Senin, 04 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 033-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-033-01*

Sebuah kepala dengan lidah yang bercabang terjulur naik ke atas amben itu langsung menuju ke arah kaki Mahisa Ura. Seekor ular belang. Seekor ular belang yang cukup besar.

Jantung Mahisa Murti berdesir. Jika ular itu menyerang Mahisa Pukat, Mahisa Murti tidak terlalu gugup, karena Mahisa Pukat, sebagaimana dirinya, mempunyai kekuatan untuk menangkal bisa yang betatapapun tajamnya. Tetapi Mahisa Ura tidak.

Karena itu maka Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Setelah memusatkan kemampuannya sejenak, maka tiba-tiba iapun telah mengangkat tangannya ke arah kepala seekor ular yang besar, yang merambat ke arah kaki Mahisa Ura dan tangan Mahisa Murti itu telah memancar secercah sinar yang menyambar kepala ular itu. Namun bukan saja kepala ular itu yang pecah, tetapi amben besar itupun telah berderak pula.

Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Tatas Lintang yang berada di dapur itupun terkejut. Bahkan Mahisa Murti pun telah terkejut pula. Ketika Mahisa Pukat, Mahisa Ura terbangun, serta Tatas Lintang meloncat ke ruang dalam, maka mereka telah melihat seekor ular belang yang besar sedang menggeliat di lantai. Namun sejenak kemudian maka ular itupun telah terdiam. Mati.

“Ular,“ berkata Tatas Lintang dengan tegang, “mereka telah mempergunakan cara baru.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, sementara itu Mahisa Pukat memandangi bangkai ular itu dengan termangu-mangu.

“Hampir saja,“ desis Mahisa Ura, “mungkin ular itu tidak berbahaya bagi kalian berdua, tetapi berbahaya bagiku.”

“Bagi kami pun berbahaya,“ sahut Mahisa Pukat, “ular itu cukup besar untuk membelit dan mencekik leherku.”

Namun Mahisa Murti pun berkata, “Agaknya memang ada maksud tertentu. Orang-orang itu tahu, bahwa ular-ular di dekat batu yang berwarna kehijauan itu tidak mampu membunuhku. Tetapi mereka mempergunakan ular juga untuk menyerang kita.”

“Mungkin akulah yang diancamnya,“ berkata Tatas Lintang.

“Katakan, apakah kau tidak mempunyai penawar bisa?“ bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya,“ beruntunglah aku … “ namun suaranya terputus. Ia menjadi ragu-ragu sambil memandangi dinding pondoknya. Tetapi sejenak kemudian iapun mengangguk kecil.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mengetahui, bahwa Tatas Lintang pun mempunyai penawar bisa.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk dengan peristiwa yang baru saja terjadi, terdengar suara isyarat kentongan. Merekapun segera mengetahui, bahwa suara kentongan itu adalah kentongan banjar padukuhan, yang kemudian disahut oleh yang lain.

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah kita akan pergi ke banjar?”

“Baiklah,“ berkata Mahisa Murti, “kita akan pergi ke banjar.“

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah berkemas dan membenahi diri mereka masing-masing. Sejenak kemudian, mereka pun telah siap untuk meninggalkan pondok mereka.

Tetapi mereka tidak keluar lewat pintu depan. Mereka telah keluar dari pondok itu lewat pintu dapur. Namun mereka pun telah berhati-hati, karena masih mungkin sesuatu terjadi pada diri mereka. Mungkin serangan yang tiba-tiba dari orang-orang tersembunyi, atau seekor ular raksasa yang akan mampu mematahkan tulang belakang mereka dengan belitannya.

Ternyata tidak ada apapun di luar. Tidak ada serangan yang tiba-tiba dan tidak ada seekor ular yang dapat mengganggu mereka.

Namun sementara itu suara kenthongan pun telah bergema di seluruh padukuhan. Semakin lama semakin banyak dan merata. Tetapi mereka sudah mengetahui bahwa sumber isyarat itu adalah suara kentongan di banjar padukuhan.

Ketika Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu sampai di banjar, mereka melihat banyak orang sudah berkerumun.

Mereka yang berkerumun itupun segera menyibak ketika mereka melihat Tatas Lintang itu datang. Meskipun sebelumnya Tatas Lintang tidak lebih dari seorang yang hanya sekedar mendapat tempat di sudut pategalan untuk membangun sebuah pondok kecil dan tidak termasuk orang yang dibicarakan, namun kemudian Tatas Lintang telah berubah menjadi orang yang mendapat tempat yang terhormat karena beberapa hal yang telah dilakukannya, termasuk membunuh kelima ekor harimau, meskipun bangkainya yang telah diletakkan di banjar itu hilang.

Ketika Tatas Lintang memasuki halaman banjar, maka Ki Bekel telah menyongsongnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Satu bencana baru telah terjadi. Justru akan membawa kematian. Bukan sekedar tiga ekor kambing, tetapi beberapa orang anak muda terbaik dari padukuhan ini.”

“Apa yang terjadi?“ bertanya Tatas Lintang.

“Entahlah. Tetapi tiba-tiba saja beberapa ekor ular telah mematuk anak-anak muda yang berada di gardu di depan banjar ini. Kini mereka dalam keadaan gawat di ruang dalam banjar itu.” sahut Ki Bekel.

“Mereka dipatuk ular?“ bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Tidak seekor ular pun tertangkap. Ular-ular itu seakan-akan mengetahui dengan pasti, apa yang harus mereka lakukan. Mematuk dan melarikan diri.“ jawab Ki Bekel.

“Apakah mereka tidak diobati?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Seorang yang kami anggap paling pandai dalam ilmu pengobatan di padukuhan ini sedang mencoba.“ jawab Ki Bekel, “tetapi menurut keterangannya, bisa ular itu terlalu tajam, sehingga sulit untuk mengatasinya. Ular itu adalah ular sejenis bandotan hitam dan ular weling.”

Mahisa Pukat menggeram. Namun kemudian bertanya, “Marilah. Kita melihatnya.”

Ki Bekel pun telah membawa empat orang itu masuk ke ruang dalam banjar padukuhan itu. Tiga orang terbaring sambil merintih dalam keputus-asaan. Dua orang yang lain agaknya lebih tabah menghadapi bencana itu. Namun meskipun mereka hanya berdiam diri, tetapi ketakutan memang membayang di wajah mereka.

Ketika Tatas Lintang mendekati seorang tua yang berusaha mengobati kelima anak muda itu, maka orang tua itupun telah menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku telah mencoba. Aku sudah memberi obat menurut pengetahuanku. Tetapi agaknya kita hanya dapat menunggu, apakah obat itu akan berhasil atau tidak.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun agaknya anak-anak muda yang dipatuk ular itu keadaannya menjadi semakin gawat.

“Ada satu kesalahan yang pokok,“ berkata orang tua itu. “demikian anak-anak ini digigit ular, seharusnya mereka tidak dibawa masuk ke bawah atap banjar ini. Tetapi ketika aku datang, mereka sudah ada di dalam, sehingga keadaannya menjadi parah. Merekapun tidak dengan segera diberi penawar pelepah pisang yang perahannya diminumkan kepada mereka.”

Tatas Lintang mengerutkan keningnya, ia belum pernah mendengar syarat yang demikian agar orang yang digigit ular tidak menjadi semakin parah. Namun agaknya obat orang tua itu-pun kurang tajam untuk melawan bisa ular bandotan hitam dan sejenis ular weling.

Karena itu, maka iapun kemudian berbisik kepada Mahisa Murti, “Apakah kita akan mengobatinya?”

Mahisa Murti mengangguk.

“Apakah kau mempunyai obatnya ?“ bertanya Tatas Lintang.

“Aku mempunyai sejenis batu akik, sedangkan Pukat memiliki gelang sejenis akar yang mampu menawarkan racun.” desis Mahisa Murti pula.

“Bagus,“ berkata Tatas Lintang, “tetapi agaknya lebih mudah jika kepada mereka diberikan serbuk obat saja. Aku membawanya.”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, Tatas Lintang pun telah minta diri kepada Ki Bekel agar memerintahkan seseorang untuk mengambil air di sumur di samping banjar, serta mengambil sebuah mangkuk bersih.

Ki Bekel mengangguk. Iapun cepat memerintahkan seseorang untuk melakukannya. Namun agaknya orang itu tidak berani pergi sendiri. Ia telah membawa dua orang kawan yang membawa obor, karena di lingkungan pakiwan dan sumur yang gelap itu akan dapat bersembunyi ular-ular berbisa pula.

Namun ternyata mereka tidak dipatuk ular sehingga mereka pun dengan cepat telah membawa mangkuk bersih serta air dari sumur.

Tatas Lintang pun bekerja cepat. Ia telah menaburkan obat ke dalam air di dalam mangkuk, kemudian berturut-turut anak-anak muda yang digigit ular itu telah disuruhnya minum obat itu masing-masing beberapa teguk. Sedangkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah membantu menaburkan obat yang lain pada luka-luka bekas gigitan ular itu.

Orang tua yang telah mengobatinya lebih dahulu itupun mengerutkan keningnya. Agaknya ia kurang senang melihat tingkah laku Tatas Lintang. Namun Tatas Lintang tidak begitu menghiraukannya. Ia lebih memperhatikan keselamatan anak-anak yang telah digigit ular itu daripada sikap dan harga diri orang tua yang telah memberikan obat, namun agaknya tidak akan banyak menolong itu.

Ternyata obat yang diberikan oleh Tatas Lintang itu jauh lebih baik dari obat yang diberikan oleh orang tua sebelumnya. Tetapi obat yang diberikan oleh orang tua itu bukannya tidak bermanfaat. Karena obat orang tua itulah maka laju arus bisa ular itu terhambat meskipun tidak mampu menghentikannya. Namun karena terhambat, maka anak-anak muda yang digigit ular itu sempat menunggu kedatangan Tatas Lintang. Sedangkan jika arus bisa itu sama sekali tidak terhambat, maka anak-anak muda itu tentu sudah tidak akan tertolong lagi.

Karena itulah, maka Tatas Lintang itupun kemudian berkata, “Anak-anak muda ini tentu akan berterima kasih kepada Ki Sanak. Tanpa bantuan Ki Sanak, maka mereka tidak akan sempat menelan obat yang aku berikan.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengerti maksud Tatas Lintang. Meskipun demikian, tetapi orang itu masih saja merasa tersinggung oleh sikap Tatas Lintang yang ternyata mempunyai kemampuan pengobatan yang lebih baik.

Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Adalah satu kenyataan bahwa obatnya tidak banyak menolong anak-anak muda itu, bahkan jiwa anak-anak muda itu tetap terancam. Namun bahwa orang yang tinggal di sudut pategalan itulah yang telah mengobatinya, iapun merasa harga dirinya telah tersentuh.

Namun dalam pada itu perlahan-lahan keadaan anak-anak muda itu nampak berangsur baik. Mereka yang sudah mulai dicengkam oleh kebekuan karena bisa yang tajam, mulai merasa darahnya mengalir lagi. Bahkan kemudian seakan-akan hambatan-hambatan serta perasaan sakit di dalam tubuh anak-anak muda itu telah terhisap ke arah luka bekas gigitan ular itu. Panas yang bagaikan membakar di luka itupun mulai susut dan keringat yang dingin rasa-rasanya menjadi hangat

Harapan pun mulai tumbuh lagi di dada anak-anak muda yang sudah menjadi putus asa itu. Jiwa mereka yang sudah terdesak sampai ke ubun-ubun itupun seakan-akan telah mapan lagi di dalam diri mereka.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata. “Terima kasih. Kau sudah menyelamatkan anak-anak itu.”

“Mudah-mudahan mereka menjadi baik,“ berkata Tatas Lintang, “marilah kita berdoa, semoga Yang Maha Agung memperkenankan mereka sembuh kembali.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita semua akan berdoa. Namun kau sudah melakukan satu usaha. Agaknya usahamu menjadi perkenan-Nya.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah keadaan anak-anak muda yang dipatuk ular itu menjadi kian membaik.

Wajah mereka tidak lagi nampak sangat pucat.

Bahkan seorang di antara mereka mulai berdesis, “Aku haus.”

Tatas Lintang yang mendengar desis itupun bergumam, “Air.”

Seorang pun kemudian pergi ke belakang untuk mengambil air yang sudah masak di dapur. Air masak yang disediakan untuk para peronda di gardu, yang ternyata masih tersisa.

Beberapa titik air masak itu diteguknya. Terasa betapa segarnya.

“Biarlah di situ,“ berkata Ki Bekel, “mungkin yang lain juga memerlukan nanti.”

Mangkuk air itu tidak disingkirkan. Tetapi diletakkannya saja di amben itu.

Dalam pada itu maka beberapa orang mulai berdesis. Mereka merasa lukanya itu menjadi pedih lagi. Namun justru karena itu, maka Tatas Lintang pun yakin, bahwa pengobatannya akan menolong.

Ketika Tatas Lintang mengamati luka-luka di tubuh anak-anak muda itu, maka nampak darah mulai mengalir dari luka-luka itu. Karena itu maka Tatas Lintang itupun berkata kepada tiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya, “Bantu aku mengobati mereka dengan obat yang berikutnya.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian telah membantu Tatas Lintang membersihkan darah yang keluar dari luka-luka di tubuh anak-anak muda itu dan menaburkan obat yang lain. Agaknya obat itu terasa sangat pedih sehingga terdengar mereka menyeringai dan mengeluh. Namun Tatas Lintang berkata, “Memang terasa pedih. Tetapi itu justru satu harapan, bahwa kalian akan sembuh.”

Anak-anak muda itu masih saja menahan pedih. Tetapi mereka-pun menjadi semakin berpengharapan, bahwa mereka akan sembuh dan jiwa mereka pun akan tertolong.

Dalam pada itu, ketika anak-anak muda itu sudah menjadi berangsur baik maka Ki Bekel pun telah meninggalkan mereka bersama Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebutnya kemanakannya itu. Beberapa orang yang lain masih berada di dalam menunggui anak-anak muda itu. Bahkan orang tua di antara anak-anak muda yang terluka itu ada pula yang sudah datang untuk menunggui anaknya.

Ki Bekel dan Tatas Lintang serta ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun telah pergi ke gardu. Mereka mulai bertanya-tanya kepada anak-anak muda yang sedang meronda dan menyaksikan apa yang telah terjadi dengan kawan-kawannya yang telah dipatuk ular itu.

Namun tidak seorang pun yang dapat berceritera dengan jelas. Pada umumnya mereka tidak tahu tepat apa yang telah terjadi. Yang mereka ketahui adalah, bahwa tiba-tiba saja beberapa ekor ulat telah mematuk kawan-kawannya yang menjerit kesakitan. Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, ular-ular itu telah meluncur dan seakan-akan hilang begitu saja dalam kegelapan sebelum anak-anak muda yang lain sempat berbuat sesuatu.

Tatas Lintang, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah memperhatikan tempat itu dengan seksama. Mereka berusaha untuk melihat kemungkinan dari peristiwa yang telah terjadi. Orang-orang yang melepaskan ular itu tentu tidak akan berada jauh dari peristiwa yang terjadi itu.

“Agaknya telah terjadi dalam waktu yang bersamaan,“ berkata Tatas Lintang, “namun karena kita mempunyai kesempatan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada waktu itu, karena kita belum tidur, maka kita tidak mengalami sesuatu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “yang terjadi pada kita agaknya sekedar mengikat agar kita tetap tinggal. Sementara itu mereka telah melakukan rencana mereka di gardu ini.”

Ki Bekel yang kurang jelas tentang apa yang dibicarakan itu bertanya, “Apakah yang telah terjadi di pondok kalian?”

“Seekor ular. Tetapi cukup besar untuk mematahkan punggung, jawab Tatas Lintang.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Agaknya padukuhan ini telah dibayangi oleh satu kekuatan yang mendebarkan. Bukan saja orang-orang yang berilmu tinggi, tetapi mereka mampu menguasai dan menggerakkan berjenis-jenis binatang untuk menyerang lawan. Yang sudah terjadi adalah beberapa ekor harimau. Kemudian ular dan yang lebih mengerikan, apabila mereka berhasil menguasai sekelompok anjing hutan atau kera-kera liar di hutan itu. Jumlahnya tidak terhitung. Mereka akan dapat merusak apa saja yang terdapat di padukuhan ini. Seandainya mereka tidak berani menyerang orang-orang di padukuhan ini, maka sawah dan pategalan akan dapat dihancurkan. Sementara itu akibatnya pun akan sangat mengerikan.”

Tatas Lintang itupun mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata, “Ki Bekel. Seperti yang sudah aku katakan. Agaknya kamilah yang menjadi sasaran. Tetapi karena mereka gagal menyerang kami, apakah dengan seekor harimau atau ular-ular berbisa, maka orang-orang padukuhan inilah yang kemudian tertimpa akibatnya. Mereka harus menanggung beban kemarahan orang-orang yang gagal membunuh kami itu.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian wajahnya nampak dibayangi oleh kebimbangan perasaannya. Dengan nada rendah ia berkata, “Manakah yang lebih baik. Kalian meninggalkan padukuhan ini atau kalian tetap berada di sini? Mungkin mula-mula kalianlah yang menjadi sasaran. Tetapi ternyata bahwa tanpa bantuan kalian padukuhan ini benar-benar mengalami malapetaka. Apalagi jika benar-benar datang jenis-jenis binatang yang lain menyerang padukuhan ini.”

“Ki Bekel,“ sahut Tatas Lintang, “memang setiap langkah mengandung kemungkinan-kemungkinan. Tetapi jika kami sudah tidak ada di padukuhan ini, aku kira mereka tidak akan mengganggu padukuhan ini lagi.”

Ki Bekel memandang Tatas Lintang dengan tajamnya. Jawabnya, “Semuanya masih teka-teki. Seperti yang kau katakan, setiap langkah akan mengandung kemungkinan-kemungkinan.”

Tatas Lintang tidak menyahut. Tetapi iapun mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Obor yang ada di gardu dan di regol banjar tidak dapat menggapai jarak yang jauh. Karena itu, maka di belakang dinding dan pepohonan yang terdekat, malam masih tetap berwarna kelam.

Namun Tatas Lintang tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan iapun masih belum tahu, dari mana ular-ular berbisa itu dapat mencapai gardu tanpa diketahui oleh para peronda sebelumnya. Bahkan serentak memanjat gardu dan menggigit beberapa orang peronda, justru yang berada di gardu.

Namun sejenak kemudian Tatas Lintang itupun berkata, “Sudahlah Ki Bekel. Kami akan mohon diri. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi sesuatu di sini. Langit sudah mulai menjadi terang. Agaknya fajar akan segera menyingsing. Namun satu peringatan bagi Ki Bekel, bahwa semua orang di padukuhan ini harus siap. Jika benar, pada satu saat datang menyerbu padukuhan ini sepasukan anjing liar atau kera, maka semua orang, laki-laki perempuan, para remaja dan orang-orang tua harus melawannya. Kecuali anak-anak. Karena itu, maka semua orang harus menyediakan senjata apa saja. Mereka yang tidak siap dengan apapun dapat membuat senjata dengan bahan yang ada. Bambu diruncingkan atau sepotong kayu yang cukup berat, atau apapun. Sudah aku katakan, kita mempunyai akal, sementara binatang tidak.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun terbayang kengerian di sorot matanya. Bahkan kemudian iapun bergumam, “Bagaimana jika yang datang itu beberapa jenis binatang bersama-sama. Ular, harimau, serigala, anjing hutan kera? Bahkan bagaimana akibatnya jika binatang-binatang peliharaan kita sendiri menjadi gila dan menyerang kita? Kerbau, sapi, kambing dan apa saja?”

“Ahh,“ sahut Tatas Lintang, “bayangan yang terlalu buram. Tidak akan terjadi. Karena itu, kita jangan terlalu dibayangi oleh kegelisahan dan ketakutan. Seperti yang sudah aku katakan berkali-kali. Kita semuanya, seisi padukuhan harus bersiap. Kita akan dapat melawan apa saja jika kita memang siap melakukannya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami seisi padukuhan ini akan mempersiapkan diri. Tetapi beri kami waktu. Sebelum kami siap benar, kalian jangan meninggalkan padukuhan ini.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Mahisa Pukat lah yang nampak menjadi gelisah. Tetapi Tatas Lintang tidak sampai hati untuk menolak permintaan itu, meskipun ia tahu, bahwa Mahisa Pukat agaknya tidak telaten lagi tinggal di padukuhan itu, karena tugasnya yang mendesak.

“Baiklah Ki Bekel. Kami akan memikirkannya,“ berkata Tatas Lintang dengan ragu-ragu.

Ki Bekel mengangguk kecil. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih. Tanpa kalian, anak-anak itupun sudah mati.”

Tatas Lintang pun mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Kami mohon diri Ki Bekel.”

Ki Bekel tidak menahan mereka. Apalagi langit telah menjadi semakin cerah. Matahari mulai menerangi sudut-sudut mega yang mengambang ke Utara.

Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun kemudian meninggalkan banjar itu kembali ke pondok mereka.

Sebagaimana diduga oleh Tatas Lintang, maka Mahisa Pukat pun bergeremang, “Kita jangan kehilangan kesempatan. Jika kita tertahan lagi di sini, maka akhirnya kita akan melupakan tugas kita yang sebenarnya.”

“Aku tahu. Tetapi aku tidak sampai hati menolak permintaan Ki Bekel. Tanpa kita anak-anak itu memang akan mati. Sementara itu kitalah yang menjadi sebab, sehingga padukuhan ini menjadi sasaran dendam orang-orang yang tidak kita kenal. Sementara itu, jika yang datang orang-orang padepokan yang kita tuju, agaknya memang kebetulan sekali. Kita dapat mengurangi lawan. Justru tanpa kita kehendaki, kita sudah memancingnya keluar.“ jawab Tatas Lintang, “namun kita tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa ada pihak-pihak lain yang memang melibatkan diri ke dalam persoalan ini, karena sebagaimana kita ketahui, bahwa peristiwa yang terjadi di warung itu bukannya satu hal yang disengaja oleh kedua belah pihak. Kita tidak tahu siapa mereka, dan mereka pun belum mengetahui siapa kita.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun ia dapat mengerti keterangan Tatas Lintang itu. Karena itu maka ia tidak menolak lagi untuk tetap tinggal barang satu dua hari.

Agaknya di samping sikap berhati-hati, maka Tatas Lintang melihat satu keuntungan, jika mereka berhasil memancing keluar orang-orang dari padepokan itu.

Ketika keempat orang itu sampai di pondok mereka, mereka tidak menjumpai sesuatu yang lain. Sehingga karena itu. maka mereka tidak mendapat bahan-bahan baru dalam persoalan yang sedang mereka hadapi.

Setelah membenahi rumah kecilnya, maka keempat orang itupun telah datang ke rumah pemilik tanah pategalan itu. Sebagaimana mereka sanggupkan, bahwa mereka akan menanam bibit pepohonan di pategalan di ujung padukuhan.

Tetapi tanggapan pemilik tanah itu sudah lain sekali. Sikapnya, kata-katanya dan tentang rencana penanaman bibit pohon buah-buahan itu.

“Kami sekeluarga minta maaf atas sikap kami,“ berkata pemilik tanah itu, “betapa bodohnya kami, namun kami dapat menangkap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sebagai satu pernyataan, bahwa yang aku hadapi bukannya seorang yang membutuhkan pekerjaan di padukuhan ini.”

“Jangan salah memberikan arti dari sikap dan tingkah laku kami,“ berkata Tatas Lintang, “mungkin kami memang memiliki kemampuan sedikit dalam olah kanuragan. Tetapi itu bukannya berarti bahwa kami sudah memiliki sesuatu yang berharga di dalam hidup kami sehari-hari. Karena dengan bekal ilmu kanuragan kami telah pergi merantau untuk menempuh satu kehidupan yang barangkali akan dapat memberikan pengalaman yang baik bagi masa depan kami. Sementara itu untuk hidup kami sehari-hari, kami memang memerlukan kerja.”

“Aku menjadi sangsi,“ berkata pemilik tanah itu, “apakah benar kalian memerlukan kerja sebagaimana kalian lakukan itu?”

“Jangan ragu-ragu,“ berkata Tatas Lintang, “jika kerja itu diurungkan, maka kami akan kehilangan penghasilan yang akan dapat kami pergunakan untuk hidup kami dalam beberapa hari sambil menunggu kerja yang akan kami dapatkan pada kesempatan berikutnya.”

Pemilik tanah itu masih saja ragu-ragu. Tetapi Tatas Lintang mendesak, “Tanpa kerja, kami tidak akan mungkin dapat hidup lebih lama di padukuhan ini.”

Meskipun ragu pemilik tanah itu akhirnya tidak dapat menolak. Diserahkannya bibit pohon buah-buahan yang telah diusahakannya untuk ditanam di pategalan di ujung padukuhan.

Pemilik tanah itupun telah menyiapkan sebuah gerobag kecil untuk membawa bibit-bibit pohon itu ke ujung padukuhan. Gerobag kecil yang ditarik oleh seekor kuda.

Sebenarnyalah yang dilakukan oleh Tatas Lintang bersama ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu memang sangat menarik perhatian. Orang-orang padukuhan itupun merasa heran, bahwa keempat orang itu masih tetap melakukan kerja sebagaimana mereka lakukan sebelumnya.

Karena itulah, maka beberapa orang anak muda telah menyatakan diri untuk membantu melakukan kerja itu.

“Terima kasih,“ berkata Tatas Lintang, “yang kami lakukan sekarang adalah kerja bagi hidup kami. Memang agak berbeda dari apa yang kami lakukan bagi kalian. Tetapi bukankah kami memerlukan kerja yang dapat menopang hidup kami.”

“Tanpa kerja kasar seperti ini pun kalian akan dapat dipenuhi kebutuhan kalian sehari-hari,“ berkata seorang anak muda.

“Bukan maksudku,“ jawab Tatas Lintang, “kami bukannya orang-orang yang memiliki kekhususan. Kami sebagaimana orang lair, harus bekerja untuk hidup kami.”

Anak-anak muda itu tidak dapat memaksa. Tetapi ada di antara mereka yang datang kepada pemilik tanah dan menanyakannya, kenapa ia memperlakukan keempat orang itu dengan cara sebagaimana dilakukannya sebelum padukuhan itu mengetahui kemampuan mereka yang melebihi orang kebanyakan.

“Itu adalah kehendak mereka sendiri,“ jawab pemilik tanah itu, “aku sudah mencoba mencegahnya. Tetapi mereka tetap saja pada pendiriannya. Karena itu, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”

Anak-anak muda itu tidak puas. Seorang diantara mereka berkata, “Seandainya kau tidak memberikan pekerjaan itu, apakah yang akan mereka lakukan. Kau berikan bibit pepohonan kepada mereka sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mengerjakannya.”

“Perjanjian kerja itu sudah berlangsung sebelum peristiwa-peristiwa itu terjadi,“ jawab pemilik tanah itu, “namun seperti sudah aku katakan, aku mencoba untuk mencegahnya.“ pemilik tanah itu berhenti sebentar, lalu, “tetapi aku pun memikirkannya, bagaimana jika mereka benar-benar memerlukan kerja itu. Darimana mereka dapat hidup sedangkan mereka memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bukankah jika mereka menjadi kelaparan, akibatnya akan dapat berbalik mengenai diri kita sendiri?”

Anak-anak muda itu merenung sejenak. Namun mereka-pun kemudian mengangguk-angguk. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Bukankah Ki Bekel akan dapat memberikan apa saja yang mereka butuhkan sehingga mereka tidak akan pernah merasa kekurangan?”

“Aku tidak yakin jika mereka begitu saja menerima pemberian orang lain. Karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk memberi mereka kerja. Upah yang akan aku berikan, tentu lain dari upah yang sebenarnya harus mereka terima.“ berkata pemilik tanah itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Merekapun kemudian meninggalkan rumah pemilik tanah itu tanpa dapat mengerti apa yang sebenarnya bergejolak di dalam hati mereka masing-masing tentang orang-orang yang bekerja di ujung padukuhan itu.

Sementara itu Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu telah berada di pategalan di ujung padukuhan. Merekapun mulai melakukan kerja mereka. Menanam beberapa bibit pepohonan di pategalan itu. Mereka harus menggali lubang-lubang yang cukup besar sebelum bibit-bibit itu ditanam. Di lubang-lubang itupun harus ditaburi dahulu dengan rabuk yang didapat dari kandang-kandang ternak.

Karena itu, untuk menanam bibit-bibit pohon buah-buahan yang tersedia, Tatas Lintang serta ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemanakannya itu memerlukan waktu beberapa hari.

Di hari pertama mereka dapat bekerja tanpa gangguan sesuatu. Bahkan di malam harinya pun tidak pula terjadi peristiwa yang dapat menimbulkan goncangan-goncangan pada padukuhan itu.

Sementara itu, di hari berikutnya, Tatas Lintang telah pergi pula ke pategalan di ujung padukuhan untuk melanjutkan kerja mereka menanam bibit pohon buah-buahan.

Namun mereka menjadi terkejut ketika mereka melihat lubang-lubang yang telah mereka gali untuk menanam pohon buah-buahan itu. Mereka melihat hampir di semua lubang, asap yang mengepul tipis.

Tatas Lintang yang berdiri di paling depan itupun tertegun. Kemudian dengan nada berat ia berkata, “berhati-hatilah. Tentu ada sesuatu yang tidak wajar.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun berhenti. Mereka memang menjadi berdebar-debar. Asap yang tipis itu masih saja mengepul dari lubang-lubang yang telah mereka buat, seolah-olah di setiap lubang itu terdapat bara api yang panas.

“Tunggulah,“ berkata Tatas Lintang yang kemudian melangkah maju. Tangannya meraba sebentuk cincin di jari-jarinya. Agaknya ia memang sudah curiga, bahwa asap itu ditimbulkan oleh kekuatan racun yang sangat tajam, karena ia melihat beberapa jenis pohon perdu di dekat lubang-lubang itu menjadi layu.

Dengan sangat berhati-hati Tatas Lintang telah menjenguk ke salah sebuah lubang yang masih mengepulkan asap tipis itu. Meskipun ia memiliki penawar bisa, namun ia masih juga menutup hidungnya dengan ujung kain panjangnya.

Tatas Lintang itu mengerutkan keningnya. Ia mencium bau yang sangat tajam meskipun hidungnya sudah tertutup sehelai kain.

Di dalam lubang-lubang itu ia melihat bekas cairan yang dituangkan. Cairan itulah yang telah menimbulkan asap yang tipis dan berbau tajam itu.

Tatas Lintang pun mengangguk-angguk ketika ia melibat bangkai seekor ayam yang agaknya terlepas dari kandangnya dan tersesat sampai ke pategalan itu dari lingkungannya di ujung padukuhan. Bahkan beberapa ekor binatang yang lain-pun terdapat mati di lubang itu pula. Seekor kadal, seekor tikus tanah dan sejumlah binatang-binatang kecil lainnya. Bahkan ketika Tatas Lintang menjenguk lubang yang lain, dilihatnya seekor ular pun telah mati.

Tatas Lintang itupun kemudian melangkah menjauhi lubang-lubang itu menuju ke arah Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menunggu. Sambil membuka tutup hidungnya ia kemudian berkata, “Memang racun. Racun yang sangat tajam. Seekor ular dan beberapa jenis binatang telah terbunuh di lubang-lubang itu.”

“Apakah ujud dari racun itu?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Cairan yang agaknya dituangkan di setiap lubang,“ berkata Tatas Lintang. “Dengan demikian, jika kita menanam pohon di lubang-lubang itu, maka pohon itu akan mati.”

“Bukan hanya pohon-pohonnya yang mati. Seandainya aku yang menanaminya, maka aku pun akan mati juga,“ berkata Mahisa Ura.

Tatas Lintang pun mengangguk sambil bergumam, “Ya. Karena itu, kau harus minum obat penawar racun lebih dahulu. Meskipun hanya berlaku untuk beberapa lama, namun agaknya kita akan dapat menunjukkan, bahwa kita tidak akan dapat diganggu oleh racun-racun itu.”

“Jika orang yang memasang racun itu sama dengan orang yang menyerang kami di dekat batu hijau itu, mereka tahu, bahwa kami tawar akan racun.“ berkata Mahisa Murti.

“Tetapi mungkin orang lain tidak,“ jawab Tatas Lintang. “Karena itu maka harus kita buktikan bahwa orang lain itupun benar-benar tawar racun pula.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Tatas Lintang. Tetapi mereka pun tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa orang-orang itu memang akan menggagalkan kerja mereka berempat atau jika keempat orang itu tawar akan racun dan tidak menghiraukan apa yang mereka lihat, maka setiap batang pohon yang ditanam dengan susah payah, akan mati layu.

Dalam pada itu Tatas Lintang pun berkata, “Aku yakin bahwa orang-orang yang menuangkan cairan beracun itu akan datang lagi melihat hasil kerja mereka, atau sekarang ini mereka justru mengamati dari kejauhan, apa yang kita kerjakan.”

“Baiklah,“ berkata Mahisa Murti, “Marilah kita berbuat sesuatu. Namun apakah Mahisa Ura harus mencari air untuk mencairkan obat penawar itu lebih dahulu ke padukuhan?”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita mencari cara lain. Aku akan mendapat sepucuk duri di pategalan ini.”

“Duri salak?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Duri apapun,“ jawab Tatas Lintang.

Mahisa Pukat pun kemudian mengambil beberapa pucuk duri dari sebatang pohon salak yang tumbuh di pagar pategalan itu.

Tatas Lintang pun kemudian minta mereka berempat berdiri rapat. Katanya, “Agar jika orang yang mengawasi kita, mereka tidak mengetahui apa yang kita lakukan.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura berdiri mendekat, hampir melekat yang satu dengan yang lain.

”Berikan jari tengah tangan kirimu,“ berkata Tatas Lintang kepada Mahisa Ura.

Mahisa Ura ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian telah memberikan jari tengah tangan kirinya.

Dengan ujung duri salak yang tajam maka Tatas Lintang telah menusuk ujung jari itu. Tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk memeras darahnya keluar dari bekas tusukan itu.

Tatas Lintang pun kemudian menempelkan akik pada cincinnya sambil berkata, “benda-benda penawar racun milik kalian dapat juga dipergunakan untuk mencegah keracunan dengan cara seperti ini. Tetapi kekuatannya untuk menawarkan racun tidak lebih dari setengah hari. Jika lewat setengah hari, maka ia harus menghindarkan diri dari kemungkinan baru. Seorang yang dipatuk ular akan dapat sembuh dengan menempelkan benda ini di mulut luka, tetapi untuk penawar racun sebagai pencegahan, maka benda ini harus bersentuhan dengan arus darah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Ura perhatiannya tertuju sepenuhnya kepada jari-jarinya yang berdarah dan ditempeli dengan batu akik pada cincin Tatas Lintang itu.

Namun sejenak kemudian Mahisa Ura pun berdesis menahan sakit.

Ujung jarinya itu rasa-rasanya bagaikan disentuh bara api.

Tetapi Tatas Lintang berkata, “Itu adalah pertanda bahwa di dalam tubuhmu mulai mengalir penawar racun itu, untuk kurang lebih setengah hari.”

Mahisa Ura tidak menjawab. Tetapi perasaan sakit itu perlahan-lahan telah berkurang sehingga akhirnya lenyap sama sekali.

“Nah,“ berkata Tatas Lintang, “darahmu pun sudah pampat. Kau sekarang tawar akan racun meskipun hanya untuk setengah hari.”

Demikianlah, maka keempat orang itupun segera menebar membawa alat mereka masing-masing. Merekapun kemudian telah dengan sengaja memasuki lubang-lubang yang masih berasap tipis itu. Meskipun baunya menusuk hidung, bahkan Mahisa Pukat hampir saja muntah-muntah karenanya.

Memang terasa pada tubuh mereka, serangan racun yang tajam mencengkam. Tetapi mereka berempat memiliki penawar racun itu tidak berpengaruh terhadap mereka, kecuali justru baunya sajalah yang membuat kepala mereka menjadi pening.

Tetapi keempat orang itu tetap bekerja di lubang-lubang yang berasap tipis itu. Mereka membuat lubang itu lebih dalam meskipun sebenarnya sudah cukup. Namun mereka tidak dapat segera menanam pohon buah-buahan karena pengaruh racun itu akan dapat membunuh.

Namun dalam pada itu, tanah yang mereka lemparkan naik pada saat mereka memperdalam lubang itupun masih juga mengandung racun. Pepohonan yang ada di sekitar lubang itu yang tersentuh oleh tanah itupun terpengaruh pula karenanya. Beberapa batang pohon-pohon kecil menjadi layu dan merunduk.

Beberapa saat kemudian, maka Tatas Lintang pun telah meloncat naik. Sambil melangkah ke tepi ia berkata lantang kepada ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemanakannya itu, “Marilah kita beristirahat.”

Ketiga orang anak muda itupun dengan serta merta telah meloncat naik. Rasa-rasanya mereka memang tersiksa oleh bau yang sangat tajam itu.

Ketika mereka duduk di bawah sebatang pohon, maka Mahisa Ura pun berkata, “Apakah pengaruh racun itu tidak akan membunuh beberapa jenis pepohonan buah-buahan yang sudah ada ? Akar pohon itu mungkin akan menjalar sampai agak jauh dan menjangkau cairan yang dituangkan ke dalam lubang-lubang itu, apalagi jika cairan itu sudah meresap ke dalam tanah.”

Bersambung.......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...