Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 12-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 12-03*

Karya. : SH Mintardja

Satu dua orang di antara mereka pun kemudian dapat melihat daun pedang yang berkilat, ujung tombak yang bergeser dan ranting-ranting yang bergetar tanpa disentuh angin.

“Ya. Maut sudah menunggu kita dibalik dinding itu.” desis salah seorang dari mereka.

Ternyata sikap para prajurit dan pengawal di luar regol itu memberikan pertanda bahwa sebenarnya mereka telah mengetahui bahwa mereka telah ditunggu di balik dinding batu.

Oleh karena itu, maka pemimpin prajurit yang sudah menunggu itu harus membuat pertimbangan. Apakah mereka akan tetap berdiam diri menunggu sampai waktu yang tidak terbatas. Atau mereka harus menyerang keluar regol.

Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni telah membuat suatu gerakan yang mencurigakan mereka. Para prajurit itu melihat Mahisa Agni menunjuk kearah lain dari regol padukuhan itu, seolah-olah Mahisa Agni sedang mencari jalan lain yang dapat mereka tempuh.

Mahisa Agni dan Panji Pati-pati itu sedang membicarakan kemungkinan untuk mencari jalan lain. “Mungkin mereka akan menerobos sawah dan ladang. Kemudian melingkari padukuhan ini.” berkata seorang prajurit.

“Jika demikian mereka akan langsung menyusul tuanku Tohjaya.”

“Apakah kita akan berdiam diri.”

Derap kaki kuda itu tentu akan lebih cepat dari kaki-kaki kita meskipun kita memintas dan berlari di jalur jalan ini.

Prajurit-prajurit itu termangu-mangu.

“Kita tidak boleh membiarkan mereka.” berkata pe-mimpin kelompok itu.

“Jadi?”

“Kita harus keluar dari padukuhan ini dan menyerang mereka.”

“Itu lebih bagus. Kita tidak tersiksa dengan menunggu tanpa batas.” gumam yang lain.

Dengan demikian, maka pemimpin prajurit yang menunggu dibalik dinding itu pun segera memberikan isyarat. Mereka harus mempersiapkan diri dan menyerang serentak.

“Jangan bingung menghadapi kaki-kaki kuda.” berkata pemimpinnya.

Prajurit-prajuritnya tidak membantah. Meskipun mereka menyadari bahwa mereka harus bertempur sambil memperhatikan derap kaki kuda. Namun mereka sama sekali tidak gentar.

Sejenak kemudian maka pemimpin kelompok itu pun segera meneriakkan aba-aba yang disambut oleh prajurit-prajuritnya. Sebuah teriakan yang mengumandang telah menggelegar seolah-olah akan meruntuhkan langit.

Bersamaan dengan itu. para prajurit itu pun segera berloncatan dari balik dinding batu, kemudian berlari-larian menyerang dengan senjata terhunus.

Mahisa Agni. Witantra dan para prajurit berkuda memang menunggu saat yang demikian. Karena itu, maka demikian mereka mendengar aba-aba, maka mereka pun segera bergeser.

Kuda-kuda mereka seakan-akan bergerak menjauhi lawan nya. Mahisa Agni dan Witantra memberikan isyarat agar pasukan kecil itu mundur. Tetapi tidak begitu jauh, karena Mahisa Agni pun segera memerintahkan pasukannya berhenti.

Pasukan berkuda itu pun kemudian melihat sekelompok prajurit berlari-larian ke arah mereka. Ternyata bahwa jumlah para pengawal Tohjaya itu cukup banyak, sehingga untuk sesaat Mahisa Agni dan Wintantra masih harus berbicara.

“Apakah kita akan dapat mengatasi jumlah itu?” bertanya Witantra.

“Aku berharap demikian kakang.” sahut Mahisa Agni, ”Jika kita dapat mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya maka kita akan mendapat kesempatan untuk mengguncangkan keberanian mereka.”

“Kita memencar?” bertanya Witantra.

“Ya. Dan kemudian maju serentak seperti dalam gelar perang yang besar.”

“Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Di belakang kita.”

Witantra tidak menyahut. Tetapi ia pun mengangguk sambil memberi isyarat kepada Mahisa Agni untuk segera melaksanakannya.

Mahisa Agni pun kemudian maju beberapa langkah. Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi, kemudian tangan itu direntangkannya kesamping.

Isyarat itu diulanginya sampai tiga kali, sehingga anak buahnya mengerti sepenuhnya apa yang harus dilakukannya.

Witantra lah yang kemudian datang kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk memberitahukan kepada mereka, agar mereka dan empat orang pengawal terpilih berada di belakang gelar yang dibuat oleh Mahisa Agni.

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun berderap. Para penunggangnya tidak lagi menghiraukan sawah dan ladang di sebelah menyebelah jalan. Mereka membawa kuda-kuda mereka dalam sebuah deretan yang lengkung mengarah kepada prajurit-prajurit lawan yang berlari-larian.

Mahisa Agni dan Witantra berada pada jarak beberapa langkah di dalam deretan yang lengkung itu.

Sesaat Mahisa Agni menunggu. Dari kejauhan ia melihat prajurit-prajurit yang berlari-larian itu menjadi ragu-ragu. Mereka tidak lagi menghambur dengan kecepatan sepenuhnya. Tetapi langkah mereka sudah mulai tertahan.

Mahisa Agni memandang Witantra sejenak. Witantra mengerti bahwa Mahisa Agni minta pertimbangannya, sehingga karena itu. maka ia pun segera menganggukkan kepalanya.

Mahisa Agni pun kemudian berteriak nyaring, mengatasi suara hiruk pikuk prajurit-prajurit Singasari yang sedang berlari-larian menyerang itu.

Serentak setiap orang di dalam gelar berkuda itu pun menggerakkan kendali kuda masing-masing, sehingga dalam sekejap kuda-kuda itu pun segera berderap maju. Sedang di atas punggung kuda-kuda itu penunggang-penunggangnya mengacungkan senjata-senjata telanjang dengan dada tengadah.

Pasukan berkuda dalam gelar lengkung itu benar-benar telah mendebarkan jantung prajurit-prajurit Singasari. Apalagi ketika kuda-kuda itu berlari semakin cepat mengarah kepada mereka.

“Jangan takut.” teriak pemimpin kelompok prajurit-prajurit Singasari itu.

Tetapi derap yang laju dari sekelompok pengawal berkuda itu benar-benar membuat mereka cemas. Jika mereka tidak menepi maka kaki-kaki kuda itu akan segera menginjak tubuh mereka dan membenamkan kepala mereka kedalam lumpur.

“Bunuh kuda-kuda mereka lebih dahulu.” teriak pemimpin prajurit itu.

Tetapi derap kuda lawan benar-benar mempengaruhi ketabahan hati mereka. Apalagi ketika mereka mendengar Mahisa Agni meneriakkan aba-aba dan disahut oleh beberapa orang di antara mereka seolah-olah mereka sudah mengumandangkan lagu kematian bagi para prajurit-prajurit itu.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Agni untuk menggertak la wannya berhasil. Meskipun jumlah prajurit-prajurit itu lebih banyak dari pasukan pengawal Mahisa Agni, tetapi mereka menjadi kecut melihat sederetan pasukan berkuda berderap menuju ke arah mereka.

Dengan demikian, maka ketika pasukan berkuda itu menjadi semakin dekat, maka di luar kemampuan pemimpin prajurit itu untuk menahannya, maka prajurit-prajuritnya pun telah tercerai berai.

Meskipun demikian, prajurit-prajurit itu tidak berlari-larian tanpa tujuan. Ternyata mereka hanya sekedar menyingkir dari gilasan kaki-kaki kuda yang berderap maju itu.

Tetapi, pasukan berkuda itu ternyata tidak segera berlalu tanpa berbuat apa-apa. Tiba-tiba saja gelar itu pun pecah dan kuda-kuda itu pun menghambur menyerang prajurit-prajurit Singasari itu dengan garangnya.

Prajurit-prajurit Singasari itu terkejut mengalami serangan yang demikian. Apalagi lawan mereka menyambar dengan garangnya di atas punggung kuda, seolah-olah berpuluh-puluh ekor garuda yang menukik bersama-sama dari udara.

Demikianlah penunggang-penunggang kuda itu menyambar dengan senjata-senjata mereka. Setiap orang yang dilalui disisinya merasakan sengatan yang panas pada tubuh mereka, kemudian barulah mereka sadar, bahwa sebuah luka telah menganga.

Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah merusak ketabahan hati prajurit-prajurit Singasari itu. Meskipun sebagian dari mereka segera berhasil menguasai diri dan membalas serangan-serangan itu dengan pagutan ujung senjata ke arah penunggang-penunggang kuda itu namun sebagian yang lain sama sekali sudah tidak berdaya.

Yang terluka parah pun segera menyingkir dari medan yang kisruh. Mereka tidak mau menjadi sampah yang terinjak-injak oleh kaki kuda yang berlari-larian melingkar menghamburkan debu yang bergulung-gulung naik ke udara.

Pertempuran yang seru pun segera berkobar. Meskipun jumlah prajurit-prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya semula lebih banyak, tetapi pada benturan yang pertama, mereka sudah jauh berkurang, sehingga pertempuran berikutnya pun mereka tidak mampu mempergunakan segenap kekuatan yang sebenarnya sudah mereka sediakan.

Apalagi, lawan mereka adalah pengawal-pengawal berkuda yang bertempur di atas punggung kuda yang berlari-larian menyambar-nyambar. Sekali-sekali kuda-kuda itu datang menyerang, kemudian menghambur menjauh.

Meskipun demikian, prajurit-prajurit Singasari itu kadang-kadang berhasil juga melontarkan tombaknya, dan menghunjam pada punggung pengawal berkuda itu, sehingga pengawal itu pun terlempar pula dari kudanya.

Tetapi, setiap kematian dari seorang pengawal, membuat kawan-kawannya menjadi garang, sehingga akhirnya perang itu hampir kehilangan bentuknya, bahwa yang berselisih itu adalah mereka yang memiliki nalar budi dan peradaban yang kadang-kadang mereka bangga-banggakan.

Semakin lama, kedua belah pihak pun menjadi semakin kasar. Bahkan mendekati liar dan buas. Senjata-senjata mereka menjadi merah oleh darah dan sorot mata mereka pun menjadi merah oleh kemarahan yang meluap di dalam dada.

Mahisa Agni dan Witantra bertempur dengan gigihnya. Namun keduanya masih tetap sadar, bahwa yang penting bukanlah jumlah kematian yang dapat mereka timbulkan.

Karena itulah, maka Mahisa Agni dan Witantra sama sekali tidak berusaha membunuh sebanyak-banyaknya, meskipun mereka berusaha melumpuhkan setiap lawan yang mereka jumpai.

Semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka menjadi semakin jelas, bahwa prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya itu pun menjadi semakin lemah. Mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dalam pada itu, Ranggawuni dam Mahisa Cempaka yang oleh Mahisa Agni disisihkan, melihat pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar.

Sebenarnya mereka tidak dapat berdiam diri menyaksikan pertempuran yang membawa beberapa orang korban. Tetapi mereka tidak dapat melanggar pesan Mahisa Agni.

Sebenarnyalah, bahwa Mahisa Agni menghendaki keduanya tidak terlibat dalam pertempuran itu. Jika salah seorang dari mereka terluka, maka akibatnya sangat merugikan Singasari dalam keseluruhan.

Karena itu. keduanya masih harus tetap mendapat perlindungan sebaik-baiknya dalam suasana yang demikian. Apabila mereka sudah cukup dewasa sepenuhnya dan sudah cukup masak, maka sudah sewajarnyalah bahwa keduanya harus dapat menjadi Senapati di setiap medan perang.

Dengan dada yang berdebar-debar Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyaksikan pertempuran yang sengit itu. Setiap kali mereka melihat senjata yang menghunjam ke dalam tubuh siapa pun juga, terasa kulit mereka meremang.

“Sebenarnyalah bahwa peperangan adalah ajang pembunuhan.” berkata Ranggawuni di dalam hatinya.

Dalam pertempuran itu ia dapat menyaksikan bagaimana seseorang berusaha membinasakan orang lain. Bagaimana seorang dengan tatapan mata penuh dendam dan kebencian menyerang langsung dengan ujung senjata kepada orang lain. Kemudian dengan geram menyaksikan darah yang terhambur dari luka.

Mahisa Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Ia pun men jadi ngeri melihat manusia saling berbunuhan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus tetap berada di tempatnya sambil menyaksikan pembunuhan-pembunuhan itu berlangsung.

“Membunuh atau dibunuh.” desis Mahisa Cempaka kepada diri sendiri.

Dan di peperanganlah manusia telah kehilangan kemanusiaannya.

Demikianlah, pertempuran itu berlangsung semakin dahsyat. Namun yang sejenak kemudian mulai nampak tanda-tanda, siapakah yang akan menguasai medan selanjutnya.

Kuda-kuda masih berlari-larian menyambar. Dan lawan mereka semakin berkurang. Tetapi, di sekitar arena itu bertebaran sosok mayat yang terbujur lintang. Dibagian lain, orang-orang yang terluka mengerang kesakitan.

Mahisa Agni dan Witantra pun masih tetap di atas punggung kudanya. Kuda mereka masih tetap berlari-larian. Tetapi senjata mereka sudah tidak mematuk-matuk lagi. Lawan pasukan pengawal berkuda itu sudah hampir tidak berdaya sama sekali.

“Menyerah sajalah.” teriak Mahisa Agni, ”Agaknya itu lebih baik bagi kedua belah pihak.”

Beberapa orang dari para prajurit itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena luka-lukanya. Yang lain terbunuh dan beberapa orang lagi sudah melemparkan senjata mereka.

Tetapi masih ada di antara mereka yang bertempur tanpa mengenal menyerah. Dengan putus asa mereka melawan setiap pengawal berkuda yang mendekatinya. Mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati, karena mereka mengira bahwa apabila mereka menyerah, akhirnya mereka akan dihukum picis di simpang empat di pusat kota.

Mahisa Agni agaknya dapat mengerti perasaan itu, sehingga beberapa kali ia menyerukan agar mereka meletakkan senjata.

“Kami tidak akan memperlakukan kalian dengan landasan dendam dan kebencian. Jika kalian menyerah, maka kalian akan diperlakukan sewajarnya, sebagaimana seorang prajurit yang menyerah di peperangan.” berkata Mahisa Agni lantang.

Tetapi pertempuran masih berlangsung terus. Satu dua di antara mereka berhasil melarikan diri dan hilang dipadukuhan. Sedang yang lain baru menghentikan perlawanan mereka ketika mereka sudah kehilangan kemampuan sama sekali. Di antara mereka harus terbaring karena luka yang tergores di tubuhnya. Yang lain sudah tidak lagi dapat bernafas karena jantung mereka tertembus senjata.

“Mereka adalah orang-orang yang keras kepala.” desis Ranggawuni, ”Sayang sekali bahwa mereka tidak mau melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

Mahisa Cempaka menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jika Tohjaya merebut tahta Singasari dengan membunuh Anusapati dan beberapa orang pengawal saja, maka kini tahta itu menuntut korban yang jauh lebih banyak.

“Tetapi, Singasari memang harus diselamatkan.” berkata Mahisa Cempaka di dalam hatinya. Kemudian, ”Namun harus beralaskan korban yang sekian banyaknya. Bukan saja di sini, tetapi di halaman istana dan di sekitarnya.”

Kekalahan prajurit-prajurit Singasari itu benar-benar di luar perhitungan nalar mereka. Yang masih hidup di antara mereka, harus mengakui, bahwa Mahisa Agni memang seorang yang luar biasa. Bahkan bukan saja ia seorang diri, tetapi di dalam pasukannya terdapat seorang lagi yang seolah-olah bukan orang kebanyakan. Ia mampu bertempur melampaui sepuluh orang sekaligus.

Dengan demikian, maka jumlah prajurit yang jauh lebih banyak dari pasukan pengawal berkuda itu, sama sekali tidak dapat menghentikan mereka. Apalagi membinasakan.

Sejenak kemudian Mahisa Agni dan Witantra telah mengumpulkan tawanan mereka. Yang masih mampu menolong kawan-kawannya, berusaha untuk membawa mereka ke tepi jalan yang menuju keregol padukuhan dihadapan mereka.

“Korban telah jatuh.” berkata Mahisa Agni kepada mereka, ”Tetapi tidak ada yang dapat menghalangi tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk mengambil kekuasaan dari tangan tuanku Tohjaya karena sebenarnyalah mereka lebih berhak atas tahta itu. Bukan saja karena hak, tetapi selama tuanku Tohjaya memerintah, maka Singasari menjadi semakin suram dan hampir kehilangan cahayanya sama sekali.”

Prajurit-prajurit yang sudah tidak berdaya itu hanya dapat mendengarkan saja.

Dan Mahisa Agni melanjutkan, ”Kita masih akan mengubur kawan-kawan kita yang telah gugur. Apakah ia berpihak kepada tuanku Tohjaya atau tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Namun arti yang sebenarnya dari peperangan ini, Singasari telah kehilangan putera-puteranya yang terbaik dimanapun ia berdiri. Setiap pertentangan antara diri sendiri, maka akibatnya akan terasa sangat parah.”

Prajurit-prajurit yang telah tidak berdaya lagi itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Apapun yang akan diperlakukan atas mereka, mereka sama sekali tidak akan dapat menolak.

“Sekarang.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Kalian dapat menatap wajah mereka yang berhak atas Singasari itu. Kalian tentu pernah melihatnya beberapa waktu yang lampau. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”

Prajurit-prajurit itu menjadi berdebar-debar. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, barulah mereka menyadari, sebenarnyalrh bahwa anak-anak muda yang berada di luar arena adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Namun agaknya kini mereka tidak berhak lagi bersujud dibawah kakinya. Sebentar lagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu tentu akan berteriak mengucapkan hukuman yang harus mereka jalani, seperti saat Tohjaya berteriak menjatuhkan hukuman utas orang-orang Rajasa dan Sinelir.

Tetapi tanpa mereka duga-duga, Ranggawuni telah meloncat turun wari kudanya, disusul oleh Mahisa Cempaka. Perlahan-lahan mereka melangkah mendekati orang-orang yang sudah tertawan itu.

Karena itulah, maka para pengawalnya pun dengan tergesa-gesa telah meloncat turun pula. Demikian juga Mahisa Agni dan Witantra yang tidak mengira bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan berbuat demikian.

Karena itu mereka harus tetap berhati-hati. Jika dendam yang membara di dalam dada prajurit-prajurit itu masih belum padam, maka akan dapat terjadi mala petaka atas kedua anak-anak muda itu.

Dengan penuh kewaspadaan, maka Mahisa Agni dan Witantra pun segera berada di sebelah menyebelah kedua anak-anak muda yang memandang para prajurit yang terluka dari kedua belah pihak itu dengan penuh haru.

“Kalian adalah korban-korban ketamakan kami.” berkata Ranggawuni, ”Tetapi kami minta kalian menjalaninya dengan ikhlas, karena sebenarnyalah bahwa kami mempunyai cita-cita atas Singasari yang besar ini.”

Para prajurit yang semula mengawal Tohjaya menjadi heran, karena sikap itu. Mereka tidak melihat sikap yang kasar dan sombong dari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang telah memenangkan perang itu. Mereka sama sekali lain dengan Tohjaya yang selama ini memerintah Singasari.

Tetapi mereka tidak segera mempercayai sikap yang pertama kali mereka lihat itu. Mungkin sikap itu sekedar sikap pura-pura. Tetapi besok jika mereka telah berada di dalam kota, dan apabila telah berada di atas tahta, maka sikapnya akan segera berubah.

“Seperti sikap tuanku Tohjaya.” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hati.

Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian berjalan di antara prajurit-prajurit yang terluka dikedua belah pihak. Betapa pedihnya hati kedua anak-anak muda itu. Prajurit-prajurit itu telah menjadi korban untuk kepentingan beberapa orang saja yang sedang berebut tahta.

Tetapi di dasar hati kedua anak-anak muda itu setiap kali terdengar suara Mahisa Agni, ”Yang penting, bukan sekedar merebut warisan kedudukan. Tetapi bagaimana dengan Singasari yang besar ini.”

Dan kedua anak-anak muda itu mencoba menenangkan hati mereka. Namun bagaimanapun juga korban telah berjatuhan. Beberapa orang. Bukan hanya satu dua.

Dalam pada itu Mahisa Agni dan Witantra mulai menjadi gelisah. Masih ada tugas yang harus mereka lakukan. Menelusuri jejak Tohjaya selanjutnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun berkata, ”Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Kita tidak dapat berhenti sampai di sini. Kita masih harus mengikuti jejak tuanku Tohjaya dan berbicara dengannya. Mudah-mudahan tuanku Tohjaya dapat mengerti, sehingga tidak akan jatuh korban lagi tanpa arti sama sekali.”

Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”Baiklah paman. Tetapi bagaimana dengan prajurit-prajurit ini?”

“Mereka akan dibawa kembali ke Singasari. Beberapa orang pengawal akan menunggui mereka di sini. Sedang dua orang yang lain akan pergi melaporkan peristiwa ini kepada Lembu Ampal. Ia harus mengirimkan pengawal dan pedati untuk membawa mereka yang terluka dan mengubur mereka yang terbunuh.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Ranggawuni pun kemudian bertanya, ”Siapakah yang akan pergi ke Singasari?”

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menunjuk dua orang untuk segera menghubungi Lembu Ampal.

“Sampaikan pesanku kepada paman Lembu Ampal.” berkata Ranggawuni, ”Jangan mengambil tindakan apapun terhadap prajurit-prajurit yang tertawan. Ia mempersilahkannya menunggu kedatanganku.”

Demikianlah dua orang utusan itu segera berpacu kembali ke Singasari untuk melaporkan yang telah terjadi itu kepada Lembu Ampal.

Sepeninggal kedua orang itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun mempersiapkan pengawalnya pula. Beberapa orang harus menunggui prajurit-prajurit yang terluka dan tertawan Meskipun prajurit-prajurit yang tertawan itu sudah tidak bersenjata lagi, namun mereka tetap berbahaya. Karena itu, maka tidak ada cara lain daripada mengikat tangan-tangan mereka.

“Kenapa mereka harus diikat?” bertanya Mahisa Cempaka.

“Mereka dapat melawan. Pengawal kita tidak cukup banyak untuk menjaga mereka. Jika sebagian besar dari para pengawal ini tinggal, maka perjalanan kitalah yang akan menjadi berbahaya.” jawab Witantra.

“Tetapi mereka sudah menyerah. Mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandang Mahisa Agni yang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Mungkin mereka memang tidak akan berbuat apa-apa tuanku. Tetapi ada kemungkinan yang lain pula.”

“Kemungkinan yang mana?”

“Mereka mengingkarinya. Jika mereka merasa kuat untuk melawan para pengawal yang ada, maka mereka akan dapat berbahaya.”

“Ah, kalian memang terlampau berprasangka. Mereka adalah manusia seperti kita. Kata-katanya tentu dapat dipercaya. Jika kita sudah ingkar akan janji yang kita nyatakan dengan kata-kata atau sikap, maka harga kita sebagai manusia tidak akan berarti lagi.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sedang Mahisa Agni pun menyahut, ”Ampun tuanku. Kadang-kadang kita berbuat sesuatu yang tidak masuk akal seperti yang kita lakukan ini. Tetapi pengalaman telah megajari kami untuk berhati-hati menghadapi sikap seseorang. Tuanku adalah kesatria yang hampir sempurna sehingga tuanku tidak akan ingkar akan janji dan kesanggupan. Tetapi orang lain mungkin berbeda.”

Mahisa Cempaka menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Aku tidak mengerti.”

“Pada suatu saat tuanku akan melihat, bahwa hati-hati seperti ini ada gunanya. Tuanku adalah orang yang paling jujur dan penuh kasih sayang, sehingga tuanku menganggap setiap orang berbuat serupa. Tetapi tidak tuanku. Dan itulah yang membedakan antara tuanku dan tuanku Tohjaya. Antara seorang prajurit dan prajurit yang lain.”

Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menyahut lagi.

Para pengawal pun kemudian melakukan perintah untuk mengikat beberapa orang tawanan yang masih berbahaya pada sebatang pohon di ujung padesan itu. Kemudian beberapa orang pengawal berkuda harus mengawasi mereka sambil menunggu prajurit-prajurit dan pengawal-pengawal yang akan datang dari kota untuk mengambil mereka.

Sementara, yang lain menunggui para tawanan dan orang orang yang terluka, maka Mahisa Agni dan Witantra pun segera mengatur pengawal-pengawal yang lain bersama tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk meneruskan perjalanan.

“Apakah perjalanan kita masih panjang?” bertanya Ranggawuni.

“Ya.” sahut Mahisa Agni, ”Agaknya tuanku Tohjaya menjadi semakin jauh karena kita harus berhenti bertempur. Bahkan mungkin kita masih memerlukan waktu yang lama.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi mungkin pula sebaliknya. Karena tuanku Tohjaya menyangka bahwa kita sudah dapat dihancurkan, maka mereka tidak tergesa-gesa lagi.”

Ranggawuni mengangguk-angguk.

“Karena itu, marilah tuanku. Kita segera mengikuti jejak itu untuk selanjutnya. Tidak mustahil bahwa kita harus bertempur lagi di perjalanan.”

Ranggawuni masih mengangguk-angguk. Tetapi ia sudah mendapat keterangan dari para tawanan, bahwa kekuatan Tohjaya sudah menjadi sangat tipis. Sebagian besar dari pasukannya sudah ditinggalkan dengan perhitungan, bahwa mereka akan dapat menghancurkan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang menyusulnya berkuda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Demikianlah maka sejenak kemudian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun segera meneruskan perjalanan. Mahisa Agni dan Witantra berada diujung pasukan kecilnya. Setiap kali mereka menemukan kelapa muda yang berceceran. Agaknya para prajurit yang mengawal Tohjaya telah membawa beberapa butir kelapa muda yang diminum dan bahkan dimakan di sepanjang perjalanan mereka.

Dengan demikian maka mereka sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi, bahwa jejak mereka akan dapat diikuti oleh lawannya.

“Mereka menyangka bahwa kekuatan kita sudah dapat dihancurkan.” desis Mahisa Agni.

“Ya.” jawab Witantra, ”Mereka tidak lagi berusaha untuk menyamar jejak mereka. Bahkan mungkin dengan sengaja mereka memberikan isyarat kepada pasukan mereka yang mereka sangka akan segera menyusul.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak memberikan banyak tanggapan lagi. Dengan jejak yang jelas itu, maka perjalanan mereka pun menjadi semakin cepat.

Tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Setiap mereka akan memasuki padukuhan, maka mereka berhenti sejenak dan memperhatikan padukuhan itu dengan saksama. Bahkan kadang-kadang mereka harus mengirimkan satu dua orang pengawal untuk mendahului melihat-lihat apakah daerah yang akan mereka lalui cukup aman.

Namun dalam pada itu, selagi iring-iringan itu maju terus melalui sebuah padukuhan yang sepi, karena penghuni-penghuninya yang ketakutan menutup pintu rumah-rumah mereka setelah mereka melihat pasukan yang mengawal Tohjaya melalui padukuhan itu, tiba-tiba Mahisa Agni dan pasukannya mendengar jerit panah sendaren yang mendaki langit. Suara panah itu bagaikan meraung dengan kerasnya mengumandang sampai ke tempat yang jauh.

“Sebuah isyarat.” desis Mahisa Agni.

Tanpa mendapat perintah lagi, beberapa ekor kuda pun segera memencar. Mereka mencari ke segenap sudut padesan untuk menemukan orang yang telah melepaskan anak panah sendaren itu.

Tetapi mereka tidak menemukan siapapun.

“Orang itu tentu sudah menyusup masuk ke dalam salah sebuah rumah yang tertutup pintunya.” berkata Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk sambil berkata, ”Agaknya mereka meragukan, apakah prajurit-prajuritnya akan berhasil. Karena itu mereka telah meninggalkan satu atau dua orang untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Panah itu tentu memberitahukan bahwa prajurit-prajurit yang menghentikan perjalanan kita telah gagal.”

“Apakah arti selanjutnya?” bertanya Ranggawuni.

“Perjalanan kita akan bertambah sulit tuanku. Mungkin mereka meninggalkan sepasukan prajurit lagi untuk menghentikan kita. Tetapi mungkin pula mereka akan menyamar jejak yang mereka tinggalkan sehingga kita akan menjadi semakin sukar untuk mengikutinya.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, ”Kenapa mereka berusaha menghindari kita?”

“Kita adalah lawan mereka. Adalah wajar jika mereka menghindar dan bersembunyi.”

Ranggawuni tidak berkata apa pun lagi. Namun dari wa jahnya memancar kebimbangan yang mencengkam.

“Mahisa Agni.” berkata Witantra, ”Agaknya perja-lanan kita akan menjadi panjang. Karena itu, sebaiknya kita segera mengirimkan satu atau dua penghubung ke kota. Lembu Ampal supaya mengirimkan sepasukan pengawal berkuda untuk menyusul kita. Apabila perjalanan kita ini menjadi semakin panjang dan berbahaya, kita tidak terpencil.”

“Dengan demikian maka pasukan itu agar membawa bekal secukupnya untuk perjalanan kita selanjutnya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni pun menyetujui pendapat Witantra. Ia pun kemudian mengirimkan dua orang untuk kembali ke Singasari, menjemput beberapa orang pengawal dan perbekalan.

“Agaknya tuanku Tohjaya sudah menempatkan prajurit sandinya untuk mengawasi perjalanan kita. Kini pengawas itu sudah melepaskan isyarat dengan panah sendaren.” berkata Mahisa Agni kepada penghubung itu, ”Dengan demikian maka kita akan menempuh perjalanan yang lebih sulit, karena tuanku Tohjaya tentu akan berusaha menyamarkan jejaknya.”

Sejenak kemudian maka kedua orang itu pun segera berpacu kembali ke Singasari. Ketika ia lewat di padukuhan bekas tempat pasukan pengawal berkuda itu bertempur dengan prajurit-prajurit pengawal Tohjaya, ia masih melihat tawanan-tawanan terikat.

“Apakah prajurit dari Singasari belum juga datang?” bertanya salah seorang dari kedua penghubung itu.

“Belum.” jawab salah seorang yang menjaga tawanan-tawanan dan orang-orang yang terluka. ”Tentu sebentar lagi. Kau akan bertemu dengan mereka di perjalanan.”

Ternyata yang dikatakan oleh pengawal itu benar. Kedua penghubung itu pun kemudian bertemu dengan prajurit-prajurit Singasari. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit yang pergi untuk mengambil para tawanan dan orang-orang yang terluka.

Kedua penghubung itu berpacu terus menuju ke Singasari untuk mengambil beberapa orang yang akan pergi menyusul Mahisa Agni dan Witantra yang sedang mengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyusul Tohjaya.

Sebenarnyalah bahwa Tohjaya dan pengawal-pengawalnya telah menangkap isyarat berganda yang dikirimkan lewat panah sendaren.

Karena itu, maka Tohjaya pun menjadi sangat gelisah, sehingga ia menjadi semakin bingung dan selalu marah. Tidak habis-habisnya ia membentak-bentak dan mengumpat.

Sementara itu, beberapa orang pengawalnya yang menyadari bahaya yang mengikutinya, telah memerintahkan menghapuskan jejak mereka sebaik-baiknya. Setiap kali mereka justru memilih jalan yang memintas dan sulit.

“Gila, kalian akan membunuh aku dengan melalui jalan rusak ini.” teriak Tohjaya, ”Tubuhku terguncang-guncang dan lukaku bertambah-tambah sakit.”

“Tuanku.” berkata Senapati yang mengawalnya, ”Ternyata bahwa usaha kita menghancurkan pasukan berkuda itu gagal. Panah sendaren yang kita dengar itu memberitahukan kepada kita, bahwa pasukan pengawal itu telah melanjutkan pengejaran.”

“Gila, bodoh, dungu. Apa kerja prajurit-prajurit yang sekian banyaknya itu? Apakah mereka perempuan-perempuan cengeng yang hanya pandai merengek?”

“Mereka tentu sudah berjuang sebaik-baiknya tuanku, karena mereka benar-benar orang-orang yang setia kepada tuanku seperti kami di sini.”

“Bohong. Kalian adalah orang-orang pandir dan tamak, jika kalian tidak mengetahui bahwa aku membawa sebuah peti berisi emas dan perhiasan, kalian tentu tidak mau mengikuti aku sampai ketempat ini.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian tentu akan merampok perhiasan-perhiasan yang telah aku ambil dari ibunda Ken Umang dan yang sebagian aku ambil dari gedung perbendaharaan.”

“Ampun tuanku, sebenarnyalah hamba tidak bermimpi untuk memiliki perhiasan itu walau hanya sebutir permata sekalipun.”

“Bohong. Bohong.” Tohjaya semakin berteriak-teriak sehingga tandunya berguncang-guncang. Tetapi guncangan itu telah membuatnya menjadi semakin marah.

Senapati itu pun terdiam. Ia tidak berani lagi membantah. Agaknya Tohjaya benar-benar telah hampir kehilangan akal.

Sementara itu, beberapa orang prajurit mulai berpikir lain. Salah seorang prajurit muda bertanya kepada dirinya sendiri, ”Apakah gunanya aku mengikuti tuanku Tohjaya. Aku masih muda. Dan aku tidak melihat kemungkinan apapun yang dapat dicapai oleh tuanku Tohjaya selain menyelamatkan diri. Adalah sulit sekali baginya untuk menghim pun kekuatan karena sifat-sifatnya.”

Tetapi karena Senapati dan beberapa orang pemimpin kelompok nampaknya masih tetap setia kepada Tohjaya, maka prajurit muda itu tidak berani berbuat apapun juga, kecuali berjalan tersuruk-suruk mengikuti iring-iringan yang semakin lama semakin dalam menyusup kejalan-jalan sempit dan sulit. Sementara beberapa orang di antara mereka berusaha untuk menghapuskan jejak.

Dengan demikian maka perjalanan Mahisa Agni dan pasukannya pun menjadi semakin sulit pula. Mereka harus dengan teliti mengamati jalan yang akan dipilihnya. Disetiap persimpangan, beberapa orang meloncat turun dan memperhatikan setiap batang rumput dengan saksama.

Daun-daun yang berserakan, ranting-ranting yang patah dan rerumputan yang terinjak kaki, tidak luput dari setiap pengamatan. Beberapa orang yang berpengalaman mengenali jejak berada didepan bersama dengan Witantra dan Mahisa Agni.

“Mereka berhasil menghapus jejak sebaik-baiknya.” berkata Witantra, ”Hanya dengan ketelitian sajalah kita akan berhasil memilih jalan yang benar.”

Karena itulah maka para peneliti jejak itu telah bekerja sebaik-baiknya.

Namun dengan demikian maka mereka menjadi semakin lambat maju. Kadang-kadang mereka harus berhenti untuk beberapa lema sambil menilai jejak yang mereka amati.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dan pasukannya selalu menempuh jalan yang ternyata benar. Karena itu, maka mereka pun maju terus sambil meninggalkan jejak, agar pasukan yang akan menyusul dapat mengikuti mereka tanpa kesulitan apapun juga.

Dalam pada itu, Tohjaya yang lelah menjadi semakin mudah tersinggung. Setiap kali ia selalu membentak-bentak tanpa sebab. Jika prajurit-prajuritnya berjalan lambat, ia menjadi marah dan berteriak, ”Apakah kalian ingin segera mati? Di belakang kita pengkhianat-pengkhianat itu sedang berusaha menyusul kita. Kalian mendengar panah sendaren? Prajurit-prajurit yang kita tinggalkan ternyata adalah prajurit-prajurit yang bodoh, dungu tetapi tamak. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain membunuh diri.”

Senapati yang memimpin prajurit-prajurit pengawal itu sama sekali tidak menjawab betapapun hatinya tersinggung. Ia menyadari bahwa keadaan Tohjaya sangat tidak menguntungkan. Karena itu yang ada di dalam hatinya sebenarnya bukan lagi harapan untuk menyelamatkan Tohjaya agar kelak ia mendapat hadiah yang sebesar-besarnya karena ia mengetahui bahwa Tohjaya telah berhasil menyelamatkan sepeti perhiasan emas, intan dan berlian. Apalagi kesetiaan kepada raja yang dianggapnya akan dapat melindunginya di dalam segala keadaan Tetapi yang sebenarnya ada di dalam hati Senapati itu kemudian adalah justru perasaan belas kasihan. Belas kasihan kepada Tohjaya yang sejak lahir sama sekali tidak mengenal kesulitan macam apapun juga. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang selalu memanjakannya. Memuji dan menyayanginya.

Tetapi, kini tiba-tiba saja ia dilemparkan ke dalam keadaan yang sangat gawat. Keadaan yang diliputi oleh kecemasan, kebimbangan dan bahkan ketakutan.

Karena itulah maka Senapati itu sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang dikatakan oleh Tohjaya. Ia mencoba untuk membuat hatinya masih dapat bertahan menghadapi keadaan itu.

“Senapati.” berteriak Tohjaya kemudian, ”Kau harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan.”

“Hamba tuanku.” jawab Senapati itu, ”Hamba me-mang sedang mencari jalan.”

Tohjaya terdiam. Ia mencoba untuk mengerti. Tetapi pikirannya rasa-rasanya justru menjadi semakin kalut.

Apabila kemudian para pengawalnya berjalan semakin cepat, karena Tohjaya sendiri yang menghendaki. Namun ternyata dengan demikian tubuhnya menjadi tergoncang-goncang, maka ia pun menjadi marah pula dan berteriak, ”Gila. Apakah kalian menjadi pengecut dan menjadi ketakutan disusul oleh orang-orang berkuda itu, sehingga kalian berlari-lari. Aku lelah sekali. Aku ingin mengaso. Jika kalian mengguncang-guncang tandu ini, maka badanku menjadi bertambah sakit.”

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Mereka hanya dapat memperlambat langkah mereka dan berjalan dengan sangat berhati-hati.

Karena kelelahan yang sangat, maka ternyata Tohjaya tanpa disadarinya dapat juga tertidur di dalam tandunya meskipun hanya sejenak. Dalam keadaan yang demikian, orang-orang yang mengusung tandunya menjadi sedikit berlega hati, karena mereka dapat berjalan seenaknya. Tidak terlalu tergesa-gesa dan tidak dibentak-bentak. Tetapi jika kemudian Tohjaya ter-bangun, maka mulai lagilah suaranya yang lantang menggetarkan telinga mereka.

Betapapun segannya, Senapati yang memimpin pasukan pengawal itu pun mencoba mendekatinya dan berkata, ”Tuanku, apakah tidak lebih baik bagi tuanku untuk beristirahat sambil tidur barang sekejap? Tubuh tuanku akan menjadi segar. Jika kita nanti akan melintasi sungai yang bening, tuanku dapat membersihkan diri. Dengan demikian maka keadaan tuanku tentu akan menjadi lebih baik.”

Tohjaya merenung sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Sebenarnya Tohjaya ingin juga tidur agak lama. Bukan sekejap diluar sadarnya. Tetapi pikirannya yang sedang kacau kadang-kadang terasa sangat mengganggunya, sehingga ia hanya dapat tertidur sekedar matanya terpejam. Namun sekejap kemudian ia pun segera terbangun dengan dada yang berdebaran.

Ternyata langit pun semakin lama menjadi semakin buram. Matahari yang sudah teramat rendah di ujung Barat pun segera menghilang di balik cakrawala.

“Tuanku.” berkata Senapati yang memimpin pasu-kan pengawal Tohjaya, ”Sebaiknya kita beristirahat. Setiap orang di dalam iring-iringan kita sudah mendapat bagiannya mengusung tandu tuanku. Mereka menjadi lelah, sehingga perlu beristirahat barang sejenak.”

Tohjaya memandang wajah Senapati itu di dalam keremangan ujung malam. Kemudian ia pun berteriak, ”Aku tidak peduli, apakah kalian menjadi lelah atau tidak. Akulah yang memerintahkan kalian untuk berhenti atau berjalan terus.”

Senapati itu tidak menyahut. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Lain kali kau tidak dapat memerintah aku seperti itu. Tetapi buat kali ini, aku penuhi permintaanmu. Hanya kali ini.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Prajurit-prajurit di dalam iring-iringan itu benar-benar sudah sangat lelah dan perlu beristirahat.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Tohjaya sendiri telah menjadi sangat lelah, sehingga ia memang merasa perlu untuk beristirahat.

Sementara itu, pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Agni pun harus berhenti pula. Di dalam kegelapan malam yang kemudian menyeluruh di atas tanah Singasari, mereka tidak dapat lagi mengenali jejak yang harus mereka telusuri.

“Kita bermalam di padukuhan itu.” berkata Mahisa Agni.

Ranggawuni mengangguk kecil. Tetapi ia pun kemudian bertanya, ”Apakah pamanda Tohjaya di malam begini berjalan terus atau juga berhenti?”

“Aku kira mereka pun akan berhenti.” sahut Witantra, ”Para prajuritnya tentu lelah. Dan tuanku Tohjaya sendiri tidak akan dapat duduk di atas tandu sehari semalam tanpa beristirahat sama sekali.”

Ranggawuni tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian tidak menolak untuk beristirahat pada sebuah padukuhan kecil.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal telah mendapat tugas untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun juga mereka tidak boleh kehilangan kewaspadaan.

Kedatangan pasukan berkuda yang mengiringi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu semula telah menimbulkan ketakutan yang amat sangat pada penghuni padukuhan itu. Tidak seorang pun yang membuka pintu rumahnya meskipun mereka mendengar derap kaki di halaman.

Karena itulah maka Mahisa Agni terpaksa mengetuk pintu rumah salah seorang dari mereka. Sehingga betapapun ketakutan mencengkam hati, tetapi penghuni rumah itu dengan tangan gemetar telah membuka pintu rumahnya.

“Ampun tuanku.” orang itu duduk bersimpuh dimuka pintu ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri dimuka pintu itu bersama beberapa orang pengawalnya, ”Hamba tidak bersalah. Hamba tidak pernah berbuat apa-apa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kenapa kau menjadi ketakutan? Aku juga tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya akan minta bantuanmu sekedarnya.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dan Mahisa Agni pun berkata pula, ”Aku hanya ingin minta kerelaanmu untuk menerima kami bermalam barang semalam. Tentu bukan kami seluruhnya. Hanya dua tiga orang sajalah yang akan bermalam di rumahmu. Yang lain biarlah berada di halaman dan di gardu-gardu. Mereka adalah prajurit yang biasa tidur di sembarang tempat.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...