguliti korbannya seperti menguliti seekor lembu?”
Ki Buyut mengangguk.
“Alangkah buasnya. Kebuasannya sesuai dengan kebuasanmu.” Tapak Lamba berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku tidak percaya. Aku tidak percaya semua ceriteramu. Nah, jika benar, dimana perempuan itu. Panggil ia kemari.”
“Jangan sekarang. Ia baru sibuk di belakang. Jika ia marah, akibatnya akan menggelisahkan padukuhan ini.”
“Kenapa?”
“Ia harus membunuh. Jika tidak ada orang asing yang akan dibunuhnya, maka ia mencari korbannya diantara penduduk sendiri.”
Tapak Lamba memandang sorot mata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu. Dengan nada yang datar ia berdesis, “Apakah kau sudah gila dan mengkhayalkan dunia yang paling biadab?”
Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia menebarkan pandangan matanya keseluruh halaman. Ia melihat pengawalnya menjadi sangat gelisah seperti kawan-kawan Tapak Lamba yang berdiri di regol.
Sejenak kemudian ia pun berkata, “Aku sama sekali tidak gila. Tetapi jika tidak ada perubahan apa pun di dalam tata kehidupanku, maka aku sebenarnya akan dapat menjadi gila seperti yang kau katakan.”
Tapak Lamba menjadi semakin heran melihat mata Ki Buyut yang menjadi semakin buram. Seolah-olah ia melihat sebuah ruangan yang dalam dan penuh rahasia.
“Kau tentu tidak percaya. Apakah kau ingin berkenalan dengan isteriku?” bertanya Ki Buyut tiba-tiba.
“Dimana isterimu itu?”
“Marilah, kita pergi kebelakang. Ia berada disana.”
Tapak Lamba tersenyum pahit. Katanya, “Kau sudah mencoba untuk mengkhianati aku. Sudah aku katakan, aku tidak mau pergi ke bagian belakang rumahmu. Aku tahu, bagian belakang rumahmu ini penuh dengan alat-alat untuk membunuh. Membunuh dengan cara yang baik dan membunuh dengan cara yang paling biadab.”
“Kau selalu bercuriga. Maksudku, aku ingin mempertemukan kau dengan isteriku.”
“Suruh isterimu kemari. Dari sorot matanya dan dari tutur katanya, aku akan dapat melihat, apakah ceriteramu itu benar atau sekedar sebuah khayalanmu saja.”
Mata Ki Buyut itu tiba-tiba menjadi aneh. Hitam matanya bagaikan mengambang, sementara bibirnya mulai bergerak-gerak tidak menentu.
Tapak Lamba memandanginya saja dengan penuh kewaspadaan. Rasa-rasanya kawannya itu memang mengalami perubahan tata kehidupan yang dipengaruhi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya.
“Tetapi mungkin juga karena gejolak perasaan dendam yang tiada tersalurkan sejak ia meninggalkan kota raja dan bersembunyi di padukuhan terpencil ini.” berkata Tapak Lamba kemudian kepada diri sendiri.
“He.” tiba-tiba Ki Buyut itu berdesis, “Kau benar-benar tidak mau pergi ke belakang?”
“Sunggar Watang.” desis Tapak Lamba kemudian, “Jangan kau turutkan perasaan gilamu itu. Ingat, bahwa sesuatu hanya dapat dilakukan dengan perhitungan yang matang. Kau aku anggap saudara tua didalam banyak hal. Tetapi jika kau menjadi gila, sudah tentu aku tidak akan dapat mendengarkan kata-katamu lagi.”
Ki Buyut bernama Sunggar Watang, tetapi yang lebih senang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu masih saja membayangkan sesuatu yang tidak sewajarnya. Namun nampaknya ia berusaha untuk menguasai dirinya dan bertahan pula kesadarannya.
“Tolong, tolonglah aku.” ia kemudian berdesis, “Di mana sebenarnya aku sekarang berdiri? Apakah aku benar-benar sudah gila?”
“Kakang Sunggar Watang.” Tapak Lamba berkata perlahan-lahan sambil bergeser maju, “Jangan terlalu banyak membebani dirimu dengan berbagai macam perasaan. Mungkin kau dan aku mempunyai beban perasaan yang sama. Tetapi aku tidak pernah benar-benar tenggelam dalam dunia yang tidak berkesadaran. Memang pernah hampir saja aku membunuh dua orang anak muda tanpa perhitungan. Tetapi untunglah bahwa aku bertemu dengan Linggadadi, adik Linggapati, sehingga niat itu urung karenanya.”
“He, kau sebut-sebut nama Linggapati?”
“Ya, kenapa?”
Ki Buyut memegangi keningnya sambil menundukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku bingung sekali. Nama itu pernah aku dengar.”
“Dengarlah kata-kataku. He, kakang Sunggar Watang. Apakah kau benar-benar beristeri di sini?”
“Ya. Aku benar-benar beristeri disini. Dan isteriku itulah yang membuat aku gila dan buas seperti yang kau lihat sekarang.”
“Kau mulai mengigau lagi.”
“Aku tidak mengigau.” tiba-tiba Ki Buyut itu berteriak, “Kau akan berkenalan dengan isteriku. Tetapi setiap orang yang pernah melihat isteriku tentu akan mati. Ia menuntut kematian setiap orang. Apalagi sudah beberapa hari tidak seorang pun yang dibunuhnya di rumah ini.”
Tetapi Tapak Lamba menggelengkan kepalanya, “Aku tidak percaya. Kegilaanmulah yang telah membuat gambaran serupa itu.”
“Gila, gila. Jika kau tidak percaya, kenapa kau tidak mau pergi menemuinya dan mencoba merubah sikapnya itu. O, ia akan dengan gembira menunjuk kulit wajahmu yang aneh dan minta kepadaku, agar kau dipancung dihadapannya dan menyimpan wajahnya sebagai topeng yang sangat menarik.”
“Ingat Ki Buyut, aku masih membawa senjata. Dan ingat, bahwa aku bukan seekor anjing yang dapat kau kelabui dengan sepotong tulang.”
“O, gila, gila. Aku akan memanggil isteriku kemari. Tetapi jika ia minta kau dikuliti, sama sekali bukan salahku.”
Tapak Lamba menjadi berdebar-debar. Ia termangu-mangu sejenak ketika ia kemudian melihat Ki Buyut itu berdiri dan dengan tergesa-gesa meninggalkan pendapa masuk ke ruang dalam.
Dengan dada yang berdebar-debar Tapak Lamba memandang ketiga kawannya yang masih berdiri dipintu. Agaknya mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi.
“Mereka bukan pengecut pula.” desis Tapak Lamba di dalam hati, “Agaknya mereka pun akan menunggu meskipun akibatnya dapat berbahaya sekali.”
Beberapa saat Ki Buyut masih tetap berada di dalam rumahnya. Tidak ada pembicaraan yang terdengar. Agaknya isterinya berada di bagian belakang rumah Ki Buyut yang besar itu.
Hampir saja Tapak Lamba kehilangan kesabaran. Apalagi ketika ia melihat orang-orang yang berada di regol itu memberikan isyarat kepadanya, agar ia meninggalkan tempatnya.
“Sebaiknya aku memang pergi saja dari rumah orang gila ini.” katanya di dalam hati. Sekilas ia memandang orang-orang Ki Buyut yang berdiri di tepi halaman melekat dinding batu.
“Apakah yang akan mereka lakukan jika aku meninggalkan tempat ini?” pertanyaan itu timbul di dalam hati Tapak Lamba.
Namun dalam pada itu, selagi ia sudah bersiap-siap untuk turun ke halaman dan meninggalkan rumah Ki Buyut itu, tiba-tiba ia mendengar suara di dalam rumah. Suara seorang perempuan.
“Agaknya itulah isterinya.” berkata Tapak Lamba kepada diri sendiri.
Sejenak kemudian Tapak Lamba terkejut bukan buatan. Yang muncul di pintu adalah Ki Buyut Kidang Pengasih yang mendukung seorang perempuan yang agaknya cacat pada kakinya. Lumpuh.
Namun dalam pada itu, terasa bulu-bulu Tapak Lamba me¬remang. Wajah perempuan itu ternyata wajah yang nampaknya sangat bengis dan kejam.
“Jadi, agaknya Sunggar Watang tidak berbohong.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya.
Ketika kemudian Ki Buyut meletakkan isterinya di atas tikar di pendapa, perempuan itu menggeram, “Jadi orang inilah yang telah memaksa aku keluar ke pendapa?”
“Ya.” sahut Ki Buyut, “Ia adalah sahabatku sejak aku berada di Singasari.”
“Persetan.” jawabnya. Sejenak perempuan itu memandang wajah Tapak Lamba sehingga terasa dada Tapak Lamba bagaikan digelitik oleh perasaan aneh. Ia belum pernah melihat wajah seorang perempuan sebengis perempuan itu.
“Apa sebabnya kawanmu ini tidak kau bawa ke belakang saja?” bertanya perempuan itu.
“Ia memilih tempat ini.”
“Gila, bukankah kita yang mempunyai rumah ini?”
“Dan bukankah kau sudah bersedia menemuinya disini?”
Perempuan itu membelalakkan matanya. Namun kemudian katanya, “Memang tidak ada bedanya. Di sini pun aku dapat menilai ujudnya.”
Tapak Lamba masih tetap termangu-mangu. Tetapi rasa-rasanya dadanya bergetar ketika tiba-tiba saja ia melihat perempuan itu tersenyum. Tersenyum ramah kepadanya.....
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar