*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 29-01*
Karya. : SH Mintardja
“Setan alas!” teriak Empu Baladatu, “hentikan mereka. Aku akan memasuki padepokan itu dan membuatnya menjadi karang abang.”
“Kita masuki bersama-sama” teriak Linggadadi.
Demikianlah sebagian dari pasukan itu telah bersiap-siap menyongsong serangan yang datang justru dari luar padepokan, sedangkan Empu Baladatu dan Linggadadi langsung memasuki padepokan itu dengan senjata di tangan, d bawah benturan senjata dari pasukannya yang telah mendahuluinya.
Di dalam dinding padepokan, Empu Sanggadaru telah meunggu. Di dalam cahaya bulan, ia langsung dapat melihat adiknya yang kemudian berdiri di atas dinding sambil berteriak, “Inilah Baladatu, penguasa ilmu maha sakti.”
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Kini ia suda melihat sendiri, bahwa benar-benar adiknya telah datang dengan senjata di tangan.
“Apakah salahku” sekali lagi ia mengeluh di dalam hati, “aku memang sudah membunuh pemimpin gerombolan Serigala Putih. Tetapi kenapa adikku sendiri kini datang bersama gerombolan itu untuk menuntut balas?”
Tetapi Empu Sanggadaru tidak dapat mengucapkan pertanyaan itu. Apalagi sudah ternyata, bahwa pertempuran yang sengit sudah mulai berkobar.
“Kakang Empu Sanggadaru” terdengar suara Baladatu memekik tinggi, “apakah, kau mendengar suaraku kakang?”
Empu Sanggadaru ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian bergeser ke cahaya bulan yang bulat di langit. Dengan ragu-ragu iapun kemudian menjawab, “Aku disini Baladatu.”
“Nah” teriak Baladatu, “jadi kau mendengar suaraku kakang?”
“Aku mendengar “
“Sekarang, jawablah pertanyaanku.”
Empu Sanggadaru termangu-mangu. Ia melihat beberapa orang telah terlibat di dalam pertempuran. Ternyata bahwa serangan anak buahnya yang tiba-tiba telah menguntungkan pertahanannya seperti pasukannya yang sedang bertempur melawan pecahan pasukan Empu Baladatu.
“Kakang, apakah kakang mengakui kekuasaanku atas semua kekuatan diluar istana Singasari?”
“Aku tidak tahu maksudmu Baladatu?”
“Maksudku, kau harus tunduk kepada semua perintahku meskipun kau saudara tuaku. Aku adalah penguasa tunggal di seluruh daerah Singasari di luar kekuasaan kedua anak-anak itu, yang pada saatnya akan hancur juga.”
“Itu artinya kau telah menyusun kekuatan untuk membayangi kekuasaan yang sebenarnya.”
“Itu memang maksudku. Aku datang dengan kekuatan dari Mahibit yang sesuai dengan sikap dan pendirianku meskipun dalam beberapa hal masih harus dibicarakan.”
Empu Sanggadaru termangu-mangu. Namun jawabnya, “Lihatlah. Mayat mulai terbaring dihalaman ini. Apakah kau dapat menghentikan pertempuran? Kita akan berbicara. Tetapi tidak diganggu oleh dentang senjata seperti sekarang ini.”
“Kita berbicara dikancah peperangan. Itu menyenangkan sekali. Aku akan mengadakan korban darah terbesar yang pernah aku selenggarakan. Nah, jawablah pertanyaanku sebelum aku meloncat turun dan menghancurkan padepokanmu sehingga menjadi karang abang.”
“Jangan kehilangan nalar Baladatu. Turunlah. Hentikan pertempuran ini. Kita akan berbicara.”
“Jawablah. Atau, menyerahlah tanpa syarat. Baru kira berbicara setelah semua senjatamu dan anak buahmu dikumpulkan.”
“Baladatu” potong Empu Sanggadaru, “aku adalah saudara tuamu. Kenapa kau telah terjerumus ke dalam sikap gilamu itu?”
“Tidak ada pilihan lain kakang.”
“Tidak. Lihat pasukanmu. Tengoklah keluar. Aku tidak sendiri.”
Empu Baladatu tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Kerika ia berpaling, dilihatnya pasukannya telah terlibat dalam pertempuran yang riuh. Ternyata jumlah pasukan Empu Sanggadaru cukup banyak meskipun tidak sebanyak pasukannya yang di tambah dengan orang-orang Mahibit. Bahkan di dalam pasukan Empu Sanggadaru itu terdapat beberapa orang cantrik yang memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan orang orangnya dan orang-orang Mahibit. Mereka bertempur seperti seorang prajurit pilihan.
Sebenarnyalah bahwa di antara mereka adalah prajurit-prajurit Singasari dalam kedudukannya sebagai cantrik dari padepokan itu, bersama cantrik-cantrik pilihan yang memiliki ilmu yang cukup memadai.
“Apakah katamu Baladatu?”.
“Persetan” Linggadadi lah yang berteriak, “aku tidak telaten melihat pembicaraan yang berkepanjangan itu. Aku akan turun dan membunuh Empu Sanggadaru.”
“Siapa kau?”Empu Sanggadaru bertanya
“Aku adalah Linggadadi pembunuh orang berilmu hitam.”
Jawaban itu mengejutkan, hingga di luar sadarnya Empu Sanggadaru bertanya., “Kenapa kau kini berada di antara orang berilmu hitam. Dan ternyata pemimpin dari mereka yang berilmu hitam itu adalah adikku sendiri.”
“Kami sejalan. Kami menemukan persesuaian sekarang ini” jawab Linggadadi
“Kalau begitu jangan sebut namamu dengan gelar pembunuh orang berilmu hitam, karena di sini ada orang yang sebenarnya lebib berhak disebut pembunuh orang berilmu hitam.”
“He, siapa orang itu?”teriak Linggadadi
Dan jawab Empu Sanggadaru pun mengejutkan orang-orang berilmu hitam itu. Katanya, “Namanya tentu sudah kalian dengar, Mahisa Bungalan.”
Sejenak Empu Baladatu, Linggadadi dan beberapa orang yang sempat mendengar nama itu termangu-mangu- Namun Empu Sanggadaru menegaskan “Lihatlah. Orang yang berdiri diam tanpa sikap sombong itulah yang bernama Mahisa Bungalan, putra Mahendra. Ia sudah siap menunggu kalian di sini bersamaku.”
“Persetan” geram Linggadadi, “aku menemukan lawan yang sebenarnya sekarang.”
Suasana medan yang semakin sengit itu menegang sejenak. Para pemimpin dari kedua belah pihak seolah-olah masih sedang menilai, apa yang mereka hadapi.
Namun sejenak kemudian terdengar Linggadadi berteriak nyaring, “Persetan, siapakah yang pantas menyebut dirinya pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Tetapi terdengar jawaban Empu Sanggadaru, “Dan kau sekarang sudah berpihak kepadanya, “
Linggadadi tidak menjawah. Iapun kemudian meloncat turun dan langsung berlari mendapatkan Mahisa Bungalan yang sudah siap menyongsongnya.
Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak. Kedua orang itu memiliki nama yang sama-sama dikagumi karena mereka adalah pembunuh-pembunuh orang berilmu hitam. Namun kini mereka berdua telah bertemu di arena pertempuran sebagai lawan
Sementara itu, Empu Baladatu pun masih berteriak lagi, “Kakang Sanggadaru, apakah kakang masih sempat berpikir untuk menyerah saja dan berpihak kepadaku”
“Baladatu” jawab Empu Sanggadaru, “jangan mimpi. Akulah yang harus memperingatkanmu. Ilmu hitammu itu telah menyesatkan akalmu, bahwa kau sudah berani melawan saudara tuamu sendiri tanpa alasan. Aku tidak tahu, apakah salahku terhadapmu. Mungkin aku kau anggap bersalah terhadap ilmu hitammu, tetapi tidak kepadamu sendiri.”
“Tidak ada persoalan lain yang aku bicarakan kakang Kau menyerah atau tidak?”
“Tidak Baladatu. Meskipun kau Mampu membunuh aku sekalipun, namun aku akan tetap pada pendirianku dan bahkan dengan harapan, kau akan dapat menyadari kesalahanmu. Agaknya bulan bulat dilangit telah membuat kau menjadi mata gelap dan siap untuk menyerahkan korban terbesar sesuai dengan ilmumu.”
Empu Baladatu tidak ingin berbicara lagi. Ternyata kakaknya benar-benar tidak mau menyerah, sehingga karena itu, maka ia akan segera melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.
Sejenak kemudian Empu Baladatu pun segera meloncat turun dan menyusup di antara pertempuran yang menjadi semakin seru.
Sementara itu, Linggadadi telah terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Mahisa Bungalan. Ternyata dugaan Linggadadi bahwa tidak ada orang yang dapat menyamainya selain orang-orang terpenting di istana, adalah keliru. Yang dihadapi itu adalah seorang anak muda yang pada benturan pertama telah memperingatkan kepada Linggadadi, bahwa ia kini berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh.
Karena itulah, maka Linggadadi pun menjadi semakin berhati-hati. Ia surut beberapa langkah, sengaja untuk mengambil tempat yang lebih luas, agar ia dapat bertempur melawan anak muda yang juga disebut pembunuh orang berilmu hitam tanpa diganggu.
Mahisa Bungalan pun agaknya memakluminya. Itulah sebabnya maka ia pun mengikuti lawannya meskipun ia pun tidak kehilangan kewaspadaan.
Di tempat yang agak terpisah, maka keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya mencoba untuk mengetahui kelemahan lawannya sebelum mereka masing-masing menentukan sikap dan melepaskan ilmu mereka yang tertinggi.
Sementara itu, pertempuran itupun terjadi dengan dahsyatnya. Arena pertempuran antara orang-orang di padepokan Empu Sanggadaru melawan pasukan gabungan yang dipimpin langsung oleh Empu Baladatu itu telah terpecah menjadi tiga.
Yang pertama terjadi beberapa puluh tonggak dari padepokan, karena pecahan pasukan Empu Baladatu yang berusaha memancing perhatian padepokan lawannya. Tetapi yang justru telah terjebak dalam pertempuran tersendiri tanpa mengganggu pasukan lawan di padepokannya.
Sehagian lagi adalah mereka yang sudah terlanjur melompat memasuki dinding halaman, sedangkan yang lain bertempur di luar padepokan melawan pasukan yang datang dari padukuhan di luar padepokan yang dipimpin oleh para cantrik, namun yang di antara mereka sebenarnya adalah prajurit-prajurit Singasari.
Sedang yang sebagian, yang berada di dalam dinding padepokan, segera merasa, betapa beratnya tekanan lawan, karena yang berada di padepokan itu sebagian terbesar adalah para prajurit, para cantrik yang terlatih baik dan orang-orang yang memang benar-benar dipersiapkan. Apalagi setelah ternyata bahwa pemimpin-pemimpin mereka terlibat dalam pertempuran yang seolah-olah telah mengikat segenap perhatian mereka.
Empu Baladatu telah mulai menyerang Empu Sanggadaru yang ragu-ragu. Tetapi karena Empu Baladatu benar-benar berusaha membunuh kakaknya, maka Empu Sanggadaru pun lambat laun telah bertempur sepenuh tenaganya pula meskipun setiap kali ia masih selalu dibebani pertanyaan, “Kenapa Baladatu telah benar-benar menyerang aku?”
Namun dalam pada itu, Empu Sanggadaru masih juga mengucap syukur, bahwa prajurit Sngasari telah disentuh oleh kecurigaan bahwa pada suatu saat orang berilmu hitam itu akan menyerang padepokan Empu Sanggadaru, karena menurut pertimbangan para prajurit, tidak ada sasaran lain yang akan dilandanya selain padepokan kakaknya. Apalagi setelah para petugas sandi melihat persiapan yang meningkat pada padepokan orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang. Namun para prajurit sandi sama sekali tidak mempertimbangkan kekuatan yang datang dari Mahihit.
Berbeda dengan imbangan pertempuran yang terjadi di dalam dinding padepokan, maka di luar dinding orang-orang dari padepokan Macan Kumbang, Serigala Putih dan orang-orang Mahibit berhasil menahan serangan yang datang justru dari luar lingkungan mereka. Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada, mereka berusaha untuk menghalau lawan mereka yang menyerang bagaikan ombak bergulung-gulung di pantai. Namun orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit berusaha untuk mempertahankan diri sekuat-kuatnya.
Berkurangnya pasukan gabungan yang dipimpin oleh Empu Baladatu pada benturan yang pertama, seperti juga yang terjadi beberapa puluh tonggak dari padepokan, mempunyai pengaruh yang besar bagi irnbangan kekuatan.
Namun dalam pada itu, pasukan Empu Baladatu di luar padepokan ternyata masih berhasil menekan lawan mereka kuat-kuat. Untunglah bahwa mereka berada di tempat terbuka, sehingga para prajurit dan para cantrik yang terlatih baik sempat memanfaatkan arena untuk mengurangi tekanan lawan.
Mereka bertempur sambil berlari-larian. Sekali-kali mereka menghilang dibalik gerumbul-gerumbul dan digelapnya bayangan dedaunan. Namun tiba-tiba mereka muncul sambil menyerang ditempat lain dengan dahsyatnya.
Tata gerak para prajurit dan para cantrik yang sudah terlatih itu untuk beberapa saat lamanya dapat menimbulkan kebingungan di antara lawan. Namun sesaat kemudian, maka mulailah warna-warna yang sebenarnya nampak didalam arena perkelahian itu.
Orang-orang yang berbekal ilmu hitam, tidak lagi dapat mengekang diri. Mereka harus cepat menyelesaikan pertempuran itu sehingga mereka sempat melakukan upacara korban terbesar yang pernah mereka lakukan.
Itulah sebabnya, maka beberapa orang di antara mereka, mulailah dengan tata gerak yang mengerikan. Satu dua dari orang-orang padepokan Serigala Putih dan Macam Kumbang yang telah ikut serta menyadap jenis ilmu hitam yang dibawa oleh Empu Baladatu, apalagi mereka yang memang berasal dari padepokannya, telah mulai dengan gerak berputarnya.
Namun orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru telah mendapat petunjuk, bagaimana mereka harus menghadapi lawan dalam tata gerak yang mengerikan itu. Mereka harus berada dalam kelompok-kelompok kecil yang setiap saat harus berusaha memotong tata gerak yang melingkar, dan kemudian mematuk menyambar-nyambar.
Beberapa orang prajurit dan cantrik yang berada di luar dinding, segera berusaha mengatasi setiap keadaan.
Namun demikian, ternyata bahwa jumlah pasukan Empu Baladatu yang berada di luar memang lebih banyak, sehingga karena itu, maka merekapun nampaknya akan segera dapat menguasai arena.
Dua arena yang terpisah dengan tidak sengaja itu, tidak dapat saling mempengaruhi. Orang-orang yang bertempur di luar dinding tidak dapat mengetahui apa yang telah terjadi didalam dinding, dan sebaliknya
Karena itulah maka keseimbangan pertempuran dikedua tempat itiu justru berlawanan
Namun demikian, agaknya Empu Baladatu yang melihat bahwa pasukannya mulai terdesak di dalam dinding padepokan, telah memberikan isyarat kepada seorang pengawalnya untuk mencari hubungan dengan mereka yang berada di luar padepokan.
“Carilah keseimbangan. Jumlah di luar dinding tentu masih cukup banyak.”teriak Empu Baladatu.
“Orang-orangku juga banyak di luar” Empu Sanggardaru menyahut.
“Bohong. Aku tahu. orang-orangmu tidak banyak.” geram Empu Baladatu.
Empu Sanggadaru tidak menyahut. Ia mempertahankan dirinya sekuat-kuat dapat dilakukan. Namun akhirnya, Empu Sanggadaru tidak mau sekedar menjadi sasaran. Pada saat berikutnya, iapun mulai menyerang dengan segenap kemampuan.
“Kau harus menyadari kekeliruanmu Baladatu” geram Empu Sanggadaru.
“Menyerahlah teriak Empu Baladatu.”
Kakaknya tidak menyahut. Namun tata geraknya semakin lama menjadi semakin cepat.
Dalam pada itu, di regolpun telah terjadi perkelahian-perkelahian kecil. Beberapa orang telah berusaha memecahkan pintu dari luar. Tetapi mereka ternyata telah diterima dengan ujung senjata dari sisi pintu, karena para penjaga regol berusaha, untuk tidak menampakkan diri.
Tetapi pertempuran itu tidak terpadi terlalu lama. Para pengawal segera dapat mengakhiri tugas mereka. Sergapan yang tiba-tiba. seperti yang dilakukan di mana-mana oleh para prajurit dan para cantrik, memang memberikan banyak keuntungan.
Ketika lawan telah terbunuh, maka para pengawal regol itupun segera menentukan sikap. Mereka segera meninggalkan dua orang kawannya untuk sekedar mengawasi regol yang rusak itu, sementara yang lain berusaha mencari bubungan dengan arena yang berada didalam dinding halaman.
Sementara itu maka pengawal Empu Baladatu telah memerintahkan beberapa orang yang berada diluar regol untuk meloncat masuk. Mereka harus membantu kawan-kawannya yang mengalami kesulitan dibagian dalam dinding padepokan itu.
“Cepat” perintah pengawal itu, “dengan demikian tugas kita akan segera selesai.”
Dalam pada itu, Linggadadi pun sedang bertempur dengan sengitnya melawan Mahisa Bungalan. Keduanya mempunyai kemampuan melampaui kemampuan kebanyakan orang.
Linggadadi yang datang dari Mahibit itu merasa dirinya orang yang tidak terkalahkan, selain oleh orang-orang istana yang namanya sudah lama mengusai Singasari. Ia tidak menyangka bahwa anak Mahendra ini pun mempunyai kemampuan yang tidak ada taranya
Dengan sepenuh tenaga Linggadadi menyerang Mahisa Bungalan. Senjatanya terayun mendatar setinggi lambung. Namun Mahisa Bungalan sempat meloncat surut menghindari serangan lawannya.
Linggadadi tidak membiarkannya. Selangkah ia meloncat maju. Sekali lagi ia siap mengayunkan senjata mengarah kekepala lawannya.
Mahisa Bungalan sempat mengelak. Dengan tangkas ia merendah. sehingga senjata lawannya terbang rendah di atas kepalanya.
Tetapi Mahisa Bungalami terkejut bahwa dalam pada itu, Linggadadi pun telah menyerangnya pula. Kakinya terjulur lurus ke wajahnya.
Dengan tergesa-gesa Mahisa Bungalan menghindarinya. Sekali ia berguling ke belakang. kemudian melenting dengan cepatnya, tegak di atas kedua kakinya
Pada saat yang bersamaan serangan lawannya telah mengejarnya. Senjata Linggadadi mematuk dada Mahisa Bungalan yang nampak terbuka.
Mahisa Bungalan terdesak ke samping. la harus meloncat sambil memiringkm tubuhnya. Namun ia mulai memperhitungkan serangan lawannya yang bakal datang.
Ketika senjata lawannya itu kemudian bergerak mendatar, maka Mahisa Bungalan pun menjatuhkan dirinya. Namun dengan perhitungan yang masak, ia bergeser pada punggungnya dan sebuah serangan kaki yang keras telah menghantam lutut Linggadadi.
Serangan itu telah mengejutkan lawannya. Namun dengan serta merta pula Linggadadi telah terpelanting dengan derasnya jatuh berguling di atas tanah.
Tetapi Linggadadi menyadari keadaannya. la masih sempat melihat Mahisa Bungalan meloncat berdiri dan berusaha mengejarnya Karena itulah ia pun segera berusaha melenting berdiri dan dengan cepat mempersiapkan diri menghadapi serangan lawan berikutnya.
Pertempuran antara kedua orang itu menjadi samakin seru. Masing-masing telah mengerahkan kemampuannya untuk mengalahkan lawan. Namun keduanya Mampu bergerak secepat sikatan di rerumputan. Namun keduanya kadang-kadang menyerang dengan kekuatan sebesar tenaga gajah jantan.
Dalam pada itu, beberapa orang dari pasukan Empu Baladatu telah berusaha meloncati dinding padepokan. Mereka sudah siap untuk langsung menyerang pada loncatan pertamanya. Apalagi ketika mereka melihat, bahwa kawan-kawannya di bagian dalam itu memang telah terdesak oleh pasukan Empu Sanggadaru.
Dengan hadirnya sekelompok pasukan Empu Baladatu kedalam lingkungan halaman padepokan, maka keseimbangan pun menjadi herubah. Orang-orang padepokan Empu Sanggadaru mulai tertahan. Sekelompok orang-orang baru itupun segera melibatkan diri ke dalam pertempuran yang sengit di halaman itu.
Tetapi dengan demikian tekanan pada orang-orang padepokan Empu Sanggadaru yang berada di luar dinding padepokan menjadi berkurang. Bahkan para prajurit yang menjadi tulang punggung kekuatan di luar padepokan itu bersama para cantrik merasakan. bahwa mereka menjadi agak longgar dan sempar bernafas lagi.
Meskipun demikian, jumlah orang-orang yang datang menyerang itu memang lebih hanyak. Meskipun pada benturan yang pertama beberapa orang lawan telah roboh karena anak panah yang menghunjam dada, namun ternyata mereka masib mempunyai kekuatan yang cukup untuk menekan pasukan Empu Sanggadaru.
“Cepat, hancurkan” terdengar suara Empu Baladatu mengumandang, “kemudian kalian sempat menolong.kawan-kawan kalian yang telah mendahului kalian menyerang lewat arah depan. Kemudian kita akan melakukan upacara korban terbesar dalam sejarah Ilmu kita yang maha besar”
Empu Sanggadaru menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat ingkar bahwa adiknya telah membawa pasukan yang lebih banyak Sehingga dengan demikian, maka anak buahnya telah terdesak semakin berat.
“Pasukan yang dihadapan pintu gerbang itu pun mengalami kesulitan serupa” berkata Empu Sanggadaru di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka iapun mulai dijamah oleh perasaan cemas tentang anak buahnya. Beberapa kali ia merasakan desakan yang sangat sehingga pasukannya mulai bergeser ketengah.
“Apakah padepokan ini tidak akan tertolong lagi”desisnya
Sekilas dilihatnya seorang prajurit dalam kedudukannya sebagai seorang cantrik sedang bertempur sekuat tenaganya Dipundaknya meleleh warna merah dari luka yang tergores di kulitnya.
Empu Sanggadaru menjadi terharu. Prajurit-prajurit itu telah bertempur mempertahankan nyawanya, seperti mereka yang memang sedang mempertahankan padepokannya.
Namun dengan demikian, Empu Sanggadaru telah menjadi semakin panas. Hubungan yang selama itu mengikatnya sebagai kakak beradik dengan Empu Baladatu. menjadi semakin kabur.
Meskipun ia masih tetap berusaha untuk menganggap bahwa yang sedang dihadapi itu adalah saudaranya sendiri yang sedang kehilangan akal, dan yang baginya masih tersandang kuwajiban sebagai saudara tua untuk memperingatkannya, namun keadaan yang berkembang telah membuat darahnya bagaikan mendidih.
Karena itulah, maka semakin lama maka tata geraknya pun. rasa-rasanya menjadi semakin cepat- Kakinya semakin ringan dan tangannya bagaikan berputaran seperti baling-baling.
Empu Baladatu merasa bahwa kakaknya telah sampai ke puncak ilmunya. Betapapun ia berusaha, namun terasa betapa berat melawan Empu Sanggadaru yang sedang dibakar oleh kemarahannya.
Perkelahian antara kedua orang kakak beradik itupun menjadi semakin sengit. Keduanya memiliki kelebihan, tetapi juga kelemahan.
Empu Sanggadaru yang pernah mendapat keterangan tentang ilmu-ilmu hitam itu pun tidak terkejut lagi melihat Empu Baladatu berusaha untuk melepaskan puncak ilmunya. Tetapi ternyata bahwa Empu Baladatu tidak banyak mempunyai kesempatan. Empu Sanggadaru dengan gerak yang menghentak, selalu memotong arah putaran Empu Baladatu. Dan bahkan kadang-kadang telah berbasil mendesaknya dalam kebingungan.
“Setan alas” umpat Empu Baladatu di dalam hatinya, “dimanakah kakang Sanggadaru menghisap ilmu demit ini.”
Namun bagaimanapun juga, Empu Baladatu tidak segera mampu menguasai lawannya yang agaknya memiliki pengalaman yang cukup luas pula. Apalagi sebagai seorang pemburu yang biasa hidup didalam lebatnya hutan-hutan, Empu Sanggadaru memiliki kekuatan jasmaniah yang pada dasarnya melampaui kekuatan Empu Baladatu.
Sementara itu, Linggadadi pun menjadi semakin marah. Kehadiran Mahisa Bungalan di tempat itu benar-benar tidak diduganya. Apalagi ketika keduanya sudah bertempur sampai ke puncak ilmu, ternyata bahwa Mahisa Bungalan bukannya anak-anak yang hanya Mampu menyombongkan diri dengan menyebut dirinya dengan gelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.
Dalam pada itu, selagi di padepokan itu terjadi pertempuran yang dahsyat, maka beberapa tonggak diarah depan padepokan itupun sedang terjadi pertempuran yang sengit. Baik Empu Sanggadaru maupun Empu Baladatu telah mencemaskan masing-masing karena ketika penghubung-penghubung Empu Baladatu sempat menyaksikan pertempuran itu maka keseimbangan yang sebenarnya masih belum dapat ditentukan.
Tetapi Empu Baladatu yang yakin bahwa pasukannya di padepokan Empu Sanggadaru itu akan segera dapat menguasai keadaan, telah siap untuk memerintahkan sebagian dari mereka, membantu kawan-kawannya yang sedang bertempur di luar padepokan itu.
Sebenarnyalah bahwa pasukan Empu Baladatu dipadepokan Itu telah berhasil menekan lawannya. Yang di dalam dinding dan yang berada di luar dinding. Meskipun banyak kemungkinan yang masih dapat terjadi, namun keadaan pasukan Empu Sanggadaru agaknya akan mengalami kesulitan. Hanya jika mereka menemukan kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan pada pasukan lawan, maka mereka akan dapat memenangkan pertempuran itu.
Tetapi lawan mereka, baik yang berasal dari padepokan Serigala Putih, Macan Kumbang maupun orang-orang Mahibit, telah menunjukkan kemampuan mereka yang tinggi. Mereka benar-benar telah dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran yang sengit. Hanya karena dipasukan Empu Sanggadaru terdapat sekelompok prajurit dan cantrik-cantrik yang terlatih sajalah, maka mereka dapat bertahan.
Namun dalam pada itu, pertempuran yang terjadi tidak terlalu jauh dihadapan regol itupun berlangsung dengan serunya. ternyata bahwa meskipun mula-mula jumlah pasukan gabungan dari Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit itu lebih banyak. namun pada sergapan yang pertama dengan lontaran-lontaran lembing dan kejutan-kejutan yang membingungkan, orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru itu berhasil mengejutkan dan kemudian mengguncangkan perasaan lawan. Ternyata bahwa pengaruh bahwa sergapan itu memang cukup besar. Beberapa orang di antara lawan langsung terbunuh, yang lain luka-luka dan selebihnya kebingungan. Meskipun kemudian merek berhasil menyesuaikan diri, jumlah mereka telah banyak berkurang.
Keadaan itulah yang telah menentukan akhir dari pertempuran itu. Pasukan Empu Baladatu itu ternyata tidak dapat mengatasi sergapan-sergapan berikutnya. Lawannya, orang-orang padepokan Empu Sanggadaru yang dipimpin oleh para prajurit dan beberapa orang cantrik yang terlatih itu, lambat laun berhasil menguasai keadaan. Meskipun lambat tetapi mereka berhasil mendesak sisa pasukan lawan. Jumlah orang-orang dari padepoka;n Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit itu memang masih lebih banyak. Tetapi mereka mengalami kesulitan karena medan itu seolah-olah langsung dikuasai oleh lawan yang terpencar dalam kelompok-kelompok kecil.
Meskipun beberapa kelompok-kelompok orang-orang berilmu hitam itu mencoba untuk menyusun lingkaran maut yang mengerikan itu, namun mereka kadang-kadang telah dikejutkan oleb kehadiran dua orang anak-anak muda yang tiba-tiba saja telah memotong lingkaran mereka. Namun yang sejenak kemudian keduanya telah meninggalkan lawannya untuk bertempur di sudut yang lain dari arena yang semakin meluas itu.
Dengan demikian, maka kedua anak muda itu seolah-olah telah berubah menjadi puluhan orang yang bergerak di seluruh arena. Dari ujung sampai keujung, orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang dari Mahibit telah dibingungkan oleh tara geraknya yang cepat dan tidak terkendali.
Karena itulah maka keseimbangan dari pertempuran itu semakin lama menjadi semakin jelas. Ujung senjata kedua anak muda itu selalu saja menjatuhkan korban di seluruh arena pertempuran.
Selain kedua anak muda itu, para prajurit pun memiliki kemampuan yang sulit untuk diimbangi oleh orang-orang Macan Kumbang, orang-orang Serigala Putih dan orang-orang Mahibit. Meskipun mereka telah menempa diri sebaik-baiknya, namun ternyata bahwa usaha mereka untuk bertahan, semakin lama menjadi semakin tipis. Beberapa orang yg mengalami luka-luka tertusuk lembing pada benturan pertama, sudah tidak Mampu lagi untuk bangkit karena darah yang terlampau banyak mengalir, sementara senjata orang-orang padepokan Empu Sanggadaru masih selalu menuntut korban demi korban.
Demikianlah maka desakan lawan tidak dapat dibendung lagi oleh orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit. Satu-satu korban berjatuhan terus-menerus, sementara arena masih selalu bergetar oleh teriakan dan keluhan yang panjang.
Setapak demi setapak, pertempuran itu mulai bergeser. Agaknya orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit berusaha mendekati padepokan.
“Orang-orang yang langsung memasuki padepokan itu tentu mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dari sisa orang-orang padepokan yang menyergap kami” berkata pemimpin pasukan yang terdesak itu, lalu, “sehingga dengan demikian kami akan mendapatkan bantuan dari mereka apabila arena kami dapat saling mendesak.”
Karena itulah maka pemimpin pasukan itupun segera memerintahkan kepada orang-orangnya, lewat mulut kemulut, agar mereka berusaha bergeser kepadepokan.
Perintah itu lambat sekali menjalarnya. Tetapi ternyata bahwa sebagian dari pasukan itu telah mendengar, sehingga merekapun segera berusaha menyesuaikan diri.
Dengan demikian maka gerak arena itupun menjadi semakin cepat, seolah-olah arena itu berputaran mendekati padepokan. Dengan harapan untuk mendapatkan bantuan, maka pemimpin pasukan Empu Baladatu itu berusaha untuk mempercepat geseran yang memang sudah bergerak itu.
Tetapi di padepokan, pertempuran pun masih belangsung dengan sengitnya. Meskipun pasukan Empu Baladatu memang berhasil menekan lawannya, di dalam dan diluar padepokan, tetapi para prajurit, para cantrik dan orang-orang lain dari padepokan Empu Sanggadaru masih bertempur dengan gigihnya.
Karena itulah maka mereka masih belum sempat mengirimkan bantuan bagi pasukanya yang terpisah.
Namun sebentar kemudian, mereka mulai mendengar suara riuh pertempuran itu semakin dekat. Bahkan kemudian terdengar seakan-akan dengan cepatnya bergeser ke sebelah dinding padepokan.
Sebenarnyalah bahwa pertempuran yang bergeser itu telah berada di sisi padepokan. Beberapa orang cantrik yang mendesak lawannya telah mencoba menahan agar geseran arena itu tidak masuk kcdalam padepokan.
Karena pintu regol yang telah rusak, maka para cantrik itupun telah bertempur langsung menahan orang-orang yang akan memasuki regol padepokan itu, sehingga karena tekanan yang kuat, maka arena itu bergeser ke samping, di luar dinding.
“Apakah mereka sudah menyelesaikan pertempuran itu” bertanya Empu Baladatu kepada pengawalnya.
Pengawal yang juga merupakan penghubung itupun kemudian mendapat perintah untuk mencari hubungan dengan pasukannya yang sedang dalam gerak mendekat itu.
Tetapi laporan yang kemudian diterima oleh Empu Baladatu telah membuatnya marah. Pasukan itu ternyata telah terdesak tidak Mampu lagi untuk memberikan perlawanan.
“Gila” teriak Empu Baladatu, “hancurkan mereka yang telah berhasil mendesak pasukanku.”
Perintah itupun segera sampai kepada pasukannya yang lain, yang berada di luar padepokan, sehingga sejenak kemudian maka kedua arena yang. berada di luar padepokan itu pun seakan-akan telah bergabung menjadi satu.
Dengan demikian, maka pasukan Empu Baladatu yang terdesak itu seakan-akan mendapat perlindungan dari induknya. Tetapi mereka telah banyak meninggalkan korban di antara kawan-kawannya. Baik dari padepokan Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang Mahibit.
Namun karena itulah, maka seolah-olah kekuatan di luar padepokan itu telah menimbulkan keseimbangan haru. Pasukan Baladatu yang semula menguasai arena, tiba-tiba telah berubah karena hadirnya kawannya yang justru telah terdesak. Seolah-olah dengan demikian, kekuatan kedua belah pihak justru menjadi seimbang.
Tetapi dalam keseimbangan itu, kedua anak muda yang memiliki beberapa kelebihan itu rasa-rasanya masih saja selalu mengganggu para pemimpin pasukan Empu Baladatu. Ia datang dan pergi dengan kecepatan yang sulit mereka imbangi. Ujung senjata mereka bergerak-gerak dengan dahsyatnya, seperti angin pusaran yang menjilat dari langit.
“Gila” geram pemimpin pasukan Empu Baladatu yang berada di luar padepokan itu. Tetapi ia tidak Mampu menghentikannya.
Sementara itu seakan-akan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat ruang getak yang semakin luas setelah dua. arena pertempuran di luar dinding padepokan itu bergabung. Namun agaknya sifat kekanak-anakan mereka masih saja melekat di hati meskipun mereka sedang berhadapan dengan bahaya yang sebenarnya.
Itulah sebabnya mereka masih saja menuruti kesenangan hati dan perasaan, seolah-olah mereka merasa seperti sepasang burung yang berterbangan dilangit. Di antara sekelompok semprang yang ketakutan.
Kedua anak muda itu ternyata telah benar-benar menimbulkan kemarahan pada Kiai Dulang yang berada di luar padepokan. Seakan-akan kedua anak-anak muda itu dapat bergerak leluasa tanpa seorang pun yang dapat menghalangi.
“Kita akan mengejarnya dan menangkapnya” desis Kiai Dulang, “kemanapun keduanya berlari, kita akan mengikutinya.”
Bersama tiga orang pengawal yang terpilih Kiai Dulang telah mempersiapkan sebuah kelompok kecil untuk menghentikan tingkah laku Mahisa Pukat dan Mahisa Murti.
“Kita akan mulai” berkata Kiai Dulang, “kita akan berlomba lari. Mungkin keduanya memiliki nafas yang lebih panjang karena keduanya pernah mengikuti latihan yang berat di padepokan ini. Latihan berjalan sehari penuh tanpa berhenti.”
“Tetapi kita tidak akan berlari-lari sehari penuh. Kita akan segera menghentikan keduanya dan mencincangnya sampai lumat.” sahut seorang pengawal yang berkumis dan ber janggut lebat.
“Marilah, kita harus segera mulai. Tidak sekedar berbicara saja” geram Kiai Dulang-
Keempat orang itu pun kemudian mempersiapkan diri khusus untuk menghentikan kedua anak-anak muda yang seolah-olah berterbangan dengan bebasnya itu. Mereka menunggu beberapa saat ditempat yang agak terpencar. Tetapi yang dengan suatu teriakan aba-aba mereka dapat menyergap lawannya bersama-sama. Seperti yang mereka rencanakan, maka sejenak kemudian mereka sudah melihat Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Sejenak mereka masih menunggu, namun tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan nyaring.
Serentak keempat orang, yang dipimpin oleh Kiai Dulang itu berloncatan. Seolah-olah dengan tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada didalam kepungan keempat orang itu.
“Bersedialah untuk mati” terdengar Kiai Dulang menggeram.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Na mun kemudian terdengar jawaban Mahisa Pukat, “He, apakah yang kalian kehendaki?”
Kiai Dulang menggeretakkan gigi. Nampaknya kedua anak muda itu seperti sedang bermain-main. Keduanya sama sekali tidak nampak gentar atau setidak-tidaknya bersungguh-sungguh.
Dengan kasar Kiai Dulang membentak, “Kami akan membunuhmu.”
Tiba-tiba saja kedua anak-anak muda itu tertawa. Mahisa Murti bertanya disela-sela derai tertawanya, “Kenapa baru sekarang? Aku sudah berada di sini sejak tadi.”
“Baru sekarang aku sempat, setelah pasukan dipihakmu menjadi semakin tipis. Sekarang datang giliranmu untuk mati.”
“Tidak mau. Kami masih ingin hidup. Jika hidupku harus aku pertahankan dengan membunuhmu, maka aku akan melakukannya.”
Kiai Dulang, benar-benar tersinggung. Dengan serta merta ia pun meloncat sambil berteriak, “Kubunuh kau “
Mahisa Pukat yang menerima serangan langsung itupun masih sempat mengelak. Sambil meloncat kesamping ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan bertempur lebih dahulu.”
Keempat lawannya itupun segera menyerang bersama-sama. Mereka berloncatan sambil mengayun-ayunkan senjata mereka. Bahkan sejenak kemudian, Kiai Dulang sudah mulai dengan gerak lingkarannya.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti harus bergerak dengan cepat menghindari serangan yang datang seperti ombak lautan. Susul menyusul tidak habis-habisnya. Bahkan kemudian keempat lawannya itu sudah mulai bergerak dalam lingkaran.
Sejenak kedua anak muda itu berdiri saling beradu punggung. Mereka harus bekerja keras untuk menangkis serangan-serangan yang berdatangan.
Namun sejenak kemudian Mahisa Pukal berbisik, “Kita akan memutuskan lingkaran itu.”
“Ya” jawab Mahisa Murti, “berilah aba.”
Mahisa Pukat segera mempersiapkan diri. Perlahan-lahan ia bergeser. Kemudian dengan kakinya ia menghentak tanah untuk memberikan aba-aba kepada Mahisa Murti.
Demikian kakinya menghentak untuk ketiga kalinya, maka kedua anak-anak muda itu segera meloncat dengan cepat mengikuti gerak putar lawannya. Tetapi hanya untuk beberapa langkah, karena merekapun kemudian telah berada digaris lingkaran itu pula. Namun secepat itu pula mereka meloncat keluar lingkaran, disusul oleh gerakan berputar pada tumitnya.
Sesaat kemudian keduanya telah menyerang lawan mereka dari luar dengan ayunan senjata mendatar berlawanan arah dengan puraran lawannya.
Yang terjadi itu sedemikian cepatnya, sehingga keempat lawannya itu terkejut dan untuk sesaat mereka telah kehilangan kesempatan.
Tetapi agaknya mereka masih tetap sadar akan keadaan mereka. Dengan segenap kemampuan yang ada, maka mereka pun segera berloncatan sambil berusaha menangkis serangan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya itu.
Namun ternyata bahwa tidak semua diantaranya keempat orang itu berhasil menyelamatkan dirinya. Dua orang yang merada pada jarak terdekat dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, benar-benar tidak mempunyai Kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Sejenak kemudian terdengar keluhan panjang. Dua diantara keempat orang itu menjadi termangu-mangu sejenak, namun, yang sejenak kemudian, keduanyapun telah terjatuh ditanah tanpa dapat bangkit kembali.
Kiai Dulang menggeretakkan giginya. Kini ia tinggal bersama seorang pengawal. Karena itu, adalah mustahil bahwa mereka berdua akan Mampu melawan kedua anak-anak yang masih sangat muda itu.
itulah sebabnya maka sejenak kemudian terdengar isyarat dari mulut Kiat Dulang untuk memanggil beberapa orang kawannya. Tetapi sementara itu perkelahian pun menjadi semakin sengit, sehingga hampir setiap orang telah berdiri berhadapan dengan lawannya masing-masing.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi. Ketika mereka melihat kedua lawannya terbunuh, maka merekapun segera memusatkan perhatian mereka kepada kedua orang yang masih tersisa.
isyarat yang terlontar dari mulut Kiai Dulang memang menimbulkan pertanyaan dihati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun keduanya tidak mau menunggu perkembangan yang mungkin tidak menguntungkan bagi mereka itu. Sehingga dengan demikian maka keduanya pun langsung menyerang Kiai Dulang bersama seorang pengawalnya.
Serangan yang datang membadai itu memang sulit untuk dihindari. Itulah sebabnya, maka Kiai Dulang dan seorang kawannya itupun segera terdesak.
Tidak ada kemungkinan untuk melawan kedua anak muda itu dengan ilmu kepercayaannya. Melingkar sambil menggoreskan senjata. Karena ternyata bahwa kedua anak-anak muda itu Mampu bergerak lebih cepat dari orang-orang berilmu hitam itu.
Ternyata bahwa Kiai Dulang dan seorang kawannya sama sekali tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergerak semakin cepat. Senjata mereka menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Seolah-olah tidak seorang pun akan dapat menghindarkan diri dari sentuhan ujung senjata itu.
Ketika pertempuran diluar dinding padepokan itu berlangsung semakin seru, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah memutuskan untuk menyelesaikan kedua lawannya yang telah mencoba menghalangi mereka itu.
Ternyata bahwa Kiai Dulang yang bertekad untuk membatasi gerak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah terperosok kedalam kesulitan. Keduanya tidak berhasil menghentikan gerak kedua anak muda itu, tetapi pada saat-saat yang menentukan. maka senjata Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah mulai menyentuh tubuh mereka.
“Gila” teriak Kiai Dulang, “tetapi suaranya terputus ketika ujung senjata lawannya langsung menembus jantung di dadanya.
Pengawalnya mencoba untuk menyelamatkan diri karena pertempuran yang riuh. Tetapi iapun kemudian jatuh tertelungkup ketika ujung senjata lawannya membelah punggungnya.
Dengan terbunuhnya keempat orang itu, maka kedua anak muda itu justru menyadari, bahwa korban telah semakin banyak jatuh. Bukan saja dipihak lawan, tetapi juga dipihak mereka.
“Kita tidak boleh bermain-main lagi”berkata Mahisa Murti.
“Ya Kita harus ber-sungguh-sungguh. Korban telah berjatuhan. Bahkan mungkin satu dua orang prajurit telah terbunuh pula.”
Keduanya menyesal bahwa. se-olah-olah keduanya masih saja terseret oleh suatu keinginan untuk bermain-main dengan nyawanya mereka sendiri dan nyawa orang lain, sehingga apa yang mereka lakukan sampai kematian keempat orang lawannya itu. tidak banyak berarti bagi keseimbangan pertempuran Mereka hanya mendapat kepuasan dengan kejutan-kejutan dan sekali-kali membuat lawannya bingung dan berlari-larian menjauh. Tetapi dalam arti benar-benar merubah keseimbangan, rasa-rasanya masih belum mereka lakukan sepenuhnya.
Dengan kesadaran itulah maka merekapun kemudian turun kembali karena pertempuran. Mereka mulai melihat kenyataan bahwa pasukan Empu Sanggadaru diluar dinding halaman itu masih saja merasakan tekanan yang berat, meskipun dengan menyatunya dua arena pertempuran itu telah sedikit memperingan tekanan pada pasukan yang mempertahankan padepokan itu
Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah menempatkan diri langsung kedalam arena yang garang itu. Meskipun mereka sadar, bahwa kehadirannya dibanyak tempat juga dapar mempengaruhi keadaan, terapi mereka memutuskan langsung untuk mengurangi jumlah lawan, dengan melumpuhkan mereka seorang demi seorang.
Keputusan itu ternyata benar-benar dapat mempengaruhi keseimbangan. Ketika Mahisa Murti berhasil melukai seseorang sehingga tidak lagi dapat mengangkat senjata, disusul oleh ujung senjata Mahisa Pukat yang tergores dipundak lawan, maka keduanya benar-benar merupakan hantu yang semakin ditakuti oleh lawan-lawannya.
Dalam pada itu di dalam dinding padepokan Empu Baladatu sedang memeras segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengalahkan Empu Sanggadaru. Mula-mula ia masih mencoba untuk menundukkan kakaknya tanpa membunuhnya, karena dengan demikian kakaknya akan dapat dijadikan alat yang baik baginya untuk menghimpun kekuatan di padepokan itu. Akan tetapi karena dengan cara demikian ia tidak dapat segera menguasai kakaknya, maka iapun kemudian telah kehilangan pengekangan diri. Ia ingin mengalahkan kakaknya, hidup atau mati, atau dalam keadaan apapun juga.
Dengan demikian maka perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Empu Sanggadaru pun tidak membiarkan kepalanya dipenggal oleh adiknya sendiri.
Pada bagian lain Mahisa Bungalan masih terus bertempur dengan dahsyatnya melawan Linggadadi. Mereka menggunakan arena yang seakan-akan terpisah. Tidak seorangpun yang dapat mencampuri perkelahian antara keduanya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar