*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 11-02*
Karya. : SH Mintardja
Malam itu, semua persoalan telah diputuskan dan harus dilaksanakan. Para Panglima itu tidak dapat berada di tempat itu terlampau lama. Mereka malam itu juga harus kembali ke rumah masing-masing, karena setiap saat Tohjaya akan dapat memanggil mereka.
Setelah tidak ada lagi yang dipersoalkan, maka pertemuan itu diakhiri. Para Panglima dan Senapati dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, bersama-sama dengan Mahisa Agni, segera kembali masuk ke dalam kota.
Malam itu juga, beberapa orang utusan telah berpacu memencar kesetiap pemusatan pasukan di sekitar kota. Witantra tetap berada di antara pasukan induk bersama Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Mahendra dan Lembu Ampal pun kemudian mengambil tempatnya masing-masing diarah yang berbeda.
Perintah yang dikeluarkan oleh Ranggawuni adalah mempersiapkan semua pasukan dan kekuatan yang ada. Pagi-pagi benar, para pemimpin kelompok harus berkumpul di tempat tertentu. Witantra, Mahendra dan Lembu Ampal akan memberi penjelasan kepada mereka di tempat masing-masing di arah yg berbeda di sekitar kota.
Setelah setiap pemimpin kelompok mendengarkan penjelasan, maka mereka masih mendapat waktu sehari untuk mengatur segala persiapan. Pasukan yang belum lengkap segera dilengkapi. Para pengikut Ranggawuni yang masih bekerja di sawah, segera berkumpul di kelompok masing-masing.
Pada saat yang ditentukan, maka pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang berada di luar kota sudah siap untuk bergerak. Pasukan yang menjadi inti kekuatan mereka adalah prajurit-prajurit Singasari yang berada di Kediri dan yang tersebar di tempat terpencil yang dapat dihimpun oleh Witantra.
Namun demikian, para pemimpin di dalam pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yakin bahwa mereka akan berhasil merebut kedudukan Tohjaya dan menguasai seluruh kota. Kemudian perIahan-Iahan mereka akan dapat pula mendapat kepercayaan dari daerah yang sudah dipersatukan oleh Sri Rajasa sebelumnya.
Dalam pada itu, kedua Panglima yang ada di dalam kota pun segera menyebarkan orang-orang kepercayaan mereka. Mereka yakin bahwa di dalam keadaan itu, semua perintah mereka akan mendapat dukungan apabila perintah itu dapat memberikan harapan yang lebih baik bagi mereka.
“Bergantian panggil para Senapati. Tiga mereka harus menghadap aku. Sebelum matahari sepenggalah aku berada di rumah. Kemudian sampai tengah hari, orang berikutnya harus menghadap aku di alun-alun, justru agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tetapi ingat, tiga-tiga. Tidak boleh lebih. Setelah tengah hari, tiga-tiga berikutnya dapat menjumpai aku di halaman istana. Menjelang malam, sisanya dapat menemui aku di rumah lagi. Selanjutnya aku akan mengirimkan perintah-perintah berikutnya lewat petugas-petugas kepercayaanku.” berkata Panglima Pasukan Pengawal yang sudah bersepakat mempergunakan cara yang sama dengan Panglima Pasukan Pengawal.
Kepada Senapati yang menghadap tiga-tiga, kedua Panglima itu memberikan penjelasan sampai masalah yang sekecilnya.
“Penjelasan hanya diberikan satu kali.” berkata Panglima-panglima itu.
Keterangan itu telah menyatakan kepada para Senapati, bahwa mereka harus memahami penjelasan yang mereka dengar itu sebaik-baiknya, karena mereka tidak akan mendapatkan penjelasan apapun lagi. Mereka kemudian tinggal melaksanakan perintah itu sebaik-baiknya.
Para Senapati dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam itu pun telah mendapat penjelasan pula, bahwa kedua pasukan yang semula bermusuhan itu harus dapat bekerja bersama. Mereka agaknya telah menjadi korban adu domba sehingga di antara mereka timbul perasaan dendam dan benci.
Demikianlah, maka para Senapati dari kedua pasukan itu pun segera menghimpun anak buah mereka. Tetapi, karena jumlah pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam tidak begitu banyak dibandingkan dengan pasukan yang kemudian ditarik ke dalam istana itu, maka usaha untuk menyampaikan perintah itu ke segenap telinga pun tidak memerlukan waktu terlampau panjang. Sebelum tengah malam berikutnya, semua orang di dalam kedua pasukan itu telah mendengar perintah itu dengan sebaik-baiknya. Mereka pun telah menempatkan dirinya seperti yang dikehendaki oleh para pemimpin mereka. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka menempatkan para Pengawal dan Pelayan Dalam dalam jumlah yang cukup kuat di sekitar bangsal Ken Dedes, putera-puteranya dan ibu Ranggawuni. Yang lain berada di bangsal Mahisa Agni bersama para pengawal Mahisa Agni sendiri.
Tetapi dalam pada itu, yang bertugas di bangsal Tohjaya menurut keinginan dan perintah Tohjaya sendiri, sama sekali bukannya lagi Pasukan Pengawal. Di dalam bangsal itu pun tidak ada lagi Pelayan Dalam yang melakukan tugasnya. Semua pekerjaan telah diambil alih oleh prajurit-prajurit yang mendapat kepercayaan sepenuhnya dari Tohjaya.
Sebelumnyalah kecurigaan Tohjaya yang menjadi semakin besar sejak hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, .kemudian Lembu Ampal, telah menempatkannya ke dalam pengamatan yang ketat dari kepercayaannya. Tohjaya telah memilih bangsal yang semula dipergunakan oleh Anusapati, yang dikelilingi oleh kolam buatan yang cukup dalam dan luas. Di luar lingkungan kolam itu selapis prajurit selalu berjaga-berjaga. Kemudian setiap jembatan yang menghubungkan bagian luar dan dalam dari lingkaran kolam itu pun selalu dijaga sebaik-baiknya. Kemudian di setiap pintu bangsal ditempatkan beberapa orang prajurit pilihan. Tidak seekor jengkerik pun yang dapat memasuki bangsal itu tanpa diketahui oleh para petugas di sekitar bangsal dan kolam itu.
Menjelang saat-saat yang telah ditentukan, maka kedua Panglima itu pun telah berada di halaman istana pula. Merekalah yang akan memimpin langsung benturan yang akan dapat terjadi di halaman istana itu.
Dengan diam-diam mereka berhasil mendapat hubungan dengan Mahisa Agni yang sudah siap pula menghadapi setiap kemungkinan.
Namun ternyata bahwa Senapati prajurit yang bertugas di halaman istana itu pun memiliki ketajaman penglihatan. Mereka melihat kesiagaan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam melampaui kebiasaannya. Mereka melihat para Pengawal bertugas dalam kelompok yang lebih besar dan hampir semua kekuatan dari Pasukan Pengawal telah dipusatkan di dalam halaman. Demikian pula Pelayan Dalam. Beberapa orang prajurit telah melaporkan bahwa di bangsal-bangsal tertentu nampak beberapa orang Pelayan Dalam mondar mandir di antara mereka. Nampak di antara Pelayan Dalam itu kesibukan yang meningkat.
“Apakah dendam di antara kedua pasukan itu tetap menyala?” desis seorang Senapati.
“Mungkin.” sahut yang lain, “Tetapi mungkin pula tidak.”
Ketegangan di antara setiap pasukan di halaman ini telah meningkat. “Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam itu bagaikan minyak dengan api. Jika mereka bersentuhan lagi dalam perkara yang paling kecil sekalipun, maka akan dapat berkobar pertentangan yang mengerikan.”
“Tetapi keduanya agaknya mencurigai kita pula.”
“Itu wajar, karena kehadiran kita di sini sama sekali tidak mereka kehendaki. Kita mengemban tugas khusus dari tuanku Tohjaya, karena kedua pasukan itu tidak lagi dapat dipercaya.”
“Meskipun demikian kita tidak boleh lengah malam ini. Mungkin akan terjadi sesuatu. Seandainya kedua pasukan itu akan bertempur biarlah mereka bertempur. Tetapi jika mereka mulai menyentuh tubuh kita, maka kita akan membinasakan keduanya yang barangkali memang sudah tidak akan dipergunakan lagi oleh tuanku Tohjaya.”
Demikianlah, maka di jalur lain, Senapati itu pun telah memerintahkan kepada setiap pemimpin kelompok untuk mengawasi keadaan sebaik-baiknya. Kemudian mengambil sikap seperti yang diputuskan oleh Senapati yang bertanggung jawab malam itu di halaman istana.
Halaman istana itu pun kemudian dicengkam oleh ketegangan. Ketika tengah malam telah lewat, maka setiap orang di dalam Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam telah menyediakan seutas lawe yang akan mereka belitkan di kedua pergelangan tangan mereka sebagai tanda.
“Jika telah terdengar isyarat, maka lawe itu harus segera dikenakan. Jika terlambat dan tidak sempat lagi, maka akan dapat terjadi salah paham.” perintah setiap pemimpin kelompok, “Tetapi juga jangan sekarang. Lawe di pergelangan itu akan dapat menumbuhkan kecurigaan pada pihak-pihak yang lain di halaman ini. Apalagi jika mereka memperhatikan bahwa orang-orang Rajasa dan Sinelir memakai tanda yang bersamaan.”
Setiap prajurit yang termasuk di dalam Pasukan Pengawai dan Pelayan Dalam memperhatikan perintah itu baik-baik. Untuk sementara mereka belum mengenakan lawe yang berwarna putih itu di pergelangan tangannya.
Dalam pada itu, para prajurit yang tidak sedang bertugas pun telah berada di halaman. Mereka mendapat kesempatan untuk beristirahat sesaat di gardu-gardu dan di tempat-tempat yang tidak begitu jelas dapat dilihat oleh pihak-pihak lain. Tetapi mereka tidak dapat beristirahat dengan tenang karena mereka menyadari bahwa sesuatu akan segera terjadi.
Kesiagaan prajurit kepercayaan Tohjaya pun kemudian dapat dilihat oleh para Senapati dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam. Namun mereka pun yakin bahwa prajurit-prajurit itu belum menyadari apa yang akan terjadi sebenarnya. Mereka bersiap sekedar karena firasat keprajuritan mereka, dan barangkali sedikit kecurigaan karena jumlah Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam malam itu agak lebih banyak dari malam sebelumnya.
Di luar halaman istana, para prajurit dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang tidak memasuki halaman karena pertimbangan-pertimbangan pengamanan rencana dalam keseluruhan, agar pihak lain tidak terlampau curiga karena jumlah Pengawal dan Pelayan Dalam menjadi jauh melampaui kebiasaannya, telah siap pula beberapa ratus langkah dari mulut gerbang.
Mereka mempersiapkan diri di dalam kegelapan berpencaran sehingga tidak segera dapat dilihat. Beberapa orang di antara mereka berada di kebun-kebun dan halaman rumah yang dikelilingi dengan dinding batu. Mereka menunggu sambil duduk-duduk di antara pepohonan di bawah lindungan bayangan yang gelap.
Bukan saja prajurit-prajurit yang berada di regol dan yang sedang meronda di jalan-jalan sajalah yang tidak dapat melihat mereka, bahkan orang-orang yang memiliki halaman itu pun tidak mengetahui bahwa di halaman, di kebun belakang atau di halaman samping, terdapat beberapa orang yang bersembunyi di dalam gelap.
Para prajurit dari Pasukan Pengawai dan Pelayan Dalam itu memusatkan perhatian mereka pada halaman istana dan isinya. Mereka mempercayakan keadaan di luar dinding halaman istana kepada pasukan yang akan memasuki kota dari luar.
Prajurit-prajurit yang menunggu itu hampir tidak sabar lagi. Apalagi ketika mereka sudah melihat bayangan kemerahan di ujung Timur.
“Apakah ada perubahan rencana?” bertanya seorang prajurit dari Pasukan Pengawal kepada pemimpin kelompoknya.
“Seharusnya tidak. Sebentar lagi kita tidak mempunyai waktu lagi untuk menarik diri. Jika jalan-jalan mulai ramai, kita harus bertindak dengan atau tanpa pasukan dari luar, karena tidak ada jalan lain bagi kita yang sudah terlanjur berada di sini dan di dalam dinding halaman itu.”
Para prajurit itu pun menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan oleh pemimpin kelompok itu. Bahkan di antara mereka mulai tumbuh kecurigaan, bahwa mereka justru telah terjebak dan dengan demikian mereka harus bertempur sendiri di antara kekuatan-kekuatan yang ada di Singasari.
Para Panglima yang ada di halaman istaua pun mulai gelisah. Mereka pun mulai dirayapi oleh prasangka yang serupa, bahwa Lembu Ampal telah mempermainkan mereka.
“Tetapi tatapan mata tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka itu meyakinkan. Bahkan Mahisa Agni pun telah bersiap pula. Saudara-saudara tuanku Anusapati telah mengetahui apa yang akan segera terjadi.” berkata Panglima itu di dalam hatinya.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak berbuat licik seperti yang dicemaskan itu. Mereka benar-benar telah bergerak mendekati dinding kota. Pasukan yang terpencar di seputar kota itu dipimpin oleh Senapati terpercaya yang dikendalikan oleh Witantra, Mahendra dan Ranggawuni serta Mahisa Cempaka sendiri.
Menjelang pagi, para Senapati dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam hampir tidak sabar lagi menunggu. Menurut perhitungan mereka, waktu yang direncanakan seharusnya sudah lampau.
Namun selagi mereka dicengkam oleh kegelisahan dan keraguan, mereka dikejutkan oleh hadirnya Lembu Ampal di antara mereka.
“Apakah ada perubahan?” bertanya seorang Senapati.
“Tidak.” sahut Lembu Ampal.
“Tetapi kita sudah terlambat.”
“Memang ada kelambatan sedikit. Tetapi tidak berarti.”
“Sebentar lagi, jalan-jalan kota menjadi ramai. Matahari akan segera terbit.”
“Masih ada waktu. Saat ini para prajurit sedang menyusup ke dalam kota lewat pintu gerbang.”
“Bagaimana dengan para penjaga?”
“Mereka mempergunakan penyamaran. Pengalaman yang telah terjadi atas kedua Senapati yang datang terdahulu memberikan pikiran kepada kami untuk melakukannya. Tidak lewat sebuah pintu gerbang, tetapi beberapa.”
“Jika jumlahnya terlampau banyak, mereka yang bertugas di gerbang akan segera menjadi curiga.”
“Memang. Tetapi dalam pada itu, prajurit-prajurit yang lain kini sudah siap mengelilingi dinding kota.”
Para Senapati itu pun mengangguk-angguk. Tetapi ketika mereka menengadahkan kepala, mereka melihat langit sudah menjadi semakin merah.
“Hampir pagi. Benar-benar hampir pagi.”
“Semuanya sudah siap. Sebentar lagi akan terdengar tanda. Sementara aku berada di sini seperti yang direncanakan. Aku akan ikut memasuki halaman istana.”
Para prajurit masih saja merasa gelisah. Agaknya beberapa orang pedagang sudah memasuki gerbang sehingga apabila timbul perang yang memencar di kota, mereka akan dapat menjadi korban.
Meskipun hal itu tidak diucapkan, namun agaknya Lembu Ampal dapat mengetahuinya, sehingga ia pun berkata, “Jangan cemas terhadap para penjual barang-barang dari luar yang memasuki gerbang kota. Mereka seluruhnya adalah orang-orang kita.”
“Ah, tidak mungkin.”
“Percayalah. Kami telah menghentikan semua orang yang akan berjualan ke kota. Membeli barang-barang mereka dan kemudian membawanya masuk. Tetapi orang-orang kita pun yang kemudian mengangkutnya ke dalam kota dalam penyamaran yang rapi.”
Para prajurit yang sudah siap itu mengangguk-angguk. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi sebentar lagi kota ini akan terbangun. Jalan-jalan akan menjadi ramai dan dengan demikian akan dapat timbul kericuhan dan korban yang tidak berarti.”
“Mudah-mudahan kita akan segera mulai.”
Dalam pada itu, kedua Panglima yang ada di dalam halaman pun menjadi semakin gelisah. Hampir saja mereka berdua mengambil sikap tersendiri menghadapi keadaan yang mereka anggap sangat gawat itu.
Namun agaknya kelambatan itu tidak berkepanjangan. Sejenak kemudian para prajurit yang ada di dalam kota telah mendengar tanda bahaya yang meledak di gerbang sebelah Utara vang kemudian menjalar keseluruh kota. Tanda yang justru dibunyikan oleh prajurit-prajurit Singasari.
Memang tanda itulah yang dipergunakan sebagai isyarat bagi seluruh kekuatan yang ada di dalam kota. Seperti yang sudah mereka bicarakan, maka keributan akan dimulai dari gerbang Utara. Pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sudah memperhitungkan, bahwa akan terdengar bunyi tanda bahaya itu. Dan tanda itu pun dipergunakan pula oleh mereka sebagai isyarat, bahwa perjuangan mereka harus segera dimulai.
Namun demikian, untuk meyakinkan apakah pasukan memang sudah siap seluruhnya, di beberapa tempat akan dilontarkan panah-panah api dan panah sendaren dengan cirinya masing-masing.
Tanda bahaya yang dibunyikan justru oleh prajurit Singasari itu benar-benar telah menggemparkan seluruh kota. Prajurit-prajurit yang tersebar itu pun segera mempersiapkan diri ditempat masing-masing.
Pada saat itu pulalah, maka setiap prajurit dari pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam mengenakan lawe berwarna putih di pergelangannya. Demikian pula setiap kekuatan yang mendukung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Prajurit-prajurit yang dipercaya oleh Tohjaya pengawal halaman tstana pun segera bersiap pula. Tohjaya sendiri berada di bangsalnya, dikelilingi oleh pengawalnya yang terpercaya dan senjata telanjang di tangannya.
“Apa yang sudah terjadi?” bertanya Tohjaya kepada pengawalnya.
“Belum ada laporan yang kami terima tuanku.” jawab Senapati yang bertanggung jawab atas keamanannya.
“Cepat, usahakan untuk mengetahui, apa yang terjadi.”
Beberapa orang pun kemudian berlari-larian di halaman. Penghubung-penghubung berkuda berderap di jalan-jalan kota.
Baru beberapa saat kemudian, Tohjaya mendengar laporan bahwa sepasukan prajurit telah memasuki kota lewat gerbang sebelah Utara, disusul oleh mereka yang memasuki kota lewat pintu gerbang sebelah Barat dan prajurit-prajurit yang merembes melalui lorong-lorong sempit.
“Bagaimana dengan prajurit-prajurit Singasari?”
“Mereka sedang berusaha menahan arus prajurit-prajurit itu.”
“Prajurit-prajurit darimanakah mereka itu?”
“Belum ada kepastian. Namun sementara dapat ditangkap keterangan bahwa mereka adalah pendukung-pendukung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
“Gila. Mereka harus dibinasakan. Perintahkan untuk menangkap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka hidup-hidup. Aku sendiri akan menghukum mereka. Aku akan menyayat kulit dan dagingnya dan membiarkan mereka mati perlahan-lahan.”
Perintah itu pun kemudian tersebar di antara para Senapati. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka harus ditangkap hidup-hidup.
Tetapi ternyata bahwa pasukan yang menyerbu ke dalam kota itu mendesak semakin dalam. Bahkan pada saatnya, para prajurit dikedua belah pihak melihat panah berapi yang melontar ke pusat kota, beberapa kali berturut-turut.
“Itu adalah isyarat, bahwa kekuatan yang ada di dalam kota pun harus mulai bergerak. Justru setelah sebagian besar prajurit Singasari dikirim ke perbatasan dan berhasil menahan arus kekuatan dari luar kota.”
“Kita harus segera mulai.” berkata Lembu Ampal.
Senapati yang bertanggung jawab pun kemudian memberikan isyarat. Beberapa orang segera berteriak bersama-sama, meneriakkan aba-aba yang kemudian disahut oleh orang-orang lain yang berpencaran di halaman-halaman.
Setiap aba yang didengar oleh kelompok-kelompok lain, segera ditirukan. Dengan demikian maka aba-aba itu pun segera merata di seluruh kota.
Para prajurit yang ada di halaman itu pun segera berloncatan keluar dari persembunyiannya. Mereka dalam waktu yang dekat telah berada di dalam kelompok-kelompok kecil. Karena jumlah mereka memang tidak begitu banyak, maka mereka pun segera memilih sasaran seperti yang sudah mereka rencanakan.
Kekisruhan segera terjadi di dalam kota. Pertempuran segera menjalar ke mana-mana.
Kelompok-kelompok terpencil yang tidak mendengar teriakan aba-aba dari induk pasukannya, berpegangan kepada isyarat yang dilihatnya.
Dengan demikian, maka kota Singasari benar-benar bagaikan diaduk oleh benturan senjata. Di mana-mana telah terjadi perang dalam kelompok-kelompok kecil.
Prajurit Singasari menjadi bingung. Mereka mendapat perintah untuk pergi ke gerbang-gerbang kota. Tetapi tiba-tiba saja mereka telah berpapasan dengan lawan yang bertebaran.
“Orang Rajasa.” teriak seorang Senapati, “Mereka telah memberontak.”
“Marilah, kita hancurkan mereka.”
Prajurit-prajurit yang merasa dirinya mendapat kepercayaan Tohjaya itu pun segera berusaha untuk menumpas orang-orang Rajasa. Tetapi dibagian lain, prajurit-prajurit itu berteriak, “Orang-orang Sinelir. Mereka mendendam karena seorang Senapatinya telah dibunuh oleh tuanku Tohjaya.”
“Binasakan mereka.”
Seorang Senapati kemudian memerintahkan seorang penghubung untuk menyampaikan kepada Senapati yang bertugas di halaman istana, bahwa di luar halaman telah terjadi benturan senjata antara orang Rajasa melawan para prajurit yang sedang, mendapat kepercayaan Maharaja di Singasari.
“Mereka iri hati dan dengki.”
Penghubung itu pun kemudian dengan hati-hati menyusup mendekati pintu gerbang istana. Ternyata bahwa halaman istana itu pun sudah menjadi sepanas bara. Isyarat yang dilihat oleh para prajurit dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam telah memperingatkan mereka, bahwa di luar halaman, perang telah berkobar.
“Kita harus menunggu sejenak.” perintah kedua Panglima yang ada di dalam halaman itu, “Kita menunggu prajurit yang ada di halaman ini berkurang.”
Seperti yang mereka perhitungkan, maka beberapa kelompok prajurit segera diperintahkan untuk membantu pengamanan di luar halaman. Tetapi Senapati yang sedang bertugas pun tidak lengah menghadapi kekuatan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di dalam halaman.
Sejenak kemudian maka Senapati itu menerima penghubung yang lain dengan nafas terengah-engah memotong, “Orang-orang Sinelir telah mengangkat senjata.”
Senapati itu menjadi marah. Ia telah memerintahkan dua orang penghubung untuk menghubungi Panglimanya. Sementara itu ia berkata, “Tentu sudah diatur sebelumnya. Aku sudah curiga sejak sore tadi. Jangan menjadi lengah. Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang ada di halaman ini pun telah bersiap. Karena itu jangan terpancing keluar semuanya. Kalian harus bersiaga di setiap pemusatan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam.”
Para prajurit itu pun ternyata mampu bergerak cepat. Ketika Panglima memasuki halaman istana, maka semua prajuritnya telah menempatkan diri menghadapi setiap kemungkinan disegala sudut halaman.
Kedua Panglima yang telah bertekad untuk mendukung Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu pun harus berhati-hati. Mereka pun menjadi kagum, bahwa Panglima prajurit kepercayaan Tohjaya itu cepat mengambil sikap dengan menempatkan prajuritnya ditempat yang paling berbahaya.
Dalam pada itu, di luar halaman, pertempuran menjadi semakin seru. Tetapi ternyata bahwa jumlah Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam tidak sebanyak prajurit-prajurit yang sudah dipersiapkan untuk melindungi kekuasaan Tohjaya.
Lembu Ampal menjadi cemas melihat pertempuran di dalam kota, tetapi di luar halaman istana itu. Karena itu, maka ia pun segera berusaha untuk menghubungi Pasukan yang ada di dalam halaman, untuk segera mulai agar prajurit-prajurit yang berada di luar halaman, sebagian terpaksa ditarik masuk ke dalam.
Tetapi Lembu Ampal pun menyadari bahwa jumlah prajurit kepercayaan Tohjaya yang berada di halaman memang cukup banyak.
Isyarat yang diberikan oleh Lembu Ampal telah dapat di tangkap oleh kedua Panglima yang ada di dalam halaman ketika tiga buah panah sendaren menyambar pepohonan di halaman.
Karena itu, maka mereka pun tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka yakin bahwa di luar halaman dan di luar kota, pertempuran sudah berkobar dengan sengitnya.
Halaman istana itu pun bagaikan terbakar oleh api dendam yang menyala di setiap dada prajurit-prajurit Singasari dikedua belah pihak. Hampir di setiap sudut dan regol telah terjadi pertempuran. Perang brubuh yang kisruh. Satu-satunya tanda di antara mereka adalah, bahwa prajurit-prajurit yang berpihak pada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mempergunakan gelang lawe berwarna putih di pergelangan tangannya.
Ketika kemudian langit menjadi cerah, maka ciri itu pun menjadi semakin jelas. Namun dengan demikian menjadi semakin jelas pula, bahwa jumlah prajurit yang berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ternyata lebih sedikit dari. jumlah prajurit-prajurit yang sudah dipersiapkan oleh Tohjaya, karena kecemasannya akan kesetiaan para Pengawal dan Pelayan Dalam.
Dalam pada itu, Tohjaya yang dikelilingi oleh prajurit-prajurit yang melindungi di istananya itu pun mengumpat-umpat tidak ada habis- habisnya. Setiap kali ia mendengar laporan tentang pertempuran yang terjadi, ia menggeram dengan garangnya.
Betapapun jarak antara Tohjaya dan ibunya serasa menjadi semakin jauh, namun dalam keadaan itu, ia berteriak kepada Panglima prajurit yang sudah ada di istana pula, “Lindungi ibunda Ken Umang sebaik-baiknya.”
“Hamba sudah mengirimkan sepasukan prajurit ke bangsal ibunda tuanku.” sahut Panglima itu, lalu, “Bagaimana dengan ibunda tuanku Ken Dedes, adinda tuanku yang lahir dari tuan puteri Ken Dedes dan keluarganya.”
Tohjaya merenung sejenak, lalu, “Biarlah mereka dibakar oleh peperangan. Tentu merekalah yang telah berkhianat. Ada firasat mengatakan, bahwa ini adalah pokal pamanda Mahisa Agni.” ia berhenti sejenak, lalu, “He, dimana pamanda Mahisa Agni?”
“Masih berada di bangsalnya. Di kawal oleh beberapa orang pengawal setia yang dibawanya dari Kediri.”
“Apakah ia tidak ikut dalam pertempuran di halaman dan di luar halaman?”
“Masih harus dilihat tuanku.”
“Persetan.” ia menggeram. Lalu, “Aku tidak peduli dengan mereka. Aku tidak membutuhkan mereka lagi. Ternyata sepanjang hidup mereka, tidak ada lain daripada mengganggu saja.”
“Maksud tuanku.”
“Panglima.” berkata Tohjaya, “Kita masih belum tahu pasti, siapakah yang telah membakar Singasari dengan peperangan ini. Aku tidak peduli siapa pun yang bersalah, tetapi dalam kekalutan ini kita dapat bertindak sekaligus. Kalian harus menyingkirkan ibunda Ken Dedes dengan segala keturunannya, pamanda Mahisa Agni dengan semua pengawalnya dan siapa pun yang berpihak kepada mereka. Aku yakin bahwa mereka terlihat ke dalam kejahatan yang terjadi ini. Tetapi bagiku perang ini akan bermanfaat. Semua orang yang tidak sejalan dengan aku, akan aku bersihkan.”
“Tuanku.” Panglima itu termangu-mangu, “Bukankah putera-putera tuan Puteri Ken Dedes itu adalah Saudara-saudara tuanku sendiri. Saudara seayah meskipun berlainan ibu.”
“Aku tidak perduli. Mereka adalah orang-orang yang dengki dan jahat. Mereka tentu mengharap aku terbakar dalam api peperangan ini.”
Panglima itu tidak berani membantah lagi. Dalam keadaan yang demikian hati Tohjaya akan sangat mudah terbakar. Karena itu maka katanya, “Baiklah tuanku, semua perintah tuanku akan hamba laksanakan.”
Panglima itu pun kemudian ke luar dari dalam biliknya. Tetapi ia masih saja ragu-ragu akan perintah Tohjaya.
“Aku tidak peduli.” akhirnya ia pun menggeram, “Aku sekedar menjalankan perintah. Mungkin memang merekalah yang telah menghasut orang Rajasa dan Sinelir untuk memberontak. Sayang, mereka adalah orang-orang yang dungu, yang tidak dapat membuat pertimbangan kekuatan. Orang-orang Sinelir dan Kajasa itu jumlahnya sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan jumlah prajurit Singasari yang ada.”
Dalam pada itu, Mahisa Wonga Teleng yang sudah dihubungi bahwa hal itu akan terjadi, telah mengumpulkan adik-adiknya di bangsal ibundanya Ken Dedes. Dibawah perlindungan beberapa orang pengawal terpilih, mereka pun telah bersiap dengan senjata masing-masing untuk menghadapi segala, kemungkinan.
Pertempuran yang berkobar di halaman itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Meskipun sebagian dari para prajurit telah keluar dari halaman untuk melawan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di luar halaman, namun ternyata kekuatan mereka di halaman itu masih cukup besar untuk menekan orang-orang Rajasa dan Sinelir.
Kedua orang Panglima dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam itu pun telah turun sendiri kedalam medan pertempuran, sehingga karena itu, maka keduanya bersama beberapa orang pengawalnya telah mengikat dua kelompok prajurit lawan untuk menahan mereka.
Sementara itu, Mahisa Agni masih tetap berada di bangsalnya. Tetapi ia sudah menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Ia sudah memerintahkan kepada pengawal-pengawalnya khususnya untuk memperhatikan isyarat yang akan diberikan oleh Mahisa Wonga Teleng apabila keadaan memaksa.
Namun ternyata bahwa sesuai dengan perintah Tohjaya, sekelompok prajurit pilihan telah menyerbu ke dalam bangsal itu, bersamaan waktunya dengan kelompok yang lain yang menyerang bangsal Ken Dedes yang dipertahankan oleh pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang terpilih bersama Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya.
Mahisa Agni yang memang sudah siap itu pun segera memerintahkan pengawalnya untuk menyambut serbuan itu. Bukan saja orang Rajasa dan Sinelir, tetapi bahwa Mahisa Agni sendiri bersama para pengawal khususnya, telah berada di gerbang bangsalnya pula.
“Bukan kita yang menyerang, tetapi Tohjaya.” berkata Mahisa Agni, “Karena itu, kita harus mempertahankan diri sebaiknya. Aku sendiri akan memimpin perlawanan itu di sini.”
Para Pengawal dan Pelayan Dalam yang jumlahnya tidak begitu banyak itu pun menjadi berbesar hati. Mereka mengenal baik-baik, siapakah Mahisa Agni itu.
Pertempuran di halaman yang menjadi semakin sengit itu pun menjadi bertambah-tambah lagi. Sekelompok prajurit telah menyerbu langsung ke pintu gerbang bangsal Mahisa Agni.
Tetapi para prajurit yang mempertahankan bangsal itu pun telah siap menyambut mereka. Beberapa orang pengawal khusus yang selama itu berada bersama Mahisa Agni, segera berpencar. Selain tanda yang sudah disetujui bersama, gelang lawe wenang yang berwarna putih, maka di leher mereka masih tetap membelit sehelai kain putih sebagai pertanda bahwa perang yang mereka lakukan adalah perang tanpa mengenal surut. Yang mereka pilih adalah dua kemungkinan. Menang atau mati. Tanpa pilihan ketiga, mengundurkan diri.
Demikianlah pertempuran telah pecah pula di depan bangsal Mahisa Agni. Seorang Senapati yang memimpin prajurit-prajurit yang menyerang bangsal itu, berusaha untuk sekaligus memukul para pengawal dan membinasakannya sebelum mereka sempat berbuat terlampau banyak.
Tetapi para prajurit itu ternyata menjumpai perlawanan yang mengejutkan. Orang-orang berkalung sehelai kain putih itu ternyata langsung menyergap mereka dan menusuk ke dalam barisan prajurit-prajurit yang menyerang itu. Disusul oleh sergapan para prajurit dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang merasa dirinya seakan-akan telah mengenakan selembar kain putih melilit dileher mereka pula.
Di antara mereka itu terdapat seorang yang untuk sejenak mengamati pertempuran itu dengan kening yang berkerut merut.
Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Alangkah rakusnya manusia. Mereka yang mempunyai akal budi, masih harus menyelesaikan persoalan di antara mereka dengan kekerasan. Seakan-akan manusia itu tidak dapat berbicara yang satu dengan yang lain untuk menyesuaikan kepentingan masing-masing.” Namun kemudian Mahisa Agni meraba dadanya sendiri sambil berkata, “Termasuk aku sendiri.”
Mahisa Agni yang sedang merenung itu tiba-tiba terkejut ketika sebuah tombak terjulur ke dadanya. Dengan cekatan ia bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya. Namun dengan demikian ujung tombak itu meluncur tanpa menyentuh sasarannya sama sekali.
Ketika orang yang menyerangnya itu kemudian menarik tombak pendeknya dan melangkah surut, maka Mahisa Agni pun melihat bahwa orang itu adalah Senapati yang bertugas mempimpin pasukan yang menyerang bangsalnya. Bersama dengan dua orang pengawalnya mereka berusaha untuk mengurung Mahisa Agni, agar tidak mengacaukan pasukannya yang sedang bertempur di muka bangsal itu.
“Apakah kau menyadari apa yang kau lakukan?” bertanya Mahisa Agni.
Senapati itu tidak menjawab. Dengan garangnya ia menyerang, disusul dengan serangan beruntun dari kedua orang pengawalnya. Namun Mahisa Agni masih sempat mengelakkan serangan itu. Dengan sigapnya ia bergeser dan meloncat. Kemudian hampir di luar pengamatan lawannya ia sudah berada di luar kepungan ketiga orang itu.
“Aku masih ingin berbicara.” berkata Mahisa Agni yang belum memegang senjata apapun, “Apakah kalian mau mendengar?”
Senapati itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia menyerang sekali lagi dengan dahsyatnya. Tetapi serangannya sama sekali tidak berarti.
“Hentikan sejenak. Aku akan berbicara.” berkata Mahisa Agni pula.
Tetapi, Senapati itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia semakin merasa terhina dengan sikap Mahisa Agni itu. Karena itu, ia pun segera mempersiapkan diri untuk menyerangnya pula dengan tombak pendeknya.
Namun dalam pada itu, kedua pengawalnya menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni. la sama sekali tidak memegang senjata apapun di medan perang yang semakin seru itu. Bahkan ia masih saja mengelak sambil berusaha untuk berbicara kepada lawannya.
“Dengarlah.” desis Mahisa Agni.
“Tidak ada yang dibicarakan.” teriak Senapati itu, lalu, “Bunuh semua orang Rajasa dan Sinelir. Bunuh semua pengawal berkalung kain putih itu. Aku akan membunuh Mahisa Agni.”
“Jadi kau tidak mau berbicara lagi.” bertanya Mahisa Agni.
Senapati itu tidak menyahut. Tetapi ia berteriak kepada kedua pengawalnya, “Jangan tidur. Orang ini harus dibunuh.”
“Kalian tidak akan dapat membunuh aku.” berkata Mahisa Agni, “Jika kau berkeras hati, maka kau dan seluruh anak buahmu akan terbunuh di sini.”
“Persetan. Jangan terlampau sombong.”
“Akulah yang telah menaklukkan Kediri bersama Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Tidak ada orang lain yang dapat mengalahkan aku di seluruh Singasari. Yang dapat menyamaiku hanyalah Sri Rajasa, dan kini tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
Kata-kata itu menyentuh hati Senapati yang bersikap melawannya membabi buta. Namun kemudian ia menggeram, “Jangan sombong. Kau pun akan mati. Aku adalah Senapati terpercaya. Aku mendapat tugas untuk membunuhmu. Dan kau jangan mencoba menakut-nakuti aku.”
Mahisa Agni menarik nafas. Ia sudah berusaha. Bahkan dengan menakut-nakuti dan menyebut-nyebut nama Sri Rajasa agar Senapati itu mau diajak berbicara. Tetapi prajurit-prajurit itu pun agaknya seorang prajurit yang keras hati.
Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Mahisa Agni dari pada bertempur. Dan ia pun kemudian sudah siap untuk melakukannya setelah usahanya untuk berbicara sia-sia.
Karena itulah maka Mahisa Agni pun kemudian menarik pedangnya yang disarungkannya di lambung kirinya.
Sekejap kemudian, maka Senapati pun itu pun telah mengulang serangannya bersama kedua pengawalnya. Hampir bersamaan dari arah yang berlainan.
Tetapi kini Mahisa Agni tidak lagi sekedar menghindar dan berloncatan. Ia sudah memegang senjata ditangannya. Karena itulah, maka ia pun segera mempergunakannya.
Dengan tangkasnya Mahisa Agni mengelak sekaligus menangkis serangan yang lain. Namun hampir diluar kemampuan pengamatan lawannya, pedang Mahisa Agni pun segera berputar.
Sebuah benturan yang keras segera terjadi. Terdengar sebuah keluhan tertahan. Seorang dari ketiga lawan Mahisa Agni itu segera meloncat mundur sambil memegang pergelangan tangannya yang berdarah, sedang senjatanya telah terlempar beberapa langkah daripadanya.
“Menyingkirlah.” geram Mahisa Agni, “Jika kau tidak mendekat aku lagi, dan tidak ikut campur di dalam pertempuran ini kau akan mendapat kesempatan hidup.”
Orang itu tidak menjawab. Sementara itu lawan-lawan Mahisa Agni yang lain telah menyerangnya pula. Tetapi serangan mereka sama sekali tidak menyentuh sasarannya.
Orang yang terluka itu berdiri termangu-mangu. Namun ketika dilihatnya seorang prajurit yang terkapar di tanah dengan sebuah tombak masih digenggamnya, maka ia pun segera memungut tombak itu.
Sejenak ia termangu. Kemudian dengan hati-hati ia mendekati Mahisa Agni. Tombak yang dipungutnya itu pun dipeganginya dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya yang terluka.
Tiba-tiba, ketika ia sudah membidik dengan saksama, tombak itu dilemparkannya kearah punggung Mahisa Agni yang sedang berusaha menangkis serangan seorang lawannya.
Tetapi ternyata bahwa Mahisa Agni tidak lengah. Ia dapat melihat sekilas lontaran tombak itu, sehingga ia sempat memiringkan tubuhnya sambil bergeser sejengkal.
Tetapi tombak itu tidak terlempar dengan sia-sia. Sejenak kemudian terdengar teriakan nyaring. Tombak itu ternyata telah terhunjam ke dalam perut kawan prajurit yang melontarkannya itu sendiri.
Seketika orang itu terlempar dan terbanting di tanah, untuk tidak bangkit lagi seIama-Iamanya.
“Gila, gila.” prajurit yang melontarkan tombak itu berteriak. Kemarahan yang memuncak telah mencengkam otaknya. Demikian pula Senapati yang bersama mereka telah melawan Mahisa Agni itu.
Tetapi kemarahan mereka tidak banyak memberikan arti Mahisa Agni pun kemudian melihat kenyataan, bahwa jumlah orang-orang Rajasa dan Sinelir yang tidak begitu banyak itu mulai terdesak. Bukan saja dihadapan bangsal Mahisa Agni. Tetapi agaknya di mana-mana, di seluruh sudut halaman istana itu.
Karena itu, memang tidak ada jalan lain daripada mengurangi jumlah lawannya. Dan jika di antara mereka itu terbunuh, hal itu tentu tidak akan dapat dihindarinya lagi. Juga apabila pada suatu saat, ia sendirilah yang terbunuh di peperangan itu.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni pun telah melibatkan diri benar-benar di dalam pertempuran dan pertumpahan darah. Apalagi ketika ia melihat seorang pengawalnya yang berciri sehelai kain putih dilehernya telah terbaring di tanah. Lambungnya menganga tersayat oleh ujung pedang, sedang darahnya mengalir bagaikan terperas dari tubuhnya.
Mahisa Agni menggeram.
Ia sempat melihat pengawalnya yang lain masih bertempur dengan gigihnya di antara orang-orang Rajasa dan Sinelir yang berciri lawe di tangannya.
Ketika Mahisa Agni dengan tidak sengaja melihat ujung tombak seorang prajurit lawannya, menyentuh punggung seorang pengawalnya yang lain, sehingga pengawalnya itu terluka parah, dan kemudian seorang Rajasa berdesis menahan sakit ketika lengannya nyaris putus oleh sabetan pedang, dada Mahisa Agni bagaikan mendidih. Perlahan-lahan Mahisa Agni hanyut di dalam arus kekerasan yang terjadi diarena peperangan itu.
Bahkan kemudian Mahisa Agni tidak dapat menahan hatinya lagi ketika seorang lagi Pelayan Dalam yang jatuh di tanah karena lambungnya ditembus oleh ujung tombak.
Mahisa Agni menggeram. Ia harus menghentikan jatuhnya korban-korban baru dipihaknya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat dengan garangnya sambil menggerakkan pedangnya.
Ia tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengakhiri perlawanan Senapati yang menahan serangannya. Senapati itu pun segera terlempar sambil mengerang.
Mahisa Agni tidak menghiraukannya lagi, apakah Senapati itu mati atau sekedar terluka. Mahisa Agni pun kemudian dengan sengitnya bertempur melawan prajurit-prajurit yang telah menyerang bangsalnya itu.
Sesaat setelah Mahisa Agni ikut langsung di dalam peperangan itu, segera terjadi perubahan di arena. Prajurit-prajurit itu tidak lagi berhasil mendesak orang-orang Rajasa dan Sinelir beserta pengawal khusus Mahisa Agni yang bertempur tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa Senapatinya telah terbunuh atau terluka parah dan terbaring di pinggir arena tanpa bergerak sama sekali.
Prajurit itu bagaikan kehilangan ikatan. Mereka seolah-olah bertempur menurut kemauan masing-masing. Sehingga dengan demikian maka ikatan kesatuan mereka pun menjadi retak dan akhirnya pecah sama sekali.
Pengawal-pengawal Mahisa Agni bersama orang-orang Rajasa dan Sinelir tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya.
Dengan demikian, maka pertempuran di depan bangsal Mahisa Agni itu pun mempunyai akhir yang agak berbeda dengan pertempuran-pertempuran yang lain. Pada umumnya para prajurit yang mendukung Tohjaya berhasil mendesak lawannya. Tetapi mereka yang melawan Mahisa Agni dengan pengawalnya yang di lehernya dibelitkan kain putih yang bertempur bersama-sama dengan orang-orang Rajasa dan Sinelir, telah terdesak dan bahkan kepungan mereka telah dipecahkan.
Namun ternyata bukan pecahnya kepungan para prajurit itu tidak hanya terjadi dibangsal Mahisa Agni. Dimuka gardu peronda di sudut halaman dalam, kepungan para prajurit itu pun dapat dipatahkan. Di regol itu berjaga-jaga sekelompok prajurit dari Pasukan Pengawal yang langsung dipimpin oleh Panglimanya sendiri, sehingga dengan demikian maka mereka telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada. Seperti para pengawal yang bertempur bersama Mahisa Agni, maka mereka pun hanya mempunyai dua pilihan. Menang atau mati.
Tetapi masih ada satu tempat lagi yang berhasil menyobek kepungan para prajurit. Didepan bangsal Tuan Puteri Ken Dedes, Mahisa Wonga Teleng bertempur mati-matian. Bersamanya adalah Panglima Pelayan Dalam yang dengan cemas telah berusaha untuk melindungi keluarga Ken Dedes yang agaknya menjadi sasaran kemarahan Tohjaya.
Mahisa Wonga Teleng memang tidak mempunyai pilihan lain. Bersama adik-adiknya dan Panglima Pelayan Dalam ia memimpin orang-orang Rajasa dan Sinelir menghancurkan prajurit vang mencoba menyergap bangsal itu.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang sudah bebas dari ancaman para prajurit itu pun kemudian memanggil Senapati yang ditugaskan oleh orang-orang Rajasa dan Sinelir. Dengan singkat mereka berunding untuk mengatasi kesulitan yang timbul di halaman itu.
“Kita tidak akan dapat tinggal diam. Setelah kita berhasil mengusir prajurit-prajurit itu, kita harus bertindak lebih jauh.” berkata Mahisa Agni, “Kita tidak yakin apakah kawan-kawan kita berhasil mempertahankan diri.”
“Jadi maksud tuan?” bertanya Senapati dari Pasukan Pengawal.
“Kita pergi kebangsal Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Aku sependapat tuan.” potong Senapati Pelayan Dalam, “Mudah-mudahan mereka masih dapat bertahan.”
Mahisa Agni pun kemudian memimpin sekelompok pasukannya melintasi halaman. Di beberapa tempat mereka memang harus berhenti sejenak. Tetapi mereka mencoba menghindari pertempuran yang dapat mengikat mereka.
“Cepat.” berkata Mahisa Agni.
Tetapi sekelompok prajurit yang melihatnya tidak melepaskannya. Mereka pun dengan serta merta telah mengejar sekelompok lawan yang mengikuti Mahisa Agni.
“Jangan hiraukan. Adalah kebetulan sekali jika mereka mengikuti kita. Lawannya akan sedikit mendapat keringanan.”
Pengikut-pengikut Mahisa Agni itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun sependapat.
Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Agni, maka orang-orang Sinelir dan Rajasa yang sedang bertempur dan ditinggalkan oleh sebagian dari lawan-lawannya menjadi agak lapang. Mereka tidak harus memeras keringat sampai titik terakhir, dan kemudian dengan terengah-engah mencoba menyelamatkan hidup mereka.
Ketika Mahisa Agni mendekati bangsal Tuan Puteri Ken Dedes, maka hatinya menjadi lega. Ia melihat bahwa Mahisa Wonga Teleng dan Panglima Dalam yang bertempur di sekitar bangsal itu telah berhasil mendesak lawannya sehingga sebagian besar dari mereka telah terusir. Yang masih ada hanyalah orang-orang yang keras kepala dan tidak mau melihat kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat berhasil menerobos memasuki bangsal itu.....
Bersambung... ..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar