Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 28-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 28-02*

Karya. : SH Mintardja

Dalam pada itu Empu Sanggadaru sama sekali tidak menyangka bahwa adiknya sudah menyiapkan sebuah serangan besar-besaran atas padepokannya. Biarpun kemungkinan itu pernah diperhitungkan oleh para prajurit Singasari, dan bahkan ada sepasukan kecil prajurit yang berada di padepokan itu, namun ia sendiri nampaknya kurang menganggap hal itu bersungguh-sungguh.

Namun demikian Empu Sanggadaru tidak bisa melupakan dendam orang-orang Serigala Putih. Apa bila terjadi sesuatu atas padepokannya, tentu karena dorongan dendam orang-orang Serigala Putih itu.

“Aku tidak pernah menyakiti hati adikku. Betapapun hitam hatinya, seperti hitamnya ilmu yang dianutnya, tetapi ia tidak akan melakukannya, kecuali jika orang-orang Serigala Putih itu berada di luar pengamatannya-

Namun demikian, Empu Sanggadaru tidak kehilangan seluruh kewaspadaannya. Kehadiran para prajurit Singasari dalam perhitungannya tersendiri, telah mendorongnya untuk meningkatkan ilmu para cantriknya.

Apalagi setelah Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berada di padepokan itu pula.

Dalam pada itu, percampuran beberapa unsur ilmu yang berbeda antara perguruan Empu Sanggadaru sendiri, para prajurit Singasari dengan jalur ilmu Mahendra yang ada pada anak-anaknya, dalam hubungan yang dengan sengaja dicari perpaduannya, telah menumbuhkan gairah latihan yang tinggi. Para prajurit Singasari merasa menemukan pengalaman baru dalam pergaulannya dengan kedua anak-anak muda itu dan para murid di perguruan Empu Sanggadaru.

Selain latihan-latihan ketrampilan bermain senjata, Empu Sanggadaru memang sering membawa beberapa orang cantriknya melatih ketahanan tubuh dan ketahanan kekuatan. Mereka berjalan sehari penuh tanpa berhenti. Bahkan kadang-kadang mereka berlatih di tempat dengan gerakan-gerakan yang dilakukan untuk waktu yang sangat lama.

Namun selagi orang-orang yang berada di padepokan Empu Sanggadaru sedang dengan tekunnya memperdalam ilmu dengan caranya, tiba-tiba saja seorang prajurit sandi telah datang langsung menghadap Empu Sanggadaru dan perwira prajurit Singasari yang bertugas di padepokan itu.

“Kita harus berhati-hati” berkata prajurit sandi itu.

“Kenapa, dan apakah yang kau ketahui?”

“Kami melihat persiapan yang melampaui kesiagaan sewajarnya di padepokan Serigala Putih.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk.

“Apakah Baladatu ada di padepokan itu?” Petugas sandi itu menggeleng, “Kami tidak mengetahuinya. Tetapi mungkin Empu Baladatu tidak ada di padepokan itu.”

Empu Sanggadaru merenung sejenak, lalu, “Ah, tentu sekadar latihan-latihan berat setelah padepokan itu berada di bawah pengaruh Baladatu. Aku tidak pernah menyetujui caranya dan usahanya memperluas pengaruh parguruannya. Tetapi aku tidak pernah memusuhinya.”

“Tetapi tidak mustahil bahwa ada sesuatu yang harus kita perhatikan dengan saksama. Seorang kawanku telah melaporkan kegiatan ini kepada Senapati Lambu Ampal. Mungkin akan ada penyelidikan yang lebih saksama di padepokan itu menjelang purnama naik. Menurut keterangan terakhir, di padepokan itu telah berlangsung upacara yang mengerikan di setiap purnama.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Disaat terakhir ia memang mendengar berita tentang upacara-upacara aneh yang telah diselenggarakan di padepokan Serigala Putih itu. Tetapi keterangan yang pasti masih belum diperolehnya.

“Siapa tahu, pengaruh ilmu yang kurang sewajarnya, telah membuat Empu Baladatu kehilangan kesadaran atas ikatan persaudaraan.”

Empu Sanggadaru menggeleng sambil tersenyum, “Tentu tidak. Ia adalah anak yang baik menurut pendapatku.”

Petugas sandi itu termangu-mangu sejenak. Ia dapat mengerti bahwa Empu Sanggadaru tidak menaruh banyak perhatian tentang keadaan adiknya. Namun demikian, petugas itu masih ingin meyakinkan bahwa Empu Sanggadaru harus berhati-hati.

“Hanya berhati-hati” berkata petugas itu, “apakah salahnya. Jika sekiranya tidak ada apa-apa dengan Empu Baladatu, maka sikap hati-hati itu akan tetap menguntungkan “

Empu Sanggadaru tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Aku akan berhati-hati.”

Empu Sanggadaru tidak banyak menanggapi keterangan petugas sandi itu. Bahkan iapun kemudian minta diri untuk pergi ke Sanggarnya.

Tetapi, tidak demikianlah sebenarnya yang ada di dalam pertimbangan nalar Empu Sanggadaru. Betapapun juga ia mencoba mempercayai adiknya dengan perasaan seorang kakak, tetapi pertimbangan nalarnya membenarkan pesan petugas sandi itu meskipun tidak dikatakannya-

Dengan ragu-ragu ia memanggil beberapa orang kepercayaannya di dalam sanggar tertutupnya.

“Katakan. Katakan kepadaku, apakah mungkin tejadi bahwa adikku itu berbuat jahat kepadaku?” bertanya Empu Sanggadaru kepada pembantu-pembantunya terdekat.

“Bagaimanakah pendapat para prajurit yang berada di padepokan ini?” bertanya seorang pambantunya.

Empu Sanggadaru menarik nafas. Katanya, “Sejak semula, sebelum ada apa-apa, prajurit-prajurit itu sudah curiga. Itulah sebabnya ia berada di sini “

“Dan Empu sendiri?”

“Kalian, kalianlah yang harus mengatakannya kepadaku apakah adikku itu akan mengkhianatiku?”

“Empu” desis seorang pembantunya, “menurut pendengaran kami tentang padepokan-padepokan yang kemudian berada di bawah pengaruh Empu Baladatu, memang mempunyai kebiasaan baru yang aneh. Mereka adalah orang-orang yang disebut berilmu hitam. Namun di bawah bimbingan Empu Baladatu, ilmu yang disebut hitam itu menjadi semakin jelas. Bukan saja ilmu yang dipergunakan untuk kepentingan kejahatan, tetapi sumber dan cara penyadapannyapun menunjukkan bahwa ilmu itu memang ilmu hitam.”

“Dan karena itu maka adikku itu sampai hati berbuat jahat kepadaku?”

“Menilik sikap dan keragu-raguan Empu Sanggadaru agaknya Empu memang sudah mempunyai pertimbangan yang demikian. Tetapi perasaan Empu sebagai saudara tua tidak mau melihat pertimbangan nalar itu “

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia memang mencurigai sikap adiknya. Di saat-saat menjelang purnama naik, ia selalu digelisahkan oleh berita tentang upacara yang gila itu. Kini, mendekati purnama naik, ia justru mendengar persiapan yang besar pada padepokan Serigala Putih itu.

“Orang-orang Serigala Putih mempunyai naluri dendam kepada kita” berkata salah seorang pembantunya.

Empu Sanggadaru mengangguk. Katanya, “Aku telah membunuh pemimpinnya di saat terakhir. Aku bukan orang yang baik hati, yang dapat melepaskan perasaan dendam dan marah. Tetapi terhadap adikku sendiri, seharusnya aku tidak mencurigainya.”

“Memang seharusnya. Tetapi bagaimanakah jika ada pertimbangan-pertimbangan lain yang pernah kita lihat?”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Lalu katanya dengan suara yang lantang, “Apaboleh buat. Kita akan mempersiapkan diri. Semua cantrik dan keluarganya yang berada di tanah padepokan harus mendapat peringatan bahwa bahaya sudah siap diambang pintu menjelang purnama naik. Pergilah, siapkan mereka seluruhnya sesuai dengan kemampuan mereka dan di dalam kelompok masing-masing. Biarlah mereka tersebar di padukuhan masing-masing di luar padepokan. Tetapi tentukan isyarat apakah yang akan memanggil mereka jika keadaan memaksa.”

Pembantu-pembantunya mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah tidak sebaiknya mereka dikumpulkan di dalam padepokan Empu. Kita akan bersama-sama menghadapi lawan “

Empu Sanggadaru menggeleng. Katanya, “Mungkin kita terlalu berprasangka buruk terhadap adikku. Tetapi seperti yang kalian sarankan, kita tidak akan meninggalkan kewaspadaan.”

“Jadi, mereka harus bersiap di tempat masing-masing?”

“Ya. Pergilah kepadukuhan-padukuhan di tanah padepokan ini.”

Para pembantunya, para putut dan jejanggan serta beberapa orang cantrik yang ada di padepokan kupan segera menyebar, mengabarkan kesiagaan yang harus mereka lakukan

“Dalam keadaan yang gawat, akan terdengar panah sendaren, atau panah api jika malam hari. Karena itu, bersiaplah. Jangan meninggalkan padukuhan. Jika kalian berada di sawah atau pategalan, bersiaplah dengan senjata, karena mungkin sekali kalian harus segera berlari dan berkumpul dalam kelompok-kelompok masing-masing.”

Para cantrik itupun mengangguk-angguk.

“Siapkan badan dan jiwa kalian menghadapi segala kemungkinan. Kalian telah memiliki ilmu kanuragan meskipun masih-belum cukup baik, namun sudah cukup untuk melindungi diri kalian masing-masing. Siapkan pintu-pintu pada urung-urung di bawah tanah, karena mungkin sekali kalian harus melalui urung-urung itu jika semua pintu telah tertutup. Atau sebaliknya, kita yang di dalam harus keluar lewat urung-urung itu.”

Yang mendengar berita itu menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka memang pernah mempelajari olah kanuragan, tetapi mereka mengharapkan hidup yang tenang dan damai. Mereka tidak mempersiapkan diri mereka untuk berkelahi, kecuali sekelompok cantrik pilihan yang memang ditempa untuk mengamankan padepokan dan tanah-tanah pertanian di sekitarnya, yang berada di bawah pengaruh padepokan itu.

“Tetapi jika hidup kalian terancam, tanah kalian dan harta benda kalian, terlebih-lebih hak dan milik kalian seluruhnya yang kalian siapkan bagi masa depan anak cucu kalian akan dirampas orang, apakah kalian akan dapat diam dan ketenangan dan kedamaian hati?” bertanya para petugas yang menghubungi para petani yang berada di bawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru. Mereka mengangguk-angguk.

“Kalian akan mempertahankan milik kalian. Sebentar lagi purnama akan naik.Menurut perhitungan kami, saat purnama naik adalah saat yang paling gawat menghadapi orang-orang berilmu hitam. Pada saat-saat semacam itu mereka memerlukan korban darah. Pertempuran adalah korban darah yang paling baik bagi mereka, karena mereka dapat mengorbankan jauh lebih banyak dari satu orang saja.”

Terasa bulu-bulu para petani itu meremang. Namun kemudian mereka mulai disentuh oleh rasa tanggung jawab atas hak miliknya, sehingga di samping hak itupun mereka merasa berkewajiban untuk mempertahankannya.

“Baiklah” jawab para petani, bukan saja yang muda, tetapi juga yang sudah separo baya, “kami akan siap dengan senjata kami.”

Tetapi para petugas itupun menyadari, bahwa ilmu yang mereka miliki bukannya ilmu olah kanuragan seperti seorang prajurit. Jika mereka dapat menggerakkan senjata, itu sekedar untuk melindungi diri. Sehingga karena itu, perlu dipertimbangkan oleh Empu Sanggadaru, apakah pada setiap kelompok tidak diletakkan orang-orang yang memang memiliki kemampuan untuk bertempur.

Ternyata bahwa beberapa orang petugas yang menghubungi mereka yang berada di luar padepokan itu sependapat, bahwa mereka memerlukan satu dua orang yang akan memberikan petunjuk dan aba-aba bagi mereka- Tanpa satu dua orang yang dapat memberikan pengarahan dalam kekisruhan perang, maka mereka akan menjadi bingung.

Ketika hal itu disampaikan kepada Empu Sanggadaru, maka Empu Sanggadarupun berkata, “Seolah-olah kalian sudah menjatuhkan hukuman pada adikku, bahwa ia benar-benar akan melakukan kejahatan itu.”

Para putut itupun menundukkan kepalanya. Mereka menyadari, betapa pahitnya perasaan Empu Sanggadaru menanggapi sikap adiknya itu.

Namun kemudian Empu Sanggadarupun bertanya, “Apakah demikian pertimbanganmu?”

Sejenak para putut itu masih ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Mungkin itu hanya sekedar sikap curiga Empu. Tetapi seandainya tidak terjadi sesuatu di saat purnama naik, maka tidak ada salahnya jika kita berhati-hati menghadapi keadaan yang tidak menentu itu “

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Aturlah tenaga yang ada di padepokan ini. Separo dapat kau kirim keluar, dan separo akan tetap berada di dalam. Jangan lupa, bukalah semua pintu pada urung-urung di bawah tanah, yang menghubungkan bagian dalam dan bagian luar padepokan ini. Mungkin kita memerlukannya. Mungkin adikku benar-benar berbuat jahat, tetapi mungkin kitalah yang dibayang-bayangi oleh kejahatan di dalam hati kita sendiri “

Para putut itupun menarik nafas. Tetapi salah seorang dari antara mereka bertanya, “Bagaimana dengan para prajurit Singasari yang ada di padepokan ini Empu?”

“O, mereka sudah banyak berjasa. Mereka sudah menumbuhkan kemampuan yang berlipat ganda bagi kita.”

“Maksudku, menghadapi keadaan yang tidak menentu ini.”

“Mereka sudah mendengar laporan para petugas sandi. Aku kira mereka sudah mempersiapkan diri pula.”

“Tetapi bukankah kita berada dalam lingkungan yang sama sehingga kita harus mengatur diri, agar kita dapat bekerja bersama sebaik-baiknya dengan mereka?”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memanggil Senapatinya. Kita akan menentukan kerja sama yang sebaik-baiknya untuk menenteramkan diri karena kecurigaan petugas-petugas sandi itu.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Tetapi para purut itu melihat, bahwa sebenarnya bahwa kecurigaan itu ada pula dihati Empu Sanggadaru, betapapun juga ia berusaha menyembunyikannya di balik kecintaannya kepada kadang sendiri.

“Apakah salah seorang dari kami harus memanggilnya sekarang Empu.” bertanya salah seorang putut.

“Baiklah. Panggillah Senapati itu.”

Sejenak kemudian, Senapati yang diserahi tanggung jawab atas para prajurit Singasari yang ada di padepokan Empu Sanggadaru itu telah berada di dalam lingkungan para pemimpin padepokan itu. Dengan singkat Empu Sanggadaru menanyakan kepada mereka, apakah yang dapat mereka lakukan jika benar-benar terjadi serangan atas padepokan itu.

“Kami justru berpendapat, bahwa laporan petugas sandi dari Singasari itu benar Empu, sehingga kita harus berada dalam kewaspadaan tertinggi.”

“Sudah, aku sudah bersiap-siap” jawab Empu Sanggadaru yang kemudian menceriterakan apa saja yang sudah dilakukan oleh anak buahnya.

Senapati itu mendengarkan keterangan Empu Sanggadaru dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk iapun berkata, “Terima kasih Empu.”

“Kenapa kau mengucapkan terima kasih kepadaku?” bertanya Empu Sanggadaru

Senapati itu menjadi heran mendengar pertanyaan Empu Sanggadaru, sehingga karena itu, ia justru berdiam diri.

“Agaknya Empu Sanggadaru menyangka bahwa dengan sengaja aku menyatakan ucapan itu agar ia dengan sepenuh hati berkelahi dengan adiknya” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

Tetapi ternyata bahwa Empu Sanggadarupun tidak bertanya lagi. Bahkan iapun kemudian berkata, “Nah Senapati. Apakah rencana kita seterusnya?”

“Seperti yang sudah Empu lakukan.”

“Membagi orang-orang terpercaya kepada padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan ini?”

“Diantaranya kita memang harus berbuat demikian. Jika Empu tidak berkeberatan, aku setuju jika sebagian para prajurit yang ada inipun dipencar kebeberapa padukuhan “

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Kita akan segera berpencar.”

“Tetapi padukuhan ini harus diisi dengan pasukan terbaik dari kita semuanya. Jika lawan sudah memberanikan diri menyerang, itu berarti bahwa yang dibawanya adalah prajurit-prajurit terbaiknya. Kitapun harus menyiapkan prajurit ter baik untuk menahan serangan itu.”

“Jumlah kita .tidak terlalu banyak” desis Empu Sanggadaru-

“Cukup banyak. Apalagi dengan kekuatan yang berada di padukuhan yang menyatakan diri berada di bawah pengaruh Empu ‘Sanggadaru.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Berapakah kekuatan yang kira-kira akan dibawa oleh gerombolan Serigala Putih?”

“Menurut laporan lebih dari duaratus orang Empu.” Jawab Senapati itu.

“Dua ratus orang?” Empu Sanggadaru menjadi heran, “darimanakah ia dapat mengumpulkan orang sebanyak itu? Jika kita berhasil mengerahkan segenap laki-laki di padepokan ini ditambah dengan setiap laki-laki di padukuhan yang menyatakan diri dibawah pengaruhku, barulah kita dapat mengumpulkan jumlah itu. Bahkan barangkali masih kurang.”

“Tetapi dengan sepasukan prajurit yang berada di sini, jumlah itu akan dicapai. Bahkan lebih meskipun hanya sedikit.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Jumlah itu sudah cukup memadai. Dari jumlah yang ada di dalam padepokan ini, sebagian akan aku kirim kepadukuhan-padukuhan untuk membimbing mereka dalam benturan kekuatan dalam jumlah yang besar. Sedangkan yang lain akan tetap berada di padepokan ini.”

Senapati prajurit Singasari yang berada di padepokan itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan segera menyiapkan prajurit-prajuritku. Tetapi Empu harus ingat, bahwa di sini mereka satu dengan cantrik-cantrik Empu Sanggadaru.”

“Ya. Tolonglah, pilihlah di antara cantrik-cantrikku yang khusus itu. Mereka tentu akan sangat berarti bagi padukuhan padukuhan di luar padepokan ini.”

“Kita harus bersiap sebelum purnama naik.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Dengan suara yang berat iapun memerintahkan para putut untuk menentukan para cantrik padepokan itu yang sebenarnya, yang akan berpencar bersama para prajurit.

Sejenak kemudian maka Senapati prajurit Singasari itu telah berbicara dengan pembantu-pembantunya yang telah meluluhkan diri dalam kehidupan di padepokan itu. Merekapun segera membagi diri dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

“Jumlah kita terlalu sedikit” berkata salah seorang prajurit

“Cukup memadai. Kita akan berpencar di empat padukuhan dan akan mendekati padepokan ini dari empat jurusan. Para cantrik dan orang-orang yang berada di bawah pengaruh padepokan ini telah menentukan tempat-tempat untuk berkumpul apabila mereka diperlukan. Kitapun akan berada bersama mereka.”

“Baiklah. Kita harus segera pergi.”

“Kita akan menyesuaikan diri dengan para cantrik yang akan pergi pula kepadukuhan-padukuhan itu. Kita akan mengirimkan ke setiap penjuru sebanyak lima orang di samping para cantrik. Jika benar yang akan datang lebih dari dua ratus orang, maka pertempuran itu akan merupakan pertempuran yang berat.”

“Berapa orang selain kita berlima yang akan berada di setiap penjuru? “

Senapati itu menggeleng. Aku belum tahu, berapa orangkah yang akan ditetapkan oleh Empu Sanggadaru karena sebagian dari kita akan mengadakan perlawanan dari dalam.”

Para prajurit itu pun mengangguk-angguk. Mereka membayangkan bahwa padepokan ini akan mengalami kesulitan jika jumlah lawan itu bertambah.

“Berhati-hatilah. Berilah petunjuk-petunjuk. Dan kalian harus dapat mengambil sikap mendahului mereka yang pengalamannya di medan tentu belum seluas kalian. Prajurit Singasari di saat terakhir yang berada di padepokan ini telah bertambah menjadi tigapuluh orang, sehingga sepuluh orang di antara kita akan tetap berada di padepokan.”

“Bagaimana dengan kedua anak muda itu?” bertanya salan seorang dari prajurit-prajurit itu.

Senapati itu terdiam sejenak. Kehadiran dua orang anak muda di padepokan itu telah menambah kesegaran suasana

Anak yang gembira itu seolah-olah telah mengisi kejemuan yang kadang-kadang memang terasa menyentuh hati para prajurit yang merasa kehadirannya di padepokan itu bagaikan tersisih dari pergaulan.

“Anak-anak itu sangat menyenangkan” berkata Senapati itu, “sebenarnya aku ingin mempersilahkan mereka menyingkir. Tetapi kita tahu, bahwa mereka adalah anak-anak yang memiliki kelebihan dari kita semuanya. Apalagi kakaknya, Mahisa Bungalan yang setiap kali dengan tiba-tiba saja muncul menjenguk adik-adiknya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Biarlah ia berada di padepokan.” berkata Senapati itu kemudian, “mereka yang tinggal di padukuhan ini tentu akan menjadi paling jemu dibandingkan dengan mereka yang sempat berada di padukuhan.”

“Baiklah” berkata para prajurit itu.

Senapati prajurit Singasari itupun segera menyusun dan membagi orang-orangnya. Lima orang di empat penjuru.

“Jika jumlah kita bertambah di saat terakhir, setelah kita mengalami pergantian sekali, maka agaknya kecurigaan para petugas sandi semakin bertambah. Kini kecurigaan itu telah memuncak, sehingga mereka memberikan batas waktu yang dekat agar kita berhati-hati.”

“Agaknya kecurigaan mereka itu beralasan “

Demikianlah maka para prajurit itu membagi diri. Mereka tinggal menunggu perintah Empu Sanggadaru.

Setelah berbicara dan mematangkan semua persiapan, maka Sanggadaru pun segera memerintahkan semua orang yang akan meninggalkan padepokan untuk bersiap. Jika malam tiba, mereka harus meninggalkan regol padepokan dengan hati-hati, agar tidak menarik perhatian orang yang mungkin dengan tidak sengaja melihatnya. Mungkin orang yang kebetulan lewat, mungkin orang-orang yang dengan sengaja mengawasi padepokannya.

Ternyata Empu Sanggadaru dan prajurit Singasari itupun cukup berhati-hati. Sebelum mereka melepaskan kelompok-kelompok yang akan meninggalkan padepokan, mereka telah menyebar beberapa orang petugas untuk melihat, apakah ada orang-orang yang dengan tersembunyi mengamat-amati padepokan itu.

“Kami tidak menjumpai seorang pun” berkata salah seorang cantrik yang bertugas mengawasi keadaan. Ternyata yang lain pun sama sekali tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Demikianlah ketika malam mulai turun, ma!ka dalam kegelapan malam yang diterangi oleh sinar bulan yang samar-samar menjelang malam purnama, kelompok-kelompok kecil telah meninggalkan padepokan. Mereka sama sekali tidak mempunyai waktu lagi untuk menyusun barisan yang teratur dan mapan. Untunglah bahwa pada saat-saat tertentu mereka selalu mengadakan latihan kanuragan. Apalagi sejak para prajurit berada di padepokan itu. Meskipun mereka tidak membayangkan bahwa pada suatu saat mereka akan mengalami suatu pertempuran yang besar dan seru, namun mereka dengan sungguh-sungguh telah berlatih untuk membela diri pada setiap kemungkinan yang dapat saja terjadi.

Tetapi di antara para petani yang kurang bersungguh-sungguh dalam latihan-latihan olah kanuragan, terdapat sekelompok cantrik yang memang telah menempa diri dalam olah kanuragan.

Mereka adalah murid-murid Empu Sanggadaru yang sebenarnya. Dan mereka adalah orang-orang yang dipercaya untuk mempertahankan padepokan itu apabila marabahaya datang menerkam. Dan para cantrik itulah yang kemudian disebar bersama-sami para prajurit. Tetapi seperti juga para prajurit, cantrik yang terpercaya itupun jumlahnya tidak terlampau banyak.

Setiap sepuluh orang di antara mereka telah dikirim keempat penjuru bersama lima orang prajurit, sehingga di setiap arah dari keempat penjuru, terdapat lima belas orang yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan.

Lima belas orang itulah yang kemudian bertugas untuk menghimpun orang-orang yang ada di setiap padukuhan.

“Semuanya harus bersiap sebelum purnama naik.” desis Empu Sanggadaru saat ia melepas para cantrik dan para prajurit itu.

Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja di saat-saat para cantrik dan para prajurit membagi diri, Mahisa Bungalan telah datang kepadepokan itu dengan tergesa-gesa. Setelah menyerahkan kudanya dan duduk bersama Empu Sanggadaru, maka iapun berkata, “Empu, agaknya dugaan bahwa orang-orang dari Serigala Putih akan membalas dendam itu bukannya sekedar dugaan. Tentu saja kini mereka mempunyai kekuatan yang lain, kecuali kekuatan padepokan Serigala Putih sendiri.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Dengan suara berat ia bertanya, “Dan menurut dugaan anakmas, adikku Baladatu telah dapat mereka peralat?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakan Empu. Apakah Empu Baladatu telah diperalat, atau karena alasan yang lain. .Tetapi yang jelas, bahwa dalam keadaan seperti sekarang lini, Serigala Putih, telah menjadi satu dengan padepokan gerombolan Macan Kumbang.”

“Itulah agaknya mereka sempat mengumpulkan orang sebanyak dua ratus orang.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tidak hanya kedua kelompok itu saja.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Jika bukan saja kedua kelompok itu tentu ada sekelompok orang-orang yang datang dari padepokan Empu Baladatu sendiri.

Namun Mahisa Bungalan berkata, “Para petugas sandi melihat orang-orang dari kelompok yang belum diketahui berdatangan kepadepokan kelompok Serigala Putih.”

Empu Sanggadaru termenung sejenak. Kemudian terdengar suaranya yang dalam dan datar, “Baladatu agaknya benar-benar telah diperalat, sehingga ia kehilangan kecintaannya terhadap saudara sendiri.” namun kemudian ia menggeram, “tetapi jika demikian, apaboleh buat.”

Empu Sanggadaru pun segera memerintahkan semua orang nya bersiap. Ternyata Mahisa Bungalan tidak meninggalkan padepokan itu. Ia tidak sampai hati meninggalkan kedua adiknya yang berada di padepokan itu pula.

Dalam pada itu, orang-orang yang memencar di luar padepokanpun segera, menghimpun kekuatan. Meskipun orang-orang yang berada di padukuhan itu bukannya cantrik-cantrik dan prajurit Singasari, namun mereka pada umumnya telah memiliki dasar ilmu kanuragan yang dapat melindungi diri mereka masing-masing.

Tetapi jumlah mereka tidak terlalu banyak. Disetiap penjuru, para prajurit dan para cantrik tidak dapat mengumpulkan anak-anak muda dan laki-laki yang masih cukup kuat memegang senjata lebih dari tigapuluh orang. Bahkan di salah satu penjuru, mereka tidak lebih dari duapuluh lima orang saja.

“Jumlah kita tidak terlalu banyak” berkata salah seorang cantrik kepada para prajurit yang berada di antara mereka.

“Jumlah kadang-kadang memang menentukan” jawab prajurit itu, “tetapi yang lebih menentukan lagi adalah nilai perseorangan dari mereka yang saling berbenturan itu.”

Para cantrik dan mereka yang berada di padukuhan itu mengangguk-angguk.

“Aku yakin bahwa jumlah kita sudah memadai” berkata prajurit itu pula, “kita tidak saja merasa berdiri di pihak yang benar karena kita mempertahankan hak yang kita miliki dengan syah, tetapi juga karena kita masing-masing telah pernah mempelajari dan melatih diri bagaimana caranya kita bertempur “

Setiap laki-laki dan terutama anak-anak mudanya menjadi berbesar hati. Mereka merasa wajib untuk mempertahankan hak yang sudah mereka miliki dengan syah.

“Pergunakan untuk memanaskan badan” berkata para prajurit kepada anak-anak muda dan laki-laki di padukuhan yang berada di bawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru itu, “waktu kita banyak. Kita harus mencapai kesiagaan tertinggi pada saat purnama naik, saat orang-orang dari perguruan ilmu hitam itu mencari korbannya.”

Anak-anak muda dan laki-laki yang telah berkumpul dengan senjata masing-masing itupun mengangguk-angguk.

“Bukankah kalian pernah mendengar kabar tentang orang berilmu hitam itu?”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk pula.

“Kita tidak mau menjadi korban yang mengerikan itu.Lebih baik kita mati di medan pertempuran daripada mati dengan kaki dan tangan terikat di alas batu menyerahkan korban dan ditikam di alah jantung dengan perlahan-lahan.”

Terasa tengkuk anak-anak muda dan laki-laki yang mendengar keterangan itu meremang. Seorang di antara mereka berdesis kepada kawannya, “Memang lebih baik mati ditikam pedang di pertempuran.”

Demikianlah anak-anak muda dan laki-laki di setiap padukuhan itupun mulai memanaskan diri. Purnama naik sudah berada di dapan hidung mereka. Lewat sehari, jika malam tiba, maka malam itu akan diterangi dengan bulan bulat. Saat yang paling mengerikan bagi mereka yang berada di sekitar orang-orang berilmu hitam itu.

“Kita masih mempunyai waktu malam ini dan satu hari besok” berkata prajurit yang mengatur pasukan kecil di setiap penjuru itu, “kita harus menyesuaikan diri, bagaimanakah cara kita menghadapi musuh yang menurut keterangannya akan datang dalam jumlah yang besar.”

Anak-anak muda dan laki-laki di setiap padukuhan itu pun kemudian berusaha untuk menyesuaikan diri dengan petunjuk para prajurit dan para cantrik, yang berada di antara mereka. Dengan singkat para prajurit memberikan beberapa petunjuk untuk melakukan perang dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dari kelompok-kelompok mereka sendiri.

“Kita tidak boleh bertempur sekedar menuruti keinginan sendiri. Kita, kelompok ini harus tetap merupakan sebuah kelompok yang bulat, sehingga nasib kita akan kita tentukan bersama-sama” pesan prajurit itu.

Dengan sungguh-sungguh merekapun mengadakan latihan sekedarnya mengatur diri sesuai dengan kemampuan yang ada di antara mereka.

Ketika tengah malam telah lewat, maka prajurit-prajurit yang ada di antara mereka itupun mengakhiri petunjuk-petunjuk yang mereka berikan. Salah seorang dari prajurit-prajurit itupun kemudian mempersilahkan anak-anak muda dan laki-laki yang berada di antara mereka yang telah mempersiapkan diri itupun untuk beristirahat.

“Tidurlah, agar badan kalian tetap segar. Besok siang kita masih mempunyai waktu sehari. Kita akan mempergunakan sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan dan mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk menunggu kedatangan lawan. Bahkan mungkin mereka akan datang di siang hari.

Setiap orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan itupun segera beristirahat, mengikuti petunjuk para prajurit yang ada di antara mereka. Namun kegelisahan di dalam hati, telah membuat mereka sama sekali tidak dapat tidur nyenyak. Ada satu dua di antara mereka yang mendengkur. Tetapi kemudian terbangun sambil tergagap oleh kejutan di dalam mimpinya sendiri.

Namun dalam pada itu, para prajurit dan para cantrik yang dikirim oleh Empu Sanggadaru, telah membagi diri untuk mengadakan pengawasan yang ketat terhadap padukuhan masing-masing dan arah isyarat dari padepokan. Jika serangan itu datang dengan tiba-tiba setiap saat, mereka harus bersiaga menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. Juga apabila serangan itu datang di pagi atau siang hari besok. Mereka tidak boleh menjadi bingung dan kehilangan pegangan.

Kegelisahan mereka rasa-rasanya ikut hanyut dalam kegelapan yang semakin tipis di pagi hari. Ketika matahari kemudian terbit, rasa-rasanya hati mereka yang sedang mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu menjadi lebih tenang, meskipun mereka sadar, bahwa mereka harus tetap berhati-hati, karena tidak mustahil bahwa tiba-tiba saja di siang hari lawan mereka datang seperti banjir bandang melanda padepokan mereka yang nampak sepi.

“Kita masih sempat berbuat sesuatu” berkata para prajurit, “kecuali bersiaga, kita juga masih sempat melatih diri barang sejenak.”

Laki-laki dan anak-anak muda di padukuhan itupun segera berkumpul di-tengah-tengah padukuhan mereka. Sekali lagi para prajurit itupun memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana mereka harus menghadapi lawan yang kadang-kadang bertempur di luar dugaan.

“Jangan bingung menghadapi setiap kesulitan” para prajurit itupun memberikan petunjuk. Bahkan kemudian anak-anak muda dan laki-laki yang telah bersiap itu dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang prajurit untuk berlatih lebih terperinci lagi bersama dengan para cantrik, yang membagi diri dalam kelompok-kelompok itu pula.

Sementara orang-orang itu berlatih, maka mereka tidak lupa meletakkan beberapa petugas yang mengawasi keadaan di sekitar padukuhan mereka. Jika mereka melihat sepasukan mendatangi padukuhan, mereka harus segera bertindak. Juga jika mereka mendengar bunyi isyarat dari padepokan. Kentongan, atau panah sendaren.

Selagi orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru yang jumlahnya tidak sebanyak orang-orang yang telah disiapkan oleh Empu Baladatu, maka pasukan yang sudah tersusun itupun masih belum berangkat menuju kesasaran. Meskipun Empu Baladatu dapat mengemukakan berbagai alasan, namun sebenarnyalah bahwa ia ingin menyembunyikan kenyataan, bahwa pasukannya tidak terdiri dari satu lingkungan, sehingga kedatangannya akan segera diketahui, bukannya sekedar dendam orang-orang dari padepokan Serigala Putih. Meskipun setiap kelompok dari gerombolan yang berbeda telah berusaha menyesuaikan diri, tetapi perbedaan itu masih akan mudah di lihat di dalam pertempuran di siang hari.

Karena itu, maka Empu Baladatu telah memutuskan untuk menyerang padepokan kakaknya di malam hari.

“Yang akan terjadi adalah upacara korban yang terbesar yang pernah kita selenggarakan” berkata Empu Baladatu kepada orang-orangnya, terutama yang menyadap ilmu hitam sepera yang dilakukan oleh orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang, “korban yang akan membasahi senjata kalian dan ubun-ubun kalian bukannya sekedar dari satu orang saja, tetapi dari berpuluh-puluh orang. Kalian dapat membasahi senjata kalian dengan darah dari dua tiga orang, dan membasahi ubun-ubun kalian dengan darah bermangkuk-mangkuk. Bukan hanya setitik, “

Pernyataan itu ternyata telah berhasil membakar hati orang-orang Serigala Putih dan Macan Kumbang, sementara orang-orang dari Mahibit hanya tersenyum saja mendengarkan. Tetapi saat itu mereka mendapat tugas untuk bekerja bersama dengan orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang sehingga mereka sama sekali tidak mengganggu jalan pikiran orang-orang berilmu hitam itu.

“Kita akan melihat, apa yang akan mereka lakukan di peperangan” bisik salah seorang yang datang dari Mahibit, “upacara besar-besaran itu tentu akan sangat menarik perhatian.”

Kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi kawannya yang lain berdesis, “Itu kalau kau sempat.”

“Kenapa tidak sempat?”

“Kalah kau mati?”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Itu tidak perlu dicemaskan. Lawan kita terlalu lemah. Tetapi jika yang lemah itu sempat membunuhku, itu adalah kecelakaan yang pantas di sesali oleh kalian semuanya.”

Yang lain tidak menyahut lagi. Mereka seolah-olah tidak memperhatikan lagi apa yang akan terjadi. Bahkan mereka pun tidak memperdulikan diri mereka masing-masing pula, karena merekapun berusaha untuk dapat melupakan semuanya barang sejenak di dalam istirahat yang utuh sebelum mereka akan terjun di kancah peperangan.

Jika di hari itu, orang-orang di padepokan Empu Sanggadaru masih sibuk memperhatikan petunjuk-petunjuk yang lebih terperinci, dan sekali-kali berlatih mempergunakan senjata, maka orang-orang dari padepokan Macan Kumbang, Mahibit dan juga orang-orang Serigala Putih sendiri, berusaha untuk menenangkan hati dan beristirahat.

Dengan demikian, maka perhitungan orang-orang dari padepokan Empu Sanggadaru tentang kemungkinan kedatangan orang-orang berilmu hitam itu adalah tepat. Mereka akan mempergunakan saat purnama untuk menyampaikan korban terbesar dalam upacara mereka.

Meskipun demikian, masih terbersit niat pada Empu Baladatu, bahwa ia akan dapat menundukkan padepokan kakaknya dan menangkap kakaknya hidup-hidup.

“Bukan tujuan mutlak” berkata Empu Baladatu kepada Linggadadi, “tetapi jika mungkin maka tenaganya akan berguna bagi kami.”

“Mungkin berguna, tetapi mungkin juga berbahaya,” jawab Linggadadi.

“Kita akan menaklukkannya dan memaksanya untuk berjanji- Jika ia menolak, kita akan membunuhnya dengan menyerahkannya sebagai korban yang paling berharga. Tetapi jika ia dapat menyadari kedudukannya, maka kita akan dapat memaafkannya.”

Linggadadi tersenyum. Senyumnya mengandung seribu arti yang tidak dapat dimengerti oleh Empu Baladatu. Namun Kiai Dulang yang ada di antara mereka dapat melihat, betapa ngerinya senyuman itu. Tanpa Linggapati, Linggadadi adalah seorang yang sangat buas. Tidak kalah buasnya dengan orang-orang yang disebut berilmu hitam seperti Kiai Dulang sendiri.

Seperti dirinya sendiri, maka Linggadadi pun tentu tidak akan mengambil jalan seperti yang dikehendaki oleh Empu Baladatu. Baginya kematian adalah hadiah yang paling baik diberikan kepada lawan-lawannya.

“Jika Empu Sanggadaru jatuh di tangan Linggadadi, maka ia akan menjadi lumat meskipun ia menyerah” berkata Kiai Dulang di dalam hatinya.

Disiang hari, orang-orang dari padepokan Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit, berkesempatan untuk tidur barang sejenak. Ketika mereka terbangun lewat tengah hari, mereka merasa dirinya semakin segar. Satu-satu mereka pergi kepakiwan, seolah mereka sedang bersiap-siap untuk datang ke peralatan perkawinan. Berurutan mereka mandi dan kemudian membenahi diri, karena yang akan mereka lakukan bagi orang-orang berilmu hitam, bukannya sekedar sebuah peperangan yang dahsyat tetapi juga penyerahan korban terbesar sejak mereka menganut ilmu hitam yang mempergunakan upacara korban dengan membasahi diri masing-masing dengan darah.

Ketika matahari turun ke ujung Barat, maka semuanya sudah bersiap. Mereka akan segera berangkat langsung menuju kepadepokan Empu Sanggadaru.

“Setelah kita mendekati padepokan itu, kita akan membagi diri” berkata Empu Baladatu, “kita akan memasuki padepokan dari dua arah yang bertentangan.”

Setelah mereka mendapat kesepakatan bahwa serangan yang pertama akan datang dari arah yang berbeda dengan serangan yang menyusul kemudian, setelah perhatian seisi padepokan dicengkam oleh pertahanan atas serangan yang pertama, maka serangan yang berikutnya akan menentukan jatuhnya padepokan itu.

“Kita akan datang bersama-sama dari arah yang sama” berkata Empu Baladatu kepada Linggadadi.

Linggadadi mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil menjawab, “Baik Empu. Kita akan datang bersama-sama. Biarlah anak-anak yang memancing perhatian mereka dengan serangan yang pertama. Kita berdua datang kemudian dan langsung memasuki padepokan itu tanpa kesulitan.”

Langit yang suram berangsur menjadi gelap. Namun kemudian cahaya yang kekuning-kuningan telah memancar dari balik pepohonan di sebelah Timur. Bulan yang bulat perlahan-lahan naik menerangi langit.

Orang-orang berilmu hitam yang tengah berada dalam perjalanan itu merasakan sesuatu yang seakan-akan meresap sampai ketulang sungsum. Cahaya bulan bulat merupakan nafas tersendiri dalam kehidupan orang-orang berilmu hitam itu, sehingga rasa-rasanya mereka mempunyai kesegaran melampaui saat yang lain.

Dibawah cahaya bulan bulat itu, maka perjalanan mereka bagaikan menjadi semakin cepat. Jarak antara pdepokan Serigala Putih sampai kepadepokan Empu Sanggadaru cukup panjang. Tetapi mereka tidak dibatasi oleh waktu. Selagi bulan masih nampak di langit, mereka masih sempat melakukan upacara korban yang terbesar yang akan mereka lakukan di Padepokan Empu Sanggadaru itu.

Menjelang tengah malam, pasukan itu telah mendekati Padepokan Empu Sanggadaru. Untuk beberapa saat mereka berhenti. Mereka mulai mengatur jalan dan jarak yang akan mereka tempuh.

“Seandainya mereka mengetahui semua rencana kita, mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa” berkata Empu Baladatu, “menurut perhitunganku, orang-orang yang ada di padepokan itu tidak akan melampaui jumlah seratus.”

“Seratus adalah jumlah yang cukup banyak” sahut Linggadadi., “Jika kita lengah, mungkin yang seratus itu akan mendapat kesempatan untuk menusuk punggung kita.”

“Kita akan berhati-hati” desis Empu Baladatu, “pembagian pasukan inipun adalah salah satu ujud dari sikap hati-hati itu.”

Linggadadi tertawa Katanya, “Kapan kita akan membagi diri?”

Empu Baladatu berpikir sejenak. Memang pasukan-pasukan itu harus segera membagi diri.

“Kita dapat membagi pasukan ini sekarang” berkata Empu Baladatu kemudian, “sebagian kecil akan menempuh jalan lurus, sedang yang lain akan melingkar dan menyerang dan arah yang berlawanan.”

“Linggadadi tertawa pula. Katanya, “Empu benar-benar seorang yang berhati-hati. Meskipun Empu tahu bahwa lawan kita tidak akan lebih dari seratus, namun siasat itu masih juga dipergunakan.”

“Kita menghindari korban sejauh-jauh dapat kita lakukan. Kita akan membunuh lawan sebanyak-banyaknya dengan jika mungkin tanpa seorangpun dari kita yang menitikkan darah meskipun hanya dari ujung jarinya.”

“Terserahlah.” desis Linggadadi kemudian.

Empu Baladatu pun kemudian membagi pasukannya. Ia mengambil dari setiap kelompok duapuluh lima orang sehingga seluruhnya berjumlah tujuh puluh lima orang.

Dibawah pimpinan seorang kepercayaannya, maka yang tujuh puluh lima orang itupun ditugaskannya mengambil jalan langsung, seolah-olah mereka adalah keseluruhan pasukan yang datang padepokan Serigala Putih. Sementara yang lain akan melingkar dan menerkam dari belakang.

Setelah memberikan pesan-pesan terakhir, maka kedua pasukan itupun mulai berpisah.

Linggadadi yang berada bersama pasukan yang langsung dipimpin oleh Empu Baladatupun kemudian menempatkan diri di antara sisa pasukan yang lain. Mereka telah bersiap memotong arah agar mereka tidak terpaut terlalu banyak dari pasukan yang langsung menyerang padepokan itu.

Perhitungan yang cermat telah dipertimbangkan bersama. Pasukan yang langsung menyerang itu harus menunggu untuk waktu yang telah dipertimbangkan masak-masak.

“Bayangkan, jarak jalan yang akan kita tempuh itu akan dua kali lipat dari jalan yang kalian lalui. Dengan demikian kalian akan dapat mempertimbangkan waktu sebaik-baiknya. Selebihnya, jika kalian akan mulai menyerang, lontarkanlah panah sendaren keudara sehingga kami dapat membuat perhitungan kapan kami akan memasuki padepokan itu dari arah lain.”

Pemimpin kelompok yang akan memancing perhatian seisi padepokan itu mengangguk-angguk. Namun ia menyadari bahwa soal waktu itu akan sangat penting baginya. Jika ia terlalu cepat menyerang, maka hal itu akan sangat berbahaya bagi pasukannya. Tetapi jika terlambat dan pasukan induk itu sudah diketahui oleh lawan, maka rencananya tentu tak akan berhasil sama sekali, karena lawan akan membagi kekuatannya sebaik-baiknya.

Setelah semua pertimbangan, perhitungan dan pesan-pesan tidak ada yang terlampaui, maka Empu Baladatupun mulai dengan rencananya dalam keseluruhan.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...