Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 18-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 18-01*

Karya.     : SH Mintardja

Orang bertutup wajah itu tertawa, meskipun terdengar pahit. “Ki Sanak. Aku dapat juga tertawa dalam kepedihan karena seorang kawanku meninggal. Memang kalian adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, sehingga kalian berhasil membunuh seorang kawanku. Tetapi sekarang, kalian berdua tidak akan lepas dari tanganku.”

Linggadadi lah yang tertawa. Katanya, “Apa saja yang kau igaukan. Kau memang belum mengenal Linggadadi. Tetapi baiklah. Marilah kita coba, siapakah yang akan mati terbunuh.”

Sejenak mereka mempersiapkan diri, sementara Mahisa Bungalan bergeser mendekati Witantra sambil berbisik, “Paman. Mereka sudah siap untuk bertempur lagi.”

Witantra mengangguk-angguk. Desisnya, “Aku agak bingung, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

“Kita menangkap mereka bertiga.”

Witantra mengangguk. “Aku sependapat. Tetapi baiklah kita melihat kemampuan orang yang bernama Linggadadi itu sejenak.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Memang agaknya perlu untuk mengetahui sampai betapa tingginya ilmu orang yang belum dikenalnya itu.

Karena itu, maka untuk beberapa saat mereka berdua masih tetap berdiri di dalam kegelapan meskipun mereka sadar, bahwa orang yang bernama Linggadadi itu telah menanyakan tentang mereka.

Sejenak kemudian, maka Linggadadi dan seorang kawannya pun bergeser menjauhi yang satu dengan yang lain sambil menyiapkan serangan atas lawannya. Selangkah lawannya mundur. Dengan penuh kewaspadaan ia mengawasi kedua lawannya yang sudah bersiaga pula.

Sejenak kemudian, maka Linggadadi pun telah meloncat menyerang. Disusul oleh kawannya yang menyerang pula dari arah yang berbeda.

Ternyata lawannya berhasil menghindar dengan gerakan yang aneh sekali. Ia merendah sedikit, kemudian, meloncat selangkah sambil menjatuhkan dirinya. Dengan menjelujurkan tubuhnya lurus ia berguling beberapa kali, disusul dengan sebuah loncatan yang cepat, seperti seekor ulat yang melenting. Sejenak kemudian ia sudah berdiri di atas tanah, siap menghadapi segala kemungkinan.

Linggadadi dan kawannya pun segera memburu. Namun lawannya itu segera berlari-larian melingkar dan melakukan gerakan yang aneh. Di tangannya tergenggam senjata yang terayun-terayun mengerikan.

“Betapa kasarnya.“ desis Mahisa Bungalan.

Witantra mengangguk. Tetapi ia pun kemudian menahan nafasnya ketika ia melihat Linggadadi mulai mengurung musuhnya yang aneh itu dengan kemampuannya bergerak yang cepat sekali. Ia berhasil memotong gerak lawannya yang terdiri atas gerakan-gerakan lengkung dan melingkar. Setiap kali Linggadadi meloncat memutuskan gerakan-gerakan yang aneh dan membingungkan bagi lawannya yang tidak memiliki kelincahan bergerak seperti Linggadadi.

Tetapi Linggadadi adalah orang yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Itulah sebabnya ia berhasil menguasai ruang gerak yang melingkar-lingkar, meskipun seandainya ia hanya seorang diri. Apalagi ia bertempur berpasangan.

“Mahisa Bungalan.“ berkata Witantra kemudian, “Kau harus memilih lawan. Tetapi sebaiknya biarlah aku melawan Linggadadi dengan kawannya. Cobalah menjinakkan iblis berilmu hitam itu. Kau sudah melihat, Linggadadi berhasil memutuskan tata geraknya yang aneh. Kau dapat berbuat demikian pula, sehingga justru orang berilmu iblis itulah yang akan menjadi bingung. Jangan terseret oleh kemudaanmu, sehingga kau terpancing oleh gerak-geraknya yang kasar. Kau mengerti?”

“Ya paman.”

“Aku akan mencoba melawan Linggadadi dengan seorang kawannya. Mudahkan kita dapat menangkap mereka hidup-hidup, sehingga kita akan mendapatkan beberapa keterangan. Tetapi agaknya mustahil, karena orang semacam Linggadadi ini tentu tidak akan membiarkan dirinya menyerah hidup-hidup.”

“Kita akan mencoba paman.”

“Bagus. Kaupun harus mencoba. Tetapi jangan mengorbankan dirimu sendiri. Maksudku, jika kau mengalami kesulitan, kau harus melawan dengan akibat apapun pada lawanmu.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Witantra. Jika ia dapat bertahan lagi karena ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada bertempur dengan segenap kemampuannya meskipun itu akan berakibat, lawannya itu terbunuh.

“Aku berharap bahwa bukan akulah yang mati terkapar dengan kulit yang terkelupas seperti pisang.” berkata Mahisa Bungalan.

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu. Dan kau pernah mengalami perkelahian dengan orang-orang yang memiliki ilmu semacam itu. Bahkan tiga orang sekaligus.”

“Tetapi ilmu orang-orang ini agaknya jauh lebih matang dari ketiga orang yang aku lihat di daerah bayangan hantu, meskipun ketiga orang didaerah bayangan hantu itu tidak kalah kasarnya dengan orang ini.”

”Marilah, hati-hatilah.”

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian melangkah keluar dari bayangan yang pekat. Setapak demi setapak mereka mendekati arena perkelahian yang semakin seru itu, namun yang menjadi semakin jelas, bahwa orang berilmu hitam itu telah menjadi semakin terdesak.

“Kita bunuh orang itu seperti caranya membunuh lawannya.“ berkata Linggadadi, “Aku pernah mendengar dari seseorang, bahwa ia membunuh lawannya dan mengelupas kulitnya seperti mengelupas pisang.”

“Gila.“ teriak orang berilmu hitam.

“Kawanmu di daerah terpencil, telah berhasil menguasai seorang Buyut yang bodoh. He, apa katamu? Tiga orang kawanmu mati oleh seorang anak muda yang tidak banyak dikenal.”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya, la seakan-akan merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh orang yang bernama Linggadadi itu. Tetapi ia tidak menyahut sama sekali.

Namun dalam pada itu, ketika ia menjadi semakin dekat, tiba-tiba Linggadadi itu berkata, “He, apakah yang akan kalian lakukan? Tetaplah berada di kegelapan, agar bukan kau yang harus menjadi korban kebiadaban orang berilmu hitam ini.”

Witantra dan Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka melangkah terus mendekati arena perkelahian itu.

“Berhentilah disitu.“ desis Linggadadi, “Kalian adalah orang-orang gila yang tidak mengerti, betapa hitamnya ilmu hitam ini. Kalian akan menyesal jika kalian mengetahui apa yang pernah mereka lakukan.”

“Melingkar-lingkar.“ desis Mahisa Bungalan, “Kemudian melibat lawannya dalam lingkaran dan menggoreskan senjatanya sambil berlari berputaran, sehingga lawannya benar-benar menjadi seperti terkelupas.”

“He, darimana kau tahu? Ia tidak sempat melakukannya meskipun ia dapah membunuh seorang kawanku.”

“Aku pernah mendengar, bahwa Buyut yang dikuasainya itu, pernah berusaha melawannya. Beberapa orang kawan dan bebahunya telah terbunuh dengan cara yang sangat mengerikan di daerah yang disebut daerah bayangan hantu.”

“Persetan, siapa kau?“ teriak orang berilmu hitam itu.

“Tidak ada artinya kau mengenal aku. Tetapi sebaiknya kalian menghentikan pertempuran itu. Kalian akan bersama-sama dengan kami pergi menghadap Senapati Singasari untuk mendapat perlindungan, karena kalian bertiga akan menjadi lumat jika kalian jatuh ketangan prajurit Singasari yang masih muda.“

“Gila.“ teriak Linggadadi. Namun dengan demikian iapun telah meloncat surut, sehingga perkelahian itupun telah terhenti.

“Siapakah kalian sebenarnya.“ Linggadadi pun bertanya pula.

“Sudahlah Ki Sanak.“ Witantra lah yang kemudian menjawab, “Sebaiknya kita tidak usah mempersoalkan siapakah kita masing-masing. Aku berharap bahwa kita dapat mengakhiri perkelahian ini. Dua orang telah mati menjadi korban. Aku kira itu sudah cukup. Jangan ditambah lagi. Marilah, seperti yang dikatakan oleh kemenakanku, kita pergi menghadap Senapati prajurit Singasari.”

“Gila, benar-benar gila.“ teriak Linggadadi semakin keras, “Apakah kalian prajurit-prajurit Singasari?”

“Tidak tepat seperti yang kau katakan. Tetapi kami adalah orang tua yang merasa wajib mencegah pertumpahan darah yang berlarut-larut. Karena itu, sudahlah. Pertengkaran ini tidak perlu dilanjutkan. Di Singasari ada petugas yang akan dapat mengadili persoalan kalian.”

“Jangan berpura-pura pikun orang tua.“ sahut Linggadadi, “Kenapa kau membuka mulutmu juga jika kau tahu bahwa kata-katamu itu tidak ada gunanya? Kau tentu tahu, bahwa kami tidak akan berbuat sebodoh itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ternyata ia benar-benar berhadapan dengan seorang yang memiliki nalar yang tajam. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati.

“He orang tua dan kau yang disebut kemanakannya.“ berkata Linggadadi kemudian, “Bagaimanapun juga, maka kita akan berada dalam lingkaran perkelahian. Kau tentu tidak akan berani mendekat jika kau tidak sudah memperhitungkan akan terjadi demikian, dan kau memang ingin melibatkan dirimu, entah sebagai prajurit sandi Singasari atau karena kau sudah menjadi gila dan ingin membunuh dirimu dengan mempergunakan tanganku.”

“Kau terlampau sombong.“ desis Mahisa Bungalan yang darah mudanya mulai menjadi panas.

Namun dalam pada itu Witantra masih juga dapat tersenyum. Bahkan sambil menggamit Mahisa Bungalan ia berkata, “Jangan kau turutkan darah mudamu. Cobalah menahan diri sedikit.”

Mahisa Bungalan menarik nafas. Sementara orang yang berilmu hitam itupun berkata, “Nah, pilihlah, dimana kau akan berpihak.”

“Sudah barang tentu kami tidak akan berpihak siapapun juga Ki Sanak.“ jawab Witantra, “Kami ingin mempersilahkan kalian bertiga untuk mengikuti kami.”

“Sudahlah.“ potong Linggadadi, “Jangan berbicara lagi. Kita akan saling bertempur. Aku tidak memilih lawan. Siapakah di antara kalian yang bersiap melawan aku, marilah. Aku akan membunuh kalian semuanya.”

Orang berilmu hitam itulah yang menyahut, “Aku ingin membuktikan, bahwa kematian kawanku adalah karena kelengahan semata-mata. Bukan karena ilmu kami ada di bawah ilmumu.”

“Bagus.“ teriak Linggadadi, “Aku akan melawan kau seorang diri. Kita berperang tanding. Biarlah kawanku menyingkirkan kedua orang gila itu dari halaman rumah ini.”

“Terima kasih atas keberanianmu.“ jawab orang berilmu hitam itu, “Aku benar-benar akan mengelupas kulitmu dari ujung jari sampai keubun-ubun. Barulah orang-orang Singasari menyadari bahwa ilmu yang kau sebut ilmu hitam itu adalah ilmu yang tidak terkalahkan. Jika kehadiran ilmu itu sudah terlanjur dikenal, maka kami tentu akan mengambil jalan lain. Bukan sekedar bersembunyi-sembunyi. Setiap hari aku akan mengelupas kulit seorang prajurit, sehingga prajurit Singasari akan mati ketakutan sebelum kami datang membawa kemenangan mutlak atas tahta yang sebenarnya direbut oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka dengan licik pula.”

“Apa yang kau ketahui tentang tahta Ki Sanak.“ Witantra yang memotong, “Sebaiknya kita tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita mengerti. Juga tentang tahta. Biarlah kita berbicara tentang diri kita sekarang ini.”

“Persetan.“ teriak Linggadadi. Lalu iapun berkata kepada kawannya, “Usirlah mereka. Jika mereka berkeras kepala, bunuh sajalah sama sekali.”

“Aku sudah bersiap.“ sahut orang berilmu hitam itu, “Tetapi jangan menyesal jika kau bertempur seorang diri dan mayatmu yang arang kranjang akan tergolek di halaman ini.”

Kedua orang itu pun tiba-tiba saja telah bersiap untuk bertempur, sedang kawan Linggadadi itu pun melangkah mendekati Witantra dan Mahisa Bungalan sambil berkata, “Pergilah, atau aku harus mempergunakan kekerasan?”

Mahisa Bungalan benar-benar tersinggung karenanya. Tetapi ia mencoba untuk bersabar. Namun demikian terdengar suaranya gemetar, “Kau akan ikut menyombongkan dirimu pula? Sudahlah, kenapa kalian tidak mau menurut kata-kata pamanku?”

“Jangan gila. Lebih baik kau pergi daripada kau akan mati di sini.”

Mahisa Bungalan menggeram. Tetapi ia pun kemudian mendekati pamannya sambil bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang yang lain itu paman?”

Witantra memperhatikan keduanya sejenak. Namun agaknya keduanya benar-benar tidak dapat menahan hatinya. Sekejap kemudian merekapun telah bertempur dengan sengitnya.

“Kita harus mencegahnya.“ berkata Witantra, “Ambillah orang berilmu hitam itu. Aku akan melawan Linggadadi.”

“He, jangan mengigau.“ desis kawan Linggadadi itu.

Witantra tidak menghiraukannya. Sekali lagi ia mendesak Mahisa Bungalan, “Cepatlah.”

Mahisa Bungalan pun tidak menghiraukan lagi orang yang berada di hadapannya. Ia bergeser sedikit, kemudian melangkah ke arena.

Kawan Linggadadi itu benar-benar menjadi heran dan termangu-mangu sejenak. Bahkan kemudian anak muda itu seolah sama sekali tidak menghiraukannya lagi.

“He, kau benar-benar sudah gila?“ teriak orang itu.

Namun ketika ia siap menyerang Mahisa Bungalan yang tidak menghiraukannya itu, Witantra meloncat sambil berkata, “Sebaiknya kau menangkap aku saja Ki Sanak.”

Orang itu bergeser setapak. Tetapi niatnya untuk menerkam Mahisa Bungalanpun diurungkannya.

“Kau juga menjadi gila?“ orang itu bertanya.

Witantra tidak menghiraukannya. Bahkan iapun telah menyerang orang itu.

Tetapi serangan Witantra bukanlah serangan yang menentukan. Ia sekedar mengambil perhatian orang itu dari Mahisa Bungalan yang mendekati arena.

Sejenak Witantra telah bertempur melawan kawan Linggadadi itu. Ia berusaha memancingnya mendekati arena perkelahian yang semakin seru itu, sementara Mahisa Bungalan telah berdiri dekat dengan arena perkelahian itu pula.

“Aku akan ikut bertempur.“ berkata Mahisa Bungalan.

“Kau memang gila.“ teriak Linggadadi. Sementara lawannya juga berteriak, “Pergilah sebelum kau mati.”

“Aku tidak akan pergi.”

“Persetan.“ desis Linggadadi. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah kita bunuh saja anak itu. Barulah kita mendapat keleluasaan untuk bertempur.”

“Aku setuju.“ sahut orang yang berilmu hitam itu.

Mahisa Bungalan justru menjadi berdebar-debar. Ternyata diluar dugaan kedua orang itu justru akan berkelahi melawannya.

Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak gentar. Ia benar-benar sudak bersiap menghadapi segala kemungkinan. Juga melawan kedua orang itu, karena Mahisa Bungalan pun yakin, bahwa keduanya tidak akan dapat bekerja sama dengan serasi.

Tetapi ternyata bahwa Witantra tidak tinggal diam. Pada perkelahian antara Linggadadi dan orang berilmu hitam itu terhenti, iapun dengan tiba-tiba telah menekan lawannya sehingga mengalami kesulitan.

Linggadadi sempat melihat keadaan kawanya. Karena itu hampir di luar sadarnya iapun melompat menolongnya. Langsung ia menyerang Witantra yang hampir saja mencekik lawannya yang terdesak.

Serangan Linggadadi itulah yang memang diharapkan oleh Witantra. Karena itulah maka ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi dua orang lawan sekaligus. Dengan demikian maka Mahisa Bungalan akan dapat memusatkan perhatiannya kepada orang yang berilmu hitam itu.

“Nah.“ berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Ternyata bahwa kau telah kehilangan lawan dan sekaligus kawan. Kita masing-masing kini bebas untuk menentukan akhir dari persoalan kita tanpa orang lain.”

“Anak muda.“ berkata orang berilmu hitam itu, “Aku tidak menyangka bahwa kau berani turun ke gelanggang. Ketika aku melihat kalian di rumah saudagar itu, aku benar-benar menganggap kalian sebagai tamu yang ketakutan. Tetapi ternyata bahwa kau adalah anak yang bengal.”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mencampuri persoalanmu dengan siapapun. Tetapi karena agaknya kalian akan dapat mengganggu ketenangan Kota Raja, maka terpaksa aku menawarkan penyelesaian yang barangkali dapat kita tempuh bersama.”

“Itu artinya adalah, bahwa kau akan menangkap aku.”

“Tidak. Jika prajurit-prajurit Singasari kemudian menangkapmu itu adalah persoalan lain.”

“Persetan.“ geram orang itu, “Kita memang akan bertempur. Setelah kau dan orang yang kau katakan ayahmu itu mati, aku dapat menyelesaikan persoalanku dengan Linggadadi yang sombong itu.”

“Tidak ada gunanya.”

“Pergilah, atau kau yang akan mati lebih dahulu?”

“Tidak.”

Orang itu tertawa, katanya, “Kali ini aku bersikap sangat baik. Biasanya aku senang sekali menghadapi anak-anak muda yang sombong seperti kau, karena darahmu merupakan pupuk yang segar bagi ilmuku.”

“Aku memang pernah mendengar bahwa ilmumu memerlukan tetesan darah.”

“Dan kau sudah menyediakannya.”

“Tidak Ki Sanak.“ Mahisa Bungalan menggeleng, “Aku tidak akan menyerahkan darahku. Tetapi aku akan menghentikan kegiatan ilmu hitam semacam ilmumu itu.”

Orang berilmu hitam itu sudah kehilangan kesabaran, karena pada dasarnya ia memang bukan orang yang dapat bersabar.

Karena itulah maka ia pun menggeram sambil berkata, “Bagus anak muda. Jika kau memang berkeras kepala, aku akan berterima kasih kepadamu, bahwa kau sudah memberikan darahmu.”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Dan dugaannya pun ternyata segera terjadi. Orang berilmu hitam itupun segera meloncat menyerangnya.

Mahisa Bungalan segera mengelak. Ia bergeser sambil berputar setengah lingkaran. Kemudian ia pun telah mencoba menyerang pula dengan ayunan kakinya yang melingkar.

Tetapi Mahisa Bungalan mengurungkan serangannya ketika lawannya dengan tangkasnya meloncat menghindarkan diri. Bahkan, tiba-tiba saja lawannya telah membuat suatu gerakan yang mewarnai ciri tata perkelahian dari mereka yang berilmu hitam. Berlari-lari melingkari lawannya.

Mahisa Bungalan sudah pernah mengalami serangan yang demikian. Bahkan tidak hanya seorang. Tetapi rasa-rasanya kali ini ia menghadapi lawan yang lebih berat dari ketiga orang yang pernah dilawannya.

Meskipun hanya seorang, namun putaran orang berilmu hitam itu rasa-rasanya jauh lebih cepat dari tiga orang yang pernah dikenalnya.

Tetapi dalam waktu yang singkat Mahisa Bungalan pun telah menyempurnakan ilmunya dibawah bimbingan ayahnya, Witantra dan Mahisa Agni. Karena itu, maka ia pun segera dapat menyesuaikan dirinya dengan tata gerak lawannya.

Sejenak ia ingat pesan Witantra. Dengan cara yang ditempuh oleh Linggadadi. ia akan dapat membingungkan lawannya. Dengan loncatan-loncatan panjang memutuskan gerak putarannya.

Tetapi tiba-tiba saja terbersit suatu keinginan yang lain. Keinginan seorang anak muda yang masih lebih senang menjajagi sesuatu yang kurang dikenalnya.

Karena itulah maka Mahisa Bungalan tidak segera mempergunakan cara yang dilakukan oleh Linggadadi. Ia memilih cara tersendiri untuk menghadapi lawannya.

“Aku ingin tahu, sampai berapa lamanya ia dapat bertahan dengan cara yang sangat melelahkan itu. Betapa kuat daya tahan dan kemampuannya mengatur pernafasan, namun pada saat tertentu ia akan kehabisan tenaga.“ berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan tidak segera melakukan perlawanan dengan loncatan-loncatan panjang. Tetapi ia mengikuti saja gerak berputar lawannya. Dengan tajamnya ia tidak melepaskan senjata lawannya dari tatapan matanya, karena setiap saat senjata lawannya itu akan dapat mematuknya dan menyobek kulitnya. Dalam sekejap, kulitnya akan penuh dengan luka-luka yang silang menyilang.

Sementara itu, Witantra telah bertempur melawan dua orang lawan. Yang seorang adalah Linggadadi. Seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia adalah adik kandung Linggapati yang telah mempersiapkan dirinya untuk mengimbangi kekuatan Singasari.

Karena itulah maka Witantra pun tidak menjadi lengah. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang pilih tanding.

Tetapi, sementara itu Linggadadi pun menjadi heran. Ia sengaja berusaha melumpuhkan lawannya dengan segera, karena dendamnya kepada orang berilmu hitam itu telah benar-benar mencengkam jantung. Seorang kawannya telah terbunuh. Karena itu ia harus menuntut balas, meskipun kematian kawannya itu telah membawa korban pula pada pihak lawannya.

Ternyata, bahwa orang yang mengaku tamu dari pemilik rumah itu dapat menghindari serangan-serangannya. Bahkan berdua dengan kawannya.

Karena itulah maka timbullah pertanyaan dihati Linggadadi tentang lawannya itu. Ia tidak percaya bahwa lawannya itu adalah orang kebanyakan yang kebetulan saja berani bertempur melawan dirinya karena ia tidak mengenalnya dengan baik.

“Sikap dan perlawanannya sangat meyakinkan.“ berkata Linggadadi di dalam hatinya.

Namun demikian Linggadadi tidak segera menjadi bingung. Ia masih menganggap bahwa ketergesa-gesaannya yang membuat geraknya menjadi agak kurang mapan.

Namun setelah bertempur beberapa lama, justru Linggadadi menjadi semakin yakin, bahwa lawannya adalah seorang prajurit atau seorang pengawal yang memiliki kelebihan. Karena bukan dirinya dan kawannyalah yang berhasil mendesaknya. Tetapi justru sebaliknya. Orang itu mampu melawan dua orang sekaligus dengan baik. Bahkan seolah-olah sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun juga.

“Apakah aku sudah terjebak.“ desis Linggadadi di dalam hatinya.

Sekilas ia berusaha menilai arena perkelahian yang lain. Ia melihat orang berilmu hitam itu masih berusaha melingkari lawannya dengan senjata teracu-acu.

“Ia akan terbunuh dalam lingkaran maut itu.“ katanya di dalam hati.

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Bungalan tidak segera terbunuh. Dengan tangkasnya ia selalu berhasil menangkis setiap patukan senjata betapapun membingungkan. Mahisa Bungalan yang sudah berlatih menghadapi medan yang betapapun beratnya, dan ilmu yang betapapun peliknya, mampu melihat permainan senjata orang yang berlari-lari melingkarinya itu.

Tetapi Witantra lah yang mencemaskannya. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Mahisa Bungalan memang nakal. Sesuai dengan masa perkembangan ilmunya, ia masih ingin mencoba menghadapi lawan dengan caranya. Tetapi lawan yang satu itu benar-benar berbahaya baginya.”

Namun demikian Witantra tidak dapat memberi peringatan kepada anak muda itu. Jika ia masih memberikan tuntunan justru sudah di medan, maka lawannya akan mempunyai penilaian lain terhadap Mahisa Bungalan, yang tentu masih dianggap terlampau hijau menghadapi arena.

“Anak itu sudah mempunyai bekal yang cukup.“ berkata Witantra kepada diri sendiri, “Tetapi keinginannya mencoba justru selagi ia menghadapi lawan yang aneh itulah yang berbahaya baginya.”

Tetapi untuk sementara Witantra belum melihat bahaya yang mengancam Mahisa Bungalan. Anak muda itu masih selalu berhasil menyesuaikan dirinya, meskipun dengan demikian ia tidak segera dapat merintis jalan kemenangan. Dalam keadaannya Mahisa Bungalan hanya dapat mempertahankan dirinya, dan sekali-sekali mencoba untuk menyerang garis putaran lawannya. Tetapi serangannya sama sekali tidak membahayakan lawannya yang berputaran itu.

“Mahisa Bungalan tentu ingin tahu, berapa lama orang berilmu hitam itu dapat bertahan dengan gerak putarnya.“ berkata Witantra di dalam hatinya pula. Seolah-olah ia dapat membaca apa yang tersirat di hati anak muda itu.

Ternyata bukan hanya Witantra sajalah yang dapat menebak maksud Mahisa Bungalan. Ternyata Linggadadi pun nampaknya dapat menduga, bahwa sebenarnya Mahisa Bungalan tidak sedang dalam kebingungan berada di dalam putaran itu. Justru karena Linggadadi dan Witantra tidak terlibat dalam perkelahian melawan Mahisa Bungalan, maka mereka dapat menilai perlawanannya lebih baik dari orang berilmu hitam itu sendiri.

Untuk beberapa saat orang berilmu hitam itu salah menilai anak muda itu. Ia menganggap bahwa Mahisa Bungalan tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi tata geraknya. Namun beberapa saat kemudian ia mulai menyadari bahwa yang berada di dalam putaran itu bukanlah orang kebanyakan, yang dengan mudah dapat digores dengan senjatanya di seluruh bagian tubuhnya, sehingga seolah-olah kulitnya menjadi terkelupas. Beberapa kali ternyata serangannya membentur senjata Mahisa Bungalan yang dapat menangkisnya. Bahkan seujung rambut pun, orang berilmu hitam itu masih belum berhasil melukai Mahisa Bungalan.

Namun dengan demikian orang berilmu hitam itu menjadi semakin cepat berputar. Senjatanya semakin cepat pula bergerak. Dan semakin lama memang semakin membingungkan bagi Mahisa Bungalan, sehingga pada suatu saat, Witantra yang masih saja bertempur melawan Linggadadi dan kawannya, melihat, bahwa Mahisa Bungalan yang masih selalu ingin mengerti apa yang dilihatnya itu benar-benar menjadi pening.

Dengan demikian maka kecepatannya bergerak pun menjadi susut. Lawannya yang menjadi berhati-hati sekali menghadapinyapun dapat merasakan, ada perubahan pada anak muda itu.

Karena itulah, maka orang berilmu hitam itu justru berusaha untuk mempercepat gerak lingkarnya, agar Mahisa Bungalan menjadi semakin pening dan kehilangan ketepatan perhitungan.

Orang yang melingkar-lingkar itu bagi Mahisa Bungalan rasa-rasanya menjadi semakin kabur. Namun ia masih tetap dapat menguasai dirinya dan memperhitungkan setiap serangan lawannya di dalam gerak putarnya.

Tetapi seperti yang ingin diketahui oleh Mahisa Bungalan, sebenarnyalah bahwa kemampuan seseorang memang terbatas. Demikian juga mereka yang berada di dalam arena perkelahian itu. Termasuk Mahisa Bungalan sendiri dan orang berilmu hitam itu. Betapapun berat latihan yang pernah dilakukan, tetapi putaran yang dilakukan di tempat yang tetap itu pun tidak saja berpengaruh atas orang yang dilingkarinya, tetapi juga pada dirinya sendiri.

Meskipun demikian, orang berilmu hitam itu masih mencoba bertahan. Ketika ia mengetahui bahwa anak muda yang ada di dalam putaran itu mulai menjadi pening, maka ia justru me¬ngerahkan sisa tenaganya. Ia berharap bahwa pada kesempatan terakhir ia masih mampu melakukan sesuatu atas lawannya.

Itulah sebabnya, justru pada saat tenaganya mulai susut, orang berilmu hitam itu meloncat dengan kecepatan yang lebih tinggi. Senjata terayun lebih dahsyat pula dengan kejutan-kejutan yang kadang-kadang kurang dimengerti.

Mahisa Bungalan yang rasa-rasanya ikut dalam putaran itu terkejut. Apalagi ketika terasa olehnya, ujung senjata lawannya berhasil menyusup di antara kerapatan pertahanannya, menyentuh kulitnya.

Lengan Mahisa Bungalan telah disengat oleh perasaan pedih. Ternyata bahwa lawannya berhasil membuatnya bingung dan melukainya meskipun tidak begitu dalam. Namun luka yang segores itu membuat anak muda itu terbakar oleh kemarahan yang meluap-meluap.

Sejenak ia berdiri menggeram. Putaran di sekitarnya masih tetap membuatnya semakin pening. Namun kini ia teringat kepada pesan pamannya. Sebaiknya ia mempergunakan cara lain untuk melawan orang berilmu hitam itu, seperti yang telah dilakukan oleh Linggadadi.

“Aku ingin mengetahui sampai dimana daya tahannya.“ berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Tetapi ternyata bahwa ialah yang telah disentuh oleh senjata lawan.

Dengan kemarahan yang meluap di dadanya, Mahisa Bungalan pun kemudian berketetapan hati untuk tidak membiarkan dirinya diputar oleh perasaan pening, sehingga perlawanannya menjadi kabur. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk merubah perlawanannya. Ia sudah siap untuk meloncat dalam perhitungan yang tepat, memotong gerak melingkar orang berilmu hitam itu.

Mahisa Bungalan pun kemudian memusatkan segenap kekuatannya untuk melawan perasaan peningnya dan untuk menghadapi kemungkinan pada saat ia memotong gerak lingkar lawannya. Jika ia salah hitung, maka akibatnya akan tidak menyenangkan sekali baginya. Mungkin goresan lukanya akan bertambah atau justru luka silang menyilang akan menyobek kulit dagingnya.

Sementara itu, orang yang berilmu hitam itupun mencoba pula mempergunakan sisa tenaganya. Senjatanya telah melukai lawannya, tetapi itu belum berarti bahwa ia sudah menang. Ia harus berhasil menggoreskan senjatanya di segenap permukaan kulit lawannya, sehingga tubuh itu akan menjadi merah oleh darah.

Tetapi orang berilmu hitam itu agaknya tidak mempertimbangkan bahwa Mahisa Bungalan telah menyadari keadaannya, dan berusaha mempergunakan cara yang lain untuk melawannya. Apalagi iapun tidak mau melihat dan mengakui kenyataan, bahwa tenaganya memang terbatas.

Itulah sebabnya, maka ia tidak melihat, betapa Mahisa Bungalan mempersiapkan dirinya dengan cara yang baru. Sebelum ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk mengatasi perasaan pe¬ning yang seolah-olah telah menyeretnya dalam putaran yang semakin lama semakin cepat dan membingungkan.

Demikianlah, maka ketika Mahisa Bungalan menganggap waktunya sudah tepat, tiba-tiba saja ia menggeram sambil melompat memotong gerak melingkar lawannya yang masih juga berusaha untuk mempertahankan tata geraknya. Demikian cepatnya ia bergerak, sehingga lawannya hampir tidak melihatnya bahwa tiba-tiba saja anak muda itu telah berada di garis putarnya.

Orang berilmu hitam itu terkejut. Dengan serta merta ia meloncat ke samping untuk menyalurkan sisa daya dorongnya. Namun pada saat yang demikian itulah, terasa bahwa sebenarnya kekuatannya telah hampir punah. Nafasnya terasa telah menyesak di dadanya. Selama ia berlari-larian melingkari lawannya dengan gerak yang cepat dan keras, ia telah mengerahkan segenap tenaga yang ada padanya.

Tetapi Mahisa Bungalan pun tidak segera berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh putaran yang memeningkannya. Ia memang berhasil dengan tepat meloncat ke garis edar putaran lawannya dan menghentikan dengan serta merta gerakan berputar itu, sehingga lawannya justru harus melompat ke samping. Tetapi setelah itu, Mahisa Bungalan masih terhuyung-huyung sejenak karena perasaan pening yang telah mencengkamnya.

Meskipun demikian Mahisa Bungalan tetap sadar. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat lawannya yang meloncat ke samping itu telah berdiri tegak memandanginya, selagi ia masih seakan-akan berdiri di atas bumi yang berguncang.

Tetapi Mahisa Bungalan masih dapat melihat lawannya dengan kesadaran bahwa sebenarnya lawannya itu sudah tidak berputar-putar lagi mengelilinginya.

Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Ternyata lawannya tidak segera menyerangnya. Bahkan kemudian nampak lawannya itu surut selangkah.

Perlahan-lahan Mahisa Bungalan dapat menguasai dirinya. Meskipun kepalanya masih terasa pening, dan benda-benda di sekitarnya bagaikan bergoyang-goyang, namun ia sudah menjadi semakin mapan.

Dalam keadaan yang demikian itulah ia mulai dapat menilai keadaan lawannya.

Sementara itu Witantra pun menarik nafas pula dalam-dalam meskipun ia masih harus bertempur melawan dua orang lawan. Semula ia benar-benar menjadi cemas dan bahkan hampir saja ia ber¬teriak memperingatkan Mahisa Bungalan yang kurang berhati-hati didorong oleh perasaan ingin tahunya. Namun kemudian ternyata bahwa tepat pada waktunya Mahisa Bungalan telah memperbaiki perlawanannya.

Witantra mendapat kesempatan untuk memperhatikan Mahisa Bungalan justru karena Linggadadi pun agak terpengaruh pula oleh cara yang ditempuh oleh Mahisa Bungalan. Iapun sudah menebak bahwa Mahisa Bungalan tidak akan berhasil. Tetapi pada saat terakhir Linggadadi itu mengumpat, “Anak gila itu berhasil melepaskan diri dari putaran iblis berilmu hitam itu.”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Bungalan benar-benar telah dapat membebaskan diri. Lawannya sama sekali tidak berhasil mengelupas kulitnya. Dan kini mereka telah berdiri berhadapan, tidak di dalam putaran.

Sejenak Mahisa Bungalan menunggu. Namun lawannya tidak segera menyerangnya. Dengan demikian Mahisa Bungalan justru menjadi curiga.

“Apakah ia mempunyai cara yang lebih gila dari cara yang sudah dilakukannya?“ pertanyaan itu melonjak di hati Mahisa Bungalan.

Namun akhirnya Mahisa Bungalan yang hatinya sedang membara oleh luka di tubuhnya ia menangkap desah nafas lawannya. Rasa-rasanya suara nafas itu berkejaran di lubang hidungnya. Karena itulah maka Mahisa Bungalan mempunyai pertimbangan lain. Seperti yang diharapkan, maka akhirnya ia pun berhasiI mengetahui sampai dimana daya tahan jasmaniah lawannya yang berilmu hitam itu.

“Ia sudah kelelahan setelah berlari-larian tidak henti-hentinya. Dan saat inilah yang aku tunggu.”

Meskipun demikian Mahisa Bungalan tidak mau lengah. Karena itulah maka ia pun kemudian mencoba menjajagi keadaan lawannya. Dengan hati-hati ia menjulurkan senjatanya, menyerang dengan loncatan pendek. Namun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Juga jika lawannya melakukan gerakan-gerakan lain yang belum dikenalnya.

“Agaknya ia telah mengerahkan segenap kemampuannya.“ berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Karena itulah maka ia merasa, bahwa saatnya telah tiba bahwa ialah yang harus mengambil sikap kemudian untuk menentukan akhir dari pertempuran itu.

Mahisa Bungalan yang dengan perlahan-lahan telah berhasil menyingkirkan perasaan pening itu justru telah ditumbuhi oleh keinginan yang aneh pula. Karena menurut perhitungannya lawannya telah tidak banyak mempunyai sisa tenaga, maka mulailah ia dengan permainannya yang dikendalikan oleh kemauannya.

Tiba-tiba saja Mahisa Bungalan itu pun meloncat berlari-lari, justru ialah yang berputaran mengelilingi lawannya. Sambil menyerang dari arah yang berubah menurut arah larinya, ia berusaha membuat lawannya menjadi bingung.

Ternyata bahwa lawannya benar-benar kehilangan kemampuannya untuk bertahan. Selain tenaganya benar-benar telah diperas habis, juga, karena ia benar-benar menjadi bingung dengan tata gerak Mahisa Bungalan. Apalagi arah lari Mahisa Bungalan yang tidak mempelajari ilmu hitam itu, berlawanan dengan arah yang telah ditempuh oleh lawannya. Bahkan kadang-kadang geraknya itu sama sekali tidak menunjukkan pola ilmu tertentu, dengan loncatan-loncatan yang aneh dan benar-benar membingungkan.

Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti, Mahisa Bungalan benar-benar telah dikuasai oleh sifat ingin tahu.

Orang berilmu hitam yang hampir kehabisan tenaga itu mengeluh pendek. Ternyata ia berhadapan dengan anak muda yang memiliki kemampuan jauh di atas perhitungannya.

Tetapi ia bukan seorang yang dungu. Ia sadar, bahwa lawannya benar-benar sedang mencoba mempermainkannya. Itulah sebabnya ia bertahan pada keadaannya. Ia berdiri saja mematung dan sekali-sekali menangkis serangan Mahisa Bungalan. Dengan cerdik ia menunggu, pada saatnya Mahisa Bungalan akan menjadi lengah. Justru karena ia masih terlampau muda.

Kesempatan itu dipergunakan oleh orang berilmu hitam itu sebaik-baiknya untuk beristirahat. Meskipun ia masih tetap berpura-pura kehabisan tenaga. Bahkan sekali ia membiarkan ujung senjata Mahisa Bungalan menyentuh tubuhnya dan menitikkan darahnya.

“Ia akan kehilangan kewaspadaan.“ berkata orang itu di dalam hatinya.

Mahisa Bungalan yang berlari-lari mengelilingi lawannya, memang menganggap bahwa lawannya telah menjadi semakin lemah, sehingga perlawanannya pun menjadi tidak berarti lagi. Karena itu, seperti yang diduga oleh lawannya, ia pun menjadi lengah karenanya.

Dalam pada itu Linggadadi yang melihat tingkah laku anak muda itupun menggeram sambil bergumam, “Anak gila. Jika lehernya terjerat oleh ketamakan dan kesombongannya barulah ia mengerti.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Linggadadi pun dapat melihat kelemahan Mahisa Bungalan justru pada usianya yang masih muda, usia yang banyak ingin mengetahui dan mencoba. Dan sebenarnyalah Witantra benar-benar telah mencemaskan keadaan Mahisa Bungalan.

Namun Witantra tidak dapat berbuat banyak. Ia harus bertempur melawan Linggadadi dan seorang kawannya yang memiliki ilmu yang cukup kuat. Dan Witantra pun masih belum berniat untuk berteriak memperingatkan anak muda itu, karena dengan demikian justru akan menunjukkan kelemahan itu, maka peringatan yang demikian akan merupakan pemberitahuan baginya bahwa saat untuk menguasai anak muda itu sudah terbuka.

Sejenak kemudian, orang berilmu hitam itu merasa bahwa badannya menjadi semakin baik. Ia mendapat kesempatan untuk mengatur pernafasannya meskipun ia harus melawan serangan-serangan Mahisa Bungalan, karena serangan Mahisa Bungalan dalam sikap yang aneh itu sama sekali tidak berbahaya. Dihadapan orang berilmu hitam itu, cara-cara yang ditempuh oleh Mahisa Bungalan tidak banyak memberikan tekanan. Meskipun semula ia menjadi bingung, namun lambat laun ia berhasil menyesuaikan diri dengan perbuatan anak muda yang didorong oleh sifat ingin tahunya.

Karena itulah, maka pada saat yang telah dipersiapkan, setelah ia mengorbankan dirinya digores oleh senjata Mahisa Bungalan, orang berilmu hitam itupun berteriak nyaring. Sebuah loncatan yang diluar dugaan, telah menyilang gerak Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan benar-benar telah dikejutkan oleh gerakan yang tiba-tiba itu. Dengan serta merta ia menghentikan gerak putarnya dan bersiap menghadapi serangan lawannya.

Tetapi ia agak terlambat. Kelengahannya lah yang telah menyeretnya kedalam kesulitan. Ia sadar ketika terasa sekali lagi sebuah goresan di pundaknya. Goresan yang telah menyobek kulitnya.

Sekejap Mahisa Bungalan menjadi bingung, la melihat lawannya telah memasuki gerak edarnya. Ia agaknya ingin mengulangi cara yang pernah dilakukannya dan membuat Mahisa Bungalan menjadi pening.

Karena itulah maka pada saat yang telah dipersiapkan, setelah ia mengorbankan dirinya digores oleh senjata Mahisa Bungalan, orang berilmu hitam itu pun berteriak nyaring. Sebuah loncatan yang diluar dugaan, telah menyilang gerak Mahisa Bungalan.

Tetapi kali ini Mahisa Bungalan agak telah terbangun. Ia sadar, bahwa menghadapi orang berilmu hitam ini, ia tidak dapat sekedar mencari pengalaman. Ia harus benar-benar bertempur dan bertaruh nyawa. Ternyata ia telah tergores senjata lawannya untuk kedua kalinya.

Sementara itu, orang berilmu hitam itupun nampaknya menjadi semakin bernafsu. Bau darah rasa-rasanya membuatnya menjadi semakin segar. Luka di pundak Mahisa Bungalan nampaknya lebih dalam dari lukanya yang terdahulu.

“Darahmu sudah membasahi senjataku.“ geram orang berilmu hitam itu. “Sebentar lagi kulitmu akan terkelupas sampai ke ujung ubun-ubun. Dan aku akan berkesempatan untuk membunuh orang yang bernama Linggadadi itu setelah ia membunuh lawannya pula.”

Mahisa Bungalan yang muda itu benar-benar terbakar hatinya. Ia tidak mau tenggelam di dalam pusaran ilmu lawannya. Ia sudah merasa betapa pening kepalanya hampir saja mengaburkan kesadarannya.

Karena itu, ia tidak mau mencoba-coba lagi. Ia tidak mau bermain-main dengan nyawanya.

Itulah sebabnya, maka ia pun segera mempergunakan cara yang dinasehatkan oleh Witantra. Ia tidak lagi mambiarkan lawannya berputaran di sekitarnya sambil menggoreskan ujung senjata dikulitnya.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun segera mengambil sikap. Dengan perhitungan yang tepat, maka ia pun segera berloncatan memotong arah putaran lawannya, sekaligus dengan sebuah serangan yang langsung mematuk jantung.

Tetapi lawannya mampu pula bergerak cepat. Sekali ia meloncat ke samping. Namun kemudian iapun telah siap untuk berlari berputaran lagi.

Namun kemudian ia tidak berkesempatan lagi melakukannya. Mahisa Bungalan yang marah kemudian justru menyerangnya seperti angin prahara. Setiap usaha untuk melingkarinya.

Sekali-sekali dipotongnya dengan gerakan yang cepat dan berbahaya, dilandasi oleh kemarahan yang menghentak-hentak jantung. Semakin pedih luka-lukanya, maka dadanya serasa menjadi semakin panas.

Dengan demikian maka lawannya pun segera menghadapi kekuatan yang sebenarnya dari Mahisa Bungalan. Kini ia semakin sadar, bahwa ilmu lawannya benar-benar ilmu yang sulit untuk diatasinya.

Karena itulah maka orang berilmu hitam itupun kemudian terdesak terus. Bagaimanapun ia berusaha, namun sama sekali tidak berarti lagi. Apalagi kemampuan tubuhnya yang terbatas itupun mulai lagi mempengaruhi perlawanannya. Kemampuannya untuk menghimpun kembali tenaganya, ternyata sama sekali tidak dapat mengimbangi ketahanan tubuh anak muda yang bernama Mahisa Bungalan yang kemudian bertempur dengan dahsyatnya seperti seekor banteng yang terluka.

Orang berilmu hitam itupun terdesak terus betapapun ia berusaha dengan segala macam cara. Ia tidak mampu lagi berlari-larian mengitari Mahisa Bungalan. Bukan saja karena Mahisa Bungalan dengan tepat selalu berhasil memotong garis putarnya, tetapi juga karena kekuatan tenaganya menjadi semakin lemah pula.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak perlu mencemaskan lagi nasib Mahisa Bungalan yang sudah terbangun itu. Meskipun anak muda itu sudah terluka, tetapi nampaknya ia akan dapat mengalahkan lawannya.

Sambil bertempur Witantra sempat melihat Mahisa Bungalan mendesak lawannya terus menerus, sehingga pada suatu saat kemarahan Mahisa Bungalam karena luka-lukanya tidak dapat terbendung lagi.

Linggadadi lah yang kemudian menjadi cemas. Di hati kecilnya ia mengharap orang berilmu hitam itulah yang menang, karena dengan demkian, ia hanya akan berhadapan dengan seorang saja. Meskipun seandainya ia belum berhasil mengalahkan lawannya, maka orang berilmu hitam itu tidak akan mencampuri pertempurannya. Tetapi jika anak muda itu menang, maka ia tentu akan mengambil alih salah seorang lawan dari orang tua itu. Dirinya atau kawannya. Atau bahkan ia pun akan berkelahi perpasangan pula.

Namun tidak seorang pun dapat mencegah Mahisa Bungalan, lagi. Titik darah dari lukanya membuatnya kehilangan kesabaran dengan pengekangan diri sama sekali. Karena itulah maka ketika orang berilmu hitam itu tidak dapat melangkah surut lagi karena dinding halaman, ia mempergunakan saat itu sebaik-baiknya untuk mengalahkan lawannya.

Tetapi orang berilmu hitam itu tidak menyerah kepada kekalahannya. Demikian serangan Mahisa Bungalan tidak terelakkan lagi, maka iapun segera mengerahkan sisa tenaganya untuk meloncat ke atas dinding.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...