Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 26-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-26-02
“Itulah yang ingin hamba tanyakan kepada tuan Puteri apakah hal itu yang membuat tuan Puteri gelisah dan bahkan merasa benar-benar menjadi sakit.”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan kakang. Aku sudah pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku akan mengatakan bahwa keris itu hilang. Aku tidak tahu lagi dimana aku menyimpannya karena sudah bertahun-tahun tidak aku hiraukan lagi.”

“Apakah tuanku Sri Rajasa akan mempercayainya?”

“Mungkin tidak. Tetapi aku bertekad untuk tidak mengatakan yang sebenarnya apa-pun yang akan terjadi atasku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pada suatu saat, Ken Dedes memang sampai pada suatu pilihan, bahwa ia harus menyelamatkan anaknya.

“Apakah tuan Puteri benar-benar sudah mengambil keputusan demikian?”

“Ya. Aku sudah mengambil keputusan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan Puteri. Hamba rasa seandainya tuan Puteri berkata demikian, Sri Rajasa tidak akan dapat memaksa. Selama hamba berada di Singasari, sudah tentu hamba akan ikut bertanggung jawab. Jika pada suatu saat Sri Rajasa mengambil sikap yang keras, maka apaboleh buat. Tentu hamba tidak akan membiarkan tuan Puteri mengalami sesuatu akibat keris itu.”

Tiba-tiba saja Ken Dedes bangkit duduk dibibir pembaringan. “Apa yang akan kau lakukan kakang?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak ingin berbuat apa-apa tuan Puteri. Tetapi adalah kuwajiban hamba melindungi tuan Puteri, karena hamba adalah saudara tua tuan Puteri. Memang yang paling berhak melindungi tuan Puteri adalah suami tuan Puteri, di dalam hal ini adalah tuanku Sri Rajasa. Tetapi jika bahaya itu datang justru dari Sri Rajasa, maka aku masih berhak untuk berbuat sesuatu jika tuan Puteri menghendakinya.”

Ken Dedes memandang Mahisa Agni sejenak. Namun kemudian wajahnya segera tertunduk. Terbayang di dalam rongga matanya Mahisa Agni itu di masa mudanya. Ketika ia hampir saja menjadi korban nafsu Kuda Sempana yang ingin melarikannya dari Panawijen dan mengambilnya langsung dari bendungan ketika ia sedang mencuci. Mahisa Agni yang tiba-tiba muncul dari balik tanggul telah menyelamatkannya, setelah Wiraprana tidak berdaya berbuat sesuatu atas Kuda Sempana, yang saat itu menjadi prajurit Tumapel.

Kemudian dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Agni selalu melindunginya. Bahkan kemudian ia mendengar pula, bahwa Mahisa Agni pernah berperang tanding melawan Mahendra dengan menyebut dirinya sebagai Wiraprana, sehingga ia berhasil mengalahkannya. Dan pada saat ia diambil dengan kekerasan dari Panawijen, Mahisa Agni hampir saja terbunuh oleh sebuah keris justru ia berusaha mempertahankannya.

Dan kini, ketika umurnya telah bertambah dengan puluhan tahun, Mahisa Agni masih tetap melindunginya sebagai seorang kakak yang bertanggung jawab, meskipun sebenarnya ia hanyalah seorang saudara angkat.

Namun Ken Dedes tidak dapat melihat tembus kepusat jantung Mahisa Agni. Betapa hati anak muda yang bernama Mahisa Agni itu terguncang ketika ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa Ken Dedes, gadis padepokan Panawijen itu mencintai seorang anak muda bernama Wiraprana. Pada saat itu Mahisa Agni hampir menjadi gila karenanya, dan bahkan ia serdirilah yang hampir saja membinasakan Wiraprana karena hatinya yang gelap.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Masa muda yang penuh dengan khayalan-khayalan yang manis itu kini telah lalu. Panawijen yang hijau subur itu tinggallah kenangan, karena daerah itu kini menjadi kering kerontang. Panawijen telah menjadi kering karena kutuk ayahnya yang tidak dapat menahan luapan kemarahan dan memecahkan bendungan yang sanggup mengairi tanah persawahan. Meskipun kini ada padukuhan baru yang hijau di pinggir padang Karautan, namun padukuhan yang baru ini tidak dapat memberikan kenangan semanis Panawijen yang lama, Panawijen tempat ia dibesarkan sampai saatnya ia menjadi seorang gadis remaja.

Dalam pada itu selagi Ken Dedes tenggelam di dalam dunia kenangan, Mahisa Agni-pun duduk sambil menundukkan kepalanya pula. Dalam keheningan itu-pun ia telah dibayangi oleh berbagai persoalan. Tetapi berbeda dengan Ken Dedes yang mengenangkan masa lalunya, Mahisa Agni sedang mereka-reka apakah yang dapat dilakukan seandainya Sri Rajasa tiba-tiba saja mengambil sikap yang keras dan terbuka.

“Mungkin Sri Rajasa telah mempersiapkan diri,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “lewat beberapa orang Senapati yang dapat dipengaruhinya untuk menyingkirkan Anusapati, ia sudah menyiapkan sepasukan prajurit untuk bertindak dengan cepat didalam istana ini. Jika persoalannya telah dapat dikuasainya di dalam istana, maka ia akan dapat menyebarkan keterangan sekehendak hatinya, dan memberikan kepercayaan kepada prajurit yang tersebar di seluruh Singasari. Bahkan para Panglima yang ada dipusat pemerintahan ini-pun akan dapat kelabuinya. Sri Rajasa dapat saja menuduh Anusapati melawan kehendaknya dan tidak lagi tunduk kepadanya. Dan ia masih dapat membuat alasan-alasan yang bagaimana-pun juga.”

Namun dalam pada itu, selagi Ken Dedes mengenangkan masa-masa remajanya yang indah, dan yang menjadi semakin indah didalam bayangan masa lampau, dan selagi Mahisa Agni sibuk dengan perhitungan yang mendebarkan, Sri Rajasa sendiri sedang duduk merenung. Semua orang yang mendekatinya diusirnya, seakan-akan ia ingin duduk dalam kesepian. Dalam dunianya yang terasing.

Seperti Ken Dedes dan Mahisa Agni, maka yang bermain didalam diri Sri Rajasa-pun adalah angan-angannya. Angan-angan yang bergeser dari waktu kewaktu. Dari masa lampau kemasa kini dan kemasa yang mendatang.

Dengan nafas yang berat, Sri Rajasa duduk bersandar tiang di serambi belakang bangsalnya yang sepi. Dilihatnya dedaunan yang bergerak ditiup angin. Rasa-rasanya angin yang bertiup perlahan-lahan itu telah mengusap keningnya pula, seperti usapan tangan yang lembut.

Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu belum pernah merasakan kelembutan tangan ibunya di masa kanak-anak. Sejak bayi ia sudah tersisih dari keluarganya dan hidup dalam lingkungan yang tidak terpuji.

Dalam suatu dunia yang gelap. Ia hidup dari rumah seorang pencuri, berpindah ke rumah seorang penjudi dan perampok. Kemudian hidup dipandang Karautan dan menghantui sesamanya. Sehingga pada suatu saat ia terlempar kedalam istana yang megah ini.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Adalah jauh berbeda dengan angan-angan Mahisa Agni dan Anusapati, bahkan Ken Dedes. Pada saat terakhir, Sri Rajasa seakan-akan mulai mampu melihat kedalam dirinya sendiri. Seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah bayangan yang jelas tentang dirinya dan segala perbuatannya.

“Sudah cukup,” tiba-tiba saja ia berdesah, “aku sudah cukup lama menerima kurnia Yang Maha Agung. Mungkin aku memang kekasih dewa-dewa. Tetapi aku tidak dapat ingkar melihat kenyataan pada diri Ken Dedes. Ia adalah perempuan pinunjul yang pantas melahirkan seorang besar di tanah ini.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang ke dalam semak-semak yang rimbun, ia tidak melihat lagi warna bunga-bungaan yang beraneka. Tetapi yang membayang adalah semak-semak di padang Karautan. Semak yang bahkan kadang-kadang berduri. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukan. Apabila ia ingin bersembunyi, maka ia-pun menyusup saja kedalamnya tanpa menghiraukan kulitnya yang berjalur-jalur merah tersangkut duri.

“Betapa hidup ini bagaikan mimpi di malam-malam yang panjang dan terputus-putus,” berkata Ken Arok didalam hatinya. “Seperti hidupnya sendiri bagaikan mimpi yang patah-patah hampir tidak dapat dipercaya. Sebagai seorang anak liar di padang Karautan, kini ia cepat duduk dengan megahnya di atas tahta Singasari.”

“Aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada padaku. Didalam kamukten ini aku tidak berusaha membersihkan diriku, tetapi aku justru lebih banyak menodai diriku sendiri dengan berbagai macam kesenangan dan cita-cita yang menyimpang dari keinginan Yang Maha Agung,” desisnya ketika terbayang di wajahnya seorang gadis yang ditemuinya dihutan perburuan dan berhasil menjebaknya. Seperti kehidupan liar yang ditempuhnya dimasa mudanya, dengan memperkosa gadis-gadis, maka ia-pun terjebak dalam kehidupan yang liar bukan atas kehendaknya. Maka ia-pun terjebak untuk mengambil Ken Umang menjadi isterinya, sehingga lahirlah anak demi anak. Namun kini ia melihat, bahwa ia tidak dapat lagi mengelakkan pengaruh perempuan itu yang justru semakin lama terasa semakin kuat.

Ken Arok bergeser setapak. Angan-angannya menjadi semakin tajam menyoroti dirinya sendiri. Dan ia-pun melihat dirinya sendiri kini telah berdiri di tengah-tengah arus sungai yang deras. Berhenti atau terus, ia sudah terlanjur basah. “Jika aku harus berjalan terus, aku tidak lagi berbuat karena suatu keyakinan.” ia berkata kepada diri sendiri, “yang aku lakukan hanyalah karena semuanya sudah terlanjur. Dan didalam saat yang paling sulit, tentu aku tidak akan dapat melepaskan Tohjaya yang tamak itu.”

Namun Ken Arok tidak juga dapat menyalahkan Tohjaya. Ia telah ikut membentuk Tohjaya menjadi seorang pemimpin. Seorang yang bercita-cita terlampau tinggi tanpa mengingat alas yang diinjaknya. Jika perlu, ia akan berdiri diatas alas mayat Anusapati dan siapa-pun juga untuk mencapai singgasana Singasari.

Bayangan-angan itulah agaknya yang selalu menghantui Ken Arok. Bayangan-angan yang saling berbenturan antara warna-warna yang bertentangan di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok itu merenung, terdengar desir perlahan-lahan mendekatinya. Ketika ia berpaling dilihatnya dikejauhan, Tohjaya berdiri termangu-mangu. Agaknya ia sudah mendengar dari para prajurit yang bertugas, bahwa Sri Rajasa sedang tidak mau dikunjungi oleh siapapun. Tetapi agaknya Tohjaya masih ingin juga mencobanya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Justru pergolakan di dalam hatinya itulah yang telah mendorongnya untuk memanggil Tohjaya menghadap, karena ia tidak mau dengan tiba-tiba saja bersikap lain.

Dengan dada yang berdebar-debar Tohjaya mendekati Ken Arok. Beberapa langkah daripadanya ia berhenti termangu-mangu. Baru ketika Ken Arok mengangguk, ia maju lagi beberapa langkah.

“Kenapa kau ragu-ragu?” bertanya Ken Arok.

“Ampun ayahanda,” sahut Tohjaya, “para prajurit mengatakan bahwa ayahanda sedang ingin duduk sendiri.”

“Ya, aku tidak ingin diganggu oleh masalah-masalah yang membuat kepalaku bertambah pening. Aku ingin beristirahat barang sejenak, karena badanku-pun terasa kurang enak.”

“Ampun ayahanda. Hamba tidak ingin membicarakan sesuatu. Hamba hanya ingin datang menghadap.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. “Baiklah. Jika demikian, duduklah sebaik-baiknya. Aku agak segan berbicara tentang persoalan-persoalan yang dapat memberati pikiranku hari ini.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun berkata, “Ampun ayahanda. Hamba memang tidak ingin mempersoalkan sesuatu. Tetapi hamba hanya ingin sekedar bertanya.”

“Apa?”

“Apakah sakit ibunda Permaisuri masih cukup parah ayahanda?”

“O,” Ken Arok merenung sejenak. Lalu, “aku tidak tahu. Mudah-mudahan sakitnya sudah sembuh sama sekali.”

“Sebenarnya ibunda Ken Umang ingin menghadap ibunda Permaisuri untuk sekedar menengoknya. Tetapi ibunda Ken Umang agak merasa takut kalau-kalau ibunda Permaisuri tidak menerimanya.”

“Kenapa tidak menerima?”

“Mungkin karena ibunda Permaisuri ingin beristirahat, tetapi mungkin juga karena ibunda tidak ingin bertemu dan berbicara didalam keadaan itu dengan ibunda Ken Umang.”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,” sahut Sri Rajasa.

“Itulah sebabnya maka ibunda mohon pertimbangan ayahanda.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Sebenarnya ia tidak senang mendengar pertanyaan itu. Ia sedang menenteramkan hatinya dan menerawang hidupnya sendiri. Namun demikian ia tidak sampai hati untuk menolak pertanyaan itu.

Karena itu, maka Sri Rajasa kemudian menjawab, meskipun seakan-akan asal saja terlontar dari mulutnya, “jangan pergi sekarang.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap Sri Rajasa, Tohjaya-pun sadar, bahwa ayahandanya itu sedang dirisaukan oleh sesuatu yang tidak dimengertinya.

“Mungkin Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya di dalam hatinya. Baginya setiap persoalan yang tidak menyenangkan bagi ayahandanya, adalah persoalan yang ditumbuhkan oleh Anusapati.

Namun jawaban itu sebenarnya bagi Sri Rajasa adalah jawaban yang dapat diucapkannya waktu itu. Dengan demikian maka Tohjaya pasti tidak akan bertanya apa-pun lagi.

Tetapi ternyata bahwa Tohjaya masih tetap tidak beranjak. Bahkan sejengkal ia bergerak maju sambil bertanya, “Ayahanda. Tampaknya ayahanda sedang memikirkan sesuatu. Jika berkenan dihati ayahanda, apakah hamba dapat mengetahuinya dan apakah hamba dapat ikut membantu memecahkannya?”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian mencoba tersenyum dan menjawab, “Tidak Tohjaya. Tidak ada apa-apa yang sedang aku pikirkan. Aku hanya ingin beristisahat karena aku terlampau lelah.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dihatinya ia masih saja diganggu oleh sikap dan kerut-merut di wajah ayahandanya.

“Tohjaya,” berkata Sri Rajasa, “tinggalkan aku seorang diri. Sebentar lagi aku akan beristirahat dipembaringan. Rasa-rasanya badanku terlampau letih beberapa hari ini.”

Tohjaya memandang ayahanda dengan heran. Biasanya ayahnya tidak pernah tampak begitu letih dan lesu. Sri Rajasa adalah seorang yang penuh gairah menanggapi kehidupan ini. Wajahnya selalu memancarkan luapan perasaan dan matanya bagaikan menyala. Sri Rajasa tidak pernah menjadi tampak terlalu murung dan merasa seperti saat itu.

“Ayahanda,” tiba-tiba saja Tohjaya bertanya, “apakah ayahanda merasa bahwa badan ayahanda tidak enak?”

“Tidak Tohjaya, aku tidak apa-apa. Aku hanya letih. Akhir-akhir ini aku menghadapi banyak persoalan yang menyangkut kelangsungan hidup Singasari.”

“Tetapi ayahanda tidak memberitahukan kepada hamba. Jika hamba mengetahuinya, maka biarlah hamba ikut memikirkannya. Selama ini ayahanda selalu mempersoalkan keadaan Singasari dengan hamba. Dan ayahanda menganggap bahwa pikiran hamba baik juga dipertimbangkan oleh ayahanda.”

“Ya. Aku memang memerlukan bantuan pikiranmu. Aku-pun akan mendengarkan pendapatmu. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin beristirahat. Aku ingin tidur senyenyak-nyenyaknya.”

Tohjaya menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak mau menimbulkan kegelisahan yang semakin mengganggu ayahandanya, sehingga karena itu ia tidak mendesaknya lagi. Bahkan ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya, “Ayahanda. Mungkin ayahanda memang terlampau lelah. Sudah lama ayahanda tidak pergi berburu.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Apakah ayahanda tidak ingin berburu? Dengan demikian ayahanda dapat melupakan kelelahan yang agaknya mulai mengganggu.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.

“Jika ayahanda berkenan, hamba akan ikut serta berburu untuk mendapatkan kesegaran baru.”

Sri Rajasa memandang Tohjaya sejenak. Lalu katanya, “Dalam keadaan serupa ini, aku tidak dapat meninggalkan Istana.”

“Bukankah ada para Panglima yang dapat ayahanda serahi pemerintahan?”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Namun tanpa disangkanya Tohjaya berkata, “O, apakah ayahanda berpikir tentang Pamanda Mahisa Agni yang kini sedang berada di istana ini. Ayahanda dapat mengusirnya. Biarlah ia segera pergi dan kembali ke Kediri.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dan karena itu Tohjaya berkaca terus, “Ayahanda, kehadiran Pamanda Mahisa Agni memang memberikan pengaruh yang buruk di istana ini. Kakanda Anusapati selalu saja hilir mudik dari bangsalnya sendiri kebangsal ibunda Permaisuri, kemudian ke bangsal Pamanda Mahisa Agni. Bukan hanya sekali dua kali sehari, tetapi berulang kali. Kemudian Pamanda Mahisa Agni pergi mengunjunginya dan kemudian pergi ke bangsal ibunda Permaisuri.”

“Ken Dedes sedang sakit Tohjaya. Adalah wajar sekali jika pamanmu Mahisa Agni menungguinya. Ia adalah saudara tua ibundamu Permaisuri. Kegelisahan Anusapati-pun dapat dimengerti. Bukankah ibunya sedang sakit. Mungkin ia memang diminta oleh ibundanya untuk menghubungi pamannya. Tidak hanya sekali, mungkin sekali dua kali sehari.”

“Tetapi tentu bukan karena sakit ibunda Permaisuri saja ayahanda.”

“Jangan berprasangka terlalu jauh Tohjaya.”

“Tetapi sikap Kakanda Anusapati sudah menjadi semakin memuakkan. Bukankah kita sudah berkeputusan untuk mengusirnya dari kedudukannya dan dari istana ini? Ayahanda, jika ayahanda tidak cepat bertindak di dalam keadaan ini, maka ia akan sempat memperbaiki kedudukannya.”

Dada Sri Rajasa berdesir. Ia memang pernah mengatakan, bahwa sebenarnya Anusapati tidak diperlukannya lagi. Tetapi ketika ia mendengarnya hal itu sekali lagi, rasa-rasanya sesuatu bergetar di hatinya. Sekilas terbayang cahaya yang silau pada diri Ken Dedes. Dan Ken Arok pernah mendengar bahwa cahaya yang demikian adalah pertanda bahwa orang itu akan meneteskan keturunan agung.

Tohjaya memandang wajah ayahnya yang berubah-rubah itu. Kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang seolah-olah Sri Rajasa sudah pasrah pada keadaan yang terjadi. Bahkan sekali-sekali ia memejamkan matanya dan melihat di dalam kekelaman, dunia yang tidak dapat dimengertinya membentang dihadapannya.

“Ayahanda,” Tohjaya menjadi cemas.

“Aku memang lelah sekali Tohjaya,” jawab Sri Rajasa, “aku ingin beristirahat sejenak. Apakah keperluanmu sudah selesai?”

“Hamba tidak mempunyai keperluan yang khusus ayahanda. Hamba hanya ingin menghadap ayahanda. Barangkali ada titah ayahanda yang harus hamba lakukan.” Tohjaya berhenti sejenak. Lalu, “atau, jatuhkanlah perintah atas namba ayahanda. Hamba akan melakukannya. Dengan, beberapa orang prajurit, hamba dapat menyelesaikan tugas ini.”

“Maksudmu membunuh Anusapati?”

Dada Tohjaya berdesir. Tetapi ia mengangguk sambil menyahut, “Hamba ayahanda.”

“Ah, kau. Apakah kau masih saja berusaha menyembunyikan kenyataan. Beberapa kali usaha itu dilakukan, tetapi selalu gagal. Kiai Kisi bahkan telah terbunuh. Tidak mustahil bahwa sebenarnya Anusapati telah menciun rencana itu.”

“Aku memang pernah mendengar tentang Kiai Kisi meskipun tidak begitu jelas. Tetapi itu tentu karena kebodohannya.”

“Kemudian sepasukan prajurit yang berusaha membinasakan Kesatria Putih. Namun justru senjata prajurit-prajurit yang menyamar itu tertumpuk dipintu gerbang pada pagi harinya. Apakah kau masih mempunyai rencana lain?”

“Ayahanda, hamba tidak ingin berpura-pura. Jika hamba harus membunuhnya, maka hamba akan datang dengan dada tengadah dan membunuhnya. Melawan atau tidak melawan.”

“Kau akan menjadikan persoalan ini terbuka?”

Tohjaya ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk. “Ya. Apaboleh buat.”

“Kau memang bodoh sekali Tohjaya.”

Tohjaya terkejut mendengar kata-kata yang keras itu. Hampir tidak pernah Sri Rajasa mengatakan demikian tentang dirinya. Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tidak dapat berkata apa-pun juga.

“Tohjaya,” berkata Sri Rajasa, “saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Ia dapat berbuat banyak apabila kita terlibat dalam benturan terbuka.”

“Tentu tidak ayahanda. Jika ayahanda menjatuhkan perintah kepada para Panglima untuk menangkapnya. Betapa-pun kuatnya Pamanda Mahisa Agni, namun para Panglima adalah bukan orang kebanyakan pula.”

“Tohjaya,” tiba-tiba suara Sri Rajasa merendah, “tinggalkan aku seorang diri. Aku lelah sekali. Aku sedang segan sekali memikirkan apa-pun juga, termasuk Anusapati dan Mahisa Agni. Bahkan tentang Singasari sekalipun.”

Tohjaya menjadi semakin termangu-mangu. Ia tidak dapat mengerti sikap ayahandanya yang belum pernah dijumpainya itu.

Namun kesimpulan dihatinya adalah, bahwa ayahandanya memang benar-benar sedang terlalu lelah dan benar-benar ingin beristirahat.

Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Sudahlah ayahanda. Agaknya ayahanda memang benar-benar harus beristirahat. Perkenankan hamba mohon diri.”

Sri Rajasa mengangguk. “Ya. Aku memang akan beristirahat sama sekali tanpa persoalan apapun.”

“Baiklah ayahanda. Dan hamba akan mengatakannya kepada ibunda Ken Umang, bahwa untuk saat ini ibunda Ken Umang tidak sebaiknya pergi ke bangsal ibunda Permaisuri.”

“Ya,” jawab Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu agar Tohjaya tidak mempersoalkannya lagi.

Tohjaya-pun segera minta diri. Di halaman bangsal Sri Rajasa ia berhenti sejenak. Dilihatnya seorang prajurit berdiri termangu-mangu di kejauhan.

“He,” katanya kepada pengawalnya, “apakah prajurit itu ingin menghadap aku?”

“Hamba akan bertanya kepadanya tuanku,” jawab prajurit itu.

Sejenak kemudian seorang pengawal Tohjaya mendekati prajurit yang termangu-mangu itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka prajurit itu menjawab, “Aku akan menyampaikan sesuatu kepada tuanku Tohjaya.”

“Marilah. Tuanku Tohjaya melihat kau termangu-mangu. Karena itu aku diperintahkannya bertanya kepadamu.”

Prajurit yang termangu-mangu itu-pun kemudian dibawa menghadap. Dengan dahi yang berkerut merut Tohjaya bertanya, “Apa yang akan kau katakan?”

“Ampun tuanku,” berkata prajurit itu dengan ragu-ragu.

“Jangan ragu-ragu. Katakan yang ingin kau katakan. Bahkan seandainya kau mempunyai permintaan sekalipun.”

“Hamba tuanku. Memang ada yang ingin hamba katakan.” ia berhenti sejenak. Lalu, “apakah hamba diperkenankan mengucapkannya.”

“Katakan. Mungkin tentang kuda atau tentang senjata atau kau prajurit yang sering ikut bersamaku berburu?”

“Ya tuanku. Hamba kadang-kadang mengawal tuanku di dalam dan di luar istana.”

“Aku tahu.”

“Hamba, tuanku, sebenarnyalah hamba ingin mengatakan sesuatu tentang Putera Mahkota.”

“He?” Tohjaya terbelalak.

“Tentang kakanda tuanku itu. Kesibukannya luar biasa setelah Pamanda Mahisa Agni ada di halaman istana.”

Tohjaya tidak menyahut. Dibiarkannya orang itu berbicara terus. Katanya, “Apakah tuanku tidak menaruh perhatian terhadap kesibukan kakanda tuanku itu?”

Tohjaya menganguk dan berkata, “Tentu, tentu.”

“Nah, hamba menyaksikan sendiri, tuanku Pangeran Pati itu selalu mondar mandir dari bangsal tuan puteri Ken Dedes ke bangsal pamanda tuanku Mahisa Agni.”

“Aku sudah tahu. Tetapi apa yang akan kau katakan selanjutnya?”

“O,” orang itu menjadi kecewa, “jadi tuanku sudah mengetahuinya.”

“Aku sudah tahu. Sekarang katakan yang ingin kau katakan tentang Kakanda Anusapati,” geram Tohjaya.

“Itulah yang akan hamba katakan tuanku.”

“Hanya itu?”

“Hamba tuanku.”

Wajah Tohjaya menegang sesaat. Namun kemudian sambil mendorong orang itu dengan kakinya sehingga orang itu terjatuh berguling di tanah.

“Pergi kau penjilat bodoh,” bentak Tohjaya yang hatinya memang sedang gelap, “aku tidak perlu keteranganmu itu.”

Orang itu dengan takutnya bangkit dan duduk di tanah. Tetapi ia sama sekali tidak berani memandang lagi wajah Tohjaya yang sedang marah.”

Tohjaya-pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dengan tergesa-gesa ia-pun pergi meninggalkan prajurit yang duduk dengan kepala tunduk itu diiringi oleh para pengawalnya.

Ketika Tohjaya sudah tidak tampak lagi, maka orang tu-pun segera berdiri sambil mengumpat perlahan-lahan. Tetapi ia tidak berani menunjukkan kemarahannya itu kepada orang lain. Sekali ia berpaling memandang para prajurit yang bertugas di bangsal Sri Rajasa. Ketika ia melihat prajurit-prajurit itu tersenyum, sekali lagi ia mengumpat.

Dengan tergesa-gesa ia-pun kemudian meninggalkan halaman bangsal itu. Mulutnya tidak hentinya mengumpat, meskipun tidak ada seorang-pun yang mendengarnya.

Prajurit itu tertegun ketika ia mendengar suara seseorang yang tertawa dibalik gerumbul. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru taman yang berjongkok sambil menyiangi sebatang pohon. Namun prajurit itu tahu pasti bahwa orang itulah yang sedang tertawa.

“Kenapa kau tertawa he?” prajurit itu membentak.

Juru taman itu berpaling sambil menjawab, “Aku tidak bermaksud tertawa. Tetapi aku tidak dapat menahannya.”

“Gila. Aku bunuh kau,” orang itu membelalakkan matanya, “kau juru taman yang gila itu. Seharusnya kau benar-benar sudah mati.”

Wajah juru taman itu menjadi pucat.

“Jangan menyesal. Aku memang akan membunuhmu.”

“Jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan mencekikmu.”

“Aku akan berteriak.”

“Persetan.”

“Prajurit-prajurit itu akan datang kemari. Dan aku akan berceritera bahwa pada malam hari itu, kau pulalah yang akan membunuhku. Sekarang kau berusaha memfitnah Pangeran Pati dengan mengatakan ceritera-ceritera bohong kepada tuanku Tohjaya. Kau dapat dituduh mengadu domba.”

“Gila, gila kau.”

“Nah, aku akan berteriak sekarang. Matamu menjadi liar. Kau benar-benar akan membunuhku.”

Mata prajurit itu memang menjadi liar. Dipandanginya prajurit-prajurit yang bertugas di depan bangsal. Belum begitu jauh.

Jika juru taman itu berteriak, di antara mereka pasti akan datang dan mengusut persoalannya.

“Aku akan berteriak,” juru taman itu mengulang.

“Jangan, jangan.”

“Apa peduliku. Aku akan berteriak.”

“Jangan, jangan. Aku tidak benar-benar akan membunuhmu. Bukankah aku sudah mengatakan. Aku akan berkunjung ke rumahmu membawa oleh-oleh buat anak binimu.”

“Aku tidak mempunyai anak bini. Aku hidup sendiri.”

“O, jika demikian aku akan membawa oleh-oleh buatmu.”

“Bawalah uang sebanyak-banyaknya. Aku lebih senang kau membawa uang.”

Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi ia-pun segera memaksa dirinya untuk tersenyum.

“Baik, baik. Aku akan membawa uang buatmu. Aku benar-benar akan datang malam nanti. O, malam nanti adalah malam yang baik untuk berkunjung ke rumahmu.”

“Terima kasih. Aku akan menunggumu.”

Prajurit itu tidak menyahut lagi. Sambil mengkibas-kibaskan pakaiannya yang kotor oleh debu maka ia-pun kemudian meninggalkan juru taman itu sendiri.

Sepeninggal prajurit itu, Sumekar-pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Tentu bukan ia sendiri penjilat di dalam istana ini. Tentu masih banyak orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan dari setiap perkembangan persoalan. Jika penjilat-penjilat semacam itu masih juga mendapat kesempatan, maka istana ini pasti akan segera terbakar.”

Sejenak Sumekar berdiri termangu-mangu. Kemudian ia-pun meninggalkan pohon yang sedang disianginya. Ia tiba-tiba saja ingin berbicara dengan Anusapati atau Mahisa Agni.

“Mungkin ada perkembangan yang belum aku mengerti,” berkata Sumekar didalam hati.

Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sambil membawa alat-alat seorang juru taman, maka ia-pun pergi ke taman di halaman bangsal Mahisa Agni. Ternyata seorang juru taman yang lain sedang membersihkau daun-daun kuning yang berguguran karena angin yang agak kencang.

“He, dimana kau?” bertanya juru taman itu kepada Sumekar.

“Aku sedang menyiangi pohon ceplok piring itu.”

“Halaman ini menjadi sangat kotor. Bukankah ini tugasmu?”

“Ya,” jawab Sumekar, “baiklah, aku selesaikan.”

Juru taman itu-pun kemudian menyerahkan sapu lidinya kepada Sumekar sambil berkata, “Pekerjaanku sendiri sudah selesai. Jika masih sibuk biarlah aku selesaikan pekerjaan ini.”

“Kenapa kau serahkan sapu ini kepadaku?”

Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Jadi bagaimana? Apakah aku harus melanjutkannya.”

“Tidak,” jawab Sumekar, “aku akan membersihkannya. Jika bukan aku, tentu tuanku Mahisa Agni akan marah karena tidak akan dapat sebersih bekas tanganku.”

“Macam kau. Coba biarlah aku yang menyelesaikan. Nanti, kita tunggu, apakah tuanku Mahisa Agni akan marah atau tidak. Kita bertaruh. Rangsum makan kita tiga hari.”

Sumekar merenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak mau. Aku tidak tahan untuk tidak makan tiga hari.”

“Nah, jika demikian jangan sombong.”

“Baik. Aku tidak akan sombong.”

Juru taman itu memandang Sumekar dengan kerut-merut dikeningnya. Lalu ia-pun meninggalkannya sambil menggerutu, “Kau sudah mulai kambuh lagi.”

Sumekar tertawa. Dipandanginya saja kawannya itu sampai hilang dibalik gerumbul-gerumbul pohon bunga di sudut halaman, ia memang menghendaki agar orang itu pergi meninggalkan bangsal itu.

Sambil membersihkan halaman Sumekar mendekati dua orang prajurit yang bertugas di regol. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun bertanya, “Ki Sanak, apakah tuanku Mahisa Agni ada didalam bangsal?”

“Kenapa?” bertanya prajurit itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya akan membersihkan pohon-pohon bunga sampai ke longkangan samping. Jika tuanku Mahisa Agni sedang beristirahat, aku takut, kalau aku mengejutkannya. Tuanku Mahisa Agni menurut pendengaranku adalah seorang Senapati yang keras hati. Jika sekali aku dipukulnya, maka kepalaku akan dapat lepas karenanya.”

“Tidak,” jawab prajurit itu, “tuanku Mahisa Agni sedang keluar.”

“Kemana?”

“Aku tidak tahu. Tuanku Mahisa Agni tidak pernah membawa seorang pengawalpun. Bukan saja di halaman istana, tetapi juga jika ia pergi keluar. Mirip sekali dengan tuanku Pangeran Pati.”

Sumekar menganggukakan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian, mumpung tuanku Senapati itu tidak ada, aku akan menyiangi tanaman dilongkangan. Selama tuanku Mahisa Agni ada di Singasari, aku hampir tidak pernah mendapat kesempatan melakukannya, sehingga pohon bunga-bunga di longkangan itu menjadi kurus dan layu.”

“ Lakukanlah.”

Sumekar-pun kemudian pergi kelongkangan samping. Dilihatnya pintu butulan bangsal itu tertutup. Dan ia-pun sama sekali tidak mendekati pintu yang tertutup itu.

Demikianlah untuk beberapa saat lamanya Sumekar berada dilongkangan. Ia memang menunggu sampai Mahisa Agni datang. Ia ingin mendengar sesuatu tentang perkembangan terakhir dari hubungan yang kalut antara Sri Rajasa, Permaisurinya dan Putera Mahkota.

Ternyata dalam pada itu, Mahisa Agni masih duduk merenung di bangsal Permaisuri. Tetapi tidak lama kemudian berkata, “Sudahlah tuan Puteri, hamba akan kembali ke bangsal hamba. Untuk waktu yang sejauh dapat hamba usahakan, hamba akan tetap berada di Singasari. Kecuali jika hamba tidak mempunyai kesempatan lagi karena perintah Sri Rajasa. Tetapi sebelum perintah itu mendesak, hamba masih akan tetap disini.”

“Terima kasih kakang. Awasilah Anusapati. Hatiku selalu cemas bagaikan melepaskan anak yang baru pandai merangkak di pinggir jurang.”

“Baiklah tuan Puteri, hamba akan selalu mencoba mengawasinya. Hamba akan mencoba mengendalikannya agar Putera Mahkota itu tidak bertindak tergesa-gesa.”

“Terima kasih.” suaranya-pun kemudian merendah, “tidak ada orang lain yang kini dapat aku percaya selain kau kakang.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kata-kata itu diucapkan oleh Ken Dedes. Tetapi kini setelah rambutnya hampir berwarna rangkap.

“Tuan Puteri,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku menjunjung tinggi kepercayaan itu. Baik sebagai seorang saudara laki-laki, mau-pun sebagai seorang Senapati Agung di Singasari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Namun terasa betapa kecemasan yang sangat selalu membayangi Permaisuri itu.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun mohon diri sambil berpesan perlahan-lahan sekali, “Tuan Puteri. Tuan Puteri harus tetap menyadari, bahwa sesungguhnya tuan Puteri tidak sedang sakit. Jika tuan Puteri tidak menyadarinya, maka akan dapat terjadi, tuan Puteri benar-benar menjadi sakit, atau rasa-rasanya seakan-akan tuan Puteri benar-benar sakit.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mencoba tersenyum ia menjawab, “Ya kakang. Kadang-kadang aku lupa bahwa sebenarnya aku hanya berpura-pura saja sakit, sehingga rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat bahwa sebenarnyalah Ken Dedes sedang menderita sakit. Bukan badannya, tetapi hatinya yang kemudian mempengaruhi jasmaniahnya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun meninggalkan bangsal Ken Dedes. Namun agaknya masih terlampau siang untuk singgah di bangsal Anusapati. Karena itu, maka ia-pun berjalan-jalan saja di halaman tanpa tujuan sekedar untuk mengisi waktu.

Tanpa disadarinya ia-pun menyusuri dinding yang membatasi halaman istana Singasari yang lama dengan istana yang dibangun oleh Ken Arok untuk isterinya yang muda Ken Umang. Dan tanpa sesadarnya pula Mahisa Agni melangkah didepan regol yang terbuka.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar seseorang-menyapanya, “Kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni berpaling. Hatinya bagaikan berguncang ketika dilihatnya Ken Umang berdiri di seberang regol yang terbuka itu sambil tersenyum.

“O, ampun tuan Puteri,” sahut Mahisa Agni dengan suara gemetar. “Hamba tidak tahu bahwa tuan Puteri berdiri di situ.”

“Ah, kenapa kau masih saja mempergunakan basa-basi itu? Kita sama-sama berasal dari keturunan orang kecil. Panggil saja aku Ken Umang.”

“Tentu tidak tuan Puteri,” jawab Mahisa Agni, “keturunan kita tidak mempengaruhi kedudukan kita sekarang. Tuan Puteri adalah isteri Maharaja di Singasari.”

“Dan kau adalah Senapati Agung dan sekaligus wakil Mahkota di Kediri. Selisih kedudukanmu dengan Sri Rajasa sendiri hanya selapis.”

“Ampun tuan Puteri Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan Sri Rajasa itu. Dan karena itulah>hamba merasa betapa kecilnya diri hamba.”

Ken Umang tertawa. Katanya, “Sikapmu belum berubah kakang. Kau masih saja takut kepadaku. Bukan karena kedudukanku. Aku tahu, bahwa kau menganggapi aku seorang wanita yang sangat rendah. Meskipun aku berkedudukan tinggi, yang kini menjadi perempuan kedua sesudah Permaisuri, tetapi sikapmu dan tatapan matamu tetap tidak ingkar, bahwa setelah aku tinggal di istana ini, aku masih juga mencoba menyeretmu kedalam perbuatan yang tercela itu. Tetapi itu dahulu kakang.”

“Ampun tuan Puteri. Hamba sekali-kali tidak pernah menganggap tuanku sebagai seorang perempuan yang rendah. Sama sekali tidak.”

Ken Umang tertawa. Sekali ia berpaling memandang beberapa orang emban yang duduk agak jauh daripadanya.

Mahisa Agni yang masih berdiri diseberang regol menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun umur mereka sudah menjadi semakin tua, tetapi kesan yang ada didalam hatinya tentang Ken Umang-pun masih belum dapat dilupakannya. Agaknya Ken Umang menyadarinya sehingga seakan-akan ia dapat membaca isi hati Mahisa Agni.

“Kakang,” berkata Ken Umang. “sekarang kita sudah merayapi tahun demi tahun. Meskipun tampaknya kau masih lebih muda dari umurmu yang sebenarnya, dan barangkali aku masih juga pantas untuk mengganggumu, tetapi aku kira sekarang aku mempunyai kepentingan yang lain.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnyalah kata tuan Puteri. Hamba memang sudah tua.”

“Itu tidak penting,” sahut Ken Umang. Lalu, “Kakang Mahisa Agni. Kakang tentu sudah melihat perkembangan istana Singasari sekarang ini.”

“Ya tuan Puteri, perkembangan Singasari benar-benar menggembirakan.”

“Bukan itu yang aku maksud. Tetapi penghuni-penghuni istana ini. Tegasnya keluarga kita, keluarga Sri Rajasa.”

“O,” Mahisa Agni memandang wajah Ken Umang sejenak. Tetapi kepalanya-pun segera tertunduk kembali.

“Kakang Mahisa Agni,” berkata Ken Umang, “bukankah kau adalah paman dari Anusapati?”

“Hamba tuan Puteri,” jawab Mahisa Agni dengam jantung yang berdebaran.

“Sebagai seorang ibu aku senang melihat anak-anak hidup dalam kegembiraan. Apalagi Anusapati sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang menjadi semakin besar.” Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi alangkah sedih hati seorang ibu bila melihat anak-anaknya bertengkar. Bagiku, Tohjaya dan Anusapati adalah anak-anakku. Aku tidak membeda-bedakannya. Tetapi Anusapati bersikap aneh terhadapku dan terhadap adiknya Tohjaya. Seakan-akan kami berdua adalah musuhnya. Nah, tolong, sampaikan kepada Anusapati, bahwa kami menganggapnya sebagai keluarga yang tidak terpisah. Anusapati adalah anakku dan Tohjaya-pun putera kakanda Permaisuri, dan sebaliknya. Apakah kau mengerti maksudku?”

“Hamba tuan Puteri.”

“Nah, jika demikian, nasehatkan kepada Anusapati, agar ia bisa bersikap lebih baik. Agar ia dapat sedikit mendekatkan diri kepada adiknya.”

Mahisa Agni menarik nafas, tetapi ia tetap menyahut, “Hamba tuan Puteri. Hamba akan memperingatkannya. Anusapati memang harus bersikap baik terhadap tuanku Tohjaya.”

Jawaban itu sama sekali tidak diharapkan oleh Ken Umang. Ia ingin mendengar Mahisa Agni membantahnya agar timbul persoalan untuk memancing pendapat Mahisa Agni yang sebenarnya terhadap keadaan yang sedang berkembang itu.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...