Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 26-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 26-02*

Karya.   : SH Mintardja

Sementara itu, selagi padepokan Empu Sanggadaru sedang mekar, karena ketekunan para cantriknya, maka gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang pun mengalami peningkatan ilmu pula. Empu Baladatu benar-benar telah mengirim beberapa orang yang mulai menusukkan cara-cara yang dianutnya untuk mengembangkan ilmu orang-orangnya yang baru.

Pada mulanya orang-orang gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang menjadi ragu-ragu. Akan tetapi lambat laun rasa-rasanya ilmu mereka memang meningkat lebih cepat.

“Bukan karena darah korban itu,” desis seorang tua yang merasa sangat kesulitan untuk menyesuaikan dirinya dengan cara-cara yang ditempuh oleh orang-orang yang dikirim ke padepokan itu oleh Empu Baladatu.

“Jadi?”

“Upacara itu memang mencengkam, sehingga kita semuanya menjadi lebih bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya. Kita seolah-olah telah memusatkan segala-galanya ke dalam pematangan ilmu itu, sehingga dengan demikian, kemajuan kita memang nampak lebih pesat.”

Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun ragu-ragu ia berkata, “Agaknya kau benar juga. Pemusatan pikiran memang dapat mendorong kita untuk melakukan apa saja.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Karena itu, jangan terlampau terpengaruh oleh cara-cara baru yang mengerikan itu. Setiap bulan bulat, maka akan dikurbankan seseorang. He, dengarlah, setahun ada dua belas orang yang akan mati sebagai korban.”

Kawannya tergetar hatinya sehingga bulu kuduknya meremang.

Namun, kawannya itu menjadi sangat ketakutan, ketika di hari berikutnya, ketika fajar menyingsing, orang-orang dipadepokan itu menemukan orang tua yang kurang menyetujui cara-cara baru yang ditempuh itu mati terbujur di pembaringannya. Nampaknya ia mati membeku karena tidak ada bekas luka sama sekali di tubuhnya dan bekas-bekas yang lain yang dapat menunjukkan ciri-ciri pembunuhan.

“Kematian yang aneh” desis seseorang. Adalah kebetulan orang yang diajak berbincang tentang cara-cara baru dari ilmu hitam oleh orang yang mati itu mendengarnya.

“Mungkin ia telah salah ucap dan terdorong kata” diluar sadarnya orang itu menyambung.

“Apa maksudmu?”

“O” orang itu tergagap, “tidak. Aku tidak bermaksud mengatakan apa-apa.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hampir berbisik ia bertanya, “Apakah kau mengetahui sesuatu hal yang ada hubunganya dengan kematian itu?”

Orang itu menggeleng, “Tidak. Tidak. Aku tidak tahu apa-apa.”

Kawan-kawannya justru menjadi curiga, sehingga mereka mendesaknya, “Tidak. Kau tentu mengetahui apakah yang telah terjadi dengan orang tua itu.”

Tetapi ia menggeleng lemah. Jawabnya, “Jangan mendesak. Aku sudah cukup menderita dengan kematiannya.”

“Kau gila” geram seorang kawannya, “kau sengaja membuat hati kami panas. Katakan.”

“Aku tidak berani.”

Kawannya yang lain Tiba-tiba saja telah mencengkam pundaknya sambil menggeram, “Jika kau tidak mau mengatakan, aku akan mencekikmu.”

“Jangan. Aku tidak mau mati dengan cara apapun juga. Aku tidak mau mati seperti orang tua itu, tetapi juga tidak mau mati karena dicekik.”

“Aku tidak peduli. Aku akan mencekikmu.”

“Jangan memaksa” desis orang itu, “jika kau mempergunakan kekerasan, aku pun akan mempertahankan diri.”

Keduanya Tiba-tiba saja sudah siap untuk berkelahi. Tetapi seorang yang lebih tua telah mencegahnya sambil berkata, “Jika kalian berkelahi, maka kalian berdua akan mati. Pemimpin kita yang baru atau orang yang ditugaskan di sini itu akan mengambil tindakan yang tidak tanggung-tanggung terhadap kita semuanya jika kita saling bertengkar.”

Yang lain memandang orang itu sejenak. Lalu salah seorang berkata, “Kita dapat menentukan sikap kita tanpa memperhatikan orang-orang baru itu.“

“Tidak mungkin” jawab yang lain, “mereka mempunyai kekuasaan di sini. Dan bagiku, kita sekarang memang sudah banyak mengalami kemajuan.“

“Bukan karena darah korban itu” desis seorang yang berdahi lebar, “tetapi karena pengaruh kesungguhan kita sendiri. Korban adalah sekedar cara untuk memaksa kita masing-masing memusatkan perhatian tanpa gangguan apapun juga. Dengan korban darah, kita merasa berada dalam suatu keadaan yang benar-benar penting dan berarti.”

“Cukup, cukup” teriak orang yang pernah diajak berbincang dengan orang tua yang terdapat mati dibiliknya.

“Kenapa?” Orang itu ragu-ragu.

“Kenapa?” bentak yang lain. Orang itu masih ragu-ragu.

“Baiklah” berkata yang lain lagi, “kami yakin bahwa kau mengetahui tentang sesuatu. Tetapi kau tidak mau mengatakannya.”

“Aku tidak berani. Tetapi barangkali kalian akan dapat menilai setiap kata yang akan kau ucapkan. Kematian itu jangan terulang lagi.”

Orang-orang yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka meloncat maju sambil bertanya, “Jadi apakah karena orang tua itu terdorong kata sehingga ia mengalami nasib buruk?”

Orang itu tidak menjawab.

“Cepat, jawab” desak yang lain.

Orang itu tetap berdiam diri. Bahkan ia pun kemudian berdiri dan melangkah pergi sambil berkata, “Aku tidak ikut campur. Jika ada kutuk yang menimpa, janganlah menimpa diriku;, “

Orang-orang yang ditinggalkan itu pun saling berpandangan sejenak. Namun kemudian sambil mengangkat bahu seseorang bangkit berdiri dan melangkah pergi dan bergumam, “Aku tidak mengerti, apakah yang sedang kita hadapi sekarang.”

“Persetan” geram orang yang berdahi lebar, “jika kutuk itu ada, biarlah aku yang mengalaminya, karena memang akulah yang mengatakan bahwa cara yang ditempuh sekarang ini untuk mengembangkan ilmu memang berhasil, tetapi terlalu mahal.”

Tidak ada yang menyahut. Satu-satu mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam bilik masing-masing.

Ketika malam turun, peristiwa yang baru terjadi itu pun telah membayang lagi pada orang yang berdahi lebar. Tetapi sekali lagi ia berkata, “Persetan. Aku tidak peduli.”

Ketika kemudian ia duduk seorang diri di serambi, maka orang yang mencegahnya berbicara tentang cara-cara baru untuk menuntut ilmu dan yang kebetulan juga berbicara dengan orang tua yang mati itu datang mendekat sambil berkata perlahan, “Aku mencemaskan nasibmu.”

“Kenapa?”

“Orang tua yang mati itu juga berbicara tentang cara-cara baru yang sedang kita lakukan sekarang. Ia mati tanpa diketahui sebabnya.”

“Aku tidak peduli.”

“Mudahkan tidak terjadi sesuatu atasmu.”

Orang berdahi lebar sama sekali tidak menghiraukannya.

Karena itulah maka pembicaraan mereka pun kemudian bergeser dari satu persoalan dan persoalan lain. Seolah-olah diluar sadarnya mereka telah mengunyah kacang yang digoreng sangan, yang dibawa oleh orang yang datang kemudian.

Namun dalam pada itu, terasa sesuatu terjadi pada orang berdahi lebar itu. Rasa-rasanya tubuhnya mulai gemetar dan mulutnya bagaikan membeku.

“Aku, aku, kenapa?” desisnya terbata-bata.

“Kenapa kau?” bertanya kawannya itu.

“Lidahku, tanganku, kakiku. Rasa-rasanya aku menjadi beku.”

Sejenak keduanya nampak gelisah. Orang berdahi lebar itu mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Namun semakin lama semakin terasa kelainan pada tubuhnya yang kekar itu.

“Aku, aku” desisnya, “lidahnya menjadi semakin beku.

Tiba-tiba saja kawannya tertawa sambil berkata, “Jangan bergurau.”

“Aku, aku tidak bergurau. Tetapi………” suaranya semakin sendat.

“Nah” Tiba-tiba kawannya berdiri, “sudah aku peringatkan, kau jangan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan usaha memperbaiki keadaan kita di sini sekarang.”

Orang, berdahi lebar itu memandang kawannya dengan tatapan mata putus asa.

“Kau sudah kena kutuk.”

Orang berdahi lebar itu tidak menyahut. Tetapi tubuhnya benar-benar terasa membeku.

“Aku menyesal bahwa telah terjadi malapetaka ini atasmu. Tetapi aku tidak dapat mengelak lagi. Meskipun kau kawanku, tetapi karena kau tidak sejalan dengan pimpinan kita, maka kau harus dimusnakan. Jika tidak, maka sikapmu akan membahayakan padepokan yang sudah mulai berkembang ini. Meskipun yang kau katakan itu benar, bahwa darah seseorang yang dibunuh untuk menjadi, korban itu sama sekali tidak berpengaruh, kecuali sebagai suatu usaha untuk membangunkan suasana kesungguhan, bukan sekedar bermain-main dan dapat dilakukan dengan sikap acuh tidak acuh karena seseorang sudah dikorbankan dihadapan mereka, namun kesadaran itu tidak boleh berkembang.”

“Jadi, kau, kau?” katanya sudah tidak jelas lagi.

“Ya. Aku. Yang membunuh orang tua itu juga aku dengan cara dan racun yang sama.”

Orang itu memancarkan sorot kemarahan yang tidak terhingga. Namun agaknya racun yang bekerja di tubuhnya sudah menjadi semakin tajam menusuk ke pusat jantung dan otak, sehingga orang itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

“Tidurlah dengan nyenyak. Besok orang-orang yang menemukan kau mati dengan selimut yang seolah-olah tidak tergeser di serambi ini akan menjadi gempar. Mereka mengetahui apa yang sudah kau lakukan, sehingga tidak seorang pun yang akan berani menyebarkan pendapat seperti yang kau katakan, dan yang dikatakan oleh orang tua yang mati itu pula.”

Tubuh orang berdahi lebar itu benar-benar sudah membeku. Dengan hati-hati kawannya menolong membaringkannya seperti saat ia tidur sambil berbisik, “Kau telah menelan racun karena kacang yang kau makan telah aku rendam ke dalam racun yang tajam. Aku masih mempunyai banyak sekali kacang yang demikian. Nah, selamat tidur. Kau ketahui sekarang bahwa aku adalah pengikut yang paling setia dari Empu Baladatu, dan dengan sadar sepenuhnya akan arti dan maknanya, akan menerima cara yang dipergunakannya. Membunuh di setiap bulan bulat untuk membangunkan suasana kesungguhan. Agaknya memang mahal sekali nilai ilmu yang akan kita miliki bersama. Sayang kau sudah tidak dapat melihat, bagaimana padepokan ini bersama dengan orang-orang yang sejalan, pada suatu saat merebut istana Singasari dari tangan kedua anak-anak ingusan itu.”

Orang berdahi lebar itu sudah tidak dapat menjawab, karena lidahnya benar-benar telah membeku. Demikian juga anggauta tubuhnya sehingga ia hanya dapat berbaring diam betapapun batinnya serasa dibakar oleh kemarahan.

Namun kemarahan itu pun semakin lama menjadi semakin pudar sejalan dengan kepudaran nalar dan perasaannya.

“Tidurlah dengan nyenyak. Jika kau masih bertanya di dalam hatimu kenapa aku tidak mati, maka jawabnya, aku dapat membedakan, yang manakah yang dapat aku makan, dan yang manakah yang tidak.”

Orang berdahi lebar itu sudah tidak mendengar lagi ketika orang yang membunuhnya itu tertawa pendek. Bahkan matanya pun kemudian menjadi kabur. Rasa-rasanya ingin ia meronta dan meneriakkan kemarahannya, tetapi seolah-olah ia sudah tidak kuasa lagi atas dirinya sendiri.

Sejenak kemudian, maka semuanya pun menjadi gelap dan tidak ada lagi yang dapat didengarnya. Kematian telah datang terlampau cepat.

Seperti yang diperhitungkan, maka tidak sampai matahari terbit di pagi harinya, padepokan itu telah menjadi gempar sekali lagi karena kematian yang aneh. Seseorang yang melihatnya di dini hari, mendekatinya dan menegurnya. Tetapi orang berdahi lebar itu sudah tidak mendengarnya.

“He, kenapa kau tidur disini? Udara sangat dingin. Apakah kau sedang menunggu lintang alihan.”

Pertanyaan itu tidak terjawab. Berulang kali, sehingga akhirnya tubuh itu pun diguncangnya. Tetapi tubuh itu telah membeku.

Dalam kegemparan itulah beberapa orang menjadi tegang dan saling berbisik, “Apakah kematiannya ini ada hubungan nya dengan kata-katanya kemarin?”

Tidak seorang pun yang dapat menegaskan. Tetapi orang yang membunuhnya itu dengan gemetar berbisik, “Aku sudah memperingatkannya. Kematian yang terdahulu karena ucapan-ucapan yang terdorong seperti itu.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku, aku akulah yang mendengarnya. Tetapi aku menjadi takut sekali.”

Yang lain menarik nafas. Tetapi seseorang berdesis, “Jika kau berterus terang, peristiwa ini tidak akan terjadi.”

Orang yang membunuh dengan racun pada biji-biji kacang itu mengerutkan lehernya. Dipandanginya orang-orang yang ada di sekelilingnya sambil berdesis, “Tidak. Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak berkata apa-apa.”

Kawan-kawannya pun mulai dibayangi oleh perasaan takut pula sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Marilah, kita sampaikan hal ini kepada yang berwenang mengusutnya.”

Beberapa orang di antara mereka pun kemudian memberitahukan kematian orang berdahi lebar itu kepada orang yang ditugaskan oleh Empu Baladatu berada dipadepokan itu dan memimpin upacara menurut kepercayaannya.

“Ki Lurah” salah seorang dari mereka berdesis dengan suara gemetar, “kematian yang serupa telah terulang lagi.”

Orang yang mewakili Empu Baladatu itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada yang datar ia bertanya, “Apakah tidak ada tanda-tanda kematiannya seperti orang tua itu?”

“Ya Ki Lurah.”

Yang disebut Ki Lurah itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Aku akan melihatnya.”

Orang-orang yang mengerumuni mayat orang berdahi lebar itu pun menyibak. Terdengar mereka saling berdesis, “Kiai Dulang telah datang.”

Kiai Dulang mendekati perlahan-lahan. Dipandanginya mayat yang terbujur itu. Perlahan ia meraba tubuh yang telah membeku itu pada dahinya.

“Tepat seperti kematian yang telah menerkam orang tua itu. Ada kesamaan pada gejala-gejalanya. Tetapi aku tidak tahu apa sebabnya. Keduanya tidak nampak tanda-tanda pembunuhan, penganiayaan, maupun sejenis penyakit yang dapat membunuhnya dengan cepat.” Ia berhenti sejenak, lalu ia pun bertanya, “bukankah kemarin orang itu masih nampak sehat-sehat saja?”

“Ya. Kami masih berbicara lewat senja.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Kemudian desisnya, “Ada tanda aneh pada urat-uratnya. Seperti juga orang tua yang mati itu.”

“Tanda-tanda apakah itu Ki Lurah.”

“Urat-uratnya telah membeku terlebih dahulu dari pada kematiannya.”

“Tetapi ia mengerti, apakah sebabnya” Tiba-tiba orang yang berdiri di belakangnya menyahut.

“Jika kau mengerti, katakanlah.”

Orang yang telah membunuh orang berdahi lebar itu ternyata memiliki kemampuan untuk berpura-pura. Dengan suara gemetar ia berkata, “Tetapi, tetapi aku tidak berani mengatakan. Aku takut mengalami nasib serupa.”

“Katakanlah.”

“Tidak. Aku tidak berani. Ada sesuatu yang rasa-rasanya mencegah aku mengatakannya. Tetapi aku tidak tahu.”

Kiai Dulang mendekatinya. Kemudian dipegangnya kepala orang itu sambil berkata, “Katakanlah.”

“Aku takut. Aku takut.”

“Kau hanya mengatakan apa yang sudah terjadi. Kau tidak mengatakan apa-apa sama sekali. Apakah kedua orang itu mati karena mengatakan apa yang sudah terjadi?”

Orang itu ragu-ragu. Lalu mengangguk kecil. “Ya. ia mengadakan apa yang sudah terjadi.”

“Tentu tidak. Kau bohong.”

“Aku berkata sebenarnya.”

“Jika kau berbohong, aku gantung kau di regol padepokan ini.”

“Tidak, aku tidak berbohong. Kedua orang itu memang mengatakan sesuatu yang telah terjadi. Tentang perguruan ini.”

Orang yang sebenarnya telah membunuh itu berpura-pura bingung sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika sesuatu terjadi, maka itu bukanya tanggung jawabku.”

“Aku akan mempertanggung jawabkan” sahut Kiai Dulang.

Orang itu termenung sejenak. Kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi sekali lagi aku katakan, semua kutuk jangan mengenai diriku. Jauhkan semua mara bahaya, karena aku sekedar melakukan bukan kehendakku sendiri.”

“Jadi. penyakit jenis yang manakah yang telah membunuhnya itu?”

Kiai Dulang menggeleng, “Aku tidak tahu. Tetapi yang terjadi benar-benar bukan sewajarnya. Ada sesuatu diluar daya nalar kita. Ada kekuatan diluar kekuatan lahiriah.”

“Kutuk barangkali?” seseorang bertanya dengan ragu-ragu.

Kiai Dulang memandang orang itu sejenak. Lalu, “Siapakah yang pernah mengutuknya? Atau mungkin ia sudah melakukan kesalahan?”

Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Dan Tiba-tiba saja tiga empat orang telah memandang orang yang sebenarnya telah membunuh orang berdahi lebar itu. Salah seorang berbisik, “Katakan. Katakanlah, “

“Kenapa aku? Banyak orang yang dapat menjadi saksi dari peristiwa itu.”

“Tetapi kau sudah menyaksikannya dua kali.”

Orang itu menggeleng. Namun sebelum yang lain memaksanya, Kiai Dulang telah bertanya, “Kenapa dengan orang itu.”

Salah seorang menyahut” Ia menyaksikan dua kali Ki Lurah.”

“Apakah yang dua kali?”

“Kematian itu.”

“Kematian yang mana?”

“Orang tua itu, dan orang berdahi lebar ini.” Kiai Dulang termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan suara yang berat ia bertanya, “Apakah benar kau menyaksikannya kedua kematian itu?”

“Tidak, tidak Ki Lurah. Aku sama sekali tidak menyaksikannya.”

“Cepat, katakan.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diceriterakannya apa yang pernah didengarnya dari kedua orang yang telah terbunuh itu. bahwa mereka kurang mempercayai cara-cara yang sekarang dilakukan dipadepokan ini untuk meningkatkan ilmu.”

“He” Kiai Dulang terbelalak, “jadi kau tidak mempercayai upacara yang harus dilakukan dalam penerimaan ilmu ini.?”

“Bukan, bukan aku. Bukan aku yang tidak percaya. Tetapi kedua orang mati itu.”

Kiai Dulang maju perlahan-lahan. Kemudian digenggamnya rambut orang itu sambil mengguncang-guncangnya, “Jadi kau berani mengatakan hal itu di hadapanku?”

“Bukan aku. Aku sudah mengatakan, bahwa tanggung jawab ini ada pada Kiai. Ada pada Kiai Dulang. Tidak padaku.”

Kiai Dulang menarik nafas. Katanya, “Ya. Aku bertanggung jawab. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku percaya Kiai, aku percaya.”

Kiai Dulang itu pun kemudian berdiri menengadahkan kepalanya dan memandang berkeliling. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Terserahlah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Aku tidak akan menghukum seseorang karena ia tidak percaya. Kepercayaan bukannya sesuatu yang dapat dipaksakan. Kepercayaan harus tumbuh dari hati sendiri. Yang dapat dilakukan oleh orang lain adalah memaksakan kepercayaan menilik pengakuan lahirlah saja. Tetapi bukanya kepercayaan yang sebenarnya, yang tumbuh dari dalam hati.”

Orang-orang yang ada di sekitarnya terdiam.

“Kedua orang itu harus memetik buah dari tanamannya sendiri. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan memilih nasib serupa itu, atau kalian akan bersikap lain.”

Tidak ada jawaban, tetapi wajah-wajah yang tegang itu nampaknya mengucapkan pengakuan yang sama bahwa mereka tidak dapat memilih yang lain kecuali mempercayainya, karena mereka tidak mau mengalami nasib serupa dengan kedua orang yang telah mati dengan cara yang aneh. Seolah-olah mereka telah mati tanpa sebab.

Sejenak kemudian, maka Kiai Dulang pun meninggalkan tempat itu. Sekilas dipandanginya wajah orang yang telah melakukan perannya dengan baik sekali, sehingga seolah-olah apa yang terjadi itu bukannya sekedar sikap pura-pura.

Sepeninggal Kiai Dulang, maka orang-orang yang sedang dicengkam oleh kegelisahan itu pun bagaikan membeku. Mereka seakan-akan telah dicengkam oleh perasaan ngeri dan cemas.

Namun di dalam setiap hati kemudian terbersit, “Jika aku akan selamat, sedangkan ilmuku pun akan segera meningkat.”

Setelah mayat orang yang terbunuh itu diselenggarakan semestinya, maka tidak ada seorang pun lagi yang berani mempersoalkan upacara yang berlaku dalam lingkungan ilmu hitam itu. Setiap orang telah terikat pada suatu kepercayaan yang tidak dapat mereka ingkari lagi. Karena mereka berpendapat, bahwa ingkar dari kepercayaan itu, berarti kematian yang diliputi oleh rahasia yang mendebarkan.

Sementara itu, orang yang telah berhasil mempercayakan kawan-kawannya itu merasa bangga bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik dan berhasil. Itulah sebabnya maka ia memasuki sebuah bilik dengan dada tengadah ketika Kiai Dulang mengundangnya.

“Kau pantas mendapat anugerah dari Empu Baladatu” berkata Kiai Dulang.

“Ah, apa yang aku lakukan adalah suatu kuwajiban.”

“Ya. Dan kau sudah melakukan kuwajibanmu dengan baik sekali.”

“Mereka sekarang tidak lagi ragu-ragu. Mereka percaya sepenuhnya bahwa korban darah itu dapat mempengaruhi kecepatan penyadapan ilmu itu.“

Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Lalu, “Seharusnya kita memang mempercayainya. Meskipun pembunuhan itu di lakukan oleh seseorang. dalam hal ini olehmu, tetapi sebenarnyalah kita harus mempercayainya bahwa upacara itu harus dilakukan. Darah yang memercik pada saat-saat upacara itu berlangsung berarti memercikkan kekuatan yang ada pada korban itu kepada setiap orang yang ikut serta dalam upacara itu.”

Orang yang telah melajukan pembunuhan itu mengangguk-angguk. Akhirnya ia pun berkata, “Aku memang mempercayainya.”

“Bagus. Jika demikian maka kau adalah orang yang paling dapat dipercaya dipadepokan ini. Kau memiliki kesempatan yang luas untuk memegang pimpinan dipadepokan ini jika aku tahu orang-orang yang mewakili Empu Baladatu sedang berhalangan.”

Orang itu tersenyum-senyum.

“Lain kali aku akan mengusulkan agar kau mendapat tanda jasa itu. Sekarang, kita akan merayakan kemenangan ini dengan cara kita.”

Orang itu tersenyum-senyum. Jarang sekali ia mendapat kesempatan untuk makan bersama Kiai Dulang. Bahkan selama hidupnya hanya akan didapatinya sekali itu saja.

Karena itulah maka orang itu telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Sambil mengunyah makanan dan meneguk minuman, ia mendengarkan Kiai Dulang memujikan seolah-olah tidak ada habis-habisnya.

“Sekarang setiap orang dipadepokan ini akan menganut kepercayaan pada upacara itu tanpa ragu-ragu lagi” berkata Kiai Dulang, “dengan demikian semuanya akan berjalan lebih lancar dan rencana yang besar itu pun akan segera dapat diujudkan.”

Orang yang merasa dirinya berjasa itu pun mengangguk-angguk sambil tersenyum bangga.

“Sekarang” berkata Kiai Dulang, “aku ingin menunjukkan kepadamu suatu keajaiban yang barangkali tidak pernah kau duga sebelumnya. Jika kau sendiri masih juga ragu-ragu, maka kau akan segera yakin, bahwa yang kau lakukan bukannya sekedar menakut-nakuti dan memaksa orang lain percaya karena tipu muslihat. Tetapi sebenarnyalah yang kita lakukan mempunyai kemungkinan yang tidak terbatas oleh kemampuan nalar manusia. Dengan demikian maka kadang-kadang kita ragu-ragu, bahwa pada suatu saat kita akan sampai kepada suatu tingkat yang tidak dapat dipecahkan dengan akal.”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

“Marilah” berkata Kiai Dulang sambil berdiri, “kita pergi ke Sanggar. Tidak ada orang lain yang akan mendapat kesempatan serupa. Kau adalah satu-satunya orang diluar perguruan Empu Baladatu yang boleh mengetahui rahasia itu.”

“Aku sekarang berada di dalam lingkungan perguruan Empu Baladatu.”

Kiai Dulang tertawa. Jawabnya, “Baik. Baik. Kau sekarang memang berada di dalam lingkungan perguruan Empu Baladatu.”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian meninggalkan bilik itu.

“Jangan ada orang lain yang melihat kita” berkata Kiai Dulang, “karena itu, hal ini kita lakukan setelah gelap.”

Orang itu mengangguk-angguk. Padepokan itu memang sudah menjadi gelap, dan lampu-lampu minyak sudah mulai dipasang. Obor-obor yang besar pun telah dipancangkan di regol meskipun di setiap malam obor itu hanya akan menyala sampai saatnya orang-orang pergi tidur sebelum tengah malam.

Dengan hati-hati keduanya pergi ke ruang belakang yang untuk sementara telah dipergunakan sebagai sanggar. Di muka ruang itu, menghadap ke belakang, upacara yang mendebarkan itu dilakukan setiap bulan purnama. Sementara di saat-saat sebelumnya korban yang akan disajikan dalam upacara itu telah disimpan di dalam sanggar itu.

“Kau akan melihat sesuatu yang menarik di dalam sanggar itu.”

Orang itu tidak menjawab.

Sejenak kemudian, maka mereka pun lelah berada di depan ruang yang khusus itu. Tidak setiap orang boleh memasuki sanggar upacara itu selain Kiai Dulang dan satu dua orang yang dibawanya dari padepokan Empu Baladatu sebagai pengantar setiap upacara di saat bulan penuh.

“Kita akan memasuki ruangan itu” berkata Kiai Dulang, “kau harus membersihkan dirimu dan hatimu. Kau harus melihat apa yang tampak tidak saja dengan mata wadagmu tetapi dengan mata hatimu.”

Orang itu menjadi berdebar-debar. Bukan saja hatinya, tetapi tubuhnya pun serasa menjadi gemetar.

“Kau nampak pucat sekali” desis Kiai Dulang.

“Tidak Kiai. Tidak apa-apa.” jawabnya. Tetapi dalam pada itu tubuhya serasa menjadi semakin gemetar.

Kiai Dulang tersenyum. Katanya, “Aku pun pernah mengalami keadaan serupa. Ketika pertama kali aku memasuki sanggar agung bersama Empu Baladatu, maka aku pun menjadi gemetar. Rasa-rasanya aku tidak dapat mengangkat kakiku untuk melangkahi tlundak pintu.”

“Ya Kiai.”

“Cobalah menguasai diri. Tidak ada yang aneh jika kau benar-benar mempersiapkan dirimu. Jika kau melihat sesuatu yang tidak dapat kau urai dengan nalar, terima sajalah hal itu sebagai suatu keajaiban.”

Orang itu mengangguk. Tetapi tubuhnya terasa menjadi semakin lemah, bagaimanapun juga ia mencoba menguasai perasaannya, sehingga akhirnya ia tidak dapat menyembunyikan keadaannya lagi.

Terdengar suaranya yang gemetar, “Kiai. Aku menjadi sangat lemah dan seolah-olah aku tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri.”

“Duduklah. Kau benar-benar telah dipengaruhi oleh perasaanmu.”

Orang itu pun kemudian duduk di sudut di muka ruang yang dikeramatkan itu. Peluhnya mengalir semakin deras dan nafasnya seolah-olah menjadi semakin pepat.

“Aku tidak tahu, apakah yang terjadi atas diriku.”

“Tidak apa-apa. Jika kau berhasil menguasai perasanmu, maka semua itu akan hilang dengan sendirinya dan kau akan mendapat kesempatan melihat sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya.”

“Tubuhku menjadi gemetar. Seolah-olah tulang-tulangku telah terlepas pada sendi-sendinya.

“Cobalah menarik nafas. Dan cobalah menyadari apa yang terjadi. Kau terlampau bangga dan barangkali terlalu berpengharapan.”

Orang itu memandang Kiai Dulang dengan wajah yang pucat dan berkeringat. Namun ia mencoba juga untuk menarik nafas panjang sekali. Beberapa kali. Dicobanya untuk menguasai dirinya dengan kesadaran bahwa yang terjadi itu bukannya karena kelainan pada tubuhnya, tetapi semata-mata karena perasaannya. Tetapi ternyata bahwa ia tidak berhasil. Ia masih merasa dirinya lemah dan nafasnya menjadi sesak.

Bahkan kemudian seakan-akan ia tidak mampu lagi menahan tubuhnya untuk tetap duduk meskipun sambil bersandar dinding.

“Aku menjadi lemah sekali” desisnya.

Tiba-tiba saja sisa-sisa kesadarannya tersentak ketika ia melihat Kiai Dulang tertawa meskipun tidak cukup keras.

“Kiai tertawa” orang itu bertanya.

“Aku tertawa melihat wajahmu yang pucat, tubuhmu yang gemetar, dan ketakutan yang mencengkam.”

“Aku sungguh-sungguh merasa bahwa sesuatu telah terjadi pada diriku Kiai.”

“Tentu. Aku tidak membantah. Kau telah tersentuh oleh racun seperti yang pernah kau berikan kepada orang lain. Kepada kedua orang yang telah mati kau bunuh itu.”

“He” mata orang itu terbelalak. Tubuhnya masih dapat menyentak sejenak. Namun kemudian ia terbaring di lantai tanpa dapat bergerak lagi selain matanya yang berkeredip dan nafasnya yang tersengal-sengal.

“Tidurlah pahlawan” desis Kiai Dulang, “kau sudah berjasa kepada Empu Baladatu dan para pengikutnya. Juga kepada padepokan ini. Kau pantas mendapat tanda penghargaan yang paling tinggi dari Empu Baladatu, yaitu kematian lewat tanganku.”

“Kenapa, kenapa hal ini Kiai lakukan?” suaranya tersendat-sendat.

“Tugasmu sudah selesai. Kau sudah cukup meyakinkan orang-orang dipadepokan ini. Dua orang sudah cukup, dan bahkan tiga dengan dirimu sendiri.”

“Kenapa aku?”

“Kau menjadi sangat berbahaya bagi kami. Kau mengetahui rahasia kematian kedua orang itu. Karena itu, kau pun harus mati. Kematianmu merupakan jasamu yang terakhir, karena dengan demikian orang-orang dipadepokan ini akan menjadi semakin yakin dan percaya, bahwa kau dan kedua orang yang terdahulu mati karena kepercayaannya yang goyah. Kau sudah berani menyebut-nyebut sebab kematian kedua orang itu di hadapan banyak orang.”

“Tetapi bukankah Kiai sendiri yang menyuruhku” suaranya menjadi semakin lambat meskipun ia masih memaksa diri untuk tetap sadar.”

Kiai Dulang tertawa lagi. Perlahan-lahan. Tetapi nada suaranya bagaikan suara hantu dari dalam panasnya api.

“Semuanya sudah aku atur. Dan ternyata aku berhasil menyelesaikan tugasku dengan baik. Tetapi aku tidak takut mengalami nasib seperti nasibmu karena Empu Baladatu terlalu percaya kepadaku. Bukan saja sejak kemarin atau sejak setahun yang lalu. Tetapi sudah bertahun-tahun. Dan sekarang aku dapat membuktikan bahwa aku berhasil sekali lagi menjalankan tugasku.”

“Gila” tiba-tiba orang itu menggeram. Sisa kesadarannya masih dapat menangkap makna dari peristiwa itu.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Tubuhnya sudah menjadi terlampau lemah, sehingga pandangan matanya pun semakin lama menjadi semakin pudar. Cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan itu pun rasa-rasanya telah berubah menjadi semakin hitam, semakin pekat, dan akhirnya semuanya hilang dari pandangan matanya sejalan dengan lenyapnya kesadarannya tentang diri dan adanya. Kematian itu tidak dapat dielakkannya lagi.

Kiai Dulang tertawa perlahan-lahan. Dibetulkannya letak tubuh yang membeku itu, seolah-olah sedang tidur lelap di muka pintu sanggar.

“Besok tentu ada orang yang menemukannya mati di sini.”

Kiai Dulang pun kemudian meninggalkan tempat itu dengan hati-hati sehingga tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.

Seperti yang diperhitungkan, maka menjelang pagi hari, seseorang yang tanpa dengan sengaja lewat di tempat itu sebelah membersihkan halaman dan masuk ke ruang dalam, melihat sesosok tubuh yang terbaring. Senada ia pun menduga bahwa seseorang telah tertidur. Karena itu, maka ia pun kemudian mendekatinya.

“He, kenapa kau tidur disini” desisnya sambil mengguncang tubuh itu.

Namun ternyata bahwa tubuh itu telah membeku. Terasa dadanya bagaikan dihentakkan oleh ketakutan ketika ia sadar, bahwa tubuh yang terbaring itu tidak akan dapat mendengar suaranya lagi. Mati.

Sejenak ia justru bagaikan membeku pula seperti tubuh yang terbaring itu. Namun kemudian hampir diluar sadarnya ia pun segera bangkit dan berlari keluar ruangan itu sambil berteriak seperti orang yang kehilangan ingatan.

Sekali lagi padepokan itu menjadi gempar. Dan sekali setiap orang telah dicengkam oleh ketakutan.

Kiai Dulang yang kemudian datang pula di tempat itu dengan suara yang dalam dan wajah yang sedih berkata, “Aku akan menyelenggarakan upacara untuk mohon pengampunan agar peristiwa seperti ini tidak terulang sekali lagi.”

Padepokan yang semula dihuni oleh sebuah gerombolan yang bernama Serigala Putih dan Macan Kumbang itu, ternyata benar-benar telah dicengkam oleh suatu kepercayaan baru tentang ilmu yang disebut ilmu hitam. Tidak seorang pun lagi yang berani membicarakan tentang kepercayaan baru itu. Apalagi menyatakan ketidak percayaan.

“Tiga orang telah mati” berkata Kiai Dulang, “dan aku tidak boleh berdiam diri. Hanya dengan upacara permohonan ampun, maka hal yang serupa akan dapat dicegah.”

“Apakah yang harus kami lakukan dalam upacara itu Kiai?” bertanya salah seorang.

Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kematian itu terjadi dengan cara yang sama, sehingga tidak dapat di sangsikan lagi bahwa sebab kematian itu pun tentu sama pula. Meskipun orang yang terakhir itu nampaknya hanya sekedar menceriterakan apa yang diketahuinya, namun ternyata bahwa hatinya sendiri dihinggapi oleh keragu-raguan, sehingga nyawanya pun telah diambilnya pula.”

“Siapakah yang telah mengambil nyawa itu Kiai?” bertanya seseorang.

Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Kau meragukannya?”

“Tidak. Tentu tidak Kiai” dengan serta merta orang itu menyahut, “aku sama sekali tidak meragukannya.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus mengadakan korban khusus.”

“Korban khusus?” hampir berbareng beberapa orang telah bertanya.
“Ya. Kita harus menemukan korban yang mempunyai nilai sama dengan kemarahan kekuatan yang tersimpan, dan yang perlahan-lahan mengalir ke dalam diri kita.”

Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Tetapi wajah mereka menjadi tegang dan bahkan cemas.

“Kita harus menemukannya. Jika tidak, maka kemarahan ini akan berlarut-larut dan berkepanjangan.” ia berhenti sejenak, lalu, “mungkin setiap saat kita akan kehilangan seorang kawan kita meskipun tidak seorang pun di antara kita yang menyatakan pendapat kita tentang kekuatan yang tidak kita lihat dalam ujudnya dengan indera wadag kita. Nampaknya kemarahan itu sudah terlalu parah.”

“Jadi apakah yang harus kita lakukan?”

“Menemukan korban itu.”

Beberapa orang menjadi ketakutan. Jika Kiai Dulang mengambil korban di antara mereka, maka salah seorang dari mereka akan diperas darahnya untuk upacara yang mendebarkan jantung itu.

Namun mereka tidak berani menyatakan sesuatu, karena mereka tidak mau mengalami nasib yang sangat buruk itu.

“Nah” bertanya Kiai Dulang kemudian, “apakah kata kalian jika kalian mendapat tugas untuk menemukan korban yang paling baik untuk upacara permohonan ampun itu.”

Sejenak orang-orang itu terdiam. Mereka bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang seharusnya mereka lakukan.

Dalam pada itu, Kiai Dulang pun melanjutkannya, “Kalian tidak dapat memilih selain melakukan tugas itu. Jika kalian tidak dapat menemukannya, maka nasib kita disini akan menjadi semakin buruk. Tentu tidak bagiku, tetapi bagi kalian. Aku dapat begitu saja pergi meninggalkan padepokan ini kembali ke padepokan Empu Baladatu dan melaporkan apa yang telah terjadi disini. Tetapi kalian yang aku tinggalkan, seorang demi seorang akan diterkam oleh kemurkaan itu. Kalian tidak akan dapat mengungsi kemanapun juga, karena maut itu akan dapat menikam kalian dimanapun juga.”

Tidak seorang pun yang menyatakan pendapatnya. Mereka bagaikan patung yang berdiri tegak mendengarkan keterangan Kiai Dulang. Namun dalam pada itu, jantung mereka serasa berdentangan saat mereka mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya dengan nada yang dalam.

“Aku ingin jawaban kalian” berkata Kiai Dulang, “jika kalian sanggup, katakanlah. Jika tidak, katakanlah pula.”

Masih belum ada jawaban.

“Ucapkanlah” desak Kiai Dulang, “jika kalian tidak menjawab, maka tidak ada yang dapat aku lakukan, karena pernyataan hati kalianlah yang menjadi dasar usahaku kemudian.”

Keragu-raguan masih tetap mencengkam hati setiap orang, sehingga akhirnya Kiai Dulang berteriak, “Jawablah. Apakah kalian bersedia atau tidak? Aku tidak akan bertanya lagi. Pertanyaanku ini adalah pertanyaanku yang terakhir. Jawablah. Bersedia atau tidak.”

Pertanyaan itu ternyata telah menghentakkan setiap orang dari keragu-raguannya. Betapapun juga mereka harus menjawab. Dan mereka tidak mempunyai jawaban lain kecuali bersama-sama menyatakan, “Kami bersedia.”

Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagus. Aku percaya bahwa kalian memang berusaha untuk melakukan sesuatu yang kalian anggap berguna bagi padepokan kalian ini.”

Orang-orang yang mendengarnya mengangguk-angguk.

“Nah, jika demikian kalian harus mencari orang itu. Orang yang dapat dianggap seimbang dengan kemurkaan dari kekuasaan ilmu hitam yang paling tinggi.”

Wajah-wajah yang mendengarnya itu pun menjadi tegang.

“Dengarlah. Aku akan menunjukkan beberapa nama yang aku anggap memenuhi syarat untuk kepentingan itu.”

Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Mereka sudah membayangkan bahwa nama-nama itu tentu nama-nama orang yang memiliki suatu kelebihan.

Tiba-tiba saja Kiai Dulang tertawa sehingga orang-orang yang mendengarnya menjadi saling berpandangan dan bertanya-tanya di dalam hati.

“Dengarlah” berkata Kiai Dulang, “mungkin nama-nama itu akan membuat kalian pingsan. Tetapi kalian memang tidak harus bertindak apa-apa. Kalian hanya berkewajiban untuk mengetahui dimanakah mereka berada, dan keadaan mereka sehari-hari.”

Orang-orang yang mendengarnya menjadi semakin heran. Dan Kiai Dulang melanjutkannya, “Nah, apakah kalian dapat mengerti? Jika kalian telah mendapatkan orang yang harus kalian cari, maka kalian tinggal melaporkannya kepadaku. Itulah tugas kalian. Hanya melaporkan kepadaku.”

Orang-orang yang mendengarnya mulai dapat membayangkan tugas yang dihadapinya. Tetapi mereka belum mengetahui nama yang harus mereka cari.

“Dengarlah baik-baik” berkata Kiai Dulang kemudian, “kalian harus dapat menunjukkan kepadaku tempat, keadaan dan kemungkinan dari salah seorang yang akan aku sebut namanya. Jika kita gagal mendapatkan salah seorang dari mereka untuk korban penebusan atas kesalahan-lahan kita, maka kematian-kematian itu akan berlangsung terus.”

Orang-orang yang mendengarkannya menjadi semakin berdebar-debar.

“Dengarlah. Nama yang pertama dan kedua adalah nama yang tidak mungkin dapat kita pergunakan, justru karena kebesarannya. Yaitu Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Ternyata kedua nama itu bagaikan mengguncang jantung setiap orang yang mendengarnya, karena mereka sadar, bahwa kedua nama itu adalah nama orang-orang yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas Tanah Singasari.

“Jangan bingung. Aku sadari, bahwa kedua nama itu tidak akan mungkin dapat kita sentuh karena mereka mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang tiada terjangkau oleh kemampuan kita.” berkata Kiai Dulang selanjutnya, “karena itu dengarlah nama-nama berikutnya.

Rasa-rasanya setiap hati menjadi semakin tegang.

“Nama yang kemudian ini pun hampir tidak mungkin kita sebut-sebut. Tetapi baiklah kau dengar sebagai tataran yang berikutnya. Karena apabila pada suatu saat, entah karena sesuatu sebab, nama-nama itu dapat kita korbankan, maka sudah tentu ilmu yang kalian miliki akan meningkat dengan suatu loncatan yang jauh. Kalian akan menjadi orang yang tidak ada duanya, karena kemampuan kalian akan setingkat dengan kemampuan para korban itu ditambah dengan kemampuan yang telah kalian miliki sebelumnya.”

Orang-orang yang mendengarnya menjadi heran. Ada ketidak wajaran pada keterangan itu. Tetapi ketika mereka menyadari bahwa ketidak percayaan akan dapat mengantar mereka kepada kematian yang aneh, maka setiap orang pun dengan serta merta segera mempercayainya.

“Nama-nama itu adalah” berkata Kiai Dulang selanjutnya, “Mahisa Agni, Mahendra dan Witantra.”

Sekali lagi dada setiap orang itu terguncang. Mereka pernah mendengar nama-nama itu. Dan mereka pun mengetahui bahwa orang-orang itu adalah orang-orang besar yang tidak mudah di sentuh karena kemampuan mereka yang hampir tidak ada imbangannya.

Tetapi Kiai Dulang berkata selanjutnya, “Namun demikian tugas kalian tetap seperti yang aku katakan. Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka, kalian wajib memberitahukannya kepadaku. Meskipun ketiga nama itu adalah nama-nama yang seakan-akan tidak dapat disentuh dengan ilmu yang manapun juga, namun Empu Baladatu pun memiliki segalanya untuk mencapai kemungkinan yang hampir tidak terjangkau itu.”

Orang-orang itu pun mengangguk-angguk.

“Nama-nama yang lain yang mulai dapat disentuh oleh kemungkinan kemampuan kita bersama-sama adalah, Lembu Ampal dan Empu Sanggadaru.“

“Empu Sanggadaru” desis beberapa orang hampir bersamaan.

“Ya. Empu Sanggadaru. Kalian tentu heran, bahwa aku berani menyebut namanya, karena ia adalah saudara Empu Baladatu sendiri.”

Yang mendengarkannya mengangguk-angguk.

“Tetapi dengarlah. Meskipun ia adalah saudara Empu Baladatu, tetapi mereka berselisih jalan. Empu Sanggadaru adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup. Tetapi ia tertidur dalam keadaannya sekarang tanpa cita-cita dan kemungkinan yang lebih baik di masa depan. Bahkan Empu Sanggadaru yang telah membunuh pemimpin dari gerombolan Serigala Putih itu tentu akan merupakan penghalang yang paling besar dari usaha Empu Baladatu untuk mencapai puncak tertinggi dari kekuasaan yang ada di Singasari. Dan usaha ini kebetulan sekali sejalan dengan usaha kita untuk mencari pengampunan atas segala kesalahan yang telah kita lakukan. Adalah tebusan yang sangat murah apabila kita hanya cukup menunjukkan nama-nama itu dengan sedikit gambaran tentang kehidupannya, sedang yang akan bertindak adalah Empu Baladatu sendiri dengan beberapa orang pengawalnya.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...