Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 27-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-27-02
“Mahisa Agni,” berkata Witantra kemudian, “kita semuanya sudah mengenal Sri Rajasa. Kita tahu apa saja yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah sulitnya untuk melupakannya. Aku sudah kehilangan adik seperguruanku karena pokalnya. Bahkan aku telah dihinakan diarena, meskipun waktu itu kaulah yang naik melawan aku, tetapi sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang membunuh pamanmu, Empu Gandring itu, adalah Kebo Ijo pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tentu dapat membayangkan, betapa liciknya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri Ken Dedes yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.” Witantra berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang pada suatu saat akan sampai pada suatu keadaan yang bisa menyudutkannya dalam kesulitan batin. Dalam keadaan yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan seandainya hal itu terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok itu menyesali semua perbuatannya. Tetapi apakah artinya penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken Arok, karena ia sudah membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini. Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan akan menjadi padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
t
“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk menyerahkan kerajaan ini kepada keturunan Ken Umang,” berkata Witantra lebih lanjut. Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja karena ia tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu bagaimana sifat-sifatnya dan aku tahu bahwa hatinya bukannya hati yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak tentang Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan demikian, maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana dengan Singasari dimasa mendatang, jika Singasari jatuh ditangan Tohjaya itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun tidak seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat memperhitungkan kemungkinan itu.

“Karena itu Mahisa Agni,” berkata Witantra itu pula, “kau jangan sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku tahu bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meskipun kita tidak menutup kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat menyesali semua perbuatannya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bibirnya bergerak, “Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen di Padang Karautan, setelah Panawijen yang lama menjadi kering. Tetapi tiba-tiba saja penyakit Padang Karautan nya berjangkit kembali.”

“Itulah yang dapat kita lihat padanya. Sebagai seorang Maharaja ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat terakhir, maka pamrih pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,” sahut Witantra.

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun dalam pada itu terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi seakan-akan bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimana-pun juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa sehari-hari dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat mempercayainya lagi. Mungkin di saat-saat tertentu ia dapat bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha untuk membayangi sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah selesai. Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan seluruh Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur saluran kekuasaan sampai ke putera-puteranya, maka akan terjadi suatu saat Singasari akan hancur. Marilah kita tidak sekedar terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada kebencian kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken Umang, tetapi adalah kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan kita, jika kekuasaan Singasari jatuh ke tangan tuanku Tohjaya, maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya maka kita harus memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”

“Maksudmu?” bertanya Mahisa Agni.

“Sri Rajasa dilenyapkan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jangan tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana. Meskipun seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi semuanya harus yakin dan masak.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Mahisa Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi Sumekar sama sekali tidak melihat jalan lain.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya dapat mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan.

“Kakang Mahisa Agni,” berkata Sumekar, “aku dapat mengerti perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tanggapanku, sangat dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan perikemanusiaan. Karena itu, maka kau adalah seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi Sri Rajasa kau harus mempunyai pertimbangan yang lain.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya, apaboleh buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar prasangka dan alasan-alasan yang sangat kabur.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”

“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh sikap Sri Rajasa sendiri,” sahut Sumekar.

“Ya.”

Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana keris buatan Empu Gandring itu sekarang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun katanya kemudian, “Ada pada Anusapati.”

Witantra dan orang-orang lain yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah terbuka.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana mungkin keris itu ada di tangan Anusapati?” bertanya Witantra.

“Ken Dedes memberikan kepadanya.”

“Apakah Permaisuri sudah memilih?” desak Mahendra.

“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris itu untuk pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka ada kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”

“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?” bertanya Kuda Sempana.

“Sampai sekarang tidak,” jawab Mahisa Agni, “aku tidak tahu apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”

Mereka yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka. Seakan-akan mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.

“Hanya ada dua kemungkinan,” berkata Witantra didalam hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin untuk menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri yang terlalu banyak dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Sumekar.”

Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.

Yang kemudian berbicara adalah Mahendra, “Jadi menurut pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan sekarang?”

“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh Witantra pada para Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi Senapati yang muda, mungkin Witantra hanyalah nama saja. Tetapi bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih banyak.”

“Maksudmu?” bertanya Witantra.

“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau menampakkan dirimu. Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi. Dan aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”

“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”

“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan masa lampaunya. Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah dilakukannya.”

“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan melangkah surut?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit, Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban. Seandainya ada penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah terperosok terlampau jauh. Tohjaya sudah menjadi dewasa serta dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam. Tentu Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus, betapa-pun hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah terlambat.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan menemui satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku duga masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah mereka kenal itu dahulu.”

“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa hari untuk itu?” bertanya Sumekar.

“Hanya beberapa hari,” jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini aku masih belum diusir oleh Sri Rajasa meskipun sudah ada beberapa kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”

“Jadi, apakah kita tidak lebih baik bertindak langsung dan cepat?” bertanya Sumekar kemudian.

“Kita masih akan mencoba Sumekar.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita melihat apakah di beberapa hari ini ada perubahan pada Sri RAjasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan keduanya tidak terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya mendapatkan perubahan suasana di istana Singasari yang menjadi semakin panas ini.”

Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak. Namun kepalanya-pun terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”

“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita terjebak oleh kebaikan hati kita,” berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sumekar, dalam satu dua hari dapat terjadi apapun, karena perubahan dapat berlangsung dengan cepatnya. Sri Rajasa mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya semuanya dapat terjadi.”

“Aku menyadari,” jawab Mahisa Agni, “karena itu, selain setiap usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus dilambari dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Baik. Aku sependapat,” berkata Witantra, “marilah kita coba. Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira di dalam pasukan pengawal istana.”

Demikianlah mereka kemudian menemukan kesepakatan. Meskipun Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Sumekar-pun segera kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana kembali ke persembunyian mereka di pinggir kota. Mereka telah berusaha untuk mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang menyebut dirinya pedagang-keliling, karena sebenarnyalah bahwa Mahendra adalah seorang saudagar.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni masih dapat bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya pada tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan harapan dihatinya, bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Dengan lembut ia berusaha menenteramkan hati Anusapati. Meskipun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak merubah cara hidupnya sehari-hari.

“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu atasmu dan atas perasaanmu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Mudah-mudahan kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan Ayahanda Sri Rajasa bersama Adinda Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang sebenarnya telah terjadi.

Meskipun di saat terakhir terpercik harapan dihati Mahisa Agni, namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati, bahwa ia tidak boleh melupakan trisula kecilnya.

“Aku selalu membawanya paman. Di setiap saat trisula itu ada padaku. Bahkan di malam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga keris Empu Gandring selalu berada di pembaringan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia bergumam, “Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.”

“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak, aku masih akan tetap berada di istana ini, meskipun jatuh perintah Sri Rajasa agar aku kembali ke Kediri. Atau …” Mahisa Agni tidak melanjutkan kata-katanya.

“Atau? Apakah maksud paman?” bertanya Anusapati.

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan menjadi korban.”

Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu masih harus menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan pamannya, maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu.

Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Ia berkeliaran di halaman istana tanpa pengawalan. Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula kecilnya, yang dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila pada suatu saat Sri Rajasa telah sampai pada titik akhir dari kesabarannya.

Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah menepati janjinya. Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik di dalam kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain wajahnya yang bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak pernah berpakaian seperti yang dipakainya itu.

Tetapi Witantra masih dapat mengenali beberapa orang prajurit yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra tidak menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih orang-orang yang menurut dugaannya dapat dipercayainya.

Witantra tertarik kepada seorang prajurit dan Pasukan Pengawal yang sedang berdiri di muka regol rumahnya, Rumah yang agaknya belum terlalu lama dibangun. Rumah yang dibangun sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang perwira.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah itu jauh lebih baik dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira di Tumapel.

“Apa salahnya,” berkata Witantra, “itu adalah haknya. Mudah-mudahan ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah, maka persoalannya akan menjadi lain.”

Meskipun dengan agak berdebar-debar juga Witantra mendekati regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang berkecukupan, maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian kepadanya.

Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka perwira itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah Ki Sanak mempunyai keperluan?”

Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya, “Ya, ki Sanak. Aku ingin bertemu sejenak.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Witantra bertanya pula, “Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”

“Tentu,” jawab perwira itu.

“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas?” orang itu mengulangi.

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat sesuatu yang menyentuh perasaannya.

“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?” bertanya orang itu.

Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa orang itu tidak akan segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu sama sekali sudah tidak mengenalinya.

“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo Pamungkas,” jawab Witantra.

“Siapakah yang mengutusmu?”

“Seorang pertapa dipuncak gunung.”

“Aneh,” jawab orang itu, “menilik bentuk lahiriah, saudara adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya. Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal di puncak gunung pada seorang pertapa.”

“Sebenarnya aku seorang Putut.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah pertapa di puncak gunung yang mengutusmu menemui Kebo Pamungkas.”

Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian. “Ia adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat ini ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”

Perwira itu mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan bahwa kau seorang Putut dari padepokan di puncak gunung? Apatah perjalananmu mengandung suatu maksud sandi?”

“Tidak,” berkata Witantra, “tidak ada maksud sandi.”

“Sebut namanya,” perwira itu tidak sabar.

“Witantra, Witantra,” orang itu merenungi nama itu sejenak. Lalu, “dimana padepokan itu?”

“Jauh, dipuncak gunung.”

“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut namanya, lalu katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa di puncak gunung yang jauh?”

“Ya.”

Perwira itu memandang Witantra itu sejenak. Lalu, “Silahkan. Silahkan masuk.”

Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.

Witantra-pun kemudian duduk dipendapa. Sejenak ia mengamati perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang terbuka, beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.

“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat berceritera tentang Witantra,” berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali aku tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.”

“Ya. Sejak itu,” sahut Witantra. Lalu, “ia merasa bahwa ia sudah tidak terpakai lagi.”

“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena karena ingin membela nama baik Kebo Ijo.”

“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi hubungan antara keduanya tidak seperti yang kita harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana? Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken Umang?”

Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang menarik?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab perwira itu.

Witantra memandanginya sejenak. Lalu, “Bagaimana jika para perwira, terutama yang telah bertugas di dalam pasukan pengawal sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”

“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan Witantra. Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.” Perwira itu berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada di dalam pasukan Pengawal sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari tangan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu di antara mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan sengaja disisihkan karena tidak disukai.

“Ki Sanak,” berkata Witantra kemudian, “bagaimanakah jika Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya di Singasari?”

“Tentu tidak apa-apa,” jawab perwira itu, namun kemudian, “Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan di antara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada persoalan yang lain. Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh banyak perhatian.”

“Benar begitu?”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.

“Bagiku,” berkata perwira itu, “perhatian Sri Rajasa kini tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak dapat dirukunkan.”

“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah persoalan bagi Sri Rajasa?”

“Memang mungkin sekali. Karena menurut pendapat kami, kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken Arok bergelar Sri Rajasa.”

“Maksudmu?” bertanya Witantra, “apakah sebenarnya Kebo Ijo tidak bersalah?”

“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum sampai di arena hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya, sedang saat itu tujuh pimpinan di Tumapel masih meragukan kesalahannya?”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”

“Tidak apa-apa bagiku,” berkata perwira itu. “tetapi, aku kira pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan barangkali juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari, bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di istana ini. Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak pula berpihak kepada Mahisa Agni sekaligus. Mungkin ia ingin menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga pada suatu saat akan ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”

“Tentu tidak,” berkata Witantra, “Witantra tidak akan mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada beberapa orang sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ia tidak mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak kepada Sri Rajasa.”

Perwira itu mengangguk-anggukkkan kepalanya. Katanya, “Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu tidak mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apa-pun di Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri Rajasa atas kehadirannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan ia-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”

“Jika Witantra sendiri datang, aku akan mengatakan kepadanya, tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya. “Jika demikian tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat menjumpai seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira prajurit Tumapel, bukan seorang prajurit Singasari.”

“O.” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “jadi, jika demikian aku telah salah. Atau barangkali Witantra lah yang salah.”

“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika ia datang sendiri kepadaku,” berkata perwira itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ki Sanak sudah mengenal Witantra?”

“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik sejak kami bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”

“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit Tumapel?”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan Witantra mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki Sanak sebut sebagai seorang prajurit Tumapel itu.”

Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Sudah aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan menjelaskannya.”

“Baiklah Ki Sanak,” berkata Witantra, “aku akan mengatakan agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak tentu sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai pengaruh apa-pun pada lingkungannya.”

“Dan Kebo Pamungkas?”

“jangan bertanya lagi sebelum Witantra datang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya perwira itu sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu masih mengenalnya.

Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia akan menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain sebelum terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya. Apalagi orang itu yang menurut pengenalannya bernama Kebo Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama itu karena ia kini seorang perwira prajurit Singasari.

“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama itu?” bertanya Witantra kepada diri sendiri.

Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh keragu-raguan. Namun karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian menetapkan bahwa ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan perwira itu.

Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan melupakannya?”

“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku jawab, aku tidak akan dapat melupakan Witantra.”

Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau keliru Ki Sanak. Kau ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra lagi.”

“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau belum mengetahui bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal aku.”

“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga orang sekaligus datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana di antara mereka yang bernama Witantra?”

“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat atau sepuluh orang sekaligus.”

Witantra justru tertawa karenanya. Katanya, “Tidak lebih dari seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”

“He,” orang itu mengerutkan keningnya.

“Tidak lebih dari satu orang,” ulang Witantra, “apakah Ki Sanak benar-benar masih mengenal Witantra he?”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau kenal aku?”

“Witantra, Witantra,” orang itu menyebut namanya. Diamat-amatinya Witantra yang masih saja tertawa itu.

“Apakah maksudmu?” perwira itu bertanya.

“Akulah Witantra,” jawab Witantra itu.

Kerut merut dikening perwira itu menjadi semakin dalam. Namun dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak mengenalnya lagi. Mustahil.”

“Apakah yang aneh menurut pendapatmu? Pakaian saudagar kaya ini?”

Orang itu tidak menjawab.

“Maaf,” berkata Witantra, “sebenarnya akulah Witantra itu. Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya aku menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.”

Orang itu masih memandang Witantra dengan tajamnya. Keragu-raguan yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambutku sudah berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut merut, dan barangkali pipiku sudah mulai melipat.”

“Ah,” orang itu berdesah. Namun perlahan-lahan ia mulai dapat mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima pasukan Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung. Wajah yang tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam. Diam, namun mengandung perbawa yang mencengkam.

Sejenak perwira itu memandang wajah Witantra. Dan dengan suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan dengan Witantra.”

“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa kau memang sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”

Perlahan-lahan perwira itu menganggukkan kepalanya. Dan perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu, bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu aku tidak akan dapat mengingkari nama itu lagi, meskipun sejak aku menjadi perwira dari pasukan Pengawal di Singasari, namaku sudah berubah.”

“O,” Witantra menganggukkan kepalanya, “tetapi aku sadar bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra. Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin kau ketahui, dan apakah yang dapat aku katakan, agar kau benar-benar percaya bahwa aku adalah Witantra.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera Mahkota?”

Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau mengatakannya. Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang mengandung muda. Aku tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh pening dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan puteri selalu ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam keadaan itulah tuan puteri kemudian kawin dengan Ken Arok yang dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang kekuasaan atas Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia akhirnya dapat mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, apakah kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi terlebih-lebih adalah ingatanmu tentang aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak ada duanya di Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan barangkali Sri Rajasa sendiri.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah pada masa mudaku, selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir bagi setiap persoalan.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Meskipun ia menjadi semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra, sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan dirinya dengan kemampuannya yang luar biasa.

Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa Witantra akan berbuat sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih saja duduk ditempatnya sehingga perwira Singasari itu tidak lagi mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan sesuatu kepadanya.

Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak perwira itu masih mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan berkata seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin, bahwa kau memang Witantra. Justeru bahwa kau tidak berbuat apa-apa itulah, yang menunjukkan kepadaku, sebenarnyalah kau seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu menjadi debu. Itulah yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah, jika kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”

“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah aku jadi yakin.” sahut perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan kemampuanmu dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra yang aku kenal dahulu. “

Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun adalah tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang memiliki tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia tentu ingin melihat aku meremas batu menjadi debu.”

Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata, “Ternyata kita masih sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan Kau Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum pernah mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima Pasukan Pengawal, tetapi Panglima pasukan yang manapun.”

“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan dari Panglima yang ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”

Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada sekarang.

“Baiklah,” berkata Witantra, “kita tidak berbicara terlalu banyak tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara keseluruhan, apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai sekarang?”

Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan. Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari sekarang.” ia berhenti sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya Witantra.”

“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut pengamatanku dari luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit yang jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari Singasari. Memang agak berbeda dengan Tumapel yang seakan-akan hanya berkuasa di kota-kota besar saja sekitar Tumapel. Meskipun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih tinggi. Kediri.”

“Tetapi,” tiba-tiba suara perwira itu merendah, “ternyata kemudian telah timbul persoalan di dalam istana Singasari sendiri. Di dalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai seorang Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu negara besar. Tetapi sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya yang sebenarnya. Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran anak tiri yang sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya anak itu tentu akan lahir.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan ternyata anak itu sampai saat ini masih juga membawa persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”

Witantra memandang wajah Perwira itu sejenak. Ia melihat sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia bertanya, “Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan Dalam, Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”

“Maksudmu?”

“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera Tunggul Ametung yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”

“Kurang baik. Tidak ada yang bisa disalahkan pada keduanya. Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu sikap yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya melenyapkan Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada Mahisa Agni yang kebetulan adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes yang pengaruhnya ternyata cukup besar di Singasari dan Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...