Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 10-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 10-02*

Karya.  : SH Mintardja

Akan tetapi Lembu Ampal tidak memerlukan mereka. Ia kemudian mengendap di bawah sebatang pohon yang besar di petamanan.

“Dari atas dahan itu aku akan dapat melihat ke dalam longkangan di belakang bangsal itu.” berkata Lembu Ampal di dalam hatinya. Dan ia pun kemudian benar-benar ingin mencoba memanjat.

Sejenak Lembu Ampal pun memperhatikan keadaan, ketika ia yakin bahwa ia akan dapat memanjat tanpa diketahui oleh seorang pun dari para penjaga, maka ia pun segera bersiap.

Dengan sangat hati-hati, Lembu Ampal pun kemudian melekatkan diri pada batang pohon itu. Ternyata Lembu Ampal memang memiliki kecakapan memanjat. Hampir tidak dapat dilihat, ia sudah bergeser naik. Tubuhnya melekat pada batang pohon yang besar itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Apalagi ketika Lembu Ampal sudah sampai pada dahan-dahan yang berdaun.

Seperti yang diduganya, Lembu Ampal dapat melihat ke dalam longkangan di belakang bangsal. Para Pelayan Dalam yang berjaga-jaga di dalam, tidak berkelompok sebanyak para Pengawal dan prajurit-prajurit yang lain.

“Hanya ada dua orang yang nampak dari sini.” desis Lembu Ampal kepada diri sendiri. Lalu, “Tetapi di dalam bangsal itu tentu ada beberapa orang yang lain yang bersiaga penuh. Jika ada sesuatu yang mencurigakan maka salah seorang dari Pelayan Dalam itu dapat memberikan isyarat dan mereka pun akan segera bersiaga sepenuhnya.”

Karena itu Lembu Ampal harus berpikir sejenak. Ia harus dapat bertindak tanpa menimbulkan keributan agar ia tidak terjebak di dalam istana dan tidak dapat meloncat keluar.

Beberapa saat lamanya Lembu Ampal bagaikan melekat pada sebatang dahan. Namun ia pun kemudian merayap seperti seekor cicak maju mendekati dinding longkangan.

Dengan kewaspadaan yang tinggi, Lembu Ampal kemudian berusaha untuk turun perlahan-lahan dan ketika tidak seorang pun yang kebetulan berada di dekatnya, maka ia pun segera meloncat dan menelungkup datar pada dinding.

Dua orang prajurit pengawal di regol tidak melihatnya sama sekali. Demikian juga prajurit-prajurit Pengawal yang ada di gardu. Demikian juga yang berada di sudut luar dinding.

Beberapa saat lamanya Lembu Ampal mematung. Dua Pelayan Dalam yang ada di longkangan pun seakan-akan tidak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Mereka duduk di tangga serambi menghadap kelongkangan yang kosong dan sepi.

“Pada suatu saat yang seorang dari keduanya tentu akan pergi meskipun hanya beberapa langkah. Jika keduanya terpisah, maka akan datang saatnya aku bertindak, supaya aku tidak harus membunuh keduanya.”

Dengan sabar Lembu Ampal menunggu. Sekali-kali ia menengadahkan kepalanya melihat bintang-bintang di langit. Tetapi agaknya ia tidak terlampau tergesa-gesa.

Ternyata akhirnya yang diharapkannya itu datang. Yang seorang, yang agaknya sudah jemu duduk berdiam diri, segera berdiri sambil menggeliat.

“Kantuk ini selalu mengganggu.” desisnya.

“Kau mau kemana?” bertanya yang seorang.

“Berjalan-jalan mengelilingi longkangan daripada kantuk. Di luar dinding ini prajurit-prajurit dari kesatuan Pengawal sedang berjaga-jaga juga. Sedang di halaman berkeliaran prajurit dari pasukan tempur yang ditarik masuk ke dalam istana ini.”

“Dan di sini kita bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

Kawannya yang sudah berdiri itu tertawa. Katanya, “Jika terjadi sesuatu, maka yang pertama-tama akan hancur adalah istana ini. Jika pecah keributan di antara pasukan yang ada di dalam istana, maka bangsal-bangsal tentu akan hancur. Meskipun mungkin Pelayan Dalam jumlahnya paling sedikit, tetapi kita tidak akan dapat dianggap paling lemah.”

Yang lain pun tertawa pula. Tetapi orang itu tidak menjawabnya. Dengan tergesa-gesa ia menutup mulutnya yang sedang menguap dengan telapak tangannya.

“Setan.” desisnya, “Aku pun menjadi kantuk sekali. Tidak pernah aku dihinggapi perasaan seperti ini.”

“Sebentar lagi akan datang giliran orang lain.” kawannya itu terdiam sejenak, lalu, “Biarlah aku melihat, apakah yang berjaga-jaga di serambi samping juga diganggu oleh perasaan seperti ini.”

“Kemana kau?”

“Ke serambi sebelah. Hanya lima langkah dari sudut itu.”

“Cepat kembali, jika kau terlampau lama, kantukku tentu tidak dapat aku tahankan lagi, karena tidak ada kawanku berbicara sama sekali.”

“Baiklah. Mudah-mudahan para penjaga di serambi yang lain pun tidak menjadi kantuk pula.”

Pelayan Dalam yang seorang itu pun kemudian pergi ke serambi samping.

Lembu Ampal seolah-olah mendapat kesempatan untuk melakukan rencananya. Tetapi ia harus cepat bertindak, jika ia terlambat, dan Pelayan Dalam yang seorang itu kembali dan melihat apa yang terjadi, maka ia tentu akan sempat melontarkan isyarat. Halaman ini akan menjadi kacau dan para penjaga pun akan segera bersiaga dan mengepung halaman ini rapat-rapat. Bukan saja ia tidak dapat keluar halaman, tetapi tentu juga Witantra dan Mahendra. Sudah barang tentu keduanya tidak akan menyerahkan dirinya tanpa perlawanan. Sedangkan perlawanan berarti perang apabila Witantra melepaskan isyarat bagi para pengawal yang datang dari Kediri dan yang sudah dipersiapkan sebaik-baiknya oleh Witantra di batas kota.

Karena itu, Lembu Ampal harus melaksanakan tugasnya dengan cermat, hati-hati dan sekaligus berhasil. Tugasnya kali ini bukannya tugas yang dapat diulang dua kali.

Sejenak Lembu Ampal masih menunggu. Ketika Pelayan Dalam yang seorang lagi sudah tidak nampak, maka mulailah ia beringsut sedikit.

Sebagai bekas seorang prajurit Lembu Ampal mengetahui, bahwa di bangsal itu tentu terdapat sekelompok Pelayan Dalam yang tugasnya terpencar. Hampir di setiap ruangan terdapat satu atau dua orang di dalam keadaan yang panas ini. Sedang di ruang yang khusus akan terdapat Pelayan Dalam yang sedang tidak bertugas. Mereka biasanya tertidur nyenyak sebelum saat bertugas bagi mereka datang.

“Yang satu ini terpaksa dikorbankan.” berkata Lembu Ampal di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, setelah ia mempersiapkan diri untuk tugas yang berat itu, Lembu Ampal pun tiba-tiba saja meloncat ke dalam longkangan.

Pelayan Dalam itu terkejut. Dengan gerak naluriah ia meloncat berdiri.

Tetapi ia tidak sempat berbuat apa-apa. Ketika ia menyadari keadaan, maka perutnya telah tertembus oleh keris Lembu Ampal.

“Maaf Ki Sanak.” terdengar Lembu Ampal berdesis, “Aku terpaksa melakukan untuk suatu tujuan yang lebih besar. Tetapi jangan menganggap dirimu tidak bersalah, karena kau adalah salah seorang pendukung tuanku Tohjaya yang kini memiliki tahta yang sebenarnya bukan haknya, dan yang direbutnya dengan mengorbankan jiwa tuanku Anusapati.”

Tetapi Pelayan Dalam itu sudah tidak dapat menjawab. Bahkan pendengarannya sudah tidak utuh lagi.

Lembu Ampal pun kemudian melepaskannya. Tetapi Pelayan Dalam itu sudah tidak mampu lagi untuk tetap berdiri. Sehingga ia pun kemudian jatuh menelungkup dengan darah yang bagaikan menyembur dari lukanya.

Lembu Ampal merenungi mayat itu sejenak. Kemudian dilepasnya sehelai kain yang dibawanya dan sebuah ikat pinggang. Dilemparkannya ikat pinggang itu beberapa langkah, dari mayat yang sudah terkapar di tanah itu, dan kemudian di dekat dinding kainnya pun ditinggalkannya pula.

Sejenak kemudian maka Lembu Ampal itu pun meninggalkan halaman bangsal itu.

Ketika Lembu Ampal kemudian hilang di dalam kegelapan maka terdengarlah suara burung kedasih yang ngelangut. Suara burung yang melontar dari mulut Lembu Ampal. Dengan suara itu, ia memberi isyarat kepada Witantra, Mahendra dan Mahisa Agni, bahwa ia telah berhasil melakukan tugasnya. Isyarat yang memang sudah disepakati sebelumnya.

Dengan demikian, maka hampir bersamaan waktunya, Lembu Ampal, Witantra dan Mahendra pun dengan sangat hati-hati telah meloncat ke luar dinding halaman istana. Mereka berjanji untuk bertemu di tempat yang telah mereka tentukan bersama sambil menunggu perkembangan kaadaan.

Sesaat ketika mereka telah bertemu, maka Lembu Ampal pun segera menceriterakan apa yang telah dilakukannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam, sedang Mahendra duduk tepekur sambil mengangguk-angguk.

“Mudah-mudahan korban berikutnya dapat dibatasi sekecil-kecilnya.” berkata Witantra.

“Menurut perhitunganku, jalan ini adalah jalan yang paling sedikit menuntut korban.”

Witantra memandang Lembu Ampal sejenak. lalu, “Mudah-mudahan perhitunganmu benar. Tetapi jika malam ini orang-orang Sinelir tidak dapat menahan diri dan terjadi benturan senjata dengan golongan Rajasa, maka keadaan akan menjadi kacau. Tentu akan terjadi perang segitiga di halaman istana. Orang-orang Sinelir, orang Rajasa dan para prajurit yang ditarik masuk ke halaman istana atas perintah tuanku Tohjaya.”

Lembu Ampal mengusap keringatnya. Keadaan yang demikian memang dapat terjadi. Tetapi bagi Lembu Ampal, itu agaknya lebih baik daripada jika mereka justru bersatu.

Namun Lembu Ampal tidak mengatakannya.

“Kita akan menunggu perkembangan yang terjadi.” berkata Mahendra.

Lembu Ampal dan Witantra mengangguk kecil.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin dalam. Pelayan Dalam yang pergi ke serambi sebelah menemukan dua orang kawannya sedang duduk di serambi. Agaknya keduanya dicengkam oleh suasana yang terasa asing sehingga keduanya selalu bersiaga dengan senjata mereka. Dan bahkan sesuai dengan kegelisahan itu, mereka berdua duduk pada jarak yang agak berjauhan dengan senjata telanjang di tangan.

“Kalian nampak gelisah.” berkata Pelayan Dalam yang datang melihat keadaan kedua kawannya itu.

“Bukan gelisah, tetapi bersiaga. Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang pada tempatnya.”

“Kami berdua di serambi sebelah merasa kantuk sekali. Karena itulah maka aku datang kemari. Sekedar menghilangkan perasaan kantuk, karena petugas yang akan menggantikan kami masih akan datang nanti.”

Kedua Pelayan Dalam yang duduk di seramhi itu mengangguk. Namun salah seorang berkata, “Jangan terlampau lama kau tinggalkan kawanmu. Kembalilah. Keadaan ini agaknya tidak wajar. Aku mendengar suara burung kedasih.”

“Hampir setiap malam aku mendengar suara burung kedasih Begitulah agaknya bunyi burung itu. Tidak ada mengandung makna apapun.”

“Mungkin. Tetapi kembalilah.”

Pelayan Dalam dari serambi sebelah itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil tertawa. Katanya, “Kalian tentu akan segera tidur. Atau barangkali suara burung itu membuat kalian ketakutan. Tetapi bukankah kehadiranku di sini dapat membuat kalian mempunyai kawan tambahan.”

“Kau memang bodoh.” jawab kawannya, “Kembalilah. Kawanmu hanya seorang diri. Jika kau tinggalkan ia terlalu lama, maka ialah yang akan ketakutan oleh bunyi burung kedasih itu.”

“Kawanku adalah seorang prajurit yang tangguh. Ia tidak ketakutan mendengar suara apapun. Suara harimau atau suara garuda sekalipun.”

Kedua Pelayan Dalam yang bertugas di seramhi itu tidak menyahut lagi. Tetapi mereka juga tidak mengacuhkan lagi kawannya yang masih berada di penjagaannya itu.

“Baiklah.” berkata Pelayan Dalam yang datang dari serambi sebelah, “Aku akan segera kembali. Jika kalian akan tidur, silahkan tidur. Tetapi jika Pelayan Dalam yang akan menggantikan kalian datang, dan kalian masih tidur nyenyak maka besok kalian akan dipecat.”

Kedua kawannya sama sekali tidak menyahut. Dibiarkannya saja Pelayan Dalam itu berbicara sambil melangkah pergi.

Ketika ia kembali ketempatnya, ia menjadi heran bahwa kawannya sudah tidak ada ditempatnya lagi. Sejenak ia mengamati keadaan di sekelilingnya. Namun darahnya serasa terhenti ketika ia melihat kawannya terbaring diam, sedang darah bagaikan membanjir di sekitarnya.

Dengan dada berdebar-debar ia mendekatinya. Kemudian meraba tubuhnya. Tetapi tubuh itu sudah dingin membeku.

Pelayan Dalam itu hampir kehilangan akal. Sekilas terdengar suara kawannya terngiang, “Aku mendengar suara burung kedasih.”

Dengan serta-merta Pelayan Dalam itu pun segera berlari. Dipukulnya kentongan kecil untuk memberikan isyarat bahwa di tempatnya telah terjadi pembunuhan. Pembunuhan atas seorang prajurit yang sedang melakukan tugasnya.

Sejenak kemudian halaman itu telah menjadi ribut. Beberapa orang Pelayan Dalam berlarian ke tempat pembunuhan itu terjadi. Bahkan bukan saja para Pelayan Dalam. Tetapi para prajurit dari pasukan yang lain pun menjadi terkejut dan segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Tetapi justru dalam keadaan bahaya, mereka saling menjaga diri untuk tidak saling melintasi kekuasaan masing-masing.

Karena itulah, maka yang kemudian berada di longkangan belakang adalah para Pelayan Dalam dengan senjata telanjang di tangan. Sedang para Pengawal pun telah bersiaga di depan regol bangsal dan bahkan di depan setiap pintu gerbang. Beberapa orang di antara mereka segera memencar menutup segala lubang yang dapat ditembus oleh seseorang untuk keluar dari halaman. Karena itu, maka hampir di setiap jengkal di dinding halaman istana itu mendapat pengawasan yang ketat.

Sementara itu, para prajurit yang ditarik ke dalam istana pun telah bersiaga pula. Mereka pun telah berada di gardu-gardu yang khusus bagi mereka, terpencar di seluruh halaman.

Sejenak halaman itu menjadi tegang Pelayan Dalam yang ada di setiap bangsal di halaman istana itu telah menggenggam senjata di tangan. Jika isyarat berikutnya berbunyi, maka mereka harus bertempur, siapa pun lawan mereka. Karena itu, maka setiap kelompok di setiap bangsal, segera mempersiapkan diri menunggu kemungkinan yang masih akan berkembang.

Dalam pada itu. Senapati yang sedang memimpin tugas para Pelayan Dalam di seluruh istana, dikawal oleh sekelompok pengawal terpilih, segera datang ketempat pembunuhan terjadi. Sejenak mereka mengamati keadaan. Namun kemudian hati setiap orang itu hampir meledak karenanya. Ternyata di antara mereka telah menemukan sebuah ikat pinggang dan sehelai kain panjang.

“Orang-orang Rajasa.” teriak Pelayan Dalam yang menemukan ikat pinggang dengan ciri khusus itu.

Sejenak para Pelayan Dalam itu diam mematung. Namun kemudian seorang dari antara mereka berteriak, “Kita bunuh orang-orang Rajasa. Mereka telah menfitnah kita, dengan menuduh bahwa salah seorang dari kita telah membunuh kawan mereka. Itu tidak benar. Tidak seorang pun di antara kita yang telah membunuh mereka. Tetapi ternyata itu hanya alasan saja dari orang-orang Rajasa untuk melakukan tindakan biadab ini.”

“Ya, kita serang saja mereka malam ini. Kita sudah siap. Di setiap bangsal di istana ini terdapat sekelompok Pelayan Dalam. Pasukan Pengawal yang ada malam ini akan musna dalam sekejap.”

Tetapi Senapati yang telah hadir di antara mereka itu pun kemudian berkata, “Tunggu. Aku sependapat dengan kalian tetapi aku tidak dapat berbuat tergesa-gesa seperti itu. Aku harus menyampaikan hal ini kepada Panglima. Malam ini juga kami akan menghadap tuanku Tohjaya. Jika tuanku Tohjaya tidak dapat memberikan ketegasan apapun, kita akan segera bertindak. Apapun yang akan terjadi.”

“Itu tidak perlu.” teriak seorang Pelayan Dalam.

“Perlu, agar kita tidak disebut pasukan liar. Tetapi kita harus bersiaga sepenuhnya. Mungkin kita benar-benar harus bertempur malam ini.”

“Tetapi mereka akan bersiaga.”

“Aku akan melakukan secepatnya sebelum sempat mereka lakukan.”

Beberapa orang Pelayan Dalam bagaikan tidak dapat menahan diri lagi. Mereka berdesakkan menghadap Senapati itu. Salah seorang berkata, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Aku yang akan melakukannya. Kalian menunggu di sini dalam kesiagaan sepenuhnya. Selama ini orang-orang Rajasa tentu tidak tahu pasti apa yang telah terjadi karena itu jangan kau kabarkan lebih dahulu apa yang telah terjadi.” berkata Senapati itu. “Jika mereka mengetahuinya, maka mereka pun akan bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

Seorang Pelayan Dalam yang tidak sabar lagi berkata, “Cepat. Silahkan menyampaikannya kepada Panglima.”

Senapati itu pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Di luar dilihatnya kesatuan-kesatuan yang lain memang sudah bersiaga.

“Apa yang terjadi.” bertanya seorang Senapati dari pasukan Pengawal.

“Sebuah kesalahan kecil.” jawab Senapati itu.

“Tetapi isyarat itu telah mengemparkan seluruh istana.”

“Aku akan menghadap Panglima. Baru persoalannya akan terang bagi kalian.”

Senapati itu segera pergi dengan meninggalkan kesan yang aneh. Tetapi salah seorang pengawal pun kemudian berbisik di antara kawannya. “Mungkin ada orang-orang dari lingkungan Pelayan Dalam yang saling berkelahi dan saling membunuh.”

Kesimpulan itulah yang untuk sementara mereka anggap paling mungkin.

Dalam pada itu. Senapati Pelayan Dalam itu pun segera menghadap Panglimanya. Dengan wajah yang merah tegang ia mengatakan apa yang telah terjadi di longkangan belakang bangsal itu.

Panglima Pelayan Dalam itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Orang-orang Rajasa menganggap bahwa salah seorang dari kami telah membunuh kawan mereka bahkan tuanku Tohjaya telah menjatuhkan perintah yang mengerikan. Jika pembunuh itu tertangkap, ia harus dihukum picis di perempatan jalan.”

“Tetapi tidak seorang pun dari kami yang telah melakukannya.” sahut Senapati itu.

“Aku akan menghadap tuanku Tohjaya bersama Panglima pasukan Pengawal.”

“Tetapi malam ini suasana harus dapat dikuasai, jika tidak, maka orang-orang Sinelir tidak lagi dapat mengendalikan diri. Mungkin mereka akan bertindak sendiri-sendiri, karena mereka pun merasa, bahwa mereka memiliki kemampuan tempur tidak kalah dari para Pengawal. Baik dalam kelompok maupun secara pribadi.”

“Aku akan menghadap tuanku Tohjaya sekarang bersama Panglima Pasukan Pengawal.”

Panglima Pelayan Dalam itu pun kemudian menemui Panglima Pasukan Pengawal dan bersama-sama menghadap tuanku Tohjaya.

Ternyata Tohjaya pun telah terbangun mendengar bunyi isyarat dan keributan yang terjadi di halaman istana. Dengan dada yang berdebar-debar, maka diperintahkannya semua prajurit yang ada di sekitar bangsalnya bersiap sepenuhnya. Prajurit dari segala pasakan. Tetapi agaknya kepercayaan Tohjaya baru tertumpah kepada prajurit-prajurit tempur yang dipanggilnya masuk ke dalatn istana itu.

Kehadiran kedua Panglima di malam hari itu tidak mengejutkannya. Tetapi ia tidak senang melihat keduanya datang menghadap untuk menyampaikan keluhan-keluhan.

“Kami akan memberikan laporan.” berkata Panglima Pelayan Dalam.

“Apakah orangmu yang membunuh itu sudah tertangkap?”

“Ampun tuanku. Yang terjadi adalah sebaliknya.”

“Maksudmu?”

“Seorang Pelayan Dalam telah terbunuh oleh seorang dari lingkungan Pasukan Pengawal.”

“Gila.” Tohjaya berteriak. Namun Panglima itu berkata seterusnya, “Tuanku harus mengambil langkah-langkah kebijaksanaan dan memerintahkan kepada kami untuk melaksanakannya. Jika tidak, maka dendamlah yang akan berbicara dan kami akan menjadi sulit untuk menguasai keadaan.”

“Gila. Itu perbuatan gila. Kalian harus menangkap kedua pembunuh itu malam ini. Aku akan menghukum keduanya dengan hukuman picis.”

“Kami akan melakukan penyelidikan tuanku.”

“Sekarang. Sekarang kau dengar.”

Kedua Panglima itu menjadi bingung. Dan Tohjaya masih saja berteriak, “Kalian adalah Panglima. Kalian harus dapat melakukan perintahku sebaik-baiknya.”

“Tetapi untuk menangkap malam ini adalah sulit sekali tuanku. Yang penting bagi kami adalah mencegah pembunuhan yang dapat terjadi lagi. Bahkan mungkin pembunuhan yang lebih mengerikan lagi karena kedua belah pihak tidak dapat mengendalikan diri.”

“Aku tidak peduli. Kau berdua harus menghadapkan kedua pembunuh itu malam ini.”

“Tuanku.” berkata Panglima Pasukan Pengawal, “Sebaiknya hamba berkata sekarang dihadapan tuanku bahwa hamba tidak akan mungkin dapat melakukannya. Bukan karena hamba tidak mau menjalankan perintah tuanku, tetapi kemampuan hamba adalah sangat terbatas. Demikian juga agaknya bagi Panglima Pelayan Dalam.”

“Aku tidak mau mendengar alasan apapun juga. Sekarang kalian pergi dan membawa orang-orang itu kemari.”

Para Panglima itu menjadi bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat membawa orang-orang yang belum dapat mereka ketahui untuk menghadap. Karena itu, untuk beberapa saat mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

Karena kedua Panglima itu masih saja berada di tempatnya, maka sekali lagi Tohjaya berteriak, “He, kenapa kalian diam saja? Kenapa kalian tidak segera melaksanakan perintahku.”

Bagaimanapun juga kedua Panglima itu harus memberi penjelasan bahwa perintah itu tidak mungkin dapat dilaksanakan.

“Tuanku.” berkata Panglima Pelayan Dalam, “Orang-orang yang harus hamba hadapkan itu masih belum dapat diketemukan. Hamba dan para Senapati masih harus mencari, siapakah yang bersalah dan yang harus menerima hukuman itu.”

“Aku tidak peduli, aku tidak peduli.” Tohjaya berteriak semakin keras.

“Ampun tuanku.” Panglima Pasukan Pengawal itulah yang kemudian berkata, “Jika keduanya tidak ada di tangan kami, lalu siapakah yang harus hamba hadapkan?”

Tohjaya menjadi tegang. Tiba-tiba matanya bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia menggeram, “Jadi kalian tidak dapat menangkap kedua pembunuh itu?”

“Belum tuanku. Hamba sedang berusaha dengan sekuat tenaga.”

Tohjaya menggeretakkan giginya. Tiba-tiba ia berkata, “Siapakah yang bertanggung jawab pada hari-hari peristiwa itu terjadi?”

“Para Senapati tuanku.” jawab kedua Panglima itu hampir berbareng.

“Jika demikian panggilah Senapati yang bertanggung jawab pada saat pembunuhan itu terjadi. Senapati dari golongan Sinelir pada saat orang Sinelir membunuh orang Rajasa dan Senapati yang bertanggung jawab atas orang-orang Rajasa sekarang ini, pada saat seorang Sinelir mati terbunuh.”

Kedua Panglima itu menjadi bingung.

“Panggil mereka kemari.”

“Apakah yang akan tuanku lakukan atas mereka?”

Kemarahan Tohjaya bagaikan tidak tertahankan lagi, sehingga ketika ia berteriak justru suaranya tidak begitu jelas terdengar, “Jadi, kau mulai berkuasa atas aku?”

“Tidak tuanku. Bukan maksudku.”

“Kenapa kalian bertanya apa yang akan aku lakukan atas kedua Senapati itu.”

“Tuanku.” berkata Panglima pasukan Pengawal, “Senapati itu berada di bawah perintah hamba. Jadi hambalah yang bertanggung jawab atasnya.”

“Aku tidak peduli. Panggil Senapati itu. Aku ingin mendengar keterangannya. Aku akan mengusut sendiri pembunuhan itu dan mencari pembunuhya.”

Kedua Panglima itu saling berpandangan sejenak Lalu, Panglima Pelayan Dalam itu berkata, “Tidak banyak yang dapat dikatakannya tuanku.”

“Panggil keduanya, atau aku akan pergi sendiri?” Kedua Panglima itu tidak dapat berbuat lain. Maka keduanya pun kemudian minta diri untuk mencari Senapati yang bertugas pada saat pembunuhan terjadi.

Beberapa saat kemudian maka kedua Panglima itu telah berada di halaman istana pula bersama kedua Senapati itu.

“Apakah kehendak tuanku Tohjaya yang sebenarnya?” bertanya Panglima Pelayan Dalam.

“Aku tidak tahu.”

Kedua Panglima itu termangu-mangu. Untuk beberapa saat lamanya keduanya termenung membayangkan api yang kira-kira bakal terjadi.

Sementara itu, dari kejauhan, beberapa kelompok prajurit menyaksikan dengan tegang. Mereka yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan telah mempersiapkan diri. Mereka dari Pasukan Pengawal dan para Pelayan Dalam yang menyaksikan pembicaraan itu dari bangsal-bangsal di sekitarnya.

“Apakah para Senapati itu memang harus menghadap?” Panglima Pelayan Dalam itu bertanya.

“Memang mencurigakan. Kemarahan tuanku Tohjaya agaknya tidak terkendalikan.” jawab Panglima Pasukan Pengawal.

“Apakah yang dicemaskan?” bertanya Senapati dari Pasukan Pengawal, “Aku dapat mempertanggung jawabkan apapun juga. Malam ini tidak ada seorang pun dari lingkungan kami yang tidak diketahui tingkah lakunya oleh setiap pemimpin kelompok.”

“Demikian juga para Pelayan Dalam.” Senapati Pelayan Dalam itu tiba-tiba saja telah menyahut, “Kami mengetahui setiap langkah dari orang-orang kami. Aku dapat menjelaskan kepada tuanku Tohjaya.”

“Tetapi pembunuhan itu telah terjadi. Orang-orangku melihat orang Sinelir selagi mereka masih berkelahi. Orang Sinelir itu langsung menyergap dengan licik.”

“Dan jika kau melihat kematian Pelayan Dalam yang ada dilongkangan itu.”

“Kau menuduh orang Rajasa.”

“Cukup.” kedua Panglima itu hampir berbareng berteriak, lalu, Panglima Pasukan Pengawal itu berkata, “Kita akan menghadap bersama-sama. Kita akan menjelaskan persoalannya. Yang penting adalah mengatasi ketegangan yang sekarang terjadi. Bukan menambah kalut lagi.”

Kedua Senapati itu terdiam. Tetapi dari kedua pasang mata itu masih membara dendam sampai kepusat jantung.

Demikianlah maka kedua Panglima itu pun akhirnya memutuskan untuk membawa para Senapati menghadap. Apalagi karena kedua Senapati itu agaknya masih selalu dibayangi oleh dendam dan kebencian.

“Jika tuanku Tohjaya ingin mendengar, biarlah ia mendengar kata hati setiap orang di dalam lingkungan prajuritnya. Agaknya kekalutan dan kecurigaan telah berakar pada setiap dada.”

Tanpa ragu-ragu, kedua Senapati itu pun mengikuti Panglima masing-masing untuk menghadap. Mereka sudah mempersiapkan pembelaan yang sejauh-sejauhnya dan tuduhan-tuduhan yang pasti, bahwa lawan mereka telah berdosa sampai ke ujung ubun-ubun.

Ketika kedua Panglima itu sampai di bangsal tuanku, beberapa orang prajurit bukan dari pasukan Pengawal dan bukan Pelayan Dalam telah terada di ambang pintu. Bahkan ketika mereka masuk ke dalam, dua orang Senapati ada di belakang tuanku Tohjaya, duduk tepekur sambil menundukkan kepala.

“Apakah artinya ini?” bertanya kedua Panglima itu di dalam hati.

Tetapi agaknya kedua Senapati yang sedang diamuk oleh dendam itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan mereka dengan wajah yang tegang memasuki sidang.

“Kemarilah.” panggil tuanku Tohjaya ketika mereka sudah duduk menekur.

Panglima dan Senapati itu ragu-ragu. Namun mereka pun kemudian bergeser maju.

“Aku ingin mendengar peristiwa yang sebenarnya telah terjadi.”

Kedua Panglima itu saling berpandangan sejenak, lalu Panglima Pelayan Dalam itu pun berkata, “Inilah kedua Senapati itu tuanku.”

“Bagus. Majulah mendekat.”

Tanpa prasangka apapun kedua Senapati itu mendekat.

“Siapakah di antara kalian yang dapat mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?” bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku.” jawab keduanya hampir berbareng.

“Nah, kau.” berkata Tohjaya sambi menunjuk Senapati dari pasukan Pengawal, “Katakan apakah yang kau ketahui tentang kematian orangmu.”

Senapati itu pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi atas orang Rajasa yang terbunuh di pinggir kali.

Tohjaya mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Jadi yang membunuh seorang Pelayan Dalam?”

“Hamba tuanku.”

“Bohong tuanku.” potong Senapati Pelayan Dalam.

“Diam kau.” Tohjaya menjerit, “Aku tidak bertanya kepadamu.”

Senapati itu terkejut, sehingga ia tergeser setapak surut. Dengan serta merta ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Teruskan.” berkata Tohjaya kepada Senapati dari Pasukan Pengawal itu, “Ceriterakan bagaimana orangmu mendendam dan membunuh orang Sinelir.”

“Ampun tuanku. Orangku tidak akan berbuat demikian.”

“Ceriterakan bagaimana ia membunuh.” bentak Tohjaya. Senapati itu menjadi bingung.

“Kau bodoh.” geram Tohjaya, lalu katanya kepada Senapati Pelayan Dalam, “Nah, sekarang kaulah yang berceritera. Siapa yang terbunuh dan siapa yang membunuh.”

Senapati itu pun ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Seorang Pelayan Dalam telah mati terbunuh, dan telah diketemukan pula ikat pinggang dan kain panjang seorang prajurit Rajasa yang agaknya telah terlepas ketika mereka sedang berkelahi.

Tohjaya memandang kedua Senapati itu berganti-ganti. Lalu dengan wajah tegang ia berkata, “Sekarang sebutkan, siapakah dari orang-orang Sinelir yang telah membunuh seorang dari Pasukan Pengawal di pinggir kali itu?”

“Tentu bukan orang-orang Sinelir tuanku. Hamba yakin.”

“Sebut namanya.” teriak Tohjaya. Kemudian sambil memandang Senapati dari Pasukan Pengawal ia pun berteriak pula, “Kau juga harus menunjuk salah seorang dari anak buahmu. Siapa yang membunuh Pelayan Dalam itu.”

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan suara gemetar ia berkata, “Bukan dari anak buah hamba tuanku. Itu tentu sekedar fitnah.”

“Sebut namanya. Sebut namanya.” suara Tohjaya melengking semakin tinggi.

Senapati itu menjadi semakin bingung.

“Aku akan menghukum pembunuh-pembunuh itu dengan hukuman picis. Keduanya harus diikat di simpang empat dekat alun-alun. Setiap orang harus melukai dengan pisau yang tidak tajam atau dengan welat pering wulung. Kemudian pada luka itu harus dibubuhi sejumput garam yang sudah dilumatkan dan setetes air asam atau jeruk pecel. Orang itu harus tetap hidup sampai tiga hari. Di hari keempat ia baru boleh mati di terik matahari. Jika ia mati sebelum hari ketiga, maka orang yang bertanggung jawab atas hukuman itu akan menggantikannya sampai hari ketiga itu.”

“Mengerikan sekali.” setiap orang yang mendengar menjadi ngeri. Tetapi masih ada juga orang yang tersenyum mendengar keputusan itu. Dua orang Senapati yang duduk di belakang Tohjaya itu justru menjadi gembira karenanya.

Karena kedua Senapati itu masih berdiam diri, maka sekali lagi Tohjaya menggeram, “Aku beri waktu kau sampai hitungan kesepuluh untuk menyebut namanya.” Tohjaya terdiam sejenak, lalu mulailah ia menghitung perlahan-lahan.

Semua orang yang ada di ruang itu menjadi tegang. Mereka mengikuti dengan dada yang berdebar-debar hitungan yang diucapkan oleh Tohjaya.

“Satu, dua, tiga, empat,…”

“Tuanku.” tiba-tiba Panglima Pasukan Pengawal memotong, “Apa yang dapat mereka sebutkan jika mereka benar-benar tidak mengetahui siapakah yang telah melakukannya.”

Tohjaya tertegun sejenak. Lalu katanya, “Aku tidak peduli. la harus menyebut satu nama. Nama siapa saja. Dan orang itulah yang akan menjalani hukuman picis.”

Suasana menjadi semakin tegang. Dan Tohjaya berkata pula, “Aku akan mengulangi. Siapa yang memotong hitungan yang aku ucapkan, orang itu pun akan dihukum picis.”

“Tetapi.” Panglima Pelayan Dalam menyela, “Ampun tuanku.” Selagi menelan ludahnya, lalu, “Bagaimana jika karena terpaksa mereka menyebut nama orang yang tidak bersalah.”

“Aku tidak peduli.”

“Tetapi itu tidak adil.”

“Diam kau.” Tohjaya berteriak keras sekali sehingga ruangan itu seakan-akan bergetar karenanya.

Panglima itu pun terdiam. Sekilas ia melihat wajah dua orang Senapati yang berada di belakang Tohjaya menjadi tegang. Dan Panglima itu pun mulai menyadari keadaan yang sebenarnya.

“Aku akan mulai menghitung.” berkata Tohjaya. Lalu, “Dan kau berdua harus menyebut suatu nama.”

Sekali lagi Tohjaya mulai menghitung. Setiap bilangan yang diucapkan rasa-rasanya seperti gelegar guntur yang meledak di langit.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, . . .” tidak seorang pun yang berani memotong hitungan itu.

Akhirnya Tohjaya sampai pada hitungan yang ke sepuluh. Terasa ketegangan yang memuncak di dalam ruangan itu. Setiap wajah bagaikan membeku yang terdengar hanyalah degup jantung yang berdentangan di setiap dada.

“Nah.” berkata Tohjaya, “Aku akan menunjuk salah seorang dari kalian. Maka ia harus menyebut lebih dahulu. Kemudian yang lain harus menyebut sebuah nama pula.”

Suasana benar-benar diliputi oleh kegelisahan yang mencengkam. Tidak seorang pun yang tahu apakah yang akan terjadi kemudian. Jika kedua Senapati itu menyebut nama orang yang sebenarnya tidak bersalah, maka nasib orang itu ternyata terlampau malang. Ia akan mengalami hukuman yang paling mengerikan sepanjang peradaban manusia Hukuman picis di perapatan.

Sejenak Tohjaya memandang kedua Senapati itu berganti-ganti. Keduanya menunduk dalam-dalam, seolah-olah kedua menghindarkan diri dari sambaran sorot mata Tohjaya.

Namun akhirnya Tohjaya menunjuk kepada Senapati Pelayan Dalam sambil berkata, “Nah, katakan, siapa yang telah melakukan pembunuhan itu.”

Senapati itu menjadi pucat. Tetapi ia menengadahkan wajahnya sambil bertanya, “Ampun tuanku, apakah nama siapa pun yang hamba sebut akan menjalani hukuman itu?”

“Ya.” sahut Tohjaya.

Jawaban itu benar-benar mengguncangkan setiap dada. Senapati itu dapat menyebut nama siapapun. Nama orang yang paling dibencinya akan dapat diumpankannya.

Tetapi Senapati itu tidak segera menjawab.

“Cepat.” teriak Tohjaya.

“Ampun tuanku.” berkata Senapati itu, “Karena sebenarnya hamba tidak mengetahui nama seseorang yang telah bersalah, dan hamba tidak dapat menyebut nama orang lain yang tidak berdosa, maka biarlah hamba tidak mengucapkan nama siapa pun juga.”

“Gila. Itu akan berarti kaulah yang harus menjalani hukuman itu.”

“Tuanku. Jika memang hamba harus menggantikan hukuman itu, maka hamba mohon agar tuanku sudi meringankan hukuman itu sedikit. Hamba akan bersedia menjalani hukuman apapun juga yang lain sampai mati sekalipun.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Lalu dipandanginya wajah Senapati yang seorang lagi Senapati dari Pasukan Pengawal. Katanya, “Ia tidak dapat menyebut sebuah nama. Karena itu ia akan segera mati. Sekarang, cobalah kau mengatakan, siapakah yang pantas dihukum picis.”

Senapati itu menjadi tegang. Sepercik kekaguman telah menyentuh jantungnya. Meskipun ia membenci orang-orang Sinelir sampai keujung rambut. Tetapi sikap jantan Senapati dari Pelayan Dalam itu telah mempengaruhinya.

“Cepat, apakah kau juga harus menjalani hukuman mati?”

Senapati itu membungkuk dalam-dalam. Kemudian katanya dengan suara parau, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah hamba sudah menyiapkan nama yang tuanku kehendaki.”

“Nah, ternyata kau bersikap kesatria. Kau dapat menjalankan perintah Maharajamu dengan sempurna.”

Sepercik keheranan telah menyentuh setiap hati. Apakah artinya sikap kesatria itu bagi Tohjaya. Jika Senapati itu menyebut nama orang yang sama sekali tidak berdosa, apakah itu juga sifat kesatria.

Dalam kebimbangan itu terdengar Tohjaya berkata, “Cepat, sebut namanya. Aku ingin segera mendengar dan memerintahkan mengikatnya pada sebuah tiang di simpang empat yang paling ramai bersama Senapati yang bodoh itu.”

Senapati itu menjadi tegang. Sejenak ia memalingkan wajahnya memandang Senapati yang tidak bersedia mengorbankan orang lain itu dengan membiarkan dirinya sendiri dihukum. Senapati dari Pasukan Pengawal itu melihat, betapa Senapati Pelayan Dalam memandangnya dengan sorot mata kebencian dan lebih dari itu penuh penghinaan karena agaknya ia sudah bersedia menyebut nama seseorang yang barangkali tidak bersalah sama sekali.

“He, kenapa kau tidak segera berbicara?” bentak Tohjaya.

“Ampun tuanku. Adapun pembunuh yang paling keji di seluruh Singasari dan yang pantas mendapat hukuman picis itu tidak lain adalah Tohjaya sendiri. Ia bukan saja membunuh seorang prajurit, tetapi ia telah membunuh Maharaja yang sebenarnya berhak atas tahta, tuanku Anusapati.”

Jawaban itu bagaikan halilintar yang meledak di ruangan itu. Sejenak setiap orang terpukau oleh cengkaman perasaan yang sangat asing.

Namun sejenak kemudian terdengar Tohjaya berteriak nyaring, “Gila, ternyata kau lebih gila dari kawanmu yang dungu itu.”

“Sebenarnyalah tuanku seorang pembunuh. Apalagi jika tuanku menghukum mati orang-orang yang tidak berdosa seperti kami hanya karena kami tidak mau mengorbankan orang lain untuk menjalani hukuman yang tidak berperikemanusiaan itu.”

Senapati itu agaknya masih akan mengucapkan kata-kata. Tetapi suaranya terputus karena Tohjaya yang tidak dapat mengendalikan perasaannya itu telah meloncat dari singgasananya, langsung menarik rambut orang itu dan hampir di luar pengamatan mata, kerisnya telah terhunjam di dada Senapati yang malang itu.

Sejenak orang-orang yang menyaksikan darah menyembur dari luka itu mematung. Namun sekejap kemudian Senapati Pelayan Dalam itu meloncat berdiri. Kerisnya telah tertarik dari wrangkanya. Baginya Tohjaya memang seorang pembunuh yang sangat keji sehingga justru karena itu, ia telah kehilangan semua kewibawaannya di hadapan Senapati itu.

Tetapi Senapati itu tidak sempat berbuat apa-apa. Sekejap kemudian tiga buah anak panah telah terhunjam di punggungnya.

Tohjaya yang tidak dapat mengendalikan perasaannya itu telah meloncat dari singgasananya, langsung menarik rambut orang itu dan hampir di luar pengamatan mata, kerisnya telah terhunjam di dada Senapati yang malang itu.

Para Panglima yang hadir sempat melihat anak panah itu meluncur. Ternyata di balik warana kayu yang membatasi ruangan itu dengan ruangan yang lain, telah siap beberapa orang prajurit yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa. Dalam keadaan yang kalut itu mereka sempat meloncat dan sekaligus membidikkan anak panahnya dan tepat mengenai punggung Senapati itu, yang sekaligus rebah di lantai.

Tetapi Senapati itu masih sempat berkata, “Bagiku kematian ini jauh lebih baik dari hukum picis itu. Dan sebenarnyalah bahwa Tohjaya adalah pembunuh yang paling bengis. Ialah yang pantas mendapatkan hukuman picis itu.”

Senapati itu tidak sempat meneruskan kata-katanya. Ia pun mati di hadapan Tohjaya yang menjadi sangat marah. Matanya menjadi merah seperti bara, sedang giginya gemeretak bagaikan berpatahan.

Kedua Panglima yang ada di ruangan itu pun hampir di bawah sadar mereka telah berdiri pula. Namun mereka masih dapat mencegah perasaan mereka yang melonjak. Ternyata di ruangan itu kemudian telah berdiri berderet-deret beberapa orang prajurit dan Senapati. Bukan dari Pasukan Pengawal dan bukan pula Pelayan Dalam. Mereka adalah prajurit tempur yang ditarik oleh Tohjaya untuk menjaga dan melindungi dirinya.

Kedua Panglima itu hanya dapat menggeram. Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa.

Sejenak kemudian Tohjaya yang wajahnya bagaikan menyala itu pun berteriak, “Ayo, siapa lagi yang akan mencemarkan nama Tohjaya, Maharaja yang paling berkuasa di Singasari.”

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Bahkan kedua panglima yang berdiri itu pun telah terduduk kembali dengan lemahnya.

“Lemparkan kedua Senapati itu ke sungai jangan rawat mayatnya. Keduanya adalah contoh dari pengkhianatan yang paling hina. Senapati yang wajib menjadi contoh bagi para prajurit, ternyata keduanya adalah orang-orang yang paling licik, pengecut dan gila.”

Tidak seorang pun yang berbuat sesuatu. Yang ada di ruangan itu bagaikan patung baru yang mati.

“Cepat, ambil mayat itu, dan lemparkan ke sungai. Keduanya pantas menjadi makanan burung-burung gagak atau kadal pemakan bangkai. Keduanya tidak pantas mendapat perawatan sebagaimana manusia yang lain meninggal dunia dalam keadaan yang wajar.”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Prajurit-prajurit yang Sedang mendapat kepercayaan Tohjaya itu pun segera bertindak, dan dilemparkannya ke halaman. Sedang orang lain di halaman telah siap membawa mereka, dan benar-benar akan mereka lemparkan begitu saja di sungai.

Sejenak kemudian maka Tohjaya yang masih berdiri sambil memegang keris yang berlumuran darah di tangannya itu pun berkata, “Peristiwa ini merupakan contoh yang baik bagi setiap prajurit yang mencoba mengingkari kekuasaanku, kekuasaan Maharaja Singasari putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Kuasaku tidak bedanya dengan kuasa ayahanda. Bahkan jauh lebih besar lagi daripadanya.”

Orang-orang yang ada di ruang itu hanya dapat menundukkan kepala tanpa berbuat sesuatu. Namun setiap hati agaknya telah terluka pula oleh tindakan Tohjaya itu.

Beberapa saat lamanya, ruangan itu masih saja dicengkam oleh suasana maut. Darah yang berceceran dan ujung senjata yang berwarna merah.

Dan tiba-tiba saja Tohjaya berteriak, “Sekarang, kalian pergi semua dari ruang ini. Kalian dapat melihat kedua mayat yang akan menjadi makanan burung gagak itu. Aku melarang setiap orang yang berusaha untuk mengambil dan menyelenggarakan upacara kematian mereka. Siapa yang melanggar perintah ini pun akan aku bunuh seperti keduanya.”

Tidak seorang pun yang berkata barang sepatah kata. Semua kepala tertunduk. Tetapi di setiap hati bergetar gejolak perasaan yang melonjak-lonjak.

Demikianlah mereka meninggalkan ruangan itu dengan penuh persoalan di dalam hati. Kedua Panglima yang telah membawa kedua Senapati itu pun menyesal. Kenapa bukan mereka sendiri yang berkorban seperti keteguhan hati kedua Senapati yang gugur itu.

“Aku tidak tahu, bahwa demikianlah akhir dari persoalan ini.” berkata Panglima Pasukan Pengawal di dalam hatinya. Sedang Panglima yang lain berkata di dalam hati pula, “Jika aku tahu maka aku tidak akan membawanya menghadap.”

Demikianlah, seperti yang diharapkan Tohjaya, berita tentang kematian kedua Senapati itu pun telah sampai ke setiap telinga di Singasari. Berita yang benar-benar mengejutkan setiap hati. Bahkan Lembu Ampal sendiri tak menduga bahwa hal serupa itu akan terjadi. Ia hanya mengharap kedua belah pihak mendapat hukuman dari Tohjaya sehingga dapat menumbuhkan kebencian mereka kepada Maharaja itu. Namun ternyata Tohjaya sudah bertindak lebih jauh. Ia telah membunuh dua orang pemimpin dari dua belah pihak dengan cara yang mengerikan sekali.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...