*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 15-03*
Karya. : SH Mintardja
Tepat pada saatnya, maka Tapak Lamba melihat salah seorang dari para pengawal yang telah melawan Ki Buyut itu meloncat ke arah Nyai Buyut yang lumpuh.
Nyai Buyut yang melihat loncatan itu memekik kecil. Tetapi Ki Buyut yang sedang terlibat dalam perkelahian sengit itu pun tidak dapat berbuat apa-apa, selain memaki-memaki.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja pengawal yang telah hampir mencapai Nyai Buyut itu terkejut. Terasa sebuah dorongan yang keras sekali membenturnya, sehingga ia pun melangkah surut.
Dengan wajah yang merah padam ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Matanya seakan-akan menjadi merah membara dan memancarkan kemarahan yang tiada taranya.
“Gila, kenapa kau turut campur?” teriaknya.
“Sebenarnya aku tidak ingin turut campur. Bertempurlah. Tetapi karena kau licik, dan akan mempergunakan Nyai Buyut yang tidak berdaya untuk kepentingan yang akan berakibat sangat buruk dan mengerikan, maka aku tidak akan dapat tinggal diam.”
“Kau adalah orang yang paling gila yang pernah aku jumpai. Sebenarnya kau mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari halaman ini, dan kau akan selamat. Tetapi apakah kau tidak menyadari, bahwa tindakanmu ini dapat memancing kematian, bahkan dengan cara yang sangat mengerikan?”
“Jangan menakut-nakuti. Aku juga pembunuh seperti kau. Demikian juga kawan-kawanku. Dengan demikian, maka kita akan saling bertempur untuk memuaskan hati kita masing-masing. Siapa¬kah yang hari ini memperoleh kepuasan itu, membunuh dengan cara yang telah kita pilih.”
“Gila. Kau benar-benar orang gila.”
“Kita sama-sama orang gila. Jangan berbicara lagi. Aku akan berkelahi. Bagaimanapun juga aku tidak dapat melihat caramu yang licik. Sebagai seorang pembunuh dan penjahat yang mempunyai harga diri, aku menyesalkan tindakanmu yang dapat menodai nama dan sikap jantan dari golongan kita. Golongan pembunuh-pembunuh gila yang haus darah dan sekedar membunuh sebagai kesenangan.”
“Tetapi perempuan itu juga seorang yang paling kejam. Ialah yang menentukan bagaimana caranya kita akan membunuh seseorang.”
“Ia tidak akan berbuat demikian, jika kau tidak ada di sampingnya. Kaulah yang mengajarinya dan kemudian dengan perlahan-lahan memaksanya untuk melakukannya terus menerus.”
“Bohong.”
“Jangan ingkar.”
“Persetan, apa pedulimu.”
“Jangan berbicara lagi. Kita akan berkelahi.”
Lawanya benar-benar tidak berbicara lagi. Dengan serta merta ia pun meloncat menyerang dengan garangnya.
Kini pertempuran itu pun menjadi semakin luas. Tetapi kehadiran Tapak Lamba telah merubah segala-galanya. Ketiga pengawal yang melawan Ki Buyut itu, kini mendapat lawan yang seimbang. Yang seorang harus melawan Ki Buyut sendiri, yang seorang lagi melawan Tapak Lamba dan yang seorang lagi harus melawan demikian banyak orang.
Ketiga kawan Tapak Lamba mulai menilai keadaan. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan membantu kakang Tapak Lamba. Dengan demikian perkelahian ini akan semakin cepat berakhir. Kau berdua, kawanilah pengawal-pengawal yang lain, yang agaknya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk melawan pengawal yang garang itu.”
Demikianlah salah seorang kawan Tapak Lamba itu pun mendekatinya. Beberapa saat ia termangu-mangu menilai pertempuran yang sedang berlangsung itu.
Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata, “Kakang Tapak Lamba. Biarlah aku ikut bersamamu menyelesaikan perkelahian ini. Jika perkelahian ini segera berakhir, maka kita pun segera terlepas dari lingkaran kegilaan di halaman rumah ini.”
Tapak Lamba tidak segera menjawab. Tetapi ia kemudian mendengar lawannya tertawa, “Cepat, masuklah ke dalam arena. Agaknya kami harus memperlakukan kalian dengan tindakan yang paling khusus.”
Kawan Tapak Lamba itu ragu-ragu. Namun ia pun kemudian segera meloncat, membantu Tapak Lamba melawan seorang pengawal yang tidak lagi menurut perintah Ki Buyut itu.
Sejenak kemudian segera terasa, bahwa para pengawal itu mulai terdesak. Bahkan kemudian hampir pasti, bahwa mereka akan segera kehilangan kesempatan untuk hidup. Apalagi setelah dua orang kawan Tapak Lamba yang lain ikut pula di dalam pertempuran diantara pengawal-pengawal Tapak Lamba yang lain.
Dalam pada itu, Ki Buyut pun bertempur semakin gigih. Rasa-rasanya ia pun akan berhasil mendesak lawannya. Namun sejalan dengan kemenangan-kemenangan yang semakin membayang, Ki Buyut dan isterinya justru menjadi semakin gelisah.
“Apakah pada saat terakhir aku akan mampu melawannya.” berkata Ki Buyut didalam hatinya.
Sebenarnyalah, bahwa ketika para pengawal itu sampai pada puncak kesulitannya, maka tiba-tiba saja salah seorang dari mereka pun segera berteriak nyaring. Suaranya melengking seakan-akan akan memecahkan selaput telinga.
Ki Buyut mengerti isyarat itu. Tetapi ia belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, meskipun ia sudah berada didalam satu rumah untuk waktu yang cukup lama dengan ketiga orang itu.
Sejenak kemudian, ketiga orang itu pun berloncatan. Mereka segera bergabung menjadi satu dan berdiri saling beradu punggung.
Ki Buyut, Tapak Lamba dan kawan-kawannya serta para pengawal yang lain menjadi termangu-mangu. Mereka justru melangkah surut.
“Kami tidak mempunyai cara lain kecuali dengan cara ini.” geram salah seorang dari mereka, “Kalian semuanya memang harus mati. Mati dengan cara yang paling mengedihkan sekali.”
Sebelum seseorang sempat menjawab, maka terdengar salah seorang dari pengawal itu menggeram. Tangannya bergerak mendatar di depan dadanya, diikuti yang kedua orang yang lain.
Ki Buyut, Tapak Lamba dan orang-orang yang kemudian mengepungnya, justru melangkah surut. Namun mereka pun segera mempersiapkan diri mereka, menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Ketiga orang itu ternyata sedang mempersiapkan ilmu mereka yang paling tinggi. Dengan suara nyaring salah seorang dari mereka berkata, “Ilmu ini adalah ilmu yang jarang sekali aku tunjukkan kepada siapa pun. Sekarang, aku sudah siap untuk mempergunakannya karena aku berhadapan dengan orang-orang yang sangat licik.”
Ki Buyut tidak menjawab. Tapak Lamba pun mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ia akan dapat menghadapi keadaan yang tidak diduganya sama sekali.
Tetapi Tapak Lamba sudah terlanjur basah. Karena itu ia tidak akan surut, meskipun banjir akan melandanya.
Sejenak kemudian ketiga orang itu mulai bergerak berpu¬taran. Salah seorang dari mereka masih berkata, “Ki Buyut. Aku masih memberimu kesempatan. Jika kau berjanji untuk menuruti segala perintahku, maka kau akan terlepas dari maut maut dan tetap menjadi Buyut disini. Tetapi kau akan kehilangan isterimu dan hak untuk memerintah lebih jauh daripada melakukan semua perintahku dan petunjukmu meskipun atas namamu.”
Ki Buyut menggeram. Tetapi ternyata ia pun seorang jantan. Katanya, “Kalau kau ingin membunuh aku, lalukanlah. Aku bukan tikus tanah yang licik.”
“Persetan.” geram salah seorang pengawal itu.
Tiba-tiba saja mereka pun kemudian bergerak dalam lingkaran. Semakin lama semakin cepat. Namun kemudian, mereka mereka tidak hanya melingkar-lingkar saja, tetapi mereka mulai membuka serangan.
Demikianlah perkelahian itu terulang lagi. Justru menjadi semakin dahsyat. Ketiga orang itu berlari berputaran seperti sebuah roda. Sedangkan senjata-senjata mereka bagaikan gerigi-gerigi yang tajam pada roda yang sedang berputar itu.
Dengan demikian maka baik Ki Buyut, maupun Tapak Lamba dan kawan-kawannya tidak berani mendekat putaran itu. Sekali-sekali mereka mencoba menyerang, tetapi ternyata lingkaran gerigi itu sama sekali tidak dapat didekati, meskipun hanya dengan ujung senjata.
Setiap serangan yang diluncurkan, tentu menyentuh senjata mereka pula. Apalagi rasa-rasanya putaran itu semakin lama lama menjadi semakin cepat dan membingungkan.
“Gila.” geram Tapak Lamba di dalam hatinya. “Ilmu apa lagi yang sedang aku hadapi ini.”
Ki Buyut pun menjadi bingung pula. Ia belum pernah melihat ketiga pengawalnya itu berlaku demikian selama ia berada di padukuhannya.
Namun dengan demikian Ki Buyut pun menyadari, bahwa ketiga pengawalnya itu kini sedang dalam puncak ilmu yang selama ini disimpannya saja.
“Agaknya selama mereka berada di padukuhan ini, me¬reka tidak pernah mengalami kesulitan seperti sekarang, sehingga mereka tidak pernah merasa perlu untuk memperguna-kan ilmu yang dahsyat ini.” berkata Ki Buyut didalam hatinya.
Sementara itu, lingkaran yang berputar itu pun semakin lama menjadi semakin melebar. Bahkan tiba-tiba saja lingkaran itu bagaikan angin pusaran yang menyambar mangsanya, telah melihat beberapa orang yang sedang mengepungnya.
Serangan yang demikian itu benar-benar telah mengejutkan. Beberapa orang sempat berloncatan mundur. Tetapi seorang yang terlambat, tiba-tiba saja bagaikan ditelan oleh putaran itu.
Tidak seorang pun yang sempat melihat apa yang telah terjadi. Tetapi ketika putaran itu bergeser maka yang mereka lihat adalah sesosok mayat yang terbaring di tanah. Tubuhnya bagaikan terkelupas oleh luka yang tidak terhitung jumlahnya.
“Gila.” desis Tapak Lamba dan Ki Buyut hampir berbareng. Meskipun mereka adalah pembunuh-pembunuh, tetapi rasa-rasanya mereka menjadi ngeri melihat apa yang telah terjadi. Apalagi para pengawal yang lain dan ketiga kawan Tapak Lamba.
“Kini aku benar-benar dihadapkan pada musuh yang tidak tanggung-tanggung.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya, “Baru saja aku mengagumi Linggapati. Kini aku berhadapan dengan tiga orang gila yang memiliki ilmu yang gila pula.”
Namun Tapak Lamba tidak akan lari. Menurut penilaiannya, ketiga orang itu masih akan dapat ditembus dengan kekuatan jasmaniah dan akal yang diperhitungkan masak-masak.
Karena itu, maka ia pun segera mengambil tempat di arah yang berbeda dengan Ki Buyut, karena ia sadar, bahwa di antara mereka yang mengepung ketiga pengawal itu, mereka berdualah yang paling kuat. Sedang ketiga kawan Tapak Lamba pun menyebar di seputar lingkaran bergerigi itu.
Dengan demikian, maka orang-orang yang mengepung ketiga pengawal itu telah berhasil mengurangi keganasan ketiga orang pengawal itu. Jika lingkaran itu mulai bergerak untuk melihat lawannya disatu pihak, maka Tapak Lamba atau Ki Buyut lah yang dengan cepat dan mengerahkan segenap kemampuan me¬nyerang dari arah mereka masing-masing.
“Orang gila.” terdengar salah seorang dari ketiga pengawal itu berteriak, “Pada suatu saat, maka kalian semua¬nya akan terkelupas seperti mayat itu. Tetapi dengan cara yang lebih mengerikan lagi.”
“Persetan.” geram Tapak Lamba yang tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi betapapun juga kemarahan mendesak dadanya, namun ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa lawannya tidak akan dapat dikalahkannya dengan mudah. Bahkan kemungkinan yang lain agaknya memang dapat terjadi.
Demikian perkelahian itu berlangsung dengan dahsyatnya. Arena itu pun kemudian bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain di halaman dan di pendapa. Sementara Nyai Buyut menyaksikannya dengan penuh kecemasan. Ia adalah perempuan yang dengan wajah tanpa kesan menyaksikan pengawalnya itu membunuh dan bahkan bertindak kejam dan bengis, sehingga akhirnya ia sendiri telah terjerumus kedalam kesenangan yang berdarah itu. Namun melihat kenyataan yang dihadapinya, dan yang mungkin akan menyangkut dirinya sendiri, mulailah timbul ketakutan di dalam hatinya.
Sementara itu, yang bertempur masih juga bertemput. Sekali lagi, Ki Buyut, Tapak Lamba dan kawan-kawannya harus menyaksikan seorang pengawal telah menjadi mayat dengan tatu arang keranjang, ketika ia tidak berhasil menghindari libatan putaran ketiga pengawal yang ganas itu.
Setelah bertempur beberapa lama, ternyata putaran lingkaran itu tidak menjadi semakin kendor. Rasa-rasanya semakin lama justru menjadi semakin cepat.
Tapak Lamba dan Ki Buyut merasa bahwa satu-satu korban akan berjatuhan betapapun mereka berusaha untuk mencegahnya. Dan korban yang terakhir dan sudah barang tentu yang paling mengerikan adalah Ki Buyut dan Tapak Lamba yang tentu dianggap sebagai sumber keonaran itu.
Namun mereka ternyata bukan berniat untuk lari dari arena. Korban telah jatuh. Bahkan kemudian seorang lagi telah menjerit dan hilang di dalam putaran itu untuk sesaat, sebelum orang itu dilontarkan lagi dengan tubuh yang telah kehilangan bentuk.
Dalam pada itu, selagi pertempuran itu menjadi semakin sengit, diluar padukuhan, seorang anak muda sedang berkuda menuju kepadukuhan itu. Nampaknya ia adalah orang asing yang telah terdampar atau bahkan mungkin tersesat ke daerah yang hampir tidak pernah dijamah oleh orang-orang dari luar lingkungan mereka.
“Betapa sepinya.” desis anak muda itu. Demikian juga kesan yang didapatkannya ketika ia sudah memasuki pedukuhan. Pintu-pintu nampak tertutup dan hampir tidak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara.
Sebenarnyalah orang-orang padukuhan itu menjadi ketakutan ketika mereka mendengar bahwa telah terjadi perkelahian yang dahsyat di rumah Ki Buyut. Sesuatu yang tidak pernah mereka dengar dan terjadi sebelumnya.
Yang mereka ketahui sebelumnya adalah, bahwa ada beberapa orang yang masuk ke rumah itu, dan tidak akan keluar lagi untuk selama-lamanya.
Tetapi mereka sendiri, penduduk padukuhan itu, tidak pernah merasa terganggu oleh tingkah laku pemimpinnya dan para pengawalnya. Bahkan mereka mengenal pemimpinnya sebagai seorang yang baik dan sangat memperhatikan perkembangan pedukuhannya.
Tiba-tiba saja kini telah terjadi perkelahian diantara pemimpinnya yang tinggal dirumah yang serasa asing itu.
Anak muda yang datang berkuda itu pun kemudian memasuki regol padukuhan itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia pun kemudian menyusur jalan induk, sehingga akhirnya tanpa dike¬tahuinya sendiri, ia telah menuju kerumah Ki Buyut yang se¬dang menjadi ajang perkelahian itu.
Beberapa langkah dari halaman itu, anak muda yang berkuda itu telah mendengar suara yang mencurigakan. Ia mendengar sekali-sekali suara teriakan nyaring, dan kemudian Iamat-Iamat ia pun mendengar dentang senjata beradu.
“Perkelahian atau sekedar latihan?” desisnya.
Namun dengan demikian ia menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apakah yang telah terjadi. Namun ia pun telah menduga bahwa yang terjadi adalah suatu tindakan kekerasan, karena ternyata seluruh penghuni padukuhan menjadi ketakutan karenanya.
Sesaat ketika ia memasuki gerbang, maka nampaklah olehnya perkelahian yang sangat dahsyat. Dengan kening yang berkerut merut ia melihat tiga orang yang bertempur dalam gerak lingkaran yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya. Bahkan ia pun kemudian melihat akibat dari keganasan cara bertempur yang demikian itu atas beberapa orang yang tergolek di tanah bagai¬kan terkelupas.
“Ilmu hitam itu mulai nampak lagi.” desisnya, “Sudah lama ilmu itu lenyap. Tiba-tiba kini aku menyaksikan sekelompok orang mempergunakan ilmu yang gila itu.”
Dada anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu siapakah yang sedang bertempur. Namun ilmu yang dilihatnya itu benar-benar telah menarik perhatiannya.
Ia pun kemudian turun dari kudanya dan menambatkan kuda itu pada sebatang pohon perdu. Selangkah demi selangkah ia mendekati arena perkelahian itu dengan dada yang berdentangan.
Ki Buyut melihat kehadiran anak muda itu. Demikian juga beberapa orang yang lain. Bahkan ketiga orang pengawalnya yang bertempur sambil melingkar itu pun melihat pula kehadiran anak muda itu.
Tiba-tiba saja dalam ketegangan itu terdengar suara Ki Buyut, “He, anak muda. Pergilah agar kau tidak terlibat dalam ma¬lapetaka ini.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya.
“Pergilah.” Tapak Lamba mengulang.
Anak muda itu mengangguk-angguk. Ia mengerti kenapa kedua orang itu berteriak kepadanya. Agaknya keduanya memang berada pada pihak yang lemah. Dengan demikian, keduanya mengharap agar tidak ada korban yang lain jatuh selain mereka yang sedang bertempur itu sendiri.
Tetapi anak muda itu tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ia pun kemudian bertanya dengan suara lantang. “Apakah yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kalian harus bertempur dengan puncak ilmu masing-masing.”
“Telah terjadi pengkhianatan disini.” teriak salah seorang pengawal Ki Buyut yang telah berdiri sebagai lawannya.
Anak muda itu memandang perkelahian itu dengan tegangnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa yang berkhianat?”
“Orang itu.” teriak pengawal yang telah melawan Ki Buyut itu.
“Bohong. Aku buyut dipadukuhan ini.” teriak Ki Buyut.
“Tidak.”
Dan tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan meleng¬king, “Ya. Ia adalah suamiku. Ki Buyut yang harus mempertahankan haknya dari ketiga pengawalnya yang berkhianat.”
“Persetan.” teriak salah seorang pengawal itu, “Aku tidak peduli. Tetapi semuanya akan segera mati dengan kulit terkelupas dan daging tersayat-tersayat. Ayo anak muda, jika kau ingin mati juga, masuklah ke dalam arena ini.”
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat dari dekat, mayat yang terbaring dengan luka arang keranjang, ia pun menjadi ngeri dan berkata di dalam hatinya, “Benar-benar ilmu hitam yang paling jahat. Ilmu itu telah membunuh korbannya dengan cara yang paling biadap. Sambil berlari berputaran, setiap orang telah membenamkan senjatanya pada sese¬orang yang dapat dilibat di dalam putaran itu.”
Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar sekali lagi Ki Buyut berkata, “Pergilah. Pergilah. Masih ada waktu bagimu. Larilah di atas punggung kudamu sejauh-jauhnya dari neraka ini.”
Anak muda itu justru mendekat sambil berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Tetapi aku masih ingin melihat beberapa lama lagi. Ilmu itu agaknya sangat menarik. Seperti roda yang bergerigi sedang berputar dengan dahsyatnya.”
Ki Buyut masih akan memberikan penjelasan. Tetapi terpaksa diurungkannya, karena lingkaran bergerigi itu hampir saja melibatnya. Dan hampir saja ia terlempar seperti buah pi¬sang yang terkelupas.
Untunglah ia sempat meloncat jauh-jauh surut. Sedang dari arah lain, Tapak Lamba dan kawan-kawannya, dengan sengitnya me¬nyerang pula untuk membantu membebaskan Ki Buyut dari libatan putaran itu.
“Gila.” teriak salah seorang pengawal itu, “Kaulah korban yang kemudian, karena kau telah melepaskan Ki Buyut dari putaran ini.”
Dada Tapak Lamba bergetar. Tetapi ia mencoba tertawa sambil menjawab, “Aku sudah siap sejak pertempuran ini dimulai. Jangan mengancam lagi, dan jangan mencoba menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti anak-anak. Aku sudah dapat menilai kemampuan ilmu roda bergerigimu. Dan aku sama sekali tidak menjadi kecut karenanya.”
“Persetan.” pengawal itu menggeram. Sementara putaran itu memang bergeser mendekati Tapak Lamba. Namun Tapak lamba tidak menunjukkan kecemasannya. Ia bertempur dengan gigihnya. Sementara kawan-kawannya justru telah berhasil memungut Senjata para pengawal Ki Buyut yang telah terbunuh, sehingga dengan demikian mereka pun telah bersenjata pula untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Di dalam hati Ki Buyut merasa beruntung bahwa Tapak Lamba dan kawan-kawannya, telah hadir di rumahnya, karena ternyata kemampuan Tapak Lamba dapat membantunya setidak-tidaknya memperlambat saat-saat kematiannya.
Anak muda yang memperhatikan pertempuran itu pun bergeser justru semakin dekat. Dahinya yang berkerut merut membayangkan hatinya yang bimbang.
“Agaknya padukuhan inilah yang disebut bayangan hantu oleh sebagian besar orang-orang di sekitar hutan di luar padukuhan ini.” berkata anak muda itu di dalam hatinya, “Menurut pendengaranku, ada daerah yang tidak dikenal, yang sama sekali tidak dapat disebutkan bentuknya, karena setiap orang yang memasuki daerah itu tidak akan pernah kembali, sehingga da¬erah yang gelap itu disebut daerah bayangan hantu.” ia meng¬angguk-angguk. Namun kemudian pertanyaan yang lain tumbuh di ha¬tinya. “Tetapi kenapa justru Ki Buyut yang kini menjadi sasar¬an usaha pembunuhan ini.” Anak muda itu menarik nafas. Agaknya ia menjadi bertambah bingung.
“Cepat.” Ki Buyut yang sudah agak bebas dari pusaran itu mencoba memperingatkannya sekali lagi, “Pergilah dan neraka ini.”
“Maaf Ki Buyut.” jawab anak muda itu, “Secara kebetulan aku sampai di padukuhan yang nampaknya tenang dan damai ini. Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan mencari daerah yang disebut daerah bayangan hantu. Ketika aku memasuki daerah ini, aku merasakan betapa tenang dan damainya padu¬kuhan ini. Tetapi ternyata aku menemukan kalian sedang bertempur.”
Anak muda itu masih akan berbicara lagi, tetapi suaranya terhenti karena ia melihat suasana yang sangat gawat bagi Ki Buyut. Untunglah, bahwa masih ada kesempatan baginya untuk menolong dirinya sendiri.
Ki Buyut tidak sempat menjawab. Ia harus memeras kemampuannya meskipun ia merasa bahwa kesempatan baginya
menjadi semakin sempit.
Tapak Lamba pun merasa, bahwa tidak lama lagi pertempuran ini akan selesai. Ki Buyut dan pengawalnya, dirinya sendiri dan ketiga kawannya, tentu akan menjadi mayat. Bahkan mungkin dengan cara yang paling mengerikan.
Namun ketika terpandang olehnya Nyi Buyut yang lumpuh, hatinya tergetar. Apakah yang akan terjadi atas perempuan yang cacat itu.
Sementara itu, anak muda itu masih berkata, “Ketika aku menembus hutan di sekitar padukuhan ini, aku membayangkan akan memasuki sarang segerombolan penjahat yang mengerikan. Namun agaknya yang aku jumpai sekarang sangat membingungkan aku.”
“Pergilah.” teriak Ki Buyut, “Yang disebut daerah bayangan hantu adalah pedukuhan ini.”
“Mana mungkin.” jawab anak muda itu.
Ki Buyut tidak menjawab, karena ia harus berusaha menolong Tapak Lamba yang mendapat serangan beruntun dari putaran bergerigi itu.
Sesaat Tapak Lamba dapat membebaskan dirinya. Tetapi serangan yang berikut pun segera datang. Beruntun, bagaikan angin pusaran yang membadai. Semakin lama Tapak Lamba semakin berdiri di tepi halaman, sehingga akhirnya ia pun tersudut pada dinding batu.
“Satu-satunya jalan adalah meloncat naik.” desisnya. “Namun aku tidak boleh meninggalkan kawan-kawanku.”
Dalam kesulitan yang hampir tidak teratasi, maka Tapak Lamba pun masih sempat menunjukkan kelebihannya. Selagi Ki Buyut berusaha menolongnya, ia telah meloncat naik ke atas dinding batu yang tinggi.
“Gila, licik.” teriak salah seorang pengawal, “Tetapi jangan mencoba untuk lari.”
“Lingkaranmu tidak akan mampu berputar di atas dinding ini.” teriak Tapak Lamba.
Tetapi ternyata ia telah menyaksikan sesuatu yang hampir tidak masuk diakalnya. Benar-benar suatu pameran ilmu yang membingungkannya.
Ternyata Tapak Lamba yang berada diatas dinding itu seolah-olah justru telah masuk ke dalam perangkap atas kehendaknya sendiri. Hampir diluar kemampuan berpikirnya, maka ketiga orang itu dengan serta merta telah mengurungnya dalam satu putaran. Benar-benar mereka bertempur dengan setengah putaran di dalam dan setengah putaran di luar dinding. Setiap kali, masing-masing meloncat naik dan kemudian turun lagi mengelilingi Tapak Lamba yang ada di atas dinding.
“Gila.” Tapak Lamba berteriak.
“Memang agak sukar.” desis salah seorang dari ketiga orang yang melingkarinya itu, “Tetapi sebentar lagi kau akan menjadi mayat seperti orang-orang yang terdahulu.”
Tapak Lamba menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak akan menyesal bahwa ia telah terlibat dalam kesulitan itu. Karena itu, maka ia pun memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan putaran itu. Apalagi ia yakin bahwa kawan-kawannya dan Ki Buyut tentu tidak akan tinggal diam.
Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut telah mencoba untuk membantunya. Demikian juga ketiga kawan Tapak Lamba dan sisa pengawal-pengawal yang lain. Mereka serentak menyerang dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka.
Tetapi usaha mereka tidak banyak berhasil. Putaran itu tetap merupakan putaran yang berbahaya yang semakin lama menjadi semakin sempit.
Tapak Lamba benar-benar sudah terkurung. Ia tidak akan mampu lagi melepaskan diri dari putaran itu, sehingga ia pun telah benar-benar pasrah terhadap maut yang akan segera memeluknya. Namun demikian agaknya ia telah memilih untuk mati dengan pedang di tangannya.
Dalam pada itu, setelah beberapa lamanya putaran itu menjadi semakin sempit, maka jarak putaran itu sudah tidak lebih besar lagi dari jangkauan pedang. Karena Tapak Lamba berdiri di atas dinding, maka agaknya memang agak lebih sulit bagi ketiga lawannya untuk segera dapat membunuhnya.
Namun kematian itu kini sudah membayang. Serangan-serangan Ki Buyut dan pembantu-pembantunya tidak banyak berarti dan tidak akan banyak menunda kematian Tapak Lamba.
“Orang yang paling penting dari kalian akan mati.” teriak salah seorang dari ketiga lawan Tapak Lamba, “Tetapi adalah sangat sayang bagi kami, jika ia akan mati seperti orang-orang yang terdahulu. Ia akan mati dalam keadaan yang lain, sehingga karena itu, kami hanya akan sekedar melukai dan melumpuhkan kaki dan tangannya, sebelum kami sampai pada acara yang sesungguhnya untuk membunuhnya.”
Teriakan itu benar-benar telah mendebarkan setiap dada. Bahkan rasa-rasanya darah kawan-kawan Tapak Lamba sudah terhenti me¬ngalir. Mereka sadar, bahwa Tapak Lamba adalah salah satu dari mereka yang menjadi puncak sasaran ketiga orang pengawal itu disamping Ki Buyut sendiri.
Namun dalam pada itu, selagi setiap orang sudah mulai disentuh oleh perasaan putus asa, tiba-tiba saja terdengar anak muda yang memperhatikan perkelahian itu berteriak nyaring, “Menepilah. Aku akan mencoba mengurai putaran itu.”
Semua orang terkejut mendengar teriakan itu. Namun dengan gerak naluriah, Ki Buyut meloncat surut diikuti oleh beberapa orang pengawalnya dan ketiga kawan Tapak Lamba.
Namun dalam pada itu, terdengar jawaban dari salah seorang pengawal yang sedang berusaha melumpuhkan Tapak Lamba itu, “He, jangan ikut campur, supaya nasibmu tidak menjadi terlampau buruk seperti orang ini. Turutlah nasehat Ki Buyut. Pergilah, aku akan mengampuni kesalahanmu.”
“Jika aku pergi, maka rahasia daerah bayangan hantu ini akan terbuka. Apakah kau tidak berniat untuk membunuhku sama sekali?”
“Gila. Akan datang giliran itu.”
“Jangan ribut. Kalian sudah mendengar bahwa aku akan mengurai ilmu setanmu itu. Ilmu hitam yang sudah lama seakan-akan lenyap. Namun agaknya kini aku harus menjumpainya disini.”
“Gila. Siapa kau?” teriak salah seorang pengawal itu.
Anak muda itu tidak menjawab. Selangkah demi selangkah ia bergerak maju sambil berkata, “Ki Sanak. Cobalah bertahan sejauh-jauh dapat kau lakukan. Aku akan mencoba membantumu jika aku berhasil.”
Tapak Lamba tidak menjawab. Ia memang sedang memusatkan segenap kemampuannya untuk menangkis setiap senjata yang tiba-tiba saja seakan-akan mematuknya dari segenap arah.
Dalam pada itu, anak muda itu termenung sejenak. Nampak wajahnya yang tampan itu menjadi tegang. Sepercik bayangan kemerahan seolah-olah melintas pada wajah itu. Kemudian hampir setiap orang mencoba menggosok mata mereka, karena mereka tidak yakin apa yang mereka lihat.
Seolah-olah dari ubun-ubun anak muda itu nampak asap yang membubung naik kelangit. Asap yang berwarna kuning kebiruan. Tetapi hanya samar-samar. Hanya samar-samar saja, di antara ada dan tidak ada.
Tetapi ternyata bahwa hampir setiap orang dapat melihatnya betapapun samar-samar dan meragukan.
Sekejap kemudian, anak muda itu terdengar menggeram. Kemudian dengan langkah yang tetap ia melangkah maju mendekati putaran yang sudah semakin sempit, sehingga jiwa Tapak Lamba sebenarnya sudah berada di ujung rambutnya.
Tapak Lamba sendiri sebenarnya sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat hidup. Serangan ketiga lawannya benar-benar tidak terlawan lagi baginya. Namun naluri keprajuritannya masih memaksanya untuk melawan dengan segenap kemampuannya. Ia memang tidak mau menyerah begitu saja untuk dikelupas kulitnya.
Dalam puncak kesulitannya, maka Tapak Lamba masih menggerakkan senjatanya untuk menangkis serangan lawannya. Namun pada saat senjatanya membentur senjata lawannya, maka ternyata ujung senjata yang lain telah menyentuh kulitnya. Meskipun sentuhan itu masih belum berhasil menyobek kulitnya, namun rasa-rasanya luka yang kecil itu akan segera disusul dengan sayatan pada tubuhnya.
Tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja ia merasakan suatu perubahan pada putaran yang mengitarinya. Terasa sesuatu bergetar di sekitarnya. Seolah-olah diluar kemampuan pandangan matanya, ia melihat sesuatu yang lain dalam lingkaran roda bergerigi yang mengepungnya.
Baru sejenak kemudian ia mengerti apa yang sedang dihadapinya. Ternyata ia melihat sebuah putaran yang lain diluar ketiga orang yang melibatnya. Anak muda yang datang berkuda itu telah melakukan sesuatu yang lebih mengherankan lagi. Dengan kemampuan yang tidak dapat dijajaginya, anak muda itu menyerang ketiga orang pengawal itu dengan cara yang asing pula. Ia mengikuti putaran lawannya secepat putaran itu sendiri, sehingga dengan demikian serangannya tertuju langsung kepada seseorang saja di antara mereka.
Namun serangan yang demikian itu tidak dibiarkan begitu saja oleh ketiga orang itu. Karena serangan anak muda itu agaknya memang berbahaya bagi salah seorang dari mereka, maka ketiganya terpaksa mengurangi tekanannya kepada Tapak Lamba. Bahkan kemudian mereka bergeser dan memusatkan perhatian mereka kepada anak muda itu.
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat lingkaran itu kemudian justru bergeser menjauhinya dan me¬ninggalkan dinding halmaan itu. Sejenak kemudian maka putaran seperti angin pusaran itu pun telah berada di halaman.
Beberapa orang yang ada di halaman itu terheran-heran melihat apa yang telah terjadi. Anak muda itu masih berada diantara putaran yang mulai tegranggu itu. Tetapi ia tidak sekedar berdiri dan melihat tiga orang lawannya yang berlari berputaran. Tetapi ia sendiri ikut berputar sambil menyerang tiada hentinya.
Ternyata gerakan anak muda itu lebih cepat dari setiap orang di dalam putaran itu, sehingga lambat laun, ia telah berhasil memecahkan pusaran yang telah berhasil melibat beberapa orang dan mengelupas mereka seperti pisang.
Ki Buyut, Tapak Lamba dan beberapa orang yang lain menjadi terheran-heran. Mereka, beberapa orang yang telah bertempur bersama-sama, seakan-akan tidak kuasa sama sekali melawan tiga orang itu Tetapi, anak muda yang hanya seorang itu ternyata mampu memecahkan pusaran maut itu.
Tetapi bukan berarti bahwa pertempuran itu telah berakhir. Meskipun kemudian pusaran itu menjadi semakin lambat dan berhenti sama sekali, tetapi pertempuran itu masih berlangsung terus.
Sambil mengumpat tidak habis-habisnya, ketiga orang itu telah mengambil cara lain untuk menghadapi anak muda yang tidak dikenalnya itu.
“Jangan kau kira bahwa usahamu sudah berhasil sepenuhnya.” teriak salah seorang dari ketiga orang lawannya itu.
“Ya, aku sadar.” sahut anak muda itu.
“Kami akan mengambil cara lain untuk menangkap dan membantaimu.”
“Aku pun akan mempergunakan cara lain untuk menyelamatkan diriku sendiri.”
“Persetan.” salah seorang dari ketiga lawannya itu menggeram.
Sejenak kemudian maka ketiga lawan anak muda itu pun telah mengambil sikapnya masing-masing. Mereka kini mengepung anak muda itu tidak dalam satu gerak berputar. Tetapi mereka telah menyiapkan serangan bersama dari tiga arah.
Tetapi anak muda itu agaknya sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak kemudian, seperti yang diduganya, maka serangan itu pun datang dari ketiga arah yang berbeda. Ternyata anak muda itu masih sempat mengelakkan diri dengan menembus salah satu dinding pengepungannya. Kemampuannya masih berada di atas kemampuan setiap orang dari ketiga pengawal itu, sehingga ketika ia menghentakkan senjatanya, maka ia telah berhasil memecahkan kepungan itu, dan dengan serta merta meloncat keluar dari kepungan.
Ternyata lawannya tidak membiarkannya. Namun ketika mereka mencoba memburunya, anak muda itu sudah bersikap dan menghadap kepada lawan-lawannya dengan senjatanya terjulur lurus ke depan.
“Gila.” desis salah seorang dari mereka. Namun sebenarnyalah anak muda itu membuat jantung mereka menjadi berdebar-debar.
Dalam pada itu, maka baik Ki Buyut maupun Tapak Lamba melihat pertempuran itu berlangsung dalam benturan yang nampaknya wajar. Karena itulah, maka mereka mulai berpikir, apakah mereka akan membiarkan saja anak muda itu bertempur seorang diri.
Tetapi mereka pun tidak dapat menutup mata atas kenyataan yang telah mereka hadapi. Ketiga orang itu tidak dapat mereka lawan meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.
Dalam pada itu, anak muda yang telah siap menghadapi kemungkinan itu pun ternyata melihat bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya agaknya ingin membantunya, sehingga karena itu ia berkata, “Jika kalian tidak ingin berpangku tangan, baiklah. Tetapi hati-hatilah menghadapi iblis dengan ilmu hitamnya ini. Ia dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.”
Ki Buyut, Tapak Lamba dan orang-orangnya pun menjadi ra¬gu-ragu. Namun kemudian Tapak Lamba berkata, “Terima kasih anak muda. Kau sudah menyelamatkan hidupku. Kau sudah berhasil memecahkan lingkaran iblis yang hampir saja mengupas kulitku. Karena itu, hidup matiku kini tidak lagi menjadi persoalan bagiku.”
“Tidak.” sahut anak muda itu, “Hidup matimu tetap menjadi persoalan bagimu, meskipun bukan kau sendirilah yang harus menentukan.”
Tapak Lamba tidak menjawab lagi. Namun ketika ia maju setapak, maka terdengar salah seorang dari ketiga pengawal itu berkata, “Kemarilah, aku senang melihat kau mendekat.”
Tapak Lamba tertegun. Tetapi anak muda itu berkata, “Aku sekarang ada di antara kalian. Aku tidak tahu, apakah kehadiranku ini akan banyak berarti. Tetapi setidak-tidaknya jumlah kalian sudah bertambah satu. Dan satu bagi keseimbangan yg mantap, akan besar pengaruhnya.”
“Gila.” teriak pengawal itu, “Tidak ada yang berarti disini.”
“Dengarlah.” berkata anak itu, “Semakin banyak ia berbicara dan berbangga diri, itu berarti bahwa mereka semakin menyadari kelemahan mereka.”
Salah seorang dari pengawal itu tidak dapat menahan hati. Dengan serta merta ia menyerang. Demikian dahsyatnya sehingga anak muda itu harus meloncat surut.
Tetapi dengan tenangnya ia berhasil mengelak. Dan bahkan ia pun mulai membuka serangan sambil berkata, “Marilah kita segera mulai. Jika kalian ingin ikut dalam permainan ini, ambillah satu saja dari ketiga iblis itu. Biarlah yang dua orang mencoba bertempur berpasangan melawan aku. Mungkin aku akan mendapatkan banyak pengalaman dari mereka.”
Ketiga lawan mereka tidak menjawab. Tetapi mereka mempunyai perhitungan tersendiri. Ternyata hanya seorang saja diantara mereka yang bertempur melawan anak muda itu, sedangkan dua orang yang lain, telah siap menghadapi Ki Buyut dengan orang-orangnya dan Tapak Lamba dengan ketiga orang kawan-kawannya.
Sejenak kemudian, menyalalah perkelahian di tiga lingkaran yang berpencaran di halaman itu. Namun ternyata perkelahian itu mempunyai keseimbangan yang berbeda-beda. Ki Buyut dan pengawalnya, segera mengalami kesulitan menghadapi seorang bekas pengawalnya yang telah mempergunakan puncak ilmu hitamnya. Sedangkan Tapak Lamba dengan ketiga kawannya, yang memiliki pengalaman lebih luas dari para pengawal Ki Buyut di dalam olah senjata, masih mempunyai kesempatan untuk mempertahankan diri, meskipun mereka harus memeras tenaganya.
Namun dalam pada itu, anak muda yang menghadapi salah seorang pengawal berilmu hitam itu, segera dapat mengatasinya. Anak muda itu pun masih tetap berada dalam ilmu puncaknya. Bahkan kemudian ia merasa wajib untuk melenyapkan orang-orang berilmu hitam itu, sebelum ilmu yang sebenarnya sudah dianggap lenyap itu tumbuh dan berkembang lagi.
“Sebenarnya aku tidak ingin membunuh seseorang.” ia berkata kepada dirinya sendiri, “Tetapi aku merasa wajib untuk menghentikan menjalarnya ilmu iblis ini.”
Karena itulah maka akhirnya ia berkedapan hati untuk berbuat sesuai dengan darmanya sebagai seorang yang sedang berkelana cengan niat yang putih.
Apalagi ketika ia melihat, bahwa Ki Buyut dan pengawalnya, ternyata tidak akan mampu bertahan Iebih lama lagi. Ia sudah mendengar keluh tertahan ketika salah seorang pengawalnya telah tetluka pula.
Anak muda itu pun kemudian menghentakan kakinya. Dengan wajah yang tegang ia memandangi lawannya yang tiba-tiba saja telah meloncat surut selangkah.
Terdengar lawannya itu mengeram. Diputarnya senjatanya tiga kali di atas kepalanya. Kemudian terdengar gemeretak gigi dan bunyi yang asing di telinga anak muda itu.
Anak muda itu pun segera bersikap pula menghadapi segala kemungkinan. Meskipun tidak ada lagi yang sempat memperhatikan, tetapi tiba-tiba asap kuning kebiru-biruan yang seolah-olah memencar dari ubun-ubunnya itu menjadi bertambah terang.
Dalam pada itu, seolah-olah kedua orang yang sedang bertempur itu sudah siap untuk menentukan, siapakah yang masih akan dapat tetap hidup. Masing-masing sudah berada dipuncak kemampuannya. Jika salah satu pihak berhasil, maka hasilnya akan segera nampak, sedangkan yang gagal, akan segera terkapar di tanah.
Sejenak mereka masih berdiri dengan tegang. Dari tatapan mata mereka, seolah-olah telah memancar api kebencian yang tidak dapat diucapkan lewat kata-kata.
Tetapi ketegangan yang diam itu hanya terjadi sesaat, karena sesaat kemudian, pengawal yang telah melawan Ki Buyut dan kemudian bertempur dengan anak muda itu, berteriak nyaring sambil meloncat dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat dengan mata wadag.
Namun dalam pada itu, anak muda itu pun segera meloncat selangkah dan berdiri miring. Kakinya ditekuknya sedikit pada lututnya.
Sesaat kemudian terjadi benturan yang dahsyat. Benturan senjata yang terayun dilambari oleh puncak kekuatan. Sepercik bunga api memancar keudara, seperti percikan api kemarahan yang tiada tertahan.
Namun ternyata bahwa kekuatan mereka melampaui kekuatan baja senjata-senjata mereka. Karena itulah, maka kedua senjata di tangan kedua orang yang sedang bertempur itu pun patah menjadi dua.
Ketika keduanya menyadarinya, maka keduanya pun segera meloncat surut. Sekali lagi keduanya memusatkan segenap kekuatan yang ada pada diri masing-masing dalam lambaran ilmu tertinggi.
Semuanya terjadi dengan cepat sekali. Bagian dari senjata yang patah itu pun telah mereka lemparkan ke tanah. Namun agaknya mereka masih akan membenturkan kekuatan mereka melampaui benturan senjata.
Sesaat kemudian, maka keduanya pun seakan-akan telah men¬dapatkan isyarat untuk melepaskan ilmunya. Hampir berbareng keduanya meloncat dan saling berbenturan di udara.
Akibatnya ternyata dahsyat sekali. Keduanya terdorong surut. Tetapi nampak betapa kekuatan anak muda itu jauh melampaui kekuatan ilmu lawannya.
Anak muda itu terloncat dua langkah mundur. Tetapi ia tetap tegak berdiri di atas kedua kakinya yang renggang dan agak merendah. Kedua tangannya bersilang di depan dadanya, sedang matanya menatap ke arah tubuh lawannya yang terlempar beberapa langkah dan terbanting jauh.
Sejenak perkelahian di halaman itu seolah-olah terhenti. Semua mata memandang kearah pengawal yang terbanting jatuh itu. Sesaat ia masih menggeliat dan mengumpat. Namun sesaat kemudian, maka ia pun telah menghembuskan nafas yang penghabisan.
Sejenak orang-orang yang menyaksikan itu terpaku diam. Mereka memandang dengan mata yang tiada berkedip. Seolah-olah mereka tidak yakin, bahwa orang itu pun pada akhirnya dapat juga terbunuh oleh kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatannya yang mengerikan.
Namun dalam pada itu, meskipun ia seolah-olah tidak beranjak dari tempatnya sambil memandangi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi, anak muda yang telah membunuhnya itu pun menjadi berdebar-debar. Orang yang terbunuh itu masih mempunyai dua orang kawan yang agaknya memiliki ilmu setingkat. Karena itu, jika keduanya bersama-sama memusatkan segenap kemampuan ilmunya, maka ia akan mengalami kesulitan. Agaknya ia tidak akan dapat melawan kedua kekuatan ilmu itu bersama-sama. Sedangkan apabila ia harus melawan salah seorang dari mereka, sedangkan yang lain berusaha mempergunakan ilmunya terhadap orang-orang lain, maka akibatnya akan sangat parah. Tidak akan ada diantara mereka yang akan mampu melawan ilmu tersebut. Baik Ki Buyut maupun orang yang nampaknya mempunyai ilmu yang cukup mapan, Tapak Lamba. Namun keduanya belum mempunyai kemampuan untuk melawan puncak ilmu kedua orang itu.
Dalam keragu-raguan itu, anak muda itu pun melihat kedua orang yang telah kehilangan seorang kawannya itu menggeram. Agaknya keduanya telah mendapatkan suatu pengalaman bahwa ilmu mereka masih belum berimbang dengan ilmu anak muda itu.
Tetapi anak muda itu pun bertindak cepat. Yang dihadapi adalah iblis yang paling ganas dengan ilmu hitamnya. Karena itu, maka ia tidak akan dapat lagi mempergunakan pertimbangan kejantanan untuk melawan mereka. Ia tidak akan dapat berdiri sambil berteriak menantang, siapakah diantara keduanya yang akan mencoba melawannya setelah seorang kawanya terbunuh.
Dalam pada itu, anak muda itu pun segera mempergunakan saat-saat yang masih belum mantap setelah salah seorang lawannya terbunuh itu. Ia pun segera memusatkan segenap kemampuannya sekali lagi.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar