*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 25-01*
Karya. : SH Mintardja
Justru sesudah keadaan menjadi tenang, maka orang-orang di padepokan Sanggadaru bisa melihat dengan jelas hubungan dari peristiwa-peristiwa yang susul menyusul terjadi. Serigala Putih dan gambar Serigala dengan mulut menganga itu ternyata telah berusaha melepaskan dendamnya, namun yang terjadi adalah sebaliknya.
“Aku tidak sampai hati untuk membinasakan mereka yang telah menyerah” berkata Empu Sanggadaru kepada orang-orangnya, “meskipun aku sadar, bahwa mungkin sekali pada suatu saat dendam itu menyala lagi didalam hati mereka meskipun mereka mengatakan, bahwa mereka tidak akan mempergunakan senjatanya lagi selain untuk membela, diri.”
“Pada suatu saat mereka akan merasa kuat lagi” berkata salah seorang cantriknya, “jika demikian maka mereka akan datang dan mencoba untuk menebus kekalahannya.”
“Tetapi sudah tentu tidak dalam waktu yang dekat” jawab Empu Sanggadaru.
“Kecuali jika mereka mendapatkan bantuan dari pihak lain, atau pihak yang sengaja ingin mendapatkan, keuntungan dari benturan itu.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Karena itu jangan pernah menjadi lengah, kapanpun juga. Setiap saat kita akan dapat menjadi sasaran dendam.”
Para cantrik dari padepokan itu pun menyadari bahwa dendam itu memang setiap saat dapat membakar padepokannya, sehingga karena itu, maka merekapun tidak meninggalkan kewaspadaan.
Dalam pada itu, maka orang-orang Serigala Putih itupun ternyata telah selamat sampai ke padepokan mereka. Meskipun demikian, ternyata kedatangan mereka dengan membawa mayat kedua orang kawannya, bahkan salah seorang dari keduanya yang terbunuh itu adalah pemimpin mereka, telah membuat seisi padepokan itu menjadi cemas dan marah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun juga, setelah kawan-kawan mereka yang mengalami pertempuran yang dahsyat itu menceriterakan betapa lawan mereka memiliki ilmu yang tinggi.
“Apakah kalian berkata sebenarnya?” bertanya salah seorang dari mereka yang tinggal di padepokan sehingga tidak dapat melihat sendiri, apa yang telah terjadi.
“Kau sangka bahwa kami ini sekelompok pengecut?, Kami menyadari, bahwa kami adalah orang-orang terbaik dari padepokan ini. Apa yang kami katakan, tentu dapat kalian bayangkan. Jika kalian yang mengalaminya, maka kalian tentu akan mati membeku ditempat.”
Tidak ada yang menjawab. Tetapi dari wajah-wajah mereka nampak keheranan dan bahkan kurang mengerti apa yang sebenarnya terjadi, bahwa pemimpin mereka yang mereka kagumi itu telah terbunuh.
“Kita harus merahasiakannya sejauh dapat kita lakukan” berkata seorang yang tertua diantara mereka. Yang lain menyadari, bahwa kematian itu akan dapat berakibat buruk bagi padepokan mereka. Karena itu salah seorang dari mereka berkata, “Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang tentu akan memanfaatkan kematian ini. Dan itu berarti bencana.”
“Kita jangan terlampau terpengaruh oleh kematian satu atau dua orang dari antara kami. Jumlah kami masih cukup banyak untuk menghadapi orang-orang Macan Kumbang. Tetapi jangan ingkar akan kenyataan yang kita hadapi. Jika kita salah menilai diri sendiri, maka akibatnya akan sangat pahit. Kematian pemimpin kita merupakan kelemahan yang tidak akan dapat kita tutup-tutupi lagi jika kita benar-benar telah berhadapan dengan orang-orang Macan Kumbang. Pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang juga menyebut dirinya bernama Macan Kumbang itu, merupakan orang yang sangat berbahaya. Hanya pemimpin kita sajalah yang akan dapat menghadapinya.”
“Kita hadapi dengan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang pilihan.”
“Kau sangka ia datang seorang diri? Tentu merekapun akan dapat menyingkirkan yang tiga atau empat orang itu dengan tiga atau empat orang dari lingkungan mereka.”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Baiklah” berkata orang tertua, “kita tetap melihat kenyataan itu. Tetapi kita jangan mati ketakutan. Mungkin jika terjadi benturan, kita akan tumpas. Tetapi tentu lebih separo dari mereka pun akan terbunuh.”
Kawan-kawannya memandanginya dengan tajam. Namun kemudian salah seorang dari mereka bergumam, “Kau benar. Kita adalah laki-laki yang telah berani menamakan diri Serigala Putih.”
Dengan rahasia, orang-orang Serigala Putih itu menguburkan pemimpin mereka yang terbunuh itu, agar gerombolan mereka kemudian tidak menjadi liar, maka mereka telah memilih orang tertua di antara mereka, bukan saja umurnya, tetapi juga ilmunya untuk memimpin mereka.
“Aku bersedia saja. Tetapi kalian harus patuh meskipun tidak seperti terhadap pemimpin kita yang sudah terbunuh” berkata orang tertua itu, “selanjutnya, kalian harus berusaha sejak sekarang, untuk meningkatkan ilmu. Jauh lebih tekun dari waktu yang sudah-sudah. Kehilangan yang kita alami, akan kita tebus dengan meningkatnya kemampuan kita seorang-seorang. Dengan demikian, maka kita tidak akan menjadi terlalu lemah, seperti seekor kijang di hutan belantara yang dihuni oleh harimau dan serigala liar.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang menyahut
“Kami akan melakukannya dengan sepenuh hati. Kami akan melatih diri sejauh dapat kami lakukan. Karena kami yakin, bahwa orang-orang Macan Kumbang itu tentu akan datang, lambat atau cepat.”
Orang tertua itu mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak menunjukkan kecemasan yang sebenarnya tetap mencengkam hatinya karena ia lidak dapat menyembunyikan pengakuan, bahwa tidak akan ada kekuatan yang dapat mencegah orang-orang dari Macan Kumbang dengan pemimpinnya yang ditakuti, untuk menghancurkan orang-orang Serigala Putih yang seolah-olah telah kehilangan taring itu.
“Pemimpin kami pun masih harus mempertimbangkan berulang kali jika terpaksa harus berperang tanding dengan pemimpin Macan Kumbang yang garang itu. Apalagi tanpa orang yang kita anggap sebagai pelindung itu, kita tentu akan dengan mudah dapat dihancurkannya.”
Tetapi seperti yang dikatakannya, orang-orang Serigala Putih itu dengan tekun melatih diri. Seorang-seorang tanpa mengenal lelah. Dengan cara yang paling kasar sekalipun. Bahkan mereka seolah-olah telah benar-benar menjadi liar dan buas seperti sekelompok Serigala yang kelaparan. Mereka memenuhi semua keinginan yang tumbuh di dalam hati, untuk menyatakan diri dalam kebulatan tekad, karena keinginan yang belum terpenuhi pada hakekatnya akan dapat menjadi penghambat semua usaha dan pemusatan pikiran dan kehendak.
Dengan demikian orang-orang dari Serigala Putih itu sama sekali tidak mempertimbangkan cara-cara pemenuhan keinginannya, meskipun cara itu oleh kebanyakan orang dianggap melanggar segi-segi peradaban sekalipun.
Namun demikian, rasa-rasanya perkembangan ilmu mereka itu maju dengan lambatnya. Apalagi sudah tidak ada lagi dari antara mereka yang dapat membimbing dan memberi petunjuk-petunjuk yang berarti. Beberapa orang yang sudah mendapat kepercayaan untuk menularkan ilmunya kepada para pengikut yang lebih muda dalam usia dan ilmunya, hanya mampu mendorong mereka itu untuk maju selangkah demi selangkah yang pendek dan lemban.
Meskipun demikian mereka berjalan terus. Maju dengan lambat adalah jauh lebih baik dari tidak bergerak sama sekali.
Namun, sebelum mereka mencapai kemampuan yang mereka harapkan, ternyata yang mereka cemaskan itu telah datang. Dengan hati yang kecut, seorang pengikut gerombolan Serigala Putih telah bertemu dengan tiga orang yang tidak mereka kenal, yang agaknya dengan sengaja telah menjumpainya. Dengan sengaja ketiga orang itu berdiri berjajar di tengah jalan memasuki padepokan gerombolan Serigala Putih.
“Kau memang luar biasa” desis salah seorang dari ketiga orang itu.
“Kau siapa?” bertanya orang Serigala Putih.
Ketiga orang itu tertawa. Katanya, “Kau terlampau berani keluar seorang diri dari padepokanmu. He, darimana kau sebenarnya?”
“Aku baru saja kepategalan.”
Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Lalu yang seorang berkata, “Kita bunuh saja tikus ini.”
Yang tertua di antara ketiga orang itu menggeleng, “Jangan. Ia harus dapat kita jadikan alat untuk menyampaikan kepada kawan-kawannya, bahwa saat ajal mereka telah tiba.”
“Mereka akan pergi mengungsi.”
“Dan kita akan bertepuk sambil bersorak-sorak. Perguruan Serigala Putih yang terkenal, ternyata hanya berisi serigala betina yang ketakutan melihat taring seekor Macan Kumbang.”
“Kau dari Macan Kumbang?” tiba-tiba saja orang dari Serigala Putih itu bertanya.
Ketiga orang itu tertawa bersamaan. Salah seorang menjawab. ”Seharusnya kau sudah mengetahuinya, bahwa aku adalah orang-orang Macan Kumbang meskipun di antara kami jarang sekali yang membuat ciri-ciri gambar seperti di pergelangan tangan orang Serigala Putih, atau di lengannya, di kakinya bahkan di perutnya.”
Ketiga orang Macan Kumbang itu tertawa. Yang seorang pun kemudian berkata, “He, apakah kau kira kami tidak mengetahui bahwa pemimpinmu sudah mati.”
Orang Serigala Putih itu terkejut.
“Jangan terkejut. Betapapun kau mencoba merahasiakannya, tetapi kami sudah mengetahuinya. Meskipun kami belum berhasil mendapat keterangan, siapakah yang telah membunuh pemimpinmu itu.”
“Kau bermimpi” sahut orang Serigala Putih , “pemimpin kami tidak akan dapat mati sampai saatnya matahari itu merunduk sampai ke ujung Tanah Singasari. He, apakah kau sedang mengigau orang Macan kelaparan.”
Ketiga orang itu terdiam sejenak. Namun salah seorang berkata, “kata-katamu tidak meyakinkan. Besok atau lusa, kami pun akan segera mengetahui, siapakah yang telah membunuhnya. Mungkin sekelompok prajurit Singasari, tetapi mungkin orang yang namanya lamat-lamat pernah kami dengar, Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang-orang berilmu hitam. Nah, apakah kau menyadari bahwa ilmumu dan ilmuku itu bersama-sama mengambil sumber dari ilmu hitam.”
“Persetan dengan orang yang bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Ternyata, seorangpun dari antara kami belum ada yang menjadi korbannya.”
“Namun tiba-tiba langsung pemimpinmu.”
“Tidak. Ia tidak mati karena Mahisa Bungalan atau Linggadadi.”
“Jadi siapa?”
“Angan-angan yang cukup gila. Sudah aku katakan, bahwa pemimpin dan guruku itu tidak akan dapat mati sampai akhir jaman. Kau ingat, sampai akhir jaman. Dan kau akan mati lebih dahulu daripadanya.”
Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu tertawa terbahak-bahak. Salah seorang dari mereka berkata di antara suara tertawanya, “Kau sudah gila. Kematian pemimpinmu membuat orang-orangnya menjadi gila seperti kau. Apakah kau benar menganggap bahwa gurumu belum mati?”
Pertanyaan itu cukup membingungkan. Tetapi ia masih tetap menjawab, “Ya. Aku menganggap bahwa pemimpinku masih belum mati.”
“Jangan hiraukan kata-katanya. Sebaiknya orang itu di bunuh saja. Biarlah orang-orang Serigala Putih marah. Jika benar pemimpinnya masih hidup, biarlah ia datang kepadepokan kami untuk menuntut balas.”
Orang dari gerombolan Serigala Putih itu menjadi berdebar. Jika ketiga orang itu benar-benar akan membunuhnya, maka sudah tentu ia tidak akan dapat melawan. Tetapi lebih baik baginya membawa salah seorang dari mereka mati daripada menyerahkan lehernya untuk dijerat dan diseret sepanjang jalan.
Tetapi ternyata salah seorang dari ketiga orang itu mencegahnya. Katanya, “Biarkan ia hidup. Biarlah ia berceritera kepada kawannya, bahwa gerombolan Serigala Putih dimata orang-orang Macan Kumbang sudah tidak berarti lagi. Mereka adalah segerombolan orang yang perlu dikasihani dan dilindungi.”
“Gila” teriak orang dari gerombolan Secigala Putih
”Aku akan dapat membunuh kalian bertiga.”
Orang yang mencegah untuk membunuhnya tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ternyata kau masih mempunyai harga diri. Tetapi kami tidak akan merubah keputusan ini. Kau kami beri kesempatan untuk tetap hidup. Dengan demikian kau harus berterima kasih kepada kami, bahwa nyawamu yang sebenarnya tergantung di tangan kami itu, tidak kami renggut dari tubuhmu.”
“Persetan. Kalian akan menyesal bahwa kalian tidak membunuhku sekarang.”
Orang dari gerombolan Macan Kumbang itu masih tertawa, “Pulanglah. Jangan merajuk. Katakan kepada orang-orangmu. Yang ingin tetap hidup, supaya meninggalkan padepokannya dan mengungsi kemana saja yang mereka kehendaki. Tetapi jika kalian jantan, tunggulah kehadiran kami bersama kawan-kawan kami. Kami akan datang untuk menumpas kalian. Meskipun kau tetap berkeras, bahwa pemimpinmu masih tetap hidup sampai sekarang.”
Orang dari gerombolan Seriggla Putih itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apapun juga ketika orang-orang gerombolan Macan Kumbang itu dengan penuh hinaan meninggalkannya.
Orang dari gerombolan Serigala Putih itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun melangkah dengan hati yang berdebar-debar. Tentu ketiga orang itu tidak hanya sekedar mengancam. Mereka tentu akan melakukannya.
Ketika ia sampai di padepokannya, maka ia pun segera melaporkan apa yang baru saja dialaminya kepada orang yang untuk sementara dianggap sebagai pemimpinnya.
Orang tertua itu pun mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Dugaan kita benar. Mereka pada suatu saat tentu akan mengetahuinya dan akan datang kepadepokan ini.”
“Siapakah yang telah membocorkan rahasia ini?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Kita tidak usah mencari-cari. Dengan demikian tentu akan timbul kecurigaan di antara kita masing-masing. Yang penting sekarang, bagaimana kita menghadapi mereka.”
Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu menjadi tegang. Kehadiran orang-orang Macan Kumbang dapat menghancurkan mereka sama sekali, sehingga apa yang telah mereka bangunkan selama itu akan lenyap begitu saja.
“Ternyata pemimpin kita salah hitung. Pemburu yang memakai pakaian kulit harimau itu, memiliki ilmu yang tidak ada taranya. Sekarang, ternyata kita mengalami akibat yang parah. Dengan tidak langsung kita sudah mengumpankan diri kita ke mulut gerombolan harimau liar itu.”
Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi semuanya itu sudah terjadi sehingga tidak akan ada lagi gunanya untuk disesali.
“Ada beberapa kemungkinan” orang tertua itu berkata, “jika kita ingin menyelamatkan diri untuk sementara, kita masih mempunyai waktu, kita dapat meninggalkan padepokan ini. Tetapi dengan janji di dalam hati, bahwa kita akan kembali pada saat yang tepat. Sedang kemungkinan yang lain adalah, kita melawan sampai orang terakhir. Jika kita memilih yang kedua, maka kita akan melepaskan perempuan dari lingkungan padepokan ini bersama anak-anak. Mereka sama sekali tidak akan berarti dalam pertempuran semacam itu. Biarlah mereka mencari jalan hidup mereka masing-masing.”
“Kenapa kita harus memikirkan mereka? Bagi kita, apapun yang akan terjadi atas mereka, tidak akan berarti apa-apa. Perempuan-Perempuan itu hanya akan membebani kita dengan berbagai macam kesulitan.”
“Bukan mereka. Tetapi anak keturunan kita harus di selamatkan. Itulah tugas mereka. Perempuan-Perempuan itu harus dapat menyelamatkan anak-anak, terutama anak-anak laki, sehingga kelak mereka akan dapat mengambil kembali padepokan ini.”
“Jangan hiraukan. Sekarang, yang penting, apakah kita akan melawan atau melarikan diri untuk sementara.”
Orang tertua dari gerombolan Serigala Putih itupun kemudian berkata, “Kita akan tetap tinggal di sini. Bagaimana pendapat kalian?”
Kawan-kawannya pun nampak berpikir sejenak. Ada keragu-raguan di dalam hati masing-masing. Sebagian benar-benar menjadi cemas. Namun sebagian yang lain ingin mempertimbangkan kemungkinan itu dengan nalar.
“Apakah dengan demikian kita sudah melakukan hal yang sia-sia” berkata salah seorang dari mereka, “kita tidak lagi harus bermimpi. Tanpa pemimpin dan guru kita, kita tidak akan dapat melawan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang. Itu sudah kita sadari. Jika demikian apakah ada gunanya kita bertahan?”
“Lebih baik kita menyingkir. Tetapi pada saatnya kita akan kembali” sahut yang lain , “apakah bukan begitu?”
“Kita bukan pengecut” seorang yang bertubuh raksasa memotong , “tidak ada gunanya kita lari. Mereka tentu akan mengejar terus. Kita tahu, bukan padepokan inilah yang sebenarnya mereka cari. Tetapi kita. Daripada kita hidup dengan kecemasan dan merasa diri kita selalu dikejar-kejar oleh orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang, alangkah baiknya jika kita mati bersama mereka. Jika kita akan tumpas, maka yang akan tetap hidup di dalam lingkungan orang-orang gerombolan Macan Kumbang tentu tinggal pemimpinnya itu saja.”
Kata-kata orang bertubuh raksasa itu ternyata, telah menyentuh perasaan setiap orang yang mendengarkannya. Bahkan orang tertua itupun segera menambah, “Itu adalah sifat jantan. Kita akan mati di atas tanah padepokan ini, dimana kita. mendapat ilmu yang selama ini telah membekali setiap kerja yang kita lakukan.”
“Aku sependapat. Perempuan harus menyingkirkan anak-anak kita. Mereka boleh membawa bekal dari barang-barang yang masih ada di dalam persediaan kita. Hasil-hasil yang kita. peroleh selama ini dengan menjelajahi daerah-daerah yang terasing dari pengawasan prajurit Singasari, dapat, dijadikan bekal untuk menumbuhkan anak-anak kita yang kelak akan mengambil padepokan ini kembali.” sahut orang bertubuh raksasa itu.
“Tetapi bagaimana jika Perempuan-Perempuan itu ternyata mementingkan diri mereka sendiri, dan bukan mementingkan anak-anak kita.”
“Kita akan membunuhnya dan melemparkannya ke dalam sungai.”
“Siapakah yang akan melakukannya jika kita semua sudah mati?”
“Tidak. Orang-orang tua pun akan pergi bersama perempuan-perempuan itu. Laki-laki yang meskipun sudah tua, dapat membunuh Perempuan-Perempuan yang ingkar akan kewajibannya terhadap anak-anak dan mementingkan diri sendiri.”
Orang-Orang dari gerombolan Serigala Putih yang berilmu hitam itu mengangguk-angguk.
“Nah” berkata orang tertua, “kita akan menunggu. Hari ini, besok atau lusa. Kita akan tetap berlatih dengan sekuat tenaga, meskipun kemampuan kita hanya akan bertambah seujung rambut. Tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”
“Ya. Kita akan berlatih agar kita tetap dalam kesiagaan tertinggi.”
“Tetapi” orang tertua itu memperingatkan, “jangan kalian habiskan tenaga kalian, agar jika kita benar-benar harus bertempur kita tidak akan kelelahan.”
“Ya. Kita harus menghemat tenaga” sahut yang lain.
“Sekarang” berkata orang tertua itu, “suruhlah perempuan-perempuan pergi dengan membawa anak-anak. Mereka bertanggung jawab. Berilah mereka bekal. Suruhlah laki-laki tua mengawasi Perempuan-Perempuan itu. Yang lain tetap disini dan bertempur sampai orang terakhir.”
“Kemanakah anak-anak kita harus dibawa.”
“Sekehendak perempuan-perempuan itu sendiri.”
“Berilah petunjuk. Jika kita tidak dapat ditumpas oleh orang-orang gerombolan Macan Kumbang, kita akan menjemput anak-anak kita.”
Orang tertua itu kemudian berbicara dengan beberapa orang yang dianggapnya mengenal daerah di sekitar padepokan itu dengan baik.
“Biarlah mereka memasuki hutan Dandarau. Mereka harus tinggal disana satu hari satu malam. Jika tidak ada orang yang datang menjemput mereka, berarti bahwa mereka harus berusaha mencari hidup masing-masing dan anak-anak yang mereka jaga. — berkata salah seorang dari mereka.
Yang lain mengangguk-angguk, sehingga akhirnya orang tertua itu mengumumkan, “Suruhlah mereka bersembunyi di hutan Dandarau untuk satu hari satu malam.”
Demikianlah, maka Perempuan-Perempuan itupun kemudian dikumpulkan. Mereka mendapat penjelasan apa yang harus mereka lakukan.
Tidak ada seorang pun yang memberikan tanggapan. Bagi perempuan, apapun yang dikatakan oleh laki-laki, harus dijalani meskipun tanpa dapat mereka mengerti.
Karena itulah, maka perempuan-perempuan itupun segera berkemas. Dengan dikawal oleh beberapa orang laki-laki tua mereka meninggalkan padepokan sambil membawa barang-barang berharga yang berhasil dikumpulkan oleh gerombolan Serigala Putih dengan cara apapun juga. Kadang-kadang memang dengan cara yang liar, seliar serigala kelaparan.
Sepeninggal perempuan dan kanak-anak yang dikawal oleh laki-laki tua, maka orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itupun segera bersiap untuk menghadapi kemungkinan. Mereka menyadari bahwa satu di antara kemungkinan-kemungkinan itu adalah mati. Semuanya, sampai orang terakhir.
Namun karena demikian, hati mereka seolah-olah justru menjadi tenang. Seolah-olah mereka telah pasrah diri dalam kesetiaan untuk membela perguruan mereka. Harga diri yang mereka junjung justru karena mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sumber ilmu yang sama.
“Kenapa kita memilih menyerah dan mengorbankan harga diri kita kepada pemburu-pemburu dan prajurit. Singasari?” Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka yang ikut bertempur melawan Empu Sanggadaru dan kawan-kawannya bertanya.
Orang tertua diantara mereka menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hati-hati ia menjawab, “Yang kita hadapi memang tidak sama. Jika kita menyerah kepada prajurit Singasari atau kepada mereka yang bersikap seperti prajurit, maka kita masih mempunyai harga diri karena mereka tidak semata-mata ingin membunuh seperti orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang. Terasa pada diri kita, sesuatu yang lain pada sikap mereka, apalagi jika kita dapat memandang dari segi yang lurus, bahwa mereka sedang melakukan kewajiban. Ternyata bahwa nafsu membunuh itu sama sekali tidak ada ketika kita sudah melepaskan senjata kita. Bahkan kita diperbolehkan mengambil kembali senjata-senjata itu meskipun dengan bermacam-macam janji.”
Orang yang bertanya itupun mengangguk-angguk. Tetapi justru timbul pertanyaan pada orang yang lain, yang tidak melihat pertempuran yang telah terjadi itu., “Tetapi, apakah itu bukan berarti penghinaan yang paling dalam?”
Orang tertua itu memandang dengan tajamnya. Kemudian jawabnya, “Jika yang melakukan itu orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang, maka itu adalah penghinaan yang paling keji yang pernah kita alami. Tetapi kita harus dapat membedakan, niat apakah yang sebenarnya tersembunyi didalam hati mereka yang telah memberikan belas kasihan kepada kita.”
Orang itupun terdiam.
“Baiklah. Kita sekarang sudah mendapat ketetapan hati. Kita akan melakukan semuanya dengan mantap. Apapun yang akan terjadi, itu adalah pilihan kita. Dan kita tidak akan dapat ingkar lagi meskipun tebusannya adalah nyawa kita.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
“Kita harus berlatih terus. Tidak ada henti-hentinya. Tetapi kita harus menjaga, agar tenaga kita tidak terperas habis, sehingga pada saatnya kita perlukan, kita sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”
Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itupun kemudian melanjutkan usaha mereka dengan tekun. Mereka melatih diri mempergunakan senjata sebaik-baiknya. Bagaimana mereka harus menangkis, bagaimana mereka harus menghindar, dan bagaimana mereka harus menyerang. Dasar-dasar ilmu kanuragan yang sudah mereka miliki, mereka kembangkan sejauh-jauh dapat mereka lakukan meskipun sebagian dari mereka menganggap bahwa hal itu sudah tidak ada gunanya lagi, karena, semuanya sudah terlambat. Dalam pada itu, maka orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang memang sudah mendengar, bahwa gerombolan Serigala Putih telah kehilangan pimpinan. Mereka tidak lagi mempunyai kekuatan pokok yang dapat mereka percaya lagi. Karena itulah, dengan sengaja orang-orang gerombolan Macan Kumbang telah menakut-nakutinya. Mereka telah membuat perhitungan tertentu untuk menghadapi orang-orang dari gerombolan Serigala Putih yang selama itu dianggap menjadi saingan yang memang harus disingkirkan.
“Kita akan datang segera ke padepokan mereka” berkata pemimpin gerombolan Macan Kumbang setelah mendapat laporan dari orang-orang yang dengan sengaja menjumpai salah seorang dari gerombolan Serigala Putih.
“Aku tidak membunuhnya” berkata salah seorang dari mereka, “kematian memang menakutkan. Tetapi jika orang itu tetap hidup, ia akan dapat mengatakan apa saja yang kita katakan dan sengaja membuat mereka ketakutan.”
Pemimpinnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Seorang yang aku tugaskan untuk mengamat-amati mereka sudah melihat, perempuan dan anak-anak telah menyingkir.”
“Uh, sejak kapan orang-orang gerombolan Serigala Putih memikirkan perempuan?”
“Tentu mereka ingin menyelamatkan anak-anak mereka.” desis yang lain.
Pemimpinnya tertawa. Katanya, “Mungkin. Tetapi akan datang saatnya kita menghancurkan mereka semuanya. Setelah kita binasakan orang-orang yang sombong itu, maka akan kita binasakan pula semua perempuan dan anak-anak.”
“Anak-anak saja.”
Suara tertawa pun kemudian meledak. Namun dalam pada itu, salah seorang berkata, “Tetapi kita masih harus bekerja keras. Dengan menyingkirkan anak-anak, itu berarti bahwa orang-orang dari gerombolan Serigala Putih siap untuk melakukan perlawanan. Meskipun barangkali mereka sudah mengira bahwa mereka akan mati.”
Sambil mengangguk-angguk pemimpinnya menyahut, “Ya. Tetapi akhir dari pertempuran yang mungkin akan terjadi itu sudah dapat dibayangkan. Mereka sudah kehilangan pemimpinnya. Meskipun sebenarnya mereka masih mempunyai kemampuan untuk melawan, tetapi benturan yang pertama sudah akan merontokan isi dada mereka, sehingga mereka tidak akan berani bertempur lebih lama lagi.”
“Apakah itu artinya mereka menyerahkan leher mereka?”
Pemimpinnya tidak menyahut. Namun katanya kemudian, “Kita akan melihat. Dan kita akan melakukan apa saja yang kita kehendaki kemudian atas mereka yang selama ini merasa lebih kuat dari kita.”
Orang-orang gerombolan Macan Kumbang itupun mengangguk-angguk dengan kebanggaan didalam diri mereka karena angan-angan mereka itu.
Karena itulah, maka rencana mereka untuk membinasakan orang-orang yang selama ini menjadi saingan mereka itu, merupakan orang-orang yang menyenangkan. Sebelum mereka melihat hasil dari pekerjaan mereka, maka mereka sudah lebih dahulu menikmatinya.
Dihari berikutnya seorang petugas yang lain telah melaporkan pula. bahwa perempuan dan anak-anak telah menghilang di sekitar hutan yang lebat di sebelah padepokan gerombolan Serigala Putih itu.
“Biarlah orang-orang yang tamak itu merasakan lebih lama lagi kegelisahan dan ketakutan” berkata pemimpin gerombolan Macan Kumbang.
“Tetapi jika kita tidak segera menyerang mereka, maka mereka akan lepas dari tangan kita.”
“Kenapa?”
“Jika mereka tidak tahan lagi menahan kegelisahan dan ketakutan, maka mereka tentu akan menyingkir.”
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang berpikir sejenak, lalu, “Kau benar. Kifa harus segera melenyapkan mereka. Pekerjaan yang meskipun berat tetapi menyenangkan ini, harus segera kita lakukan.”
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu pun segera mengumpulkan anak buahnya. Orang-orang yang memiliki ilmu yang bersumber pada ilmu hitam meskipun mempunyai beberapa segi kelainan, namun ilmu mereka adalah ilmu yang serupa dengan ilmu orang-orang dari gerombolan Serigala Putih.
“Besok kita akan menyerang dan membinasakan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih” berkata pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu.
Orang-orangnya pun dengan serta merta menyambut dengan sorak yang gemuruh.
“Nah, tanggapan kalian telah membesarkan hatiku. Mungkin jumlah kita hampir sama dengan jumlah orang-orang dari gerombolan Serigala Putih. Tetapi kita masih lengkap. Kalian mempunyai seorang pemimpin yang memiliki banyak kelebihan dari kalian dan setiap orang dari orang-orang gerombolan Serigala Putih. Karena itu, kita, akan membinasakan mereka. Membunuh setiap orang dan mencincangnya sampai lumat. Baru kemudian kita akan mencari dan membunuh anak-anak mereka di hutan sebelah padepokan mereka itu.”
“Bagaimana dengan Perempuan-Perempuan?”
“Terserah kepada kalian. Perempuan tidak sepantasnya dibicarakan.”
Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang mengangguk-angguk.
“Sejak sekarang, berkemaslah” pemimpinnya melanjutkan, “kalian dapat melihat senjata kalian, apakah sudah cukup memadai untuk memenggal leher orang-orang dari gerombolan Serigala Putih yang sombong dan keras kepala itu.”
Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itupun kemudian menyiapkan senjata masing-masing. Betapapun juga, namun mereka tetap sadar, bahwa orang-orang dari gerombolan Serigala Putih benar-benar memiliki kemampuan seperti seekor serigala lapar. Karena itu, maka merekapun telah menyiapkan senjata yang paling baik yang ada pada mereka.
“Disarang gerombolan Serigala Putih itu tentu terdapat timbunan harta benda rampasan” berkata salah seorang gerombolan Macan Kumbang itu.
“Tentu. Persediaan mereka tentu jauh lebih banyak dari persediaan yang ada pada kita” jawab kawannya.
“Tidak sia-sia kita menyerang mereka. Kita akan meratakan padepokan mereka dengan tanah. Jika harta benda itu tidak kita ketemukan dipadepokan itu, tentu sudah dibawa oleh laki-laki yang terhitung sudah tua dan mengantarkan anak cucunya bersama Perempuan-Perempuan yang harus melayani anak-anak itu.”
“Mereka tidak akan jauh dari padepokan itu. Tentu mereka akan tetap bersembunyi di dalam hutan. Jika keadaan sudah reda, mereka akan mempergunakannya bagi anak-anak yang mereka bawa. Tetapi mereka tidak akan pernah dapat melakukannya.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tidak ada pilihan lain bagi orang-orang gerombolan Serigala Putih itu daripada mati. Mati dengan perlawanan, tetapi dengan demikian mereka akan mengalami saat-saat kematian yang pahit, atau menyerahkan kepala mereka untuk dipenggal, sehingga mereka tidak akan menderita terlalu lama.
Dalam pada itu, perempuan dan anak-anak yang mengungsi dari padepokan gerombolan Serigala Putih telah berada di tengah hutan. Untuk beberapa saat mereka dicengkam oleh ketakutan oleh suara binatang buas dikejauhan. Beberapa orang anak menangis dan meronta-ronta. Namun kemudian mereka menjadi tenang ketika beberapa orang laki-laki yang meskipun sudah terhitung tua, bersiaga dengan senjata ditangan.
Salah seorang dari mereka berkata, “Kitalah yang akan memburu binatang-binatang buas untuk makan kita. Bukan binatang-binatang buas itulah yang akan memburu kita.”
Perempuan-Perempuan mengangguk-angguk. Mereka mencoba menenangkan anak-anak mereka, karena mereka sadar, bahwa hidup mereka tergantung pada anak-anak mereka. Jika seorang perempuan dianggap tidak berarti lagi bagi anaknya, maka iapun akan disingkirkan tanpa ampun.
Ternyata bahwa laki-laki tua yang ada di antara mereka, bukannya laki-laki yang sama sekali tidak berdaya. Mereka adalah laki-laki dari gerombolan Serigala Putih meskipun sudah menjadi semakin tua. Sehingga karena itu, maka jari-jari mereka, kemampuan bidik mereka dengan anak panah dan busur, masih mampu menangkap beberapa ekor binatang buruan yang dapat mereka pergunakan untuk makan anak-anak dan sisanya untuk Perempuan-Perempuan. Tetapi mereka tidak mengetahui dengan pasti, berapa lama mereka harus bersembunyi dan kemudian menghilang diantara kehidupan yang sewajarnya untuk menyelamatkan anak-anak mereka dengan bekal yang ada. Pada suatu saat mereka akan mengumpulkan anak-anak laki-laki mereka dan mendorong mereka untuk menyatukan diri dan merebut kembali padepokan mereka.
Namun apabila laki-laki yang tetap dipadepokan gerombolan Serigala Putih berhasil bertahan, maka merekapun akan segera kembali menyatukan diri lagi dengan ayah-ayah mereka.
Sementara itu, orang-orang gerombolan Serigala Putih benar-benar telah berada dalam kesiagaan. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu kedatangan orang-orang Macan Kumbang yang akan datang menerkam mereka.
“Mereka sengaja membiarkan kita dicengkam kegelisahan. Itu adalah sebagian dari kemenangan yang sudah mereka capai tanpa berbuat apa-apa.”
“Kita jangan menjadi gelisah.” sahut yang lain.
“Dapatkah kita berbuat demikian?”
Kawannya menarik nafas. Tetapi nampak diwajahnya, bahwa sebenarnyalah setiap orang telah dicengkam oleh kegelisahan yang tidak terhindarkan.
Sementara itu, orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang telah bersiap. Ketika pagi hari yang cerah menjadi semakin panas karena matahari yang merayap naik dikaki langit, sekelompok orang-orang berkuda berpacu dijalan berdebu di bulak-bulak panjang menuju kepadepokan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih, dan siap untuk mencincang mereka.
Rasa-rasanya tidak ada seorang pun yang dapat mencegah mereka. Kuda-kuda itu berpacu seperti iring-iringan hantu maut yang siap menumpas korban-korbannya tanpa ampun.
Namun dalam pada itu, yang tidak terduga-duga adalah perjalanan sekelompok orang yang sama sekali tidak tahu menahu tentang bertentangan yang bakal meledak antara Orang-Orang dari gerombolan Serigala Patih dan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang. Sekelompok orang itu dengan tenangnya berkuda menuju kepadepokan orang-orang Serigala Putih yang sedang dicengkam oleh kecemasan. Nampaknya sekelompok orang-orang itu masih belum tahu dimanakah letak padepokan itu. Namun dengan beberapa petunjuk dan ancar-ancar, mereka berhasil mendekati.
“Batang pohon jambe itu” desis salah seorang dari mereka. ‘
“Ya. Hutan yang dikatakan itu tentu hutan.yang nampak dikejauhan itu. Kita akan melalui pohon jambe itu dan langsung menuju kepadepokan. Agaknya sudah tidak begitu jauh lagi.”
Kuda itupun kemudian berpacu. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan padepokan gerombolan Serigala Putih yang sedang diliputi oleh ketegangan.
Kita berada dijalur jalan yang mereka lalui itu akan menuju kesebuah pategalan. Mereka harus menempuh lorong sempit beberapa puluh langkah. Barulah kemudian mereka akan sampai pada jalan yang seolah-olah diapit oleh lereng yang rendah sebagai pintu gerbang.
Sejenak kemudian, maka iring-iringan, orang berkuda itupun telah mendekati gerbang padepokan itu. Namun mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda kesibukan apapun juga.
“Apalah padepokan itu kosong” desis salah seorang dari mereka.
“Entahlah” sahut yang lain., “Kita akan menyaksikannya.”
Dengan ragu-ragu iring-iringan itupun mendekat. Ketika mereka memperlambat derap kaki Kuda-kuda mereka.
“Sepi” desis yang berkuda dipaling depan.
“Lihat” berkata kawannya, “kita sudah sampai di pintu gerbang. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah melihat padepokan ini, di belakang gerbang alam, ada gerbang yang sebenarnya.”
Mereka pun kemudian mendekati gerbang yang tertutup rapat itu, Beberapa langkah dimuka pintu gerbang itu mereka berhenti.
“He, apakah ada orang yang menjaga gerbang ini di dalam?” salah seorang dari mereka berteriak.
Tidak terdengar jawaban.
“He, apakah padepokan ini telah kosong?” yang lain berteriak.
Teriakan-teriakan itu ternyata terdengar aneh ditelinga orang-orang dari gerombolan Serigala Putih. Jika yang datang itu adalah orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang, mereka tentu tidak akan bertanya seperti itu.
“He, jika ada seorangpun didalam, bukalah pintu. Aku ingin datang mengunjungi kalian. Bertanyalah kepada kawan-kawan kalian bahwa mereka telah mengenal kami.”
Tidak ada jawaban. Tetapi Teriakan-teriakan itu memang sangat menarik.
“Cobalah, lihatlah dari lubang gerbang itu” perintah orang tertua dari gerombolan Serigala Putih yang sebenarnya sedang menanti kedatangan lawannya. Mereka sudah hampir menjadi jemu oleh ketegangan yang menyiksa.
Seorang penjaga pintu gerbang itupun mendekati lubang dipintu itu dengan ragu-ragu. Sekilas dilihatnya beberapa orang kawan-kawannya yang mendekat dengan hati-hati karena mereka mendengar teriakan diluar pintu. Namun orang-orang yang ada didalam gerbang itu telah menyiapkan senjata-senjata mereka apabila yang datang itu adalah orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang.
Orang tertua yang untuk sementara memimpin kawan-kawan-nya dari gerombolan Serigala Putih itupun telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya, agar mereka mengambil tempat seperti yang telah diaturnya, apabila orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang datang dan memaksa memasuki gerbang itu.
Orang-orang gerombolan Serigala Putih itu telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Jika yang datang itu orang dari gerombolan Macan Kumbang yang akan memaksa dengan merusak pintu gerbang, maka demikian mereka menyerbu masuk, mereka akan terjebak dalam serangan ujung senjata lawannya yang sudah menunggu. Bahkan beberapa orang telah memegang senjata rangkap. Tombak pendek yang siap dilemparkan, dan pedang yang masih tergantung dilambung masing-masing.
Tetapi orang yang kemudian melihat dari lubang pintu gerbang itu menjadi heran. Mereka tidak melihat sepasukan orang-orang berkuda dari gerombolan Macan Kumbang. Tetapi mereka melihat sekelompok kecil orang-orang yang belum mereka ketahui.
Dengan isyarat orang itu memanggil pemimpinnya, agar iapun ikut melihat, siapakah yang berada diluar pintu.
Orang tertua itupun ternyata terkejut pula. Yang dilihatnya adalah salah seorang dari mereka yang dijumpainya di hutan perburuan.
“Bukankah orang itu adik Empu Sanggadaru?” desisnya, “he, siapakah yang ikut bersama aku pada saat guru terbunuh?”
Tiga orang maju bersama-sama. Berganti-ganti mereka melihat dari lubang itu. Dan mereka pun sepakat, bahwa orang itu adalah Empu Baladaru yang mereka jumpai ditengah hutan perburuan.
“Apakah maksudnya?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Tetapi nampaknya mereka tidak bermaksud buruk?”
“Ya. Dan mereka datang dalam jumlah yang kecil. Tak lebih dari enam atau tujuh orang.“
Sejenak mereka berbincang tentang Empu Baladatu. Dan sejenak kemudian merekapun mendengar suara dari luar pintu gerbang, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku?”
Orang tertua itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita akan membuka pintu gerbang itu, karena nampaknya mereka tidak bermaksud jahat.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dalam perselisihan dihutan perburuan itu, nampaknya Empu Baladatu bersikap terlalu lunak, sehingga kecurigaan merekapun lambat laun menjadi susut.
“Bukalah” desisnya kemudian.
Meskipun ragu-ragu,. namun orang itupun kemudian telah mengangkat selarak gerbang yang besar itu dibantu oleh seorang kawannya, sedangkan yang lain sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Mereka telah bersiap jika tiba-tiba saja mereka harus bertempur siapapun lawannya.
Tetapi ternyata ketika gerbang itu terbuka, sekelompok orang berkuda iru sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melakukan kekerasan. Bahkan orang yang berkuda dipaling depan menjadi heran, bahwa mereka telah disambut dengan senjata terhunus.
“Apakah kedatanganku tidak kalian kehendaki?” bertanya orang itu.
“O, tidak Empu” jawab orang tertua, “tetapi, kami sedang dalam kesiagaan.”—
“Kenapa? Apakah kalian mendendam? Apakah kalian menduga, bahwa aku atau kakang Sanggadaru pada suatu saat akan datang menyerang kalian? Atau barangkali kalian bercuriga terhadap para prajurit Singasari?”
“Tidak. Tidak Empu. Sama sekali tidak. Tetapi kami sedang menunggu orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang yang telah mengancam akan datang menyerang kami. Mereka sudah mengetahui bahwa kami telah kehilangan pemimpin kami. Dengan demikian mereka mengharap, bahwa mereka akan dapat menghancurkan kami dan memiliki padepokan seisinya. Mungkin barang-barang rampasan yang kami punyai disini. Seterusnya maka mereka akan merasa tidak kami saingi lagi didalam segala kegiatan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Karena itu Empu, bukannya kami tidak mau menerima kedatangan Empu, atau lebih-lebih lagi mencurigai. Kami mengenal kelunakan sikap Empu pada saat kami bertemu di hutan perburuan itu. Tetapi sebaiknya Empu menghindarkan diri dari keterlibatan lebih jauh lagi dalam pertentangan kami, dengan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang.”
“Apakah kalian sudah berjanji akan bertempur.”
“Sudah kami katakan. Mereka mengancam akan menyerang.”
“Sekarang?”
“Mungkin. Kami sudah menunggu dua tiga hari”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu, “Aku akan berada di sini. Mudah-mudahan aku tidak akan menggangggu kalian saat kalian mempertahankan padepokan kalian.”
“Tetapi mereka tidak dapat membedakan, siapapun yg berada di sini, tentu akan dibinasakannya.”
“Kenapa baru sekarang mereka melakukannya?”
“Setelah pemimpin kami tidak ada. Mereki merasa kekuatan kami susut, dan bahkan kami menjadi tidak berdaya sama sekali.”
“Sebelumnya, apakah mereka menganggap kalian cakup kuat.?”
Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu termangu-mangu. Setelah saling berpandangan sejenak, maka orang tertua diantara mereka itupun menjawab, “Mungkin demikian. Tetapi saat-saat pemimpin kami masih hidup, kami merasa bahwa kekuatan kami seimbang dengan kekuatan gerombolan Macan Kumbang, sehingga saat pemimpin kami terbunuh, maka keseimbangan itupun segera berubah.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah kedatanganku dapat mengembilikan keseimbangan itu?”
“Maksud Empu?”
“Aku berada dipihak kalian.”
Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Namun kamudian katanya, “Sebaiknya Empu meninggalkan padepokan ini. Aku tindak ingin Empu terlibat dalam kesulitan.”
Empu Baladatu memandang orang-orang dalam gerombolan Serigala Putih itu dengan tatapan mata yang aneh. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Aku sudah berada di sini sekarang. Aku akan tetap berada di sini.”
Sejenak suasana bagaikan membeku. Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu melihat Empu Baladatu tersenyum.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar