Aku hanya berteman suara langkah kaki serta lampu senter kecil di tangan kiri. Ya, sudah kudengar gemercik air di saluran-saluran kuarter pertanda bendungan dan saluran pengairan sudah bekerja. Lalu samar-samar mulai kudengar suara; apa? Tembang ronggeng? Aku maju beberapa langkah lalu berhenti memasang telinga. Suara itu jelas datang dari dukuhku yang kini sudah kelihatan remangnya. Tidak salah lagi. Itu lagu Eling-eling Banyumasan dengan parikan khas.
Dhongkel gelang daning bung alang-alang
Wis sakjege wong lanang gedhe gorohe
Lisus kali kedhung jero banyu mili
Meneng soten atine bolar-baleran
Wakul kayu cepone wadhah pengaron
Kapanane, kapanane ketemu padha dhewekan
Oh, Dukuh Paruk. Meski ada perubahan tetapi aku tahu betul milik siapakah suara itu.
Oh, tanah airku yang kecil. Masih jugakah engkau dalam kekumuhan karena engkau
terlena oleh tembang berahi? Dan engkau, Srintil. Tak ada hak perorangan buat
melarangmu tetap meronggeng. Tidak ada. Aku pun tidak. Aku hanya ingin bertanya dengan amat merendah, belum cukupkah kegetiran yang kauperoleh selama meniti garis hidup sebagai ronggeng?
Kita sama-sama anak kandung Dukuh Paruk dan kita sama-sama mencintainya karena
sesungguhnya tidak ada ibu yang jahat. Tetapi ibu kita memang bodoh sejak semula. Dia tidak mengerti semua hal yang baik atau yang buruk bagi anak-anaknya. Srintil, kamu tidak harus memenuhi semua permintaan Dukuh Paruk!
Aku bergerak kembali dengan kekecewaan yang mulai mengembang. Sementara itu
Srintil terus berlagu. Kini terdengar dia menyuarakan lagu jenaka.
Klinthang-klinthung pasar kewan kidul gunung
Tipar lor Sugihan, Jatisalu Pasar Manis
Terus ngetan anjog maring Pesanggrahan
Klinthang-klinthung ana mantri mikul calung
Mampir gubug randha, urut senthong dilongoki
Mbok menawa Nini Randha nggodhog wedang.
Lalu terdengar Srintil terbahak-bahak. Aku sendiri jadi terkejut karena kemudian aku
sadar hari hampir menjelang tengah malam. Ketika malam demikian lengang Srintil
bertembang dan terbahak seorang diri? Kupercepat langkah langsung ke arah rumah
Srintil. Di halaman aku berdiri tercengang melihat rumah itu sudah berubah, besar dan
berdinding tembok. Srintil kudengar masih tertawa-tawa. Tawa yang aneh.
"Kula nuwun, kula nuwun!" seruku sambil mengetuk pintu.
"Sinten?" Kudengar Nyai Sakarya menyahut.
"Aku, Nyai. Rasus."
"Gusti, Cucuku Wong Bagus!"
Aku menerobos masuk pada detik pertama pintu terbuka. Kulihat Nyai Sakarya berdiri
menggigil. Wajahnya pasi. Matanya berkaca dan mulutnya komat-kamit.
"Oalah, Cucuku Rasus. Mengapa baru sekarang kamu pulang?"
"Ada apa, Nyai?"
Nyai Sakarya hanya menunjuk ke pintu kamar depan yang terkunci dengan palang kayu dari luar. Nuraniku segera berkata Srintil ada di dalam. Kunci kudobrak tetapi kuat bukan main. Kutarik pisau belatiku buat meretas temali sebesar jari. Putus. Palang kayu kutarik. Kamar terbuka dan bau najis langsung menerpa hidungku.
Yang kulihat di sana adalah manusia yang hampir semenjak bayi kukenal. Yang seperti
demikian adanya dia pernah mempunyai makna amat penting dalam kehidupanku. Yang suatu kali dalam masa yang panjang dia kuanggap sebagai jelmaan Emak. Emak yang melahirkan diriku.
Terasa urat-urat pengikat semua sendi tubuhku melemah. Apa yang tertangkap oleh mata amat sulit kucerna menjadi pengertian dan kesadaran. Srintil yang demikian kusut dengan celana kolor sampai ke lutut serta kaus oblong yang robek-robek. Srintil yang duduk di atas sesuatu, mungkin kotorannya sendiri. Srintil yang hanya menoleh sesaat kepadaku lalu kembali berbicara sendiri. Dan pelita kecil dalam kamar itu melengkapi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota Dukuh Paruk itu.
Aku tak sanggup berbuat sesuatu bahkan untuk sekadar membuka mulut. Bukan hanya
sekali aku mengalami keguncangan jiwa. Atau katakan, karena aku memang lemah maka hidupku jadi penuh keguncangan. Namun keguncangan kali ini jauh lebih mengerikan daripada keguncangan ketika aku menyaksikan seseorang yang sedang meregang nyawa dengan tubuh bersimbah darah. Srintil tidak bisa dikatakan mengalami apa pun kecuali penjungkirbalikan derajat manusia menjadi derajat binatang. Ini cukup untuk kukatakan bahwa yang terjadi atas dirinya seribu kali lebih
hebat daripada kematian karena kematian itu sendiri adalah anak kandung kehidupan
kemanusiaan.
Ada tangan dengan halus menuntunku ke luar. Boleh jadi aku patuh dan kemudian ikut
melangkah ke luar. Atau entahlah, karena kemudian aku mulai sadar sudah berada di
atas dipan. "Laa ilaaha illallaah!"
"Sudah eling. Syukur, Cucuku sudah eling," kata Nyai Sakarya yang kudengar samar.
"Ya. Nyebut, Cucuku. Dan bersabarlah. Kita sedang menerima bencana lagi," sambung
Kartareja.
Seseorang menyodorkan segelas air yang segera kuminum habis. Orang-orang Dukuh
Paruk ternyata sudah mengelilingiku. Sakum berjalan meraba. Tangannya kutarik agar dia duduk di sampingku. Nyai Kartareja dan Tampi menangis. Goder mungkin yang paling merasakan mala petaka yang terjadi atas diri Srintil. Anak yang baru berusia empat tahun itu melolong demi Srintil yang telah sekian lama menjadi ibunya.
Sepuluh menit kemudian aku sudah mengerti apa yang terjadi. Kartareja tanpa kuminta menceritakan semuanya.
"Srintil jadi ngengleng begitu Bajus menyatakan tidak bisa mengawininya. Itu kata
Bajus sendiri yang mengantarkan Srintil pulang."
"Tidak ada yang bertanya apa alasannya?"
"Aku yang menanyakan itu. Bajus itu ternyata laki-laki peluh akibat suatu kecelakaan di Jatiluhur. Kalau demikian keadaannya kita tidak bisa apa-apa," ujar Kartareja
Episode 48
"Memang Bajus itu lemah. Srintil pernah berkata selama sekian bulan bergaul dengan
Bajus belum sekali pun laki-laki itu menyentuhnya," sambung Nyai Kartareja. "Bajus hanya ingin berkawan dengan Srintil. Lain tidak."
"Tetapi dia tetap salah," kataku. "Kebaikannya yang berlebihan memang harus punya arti khusus bagi Srintil atau perempuan mana pun."
"Ya. Namun bagaimana kita akan meminta tanggung jawab atas kesalahan seperti itu?"
Aku bangkit dan menghentakkan kaki ke tanah. Bagaimanapun juga aku ingin menempeleng laki-laki yang bernama Bajus. Ah, tetapi tindakan semacam itu percuma saja. Ada benarnya kata Kartareja; bukan hal yang mudah meminta pertanggungjawaban kepada Bajus. Aku hanya akan menambah kepusingan.
"Lalu, apa kalian sudah berbuat sesuatu untuk menolong Srintil?"
"Eh, lha, sudah. Tiga orang tua sudah kudatangkan kemari," ujar Nyai Kartareja.
"Srintil sudah dimandikan, sudah diberi sambetan, sebab siapa tahu dia kemasukan roh jahat. Namun Srintil makin menjadi. Hampir semua pakaiannya dirobek-robek. Kaca
lemari dipecahkannya. Seminggu yang lalu Goder dicekiknya. Untung kami melihat
sehingga anak itu tidak mati lemas."
"Ya. Maka kami terpaksa menutupnya dalam kamar. Dan karena kami khawatir ia akan
menggantung diri maka kainnya kami ganti dengan celana kolor. Itu lebih aman."
"Sudah lapor kepada lurah?"
"Ya sudah," jawab Kartareja. "Dia menyuruh kami membawa Srintil ke rumah sakit. Nah, urusan semacam itu aku tidak tahu. Lurah kuminta menyuruh seorang pembantunya untuk menolong kami. Tidak bisa, katanya semua orang sedang sibuk. Mau ada Pemilu. Ya, Pemilu."
Lepas tengah malam hanya beberapa orang yang masih tinggal: aku, suami-istri Kartareja serta Nyai Sakarya. Tetapi Nyai Sakarya disuruh tidur. Pasti dia sudah beberapa malam bergadang menjaga cucunya dan konon hanya Tampi serta Nyai Kartareja yang setia membantunya. Di kamar depan Srintil masih bertembang. Kadang diselingi dengan cakap sendiri, grenengan. Kadang tawanya mendadak ngikik dan panjang. Aku masuk ke kamarnya, ingin mencoba berkomunikasi. Namun lagi-lagi aku menghadapi kesulitan pada diriku sendiri. Berat bukan main melihat kenyataan yang
ada di depan mata.
Oh, Dukuh Paruk. Dulu pun aku pernah bersumpah takkan memaafkanmu karena
kaurenggut Srintil dari tanganku untuk kaujadikan ronggeng. Dulu aku mengalah
kepadamu karena kepentinganku terhadap Srintil hanya urusan pribadiku. Oh, Dukuh Paruk. Karena kedunguanmu maka kini Srintil hanya tinggal sosok dan nyawa. Karena
kedunguanmu maka kau pasti tidak merasa bahwa sesungguhnya engkaulah yang harus
bertanggung jawab atas kehancuran yang luar biasa ini. Dukuh Paruk! Engkau yang bebal, jorok, dan cabul dalam sekejap telah melenyapkan semua pesona anakmu dan
melumurinya dengan kejijikan.
"Srin," kataku sambil maju perlahan. Hati-hati kuletakkan tanganku di pundaknya.
"Lihatlah kemari. Kamu mengerti siapa aku, bukan?"
Srintil menoleh. Cermin diri yang selama ini kukenal tidak muncul sedikit pun pada kedua matanya sehingga tidak mudah percaya bahwa yang sedang kuhadapi benar- benar Srintil.
"Kamu kenal siapa aku, bukan?" ulangku.
"Rasus. Rasus gila yang akan mengembalikan aku ke rumah tahanan. Ya, kan?"
"Oh, tidak."
"Tetapi kamu dulu yang menyusulku di tahanan?"
"Ya."
"Eh, Kang Rasus. Panggil Sakum. Panggil semua penabuh calung. Kita bertayub. Mau,
Kang?" Sebelum aku berkata sesuatu Srintil sudah bangkit.
Bau sengak mengambang. Dan Srintil mulai melenggak-lenggok.
Kembange, kembang terong
Kepengin cemerong-cerong
Arep nembung akeh wong
Aku keluar lagi dengan keperihan yang makin dalam. Ransel kusandang dan kepada Kartareja kukatakan aku ingin beristirahat di gubukku sendiri. Nyai Sakarya
meminjamiku sebuah lampu tempel, kemudian aku melangkah ke luar.
Di bawah sinar bulan temaram aku tidak tahu sejauh manakah gubukku sudah doyong. Dan aku membuka pintunya tanpa ragu sedikit pun. Ransel kuletakkan di atas lincak dan aku keluar lagi dengan handuk dan lampu tempel yang belum lepas dari tangan. Ke pancuran.
Bulan tua sudah berada di tengah belahan langit barat. Musim penghujan mulai tiba,
pertama kali membawa ribuan nyamuk ke tanah airku yang kecil. Aku tidak bisa tidur.
Karena nyamuk, karena Srintil, dan karena kesadaran yang pasti bahwa aku adalah anak Dukuh Paruk sejati. Aku adalah warisnya yang sah maka sah pula hakku untuk berdiri menghalangi kedunguan puakku sendiri. Aku berhak menggugurkan lahirnya ronggeng-ronggeng baru di Dukuh Paruk selama ronggeng menjadi ciri kebebasan selera manusia yang tidak tahu akan adanya Selera Agung yang transenden, dan karenanya harus diutamakan. Aku takkan lagi membiarkan Dukuh Paruk apa adanya. Puncak mala petaka sudah tiba dan aku geram bukan main karena Srintil-lah yang harus memikulnya.
Aku bersembahyang. Aku berdoa untuk Dukuh Paruk agar dia sadar dan bangkit dari kebodohannya. Dan dengan air mata berjatuhan aku memohon kepada Tuhan kiranya Srintil mendapat kesempatan kembali memanusia dan mampu memahluk.
Pagi-pagi sesaat matahari terbit aku sudah berpakaian rapi. Baju putih lengan panjang
serta celana abu-abu. Yang masih menandakan aku tentara adalah potongan rambut serta sepatuku. Pintu rumah Kartareja kuketuk. Istrinya kuminta memandikan Srintil
dan memberinya pakaian yang pantas. Aku akan membawanya ke rumah sakit tentara
karena aku tahu di sana ada bagian perawatan penyakit kejiwaan. Oh, aku harus menyaksikan sekali lagi Srintil yang sudah kehilangan kemanusiaannya. Dia liar sehingga diperlukan tenaga tiga orang untuk membawanya ke sumur. Aku terpaksa mendekat karena suasana menjadi genting. Srintil meronta-ronta tak mau dimandikan.
"Nah, lihat. Pak Tentara datang. Malu, kan? Maka ayo mandi," bujuk Nyai Kartareja. Srintil menoleh kepadaku. Reda. Lalu tersenyum dan liar.
"He, Kang Rasus gagah."
"Memang. Kamu juga cantik."
"He. Kang Rasus mau jadi penganten, ya?"
Semua diam. Semua menghunjamkan pandang ke mataku.
"Tidak! Oh, ya. Aku mau jadi penganten," kataku.
Episode 49
"Nyai. Aku juga mau jadi penganten. Nyai, mandi. Eh, Kang Rasus. Kamu mau memandikan aku?"
"Tentu. Ayo ke sumur. Ayo mandi."
Srintil cekikikan ketika kusirami tubuhnya dengan air langsung dari ember. Nyai Kartareja dan Tampi membersihkan badannya, mencuci rambutnya. Dan Srintil terus cekikikan. Dan syukur hanya cekikikan sehingga Tampi dan Nyai Kartareja dapat bekerja dengan baik. Selesai mandi rambut Srintil dipilin dengan handuk supaya cepat kering. Aku pergi ke depan menunggu Srintil selesai didandani. Terdengar keributan kecil di antara tawa Srintil. Namun aku percaya semuanya bisa berjalan baik.
Sakum datang tertatih-tatih. Tahu saja dia bahwa aku sedang duduk di ruang tamu.
"Oh, Mas Tentara. Sekarang beginilah jadinya. Dulu aku bilang apa. Andaikan dulu sampean menuruti kata-kataku, Srintil tak sampai menjadi demikian keadaannya. Sudah terlanjur, Mas Tentara. Sekarang aku tidak berani menganjurkan sampean mengawini Srintil. Sampean tentu malu mempunyai istri perempuan tidak waras. Iya, kan?"
Aku diam dan menelan ludah. Bahkan aku tak berani melihat mata Sakum yang buta. Tiba-tiba aku merasa menjadi inti kedunguan Dukuh Paruk kepada siapa tadi malam aku mengumumkan perang. Dan Sakum dengan bahasa yang amat bersahaja menunjukkan bahwa kunci utama untuk menembus kedunguan tanah airku yang kecil justru berada pada genggamanku. Dengan kata lain, bukan keseluruhan Dukuh Paruk yang harus memikul tanggung jawab atas keadaan Srintil melainkan aku. Ada denyut keras menyentak jantungku.
Sementara aku masih bimbang oleh pertanyaan Sakum, Nyai Sakarya muncul. Di
tangannya ada sebuah amplop yang menggembung.
"Cucuku, ini uang kepunyaan Srintil. Bajus memberikannya kepada Srintil ketika
terakhir kali dia mengantar Srintil pulang. Tak ada yang berani menggunakannya. Nah, kalau sampean mau membawa Srintil ke rumah sakit, pakailah uang ini."
"Jadi uang itu pemberian Bajus, orang proyek itu?" tanyaku.
"Ya."
Kuterima amplop itu dari tangan Nyai Sakarya untuk kulempar kembali ke atas meja. Isinya lembar lima ribuan yang masih baru-baru berhamburan ke lantai. Aneh, tak seorang pun tertarik untuk melihatnya. Semua orang memandang wajahku. Apakah mereka mengerti nama Bajus telah menusuk telingaku hingga ke benak?
"Srintil akan kurawat dengan uangku sendiri," kataku datar dan pasti.
Srintil keluar diapit oleh Nyai Kartareja dan Tampi. Ya. Dengan kain dan baju yang layak masih terlibat gambaran Srintil yang dulu. Beda bukan pada badannya yang kurus, amat kurus. Tetapi pada kedua matanya yang mati, mimiknya yang liar dan wajah yang hampa dari citra kemanusiaan. Ah, tidak peduli. Aku bangkit dan mengajak Srintil langsung berangkat. Tetapi Srintil mogok di depan pintu. Dia menuntut bunga buat hiasan sanggulnya. Tampi lari ke samping rumah, kembali membawa dua kuntum kenanga yang sudah kuning. Baunya mengambang. Namun Srintil meremasnya lalu melemparkannya ke wajah Tampi. Giliran anak Sakum yang lari. Di tepi dukuh dia memungut beberapa kembang bungur yang berguguran. Dan Stintil kembali menampik. Kembang itu diremas. Remahnya menaburi wajah Nyai Sakarya. Akhirnya Srintil
bertindak sendiri. Sambil mengangkat ujung kain dia berlari. Liar. Aku mengikutinya dari belakang. Di bawah pohon bungur dia membungkuk, mengambil sekuntum bunga
yang masih segar, lalu memasangnya di sisi konde.
"Nah, begini. Bagus, kan?"
"Ya. Sekarang, ayolah. Hari sudah siang."
"Aku mau jadi penganten, Kang?"
"Betul."
"Jangan bohong. Kamu mau menipuku?"
"Tidak. Aku juga mau jadi penganten."
Srintil meringkik dan terus meringkik. Dia berjalan, tangannya kadang melenggang-
lenggok, kadang digapainya dedaunan yang dekat. Aku berbalik menjemput Nyai Kartareja dan mengambil tas pakaian Srintil dari tangannya. Mata semua orang Dukuh Paruk tertuju kepadaku. Mata yang berharap, mata yang menangis, dan mata yang tak berhasil kuterjemahkan maknanya.
Di luar perhitunganku Srintil terus berjalan di depan dengan arah yang pasti. Ya, Tuhan! Kini aku sungguh mengerti. Manusia tanpa kesadaran yang sedang berjalan di depan itu adalah amanat bagiku. Ya, Tuhan, Engkau yang tidak menaruh kepentingan apa pun atas realita Dukuh Paruk, namun Engkau telah menentukan hukum dialektik atas dirinya. Yang sedang berjalan seperti daun kering tertiup angin itu adalah dia yang sedang terkena hukum dialektik sejarah pribadinya. Kemudian nuraniku berkata bahwa aku harus menolongnya, membantunya agar dia mampu menata perwujudannya selaras dengan selera Engkau.
Ketika berjalan sepanjang pematang yang menghubungkan Dukuh Paruk dengan dunia
luar beberapa kali Srintil berhenti. Bahkan sekali dia hendak duduk tetapi aku cepat
menangkap tangannya. Orang-orang yang sedang bekerja di sawah memperhatikan
kami dengan pandangan mata yang asing. Jelas sekali kesan mereka yang menganggap
Srintil sudah berada di luar kebersamaan nilai. Mereka yang berjalan berlawan arah cepat-cepat menyimpang. Anak-anak lari menjauh.
Sampai di depan pasar Dawuan mendadak Srintil jadi beringas. Dia hendak menerobos
orang-orang yang menontonnya, masuk ke dalam pasar. Aku teringat kepercayaan orang Dukuh Paruk bahwa orang gila yang sudah masuk ke pasar akan sulit sembuhnya. Maka aku segera menangkap Srintil, merangkulnya dan terus membawanya ke arah terminal. Orang-orang pasar yang dulu sangat memanjakan Srintil kini jadi penonton.
Mereka ketakutan seakan Srintil adalah anjing geladak yang sakit dan selalu siap menggigit mereka.
Sopir bus jurusan kota Eling-eling mula-mula berkeberatan membawa kami. Tidak ingin
ada keonaran dalam busnya, katanya. Dengan wajah masam akhirnya dia mengalah setelah melihat kartu anggota militer yang kusodorkan dekat matanya.
Di dalam kendaraan, alhamdulillah, Srintil kelihatan jinak. Tetapi turun dari bus dia
hendak lari. Dia berteriak-teriak menuduhku hendak membawanya kembali ke dalam
tahanan. Ya. Rumah besar beratap seng yang dulu menyekap Srintil selama dua tahun
kelihatan dari terminal. Aku kewalahan. Dua orang tukang becak kumintai bantuan. Lalu dengan hati yang menangis tangan Srintil kubelenggu dengan sapu tangan. Dia
kugotong naik becak.
Episode 50
Perjalanan dua jam dari Dukuh Paruk terasa amat menekan. Ketegangan yang meliputi
hatiku hampir berakhir ketika becak berhenti di gerbang rumah sakit tentara. Seorang sipil yang kebetulan ada dalam gardu jaga kuminta mendekat. Srintil kami papah masuk, langsung ke bangsal perawatan penyakit jiwa. Ya, Tuhan! Karena Srintil terus meronta maka sebuah kamar berpintu besi dibuka untuknya. Ketika petugas menguncinya dengan sebuah gembok besar air mataku meleleh.
Kepala bangsal memanggilku untuk minta keterangan dan data tentang Srintil. Kukatakan semuanya, terutama bahwa akulah yang menanggung segala biaya perawatan. Tetapi lidahku tiba-tiba kelu ketika petugas bertanya tentang hubunganku dengan Srintil.
"Istri?"
"Bukan. Aku masih bujangan."
"Adik?"
"Bukan. Hanya saudara."
"Hanya saudara?"
Aku diam dan menunduk. Ada angin beliung berpusar keras dalam kepalaku. Dan beliung itu berubah menjadi badai yang amat dahsyat karena aku mendengar Srintil melolong-lolong dalam kamar yang persis kerangkeng. Satu-satu diserunya nama orang Dukuh Paruk dan namakulah yang paling sering disebutnya. Aku merasa saat itu keberadaanku adalah nurani tanah airku yang kecil, Dukuh Paruk. Aku adalah hati ibu yang remuk karena mendengar seorang anaknya melolong dan meratap dalam
kematian yang jauh lebih dahsyat daripada maut.
Samar, samar sekali, kulihat petugas rumah sakit itu tersenyum. Oh, tidak salah bila
seseorang yang sedang berdiri di depanku tidak mengerti tentang gempa luar biasa yang sedang mengguncang jiwaku. Dengarlah kata-katanya yang seloroh.
"Wah, sayang. Sungguh sayang. Sepintas kulihat dia memang, wah. Bisa kubayangkan
kecantikannya di kala dia sehat. Lalu maafkan aku, Mas. Dia bukan istri, bukan pula adik sampean. Maaf. Pasien itu calon istri sampean barangkali?"
"Ya!"
Hening. Tiba-tiba semuanya menjadi bening dan enteng. Oh, lega. Lega. Keangkuhan, atau kemunafikan yang selama ini berdiri angkuh di hadapanku telah kurobohkan hanya dengan sebuah kata yang begitu singkat. Segalanya menjadi ringan seperti kapuk ilalang. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun. Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.
Kemudian, siapa saja bakal percuma bila ingin tahu motivasi di balik keputusanku. Mungkin orang akan mengatakan, karena cinta yang demikian dalam maka aku memutuskan hendak mengawini Srintil meski dia kini dalam keadaan tanpa martabat kemanusiaan. Itu pikiran umum dan wajar. Namun bagiku jalan pikiran demikian amat sepele dan terlalu bersahaja. 'Ya' yang kuucapkan tidak berlatar sikap jiwa yang sentimental, tidak melankolik apalagi emosional. 'Ya' yang kuucapkan adalah wakil dari kebeningan jiwa, wakil dari warna dasar totalitas diri yang sudah sekian lama mencoba menyesuaikan diri dengan keselarasan agung. Dia tidak berada jauh dari titik puncak piramida kesadaranku, sejajar dengan garis kudus yang menghubungkan keberadaanku dengan keberadaan Ilahi. Maka keputusanku amat sah, teduh, dan tenang. Setenang aliran sungai manakala dia menyentuh kedalaman samudra.
Malam hari ketika sudah berada kembali di Dukuh Paruk aku berdiri tanpa teman di luar rumah. Sekelilingku adalah tanah air yang kecil dan sengsara. Ditambah dengan nestapa yang sedang menimpa Srintil, Dukuh Paruk bertambah sakit. Sekelilingku adalah Dukuh Paruk yang sedang lelap dalam gubuk-gubuk ilalang, dukuh Paruk yang sejak kelahirannya tak pernah mampu menangkap maksud tertinggi kehidupan. Tanah airku yang kecil tak pernah bersungguh-sungguh mengembangkan akal budi sehingga tidak tahu bahwa dia seharusnya menyingkirkan kurap dan cacing yang menggerogoti anak-anak, serta kebodohan yang hanya membawa kemelaratan turun-temurun. Karena tak pernah atau tak mampu mengembangkan akal budi pula, tanah airku yang kecil sesungguhnya tak pernah berusaha menyelaraskan diri dengan selera Ilahi. Ibuku telah sekian lama terlena dalam krida batin yang naif, kenaifan mana telah melahirkan antara lain ronggeng-ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng sendiri mestinya tiada mengapa bila dia memungkinkan ditata dalam keselarasan agung. Namun ronggeng yang
mengembangkan wawasan berahi yang primitif ternyata tidak mendatangkan rahmat
kehidupan.
Sementara aku berdiri di punggung Dukuh Paruk yang tua dan masih naif, langit di atasku kelihatan bersih. Hanya kabut yang gaib, dan baru kasat mata setelah dia membuat jantera bianglala di seputar bulan. Mendiang Sakarya sering mengatakan, bulan berkalang bianglala adalah pertanda datangnya masa susah dan Dukuh Paruk selalu percaya akan kata-kata kamituanya. Tetapi kiranya mendiang Sakarya mau mengerti bila aku berpendapat lain. Bulan berkalang bianglala di atas sana kuanggap
sebagai sasmita bagi diriku sendiri, untuk mengambil wilayah kecil yang terkalang sebagai sasaran mencari makna hidup. Dukuh Paruk harus kubantu menemukan dirinya kembali, lalu kuajak mencari keselarasan di hadapan Sang Wujud yang serba tanpa batas.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar