*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 20-01*
Karya. : SH Mintardja
“Gila!” teriak Linggadadi, “kenapa paman tiba-tiba menjadi cengeng?”
Daranambang berpaling. Tapi iapun tersenyum sambil menjawab, “Seperti yang dikatakan oleh kakakmu. Bau darah membuat kau kehilangan pengamatan diri Kedua anak muda ini telah menolong kita. Senang atau tidak senang, kita harus mengakui.”
“Persetan” potong Linggadadi.
“Sudahlah” ulang Linggapati, “pergilah. Jangan menunggu persoalan berkembang semakin buruk.”
“Kalian akan membunuh kami?”
“Ya” jawab Linggadadi tegas.
Salah seorang dari kedua anak muda itu menjawab acuh tidak acuh , “Jika kalian memang ingin membunuh kami, maka keinginan yang serupa rasa-rasanya tumbuh pula di hati kami.”
Linggadadi menjadi sangat marah, sehingga diluar sadar nya ia telah meloncat maju mendekati kedua anak-anak muda itu. Namun bersamaan dengan itu pula Daranambang pun telah melangkah mendekatinya sambil berkata, “Anak-anak muda kadang-kadang memang tidak dapat mengekang diri. Tetapi itu bukan berarti bahwa setiap kemauan harus dilakukan tanpa pertimbangan.”
Linggadadi menggeram. Wajahnya menjadi merah membara. Dengan lantang ia berkata, “Dan paman membiarkan kedua anak-anak ingusan itu menghina kami?”
“Sama sekali bukan anak ingusan” jawab Daranambang., “Ingat, mereka sudah dapat mempertahankan dirinya melawan orang-orang berilmu hitam itu.”
“Tetapi tidak untuk menghina kami.”
“Tentu maksudnya sama sekali bukan untuk menghina. Mereka hanya ingin mendapat kesempatan untuk menjajagi ilmunya. Tetapi tidak dengan kita, karena persoalannya akan menjadi jauh berbeda.”
Linggadadi memandang kedua anak-anak muda itu bagaikan akan diterkamnya. Sementara itu Linggapati berkata, “Sudahlah. Tidak ada gunanya kau berkeras kepala. Aku sependapat dengan paman. Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Kita akan melanjutkan perjalanan.”
“Kita akan mengorbankan harga diri kita” berkata Linggadadi, “mula-mula kita biarkan lawan-lawan kita direbutnya. Keduanya merasa dirinya sanggup menolong kami. Kemudian dalam sikap yang sulit dimengerti, kita justru meninggalkan kedua anak yang sombong itu.”
Kedua anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Keduanya justru menjadi heran, melihat perbedaan sikap di antara mereka bertiga.
Linggapati lah yang kemudian berkata, “Kita tidak perlu menghiraukan apapun lagi. Kita akan pergi. Kita sudah kehilangan kesempatan karena kelima orang berilmu hitam itu terbunuh. Itu adalah kebodohan kita, karena kita masih di cengkam oleh nafsu dan ketamakan. Perhitungan kita menjadi kabur dan tidak menentu.”
Linggapati tidak menunggu tanggapan dari siapapun juga. Ia pun segera melangkah meninggalkan kedua anak-anak muda itu dan kelima sosok mayat yang berserakan. Satu di antaranya terbaring dengan ujud yang sangat mengerikan.
Daranambang pun segera mengikutinya pula. Baru yang terakhir sambil menggeram Linggadadi pun melangkah pergi.
Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Dipandanginya saja ketiga orang yang berjalan semakin jauh, melewati regol pasar yang sepi dan hilang dibalik dinding regol itu.
Ketika ketiga orang itu sudah tidak nampak lagi, barulah kedua anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka masih berdiri tegak. Namun kemudian mereka mulai memalingkan kepala mereka.
Dengan dada yang berdebaran mereka melihat pasar yang sepi. Barang-barang yang berserakan, dan makanan yang tumpah ruah.
Baru kemudian mereka melihat beberapa orang di kejauhan berkerumun dengan wajah yang tegang dan pucat.
Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka pun tersenyum.
Salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita dekati mereka.”
Yang lain menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun kemudian melangkah mendekati orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Nampaknya keduanya sama sekali tidak menjadi cemas dan takut bahwa ketiga orang yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu benar-benar akan berbuat jahat kepada mereka.
Orang-orang yang berkerumun di kejauhan itu pun seolah-olah telah terbangun pula dari mimpi yang buruk. Ternyata orang-orang yang sedang berkelahi itu sama sekali tidak menghiraukan mereka. Orang-orang yang berkelahi itu pergi begitu saja tanpa berbuat sesuatu atas mereka dan barang-barang mereka.
Satu dua orang telah memberanikan diri mendesak tiga orang pengawal yang seakan-akan membeku itu untuk melangkah maju.
“Marilah, sebelum penjahat kecil memanfaatkan keadaan ini.” berkata salah seorang pedagang.
Pengawal itu ragu-ragu. Dipandanginya saja kedua anak-anak muda yang berjalan semakin dekat.
“Berbicaralah dengan keduanya.” berkata pedagang yang lain, “agaknya keduanya tidak menakutkan, dan agaknya mereka mempunyai watak yang berbeda dengan yang tiga orang itu, apalagi yang telah terbunuh itu.”
Ketiga pengawal itupun maju selangkah meskipun dengan ragu-ragu.
“Marilah” desis yang lain.
Akhirnya, ketiga pengawal itu memberanikan diri untuk mendekati kedua anak-anak muda itu. Salah seorang dari ketiga pengawal itupun kemudian bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi anak muda?.”
Kedua anak muda itu ter-mangu-mangu sejenak. Dipandanginya ketiga orang bersenjata itu dengan saksama. Lalu salah seorang dari keduanya bertanya, “Apakah kau termasuk salah satu pihak dari orang-orang yang berkelahi itu?.”
“Tidak. Tidak. Aku adalah pengawal kota kecil ini.”
Anak-anak muda itu meng-angguk-angguk. Namun salah seorang di antaranya bertanya, “Kenapa kalian tidak berbuat apa-apa ketika perkelahian itu sedang berlangsung.”
Para pengawal itu saling berpandangan sejenak. Baru kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Apa yang dapat kami lakukan?, Pertempuran itu bagaikan perkelahian antara guntur dan guruh di langit. O. mengerikan sekali.”
“Apakah kalian mengenal salah seorang dari mereka?, Yang terbunuh maupun yang membunuh?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.
Berbareng ketiga orang itu menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak.”
Kedua anak-anak muda itu menarik nafas dalam-calam. Lalu katanya, “Uruslah mayat-mayat itu. Selenggarakan sebaik-baiknya menurut adat yang berlaku meskipun mereka adalah orang-orang yang berilmu hitam.”
“Berilmu hitam?. Apakah artinya?.”
“Mereka yang mencari ilmu pada kekuatan yang gelap, yang melawan dengan segala kemampuan yang ada pada kekuatan yang terpancar dari Yang Maha Agung lewat hambanya yang dipilihnya.”
“Apakah yang lain, yang telah membunuh kelima orang itu juga berilmu hitam?.”
“Mereka tidak mencari ilmu, pada guru yang sama. Tetapi aku tidak tahu, apakah mereka juga mendambakan kekuatan pada unsur-unsur yang hitam seperti itu. Namun, meskipun seseorang mendapatkan ilmunya dengan wajar, dengan latihan-latihan yang tekun, dan mencari petunjuk pada Yang Maha Agung untuk menemukan kemampuan melepaskan tenaga yang tersamar di dalam dirinya sendiri, bukan pada kekuatan-kekuatan gelap dan kelam, namun setelah mereka berhasil, kemudian mempergunakan ilmunya untuk merusak tata peradaban yang apalagi perikemanusiaan, maka iapun termasuk orang-orang yang berhati hitam.”
“Bagaimana dengan ketiga orang itu?” bertanya salah seorang pengawal.
Kedua anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik sikapnya, maka salah seorang dari mereka, bukannya orang yang pantas dikagumi, ia membunuh lawannya dengan cara yang terkutuk. Dengan cara yang dilakukan oleh orang-orang berilmu hitam itu, sehingga iapun sebenarnya dapat disebut orang berhati hitam.” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi aku tidak tahu dengan pasti, bagaimanakah warna hati dua orang yang lain, yang nampaknya memang agak berbeda sifat dan watak dari yang seorang itu.”
Para pengawal itupun termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari anak muda itu berkata, “Sudahlah. Uruslah mayat-mayat itu sebagaimana seharusnya. Amatilah orang-orang yang kau rasa asing didalam kota kecilmu ini. Jika mungkin ketiga orang itu.”
“Apakah kalian akan tetap berada di sini?.”
“Setidak-tidaknya malam nanti aku masih di sini.”
“Dimanakah kalian bermalam?.
“Aku akan datang ke gardumu. Pusat pengawalan kota ini Aku akan berada di sana.”
Para pengawal itu termangu-mangu.
“Jangan takut. Uruslah mayat itu. Jika kawan-kawannya mengetahuinya dan timbul salah sangka, katakanlah kepadaku. Mungkin aku akan dapat memberikan penjelasan, bahwa bukan kalian yang telah membunuhnya.”
“Tetapi kau berdua di mana.”
“Aku berada di sini. He, bukankah kau lihat, aku berada di sini?.”
Pengawal-pengawal itu menjadi bingung. Tetapi mereka tidak bertanya lebih lanjut.
Seorang dari merekapun segera memanggil kawan-kawannya untuk bersama-sama menyingkirkan mayat-mayat itu dan menyelenggarakan sebagaimana seharusnya.
Baru kemudian, setelah mayat-mayat itu dibawa pergi oleh para pengawal, maka mereka yang meninggalkan barang-barangnya di pasar itu pun. mulai berani mendekat. Meskipun ragu-ragu mereka pun segera mengemasi barang-barang yang tersisa. Mereka menduga, bahwa bencana yang lain masih akan meyusul jika kawan-kawan orang yang terbunuh itu akan datang untuk membalas dendam, sementara ketiga orang yang membunuh mereka telah pergi.
Namun dalam pada itu, kedua anak-anak muda itu menimbulkan berbagai dugaan pada orang-orang yang berada dipasar itu. Keduanya adalah anak-anak muda yang berani. Yang memiliki kemampuan yang tinggi dan tingkah lakunya tidak sekasar ketiga orang yang telah membunuh lawannya, apalagi dengan kelima orang yang terbunuh itu.
“Mereka tidak kalah tangkasnya dengan ketiga orang yang telah pergi itu.” berkata seseorang.
“Darimana kau tahu?. Apakah kau mampu menilai perkelahian yang sama sekali tidak dapat ditebak ujung pangkalnya itu.?”
“Tidak. Tetapi keduanya sama sekali tidak takut menghadapi ketiga orang yang telah berhasil membunuh lima lawannya setelah pertempuran melawan orang-orang yang disebutnya berilmu hitam itu berakhir.”
