Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 27-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-27-01
“Memang memalukan,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal di istana ini maka sorotan bagi mereka menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang memperhatikannya dan menilainya. Tetapi sebagai manusia biasa mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak-anak muda yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi jika mereka meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan jauh berbeda. Anusapati yang kini sudah mempunyai seorang anak itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh mengendap dibandingkan beberapa saat yang lampau.”

Para prajurit yang mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu apa.

“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku akan menghirup udara malam di halaman dan di pertamanan. Mudah-mudahan badanku menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman bangsalnya, dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian kebiasaanku? Di dalam halaman istana ini tidak akan ada gangguan apapun. Meskipun kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak dikenal yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam lagi, tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”

Prajurit-prajurit itu saling berpandangan sejenak, namun mereka-pun menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”

“Ya,” jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”

“Baik tuan. Kami akan menunggu di sini,” sahut salah, seorang dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya dapat memandang Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang di dalam gelap.

Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang prajurit berkata, “Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati besar itu?”

“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung. Tidak semua orang dapat memilikinya meskipun ia berlatih setiap hari sepanjang umurnya.”

Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang manusia yang aneh.”

“Tidak banyak manusia seperti mereka itu. Dan kini tampaknya Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan pamannya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada di kegelapan itu berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi di petamanan. Sejenak ia berdiri di tempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang harus berhati-hati. Apalagi di halaman istana ini sering terjadi sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu.

Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar sepi. Tidak ada seorang-pun yang berada di sekitarnya dengan alasan apapun.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser pula mendekati gubug Sumekar.

Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian mengetuk pintu gubug itu.

“Siapa?” Sumekar berbisik dibalik pintu.

“Agni.”

Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya. Pintu gubug itu-pun kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.

“Ikuti aku,” desis Mahisa Agni.

Keduanya-pun kemudian menyusup ke dalam taman. Beberapa langkah di balik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti sejenak.

“Sumekar,” berkata Mahisa Agni, “aku ingin minta pertolongan lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan melindungi Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang lewat.”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan Witantra. Aku tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti sekarang. Apakah kau bersedia?”

“Apakah aku harus pergi ke Kediri menghubungi kakang Kuda Sempana.”

“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra masih juga sering berkeliaran di sekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin mengetahui perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampai ketelinga mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.”

“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri Rajasa. Tentu ceritera itu tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya, maka rakyat Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada Tohjaya, karena mau tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran itu dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil terhadap kedua puteranya.”

“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi bagi yang muda tanggapannya pasti akan agak berbeda.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari Witantra atau Mahendra di sekitar istana ini? Tentu saja kau harus keluar dari istana ini tidak lewat regol depan atau regol butulan.”

“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,” Sumekar tersenyum.

“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa aku memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar tidak terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang dari mereka masuk ke dalam taman, dan berilah aku isyarat apabila kau berhasil.”

“Apakah isyarat itu?”

“Kau dapat menirukan suara burung tertentu?”

Sumekar mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku dengan kerikil kecil. Aku akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan malam ini, tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil malam ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih dapat dijadikan ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus pergi?”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun tentu akan menyadari keadaan.”

“Selagi aku masih ada di Singasari. Perintah dari Sri Rajasa dapat datang setiap saat.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu isyaratmu.”

“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku melempar atap rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali, tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga kali, maka malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak usah menunggu semalam suntuk.”

“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri Rajasa-pun tentu telah berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”

Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan dirinya untuk keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau Kuda Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum jemu menunggu kesempatan untuk mendapat hubungan dengan Mahisa Agni.

Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke bangsalnya. Tetapi ia tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih sempat berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur malam nanti, maka kalian tidak mempunyai tugas lagi.”

Para prajurit itu tertawa. Mereka memang menyadari, bahwa tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika terjadi sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi dirinya sendiri.

Namun yang menarik perhatian para prajurit itu adalah sikap Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya di atas para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap seperti Mahisa Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.

Jarang sekali seorang Panglima sempat bercakap-cakap dengan para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang mengawalnya, maka sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang prajurit bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah bersikap demikian.

“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan saja kedudukannya sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi jiwanya-pun ternyata cukup besar.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya, maka keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap sesamanya. Ternyata keduanya tidak memerlukan pengawalan seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa yang lain.”

“Ya, selain mereka tidak berprasangka, mereka-pun terlalu percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang dapat melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran Pati selain Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat apa-apa atas mereka.”

“Orang berkerudung yang sempat masuk kehalaman itu?”

“Seandainya mereka sempat bertemu dengan keduanya atau salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan adalah seimbang saja.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang berjiwa besar, ramah dan rendah hati.

Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil meloncati dinding tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri jalan kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat yang biasa dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu hubungan dari dalam istana.

Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun, sehingga karena itu ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi kota. Mungkin di satu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari keduanya.

Namun belum lagi ia beringsut, terdengar suara seseorang memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula suara Mahendra.

Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam kegelapan dibalik bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang muncul.

“Bukankah kau Sumekar?” bertanya bayangan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang Kuda Sempana. Justru kakang yang ada disini?”

“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya hampir jemu menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu menungu salah seorang dari kalian di istana Singasari.”

Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda Sempana, dan keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi panas?”

“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”

“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.”

“Sekedar persiapan. Jika setiap saat meledak. Dan rasa-rasanya kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat, jika kita kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”

“Apakah aku harus menyampaikannya kepada Witantra.”

“Ya. Dan Mahendra.”

“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga yang diharap oleh Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra. Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”

“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin bertemu.”

“Jangan sekarang,” berkata Kuda Sempana, “aku harus menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan Mahisa Agni besok malam disini.”

“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku dimintanya untuk memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah seorang atau semuanya.”

Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kenapa tidak besok?”

“Malam ini, dan sehari besok, bermacam-macam persoalan dapat terjadi.”

“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari Witantra.”

“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan yang akan kalian bicarakan perlu kau dapat malam ini.”

“Baiklah. Aku menunggu disini.”

“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni keluar halaman istana malam ini.”

Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha untuk dapat memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menemui kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada saat ia keluar.

Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan untuk mendekati bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap bangsal itu, karena pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar mempergunakan cara yang lain. Dari sudut halaman ia menirukan bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia berharap bahwa Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat menangkap isyarat itu. Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa Agni. Dan dengan demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar keluar dari halaman istana menemui Kuda Sempana.

“Kuda Sempana,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan perwira pasukan pengawal, terutama yang sudah berusia pertengahan.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku kira demikian.”

“Karena itu, aku mengharap kedatangannya. Mungkin pada suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya di dalam lingkungan para pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Panglimanya yang sekarang seandainya terjadi persoalan yang terbuka antara Tohjaya dan Anusapati.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus terang berada di istana Singasari.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti,” jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”

Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera pergi meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan membawanya menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan yang panas itu, perubahan dapat terjadi setiap saat itu merupakan waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda Sempana maka Mahisa Agni-pun segera kembali ke bangsalnya dan Sumekar masuk kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetangga-tetangganya yang tinggal disebelah menyebelah gubugnya.

Namun ia tidak dapat segera tidur. Persoalan-persoalan itu masih tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan didalam dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan lagi.

Tetapi Sumekar masih harus menghormati usaha Mahisa Agni. Ia tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi apabila datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku menjadi tumbal daripada harus terjadi persoalan dan pertentangan yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku, persoalan ini dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami tidak akan segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning dan berguguran ditanah,” berkata Sumekar didalam hatinya.

Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa Agni-pun tidak segera dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan Anusapati di dalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya orang yang mudah menyerah pada keadaan. Apalagi ia memiliki kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan seandainya Sri Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan dapat berusaha mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu terjadi keributan di halaman ini, sehingga ia akan sempat mendengarnya dan ikut campur secara langsung.

“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil memasuki bangsal itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas Anusapati?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni tidak dapat melepaskan kemungkinan itu, karena yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan licik serupa itu. Ia telah membunuh Empu Gandring, Tunggul Ametung dan dengan licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.

“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap Anusapati,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu tidak akan lengah. Meskipun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang secengkang tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik yang betapapun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati sama sekali tidak dapat tidur di malam hari.

Karena itulah, maka di pagi-pagi benar. Mahisa Agni telah telah terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan matanya. Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu telah cukup untuk menyegarkan tubuhnya.

Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya, dilihatnya suasana yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap bertugas dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan tergesa-gesa mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja mereka melihat Mahisa Agni sudah berada di depan gardu itu.

“Kami sedang beristirahat,” salah seorang dengan tergesa-gesa berkata, “kami bertugas di permulaan malam ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Hari memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”

Tetapi para prajurit itu justru berlompatan bangkit dan membenahi pakaian mereka.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan berjalan-jalan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat berbaring karena habis tugasnya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.

Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka mereka-pun berebut melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi semakin cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali dan pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.

Mahisa Agni yang kemudian berjalan menyelusuri halaman istana sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak dikehendakinya. Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada di tempatnya.

“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.

Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok ketika dilihatnya regol yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya, tempat Ken Umang dan putera-puteranya tinggal. Mahisa Agni tidak mau mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga hampir terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin terang di Timur, maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya. Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para prajurit sudah mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang para penggantinya yang akan bertugas untuk satu hari satu malam pula digardu itu.

Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata tidak terjadi sesuatu pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni dan berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak dan isterinya dibangsalnya.

Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba menyembunyikan perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadang-kadang murung dan sikap yang tidak dimengertinya. Namun isterinya itu-pun tidak ingin membebani suaminya dengan kesulitan baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa Anusapati mengatakan tentang persoalannya. Meskipun demikian, perlahan-lahan ia berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Singasari dan atas suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi yang pada hari itu berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil di bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap di antara para pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri Rajasa sudah bertanya kepadanya tentang penyakit Permaisuri.

“Apakah ia masih belum sembuh benar?” bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar akan arti pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Ampun tuanku, menilik pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit agak berat. Tetapi sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya bertanya kepada tuanku, bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri itu, agar hamba dapat menentukan, apakah hamba dapat segera kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba berada di sini, maka tugas hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba yang di sini hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”

Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun kesan itu-pun segera terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa berkata, “Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti perkembangannya?”

“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti tentang penyakit tuanku Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”

“Baiklah,” berkata Sri Rajasa, “akulah yang akan menentukan apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah dapat kau tinggalkan.”

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala titah.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa dalam sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang di antara kedua tokoh tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada sesuatu yang membentang di antara Ken Umang dan Ken Dedes, dan antara Anusapati dan Tohjaya.

Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti pembicaraan-pembicaraan tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir. Tetapi ia sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya saat ini masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa hari dan beberapa bulan yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada kesulitan dan rakyat berkembang maju.

“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan laporan-laporan itu, akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini. Sri Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari menjadi semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyatnya,” berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun ia-pun menjadi cemas bahwa beberapa orang pemimpin Singasari yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi. Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian dari Sri Rajasa dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada kenyataan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi laporan-laporan itu. Ia tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari yang lain agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak terganggu pula karenanya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dapat menilai, bahwa saat-saat terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran. Para pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari. Mareka sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi Singasari.

“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi melihat perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan kedalam suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi tanah yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”

Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni sudah hampir tidak mendengarnya lagi seperti di dalam paseban-paseban yang lalu. Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika Sri Rajasa kemudian berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni, tinggallah di sini sebentar.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para pemimpin Singasari yang lain.

“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku sekarang?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang berhati tabah. Itulah sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala perintah tuanku hamba junjung tinggi.”

Demikianlah ketika semua pembicaraan itu selesai maka Sri Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.

“Apakah para Panglima itu sudah mendapat pesan-pesan tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?” bertanya Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan yang lain pergi, maka para Panglima itu akan menarik keris mereka dan menahan aku disini.”

Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata keliru. Dengan suara yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban ini. Semuanya, selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mereka-pun kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang, sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika ia ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku seorang lawan seorang.”

Demikianlah, maka paseban itu akhirnya menjadi kosong. Yang ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para penasehat Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.

Ketika tidak ada orang lain di paseban itu, sekali lagi terasa ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot mata yang menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan kosong.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa kemudian dengan nada yang rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan di dalam paseban ini?”

Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri Rajasa. Namun menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka. Sejak terjadi persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan Tohjaya dalam pertentangan terbuka, ia selalu saja berprasangka buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat aneh namun juga licik.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa kemudian, “aku ingin mendengar pendapatmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau ia harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang hanya sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka anggap dapat menyenangkan hati Sri Rajasa saja.

“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di Singasari.”

Karena itu dengan penuh tanggung jawab Mahisa Agni berkata meskipun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu. Meskipun masih harus ada beberapa keterangan.”

“Apakah yang kau maksud dengan keterangan itu?”

“Memang dalam pandangan sepintas keterangan itu sangat menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi persoalan-persoalan lagi.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya.

“Tetapi tuanku,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “jika hamba boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak yang perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi di dalam paseban agung.”

“Misalnya?”

“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat gambaran seluruhnya tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian. Kemudian kesulitan yang timbul karena binatang yang buas yang tidak terkendalikan, berkembang biak dengan cepatnya di hutan tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu, masih ada perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang memberikan gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”

“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sri Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air telaga yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut tangkapan Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu adalah apa yang dipikirkannya.

“Kali ini ia berkata dengan jujur,” desis Mahisa Agni didalam hatinya.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa, “sebenarnya aku sudah muak mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya sendiri. Dan ini sangat memuakkan sekali. Tetapi aku masih belum sempat untuk menghentikannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata sesuatu telah tumbuh di dalam hatinya.

“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.” katanya didalam hati, namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang sudah dibuatnya?”

“Mahisa Agni,” berkati Sri Rajasa kemudian, “ternyata kau masih Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari orang-orang Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan kekurangan Singasari kepadaku. Meskipun mungkin aku akan menjadi marah atau menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar, bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran. Bukan sekedar kebanggaan yang semu.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri Rajasa berkata dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam pada itu Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Mahisa Agni. Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku mengharap bahwa pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan mengatakan keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian akan membuka kemungkinan, para pemimpin Singasari yang lain menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan adalah keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk mempertahankan pangkat dan jabatan.”

“Baiklah tuanku,” jawab Mahisa Agni, “jika hal itu memang tuanku kehendaki.”

“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian aku akan memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau tinggalkan. Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.”

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah hamba mohon diri tuanku.”

“Ya. Aku sudah selesai.”

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal paseban. Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa itu. Bahkan sekilas di dalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah Sri Rajasa sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.

“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku tidak dapat mempercayainya sepenuhnya,” berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri.

Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat dan dirasakannya telah mempengaruhi perasaannya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni ingin memanfaatkan waktunya yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika tidak ada pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.

Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni sehari penuh. Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang dirasakannya berubah.

Di malam hari, Mahisa Agni tidak melupakan pesannya kepada Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang dilakukan semalam sebelumnya bersama Sumekar.

“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil menemuinya, maka kita harus menunggu sampai besok,” berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam ini.” Keduanya-pun kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.

“Kita tunggu sebentar,” berkata Sumekar, “mungkin kita datang terlampau cepat.”

“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?” berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini, sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”

Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu. Meskipun agak lama, namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus bersama Mahendra dan Kuda Sempana.

“Kalian datang bertiga?” bertanya Mahisa Agni.

“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu. Setiap malam salah seorang dari kami pasti datang ketempat ini. Selambat-lambatnya dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana sempat bertemu dengan kalian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup menarik buat kalian.”

Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik sebuah gerumbul yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga mereka akan segera mengetahui jika ada orang yang mengintai.

Sementara itu Mahisa Agni-pun menceriterakan semuanya yang telah terjadi di istana Singasari. Persoalan Permaisuri yang rasa-rasanya benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan kemudian sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.

Witantra, Mahendra dan kuda Sempana mendengarkannya dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah apa yang akan dapat membakar Singasari.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan ceriteranya, maka mereka yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka ingin menimbang persoalannya dari segala segi.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...