BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-22-03
“Mungkin mereka belum mendapat kesempatan malam kemarin tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa, “jika demikian, maka mereka baru dapat melakukannya malam ini. Karena itu, maka kita masih harus bersabar sehari besok. Besok malam pasti akan datang berita yang menggembirakan itu.”
Sri Rajasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun matanya tetap terpancang dikejauhan. Bahkan sejenak kemudian ia berkata, “Tinggalkan aku sendiri.”
Penasehat Sri Rajasa itu membungkukkan badannya dalam-dalam. Kemudian dengan hati yang berdebar-debar ia meninggalkan Sri Rajasa yang duduk dengan murung.
Namun dalam pada itu, bukan saja Sri Rajasa dan Penasehatnya sajalah yang menjadi gelisah. Sumekar-pun menjadi gelisah seperti juga Sri Rajasa.
Oleh kegelisahan yang memuncak, maka Sumekar-pun tidak dapat duduk diam di dalam biliknya. Dengan hati-hati ia-pun merayap keluar dan ditempat yang terlindung oleh bayangan dedaunan ia melocati dinding keluar istana.
“Mungkin aku dapat menemui salah seorang dari mereka,” berkata Sumekar di dalam hatinya.
Meskipun Sumekar tidak pasti, tetapi ia pergi juga ke tempat yang ditentukan untuk menemui salah seorang dari kawan-kawan Mahisa Agni.
Sumekar menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Mahendra seorang diri menunggunya dengan gelisah pula.
“Hampir saja aku pergi,” berkata Mahendra.
“Apakah yang terjadi?”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Perang memang sudah mulai,” katanya. Lalu, “Ternyata bahwa Ken Arok itu mulai dengan cara-cara Hantu di Padang Karautan.”
“Apa yang dilakukan?”
“Ia menjadi kasar.” Dan Mahendra-pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi.”
“Jadi benar dugaanku. Untunglah bahwa Mahisa Agni sempat menyelamatkan diri karena kalian ada di sana.”
“Kaulah yang paling berjasa. Tanpa keteranganmu, kami tidak cukup bersiaga.”
“Itu-pun suatu kebetulan.”
“Baiklah, katakanlah itu suatu kebetulan. Tetapi Mahisa Agni sangat berterima kasih kepadamu.”
Sumekar tersenyum. Ia-pun merasa bersyukur, bahwa Mahisa Agni telah terlepas dari bahaya maut. Betapa besar kemampuannya, namun menghadapi orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi itu bersama-sama, Mahisa Agni pasti akan mengalami kesulitan.
“Tetapi kemudian, Mahisa Agni sangat mencemaskan nasib Putera Mahkota,” berkata Mahendra kemudian, “karena itu aku membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, kau harus mengawasinya baik-baik. Meskipun kemampuan Putera Mahkota semakin meningkat di saat-saat terakhir dan bahkan hampir menjadi matang pula, namun apabila ia dihadapkan pada keadaan yang kasar, seperti yang dihadapi oleh kakang Mahisa Agni, maka ia akan benar-benar mengalami kesulitan. Adalah sulit sekali untuk memberikan bantuan kepadanya meskipun kami mengetahui bahaya yang mengancamnya. Kau adalah satu-satunya orang yang ada di dalam.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam.
“Bagaimana dengan tuanku Mahisa Wonga Teleng?”
“Kemampuannya meningkat juga.”
Mahendra merenung sejenak. Lalu, “Memang sulit bagimu untuk mengikuti serta membinanya. Mungkin tanpa disadarinya ia menyebut namamu. Dengan demikian semuanya akan menjadi rusak.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Memang semakin banyak orang yang mengetahui persoalannya akan menjadi semakin gawat.”
“Tetapi kau dapat mendesak kepada Putera Mahkota, agar usahanya menuntun adiknya agak dipercepat. Di dalam keadaan yang paling sulit, ia akan dapat membantunya betapa-pun kecil artinya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, hati-hatilah. Besok aku akan kembali ke Kediri.”
“Sampaikanlah kepada kakang Mahisa Agni. Penasehat Sri Rajasa menjadi sangat gelisah. Mungkin ia menunggu berita yang datang dari Kediri. Agaknya ia tidak sabar lagi menunggu berita kematian Mahisa Agni.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Itu adalah suatu berita yang menyenangkan. Ia akan tetap gelisah sehingga pada suatu batas tertentu ia akan mengambil sikap. Aku akan minta agar untuk beberapa hari Mahisa Agni tidak menampakkan diri.”
Keduanya-pun kemudian berpisah. Sumekar kembali masuk kehalaman istana dengan meloncati dinding. Dengan hati-hati ia menuju ke biliknya dan duduk beberapa saat di depan pintu.
Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya yang tegang. Terbayang peristiwa yang terjadi di Kediri. Untunglah bahwa Mahisa Agni masih tetap mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga ia berhasil menyelamatkan diri.
Sumekar tetap duduk di tempatnya ketika ia melihat dua orang prajurit peronda yang lewat. Ketika keduanya melihat Sumekar duduk di depan pintu, salah seorang dari mereka bertanya, “He, kenapa kau duduk disitu?”
“Aku tidak dapat tidur. Panasnya bukan main di dalam gubugku.”
Kedua prajurit itu tidak menyahut. Ditinggalkannya Sumekar yang masih tetap duduk ditempatnya memandang jauh menembus gelapnya malam.
Pada saat itu, ternyata Sri Rajasa sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ternyata tidak ada seorang utusan-pun yang datang dari Kediri, yang dengan nafas terengah-engah melaporkan bahwa wakil Mahkota itu telah terbunuh di dalam suatu perampokan yang paling besar yang pernah terjadi.
“Mungkin malam ini,” demikianlah setiap kali Sri Rajasa menenterampan dirinya sendiri. Tetapi setiap kali timbul pertanyaan, “Bagaimana jika gagal dan bahkan Mahisa Agni berhasil menangkap mereka dan memaksa mereka berbicara?”
Kegelisahan yang sangat telah mencengkam hati Sri Rajasa. Namun sambil menggeram ia berkata, “Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa aku pernah memerintahkannya. Aku dapat menganggapnya sebagai suatu fitnah yang keji.” Meskipun demikian Sri Rajasa masih tetap tidak dapat memejamkan matanya. Kegelisahan yang sangat selalu mengganggunya.
Demikian jugalah Penasehat yang berjalan hilir mudik didalam biliknya. Sama sekali tidak dapat dibayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi seperti Sri Rajasa ia berkata kepada diri sendiri, “Malam ini. Semuanya akan terjadi malam ini.”
Namun ketika hari berikutnya menjadi semakin pudar, dan kegelisahan yang sangat telah mencekam hati Sri Rajasa dan Penasehatnya, namun tidak ada juga seorang-pun yang datang dari Kediri untuk melaporkan sesuatu yang telah terjadi.
“Gila,” Sri Rajasa bergumam kepada diri sendiri, “apakah mereka tidak berani melakukannya?”
Penasehatnya yang menghadap, sama sekali tidak dapat memberikan jawaban.
“Atau barangkali Mahisa Agni sempat memanggil pada prajurit dan menangkap mereka?”
“Jika demikian tuanku, agaknya pasti akan datang juga laporan tentang perampokan yang gagal itu,” berkata Penasehatnya.
Penasehatnya menundukkan kepalanya.
“Jika sekali ini gagal, aku harus mempergunakan kekerasan. Aku akan menjatuhkan perintah menangkap Mahisa Agni tanpa bersembunyi.”
“Jangan tuanku. Alasan apakah yang akan tuanku pergunakan untuk melakukannya? Tuanku hanya diburu oleh perasaan, tetapi tuanku harus tetap mempertahankan keseimbangan. Tuanku telah memberikan petunjuk kepada hamba, bagaimana gagal mempergunakan Kiai Kisi. Dan tuanku telah berusaha melakukannya dengan cara yang jauh lebih halus. Jika sekarang tuanku berbuat sebaliknya, maka yang terjadi-pun akan sebaliknya.”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Aku tidak boleh kehilangan akal. Aku harus menyusun rencana sebaik-baiknya.”
Sekilas terbayang hasil yang pernah dicapai dengan permainannya yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Jika ia kini berbuat kasar, maka seakan-akan sia-sialah apa yang pernah dicapainya itu. Bahkan mungkin akan dapat timbul pertentangan di antara para prajurit di Singasari, sehingga kebesaran Singasari yang sudah dapat dicapainya selama ini akan menjadi pudar karenanya.
Meskipun demikian ia harus mencari jawab, bagaimanakah jika Mahisa Agni dapat mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Bukan saja kini, tetapi dengan demikian Mahisa Agni pasti menelusur masa lampaunya. Kematian pamannya, seorang Empu yang mumpuni, Empu Gandring.
Demikianlah pada hari berikutnya dan hari berikutnya tidak juga ada seorang-pun yang datang menghadap, sehingga kegelisahan Sri Rajasa telah sampai ke puncaknya.
“Akulah yang akan memerintahkan seseorang pergi ke Kediri untuk melihat apa yang sudah terjadi disana,” berkata Sri Rajasa.
“Benar tuanku. Tetapi hamba mohon agar kepergiannya bukan merupakan seorang, utusan resmi tuanku,” berkata penasehatnya.
“Maksudmu?”
“Hamba akan mengirimkan seorang petugas sandi yang dapat hamba percaya untuk mengetahui keadaan sebenarnya.”
Sri Rajasa mengangguk-angguk. Jawabnya, “Lakukanlah.”
Penasehat itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada Sri Rajasa. Seakan-akan gairah perjuangan yang selama ini menyala di dadanya menjadi semakin pudar. Nafsu yang membakar hasratnya untuk menjadikan Singasari sebuah negara yang besar, rasa-rasanya kini sedang mengalami masa surut yang dapat membahayakan Sri Rajasa sendiri, sehubungan dengan keinginannya mewariskan tahta kepada Tohjaya, bukan kepada Putera Mahkota.
Tetapi penasehat itu tidak bertanya lagi. Ia masih harus mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di Kediri. Jika masih ada tanda-tanda yang dapat membangkitkan gairah perjuangan Sri Rajasa, maka agaknya kesempatan masih belum lewat seluruhnya.
Namun Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar Tohjaya tidak melihat kekecewaan yang hampir-hampir telah mematahkan semua usaha ayahandanya. Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar bayangan-angan yang suram mulai menghantui ayahandanya, tidak berpengaruh atas Tohjaya.
Tetapi dalam pada itu, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sendiri, seakan-akan selalu saja dibayangi oleh masa lampaunya. Jalan yang dilalui sampai ke Singgasana sekarang ini bukannya jalan yang bersih dan rata. Tetapi jalan yang berlumuran dengan darah dan noda-noda kejahatan. Meskipun Singasari sekarang diakui sebagai suatu hasil perjuangan yang gemilang, namun noda-noda darah itu rasa-rasanya masih tetap melekat ditangan Sri Rajasa.
Dalam pada itu, Penasehat Sri Rajasa itu benar-benar telah mengirimkan seorang kepercayaannya dalam tugas sandi. Ia harus melihat apa yang terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.
Tetapi yang dilihat oleh petugas sandi itu benar-benar mendebarkan jantung. Ia tetap melihat Mahisa Agni pada tugasnya tanpa cidera seujung rambutpun. Ia sama sekali tidak mendengar berita dari orang-orang yang dekat dengan keluarga istana atau-pun tentang perampokan yang pernah terjadi. Sebagai seorang petugas sandi ia mempunyai kemahiran mengorek keterangan dari orang-orang yang dianggapnya berkepentingan. Namun para prajurit yang bertugas di istana itu-pun tidak pernah mendengar bahwa pernah terjadi keributan di istana itu.
“Aku harus dapat berhubungan dengan pelayan-pelayan di istana ini. Bukan sekedar dengan para prajurit yang setiap kali berganti tugas,” katanya.
Tetapi untuk menghubungi pada abdi di istana itu memang agak sulit. Tidak banyak jalan yang dapat ditempuh. Jarang sekali para abdi pergi keluar regol istana.
Setelah melakukan pengamatan beberapa lamanya, petugas sandi itu melihat, bahwa seorang daripada para abdi itu agaknya mempunyai keleluasan yang lebih besar dari abdi yang lain. Setiap kali ia melihat abdi yang seorang itu di regol. Abdi itu pulalah yang kadang-kadang menyongsong kedatangan Mahisa Agni apabila ia datang dari istana Kediri yang sampai saat terakhir masih dipergunakan oleh keluarga terdekat dari Maharaja Kediri yang terkalahkan.
“Orang itu agaknya mempunyai kedudukan yang agak baik di dalam istana itu,” berkata petugas itu di dalam hatinya.
Akhirnya petugas itu berhasil menemui abdi yang dianggapnya mempunyai kedudukan baik itu. Ternyata orang itu adalah juru taman, tetapi juga seorang pekatik dan juru pemelihara kuda khususnya kuda kesayangan Mahisa Agni.
Dan orang itu adalah Kuda Sempana meskipun ketika petugas sandi itu berhasil memperkenalkan dirinya. Kuda Sempana menyebut dirinya bernama Ki Jalu.
“Apakah kau sudah lama mengabdikan diri kepada tuanku wakil Mahkota,” bertanya petugas sandi itu.
“Sudah. Aku berada di istana ini sejak tuanku Mahisa Agni memasuki istana ini. Pamanku adalah abdi istana ini sejak muda. Pamanku itulah yang membawa aku masuk ke istana itu.”
“Ki Sanak,” berkata petugas sandi itu, “apakah kau dapat menolong aku mengusahakan pekerjaan di istana itu?”
Kuda Sempana memandanginya dengan saksama. Lalu, “Aku kira tidak ada yang menarik bekerja di istana itu. Mahisa Agni adalah orang yang paling kikir dari setiap pemimpin yang pernah aku jumpai.”
“Benar begitu?”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun sejak semula Kuda Sempana sudah menaruh curiga, bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang khusus dengan abdi yang mungkin dapat dikenalnya.
“Terlalu kikir. Kadang-kadang timbul suatu keinginan yang jahat dihati ini.”
“Kenapa?”
“Kadang-kadang aku ingin mencuri atau kalau aku memiliki kemampuan, ingin juga rasa-rasanya merampok isi istana ini.”
Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah memang pernah terjadi perampokan.”
“Hanya orang gila yang membunuh diri yang berani melakukannya. Setiap orang tahu, bahwa tuanku Mahisa Agni tidak ada duanya di Kediri.”
“Bagaimana jika empat atau lima orang bersama-sama.”
“Bodoh sekali. Ada sepuluh orang prajurit yang setiap malam berjaga-jaga di halaman ini. Jika dihitung dengan semua laki-laki yang tinggal di bagian belakang, ada lebih dari dua-puluh orang.”
“Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit biasa. Bagaimana jika yang datang itu lima orang pilihan seperti tuanku Wakil Mahkota.”
Kuda Sempana tertawa. Katanya, “Itu suatu mimpi buruk. Sudahlah, jangan mencoba menjadi hamba di istana itu. Aku yang sudah terlanjur bekerja pada Wakil Mahkota, rasa-rasanya ingin mendapatkan pekerjaan lain yang lebih bebas.”
Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Ia harus mendapat keterangan, apakah pernah terjadi sesuatu di istana itu. Apakah orang-orang yang ditugaskan oleh Sri Rajasa untuk membunuh Mahisa Agni sudah melakukan usahanya.
Tetapi ternyata menurut juru taman, di istana ini tidak pernah terjadi sesuatu. Tidak pernah terjadi perampokan, apalagi usaha pembunuhan. Jika hal itu terjadi, maka juru taman ini pasti akan menceriterakan kepadanya.
“Jadi,” berkata petugas sandi itu, “tidak ada seorang perampok-pun yang pernah mencoba melakukan perampokan di istana ini?”
Kuda Sempana menggeleng. Tetapi kecurigaannya kepada orang ini-pun menjadi kian bertambah.
“Atau barangkali kau sedang tidak ada di istana?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak pernah pergi untuk waktu yang lama. Memang aku kadang-kadang menengok keluargaku jauh dari kota. Tetapi tidak lebih dari semalam, aku sudah kembali lagi.”
“Jika yang semalam itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu ada juga orang lain yang mengatakannya. Mereka pasti akan berceritera tentang perampokan itu. Tetapi aku tidak pernah mendengarnya. Dan aku juga tidak pernah melihat perampok-perampok yang tertawan atau terbunuh. Jika mereka tertangkap, mereka pasti ada ditangan para prajurit, sedang jika mereka terbunuh, mereka pasti akan dikuburkan.”
Petugas sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata para perampok yang mendapat tugas untuk membunuh Mahisa Agni itu tidak pernah melakukan tugasnya sebagaimana yang pernah disanggupinya.
Tetapi petugas sandi itu tidak langsung mempercayai keterangan Kuda Sempana. Ia masih mengharap keterangan dari orang-orang lain, karena mungkin juru taman itu tidak mengetahui persoalan itu atau mungkin ia sengaja menyembunyikannya.
Namun hampir setiap orang yang dihubunginya, mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar tentang sebuah perampokan yang terjadi di istana, sehingga akhirnya petugas itu yakin bahwa memang perampok itu tidak pernah terjadi.
Dengan hati yang berdebar-debar petugas itu-pun kembali ke Singasari. Jika penasehat Sri Rajasa itu tidak mempercayainya, maka ia akan dapat dituduh melakukan tugasnya sebaiknya. Namun menurut penilaiannya, sesuai dengan keterangan-angan yang didengarnya, maka laporan yang dibawanya itu adalah suatu kebenaran. Penasehat Sri Rajasa dapat mengirimkan petugas yang lain yang pasti akan mendapat keterangan yang sama pula.
Sebenarnya, bahwa keterangan itu tidak langsung dapat dipercaya. Meskipun penasehat Sri Rajasa itu tidak mempersoalkannya, namun diam-diam ia mengirimkan orang lain untuk tidak mempersoalkan tugas yang sama. Tetapi keterangan yang diterimanya tidak berbeda. Di istana wakil Mahkota di Kediri, tidak pernah terjadi sesuatu. Apalagi pembunuhan. Mahisa Agni masih tetap berada di istana itu dan melakukan tugasnya seperti biasa.
“Gila,” Sri Rajasa menggeram, “apakah sebenarnya yang mereka lakukan? Apakah keuntungan mereka dengan melakukan penipuan serupa itu. Ia tidak akan dapat memeras aku dengan rahasia yang didengarnya atas usaha pembunuhan terhadap Mahisa Agni. Tidak akan ada seorang-pun yang mempercayainya dan ia akan segera aku binasakan atas dukungan para panglima.”
“Tentu bukan itu maksudnya tuanku.”
“Jadi apa?”
“Itulah yang hamba tidak tahu.”
Sri Rajasa menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tampak pada sorot matanya, bahwa seakan-akan ia telah dicengkam oleh kelelahan yang amat sangat. Wajahnya seakan-akan sudah tidak memancarkan kebesaran pribadinya sebagai seorang Maharaja yang telah berhasil mempersatukan seluruh Singasari.
“Tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa, “perkenankanlah hamba pergi kepadepokan mereka. Perkenankanlah hamba melihat, apakah mereka ada di sarangnya. Dengan demikian, tuanku akan mendapat gambaran yang sebenarnya dari orang-orang itu.”
Sri Rajasa mengangguk-angguk kosong. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Pergilah.”
Dihari berikutnya Penasehat Sri Rajasa itu-pun benar-benar pergi menyelusuri jejak para perampok yang mendapat tugas untuk membinasakan Mahisa Agni.
Namun yang dijumpainya dipadepokan itu benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Dari para murid yang masih tinggal, penasehat Sri Rajasa itu mendengar, bahwa guru mereka bersama saudara-saudara seperguruan mereka, telah pergi beberapa lama, dan sampai sekarang masih belum kembali.
Ternyata kedatangannya adalah sia-sia. Ia sama sekali tidak mendapat gambaran dari apa yang sudah terjadi. Ia sama sekali tidak dapat menduga, kemanakah mereka pergi dari apakah yang sudah terjadi atas mereka.
Karena itu, sambil menundukkan kepada dalam-dalam, penasehat Sri Rajasa kembali ke Singasari dan menyampaikan hasil perjalanannya.
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil menatap ke kejauhan ia berkata, “Mendung yang tebal sedang memayungi Singasari.”
“Tetapi matahari akan segera bersinar kembali tuanku. Hamba akan tetap berusaha, apa-pun yang akan mungkin terjadi atas hamba. Tetapi putera tuanku dan tuan puteri Ken Umang itu memang sepantasnya menggantikan kedudukan tuanku.”
Sri Rajasa tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap memandang ke kejauhan.
“Tuanku, bagaimanakah jika hamba mengatakan rahasia yang sebenarnya kepada tuanku Anusapati, agar ia menyadari dirinya sendiri?”
“Maksudmu?”
“Putera Mahkota itu harus menyadari, bahwa sebenarnya ia tidak berhak menggantikan kedudukan tuanku menjadi Maharaja di Singasari, karena tuanku Anusapati sama sekali bukan putera tuanku.”
“Gila.” Sri Rajasa menggeram, “kau sudah gila. Itu tidak akan bermanfaat. Ia akan bertanya siapakah ayahnya, dan ia akan bertanya, siapakah yang membunuh ayahnya.”
“Tidak seorang-pun yang tahu, dan tidak seorangpun, yang akan dapat memberitahukan kepadanya. Apalagi ayahnya hanyalah seorang Akuwu Tumapel, sama sekali tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Singasari sekarang.”
“Tetapi Tumapel adalah sumber kekuasaan Singasari sekarang. Dan ia akan tetap merasa berhak atas tahta Tumapel yang mendapatkan bentuknya yang sekarang.”
“Tuanku Anusapati tidak akan berani berbuat demikian tuanku. Ia tidak melihat apa yang sudah terjadi. Meskipun seandainya ibunda tuanku Anusapati berceritera tentang masa lampau, namun ia dapat tidak akan terlalu banyak menyinggung tentang Akuwu Tumapel.”
Tetapi Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau melupakan seseorang yang mengetahui terlampau banyak apa yang telah terjadi.”
Penasehatnya mengerutkan keningnya.
“Mahisa Agni. Ia memang sumber dari awan gelap yang membayangi tahta Singasari sekarang, sehingga rasa-rasanya aku telah duduk diatas bara yang menyala.”
Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang manusia yang seakan-akan memiliki keajaiban. Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib, tetapi ia tidak mampu melenyapkan Mahisa Agni dengan berbagai macam cara.
Bahkan orang-orang yang paling dipercaya yang dikirim ke Kediri itu bagaikan telah hilang tanpa bekas. Tidak seorang-pun di Kediri yang pernah menceriterakan tentang kehadiran mereka, tetapi ternyata mereka telah hilang begitu saja.
“Sesuatu peristiwa yang hampir tidak dapat aku mengerti,” berkata Sri Rajasa kemudian. “kemanakah sebenarnya orang-orang itu pergi. Apakah mereka mengurungkan niatnya, atau mereka telah disergap oleh petugas-tugas sandi Mahisa Agni sebelum mereka sampai ke istana.”
“Dimana Mahisa Agni dapat mengetahuinya tuanku. Hanya kita sajalah yang mengetahui bahwa orang-orang itu akan membunuh Mahisa Agni di istananya dan merampoknya sekali.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang semakin suram tampak di angan-angannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa bahwa Dewa-dewa yang selama ini melindunginya, sejak ia masih berkeliaran di Padang Karautan, telah meninggalkannya sama sekali.
Setiap kali terbayang usahanya menyeberangi sebuah sungai dengan daun tal karena petunjuk sebuah suara dari langit. Terbayang kembali ceritera tentang kelelawar yang seakan-akan keluar dari kepalanya di malam hari ketika ia menginginkan buah jambu yang bergantungan di batangnya.
Banyak ceritera-ceritera ajaib tentang dirinya yang sama sekali tidak diketahuinya sendiri bagaimana hal itu dapat terjadi. Yang kemudian dianggapnya bahwa semua itu adalah tuntunan dewa-dewa yang mengasihinya seperti yang dikatakan oleh Empu Purwa. Pertama kali ia bersentuhan dan mengenal Yang Maha Agung adalah karena ia bertemu dengan seorang pendeta dan muridnya yang bernama Mahisa Agni itu.
Tiba-tiba saja Sri Rajasa menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, seakan-akan cahaya yang silau telah memancar dan menyorot wajahnya. Cahaya sebuah trisula kecil yang dimiliki oleh Empu Purwa.
Semuanya seakan-akan telah terjadi sekali lagi di dalam angan-angannya. Dan semuanya itu rasa-rasanya telah membuatnya semakin berkecil hati.
“Memang Mahisa Agni bukan manusia kebanyakan.” tiba-tiba ia berdesis.
“Apakah maksud tuanku?”
Sri Rajasa mengangkat wajahnya.
“Tuanku tidak boleh berputus-asa. Ingatlah, bahwa tuanku Tohjaya sudah mulai. Jika kerja ini terhenti di tengah jalan, alangkah pedihnya hati putera tuanku itu. Ia pasti tidak akan memiliki hari depan yang terang.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata kata-kata penasehatnya itu dapat menyentuh hatinya. Meskipun ia berputus asa dan kehilangan gairah perjuangannya, namun ia tidak dapat membiarkan Tohjaya korban keputus-asaannya itu, sehingga apabila ia masih tetap berbuat sesuatu, maka segalanya itu hanyalah untuk Tohjaya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni-pun menyadari pula, bahwa banyak hal dapat terjadi. Bukan saja atas dirinya, tetapi juga atas Putera Mahkota.
Itulah sebabnya hampir setiap saat ia memikirkan apakah yang sebaiknya dilakukan untuk keselamatan Anusapati.
Waktu masih tetap beredar terus. Demikian juga Singasari yang tampak megah itu masih juga memerintah daerah-daerah yang telah dipersatukan oleh Sri Rajasa menjadi suatu daerah lingkup yang luas. Sedang Mahisa Agni masih juga tetap berada di Kediri. Namun waktu yang berkisar terus itu-pun ternyata telah melibatkan bumi seisinya. Yang tua menjadi semakin tua, dan yang telah tidak dapat bertahan lagi, kemudian dipanggil kembali keasalnya.
Tidak seorang-pun lagi yang tahu, kemanakah perginya orang-orang seperti Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain lagi yang sebaya dengan mereka. Setiap orang menganggap bahwa mereka telah menemukan jalannya kembali. Juga ibu Mahisa Agni yang ada di istana Singasari, sebagai seorang emban, telah berlalu diiringi oleh tangis Ken Dedes yang merasa menjadi momongannya sampai saat terakhir. Namun yang sampai saat terakhir masih juga tidak mengenal siapakah sebenarnya perempuan itu, dan apa hubungannya dengan Mahisa Agni.
Tetapi ternyata bahwa beban itu tidak dapat disimpannya sampai akhir hayatnya. Di saat maut menyentuhnya, ada orang yang menjadi ajang untuk menumpahkan perasaannya yang selama ini menjadi rahasia baginya.
“Tidak seorang-pun yang boleh mengetahuinya,” berkata emban tua itu. “Apalagi tuanku Permaisuri sendiri.”
Dan perempuan yang mendapat kepercayaan itu adalah emban Anusapati, yang semula adalah perempuan yang dipasang oleh Ken Umang justru untuk menyesatkan Putera Mahkota, namun yang akhirnya justru mengenal dirinya sebagai manusia yang beradab dan tanpa menghiraukan yang dapat terjadi telah benar-benar mengasuh Anusapati sebagai anaknya sendiri. Dengan demikian, maka hubungan ibu dan anak telah mendekatkan hubungan kedua emban pemomong itu.
Dikala saat-saat terakhir sudah mulai menyentuhnya, semua rahasia tentang dirinya dikatakannya kepada emban itu, sekedar untuk mengosongkan dirinya, agar maut tidak dibebani oleh rahasia yang belum terungkapkan.
Karena itulah maka emban itu tidak menjadi heran, melihat Mahisa Agni, seorang Senapati Agung yang pernah mengalami peperangan yang paling dahsyat menitikkan air matanya di saat-saat terakhir dari hidup emban itu.
Demikianlah yang berlalu telah berlalu. Dan emban itu-pun semakin lama menjadi semakin tua. Namun seperti emban pemomong Ken Dedes yang kemudian menjadi permaisuri, rahasia itu tetap merupakan rahasia baginya.
Namun setiap kali timbul pula pertanyaan dihati emban Putera Mahkota yang menjadi semakin tua pula, apakah di saat-saat akhir hayatnya ia juga akan tetap membawa rahasia itu?
“Ibunda tuanku Mahisa Agni yang menjadi wakil Mahkota di Kediri itu tidak dapat menahan rahasia itu di dalam dirinya sendiri pada saat-saat terakhir. Jika tiba saatnya, aku nanti akan mengalaminya, apakah aku harus mencari tempat yang paling baik untuk meninggalkan pesan itu, seperti juga ibunda tuanku Mahisa Agni itu?” pertanyaan serupa itu selalu membayangi hati emban pemomong Anusapati yang semakin hari menjadi semakin tua pula.
Dalam pada itu, untuk beberapa lamanya istana Singasari seolah-olah menjadi tenang. Sri Rajasa yang selalu kecewa itu seakan-akan telah kehilangan gairah perjuangannya untuk menempatkan Tohjaya di atas tahta Singasari. Hanya karena dorongan penasehatnya sajalah ia masih tetap memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk melakukannya. Tetapi setiap kali, jalan yang disusunnya selalu sampai pada kesulitan yang tidak teratasi. Apalagi semakin lama kedudukan Anusapati rasa-rasanya semakin mapan.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Tohjaya-pun tidak tinggal diam. Atas sepengetahuan ayahandanya, ia mendekati para panglima prajurit Singasari dan segala kesatuan. Dengan berbabagai cara, ia berusaha untuk dengan perlahan-lahan menguasainya seorang demi seorang. Dengan berbagai macam pemberian dan janji yang mengawang mengharap dukungan dari para Panglima apabila terjadi sesuatu kelak.
“Kekuatan Singasari terletak di tangan kalian,” berkata Tohjaya setiap kali.
Bukan saja Tohjaya, tetapi juga Sri Rajasa mengharap mereka pada suatu saat menentukan sikap apabila mereka berdiri di persimpangan jalan.
“Apakah yang sebenarnya akan terjadi tuanku?” bertanya salah seorang Panglima.
“Tidak ada apa-apa,” sahut Sri Rajasa, “Singasari akan tetap menjadi Singasari yang besar. Keturunan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi harus tetap di atas tahta.”
Para Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka masih belum tahu apakah sebenarnya yang telah melibat Singasari sehingga Sri Rajasa tampaknya membayangkan kecemasan menghadapi masa depannya.
Dalam pada itu, Anusapati mencoba untuk menempatkan diri pada tempat yang sewajarnya. Kadang-kadang tanpa ijin Ayahanda Sri Rajasa ia telah melakukan tindakan-akan yang memang sewajarnya dilakukan oleh seorang Putera Mahkota.
Selain tugasnya di dalam pemerintahan, maka di dalam lingkungan keluarganya-pun Anusapati nampaknya tidak terlalu kecewa. Anaknya, seorang laki-laki semakin lama nampak menjadi semakin besar. Wajahnya yang tampan serta badannya yang kokoh membayangkan harapan dimasa mendatang baginya.
Emban pemomong Anusapati itulah yang selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti merawat cucunya sendiri. Hampir setiap saat anak itu tidak terpisah daripadanya, kecuali apabila anak itu sedang tidur di dalam pelukan ibundanya.
Hampir sebaya dengan putera Anusapati itu, putera Mahisa Wonga Teleng-pun tumbuh dengan suburnya pula. Sehingga setiap kali kedua anak-anak yang segar itu menghadap Permaisuri, maka keduanya adalah penawar duka dan keprihatinan yang hampir dialami sepanjang umurnya. Kedua cucu laki-laki itu bagaikan permainan yang tidak akan pernah menjemukannya.
Namun dalam pada itu, kecemasan Mahisa Agni atas keselamatan Anusapati semakin lama justru menjadi semakin dalam menghunjam dihatinya. Ada semacam firasat didalam dirinya, bahwa usaha Tohjaya untuk menyingkirkan Anusapati pasti akan selalu dilakukannya. Kapan dan bagaimana-pun cara yang akan ditempuhnya.
Karena itu, ketika kecemasannya memuncak, maka diambilnya suatu kesempatan untuk menemui Putera Mahkota itu tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “kau harus mengetahui bahwa bahaya yang ada disekelilingmu bukannya sekedar bahaya yang mengancam kedudukanmu. Tetapi juga keselamatan jiwamu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Memang hampir tidak masuk akal, bahwa kau-pun harus mempersiapkan diri menghadapi siapa-pun juga di dalam istana ini. Bahkan ayahandamu Sri Rajasa.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi paman?”
“Memang hampir tidak masuk akal. Tetapi kau harus menyadari bahwa pengaruh Ken Umang sangat mencengkam hampir segenap segi kehidupan Sri Rajasa,” jawab Mahisa Agni. Namun untuk sesaat suaranya terputus. Hampir saja ia mengatakan bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Namun kata-kata yang seakan-akan sudah berada ditenggorokannya itu ditelannya kembali.
“Sudah barang tentu bahwa kau tidak boleh berprasangka terlalu buruk terhadap ayah sendiri, tetapi kau harus bertolak dari sikap Ken Umang. Ialah yang sebenarnya sangat bernafsu untuk menyingkirkan kau dan menempatkan Tohjaya pada tempatmu yang sekarang. Masalah sama sekali bukan mempertahankan kedudukan, tetapi bagiku, kau harus membela kehormatan ibumu sebagai seorang Permaisuri. Kedudukan Putera Mahkota harus berada di tangan putera laki-laki seorang Permaisuri. Bukan pada putera laki-laki yang lain. Dan kau adalah orang yang paling berwenang untuk menjadi Putera Mahkota, juga atas kehormatan ibundamu, Pemaisuri. Jika kau tersisih, maka alangkah malunya ibundamu sebagai seorang Permaisuri.”
Anusapati mendengarkan keterangan Mahisa Agni itu kata demi kata. Namun demikian ia tidak dapat mengerti, bahwa begitu besar pengaruh Ken Umang, seorang isteri muda sehingga seorang ayah akan sampai hati menyingkirkan, meskipun tidak dalam arti yang sangat jauh, namun hal itu pasti akan menghancurkan hari depan anaknya sendiri yang lahir dari isterinya yang lain.
Namun Anusapati menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.
Meskipun demikian Anusapati tidak dapat mengabaikan peringatan Mahisa Agni. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka ia pasti harus berbuat sesuatu. Sedang di dalam istana itu hanya ada seorang saja yang dapat dipercaya untuk membantunya jika ia berada dalam kesulitan. Mahisa Wonga Teleng, meskipun dengan kesungguhan hati berlatih hampir siang dan malam, namun ia tidak dapat segera melonjak ke tempat yang lebih tinggi dari yang dapat dicapainya setingkat demi setingkat.
Tetapi menurut tanggapan Anusapati, tentu ada tangan lain yang akan dipinjam seandainya ada niat yang buruk terhadapnya dari siapa-pun juga. Mungkin dari Tohjaya sendiri atau mungkin dari Ken Umang dengan atau tidak dengan ijin Ayahanda Sri Rajasa.
“Tentu tidak akan ada tindakan yang dapat langsung dikenakan atas diriku sebagai seorang Putera Mahkota,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “apalagi sebagai orang yang dikenal dengan gelar Kesatria Putih. Meskipun kini Kesatria Putih sudah tidak begitu banyak bertindak di daerah-daerah yang jauh dari istana, namun orang-orang Singasari masih tetap menghargainya. Jika ada tindakan terhadapku, pasti dengan cara-cara yang seperti pernah dilakukan. Langsung ditujukan kepada Kesatria Putih seperti yang pernah terjadi atas paman Kuda Sempana.”
Namun ternyata Mahisa Agni berpendapat lain. Meskipun tidak secara langsung, namun ia berkata kepada Anusapati, “Anusapati, tanpa mengurangi hormat dan bakti seorang anak kepada orang tuanya, maka setiap orang berhak membela diri dan hidupnya.”
“Paman,” wajah Anusapati menjadi tegang.
“Aku berbicara dengan jujur Anusapati. Aku sama sekali tidak bermaksud memisahkan kau dari ayahandamu, atau kau dengan saudara-saudaramu. Tetapi aku hanya menuruti kata hati yang barangkali dapat keliru, dan aku memang mengharap agar aku salah raba.”
Anusapati menjadi semakin tegang.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “aku ingin memberikan suatu ceritera kepadamu. Ceritera tentang seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Bahkan hampir suatu keajaiban. Orang yang memiliki ilmu tanpa berguru, dan bahkan ilmunya telah menyamai orang yang paling mumpuni sekalipun. Orang itu ternyata adalah kekasih dewa-dewa. Ada banyak ceritera tentang orang itu, namun ciri yang dapat ditangkap oleh indera yang mendekati sempurna adalah pertanda di atas ubun-ubunnya apabila orang itu sedang memusatkan kehendak dan perasaannya untuk sesuatu sasaran. Apabila ia sedang marah, berpikir tentang sesuatu hal dengan segenap perhatiannya, atau mengerahkan tenaga jasmaniah sampai ke dasar kekuatannya. Dan segala macam pemusatan pikiran dan kehendak di dalam segala macam bentuknya.”
Anusapati mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat, meskipun ia masih belum tahu kemanakah arah pembicaraan itu.
“Apakah ujud dari tanda itu paman?” Anusapati bertanya.
“Cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun itu.”
“Cahaya kemerah-merahan. Maksud paman, ubun-ubunnya bercahaya?”
“Bukan Anusapati. Tetapi di atas ubun-ubun itu seakan-akan ada lingkaran cahaya yang kemerah-merahan. Tetapi cahaya itu tidak jelas dan tidak dapat disentuh dengan indera biasa. Mata wadag kita tidak akan dapat melihatnya begitu saja tanpa dilambari oleh ketajaman mata hati.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dan tanda itu adalah tanda yang diberikan oleh dewa yang melindungi orang itu. Dan tanda yang kemerah-merahan itu adalah tanda dari kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah orang yang demikian itu masih ada paman?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi dalam kesatuan kehendak dewa-dewa menurunkan kelebihan lain pada orang lain, agar tidak ada kelebihan yang mutlak di dunia ini. Atas kesatuan dari yang berujud dan yang tidak, satu itulah seakan-akan telah diatur, bahwa yang satu selalu diimbangi oleh yang lain. Karena itu, maka didunia ini-pun ada sebuah benda yang memiliki kelebihan dan katakanlah keajaiban”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Benda itu berbentuk sebuah trisula. Tetapi terlalu kecil untuk dijadikan senjata wadag di dalam perkelahian.”
“Jadi?”
“Anusapati. Kelebihan yang satu dapat diimbangi dan bahkan seakan-akan dapat dihapuskan dari kelebihan yang lain. Trisula itu mempunyai cahaya yang dapat menyilaukan. Orang yang menjadi kekasih-kekasih dewa-dewa dengan cahaya yang kemerahan di ubun-ubun itu, tidak dapat menghindarkan diri dari silaunya trisula yang juga diberikan oleh dewa-dewa. Dan imbangan yang demikian hendaknya memang selalu ada di muka bumi.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mulai sadar, bahwa ceritera itu pasti ada hubungannya dengan dirinya sendiri.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian. “adalah berbahagia sekali bagi mereka yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung.”
“Ya. Berbahagialah yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung dalam Ke-Esaan itu.”
“Tetapi itu menjadi suatu tanggung jawab yang maha berat pula, yang tidak dapat dipikul oleh setiap orang.”
“Ya paman,” gumam Anusapati seolah-olah kepada diri sendiri.
Mahisa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan-lahan ia mencoba mempersiapkan hati Anusapati untuk menerima kenyataan keadilan dari Yang Maha Agung.
Karena itu, maka katanya kemudian, “Anusapati, di masa Singasari mengalami pergolakan yang dahsyat di dalam, meskipun dari luar tidak nampak sama sekali, orang-orang yang menjadi kekasih dewa-dewa itu masih berperan. Kau masih akan dapat mengenal seseorang yang memiliki tanda ajaib di atas ubun-ubunnya, dan kau masih juga dapat mengenal trisula kecil yang menyilaukan itu. Tetapi selagi ia masih bernama manusia dengan segala macam sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat mengemban kepercyaan yang melimpah kepadanya dengan sempurna. Ia masih dapat menyalahgunakan kelebihan yang ada padanya itu. Dan ia masih dapat dipengaruhi oleh nafsu-nafsu manusia yang lain.”
Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin sekali mendengar, ujung dari ceritera pamannya itu. Tetapi Anusapati tidak berani memotong. Ia mendengarkan dengan penuh minat dan dengan dada yang berdebaran, seperti ia harus menunggu saat-saat yang menegangkan di saat-saat kelahiran anaknya.
Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang menegang. Sejenak kemudian ia-pun berkata pula, “Anusapati, apakah kau ingin mengetahui orang-orang itu?”
“Ya paman. Hampir aku tidak dapat menahan hati untuk tidak bertanya. Tetapi aku berusaha menunggu agar aku tidak bersikap keliru.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar