*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 22-02*
Karya. : SH Mintardja
Terasa bulu-bulu Empu Baladatu meremang. Tetapi sejak ia berada dipadepokan itu, ia belum pernah melihat lubang serupa itu, meskipun ia tahu, bahwa letak lubang semacam itu tentu di sepanjang jalur parit di bawah tanah yang berarus kuat itu.
“Apakah kakang pernah mempergunakan lubang-lubang semacam itu untuk kepentingan-kepentingan khusus” pertanyaan itu pun telah terloncat dari mulut Empu Baladatu diluat sadarnya.
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menggelengkan kepalanya, “Sampai saat ini aku tidak pernah mempergunakan untuk keperluan yang khusus selain untuk membuang sampah.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Termasuk sampah yang bukan saja berasal dari tumbuh-tumbuhan.”
Empu Biladatu termangu-mangu sejenak, dan Empu Sanggadaru melanjutkannya, “Para cantrik pernah memasukkan seekor kuda yang mati kedalam lubang itu. Ternyata bahwa kuda itu pun dapat hanyut tanpa menyumbat lubang parit itu.”
Dada Empu Baladatu berdesir. Bahkan seekor kuda pun dapat hanyut.
Empu Baladatu terkejut ketika tiba-tiba saja Empu Sanggadaru bertanya, “Apakah kau pernah melihat lubang-lubang itu seurut arus air dibawah tanah itu?”
Empu Baladatu menggeleng. Jawabnya, “Belum kakang.”
“O” Empu Sanggadaru mengangguk-angguk, “Lubang-lubang itu telah dibuat seperti sebuah sumur yang aman. Plempem tanah itu mencuat hampir sedada, sehingga tidak mungkin seseorang terperosok kedalamnya tanpa disengajanya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Jadi plempem tanah liat yang kan tanam di sepanjang halaman ini merupakan plempem-plempem yang besar sebesar lubang sumur dihalaman padepokanmu ini?”
“Ya. Aku telah membuat plempem-plempem tanah liat sebesar itu. Karena arus yang kuat, maka plempem yang lebih kecil tentu akan menghambat aliran airnya, dan akan menahan arus itu, sehingga dapat menimbulkan genangan, bahkan rawa kecil di luar padepokan ini.
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia mencoba mengusir prasangka buruk yang tumbuh dikepalanya karena sumur-sumur itu, meskipun kakaknya sudah mengatakan, bahwa sumur-sumur itu cukup diberi pengaman sehingga tidak mungkin seseorang terperosok kedalamnya tanpa disengaja.
“Mungkin aku adalah orang yang berpikiran paling busuk di muka bumi ini” Berkata Empu Baladatu didalam hatinya, “Sehingga aku langsung berprasangka bahwa lubang-lubang semacam itu akan dapat disalah gunakan oleh kakang Empu Sanggadaru.”
Namun ketika terpandang olehnya wajah kakaknya yang cerah, maka ia pun bergumam, “Tentu kakang Sanggadaru tidak akan berbuat serupa itu.”
Empu Baladatu terkejut ketika tiba-tiba saja kakaknya bertanya, “Agaknya kau menaruh perhatian terhadap parit di bawah Sanggarku ini. Baiklah, jika kau sempat, pada Suatu saat kita akan melihat. Diluar padepokan ini, kau akan dapat melihat parit itu sebelum aku jinakkan dengan plempem tanah liat. Kemudian kau dapat melihat lubang plempem yang sebagian tidak tertimbun, sehingga kau dapat membayangkan, betapa kerja berat pernah kami lakukan untuk menimbuni lereng yang dalam yang membelah padepokan ini meskipun tidak begitu lebar. Kemudian kau pun dapat melihat, kemana air ini tertumpah dibagian bawah, juga diluar padepokan ini.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak langsung menjawabnya. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Tetapi kakang, yang lebih menarik lagi bagiku adalah medan perburuanmu yang menghasilkan binatang-binatang yang kau keringkan di padepokan ini.”
“O” Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah menduga. Kau tentu tertarik pada hutan belukar itu. Baiklah. Aku akan mempersiapkan perburuan yang paling besar yang pernah aku lakukan. Besok kita akan pergi berburu bersama beberapa orang muridku. Kau tentu akan senang sekali.”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang mengharap bahwa kakaknya tidak akan berkeberatan membawanya berburu. Dengan demikian maka ia pun akan dapat melibat, betapa tangkasnya kakaknya mengejar binatang- buruan dan melontarkan senjata untuk membunuhnya.
“Setidak-tidaknya aku akan dapat mengetahui kecepatan gerak yang dimilikinya” berkata Empu Baladatu didalam hatinya.
“Tetapi kakang” berkata Empu Baladatu kemudian, “Aku mendengar dari seorang cantrik bahwa kakang agak tidak enak badan bari ini.“
Empu Sanggadaru tersenyum, jawabnya, “Ya. Sedikit. Tetapi itu tidak akan mengganggu. Dalam daerah perburuan aku selalu merasa sehat.”
“Baiklah kakang. Tetapi apakah kedua pengawalku itu diperkenankan ikut pula?”
“Apa salahnya. Biarlah mereka ikut berburu bersama kami besok. Mereka pun tentu akan senang melihat binatang buruan yang berkeliaran di hutan. Dari jenis binatang yang paling ganas, sampai binatang yang paling lemah, tetapi betapa lincahnya. Jenis kijang adalah binatang yang seakan-akan ditakdirkan untuk menjadi binatang buruan semata-mata. Baik oleh binatang-binatang buas, maupun oleh manusia. Tetapi kijang pun mempunyai kelebihan. Kecepatannya bergerak memang sangat mengagumkan.”
“Menyenangkan sekali kakang.” Desis Empu Baladatu, “Tetapi aku sama sekali tidak mempunyai perlengkapan berburu, karena sejak dari padepokan, aku tidak mengira bahwa kita akan berburu di hutan yang lebat.”
“Aku mempunyai beberapa busur dan kelengkapannya. Aku juga mempunyai bandil dan tombak pendek. Kalian dapat memilih senjata manakah yang paling lepat untuk berburu bagi kalian.”
“Kami belum berpengalaman. Kakang akan dapat memberikan petunjuk.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan memilih senjata untuk kalian.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Berbenahlah. Besok kita akan berangkat pagi-pagi benar. Tetapi kita akan mulai berburu di siang hari, disaat binatang mulai haus dan turun mencari air “
“Kijang?” Bertanya Empu Baladatu.
“Ya. Jika kita ingin mendapatkan binatang buas, maka kita akan menunggu mereka keluar mencari mangsa di malam hari. Tetapi sekali-kali kita dapat menjumpainya pula di siang hari,”
Empu Baladatu mengangguk-angguk .
“Jika orang-orang kita cukup banyak, maka kita akan dapat memencar mereka untuk mengejutkan binatang-binatang yang sedang bersembunyi. Disaat binatang itu berlari-larian, maka pengejaran pun akan segera mulai.”
“Menyenangkan sekali” desis Empu Baladatu. Lalu, “Baiklah kakang. Aku akan memberitahukan kepada kedua pengawalku bahwa mereka besok diperkenankan untuk ikut berburu. Mereka tentu senang sekali. Bahkan salah seorang dari mereka mengatakan, bahwa dimasa kecil ia mendapat kesempatan untuk berburu pula meskipun hanya berburu burung.”
Empu Sanggadaru tertawa. Jawabnya, “Berburu burung memerlukan ketangkasan tersendiri. Tetapi baiklah. Kita besok akan pergi bersama-sama. Aku akan memberitahukan beberapa orang cantrik yang akan aku bawa serta.”
Empu Baladatu pun kemudian minta diri. Namun ia tertegun ketika kakaknya bertanya, “Jadi apakah sebenarnya keperluanmu hari ini? Bukankah kau berpesan kepada seorang pelayan untuk menjumpaiku?”
“O, tidak. Tidak ada keperluan khusus” Jawab Empu Baladatu, “Namun sebenarnyalah aku ingin bertanya, apakah aku juga dapat mencari binatang seperti yang kau keringkan di padukuhan ini.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Tentu dapat. Dan adalah kebetulan, aku sudah lama tidak berburu.”
Tiba-tiba saja teringat oleh Empu Baladatu seekor ular yang besar yang membelit pengeret di bagian belakang rumah ini. Tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk menangkap ular sebesar itu.
Karena itu, tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah kakang sendiri yang menangkap ular sebesar yang berada di serambi belakang itu?”
Empu Sanggadaru mengangguk. Jawabnya, “Ya Aku sendirilah yang menangkapnya, “
“Mengagumkan sekali.”
“Kenapa?”
“Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana kakang dapat menangkapnya.”
Empu Sanggadaru tertawa. Kalanya, “Mudah seakli. Aku menemukan ular itu sedang tertidur nyenyak. Ekornya tergantung pada sebatang dahan yang sangat besar, sedang kepalanya menjulur kebawah dan terletak di atas segunduk tanah di bawah pohon raksasa itu.
“Kakang langsung membunuhnya “
“Tentu sulit untuk membunuhnya meskipun ular itu tidur. Jika gagal, maka ia akan bangun dan sekali patuk, aku akan masuk ke dalam mulutnya.”
“jadi?”
“Aku mencari akar jenu sebanyak-banyaknya. Kemudian setelah akar itu aku remuk dan aku benam di dalam air, maka dengan hati-hati aku memasukkan kepala ular itu kedalam belanga yang besar berisi air jenu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Akibat nya sudah aku bayangkan. Dalam keadaan mabuk ular itu mengamuk sejadi-jadinya setelah ia terbangun. Dihempas-hempaskannya tubuhnya pada batang-batang raksasa disekitarnya.”
Empu Baladatu mengernyitkan keningnya. Nampaknya ceritera kakaknya itu, seperti ceritera bagi anak-anak yang mulai berbaring dipembaringan.
Terapi Empu Sanggadaru agaknya dapat meraba perasaan adiknya. Maka katanya, “Memang sulit dibayangkan.”
“Ya” Jawab Empu Baladatu, “Memang agak sulit membayangkan. Aku mengerti, bahwa ular yang tertidur, amat sulit untuk bangun. Jika tidak ada sesuatu yang mengejutkannya, ular dapat tidur sampai berhari-hari. Tetapi aku tidak tahu, apakah ular yang sedang tidur membiarkan kepalanya yang terletak di tanah itu diangkat dan dimasukkan ke dalam belanga yang besar sekali.”
Empu Sanggadaru tertawa. Katanya” Tentu saja ular itu tidak akan segera terbangun. Jangankan diangkat kepalanya, bahkan diinjak-injak pun ular itu tidak akan segera terbangun.”
Empu Baladatu memandang wajah kakaknya dengan sorot mata yang aneh. Apalagi ketika Empu Sanggadaru kemudian tertawa berkepanjangan.
“Baladatu” Katanya, “Aku akan menunjukkan kepadamu, betapa ular yang tertidur nyenyak tidak mudah terbangun. Tetapi jarang sekali kita menjumpai kemungkinan itu. Seratus kali aku berburu, baru pertama kali itulah aku menjumpai ular sebesar itu tertidur nyenyak.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi masih ada keragu-raguan di dalam hatinya. Meskipun demikian ia sama sekali tidak bertanya lagi. Bahkan kemudian ia pun minta diri kepada kakaknya, untuk kembali ke tempat yang disediakan baginya.
“Baiklah. Berbenahlah. Besuk kita akan berburu Aku mempunyai cukup senjata untuk kalian bertiga.”
“Terima kasih kakang. Kami akan senang sekali mendapat kesempatan itu.”
Seperti yang direncanakan, maka di pagi hari berikutnya, Empu Baladatu dan kedua pengawalnya telah bersiap didini harti. Menjelang matahari terbit, seorang cantrik telah memanggil mereka ke sanggar.
“Empu Sanggadaru telah menunggu di sanggar” Berkata cantrik itu.
“Kami akan segera menghadap” Jawab Empu Baladatu.
Sepeninggal cantrik itu, Empu Baladatu berkata kepada ke dua pengawalnya, “Bersiaplah. Meskipun kakang Sanggadaru menyediakan senjata berburu, tetapi jangan kau lepaskan senjatamu sendiri.”
Kedua pengawalnya mengangguk. Salah seorang dari mereka bertanya -” Apakah kita pantas mencurigai Empu Sanggadaru?”
“Kita harus selalu berhati-hati” Jawab Empu Baladatu. Kedua pengawalnya saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak bertanya apapun lagi.
Sejenak kemudian, maka mereka bertiga telah menghadap Empu Sanggadaru di sanggarnya. Dan ternyata bahwa Empu Sanggadaru pun telah siap pula dengan kelengkapan berburunya.
Empu Baladatu yang melihat kakaknya dalam kelengkapan berburu tersenyum sambil berkata, “Kakang pantas sekait mengenakan pakaian itu.”
Empu Sanggadaru tersenyum.
“Pakaian kulit harimau, busur menyilang punggung, endong anak panah di lambung, membuat kakang Empu Sanggadaru benar-benar seorang pemburu yang mengagumkan.” Desis Empu Baladatu.
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kakang benar, (didalam teks aslinya tampaknya ada kalimat yang tidak nyambung) ji pakaian dan kelengkapanku. Tetapi seorang pemburu tidak ditentukan oleh pakaian dan kelengkapannya. Pemburu yang baik diungkapkan didalam tingkah laku dan ketangkasannya di medan perburuan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kakang benar. Tetapi pakaian kakang telah menggambarkan, bahwa kakang benar-benar seorang pemburu yang mengadakan kelengkapan khusus disaat-saat ia berburu. Berhasil atau tidak berhasil, tetapi ia sudah menempatkan dirinya.”
“Ya” Sahut Empu Sanggadaru masih sambil tertawa”
Marilah kita bersiap. Kudamu dan kedua kawanmu itu sudah disiapkan pula. Kita akan pergi berenam. Kau bertiga dan aku juga bertiga.”
“O” nampak kerut merut di kening Empu Baladatu. Tetapi ia berusaha untuk melenyapkan semua kesan dari wajahnya. Bahkan ia tersenyum sambil berkata, “Apakah kita hanya berenam? , Jika kita mempunyai banyak kawan, mereka akan dapat mengejutkan binatang-binatang yang sedang tidur atau bersembunyi di gerumbul-gerumbul.”
“Itu tidak perlu. Memang kadang-kadang keluarga istana pergi bersama hamba-hambanya untuk nggrapyak binatang buruan. Tetapi bagiku sama sekali tidak menarik. Tidak ada perjuangan yang dapat memberikan kepuasan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mendapat gambaran, betapa kakaknya yang telah lebih tua dari padanya itu masib mempunyai gairah berjuang di lapangan yang digemari. Benar-benar sebagai kegemaran. Bukan dalam suatu perjuangan atas sesuatu yang dicita-citakan.
“Mungkin aku dapat menyalurkan gairah perjuangannya”
“Namun kemudian. Atau bahkan sebaliknya. Aku akan di gilas oleh gairah yang menyala di hatinya itu.”
Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka berenam telah bersiap untuk berangkat ke hutan yang tidak terlalu jauh dari padepokan kecil itu. Di kuda masing-masing selain perlengkapan berburu, juga tersangkut bekal di sepanjang perjalanan.
“Bekal itu cukup untuk sehari” Berkata Empu Sanggadaru, “Dihari kedua dan berikutnya, sepanjang kita masih ingin tetap berburu dapat dicari di hutan itu. Mungkin binatang buruan. Mungkin buah-buahan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa cara berburu yang dilakukan oleb Empu Sanggadaru bukanlah cara yang lunak. Mereka harus benar-benar bekerja keras selama berada di daerah perburuan. Setidak-tidaknya untuk mendapatkan makan mereka selama mereka berada di medan.
Sesaat kemudian maka mereka pun telah meninggalkan regol padepokan. Langit yang cerah dan angin pagi yang lembut terasa betapa segarnya. Marahari yang mulai naik ketepi langit melontarkan cahayanya yang kemerah-merahan.
“Perjalanan yang menyenangkan” Desis Empu Sanggadaru, “Hutan itu tidak terlalu jauh. Menjelang tengah hari kita sudah akan berada di medan. Kita dapat beristirahat sejenak di pinggir sebuah mata air. Kadang-kadang ada binatang yang haus turun untuk minum. Adalah nasib yang buruk bagi binatang itu jika ia tidak akan dapat meninggalkan mata air itu karena anak panah seorang pemburu.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Hutan itu adalah hutan yang jarang dijamah. Baik oleh para pemburu maupun oleh orang-orang lain dalam kepentingan mereka masing-masing. Tetapi justru Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lah yang sering pergi berburu ke hutan yang lebat itu, karena mereka tidak puas berburu di hutan yang sudah disediakan.”
Empu Baladatu menjadi berdebar-debar. Bahkan kemudian ia bertanya, “Bagaimana jika dimedan perburuan kita nanti bertemu dengan rombongan mereka?”
“Mereka tidak terlalu sering berburu. Tetapi jika kita bertemu dengan mereka, tidak ada keberatannya. Mereka adalah orang yang baik, yang tidak merasa diri mereka memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga seperti yang pernah aku ceriterakan, bahwa aku pernah mereka ajak berpacu.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun terasa ada sepercik kekecewaan dihatinya. Agaknya Empu Sanggadaru menganggap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah dua orang yang baik, yang justru pantas memegang kendali pemerintahan.
“Kakang Sanggadaru tidak mengetahui, bahwa aku sedang mempersiapkan sebuah kekuatan tandingan” Berkata Empu Baladatu di dalam hatinya “Jika murid-muridku mencapai kesempurnaan ilmu, maka mereka akan menjadi sepasukan prajurit yang tidak akan terbendung di medan perang. Mereka akan menjadi Senapati yang disegani, yang bersama dengan orang-yang akan aku himpun, maka akan tersusunlah kekuatan yang akan dapat menandingi kekuatan Singasari sekarang, meskipun untuk jangka waktu yang agak panjang.”
Demikianlah mereka berpacu terus mendekati daerah yang semakin rimbun oleh batang-batang perdu. Ketika mereka kemudian melintasi ujung bulak yang digarap sebagai tanah persawahan, maka mereka pun mulai memasuki hutan ilalang dan perdu yang semakin lama menjadi semakin tebal.
Empu Baladatu yang belum pernah memasuki hutan itu menjadi ragu-ragu. Hutan itu benar-benar sebuah hutan yang lebat. Dan kejauhan sudah nampak pepohonan raksasa yang dibelit oleh batang-batang yang menjalar. Bahkan gerumbul-gerumbul berduri di antara semak-semak belukar yang padat.
“Kita akan memasuki hutan itu” Desis Empu Baladatu.
“Ya. Ada sebuah lorong sempit yang masuk ke dalamnya. Tetapi hanya beberapa ratus langkah. Kemudian kita harus mencari jalan di antara pepohonan raksasa dan melangkahi batang-batang yang rebah.”
“Bagaimana dengan kuda kita?”
“Kudaku sudah terbiasa aku pergunakan untuk berburu. Mungkin kudamu belum. Tetapi kita dapat mencari jalan yang lebih baik dari yang aku katakan, karena justru semakin dalam kita memasuki hutan itu, rasa-rasanya justru menjadi semakin lapang. Hanya pohon-pohon besar sajalah yang tumbuh, sementara semak-semak menjadi semakin tipis dan berkurang. Namun bukan berarti bahwa tidak ada semak sama sekali.”
“Bagaimana jika kudaku tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di hutan itu?”
“Tentu dapat. Tidak ada kesulitan apapun juga. Hanya mungkin kudamu tidak selincah kudaku jika kita harus mengejar binatang buruan.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. la tidak dapat membayangkan, betapa dalam hutan yang lebat itu, seekor kuda dapat berlari mengejar binatang buruan. Apalagi seekor rusa yang mampu berlari secepat angin.
“Tetapi rusa itu pun dapat berlari-larian di tengah hutan. Bahkan harimau dan binatang-binatang besar lainnya. Banteng, badak dan kuda-kuda liar.” Empu Baladatu mencoba untuk menjawab persoalan dihatinya, karena ia melihat binatang semacam itu yang sudah dikeringkan di rumah kakaknya, Empu Sanggadaru.
Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu berada dipaling depan. Kemudian seorang pengawal Empu Baladatu bersama seorang cantrik dan demikian pula di paling belakang.
Seperti Empu Baladatu, maka kedua pengawalnya pun memberikan pertanyaan-pertanyaan yang serupa kepada para cantrik. Dan jawaban mereka pun hampir sama pula dengan jawaban Empu Sang gadaru.
“Kita dapat mengejar buruan kita melalui celah-celah pohon raksasa, di antara semak-semak yang tidak selebat di luar hutan.” Berkas salah seorang cantrik kepada pengawal Empu Baladatu
“Apakah kau sudah sering pergi berburu?” bertanya pengawal itu.
“Sering sekali. Adalah kegemaran Empu Sanggadaru untuk pergi berburu di hutan itu. Kadang-kadang tanpa direncanakan sama sekali.”
Pengawal Empu Baladatu itu pun mengangguk-angguk. Nampaknya Empu Sanggadaru memang terbiasa sekali berburu di tengah hutan, sehingga ia mempunyai perlengkapan yang memadai bagi kegemarannya itu.
Sejenak kemudian, mereka pun telah memasuki bagian hutan yang mulai padat. Namun mereka masih dapat menelusuri jalan setapak yang nampaknya sering dilalui oleh manusia.
“Siapakah yang sering memasuki hutan lewat lorong kecil ini?” bertanya Empu Baladatu.
“Tidak ada selain para pemburu. Itu pun para pemburu yang berani, yang tidak puas berburu di hutan-hutan kecil yang rindang.”
“Apakah pemburu yang demikian cukup banyak jumlahnya?”
“Tidak. Tetapi karena hutan ini adalah hutan yang menyimpan banyak binatang buruan, maka hampir setiap pemburu yang berani, datang berburu di hutan ini.”
“Dari segala penjuru?”
“Maksudku, orang-orang yang tinggal di Kota Raja. Juga termasuk para bangsawan. Seperti yang aku katakan, juga Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Tetapi bagi para bangsawan yang kurang berani, agaknya lebih senang berburu di hutan yang memang sudah disediakan di sebelah Kota Raja itu. Hutan yang seolah-olah sudah menjadi sebuah kebun yang dihuni oleh binatang-binatang yang jinak, meskipun jumlahnya menjadi semakin berkurang dan hampir punah sama sekali, sehingga karena itu, berburu di hutan itu sudah tidak menarik lagi, kecuali sebuah tamasya dengan para puteri dan anak-anak.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia menjadi cemas, bahwa pada suatu saat mereka akan bertemu dengan sebuah kelompok pemburu dari istana Singasari.
Karena itu di luar sadarnya ia berkata, “Tetapi apakah selain Maharaja dan pengiringnya, ada kelompok-kelompok lain yang kakang kenal sering berburu di hutan itu?”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya Lalu katanya, “Aku tidak mengenalnya secara langsung. Tetapi aku pernah mendengar nama-nama mereka yang memang bersangkut paut dengan istana.”
“Mereka adalah pengiring-pengiring Maharaja.”
“Ya “
“Maksudku kelompok-kelompok yang lain.”
“Jarang sekali. Dan aku kurang mengenal mereka secara pribadi.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun masih tetap cemas, bahwa mereka bertemu dengan kelompok-kelompok yang, tidak dikehendakinya. Menilik jalur jalan sempit itu, maka agaknya memang sering terjadi, sekelompok pemburu memasuki hutan yang lebat, yang seolah-olah menyimpan binatang yang tidak ada habisnya.
Sejenak kemudian kelompok kecil itu pun telah memasuki hutan yang lebih lebat. Gerumbul-gerumbul liar berserakan di antara pepohonan. Seolah-olah mereka memasuki daerah yang penuh dengan jenis kehidupan yang lain sama sekali.
Namun demikian mereka masih tetap berjalan menyusuri jalan sempit menusuk semakin dalam. Jalan yang seolah-olah memang sudah disediakan bagi para pemburu.
“Kita akan sampai di suatu tempat yang baik sekali untuk beristirahat. Dari tempat itu, kita dapat melihat keadaan di sekitar kita yang cukup lapang.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Kita dapat membuat perapian jika diperlukan. Tetapi kita harus berhati-hati. Api yang sepercik dapat membakar seluruh hutan ini tanpa terkendali.” Empu Sanggadaru berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya menurut sopan santun, kita tidak boleh menyalakan api di sini. Tetapi biasanya kita tidak begitu menghiraukannya, meskipun kita tahu bahayanya, “
“Asal kita berhati-hati” Sahut Empu Baladatu.
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Perlahan-lahan kuda mereka maju terus menusuk semakin dalam di antara pepohonan yang seolah-olah menjadi semakin rapat dan semakin besar.
Empu Baladatu tidak banyak bertanya lagi. Ia mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Sebagai seorang petualang ia pun sering memasuki hutan-hutan lebat seperti itu. Tetapi ia tidak pernah dengan sengaja berburu. Jika sekali-kali ia berkelahi melawan binatang buas, biasanya justru karena binatang itu menjelangnya. Namun dengan kemampuannya, ia selain dapat melepaskan diri dari terkaman binatang yang paling buas sekalipun. Seekor harimau loreng yang besar, tidak akan dapat membunuhnya meskipun ia hanya bersenjatakan sebilah pisau
Namun demikian, Empu Baladatu selalu menghindarkan diri dari serangan gerombolan anjing-anjing liar dan apalagi serigala. Karena betapapun tinggi ilmunya, namun serigala dalam kelompoknya hampir lidak akan dapat dikalahkan.
Meskipun demikian, agaknya pengetahuannya tentang binatang buruan jauh berada di bawah pengetahuan kakaknya yang memang mempunyai kegemaran berburu. Karena itulah, maka ia tidak banyak menentukan sikap, bahkan seolah-olah tergantung sama sekali kepada kakaknya itu.
Sebelum tengah hari mereka telah berada di dalam hutan yang lebat. Sinar matahari yang mulai terik, seakan-akan terhenti didedaunan yang lebat, sehingga tanah di dalam hutan itu rasa-rasanya tetap lembab.
“Kita hampir sampai” Desis Empu Sanggadaru.
“Maksudmu tempat untuk beristirahat itu kakang?” Bertanya Empu Baladatu.
“Ya.” Jawah Sanggadaru, “Kita akan beristirahat, makan dan kemudian mengintai binatang buruan di mata air itu.”
Sejenak mereka masih herjalan menembus hutan yang lebat itu sepanjang jalan sempit yang panjang. Mereka menyusup di sela-sela pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu yang memang justru menjadi semakin jarang.
“Itulah” Berkata Empu Sanggadaru kemudian ketika mereka memasuki sebuah tempat yang seolah-olah memang sudah disediakan bagi para pemburu untuk beristirahat.
“Apakah kau heran melihat tempat yang seolah-olah sudah tersedia bagi perkemahan ini?” Bertanya Empu Sanggadaru.
Empu Baladatu mengangguk, jawabnya, “Ya kakang. Tetapi agaknya seseorang telah menebang beberapa batang pobon sehingga tempat ini menjadi semacam lapangan sempit yang baik untuk perkemahan para pemburu.”
“Mungkin. Tetapi aku menemukan tempat ini sudah seperti yang kita lihat sekarang. Namun menilik keadaan di sekelilingnya, memang mungkin seseorang, atau sekelompok pemburu pada masa yang lama lalu, membuat tempai ini tempat perkemahan mereka.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Disinilah kita akan berhenti dan beristirahat. Dari tempat inilah kita akan melakukan perburuan yang keras. Kita akan masuk semakin dalam dan memburu binatang di antara semak belukar. Di malam hari, jika perburuan kita selesai, kita akan kembali ke tempat ini menunggu masa berikutnya.”
Empu Baladatu masih mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya dirinya menjadi kecil di antara pepohonan yang besar di sekitarnya. Seperti yang dikatakan oleh kakaknya, memang mungkin berburu di atas punggung kuda didaerah yang luas itu. Namun demikian, jika kurang dapat menguasai kudanya dan mungkin juga kuda itu sendiri kurang terbiasa menempuh perjalanan di hutan lebat seperti itu, maka akan dapat mengalami kesulitan.
Demikianlah maka mereka pun kemudian memasuki sebuah lapangan kecil di tengah hutan yang luas. Dari celah-celah pepohonan yang terpisah oleh lapangan itu, maka sorot matahari dapat menembus dan jatuh diatas tanah yang berumput tebal. Disana-sini terdapat beberapa rumpun semak-semak diantara pohon-pohon yang tidak begitu tinggi.
“Setiap kali kami selalu menebang pohon-pohon kayu yang menjadi semakin besar dilapangan sempit ini, agar tempat ini tetap merupakan tempat berkemah yang baik bagi para pemburu.” Berkata Empu Sanggadaru.
“Apakah pemburu-pemburu yang lain juga melakukan hal yang serupa?”
“Nampaknya memang demikian. Jika kami untuk waktu yang agak lama tidak pergi berburu, kadang-kadang kami pun menjumpai batang-batang pohon yang di tebang orang disini. Bekas-bekas perapian dan bekas-bekas yang lain. Menurut dugaan kami, maka pemburu-pemburu itu pun tanpa bersepakat lebih dahulu telah melakukan kewajiban yang sama disini.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian. maka ia mulai membayangkan, bahwa hutan yang luas dan lebat ini bukannya hutan yang sepi. Justru karena beberapa orang petualang tidak lagi puas berburu dihutan perburuan, termasuk keluarga istana yang memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya ini, maka hutan ini menjadi ramai. Hutan yang lebat dan berisi banyak binatang buruan, dan terletak tidak terlalu jauh dari Kota Raja.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah mengikat kuda mereka di batang-batang perdu. Kemudian dengan langkah yang lambat, Empu Sanggadaru berjalan menuju ketengah lapangan kecil di tengah hutan itu.
“Matahari ternyata telah tergelincir ke Barat. Perjalanan kami kali ini termasuk agak lambat. Biasanya aku sampai di tempat ini menjelang tengah hari.“
“O” Empu Baladatu mengangguk, “mungkin akulah yang memperlambat perjalanan. Tetapi dengan demikian aku dapat melihat hutan ini lebih saksama “
“Aku mengerti. Karena itulah maka aku pun tidak berkeberatan berjalan lebih lambat dari biasanya” Jawah Empu Sanggadaru.
Namun tiba-tiba saja Empu Sanggadaru berhenti termangu-mangu. Katanya, “Perapian ini masih baru. Tentu ada orang lain yang juga sedang berburu.“
“Ya.” Jawab pengawalnya, “Kuda mereka tentu di tambatkan di sini.”
Empu Sanggadaru dengan tergesa-gesa mendekati cantrik yang berdiri di bawah sebatang pohon yang meskipun tidak begitu besar, tetapi daunnya nampak rimbun.
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya kepada adiknya
“Kita mendapat kawan berburu. Agaknya lebih dari empat atau lima ekor kuda.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi biasanya di saat begini mereka masih tetap berada disini. Mereka biasanya memburu binatang menjelang senja. Kadang-kadang di malam hari, tetapi tanpa mempergunakan kuda mereka.”
“Dimanakah kuda mereka ditinggalkan?”
“Disini. Dua atau tiga orang menungguinya. Sedang yang lain pergi mengintai binatang buruan. Kadang-kadang kita harus nyanggong di pepohonan. Tetapi kadang-kadang kita harus menelusuri semak-semak”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. la tidak pernah berburu binatang buas. Bahkan kadang-kadang ialah yang diburu jika ia melalui pinggiran hutan dalam petualangannya. Namun jika ia membunuh seekor harimau, ia sama sekali tidak pernah memikirkan untuk mendapatkan kulitnya, atau kepalanya atau bahkan mengeringkannya seutuhnya seperti yang dilakukan oleh kakaknya.
“Mungkin pemburu-pemburu ini telah meninggalkan hutan ini” Desis Empu Sanggadaru.
“Tetapi tidak ada jejak baru yang keluar hutan hari ini“ Sahut seorang cantrik.
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. la percaya kepada keterangan cantriknya itu, karena cantrik yang seorang itu memang memiliki ketajaman penglihatan atas berbagai macam jejak, termasuk jejak kuda dan jejak binatang buruan.
“Kalau begitu” Berkata Empu Sanggadaru “Di hutan ini masih ada sekelompok pemburu.”
“Ya.”
“Tetapi tidak ada sesuatu lagi yang tertinggal di sini kecuali perapian yang masih baru ini.”
“Mungkin mereka akan berburu dan menembus hutan ini sampai ke sisi yang lain.”
“Ah, itu adalah suatu perburuan yang sangat berat. Mungkin mereka akan menempuh perjalanan berhari-hari, dan bahkan mungkin akan terhenti sama sekali. Di tengah-tengah hutan ini, rerungkutan tidak dapat disusupi. Jika daerah ini memungkinkan kita berkejaran dengan binatang buruan dengan seekor kuda, maka hal itu karena daerah ini sudah sering kali didatangi pemburu. Jika pada suatu saat kita tidak puas lagi berburu ditempat yang menjadi semakin lengang karena binatang buruan, yang bersembunyi semakin ke dalam, kita pun akan menyusulnya semakin dalam pula, dan daerah yang terbuka pun menjadi semakin luas.”
“Mungkin demikian pula alasan pemburu yang sekarang tidak kita jumpai disini. Tetapi mungkin mereka berharap untuk dapat keluar dari hutan ini lewat sisi yang lain.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku tidak peduli, siapa pun yang berburu kali ini. Tidak ada keberatannya jika dua kelompok atau lebih berburu bersama-sama, bahkan bersama Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Campaka sekalipun.”
Empu Baladatu tidak menyambung pembicaraan itu. Ia memang tidak mengerti setiap kata yang diucapkan.
Bahkan mungkin timbul pula kecemasan dihatinya, bahwa yang sedang berburu di hutan itu adalah orang-orang yang mempunyai sangkut paut dengan golongan yang disebut orang-orang berilmu hitam yang dipimpinnya.
“Mudah-mudahan bukan Mahisa Bungalan” Desisnya, “Tetapi seandainya Mahisa Bungalan, ia sama sekali belum mengenal aku. Dan adalah suatu keuntungan bahwa aku akan dapat mengenalnya lebih dekat.”
Sejenak kemudian, maka mereka pun telah duduk bertebaran dilapangan kecil ditengah-tengah hutan itu, sambil menunggu saat mereka akan mengintai binatang buruan di sebuah mata air yang tidak jauh dari tempat itu.
“Matahari sudah condong” Desis seorang cantrik, “Saat binatang-binatang buruan mencari air sebenarnya sudah lewat. Meskipun demikian mungkin masih ada binatang yang muncul dimata air itu sekarang.”
Empu Sanggadaru mengangguk. Lalu katanya, “Sebenarnya aku malas memburu binatang-binatang kecil itu. Tetapi barangkali perlu juga untuk makan kita malam nanti sebelum kita berhasil menangkap binatang-binatang buruan yang sebenarnya.” Ia berhenti sejenak lalu, “Baiklah. Marilah kita berburu kijang atau menjangan di mata air itu. Biasanya binatang-binatang itu menjadi haus di saat begini atau justru sudah lewat beberapa saat meskipun barangkali masih mungkin untuk mendapatkannya.”
Empu Baladatu pun mengangguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah kita akan berkuda juga?”
“Tidak. Kita akan berjalan kaki. Jarak itu tidak terlampau jauh. Biarlah dua orang tinggal disini untuk menjaga kuda-kuda kita.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya, lalu, “Biarlah orang-orangku tinggal disini.”
Empu Sanggadaru menggeleng sambil tersenyum” Bukankah mereka ingin berburu? Biarlah seorang cantrik dan seorang pengawalmu tinggal di sini. Di kesempatan lain, bergantian pengawalmu dan cantrikku yang lain.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Jawabnya”Baiklah. Mana yang baik menurut pertimbanganmu,”
Mereka pun kemudian bersiap dan membenahi senjata mereka. Empu Sanggadaru kemudian melangkah lebih dahulu sambil berkata, “Marilah. Ikutilah aku”“
Empat orang di antara mereka segera meninggalkan lapangan kecil itu menyusup ke dalam semak-semak dan melintasi daerah yang rasa-rasanya menjadi semakin rimbun.
“Semak-semak tumbuh amat subur disini. Semakin dekat dengan mata air maka gerumbul-gerumbul menjadi semakin pepat, karena akarnya selalu dibasahi oleh mata air di sebelah “
Empu Baladatu hanya mengangguk-angguk saja. Ia menduga bahwa di balik gerumbul-gerumbul itulah terdapat mata air yang mereka tuju.
Tetapi ternyata mereka masih melintasi gerumbul-gerumbul yang lain. Jika mereka melalui sebuah gerumbul, mereka masih harus menyusup gerumbul berikutnya, sehingga akhirnya Empu Baladatu bertanya, “Apakah mata air itu sudah dekat?”
“Ya. Beberapa langkah lagi kita akan sampai.” Tetapi yang beberapa langkah itu ternyata adalah langkah-langkah yang amat panjang.
Namun akhirnya Empu Sanggadaru pun berhenti. Sambil menunjuk ke sebatang pohon raksasa ia berkata, “Di bawah pohon itulah terletak mata air yang selalu basah di segala musim. Kita akan mengambil tempat yang baik untuk menunggu seekor binatang yang terlambat minum pada hari ini,“
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Dengan saksama ia memperhatikan daerah di sekitarnya. Bahkan kemudian tatapan matanya merayap memanjat ke batang raksasa yang tumbuh di atas mata air itu.
Terasa kulitnya meremang ketika terlihat olehnya dahan-dahan yang bersilang melintang. Sulur-sulur yang meskipun tidak terlalu lebat, namun nampaknya bagaikan jari-jari yang siap untuk menerkam.
Empu Baladatu adalah seorang yang berhati batu. Ia tidak tersentuh sama sekali perasaannya, meskipun ia melihat mayat yang bagaikan lumat sekalipun. Bahkan dengan hati yang mantap ia mengorbankan darah sesama untuk kepentingan ilmunya yang hitam. Namun melihat pepohonan di hutan itu, rasanya ia menjadi bertambah kecil.
“He,” desis Empu Sanggadaru, “Apakah yang kau perhatikan itu?”
Empu Baladatu menarik nafas. Desisnya, “Pohon itu. Terutama yang satu itu. Aku belum pernah melihat sebatang pohon sebesar dan setinggi itu.”
“Masih ada beberapa batang pohon yang bahkan lebih besar dari pohon itu di bagian hutan yang lebih ketengah. Pada sebatang pohon yang agak lebih besar dari pohon itulah aku menemukan ular raksasa yang aku hawa kepadepokan itu.”
“O” Desis Empu Baladatu.
Namun terbayang kemudian ular raksasa itu tergantung dengan kepalanya dibawah dan ekornya yang membelit dahan yang terbawah.
“Tetapi darimana kakang mendapatkan belanga di tengah hutan selebat ini?” Pertanyaan yang sederhana itu telah terbersit dihatinya. Namun yang sebenarnya bukanlah masalah belanga itu sendiri yang menjadi pokok pertanyaannya. Namun pada dasarnya Empu Baladatu memang agak kurang percaya dengan ceritera kakaknya, bagaimana ia menangkap ular raksasa itu.
Tetapi Empu Baladatu tidak menanyakan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bukan main. Mudahkan kita akan dapat bertemu ular sebesar itu lagi. Jika aku dapat membawa pulang kepadepokanku, meskipun hanya kulitnya, maka tentu akan menggemparkan sekali ”
Kakaknya tertawa. Katanya” Hanya suatu kesempatan yang datang satu diantara seribu. Mungkin aku tidak akan pernah menjumpai ular yang tertidur seperti itu lagi sepanjang umurku.”
Empu Baladatu tidak menyahut. Meskipun kepalanya terangguk-angguk, namun hatinya masih tetap ragu-ragu.
“Marilah kita mendekat” Berkata Empu Sanggadaru, “Kita akan berada dibalik sebuah batu yang besar untuk menunggu. Kita kali ini harus berada di sebelah selatan mata air itu, karena angin bertiup keselatan. Dengan demikian binatang yang mendekati mata air itu tidak segera mencium bau manusia atau yang dianggapnya mahluk asing yang dapat membahayakan keselamatan mereka.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Diikutinya Empu Sanggadaru berjalan menyusup gerumbul-gerumbul yang rimbun dan bahkan berduri. Tetapi nampaknya Empu Sanggadaru sama sekali tidak menghiraukannya.
“Pakaiannya cukup tebal” Desis Empu Baladatu di dalam hatinya., “Jika aku tidak berhati-hati seperti kakang Sanggadaru, maka mungkin pakaianku akan segera menjadi compang-camping meskipun duri tidak dapat melukai kulitku.
Demikianlah mereka pun kemudian duduk di balik sebongkah batu padas yang besar. Namun nampaknya tempat itu memang sudah sering dipergunakan untuk menunggu binatang buruan yang kehausan dan mencari minum dimata air yang nampak di bawah pohon raksasa itu.
Empu Baladatu yang baru pertama kali itu sengaja duduk menunggui binatang buruan, tidak dapat duduk dengan, tenang. Sekali-kali ia bergeser dan memperhatikan mata air yang seolah-olah memancar dari bawah akar-akar batang raksasa yang mendebarkan Itu, kemudian tergenang di dalam sebuah belumbang kecil yang bening.
“Kemanakah air itu mengalir?” Tiba-tiba saja ia bertanya.
“Melalui bawah tanah. Air itu menyusup ke dalam timbunan sampah dedaunan yang sudah bertahun-tahun menumpuk di sekitar pohon raksasa ini, dan mengalir menjadi sebuah parit di bawah tanah. Di luar hutan ini air itu akan memancar pula sebagai mata air seperti mata air di bawah pohon raksasa itu.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun nampaknya ia masih terpukau melihat akar-akar raksasa yang seolah-olah menahan tegaknya batang pohon yang sangat besar dan. tinggi itu. Ujung-ujungnya jauh mencengkam ke dalam tanah yang gembur, namun demikian ternyata cukup kuat, sehingga batang raksasa itu tidak dapat roboh oleh angin yang kencang sekalipun.
“Duduklah” Desis Empu Sanggadaru kemudian, “Jika kita selalu gelisah, mereka tidak akan ada binatang yg berani mendekat.”
Empu Beladatu pun kemudian duduk di samping kakaknya meskipun agaknya ia sudah mulai tidak telaten.
“Awasilah mata air itu” Desis Empu Sanggadaru kepada cantriknya,
Namun cantrik itu menjawab, “Empu, agaknya sudah ada seseorang yang berhasil mendapatkan seekor binatang atau lebih di sini.”
“He” Empu Sanggadaru terloncat dengan serta merta.
“Aku melihat darah.”
“Dimana” Bertanya Empu Sanggadaru.
Cantrik itu pun kemudian menunjuk noda yang terdapat di tepi belumbang itu, “Bukankah itu noda darah?”
Empu Sanggadaru menarik nafas. Jawabnya, “Ya. Itu adalah noda darah. Tentu ada seseorang atau sekelompok pemburu yang telah mendahului kita.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ia juga melihat warna yang lain pada tanah yang gembur di tepi belumbang itu. Tetapi ia tidak segera dapat menyebut bahwa noda yang nampak itu adalah noda-noda darah.
“Marilah kita mendekat. Kita akan meyakinkan, apakah yang nampak itu memang darah.”.
“Kita jangan mendekati belumbang itu Empu” Berkata cantrik itu, “Dengan demikian, maka bau yang kita tinggalkan akan membuat binatang-binatang buruan itu segan untuk mendekat.”
“Kita tidak akan mendekat sampai ke belumbang itu” Sahut Empu Sanggadaru, “Tetapi kita akan melihat noda yang agaknya merupakan urutan dari noda yang terdapat di pinggir belumbang itu.”
Cantrik itu mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian mereka pun mendekati noda-noda yang agaknya memang noda darah yang berceceran. Dengan kerut merut di kening, Empu Sanggadaru berkata, “Pemburu itu tidak berhasil membunuh korbannya. Binatang buruan itu sempat melarikan diri dengan luka-luka di tubuhnya. Darahnya berceceran sepanjang jejak pelariannya, “
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Setelah menjadi semakin dekat, maka diapun segera mengenal warna-warna darah yang telah mengering itu.
“Darah ini akan mengundang jenis binatang buas yang akan membunuhnya” Desis Empu Sanggadaru, “Jika pemburu yang gagal membunuh binatang ini tidak menelusuri jejaknya dan kemudian membunuhnya, maka seekor harimau atau sekelompok anjing liar akan mencarinya dengan mengikuti ceceran darah itu.”
“Jika binatang itu menjadi lemah, maka ia akan kehilangan kekuatannya untuk melarikan diri dari cengkeraman maut, siapa pun yang membawa mendekat. Apakah pemburu itu, ataupun binatang buas yang lain.”
Empu Sanggadaru menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Biarlah binatang itu menemui nasibnya. Kita akan menunggu binatang yang lain.”
Empu Baladatu hanya dapat mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak bisa menentukan sikapnya sendiri, karena ia adalah orang yang tidak mempunyai mengalaman yang cukup di medan perburuan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar