Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 22-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-22-01
“Ya, Sumekar juga melihat kemungkinan itu. Bahaya yang sebenarnya mungkin berada di istana Singasari, tetapi mungkin juga berada di istana Kediri. Dan itu bagiku cukup jelas. Tentu Mahisa Agni dianggap sebagai orang yang berdiri di belakang tabir semua kejadian yang telah melemparkan Tohjaya dari kedudukannya.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun sependapat dengan kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan oleh Witantra dan Sumekar, bahwa Mahisa Agni-pun juga sedang terancam. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali bukan lawan yang berarti bagi Sri Rajasa.

Karena itu, maka mereka-pun menjadi semakin gelisah. Kuda mereka dipacunya semakin cepat. Namun Witantra kemudian berkata, “Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa malam ini. Mereka baru akan mencapai Kediri lewat pagi hari.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun sadar, bahwa perjalanan ke Kediri bukan jarak yang pendek, meskipun hampir setiap pekan ia hilir mudik berganti-ganti dengan Witantra dan Kuda Sempana.

Oleh kesadaran itu, maka hati mereka-pun menjadi agak tenteram. Mereka dapat mengikuti jejak kuda-kuda yang mendahuluinya dengan agak tenang. Bahkan kemudian mereka-pun beristirahat karena kuda-kuda mereka-pun agaknya menjadi lelah.

Mereka memasuki Kediri dihari berikutnya. Tidak lagi berpacu secepat-cepatnya. Bahkan mereka berhasil menyelusur jejak kuda-kuda yang mereka ikuti sampai masuk kedalam pintu gerbang kota, justru karena mereka menunggu matahari mulai terbit. Derap kaki kuda yang masih tampak jelas di atas tanah berembun menunjukkan kepada mereka, kemana kuda-kuda itu pergi.

Witantra tidak memerlukan lagi kelanjutan jejak itu. Kaki para pejalan dan pedati yang hilir mudik setelah matahari semakin tinggi telah menghapus jejak kaki kuda itu. Tetapi Witantra sudah mendapat kepastian, mereka berada di dalam kota Kediri.

Dengan demikian maka Witantra menganggap bahwa bahaya yang sebenarnya, ternyata berada di istana wakil Mahkota di Kediri.

“Apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahendra.

“Kita belum dapat menebak. Tetapi Mahisa Agni harus segera mengetahuinya. Aku kira mereka tidak akan menyiapkan waktu sehingga apabila malam tiba, Mahisa Agni harus siap menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah, mereka-pun segera pergi ke istana Mahisa Agni dengan cara yang khusus, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada para pengawal istana itu.

Seperti biasanya mereka menitipkan kuda-kuda mereka pada orang yang dapat mereka percaya. Kemudian mereka pergi ke istana wakil Mahkota untuk mencari seorang juru taman yang sebenarnya adalah Kuda Sempana.

“Kalian siapa?” bertanya para prajurit yang bertugas, diregol.

“Kami adalah saudara-saudaranya yang datang dari desa, dari pedukuhan.” Witantra menjawab. Lalu, “bukankah kami berdua pernah berkunjung juga kemari?”

Prajurit-prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian keduanya-pun dibiarkannya masuk menemui juru taman di petamanan belakang.”

“Lebih baik masuk di malam hari,” desis Mahendra.

Witantra tidak menjawab, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dimalam hari mereka memang tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para penjaga, karena mereka selalu meloncati pagar batu yang tinggi.

Mahisa Agni yang kebetulan ada di pendapa melihat kehadiran keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak menegurnya, bahkan acuh tak acuh. Namun sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke petamanan di kebun belakang untuk meneliti tanam-tanaman yang dipesannya kepada juru tamannya. Karena Mahisa Agni adalah orang yang senang sekali pada tanaman-tanaman, sehingga juru tamannya tidak pernah sempat beringsut dari petamanan, kecuali jika ia mohon untuk beristirahat dua tiga hari, kembali ke kampung halaman.

“O, kau mempunyai tamu?” bertanya Mahisa Agni kepada juru tamannya yang sedang duduk-duduk di bawah sebatang pohon kantil bersama Witantra dan Mahendra.

“Ya tuan. Keduanya adalah saudaraku.” jawab Kuda Sempana.

Beberapa orang pelayan yang melihat mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mahisa Agni memang sering berada di petamanan itu.

Sejenak kemudian, sambil berdiri Mahisa Agni mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Witantra dan Mahendra berganti-ganti.

Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni mendengarkan keterangan itu, serta beberapa pendapat Sumekar tentang orang-orang yang dicurigainya itu.

“Aku sependapat Mahisa Agni, bahwa bahaya itu dapat berada di istana Singasari, tetapi juga dapat disini. Semalam suntuk aku sudah menempuh jarak yang jauh. Baru tengah hari aku berhasil menemuimu. Tetapi aku kira, seandainya benar dugaan kami, maka semuanya akan berlangsung di malam hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah minta Sumekar untuk selalu dekat dengan Putera Mahkota dalam keadaan serupa ini. Untunglah bahwa Adinda Putera Mahkota, Mahisa Wonga teleng sangat dekat dengan kakandanya, dan sedikit banyak sudah mampu untuk membantunya jika keadaan memaksa.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Maka katanya kemudian, “Aku dapat mengerti. Memang bahaya itu dapat berada di sini, karena Sri Rajasa pasti yakin bahwa akulah sumber dari kegagalannya. Jika orang itu harus membinasakan Kesatria Putih, maka Kesatria Putih pasti tidak diikat oleh Sri Rajasa di istana dengan segala macam alasan.”

“Tetapi apakah gunanya? Kenapa Kesatria Putih tidak dibiarkannya saja?”

“Mungkin Kesatria Putih menjumpai orang-orang itu dan mengikutinya. Jika ia sampai ke istana ini, maka usaha untuk membinasakan aku akan terganggu karena di sini ada kekuatan lain yang dapat membantu aku.”

Mahendra mengangguk-angguk sambil berdesis, “Mungkin kau benar. Jika demikian maka Sri Rajasa akan bertindak selangkah demi selangkah. Kau dahulu, baru Putera Mahkota.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya kemudian, “Jika demikian aku memerlukan kalian. Aku tidak akan dapat mengatasi mereka seorang diri, karena Sri Rajasa yang sudah menjajagi kemampuannya mempercayai orang itu untuk melakukan tugasnya.”

Witantra dan Mahendra menjawab hampir berbareng, “Aku akan bermalam disini. Tidak hanya satu malam tetapi beberapa malam. Bukankah Kesatria Putih tidak dapat berbuat apa-apa untuk beberapa saat? Pada saatnya aku akan pergi ke Singasari untuk menghubungi Sumekar, apakah ikatan yang dikenakan kepada Putera Mahkota masih ada atau sudah dihapuskan, sehingga Kesatria Putih dapat bertindak kembali.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat mengatasi setiap kesulitan. Dan mudah-mudahan Putera Mahkota juga tidak terkena bencana apa-pun selama kita berkumpul di sini.”

“Aku percaya kepada Sumekar.”

Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak kemudian maka ditinggalkannya juru taman dengan kedua tamunya itu duduk di bawah pohon kantil.

Sejenak Mahisa Agni berpaling. Sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Tiga diantara mereka berempat adalah orang-orang yang pernah tersentuh hatinya oleh seorang gadis Panawijen yang bernama Ken Dedes. Mahendra pernah melakukan perkelahian untuk memperebutkan Ken Dedes melawan Mahisa Agni yang menyebut dirinya Wiraprana. Kemudian Kuda Sempana bahkan menjadi hampir gila karenanya. Dan Mahisa Agni sendiri yang menanam perasaannya dalam-dalam dilubuk hatinya. Kini mereka yang gagal itu telah berbuat sejauh-jauh dapat mereka lakukan untuk anak Ken Dedes itu. Untuk Anusapati.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menemui mereka sekali lagi untuk mengatur diri menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia mempunyai waktu menjelang senja nanti.

Demikianlah Mahisa Agni masih sempat merenungi keterangan yang didapatnya dari Witantra dan Mahendra. Namun ia tidak menemukan kesimpulan lain bahwa bahaya memang sedang mengancamnya. Ternyata Sri Rajasa sudah tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kesulitan, bahwa Mahisa Agni telah dengan hampir berterus-terang menentukan rencana yang telah disusunnya.

Mahisa Asni menarik nafas dalam-dalam. Kini di Singasari seakan-akan sedang dibakar oleh sebuah peperangan yang aneh. Parang yang tidak diumumkan dan tidak dilihat oleh orang banyak. Perang yang terjadi di antara dua istana tanpa menyeret prajurit-prajurit dan bahkan para perwira dan panglimanya.

Namun perang yang demikian memerlukan kecermatan perhitungan. Dan Mahisa Agni-pun kini telah bertekad untuk melanjutkan perang yang demikian itu sampai ia berhasil memenangkannya. Ia tidak bermaksud membunuh Sri Rajasa. Tujuannya semata-mata agar Mahkota tidak jatuh ketangan keturunan Ken Umang. Jika ia berhasil, maka perjuangan itu telah dimenangkannya. Tetapi ternyata bahwa Sri Rajasa menjadi semakin lama semakin kasar. Dan sampailah kini usahanya untuk melakukan tindakan kekerasan atasnya.

“Tetapi, semuanya baru sekedar dugaan,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “namun demikian aku harus berhati-hati.”

Menjelang malam Mahisa Agni sempat menemui Witantra dan kedua orang kawannya yang lain. Mereka telah menyusun rencana untuk menghadapi setiap kemungkinan jika benar-benar ada bahaya yang memasuki istana ini.

“Aku akan mengawasi dinding-dinding di belakang,” berkata Kuda Sempana, “karena hanya akulah yang dapat melakukannya di luar kecurigaan para prajurit yang bertugas.”

“Ya, dan orang-orang itu-pun pasti tidak akan memasuki halaman ini dari depan. Meskipun mereka mendapat tugas dari Sri Rajasa, tetapi tugas yang mereka lakukan adalah tugas rahasia. Tugas yang tidak diketahui oleh pimpinan pemerintahan Singasari yang lain. Karena itu, mereka pasti akan memasuki halaman ini tidak melalui pintu yang sewajarnya.”

“Witantra dan Mahendra akan berada di dalam bilikku,” berkata Kuda Sampana, “jika mereka benar-benar datang, aku akan memberikan isyarat.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Ada juga gunanya kau bekerja menjadi juru taman. Aku juga ingin menempatkan diriku semakin dekat dengan istana ini, dan bahkan kelak istana Singasari.”

Demikianlah, maka ketika malam datang, Mahisa Agni sudah bersiaga di dalam biliknya. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya kini adalah orang-orang pilihan, yang telah dijajagi sendiri langsung oleh Sri Rajasa.

Di kebun belakang Kuda Sempana masih sibuk dengan beberapa macam tanaman. Ketika seorang prajurit lewat, dilihatnya juru taman itu masih sibuk, maka ia-pun bertanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian jawabnya, “Aku harus menanam bibit baru ini.”

“Kenapa tidak besok?”

“O, bibit ini hanya dapat ditanam di malam hari,” jawab Kuda Sempana, “jika ditanam di pagi apalagi siang hari, bibit ini tidak akan tumbuh.”

Prajurit itu tidak menghiraukannya lagi. Ia-pun segera kembali ke gardunya.

Demikianlah malam semakin lama menjadi semakin dalam. Karena di daerah Kediri pada umumnya jarang sekali tenjadi keributan, maka para prajurit menganggapnya bahwa daerah ini adalah daerah yang aman. Dengan demikian maka mereka-pun tidak terlalu tegang menjalankan tugas mereka. Apalagi di halaman istana ini. Selama mereka bertugas, tidak pernah terjadi sesuatu. Bukan saja sepekan ini, tetapi setiap kali mereka mendapat giliran bertugas di istana ini, tidak pernah terjadi apa-pun juga.

Malam hari-pun para prajurit sama sekali tidak menjadi curiga. Mahisa Agni dengan sengaja ingin menyelesaikan persoalannya sendiri tanpa menyeret prajurit Singasari dalam pertempuran. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak memberitahukan kemungkinan yang dapat terjadi. Ia percaya kepada diri sendiri dan kawan-kawannya yang kebetulan ada di dalam halaman istana itu pula.

Kuda Sempana yang berada di kebun belakang ternyata tidak meninggalkan tempatnya. Ia bahkan mencari tempat yang terlindung dan duduk di dalam kegelapan. Namun dari tempatnya ia dapat mengawasi sebagian besar dari pagar batu di bagian belakang. Menurut perhitungannya, jalan itulah yang akan dilalui oleh para penjahat itu, karena bagian belakanglah yang agaknya paling sepi dari penjagaan. Di sisi halaman, kemungkinan pengamatan masih cukup banyak dari para peronda. Tetapi di bagian belakang, hampir tidak pernah disentuhnya.

Sampai tengah malam Kuda Sempana tidak melihat sesuatu. Karena itu, hampir saja ia menjadi jemu. Hampir saja ia berdiri dan meninggalkan tempatnya.

“Mereka tidak datang malam ini,” ia bergumam, “lebih baik tidur dibilik daripada dikeroyok nyamuk disini.” Namun baru saja ia bergeser, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar sesuatu yang meskipun sangat lembut, namun telah menumbuhkan kecurigaan padanya.

“Mereka pasti sudah berada di luar dinding ini,” berkata Kuda Sempana kepada diri sendiri.

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Jika mereka benar-benar datang, maka ia-pun harus segera memberikan isyarat kepada Witantra dan Mahendra yang berada di dalam biliknya.

Sejenak Kuda Sempana masih harus menunggu untuk menyaksikan dirinya, bahwa yang datang itu adalah yang ditunggunya.

Sesaat kemudian, dada Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di atas dinding batu yang tinggi. Dan ketajaman matanya segera mengetahui, bahwa yang bergerak-gerak itu adalah sesosok tubuh manusia yang berbaring menelungkup pada permukaan pagar batu.

“Tentu orang yang berpengalaman,” berkata Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang di atas dinding batu itu.

Ternyata orang itu untuk beberapa lamanya tidak bergerak sama sekali. Hanya orang yang memperhatikan dengan saksama sajalah yang dapat melihat, bahwa di atas dinding batu itu ada seseorang yang berbaring menelungkup, hampir serata dinding batu itu sendiri.

“Orang itu tentu sedang mengamati keadaan,” berkata Kuda Sempana pula di dalam hatinya. Namun ia-pun kini sudah yakin bahwa orang itu adalah salah seorang dari yang dikatakan oleh Witantra.

“Mereka benar-benar tidak membuang waktu,” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya, “baru siang tadi ia memasuki kota, dan malam ini mereka sudah bertindak.”

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera menarik seutas tali yang dihubungkannya dengan biliknya. Agar tidak mengejutkan orang-orang lain yang tinggal di sekitar gubuknya, maka Kuda Sempana mengikatkan tali itu pada daun pintu biliknya, sehingga suara derit yang timbul adalah derit pintu itu, seperti derit yang sudah biasa mereka dengar.

Witantra dan Mahendra-pun ternyata hampir menjadi jemu menunggu. Namun mereka masih juga belum tertidur. Meskipun Mahendra sudah berbaring di amben bambu satu-satunya milik Kuda Sempana namun ia masih juga mendengar pintu berderit.

“Ha, isyarat itu,” desisnya.

Witantra-pun segera mendekati pintu dan menarik tali itu pula, untuk memberikan isyarat kepada Kuda Sempana, bahwa Witantra telah menerima pemberitahuan tentang kedatangan orang itu.

Ketika tali yang digenggamnya bergerak, Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Witantra pasti akan segera datang, dan pasti dengan sangat berhati-hati.

“Mudah-mudahan tali ini benar-benar digerakkan oleh Witantra,” berkata Kuda Sempana di dalam hati, “bukan sekedar dilanggar kucing atau kaki tetangga yang kebetulan pergi kepakiwan tanpa mengetahui bahwa ada tali yang terentang ini.”

Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra-pun segera mengemasi dirinya. Mereka tidak akan sekedar mengintip seorang pencuri ayam di kebun belakang. Tetapi yang akan mereka intai malam itu adalah orang-orang yang pernah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa sendiri.

Karena itu, maka mereka-pun telah mengenakan pakaiannya sebaik-baiknya, dengan senjata dilambung dan kesiapan yang mantap.

Setelah menutup pintu biliknya kembali, maka mereka berdua-pun segera merayap meninggalkan bilik itu, pergi ke tempat yang sudah dijanjikan. Hati-hati sekali, karena mereka yakin, bahwa Kuda Sempana sudah melihat orang yang mereka tunggu.

Tanpa menimbulkan suara, Witantra berhasil mencapai Kuda Sempana. Dan mereka bertiga-pun kemudian menyaksikan orang yang berbaring menelungkup itu mulai bergerak-gerak.

Kuda Sempana memperhatikan orang itu semakin tajam. Kini orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya yang masih ada di luar.

Sejenak kemudian orang itu sendiri telah melayang turun. Tubuhnya seakan-akan terlalu ringan sehingga ketika kakinya menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara apapun. Hanya karena Kuda Sempana sempat melihat mereka dahulu sajalah, maka ia dapat mengikuti gerak-geriknya.

Demikian orang itu berjejak di tanah, ia-pun segera beringsut kedalam gelap yang pekat, dibawah bayangan rimbunnya petamanan dan pohon-pohon perdu.

Namun sejenak kemudian, orang kedua-pun telah meloncat masuk pula. Dengan sebuah isyarat desis yang lembut, orang kedua itu-pun segera bersembunyi pula.

Demikianlah yang mereka lakukan berturut-turut. Seperti yang dikatakan oleh Witantra semula, orang itu sejumlah lima atau enam orang. Dan yang malam itu benar-benar memasuki halaman adalah sejumlah lima orang.

Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sama sekali tidak sempat berbicara agar suaranya tidak di dengar oleh salah seorang dari mereka, karena Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana menyadari bahwa mereka pasti orang-orang yang berilmu tinggi. Pasti juga pendengaran dan pengamatannya tajam pula.

Karena itu ketiganya sama sekali tidak berbicara apapun. Mereka hanya mengikuti saja dengan tatapan matanya kemana ke lima orang itu pergi.

Ketiga orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya melihat arah yang tepat yang dilalui oleh orang-orang itu. Mereka langsung melintasi kebun belakang yang gelap menuju ke serambi istana.

“Tentu ada yang memberikan beberapa petunjuk tentang halaman istana ini,” baru kemudian Kuda Sempana berani berdesis perlahan sekali.

Witantra menganggukkan kepalanya, “Mungkin penasehat Sri Rajasa itu sendiri. Mereka tentu sudah mempunyai gambaran yang lengkap dari istana ini. Juga tentang bilik-bilik di dalam istana, dan dimana Mahisa Agni tidur.”

“Marilah kita ikuti,” desis Mahendra, “mereka sudah agak jauh.”

Ketiganya-pun kemudian merayap pula mengikuti orang-orang yang mencurigakan itu. Dari jarak yang agak jauh, mereki sempat menghitung, berapa orang jumlah mereka yang memasuki istana itu.

“Lima orang,” desis Mahendra.

“Sst,” sahut Witantra, “mereka mempunyai ketajaman panca indera.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika kelima orang yang diikuti itu merayap maju, mereka bertiga-pun maju pula.

Ternyata bahwa kelima orang itu masih harus berunding sejenak sebelum mereka mendekati serambi belakang. Agaknya mereka sedang membagi pekerjaan. Diantara mereka harus ada yang menunggu di luar istana, sedang yang lain akan memasukinya dan mencari bilik Mahisa Agni.

“Ternyata Sri Rajasa benar-benar sudah mulai,” desis Mahendra yang agaknya paling banyak berbicara.

“Sst,” sekali lagi Witantra berdesis.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera meloncat menerkam orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Namun ia masih harus menahan diri.

“Jadi kita harus berkelahi tanpa dilihat orang,” Mahendra bertanya.

“Sst,” Witantra harus berdesis pula, “kau terlalu banyak bicara. Tunggu sajalah.”

Mahendra terdiam. Kepalanya terangguk-angguk meskipun ia masih bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang yang mengawasi diluar itu?”

Witantra mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Sejenak kemudian mereka melihat orang-orang yang memasuki halaman istana itu telah melekat dinding serambi. Dengan sangat hati-hati mereka memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Namun bagi mereka, halaman itu terlampau sepi. Tidak ada prajurit yang kebetulan meronda di halaman belakang.

Dengan isyarat mereka-pun kemudian saling mendekat dan dengan penuh kewaspadaan mereka mulai berusaha membuka pintu.

Witantra dan kawan-kawannya menjadi tegang. Tiga orang dari mereka sibuk dengan pintu serambi belakang, sedang dua orang lainnya mengawasi keadaan disekitarnya.

Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang berpengalaman. Hampir tanpa menimbulkan suara, mereka berhasil membuka pintu kayu serambi belakang.

“Mereka memutuskan tali-tali papan disebelah menyebelah pintu,” desis Mahendra pula.

Witantra tidak menyahut. Namun dengan tajamnya ia mengawasi, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

Sejenak kemudian, maka pintu-pun sudah terbuka. Ternyata ruangan di serambi itu hanya samar-samar saja diterangi oleh lampu minyak yang seakan-akan hampir padam.

Dengan hati-hati tiga diantara kelima orang itu memasuki ruangan itu. Langkah mereka benar-benar tidak menimbulkan desir sama sekali, seakan-akan mereka tidak berpijak di atas tanah.

Demikianlah keadaan menjadi hening sejenak. Ketiga orang yang ada di dalam itu sedang mencari jalan untuk menuju kebilik Mahisa Agni.

“Mereka menutup pintu itu kembali,” bisik Mahendra. Witantra tidak menyahut. Ia-pun melihat pintu itu tertutup kembali dan dua orang yang ada di luar berjongkok di belakang tanaman perdu di sebelah menyebelah pintu itu.

“Apa yang kita lakukan?” bertanya Mahendra, “menyerbu masuk saja?”

“Tunggu,” desis Witantra, “Mahisa Agni akan memberikan Isyarat.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun yakin, bahwa Mahisa Agni yang sudah bersiaga itu pasti sudah mengetahui kehadiran orang-orang itu. Namun demikian Mahendra masih juga berbisik, “Mudah-mudahan Mahisa Agni tidak tertidur.”

“Sst,” Witantra berdesis pula.

Kuda Sempana lah yang sama sekali tidak berbicara. Tetapi dengan tajamnya ia mengamati setiap gerak dari orang-orang yang tidak mereka kenal, tetapi sudah mereka ketahui maksudnya itu.

Untuk beberapa saat mereka tidak mendengar apa-apa. Agaknya orang-orang yang mencari bilik Mahisa Agni itu masih belum dapat menemukannya.

Tetapi orang yang sedang mengintai itu terkejut ketika ia melihat seseorang melangkah perlahan-lahan dari sudut istana, seakan-akan tidak menghiraukan apa-pun juga. Sambil menyilangkan tangannya di dada, ia berjalan dengan kepala tunduk.

“He, bukankah itu Mahisa Agni,” bisik Mahendra.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni tidak berada di dalam istana itu.

“Apakah ia tidak tahu bahwa ada dua orang yang bersembunyi di balik batang perdu itu.”

Witantra tidak menyahut. Namun mereka bertiga menahan nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni berhenti beberapa langkah di depan pintu.

Adalah mengejutkan sekali bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni membungkukkan badannya sambil berkata, “Aku persilahkan kalian masuk. Bukankah udara sangat dingin di luar?”

Witantra dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Sambil tersenyum Mahendra berbisik, “Gila, juga Mahisa Agni itu.”

Ternyata sapa Mahisa Agni itu telah menghentakkan jantung kedua orang yang bersembunyi dibalik perdu itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa ada orang yang telah melihatnya.

Karena itu, maka untuk beberapa saat keduanya justru bagaikan membeku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Karena keduanya sama sekali tidak menyahut, maka Mahisa Agni-pun mengulanginya, “Ki Sanak, marilah, jangan duduk disitu. Apakah yang sedang kalian tunggu?”

Kedua orang yang bersembunyi itu-pun segera menyadari keadaan mereka. Mereka harus mengawasi keadaan di luar selama ketiga kawan-kawannya berada didalam. Hanya atas isyarat mereka sajalah keduanya akan masuk.

Dengan demikian maka kedatangan orang yang tidak mereka sangka-sangka telah melihat mereka berdua itu, menimbulkan persoalan yang tiba-tiba. Karena itulah, mereka menjadi kebingungan sejenak.

Namun adalah tugas mereka untuk mengamankan keadaan ketiga kawannya yang ada di dalam. Siapa-pun orang itu, namun orang itu tidak boleh mengetahui atau mencurigai bahwa telah hadir orang-orang yang tidak dikenal di halaman istana itu.

Setelah merenungi Mahisa Agni sejenak, maka barulah salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kau?”

“Aku hamba istana ini. Siapakah yang kalian tunggu?” sahut Mahisa Agni yang kemudian bertanya kembali kepada, kedua orang itu.

“Tidak ada yang aku tunggu.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi siapakah kalian berdua? Agaknya aku belum pernah melihat meskipun aku sudah lama bekerja di istana ini.”

“Kami adalah prajurit peronda.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “tetapi kenapa berada disitu? Biasanya para peronda berada digardunya. Karena istana ini selamanya tidak pernah diganggu oleh kejahatan macam apapun, maka biasanya mereka tetap berada digardunya. Kecuali jika ada isyarat dari para hamba yang tinggal di bagian belakang halaman ini. Kentongan misalnya. Atau teriakan yang mencurigakan.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Kami harus tetap berwaspada. Kami harus berhati-hati setiap saat.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi aku belum pernah melihat kalian.”

“Baru saja aku ditugaskan di istana ini. Baru hari ini aku tiba dari Singasari.”

“Jadi kalian prajurit-prajurit Singasari?”

“Ya.”

“Tetapi pakaian kalian bukan pakaian prajurit Singasari yang bertugas di Kediri. Aku mengenal pakaian mereka dengan baik, karena aku setiap hari bergaul dengan mereka.”

Jawaban itu membuat keduanya menjadi semakin bingung. Namun mereka tetap menyadari, bahwa mereka harus bertindak jika orang itu membahayakan kawan-kawannya yang ada di dalam istana. Karena itu, maka salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah. Aku tunjukkan kepadamu bahwa aku benar-benar seorang prajurit Singasari. Marilah, kita masuk kedalam, supaya terang bagimu siapa sebenarnya kami berdua.”

Mahisa Agni memandang keduanya berganti-ganti lalu, “Aku sudah mengenal dengan baik. Tidak di dalam, disini-pun aku melihat.”

“Didalam lebih jelas bagimu ciri-ciri keprajuritan.”

“Aku tidak berani. Tanpa ijin tuanku Mahisa Agni, aku tidak berani masuk, karena istana ini adalah istana wakil Mahkota di Kediri.”

“Aku yang membawamu masuk. Jika ada orang yang marah kepadamu meskipun itu Mahisa Agni, akulah yang bertanggung jawab. Bahkan aku ingin kau menunjukkan dimana tuanku Mahisa Agni itu tidur.”

“Ah, aku tidak tahu dan aku tidak berani.”

“Jangan membantah. Cepat, masuk.”

Tetapi Mahisa Agni surut selangkah sambil berkata, “Aku tidak mau.”

“Cepat, sebelum aku bertindak.”

“Aku akan berteriak.”

“Jika kau berani berteriak, kau akan mati.”

“Kenapa? Aku tidak bersalah. Baiklah aku pergi saja jika kalian tidak senang melihat kehadiranku disini.”

“Tidak, tidak.”

Mahisa Agni masih melangkah beberapa langkah surut, sementara itu Mahendra berkali-kali berdesis, “Mahisa Agni memang gila. Ia mempunyai kebiasaan aneh. Ia sangat pandai berpura-pura. Bukankah aku pernah ditipunya ketika ia mengaku bernama Wiraprana. Kenangan itu pahit, tetapi menggelikan. Kadang-kadang aku tertawa sendiri. Bahkan orang seganas Kebo Sindet-pun dapat ditipunya.”

“Sst,” desis Witantra.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun terdiam.

Dalam pada itu, ketiga orang yang berada di dalam istana Mahisa Agni, mendengar juga ribut-ribut di luar. Dengan marahnya salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya sambil bertanya, “He, kenapa ribut?”

“Orang itu.”

“Siapa?”

“Abdi istana ini. Ia melihat kami berdua. Aku Ingin membawanya masuk agar ia tidak mengganggu.”

“Bunuh sajalah. Cepat, agar tidak menimbulkan keributan lagi.”

“Jangan, jangan bunuh aku,” desis Mahisa Agni.

Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya lagi. Mereka harus membunuh orang itu sebelum sempat berteriak.

Karena itu, maka salah seorang dari mereka segera menerkam Mahisa Agni. Ia ingin mencekiknya sampai mati tanpa mempergunakan senjata apa-pun juga.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang sudah mendengar dari Witantra bahwa Sri Rajasa sendiri telah memerlukan melakukan penjajagan atas salah satu dari orang-orang itu, tidak dapat menanggapi serangan itu dengan seenaknya. Karena itu, ketika tangan orang-orang itu terjulur kelehernya, tiba-tiba saja Mahisa Agni mencoba menangkapnya.

Ternyata tangkapan tangan Mahisa Agni pada pergelangan tangan orang itu sangat mengejutkannya. Dengan serta merta ia menghentakkan diri dan merenggut tangannya yang digenggam oleh Mahisa Agni itu.

Sejenak Mahisa Agni mencoba menahan tangan itu, namun sejenak kemudian tangan itu dilepaskannya. Ia tidak ingin mematahkan tangan orang itu, karena ia masih harus memancing ketiga orang yang sudah ada di dalam istana itu keluar. Namun dengan demikian ia telah berhasil menjajagi kekuatan dan kemampuan orang itu, meskipun ia sadar, bahwa orang itu sama sekali tidak bersikap menghadapi kemungkinan seperti yang bakal terjadi.

Yang terjadi itu memang tidak terduga sama sekali. Orang itu tidak menyangka bahwa yang menyebut dirinya abdi dari istana wakil Mahkota di Kediri itu dapat berbuat secepat yang dilakukannya itu, bahkan berhasil menangkap tangannya meskipun tangan itu dapat direnggutnya.

Karena itu, maka orang yang tidak berhasil mencekik leher Mahisa Agni itu segera menyadari, bahwa ia tidak berhadapan dengan orang yang terlalu lemah, seperti juga Mahisa Agni yang menduga, bahwa orang itu pasti bukan orang yang telah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa.

“He, kenapa kau berbuat gila?” orang yang menjengukkan kepalanya berdesis, “bunuh saja. Kenapa kau masih sempat berbuat gila dalam keadaan seperti ini.”

Kawannya yang gagal mencekik Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih yakin bahwa ia akan dapat membunuh abdi istana itu. Beberapa langkah ia maju mendekati Mahisi Agni, dan sejenak kemudian dengan tiba-tiba saja ia menyerang langsung ke arah dada Mahisa Agni.

Sekali lagi Mahisa Agni menghindar. Kali ini ia menangkap lengan orang itu dan memilinnya. Kemudian dengan cepatnya Mahisa Agni menangkap pula kakinya dan mengangkat orang itu di atas kepalanya. Hampir tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni telah melemparkan orang itu kearah kawannya yang masih menjengukkan kepalanya.

Namun ternyata orang itu cukup cekatan, sehingga sambil menggeliat ia dapat mengatur dirinya dan jatuh di atas kedua kakinya tepat sejengkal di depan pintu.

Tetapi apa yang terjadi itu benar-benar telah membangunkan orang-orang yang memasuki istana dari halaman belakang itu. Kini mereka benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka ketiga orang yang melihat Mahisa Agni berdiri tegak di dalam kegelapan itu-pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Orang itu pasti bukan sekedar seorang abdi dari istana ini.

Orang yang semula hanya menjengukkan kepalanya saja itulah yang kemudian berdiri dihadapan Mahisa Agni sambil menggeram, “Siapa sebenarnya kau he?”

“Aku abdi dari istana ini. Akulah yang harus bertanya kepadamu, siapakah kau dan kawan-kawanmu itu. Dan kenapa kau memasuki halaman istana di bagian belakang ini dimalam hari? Kau pasti bukan salah seorang dari prajurit Singasari yang sedang bertugas disini.”

“Persetan. Aku tidak peduli siapa kau dan aku-pun tidak akan menyebutkan siapa aku dan kepentinganku. Tetapi kau harus mati.”

“Tidak seorang-pun yang akan dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk mati. Aku juga. Karena itu, kalau kau tidak mau mengurungkan niatmu, kita pasti akan berkelahi. Kau tentu tahu akibatnya jika aku memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedang bertugas di regol depan.”

“Persetan,” orang itu tidak menyahut lagi. Dengan serta merta ia menarik pedangnya langsung menahas leher Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar sudah bersiaga. Karena itu, maka dengan tangkasnya menghindarkan dirinya dari sambaran pedang itu.

Sekali lagi lawannya terkejut. Gerakan itu terlampau cepat. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak berhasil mengenai lawannya. Tetapi ia tidak membiarkan lawarnya itu lolos. Dengan tangkasnya ia memburu dan sekali lagi mengayunkan pedangnya kearah lambung. Namun, sekali lagi lawannya itu berhasil menghindar dan meloncat beberapa langkah, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Orang itu menjadi gelisah. Jika ia tidak berhasil dengan cepat membinasakan orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota, dan orang itu sempat memberikan isyarat, maka pekerjaannya akan bertambah sulit, meskipun mereka berlima tidak akan gentar menghadapi sepuluh orang penjaga sekalipun. Tetapi jika di antara yang sepuluh itu terdapat seorang Mahisa Agni, maka mereka harus memperhitungkan keadaan itu sebaiknya.

Dengan demikian, maka yang harus dikerjakannya adalah membunuh orang itu bagaimana-pun juga caranya. Maka sejenak kemudian terdengar aba-abanya, “Kepung orang ini.”

Demikianlah maka ketiga orang itu-pun segera berloncatan mengepung Mahisa Agni. Kini mereka bertiga telah bersenjata telanjang dan siap menyergap orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota itu.

Namun keributan itu agaknya telah mengganggu orang yang ada didalam istana. Sejenak kemudian keduanya telah berloncatan keluar. Salah seorang dari mereka berkata, “Apa yang kalian kerjakan.”

“Membunuh orang ini,” sahut orang yang pertama-tama keluar.

“Siapakah orang itu.”

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya ia orang gila.”

“Biarkan kedua anak-anak itu membunuhnya. Cepat dan jangan ribut.”

“Mereka tidak akan berhasil. Aku-pun tidak.”

“He,” keduanya terkejut. “Apakah kau mengigau.”

“Orang ini seperti setan.”

“Kau gagal membunuhnya?”

“Ya.”

Tiba-tiba orang yang keluar paling akhir itu menggeram. Dengan marahnya ia berkata, “Minggir. Aku ingin melihat, siapakah orang itu sebenarnya.”

Beberapa langkah orang itu maju mendekati Mahisa Agni. Diamat-amatinya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai keujung rambutnya. Dan sejenak kemudian terdengar suara tertawanya lirih, “Tentu. Tentu tikus-tikus ini tidak akan dapat membunuhmu. Tenyata kami bagimu adalah orang-orang yang paling bodoh yang pernah kau temui. Kami mencarimu di dalam istanamu yang megah. Ternyata kau berada di luar. Nah, bagiku adalah kebetulan sekali. Kita mendapat kesempatan untuk mengenal satu sama lain.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi diamatinya orang itu dengan tajamnya. Agaknya orang itu sudah mendapat pesan tentang ciri-ciri orang yang bernama Mahisa Agni.

“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau yang bernama Mahisa Agni?”

“Mahisa Agni,” ketiga orang yang telah mengepungnya itu terkejut. “Jadi orang ini Mahisa Agni?”

“Apakah ia tidak mengaku bahwa dirinyalah Mahisa Agni?”

“Ia menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota ini.”

“Nah, aku menjadi semakin yakin. Menurut ceritera Sri Rajasa, orang yang bernama Kebo Sindet-pun pernah ditipunya, dan kemudian dibunuhnya. Tetapi ia tidak dapat menipu aku dan tidak dapat membunuh aku, karena aku bukan Kebo Sindet dan aku tidak sedungu Kebo itu. Aku memiliki beberapa kelebihan dari padanya, sehingga seandainya Kebo Sindet itu masih hidup, ia tidak akan dapat mengalahkan aku pula.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Kenapa kau menyebut nama Sri Rajasa.”

“Jangan terkejut. Aku adalah utusannya. Aku datang kemari atas namanya untuk membunuhmu.”

“Kakang,” desis kawan orang itu.

“Aku tidak usah ragu-ragu mengatakannya, karena sebentar lagi ia akan mati. Aku tidak gentar meskipun ia mampu membinasakan Gubar Baleman.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Agaknya orang inilah pemimpin kelompok orang-orang yang ingin membinasakannya itu. Dan agaknya orang ini pulalah yang telah berkelahi melawan Sri Rajasa untuk dijajagi kemampuannya.

“Aku harus berhati-hati,” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun ia percaya bahwa di sekitarnya pasti telah bersembunyi Witantra dan kawan-kawannya untuk membantunya jika ia harus menghadapi beberapa orang lawan yang terlalu berat baginya.

“Jadi kau mendapat perintah Sri Rajasa untuk membunuhku?” bertanya Mahisa Agni.

“Ya.”

“Bohong. Sri Rajasa tidak akan melakukannya. Aku adalah pembantunya yang paling dipercaya, dan itu ternyata atas tugas yang diberikannya kepadaku sekarang ini. Aku adalah wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi kau adalah orang yang paling malang di muka bumi. Ternyata bahwa orang yang memberikan kepercayaan kepadamu itulah yang memerintahkan membunuhmu. Terimalah nasibmu dengan tabah.”

“Tetapi kau tidak akan berhasil. Aku memang Mahisa Agni. Tetapi akulah yang membunuh Gubar Baleman itu dengan tanganku. Aku pulalah yang membunuh Kebo Sindet seperti ceritera Sri Rajasa. Dan sekarang datang giliranmu.”

Orang itu tertawa.

Namun Mahisa Agni melanjutkan, “Kita akan berperang tanding. Siapakah yang ternyata lebih kuat di antara kita.”

“He, kau memang licik. Tidak, kita tidak akan berperang tanding. Kami akan menyelesaikan kau secepat mungkin. Kami berlima akan bersama-sama membunuhmu. Jangan mencoba menggugah harga diriku. Aku memang bukan laki-laki jantan. Aku sekedar melakukan pekerjaan ini meskipun dengan licik, agar aku mendapat upah yang banyak sekali.”

“Apakah kau tidak menyadari bahwa ada prajurit yang bertugas di istana ini.”

“Satu orang di antara kami akan dapat menahan mereka, sementara kami yang lain membunuhmu. Setelah itu, kami akan bersama-sama membunuh semua orang di halaman istana ini. Kau mengerti. Dan rahasia perintah Sri Rajasa tidak akan terdengar oleh siapapun.”

Namun tiba-tiba jantung mereka terasa seperti dihentikan ketika tiba-tiba mereka mendengar suara, “Aku mendengarnya. Aku mendengar rahasia perintah Sri Rajasa. Akulah yang akan mengumumkannya kepada setiap orang di Kediri dan Singasari.”

Pemimpin penjahat itu menggeram. Sejenak kemudian dilihatnya seseorang berdiri sambil menggeliat. Orang itu adalah Mahendra. Ia menjadi orang yang paling gelisah dan tidak sabar. Oleh karena itu tiba-tiba saja ia berdesis menjawab kata-kata pemimpin perampok itu.

Sejenak perampok-perampok itu menatapnya. Kemudian salah seorang bertanya dengan nada yang berat, “Siapa kau?”

Mahendra yang sudah berdiri tegak itu tidak segera menjawab. Beberapa langkah ia maju mendekati orang-orang yang sedang kebingungan itu.....

Bersambung...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...