Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 23-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-23-01
“Baiklah,” berkata Mahisa Agni, “orang yang memiliki tanda ajaib diatas ubun-ubunnya itu adalah ayahandamu. Sri Rajasa yang pada masa mudanya bernama Ken Arok, dan yang setelah menempatkan dirinya sebagai raja Singasari. Ia bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“O,” Anusapati mengerutkan keningnya.

“Tidak ada seorang-pun yang mengetahui darimana Sri Rajasa menemukan kelebihan yang bersumber dari kekuasaan Yang Maha Agung itu. Namun dapat dipercaya bahwa ia menerima suatu anugerah yang jarang diterima oleh orang lain sejak kanak-anaknya. Karena itulah maka Ken Arok memiliki kemampuan melampaui kemampuan manusia biasa tanpa berguru kepada siapa-pun juga, karena kemampuan itu langsung berasal dari sumbernya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa ayahandamu adalah manusia biasa. Manusia dengan segala macam nafsu kemanusiaannya. Yang dapat kau lihat dengan jelas, bagaimana ia jatuh dibawah pengaruh Ken Umang, karena Ken Umang adalah seorang perempuan yang cantik menurut ukuran manusia. Dan ayahandamu Sri Rajasa tidak mampu memisahkan kelebihannya sebagai manusia biasa dan kehadirannya dengan sifat-sifat manusiawi yang wajar.”

Anusapati menjadi tegang sejenak.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau sudah menjadi seorang ayah, sehingga kau harus juga berpikir dewasa. Karena itu, kau harus menanggapi setiap persoalan dengan dewasa pula.”

Anusapati menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Berbanggalah bahwa kau adalah seorang putera dari Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah yang harus berbangga paman. Aku atau Adinda Tohjaya?”

“Kau dan adindamu Tohjaya. Juga Mahisa Wonga Teleng dan adik-adikmu yang lain yang lahir dari ibunda Ken Dedes dan yang lahir dari ibunda Ken Umang.”

“Ya paman. Kami memang harus berbangga. Tetapi apakah arti dari kebanggaan kami bahwa kami hidup dalam keadaan yang tidak sejalan. Aku sendiri selalu berada di dalam keadaan yang pahit dan hampir setiap tarikan nafas, aku harus berhati-hati, waspada dan menjaga diri karena setiap tarikan nafas, aku selalu dibayangi oleh bahaya seperti yang paman katakan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah segi-segi kehidupan yang penuh dengan rahasia, yang hampir tidak dapat dimengerti oleh seseorang. Tetapi bukankah kau sampai saat ini berhasil menghadapinya dengan tabah.”

Anusapati mengangguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku hampir tidak dapat mempercayainya bahwa aku akan dapat bertahan terus dalam keadaan seperti ini. Seperti pesan paman, aku bukan sekedar mempertahankan kedudukan. Tetapi juga nama ibunda Permaisuri. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku akan mampu melakukannya. Aku berada di istana Singasari, sedang istana ini bagaikan perapian yang setiap saat dapat membakar aku. Aku tidak mengerti paman. Hampir-hampir aku tidak percaya bahwa aku adalah putera Ayahanda Sri Rajasa seperti Adinda Tohjaya.”

“Anusapati,” desis Mahisa Agni.

“Tetapi tidak seorang-pun yang dapat mendengar pertanyaan yang selalu bergejolak di dalam hati ini. Semakin aku mendalami kehidupan ini dalam segala segi dan bentuknya, semakin aku menjadi ragu-ragu.”

“Jangan berpikir demikian Anusapati.”

“Pamanda Mahisa Agni,” berkata Anusapati kemudian, “jika aku tidak takut menyinggung perasaan Ibunda Permaisuri, aku ingin bertanya, apatah ada sesuatu yang mendahului peristiwa kelahiranku sehingga Ayahanda Sri Rajasa menganggap aku sebagai seorang asing saja disini, bahkan kadang-kadang tampak sekali sikapnya yang memusuhi aku.”

“Jangan Anusapati. Jangan kau tanyakan hal itu kepada Ibunda Permaisuri. Hal itu tentu akan menyinggung perasaannya, seolah-olah kau tidak percaya kepada ibunda bahwa ibunda telah tersentuh oleh persoalan yang membuat ayahandamu bersikap lain kepadamu.”

Anusapati menundukkan kepalanya. Tetapi sebenarnyalah bahwa hatinya sedang diusik oleh pertanyaan tentang masa kelahirannya atau bahkan sebelumnya. Sebagai seorang yang telah dewasa sepenuhnya. Anusapati mengetahui, bahwa hubungan seorang suami dengan isterinya dipengaruhi oleh banyak sekali persoalan-persoalan yang kadang-kadang di luar sadar, tumbuh semakin mekar. Demikian juga agaknya persoalan dirinya sendiri yang telah membuat jurang yang semakin dalam di dalam hubungan ayah dan ibunya.

Namun Anusapati-pun mengerti, pertanyaan itu pasti akan sangat menyinggung perasaan ibunya, sebagai seorang Permaisuri dan sebagai seorang isteri.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “persoalan yang kau hadapi harus kau tumpukan kepada dirimu sendiri. Kau harus bertahan. Kau harus tetap pada kedudukanmu. Jika sesuatu keadaan masih juga ingin memaksamu, maka kau wajib membela diri. Disini ada seorang pengalaman yang dapat membantumu.”

“Paman Sumekar?”

“Ya. Orang dari Batil itu akan merupakan seorang pembantu yang baik. Ia akan selalu mendampingi kau dalam segala keadaan. Ketahuilah, bahwa kematangan ilmunya dapat kau yakini meskipun ia masih belum berhasil menyamai kakak seperguruannya Kuda Sempana. Namun di dalam saat-saat yang gawat, ia akan dapat berbuat banyak untukmu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Juru taman itu adalah orang yang sangat baik baginya.

“Namun demikian Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “jika pada suatu saat semuanya tidak dapat kau atasi dengan kemampuanmu, maka kau mempunyai sarana yang barangkali dapat melindungimu.”

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Bukankah aku sudah berbicara tentang sebuah Trisula yang sampai saat ini turun temurun dari tangan ke tangan. Dari seorang guru kepada muridnya yang paling dipercaya?”

“Maksud paman?”

“Anusapati. Aku adalah murid satu-satunya dari guruku. Dan guruku adalah kakekmu, ayah dari ibunda Permaisuri. Kau tahu, bahwa ibundamu adalah adik angkatku?”

“Ya paman.”

“Ia sudah seperti adikku sendiri karena selain anak angkat aku juga sebagai murid satu-satunya. Itulah sebabnya aku menerima warisan yang turun temurun itu.”

“Trisula yang paman katakan?”

“Ya. Aku sudah menerima sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kemampuan manusia. Tidak ada Empu yang bagaimana-pun saktinya dapat membuat senjata serupa itu. Empu Gandring yang terbunuh, pamanku itu-pun tidak akan dapat membuatnya.”

“Karena trisula itu berasal bukan dari kemampuan manusia wantah,” desis Anusapati.

“Ya. Dan trisula itu ada padaku sekarang.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dan ia masih mendengar pamannya berkata, “Ada dua keajaiban di padepokan Panawijen saat itu.”

“Dua keajaiban?”

“Ya. Selain kelebihan pandangan Empu Purwa, kakekmu, di Panawijen ada dua keajaiban yang tidak terdapat di manapun. Yang pertama, saat itu, adalah seorang gadis yang cantik yang memiliki cahaya yang aneh dari dalam dirinya. Cahaya yang memberikan pertanda bahwa gadis itu adalah gadis yang lain dari gadis-gadis sebayanya.”

“Maksud paman memiliki cahaya kemerah-merahan seperti yang pamanda katakan? Seperti yang terdapat pada Ayahanda Sri Rajasa?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Anusapati. Cahaya ini agak berlainan. Cahaya ini adalah cahaya yang bening yang memancar dari tubuh gadis itu. Bahkan kadang-kadang oleh mata hati yang waspada, cahaya itu tampak bagaikan api yang menyala.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Dan yang kedua adalah trisula yang sekarang ada padaku.”

“Tetapi siapakah gadis itu paman?”

“Gadis itu sekarang sudah mempunyai cucu. Ia adalah ibundamu, Ken Dedes.”

Terasa tengkuk Anusapati meremang.

“Di sinilah pertanda itu seakan-akan bertemu. Pertanda yang ada di atas ubun-ubun Sri Rajasa, dan pertanda yang aneh pada ibundamu. Namun yang aku dengar, seorang perempuan yang memiliki tanda-tanda ajaib semacam itu adalah perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar dikemudian hari.”

“O,” Anusapati semakin terikat kepada ceritera pamannya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “keturunan dari perempuan itu adalah kau. Kau adalah anak laki-lakinya yang tertua. Sedang Tohjaya tidak dilahirkan oleh seorang perempuan yang memiliki ciri-ciri keajaiban seperti ibumu. Karena itu, apabila Singasari ingin meneruskan ikatan persatuan diseluruh tanah ini, keturunan Ken Dedes lah yang harus memegang pemerintahan.”

Anusapati tidak menyahut.

“Itulah sebabnya aku ingin kau bertahan. Bukan karena nafsu kekuasaan yang menyala di dalam hatimu, tetapi justru untuk kepentingan Singasari ini.”

Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat membayangkan maksud pamannya yang sebenarnya. Dan ia-pun sadar, apa yang sebaiknya dilakukan.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya berdiam diri. Meskipun nampak keragu-raguan di wajah Anusapati, namun ia mempercayai ceritera pamannya. Ia ragu-ragu bahwa apakah ia mampu melakukan tanggung jawab yang akan dibebankan di pundaknya.

“Yang ada adalah pertanda itu lebih dahulu. Barulah tanggung jawab itu ada padaku,” berkata Anusapati kepada diri sendiri, “ibundalah yang akan menurunkan raja-raja yang akan memerintah dinegeri ini. Bukan akulah yang tampil untuk mengangkat ibunda Permaisuri sebagai seorang perempuan yang akan menurunkan raja-raja di tanah ini.”

Namun demikian Anusapati sadar, bahwa segalanya tidak akan berlangsung dengan sendirinya. Meskipun pertanda itu memancar seterang matahari, namun tanpa usaha apa-pun juga, semua itu tidak akan berlaku.

“Dan aku adalah seorang yang dibebani tanggung jawab bahwa pertanda itu akan berlaku,” berkata Anusapati pula di dalam hatinya.

Mahisa Agni yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu tiba-tiba mengangguk-angguk. Apa-pun yang terjadi, maka tidak akan ada jalan lain baginya untuk menyerahkan keselamatan Anusapati terutama pada diri sendiri.

Karena itu, meskipun ia dicengkam oleh keragu-raguan maka akhirnya ia-pun berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Aku akan menyerahkan trisula itu kepadamu. Kau adalah satu-satunya muridku. Dan aku percaya kepadamu, bahwa kau mengerti arti dari penyerahan ini, kau harus melanjutkan pengabdian perguruan yang temurun kepadaku dari Empu Purwa itu. Pengabdian bagi sesama manusia. Kau harus mencoba berbuat sejauh-jauh dapat kau lakukan untuk menyerahkan pengabdianmu tanpa pamrih. Tentu saja tidak ada pengabdian yang mutlak. Tetapi keseimbangan antara pamrih dan pengabdian itu jangan sampai berat sebelah. Kau harus mampu menimbang baik dan buruk berlandaskan pada kehadiran diri dengan kepercayaan sepenuhnya kepada Penciptanya.”

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apakah arti dari penyerahan itu sebenarnya paman. Paman sudah mengatakan, bahwa trisula itu merupakan ujung keseimbangan yang lain dari kelebihan Ayahanda Sri Rajasa. Ayahanda Sri Rajasa yang tidak terkalahkan itu akan menjadi silau memandang trisula itu. Dan apakah artinya, jika trisula itu akan jatuh ketanganku?”

Pertanyaan itu tidak terduga-duga sebelumnya. Namun sangat wajar diucapkan oleh Anusapati yang mempunyai perasaan cukup peka. Ia sadar, bahwa dengan demikian, ia telah dihadapkan sebagai ujung keseimbangan antara cahaya yang kemerah-merahan di ubun-ubun ken Arok itu dengan cahaya trisula yang menyilaukannya.

Sejenak Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang suram. Kemudian dengan sangat hati-hati ia berkata, “Anusapati. Memang banyak arti dapat diambil dari keadaan itu. Namun sama sekali tidak mustahil bahwa apa yang terjadi itu-pun sekedar arus yang memang sudah dipersiapkan oleh keharusan yang akan berlaku. Aku tidak tahu apa yang .akan terjadi Anusapati. Tetapi gejala-gejala yang tampak adalah kemungkinan dari tanda-tanda yang diberikan kepada seorang gadis yang bernama Ken Dedes. Pertanda bahwa ia akan menurunkan seorang Maharaja yang paling besar dalam sejarah negeri ini semakin lama menjadi semakin kabur. Aku juga tidak tahu, apakah pertanda yang pernah ada itu kini telah pudar pula, dan tidak berlaku abadi. Namun pertanda kembar yang ada di Padepokan Panawijen yang satu lagi adalah trisula ini. Apakah kedua Pertanda keajaiban kembar itu harus berkumpul agar yang akan terjadi itu terjadi.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Paman Mahisa Agni. Apakah aku akan sanggup menerimanya justru aku adalah putera Sri Rajasa? Jika aku orang lain sama sekali, maka persoalannya-pun akan berbeda. Jika aku putera ibunda Ken Dedes yang memiliki tanda keagungan itu dan sekaligus memiliki sebuah trisula yang memiliki ujung keseimbangan bagi cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok, tetapi aku bukan putera Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabumi itu, maka tidak akan ada persoalan bagiku. Aku tahu pasti, apa yang harus aku kerjakan, jika Sri Rajasa itu berusaha memotong keharusan yang berlaku sesuai dengan pertanda yang ada pada ibunda. Aku tahu pasti, bahwa aku harus melenyapkan orang itu, meskipun jika dengan demikian akan lenyap pula ujung-ujung keseimbangan yang lain itu. Tetapi keturunan Ken Dedes yang lain akan bangkit dan berlakulah yang seharusnya berlaku. Ken Dedes menurunkan seorang Maharaja yang besar. Tetapi yang ada sekarang adalah, Ken Dedes itu adalah Permaisuri Sri Rajasa, sedang aku adalah putera yang lahir dari perkawinan itu, yang seharusnya padaku ada kesempatan rangkap untuk kedudukan yang tidak ada bandingnya itu. Tetapi kini aku-pun sadar, bahwa putera ibunda Ken Dedes bukan hanya Anusapati pula.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Sekilas terbayang wajah Tunggul Ametung. Ayah Anusapati yang sebenarnya. Tetapi jika ia mengatakannya, maka mungkin anak muda itu akan mengalami kejutan yang luar biasa, sehingga menimbulkan goncangan-angan yang dapat mengganggu keseimbangannya.

Karena untuk beberapa lamanya Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak lagi berbicara dengan anak-anak, tetapi dengan seorang yang telah dewasa sepenuhnya, dan yang menghadapi hidupnya dengan sikap dewasa pula.

Namun dengan demikian terbersit pikiran pada Mahisa Agni, justru karena ia menganggap Anusapati sudah dewasa. “Apakah aku dapat mengatakan yang sebenarnya? Jika untuk seterusnya ada sesuatu yang masih harus disembunyikan, maka apakah hal itu tidak justru merupakan bayangan hitam yang selalu menghantuinya?”

Tetapi setelah mempertimbangkan untung ruginya, maka Mahisa Agni mengambil kesimpulan, bahwa ia masih akan tetap berdiam diri.

“Mungkin pada suatu saat aku harus mengatakannya,” katanya didalam hati, “tetapi aku masih belum sanggup untuk melakukannya sekarang.”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun berkata kepada Anusapati, “Anusapati. Sebaiknya kau tidak berpikir terlampau jauh. Jika kau memiliki trisula sebagai ujung keseimbangan dari kelebihan kodrati yang ada pada ayahandamu, itu bukan berarti bahwa keduanya harus saling berbenturan. Jika keseimbangan yang sudah ada ini tidak terguncang, maka tidak diperlukan keseimbangan lain yang akan berakibat sebaliknya dari keseimbangan yang ada sekarang; Satu hal yang harus kau ingat, bahwa sebagai pemegang ujung keseimbangan, yang lain kau tidak boleh mulai lebih dahulu menggoncang keseimbangan yang sudah ada. Kau tahu maksudku? Hanya dalam keadaan yang memang memaksa saja kau boleh berusaha mempergunakan benda itu. Hanya dalam keadaan yang memaksa.”

Anusapati masih menundukkan kepalanya sambil merenung. Bahkan ia berkata, “Aku mengerti paman. Menurut perhitungan paman akan sampai saatnya bahwa Ayahanda Sri Rajasa benar-benar kehilangan kendali. Karena itu, pada suatu saat dapat terjadi ayahanda akan melakukan kekerasan untuk memaksakan keinginannya menyingkirkan aku dan menempatkan Tohjaya di atas kedudukanku.”

Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Tetapi ia tidak dapat ingkar, sehingga karena itu ia menganggukkan kepalanya.

“Paman,” berkata Anusapati kemudian, “kenapa paman tidak berkata kepadaku, bahwa apa-pun yang terjadi atasku aku harus tunduk kepada ayahanda? Kenapa paman tidak mengajari aku sekali ini untuk pasrah? Paman, manakah yang lebih baik. Aku pergi dari kedudukanku sekarang atau aku harus berani melawan orang tua? Apakah kira-kira ibunda Ken Dedes akan memilih, agar aku bertahan sebagai Putera Mahkota untuk kebesaran nama ibunda Permaisuri atau aku harus tunduk dan tidak melawan ayahanda sendiri? Bukankah paman dan ibunda dan orang-orang tua mengajarkan agar aku takut dan bakti kepada orang tua. Dan apakah arti dari perlawanan dan memantapkan keseimbangan yang goyah?”

Pertanyaan yang mengalir beruntun itu benar-benar telah membuat Mahisa Agni menjadi bingung. Sehingga kembali ia tersudut pada suatu hasrat untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya.

Namun sekali lagi berusaha mengurungkannya. Bahkan kemudian katanya, “Anusapati. Memang sulit untuk mengatakannya. Tetapi baiklah. Simpan sajalah trisula itu. Jika kau merasa perlu mempergunakan, pergunakanlah. Jika tidak, maka aku pesan kepadamu, jangan sampai trisula itu jatuh ketangan orang lain.”

“Tetapi pesan itu sangat membingungkan aku paman,” bertanya Anusapati, “aku masih memerlukan bantuan paman untuk mendapatkan ketegasan. Dengan secara kasar dapat aku tanyakan kepada paman, mana yang sebaiknya aku lakukan, jika pada suatu saat benar-benar Ayahanda Sri Rajasa mengusir aku? Apakah aku akan bertahan dengan kekerasan, atau aku harus menunjukkan baktiku kepada Ayahanda Sri Rajasa? Bahkan lebih jauh lagi aku menangkap arti, bagaimanakah jika ayahanda ingin membunuh aku? Jika ayahanda tidak mempergunakan tangan sendiri, maka aku akan dapat membela diri dan membunuh orang yang diperintahkan oleh ayahanda itu, misalnya Kiai Kisi atau orang-orang lain nanti. Tetapi jika pada suatu saat, ayahanda sendiri datang kepadaku, dan minta hidup matiku, apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

“Anusapati, aku telah menyerahkan trisula itu kepadamu. Aku kira kau tahu artinya.”

“Jadi, menurut paman aku harus berani melawan orang tua dan bahkan membunuhnya?”

“Aku tidak mengatakan begitu Anusapati. Yang aku persoalkan adalah Anusapati dengan Sri Rajasa. Bukan anak terhadap orang tuanya.”

“Paman membuat aku bertambah bingung. Apakah bedanya Anusapati dengan Sri Rajasa dan seorang anak dengan ayahnya?”

“Seorang ayah tidak akan berbuat demikian terhadap anaknya.”

“Maksud paman Sri Rajasa bukan ayahku?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Namun ia masih menjawab, “Anusapati. Memang mungkin ada hubungan jasmaniah antara seorang anak dengan ayahandanya. Memang mungkin seseorang lahir karena adanya orang lain yang menitikkan keturunannya. Tetapi anak dan ayah bukan sekedar tetesan darah yang mengalir dari seseorang keorang lain. Itu adalah sekedar lahir karena nafsu semata-mata. bukan karena kasih yang pasti akan temurun.”

“O, aku menjadi pening paman. Aku tahu kelahiranku bukan karena kasih antara Ayahanda Sri Rajasa dan ibunda Permaisuri seperti tercermin sekarang ini. Ayahanda lebih banyak berada di sisi ibunda Ken Umang. Mungkin ibunda waktu itu masih muda.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Hampir ia kehilangan jalan untuk menghindari pengakuan bahwa memang Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Tetapi untuk sementara, biarlah Anusapati menganggap hal itulah yang terjadi. Bagaimana-pun juga hal itu masih merupakan pengendalian sikap dari Anusapati, sehingga keseganan dan baktinya kepada orang tuanya masih mempengaruhi nuraninya.

Jika Anusapati terlepas sama sekali dari pengaruh itu dan ia mengerti dengan pasti bahwa Sri Rajasa bukan ayahandanya, maka ia akan dapat bersikap lain. Ia akan dapat berbuat jauh lebih kasar dari apa yang akan dilakukannya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “yang terjadi biarlah terjadi. Tetapi yang akan datang adalah hari-hari yang penuh dengan harapan bagi anak-anak muda seperti kau. Bukalah hatimu untuk menerima pusaka peninggalan kakekmu itu. Namun seperti pesan yang aku terima, pusaka itu bukan senjata. Jangan dipergunakan apabila tidak terpaksa sekali.”

“Baiklah paman,” berkata Anusapati, “aku akan mencoba menerima pusaka itu dan aku akan mencoba mengetrapkan semua pesan paman, sekaligus aku ingin mencoba menjadi seorang anak yang baik.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menaruh harapan, bahwa Anusapati tidak akan menyalah artikan pesan-pesannya itu.

Demikianlah maka pusaka kecil itu kemudian berada di tangan Anusapati. Seperti pada saat Mahisa Agni menerimanya, maka terasa sesuatu telah membebani perasaannya. Namun lambat laun perasaan itu menjadi pudar, dan hampir tidak ada persoalan lagi yang bergejolak didalam hatinya.

“Pusaka itu dapat dianggap tidak ada padaku,” berkata Anusapati, “aku hanya sekedar menyimpannya.”

Namun kadang-kadang timbul juga perasaan yang lain, “dengan pusaka itu aku dapat mengimbangi kelebihan Ayahanda Sri Rajasa. Kenapa paman Mahisa Agni menyerahkan pusaka itu padaku dalam keadaan seperti ini? Apakah ini suatu pertanda bahwa aku diperintahkannya untuk membunuh-ayahanda?”

Tetapi setiap kali Anusapati berkesempatan bertemu dengan Mahisa Agni, maka pesan Mahisa Agni sama sekali-tidak sejalan dengan dugaannya itu. Bahkan lambat laun terasa betapa lunaknya sikap Mahisa Agni terhadap Ayahanda Sri Rajasa itu.

“Memang kadang-kadang Mahisa Agni masih selalu diganggu oleh pusaka itu. Kadang-kadang timbul juga penyesalan dihatinya. Apakah pusaka itu tidak berarti suatu dorongan pada Anusapati untuk melakukan suatu tindakan yang tidak diharapkannya. Mahisa Agni memberikan pusaka itu semata-mata agar Anusapati dapat melindungi dirinya. Bukan untuk menghancurkan.”

Meskipiun Anusapati tidak menampakkan perubahan pada sikapnya sehari-hari, namun sebenarnya ia masih juga selalu dibebani oleh perasaannya yang gelisah.

Bahkan pada suatu saat, Anusapati tidak lagi dapat menahan diri. Ia tidak akan mendapat penyelesaian jika ia masih harus selalu bertanya-tanya pada diri sendiri.

Karena itu, maka betapa-pun beratnya, ia telah memaksa dirinya menghadap ibunda permaisuri yang tampaknya menjadi semakin tua.

“Kenapa wajahmu tampak begitu suram Anusapati?” bertanya Ken Dedes.

Anusapati menundukkan kepalanya. Sekali-sekali ia mencoba memandang ibunya, ia tidak pernah melihat cahaya yang dikatakan oleh Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak melihat nyala pada tubuh ibunya, sebagai pertanda bahwa Ken Dedes akan menurunkan Maharaja yang akan berkuasa ditanah ini.

Melihat kerut merut di kening ibunya, Anusapati menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati menambah kerut-merut itu, karena pertanyaan-pertanyaannya. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya ia hanya berdiam diri saja.

Ternyata bahwa ibunya, Ken Dedes, adalah seorang ibu yang memiliki ketajaman pandangan atas puteranya. Meskipun Anusapati tidak mengatakan apa-pun juga, namun ibunyalah yang bertanya, “Anusapati, apakah kau masih juga selalu dibelit oleh kegelisahan tentang dirimu sendiri?”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Aku melihat pada sorot matamu yang buram.”

Akhirnya Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Memang kadang-kadang hati ini menjadi kalut ibunda. Hamba tidak tahu apakah sebenarnya yang telah terjadi atas diri hamba ini.”

“Kau masih dipengaruhi oleh perasaan anak-anak. Kau bukan anak-anak lagi Anusapati. Kau sudah menjadi seorang ayah. Anakmu sudah menjadi semakin besar, dan karena itu. Kau-pun harus semakin masak menghadapi kenyataan ini.”

“Hamba berusaha ibu. Tetapi hamba adalah seorang manusia yang lemah, yang tidak memiliki kelebihan apa-pun dari manusia yang lain kecuali sedikit olah kanuragan. Itulah agaknya hamba kadang-kadang selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tentang diri hamba sendiri dan tentang Adinda Tohjaya. Bahkan kemudian tentang diri ibunda Permaisuri dengan ibunda Ken Umang.”

“Ah,” Ken Dedes berdesis, “itu adalah perasaan yang harus kau sisihkan. Aku juga mendengar bahwa Tohjaya mengeluh, bahwa kaulah yang mendapat perhatian terlampau besar dari ayahandamu Sri Rajasa. Kenapa bukan Tohjaya.”

Anusapati menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia pernah mendengar jawaban ibunya serupa itu pula dahulu ketika ia masih belum dewasa sepenuhnya. Dan kini ia sudah bukan anak muda lagi yang tentu dapat menimbang lebih cermat jawaban ibunya.

Meskipun Anusapati tahu, bahwa jawaban ibunya itu sekedar untuk menenteramkan hatinya, namun Anusapati tidak membantah. Bahkan ia-pun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.

Namun ia terkejut ketika ia mendengar ibunya terisak. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya ibunda Permaisuri itu mengusap matanya yang basah.

“Maaf ibu,” berkata Anusapati dengan suara bergetar, “bukan maksud hamba membuat ibu bersedih.”

“Tidak Anusapati. Kau tidak bersalah. Dan aku-pun tidak menjadi bersedih karenanya. Memang kadang-kadang sebuah kenangan masa lampau membuat hati ini sedikit bergetar. Tetapi aku akan segera dapat melupakan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Meskipun demikian air mata yg membasahi pelupuk Ken Dedes itu menumbuhkan persoalan pula di dalam hatinya, seperti yang memang telah membelit hatinya. Apakah, yang pernah terjadi atas ibunya menjelang kehadirannya di muka bumi ini? Apakah ada persoalan yang sampai saat ini masih menjadi rahasia baginya?

Tetapi untuk tidak menambah beban perasaan ibunya Anusapati tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan ketika air mata ibunya telah kering, ia mohon diri meninggalkan bangsal Permaisuri itu.

“Anusapati,” berkata ibundanya, “bawalah anakmu sering kemari. Biarlah ia bermain dengan paman-pamannya disini.”

“Hamba ibunda. Biarlah anak itu sering menghadap ibunda kemari.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun matanya yang kemudian menjadi basah lagi telah memaksa Anusapati bergegas-gegas meninggalkannya agar tidak tumbuh berbagai persoalan yang lain.

Sepeninggal Anusapati, Ken Dedes masuk kedalam biliknya. Sambil menelungkup dipembaringan, Permaisuri itu menangis. Kini ia merasa sendiri didalam biliknya itu. Emban tua yang mengawaninya dari Panawijen telah tidak ada lagi. Sri Rajasa hampir tidak pernah lagi menjenguknya sehingga istana Singasari yang megah itu kini menjadi sangat sepi baginya.

Hidup Permaisuri itu kini semata-mata diperuntukkan bagi putera-puteranya. Ken Dedes sudah tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Yang menjadi persoalan baginya adalah keturunannya. Terutama Anusapati.

“Apakah Anusapati benar-benar akan dapat menggantikan kedudukan Sri Rajasa?” masalah itulah yang setiap kait menggetarkan hatinya.

Namun agaknya Sri Rajasa tidak bersungguh-sungguh dengan kehormatan yang diberikan kepada Anusapati untuk menduduki jabatannya yang sekarang. Ternyata setiap kali kedudukan itu telah diguncang-guncang. Meskipun kadang-kadang Anusapati sendiri berusaha menutupi apa yang pernah terjadi atasnya, namun Ken Dedes dapat juga mendengar, bahwa Anusapati telah terancam, bukan saja kedudukannya, tetapi juga jiwanya.

Sekilas terbayang ayah Anusapati yang sudah terbunuh. Yang akhirnya diketahuinya, bahwa Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa itulah yang telah membunuhnya, karena kadang-kadang diluar sadarnya, kata-kata Ken Arok sendiri memberikan kesan yang demikian.

“Aku telah kena kutuk dari Yang Maha Agung,” berkata Ken Dedes kemudian. Ia merasa bersalah, bahwa sejak Akuwu Tunggul Ametung masih hidup, betapa-pun ia menyembunyikan di dalam hatinya, tetapi ia sendiri mengetahuinya, bahwa ia sudah tertarik pada seorang anak muda yang bernama Ken Arok, yang telah berhasil membuat sebuah telaga buatan di Padang Karautan. Telaga yang sekarang hampir tidak pernah dilihatnya lagi.

Dan kutuk itu agaknya telah membuatnya berprihatin sampai hari tuanya. Bahkan anak-anaknya.

Tiba-tiba terbersit sesuatu di dalam hatinya, “Apakah pada suatu saat aku tidak akan mengatakannya kepada Anusapati?”

Tiba-tiba Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “Itu tidak baik. Anak itu akan mengalami kejutan perasaan. Dan anak itu akan kehilangan kepercayaan kepada siapa-pun juga.”

Namun setiap kali Ken Dedes tidak dapat menghalau kenyataan yang berlaku, bahwa Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu sama sekali tidak menghiraukan lagi kepada Anusapati. Bahkan dengan segala daya upaya berusaha untuk menyingkirkannya. Tetapi tidak semata-mata agar namanya tetap terpelihara sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.

“Dahulu ia berhasil menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, menjerumuskan Kebo Ijo dan bahkan sudah pasti, membunuh Empu Gandring pula,” berkata Ken Dedes didalam hatinya, “tentu pada suatu saat ia akan dapat menyingkirkan Anusapati dengan cara itu pula.”

Ken Dedes hampir menjerit untuk melepaskan himpitan perasaannya ketika ia sampai di simpang jalan. Seakan-akan ia harus memilih salah satu dari jalan yang bercabang itu. Yang satu adalah anaknya, Anusapati, sedang yang lain adalah suaminya, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, Maharaja yang berkuasa di Singasari.

Tetapi pilihan itu adalah pilihan yang paling rumit di dalam hidupnya, justru setelah Ken Dedes menemukan nilai-nilai dari hubungan yang dalam antara dirinya dengan keduanya. Dan karena itulah maka Ken Dedes tidak akan dapat segera menemukan pilihan yang sebaik-baiknya.

Dan untuk beberapa lama Anusapati-pun masih berhasil menahan perasaannya. Betapa berat himpitan yang seakan-akan menekan isi dadanya, namun sekali-sekali dapat juga dilepaskannya dalam pakaian putihnya diatas kuda putih. Kadang-kadang ia berpacu ditengah malam menembus gelap menyusur dari desa yang satu kedesa yang lain, dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Bukan saja untuk menemukan kejahatan yang harus dibasminya, namun kadang-kadang ia ingin mendapatkan tempat yang paling mapan untuk mesu diri dan mematangkan ilmunya. Kadang-kadang ia dikawani oleh Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra. Tetapi kadang-kadang Mahisa Agni sendirilah yang pergi bersamanya. Diam-diam ia keluar dari istananya di Kediri pada hari-hari tertentu dan berusaha menjumpai Anusapati. Mahisa Agni dapat saja berpesan kepada hambanya, bahwa dihari berikutnya ia akan samadi di sanggarnya. Tidak boleh seorang-pun yang mengganggunya sebelum ia keluar atas kehendaknya sendiri, sedang di luar istana Witantra atau Mahendra telah menyediakan seekor kuda baginya.

Namun hal itu semakin lama semakin jarang dilakukannya. Kejahatan-pun semakin lama menjadi semakin menurun, sehingga akhirnya Singasari benar-benar menjadi sesuatu negeri yang aman dan tenteram. Semuanya berkembang seperti yang diharapkan. Pertanian yang semakin luas, perguruan dalam olah kejiwan dan kanuragan. Bidang kerpajuritan yang semakin sempurna dan pemerintahan yang berjalan lancar.

Meskipun demikian, di dalam kedamaian itulah, bahaya justru semakin mengancam Anusapati. Tohjaya yang mewarisi cara-cara ayahandanya, berusaha mempengaruhi setiap Panglima pasukan yang ada. Dengan segala cara yang semakin lama menjadi semakin kencang.

“Tuanku tidak akan dapat menunggu lebih lama lagi,” berkata penasehat Sri Rajasa kepada Tohjaya, “semakin lama pengaruh tuanku Anusapati rasanya menjadi semakin kuat sehingga pengaruh itu harus segera dihentikan.”

“Ya,” Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi ayahanda tidak dapat secepat rencana kita. Bagiku tidak ada keberatannya, jika tiba-tiba saja Kakanda Anusapati dibunuh. Apakah salahnya? Agaknya ayahanda, masih sayang juga kepadanya. Meskipun seakan-akan ayahanda tidak berkeberatan pula untuk menyingkirkannya, namun jika hal itu benar-benar akan kita lakukan, ada-ada saja keberatan ayahanda.”

“Tetapi ternyata bukan karena ayahanda masih sayang kepada tuanku Putera Mahkota, tetapi ayahanda belum melihat kesempatan yang sebaik-baiknya. Rakyat Singasari ternyata menganggap bahwa Anusapati adalah seorang kesatria yang paling berjasa bagi mereka.”

“Omong kosong. Jika ia sudah mati, tidak akan ada lagi yang mengharap perlindungannya. Mereka pasti akan mengharap perlindungan kita yang masih hidup.”

“Tetapi, jika cara yang kita tempuh terlampau kasar, sehingga diketahui oleh rakyat Singasari, maka kita akan mengalami kesulitan. Itulah yang menjadi perhitungan terutama bagi Ayahanda Sri Rajasa.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia tidak sabar menunggu dan menunggu. Jika akhirnya gagal, maka kekecewaan yang mencengkam hatinya pasti akan berlipat ganda.

Dalam pada itu, Anusapati sendiri telah menenggelamkan waktunya untuk menempa diri. Setiap saat yang terluang dipergunakannya untuk mematangkan ilmunya. Kadang-kadang dibawanya adiknya Mahisa Wonga Teleng. Dan kadang-kadang mereka-pun pergi dengan anak-anak mereka, yang semakin lama tumbuh menjadi semakin besar. Mereka tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampaknya memiliki kelebihan dari anak-anak kebanyakan.

Bagaimana-pun juga, darah Ken Dedes, yang memiliki tanda-tanda keajaiban sebagai seorang perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar, nampak pada kedua anak laki-laki itu.

Demikianlah kehidupan keluarga Sri Rajasa, meskipun di saat-saat tertentu tampak utuh, namun sebenarnya sama sekali tidak lagi bertaut yang satu dengan yang lain. Didalam kebesaran Singasari yang tampak bulat itu, terdapat sebuah rongga yang semakin lama menjadi semakin besar. Sehingga pada suatu saat akan memecahkan kulitnya.

Dalam pada itu, Sumekar yang sudah terlanjur terlibat didalam persoalan itu, terlebih-lebih lagi tidak pernah dapat melepaskan diri lagi. Semakin lama ia-pun sebenarnya menjadi semakin cemas. Seakan-akan ia melihat lingkaran yang semakin lama menjadi semakin sempit, sehingga pada suatu saat, lingkaran itu akan membelit di leher Putera Mahkota itu.

Dan Sumekar-pun tidak pula tinggal diam. Setiap kali ia selalu memperingatkan kepada Putera Mahkota agar ia berhati-hati.

Namun akhirnya, Sumekar semakin terpukau lagi oleh persoalan itu ketika tanpa disengaja, dimalam hari ia melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak-gerak di dekat bangsal Putera Mahkota, justru selagi Putera Mahkota keluar dari istana di atas kuda putihnya.

“Licik,” desis Sumekar, “mereka akan mulai dari orang-orang yang sama sekali tidak tahu menahu. Bukankah isteri tuanku Anusapati dan puteranya itu tidak dapat dilibatkan dalam persoalan ini?”

Karena itu, maka Sumekar-pun dengan diam-diam pula telah mencoba membayangi orang yang mencurigakan itu. Namun ia berusaha untuk menghilangkan kemungkinan dirinya dapat dikenal. Karena itu maka ia-pun telah mengenakan pakaian dan kerudung hitam seperti yang pernah dipakainya.

Tetapi ternyata tidak terlalu mudah untuk membayangi orang itu. Ia sudah kehilangan jejak disaat pertama kali ia mencoba mengikutinya. Karena selagi ia mengenakan pakaian hitamnya, dan kembali kebangsal itu, bayangan yang dicarinya sudah lenyap seakan-akan begitu saja menguap seperti asap.

Namun Sumekar tidak segera berputus asa. Bahkan hampir setiap malam ia mengawasi rumah itu, terutama jika Putera Mahkota tidak ada di rumah.

“Aku harus meyakinkan penglihatanku lebih dahulu sebelum aku mengatakannya kepada tuanku Putera Mahkota,” berkata Sumekar didalam hatinya.

Akhirnya usahanya itu-pun berhasil. Ketika Putera Mahkota sedang tidak ada di rumah, maka Sumekar yang mengawasi bangsal itu dari kejauhan melihat sebuah bayangan yang mendekati bangsal itu dengan hati-hati.

“Apakah yang akan dilakukannya?” pertanyaan itulah yang mencengkamnya.

Dengan hati-hati sekali Sumekar mencoba mendekat. Namun ia tidak berani terlalu dekat dengan bayangan itu. Sumekar masih belum mengetahui kemampuan dan ketajaman indera orang itu. Sehingga karena itulah maka Sumekar hanya dapat mengawasinya dari kejauhan.

Sumekar menjadi terpukau ketika ia melihat orang itu mendekati lampu minyak yang tergantung di serambi belakang.

Setelah orang itu menunggu sejenak, dan menganggap bahwa tidak ada orang yang melihatnya, maka orang itu-pun segera menghampiri lampu itu dengan membakar sesuatu.

Sejenak Sumekar dicengkam oleh ketegangan. Apalagi ketika sejenak kemudian ia mencium bau yang sangat wangi menusuk hidungnya.

“Tentu bau yang ditaburkan oleh benda yang baru saja dibakar itu,” berkata Sumekar kepada diri sendiri.

Ternyata benda yang sudah terbakar itu-pun kemudian dibawa melingkari bangsal dan diletakkannya disudut sebelah kanan, tepat pada bilik isteri Putera Mahkota.

“Apakah maksudnya?” Sumekar bertanya-tanya didalam hati.

Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Dibiarkannya orang yang membakar benda itu pergi meninggalkan bangsal.

Untuk beberapa saat lamanya, Sumekar masih bersembunyi sambil mengawasi benda yang sudah menjadi abu. Namun baunya masih tetap menusuk hidung untuk waktu yang agak lama.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...