“Ya. Dua orang itu tidak takut melawan tiga orang. Tentu mereka bukan sembarang anak muda. Mengagumkan sekali. Alangkah bangganya orang tuanya.”
Dalam pada itu, seseorang dengan tergesa-gesa bahkan berlari-lari kecil menuju kepasar yang sibuk oleh orang-orang yang sedang mengumpulkan barang-barangnya itu. Ia sama sekali tidak menghiraukan ketika ia berpapasan dengan tiga orang yang tangannya basah oleh darah.
Dengan dada yang berdebaran orang itu langsung menuju kepasar yang kisruh, la masih melihat beberapa orang dengan tergesa gesa membawa barang-barang yang dapat dikumpulkan meninggalkan pasar itu.
“Apa yang sudah terjadi?.” orang itu bertanya, “apakah benar terjadi perkelahian antara beberapa orang didalam kelompok melawan kelompok yang lain?.”
“Ya. Ada pertentangan segi tiga. Lima orang terbunuh.”
Orang itu menjadi semakin gelisah. Dan tanpa bertanya lagi iapun langsung memasuki gerbang pasar itu.
Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat dua orang anak muda yang kemudian berdiri di depan sebuah warung yang mulai menutup pintunya dan mengemasi dagangannya.
“Aku tidak mau mengalami akibat yang lebih buruk lagi jika sekelompok orang lain berkelahi pula di pasar ini” berkata penunggu warung itu.
“Aku kira tidak akan terjadi Lagi.” desis salah seorang dari kedua anak-anak muda itu.
“Siapa tahu. Mereka mendendam kepadamu.” Anak-anak muda itu tertawa.
“Jika terpaksa anak-anak muda saling berkelahi, tetapi jangan di pasar.”
Kedua anak muda itu tidak menyahut.
Sementara itu, orang yang tergesa-gesa memasuki pasar itupun segera mendapatkan kedua anak muda itu yang menyambutnya dengan senyuman yang hambar.
“Kalian tidak apa-apa?.” bertanya orang itu.
“Tidak ayah.” jawab yang seorang dari keduanya.
“Apa yang telah terjadi?.”
Mereka kemudian dengan lancar menceriterakan apa yang telah terjadi dipasar itu. Orang-orang berilmu hitam yang tiba-tiba saja muncul dipasar iru, dan tiga orang yang agaknya sudah mengenal serba sedikit tentang orang-orang berilmu hitam.
“Salah seorang dari mereka menyebut dirinya Mahisa Bungalan ayah.”
“Mahisa Bungalan?, Bukankah kau tahu dengan pasti, apakah ia benar Mahisa Bungalan atau bukan?.”
“Tentu bukan. Aku kira orang itulah yang bernama Linggadadi yang pernah berkelahi dengan kakang Mahisa Bungalan di Kota Raja., “
Orang itu menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Untunglah bahwa kalian tidak terlibat dalam perkelahian melawan ketiga orang itu.”
“Jika mereka menyerang, apa boleh buat.”
“Ya. Tetapi mereka bukan lawan yang dapat dianggap ringan.”
“Memang tidak ayah. Aku tahu. Tetapi kami berdua agaknya akan mampu bertahan sampai ayah datang.”
Orang itu memandang kedua anaknya dengan wajah yang tegang. Namun kemudian ia berkata, “Kau tentu tidak akan dapat memastikannya. Untunglah bahwa tidak terjadi sesuatu atas kalian.” la berhenti sejenak, lalu, “tetapi apakah kalian mengatakan kepada orang yang mengaku bernama Manisa Bungalan itu, bahwa kau berdua adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, adik Mahisa Bungalan dan anak Mahendra”
Hampir berbareng kedua anak muda itu menjawab , “Tentu tidak ayah.”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Untunglah kalian tidak menyebut namaku Lain kali sebaiknya kalian harus lebih berhati-hati. Apalagi jika kalian pergi berdua tanpa ayah.”
“Bukankah ayah berjanji akan segera menyusul kami ke pasar setelah urusan ayah selesai?.”
Mahendra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku menjadi tergesa-gesa ketika aku mendengar kabar bahwa telah terjadi perkelahian di dalam pasar. Antara lima orang, tiga orang dan dua orang anak-anak muda yang telah terlibat. Dan aku sudah menduga, bahwa kalian berdua tentu terlibat di dalamnya.”
“Kami tidak akan dapat tinggal diam ayah.”
“Tetapi sekali lagi aku peringatkan. Hati-hatilah. Dalam persoalan yang tidak jelas, sebaiknya kalian menunggu lebih dahulu.”
“Tetapi kami memang sudah memperhitungkan sebelumnya ayah, bahwa akhir dari peristiwa itu adalah demikian.”
Mahendra menarik nafas. Kemudian katanya, “Marilah. Kita pergi. Mungkin kabar ini akan terdengar oleh orang-orang berilmu hitam. Mereka akan beramai-ramai datang kemari. Kita tidak tahu pasti, dimanakah sarang mereka. Apakah jauh atau dekat. Atau malahan ada di sebelah pasar ini. Tiga orang yang membunuh mereka telah pergi. Kita akan dapat menjadi sasaran kemarahan mereka.”
Kedua anak Mahendra itu mengangguk-angguk.
“Baiklah ayah. Tetapi jika mereka datang, dan mereka tidak menemukan siapapun disini, apakah bukan orang-orang yang tidak tahu menahu inilah yang akan menjadi sasaran?.”
Kita akan mengatakan kepada mereka, bahwa pembunuh orang-orang berilmu hitam itu bernama Linggadadi. Dengan demikian maka orang-orang berilmu hitam itu tentu akan mencari orang yang bernama Linggadadi.”
Kedua anak muda itu tidak menyahut lagi. Karena itulah maka mereka pun kemudian melangkah meninggalkan pasar itu. Diluar regol, Mehendra masih sempat mengatakan kepada beberapa orang, bahwa salah seorang dari pembunuh orang berilmu hitam itu bernama Linggadadi.
“Ya, Linggadadi yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam” desis Mahendra.
Orang-orang di luar regol pasar itu sama sekali belum pernah mendengar nama Linggadadi. Tetapi nama itupun segera menjalar dari mulut kemulut. Tanpa mengerti ujung pangkalnya mereka mengatakan kepada orang-orang lain yang dijumpainya, bahwa telah terjadi perkelahian dan pembunuhan di pasar.
“Yang membunuh lima orang adalah sekelompok orang yang dipimpin oleh Linggadadi, pembunuh, eh maksudku yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam.” berkata seseorang kepada kawannya.
“Apakah ilmu itu mempunyai warna?, Selain yang hitam, apakah ada yang merah, hijau dan yang lain?.” bertanya seorang kawannya.
Yang mendapat pertanyaan itu hanya mengerutkan dahinya saja tanpa dapat menjawab sama sekali.
Tetapi seorang yang sudah tua yang dikenal sebagai seorang bekas prajurit menyahut, “Anak-anak muda yang bodoh. Yang disebut ilmu hitam adalah ilmu yang dibayangi oleh kekuatan yang buruk. Kekuatan roh-roh jahat dan hantu-hantu. Sedangkan ilmu putih adalah ilmu yang datang dari kuasa Yang Maha Agung.”
Yang mendengarkan penjelasan itu mengangguk-angguk. Dan bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Jadi yang terbunuh itu adalah mereka yang mendapat kekuatan dari roh-roh jahat?.”
“Ya.“
“Jadi bagaimanakah akibatnya jika roh-roh jahat itu mengamuk?.”
“Roh-roh jahat, betapapun besar kekuatan dan Kuasanya, namun tidak akan dapat melawan kekuatan dan kuasa Yang Maha Agung.”
Yang mendengar keterangan itu menarik nafas dalam-dalam.
Dengan demikian, maka dalam waktu yang singkat, berita kematian orang-orang berilmu hitam itu pun segera tersebar diantara penghuni kota kecil itu. Bahkan sampai ke padesan-padesan di sekitar nya. Setiap hari berita itu menjalar semakin jauh. Bahkan lebih cepat dari perjalanan seorang perantau yang menyusuri jalan-jalan di bulak-bulak panjang.
Tetapi di samping berita yang disebarkan oleh Mahendra itu, ternyata tersebar pula berita yang lain. Ternyata satu dua orang mendengar, Linggadadi menyebut dirinya Mahisa Bungalan, sehingga di samping Linggadadi, maka tersebar pula berita, bahwa yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu adalah Mahisa Bungalan yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.
Dengan demikian maka berita yang kemudian sampai ke tempat yang jauh adalah, bahwa Linggadadi bersama Mahisa Bungalan telah melawan orang-orang berilmu hitam dan membunuh lima orang dari antara mereka.
Dalam pada itu. ternyata Mahendra dan kedua anak-anaknya pun tidak terlalu lama berada di kota kecil itu. Pada hari itu juga, Mahendra menyelesaikan semua persoalan-persoalan yang menyangkut perjalanan dagangnya.
“Kota ini tidak aman lagi” berkata Mahendra kepada orang-orang yang berurusan dengannya, “aku akan segera kembali”
“Kapan lagi kau datang?.” Bertanya salah seorang dari langganannya.
“Aku tidak dapat mengatakannya. Sebenarnya sekarang ini akupun tidak ingin kemari. Tetapi anak-anakku lah yang telah memaksaku. Mereka aku bawa ke Kota Raja. Tetapi mereka tidak puas sebelum mereka melihat kota-kota lain betapapun kecilnya. Di sini mereka telah melihat peristiwa yang mengerikan.”
“Tetapi persoalan itu tentu tidak akan berkepanjangan.” berkata orang itu, “kami mengharap kedatanganmu dengan batu jamrut. Ada orang kaya raya memerlukannya. Sedang orang yang lain lagi memesan batu akik Mata Kucing, tetapi berwarna ungu seperti akik Kumbang Laras.”
“Ah, mana ada akik serupa itu.”
“Ia pernah melihatnya. Karena itu, jika kau menemukannya, ia ingin membeli berapa saja harganya, atau ditukar dengan emas dalam bobot yang kau minta.”
“Baik, baik” jawab Mahendra,, “tetapi aku masih harus bertanya-tanya tentang keselamatan nyawaku disini.”
“Bukankah kau tidak berurusan dengan orang-orang berilmu hitam itu atau dengan pembunuh-pembunuhnya.”
Mahendra menarik nafas. Kawnnya itu memang belum mengerti bahwa orang yang disebut bernama Mahisa Bungalan itu adalah anaknya, yang mau tidak mau tentu akan menyangkut dirinya.
Tetapi di dalam urusan dengan kawan-kawannya tentang barang-barang dagangan serupa itu, Mahendra tidak prenah menyatakan dirinya sebagai seorang yang memiliki ilmu yang dapat dijadikannya kebanggaan. Bagi kawan-kawannya ia tidak lebih dari seorang pedagang barang-barang yang khusus, wesi aji, batu-batu berharga dan permata. Meskipun kadang-kadang Mahendra juga membawa barang-barang lain yang dipesan oleh kawan-kawannya di kota-kota kecil itu.
Demikianlah, maka Mahendra pun kemudian membawa kedua anak-anaknya meninggalkan kota kecil itu. Seperti yang dikatakannya, sebenarnya ia sama sekali tidak akan datang kekota terpencil itu. Tetapi anak-anaknya mendesaknya untuk melihat bagian-bagian lain dari Singasari. Sehingga akhirnya mereka justru melihat peristiwa yang sama sekali tidak diduganya.
“Jika Mahisa Bungalan yang menjumpai peristiwa ini akibatnya tentu lain” desis Mahendra diperjalanan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang ayahnya sejenak. Desis ayahnya itu sangat menarik perhatian mereka, sehingga Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Kenapa jika kakang Mahisa Bungalan yang menjumpai peristiwa ini?.”
“Kakakmu tentu tidak hanya akan berhadapan dengan orang-orang berilmu hitam. Di Kota Raja ia sudah bertempur melawan orang berilmu hitam dan sekaligus terlibat dalam persoalan dengan Linggadadi. Dengan demikian, maka peristiwa, itu tentu akan terulang, jika ia bertemu dengan kedua pihak. itu sekaligus di sini.”
“Jika benar orang itu Linggadadi ayah, agaknya ia memang orang yang kasar, yang aku kira tidak banyak bedanya dengan orang-orang berilmu hitam. Tetapi seorang yang lain, yang agaknya mempunyai pengaruh yang kuat atas Linggadadi mempunyai sifat-sifat yang agak berbeda.”
“Tetapi pada dasarnya, mereka bukan orang-orang berilmu hitam.” jawab ayahnya.
Kedua anaknya meng-angguk-angguk. Mereka masih berpacu meninggalkan kota kecil yang baru saja diguncang oleh peristiwa yang mengerikan itu.
“Aku akan singgah di Kota Raja sebentar” berkata Mahendra. Mudah-mudahan kita dapat mencapainya hari ini. Besok pagi-pagi kita meneruskan perjalanan pulang.” berkata ayahnya.
“Kenapa singgah di Kota Raja?” bertanya Mahisa Pukat, “lebih baik kita melalui jalan lain. Jalan yang.belum pernah aku lihat”
“Ah kau ini Aku mempunyai keperluan di Kota Raja. Bukankah kau mendengar’, bahwa ada seseorang yang memerlukan jamrut yang baik dan akik Mata Kucing tetapi berwarna ungu seperti akik Kumbang Laras.”
“Ah ayah selalu memikirkan dagangan ayah saja. Sekali-sekali kita melupakannya dan bertamasya melalui jalan-jalan yang belum pernah kita lihat. Tidak ada salahnya jika kita bertemu dengan orang-orang berilmu hitam yang agaknya memang tersebar di-mana-mana.”
Mahendra. mengerutkan keningnya?. Tetapi iapun kemudian tersenyum, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bukankah dengan demikian ayah dapat melengkapi kebutuhan kita sekeluarga. Kadang-kadang ayah harus pergi berhari-hari. Bahkan sampai sebulan atau dua bulan jika tugas memanggil. Terutama dari istana Singasari, Jika pada kesempatan seperti ini ayah tidak menabung barang sedikit, maka pada suatu saat, keluarga kita akan kehabisan kebutuhan hidup sehari-hari.”
“Kita mempunyai sawah ayah.”
“Tetapi kita tidak sekedar makan hasil sawah. Kita perlu barang-barang kebutuhan yang lain. Pakaian dan kadang-kadang juga perhiasan sedikit-sedikit. Bagi isi rumah kita dan bagi kita masing-masing.”
“Tetapi paman Witantra sempat melakukan pengembaraan yang jauh lebih panjang dari ayah.”
“Ada bedanya anak-anak. Pamanmu Witantra diam di sebuah padepokan. Ia tidak mempunyai kebutuhan yang banyak seperti kita. Keluarganya adalah keluarga kecil. Jika ada beberapa orang dipadepokannya, maka mereka adalah orang-orang yg bekerja di sawah dan ladang, yang seolah-olah telah mencari makan bagi mereka sendiri. Tetapi kau tahu, tidak ada orang lain kecuali paman dan bibimu. Sedangkan mereka sama sekali tidak mempunyai kebutuhan seperti kalian dan kakakmu Mahisa Bungalan. Mereka tidak pernah memerlukan kain lurik hijau lumut Kamus dan timang bermata berlian. Keris dengan pendok emas bersalut intan. Mereka juga tidak memerlukan kuda yang berbulu dawuk. Tetapi kemudian setelah jemu, harus diganti dengan yang berbulu merah tembaga.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tidak anak-anak. Mereka hidup dengan yang mereka punyai sehari-hari. Kuda mereka adalah kuda yang tegar dan kuat, apapun warna bulunya.”
“Tetapi kuda putih itu?.”
“Tentu karena ada gunanya, kenapa dahulu pamanmu memerlukan kuda berbulu putih. Tidak hanya seekor. Tetapi beberapa ekor.”
“Untuk membuat ceritera tentang Satria Putih.” desis Mahisa Murti.
“Ya.”
“Ayah” tiba-tiba saja Mahisa Pukat memotong, “apakah salahnya jika sekarang lahir lagi Satria Putih untuk menghadapi orang-orang berilmu hitam. Bukan untuk membayangi pemerintahan yang ada sekarang, karena agaknya tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka dapat memerintah dengan bijaksana, meskipun mereka masih cukup muda.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya , “Aku belum dapat mengatakannya, apakah hal itu pantas dilakukan atau tidak, Tetapi sudah tentu bahwa untuk melahirkan Satria Putih, masih harus dipikirkan masak-masak, untung dan ruginya.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Ayah selalu memperhitungkan untung dan rugi dalam segala hal.”
Wajah Mahendra menegang, Tetapi iapun kemudian tertawa. Katanya, “Kau aneh Pukat. Bukankah setiap langkah harus diperhitungkan sebaiknya?, Bukan hanya dalam masalah jual beli saja kita memperhitungkan untung dan rugi. Tetapi di segala persoalan meskipun yang disebut untung dan rugi itu bukan selalu berwujud uang dan untuk kepentingan diri, tetapi untuk kepentingan tindakan itu sendiri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi.
“Tetapi baiklah aku akan membicarakannya dengan ke dua pamanmu yang kini sedang mengadakan perjalanan dengan Mahisa Bungalan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Dari tatapan mata mereka berbesit kekecewaan. Bahkan kemudian Mahisa Murti bertanya , “Jika demikian, maka kapan kira-kira ayah dapat bertemu dengan paman Mahisa Agni dan paman Witantra?.”
“Aku belum dapat mengatakan Murti. Tetapi tentu secepatnya setelah mereka kembali.”
“Tetapi kapan mereka akan kembali?.” Desis Mahisa Pukat.
Mahendra menarik nafas. Katanya kemudian, “Kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa menghadapi masalah yang gawat ini, karena persoalannya akan menyangkut ketenteraman seluruh Singasari. Sudah tentu akan memerlukan tanggung jawab yang berat. Nama Kesatria Putih sampai saat ini masih tetap dihargai. Jika kita gagal memerankannya, maka nama yang baik itu akan segera surut. Dan akhirnya nama Kesatria Putih itu akan lenyap dari hati rakyat Singasari. Bahkan akan meninggalkan bekas yang buram dalam ingatan mereka.”
Kedua anak Mahendra itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka dapat mengerti penjelasan ayahnya itu, sehingga mereka tidak menyinggung lagi persoalan Satria Putih.
Sementara itu kuda mereka masih tetap berpacu. Sekali-kali mereka harus berhenti memberi kesempatan kuda mereka untuk minum dan makan. Demikian juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memerlukan untuk beristirahat dan sekedar makan di tengah perjalanan.
Ketika mereka memasuki sebuah warung di pinggir jalan, maka mereka sudah mendengar, orang-orang di dalam warung itu mempercakapkan peristiwa yang telah terjadi di kota kecil yang mereka tinggalkan. Namun ketiga orang itu sama sekali tidak menyahut. Mereka hanya sekedar mendengarkannya tanpa menanggapinya. Ketika sekali-sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir tidak dapat menahan diri lagi, karena ceritera tentang kematian orang-orang berilmu hitam itu benar-benar sudah menyimpang jauh dari kenyataan yang diketahuinya, ayahnya selalu menggamitnya.
“Tetapi yang dikatakan itu sama sekali tidak benar ayah.” bisik Mahisa Murti.
Mahendra hanya mengedipkan matanya saja.
Kedua anak muda itu menarik nafas. Adalah tidak benar sama sekali, bahwa orang-orang itu menyebut seolah-olah Mahisa Bungalan bersama Linggadadi dan seorang yang tidak dikenal bersama-sama bertempur melawan orang-orang berilmu hitam. Ceritera itu sama sekali tidak menyebut peristiwa yang telah terjadi, sehingga mereka yang mendengarnya mendapat gambaran yang salah sama sekali. Mereka menyangka bahwa Mahisa Bungalan dan Linggadadi adalah dua orang yang bersama-sama melakukan petualangan untuk membasmi orang-orang berilmu hitam.
“Itu sudah lumrah.” berbisik Mahendra, “tidak ada kabar yang beredar dari mulut kemulut itu dapat tepat meng gambarkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Pada umumnya kabar yang demikian tentu menyimpang jauh dari kebenarannya.”
“Tetapi hal itu dapat menimbulkan prasangka yang buruk bagi kakang Mahisa Bungalan, seolah-olah ia adalah kawan dari Linggadadi. Jika benar orang yang membunuh orang berilmu hitam itu Linggadadi, maka tidak sepantasnya kakang Mahisa Bungalan dihubung-hubungkan dengan orang itu, meskipun hanya namanya.”
“Kenapa?.”
“Cara orang itu membunuh lawannya adalah memuakkan sekali. Bahkan kawannya yang sebenarnya telah mengumpatinya.”
Mahendra meng-angguk-angguk. Tetapi katanya, “Biarlah pada suatu saat mereka mendengar berita yang lain tentang Mahisa Bungalan. Tetapi bukan oleh kita sekarang.”
Kedua anak-anaknya tidak menjawab lagi. Mereka kemudian sibuk dengan mangkuk masing-masing. Minuman hangat dan nasi panas, setelah mereka menempuh perjalanan yang jauh dan masih akan meneruskan perjalanan itu untuk sehari penuh.
Namun kadang-kadang mereka masih harus menahan hati jika ceritera yang mereka dengar benar-benar membuat dada mereka bagai meledak.
“Mudah2an orang-orang berilmu hitam itu tidak sampai kemari” desis salah seorang dari mereka yang ada di warung itu.
“Seandainya mereka datang juga kemari, kita berdoa agar Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang kedua-duanya bergelar pembunuh orang berilmu hitam itu datang juga kemari.”
“Tentu mereka selalu membayangi orang-orang berilmu hitam.”
“Tetapi mereka hanya bertiga. Sedang orang berilmu hitam itu berjumlah banyak sekali. Sudah barang tentu bahwa pada suatu saat, orang berilmu hitam itu dapat mencari kesempatan untuk memanjakan kebuasannya.”
“Ssssst.” desis seorang yang duduk di sudut, “jangan menyebut-nyebut mereka lagi. Apalagi dengan sebutan-sebutan yang buruk. Jika ada kaki tangan mereka yang mendengar, maka kita semua akan celaka.”
“O” nampaknya beberapa orang menyesali keterlanjurannya. Bahkan beberapa orang di antara mereka memandangi Mahisa Murti kakak beradik dan ayahnya yang sedang menikmati makan dan minuman masing-masing.
Tetapi Mahisa Pukat tidak mampu lagi menahan gejolak di dadanya. Tiba-tiba saja ia mengambil sebuah pisang raja. Sambil mengupas ia bergumam seolah-olah kepada diri sendiri, “Aku kupas kulitmu seperti aku mengupas kulit orang-orang gila.”
Kata-kata itu ternyata telah menghentak setiap jantung. Bahkan Mahendra terkejut pula karenanya sedangkan Mahisa Murti menahan tertawanya.
Beberapa orang yang ada di warung itupun kemudian tidak berani lagi menatap ketiga orang yang sedang berada pula di antara mereka. Namun demikian, kadang-kadang keinginan yang tidak tertahan telah mendesak mereka untuk seolah-olah mengintip wajah-wajah yang tidak mereka kenal itu. Dengan sudut mata mereka mencoba melihat, apakah yang mereka dengar itu benar-benar telah terlontar dari mulut salah seorang dari ketiga orang asing itu.
Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri tertawa, sementara wajah Mahendra menjadi tegang.
Meskipun Mahendra tahu, bahwa Mahisa Pukat dengan sengaja ingin menakut-nakuti orang-orang yang ada didalam warung itu, namun permainannya agaknya cukup berbahaya. Bukan karena kemungkinan bahwa seseorang akan memusuhi mereka, tetapi dengan demikian ia telah membuat sekian banyak orang dicengkam oleh ketakutan yang dapat berakibat buruk bagi mereka.
Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Pukat, maka orang-orang di dalam warung itu menjadi ketakutan karenanya. Mereka juga sudah mendengar bahwa orang-orang berilmu hitam sering mempergunakan istilah-istilah yang menakutkan seperti yang diucapkan oleh Mahisa Pukat itu. Mengelupas kulit seperti mengelupas kulit pisang.
“Jangan menakut-nakuti mereka Pukat.” desis Mahendra. Mahisa Pukat masih tersenyum.
“Kau tahu, bahwa dengan demikian kau telah menyebarkan ketakutan di antara mereka?, Mungkin kau tidak menyangka bahwa yang kau lakukan itu akan menimbulkan akibat yang parah. Mungkin orang-orang itu menjadi ketakutan, dan di antara mereka tidak merasa tenteram lagi tinggal di rumahnya. Dengan demikian maka mereka akan menyingkir dari rumahnya untuk mencari ketenteraman.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ia mencoba membayangkan kata-kata ayahnya. Wajahnya yang mula-mula nampak gembira karena permainannya yang berhasil, berubah perlahan-lahan dengan kerut-merut di kening.
“Mereka akan menjadi ketakutan. Seperti kata ayah, keluarga mereka akan ketakutan pula, sehingga mereka terpaksa mengungsi.” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya, “dan sudah barang tentu keadaan itu akibatnya sangat buruk bagi mereka.”
Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya. Dan ia tidak melihat cara yang baik untuk menariknya kembali.
“Apakah aku harus mengaku bernama Mahisa Bungalan atau Linggadadi?.” ia bertanya kepada ayahnya sambit berbisik.
“Sudahlah. Tetapi jangan kau ulang lagi. Jika untuk beberapa hari tidak terjadi sesuatu di sini, maka mereka akan mulai melupakannya.”
“Tetapi jika terjadi sesuatu, mereka akan mengingat kembali bahwa aku pernah mengatakan kata-kata itu di hadapan mereka di sini.”
Mahendra menggelengkan kepalanya, katanya, “Sudahlah. Tetapi hati-hati lah untuk lain kali.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah kakaknya, ia melihat kesan yang sama seperti di dalam hatinya sendiri.
Sejenak kemudian, maka ketiganya pun minta diri. Setelah mereka menghitung jumlah harga makan dan minum yang telah mereka habiskan, maka Mahendra pun mengambil uang dari kampil kecilnya.
“Sudahlah Ki Sanak” berkata penjual di warung itu, “yang Ki Sanak makan dan minum tidak seberapa harganya, Ki Sanak tidak usah membayarnya.”
“Kenapa?.” Mahendra menjadi heran. Namun ia pun kemudian segera mengetahui, bahwa penjual itu tentu menjadi ketakutan pula seperti beberapa orang yang lain tentang dirinya dan kedua anak-anaknya.
“Mahisa Pukat lelah membuat mereka ketakutan.” katanya di dalam hati. Namun yang dikatakannya kepada penjual itu adalah, “Ki Sanak. Harga barang-barang daganganmu seluruhnya tidak begitu banyak. Jika aku tidak membayar, maka kau akan rugi karenanya.”
“Tidak, tidak Ki Sanak. Sebagian yang aku jual adalah hasil sawah dan kebunku sendiri.” jawab orang itu.
Tetapi Mahendra menggelengkan kepalanya, “Pergunakan untuk membeli bahan-bahan mentah atau katakanlah untuk membelikan mainan buat anak-anakmu.”
Penjual itu masih akan menjawab, tetapi Mahendra telah meletakkan uangnya sambil berdiri diikuti oleh kedua anaknya.
“Kami minta diri.” berkata Mahendra, “perjalanan kami masih jauh.”
Penjual di warung itu menjadi termangu-mangu. Rasa-rasanya tidak sesuai jika ketiga orang itu termasuk di antara mereka yang berilmu hitam. Wajah mereka, tingkah laku dan sifat mereka sama sekali tidak mencerminkan keliaran dan kekasaran orang-orang berilmu hitam.
Ketika Mahendra dan kedua anaknya meninggalkan warung itu dan berpacu menjauh meskipun tidak begitu cepat, maka penjual itu menarik nafas sambil berkata, “Sungguh aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah aku hadapi sekarang ini.”
Orang-orang yang lainpun menjadi bimbang pula karenanya. Tetapi sebagian dari mereka masih tetap merasa ketakutan.
Dengan ragu-ragu penjual di warung itu mengambil uang yang ditinggalkan oleh Mahendra. Ia menjadi semakin heran ketika ia menghitungnya. Ternyata jumlah uang itu lebih banyak dari yang seharusnya.
“Aku menjadi semakin tidak mengerti.” gumam penjual makanan dan minuman itu.
Beberapa orang yang ada didalam warung itu pun menjadi heran pula. Seorang yang berkumis lebat bergumam, “Mereka tentu bukan orang-orang berilmu hitam yang sering mengelupas kulit korbannya. Hanya kebetulan saja salah seorang dari mereka mengucapkan kata-kata yang mirip dengan kebiasaan orang berilmu hitam.”
Penjual itu mengangguk-angguk.
“Mungkin. Memang mungkin sekali.” gumamnya.
Dalam pada itu, maka Mahendra dan kedua orang anak-anaknya itu masih saja menjadi pusat pembicaraan. Namun pada umumnya mereka berkesimpulan, bahwa ketiganya adalah orang yang baik yang secara kebetulan saja mengucapkan kata-kata yang mendirikan bulu roma, justru di luar sadarnya.
Namun mereka tidak tahu, bahwa Mahisa Pukat sengaja mengucapkannya untuk melepaskan gejolak di dalam dadanya ketika ia mendengar orang-orang di warung itu sekali-kali menyebut peristiwa yang pernah terjadi di pasar dalam kota kecil itu, tetapi sudah jauh menyimpang dari kenyataan yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu, ketika debar jantung orang yang berada di warung itu mulai mereda, sekali lagi mereka dikejutkan oleh kehadiran tiga orang berkuda yang tidak mereka kenal, Salah seorang dari merekapun kemudian turun dan memasuki warung itu.
“Ki Sanak.” berkata orang itu , “aku ingin bertanya sesuatu. Siapakah penjual di warung ini?.”
Pertanyaan itu benar-benar mendebarkan. Tetapi semua orang yang ada di dalam warung itu serentak memandang kepada pemiliknya.
Pemilik warung itu tidak dapat ingkar lagi. Dengan ragu-ragu ia menjawab , “Aku, aku Ki Sanak.”
Orang yang baru masuk kedalam warung itu mengangguk-angguk.
“Jadi kau pemilik warung ini?.”
“Ya Ki Sanak.”
“Apakah kau melihat pada hari ini tiga orang berkuda melalui jalan ini?.”
Penjual itu menjadi ragu-ragu. Ia sadar bahwa yang dimaksudkan tentu tiga orang yang tadi singgah di warungnya. Namun ia masih bertanya, “Tiga orang yang bagaimana Ki Sanak. Baru saja lewat seiring orang-orang berkuda.”
“Ke arah ini?.” orang itu bertanya sambil menunjuk kearah ia berkuda.
“O. tidak Ki Sanak. Mereka pergi kearah kota. Ki Sanak tentu berjumpa dengan mereka di perjalanan.”
“O bukan mereka. Yang aku cari adalah tiga orang yang pada hari ini telah meninggalkan kota kecil itu.”
Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ada prasangka yang kurang baik, justru kepada ketiga orang yang baru saja datang. Menilik sikap dan tatapan mata mereka, maka ketiga orang ini agak berbeda dengan ketiga orang yang baru meninggalkan warungnya
“Ketiga orang yang terdahulu nampaknya orang baik-baik. Apalagi dua orang yang masih muda itu agaknya anak-anak muda yang berhati bersih dan jujur. Pandangan matanya yang cerah dan tidak berprasangka.” berkata penjual itu di dalam hatinya.
“He, kenapa kau menjadi bingung” tiba-tiba saja orang itu membentak
Pemilik warung itu terkejut. Dengan serta merta ia mea jawab., “Tidak Ki Sanak. Aku tidak melihatnya. Aku memang sedang mencoba mengingat-ingat apakah ada tiga orang yang lewat. Tetapi agaknya tidak ada. Mungkin ia mengambil jalan lain, atau kebetulan saja aku tidak melihat mereka.”
Beberapa orang yang ada di dalam warung itu menjadi berdebar-debar. Tetapi di dalam hati mereka sependapat dengan jawaban pemilik warung itu, sehingga ketika orang asing itu memandang mereka seorang demi seorang, tidak ada di antara mereka yang memberikan keterangan yang berbeda, atau dengan sengaja mengatakan sesuatu tentang Mahendra dan ke dua anak-anaknya.
Bahkan ketika orang itu bertanya kepada mereka, apakah ada di antara mereka yang melihat, maka orang-orang yang ada di dalam warung itu menggelengkan kepalanya.
Sejenak orang itu termangu-mangu. Kemudian ia pergi mendapatkan kawan-kawannya yang masih tetap berada di punggung kuda.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar