Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 29-02 TAMAT

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-29-02
Beberapa saat kemudian ternyata desir yang lembut itu berhenti. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan manusia biasa, maka Mahisa Agni pun mengetahui bahwa seseorang berada tidak begitu jauh dari padanya.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera mempersiapkan kiri untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan ketajaman inderanya, ia tahu dimana orang itu berada, sehingga karena itu ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan ialah yang kemudian bergeser mendekati.

Tetapi ternyata bahwa orang itu pun berusaha mendekatinya pula, sehingga dengan demikian Mahisa Agni dapat menduga bahwa orang itu bukannya orang kebanyakan karena orang itu dapat pula mengetahui kehadirannya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni berhenti, la sudah dapat mengetahui dengan tepat, dimana orang itu berada. Karena itu ketika selembar daun bergetar, tidak sejalan dengan arah angin bertiup Mahisa Agni segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata, ketika sesosok tubuh meloncat dari balik geruinbul dan bersiap dengan tangan bersilang di dada Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Witantra.

“Kau Witantra” desis Mahisa Agni.

Witantra pun berdesah lembut. Sambil tersenyum ia berkata “Untunglah, aku belum lari ketakutan. Jika demikian kau tentu akan mentertawakan.”

“Juga untung bahwa kau tidak segera menyerang aku. sehingga aku masih sempat bernafas sekarang.”

Keduanya tertawa tertahan, karena keduanya tetap sadar, bahwa mereka sedang menghindarkan diri dari pengamatan para prajurit Singasari yang sedang bertugas.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agni pun kemudian bertanya tentang Anusapati, apakah Witantra melihatnya.

“Bukankah ia pergi kebangsal Sri Rajasa.”

“Jika ia tidak menemukan Sumekar di sana, ia tentu akan bergeser pula.”

“Aku belum melihat keduanya. Sumekar tidak, dan tuanku Putera Mahkota juga tidak.” jawab Witantra “bahkan aku menyangka bahwa kau adalah Sumekar sebelum kau memperlihatkan diri.”

“Jika demikian Anusapati tentu masih ada di bangsal Sri Rajasa. Ada dua kemungkinan. Ia memang menunggu karena Sumekar belum ada di sana, atau ada persoalan lain yang gawat justru karena Sumekar sudah terlanjur berusaha mendapatkan Sri Rajasa.”

“Marilah kita lihat.”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia menjawab “Baiklah Marilah kita lihat.”

Keduanya pun kemudian dengan sangat hari-hari mencoba mendekati bangsal Sri Rajasa. Betapapun sulitnya, namun keduanya berhasil menembus setiap daerah penjagaan para prajurit pengawal istana. Mereka menyusup di antara gardu-gardu penjagaan dan setiap kali menghindari para peronda yang mengelilingi halaman istana Singasari itu.

Akhirnya, keduanya berhasil mencapai halaman belakang bangsal Sri Rajasa. Seperti yang lain, menurut perhitungan mereka, yang paling mungkin mereka lakukan adalah melihat dan apabila perlu memasuki longkangan.

Sementara itu, angin masih juga bertiup. Sekali-sekali terdengar guntur dan guruh gemuruh di langit. Namun demikian kedua orang itu masih dapat juga membedakan desir lembut kaki mereka sendiri daripada gemuruhnya angin yang keras.

Ketika kemudian mereka berhasil menjengukkan kepala mereka dari sebatang pohon yang se-olah-olah diayun oleh angin, maka hati mereka berdesir. Mereka melihat orang-orang yang sedang mereka cari itu berada di longkangan bangsal Sri Rajasa.

Yang mula-mula mereka lihat adalah sesosok tubuh yang tekapar di tanah. Tubuh itu segera dapat mereka kenal, bahwa orang itu adalah Sumekar.

“Terlambat” desis Mahisa Agni tidak seorang pun yang dapat menyelamatkannya. Sumekar agaknya sudah terbunuh.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Ya, kita sudah terlambat. Tetapi dimanakah tuanku Anusapati?”

“Mungkin ia pun ada di longkangan itu. Mudah-mudahan kita tidak terlambat. Mudah-mudahan Anusapati belum terbaring di tanah seperti Sumekar itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Kita harus mendekat. Keadaan sudah benar-benar di luar dugaan kita, sehingga kita harus mengambil sikap dengan segera menghadapi keadaan yang tiba-tiba ini”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya tanpa menjawab separah katapun. Dengan sigapnya keduanya pun segera teran dari pohon itu dan dengan hati-hati mendekati dinding bagian belakang longkangan bangsal itu.

“Satu-satunya jalan” berbisik Mahisa Agni.

“Kita memanjat”, sahut Witantra.

Keduanya pun kemudian dengan hati-hati sekali dan hampir tidak dapat dilihatnya bahwa keduanya sedang merayap naik pada dinding longkangan itu. Jika mereka kehendaki, mereka dapat meloncat naik dengan mudahnya, namun dengan demikian tentu akan menarik perhatian seseorang jika orang itu berada di longkangan.

Sejenak kemudian, maka mereka pun dengan sangat hati-hati mencoba untuk menjengukkan kepalanya mereka. Jika ikat kepala mereka dapat terlihat, maka usaha mereka itu pun akan gagal karenanya.

Namun darah mereka serasa terhenti, ketika pada saat itu tampak oleh mereka, Anusapati sedang dalam kesulitan.

Yang mereka lihat adalah Sri Rajasa sudah siap untuk menerkam Anusapati yang tidak mempunyai kesempatan untuk melangkah surut karena punggungnya sudah melekat dinding.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah cepat sekali, sehingga baik Mahisa Agni, maupun Witantra tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat banyak.

Ketika mereka tanpa menghiraukan lagi Sri Rajasa meloncat keatas dinding, mereka melihat bahwa kedua orang di longkangan itu sudah mulai bertempur. Sri Rajasa sudah mulai menyerang.

Hanya karena di tangan Anusapati tergenggam keris Empu Gandring sajalah, maka Anusapati masih dapat menghindarkan diri pada serangan yang pertama.

Namun Anusapati pun sadar, bahwa Sumekar dengan keris Empu Gandring itu di tangannya, sama sekali tidak berhasil menyelamatkan dirinya. Dan sudah barang tentu Sumekar memiliki ilmu yang lebih matang dari ilmunya sendiri

Dalam keragu-raguan atas keadaan yang sedang dihadapinya, Anusapati tanpa sesadarnya, telah menyentuh sesuatu di bawah ikat pinggangnya. Ternyata sentuhan itu telah mengejutkannya sendiri. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan banyak untuk mempertimbangkan keadaan yang sedang dihadapi. Karena itulah maka ketika Sri Rajasa maju setapak lagi dengan tangan terkembang, tiba-tiba di tangan Anusapati telah tergenggam sebuah trisula yang berwarna kekuning-kuningan.

Sri Rajasa terkejut melihat Trisula itu. Meskipun Sri Rajasa sudah menduga, bahwa akhirnya Trisula itu akan dapat jatuh ketangan Anusapati, namun ketika tiba-tiba senjata harus menghadapinya, maka ia pun masih juga terperanjat, sehingga rasa-rasanya jantungnya berhenti berdenyut.

Pada saat yang bersamaan, Witantra dan Mahisa Agni telah meloncat kedalam longkangan. Sentuhan kakinya di atas tanah masih dapat didengar oleh ketajaman indera Sri Rajasa di sela-sela desah angin yang semakin keras.

Ketika sekali langit seakan-akan menyala, Sri Rajasa dapat melihat, dengan jelas, bahwa dua orang yang datang, ini adalah Mahisa Agni dan Witantra. Namun kemudian ia menjadi silau bukan oleh kilat yang meloncat di udara, tetapi oleh trisula yang seakan-akan bercahaya kekuning-kuningan

Sri Rajasa mundur beberapa langkah surut. Dengan suara yang berat ia berkata “Mahisa Agni, ternyata bahwa saatnya akan tiba, kau membalas sakit hatimu karena kematian pamanmu.”

Mahisa Agni memandang Sri Rajasa yang silau itu sejenak. Kemudian jawabnya “Tidak Sri Rajasa. Hamba tidak datang dengan dendam di dalam hati. Sebenarnyalah hamba datang dengan niat yang baik. Untunglah bahwa belum terjadi sesuatu atas tuanku. Tetapi sayang, bahwa Sumekar agaknya telah terbunuh.”

“Siapakah Sumekar?” bertanya Sri Rajasa.

“Juru taman itu.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Katanya “Pangalasan dari Batil”

“Ya, Pangalasan dari Batil itu bernama Sumekar.”

Sri Rajasa memandang tubuh Sumekar yang masih terbaring diam. Kemudian ditatapnya Anusapati yang hanya dapat dilihatnya lamat-lamat, di antara silaunya cahaya trisula yang masih saja diacukan kepadanya.

Dalam keadaan itulah, Sri Rajasa seakan-akan telah dihadapkan pada suatu pengadilan. di sekitarnya berdiri beberapa orang yang mempunyai kepentingan terhadap, dirinya. Mahisa Agni telah kehilangan pamannya Empu Gandring, Witantra telah kehilangan adik seperguruannya, Kebo Ijo yang telah diumpankan sebagai tertuduh pada saat terbunuhnya Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian Anusapati yang agaknya sudah mengetahui pula, apakah yang telah terjadi atasnya.

“Tuanku” berkata Witantra “barangkali tuanku telah mendengar bahwa hamba memang sudah berada di dalam kota Singasari.”

“Apa maksud kedatanganmu Witantra?” bertanya Sri Rajasa kemudian meskipun sebenarnya ia telah dapat menduga justru karena ia datang bersama Mahisa Agni. Namun ia masih juga melanjutkannya “Apakah ada hubungannya dengan kekalahanmu dari Mahisa Agni saat itu?”

“Benar tuanku. Kedatangan hamba memang mempunyai hubungan dengan kekalahan hamba waktu itu. Tetapi bukan untuk melepaskan dendam kepada Mahisa Agni, karena pada waktu itu ia sedang diliputi oleh kesedihan karena pamannya telah terbunuh.”

“Jadi siapakah yang kau cari?”

“Tidak apa-apa tuanku. Hamba hanya ingin melihat Singasari yang sekarang dibandingkan dengan Tumapel yang kecil. Dan barangkali setelah sekian tahun hamba dapat menemukan pembunuh Kebo Ijo yang sebenarnya. Karena sejak semula hamba yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah.”

“Apakah kau sudah menemukannya?”

“Ampun tuanku. Hamba sudah menemukannya seperti Mahisa Agni juga sudah menemukan pembunuh pamannya. Selain kami berdua agaknya Puteran Mahkota pun telah menemukan pula pembunuh ayahandanya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Kalian telah menemukan orang yang kalian cari. Dan yang kalian cari itu pun telah melihat, bahwa cahaya yang kuning keputih-putihan itu adalah cahaya keluhuran yang akan menjemput aku.”

Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati menjadi termangu-mangu sejenak. Dilihatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dengan tatapan mata yang mengandung pertanyaan.

Namun Sri Rajasa itu pun tersenyum sambil berkata selanjutnya “Kenapa kalian termangu-mangu. Bukankah sudah datang saatnya? di hadapan cahaya itu aku seolah-olah sudah tidak berdaya lagi, di dalam bayangan yang silau, aku tidak akan dapat melihat bagaimana ujung keris Empu Gandring itu akan menyentuh kulitku. Benar-benar suatu gabungan yang tidak terlawan bagiku. Keris Empu Gandring yang sakti dan cahaya yang kuning silau itu. Apalagi di sini berdiri orang-orang Sakti seperti Mahisa Agni dan Witantra.”

“Tuanku. Jangan berhayal terlampau jauh. Sebenarnyalah kami tidak membawa dendam di hati atas kematian-kematian itu. Kami hanya ingin meyakinkan bahwa sebenarnyalah kami telah menemukan pembunuh dari orang-orang yang kami cintai. Tetapi setelah itu, kami tidak akan berbuat apa-apa.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jadi apakah yang kalian kehendaki?”

“Kami memang sedang mencari pangalasan ini dengan harapan untuk mencegah sesuatu yang dapat terjadi. Tetapi kami terlambat. Anusapati juga agaknya telah terlambat.”

“Kalian telah menyuruhnya memasuki bangsal ini.”

“Tidak tuanku. Hamba berkata sebenarnya. Jika kami memang menghendakinya, kenapa kami tidak datang sendiri dengan trisula itu sekaligus?”

Namun Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu pun tersenyum pula. Kesan di wajahnya telah berubah sama sekali. Matanya tidak lagi liar dan wajahnya tidak menjadi bengis.

“Anusapati” berkata Sri Rajasa “ternyata bahwa semuanya memang harus berakhir. Ceritera tentang Sri Rajasa yang berhasil duduk di atas Singasari beralaskan mayat dan darah ini pun memang harus berakhir. Aku tahu, sejak aku duduk di atas Singasari, aku sudah menduga bahwa singgasana itu bagaikan bara api yang akan membakarku dan akan membakar siapa saja yang akan duduk di atasnya apabila ia memang tidak dilindungi oleh dewa-dewa. Itulah sebabnya, maka sepeninggalku, berhati-hatilah. Tentu tidak ada orang lain yang akan diangkat untuk duduk di atas Singgasana itu selain Anusapati. Mudah-mudahan kau mendapat perlindungan Anusapati, sehingga kau tidak mengalami nasib seperti nasibku.”

“Hamba tidak ingin berbuat sesuatu saat ini ayahanda. Biarlah ayahanda tetap duduk di atas Singgasana Singasari.”

“Jangan berkata begitu Anusapati. Kau ternyata sudah menyiksa aku dengan sikapmu itu. Aku lebih senang melihat kau marah dan menghujamkan keris itu di dadaku selagi aku silau melihat cahaya trisula itu. Tetapi kau tidak berbuat demikian. Kau berbuat seperti seorang yang berhati putih. Kau seakan-akan tidak mendendam meskipun kau tahu bahwa aku telah membunuh ayahmu yang sebenarnya seperti Mahisa Agni juga seolah-olah tidak mendendam karena aku sudah membunuh Empu Gandring dan juga adik seperguruan Witantra. Kenapa kau tidak bersama-sama dengan Mahisa Agni dan Witantra membunuhku saja?”

Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun sebenarnyalah nafsunya untuk melihat Sri Rajasa binasa seperti yang menyala sesaat ketika ia melihat Sumekar bertempur melawan Sri Rajasa itu telah lenyap.

“Anusapati, jangan menyiksa dengan pameran kebesaran jiwa dan keluhuran budi seperti itu. Aku pernah membunuh orang-orang yang aku anggap dapat menghalangi usaha untuk merebut tahta Tumapel waktu itu. Kenapa kau tidak berbuat serupa, membunuh aku, karena selama aku masih ada, aku tidak akan menyerahkan tahta Singasari kepadamu.”

“Ayahanda adalah Maharaja Singasari. jika memang itu keputusan ayahanda, maka aku akan melepaskan kedudukanku sebagai Putra Mahkota.”

“Omong kosong. Aku tidak percaya. di dalam keadaan seperti ini kau memang berusaha menyiksaku, menyakiti hatiku karena aku akan merasa terlampau kecil berhadapan dengan kau yang berjiwa samodra, yang menampung segala macam perasaan di dalam hatimu. Tetapi terbuatlah jujur. Kau tentu ingin melihat aku mati.”

Tetapi Anusapati menjawab “Tidak. Tidak ayahanda. Hamba tidak ingin membunuh.”

“Gila, kau gila dan tidak jujur. Orang gila biasanya berbuat sesuai dengan gerak perasaannya tanpa kendali. Tetapi kau adalah orang gila yang berpura-pura.”

Anusapati menjadi bingung. Ketika ia memandang Mahisa Agni sejenak, maka dilihatnya keningnya berkerut-merut dalam sekali, “Cepat, lakukan. Aku tidak dapat melihat kau dengan jelas. Aku tidak dapat melihat keris itu.” berkata Sri Rajasa.

Tetapi Anusapati masih tetap berdiam diri.

“Anusapati, jangan berdiri saja seperti patung. Sebentar lagi para prajurit di depan bangsal ini akan meronda sampai ke longkangan ini. Lebih baik kau bunuh aku sekarang, selagi suara kita tidak didengar oleh mereka karena angin dan guruh yang terus-menerus. Rupa-rupanya alam pun telah siap membawa jiwaku kembali kepada penciptanya, setelah aku menunaikan tugasku mempersatukan Singasari.”

“Ah” terdengar Anusapati berdesis.

“Cepat” sekali lagi Sri Rajasa menggeram. Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa itulah yang meloncat menyerang Anusapati.

Yang terjadi itu benar-benar mengejutkan. Mahisa Agni dan Witantra tidak sempat berbuat apa-apa. Mereka melihat Sri Rajasa bagaikan tatit yang meloncat di langit.

Demikian pula Anusapati. Ia sama sekali tidak sempat berpikir. Ketika ia melihat Sri Rajasa meloncat menyerangnya, maka dengan gerak-gerak naluriah ia mempertahankan dirinya. Karena ia tidak dapat bergeser mundur lagi, maka hampir di luar sadarnya ia telah mempergunakan kerisnya.

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu benar-benar telah disilaukan oleh cahaya trisula kecil di tangan Anusapati itu. Trisula yang pernah pula dilihatnya ketika ia masih bertualang di padang Karautan. Seolah-olah Trisula itu telah memperingatkan kepadanya apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah dilakukan olehnya di Padang Karautan itu. Juga atas seorang tua yang seakan-akan telah membimbingnya untuk mengenal Yang Maha Agung meskipun sebelumnya ia pernah merasakan pertolongan tangan-Nya yang Maha Kuasa.

Itulah sebabnya selain mata wadagnya yang silau oleh trisula kecil di tangan Anusapati, maka mata hatinya pun telah menjadi silau pula melihat dosa-dosa yang pernah dilakukannya sendiri.

Dengan demikian, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sama sekali tidak melihat, bagaimana Anusapati berbuat di luar sadarnya, mengacungkan keris buatan Empu Gandring itu untuk menahan serangannya.

Jika Anusapati berbuat demikian, ia berniat untuk sekedar mengurungkan serangan Ken Arok yang bagaikan tatit itu. Namun Anusapati tidak tahu, bahwa sebenarnyalah Ken Arok tidak dapat melihat ujung keris yang mengerikan itu.

Di dalam kesilauannya, tiba-tiba saja terasa oleh Keh Arok ujung keris di tangan Anusapati itu telah menyentuhnya. Sejenak ia berdesis dan meloncat surut. Namun kemudian dipandanginya luka di lengannya itu sejenak sambil berkata “Ternyata telah datang saatnya.”

“Ayahanda” desis Anusapati.

“Jangan mendekat Anusapati” berkata Sri Rajasa “aku adalah ujud dari kekasih Dewa yang melakukan tugasku di bumi, tetapi aku juga ujud daripada dosa yang paling besar di muka bumi ini. Jika kau mendekati aku, maka tanganku yang berlumuran dosa ini tentu akan meremasmu menjadi debu. Biarlah kebesaran kasih Dewa yang ada padaku menyelamatkan kau dari kehancuran itu.”

Kata-kata Sri Rajasa itu ternyata telah menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkanya. Anusapati menjadi termangu-mangu sejenak. Sedang Mahisa Agni dan Witantra bagaikan membeku di ternpatnya.

Namun seperti permintaan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu Anusapati sama sekali tidak mendekat ketika kemudian Sri Rajasa berlutut sambil bertelekan dengan kedua tangannya. Sekali-Sekali ia meraba lukanya. Luka karena ujung keris Empu Gandring.

Tubuh Sri Rajasa semakin lama menjadi semakin lemah, di dalam keremangan cahaya malam dan lampu di-kejauhan, Sri Rajasa memandang Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati yang berdiri mematung.

“Jangan bingung” berkata Sri Rajasa “memang sudah waktunya aku mati. Aku tidak akan berteriak memanggil para prajurit yang sedang bertugas di depan bangsal ini. Mereka tidak akan tahu apa sebabnya aku mati.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu “tetapi bawalah pangalasan itu keluar dari bangsal ini. Apapun alasannya, kehadiran seseorang di bangsal ini akan menimbulkan banyak pertanyaan. Dan Anusapati tidak akan dapat berbuat banyak di sini, karena jika demikian, kehadirannya pun mencurigakan pula.”

“Jadi apa yang harus hamba lakukan?” tiba-tiba saja Anusapati bertanya.

“Bawalah pangalasan itu ke bangsahnu. Kau dapat mengatakan kepada siapapun juga, bahwa peristiwa ini adalah peristiwa yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkembangan keadaan akhir-akhir ini di Istana Singasari.”

“Maksud ayahanda?”

“Pangalasan itu telah membunuh aku karena sakit hati. Kemudian akan membunuhmu pula. Tetapi kau berhasil membinasakannya. Itulah ceriteranya. Dan mudah-mudahan orang-orang Singasari mempercayainya dan memberikan hakmu atas tahta, Anusapati. Sebab jika ada yang mencurigaimu memasuki bangsal ini, maka akan timbul persoalan yang berkepanjangan, karena kau tahu, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang ingin aku tempatkan di atas tahta pula.”

“O” terasa kerongkongan Anusapati menjadi panas.

Namun tiba-tiba Putera Mahkota itu terkejut ketika ia mendengar Sri Rajasa mengumpat “Jahanam, jahanam kau Anusapati. Tentu kau yang menyuruh pengalasan itu membunuh aku. Agaknya kau sudah tahu rencana yang aku susun sebiak-baiknya untuk membinasakan kau dan Mahisa Agni. Dengar, bahwa Tohjaya tidak akan merelakan pembunuhan ini terjadi.”

“Tetapi, tetapi hamba tidak pernah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membunuh ayahanda. Memang kadang-kadang terbersit ingatan untuk melakukannya. Namun hamba selalu berhasil mengendalikannya.”

“O” kepala Ken Arok seakan-akan terkulai. Tubuhnya menjadi semakin lemah. Katanya “Ya, kau memang tidak bersalah. Karena itu, lakukanlah pesanku, agar kau tidak dicurigai oleh siapapun. Agaknya memang keturunan Ken Dedes yang pantas untuk menggantikan kedudukanku di Singasari ini.

Anusapati tidak segera menjawab. Dipandanginya saja Sri Rajasa yang semakin lama menjadi semakin lemah. Namun yang tiba-tiba telah mengumpat sekali lagi “O, kau telah berkhianat Anusapati. Meskipun aku bukan ayahandamu sendiri, tetapi sejak lahir kau berada di bawahi asuhanku. akulah yang memberikan kedudukan kepadamu sebagai seorang Putera Mahkota.”

Sri Rajasa yang lemah itu seakan-akan ingin meloncat dan meremas Anusapati menjadi berkeping-keping.

Tetapi tubuh itu benar-benar sudah sangat lemah oleh racun yang keras dari keris Empu Gandring itu. Semakin lama Sri Rajasa, Maharaja di Singasari itu menjadi semakin tidak mampu lagi untuk tetap duduk. Akhirnya, perlahan-lahan Sri Rajasa seakan-akan telah membaringkan dirinya sendiri sambil berkata “Aku minta diri. Tidak ada yang pantas menunggui kematianku selain kau Anusapati. Kau yang berjiwa samodra dan berhati seputih kapas.” namun kemudian “tetapi, justru itulah yang menyiksaku, yang membuat aku ingin membunuhmu sekarang.” suaranya mulai surut, lalu “jangan mendekat Anusapati. Tungguilah aku dari kejauhan. Sarungkan trisulamu supaya aku dapat menatap wajahmu, karena, trisula itu membuat mataku bagaikan buta.”

Anusapati ragu-ragu sejenak. Namun ketika Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, maka trisula itu pun disarungkannya juga.

“Hem” Sri Rajasa bergumam “terima kasih. Aku minta diri. Tetapi jangan mendekat. Jangan sampai tersentuh jari-jari tanganku.”

Anusapati melangkah maju. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan pesan Sri Rajasa.

Sejenak kemudian Sri Rajasa itu menyilangkan tangan di dadanya. Matanya pun terpejam dan mulutnya terkatub rapat. Bahkan bibirnya tampak bagaikan tersenyum, seperti juga bibir Sumekar yang terbaring tidak jauh dari Sri Rajasa itu.

Pada saat terakhir masih terdengar suara Sri Rajasa lamat-lamat. “Jahanam kau Anusapati kau telah berhasil merebut tahta yang aku sediakan buat Tohjaya.”

Namun sejenak kemudian ia berdesah “Hanya kau yang pantas menggantikan kedudukanku Anusapati. Hanya kau. Aku serahkan kekuasaan Singasari sepenuhnya kepadamu, kepada keturunan Ken Dedes yang memiliki pertanda langsung dari Dewa-dewa bahwa ia akan menurunkan Maharaja bagi Singasari. Bukan Ken Umang. Bukan Tohjaya tetapi Anusapati.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sudah berbaring bagaikan tidak bernyawa lagi. Namun masih terdengar suaranya meskipun bibir itu sudah tidak bergerak “Anusapati, kau adalah jahanam yang pantas menjadi seorang Maharaja.”

Anusapati yang berdiri tegak itu masih termangu-mangu, Hatinya tersentuh juga mendengar kata-kata Sri Rajasa yang seakan-akan tidak diucapkan oleh mulutnya. Dan Anusapati pun memang tidak dapat ingkar, bagi Sri Rajasa, ia adalah jahanam yang akan menggantikan kedudukannya. Tidak ada orang lain yang lebih berhak daripada dirinya untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa pada waktu itu.

Dalam pada itu, longkangan itu pun menjadi sepi. Dengan hati yang tegang mereka memperhatikan Sri Rajasa yang terbaring diam dengan tangan bersilang di dada dan mata terpejam.

Namun tiba-tiba saja tetasa dada ketiga orang itu bergetar. Mereka dapat melihat dengan jelas, bahwa dari ubun-ubun Ken Arok itu seakan-akan meluncur perlahan-lahan sebuah cahaya yang berwarna kemerah-merahan. Bagaikan gumpalan warna yang sangat ringan, maka cahaya yang kemerah-merahan itu pun terapung di udara-dan sejenak kemudian seolah-olah dihembus oleh mulut bumi, sehingga cahaya itu pun terbang ke angkasa. Semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang di kebiruan wajah langit.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sudah-pernah ia melihat cahaya itu di ubun-ubun Ken Arok yang; bergelar Sri Rajasa. Agaknya memang sudah datang saatnya Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu kembali ke asalnya setelah beberapa lama ia melakukan tugasnya di bumi.

Perlahan-lahan ketiga orang itu pun kemudian melangkah mendekatinya. Yang kemudian ada di hadapan mereka memang tidak ubahnya sebagai tubuh manusia sewajarnya apabila ajal telah tiba. Karena Ken Arok yang, tinggal itu adalah Ken Arok dalam bentuknya yang wadag.

“Ia memang ujud dari kasih dewa atas Singasari, tetapi juga ujud yang paling mengerikan dari iblis yang paling laknat” berkata Mahisa Agni kemudian, “dan itu pulalah sikapnya atasmu Anusapati. Ia menganggapmu sebagai penggantinya, sebagai saluran kasih dewa-dewa atas Singasari, namun ia memandangmu sebagai orang yang paling mengganggu nafsu ketamakan-nya. Dan tanggapan itulah yang tampak pada saat akhirnya. Ia ingin menyerahkan Singasari kepadamu, namun sekaligus ingin meremasmu menjadi debu.”

Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Nah, sekarang Anusapati. Kau dapat melakukan pesannya. Bawalah Sumekar ke bangsalmu. Dan tentu saja kita akan minta izin kepada Kuda Sempana, kakak seperguruannya, bahwa meskipun Sumekar sudah meninggal, kau masih akan minta bantuannya. Dengan nama Pangalasan Batil, ia harus mengorbankan bukan saja jiwanya, tetapi juga nama itu, karena setiap orang akan menyangka, bahwa ialah pembunuh Sri Rajasa, dan kemudian pergi ke bangsalmu untuk membunuhmu juga, tetapi kau berhasil membinasakannya lebih dahulu”

Anusapati masih menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian terasa betapa matanya menjadi panas. Sumekar adalah seorang yang sangat baik kepadanya. Orang yang seakan-akan telah mewakili pamannya Mahisa Agni apabila pamannya itu tidak ada di Singasari. Justru karena itu, maka ia pun ikut terlibat di dalam persoalan yang ttumbuh di dalam keluarga besar dari Sri Rajasa. Sumekar seakan-akan terlibat dalam perebutan pengaruh antara. Anusapati dan Tohjaya. Dan itulah sebabnya, maka Sumekar telah hanyut pula di dalam arus kebencian kepada Sri Rajasa. Bahkan melampaui dirinya sendiri sehingga ia tidak dapat mengendalikan perasaannya dan dengan keris Empu Gandring yang sakti itu ia ingin membinasakan Sri Rajasa. Namun Sri Rajasa bukannya manusia sewajarnya. Dan itulah sebabnya Sumekar tidak berhasil menyentuhnya dengan keris itu, justru dirinya sendirilah yang terbunuh karenanya. Dan sekarang mayat itu harus dihinakan sebagai seorang pembunuh.

Sulit bagi Anusapati untuk memenuhinya. Terkenang olehnya ceritera tentang Kebo Ijo yang sama sekali tidak bersalah, namun harus menebus dengan nyawa dan namanya ketika Akuwu Tunggul Ametung terbunuh.

“Aku tahu keberatanmu Anusapati” berkata Mahisa Agni “karena itu, maka sebaiknya kita menemui Kuda Sempana. Kakak seperguruan Sumekar. Kita mendengar pendapatnya.”

“Jadi, bagaimana dengan tubuh paman Sumekar. ini?” bertanya Anusapati.

“Biarlah kita bawa lebih dahulu ke longkangan bangsalmu.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak dapat tinggal di bangsal Sri Rajasa terlampau lama. Jika para prajurit kemudian meronda kebagian belakang bangsal ini, maka mereka akan menemukannya dan harus bertempur lagi. Jika ia salah langkah maka ia akan membunuh bukan saja satu dua orang, tetapi beberapa orang. Apalagi jika kemudian timbul pertentangan terbuka.

“Baiklah paman” berkata Anusapati kemudian “aku akan mencoba membawa tubuh paman Sumekar.

Tentu cukup berat. Kami akan membantumu. Jika kita tidak harus menyusup di antara pengawasan para pra jurit, maka tidak akan terlampau sulit kiranya Tetapi sekarang kita harus menerobos pengawasan para prajurit.

Demikianlah maka dengan susah payah, ketiga orang itu berhasil membawa Sumekar keluar dari dinding bangsal Sri Rajasa. Dengan susah payah pula mereka berhasil membawa lewat rimbunnya tumbuh-tumbuhan perdu di halaman istana Singasari dari bangsal Sri Rajasa, sampai ke bangsal Putera Mahkota.

Malam itu juga Kuda Sempana, Mahisa Agni dan Witantra terpaksa melepaskan Sumekar menjadi seorang pengkhianat dengan nama Pangalasan Batil. Tetapi ia bagi Anusapati adalah seorang yang paling baik, yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingannya, meskipun caranya kurang disetujui. Namun niat terkandung di dalam hati Sumekar adalah menempatkannya pada kedudukan yang paling tinggi di Singasari.

Setelah semuanya dibicarakan dengan masak, dan setelah Mahisa Agni, Kuda Sempana dan Witantra dengan dada yang berdebar-debar menunggu di bangsalnya, apa yang akan terjadi di istana itu, maka mulailah Anusapati memainkan peranannya.

Lebih dahulu ia berbisik di telinga Sumekar “Maafkan aku paman. Aku sama sekali tidak berniat jelek. Kau bagiku adalah seorang pahlawan. Bukan saja dikala hidup paman, tetapi juga sesudah paman meninggal.”

Maka kemudian terjadilah keributan di bangsal itu. Beberapa orang prajurit yang bertugas itu pun berlari-larian dengan senjata telanjang.

Keributan itu pun segera menjalar kesegenap halaman istana Singasari. Benar-benar di luar rencana yang sudah di susun oleh beberapa orang Senapati. Tiba tiba saja seorang telah menyusup ke dalam bangsal Anusapati dan mencoba membunuhnya. Namun ternyata usaha ini gagal, dan bahkan orang yang dikenal sebagai pangalasan Batil itu telah mati terbunuh.

“Cepat, lihat ke bangsal Ayahanda Sri Rajasa” Ini kata Anusapati “pangalasan ini telah menyebut-nyebut nama ayahanda. Ia akan membunuh ayahanda pula setelah membunuh aku, atau sebaliknya.”

Halaman istana itu menjadi semakin gempar setelah ternyata Sri Rajasa diketemukan telah meninggal di longkangan bangsalnya, terbujur seperti orang tidur dengan tangan bersilang dan mata terpejam.

Dalam keributan itulah Mahisa Agni telah muncul pula di halaman. Ternyata bahwa ia memiliki wibawa yang cukup bagi para Senapati, meskipun mereka yang telah disiapkan untuk menangkapnya besok.

“Tutup semua gerbang.” perintah Mahisa Agni.

Maka tidak seorang pun yang dapat lolos lagi dari dinding istana. Namun Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sudah berada di luar dinding.

Dalam pada itu, Anusapati yang masih menggenggam keris telanjang memberikan aba-aba pula. Hampir di luar sadarnya para prajurit yang dipersiapkan untuk membunuh Putera Mahkota itu justru melakukan segala perintahnya.

“Periksa setiap orang yang mencurigakan. Aku tidak yakin bahwa pangalasan ini berdiri sendiri.”

Kegemparan itu benar-benar telah mengguncangkan istana Singasari. Bahkan dalam sekejap, berita tentang terbunuhnya Sri Rajasa itu telah menjalar ke seluruh kota. Setiap orang yang mendengar berita itu, segera mengetuk pintu rumah tetangganya dan menceriterakan apa yang didengarnya, sehingga dengan demikian maka berita kematian Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi segera menjalar.

Jenazah Sri Rajasa itu pun segera diusung masuk ke-dalam bangsalnya. Permaisuri pun segera mendengar apa yang telah terjadi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun pergi ke bangsal Maharaja Singasari itu.

Ketika tampak olehnya jenazah itu, terasa kepala Ken Dedes menjadi pening. Jenazah itu tidak ubahnya seperti jenazah Akuwu Tunggul Ametung, di beberapa tempat tampak noda kebiru-biruan, meskipun wajah Sri Rajasa itu seakan-akan sama sekali tidak berubah seperti di saat ia tidur.

Ken Dedes pun segera mengetahui, apakah yang sudah terjadi. Ternyata bahwa keris Empu Gandring telah melukai Sri Rajasa seperti keris itu telah melukai pula Akuwu Tunggul Ametung.

Bayangan yang bercampur baur itu membuat kepala Ken Dedes menjadi semakin pening. Pandangannya menjadi berkunang-kunang. Dan sejenak kemudian, Ken Dedes tidak mengetahui apakah yang telah terjadi.

Permaisuri itu pun menjadi pingsan. Beberapa orang emban menjadi kebingungan. Dengan segala macam cara mereka berusaha untuk menolong Permaisuri itu.

Dalam pada itu, Ken Umang pun bergegas datang pula ke bangsal itu. Ketika ia datang, ternyata Permaisuri sudah dibawa menyingkir untuk mendapat pertolongan.

Yang terdengar adalah jerit yang menyayat. Ken Umang menelungkup di bawah jenazah Sri Rajasa. Tangisnya bagaikan bendungan yang pecah. Sedang yang terselip di antara suara isaknya adalah ratapan yang pedih. “Tuanku, kenapa Tuanku, sampai hati meninggalkan hamba dan putera-putera tuanku. Justru dalam saat-saat perjuangan putera tuanku sedang memuncak. Dengan demikian, maka lenyaplah segala harapan hamba, bahwa hamba akan dapat menurunkan seorang Maharaja yang akan berkuasa di Singasari.”

Tidak ada yang mendengar ratap itu selain seorang emban yang sedang mencoba menghiburnya. Ratapan itu diucapkannya terlalu lirih. Orang-orang yang sedang menunggui jenazah itu pun sama sekali tidak mendengar dengan pasti kata-kata yang diucapkannya. Namun emban itu sempat juga mengurut dadanya. Ternyata yang paling menyedihkan bagi Ken Umang bukan kematian Sri Rajasa. Tetapi adalah karena cita-citanya untuk menurunkan seorang Maharaja telah gagal karenanya.

Dalam pada itu, para prajurit di halaman istana masih sibuk memeriksa setiap sudut halaman. Mereka mencoba untuk menemukan orang yang mencurigakan, yang barangkali adalah kawan dari pangalasan dari Batil itu.

Tetapi tidak seorang pun yang pantas dicurigai. Yang ada di dalam halaman itu adalah prajurit-prajurit yang justru telah dipersiapkan oleh orang-orang yang ditentukan, untuk tujuan yang sama sekali berbeda dari apa yang celah terjadi.

Ternyata yang telah terjadi itu menghapuskan semua rencana di kepala beberapa orang Senapati itu. Di hadapan Mahisa Agni, seorang Senapati Agung Singasari, mereka itu menjadi bingung. Apalagi ketika kemudian hadir beberapa orang Panglima dan Senapati yang tidak tahu menahu tentang rencana itu.

Akhirnya, ketika matahari kemudian terbit di Timur, sidang di bangsal paseban telah dipimpin langsung oleh Putera Mahkota didampingi oleh Senapati Agung yang menjadi wakil Mahkota di Kediri. Di dalam sidang itu telah ditetapkan kesimpulan bahwa seorang pengalasan telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian berhasil di bunuh oleh Anusapati, Putera Mahkota Singasari. Dan sidang itu pun telah menetapkan upacara yang akan dilakukan untuk menyempurnakan jenazah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Namun demikian, meskipun sidang itu sependapat, bahwa pangalasan Batil telah membunuh Sri Rajasa dan kemudian terbunuh oleh Anusapati, tetapi ternyata bahwa Tohjaya tidak dapat menerima keputusan itu di dalam hatinya. Dengan beberapa orang kepercayaannya ia menetapkan, bahwa pangalasan dari Batil itu telah mendapat perintah dari Anusapati untuk membunuh Sri Rajasa, tetapi kemudian pangalasan itu telah dibunuh sendiri oleh Anusapati, agar rahasia pembunuhan itu tidak akan pernah didengar oleh orang lain.

Tetapi pengaruh Anusapati dan Mahisa Agni ternyata lebih besar dari pengaruh Tohjaya. Karena itulah kemudian para pimpinan pemerintahan menetapkan, Anusapati menggantikan kedudukan Ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang telah gugur di dalam jabatannya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Anusapati berhasil menyingkirkan tubuh Sumekar yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Sejak hidupnya, masa-masa mudanya, masa-masa menjelang usia pertengahan dan kemudian bahkan nyawanya dan bahkan namanya. Atas kehendak Anusapati, maka jenazah Sumekar pun telah disempurnakan sebaik-baiknya oleh kakak seperguruannya di padepokannya.

Namun kejutan peristiwa itulah agaknya yang membuat kesehatan Ken Dedes menjadi semakin mundur. Namun demikian ia masih sempat menunggui puteranya memerintah Singasari yang besar.

Tetapi yang terjadi bukannya akhir dari pemerintahan yang damai di Singasari.....

*TAMAT* 
Selanjutnya SEPASANG ULAR NAGA DALAM SATU SARANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...