Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 23-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 23-01*

Karya.  : SH Mintardja

Namun dalam pada itu, Empu Sanggadaru yang ragu-ragu, tidak dapat menahan hatinya lagi. Karena itu maka ia pun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun Tuanku. Bukan maksud hamba untuk mengurangi niat Tuanku. Tetapi hamba hanya ingin menyarankan, agar Tuanku melakukannya di siang hari. Jika harimau itu datang sebelum gelap, hamba tidak akan bersikap lain kecuali mempersilahkan Tuanku melakukannya, karena hamba yakin bahwa Tuanku akan dapat membunuh seekor harimau yang betapapun juga besarnya. Hamba masih ingat, bahwa Tuanku adalah seorang pemburu yang jauh lebih baik daripada hamba. Namun barangkali ketuan hambalah yang menyebabkan pengalaman hamba menjadi lebih banyak dari Tuanku.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tuanku. Hamba mohon, jangan Tuanku melakukannya di malam hari.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Tentu kau membujukku agar aku melakukannya di siang hari karena harimau itu tentu tidak akan datang sebelum gelap.”

“Sungguh bukan maksud hamba Tuanku.”

“Aku mengerti Empu. Kau ingin mencegah aku melakukannya. Dan aku mengerti, bukan semata-mata karena kau merasa lebih baik daripadaku. Tetapi benar-benar kau mencemaskan nasibku setelah kau sendiri mengalaminya dan terluka hampir di seluruh tubuhmu.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengelak lagi, agar ia tidak benar-benar dituduh merendahkan anak muda yang sedang berada di puncak pemerintahan Singasari itu.

Bahkan Lembu Ampal pun rasa-rasanya menjadi bertambah bingung. Nampaknya Ranggawuni benar-benar tidak dapat dicegahnya lagi.

Meskipun demikian ia masih mencobanya. Katanya, “Tuanku sebaiknya memperhatikan setiap saran. Empu Sanggadaru bukan seorang pemburu yang baru kemarin berada di antara binatang buas. Ia mengenal sifat dan watak binatang, di siang hari dan di malam hari. Tuanku. Ada beberapa perbedaan di antara kehidupan seekor binatang dengan kehidupan kita. Apalagi kelengkapan jasmaniah seekor harimau jauh berbeda dengan kelengkapan jasmaniah manusia. Di malam hari mata soekor harimau seolah-olah menjadi lebih tajam. Sedang penglihatan kita di malam hari menjadi sangat terbatas.”

Ranggawuni masih saja tertawa. Katanya, “Terima kasih paman. Aku tidak melihat kesempatan yang serupa dikesempatan lain. Sekali lagi, yang paman cemaskan itu mungkin tidak akan terjadi, karena tidak ada seekor harimau pun yang datang di tempat ini. Tetapi jika seekor harimau itu datang, barulah paman dapat memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Hamba mengerti Tuanku. Tetapi Tuanku adalah pusar perhatian seluruh rakyat Singasari. Mungkin di Singasari ada seribu atau lebih pemburu yang tidak setangkas Tuanku. Tetapi hamba tidak akan membuang waktu untuk mencegahnya, karena mereka tidak merupakan tumpuan harapan seluruh rakyat.”

Ranggawuni berpikir sejenak. Namun kemudian jawabnya “Apakah paman sudah memastikan bahwa aku akan dapat dibunuh oleh harimau itu?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan Lembu Ampal, sehingga ia termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya terbata-bata “Tentu tidak Tuanku. Tentu bukan itulah yang hamba maksudkan. Tetapi……”

Rangguwuni tertawa lagi sambil berkata, “Teruskan paman. Atau barangkali aku dapat meneruskannya? Bukankah paman.ingin mengatakan bahwa kemungkinan itu ada?”

Lembu Ampal tidak menjawab, tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

“Paman” berkata Ranggawuni, “Tentu aku masih ingin tetap hidup. Aku masih ingin mengabdikan diriku bagi Singasari. Karena itulah, maka paman jangan cemas. Aku mengharap mudah-mudahan aku dapat menangkap harimau itu. dengan cara yang sama, yang dilakukan oleh Empu Sanggadaru.”

“O, anak keras kepala.” geram Lembu Ampal di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Yang terloncat dari bibirnya adalah, “Tetapi Tuanku, bukankah hamba dan adinda tuanku diperkenankan menyaksikan perkelahian itu dari dekat?”

“Terserahlah kepada paman. Paman dapat melihat dari dekat, jika hal itu terjadi. Jika setelah semalam suntuk kita menunggu, dan tidak ada seekor tikus pun yang mendekat, maka paman sudah tentu tidak akan dapat melihat perkelahian yang manapun juga.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Katanya, “Jika tuanku memang sudah berniat bulat untuk melakukannya, maka kami tidak akan dapat berbuat apa-apa, kecuali menyaksikan apa yang akan terjadi.”

“Ya. Dan yang akan terjadi itu masih tergantung sekali dengan hadir atau tidaknya harimau yang seekor lagi itu.”

“Baiklah tuanku.” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “Namun sebagai pengalaman dapatlah hamba katakan, bahwa harimau ini sangat buas dan liar. Sehingga aku pun harus berkelahi dengan buas dan liar pula.”

“Aku mengerti paman. Aku sudah melihat bagaimana paman membanting harimau itu pada sebatang pohon.”

“Ya. Dan di siang hari semuanya itu dapat hamba lakukan dengan mudah. Tetapi hamba tidak tahu, apakah hamba dapat melakukannya di malam hari.”

“Aku akan mencobanya. Sudahlah. Marilah kita beristirahat sejenak. Malam nanti aku akan berada di tempat ini, atau di tempat aku mengintai perkelahian Empu Sanggadaru itu.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk.

“Marilah. Aku minta biarlah harimau itu berada di tempatnya. Barangkali ada orang yang dapat kau perintahkan untuk menungguinya agar tidak diganggu oleh binatang buas yang lain. Tetapi apabila datang seekor harimau loreng yang lain, maka aku minta orang yang menungguinya dapat memberikan isyarat. Aku akan segera datang. Karena aku akan beristirahat di tempat yang tidak terlalu jauh.”

“Di lapangan rumput itu tuanku?” bertanya Empu Sanggadaru.

“Tidak. Itu terlampau jauh. Aku akan berada di sekitar tempat ini bersama adinda Mahisa Campaka dan paman Lembu Ampal.”

Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Hamba akan berada di lapangan kecil itu. Tetapi malam nanti hamba akan berada di sini.”

“Baiklah. Nah, siapakah yang akan menunggui harimau ini, dan isyarat apakah yang akan diberikan?”

“Kami membawa beberapa panah sendaren tuanku. Dan biarlah cantrik hamba itulah yang menjaganya.” jawab Empu Sanggadaru.

“Dan seorang kawan hamba.” sahut Empu Baladatu.

“Terima kasih. Aku akan beristirahat sejenak sambil menunggu harimau itu di siang hari atau di malam hari.”

Empu Sanggadaru pun kemudian mohon diri bersama Empu Baladatu sementara cantriknya yang seorang dan pengawal Empu Baladatu menjaga tubuh harimau yang mati itu.

“Nanti aku akan menyuruh kawanmu itu menggantikanmu dan pengawal Baladatu.” berkata Empu Sanggadaru kepada cantriknya.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Sebenarnya ia segan sekali untuk duduk menunggui harimau mati itu. Tetapi jika itu yang dikehendaki, apalagi atas perintah tuanku Ranggawuni, maka ia tidak akan dapat ingkar.

Dalam pada itu, ternyata Ranggawuni dan Mahisa Campaka berada tidak jauh dari tempat itu bersama Lembu Ampal. Untuk mengisi waktu maka mereka telah menangkap beberapa ekor burung yang akan dapat mereka pergunakan untuk makan mereka sehari itu.

Demikian pula Empu Sanggadaru. Karena bekal yang dibawa hanyalah untuk hari itu saja, maka iapun berusaha untuk menangkap beberapa jenis binatang buruan kecil yang dapat dipergunakannya untuk makan mereka selama mereka belum mendapatkan binatang buruan yang cukup besar. Sasaran yang paling mudah bagi mereka adalah burung-burung yang berterbangan di pepohonan. Burung yang cukup besar dan banyak. Baik Empu Sanggadaru maupun Ranggawuni dan Mahisa Campaka adalah pembidik-pembidik yang baik sehingga setiap kali panah mereka tentu mengenai sasarannya.

Dalam pada itu, perhatian Empu Baladatu ternyata tertuju kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka, la sebenarnya menjadi kagum terhadap kedua anak-anak muda itu. Agaknya mereka benar-benar dua orang anak muda yang memiliki kepercayaan pada diri sendiri dan kemampuan yang dapat dibanggakan meskipun nampaknya keduanya cukup rendah hati. Sedangkan pengawalnya yang seorang itu pun agaknya seorang yang benar-benar telah masak dalam olah kanuragan.

“Singasari memiliki kekuatan yang besar sekali.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Tetapi jika puncak kekuasaannya dapat dilenyapkan, maka tentu akan terjadi kelumpuhan pada pemimpin-pemimpin yang lain.”

Memang kadang terbersit keinginan Empu Baladatu untuk menangkap dan menguasai kedua anak muda itu. Dengan demikian ia akan dapat memaksakan beberapa kehendaknya terhadap Singasari. Namun agaknya hal itu tidak akan mungkin dapat dilakukannya. la bertiga dengan kedua pengawalnya tentu tidak akan dapat berbuat banyak melawan kedua anak muda itu beserta Lembu Ampal.

Karena itu, ia mengharap agar sesuatu terjadi atas Ranggawuni dengan harimau itu. Tanpa Ranggawuni hati Mahisa Campaka tentu sudah menjadi hambar.

Sementara itu, Empu Sanggadaru dan cantriknya yang seorang telah mendapatkan beberapa ekor burung Dengan demikian maka mereka pun kemudian menjadi sibuk. Empu Baladatu dan seorang pengawalnya pun ikut pula membantu, mencabuti bulu burung itu dan kemudian menyalakan api untuk memanggangnya.

Hal yang serupa dilakukan pula oleh Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal sambil menunggu isyarat dari kedua orang yang menunggui harimau itu.

Tetapi sampai matahari menjadi semakin rendah, tidak ada seekor binatang pun yang mendekati harimau mati itu. Apalagi seekor harimau.

Menjelang senja, maka Empu Sanggadaru telah mengirimkan cantriknya yang seorang dan pengawal Empu Baladatu yang lain untuk menggantikan kedua kawanya dengan pesan dan pengalaman seperti yang harus dilakukan oleh kedua kawannya yang lain.

“Malam nanti aku akan berada di sana pula.” berkata Empu Sanggadaru.

Sementara itu, Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu sempat beristirahat sejenak. Namun kemudian mereka pun segera mempersiapkan diri pula. Nampaknya cahaya langit menjadi semakin merah dan hutan itu pun menjadi semakin suram.

“Mudah-Mudahan harimau itu tidak sepasang.” desis Empu Sanggadaru meskipun ia tidak yakin pada kataknya.

Empu Baladatu sama sekali tidak menjawab. Apalagi ia justru mengharap harimau itu sepasang dan yang seekor akan datang di malam hari mendekati betinanya yang telah terbunuh.

Ketika gelap mulai turun, Empu Sanggadaru pun memberikan berapa pesan kepada cantrik dan pengawal Empu Baladatu yang harus menunggui kuda-kuda mereka. Meskipun tempat itu merupakan tempat yang terbuka, sehingga jarang sekali didatangi oleh binatang buas yang besar, namun mereka harus tetap berhati-hati.

“Bukan saja terhadap binatang-binatang buas, tetapi berhati-hati pulalah terhadap ular-ular berbisa.” pesan Empu Sanggadaru.

Demikianlah maka Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu segera menuju ke daerah perburuan yang mendebarkan itu. Di tempat yang ditentukan, mereka menunggu sejenak kedatangan Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Ternyata keduanya bersama Lembu Ampal pun segera datang pula. Agaknya Ranggawuni benar-benar akan melakukan niatnya menangkap harimau jantan yang mungkin akan dalang itu tanpa melukainya.

“Tetapi tuanku.” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “Di samping segala pertimbangan yang telah tuanku dengar, apakah tuanku tidak mempertimbangkan pula jejak kaki kuda yang kita lihat di sekitar tempat ini?”

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Seperti Empu Sanggadaru dan kawan-kawannya, Ranggawuni pun sudah mengetahui jejak kaki-kaki kuda itu, tetapi seperti Empu Sanggadaru pula, mereka sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang telah mendahului mereka berburu di hutan itu.

“Kenapa kita harus memperhitungkan mereka?” bertanya Ramggawuni.

“Jika mereka mempunyai maksud-maksud tertentu?”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Hutan ini adalah hutan yang terbuka. Tentu siapa pun boleh berburu di sini. Dan orang-orang itu tentu pemburu-pemburu seperti kita. Mungkin mereka baru pertama kalinya berburu di hutan ini. Tetapi mungkin pula sudah beberapa kali, tetapi kita tidak pernah berada dalam masa perburuan yang sama.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Agaknya Ranggawuni benar-benar tidak dapat dicegah lagi dengan cara apapun juga.

Karena itulah maka harapan satu-satunya bagi Empu Sanggadaru adalah, bahwa tidak ada seekor harimau pun yang akan datang ke tempat itu.

Dengan tegangnya, maka mereka pun kemudian mencari tempat persembunyian masing-masing menunggui bangkai harimau yang masih tetap di tempatnya. Mereka telah bersiap-siap mengusir binatang-binatang lain yang mendekatinya, selain seekor harimau loreng pula.

Untuk beberapa lama mereka duduk diam sambil berangan-angan. Sementara itu, suara malam di dalam hutan yang lebat itu menjadi semakin riuh. Suara belalang, cengkering dan burung-burung malam bersahut-sahutan tidak hentinya. Sekali terdengar gonggong anjing hutan dan keluh burung hantu. Namun kemudian lamat-lamat terdengar aum seekor harimau.

Mereka yang duduk mengintai bangkai harimau itu menjadi semakin tegang. Malam rasa-rasanya bertambah panjang dan kelam. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, tatapan mata mereka sama sekali tidak menembus rimbunnya dedaunan, sehingga hampir tidak sebuah binatang pun yang nampak.

“Malam yang kelam.” desis Empu Sanggadaru di hatinya, “Apakah dalam kegelapan semacam ini, tuanku Ranggawuni akan bertempur melawan seekor harimau sebesar dan segarang harimau yang terbunuh itu?”

Ada semacam penyesalan yang melonjak di hatinya. Tetapi justru karena Empu Sanggadaru sama sekali tidak mengira bahwa Ranggawuni dan Mahisa Campaka hadir di tempat itu, maka ia telah membunuh harimau itu dengan caranya.

Tetapi agaknya ia pun akan mempertimbangkan tiga empat kali lagi untuk melakukannya di gelapnya malam seperti malam itu.

Sejenak mereka masih menunggu.

Di siang hari mereka kadang-kadang mendapatkan pertanda bahwa seekor harimau berada di dekat mereka.

Jika di udara, tidak ada burung yang berterbangan dan tidak ada seekor kera pun yang nampak di pepohonan, maka seseorang harus berhati-hati. Jika tidak seekor harimau, maka yang ada di sekitar tempat itu adalah seekor ular yang besar.

Tetapi di malam hari, mereka tidak melihat pertanda itu dimana burung-burung dan kera sudah berada di sarang masing-masing.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berangan-angan rasa-rasanya angin bertiup semakin dingin. Sesuatu yang tidak mereka ketahui sebabnya, serasa telah meraba bulu tengkuk.

Tetapi agaknya Ranggawuni cepat dapat menangkap firasat itu. Bahkan ia telah mengambil suatu kepastian, bahwa seekor harimau sedang mendekati bangkai harimau di pinggir belumbang itu.

Sejenak kemudian, maka mereka yang berada di sekitar hutan itu pun menjadi berdebar-debar. Seperti firasat yang telah menyentuh perasaan Ranggawuni, sebenarnyalah seekor harimau dengan ragu-ragu sedang mendekati bangkai harimau yang sengaja dibiarkan di tempatnya.

Ranggawuni bergeser setapak, lapun kemudian bersiaga. Masiada kemungkinan lain, kecuali pasangan harimau itulah yang telah berusaha mencari betinanya yang tidak kembali ke sarangnya.

Empu Sanggadaru dan Lembu Ampal menahan nafas. Mereka tidak mempunyai cara apapun untuk mencegah Ranggawuni. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa yang akan dilakukan oleh Ranggawuni adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Tetapi gejolak darah muda yang mengalir di dalam dada telah mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang justru berbahaya itu.

Sesaat kemudian Ranggawuni telah menggamit Lembu Ampal, seolah-olah ia memberikan isyarat bahwa saatnya untuk bertindak telah tiba.

“Hati-hatilah tuanku.” desis Lembu Ampal karena ia merasa tidak dapat berbual apa-apa lagi. Sekilas terbayang olehnya Mahisa Agni yang tidak ada di tempatnya. Jika terjadi sesuatu atas Ranggawuni maka Mahisa Agni tentu akan menyalahkannya pula. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang cukup untuk mencegahnya.

Sesaat kemudian Ranggawuni itupun bangkit berdiri. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati harimau yang agaknya sedang merenungi betinanya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tetapi ternyata pendengaran harimau itu begitu tajamnya. Meskipun Ranggawuni sudah memperhitungkan angin, namun desir kakinya lelah mengejutkan harimau itu.

Terdengar harimau itu menggeram. Ketika harimau itu berpaling, nampaknya sepasang matanya bagaikan menyala kebiru-biruan.

Terasa dada Ranggawuni berdesir. Mata harimau itu bagaikan memancar menyilaukannya. Demikian pula orang-orang lain yang berada di sekitar tempat itu. Mereka bahkan merasa ngeri untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.

Mahisa Campaka yang tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu atas harimau itu, menggamit kakandanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dari sikapnya, Ranggawuni mengerti, bahwa adindanya itu minta agar ia berhati-hati.

Demikianlah, maka Ranggawuni pun bergeser semakin dekat dengan hairmau yang termangu-mangu. Namun suaranya menjadi semakin keras, bahkan kemudian terdengar harimau loreng yang besar itu mengaum dengan dahsyatnya.

Bersamaan dengan gema yang memantul dari pekatnya hutan itu, Ranggawuni meloncat semakin dekat. Tangannya yang cekatan lelah bersilang di dadanya. Meskipun di lambungnya terselip sebilah pisau belati, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menariknya.

Sejenak kemudian Ranggawuni itupun telah berhadapan dengan harimau loreng yang ragu-ragu itu. Namun ketika ia yakin bahwa yang ada di hadapannya itu adalah mahluk yang lain, maka sekali lagi harimau itu mengaum.

Ranggawuni pun telah bersiaga sepenuhnya, la mengerti betapa garangnya harimau itu. Apalagi di malam hari.

Orang-orang yang menyaksikan kedua mahluk yang sudah siap untuk bertempur itu menjadi berdebar-debar. Nenurut pengertian mereka, seekor harimau mempunyai pandangan yang jauh lebih tajam dari mata manusia di malam hari. Apalagi malam yang kelam di tengah-tengah hutan yang pekat.

Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, tidak dapat memperhatikan dengan jelas apa yang telah terjadi. Tetapi dalam kegelapan itu mereka melihat bayangan harimau itu merunduk.

Lembu Ampal menjadi gemetar. Bahkan rasa-rasanya ia sendiri ingin segera meloncat mendahului menerkam harimau itu, sebelum harimau itu meloncat menerkam Ranggawuni.

Tetapi Lembu Ampal tidak berani melakukannya. Jika ia berbuat demikian, kemudian dengan pisau belati sepasang di kedua tangannya ia membunuh harimau itu, maka ia tentu akan mendapat hukuman. Jika bukan badaniah tentu hukuman batiniah yang tentu akan terasa lebih berat, la bahkan mungkin akan diusir dari istana.

Itulah sebabnya, ia hanya dapat berdoa, mudah-mudahan yang maha Agung melindungi Ranggawuni yang masih sangat muda itu.

Dalam kegelapan malam, mereka yang berada di sekitar tempat itu melihat remang-remang harimau itu mulai bergerak. Tetapi yang nampak hanya samar-samar sekali. Itupun hanya mereka yang memiliki tatapan mata yang sangat tajam.

Tetapi Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu sempat pula melihat gerak harimau itu. Betapa perkasanya di antara geramnya yang mendirikan bulu roma.

Namun dalam pada itu, sesuatu telah melonjak di dalam hati Empu Baladatu. Seolah-olah harapannya akan segera dapat terlaksana. Ranggawuni akan dikoyak-koyak oleh harimau yang ganas itu.

“Tentu Mahisa Campaka tidak akan bertahan lama. la akan mengalami kejutan batin yang tidak akan dapat diatasinya.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Tetapi ada satu yang tidak diketahui oleh orang-orang yang mencemaskan nasib Ranggawuni. la memiliki ilmu yang seolah-olah merupakan inderanya yang keenam. Dengan latihan-latihan yang berat, sebenarnyalah ia seolah-olah melihat, meskipun tidak dengan mata wadagnya, apa saja yang akan dilakukan oleh harimau yang garang itu.

Dalam pada itu, sejenak kemudian setiap hati menjadi tergetar karenanya. Harimau itu mengaum sekali lagi sambil meloncat menerkam Ranggawuni. Tetapi Ranggawuni benar-benar telah bersiaga. Dengan tangkasnya ia bergeser ke samping sehingga harimau itu tidak berhasil menyentuhnya.

Seperti yang dilakukan oleh Empu Sanggadaru maka Ranggawuni pun segera meloncat ke punggung harimau itu. Kedua tangannya segera memeluk leher harimau itu dan jarinya dengan kuatnya mencengkam bulu-bulunya.

Harimau itu terkejut. Ketika benda yang terasa melekat di punggungnya itu tidak segera hilang, maka harimau itupun menjadi marah. Dengan garangnya ia mengibaskan dirinya, bahkan kemudian sambil meloncat dan berguling-guling. Tetapi Ranggawuni yang berpegangan kuat sekali itu sama sekali tidak terlepaskan.

Berbeda dengan Empu Sanggadaru yang sebelah tangannya memegang sepotong galib asem, Ranggawuni sama sekali tidak memegang apapun juga. Karena itulah maka ia dapat lebih erat berpegangan pada leher harimau itu.

Betapapun juga harimau itu berusaha, namun ia tidak berhasil melemparkan Ranggawuni dari punggungnya.

Dengan tegang Empu Sanggadaru, Empu Baladatu dan Lembu Ampal memperhatikan perkelahian itu. Seorang cantrik dan pengawal Empu Baladatu tidak dapat mengikutinya dalam keseluruhan. Kadang-kadang mereka sama sekali tidak melihat apa yang terjadi. Hanya kadang-kadang saja mereka dapat merasakan, betapa dahsyatnya perkelahian itu.

Setiap kali terdengar harimau itu menggeram dan bahkan mengaum. Suaranya bagaikan gemuruhnya banjir. Namun Ranggawuni masih tetap melekat di punggung harimau itu.

Tetapi di gelapnya malam, harimau itu telah terbentur-bentur pada batang-batang kayu yang besar dan kokoh.

Betapapun kuatnya tangan Ranggawuni, namun karena gerak harimau yang marah itu bagaikan angin pusaran yang berputar-putar tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya, maka lambat laun telah menjadi kendor pula.

Tetapi Ranggawuni menyadarinya. Ia sudah melihat apa yang terjadi pada Empu Sanggadaru ketika orang itu berkelahi membunuh harimau loreng yang betina itu.

Karena itulah maka ia menjadi lebih berhati-hati, Ia tidak ingin memukul harimau itu dengan apapun juga. Ia ingin membiarkan harimau itu menjadi lelah sendiri dan kehilangan segenap tenaganya.

Tetapi ternyata bahwa kekuatan harimau itu jaub lebih besar dari yang diduganya. Sehingga dengan demikian, iapun dapat mengukur kekuatan jasmaniah Empu Sanggadaru. Apalagi selelah Empu Sanggadaru mengetrapkan ilmunya, sehingga ia mampu mengangkat harimau betina itu, memutarnya di atas kepala dan membenturkannya pada sebatang pohon yang besar.

“Aku tidak akan berbuat seperti yang sudah dilakukan oleh Empu Sanggadaru.” berkata Ranggawuni.

Itulah sebabnya ia justru berusaha berpegangan semakin kuat. Setiap kali ia membetulkan kedua tangannya yang menggenggam bulu-bulu leher, bahkan kulit leher harimau itu.

Tetapi ternyata bahwa harimau itu tidak segera menjadi lelah. Ia masih berguling-guling dan melonjak-lonjak dengan dahsyatnya, untuk melemparkan mahluk yang melekat di punggungnya.

Tetapi harimau itu tidak segera berhasil. Betapapun ia berusaha, namun yang melekat di punggungnya itu seolah-olah telah menyatu pada kulit dagingnya.

Meskipun demikian, benturan-benturan pada pepohonan, batu-batu dan semak-semak, seolah-olah telah menggoreskan luka-luka di seluruh tubuh Ranggawuni. Justru bukan oleh kuku-kuku harimau itu, tetapi oleh kulit-kulit kayu, ranting-ranting yang berpatahan dan ujung-ujung batu yang runcing.

Luka-luka itu semakin lama semakin terasa pedih, sedangkan harimau itu masih juga belum berhenti. Apalagi kemudian harimau itu berusaha untuk melontarkan mahluk di punggungnya itu. dengan kaki belakangnya.

Ranggawuni akhirnya menyadari, bahwa ia tidak akan dapat bertahan dengan caranya. Harimau itu masih tetap kuat dan tangkas, seakan-akan tenaganya sama sekali tidak berkurang. Jika ia masih tetap pada caranya, maka mungkin sekali, ia akan menjadi lelah lebih dahulu daripada harimau loreng itu.

Namun sama sekali tidak terbersit niat pada Ranggawuni untuk melukai harimau itu dengan senjata. Karena itulah, akhirnya Ranggawuni harus mengambil cara lain. Apalagi mengenai kulitnya dan menggoreskan luka pada kulitnya.

Untuk beberapa saat Ranggawuni masih bertahan. Dan dalam pada itu, mereka yang menyaksikan perkelahian itupun menjadi semakin tegang.

Meskipun mereka tidak melihat karena pekatnya malam di hutan yang lebat itu, namun mereka dapat membayangkan, bahwa tubuh Ranggawuni tentu sudah menjadi merah oleh darahnya.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat berbuat apapun juga. Mereka hanya dapat berdiri membeku. Sekali-sekali Lembu Ampal meraba pisau berburunya yang terselip di lambung. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Mahisa Campaka yang tidak mendapat kesempatan untuk berkelahi dengan harimau itu menjadi tegang. Bahkan lambat laun menjadi khawatir juga melihat bayangan yang seolah-olah berputaran dan melonjak-lonjak. Sementara dedaunan nampak bagaikan ditiup angin prahara. Suara ranting-ranting yang berpatahan dan batu yang terlontar, membuat hatinya semakin kecut.

Ranggawuni sedang berusaha, bagaimanakah cara yang sebaiknya untuk menaklukkan harimau itu tanpa melukainya dengan senjata. Namun untuk tetap diam di atas punggung harimau itu, ia yakin, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Karena itulah, maka Ranggawuni pun kemudian mempergunakan tangannya untuk menyerang harimau itu. Tidak dengan sepotong galih asem. Tetapi dengan sisa telapak tangannya.

Sekali-sekali jika ia mendapat kesempatan, maka tangan kanannya pun melepaskan leher harimau itu, dan dengan dahsyatnya menghantam kening.

Ternyata pukulan tangan Ranggawuni telah berpengaruh atas harimau lawannya. Ketika sisi telapak tangan Ranggawuni mengenai dahi harimau itu, di antara kedua matanya, maka harimau itu pun menggeram dengan dahsyatnya sambil meloncat mengejut.

Ternyata loncatan itu benar-benar tidak diduga oleh Ranggawuni. Apalagi ia telah melepaskan sebelah tangannya. Itulah sebabnya, maka iapun telah terlempar pula dari punggung harimau yang melonjak dengan dahsyatnya itu.

Ternyata Ranggawuni masih mampu menguasai dirinya, la jatuh pada kedua kakinya yang merendah pada lututnya.

Sejenak Ranggawuni melihat harimau yang merasa telah kehilangan beban itu. Agaknya harimau itu tidak mau membiarkan lawannya mendapat kesempatan. Dengan serta merta ia sekali lagi mengaum sambil menerkam dengan kedua kaki depannya.

Ranggawuni tidak sempat meloncat untuk mengelakkan diri. Karena itu ia harus segera berbuat sesuatu.

Itulah sebabnya, maka iapun segera menjatuhkan dirinya menelentang. Dengan demikian maka harimau itu seolah-olah telah membujur tepat di atasnya dengan kedua kaki depannya terjulur lurus kedepan.

Namun pada saat itu, ketika kaki-kaki harimau itu hampir saja merobek wajah Ranggawuni yang menelentang di tanah, maka tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang tidak terkira besarnya telah melemparkan harimau itu.

Ternyata Ranggawuni masih sempat mempergunakan kedua kakinya yang tepat menghantam perut harimau itu. Demikian besarnya kekuatan kaki Ranggawuni sehingga harimau itu telah terlempar ke udara. Sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Agaknya harimau itu telah membentur sebuah dahan yang besar di atasnya.

Terdengar sebuah auman yang maha dahsyat. Harimau itu kemudian meluncur dengan derasnya. Dengan menggeliat, harimau itu berusaha jatuh pada keempat kakinya.

Namun benturan yang telah terjadi agaknya telah menyakitinya. Bahkan kesakitan yang amat sangat, sehingga karena itu pulalah, maka harimau itu tidak lagi dapat menguasai tubuhnya sebaik-baiknya.

Dengan demikian, maka setelah benturan itu terjadi, dan harimau itu terlempar kembali ke tanah, ia tidak berhasil berdiri pada keempat kakinya. Yang terjadi adalah, harimau itu jatuh miring pada pundaknya.

Harimau yang kesakitan itu meronta. Tetapi tenaganya ternyata telah jauh berkurang. Apalagi ketika kemudian sebuah pukulan sisi telapak tangan mengenai tengkuknya. Tidak hanya satu kali. Tetapi beberapa kali.

Harimau itu menjadi semakin lemah. Bahkan seolah-olah telah kehilangan keseimbangannya sehingga ketika harimau itu mencoba berdiri, maka setelah terhuyung-huyung sejenak, maka harimau itu pun kemudian terjatuh dengan lemahnya, meskipun masih saja menggeram dan sekali-sekali mengaum dengan dahsyatnya. Namun suaranya tidak lagi melambangkan kegarangannya. Bahkan seolah-olah yang terdengar adalah suatu rintihan kesakitan yang memelas.

Ranggawuni yang hampir di seluruh tubuhnya telah digores luka-luka oleh kuku harimau dan batu-batu karang serta, ranting yang berpatahan, kemudian berdiri tegak di sisi harimau yang sedang merintih itu. Dengan berdiri di atas kedua kakinya yang renggang, ia telah siap untuk mengakhiri perkelahian yang dahsyat dan mendebarkan jantung itu. Perlahan-lahan tangan kananya telah terangkat. Dengan sebuah ayunan ilmunya yang dilontarkan dengan kekuatan yang tidak sepenuhnya, ia akan dapat mematahkan tulang belakang harimau itu dan mematikannya tanpa melukainya.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu telah berdiri mematung. Bahkan nafas mereka seolah-olah telah, berhenti mengalir. Mahisa Campaka, Lembu Ampal, Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui manusia biasa, dapat melihat meskipun hanya remang-remang apa yang telah terjadi. Sedangkan cantrik dan pengawal Empu Baladatu, dengan susah payah mencoba pula untuk mengerti, bagaimana akhir dari perkelahian itu.

Dengan tegang orang-orang yang berada di sekitar tempat itu menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh Ranggawuni. Lembu Ampal yang mengerti sebaik-baiknya kemampuan tangan Ranggawuni, apalagi dalam kekuatan ilmu puncaknya, agaknya tidak akan perlu mengulangi lagi. Bahkan mungkin tulang-tulang harimau itu akan remuk dan demikian juga, keutuhan kulitnya akan menjadi cacat.

Namun setelah beberapa saat lamanya mereka menunggu Ranggawuni tidak juga mengayunkan tangannya. Bahkan tangan itu perlahan-lahan telah mengendor, dan akhirnya terkulai di sisi tubuhnya.

Lembu Ampal menajdi cemas melihat sikap Ranggawuni itu Dengan serta merta, hampir di luar sadarnya ia belari-lari mendekatinya. Dengan suara yang tinggi ia bertanya, “Ampun tuanku, apakah yang telah terjadi sebenarnya?”

Ranggawuni berpaling. Didalam kegelapan malam, ternyata ketajaman penglihatan mata hati Ranggawuni dapat melihat kecemasan yang sangat di wajah Lembu Ampal.

Meskipun tidak begitu jelas, namun Lembu Ampal melihal dan mendengar Ranggaawuni tertawa perlahan. Namun suara tertawanya itu telah membuat hati Lembu Ampal menjadi tenang.

“Paman.” berkata Ranggawuni, “Aku telah melumpuhkan harimau itu tanpa melukai kulitnya.”

“Ya, ya tuanku.”

“Tetapi ternyata aku tidak dapat membunuhnya. Kau dengar harimau itu merintih?”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba tuanku. Hamba mendengar.”

“Aku ingin harimau itu tetap hidup. Aku akan membawanya kembali ke istana dan jika kita berhasil mengobatinya, maka ia akan tetap hidup meskipun di dalam kandang besi.”

“O.” Lembu Ampal menarik nafas, “Bagaimana jika harimau ini segera pulih kembali?”

“Kita akan mencari tali janget yang kuat. He, bukankah kita sudah membawa janget meskipun semula tidak kita sediakan untuk mengikat harimau itu.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk.

“Mumpung harimau itu masih lemah sekali.” berkata Ranggawuni, “Marilah, berikan tali itu paman.”

Lembu Ampal yang memang sudah membawa beberapa perlengkapan berburu segera mengikat harimau itu dibantu: oleh Ranggawuni dan orang- orang yang lain yang kemudian mendekat pula.

Harimau itu masih saja mengaum dengan dahsyatnya. Bahkan sekali-sekali berusaha menggigit dengan giginya yang tajam.

Tetapi tubuhnya memang masih terlampau lemah, sehingga akhirnya keempat kakinya pun telah terikat erat, dengan janget rangkap tiga.

Betapapun juga harimau itu mencoba untuk meronta, tetapi tali janget itu memang terlampau kuat, sehingga harimau itu tidak akan mungkin dapat memutuskannya. Apalagi jangkau giginya tidak sampai kepada tali yang mengikat keempat kaki harimau itu.

“Meskipun besok kekuatan harimau itu mungkin pulih, tetapi harimau itu tentu tidak akan dapat memutuskan tali janget itu.” berkata Ranggawuni kemudian.

“Ya. Tuanku.”Jawab Lembu Ampal, “Janget itu kuat sekali.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni kemudian, “Marilah harimau itu kita bawa menyingkir.” Lalu, katanya kepada Empu Sanggadaru, “Empu bawa pulalah harimaumu. Kita sudah tidak akan mengintai jenisnya lagi di sini.”

“Hamba, tuanku.” jawah Empu Sanggadaru. Namun kemundian katanya, “Ampun tuanku. Ternyata kali ini, tuanku pulalah yang menang. Aku berhasil menangkap harimau itu tampa melukainya, tetapi setelah menjadi bangkai. Tetapi tuanku berhasil menangkap tanpa melukainya, dan bahkan masih tetap hidup. Mungkin harimau itu akan dapat sembuh dan pulih kembali setelah beberapa hari berada dalam kandang. Jika di padepokan hamba terdapat seekor harimau loreng raksasa yang sudah dikeringkan, maka di halaman istana Singasari terdapat seekor harimau loreng raksasa yang jantan, dalam keadaan yang masih hidup.”

Ranggawuni tersenyum. Jawabnya, “Namun kau tetap orang yang pertama yang berhasil menangkap harimau sebesar itu, namun aku pun berbangga pula, bahwa aku adalah orang kedua.”

“Tetapi hasil tangkapan yang tuanku lakukan adalah jauh lebih bernilai dari yang aku dapatkan.”

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Terserahlah kepada setiap penilaian. Tetapi marilah, kita akan beristirahat. Aku akan tidur.”

“Tetapi, apakah tuanku tidak terluka?”

“O.” Ranggawuni mulai meraba, tubuhnya. Terasa cairan yang hangat membasahi beberapa bagian dari kulitnya. Meskipun dalam kegelapan yang pekat, namun Ranggawuni segera mengetahui, bahwa kulitnya telah dilumuri dengan darahnya sendiri.

“Agaknya kulitku memang terluka.” jawabnya.

“Marilah kakanda.” berkata Mahisa Campaka, “Sebaiknya luka itu kita obati.”

“Kita akan pergi ke lapangan kecil itu. Kita akan membuat perapian yang besar, sehingga dengan demikian kita akan dapat melihat keadaan luka-lukaku.” berkata Ranggawuni.

Demikianlah maka kelompok kecil itupun kemudian Beriringan pergi kelapangan kecil di hutan yang lebat itu. Dengan memanggulnya dengan dahan kayu, mereka membawa dua ekor harimau loreng. Yang seekor sudah menjadi bangkai sedangkan yang seekor masih hidup.

Namun ternyata bahwa membawa harimau yang masih hidup itulah yang jauh lebih sulit, karena setiap kali harimau itu meronta dan mengaum keras sekali.

Namun Mahisa Campaka, Lembu Ampal dan Ranggawuni sendirilah yang memanggul harimau yang masih hidup itu. Mereka menolak bantuan yang akan diberikan oleh cantrik Empu Sanggadaru dan pengawal Empu Baladatu.

“Bawalah harimaumu.” berkata Ranggawuni, “Aku akan membawa harimauku.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa.

Ketika mereka sampai di lapangan rumput yang sempit di hutan yang lebat itu, mereka melihat kedua orang yang mereka tinggalkan masih tetap berjaga-jaga. Keduanya berdiri dengan tegak dengan senjata di tangan, ketika mereka mendengar langkah-langkah mendekat. Namun mereka pun kemudian bergembira setelah mereka mengetahui, siapakah yang telah datang.

“Bukan main.” desis kedua orang itu, “Tuanku Ranggawuni berhasil menangkap harimau itu hidup-hidup.”

Sejenak kemudian, maka mereka pun segera mencari dahan kering dan ranting-ranting yang bertebaran. Perapian yang memang sudah ada, tetapi terlampau kecil, segera mereka tambah dengan kekayuan dan rerumputan kering.

Nyala apipun segera menjilat tinggi. Dengan demikian maka mereka pun segera dapat melihat dengan jelas luka-luka yang terdapat di seluruh tubuh Ranggawuni.

“Tunku harus segera diobati.” berkata Lembu Ampal.

Ranggawuni tidak menolak ketika kemudian Lembu Ampal membersihkan luka-lukanya yang terdapat hampir di seluruh tubuhnya. Namun yang sebagian besar justru bukan oleh kuku-kuku macan yang garang itu, tetapi oleh batu-batu padas, dahan-dahan yang patah dan benturan pada pepohonan.

Empu Sanggadaru yang mengalami luka-luka serupa, bahkan lebih parah, membantu pula mengoleskan obat yang di bawa oleh Lembu Ampal.

Dalam pada itu, Empu Baladatu duduk di ujung perapian dengan jantung yang bergejolak. Rasa-rasanya darahnya beredar semakin cepat menghentak-hentak urat nadinya.

“Bukan main.” desisnya di dalam hati, “Tuanku Ranggawuni ternyata memang orang yang luar biasa. Tentu Tuanku Mahisa Campaka juga memiliki kelebihan seperti itu la menarik nafas dalam. “Lalu apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni tentu akan membuatku pingsan.”

Karena itu, maka rasa-rasanya Empu Baladatu telah dihadapkan pada suatu kenyataan yang pahit bagi cita-citanya. Ia menganggap bahwa ilmu hitam yang disadapnya, pada puncaknya adalah ilmu yang paling kuat di seluruh permukaan bumi. Ia telah mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dengan suatu keinginan untuk menjadi orang yang paling kuat dan tidak terkalahkan.

Namun kini ia telah menghadapi kenyataan yang lain. Empu Baladatu yang merasa dirinya telah cukup tua, baik umurnya, maupun saat-saat berguru dan mempelajari ilmu kanuragan, ternyata tidak melampaui kemampuan anak-anak muda yang tentu masih jauh lebih pendek saat-saat berguru dan berlatih daripada dirinya.

“Apakah aku mampu berkelahi melawan seekor harimau dengan tangan tanpa senjata apapun juga, dan menangkapnya hidup-hidup seperti yaang dilakukan oleh tuanku Ranggawuni “ pertanyaan itu telah mengganggunya setiap saat. Apalagi jika ia mulai membayangkan. Mahisa Agni yang diketahuinya sebagai salah seorang guru Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

“Agaknya tidak berlebih-lebihan jika beberapa orang mengatakan bahwa ilmu Gundala Sasra yang matang, dapat meluluhkan gunung dan mengeringkan lautan.” berkata Empu Baladatu di dalam hati.

Sejenak ia mencoba menimbang. Apakah ilmu hitamnya yang matang dapat melakukan seperti yang mungkin dilakukan oleh ilmu Mahisa Agni itu.

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam cahaya perapian yang kemerah-merahan ia melihat Ranggawuni merentangkan tangannya, dan membiarkan Lembu Ampal mengobati luka-lukanya yang tergores di seluruh tubuhnya.

“Yang pasti, tuanku Ranggawuni tidak memiliki ilmu kebal.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Sehingga sebenarnya masih mungkin untuk melakukan sesuatu atasnya. Tetapi aku kira racun tidak akan banyak manfaatnya, karena iapun tentu memiliki obat penawarnya.”

Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit niatnya untuk merunduknya jika pada suatu saat kedua anak muda itu sedang tertidur.

“Tetapi apakah Lembu Ampal itu juga akan tidur mendengkur di sebelahnya tanpa kesiagaan sama sekali?” bertanya Empu Baladatu kepada diri sendiri.

Namun tidak ada jawaban yang didapatkannya dari dirinya sendiri, selain keragu-raguan dan bahkan kemudian hampir sebuah sikap putus asa.

“Tidak.” Ia mencoba membentakkan dirinya dari perasaan putus asa itu, “Masih akan aku ketemukan jalan. Masih ada waktu. Aku seharusnya memang tidak tergesa-gesa. Menurut orang yang dapat aku yakini kebenaran katanya, ilmu hitam adalah ilmu yang paling kuat di seluruh muka bumi meskipun harus mengorbankan kemanusiaan seutuhnya. Tetapi barangkali aku memang masih harus berjuang lebih lanjut untuk mencapai tingkatan yang sempurna itu.”

Empu Baladatu tidak sempat merenungi dirinya dan ilmunya lebih lama lagi. Ketika kemudian Lembu Ampal selesai mengobati Ranggawuni, maka merekapun kemudian duduk dalam suatu lingkaran mengelilingi api yang semakin besar menggapai-gapai ke udara.

“Tuanku.” bertanya Lembu Ampal kemudian, “Jika tuanku tetap pada rencana, maka baru beberapa hari lagi para pengawal akan menjemput tuanku.”

“Ya. Aku tetap pada rencana.”

“Tetapi bagaimanakah dengan harimau itu? Harimau itu tentu merasa haus, lapar dan mungkin juga rasa sakit karena janget yang mengikat keempat kakinya dengan eratnya. Jika harimau itu kemudian meronta-ronta, apalagi terus-menerus dalam waktu beberapa hari, maka apakah tidak mungkin kaki kaki haramu itu akan terluka. Jika demikian maka usaha tuanku untuk mendapatkan seekor harimau yang kulitnya tidak cacat akan sia-sia.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Mahisa Campaka sejenak. Lalu, “Kemungkinan itu memang ada. Tetapi bagaimanakah sebaiknya? Jika aku memperpendek waktu perburuan ini, bagaimana mungkin kita dapat kembali ke Singasari dalam keadaan seperti ini? Membawa seekor harimau sebesar itu tanpa orang lain?”

“Tuanku juga tidak membawa tanda-tanda kebesaran sama sekali.”

“O, itu tidak penting. Tetapi bagaimanakah harimau itu harus kita bawa? Jika harimau itu kita sangkutkan pada punggung seekor kuda, maka kuda itu tentu bagaikan menjadi gila. Bahkan mungkin punggungnya akan terkelupas digigit oleh harimau itu. Tetapi jika kita harus memanggulnya sepanjang jalan yang panjang ini, tentu akan mengalami kesulitan pula.”

“Mungkin kita dapat minta bantuan tuanku.” berkata Lembu Ampal.

“He?” Wajah Ranggawuni menjadi cerah, “Apakah begitu Empu Sanggadaru?”

“Tentu tuanku. Hamba akan dengan senang hati membantu tuanku, membawa harimau itu ke istana Singasari. Bahkan hamba tidak akan berkeberatan untuk menyerahkan diri hamba dan harimau yang telah barhasil hamba tangkap bagi hiasan pula di istana Singasari.”

“O.” Ranggawuni tertawa, “Kita sudah membaginya dengan adil. Kau seekor dan aku seekor.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa Ranggaawuni tentu akan menolak, karena sifat-sifatnya yang keras tetapi luhur.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...