*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 19-01*
Karya. : SH Mintardja
Kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya merasakan sentuhan yang sejuk. Rasa-rasanya kuwajiban yang terberat telah lampau.
Meskipun begitu keduanya mengerti bahwa kewajiban itu sebenarnya tak akan berkurang beratnya. Selagi masih ada persoalan yang tumbuh dalam lingkungannya, maka selama itu kewajibannya justru masih akan berkembang.
“Hubungan yang tali temali itulah.” berkata anak-anak muda itu di dalam dirinya.
Namun mereka pun mengerti, bahwa pada Suatu saat, mereka harus berhasil melihat jarak antara dunia di dalam dirinya, dunia kecil dari keseluruhan pribadinya, dengan dunia yang luas, sehingga mereka masing-masing akan dapat menempatkan diri pada tempat yang benar. Pada waktu dan tempat yang tepat dan seimbang.
Dan ayahnya pun pernah berkata, “Dengan demikian, meskipun kalian tidak akan dapat memecah diri dari kesatuan lingkungan dunia yang luas. karena kalian memang merupakan bagian mutlak daripadanya, namun kalian bukan sekedar permainan putaran dunia yang luas. Jika kalian berhasil, maka kalian justru akan menjadi penggerak dari putaran dunia yang luas di sekelilingmu menurut irama dan nada yang kau kehendaki. Dengan demikian maka kalian akan disebut menjadi orang besar.”
Kedua anak-anak muda itu menjadi tegang. Namun ayahnya berkata, “Tetapi mungkin hanya ada satu orang di setiap jaman, seseorang disebut orang besar yang karena pengaruh pribadinya justru menjadi penggerak dari dunia luas. Karena itu kalian tidak usah memaksa diri untuk mendapatkan gelar itu. Namun setidak-tidaknya kalian menyadari perjalanan hidup kalian dunia kecil di dalam arus putaran dunia yang besar. Dengan tekun kalian harus berusaha mengurai ikatan tali temali itu, sehingga kalian adalah pribadi-pribadi yang sadar sepenuhnya akan kedudukan kalian, pada waktu dan tempat disatu saat.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sadar, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat menguasai saluruhnya seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Tetapi semisal orang berjalan, maka ia telah mendapat petunjuk arah yang harus mereka tempuh.
Namun dalam pada itu, Mahendra masih selalu menyisihkan waktu bagi dirinya sendiri dan bagi kedua anaknya itu untuk menyempurnakan ilmu mereka. Mahendra berusaha untuk menumbuhkan pengalaman bagi anak-anaknya sehingga sifat dan watak dari ilmunya akan segera luluh dalam sikap pribadinya masing-masing.
Dengan demikian maka dalam lingkungan kecil itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat setiap saat telah tumbuh menjadi semakin dewasa dan masak.
Tetapi pada suatu saat, kedua anak-anak muda itu tidak dapat lagi menahan keinginan mereka, sehingga Mahisa Murti telah memberanikan diri bertanya kepada ayahnya. “Ayah, kapan kita pergi menyusul kakang Mahisa Bungalan?”
Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Jawabnya, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bukankah kalian mendengar sendiri pesan pamanmu Mahisa Agni. Selama ini ayah harus sering menghadap ke istana Singasari. Agaknya Singasari kini memang sedang dibayangi oleh kemuraman. Meskipun Singasari masih ada Senapati yang pilih tanding, tetapi pertimbangan orang lain, seperti ayah yang tinggal di daerah terpencil dan kecil inilah yang tidak dimiliki oleh mereka yang tinggal di Kota Raja. “
Kedua anak-anaknya menjadi kecewa, tetapi mereka tidak dapat memaksa ayahnya untuk pergi menyusul Mahisa Bungalan ketempat yang tidak diketahui, karena mereka memang mendengar pesan Mahisa Agni itu kepada ayahnya.
“Baiklah pada waktu yang dekat kalian akan aku bawa saja ke Kota Raja. Tetapi hati-hatilah. Kalian pernah mengalami perlakuan yang berbahaya. Untunglah kalian masih dapat mempertahankan diri karena orang itu terlampau bodoh. Tetapi peristiwa itu merupakan pengalaman, bukan saja pengalaman bagimu, namun juga pengalaman bagi orang yang sampai saat terakhir tidak diketahui maksudnya dan dari pihak yang mana.”
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.
Namun demikian Mahisa Pukat masih juga berdesis, “Aku sudah pernah melihat Kota Raja. Sebenarnya perjalanan ke Kota Raja adalah perjalanan kecil dan terlampau dekat.”
Mahendra tertawa. Katanya, “Kau ingin berjalan jauh sekali? Baiklah. Tetapi lain kali, pada kesempatan yang tepat.”
Mahisa Murti yang kecewa tidak menyambung. Tetapi wajahnya nampak suram, betapapun ia berusaha untuk menghapus kesan itu.
Pada saat yang direncanakan, maka Mahendra pun kemudian bersiap-siap membawa kedua anaknya pergi ke Singasari. Tetapi tidak ada yang menarik bagi keduanya. Kota Raja itu pernah di lihatnya. Ramai dan banyak barang-barang yang tidak pernah dilihatnya di daerah kecil itu. Tetapi sebagai pedagang, ayahnya sering membawa barang-barang itu bagi mereka, jika ayahnya pulang dari perjalanan dagangnya.
“He, kenapa kita tidak minta saja kepada ayah untuk ikut berdagang? Dengan demikian kita akan dapat melihat daerah yang jauh dan sekaligus kita belajar membantu ayah.” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi ayah sekarang jarang-jarang pergi. Bahkan terikat kepada pesan paman Mahisa Agni.” jawab Mahisa Pukat.
“Tentu tidak, Ayah tentu masih akan selalu pergi mengurus pekerjaannya, meskipun harus dilakukan sambil melakukan pesan paman Mahisa Agni, karena keduanya dapat dilakukan bersama-sama.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menyahut.
Tetapi semuanya itu masih merupakan keinginan bagi kedua anak muda itu. Keduanya masih belum dapat mengatakannya kepada ayahnya, bahwa mereka ingin ikut dalam setiap perjalanan, agar mereka dapat melihat tempat-tempat yang jauh.
Agaknya Mahendra dapat menangkap perasaan kedua anaknya, bahwa ada sesuatu yang tersimpan di dalam hati. Menilik sikap dan kadang-kadang pembicaraan yang terputus, Mahendra menduga bahwa anak-anaknya ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi keduanya tidak berani menyatakannya.
“Tentu bukan keinginan mereka untuk menyusul Mahisa Bungalan.” berkata Mahendra di dalam hati, “Hal itu sudah dikatakannya.”
Tetapi karena Mahendra telah menolak permintaan itu, maka agaknya keduanya tidak berani menyatakan keinginannya yang lain, yang barangkali serupa saja.
Meskipun demikian Mahendra berusaha untuk mengetahui keinginan anaknya itu. Katanya, “Mahisa Murti dan Ma bisa Pukat. Dengan menyesal ayah tidak dapat membawa kalian pergi jauh seperti yang kalian inginkan. Setiap kali ayah harus menghadap ke Singasari sesuai dengan pesan pamanmu Mahisa Agni, dan di hari-hari yang terluang, ayah harus mengurus pekerjaan ayah. Meskipun pekerjaan itu tidak seberat pada saat-saat ayah merintis hubungan dagang dengan orang-orang tertentu, tetapi ayah juga tidak akan dapat mengabaikannya sama sekali, agar hubungan itu tetap terjalin. Tetapi barangkali kalian berdua masih mempunyai keinginan lain yang barangkali dapat aku penuhi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu Mahisa Murti berkata, “Ayah, memang ada keinginan kami untuk memohon sesuatu kepada ayah. Tetapi kami agak takut, karena persoalannya memang hampir serupa dengan keinginan kami untuk pergi jauh sekaIi, tidak sekedar pergi ke Kota Raja.”
Mahendra tersenyum. Katanya, “Katakan. Barangkali aku dapat mempertimbangkan.”
“Ayah.” berkata Mahisa Murti. Namun nampaknya ia masih saja ragu-ragu. “Apakah ayah dapat mempertimbangkan, agar kami pada suatu saat diperkenankan mengikuti ayah dalam perjalanan dagang. Bukankah dengan demikian kami akan dapat mempelajari seluk beluknya dan pada suatu saat dapat membantu ayah?”
Mahendra tertawa. Katanya, “Kalian memang cerdik. Tetapi perjalanan ayah adalah jarang sekali ayah lakukan. Seperti kalian mengetahui ayah hanyalah pedagang perantara yang membawa barang-barang berharga dan batu-batu yang bernilai tinggi itu dari mereka yang memperdagangkannya di satu tempat ke tempat yang lain dengan sekedar mendapat pembagian keuntungan?”
“Tetapi itu adalah tugas yang berat ayah. Bukankah pada suatu saat ayah datang lagi kepada orang itu untuk mengambiI sisa barang yang tidak terjual dan uang hasil penjualan itu atau barang-barang lain yang bernilai sama?” sahut Mahisa Pukat.
Mahendra masih tertawa.
“Ternyata kau sudah mengetahui serba sedikit pekerjaan ayah.”
“Ya. Itu adalah tanggung jawab yang kadang-kadang harus dilambari dengan kemampuan bertempur.”
“Ah.” potong Mahendra, “Itu tidak mutlak. Jika kita pandai membawa diri, maka kemungkinan terjadi kekasaran itu kecil sekali. Ayah berhubungan dengan orang-orang yang sudah ayah kenal dengan baik dan dapat dipercaya, sehingga perselisihan mengenai hal itu dapat dibatasi sampai sekecilnya, bahkan hampir dapat dikatakan, bahwa ayah tidak pernah melakukan kekerasan dalam persoalan ini. Bahkan pada saat-saat tertentu, jika ayah terlibat dalam persoalan yang memerlukan waktu yang agak panjang, bersama paman-pamanmu Mahisa Agni dan. Witantra, persoalan barang-barang itu tidak pernah menimbulkan kesulitan apapun.”
“Tetapi di perjalanan ayah dapat bertemu dengan penyamun.” potong Mhisa Murti.
“Ya.” Mahendra mengangguk-angguk.
“Karena itulah, maka jika ayah mengijinkan, kami ingin ikut dalam perjalanan ayah itu. Barangkali kami pada suatu saat dapat membantu ayah. Jika kami sudah dikenal oleh kawan-kawan ayah itu, maka kami berdua dapat melakukan sebagian kecil dari tugas ayah.”
“Kalian memang cerdik.” berkata Mahendra, “Baiklah. Pada suatu saat kalian akan aku bawa.”
“Pada suatu saat.” desis Mahisa Pukat.
Mahendra tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan kecewa. Pada suatu saat yang pendek. Setelah aku menghadap ke Singasari aku akan pergi. He. apakah kalian jadi ikut ke Kota Raja?”
Kedua anak-anak muda itu menggeleng, seolah-olah mereka telah bersepakat.
Tetapi tiba-tiba saja terbersit kekhawatiran di hati Mahendra meninggalkan kedua anak laki-lakinya. Orang-orang berilmu hitam yang kehilangan orang-orangnya, dan tentu mereka telah mendengar pula sebutan pembunuh orang berilmu hitam bagi Mahisa Bungalan, akan dapat membahayakan anak-anaknya. Karena itu maka katanya kemudian, “Sebaiknya kalian ikut bersamaku ke Kota Raja.”
“Kami menunggu ayah di rumah.” jawab Mahisa Murti.
“Bagaimana jika ayah langsung pergi mengurusi pekerjaan ayah itu agar ayah dapat menghemat waktu dan perjalanan?”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Desisnya, “Apaboleh buat.”
Mahendra tidak dapat menahan tertawanya pula. Katanya, “Aku tidak memaksa. Kalian dapat memilih.”
Kedua anak-anaknya itu berpikir sejenak. Mahisa Murti lah yang kemudian menyahut, “Baiklah ayah, kami akan ikut ke Kota Raja, tetapi dengan harapan untuk terus pergi ke tempat yang jauh. Adalah menyenangkan sekali jika kami akan menyusul kakang Mahisa Bungalan.”
Mahendra pun mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Baiklah. Aku tidak ingin terlalu banyak membuat kalian menjadi kecewa.”
Demikianlah maka Mahendra pun segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Kota Raja. Meskipun sebenarnya ia tidak perlu tergesa-gesa, namun ia tidak mau melihat anaknya menjadi jemu di rumah dan berbuat sesuatu yang tidak dikehendakinya.
“Lebih baik aku membawa mereka pergi, daripada mereka pergi tanpa minta ijin terlebih dahulu.” pikir Mahendra.
Perjalanan berkuda yang kemudian mereka tempuh adalah perjalanan yang sama sekali tidak menarik bagi kedua anak muda itu. Seperti orang-orang lain yang bepergian untuk keperluan yang wajar, mereka pergi ke Kota Raja. Bahkan rasa-rasanya perjalanan itu hanya membuang-buang waktu saja.
Di sepanjang jalan, mereka memandang tanah persawahan dengan hati yang kosong. Persawahan yang hampir setiap kali dilihatnya. Bahkan ketika mereka memasuki hutan pun , mereka sama sekali tidak tertarik kepada kicau burung liar yang berterbangan dari dahan ke dahan.
Mahendra dapat mengerti perasaan kedua anaknya. Karena itu ia pun tidak banyak berbicara, karena setiap kali kedua anaknya hanya menjawab dengan kalimat-kalimat yang pendek.
Pada saat Mahendra dan kedua anak-anaknya mendekati Kota Raja maka di tempat yang agak tersembunyi, beberapa orang sedang berkumpul. Agaknya mereka dengan sengaja mengadakan sebuah pertemuan yang tidak boleh dihadiri oleh orang-orang lain yang bukan lingkungan mereka.
“Jadi orang yang kemudian menyebut dirinya Tapak Lamba itu sudah datang kepadamu?” bertanya seseorang yang agak kekurus-kurusan.
“Ya.” jawab Ki Buyut di Pengasih, “Aku.tidak dapat menahannya lebih lama lagi, karena agaknya ia mempunyai pembicaraan tersendiri dengan orang yang disebutnya bernama Linggapati dan Linggadadi.”
Orang yang agak kekurus-kurusan itu mengangguk-angguk.
“Menurut orang yang kemudian menyebut dirinya Tapak Lamba itu, Linggadadi adalah orang yang memiliki ilmu yang tiada taranya. Bahkan ia menyebut-nyebut kemungkinan bahwa ilmu orang itu sebanding dengan ilmu orang-orang terkemuka di Singasari.”
Orang yang kekurus-kurusan itu tertawa. Katanya, “Itu sudah berlebih-lebihan. Jika yang dimaksud adalah para Senapati dan Panglima muda yang sekarang sedang berkembang di dalam lingkungan keprajuritan Singasari aku percaya. Tetapi jika yang dimaksud adalah para Senapati dan pimpinan keprajuritan yang tua, seperti Mahisa Agni, Panji Pati-pati dan sebagainya, maka ceritera itu adalah ceritera khayalan saja.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudain katanya, “Aku memang sedang mencoba memperbandingkan. Di padukuhanku pernah hadir orang-orang berilmu hitam. Menurut Tapak Lamba, orang-orang berilmu hitam itu tentu tidak akan dapat mengalahkan Linggadadi, sehingga dengan demikian aku mendapat gambaran kemampuannya.”
“Kau percaya? Apakah orang-orang berilmu hitam itu memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari kemampuanmu dan orang yang kemudian mengganti namanya dengan Tapak Lamba itu?”
“Ya. Meskipun mungkin aku masih dapat mempertahan diri melawan mereka seorang demi seorang. Tetapi setelah mereka bergabung menjadi satu, maka mereka yang berjumlah tiga orang itu benar-benar merupakan kekuatan yang mengerikan sekali.”
“Bagaimana mungkin kau dapat menyelamatkan dirimu dari mereka bertiga?”
“Seorang anak muda bernama Mahisa Bungalan telah hadir dengan kebetulan. Anak muda itulah yang membinasakan ketiga orang berilmu hitam itu.”
“Mahisa Bungalan anak Mahendra?”
“Ya.”
“Yang kemudian disebut Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam?”
“Ya. Aku juga mendengar bahwa orang berilmu hitam yang berada di dalam Kota Raja ini pun telah dibunuhnya.”
“Dan kau tahu siapa Mahendra?”
“Pada masa kekuasaan tuanku Tohjaya surut, namanya memang pernah disebut-sebut diantara nama Mahisa Agni dan Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati.”
“Nah. ternyata ingatanmu baik sekali. Bukankah dengan demikian kau dapat membuat perbandingan antara orang orang berilmu hitam, Linggadadi menurut ceritera Tapak Lamba dan Mahendra yang berada dalam satu jenjang dengan Mahisa Agni?”
“Ya.” Ki Buyut mengangguk-angguk, “Aku menjajarkan Linggadadi dengan Mahisa Bungalan. Tidak dengan Mahisa Agni.”
“Nah apa kataku. Tentu harus diperbandingkan dengan anak-anak muda yang sedang berkembang sekarang yang agaknya akan dapat menggantikan kedudukan mereka yang menjadi semakin tua seperti Mahisa Agni. Betapapun saktinya orang itu, dan bahkan dapat disejajarkan dengan tuanku Sri Rajasa, namun ia tidak akan dapat melawan umurnya, sehingga pada suatu saat ia akan menghadapi maut yang dipaksakan oleh ketuaannya, kapan pun saat itu baru akan datang.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Bahkan kemudian ia berdesis, “Semuanya telah berkembang dan melimpah kepada yang muda. Tetapi aku belum berbuat apa-apa sekarang ini.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka pun bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan?”
“Berbuat sesuatu untuk yang muda di padukuhan. Maksudku aku belum mempunyai arti apapun bagi anak-anak kita karena selama ini aku tidak mempunyai suatu kesempatan. Bukan karena aku selalu sibuk, tetapi justru karena aku tenggelam dalam perbuatan yang tidak berarti sama sekali bagi masa depan anak-anak kita.”
“Lalu.”
“Jika saja aku dapat menebus kelambatan itu. Meskipun hanya setitik kecil dari curahan hujan yang deras dari langit, agaknya aku akan merasa berbahagia.” berkata Ki Buyut di Pengasih, “Nah, apakah kalian mengerti? Dan apakah kalian mempunyai perasaan yang sama seperti aku?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
“Mungkin pada suatu saat Tapak Lamba akan datang kepada kalian dan mengajak kalian ikut didalam gerakan Linggadadi seperti yang pernah dikatakan kepadaku. Memang perbuatan itu mengandung harapan. Bukan saja buat diri sendiri dan masa depan anak-anak kita. Tetapi yang akan terjadi adalah justru pertentangan dan bahkan mungkin pertumpahan darah. Nah. apakah kita masih haus melihat darah tertumpah? Di padukuhanku, saat aku masih berada dibawah pengaruh orang-orang berilmu hitam hidupku benar-benar dilumuri dengan darah sesama, sehingga aku menjadi seperti orang yang tidak mempunyai kesadaran lagi. Lebih berbahaya dari orang gila, karena aku masih sempat mempergunakan akal untuk menjebak orang lain dan memeras darahnya.”
“Kau tentu sudah muak melihat darah.” desis salah seorang kawannya.
“Ya.”
“Tetapi kita adalah prajurit.” berkata yang lain, “Pada masa kekuasaan tuanku Tohjaya, aku adalah seorang Senapati.”
“Tetapi masa itu sudah lampau, dan kita tidak akan dapat kembali lagi dan merindukannya. Marilah kita melihat masa kini dan masa depan. Apakah kita masih saja bersifat kekanak-kanakan dengan segala macam tingkah. Kita bukan lagi anak-anak muda yang bangga karena telah berani melanggar ketentuan dan larangan-larangan. Kita bukan anak-anak muda yang dengan dada tengadah melihat pertentangan yang tumbuh karena sikap kita yang dungu.”
Kawannya mengyangguk-angguk. Salah seorang dari mereka bertanya, “Jadi apakah yang kau harapkan dari kita?”
“Kawan-kawan.” berkata orang itu, “Kita pertama-tama merasa bersukur bahwa tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka tidak dilambari dengan perasaan dendam di dalam hati, selagi mereka memegang pimpinan pemerintahan sekarang ini. Karena itu, kita tidak merasa diri kita selalu dikejar-kejar oleh kecemasan dan ketakutan.”
“Ya. Tetapi kau belum mengatakan maksudmu yang sebenarnya. Mungkin kami dapat mempertimbangkan dengan sebaiknya.”
“Baiklah.” berkata Ki Buyut, “Aku sekarang adalah seorang Buyut disebuah padukuhan terpencil. Semula aku memang bersembunyi di padukuhan itu. Aku menutupi ketakutan itu dengan perbuatan yang aneh-aneh. Yang barangkali sudah aku katakan, melampaui orang gila.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sekarang aku seolah-olah sudah terbangun dari mimpi yang mengerikan itu. Dan aku mempunyai keinginan, padukuhanku menjadi padukuhan yang baik. Wajar dan tidak lagi digenangi dengan darah.”
“Apa yang dapat kami lakukan?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Aku mengharap kalian bersedia tinggal bersamaku. Katakanlah, bersembunyi bersama aku. Tetapi aku percaya bahwa padukuhan akan menjadi padukuhan yang tenang dan damai meskipun sebagian dari penghuninya adalah prajurit-prajurit. Bahkan Senapati-senapati seperti kalian.” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kami akan kembali menjadi manusia-manusia yang kasar dan barangkali liar, dalam sikap yang lain. Kami akan melakukan kekerasan senjata jika ada orang lain yang mengusik padukuhan yang kita bina dengan cita-cita damai dan tenang itu.”
Beberapa orang mengangguk-angguk.
“Aku melihat bahwa kalian masih tetap merasa terasing dan bahkan bersembunyi disini. Tempat yang kita tentukan sebagai daerah pertemuan yang tersembunyi masih saja kalian pertahankan sampai saat ini, setelah sekian lamanya wajah Singisari berubah. Nah katakan, sampai kapan kita akan bertahan dengan keadaan seperti ini?”
Salah seorang dari pada Senapati itu berdesis, “Aku mengerti arah pembicaraanmu. Kau mempunyai daerah baru yang dapat kita jadikan tempat menumbuhkan harapan bagi masa depan kita dan anak-anak kita. Memang kita tidak dapat hidup dalam persembunyian semacam ini terus menerus.”
“Nah. Terserah kepada kalian, apakah kalian dapat menerima tawaranku. Tanah masih cukup luas, karena padukuhanku yang terpencil, yang pernah disebut daerah bayangan hantu itu masih dikelilingi oleh hutan yang lebat dan luas, yang akan dapat dijadikan lapangan penghidupan yang penuh harapan bagi masa depan. Jika kalian bersedia, marilah kita jadikan padukuhan yang dipercayakan kepadaku itu sebagai tanah yang akan kita jadikan Iandasan hidup kita di masa depan. Yang akan kita bina bersama, tetapi juga akan kita pertahankan bersama. Aku menjadi berbesar hati bahwa kita adalah prajurit. Meskipun mungkin seorang-orang kami tidak melampaui kemampuan orang kebanyakan, tetapi bersama-sama kita akan merupakan kekuatan yang tidak terpatahkan. Dan aku yakin bahwa kita tidak akan pernah berbenturan dengan prajurit Singasari.”
Bekas prajurit Singasari pada masa pemerintahan Tohjaya itu merenung sejenak. Agaknya mereka sedang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diharapkannya.
“Kapankah orang yang menyebut dirinya Tapak Lamba itu akan datang kepada kami?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Aku tidak tahu pasti.” jawab Ki Buyut, “Tetapi sudah aku katakan, harapan yang harus dibasahi dengan darah. Dan aku memang sudah muak melihat darah. Kecuali jika terpaksa untuk mempertahankan pedukuhan yang selama ini aku bangun itu.”
Para bekas prajurit itu termangu-mangu.
“Jika kalian ragu-ragu, kalian dapat melihat daerah itu lebih dahulu. Jika kalian ternyata bersikap lain. aku tidak berkeberatan.”
“Ki Buyut.” salah seorang dari mereka tiba-tiba saja bertanya, “Apakah kau bukan sekedar sedang mencari korban untuk menyempurnakan ilmu hitam itu.”
“Apakah masih nampak pada wajahku kebuasan serupa itu? Jika kalian tidak percaya, bahwa aku adalah calon korban dari ilmu itu, yang berhasil diselamatkan oleh Mahisa Bungalan anak Mahendra, bertanyalah kepadanya. Ia tentu masih mengenal aku.”
Bekas prajurit yang mendengarkannya mengangguk-angguk.
“Nah, siapakah yang akan bersedia pergi bersamaku untuk melihat tanah yang akan dapat kalian jadikan tanah harapan itu? Mungkin tiga atau empat orang atau bahkan kalian bersama-sama?”
“Tentu akan menimbulkan kecurigaan.”
“Sudah tentu, seorang demi seorang, atau dua orang berjalan bersama-sama keluar regol Kota Raja. Aku akan menunggu kalian di tempat yang kita tentukan kemudian jika kalian setuju.”
Para Senapati itu masih saja ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah. Aku bersedia melihat padukuhan itu lebih dahulu bersama beberapa orang kawan.”
“Terima kasih. Aku adalah taruhannya. Jika ternyata kata-kataku ini tidak benar, aku bersedia dipenggal leherku.”
“Jangan berkata demikian. Sebab jika kata-katamu itu tidak benar, kami tidak akan sempat memenggal lehermu, karena kulit kamilah yang. sudah terkelupas lebih dahulu, dan darah kami akan menjadi penyegar ilmu hitam itu.”
Ki Buyut di Pengasih menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengangguk ia berkata, “Aku berterima, kasih atas kepercayaan kalian. Baiklah besok kita akan berangkat. Kita tidak akan bersama-sama keluar dari regol Kota Raja agar kita tidak dicurigai.”
Demikianlah di pagi hari berikutnya, Ki Buyut di Pengasih lelah meninggalkan Kota Raja. Berurutan dengan beberapa orang bekas prajurit yang mengenakan pakaian orang kebanyakan. Mereka telah menentukan tempat untuk bertemu dan bersama-sama pergi kepadukuhan Pengasih yang pernah disebut daerah bayangan hantu.
Sementara itu, Mahendra dengan kedua anak-anaknya telah berada di Kota Raja. Mereka telah berkesempatan untuk menghadap Maharaja dan Ratu Angabhaya. Tetapi karena tidak ada peristiwa-peristiwa yang penting, sehingga tidak banyak yang mereka perbincangkan selain pesan dari tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, agar Mahendra sering datang menghadap untuk kadang-kadang berbicara tentang perkembangan keadaan sebelum Mahisa Agni dan Wirantra kembali. Pendapat Mahendra yang kadang-kadang terasa dekat sekali dengan pikiran-pikiran Mahisa Agni, masih diperlukan oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka di samping pendapat dan pikiran-pikiran para Panglimanya, karena Mahendra adalah orang yang langsung melihat segi-segi kehidupan di luar lingkungan istana dan daerah yang agak jauh karena pekerjaannya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak tertarik hatinya untuk berjalan-jalan berkeliling kota seperti yang pernah dilakukan. Ia tidak mau menjadi sebab timbulnya keributan di dalam kota seperti yang pernah dialaminya. Sehingga dengan demikian, maka mereka hanya mau keluar halaman istana bersama dengan ayahnya.
“Aku mempunyai beberapa keperluan di dalam kota ini.” berkata ayahnya.
“Bukankah ayah sudah menghadap?”
“Tidak dengan Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Lalu.”
“Ayah akan membicarakan masalah pekerjaan ayah dengan beberapa saudagar. Jika kalian ingin ikut, marilah.”
Kedua anaknya mengikutinya saja meskipun mereka tidak begitu berminat. Namun dengan demikian mereka pun telah mulai mengenal beberapa orang langganan ayahnya dan pekerjaan yang dilakukannya.
“Lusa kita lanjutkan perjalanan ini.” berkata ayahnya, “Aku akan pergi ke tempat yang agak jauh. Ke Kediri.”
“Kami ikut ayah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Bukankah kalian akan mengetahui pekerjaan ayah dan pada suatu saat akan menggantikannya?”
Yang lebih menarik bagi kedua anak-anaknya adalah perjalanan itu sendiri. Meskipun demikian mereka pun senang pula mengenal beberapa orang yang selalu berhubungan dengan ayahnya didalam masalah pekerjaan dagangnya.
“Tetapi tidak terlalu lama. Aku harus segera berada di Kota Raja ini pula.” berkata ayahnya.
Kedua anak Mahendra itu merasa gembira bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk melihat-melihat daerah yang lebih luas. Mereka merasa lebih senang jika ayahnya kemudian mengambil keputusan untuk, menyusul Mahisa Bungalan.
Tetapi Mahendra sudah berkata kepada mereka, bahwa ia harus segera berada di Kota Raja kembali menghadap Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka.
Namun demikian, perjalanan itu sudah cukup memberikan kesegaran baru kepada mereka yang sudah menjadi jemu oleh keadaan mereka sehari-hari yang seolah-olah tidak mengalami perubahan apapun juga.
Sementara Mahendra dan kedua anak-anaknya berkuda ke Kediri, maka Ki Buyut di Pengasih bersama beberapa orang kawannya telah berada kembali di padukuhannya. Dengan bangga ia memperlihatkan sawah yang mulai menghijau meskipun belum begitu luas.
“Sawah ini akan segera berlipat ganda luasnya jika kalian berada di padukuhan ini dan bersedia bekerja keras.” berkata Ki Buyut.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Barangkali itu lebih baik daripada harus bersembunyi tanpa dapat berbuat apa pun juga.”
“Sebenarnya kalian tidak perlu bersembunyi.” berkata Ki Buyut, “Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka tidak berbuat apa-apa atas kita.”
Seorang kawannya menyahut, “Tetapi agaknya memang lebih senang hidup disini.”
“Aku mengharapkan kesediaan kalian tinggal disini. Ada banyak keuntungan. Bagi kalian dan bagi kami yang sudah lebih dahulu tinggal di padukuhan kecil terpencil ini.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
“Padukuhan ini semula merupakan tempat tertutup. Karena aku pun berpendapat seperti kalian. Bersembunyi. Apalagi ketika orang-orang berilmu hitam itu ada disini. Jika kelak kalian tinggal bersama kami, maka padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang terbuka dan akan menjadi semakin lama semakin besar. Kami akan mengembangkannya dan mempertahankannya dengan senjata jika ada pihak yang manapun yang akan mengganggu kami.”
“Baiklah.” seorang bekas Senapati yang bertubuh tinggi kekar berkata, “Aku menyatakan diri untuk tinggal bersamamu disini. Aku akan menjemput keluargaku.”
“Kita akan bekerja keras.”
“Kami menyadari bahwa kami harus mulai dengan kerja keras disini. Tetapi kami pun menyadari bahwa kerja keras itu pada hakekatnya adalah untuk anak-anak kami.”
Dengan demikian maka para bekas prajurit itu pun bersepakat untuk menjemput keluarga masing-masing dan mengajak beberapa orang kawan yang lain untuk tinggal di padukuhan terpencil yang masih akan berkembang.
“Jika kita tidak menutup diri. maka kemungkinan untuk menjadi besar selalu terbuka, apabila mengingat kesadaran kalian untuk bekerja keras dan berjuang bagi padukuhan ini.” berkata Ki Buyut di Pengasih.
Ternyata rencana mereka itu mendapat sambutan yang baik dari beberapa orang kawan mereka yang masih saja bersembunyi dan menyamar diri. Dua belas orang bekas prajurit Singasari di masa pemerintahan Tohjaya, telah berpindah tempat dan linggal di padukuhan Pengasih bersama keluarga mereka.
Diantara mereka terdapat beberapa orang perwira dan Senapati yang selalu dibayangi oleh kecemasan. Namun agaknya mereka telah menemukan tempat sebagai tempat tinggal mereka yang baru meskipun mereka masih belum dapat melepaskan diri dari sikap hati-hati. Karena itulah maka ditempatnya yang baru mereka tidak mempergunakan nama mereka masing-masing.
“Aku masih mengharap Tapak Lamba akan datang pula kemari.” berkata Ki Buyut, “Tetapi sudah barang tentu tidak dengan orang yang bernama Linggadadi itu, agar kedamaian kami tidak terusik.”
“Ya.” sahut salah seorang dari mereka, “Sudah waktunya bagiku untuk memilih hidup dalam ketenangan. Tetapi seperti yang sudah kita janjikan, aku pun tidak berkeberatan mempergunakan senjata untuk mempertahankan ketenangan yang sudah kita tumbuhkan.”
Demikianlah maka mereka dengan tekun mulai dengan suatu kehidupan baru, Mereka dengan penuh gairah telah menebang hutan dan memperluas tanah persawahan. Sebelum tanah itu menghasilkan apa-apa, maka makan mereka sekeluarga telah di bebankan kepada seluruh padukuhan.
Ternyata di samping membuka hutan, para bekas prajurit iru sempat juga membantu anak-anak muda untuk berlatih olah kanuragan. Selama ini mereka seolah-olah dengan membabi buta berlatih memegang senjata. Hanya kadang-kadang saja Ki Buyut sempat memberikan tuntunan. Namun sebagian yang lain adalah karena kemauan mereka sendiri, dengan petunjuk-petunjuk singkat dari Ki Buyut, berlatih menggerakkan berbagai macam senjata.
Dalam pada itu, ternyata dikaki Gunung Lawu, orang-orang yang hidup dalam bayangan ilmu hitam telah mengetahui pula apa yang terjadi di Kota Raja, meskipun mereka masih harus memperbincangkannya. Tetapi nama Mahisa Bungalan telah mereka dengar lagi di antara ceritera-ceritera tentang kematian dua orang di antara mereka itu.
“Mahisa Bungalan lagi.” desis Empu Baladatu.
“Ada beberapa desas desus mengenai kematian kawan-kawan kami guru.” berkata salah seorang muridnya, “Yang lain mengatakan bahwa kawan-kawan kami mati oleh seseorang bernama Linggadadi. Tetapi bahwa pada saat itu Mahisa Bungalan hadir, agaknya memang benar, meskipun ia tidak berada dipihak Linggadadi.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia pun telah banyak mendengar tentang kematian dua orang yang dipercayainya untuk memasuki Kota Raja, dan bahkan apabila mungkin membawa orang orang yang mereka kehendaki hidup-hidup kekaki Gunung Lawu, yang akan dipergunakannya sebagai korban untuk menyegarkan ilmu mereka yang hitam.
Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan maksud mereka. Kedua orang itu justru telah terbunuh di Kota Raja.
“Bagaimanapun juga, Mahisa Bungalan telah melukai hati kita semuanya.” geram Empu Baladatu. Lalu, “Aku masih belum berbicara tentang orang yang mengaku bernama Linggadadi, karena seribu nama tidak akan ada artinya tanpa pengenalan lebih jauh.”
“Jadi bagaimana maksud guru?” bertanya salah seorang muridnya.
“Kedua saudara seperguruanmu yang terbunuh itu adalah orang-orang penting dan terpercaya. Tetapi mereka telah terbunuh. Dengan demikian kalian harus lebih berhati-hati menghadapi orang yang bernama Mahisa Bungalan itu. Bahkan ada beberapa orang yang menyebutnya pembunuh orang berilmu hitam.”
Tetapi beberapa orang muridnya tertawa pendek. Salah seorang berkumis lebat menyahut, “Tidak banyak orang yang berkesempatan untuk mendapatkan ilmu yang dahsyat ini. Di padepokan ini tinggal tidak lebih dari dua belas orang dalam tingkatan yang berbeda. Kemudian beberapa orang calon murid yang masih dibawah asuhan murid-murid yang terpercaya. Karena itu, kita tidak mau menjadi semakin berkurang lagi. Dua orang saudara kami itu sudah cukup mahal dipertaruhkan untuk menangkap Mahisa Bungalan.”
“Jadi?” bertanya Empu Baladatu.
“Sebaiknya kita pergi bersama-sama.”
“Kita? Kalian dan aku?”
Orang itu menggeleng. “Tentu saja guru tidak harus selalu ada di antara kami, karena di padepokan ini masih ada beberapa orang calon murid. Namun jika guru berkenan bersama kami, maka beberapa orang calon murid itu dapat diserahkan kepada murid-murid yang sudah dapat dipercaya untuk membimbing mereka.”
Empu Baladatu tiba-tiba saja tertawa keras-keras sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang muridnya menjadi heran. Namun yang lain menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Ternyata orang itu bodoh sekali. Guru melihat, betapa penakutnya orang itu.”
“Kau tentu sudah tahu sifat dan wataknya,” desis yang lain, “Paguh adalah orang yang ujudnya dapat menakut-nakuti anak yang betapapun beraninya. Tetapi hatinya adalah hati yang sangat lentur.”
“Katakan saja, ia seorang pengecut.” sahut yang lain, “Adalah gila untuk mengajak guru bersama mencari Mahisa Bungalan. Bagaimana mungkin Paguh itu dahulu sempat berada diperguruan yang tidak ada duanya ini?”
Sementara itu, Paguh sendiri masih saja menjadi bingung melihat sikap gurunya. Namun barulah kemudian ia menyadari kesalahannya ketika gurunya bertanya, “Paguh, apakah kau sudah memikirkan kata-katamu?”
“Maksud guru ?”
“Kau sebenarnya tidak pantas berada di antara murid-muridku yang perkasa.” tiba-tiba saja suara gurunya meninggi, “He, kau tahu apakah artinya kata-katamu itu he tikus yang dungu?”
Paguh menjadi gemetar. Wajah Empu Baladatu menjadi merah oleh kemarahan yang tiba-tiba saja menjalari kepalanya, “Kita sudah kehilangan dua orang dari antara kita. Sebelumnya tiga orang yang dibunuh Mahisa Bungalan karena kebodohannya. Sekarang salah seorang dari kita telah berbuat lebih bodoh dan pengecut. Ketiga saudara-saudaramu yang lari itu memang bodoh, tetapi mereka adalah orang-orang yang berani sehingga saat matinya. Tetapi kau Paguh?”
Paguh semakin gemetar.
“Sebentar lagi, lima hari lagi, adalah saatnya kita menyegarkan ilmu kita dengan darah. Saat purnama naik dan musim yang kering.”
“Guru ?”
“Kebodohanmu dapat mencelakakan dirimu.”
“Maksud guru.” suara Paguh menjadi parau.
“Kau berkewajiban mendapatkan korban yang bakal kita persembahkan bagi pelindung ilmu kita. Korban darah itu harus berlangsung dengan sebaik-baiknya. Jika kau gagal maka darahmu lah yang akan tertumpah di atas jambangan terpuji itu. Meskipun darah pengecut, tetapi ilmu yang ada di dalam dirimu akan mengalir kedalam diri kami dan menjadikan kekuatan kami akan bertambah.”
“Jadi ?”
“Pergilah. Kau tidak usah membawa Mahisa Bungalan. Tetapi namamu akan dicuci oleh hasil kerjamu kemudian. Jika kau berhasil dengan baik, maka kau akan mendapat kepercayaan tertinggi diperguruan ini, tetapi kepercayaan sekedar menangkap kelinci.” suara tertawa Empu Baladatu meledak sehingga rasa-rasanya Gunung Lawu ikut terguncang.
Paguh menjadi bingung. Tetapi ia sadar, bahwa perintah itu harus dijalankan. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu atas Mahisa Bungalan. maka ia sudah mendapatkan tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya.
“Tetapi tugas ini tugas yang tidak berat.” katanya di dalam hati, “Tetapi untuk menyenangkannya, aku harus mendapatkan korban yang berkenan di hati guru. Muda, tampan dan barangkali sedikit mempunyai ilmu. Dan untuk mendapatkannya tidak akan makan waktu satu hari.”
Meskipun demikian, ia masih tetap gelisah, karena agaknya sikap gurunya masih ada yang kabur baginya.
Namun demikian yang pasti adalah, ia harus menebus kesalahannya, yang memberikan kesan kepada gurunya, bahwa ia adalah seorang pengecut.
“Guru keliru.” berkata Paguh di dalam hatinya, “Aku bermaksud untuk menyelesaikan persoalannya sampai selesai Dan itu tidak akan dapat dilakukan tanpa guru. Tetapi guru menganggap bahwa aku menjadi ketakutan.”
Demikianlah maka Paguh itu pun kemudian pergi meninggalkan padepokannya yang tersembunyi. Dengan menyandang tugas yang diduganya tidak terlalu berat, ia berjalan menjauhi padepokannya. Seperti yang dipesankan oleh gurunya, bahwa setiap murid harus mendapatkan korban bagi ilmunya ditempat. yang jauh, agar dengan demikian dapat menghilangkan jejak dari perguruan mereka.
“Aku akan berjalan tanpa tujuan. Kemana aku akan pergi, aku tidak peduli, karena dimanapun tentu akan aku jumpai seorang laki-laki muda yang tampan.”
Tetapi sepeninggal Paguh dari padepokannya, ternyata gurunya tidak membiarkan melepaskannya sendiri. Bukan karena ia sayang bahwa muridnya akan mengalami kesulitan. Tetapi ia justru cemas, bahwa muridnya yang dianggapnya pengecut itu lidak akan berhasil pada waktunya dan karena itu, ia pun tidak lagi berani kembali ke Padepokan. Jika demikian maka ia harus mengorbankan siapa pun yang diketemukannya tanpa memilih.
“Itu tidak boleh terjadi lagi.” berkata Empu Baladatu, “Pelindung ilmu kita yang dahsyat ini akan kecewa. Jika itu terjadi berulang kali, maka pelindung kita akan marah. Dengan demikian, kita akan dilepaskannya dari perlindungannya dan mengalami kesulitan untuk seterusnya.”
Murid-muridnya mengangguk-angguk.
“Karena itu pergilah. Susullah Paguh dan kalian harus bertindak cepat untuk membantunya mendapatkan korban. Jika kalian gagal sama sekali, bawa Paguh kembali kepadepokan ini. Aku memang sudah muak melihatnya. Kecuali jika ia dapat merubah sifat pengecutnya itu. Tetapi aku sama sekali tidak menyesal bahwa ia harus dikorbankan karena sifatnya itu.”
Beberapa orang yang ditunjuk itu pun sebera meninggalkan padepokan menyusul Paguh. Karena waktunya tidak terpaut banyak, maka mereka pun tidak kehilangan jejaknya dan di tempat yang terbuka di sebelah hutan yang rindang, mereka telah melihat Paguh berjalan seenaknya menyusuri jalan yang sempit yang berdebu.
Tetapi seperti ada yang memberi tahukan ditelinganya, maka diluar sadarnya Paguh berpaling. Dadanya bergejolak ketika ia melihat empat orang kawannya berjalan mengikutinya.
“Apakah guru sudah mengambil keputusan.” ia berkata kepada diri sendiri, “Jika guru mengirimkan keempat saudara seperguruanku itu untuk membunuhku, dan mengorbankan darahku lima hari lagi, maka apa boleh buat. Aku tidak mau menjadi pangewan-ewan. Diikat dihadapan saudara-saudara seperguruan dan kemudian menjadi korban yang mengerikan itu. Lebih baik aku mati di sini.”
Tetapi Paguh sama sekali tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan meskipun ia selalu bersiaga. Bahkan kemudian ia berhenti menunggu keempat kawannya yang berjalan semakin dekat.
“Agaknya sikap mereka pun tidak mencurigakan.” berkata Paguh di dalam hatinya.
Namun demikian, banyak kemungkinan yang dapat terjadi sehingga ia tidak boleh menjadi lengah karenanya.
Semakin dekat dengan Paguh, maka keempat orang itu pun rasa-rasanya menjadi semakin lambat. Sambil mengusap peluh di kening salah seorang berkata, “Lebih baik membantunya mendapatkan seorang korban daripada harus membawanya kembali.”
“Ya. Paguh cukup baik kepadaku. Ia sering memberikan rangsumnya jika ia sudah mendapatkan makan di luar padepokan.”
“Dan itu sering dilakukannya.”
Yang lain hanyalah mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka pun sependapat karena mereka sudah lama tinggal bersama. Betapapun kelam hati mereka, namun nampaknya mereka merasa satu pula dengan kawan-kawan mereka yang berhati kelam pula.
Paguh yang melihat saudara seperguruannya mendekatinya itu pun bertanya dengan nada yang datar, “Kenapa kalian menyusul aku?”
“Guru memerintahkannya.” sahut salah seorang dari mereka.
“Apakah kalian membawa pesan baru bagiku?”
“Tidak.” sahut yang lain, “Tetapi kami harus pergi bersamamu. Menurut guru, tidak mudah untuk mendapatkan korban seperti yang dikehendaki. Selebihnya, guru tidak sampai hati membiarkan kau pergi sendiri.”
“Guru tidak percaya bahwa aku akan kembali membawa korban itu?”
“Bukan tidak percaya. Tetapi meragukannya karena dunia di luar padepokan kita adalah luas.”
“Atau barangkali guru cemas bahwa aku tidak akan kembali sama sekali.”
“Jangan mengada-ada.” sahut kawannya yang lain, “Marilah. Kita pergi bersama-sama. Jika kau menimbulkan persoalan di dalam hatimu sendiri, maka semuanya akan menjadi kabur. Juga persaudaraan kita.”
Paguh mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengangguk kecil.
“Baiklah.” katanya, “Kita akan pergi bersama kalian untuk melaksanakan tugas itu.”
Mereka pun kemudian meneruskan perjalanan. Keempat orang saudara seperguruan Paguh sama sekali tidak menunjukkan sikap yang meragukan, karena mereka memang tidak bermaksud apa-apa terhadap saudara seperguruannya yang sedang menjalani hukuman itu.
“Dengan sikap ini, kami tidak melanggar perintah guru.” berkata saudara-saudara seperguruannya kepada diri mereka masing-masing, karena gurunya tidak mengharuskan mereka untuk tidak membantu Paguh. Mereka hanya bertugas untuk membawanya kembali, jika perlu dengan paksa apabila Paguh tidak berhasil membawa seorang korban yang baik untuk ilmu perguruan mereka, dan yang kemudian berusaha untuk melarikan diri.
“Guru sama sekali tidak melarang kami untuk membantunya.” mereka mencoba menegaskan kepada diri sendiri.
Karena itulah maka mereka berempat pun berjalan beriringan dengan Paguh tanpa menumbuhkan kesan yang mencurigakan.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar