Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 19-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-19-03
“Setan, kau akan dikutuk oleh keris itu. Keris itu adalah keris bertuah, dan kau berani menginjak dengan kakimu.” geram penasehat Sri Rajasa itu.

Tetapi lawannya menjawab sambil tertawa, “Kerismulah yang akan kehilangan tuah, karena ujungnya telah menyentuh tanah dan hulunya tersentuh telapak kaki.”

“Persetan,” orang itu-pun menyerang Sumekar dengan kakinya yang terjulur menyamping.

Tetapi Sumekar cukup tangkas. Ia bergeser dan berputar pada kakinya yang menginjak keris itu. Kemudian dengan sebelah kakinya ia membalas serangan lawannya.

Ketika kaki itu mengenai lambungnya, maka penasehat Sri Rajasa itu-pun terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Kini ialah yang lidak segera dapat bangkit dan duduk bersandar kedua tangannya.

“Bangkitlah,” geram orang berkerudung hitam.

Penasehat Sri Rajasa itu tidak berhasil untuk berdiri, meskipun ia telah mencoba.

“Jangan berpura-pura. Berdirilah. Kita selesaikan persoalan ini.”

Tidak ada jawaban.

“Bangkitlah. Aku tahu, kau hanya sekedar berpura-pura. Tetapi kau tidak akan dapat memancing keterangan daripadaku. Kau tidak akan dapat mengharap aku menyebutkan namaku, membuka kerudungku dan mengatakan siapa saja kawan-kawan dalam kelompok orang-orang berkerudung dan sebagainya. Tidak. Aku tidak akan mengatakan meskipun kau berpura-pura akan mati.”

“Setan alas. Gila kau.” teriak penasehat Sri Rajasa, “bunuh aku kalau kau akan membunuh.”

“Kau sengaja berteriak? Aku tahu kau sedang memanggil para peronda.”

“’Aku tidak peduli. Tetapi kau harus di bunuh beramai-ramai.”

Tetapi Sumekar tertawa. Ia sadar, pasti sudah ada satu dua orang peronda yang mendengar selagi penasehat itu berteriak. Meskipun demikian ia masih sempat berkata, “Aku dapat membunuhmu jika aku mau. Mudah sekali. Aku memungut kerismu kemudian menikam dada di arah jantungmu. Kau akan mati di sini sebelum para peronda itu datang. Tetapi aku orang baik. Aku bukan orang sekasar dan sebuas kau dan Kiai Kisi. Karena itu, aku masih ingin memeliharamu. Mungkin suatu ketika kau berubah pikiran dan minta kepadaku untuk bekerja bersama membunuh atau menangkap Putera Mahkota. Agaknya hal itu akan sangat menarik.”

“Persetan. Persetan,” orang itu berteriak semakin keras.

Sementara itu, beberapa orang peronda memang mendengar suara teriakan itu lamat-lamat. Kemudian suara tertawa yang nyaring sekali, sehingga mereka-pun menjadi berdebar-debar karenanya. Tetapi mereka tidak sempat berpikir panjang. Pemimpin para peronda yang tidak menjadi bingung segera memberikan perintah untuk mencari suara itu.

“Cepat, pasti di halaman istana bagian dalam.”

Beberapa orang peronda segera berlari-larian dengan senjata di tangan. Mereka-pun memencar kebeberapa penjuru di dalam halaman dalam.

Dalam pada itu, Sumekar masih juga tertawa. Tetapi begitu suara tertawanya lenyap, maka bayangan hitam itu bagaikan terbang meloncat dinding halaman dalam. Sumekar tahu benar, bahwa di balik dinding itu adalah kebun buah-buahan dibagian belakang yang cukup gelap. Karena itu, maka ia-pun kemudian dengan cepat berhasil menyelinap dan seakan-akan hilang begitu saja.

Ketika ia memasuki biliknya dengan perlahan-lahan sekali agar tidak membangunkan orang-orang di sebelah menyebelah, maka ia mendengar derap beberapa orang prajurit berlari-lari.

Saat itu pulalah beberapa orang prajurit menemukan penasehat Sri Rajasa yang sudah berhasil berdiri di dalam kegelapan memegang keris yang telah dipungutnya. Sambil menahan sakit ia berkata, “Aku menjumpai seseorang yang mencurigakan. Sayang ia berhasil lari. Cari di segenap sudut dan tutup semua pintu, jangan ada nyamuk yang dapat keluar dari istana ini.”

Demikianlah, pada saat Sumekar melepaskan kerudung hitamnya, ia sudah mendengar tanda bahaya yang bergema di seluruh halaman. Para prajurit-pun dengan cepatnya bersiaga di setiap pintu, bahkan setiap jengkal dinding halaman telah diawasinya pula. Tidak ada seorang-pun yang dapat masuk atau keluar di luar pengawasan para prajurit pengawal yang sedang bertugas itu.

Dalam pada itu, Sumekar-pun dengan tergesa-gesa mengusap keringatnya yang membasahi hampir segenap tubuhnya. Kemudian disembunyikannya kerudung hitamnya rapat-rapat. Setelah mengganti bajunya yang basah oleh keringat dengan yang kering, maka ia-pun mulai menenangkan debar jantungnya dan deru nafasnya. Seteguk ia minum air dingin dari dalam gendi.

Barulah kemudian Sumekar membaringkan dirinya di pembaringannya.

Diluar para irajurit menjadi semakin sibuk. Penasehat Sri Rajasa itu-pun kemudian berlari-lari ke paseban.

“Kalau Mahisa Agni tidak ada di sana, aku wajib mencurigainya. Hampir tidak masuk akal, bahwa ada orang yang memiiiki kemampuan begitu tinggi selain Sri Rajasa sendiri dan Mahisa Agni.” penasehat Sri Rajasa itu menggeremang di dalam hatinya.

Dalam pada itu, setiap kali satu dua orang prajurit saling berpapasan. Tetapi mereka sama sekali tidak menemukan seorang-pun yang pantas mereka curigai di dalam istana itu.

Tetapi para prajurit itu tidak segera berputus asa. Mereka menganggap bahwa jika benar ada orang yang dikatakan oleh penasehat Sri Rajasa itu, ia pasti tidak akan dapat lolos lagi karena penjagaan yang sangat ketat.

Karena itu, mereka masih saja meneliti segenap sudut yang pang gelap sekali-pun dengan obor-obor di tangan.

Sementara itu, Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari yang sudah berada di paseban terperanjat mendengar tanda bahaya yang bergema di seluruh halaman istana. Mahisa Agni yang ada di dalam ruangan itu pula, menengadahkan wajahnya sambil berkata, “Tuanku, agaknya terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan.”

“Gila,” Sri Rajasa menggeram, “di dalam kesibukan peralatan ini ada juga gangguan yang tidak teratasi oleh para prajurit, sehingga mereka memerlukan membunyikan tanda bahaya.”

“Tuanku, apakah hamba diperkenankan melihat, apa yang telah terjadi?”

Sebelum Sri Rajasa menjawab, beberapa orang Panglima dan Senapati-pun mengajukan permohonan yang serupa.

“Pergilah. Tetapi jangan keluar dari istana ini.”

Mereka-pun kemudian dengan tergesa-gesa keluar paseban.

Hampir saja mereka saling bertubrukan dengan penasehat Sri Rajasa yang dengan tergesa-gesa akan memasuki paseban itu.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Mahisa Agni dengan serta merta.

“Apakah tuan berada dipaseban?” bertanya penasehat Sri Rajasa.

Pertanyaan itu tidak menumbuhkan perasaan apa-pun kepada orang lain yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni yang perasaannya cukup tajam, segera menangkap kecurigaan yang tersirat dari pertanyaan penasehat Sri Rajasa itu. Karena itu maka jawabnya, “Ya. aku sudah lama berada dipaseban bersama para Panglima dan para Senapati.”

“Siapa yang sekarang masih berada diruangan?”

“Beberapa orarg pemimpin pemerintahan dan Sri Rajasa sendiri.”

Penasehat itu menarik nafas dalam-dalam. Kini jelas baginya bahwa ia tidak akan dapat mencurigai Mahisa Agni. Ia justru berada disatu ruang dengan Sri Rajasa dan para Panglima.

“Aku melihatnya lagi,” berkata penasehat Sri Rajasa itu.

“Apa?”

“Orang berkerudung hitam itu. Aku telah bertempur. Tetapi aku tidak berhasil menangkapnya. Karena ia berusaha melarikan diri, maka dengan terpaksa sekali aku memerintahkan menutup kesempatan itu dengan tanda bahaya.”

“Apakah ia masih berada di halaman istana?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak tahu. Mudah-mudahan ia belum dapat keluar dari istana ketika tanda itu berbunyi, sehingga kita masih ada kesempatan untuk menemukannya,” berkata penasehat itu lebih lanjut. “tetapi aku akan menghadap Sri Rajasa dan menyampaikan laporan ini lebih dahulu.”

“Ya pergilah menghadap. Aku dan para Panglima akan ikut mencarinya.”

Ketika penasehat Sri Rajasa itu memasuki paseban, maka para Panglima-pun segera pergi ke pusat-pusat penjagaan, yang berada di dalam halaman dan yang berada diluar halaman. Sedang beberapa orang Senapati langsung bersama Mahisa Agni dan beberapa orang prajurit pengawal ikut serta mengelilingi halaman istana untuk mencari orang berkerudung hitam seperti yang dikatakan oleh penasehat Sri Rajasa itu.

Ketika mereka melalui bangsal tempat tinggal Anusapati, mereka melihat Anusapati berada di depan bangsal bersama pengawal yang bertugas. Tetapi kali ini, Anusapati tidak langsung pergi kepusat penjagaan di dalam istana itu, karena ia mempunyai pertimbangan lain.

“Paman,” desis Anusapati ketika melihat Mahisa Agni lewat bersama para Senapati, “apa yang telah terjadi?”

“Kami sedang mencari seorang berkerudung hitam yang berada di halaman istana ini.”

“O,” Anusapati mengerutkan keningnya.

“Hati-hatilah,” berkata Mahisa Agni.

“Baiklah paman,” jawab Mahisa Agni.

“Aku akan meneruskan pencaharian ini.”

“Silahkan paman.”

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Mahisa Agni-pun mengetahui, bahwa Anusapati harus memikirkan isterinya pula, yang telah dipengaruhi oleh perasaan takut. Agaknya suara tanda bahaya di dalam halaman istana ini membuatnya menjadi ketakutan pula.

Di bangsal yang lain, Mahisa Wonga Teleng, yang sedang berada di dalam puncak hidupnya, karena hari-hari peralatan perkawinannya, sedang berada di banggsalnya pula. Ia berada dalam pengawalan yang kuat. Beberapa orang tua-tua memang menduga, bahwa ada kemungkinan, orang yang dimaksudkan dengan sengaja mengacaukan peralatan ini dan mempunyai maksud-maksud jahat terhadap Mahisa Wonga Teleng.

Sedang di bangsal yang lain lagi, beberapa orang peronda berdiri dengan senjata telanjang. Mereka mengawal bangsal Tohjaya dengan cermatnya. Karena tidak ada kepastian, siapakah yang datang, kedalam istana untuk menimbulkan kerusuhan, maka setiap pihak di dalam istana itu telah menyiapkan diri mereka masing-masing. Mereka telah dicengkam oleh saling curiga mencurigai dan dugaan yang menyesatkan.

Hal itu ternyata dapat dilihat oleh Mahisa Agni. Untunglah bahwa prajurit-prajurit Singasari masih belum menjadi sedemikian parahnya di seret oleh pihak-pihak yang dengan diam-diam saling curiga-mencurigai itu.

Tetapi ternyata hal itu sangat berpengaruh bagi kehidupan didalam istana Singasari itu. Semua orang bertanya-tanya di dalam hati, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Para prajurit berkeliaran mencari seseorang di dalam halaman istana, sedang di luar dinding halaman istana, hampir setiap langkah, prajurit-prajurit telah bersiap apabila mereka melihat seseorang melompat keluar.

Namun, sampai hampir tengah malam mereka sama sekali tidak menemukan seseorang. Mereka juga tidak melihat seseorang yang melarikan diri keluar istana dan sekitarnya.

“Hantu,” desis seorang prajurit, “tidak mungkin seorang manusia bisa mampu berbuat demikian.”

“Hanya orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Semua orang yang memiliki ilmu yang tinggi sedang berkumpul dipaseban. Tidak ada seorang-pun yang dapat dicurigai.” prajurit itu berhenti sejenak. Lalu, “jika kakanda Tuan Puteri Ken Dedes tidak ada dipaseban, maka pasti ia akan dicurigai.”

“Tidak. Sebelum hal ini terjadi sekarang, beberapa saat yang lampau bahkan Sri Rajasa sendiri tidak berhasil menangkapnya, justru waktu itu Mahisa Agni ada pula bersamanya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang Mahisa Agni tidak dapat dicurigai. Malam ini Mahisa Agni dengan beberapa orang Senapati-pun sibuk mencarinya di segala tempat.

“Mungkin orang itu memang tinggal di dalam halaman istana ini,” desis prajurit itu.

Tetapi kawannya menyahut, “Hanya Sri Rajasa sendirilah yang mampu melakukannya. Mungkin penasehat yang diliputi oleh rahasia itu pula. Ia mengatakan, bahwa hampir saja ia berhasil menangkap, sehingga dengan demikian ia pasti mempunyai kemampuan yang cukup pula.”

“Apakah penasehat itu bukan sekedar membual, atau bahkan ia sedang bermimpi?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

Ketika malam menjadi semakin dalam, serta tidak ada tanda-tanda yang dapat dipakai untuk menemukan orang yang sedang mereka cari itu, maka para Senapati-pun telah menghentikan usaha mereka. Para prajurit ditarik kegardu-gardu selain mereka yang mengepung halaman istana. Mereka masih harus tetap mengawasi dinding istana sampai pagi berganti-ganti.

Dalam pada itu, penasehat Sri Rajasa itu-pun telah melaporkan semua yang terjadi kepada Sri Rajasa. Tetapi selagi masih ada beberapa orang yang menghadap, maka penasehat itu tidak mengatakan yang sebenarnya.

Baru ketika hampir dini hari, para pemimpin pemerintahan Singasari diperkenankan meninggalkan istana, masing-masing dengan pengawalan yang kuat.

Setelah para pemimpin itu meninggalkan bangsal, barulah penasehat itu mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Hubungan antara orang berkerudung hitam itu dengan Kiai Kisi. Sebelum Kiai Kisi terbunuh, ternyata Kiai Kisi telah mengatakan bahwa ia mendapat tugas dari orang dalam di istana.

“Orang itu berusaha memeras hamba,” berkata penasehat Sri Rajasa itu.

“Orang itu sangat berbahaya. Bukan bagimu saja tetapi bagi kelangsungan kewibawaanku. Kalau ia salah paham dan menyangka bahwa aku terlibat pula di dalam hal ini, maka namaku pasti akan tercemar apabila ia pada suatu saat akan mengumumkannya.”

“Tidak tuanku. Tuanku dapat membantah. Lewat satu atau dua orang pemimpin Singasari tuanku dapat menuduh hal itu sebagai suatu fitnah.”

Sri Rajasa menundukkan wajahnya. Ia sadar, bahwa pasti banyak orang tua-tua yang mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya, karena pada saat Tunggul Ametung terbunuh, Ken Dedes memang sudah jelas mengandung.

“Kau memang bodoh sekali,” Sri Rajasa masih selalu menyesali tindakan penasehatnya. Kalau saja orang itu tidak memberinya kepuasan karena ia berhasil mengasuh Tohjaya maka ia pasti sudah mengambil tindakan tersendiri.

Tetapi dalam keadaannya yang sekarang, ia tidak dapat melakukannya. Namun Sri Rajasa-pun menyadarinya, bahwa kedudukannya pasti akan tersentuh juga oleh akibat kebodohan penasehatnya yang sebenarnya ingin mendapat pujian daripadanya itu, betapa-pun kecilnya.

“Kita tidak akan dapat mengabaikan mereka,” berkata Sri Rajasa. “Telah beberapa kali orang-orang berkerudung itu menjamah halaman istana. Bahkan aku sendiri pernah berusaha untuk menangkapnya, tetapi ia berhasil lolos. Belum tentu orang yang datang sekarang itu orang yang terdahulu juga. Bahkan pernah terjadi mereka datang bersama-sama tiga orang seperti yang pernah kau katakan. Apalagi mereka berhasil menggagalkan usaha Kiai Kisi untuk membunuh atau menangkap Putera Mahkota. Nah, kau dapat membayangkan bahwa hal ini bukannya suatu permainan yang dapat diabaikan. Kita tidak tahu, apakah di belakang mereka berdiri pasukan segelar sepapan dari orang-orang berkerudung hitam dan memiliki kemampuan yang menggemparkan itu. Bukankah ia berhasil mengelabuhimu dengan berpura-pura tidak mampu lagi mengadakan perlawanan sehingga kau dengan membusungkan dada mengucapkan lagu kemenangan yang telah menjeratmu sendiri?”

Penasehat itu menganggukkan kepalanya.

“Kita harus berhati-hati. Aku harus menyusun kekuatan sebelum terlambat. Pada suatu saat Tohjaya harus mengerti dan mempersiapkan dirinya. Tetapi tidak sekarang dan tidak sekasar seperti yang kau lakukan.”

“Hamba tuanku,” kepala penasehat itu menjadi semakin tunduk.

Tetapi pembicaraan itu tidak dapat berlangsung terus, karena Mahisa Agni dan beberapa orang Panglima dan Senapati telah menghadap pula.

“Apakah kalian dapat menemukan?” bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agnilah yang menjawab, “Ampun tuanku. Kami tidak menemukannya. Kami sudah mencari di seluruh sudut istana. Tidak ada sejengkal tanah-pun yang terlampaui. Bahkan bangsal-bangsal dan rumah-rumah yang ada di dalam halaman ini, yang kami anggap dapat dipergunakan untuk bersembunyi seseorang telah kami lihat pula. Tetapi kami tidak menemukannya.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Hal yang serupa pernah juga terjadi didalam istana ini selagi aku pergi berburu. Bahkan aku sendiri pernah berusaha menangkap bayangan berkerudung hitam serupa itu, tetapi gagal. Dan sekarang hal yang serupa pula telah berulang. Jadikanlah hal ini peringatan bahwa sebenarnyalah Singasari tidak sekuat yang kita tunjukkan lewat kebesaran pemerintahannya dan kekuatan pasukannya. Ternyata masih ada juga kekuatan lain yang mampu mengganggu ketenangan istana justru selagi kita sedang sibuk dengan peralatan perkawinan salah seorang putera istana.”

Tidak ada seorang-pun yang menjawab. Tetapi Mahisa Agni melihat kekecewaan yang dalam membayang di wajah Sri Rajasa.

Karena itu maka ruangan itu sejenak menjadi sepi. Tiba-tiba saja Sri Rajasa dibayangi oleh sebuah kenangan tentang dirinya sendiri, selagi masih berkeliaran di Padang Karautan. Hampir tidak dapat dimengerti bagaimana hal itu dapat terjadi, selagi tidak ada harapan baginya untuk dapat hidup lebih panjang lagi karena orang-orang padukuhan yang mengejarnya semakin lama semakin banyak. Sedangkan dihadapannya terbentang sebuah sungai yang deras dan tidak mungkin diseberangi. Tanpa dipikirkannya lagi, maka saat itu ia-pun dengan tergesa-gesa naik memanjat pohon tal. Hatinya telah berkeriput sebesar menir, ketika orang-orang itu menebang pohon tal tempat ia memanjat. Rasa-rasanya nyawanya sudah berada di ubun-ubunnya. Tetapi ia berhasil lolos karena suara yang seakan-akan melontar dari langit, agar ia memotong dan naik ke atas sepelepah pohon tal itu menyeberang sungai.

“Apakah orang-orang berkerudung hitam itu juga dapat berbuat seperti yang aku lakukan saat itu, tetapi dengan cara-cara yang lain sehingga mereka dapat lolos dari kepungan prajurit Singasari yang rapat dan bersenjata lengkap?” bertanya Sri Rajasa kepada diri sendiri. Namun kenangan masa muda itu benar-benar telah mengganggunya. Seolah-olah ia harus mengalami gangguan-gangguan yang ditimbulkan oleh tingkah lakunya sendiri semasa itu.

Tiba-tiba Sri Rajasa menggeretakkan giginya ketika tiba-saja bayangan wajah Empu Gandring melintas dirongga matanya. Seakan-akan orang tua itu menunjuk hidungnya sambil berkata, “Ken Arok. Ken Arok. Lebur sajalah keris itu, karena keris itu akan menuntut kematian-kematian berikutnya.”

Wajah Sri Rajasa tiba-tiba menjadi pucat. Hampir saja ia meneriakkan umpatan untuk mengatasi ketegangan hatinya. Untunglah bahwa ia berhasil menahan diri dan menelan kata-kata kotor yang telah berada di tenggorokannya.

Namun demikian keringat yang dingin mulai mengalir di seluruh tubuhnya.

“Persetan dengan Empu tua itu,” ia menggeram di dalam hatinya, “aku tidak peduli. Aku adalah Sri Rajasa Batara Sang murwabumi. Aku adalah anak Brahma, putera angkat Siwa dan kekasih Wisnu. Tidak ada yang lebih besar dari Sri Rajasa saat ini selain Siwa sendiri.”

Tetapi tubuhnya terasa menggigil ketika terpandang olehnya mata Mahisa Agni yang seolah-olah menyala membakar seluruh isi dadanya. Orang itu mempunyai sesuatu yang dapat menjadi pengejawantahan Siwa sendiri. Sebuah Trisula yang aneh. Yang tiba-tiba saja membuatnya menjadi silau. Membuatnya kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu.

“O, gila, gila,” tiba-tiba Sri Rajasa berteriak sehingga seisi paseban itu terkejut karenanya. Bahkan Sri Rajasa sendiri terkejut pula oleh teriakannya itu.

“Ampun tuanku,” berkata Mahisa Agni, “apakah yang telah membuat tuanku menjadi risau?”

Sri Rajasa mengejapkan matanya. Kini dilihatnya Mahisa Agni duduk dihadapannya sambil menundukkan kepalanya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Sri Rajasa berkata, “Ternyata kita hampir gila dibuatnya. Prajurit segelar sepapan yang ada di halaman istana ini tidak mampu menangkap hanya satu orang. Prajurit Pengawal Istana Singasari yang dibanggakan ini, dipimpin langsung oleh para Senapati dan Panglimanya, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.”

Tidak seorang-pun yang berani mengangkat kepalanya, Mahisa Agni-pun tunduk pula dalam-dalam. Tetapi Sri Rajasa tidak dapat menyingkirkan kecemasannya. Trisula yang pernah dilihatnya itu kini pasti telah berada di tangan Mahisa Agni.

“O,” Sri Rajasa menjadi gemetar. Seakan-akan dilihatnya cahaya trisula kecil itu memancar langsung menyilaukan matanya. Kemudian meluncur dari dalam cahaya itu keris bertuah yang menuntut berlakunya kutukan Empu Gandring, keris yang bertangkaikan dahan cangkring. Kemudian seorang keturunan Tunggal Ametung yang telah dibunuhnya pula membayang di sela-sela cahaya yang menyilaukan itu.

Sekali lagi Sri Rajasa hampir terpekik. Semua itu seakan-akan tampak jelas tidak saja di dalam angan-angannya.

Untunglah bahwa ia segera menyadari keadaannya, bahwa ia kini berada dihadapan Mahisa Agni, beberapa orang Panglima dan Senapati Singasari.

“Mereka adalah orang-orang yang setia,” ia mencoba menenteramkan hatinya sendiri meskipun masih terasa gejolak yang menggelora di dadanya.

Dalam pada itu, baik Mahisa Agni dan para prajurit yang menghadap Sri Rajasa melihat, betapa hati Sri Rajasa itu bergejolak tidak menentu. Tetapi mereka menyangka bahwa Sri Rajasa sedang dicengkam oleh kemarahan dan kecemasan, bahwa orang yang berkerudung hitam itu semakin lama menjadi semakin berani. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa orang-orang berkerudung hitam itu adalah orang-orang yang pilih tanding. Bahkan Sri Rajasa sendiri telah gagal menangkap salah seorang dari mereka.

Demikianlah maka para pemimpin pemerintahan dan prajurit Singasari menjadi murung meskipun dalam suasana yang gembira. Bagaimana-pun juga mereka tidak akan dapat segera melupakan, orang berkerudung hitam yang setiap kali membayangi istana Singasari.

Namun peristiwa itu telah mendorong para prajurit untuk semakin bersiaga setiap saat. Ternyata bahwa Singasari tidaklah setenang yang mereka sangka.

Demikianlah, maka dua orang putera Ken Dedes telah berkeluarga. Sedangkan putera sulung Ken Umang masih merasa perlu untuk menempa diri di dalam olah kanuragan dibalik dinding tertutup, seakan-akan Sri Rajasa berusaha untuk menyembunyikan kemampuan Tohjaya yang sebenarnya.

Tetapi ternyata Tohjaya sendiri tidak dapat merahasiakan kemampuannya. Setiap kali ia justru ingin memperlihatkan, bahwa ia adalah seorang putera Sri Rajasa yang perkasa.

“Aku juga akan menjalani pendadaran seperti yang pernah dilakukan oleh Kakang Anusapati,” berkata Tohjaya setiap kali kepada para prajurit. Dan ia memang minta kepada ayahandanya untuk pada suatu saat mendapat tugas yang serupa, agar ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

“Kau akan mendapat kesempatan itu,” berkata Sri Rajasa.

Tetapi Sri Rajasa masih selalu mempertimbangkan waktu dan suasana yang tepat. Adalah tidak mustahil, apabila rencana ini diketahui oleh salah seorang dari orang-orang berkerudung hitam itu, maka akibatnya akan gawat bagi Tohjaya. Dan Sri Rajasa-pun mengambil kesimpulan, bahwa tidak mustahil bahwa orang-orang di dalam istana Singasari itu-pun ada yang telah berkhianat pula, dan memberi kesempatan kepada orang-orang berkerudung hitam untuk berlindung apabila keadaan memaksa.

Ketika hari-hari yang ramai untuk merayakan perkawinan Mahisa Wonga Teleng itu sampai pada akhirnya, maka Mahisa Agni-pun harus segera kembali ke Kediri. Namun ia sempat mencari waktu di sela-sela kesibukannya untuk bertemu dengan Sumekar dan mendengarkan ceriteranya tentang usahanya untuk menyadap pengakuan dari penasehat itu.

“Kau memang cerdik,” berkata Mahisa Agni sambil tersenyum.

Namun dibalik senyumnya, Mahisa Agni melihat bahwa Anusapati benar-benar telah dibayangi oleh bahaya yang sebenarnya telah mengancam jiwanya.

“Kau harus lebih berhati-hati,” berkata Mahisa Agni kepada Sumekar. “tolong awasi anak itu. Meskipun kemampuannya di dalam olah kanuragan semakin lama menjadi semakin masak, tetapi bagaimana-pun juga masih muda. Kadang-kadang ia masih kehilangan pengamatan diri dan kesabaran, sehingga tingkah lakunya akan dapat berbahaya bagi dirinya sendiri.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan berusaha,” berkata Sumekar.

Namun dahinya segera menjadi berkerut merut ketika ia melihat tatapan mata Mahisa Agni yang menjadi semakin tajam.

Dengan bersungguh-sungguh Mahisa Agni berkata, “Sumekar. Ada sesuatu yang penting yang hendak aku bicarakan sebelum aku meninggalkan Singasari, apalagi ketika aku meyakini, bahwa Anusapati memang memerlukan perlindungan yang sebaik-baiknya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Sumekar,” berkata Mahisa Agni. “apakah kau pernah juga berpikir, bahwa pada suatu saat, apabila keadaan memaksa Sri Rajasa sendiri akan turun tangan untuk memaksakan kedudukan Putera Mahkota bagi Tohjaya?”

Sumekar mengerutkan keningnya. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Betapa-pun kecilnya, namun ada juga bayangan yang suram itu terjadi. Tetapi bukankah usaha-usaha itu sejak sekarang sudah kita rasakan?”

“Ya. Tetapi maksudku, karena kemampuan kanuragan Anusapati yang tidak dapat teratasi oleh orang-orang yang mendapat tugas langsung menyingkirkannya, apakah pada suatu saat Sri Rajasa sendiri, akan melakukan hal itu. Tentu saja ia berusaha agar tidak seorang-pun yang mengetahuinya.”

Sumekar merenung sejenak. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian. “kita melihat bahwa kemampuan Anusapati semakin lama menjadi semakin sempurna. Padahal umurnya masih sangat muda, sehingga kemungkinan baginya masih terbuka luas. Pada suatu saat tidak akan ada seorang-pun yang dapat melampauinya di seluruh istana ini. Dalam keadaan yang demikian, tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain Sri Rajasa pribadi. Dalam arti, Sri Rajasa sendirilah yang harus menghadapi Anusapati.”

Sekali lagi Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Hal itu tidak mustahil terjadi. Tentu Sri Rajasa tidak akan melepaskan cita-citanya untuk meletakkan warisan singgasana Singasari kepada keturunannya yang paling dikasihinya.”

“Kau pernah mendengar bagaimana Tunggul Ametung terbunuh?”

Sumekar menganggukkan kepalanya.

“Kebo Ijo?”

Sekali lagi Sumekar mengangguk.

“Dan Kelak Anusapati, begitu maksudmu?” bertanya Sumekar.

Mahisa Agni-pun mengangguk pula. Jawabnya, “Ya. itu tidak mustahil. Bukankah kau juga mengetahui siapakah Anusapati itu sebenarnya?”

Demikianlah ternyata bahwa Mahisa Agni telah mengambil suatu keputusan yang merupakan suatu hal yang sangat penting, dan bahkan hampir menetukan di dalam perjalanan hidup Anusapati. Ternyata Mahisa Agni telah mengambil suatu keputusan, bahwa ia harus mempertahankan Anusapati dan keturunannya untuk tetap memegang pimpinan kerajaan. Meskipun keputusan itu tidak diucapkannya, namun hal ini seakan-akan merupakan janji di dalam hatinya. Janji yang membawa akibat-akibat yang sangat luas pada tingkah laku dan sikapnya kemudian.

Sumekar melihat sesuatu bergejolak didalam hatinya. Dan Sumekar-pun seakan-akan dapat menangkap getar di dalam dada Mahisa Agni itu.

Demikianlah ketika peralatan perkawinan Mahisa Wonga Teleng selesai, istana Singasari-pun kembali menjadi sepi. Semuanya kembali kepada keadaan seperti sediakala. Anusapati masih saja dalam kedudukannya yang lama, yaitu seorang Putera Mahkota, namun kedudukan itu hampir tidak memberikan akibat apa-pun baginya. Ia masih saja seperti anak-anak yang dengan sekehendak hatinya berbuat sesuai dengan kesenangannya sendiri. Kalau ia ingin melihat-lihat latihan-latihan keprajuritan, maka ia-pun pergi melihat. Kalau ia ingin berada dipusat pimpinan pasukan pengawal, maka ia-pun pergi pula kesana.

Namun dengan demikian hati Anusapati sendiri merasa tersiksa. Dipaseban dalam dan luar, dimana Sri Rajasa dihadap oleh para pemimpin dan panglima serta Senapati, kedudukan Putera Mahkota hampir tidak berarti apa-apa. Apabila pada hari-hari yang ditentukan Sri Rajasa berhalangan, ia sama sekali tidak memberikan kesempatan apa-pun untuk berbuat sesuatu pada sebuah pertemuan, meskipun sekedar pertemuan biasa. Tidak ada kesempatan yang ada padanya, dan apalagi bimbingan dan pengarahan.

Alangkah sakit hati Anusapati. Kalau saja ia masih anak-anak, maka ia akan dapat menangis sambil memeluk pinggang ibunya.

Tetapi ia bukan lagi anak-anak. Bahkan sebentar kemudian Anusapati telah menjadi seorang ayah. Namun kedudukannya masih belum berarti sama sekali.

Sumekar yang menjadi semakin tua ternyata telah mengambil keputusan pula untuk tetap tinggal di istana Singasari. Hidup di petamanan yang penuh dengan pohon bunga-bungaan dan pohon buah-buahan, baginya tidak jauh berbeda dari kehidupan di padepokannya. Di halaman istana Singasari ia merasa mendapatkan tempat yang sesuai dengan kehidupannya di padepokan yang tenteram, tenang dan segar. Meskipun di halaman istana kadang-kadang ia ikut serta dilanda oleh ketegangan apabila terjadi sesuatu dengan Anusapati.

“Paman Sumekar,” berkata Anusapati pada suatu saat, “apakah paman melihat kemungkinan yang dapat aku capai dengan cara hidupku sekarang?”

Sumekar tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah Anusapati dengan saksama. Lalu sejenak kemudian justru ia bertanya, “Apakah yang tuanku maksud?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman, rasa-rasanya kedudukan sebagai Putera Mahkota hanyalah sekedar kedudukan saja karena aku putera ibunda Permaisuri. Tetapi setiap masalah, Ayahanda Sri Rajasa selalu berbincang dengan Adinda Tohjaya. Aku sadar, bahwa aku tidak boleh iri hati, seperti yang selalu dikatakan oleh orang tua-tua dan paman Mahisa Agni. Juga yang aku baca di dalam kitab-kitab serta dari pemimpin-pemimpin kejiwaan yang pandai. Tetapi aku tidak dapat ingkar dari perasaan ini, seakan-akan aku telah dicengkam oleh perasaan itu.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyalahkan Anusapati, karena semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Anusapati akan menjadi semakin tersisih. Bahkan lambat laun, sikap para pemimpin dan Panglima-pun seakan-akan telah terpengaruh oleh keadaan itu. Seakan-akan wajah mereka mulai berpaling dari Anusapati dan memandang Tohjaya sebagai seorang putera Sri Rajasa yang besar.

Tidak seperti Anusapati yang menyembunyikan kemampuannya yang hampir sempurna, maka ketika Tohjaya merasa dirinya seorang anak muda yang perkasa, ia justru telah berbuat hal-hal yang dapat mengagumkan rakyat Singasari.

“Paman,” berkata Anusapati, “para pemimpin masih tetap menganggap aku sebagai seorang anak muda yang lemah dan dungu. Ternyata hal itu berpengaruh atas sikap mereka. Lambat laun mereka tidak mempunyai harapan dan pilihan apa-pun padaku. Kadang-kadang mereka menjadi kagum juga apabila aku mengambil sikap. Tetapi kesempatan itu terlampau jarang. Dan yang aku lakukan hanyalah sekedar mengambil sikap, tidak diikuti dengan perbuatan-perbuatan yang dapat membuat mereka yakin akan kemampuanku. Bukan saja dalam olah kanuragan yang memang tidak pernah aku tunjukkan kepada siapapun, tetapi kemampuanku memimpin dan bertindak sebagai seorang Raja yang besar.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Keluhan itu bukannya tidak berdasar. Tohjaya semakin lama menjadi semakin dikenal oleh rakyat Singasari sebagai seorang anak muda yang perkasa. Tetapi sebaliknya Anusapati hampir tidak dibicarakan orang didalam olah kanuragan dan kegiatan pemerintahan.

Sumekar tidak dapat ingkar, bahwa satu dua orang justru pernah berkata, “Anusapati lebih senang menunggui isterinya daripada berbuat sesuatu untuk Singasari.”

“Inilah agaknya jalan yang akan ditempuh oleh Sri Rajasa. Memang tidak sekasar yang dilakukan oleh penasehatnya. Tetapi justru terlampau berbahaya bagi Putera Mahkota. Penolakan rakyat Singasari atas Putera Mahkota akan menimbulkan akibat yang sangat gawat baginya dan bagi Singasari,” berkata Sumekar di dalam hatinya.

“Paman,” berkata Anusapati kemudian. “apakah sebaiknya aku diam saja sambil menunggu nasib yang akan menjebakku kemudian, apa-pun akibatnya?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat olehnya sikap dan perasaan yang bergolak di dalam dada Mahisa Agni di saat-saat terakhir hari perkawinan Mahisa Wonga Teleng. Seolah-olah ia dapat membaca dengan jelas pada wajah Mahisa Agni, bahwa ia akan berbuat sesuatu. Sesuatu yang penting bagi Anusapati.

Tetapi Sumekar tidak dapat mengatakannya. Ia hanya melihat sesuatu yang membayang. Tetapi ia tidak jelas dan tidak dapat memastikan apakah penglihatannya itu benar.

Namun demikian ia berusaha untuk membesarkan hati Putera Mahkota, “Tentu tidak tuanku. Tuanku tidak akan begitu saja pasrah kepada nasib. Tuanku harus berbuat sesuatu. Hamba yakin bahwa Pamanda Mahisa Agni-pun sudah memperhitungkannya. Pamanda Mahisa Agni dapat mengerti, apa yang sedang dilakukan oleh ayahanda sekarang, dan karena itu, ia akan berbuat sesuatu.”

“Tetapi paman, apakah paman sampai sekarang tidak melihat, bahwa sikap Ayahanda Sri Rajasa semakin lama menjadi semakin asing bagiku? Hanya dihadapan ibunda Permaisuri ayahanda bersikap baik. Tetapi jika tidak ada ibunda Permaisuri sikap ayahanda terasa aneh sekali.” Anusapati berhenti sejenak lalu, “paman, aku sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Seharusnya aku sudah mulai mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam pimpinan pemerintahan. Bukan sekedar mengikuti pendadaran dengan menumpas perampok-perampok kecil disana-sini. Bukan pula dengan menonton latihan-latihan keprajuritan.” Suara Anusapati merendah, “Paman. Aku pernah mendengar suara yang sangat menyakitkan hati, seolah-olah aku sama sekali tidak menghiraukan lagi keadaan Singasari. Seolah-olah aku hanya memikirkan diriku sendiri, isteriku dan orang-orang terdekat saja.”

Sumekar tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk. Dan Anusapati meneruskan, “Lebih dari itu paman, aku sudah mendengar dari hamba yang dekat dengan keluargaku, maksudku, seorang emban yang mengatakannya kepada isteriku, bahwa Sri Rajasa tidak memerlukan aku lagi.”

“Tuanku,” Sumekar terkejut.

“Ya. Dan isteriku menangis semalam suntuk. Hal itu bukannya yang pertama kali didengarnya. Bermacam-macam persoalan yang aku kira memang dengan sengaja, dihembus-hembuskan agar sampai ketelinga isteriku. Dengan demikian, kedudukanku menjadi semakin lemah. Dari luar dan dari dalam.”

“Itu sudah keterlaluan,” tiba-tiba Sumekar menggeram, “sebenarnya tuan puteri tidak boleh mendengar hal-hal semacam itu.”

“Tetapi menurut perhitunganku, memang ada kesengajaan. Isteriku juga pernah mendengar ejekan orang tentang kelemahan dan kebodohanku dibandingkan dengan Adinda Tohjaya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika demikian keadaan memang sudah gawat tuanku. Pamanda Mahisa Agni harus segera mengetahuinya.”

Anusapati mengangguk kecil, “Ya. Tetapi Pamanda Mahisa Agni akan lebih baik tetap diam. Aku melihat ada sesuatu yang menahan pamanda untuk berbuat sesuatu. Aku kira Pamanda Mahisa Agni adalah sahabat Ayahanda Sri Rajasa. Didalam batas-batas tertentu Pamanda Mahisa Agni tidak dapat bertindak lebih maju lagi.”

“Bukan begitu tuanku. Pamanda tuanku tidak hanya sekedar berhenti pada suatu batas tertentu. Ia akan maju terus. Percayalah. Tetapi pamanda tuanku akan mengambil jalan yang paling baik buat tuanku, buat ayahanda tuanku dan buat Singasari. Itu adalah tanggung jawab yang tidak dapat dihindarinya.”

Anusapati tidak menjawab. Sekilas terbayang apa saja yang pernah dilakukan oleh Mahisa Agni untuknya.

“Memang sudah banyak sekali,” tiba-tiba Anusapati berdesis.

“Apa tuanku?” bertanya Sumekar.

“Paman Mahisa Agni memang sudah banyak sekali berbuat untukku.”

“Dan pamanda tuanku itu masih akan banyak lagi berbuat.”

Demikianlah Sumekar dapat merasakan goncangan-angan perasaan pada putera Mahkota. Semakin lama justru menjadi semakin berat. Bahkan setelah Anusapati menjadi seorang ayah. Orang-orang istana Singasari tidak lagi dangan segan-segan memperkatakannya. Anusapati tidak lagi mendengar dari satu dua orang, bagaimana tanggapan orang-orang di istana Singasari itu atasnya. Dengan demikian Anusapati dapat memperhitungkan, bagaimanakah kira-kira tanggapan rakyat Singasari seluruhnya terhadapnya, terutama mereka yang tinggal dipusat pemerintahan.

Sumekar-pun semakin lama menjadi menyadari kedudukan Putera Mahkota yang sulit itu. Apalagi setiap kali Tohjaya selalu mamancing persoalan dan menunjukkan kelebihannya dari setiap putera Sri Rajasa yang lain.

Mahisa Wonga Teleng yang kemudian juga mempunyai seorang anak laki-laki-pun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada sikap Ayahanda Sri Rajasa. Meskipun sikap Sri Rajasa padanya jauh lebih baik dari sikap ayahanda kepada Anusapati, namun bagi setiap putera Sri Rajasa merasa alangkah besarnya kesempatan yang telah diberikan kepada Tohjaya. Namun bagi rakyat Singasari, sikap dan tingkah laku Tohjaya kadang-kadang memang menimbulkan kekaguman.

“Lepaskan kerbau gila itu di sebelah pasar,” berkata Tohjaya pada suatu saat kepada pembantu-pembantunya yang terdekat, “disaat orang berlari-larian menyelamatkan diri dari amukan kerbau itu, aku akan hadir.”

Demikianlah di saat-saat yang telah ditentukan itu, seekor kerbau gila karena mulutnya telah disuapi dengan daun yang membuatnya mabuk sehingga tingkah lakunya telah menggemparkan penduduk yang kebetulan ada ditempat itu. Orang-orang yang sedang berada dipasar-pun menjadi gempar dan berlari-larian cerai berai.

Pada saat yang demikian itu, lewatkan iring-iringan seorang putera Sri Rajasa yang perkasa, diikuti oleh beberapa orang pengawal, melalui jalan yang menjadi sepi lengang.

Beberapa orang yang sedang berlari-larian dan berpapasan dengan iring-iringan itu mencoba menyongsong sambil berkata, “Tuanku, ampun. Janganlah tuanku lewat jalan ini. Seekor kerbau sedang mengamuk di sebelah pasar.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia justru tersenyum sambil berkata, “Biarlah kerbau itu mengamuk. Aku hanya akan sekedar lewat.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...