*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 28-01*
Karya. : SH Mintardja
Pada saat terakhir itulah Empu Baladatu sendiri memanggil para pemimpin kelompok dari kedua gerombolan itu untuk memberikan penjelasan apa yang akan terjadi.
“Dua orang tamu akan datang di padepokan ini,” berkata Empu Baladatu, “tepat pada saat bulan mulai nampak di langit pada sore hari. Itulah sebabnya kalian harus mempersiapkan diri. Jika kedua orang tamu itu datang, maka kalian harus menghormatinya sebagai tamu di padepokan ini. Hanya apabila terjadi sesuatu di luar sikap dan unggah ungguh seorang tamu, barulah kalian sangat kami perlukan. Karena aku masih meragukan apakah yang datang itu benar-benar hanya dua orang.”
Penjelasan Empu Baladatu itu cukup jelas bagi setiap pemimpin kelompok itu. Mereka di hadapkan pada suatu kemungkinan, bahwa tamu-tamu mereka itu akan berbuat licik.
“Apakah kita akan mempersiapkan pasukan di luar padepokan Empu?” bertanya seseorang.
Empu Baladatu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kita berada di dalam padepokan dan berlaku seolah-olah tidak ada kecurigaan apapun juga. Kalian bersikap biasa meskipun kalian harus menyediakan senjata di tempat-tempat tertentu yang mudah dijangkau, selain senjata-senjata kecil yang tidak ada salahnya melekat di tubuh kalian. Karena senjata-senjata kecil itu tidak akan menimbulkan kecurigaan apapun pada tamu-tamu kita nanti, sebagai kebiasaan kita semuanya.”
“Keris maksud Empu?”
“Ya. Kalian dapat membawa keris di punggung. Tetapi tidak dengan pedang dan tombak. Apalagi perisai. Meskipun senjata-senjata itu harus kalian siapkan sehingga setiap saat dapat kalian ambil dengan cepat.”
Para pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari sepenuhnya tugas yang harus mereka pikul di saat bulan mulai nampak di langit. Dan itu akan terjadi malam berikutnya.
Pada saat yang ditentukan, padepokan Serigala Putih mengalami perubahan suasana meskipun selalu disamarkan. Setiap orang mencoba bersikap seperti sewajarnya. Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang yang berada di padepokan gerombolan Serigala Putih mendapat tempat tersendiri. Merekapun berusaha untuk tidak menarik perhatian jika kedua orang tamu itu memasuki padepokan, karena mereka memang ditempatkan di bagian belakang. Meskipun mereka tidak membawa senjata di tangan, kecuali keris yang terselip diikat pinggang mereka sebagaimana kelajiman seorang laki-laki, mereka telah menyiapkan senjata mereka di dinding bagian dalam dari bilik-bilik mereka, yang setiap saat dapat mereka pergunakan apabila perlu.
Ketika senja mulai turun menjelang malam pertama saat bulan mulai nampak di langit, suasana padepokan itu menjadi tegang. Para penjaga regol sudah mendapat pesan khusus, jika ada dua orang berkuda mendatangi, mereka harus segera melaporkannya kepada Empu Baladatu.
Ketegangan menjadi semakin memuncak saat gelap malam mulai membayang. Langit yang kelabu menjadi bertambah buram dan angin mulai meniupkan udara yang dingin.
“Sebentar lagi malam akan turun” berkata Empu Baladatu, “apakah mereka benar-benar akan datang?”
“Ya” jawab Kiai Dulang, “dan aku percaya bahwa mereka tidak akan berbohong.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
Dalam kegelisahan itu, Kiai Dulang berkata, “Biarlah aku berada di regol, agar aku segera dapat mengenalinya jika mereka datang.”
Empu Baladatu tidak berkeberatan dan membiarkan Kiai Dulang meninggalkannya dan pergi ke Regol.
Ketika ia menengadahkan wajahnya, di langit nampak cahaya yang semakin redup. satu-satu bintang mulai nampak dan dengan hati yang berdebaran Kiai Dulang melihat bulan rendah sekali di langit, seolah-olah bertengger di ujung pohon perdu.
“Sebentar lagi bulan itu akan tenggelam” katanya di dalam hati.
Tiba-tiba saja ia terkejut ketika seorang penjaga regol menggamitnya sambil berbisik, “Siapakah kedua orang itu Kiai?”
Kiai Dulang berpaling. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat dua orang yang sudah berdiri di muka pintu. Dua orang yang hanya berjalan kaki tanpa membawa kuda tunggangan.
Namun, meskipun malam mulai gelap, Kiai Dulang segera mengenal keduanya, karena keduanya mengenakan pakaian seperti yang biasa mereka pergunakan saat mereka menemuinya di Mahibit.
Itulah sebabnya maka dengan tergopoh-gopoh Kiai Dulang mendekatinya sambil mempersilahkannya, “Marilah. Marilah kami persilahkan Ki Sanak memasuki padepokan kami yang kotor.”
Linggapati dan Linggadadi tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih. Kami mencoba datang tepat pada waktunya.”
Kiai Dulang tersenyum. Diajaknya keduanya memasuki halaman padepokan dan langsung menuju kerumah induk, untuk langsung membawanya kepada Empu Baladatu yang sudah menunggu.
Kedatangan kedua orang itu benar-benar telah mendebarkan jantung Empu Baladatu. Nampaknya kedua orang itu benar-benar datang hanya berdua. Mereka tidak mempunyai prasangka buruk sama sekali dan seperti yang dikatakan oleh Kiai Dulang, keduanya mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri yang sangat besar.
Setelah saling memperkenalkan diri, meskipun dengan ragu-ragu, merekapun untuk beberapa saat masih mencoba untuk berbicara sambil berkelakar. Mereka mencoba menunjukkan keakraban pertemuan yang memang sudah direncanakan itu.
Beberapa saat kemudian, maka mulailah beberapa orang menghidangkan minuman panas dan beberapa potong makanan.
Tidak seperti orang-orang yang selalu dicengkam oleh kecurigaan, maka Linggapati dan Linggadadi sama sekali tidak mencemaskan makanan itu. Meskipun hubungan yang masih akan mereka jalin belum mempunyai bentuk yang jelas, bahkan dengan sadar Linggadadi merasa berada di dalam lingkungan yang masih sangat membencinya karena sebutannya sebagai pembunuh orang-orang berilmu hitam, namun mereka sama sekali tidak merasa curiga, bahwa di dalam makanan itu terdapat usaha yang dapat mencelakainya.
Dengan lahapnya mereka menelan makanan itu sepotong demi sepotong sambil berbicara tentang persoalan-persoalan yang sangat tidak berarti.
Baru ketika malam menjadi semakin larut, dan bintang Gubug Penceng telah tegak di ujung Selatan, pertemuan itu menjadi nampak bersungguh-sungguh.
“Ada sesuatu yang pantas kita bicarakan” berkata Empu Baladatu.
“Ya. Aku sudah mengerti. Kita masing-masing berharap bahwa kita akan dapat bekerja bersama” sahut Linggapati.
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ternyata Linggapati berbicara langsung pada persoalannya.
“Empu” sambung Linggapati, “tidak banyak yang harus kita bicarakan sekarang, karena kita masing-masing sudah mempunyai tekad yang sama. Bukankah kita masing-masing menginginkan agar kekuasaan Sepasang Ular di satu Sarang itu di hancurkan dan diganti oleh kekuasaan yang lebih besar agar Singasari dapat berkembang lebih pesat. Bukan saja hanya selingkar kepulauan ini, tetapi Singasari seharusnya menjadi negara terbesar di seluruh dunia.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ternyata jangkauan cita-cita Linggapati meliputi arena yang lebih luas, karena ia sudah berbicara tentang dunia.
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian., “Bagaimanakah tanggapan Ki Sanak berdua tentang kedua anak-anak muda yang memerintah sekarang ini?”
“Baik. Mereka adalah anak-anak yang baik. Anak-anak penurut yang asyik bermain-main dengan permainan yang sangat besar dan luas. Singasari.”
“Jadi?” Empu Baladatu menjadi heran atas jawaban itu.
“Seharusnya mereka berhenti bermain-main. Sebaiknya mereka tidur saja di dalam pelukan ibu masing-masing. Jika di esok harinya mereka terbangun, biarlah ibu mereka masing-masing menyuapinya dan memandikannya. Kemudian membawa mereka kembali ke pembaringan, membacakan dongeng tentang seekor burung podang yang memiliki suara bening, bernyanyi di pelepah pisang.”
Empu Baladatu merenungi jawaban itu dengan dahi yang berkerut merut. Namun ternyata bahwa Linggapati kemudian tertawa sambil berkata “Begitulah kira-kira Empu. Apakah Empu berbeda pendapat?”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku sependapat. Keduanya memang tidak sepantasnya memegang jabatan tertinggi di Singasari.”
“Empu benar. Tetapi apakah ada persamaan dan perbedaan di antara kita? Mungkin Empu membayangkan, bahwa setelah Empu dapat mempengaruhi kekuatan yang besar dan mengalahkan kedua anak-anak itu, Empu akan menjadi seorang penguasa yang kaya raya. Seorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang tidak terbatas sehingga apa saja yang Empu kehendaki akan dapat terlaksana. Begitu?” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “Akupun mempunyai keinginan yang sama tentang tersingkirnya kedua anak-anak itu. Tetapi bukan semata-mata karena aku menginginkan kekuasaan dan apalagi harta benda, emas, perak dan perunggu. Tetapi aku ingin Singasari bukan saja menguasai daerah yang luas di antara kepulauan yang tersebar di daerah yang hijau ini, tetapi kekuasaan Singasari harus menjangkau jauh ke ujung bumi.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa apa yang dilakukan itu masih terlalu kecil bagi Linggapati. Namun demikian Empu Baladatu tidak mau menunjukkan kekecilannya dan menjawab, “Jangkauan kalian terlampau luas. Bagiku, meskipun arahnya akan ke sana juga, tetapi yang penting sumber kekuasaan itu harus beralih tangan.”
“Ya, ya” desis Linggapati, “Empu mulai dari pemikiran yang sempit, yang tentu akan meluas pula kelak. Tetapi aku melangkah dengan laju setapak, setelah aku menentukan arah lebih dahulu. Empu, aku pernah menjadi pelaut yang menjelajahi lautan yang sangat luas. itulah sebabnya, aku mengerti betapa tersia-sianya kekuatan yang ada di Singasari sekarang ini. Itulah sebabnya maka kedua anak-anak itu harus dipersilahkan masuk saja kedalam peraduannya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi dengan demikian ia merasa dirinya menjadi semakin kecil. Ternyata bahwa orang yang bernama Linggapati itu mempunyai pandangan yang cukup luas tentang daratan dan lautan.
“Apakah ada orang-orang yang sekarang berada di lingkungan istana mempunyai pengamatan seluas Linggapati?” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.
Sejenak Empu Baladatu membuat pertimbangan-pertimbangan. Tetapi iapun kemudian mengambil kesimpulan, bahwa pengenalan Linggapati bukan ukuran kemampuannya yang melampaui setiap orang.
“Aku tidak yakin bahwa ia memiliki kemampuan berkelahi yang tidak terkalahkan.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “mungkin ia pernah menjelajahi daerah yang sangat luas. Tetapi itu bukan Suatu bukti bahwa ia memiliki ilmu kanuragan yang tidak ada tandingnya.”
Itulah sebabnya maka Empu Baladatupun kemudian berusaha untuk menjaga, agar ia tidak terperosok kedalam perasaan rendah diri.
“Apakah Empu mempunyai persoalan yang mendesak setelah kita nampaknya mempunyai jalur yang akan dapat berjalan searah?” bertanya Linggapati.
“Aku tidak mempunyai persoalan yang khusus, tetapi aku minta agar kelak tidak akan timbul persoalan yang rumit di dalam lingkungan kita sendiri.”
Linggapati tertawa. Katanya, “Empu cukup bijaksana. Tetapi nampaknya sejak sekarang kita sudah dapat membayangkan, dimanakah kita masing-masing akan berdiri. Empu condong pada kekuatan dan kemukten. Sedang aku condong untuk mendapatkan kekuasaan yang dapat mengemudikan pemerintahan di Singasari.”
“Jadi?”
“Kita sudah berbagi sejak sekarang. Empu akan menjadi seorang Maharaja yang memiliki seluruh tlatah Singasari dengan segala isinya. Dan aku akan menentukan kemudi pemerintahan di Singasari. Bukankah itu sudah berarti kita akan melalui jalur jalan yang berbeda meskipun searah?”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa pemisahan kekuasaan itu belum menentukan bahwa tidak akan terjadi desak mendesak di dalam jalur kekuasaan itu kelak. Namun Empu Baladatu mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau sudah melihat perbedaan itu Ki Sanak. Tetapi sudah tentu bahwa itu belum merupakan jaminan yang pantas untuk menentukan apakah tidak ada persoalan lagi di antara kita kelak.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi baiklah bahwa kita tidak mempersoalkannya sekarang, seolah-olah kita adalah orang-orang yang sekedar didorong oleh nafsu tanpa cita-cita sama sekali. Akupun tidak membantah sekarang, anggapan Ki Sanak bahwa bagiku seolah-olah tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada mas picis raja brana. Tetapi aku tidak berkeberatan. Yang penting, langkah yang manakah yang perlu kita lakukan sekarang..”
“Tentu saja kita harus mempersiapkan diri se-baik-baiknya Kita harus mengetahui segi-segi kelemahan Singasari sekarang ini. Kita harus melihat, apakah yang disenangi dan dibenci oleh orang-orang Singasari. Sementara itu, kita akan mulai dengan menyusun kekuatan senjata untuk dengan kekerasan menguasai kota raja. Seperti yang pernah dilakukan oleh Ken Arok, Akuwu Tumapel, dengan menguasai Kota Raja, maka ia menguasai seluruh Kerajaan.”
“Kau salah. Ken Arok tidak saja menguasai Kota Raja Tetapi ia menguasai Ken Dedes, seorang perempuan yang memiliki kekuasaan yang sebenarnya.”
“Atas Tumapel, yang dilimpahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Hanya itu. Bukan atas seluruh Kerajaan.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian mengangguk-angguk.
“Mungkin kau benar Ki Sanak” berkata Empu Baladatu, “tetapi suasana waktu itu jauh berbeda dengan suasana yang kita hadapi sekarang. Singasari sekarang sudah semakin kuat. Banyak orang-orang sakti berada di sekitar kedua orang anak muda yang sedang memerintah itu. Dan mereka itu harus kita singkirkan.”
“Tentu seorang demi seorang” berkata Linggapati,, “Kita tidak akan dapat menghadapi mereka sekaligus betapapun kita menyusun kekuatan.”
“Tepat” berkata Empu Baladatu., “Dan kitapun akan dapat segera mulai.”
“Jangan tergesa-gesa Empu. Jika kita mulai sekarang, maka itu berarti seluruh Singasari akan bersiaga.”
“Tidak hanya sekarang. Kapanpun kita mulai, maka Singasari akan segera mengerahkan prajuritnya.”
“Kita akan membunuh dengan cara yang sebaik-baiknya. Mungkin dengan menghilangkan jejak, seolah-olah yang terjadi adalah suatu kecelakaan, atau mungkin perang tanding karena persoalan pribadi, atau kita akan menyembunyikan mayatnya seolah-olah orang itu hilang begitu saja ditelan hantu atau dengan cara yang lain, yang tidak menimbulkan akibat yang dapat menggerakkan seluruh kekuatan Singasari.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Namun Linggapati menyambung, “Tentu tidak harus seperti yang aku katakan. Mungkin ada cara lain yang dapat kita lakukan menurut pertimbangan kita kemudian. Mungkin ada cara yang lebih baik, yang akan kita temukan kemudian.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk pula. Lalu, “Jika demikian, apakah yang akan kita lakukan sekarang? Menunggu, bersiap-siap. itu saja?”
Linggapati memandang Empu Baladatu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Kau terlalu tergesa-gesa Empu. Seharusnya kita bersabar untuk menentukan saat dan kesempatan yang sebaik-baiknya. Kapan dan apakah yang akan kita lakukan pada suatu keadaan.”
“Kita dapat melakukan sesuatu mulai dari yang paling kecil” berkata Empu Baladatu.
“Maksudmu?”
“Melenyapkan orang-orang yang menentang setiap cita-cita yang akan kita jangkau.”
“Ya, tentu. Itulah yang aku maksudkan dengan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “tetapi apakah sudah ada niat Empu untuk mulai dengan sesuatu.”
“Tentu Ki Sanak. di luar lingkungan keprajuritan Singasari kita melihat beberapa orang yang harus disingkirkan. Nah, itulah yang dapat kIta lakukan lebih dahulu.”
Linggapati mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Empu akan memanfaatkan hubungan ini untuk melakukan balas dendam.”
Wajah Empu Baladatu menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh. ia menjawab, “Aku sudah menduga bahwa pada suatu langkah yang pendek kita akan mulai dengan saling curiga. Tetapi itu wajar” ia berhenti sejenak, lalu, “Meskipun demikian aku akan mencoba menerangkan, bahwa sama sekali bukannya sekedar memanfaatkan hubungan yang masih samar-samar ini. Jika yang akan aku lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan cita-cita kita keseluruhan, maka kau dapat berkata demikian.”
“O, maaf. Tetapi apakah yang dapat kita lakukan sekarang?”
“Aku tahu pasti bahwa Mahisa Bungalan akan dapat kita singkirkan dengan cara yang kau maksud.”
“Mahisa Bungalan?”
“Ya. Ia sering melakukan perjalanan seorang diri. Jika kita dapat mengikuti gerak-geriknya, maka pada waktu yang tepat kita akan dapat menyingkirkannya tanpa diketahui oleh siapapun juga, seperti yang kau kehendaki.”
“Tetapi bukankah dengan demikian berarti kita harus menunggu kesempatan seperti yang aku katakan?”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Lalu sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Ya. Tetapi bukan berarti bahwa kita berdiam diri sampai kesempatan itu datang kepada kita. Tetapi kita dapat mulai dengan melakukan pengamatan yang saksama sehingga kita dapat menentukan langkah selanjutnya yang berhubungan dengan seluruh cita-cita kita.”
Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus Empu. Ternyata Empu memiliki ketangkasan bertindak. Dalam hal ini barangkali aku agak terlalu lamban bagi Empu meskipun aku masih lebih muda.”
Empu Baladatu tidak menjawab.
“Baiklah Empu. Beberapa hari kemudian, kita akan menemukan langkah-langkah yang sudah dapat kita lakukan sejak sekarang. Termasuk yang aku maksud dengan mengamati keadaan. Karena kita masih akan menempuh jalan yang berliku-liku untuk mendapatkan suatu suasana yang mantap.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Selain itu Ki Sanak. Aku masih melihat kemungkinan lain yang dapat kita lakukan segera untuk mengurangi hambatan-hambatan yang dapat timbul.”
“Apa?”
“Sebuah perguruan yang banyak mengenal tentang padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang. Tetapi itu bukan berarti apa-apa. Tetapi lebih dari itu, perguruan itu adalah pendukung kedua anak muda yang kini memegang pemerintahan.”
“Apakah aku harus mengulangi penjelasanku Empu.”
“Aku tahu. Tetapi jika terjadi sesuatu dengan perguruan ini, sekarang adalah saatnya. Ada semacam dendam antara perguruan itu dengan gerombolan Serigala Putih.”
“Sehingga apabila kita bertindak sekarang atas nama gerombolan Serigala Putih, maka yang akan terjadi dapat di artikan dendam gerombolan Serigala Putih. Begitu?”
“Ya. Kesan itulah yang harus dibuat dengan meyakinkan sehingga tidak akan timbul persoalan lain yang apalagi menyangkut keseluruhan cita-cita.”
Linggapati mengangguk-angguk. Lalu, “Apakah perguruan itu sedemikian kuatnya sehingga Empu perlu memanfaatkan hubungan ini untuk kepentingan itu?”
“Yang manakah yang akan kita sebut pemanfaatan? Hubungan ini atau justru dendam orang-orang Serigala Putih?”
Linggapati tertawa. Katanya, “Empu memang tangkas, baiklah. Kita dapat memandang dari segi yang manapun.” Ia berhenti sejenak, lalu, “bantuan apakah yang Empu perlukan dari kami?”
“Kita bersama-sama menghancurkan perguruan itu.” Linggapati mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya, “Bagaimanakah yang Empu maksud bersama-sama? Apakah aku harus mengerahkan semua kekuatan yang ada di Mahibit berapa pun jumlahnya?”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “Tidak. Itu tidak perlu. Jika aku memerlukan sejumlah orang dari Mahibit, terutama untuk meyakinkan, apakah kita akan dapat bekerja bersama dalam bentuk yang kita pilih, di antaranya di arena pertempuran.”
Linggapati tertawa. Dipandanginya wajah adiknya yang tegang, yang mengikuti seluruh pembicaraan itu dengan sikap yang nampaknya acuh tidak acuh saja.
Empu Baladatu menunggu jawaban Linggapati dengan hati yang berdebar-debar. Apalagi ketika ia melihat sikap Linggadadi yang seolah-olah tidak tahu menahu tentang persoalan yang sedang dibicarakan.
Tetapi Linggapati pun kemudian berkata, “Pada dasarnya aku tidak berkeberatan Empu”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam.
Namun Linggapati pun kemudian memandang adiknya sambil bertanya, “Apa pendapatmu Linggadadi?”
Linggadadi memandang wajah kakaknya dan Empu Baladatu berganti-ganti. Lalu jawabnya, “Perang yang betapapun kecilnya kadang-kadang mempunyai arti yang sangat besar. Orang-orang kita yang mulai jemu dengan merenungi cita-cita akan terbangun dan mendapatkan kegairah baru dalam langkah selanjutnya.”
Suara tertawa Linggapati menjadi semakin keras. Katanya, “Aku sudah menduga. Kau adalah orang yang paling gemar berada di antara dentang senjata.” Lalu Linggapati itupun berpaling kepada Empu Baladatu, “Linggadadi akan mempersiapkan sepasukan laskar dari Mahibit. Berapa orang yang Empu perlukan? Mudah-mudahan yang kita lakukan kali ini dapat benar-benar mengurangi kekuatan Singasari meskipun tidak secara langsung seperti yang Empu maksudkan. Bukan sebaliknya, justru membangunkan kesiagaan yang besar bagi Singasari.”
“Aku tidak memerlukan sepasukan yang besar.” jawab Empu Baladatu.
“Berapa orang yang Empu perlukan? Limapuluh atau seratus?”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Agaknya pasukan Linggapati di Mahibit cukup kuat sehingga ia menawarkan berapa saja yang dikehendakinya
“Seratus orang tidak dapat dipertimbangkan bagi cita-cita Ki Sanak yang demikian besarnya. Tetapi pada langkah permulaan aku kira sudah mencukupi. Aku akan mengerahkan orang yang sama dari gerombolan Serigala Putih dan jumlah yang sama pula dari gerombolan Macan Kumbang.”
“Dan dari perguruan induk Empu Baladatu sendiri?, “Empu Baladatu termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata
“Seluruh pimpinan akan berada di tangan orang-orangku dari perguruan induk.”
“Dan orang-orangku?”
“Tentu mereka akan mempunyai seorang pemimpin. Tetapi penempatan mereka dalam keseluruhan akan berada di tangan kami”
“Tentu. Tentu. Kali ini Empu sendirilah yang akan memimpin pasukan gabungan itu. Silahkan. Aku akan menyerahkan sejumlah itu kepada Empu. Terserahlah, siapakah yang akan memegang pucuk pimpinan dari pasukan itu dalam keseluruhan.”
Empu Baladatu termangu-mangu. Tetapi iapun kemudian mengangguk-angguk, “Terima kasih.”
Linggapati rnengangguk-angguk. Katanya, “Kita sudah menemukan jalan untuk menyatukan diri. Bahkan kita sudah merintis ujud daripada kesepakatan kita. Tetapi nampaknya masih akan banyak hal-hal yang kita bicarakan. Cara-cara yang lebih rumit daripada sekedar balas dendam seperti yang akan kita lakukan sekarang bagi orang-orang tertentu yang lebih dekat dengan ujung pimpinan prajurit Singasari.”
“Aku mengerti” jawab Empu Baladatu, “kita akan segera melakukan rencana yang pertama, selagi nafas dendam di dada orang-orang Serigala Putih masih belum padam. Pemimpin mereka yang sebenarnya telah dibunuh oleh pimpinan perguruan itu.”
Lingapati tersenyum. Lalu, “Baiklah. Pada langkah yang pertama ini aku semakin mengagumi Empu Baladatu, karena orang yang Empu maksud itu adalah saudara kandung Empu sendiri.”
Empu Baladatu menegang sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah yang kau kagumi?”
“Ketegasan sikap Empu. Empu Baladatu tidak memandang siapapun juga, jika sekiranya berselisih jalan, Empu tidak segan-segan mengambil sikap yang paling tuntas.”
Empu Baladatu tidak menjawab. Ia tidak mengerti sepenuhnya, apakah yang dimaksudkan oleh Linggapati. Apakah yang dimaksudkan itu sebenarnya demikian, atau Suatu sindiran bahwa pada suatu saat, Empu Baladatu dapat pula bersikap demikian terhadap siapa saja, termasuk Linggapati dan Linggadadi.
Dalam pada itu, Linggapati berkata selanjutnya, “Kali ini Empu bersikap demikian terhadap saudara kandung sendiri.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya Lalu iapun meneruskan, “Lain kali?”
Linggapati tertawa pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan mulai dengan saling mempercayai. Aku akan mengirimkan seratus orang seperti yang Empu maksudkan. Aku akan menyesuaikan waktu yang akan Empu pilih.”
“Sebelum purnama naik” jawab Empu Baladatu
Linggapati mengerutkan keningnya, lalu, “Apakah rencana ini termasuk rencana Empu untuk mendapatkan korban yang cukup berharga menjelang purnama naik?”
“Ah” “desah Empu Baladatu, “aku tidak memikirkannya. Aku tidak pernah mengalami kesulitan untuk mendapatkan korban yang aku perlukan.”
Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan tidak mempedulikan apapun juga. Tetapi kesanggupanku tidak akan meleset sesuai dengan rencana kita seterusnya.”
“Terima kasih” jawab Empu Baladatu, “kami menunggu kedatangan orang-orangmu, sementara aku akan mempersiapkan orang-orangku “
Pembicaraan itu tidak berlangsung lebih lama lagi. Nampaknya keduanya masih membatasi pembicaraan mereka pada masalah-masalah yang pokok, selain satu usaha yang langsung untuk menghancurkan padepokan yang dipimpin oleh Empu Sanggadaru, saudara kandung Empu Baladatu sendiri.
Setelah mereka berbicara tentang berbagai persoalan yang mempertegas persetujuan mereka untuk mempersiapkan pasukan yang akan dipergunakan untuk menghancurkan padepokan yang mereka anggap akan menghambat perkembangan rencana mereka selanjutnya, maka Linggapati dan Linggadadi pun segera minta diri.
“Apakah Ki Sanak berdua tidak akan bermalam di sini?” bertanya Empu Baladatu.
Linggapati mengerutkan keningnya. Dan sebuah pertanyaan meluncur dari bibirnya, “Kenapa bermalam?”
“Hari sudah jauh malam, bahkan sudah melampaui tengah malam.”
“Apa salahnya aku pulang setelah tengah malam?”
“Mahibit bukannya jarak yang pendek.”
“Justru karena itu aku akan pulang malam ini. Aku tidak dapat terlalu lama meninggalkan orang-orangku.”
“Hanya bertambah setengah malam.”
Linggapati tertawa. Katanya Perjalanan di malam hari sangat memberikan kesegaran. Aku senang berjalan di malam hari.”
Empu Baladatu tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Agaknya kedua tamunya benar-benar ingin segera meninggalkan padepokan Serigala Putih itu.
“Bukan karena aku curiga” berkata Linggapati kemudian, “tetapi aku benar-benar ingin berjalan di malam hari.”
“Ki Sanak berdua benar-benar tidak berkuda?”
“Aku jarang sekali berkuda. Apalagi dalam perjalanan seperti sekarang ini.”
Empu Baladatu mengantarkan tamunya sampai ke regol padepokan dan menunggunya sampai keduanya hilang dalam kegelapan. Sambil melangkah kembali memasuki padepokan ia bergumam, “Benar-benar anak setan keduanya.”
Kiai Dulang yang berjalan di sampingnya mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Keduanya memang anak setan.”
“Kita harus benar-benar bersiap menghadapi rencana di bulan purnama itu” berkata Empu Baladatu, “kita harus menunjukkan bahwa orang-orang kita tidak kalah baiknya dengan orang-orang Mahibit yang tinggi, hati itu.”
“Masih ada waktu kurang lebih setengah bulan” sahut Kiai Dulang.
“Kita akan memilih orang-orang terbaik. Kita akan mempersiapkannya untuk tugas yang berat ini.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Empu. Untuk memilih orang-orang terbaik sejumlah itu pada padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang agaknya terlalu sulit. Mereka yang berada di padepokan ini jumlahnya tidak lebih dari seratus orang. Demikian juga yang tinggal di padepokan Macan Kumbang. Jika ada lebihnya, sama sekali tidak akan berarti sama sekali.”
“Tetapi menurut penilaianku lebih dari lima ratus orang yang berada dibawah pengaruh kekuasaan Serigala Putih dan juga Macan Kumbang.”
“Mungkin dengan mereka yang berada di luar padepokan- Tetapi mereka selama ini tidak mendapat banyak perhatian. Didalam upacara-upacara yang paling tinggi, mereka tidak disertakan. Bahkan mereka termasuk pihak yang tidak boleh mengetahui terlalu banyak tentang isi padepokan ini.”
“Tetapi jika perlu tenaga mereka dapat dipergunakan.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk- Katanya, “Dalam keadaan yang sangat perlu. Tetapi dalam keadaan tertentu mereka justru akan dapat mengganggu.”
“Kita tidak akan memikirkan mereka sekarang. Aku hanya memerlukan seratus orang terbaik.”
Kiai Dulang tidak menjawab lagi.
“Aku sendiri akan menyiapkan mereka” berkata Empu Baladatu., “Dalam waktu setengah bulan aku harus mendapatkan dua ratus orang terbaik yang akan dapat menghancurkan kakang Empu Sanggadaru yang sampai saat ini ternyata masih menjadi penjilat kedua anak-anak manja itu.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk lagi. Katanya, “Jika hanya untuk kepentingan itu, aku kira tidak akan terlalu berat. Aku memperhitungkan, bahwa di padepokan itupun tidak akan ada orang sejumlah seratus orang. Jika ada orang-orang lain, mereka bukanlah cantrik-cantrik yang sudah mendapatkan ilmu yang cukup. Tetapi mereka adalah penghuni-penghuni daerah pertanian yang luas yang dimiliki oleh Empu Sanggadaru.”
Empu Baladatu meng-angguk-angguk. Katanya, “Ya Aku tahu pasti. Cantrik di padepokan itu tidak banyak. Tetapi perlu di ketahui, bahwa padepokan itu menyimpan banyak rahasia yang tidak dapat aku ungkapkan. Ada hal-hal yang tidak dapat aku mengerti. Tetapi dalam keseluruhan, padepokan itu tidak terlalu kuat untuk dicemaskan.”
“Kita akan dapat melakukannya tanpa kesulitan.”
“Jangan diremehkan. Untuk meyakinkan, bukan saja kemenangan atas padepokan itu, juga kepada orang-orang Mahibit kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar kuat. Karena itu, para pemimpin dari pasukan itu, akan kita ambil dari perguruan induk. Kita akan mengambil sepuluh orang terbaik untuk memimpin pasukan yang akan kita bawa ke padepokan kakang Sanggadaru.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa ia akan termasuk salah seorang yang bertugas membawa pasukan gabungan itu di samping Empu Baladatu sendiri.
“Tiga ratus orang adalah pasukan yang besar” gumam Kiai Dulang
“Pikiranmu jangan terlalu kerdil. Jika saatnya tiba, kita harus mengerahkan sedikitnya lima ribu orang untuk menguasai Kota Raja dan paling sedikit sepuluh ribu orang tersebar di seluruh negeri.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya.
“Tetapi jangan cemas. Pekerjaan kita bukannya mengumpulkan sekian banyak orang. Tetapi kita akan menghubungi beberapa orang Senapati yang sudah mempunyai pasukan Dan aku sudah mempunyai gambaran yang jelas untuk melakukannya. Bukan hanya Linggapati sajalah yang sudah mempunyai garis perjuangan yang mapan. Tetapi akupun telah membuat perhitungan-perhitungan tersendiri.”
“Apakah Empu Baladatu mempunyai hubungan dengan beberapa orang Senapati itu?”
“Sekarang belum. Tetapi ada beberapa nama yang dapat aku harapkan. Jauh lebih baik dari kakak kandungku sendiri.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Tetapi iapun sadar, bahwa Empu Baladatu berusaha untuk menjadikan padepokan Empu Sanggadaru itu seperti padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang.
Demikianlah sejak hari itu, Empu Baladatu sendiri telah melakukan rencananya. Ia mendatangi kelompok-kelompok dari gerombolan Serigala. Putih dan Macan Kumbang yang terpilih untuk memberikan latihan-latihan khusus. Mereka harus dapat menunjukkan bahwa para pengikut ilmu yang disebut hitam itu mempunyai kelebihan dari orang-orang kebanyakan, bahkan kelebihan dari prajurit Singasari.
Latihan-latihan yang berat itu dilakukan oleh seratus orang dari gerombolan Serigala Putih dan seratus orang dari gerombolan Macan Kumbang. Mereka dikumpulkan dalam satu lingkungan yang terpisah dari padepokan masing-masing. Mereka mempergunakan sebuah hutan yang terasing sebagai tempat yang baik untuk berlatih. Siang dan malam.
Mereka diajar bertempur dalam kelompok-kelompok, dalam gelar dan perkelahian seorang melawan seorang. Mereka mendapat latihan bertempur dengan mempergunakan bermacam-macam senjata
“Macam-macam jenis senjata dapat membingungkan lawan” berkata Empu Baladatu, “karena itu. cobalah mempergunakan senjata yang paling mapan dari jenis senjata yang tidak biasa dipakai dalam perkelahian. Tongkat panjang berujung runcing duri pandan. Bindi bergerigi atau canggah bertangkai panjang. Mungkin juga trisula atau bola-bola besi bertali panjang.”
Dengan demikian maka anak buah Empu Baladatu itu pun mencoba untuk menemukan jenis senjata yang paling sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka pada dasarnya telah memiliki kemampuan bertempur dengan jenis-jenis senjata sewajarnya. Kini mereka mendapat kesempatan untuk memilih jenis senjata, yang lain yang dapat memberikan kepuasan kepada mereka masing-masing sesuai dengan kemampuan mereka.
Untuk satu dua hari mereka mendapat kesempatan mencoba jenis-jenis senjata yang masih agak asing yang ternyata telah tersedia di dalam perguruan induk, yang telah dibawa oleh beberapa orang pengikut Empu Baladatu yang menyusul kemudian. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapat tugas memimpin pasukan gabungan yang berjumlah tiga ratus orang itu, di samping beberapa orang yang telah berada di padepokan Serigala Putih, selain jenis-jenis senjata yang sudah ada di padepokan itu.
Senjata yang tersedia, yang tidak banyak jumlahnya itu, telah memberikan warna yang asing pada pasukan Empu Baladatu. Orang-orang yang berkesempatan mendapatkan jenis-jenis senjata itu akan berada di arena yang berpencar untuk membuat kejutan-kejutan pada lawannya.
Beberapa orang ternyata lebih senang mempergunakan tongkat-tongkat panjang. Ada yang berujung runcing seperti tombak biasa, ada yang berujung belah, ada yang berujung berbentuk duri pandan. Tetapi ada juga memilih bola-bola besi yang terikat pada rantai yang panjang.
Tetapi mereka yang belum yakin benar dengan senjata-senjata yang tidak biasa mereka pergunakan itu, mereka masih juga membawa pedang di lambung, yang setiap saat dapat dipergunakannya.
Namun di antara orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang sendiri pada dasarnya memang ada yang mempunyai kebiasaan mempergunakan jenis-jenis senjata yang asing.
Demikianlah dua ratus orang dari dua perguruan itu berlatih dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak mempunyai waktu cukup panjang, menjelang purnama naik.
Namun latihan yang bersungguh-sungguh itu ternyata telah membawa hasil yang memuaskan. Dua ratus orang itu telah dibentuk menjadi sepasukan prajurit yang memiliki kemampuan bertempur bersama-sama, seorang demi seorang, maupun dalam gelar-gelar yang lengkap.
“Kita akan melihat seratus orang Mahibit itu” berkata Empu Baladatu, “mereka tidak akan lebih dari prajurit-prajurit kecil di antara raksasa-raksasa yang terlatih baik.”
Diakhir pekan kedua, barulah orang-orang Serigala Putih dan Matan Kumbang itu dapat kembali ke padepokan. Kembali menjenguk keluarga masing-masing untuk beberapa lama, sebelum mereka akan berangkat menunaikan tugas mereka yang sebenarnya mereka anggap tidak terlampau berat meskipun setiap kali Empu Baladatu selalu memperingatkan agar mereka tidak meremehkan lawan.
Menjelang purnama naik, maka padepokan Serigala Putih telah mempersiapkan tempat yang akan menampung seratus orang dari Mahibit yang akan ikut serta untuk menghancurkan saudara kandung Empu Baladatu sendiri. Saudara kandung yang bagi Empu Baladatu merupakan orang pertama yang akan disingkirkan.
Namun bagi Empu Baladatu, bukannya sekedar usaha menyingkirkannya saja, tetapi juga merupakan suatu usaha untuk mengetahui dan menjajagi kemungkinan selanjutnya bagi usahanya. Untuk menjajagi kekuatan orang-orangnya dan sekaligus untuk mengetahui apakah orang-orang Mahibit benar-benar dapat diandalkan.
“Jika aku dapat menguasai padepokan kakang Sanggadaru maka aku akan dapat berbuat sesuatu yang lebih meyakinkan. Aku dapat memaksa kakang Sanggadaru untuk mengikuti jejakku atau membinasakannya sama sekali. Meskipun ia saudara kandungku, tetapi di antara kami seolah-olah tidak ada ikatan apapun yang dapat menyentuh tali persaudaraan kami.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.
Ia memang sudah bertekad untuk berbuat sesuatu dengan segala akibatnya. Ia tidak merasa sayang seandainya Empu Sanggadaru harus dimusnahkan. Tetapi lebih baik jika Empu Sanggadaru itu dapat ditundukkannya dan meskipun lambat laun akan ikut serta bersamanya sehingga dapat membantu .dengan kekuatan yang cukup.
“Padepokan itu harus dihancurkan sampai lumat untuk dapat dibangun sebuah padepokan baru” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya. Memang agak berbeda dengan padepokan Serigala Putih yang memang memiliki dasar ilmu hitam, atau setidak-tidaknya orang-orang dalam padepokan itu memiliki kebiasaan yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang di dalam lingkungannya.
“Kebiasaan yang tidak terdapat di dalam lingkungan kakang Sanggadaru sehingga masih harus ditumbuhkan. Jika yang lama tidak disingkirkan sampai ke akar-akarnya, maka akan sulit sekali untuk menanam kekuatan baru di atas padepokan itu.” berkata Empu Baladatu kemudian kepada diri sendiri, “tetapi jika dapat dipegang kepalanya, serta dapat memaksanya untuk berbuat sesuatu, maka yang lain tentu akan mengikutinya tanpa banyak persoalan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Seolah-olah ia sudah mulai melihat hasil dari usahanya itu.
Pada hari sebelum saat purnama naik, orang-orang dari padepokan Serigala Putih telah diguncang oleh kedatangan seratus orang dari Mahibit. Orang-orang yang dijanjikan oleh Linggapati, di bawah pimpinan langsung Linggadadi sendiri.
“Kami datang memenuhi janji kami” berkata Linggadadi kepada Empu Baladatu yang menyongsongnya.
Empu Baladatu memandang sepasukan orang-orang Mahibit yang datang beriringan memasuki regol padepokan.
“Kalian berjalan beriringan seperti ini dari Mahibit sampai ke tempat ini?” bertanya Empu Baladatu.
Linggadadi tertawa. Katanya, “Tentu tidak begitu. Jika kami datang seratus orang dalam barisan seperti ini, maka perjalanan kami akan memanggil sepasukan prajurit Singasari sehingga mungkin kami sudah harus bertempur sebelum kami sampai ke tempat ini.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Sejenak ia memandangi seratus orang anak buah Linggadadi itu. Seolah-olah ia ingin memandang mereka seorang demi seorang,
“Kenapa?” bertanya Linggadadi, “apakah orang-orangku kurang baik menurut penilaian Empu?”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang yang baru datang itu adalah sepasukan prajurit yang cukup meyakinkan. Seorang demi seorang nampaknya mereka cukup terlatih. Bahkan hampir setiap gerak dan langkah mereka membayangkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.
“Untunglah bahwa kami sudah melakukan latihan-latihan yang berat” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, sehingga ia tidak perlu merasa malu apabila dua ratus orang pasukannya berbaris bersama-sama dengan seratus orang Mahibit itu.
“Marilah” Empu Baladatu kemudian mempersilahkan, “kami sudah menyediakan tempat bagi kalian meskipun sangat sederhana.”
“Kami datang untuk berkelahi” jawab Linggadadi, “bukan untuk memanjakan tubuh kami di atas pembaringan yang lunak dan dengan makan yang enak.”
“Tetapi kalian adalah tamu kami.”
Demikianlah, seratus orang itu segera dipersilahkan memasuki barak-barak yang sudah disediakan, sementara orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang yang sudah dipersiapkan itupun mulai menilai diri mereka masing-masing-
“Kita tidak akan tertinggal oleh kemampuan mereka” berkata salah seorang pemimpin mereka yang datang dari perguruan induk Empu Baladatu. Kalian sudah dibentuk menurut jalur ilmu kita yang agung. Karena itu, tunjukkan bahwa kalian mempunyai kelebihan dari mereka.”
Orang-orangnya pun mengangguk-angguk. Atas petunjuk para pemimpinnya, maka orang-orang dari Serigala Putih dan Macan Kumbangpun sama sekali tidak merasa rendah diri di hadapan orang-orang yang baru datang dari Mahibit yang menurut para pemimpin mereka adalab orang-orang biasa seperti mereka.
“Kita akan melihat setelah kita berada di medan” berkata para pemimpin.
Namun dalam pada itu, Kiai Dulangpun telah memperingatkan, bahwa orang-orang Empu Sanggadaru bukanlah orang-orang yang dungu.
Empu Baladatu mendengarkan setiap keterangan Kiai Dulang tentang orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru. Iapun telah mendengar pula bahwa orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru sanggup berjalan sehari penuh tanpa berhenti sama sekali. Bahkan iapun pernah mendengar bahwa anak muda yang bernama Mahisa Bungalan pernah mengikuti iring iringan anak buah Empu Sanggadaru yang sedang berlatih.
“Bukan sesuatu yang perlu dikagumi” berkata Empu Baladatu, “sebab dalam pertempuran, selain ketahanan tubuh dan tenaga, kemampuan menggerakkan senjata merupakan unsur yang lebih banyak menentukan. Dan kita sudah berlatih sebaik-baiknya. Kita tidak usah menyembunyikan ciri-ciri yang ada pada kita. Kita akan membunuh dengan cara kita agar orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru menjadi gentar.
“Kita akan membunuh di arena pertempuran dengan pisau belati?”bertanya Kiai Dulang.
“Ya. Mayat-mayat yang terkelupas akan kita lemparkan kepada para pemimpin mereka agar mereka menyadari, siapakah yang mereka hadapi. Jika kakang Sanggadaru tidak mau menyerah, maka orang-orangnya akan mengalami nasih yang menyedihkan seperti itu. Bahkan kakang Sanggadaru sendiri.”
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Empu Baladatu benar-benar ingin membuat suatu kejutan. Beralasan dendam orang-orang Serigala Putih, maka padepokan Empu Sanggadaru betul-betul akan dilumatkan sebelum dibangunkan sebuah padepokan baru.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar