Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 02-03

 *SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 02-03*


Karya.   : SH Mintardja

Beberapa orang senapati prajurit dan pimpinan pemerintahan sama sekali tidak memiliki prasangka terhadap kolam itu. Apalagi kolam itu dibangun hanya sebelah dari bangsal itu, sehingga tidak menumbuhkan kecurigaan apapun.

“Tuanku Anusapati memang penggemar taman sejak mudanya,” berkata salah seorang senapati, “selagi ia masih seorang Pangeran Pati, hampir segenap waktunya dihabiskan di taman. Sayang, bahwa salah seorang sahabatnya, pengalasan dari Batil itu telah berkhianat. Menurut kawan-kawannya, pengalasan itu termasuk salah seorang yang sering kali mendapat pesan-pesan langsung jika Tuanku Anusapati memerlukan perbaikan taman di halaman bangsalnya, atau menghendaki sebatang pohon bunga yang baru.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Dan sekarang Tuanku Anusapati mendapat kesempatan untuk memuaskan dirinya dengan taman yang akan dibangun di sebelah bangsal itu. Tetapi itu lebih baik daripada kesenangan yang lain. Lebih baik daripada Tuanku Anusapati mengambil istri muda seperti Sri Rajasa, sehingga keturunannya akan merupakan ujung-ujung yang sulit dipertemukan.”

Demikianlah, maka para pekerja tidak saja menyiapkan sebuah kolam yang luas dan dalam. Tetapi mereka harus menggali sebuah parit untuk mengaliri kolam itu, karena tidak mungkin kolam seluas itu diisi dengan daun upih dari sumur di taman. Agaknya sampai sumur itu kering, kolam itu masih belum akan dapat penuh.

Meskipun tampaknya Anusapati hanya membangun sebuah taman yang sederhana, namun ternyata memerlukan tenaga dan biaya yang cukup banyak. Meskipun demikian Singasari yang besar itu sama sekali tidak akan terganggu oleh sebuah kolam yang seandainya mengelilingi seluruh halaman istana sekalipun.

Selain para pekerja yang menggali kolam, maka beberapa orang juru taman telah menyiapkan sebuah taman yang baik. Agaknya mereka mengerti bahwa Anusapati senang terhadap bunga soka yang berwarna putih. Sebuah pohon kemuning telah ditanam di ujung kolam yang sedang disiapkan itu, sedang bunga ceplok piring susun yang berwarna kapas ditanam dekat di sudut bangsal.

Ketika kolam itu sudah cukup luas dan pohon-pohon bunga yang ditanam di sekitarnya sudah mulai semi, maka air pun mulai dialirkan ke dalam kolam itu. Sebuah parit yang panjang telah digali dari luas halaman istana, menerobos di bawah dinding batu dengan jeruji pengaman, agar tidak seorang pun yang dapat memasuki halaman melalui parit di bawah dinding istana itu.

Sepekan kemudian, maka kolam dan taman itu sudah dapat dilihat dalam keseluruhan. Tetapi beberapa batang pohon yang meskipun sudah semi tetapi masih belum tampak segar. Meskipun demikian taman itu sudah merupakan taman yang cantik.

Mahisa Agni melihat taman yang mulai kelihatan hijau itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia memuji kebijaksanaan Anusapati sehingga kolam itu tidak semata-mata dibangun untuk melindungi bangsalnya. Apalagi Anusapati membangun kolam itu sedikit demi sedikit.

Ketika taman itu benar-benar sudah menjadi segar dan air di kolam itu sudah tampak jernih, maka mulailah Anusapati mengumpulkan berjenis-jenis burung. Di waktu senggang, ia berjalan-jalan di taman yang sempit di sebelah kolam itu dengan anak dan permaisurinya.

“Apakah hamba boleh mandi di kolam itu, Ayahanda?” bertanya anak laki-lakinya.

“Ah, tentu tidak,” ibundanyalah yang menyahut, “meskipun tampaknya jernih, tetapi air kolam itu kotor. Air itu mengalir dari parit di luar halaman istana ini. Kita tidak tahu, apa saja yang sudah masuk ke dalam air itu.”

Anak laki-lakinya yang bernama Ranggawuni itu memandang ayahandanya sejenak, seolah-olah ingin mendapat penjelasan dari kata-kata ibundanya. Tetapi sambil tersenyum Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dari hari ke hari taman itu menjadi semakin banyak dihuni binatang kecil. Terutama burung berkicau. Sangkar yang bagus berserakan di tepi kolam.

Apabila Anusapati berdiri di tepi kolam itu, maka ia pun mulai membayangkan, apakah jika kolam ini kelak telah penuh mengelilingi bangsalnya, benar-benar tidak mudah di seberangi. Meskipun kolam ini dalam, tetapi hampir setiap orang dapat berenang, sehingga dengan mudah akan dapat menyeberangi kolam itu.

“Tetapi para penjaga di empat sudut bangsal ini akan segera dapat melihat gejolak air,” berkata Anusapati kepada diri sendiri, “jauh lebih mudah daripada melihat seseorang yang merunduk di kegelapan, apabila di antara rumpun-rumpun bunga.”

Ketika Mahisa Agni datang menghadap, maka Anusapati pun bertanya, “Apakah menurut Paman, kolam itu sudah cukup luas?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Hamba Tuanku. Agaknya kolam itu sudah cukup lebar dan dalam. Apabila kolam itu sudah melingkari bangsal Tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun sebenarnya ia sendiri tidak menganggap bahwa kolam itu terlalu penting, namun ia tidak pernah mengabaikan pendapat Mahisa Agni karena ternyata sampai saat terakhir Mahisa Agni telah memberikan perlindungan yang tiada taranya. Apalagi kini Mahisa Agni sudah menjadi semakin tua, sehingga menurut penilaian Anusapati, pengalaman yang ada padanya, memang pantas untuk dihargai.

Untuk beberapa saat lamanya Anusapati membiarkan kolam yang baru sebelah itu. Ternyata para penghuni istana yang lain pun sangat senang berjalan-jalan di pinggir kolam yang dipagari pohon-pohon bunga. Bahkan para prajurit yang bertugas, selalu meronda lewat sebelah kolam itu. Jika mereka kebetulan lewat, mereka pun berhenti sejenak sambil memandangi ikan-ikan emas yang besar di dalam kolam itu berenang di antara bunga teratai yang bertebaran.

Tetapi ternyata untuk beberapa saat lamanya, Anusapati tidak melanjutkan pembuatan kolam itu. Agaknya ia telah melupakan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Karena sudah sekian lamanya tidak pernah terjadi sesuatu, maka ia tidak berniat lagi melanjutkan pembuatan kolam itu.

Namun, Mahisa Agnilah yang agaknya tidak melupakannya. Bahkan ia pun telah memberanikan diri menyampaikan peringatan bahwa sebaiknya pembuatan kolam itu dilanjutkan.

Anusapati memandang Mahisa Agni yang sudah tua itu dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Katanya, “Paman adalah orang yang paling banyak berjasa kepadaku. Semua nasihat Paman berguna bagiku, sehingga aku sampai pada kedudukanku yang sekarang. Dengan demikian maka semua nasihat Paman tentu aku hargai.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah Paman tidak masih selalu dibayangi oleh pergolakan yang selalu terjadi di masa muda Paman, sehingga Paman harus menjadi sangat berhati-hati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia kini memang sudah tua. Namun ia merasa bahwa firasatnya tidak menjadi susut.

Karena itu maka katanya, “Tuanku, mungkin hamba memang terlampau berhati-hati. Namun hamba masih memohon agar Tuanku mendengarkan permohonanku kali ini. Bukan saja mengenai kolam yang mengelilingi bangsal Tuanku, tetapi setiap hubungan dengan Adinda Tuanku Tohjaya.”

Anusapati tidak mau menyakiti hati Mahisa Agni. Maka katanya, “Baiklah Paman. Aku akan selalu berhati-hati.”

Namun karena kesibukan yang lain, Anusapati tidak segera sempat melanjutkan pembuatan kolam itu. Setiap ia melihat air yang jernih dan bunga-bunga teratai, ia selalu teringat pesan pamannya. Namun jika ia melihat kedamaian di wajah air itu, seolah-olah ia tidak lagi ingin membuatnya lebih besar lagi.

Dalam pada itu, Tohjaya masih saja tenggelam di dalam kesenangannya yang baru. Hampir setiap hari ia berada di lingkaran sabung ayam.

Namun agaknya sabung ayam itu telah menarik Mahisa Agni. Ternyata kadang-kadang ia berada pula di lingkungan sabung ayam itu. Bahkan beberapa kali Mahisa Agni membawa ayam sabungan yang cukup baik ke arena.

Tetapi Mahisa Agni tidak seorang diri. Ia mempunyai seorang kawan yang cakap memilih ayam aduan yang paling baik, yang bahkan sekali-kali dapat memenangkan pertandingan melawan ayam Tohjaya sekalipun.

Namun agaknya Mahisa Agni tidak dapat memelihara hubungan baik dengan orang yang memiliki kemampuan memelihara ayam itu sehingga pada suatu saat Mahisa Agni menjadi sangat marah kepadanya justru selagi mereka berada di arena pertarungan.

“Kau jangan mencoba menipu aku,” bentak Mahisa Agni.

“Ampun tuan. Hamba tidak tahu maksud tuan,” jawab orang itu.

“Ayam yang kau bawa kemarin kepadaku sama sekali bukan ayam ini. Aku masih ingat jelas ketika aku menawarnya. Ayam itu sama sekali tidak mempunyai sehelai bulu pun yang berwarna kemerah-merahan. Apalagi ayam ini berdaun telinga putih dan bermata hitam kelam.”

“Tetapi hamba tidak bohong tuan. Sebaiknya tuan mencobanya di arena. Jika ayam ini mengecewakan, biarlah hamba tidak mendapat uang harga ayam hamba itu.”

“Aku tidak peduli apakah ayam ini baik atau buruk. Tetapi bahwa kau telah mencoba menipuku adalah perbuatan yang sangat disesalkan. Jika persoalannya bukan sekedar persoalan ayam, aku akan memilin kepalamu sampai lepas.”

“Ampun, Tuan. Ampun.”

Mahisa Agni yang marah itu tidak menjawab lagi. Dengan serta-merta ia melangkah meninggalkan arena itu sambil berkata, “Maaf, Tuanku Tohjaya. Aku telah dikecewakan oleh orang ini. Kali ini hamba tidak akan ikut serta di dalam sabungan ini.”

Sepeninggal Mahisa Agni, Tohjayalah yang kemudian mendekati orang itu sambil berkata, “Lihat ayammu.”

Sambil menyerahkan ayamnya orang itu berkata, “Tuanku Mahisa Agni benar- tidak dapat aku mengerti tabiatnya. Sudah agak lama hamba berhubungan tentang berbagai soal. Hamba adalah salah seorang dari mereka yang membuat kolam itu. Namun tiba-tiba saja Tuanku Mahisa Agni marah tanpa sebab.”

“Jangan menyesal. Jika ayam itu memang baik, biarlah aku membelinya.”

Demikianlah sejak saat itu, orang itu menjadi orang yang dekat dengan Tohjaya di dalam sabungan ayam itu.

Ternyata bahwa orang itu memang memiliki kemampuan memilih ayam aduan yang baik, sehingga setiap kali ia menjadi sangat dekat dengan Tohjaya di arena.

Meskipun sudah beberapa lama orang itu tidak lagi melayani Mahisa Agni, namun setiap kali ia melihat Mahisa Agni, ia menjadi ketakutan dan bersembunyi.

“Apakah orang itu masih datang kemari Tuanku,” bertanya Mahisa Agni.

Tohjaya tertawa sambil menjawab, “Sudahlah Paman. Sebaiknya Paman tidak mendendamnya lagi. Orang itu sudah merasa bersalah, dan sekarang ia menjadi seorang kawan hamba di dalam arena sabungan.”

“Oh,” Mahisa Agni mengangguk-angguk, “tetapi jika melihat wajahnya, rasa-rasanya tangan hamba menjadi gatal.”

“Akulah yang minta maaf atas kesalahannya Paman.”

Mahisa Agni tidak menyahut lagi. Disabarkannya hatinya. Dan apabila ia melihat orang itu lagi, maka ia hanya menggeretakkan giginya saja karena ternyata orang itu berada di bawah perlindungan Tohjaya.

Namun agaknya karena itu, Mahisa Agni menjadi semakin jarang datang ke arena, sehingga pada suatu saat, hanya sekali-kali saja ia menengoknya.

Namun dalam pada itu, orang yang sering datang membawa ayam kepadanya, yang kemudian melayani kebutuhan Tohjaya itu, itulah yang hampir setiap kali ada di arena.

Sedikit demi sedikit kepercayaan Tohjaya tumbuh terhadap orang itu. Jika orang itu tidak datang ke arena pada saat sabungan ayam, Tohjaya selalu menunggunya dengan tidak sabar, karena setiap kali orang itu selalu membawa ayam yang baik.

Tetapi dengan demikian, maka orang itu sering mendengar persoalan-persoalan yang dianggapnya janggal di dalam arena itu. Persoalan-persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan sabung ayam. Namun karena ia tidak berkepentingan, maka seolah-olah ia sama sekali tidak menghiraukan.

Seperti Anusapati yang tidak berprasangka, maka Tohjaya pun sama sekali tidak berprasangka. Tohjaya bermimpi pun tidak bahwa orang yang selalu datang kepadanya membawa ayam sabung dengan pakaian yang kumal itu adalah bekas seorang pelayan dalam yang mengenal beberapa hal mengenai istana Tumapel dan kemudian Singasari. Orang itu adalah Kuda Sempana. Dan ternyata bahwa prajurit-prajurit yang tua sekali pun, tidak dapat mengenalnya lagi karena sudah terlalu lama Kuda Sempana tidak memperlihatkan diri.

Semula, ketika Mahisa Agni minta kepadanya untuk masuk ke dalam istana, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi ternyata ia meyakinkan, bahwa tidak seorang pun lagi yang dapat mengenalnya, apalagi dengan sengaja ia menyamarkan dirinya.

Karena itulah, maka ketika ia berhasil mendapatkan perlindungan dari Tohjaya, ia menjadi semakin sering datang ke halaman istana, bukan saja di saat-saat ada sabungan ayam, tetapi juga di saat-saat lain.

Dan karena kepercayaan Tohjaya menjadi semakin tebal terhadap orang itu, meskipun sekedar di dalam persoalan ayam aduan namun kadang-kadang Kuda Sempana sempat juga mendengar persoalan-persoalan yang mencurigakan, karena ternyata di antara mereka yang berkedok bersabung ayam itu adalah orang-orang yang sebenarnya mempunyai rencana tertentu terhadap pemerintahan Anusapati di Singasari.

Ketika pada suatu saat, Mahisa Agni menjumpainya di tempat yang tersembunyi, maka Kuda Sempana menyampaikan apa yang dapat disadap dari sabungan ayam itu.

“Memang ada hal-hal yang mencurigakan Agni,” berkata Kuda Sempana, “tetapi agaknya mereka memegang teguh rahasia hubungan mereka. Sekali-kali aku juga mendengar istilah-istilah yang aneh dan menumbuhkan prasangka, tetapi aku tidak tahu pasti, apakah sebenarnya yang sudah mereka lakukan.”

“Hati-hatilah,” berkata Mahisa Agni, “sebaiknya kau tetap berada di sana. Cobalah mengetahui, siapakah yang paling berpengaruh di antara mereka, sehingga apabila mungkin salah seorang dari kita akan menjajakinya.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun kerja itu adalah kerja yang berbahaya, tetapi ia ingin juga melaksanakan. Sepintas teringat olehnya, adik seperguruannya yang sudah mati terbunuh oleh Sri Rajasa. Bukan saja nyawanya dikorbankan, tetapi juga namanya.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Pengorbanan bagi keyakinan memang cukup mahal.

Demikianlah Kuda Sempana masih saja menjalankan kewajibannya menjadi orang yang semakin dipercaya oleh Tohjaya di dalam persoalan ayam sabungan. Namun kepercayaan Tohjaya benar-benar sangat terbatas. Tetapi ia jauh lebih baik daripada tanpa ada seorang pun yang berhasil mendekatinya.

“Mahisa Agni,” berkata Kuda Sempana pada suatu ketika, “aku melihat sesuatu yang aneh hari ini. Aku tidak tahu pasti, tetapi ada firasat bahwa sesuatu akan terjadi di istana Singasari.”

“Apa yang dapat aku lakukan?”

“Tuanku Anusapati adalah seseorang yang memiliki ilmu yang cukup meskipun belum setingkat dengan Sri Rajasa. Kita berharap bahwa apabila ia tekun, ia akan segera mencapainya. Karena itu, berilah ia peringatan untuk malam ini dan beberapa hari mendatang, agar ia sangat berhati-hati. Mungkin ada sesuatu akan terjadi menilik keadaan yang aku anggap dapat menimbulkan prasangka itu. Syukurlah jika tidak terjadi apa-apa. Tetapi sebaiknya kita sangat berhati-hati menghadapi keadaan ini.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat membiarkan sesuatu terjadi atas Anusapati, sehingga karena itu maka katanya, “Aku akan berusaha meyakinkan Tuanku Anusapati bahwa sesuatu akan dapat terjadi di malam-malam mendatang. Agaknya Tuanku Anusapati menjadi semakin terlena oleh keadaan yang hening selama ini.”

Hari itu juga Mahisa Agni berusaha untuk menghadap Anusapati di bangsalnya. Meskipun kedatangannya agak mengganggu, namun Anusapati pun menerimanya juga, karena bagi Anusapati, Mahisa Agni adalah keluarganya terdekat.

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak dapat menyebutkan, apakah alasan hamba mohon kepada Tuanku, tetapi hamba mengharap bahwa Tuanku sudi mendengarkannya.”

“Hatiku menjadi berdebar-debar Paman,” sahut Anusapati sambil tersenyum.

“Hamba mohon, agar Tuanku sudi memperhatikannya meskipun barangkali hanya sekedar angan-angan seorang tua.”

“Baik Paman. Tetapi katakanlah. Barangkali kolam yang belum selesai itu? Atau soal yang lain?”

“Tidak Tuanku. Bukan persoalan kolam itu, meskipun hamba mohon agar kolam itu pada saatnya diselesaikan juga.”

“Baiklah. Katakanlah persoalan yang lain dari persoalan kolam itu.”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah hamba mendapat firasat, bahwa di saat-saat terakhir ini Tuanku telah diancam bahaya. Seperti yang hamba katakan hamba tidak dapat mengatakan alasannya. Karena itu sebaiknya hamba menyebutnya sekedar firasat.”

“Oh,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tuanku, yang hamba katakan kali ini agak lebih bersungguh-sungguh dari kecemasan hamba selama ini.”

“Oh,” Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Baginya Anusapati hanya sekedar memberinya kepuasan saja. Tetapi pada wajahnya sama sekali tidak nampak kesungguhan dan apalagi kecemasan.

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “sebenarnyalah hamba menghargai sikap Tuanku, bahwa Tuanku tidak pernah berprasangka buruk kepada siapa pun. Juga kepada lawan-lawan Tuanku. Barangkali memang hambalah yang terlalu mengada-ada. Tetapi bahwa kali ini sesungguhnyalah hamba memohon kepada Tuanku untuk berhati-hati.”

“Baik, baik Paman. Aku akan berhati-hati. Di malam hari, aku akan menyediakan penjaga yang khusus di dalam ruang dalam. Dua orang pelayan dalam yang aku percaya. Setidak-tidaknya ia akan dapat membangunkan aku jika terjadi, sesuatu, bila aku baru terlena di dalam tidurku.”

“Baiklah Tuanku. Kedua orang yang Tuanku percaya itu akan sangat berarti. Bukan saya dapat dipercaya karena kesetiaannya, tetapi dapat dipercaya kemampuannya. Tentu tidak baik dilihat orang, jika Tuanku menerima hamba di bangsal Tuanku, atau orang-orang yang pernah bekerja bagi Tuanku atau atas nama Tuanku, tetapi mereka bukannya prajurit-prajurit Singasari. Kehadiran kami di bangsal Tuanku akan cepat menimbulkan prasangka dan kecurigaan. Karena kedua orang pelayan dalam itu adalah pilihan yang tepat bagi Tuanku. Sebenarnyalah jika terjadi sesuatu selain kedua pelayan dalam itu, Tuanku sendirilah yang akan dapat mengatasinya.

“Baiklah Paman. Sejak malam nanti aku akan menempatkan kedua pelayan dalam itu di ruang dalam meskipun aku harus menemukan alasan, yang tidak dapat menimbulkan pertanyaan bagi para prajurit yang bertugas di luar.”

“Tentu Tuanku akan mendapatkan alasan itu.”

“Tentu Paman.”

“Dan hamba akan selalu menyediakan diri hamba untuk setiap saat datang ke bangsal ini. Sebaiknya Tuanku memerintahkan memberikan isyarat, jika Tuanku memerlukan hamba.”

“Ya Paman.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjadi berdebar-debar melihat sikap Anusapati. Agaknya ia benar-benar yakin bahwa Tohjaya sudah tidak akan berbuat apapun juga setelah semakin lama ia berdiam diri.

Meskipun demikian, ternyata di malam hari berikutnya, Anusapati benar-benar memanggil dua orang kepercayaannya, yang bukan saja kesetiaannya, tetapi juga kemampuannya seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni. Keduanya adalah orang-orang yang khusus bagi Anusapati. Orang-orang yang akan bersedia mempertaruhkan apa saja yang ada pada mereka untuk kepentingan Singasari.

Ketika keduanya dipanggil oleh Anusapati, maka keduanya pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ternyata keduanya hanya mendapat perintah untuk berjaga-jaga di ruang dalam.

“Badanku terasa sakit sejak kemarin,” berkata Anusapati kepada para prajurit, “pelayan dalam itu aku perlukan setiap saat sakitku tidak terkendali untuk memanggil tabib yang paling baik di Singasari. Di siang hari badanku terasa biasa saja. Tetapi di malam hari terasa betapa panasnya.”

Para prajurit tidak pernah mempersoalkan kedua pelayan dalam itu. Adalah kebiasaan seorang maharaja untuk menempatkan orang-orang yang khusus di dalam bangsalnya. Meskipun setiap saat pelayan dalam yang bertugas selalu siap menerima perintah, tetapi agaknya di dalam keadaan yang khusus, Anusapati memerlukan orang yang khusus pula.

Namun dalam pada itu, selagi keduanya ada di ruang dalam, keduanya sempat menduga, apakah sebenarnya yang dimaksud oleh Anusapati meskipun perintah tentang kesiagaan itu belum dijatuhkan atas mereka.

“Agaknya Tuanku Anusapati mulai berhati-hati,” berkata salah seorang dari mereka.

“Tuanku Anusapati terlampau baik. Tidak seorang pun yang dicurigainya. Tetapi sikap itu sangat berbahaya bagi Tuanku Anusapati itu sendiri.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya memang sesuatu akan terjadi.

“Mungkin justru karena perintah itu kita menjadi selalu merasa gelisah,” berkata salah seorang dari mereka pula.

“Mungkin. Tetapi orang yang sebersih Tuanku Anusapati itu, jika terasa sesuatu mengganggunya, biasanya bukannya sekedar sebuah kecemasan yang dibua-buat oleh bayangan sendiri.”

“Kita memang harus selalu bersiap meskipun sebenarnya kita tidak akan berarti apa-apa bagi Tuanku Anusapati selain untuk membangunkan apabila perlu itu pun agaknya kitalah yang akan dibangunkannya, indera Tuanku Anusapati yang melampaui ketajaman indera kita.”

Kawannya tersenyum, lalu, “Jadi apakah gunanya kita di sini?”

“Seperti yang dikatakan, jika Tuanku merasa badannya tidak enak di malam hari, kita akan memanggil tabib. itu saja. Selebihnya, kitalah yang akan mendapat perlindungan dari Tuanku Anusapati itu.”

Keduanya tersenyum. Dan keduanya memang merasa jauh lebih kecil dari Anusapati. Meskipun demikian kehadiran mereka memang terasa diperlukan.

Selama mereka berada di ruang dalam di malam hari, maka keduanya duduk di atas sebuah tikar di sudut ruangan. Berganti-ganti mereka berjaga-jaga sehingga semalam suntuk.

Namun justru karena ada dua orang yang bertugas itulah, maka untuk beberapa malam tidak terjadi sesuatu, sehingga akhirnya Anusapati menjadi jemu. Kehadiran kedua orang itu meskipun bukan anggota keluarganya yang dekat, namun agak terasa mengganggu. Kadang Ranggawuni tidak segera mau masuk ke dalam biliknya. Bahkan pernah terjadi, anak itu memaksa kedua pelayan dalam itu untuk pergi ke longkangan dan di malam hari itu pula, ditantangnya kedua pelayan dalam itu untuk berlatih.

Sebenarnya kedua pelayan dalam itu senang sekali melayaninya. Anak itu benar-benar seorang anak yang lucu dan lincah. Di dalam umur yang masih sangat muda, sudah tampak tanda-tanda bahwa ia akan menjadi seorang yang mumpuni. Seperti Anusapati, maka Ranggawuni pun berlatih di bawah pengawasan Mahisa Agni, selain beberapa orang pembantu yang tepercaya yang sekedar melayaninya menjaga kemantapan badannya.

Tetapi bagi Anusapati, hal itu terasa sangat mengganggunya sehingga baginya kedua pelayan dalam itu sebenarnya tidak diperlukannya.

“Paman,” berkata Anusapati kepada Mahisa Agni pada suatu saat, “sudah beberapa malam aku menempatkan penjaga itu di ruang dalam. Tetapi selama itu tidak akan pernah terjadi sesuatu. Apakah aku masih harus mempertahankan kedua orang itu di bangsal? Rasa-rasanya aku selalu terganggu dengan kehadirannya.”

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “bagi hamba kesiagaan itu masih tetap diperlukan. Namun apabila kedua orang itu rasa-rasanya mengganggu, terserahlah kepada Tuanku. Hamba hanya ingin mengingatkan, bahwa hal serupa telah terjadi. Prajurit yang dengan sengaja menimbulkan kericuhan untuk mengganggu pemerintahan Tuanku. Dan sebenarnyalah bahwa kita sudah dapat menduga siapakah yang melakukannya.”

“Tentu ia tidak akan membuat kesalahan serupa.”

Mahisa Agni menari nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya. Meskipun demikian ia masih berkata, “Tuanku. Pembunuhan atas tawanan-tawanan itu sebenarnya merupakan peringatan yang paling tajam.”

“Ya, ya. Aku selalu ingat Paman.”

Mahisa Agni terdiam. Ia hanya dapat menundukkan kepalanya.

Di malam hari berikutnya, Anusapati benar-benar telah memerintahkan agar kedua pelayan dalam itu tidak lagi berada di ruang. Anusapati sudah tidak memerlukannya lagi.

“Aku sudah sehat.”

Namun agaknya kedua pelayan dalam itulah yang kemudian menjadi berdebar-debar. Mereka sudah terlanjur dihinggapi perasaan cemas oleh firasat yang buram.

Agaknya perasaan kedua pelayan dalam yang setia itu sesuai dengan perasaan Mahisa Agni. Karena itulah, maka yang mereka lakukan adalah pengawasan dengan diam-diam atas bangsal Anusapati.

“Tetapi tuan,” berkata pelayan dalam itu kepada Mahisa Agni, “tidak mustahil bahwa yang terjadi adalah benar-benar di luar dugaan. Sebenarnyalah hamba kurang mempercayai beberapa orang di dalam lingkungan hamba. Seperti yang terjadi, prajurit-prajurit itu pun dapat berbuat seperti yang pernah terjadi.”

Mahisa Agni meng-angguk-angguk. Tetapi terlampau sulit untuk melakukan pengawasan itu dari luar.

Sebenarnyalah, selagi kedua orang pelayan dalam itu tidak ada lagi di dalam bangsal itu, rencana yang tertunda karena kehadiran kedua pelayan dalam itu mulai disusun kembali. Tetapi mereka tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Mereka sadar bahwa kecurigaan Anusapati perlahan-lahan telah lenyap. Dan mereka harus dapat memanfaatkan sikap itu sebaik-baiknya untuk membinasakan Anusapati sendiri.

Yang pertama-tama memperingatkan Mahisa Agni adalah Kuda Sempana yang berada di dalam lingkungan Tohjaya. Sikap yang mencurigakan di antara mereka yang menyabung ayam itu benar-benar sangat menarik perhatiannya meskipun ia tidak tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya akan mereka lakukan.

“Tuanku Anusapati semakin tidak menghiraukan peringatanku Kuda Sempana. Ia merasa dirinya semakin kuat dan aman. Ini adalah kesalahannya yang terbesar.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri saja melihat sesuatu yang mencurigakan di arena itu, Bahkan menurut penilaian Kuda Sempana, sabung ayam itu hanya sekedar alat untuk mempertemukan beberapa orang yang dianggap penting bagi Tohjaya.

“Itulah sebabnya aku berusaha agar kau dapat masuk ke dalam lingkungan mereka,” berkata Mahisa Agni kemudian.

“Tetapi jika Tuanku Anusapati tidak mau mendengarkan pendapatmu, aku kira adaku di antara mereka sama sekali tidak akan berarti, meskipun tidak banyak yang dapat aku ketahui tentang mereka, karena mereka sangat memegang teguh rahasia. Dan aku adalah sekedar seorang yang melayani Tuanku Tohjaya jika ia memerlukan seekor ayam yang baik.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan berusaha terus. Jika terjadi sesuatu atas Tuanku Anusapati, maka negara ini tidak akan segera tenang kembali.”

Seperti yang dikatakannya, Mahisa Agni pun setiap saat yang dianggapnya baik, selalu berusaha memperingatkan Anusapati bahwa bahaya masih selalu mengancamnya.

Tetapi seperti yang dikatakan, Anusapati menganggap bahwa Singasari telah aman.

“Jika aku tidak dibayangi oleh dendam Paman, maka tentu orang lain pun tidak akan mendendam,” berkata Anusapati kepada Mahisa Agni.

Dan Mahisa Agni pun tahu, bahwa perasaan kuat dan tenteram pada diri Anusapati, sama sekali bukan dilambari oleh perasaan sombong dan tinggi hati, tetapi justru karena ia sama sekali tidak berprasangka terhadap siapa pun.

Dan seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, itulah kesalahannya. Justru karena ia terlampau baik.

Selama itu, maka Mahisa Agnilah yang selalu dibayangi oleh kecemasan. Bahkan kadang-kadang Mahisa Agni bertanya kepada diri sendiri, “Apakah hatiku yang selalu dibayangi oleh angan-angan buruk?”

Namun, yang terjadi adalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni. Ketika di bangsal Anusapati tidak ada lagi dua orang pelayan dalam yang setia itu, justru pelayan dalam yang lainlah yang mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Seorang di antara beberapa orang pelayan dalam yang bertugas adalah orang baru. Dan karena orang itu baru, maka kehadirannya sudah menarik perhatian. Sejalan dengan peringatan Kuda Sempana, maka kehadiran kedua orang baru itu menumbuhkan pertanyaan pula pada kedua pelayan dalam yang pernah mendapat tugas di dalam bangsal Anusapati.

“Orang baru itu terlampau cepat mendapat kepercayaan untuk bertugas di dalam bangsal Tuanku Anusapati,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Apakah ada hubungannya dengan kecurigaan Tuanku Mahisa Agni seperti yang sering dikatakan selama ini?”

“Mungkin sekali,” jawab kawannya, “karena itu sebaiknya kita menghubunginya.”

Kedua pelayan dalam itu pun kemudian menghubungi Mahisa Agni dan melaporkan tentang seseorang yang masih sangat baru yang bertugas di bangsal Anusapati.

“Apakah orang itu selalu berada di dalam.”

“Ia berada di bagian belakang bangsal. Memang jarang-jarang ia berada di luar.”

“Apakah tugasnya?”

“Menyiapkan keperluan Tuanku Anusapati. Menjalankan perintahnya jika ada keperluan-keperluan kecil yang tidak sepantasnya dilakukan oleh para emban. Baik keperluan Tuanku Anusapati sendiri, maupun keperluan-keperluan Tuanku Permaisuri dan Tuanku Ranggawuni.”

“Ada berapa orang pelayan dalam di bangsal itu?”

“Lima orang yang bertugas di dalam, selain para prajurit yang berada di luar.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi ia harus mencari akal, bahwa orang itu harus diawasi.

Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni mencari hubungan dengan Kuda Sempana. Kemudian setelah berjanji, Mahisa Agni pun masuk ke dalam bangsal.

“Hamba tidak mempunyai kepentingan yang harus mendapat perhatian Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “hamba hanya sekedar ingin bertemu dengan cucunda Ranggawuni.”

“Oh,” Anusapati mengerutkan keningnya. Memang hubungan antara Mahisa Agni dan Ranggawuni agak berbeda dengan hubungannya dengan Mahisa Agni di masa kanak-kanaknya. Ia sendiri di masa kanak-kanaknya hampir tidak ada seorang pun yang menghiraukan selain embannya yang kini melayani ibundanya yang sudah tua pula. Dengan demikian justru ia menjadi erat dengan Mahisa Agni dan berlatih olah kanuragan meskipun dengan rahasia. Tetapi kini Ranggawuni tidak lagi dibiarkannya berkeliaran. Sehingga dengan demikian, waktunya memang tidak terlampau banyak berhubungan dengan Mahisa Agni. Meskipun dengan keadaannya kini Ranggawuni tidak usah berlatih dengan diam-diam.

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “hamba ingin mengajak cucunda Ranggawuni. Hamba mempunyai suatu permainan yang baik bagi cucunda, sebagai kelengkapan olah kanuragannya.”

“Oh, silakan Paman. Tetapi aku harap ia cepat kembali.”

“Baiklah Tuanku. Tetapi hamba mohon seseorang untuk mengantarkan cucunda, barangkali permainan itu dapat dibawanya kembali ke bangsal ini.”

“Oh,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “biarlah seseorang mengantarkannya.”

Atas petunjuk Mahisa Agni, maka Ranggawuni pun mengajak pelayan dalam yang baru itu untuk mengantarkannya.

“Apakah kau orang baru?” anak itu bertanya. Pelayan dalam yang baru itu mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba Tuanku. Hamba adalah orang baru di sini. Hamba mendapat tugas bersama beberapa orang kawan-kawan hamba.”

“Apakah kau senang berada di Singasari?”

“Tentu Tuanku. Dan hamba memang orang Singasari.”

“Maksudku apakah kau senang menjadi seorang pelayan dalam?”

“Senang sekali Tuanku. Karena hamba memang ingin mengabdi kepada ayahanda Tuanku. Tuanku Anusapati adalah seorang maharaja yang adil dan bijaksana. Apalagi ternyata di sini ada Tuanku. Tuanku adalah seorang anak yang kuat, yang akan tumbuh menjadi seorang yang perkasa.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Kau memuji. Tetapi terima kasih. Sekarang aku memerlukan kau. Antarkan aku ke rumah Pamanda Mahisa Agni untuk mengambil permainan.”

“Oh,” pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, “maksud Tuanku, apakah hamba harus memanggil seorang prajurit pengawal?”

“Tidak perlu. Seperti Pamanda Mahisa Agni, seperti Ayahanda di masa mudanya, mereka tidak memerlukan pengawal.”

“Tetapi Tuanku Ranggawuni akan menjadi Pangeran Pati.”

“Ayahanda sudah menjadi Pangeran Pati. Namun Ayahanda sama sekali tidak memerlukan pengawal.”

Mahisa Agni yang mendengar percakapan itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ranggawuni yang masih terlampau muda itu, telah menunjukkan kelebihannya sebagai seorang yang apabila tidak ada rintangan, akan menggantikan kedudukan ayahanda melalui jabatan seorang Pangeran Pati.

Pelayan dalam itu tidak dapat ingkar lagi. Ia pun kemudian mengantarkan Ranggawuni yang pergi ke bangsal Mahisa Agni untuk mengambil permainan yang dikatakannya.

Demikianlah, setelah permainan itu diberikan, maka Mahisa Agni pun mempersilahkan Ranggawuni kembali ke bangsal ayahandanya.

Ternyata Ranggawuni senang sekali dengan permainan yang diberikan oleh Mahisa Agni itu. Dua buah lingkaran yang berat, terbuat dari kayu berlian, diikat pada ujung dan pangkal sebuah rantai besi.

“Besok hamba akan memberi tahu, bagaimana mempergunakan permainan itu Tuanku,” berkata Mahisa Agni kepada Ranggawuni yang sebelum ia meninggalkan bangsalnya.

Tetapi agaknya Ranggawuni yang cerdas itu telah dapat menduga, bagaimana mempergunakan permainan itu. Bahkan baginya bukan sekedar sebuah permainan, tetapi bentuk itu adalah bentuk yang lebih aman dari sebuah senjata.

Namun yang penting bagi Mahisa Agni, bukannya permainan yang sudah diberikan kepada Ranggawuni itu. Tetapi ketika Ranggawuni dan pengantarnya sudah kembali meninggalkan bangsalnya, maka dari ruang belakang seseorang muncul sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah benar orang itu termasuk salah seorang yang pernah kau lihat?”

Kuda Sempana masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku pernah melihatnya. Bahkan orang itu termasuk orang yang pantas mendapat perhatian, karena ia terlampau dekat dengan Tohjaya meskipun tidak dalam pakaian seorang prajurit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan kerut-merut di kening ia berkata, “Kuda Sempana. Tentu ada jalur yang menghubungkan Tohjaya dengan pimpinan pelayan dalam, sehingga orang itu tiba-tiba saja sudah terlempar ke dalam tugas di bangsal Maharaja Singasari. Biasanya untuk menunjuk pelayan dalam yang bertugas di dalam bangsal maharaja diperlukan penelitian yang seksama, dan hanya mereka yang sudah terbukti kesetiaannya. Tetapi orang itu adalah orang yang justru sangat meragukan.”

“Ya. Dan itulah yang mendebarkan hati. Apalagi agaknya Tuanku Anusapati sama sekali tidak menghiraukan masalah itu. Bahkan jika seseorang memberitahukan atau memperingatkannya, jangankan aku, sedangkan Adinda baginda, Tuanku Mahisa Wonga Teleng pun seakan-akan tidak diperhatikannya.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

“Apakah kau dapat memotongnya langsung di sabungan ayam karena alasan yang dapat kau buat?”

“Tentu berbahaya sekali. Orang-orang lain yang tidak tahu menahu persoalannya, akan menumpahkan semua kesalahan padaku. Apalagi jika ada yang dapat mengenalku sebagai Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kuda Sempana akan dapat dihukum mati dengan cara yang mengerikan jika ia membunuh seorang prajurit atau seorang pelayan dalam di dalam arena sabung ayam dengan alasan yang kurang mapan.

“Atau mungkin di saat yang lain?”

“Mahisa Agni,” berkata Kuda Sempana, “itu agaknya bukan cara yang dapat meyakinkan Tuanku Anusapati. Jika bahaya itu tidak tampak langsung pada Tuanku Anusapati, maka Tuanku Anusapati akan tetap hidup di dalam dunia yang damai dan tenang seperti sekarang tanpa melihat pergolakan di bawah permukaan air yang diam itu.”

“Aku mengerti. Jika orang itu hilang, maka yang paling mengalami kejutan adalah justru orang yang memasangnya dan mungkin Tohjaya. Tetapi ia akan dapat segera memasang orang baru di bangsal Tuanku Anusapati. Dan bahaya bagi Tuanku Anusapati masih tetap akan mengancam.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak segera menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk mengatasi kemungkinan yang paling buruk bagi Anusapati.

Namun demikian, Mahisa Agni tidak boleh berdiam diri. Apalagi ia sudah melihat kemungkinan bahwa sesuatu bakal terjadi.

Karena Mahisa Agni tidak dapat menemukan cara yang dapat ditempuh di luar pengetahuan Anusapati, maka diberanikannya sekali lagi menghadap, meskipun yang mula-mula dicarinya adalah Ranggawuni.

“Apakah Cucunda dapat mempergunakan permainan yang hamba berikan?” berkata Mahisa Agni.

“Aku sedang mencoba,” sahut Ranggawuni.

“Tetapi apakah Ayahanda ada di ruang dalam?”

“Apakah kau akan menghadap?”

“Hamba Cucunda.”

“Kenapa tidak di paseban?”

“Tidak. Hamba tidak akan membicarakan masalah-masalah penting bagi Singasari. Hamba hanya akan sekedar menghadap dan membicarakan persoalan-persoalan kecil saja.”

Ranggawuni kemudian memanggil seorang pelayan dalam yang menyampaikan keinginan Mahisa Agni untuk menghadap.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia tetap menghormati Mahisa Agni. Tetapi bagi Anusapati, Mahisa Agni kadang-kadang terlalu banyak membutuhkan perhatian.

“Mungkin demikianlah agaknya setiap orang,” berkata Anusapati kepada diri sendiri, “semakin tua kadang-kadang semakin membosankan.”

Namun demikian dipanggilnya juga Mahisa Agni masuk.

“Ampun Tuanku. Agaknya sudah waktunya Tuanku beristirahat. Tetapi perkenankanlah hamba menyampaikan sedikit persoalan yang sepantasnya mendapat perhatian Tuanku.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Tuanku. Perkenankanlah hamba berkata terus terang.”

Anusapati mengangguk.

“Di dalam bangsal ini ada seorang pelayan dalam yang masih baru Tuanku.”

“Oh,” Anusapati masih menganggukkan kepalanya, “apa salahnya?”

Mahisa Agni pun kemudian mencoba menjelaskan, apa yang diketahui tentang pelayan dalam itu, dan kebiasaan yang berlaku sampai saat terakhir tentang penugasan seseorang di bangsal seorang maharaja.

Anusapati tertawa pendek. Katanya, “Terima kasih Paman. Paman memang terlampau berhati-hati. Paman sudah menjumpai peristiwa yang agaknya membuat hati Paman agak cemas menanggapi setiap perubahan. Paman, jika seorang pelayan dalam sudah tidak dapat bekerja lagi, maka tentu akan datang saatnya orang baru menggantikannya. Apakah hal itu bukannya hal yang biasa saja?”

“Memang Tuanku. Tetapi bahwa penggantian itu tidak melakukan cara-cara yang selama ini ditempuh adalah sangat mencurigakan.”

“Jika demikian,” Anusapati kemudian memotong, “apakah yang baik aku lakukan menurut Paman?”

“Tentu kita tidak dapat dengan serta-merta menuduhnya. Tetapi kita harus mempunyai bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa orang itu memang pantas dicurigai.”

“Caranya?”

“Tuanku, apakah Tuanku sempat untuk berjaga-jaga dalam waktu yang tidak tertentu?”

“Maksud Paman?”

“Sebenarnyalah bahwa Tuanku tentu akan sempat menolong diri sendiri jika terjadi sesuatu. Tetapi pada suatu saat tentu Tuanku akan lengah. Saat itulah yang ditunggunya.”

“Aku mengerti Paman. Tetapi lalu bagaimana? Apakah aku harus berjaga-jaga setiap hari sepanjang malam?”

“Seharusnya demikian. Tetapi karena hal itu tidak mungkin Tuanku lakukan, maka perkenankanlah kita menempuh jalan lain.”

“Sebutkan.”

“Biarlah hamba memasuki bangsal ini setiap malam Tuanku. Hamba akan mengambil jalan yang tidak mencurigakan. Hamba akan memasuki bangsal ini lewat atap.”

“Ah, mengapa Paman mencari kesulitan? Paman dapat masuk ke bangsal ini kapan saja Paman kehendaki.”

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...