Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 14-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 14-01*

Karya.    : SH Mintardja

Prajurit-prajurit yang bertugas di pintu-pintu gerbang kota menjadi bukan saja berlipat jumlahnya, tetapi juga kekuatannya.

Di setiap pintu gerbang ditugaskan satu atau dua orang Senapati yang mampu mengatasi kesulitan apabila timbul setiap saat. Senapati yang memiliki kemampuan tempur yang tinggi dan dapat dipercaya.

“Setiap orang yang lewat di pintu gerbang harus mendapat mengawasan yang seksama meskipun tidak perlu seorang demi seorang dihentikan dan diberi bermacam-macam pertanyaan.” perintah para pemimpin di Singasari.

Dengan demikian, meskipun nampaknya Singasari tetap tenang, namun bagi para prajurit, rasa-rasanya Singasari telah menjadi semakin hangat oleh peristiwa yang menimpa kedua anak-anak Manendra.

Dalam pada itu, ketiga orang yang melarikan diri pada saat beberapa orang prajurit sedang mendekati arena perkelahian itu, sempat menghindarkan diri dari penglihatan mereka.

Dengan tangkas mereka berlari melintasi pagar dan dinding batu. Menyeberangi halaman dan jalan-jalan sempit di dalam pedukuhan. Akhirnya ketiganya seolah-olah telah hilang dari antara orang-orang yang kebingungan melihat tingkah laku mereka.

“Kita bersembunyi lebih dahulu.” berkata yang tertua.

Kedua orang yang lain menggeram. Dengan tergesa-gesa mereka memasuki sebuah halaman sempit yang rimbun dan kotor.

“Kita menunggu sampai kita mendapat kesempatan untuk lolos ke luar kota.” berkata yang tertua pula.

Dengan nafas terengah-engah mereka mengetuk pintu rumah bambu di tengah-tengah halaman yang kotor itu.

“Siapa?” terdengar suara dari dalam.

Ketiga orang yang di luar tidak usah menjawab. Mereka mengetuk pintu rumah itu sekali lagi dengan hitungan yang sudah mereka setujui sebelumnya. Dua-dua tiga kali ganda.

Pintu itu pun kemudian terbuka. Seorang tua yang bertubuh kurus menjengukkan kepalanya.

“Marilah. Kalian cepat datang.”

Ketiganya tidak menjawab. Mereka pun kemudian menyusup masuk ke dalam rumah itu.

Salah seorang dari ketiga orang itu menghentakkan kakinya sambil berkata, “Gila. Kami menemukan dua orang anak muda yang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa.”

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya orang yang bertubuh kurus itu.

“Kami ingin menimbulkan kekacauan, ketakutan dan kesan bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka bukan orang-orang yang pantas ditakuti.”

“Apa yang kalian lakukan?”

“Maksud kami, kami akan membunuh siapa pun dan melemparkannya ke jalan kota.”

Orang bertubuh kurus itu mengangguk-angguk.

“Tetapi kami telah gagal.”

“Kenapa?”

Orang tertua dari ketiga orang yang gagal itu pun menceriterakan pengalaman pahit yang baru saja dialaminya bersama kedua kawan-kawannya.

“Ternyata kedua anak itu adalah anak Mahendra.”

“Anak Mahendra?”

“Ya.”

Orang bertubuh kurus itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian memang sial. Meskipun aku belum melihat, tetapi anak Mahendra itu tentu memiliki sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk melindungi dirinya. Apalagi ternyata kalian adalah orang-orang yang mudah dibayangi oleh kecemasan yang tumbuh dari diri kalian sendiri.”

“Maksudmu?”

“Tentu nama Mahendra telah membuat kalian ketakutan dan kehilangan keberanian untuk bertempur seterusnya.”

“Sama sekali tidak. Nama Mahendra telah membakar niat kami untuk membunuh anaknya, karena kami tahu, bahwa Mahendra adalah salah seorang dari mereka yang ikut memimpin perlawanan terhadap tuanku Tohjaya.”

Tetapi orang bertubuh kuius itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kalian dapat bersembunyi di sini untuk satu atau dua hari. Tetapi kemudian kalian tidak harus menunjukkan kepadaku, yang manakah anak-anak muda yang kalian maksud itu.”

“Mereka bukan anak kota ini. Mereka anak-anak padesan yang pergi kekota karena ayahnya ikut menyelenggarakan jenazah Ken Dedes.”

“Tetapi anak itu tentu akan berjalan-jalan di dalam kota meskipun pada saat yang lain ia akan diiringi oleh beberapa orang pengwal. Atau dibawa oleh ayahnya sendiri.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku belum tahu.”

“Kau tidak perlu bersusah payah mencari anak-anak itu di dalam kota ini. Jika kau memang berkepentingan, kau dapat mencari ke rumahnya. Bukankah kau dapat menemukan padukuhan Mahendra? Kau tentu dapat menemukan anak-anak itu di sana beberapa hari lagi, satelah mereka kembali.”

Orang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Kalian akan aku bawa berjalan-jalan berganti-ganti. Jika kita bertemu dengan anak-anak itu, kalian harus memberitahukan kepadaku. Mungkin aku tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi mungkin akan tumbuh rencanaku yang lain.”

“Apakah kau merasa bahwa dirimu mampu mengimbangi kemampuan Mahendra?”

“Aku tidak mengatakan begitu. Aku hanya mengatakan, bahwa aku ingin melihat kedua anak-anak itu.”

“Baiklah.” jawab orang tertua dari ketiga orang itu, “Kami akan membawamu berjalan-jalan. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dengan anak itu di sepanjang jalan kota. Tetapi jika tidak, maka kau dapat mencarinya di padukuhan tempat tinggalnya. Itu bukan pekerjaan yang sulit.”

Orang bertubuh kurus itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kota ini memang sudah terlampau lama terasa tenang dan damai, seolah-olah setelah tata pemerintahan berpindah dari tangan tuanku Tohjaya ketangan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, keadaan menjadi semakin baik. Aku sependapat bahwa kesan ini harus berubah. Singasari harus tetap kisruh dan kehilangan pengaruh bagi rakyat dan daerah-daerahnya yang terpencar.”

Ketiga orang yang bersembunyi di rumah orang bertubuh kurus itu tidak menjawab lagi. Mereka tidak dapat mengingkari, bahwa dalam beberapa hal, orang itu memiliki kelebihan dari pada mereka.

“Sekarang, kalian tidur sajalah.” berkata orang itu.

“Kau mau kemana?”

Orang bertubuh kurus itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku adalah penghuni rumah ini. Karena itu aku akan turun ke halaman dan membersihkannya.”

Orang yang kurus itu pun segera turun ke halaman dengan sebuah sapu lidi di tangannya.

Ia berjalan terbungkuk-bungkuk ke regol ketika ia melihat beberapa orang lewat.

“Kalian mencari apa anak-anak?” bertanya orang kurus itu.

“Apakah ada tiga orang yang lewat jalan ini?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Tiga orang? Orang-orang muda atau sudah tua?”

“Kami tidak melihatnya. Tetapi ada orang yang mengatakan kepada kami, bahwa ada tiga orang yang mencurigakan memasuki daerah ini.”

“Siapakah mereka menurut kata orang tadi?”

“Orang itu juga tidak mengetahuinya. Tetapi beberapa orang lewat mengatakan, bahwa baru saja ada keributan. Dua orang anak-anak muda telah berkelahi melawan tiga orang yang dengan tiba-tiba saja menyerang mereka tanpa sebab.”

“O.” orang kurus yang tiba-tiba menjadi terbungkuk-bungkuk itu mengangguk-angguk, “Jadi tiga orang itu dicurigai karena ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang-orang yang berkelahi itu? Bukankah begitu?”

“Ya. Barangkali begitu.”

“Sayang. Sejak tadi aku membersihkan halaman. Tetapi aku tidak melihat seorang pun lewat.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah mereka melalui jalan ini?”

“Kami tidak melihatnya. Hanya suatu kemungkinan. Tiga orang itu lari dari arena dan hilang begitu saja.”

Orang yang bertubuh kurus itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika nanti aku melihatnya, biarlah aku hentikan mereka dan aku akan membawa kepada kalian.”

Beberapa, orang di antara orang-orang yang lewat itu tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Jangan Kek,nanti kau akan dicekiknya sampai mati.”

“Uh, kenapa aku akan dicekiknya? Apa salahku?”

Orang-orang itu. tidak menanggapinya lagi. Mereka berjalan terus menyusuri jalan sempit itu dengan berbagai macam senjata di tangan masing-masing.

Namun dalam pada itu, orang bertubuh kurus itu mengerti bahwa berita tentang perkelahian itu sudah tersebar ke seluruh kota. Sehingga dengan demikian ketiga orang itu memang harus menjadi sangat berhati-hati.

Karena itu, maka ia pun segera masuk kembali ke dalam rumahnya dan menemui ketiga orang yang sedang berbaring di ruang belakang.

“Kalian sedang dicari.” berkata orang berubuh kurus itu.

“Siapa yang mencari kami?” bertanya yang tertua di antara ketiga orang itu.

“Anak-anak muda padukuhan ini.”

Ketiga orang itu tertawa. Salah seorang berkata, “Apakah aku harus membantai mereka semuanya.”

“Bukan itu soalnya. Tentu yang mencarimu bukan saja anak-anak muda. Tetapi prajurit-prajurit pun akan berusaha untuk menemukan kalian. Prajurit-prajurit disetiap gerbang kota tentu sudah mendapat perintah untuk mengawasi orang-orang yang lewat. Apalagi mereka yang lewat bersama-sama, bertiga.”

“Bodoh sekali.” desis yang tertua dari ketiga orang itu.

“Kenapa?”

“Apakah kami bertiga itu tidak akan dapat saling berpisah. Aku dapat lewat melalui gerbang sebelah Utara. Yang lain lewat Selatan dan yang lain lagi lewat gerbang sebelah Timur atau Barat.”

“Tetapi bagaimana jika kebetulan kedua anak-anak muda itu ada di pintu gerbang dan melihat salah seorang dari kalian?”

“Kami dapat membuat sedikit perubahan pada wajah kami.” jawab salah seorang dari ketiganya, “Atau kami dapat menunggu pada hari ketiga, keempat atau kelima.” tiba-tiba ia berhenti sejenak, lalu, “he, bagaimana dengan rencanamu untuk mencari atau sesuatu ketika bertemu dengan anak-anak muda itu dengan membawa salah seorang dari kami berganti-ganti?”

“Seperti yang kau katakan. Kau dapat merubah wajahmu sedikit, sehingga dengan pakaian yang berbeda, anak itu tidak akan dapat mengenalmu lagi.”

Ketiga orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dan salah seorang dari mereka berkata, “Biarlah mereka mencari kita. He, bukankah kita akan tidur sejenak?”

“Ya. Aku lelah sekali.”

Orang bertubuh kurus itu tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian kembali ke halaman dengan membawa sapunya. Jalan kecil di muka rumahnya itu sudah menjadi sepi. Dan tidak ada lagi anak-anak muda yang lewat bergerombol dengan senjata di tangan mencari tiga orang yang mereka anggap dapat membuat kekacauan di kota raja yang sedang berkabung itu.

Dengan demikian maka ketiga orang itu pun dapat tidur dengan nyenyaknya tanpa ada yang mungusiknya lagi.

Dalam pada itu, beberapa orang prajurit penghubung masih hilir mudik menyampaikan perintah untuk berhati-hati dan mengawasi setiap orang yang keluar masuk pintu gerbang kota. Mereka pun ternyata sadar, bahwa yang menjadi pegangan dari setiap pengamatan bukannya harus berjumlah tiga orang, karena jumlah itu dapat bertambah dan berkurang setiap saat.

Di istana, kesibukan para petugas pun rasa-rasanya menjadi semakin meningkat. Jenazah Ken Dedes memang tidak akan segera diperabukan, karena masih harus dipersiapkan banyak sekali kelengkapannya yang mungkin baru dapat siap dalam waktu setengah atau satu tahun. Namun tingkat pertama dari penyelenggaraan jenazah itu adalah mempersiapkan penyimpanannya sebaik-baiknya.

Selagi orang-orang tua sibuk dengan tugas masing-masing, maka kedua anak Mahendra menjadi semakin jemu untuk tinggal di dalam bangsal saja. Tetapi mereka tidak berani melanggar perintah ayahnya untuk tetap tinggal di bangsal itu.

“Sampai kapan kita berada di sini.” bertanya Mahisa Murti.

“Aku menyesal, bahwa kita tidak menyerah saja kepada prajurit-prajurit itu sejak mula-mula. Jika demikian, kita masih berada di luar istana. Ternyata kita di sini seakan-akan berada di dalam tahanan juga.” sahut Mahisa Pukat.

Kakaknya tidak menjawab. Tetapi seperti kata adiknya, mereka merasa sangat jemu untuk tinggal saja di bangsa itu tanpa berbuat apa-apa.

“Apakah kita tidak boleh berjalan-jalan ke luar?” bertanya Mahisa Pukat yang menjadi semakin jemu.

Mahisa Murti pun meresa tidak tahan lagi untuk tetap berada di bangsal itu. Maka karena itu ia pun berkata, “Apa salahnya kita berada di muka bangsal ini. Asal kita tidak mengganggu orang lain, aku kira, tidak akan terjadi sesuatu.”

“Bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba saja menyerang kami seperti yang telah terjadi itu di dalam halaman istana ini? Persoalannya tentu akan menjadi semakin berat. Semua orang di dalam istana ini akan ikut campur, dan prajurit-prajurit yang bertugas di dalam istana ini tentu prajurit-prajurit terpilih.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, biarlah kita tidur saja. Kita tidak akan dapat berbuat apapun juga.”

Ternyata bahwa kedua anak-anak itu benar-benar tidak berani melanggar pesan ayahnya, sehingga dengan demikian, maka keduanya pun tetap berada di dalam bangsal. Dengan jemunya keduanya berbaring beberapa lama. Kemudian bangkit dan berjalan hilir mudik. Namun kemudian keduanya pun mencoba untuk dapat tidur.

Dalam pada itu, ketika keadaan menjadi tenang, maka orang bertubuh kurus, yang rumahnya menjadi tempat persembunyian tiga orang yang telah menyerang anak-anak Mahendra itu pun mulai merencanakan usaha untuk dapat bertemu dengan anak-anak Mahendra. Kepada ketiga orang yang berada di rumahnya ia berkata, “Aku harus dapat berbuat sesuatu atas anak-anak itu. Kegagalan kalian memberikan kesan, bahwa yang terjadi benar-benar hanya sebuah kekacauan kecil yang ditimbulkan dari penjahat-penjahat kecil saja. Ternyata usaha yang kalian laku kan dapat digagalkan hanya oleh anak-anak.”

“Maksudmu?”

“Kalian sudah mulai dengan usaha pengacauan itu. Kesan kekacauan yang sebenarnya harus timbul pada saat ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Marilah, salah seorang dari kalian akan berjalan-jalan bersamaku. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dengan anak-anak itu dimanapun juga. Mereka tentu akan berjalan-jalan lagi melihat-melihat kota meskipun harus dengan pengawal.”

“Apa yang dapat kau lakukan?”

“Aku mempunyai senjata yang dapat membunuh mereka dari jarak jauh. Tongkatku adalah sebuah sumpit. Aku dapat menyumpitnya dengan duri beracun. Jika keduanya atau salah seorang dari mereka benar-benar mati, maka orang Singasari benar-benar akan terbangun. Bahwa ada kekuatan yang perlu diperhitungkan di luar kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

“Rencanamu tidak mudah dilakukan.”

“Jika aku menemui kesulitan, aku dapat mengurungkan atau menundanya tanpa menimbulkan kesan apapun, karena aku tidak berbuat apa-apa.”

“Kenapa kita tidak mencari sasaran yang lain saja? Bukankah hal itu dapat kita lakukan terhadap siapa saja? Tidak harus anak Mahendra?”

“Tetapi kau sudah terlanjur mulai dengan anak Mahendra. Jika kita tidak dapat menyelesaikan yang sudah kau mulai, maka kau, kita semuanya adalah penjahat-penjahat kecil yang tidak berarti apa-apa.”

Salah seorang dari ketiga orang yang gagal membunuh anak-anak Mahendra itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengikutimu.”

“Kita pergi ke daerah di sekitar istana. Mungkin kita akan duduk di depan gerbang. Atau barangkali kita akan masuk ke dalam.”

“Masuk? Apakah hak kita untuk masuk? Pintu gerbang itu tentu dijaga sebaik-baiknya.”

“Bodoh. Kita tidak akan melalui gerbang.”

“Memanjat?”

“Usaha kita akan mendatangkan hasil yang sebesar-besarnya jika kita dapat membunuh anak-anak itu di dalam halaman istana.”

Ketiga orang yang berada di rumah orang bertubuh kurus itu mengerutakan keningnya. Memasuki halaman istana bukan pekerjaan yang mudah. Tentu setiap jengkal dinding istana mendapat pengawasan yang saksama. Apalagi setelah terjadi percobaan pembunuhan itu.

“Jangan ragu-ragu.” berkata orang bertubuh kurus itu, “Supaya kita tidak disangka, pencopet kecil atau pencuri ayam yang mencoba-coba merampas permainan dua orang anak-anak.” ia berhenti sejenak, lalu, “Setiap orang Singasari harus mendapat kesan, sekelompok kekuatan sedang mengancam kedudukkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Untuk beberapa saat lamanya tidak ada yang menyahut. Namun kemudian salah seorang dari ketiga orang yang telah mencoba membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu berkata, “Kenapa kita tidak mencoba saja melakukan atas orang lain?”

“Itulah yang aku cemaskan. Apabila kalian telah dihinggapi pikiran yang demikian, maka benarlah dugaanku, bahwa kalian adalah sekelompok pencuri ayam kemalaman.”

Tidak ada yang menyahut. Mereka tidak mau disebut sekelompok pencuri ayam. Karena itu, maka mereka menyerahkan semua rencana kepada orang bertubuh kurus itu.

Dengan demikian, maka ketika orang bertubuh kurus itu mengajak salah seorang dari mereka pergi ke istana, maka orang itu pun tidak dapat membantah lagi.

“Kau harus memakai pakaian yang lain dari yang kau pakai saat kau mencoba membunuh kedua anak-anak itu.” berkata orang bertubuh kurus itu, “Aku sudah menyediakan apa saja yang sekiranya akan kita butuhkan. Pakaian, senjata dan bahkan senjata-senjata rahasia seperti tongkatku ini.”

Demikianlah, maka kedua orang yang sudah mempersiapkan diri itu pun meninggalkan tempat persembunyian mereka menuju kepusat kota. Orang bertubuh kurus itu berjalan terbungkuk-bungkuk bertelekan pada sebatang tongkat. Sedang kawannya berjalan disisinya dengan pakaian seorang pedagang yang cukup rapi. Wajah yang bersih dan sebilah keris di punggung tanpa pedang di lambung.

“Kita pergi ke istana. Kita akan mengamati pintu gerbang untuk beberapa saat lamanya. Jika gelap malam mulai turun, kita akan mengawasi keadaan, apakah kita kira-kira akan dapat masuk.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar.

Keduanya pun kemudian tidak banyak lagi berbicara. Tidak banyak yang mereka perbincangkan, dan seolah-olah mereka berdua sama sekali tidak mengacuhkan apapun yang mereka jumpai di perjalanan.

Sebagaimana keduanya tidak memperhatikan apapun juga di sepanjang perjalanan, maka tidak ada orang yang menaruh perhatian khusus kepada keduanya. Jika ada orang berpaling maka orang itu sekedar memandang langkah orang yang bertubuh kurus agak terbungkuk-bungkuk dengan tongkat di tangan. Selebihnya tidak ada yang diperhatikannya lagi. Tongkat di tangan orang bertubuh kurus itu tidak menarik sama sekali.

Setelah berjalan beberapa lamanya, maka akhirnya mereka pun sampai ke alun-alun Singasari. Untuk beberapa lamanya orang bertubuh kurus itu ragu-ragu. Namun kemudian katanya kepada kawannya, “Kita berteduh di bawah pohon rindang itu.”

“Beberapa langkah di sebelah pohon itu adalah regol yang dijaga kuat.”

“Justru karena kita berada dekat dengan para prajurit, kita tidak akan dicurigai.”

Keduanya pun kemudian duduk seenaknya di bawah sebarang pohon rindang di depan pintu gerbang. Dengan seksama gerbang itu. Karena tidak banyak orang yang lewat melalui mereka memperhatikan setiap orang yang keluar masuk pintu pintu itu, maka setiap orang dapat diperhatikannya dengan saksama.

“Mereka tidak akan keluar.” berkata kawan orang bertubuh kurus itu.

“Kita akan berjalan mengelilingi dinding istana nanti menjelang malam jika keduanya atau salah seorang dari mereka tidak nampak keluar. Kita melihat kemungkinan, apakah kita dapat meloncat masuk.”

“Bagaimana kita tahu, bahwa di dalam dinding itu ada satu atau dua orang prajurit yang berjaga-jaga? Sedang mereka tidak dapat kita lihat dari luar?”

“Kita memang tidak tahu. Tetapi kita akan dapat menduga tempat-tempat yang berada di luar pengawasan. Jika dugaan kita salah, kita akan ditangkap dan dibantai di tengah-tengah alun-alun itu. Apakah kau takut?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Ia bukan seorang penakut. Bahkan ia bertekad untuk membunuh prajurit-prajurit yang mencoba mengejarnya jika dengan sengaja mereka membunuh di tengah-tengah kota.

Tetapi kemudian timbul pertanyaan, “Apakah hal itu dapat dilakukannya atas prajurit pilihan yang bertugas mengawal istana?”

“Kau nampak ragu-ragu.” berkata orang bertubuh kurus itu.

Kawannya tidak dapat ingkar. Maka sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Aku memang ragu-ragu. Apakah kita tidak sedang membunuh diri jika kita melakukan cara yang kau katakan itu.”

Orang bertubuh kurus itu pun memandangi kawannya dengan tegang. Namun kemudian ia tertawa sambil berkata, “Jika benar kita sedang membunuh diri, maka cara yang kita tempuh ada cara yang paling mengagumkan. Tentu akan banyak orang yang akan menirunya kelak.” Kawannya tidak menjawab.

Dengan demikian maka untuk beberapa saat lamanya keduanya saling berdiam diri. Mereka memandangi regol istana dengan perasaan yang berbeda.

Sementara itu, dengan gelisah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbaring di dalam bangsal Mahisa Agni. Sekali-sekali mereka bangkit. Berjalan mondar mandir. Namun kemudian mereka kembali mencoba untuk dapat tidur.

“Panas sekali. Aku tidak biasa tidur di siang hari,” geram Mahisa Pukat.

“Marilah kita bermain macanan,” desis Mahisa Murti. Keduanya pun kemudian pergi ke halaman belakang bangsal itu. Mereka membuat goresan di tanah. Kemudiam memetik beberapa lembar daun untuk bermain macanan.

Tetapi beberapa kali saja mereka bermain, mereka pun segera menjadi jemu.

“Kapan ayah kembali ke bangsal ini.” tiba-tiba Mahisa Pukat bergumam.

“Aku tidak tahu.” desis kakaknya.

“Menjemukan sekali. Aku akan pergi.”

“Kemana?”

“Berjalan-jalan.”

“Jangan. Nanti terjadi sesuatu lagi atas kita.”

“Di dalam istana saja. Tentu tidak akan terjadi sesuatu. Kita berjalan-jalan di halaman bangsal ini. Paling jauh kita akan berada di taman. He, kau pernah mendengar nama seorang juru taman yang baik. Ia adalah sahabat ayah.”

“Ya, aku pernah mendengar ceritera tentang paman Sumekar, juru taman di istana ini.”

“Marilah. Kau ikut aku atau tidak?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Lebih baik kita berada di bangsal ini saja. Kita dapat tidur.”

“Menjemukan sekali.”

“Kau sudah makan?”

“Sudah. Dan udara terasa bertambah panas karenanya.”

“Kau terlampau banyak makan daging kambing.”

“Karena itu, aku akan pergi berjalan-jalan di bawah pohon-pohon rindang di taman.”

Mahisa Murti tidak dapat menahan adiknya lagi, sehingga akhirnya ia pun berkata, “Baiklah. Tetapi jangan keluar dari halaman istana.”

Kedua anak-anak muda itu pun segera membenahi pakaiannya.

Dengan ragu-ragu mereka turun ke halaman bangsal. Dilihatnya beberapa orang prajurit yang bertugas berjalan melintas. Sedang dua orang yang lain berdiri di depan bangsal itu.

Keduanya melangkah mendekati kedua prajurit yang bertugas itu. Mahisa Pukat lah yang kemudian berkata, “Aku akan pergi berjalan-jalan sebentar.”

“Kemana?” bertanya salah seorang prajurit itu.

“Hanya berjalan-jalan.”

“Sebaiknya kalian tidak keluar lebih dahulu. Apakah kalian tidak jera? Yang menyerang kalian untuk yang pertama kali itu dapat kalian atasi. Tetapi bagaimanakah kiranya jika mereka mempersiapkan orang-orang yang lebih kuat dari ketiga orang itu? Kau menyangka bahwa kau tidak mempunyai persoalan apapun dengan mereka. Tetapi dapat terjadi, bahwa mereka merasa ada persoalan yang gawat dengan kau atau ayahmu.”

Kedua anak-anak itu mengangguk-angguk. Namun Mahisa Pukat pun kemudian menjawab, “Aku hanya akan berjalan-jalan di dalam halaman istana saja.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Terserahlah kepada kalian. Tetapi sebaiknya kalian tidak keluar dari halaman.”

“Ya. Aku tahu, bahwa halaman ini terlindung dari mereka yang berniat buruk.”

Kedua kakak beradik itu pun kemudian berjalan melintasi halaman menuju ketaman. Ketika mereka melihat dua orang prajurit berjalan dengan senjata di tangan, maka keduanya pun mendekati sambil bertanya, “Dimana ayah dan paman Mahisa Agni menyelenggarakan jenazah tuan puteri?”

“Dibangsal induk. Tetapi tidak semua orang dapat masuk. Kau tentu tidak akan boleh memasukinya. Untuk tiga hari bangsal itu ditutup.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka berjalan lagi dari satu tempat ketempat yang lain.

“Jika datang saat jenazah itu diperabukan, maka tempat ini akan menjadi semakin ramai” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Mudah-mudahan kita diperbolehkan ikut pula.” Kakaknya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Marilah kita kembali ke bangsal. Tidak ada yang menarik di sini, Semuanya sudah pernah kita lihat.”

“Kita lewat pintu gerbang halaman depan.” jawab adiknya.

“Untuk apa?”

“Hanya lewat saja. Dari gerbang itu kita dapat melihat keluar.”

“Semuanva sudah pernah kita lihat.”

“Kita dapat melihat yang agak lain daripada dinding batu yang tinggi di sekitar halaman istana ini.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Tetapi ingat. Jangan meninggalkan halaman istana.”

“Sudah aku katakan.” sahut Mahisa Pukat, “Aku hanya akan melihat dari dalam pintu gerbang.”

Keduanya pun kemudian melangkah ke pintu gerbang, Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa di luar pintu gerbang itu ada dua orang yang menunggunya dengan penuh kesabaran.

Dengan gembira Mahisa Pukat mendekati sekelompok prajurit yang berada di gardu tugasnya. Sambil duduk di antara mereka ia berkata, “Aku akan ikut berjaga-jaga di sini.”

Pimpinan prajurit yang sedang bertugas itu telah mengenal kedua anak-anak muda itu. Karena itu dibiarkannya keduanya berada di gardunya.

“He, apakah kedua orang prajurit yang berdiri di pintu gerbang itu bertugas dari pagi sampai sore?” Mahisa Pukat bertanya.

“Tidak.” jawab pemimpin prajurit itu, “Sehari dibagi menjadi empat kali pertukaran.”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Menjemukan sekali. Berdiri dengan senjata di tangan seperempat hari penuh.”

“Jika kau menjadi seorang prajurit, mungkin kau akan mendapat tugas serupa itu.” berkata Mahisa Murti.

Pemimpin prajurit itu tersenyum sambil bertanya, “Kau akan menjadi apa?”

“Aku akan menjadi seorang pedagang. Tidak seperti ayah. Tetapi seorang pedagang besar.”

“Apa ayahmu seorang pedagang?”

“Ternyata ayah bekerja tanggung-tanggung. Pedagang bukan, petani juga bukan.” jawab Mahisa Pukat, “Tetapi aku akan melepaskan sama sekali pekerjaan petani.”

“Aku tidak mau menjadi pedagang.” potong seorang prajurit, “Lebih baik berdiri dimuka gerbang seperempat hari daripada harus mengalami kerugian berpuluh-puluh duwit.”

“Ah, tentu pedagang yang tidak rugi.” potong Mahisa Pukat, “Seorang pedagang dapat menjadi kaya raya.”

“Tetapi juga dapat kehilangan semua miliknya.” Mahisa Murtilah yang menyahut, “Karena itu sebaiknya kita menggarap sawah kita sebaik-baiknya.”

“Petani akan tetap miskin.” bantah adiknya.

“Tentu tidak.” sahut pemimpin prajurit, “Petani yang cakap dan menanam jenis tanaman yang tepat, dapat menjadi kaya.”

“Yang akan tetap miskin adalah prajurit?” sambung seorang prajurit, “Dan kami akan tetap saja bertugas di muka gerbang seperti sekarang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ketika mereka memandang prajurit itu, nampaklah ia tertawa.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Bahkan kemudian Mahisa Pukat pun berdiri dan berjalan mendekati dua orang prajurit yang bertugas di muka pintu gerbang.

“Jangan ganggu mereka.” berkata pemimpin prajurit di dalam gardu, “Mereka sedang melakukan tugasnya.”

“Tidak.” sahut Mahisa Pukat, “Aku hanya akan melihat ke luar sejenak.”

Prajurit-prajurit itu tidak melarang kedua anak-anak muda itu pergi ke pintu gerbang karena mereka sudah mengenal putera Mahendra itu dengan baik, yang meski pun baru beberapa hari di istana, namun seakan-akan semua orang sudah dikenalnya.

Pada saat itu, selagi keduanya berdiri di tengah-tengah pintu gerbang, dua orang yang berada di alun-alun memperhatikannya dengan saksama. Orang yang sudah mengenal kedua anak muda itu, dan yang bahkan telah bertempur melawannya itu pun segera menggamit kawannya sambil berkata, “Itulah mereka. Akhirnya keinginanmu untuk melihat mereka terpenuhi.”

Orang bertubuh kurus itu pun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi anak-anak ingusan itulah yang telah mengalahkan kalian bertiga?”

“Agaknya ia memiliki ilmu ayahnya.”

“Kaulah yang gila. Ilmu ayahnya memang luar biasa. Tetapi betapa tinggi ilmu anak-anak itu, namun kalian pasti akan dapat mengalahkannya jika kalian tidak dibebani oleh perasaan takut kepada ayahnya.”

“Sungguh bukan perasaan itu.” jawab orang yang gagal membunuh kedua anak-anak Mahendra itu, “Tetapi keduanya memang memiliki kelebihan.”

Orang bertubuh kurus itu pun mengusap tongkatnya. Sejenak ia termangu-mangu. Karena ternyata tidak ada orang di sekitarnya, maka ia pun berkata, “Agaknya mereka tidak memperhatikan arah ini. Kebetulan sekali. Mudahkan sumpitku dapat menjangkaunya dengan duri-duri beracun itu. Jika duri-duri itu dapat menyentuh kulitnya, maka kedua anak-anak itu akan mengalami bencana yang sesungguhnya, karena mereka akan segera mati.”

Perlahan-lahan orang bertubuh kurus itu mengangkat tongkatnya. Ia bergeser mendekati sebatang pohon yang dapat melindunginya Terutama dari perhatian para prajurit.

Tetapi ia tidak segera dapat melontarkan duri-duri beracun dari sumpitnya. Setiap kali anak muda itu bergerak, dan kadang-kadang mereka terlindung oleh prajurit yang sedang bertugas di depan pintu.

Dalam pada itu, selagi orang bertubuh kurus itu mencari kesempatan, kawannya dengan gelisah bertanya, “Jika kau mengenainya, apakah para prajurit itu akan diam saja tanpa berbuat sesuatu?”

“Duri-duri yang terlontar dari sumpitku tidak akan menimbulkan perasaan sakit. Mungkin kedua anak-anak itu akan terkejut seperti disengat lebih kecil saja. Tetapi mereka tidak akan mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Sesaat mereka tidak merasakan pengaruh racun itu. Kesempatan itu dapat kita pergunakan untuk meninggalkan tempat ini. Baru kemudian keduanya akan merasakan kelainan pada tubuh mereka, sementara kami sudah jauh. Baru beberapa lama sesudah itu mereka akan mati.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi nampak kegelisahan membayang di wajahnya.

“Ternyata kau seorang pengecut.” berkata orang bertubuh kurus itu. Lalu, “Nampaknya kau sangat ketakutan.”

Kawannya tidak menjawab. Dengan nafas yang tidak teratur ia memandangi kedua anak-anak muda yang nampaknya sedangg bergurau di pintu gerbang dengan seorang prajurit. Bahkan, kedua prajurit yang sedang bertugas pun kadang-kadang terpengaruh pula oleh mereka itu.

“Gila.” desis orang bertubuh kurus itu, “Aku tidak segera mendapat kesempatan. Jika keduanya masuk ke dalam, maka kesemptan seperti ini belum pasti akan datang dalam sepekan ini.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia bertambah tegang. Namun dalam pada itu, selagi keduanya menunggu dengan nafas yang berdesakan oleh ketegangan yang semakin memuncak, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa di belakang mereka.

Serentak mereka berpaling. Darah mereka tersirap ketika mereka melihat seseorang duduk memeluk lutut di belakang mereka tanpa mereka ketahui, kapan orang itu datang.

“Siapa kau.” desis orang yang bertubuh kurus.

“Kau belum mengenal aku?”

“Belum.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Pantas. Kau memang terlampau picik untuk mengenal aku.”

Wajah orang bertubuh kurus itu menjadi merah. Katanya, “Jangan menghina. Mungkin kau memiliki kelebihan, karena kau dapat mendekati aku tanpa setahuku. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku menjadi ketakutan dan berlutut dihadapan mu.”

Orang itu tertawa. Tidak terlalu keras, tetapi sangat menyakitkan hati.

“He, apakah kau juga mengenal aku?” bertanya orang bertubuh kurus itu.

“Kau belum pantas untuk dikenal. Terlebih-lebih karena kau akan melakukan perbuatan yang sangat bodoh.”

“Gila.” geram orang bertubuh kurus, “Jika tidak di hadapan prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu, aku remas mulutmu.”

Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Jangan cepat marah. Sebaiknya kau pertimbangkan semua perbuatanmu. Apakah kau kira, dengan membunuh kedua anak-anak itu kau akan mendapatkan keuntungan?”

“Persetan.”

“Dengarlah. Jika kau berhasil menyumpit kedua anak-anak itu dan kemudian membuat mati, maka seluruh Singasari akan bangkit dalam kesiagaan. Kau tahu apa artinya kedua anak-anak itu?”

“Persetan dengan kesiagan Singasari. Kami ingin menunjukkan bahwa kami memiliki sesuatu yang dapat kami banggakan.”

“O, kalian berbangga dengan membunuh anak-anak Mahendra itu? Alangkah piciknya. Kalian baru dapat berbangga, jika kalian dapat membunuh Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni. Bukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

“Siapakah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat?”

“Kedua anak-anak itu.”

Orang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Dendam kami akan memusnakan semuanya. Anak-anak itu dan kemudian Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni. Bukan saja mereka, tetapi juga Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

“Bukan main. Suatu cita-cita yang melambung seperti gelembung-gelembung getah jarak. Kau pernah melihat anak-anak bermain getah jarak. Jika getah itu dihembus, maka akan timbullah gelembung-gelembung yang akan segera hanyut dibawa angin. Melambung tinggi, seolah-olah akan terbang ke Matahari. Tetapi gelembung-gelembung itu akan segera pecah dan hilanglah bekasnya. Hilang sama sekali.”

“Gila. Jangan mencoba menghalangi. He, apakah kau seorang prajurit sandi dari Singasari? Jika demikian, maka kau harus mati.”

Suara, tertawa orang itu meninggi. Tetapi perlahan-perlahan saja. Katanya, “Kau mulai ketakutan. Karena itu, Jangan marah kepadaa kawanmu, pengecut itu. Kau sendiri agaknya seorang pengecut.”

“Tutup mulutmu.”

“Kau tidak akan berani berbuat apa-apa atasku di hadapan prajurit-prajurit yang bertugas itu.”

Orang bertubuh kurus itu termangu-mangu sejenak. Dengan tegang ia berpaling, memandang prajurit yang ada dipintu gerbang. Namun ia sudah tidak melihat lagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“He, kemana anak-anak itu?” ia menggeram.

Kawannya pun kemudian memandang pintu gerbang itu, dengan dada yang berdebar-debar. Ternyata kedua anak-anak muda itu memang sudah tidak nampak lagi.

“Gila. Aku telah kehilangan korbanku.” lalu dipandangi orang yang duduk dengan acuh tidak acuh saja itu. “Kaulah yang menyebabkan aku gagal kali ini. Karena itu, maka kau akan menjadi penggantinya.”

“Sudah aku katakan. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa di sini. Di pintu gerbang itu ada prajurit yang dapat menangkapmu beramai-ramai dan mencincangmu di alun-alun ini. Bahkan mungkin kau akan dihukum picis, hukuman yang paling terkutuk itu.”

Orang bertubuh kurus itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata, “Aku dapat membunuhmu dengan racun. Sementara kau sekarat, aku sudah jauh dari tempat ini.”

Tetapi orang itu justru tertawa. Katanya, “Sebelum sekarat aku sempat berteriak. He, bukankah aku tahu, bahwa sumpitmu itu beracun. Selagi kau mengacungkan tongkat pun aku sudah berteriak keras-keras. Nah, kau mau apa.”

“Pengecut. Licik. Gila.”

“Masih ada lagi.”

Orang bertubuh kurus itu menghentakkan kakinya. Kemarahannya telah memuncak. Tetapi seperti yang dikatakan oleh orang yang tidak dikenalnya itu, ia memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Beberapa saat lamanya ia berpikir, Apakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba saja ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar. Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi siapakah sebenarnya kau? Prajurit sandi atau keluarga anak-anak muda yang dengan sengaja melindunginya.”

Orang itu menggeleng. “Bukan kedua-duanya.”

“Kenapa kau menghalangi aku?”

“Aku sama sekali tidak sedang menyelamatkan kedua anak itu. Tetapi aku mencegah kau berbuat bodoh dengan membunuhnya.”

“Kenapa?”

“Sudah aku katakan. Aku tidak ingin ada kesiagaan di Singasari. Dengan demikian, maka mata pencaharianku akan berganggu.”

“Kau seorang pencuri, perampok, atau penyamun.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia tertawa pendek.

“Siapa?”

“Kau tidak perlu mengetahui, siapakah aku sebenarnya. Mungkin kau benar, bahwa aku salah satu di antara tebakanmu itu.”

“Persetan. Siapa namamu?”

“Panggil saja aku Awan Hitam.”

“He.” orang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya, “Kau gila. Apakah benar namamu segila itu?”

“Bukan. Namaku tentu bukan Awan Hitam. Tetapi aku senang dipanggil seperti itu. Kawan-kawanku membuat nama-namanya aneh. Ada yang ingin disebut Sepasang Mata Api. O, ada yang lebih gila lagi, kawanku yang kurus kering, bermata suram ingin disebut Bulan Purnama.”

“Gila. Cukup dengan igauanmu yang paling gila itu.”

“Nah, siapa namamu?” tiba-tiba orang itu bertanya. Orang bertubuh kurus itu berpikir sejenak. Tiba-tiba saja ia menjawab, “Tongkat Beracun. Namaku Tongkat Beracun.”

Orang yang duduk dengan seenaknya itu tertawa terkekeh-kekeh, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Kedua tangannya menutup mulutnya, agar suara tertawanya tidak berpencaran sampai ketelinga para prajurit.

“Kau sudah kejangkitan penyakit gila itu. Kau mempunyai tongkat yang dapat kau pergunakan sebagai sumpit dengan duri-duri beracun. Tiba-tiba saja kau menyebut namamu Sumpit, eh, Tongkat beracun. Lucu sekali. Bukankah dengan demikian kau pun sudah menjadi gila?”

“Gila. Memang gila. Namaku Tapak Lamba. Itu namaku yang sebenarnya.”

“Nah, begitulah. Jangan terkena penyakit gila seperti kawanku yang membuat nama menurut selera sendiri.”

“Aku tidak peduli. Nah, sekarang apa maumu. Kau sudah mengagalkan rencanaku sekarang ini. Kau membuat aku marah sekali. Tetapi aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.”

Orang itu masih tertawa. Katanya, “Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin menggagalkan kesalahan yang akan kau lakukan. Sekarang kau menyesal, tetapi nanti, jika kau sempat merenungkannya, maka kau akan berterima kasih kepadaku.”

“Lalu sekarang, kau mau apa?”

“Aku akan pergi.”

Orang bertubuh kurus itu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “Itu lebih baik bagimu.”

“Terima kasih. Aku sudah berhasil, sementara kau melasa gagal. Tetapi besok kau akan tertawa karenanya.”

Orang yang menyebut darinya Awan Hitam itu tidak menunggu lagi. Ia pun kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan kedua orang yang memandanginya dengan penuh kebencian.

Namun Awan Hitam itu tidak mendengar ketika orang bertubuh kurus itu berbisik, “Kita ikuti. Kita bunuh dia.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Ia agaknya ragu-ragu akan bisikan orang bertubuh kurus itu. Karena itu, ia tidak segera menjawab.

Tapak Lamba agaknya mengetahui bahwa kawannya itu ragu-ragu. Maka katanya mengulang, “Kita ikuti, dan kita bunuh orang yang menyebut dirinya dengan nama yang paling gila itu.”

“Kenapa orang itu harus dibunuh?” bertanya kawannya.

“Aku tidak yakin bahwa pada suatu saat ia tidak membuat kesulitan bagi kita. Tentu ia tidak hanya sekedar menggagalkan niat kita kali ini dengan alasan yang dikatakannya, agar prajurit Singasari tidak tergugah karenanya dan mengadakan kesiagaan di mana-mana.”

“Memang meragukan.”

“Mungkin orang itu mempunyai maksud yang lebih jauh daripada itu. Karena itu, daripada kita selalu berteka-teki, kita bunuh saja. Kita akan dapat tidur nyenyak nanti malam, sementara besok kita mulai lagi dengan usaha yang gagal pada hari ini.”

“Jadi kita mengurungkan usaha kita memasuki halaman istana.”

“Untuk malam ini kita urungkan saja. Mungkin besok jika kita gagal lagi.”

Kawannya tidak menyahut, sementara orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu berjalan semakin jauh.

“Aku tidak mau kehilangan orang gila itu.” berkata Tapak Lamba.

Ia pun dengan segera melangkahkan kakinya mengikuti orang yang menyebut dirinya bernama Awan Hitam itu dari kejauhan, sementara kawannya pun berjalan disisinya.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...