BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-21-03
“Tetapi kita tidak boleh berhenti,” berkata Witantra, “Kesatria Putih masih harus tetap berjuang melawan kejahatan sebelum kejahatan itu berakhir.”
“Hampir tidak mungkin,” sahut Kuda Sempana, “umur kejahatan sama dengan umur manusia, karena pada dasarnya manusia dikuasai oleh sifat-sifat yang jahat. Hanya mereka yang berhasil menguasai diri sendiri dan berjuang merebut dirinya dari tangan setan sajalah yang mampu menghindari kejahatan.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika demikian kita masih akan berbuat banyak sekali. Dengan pakian Kesatria kita langsung menghadapi kejahatan di medan. Tetapi lewat cara lain kita harus berusaha membawa setiap orang berusaha merebut dirinya sendiri dari kekuasaan setan itu. Jika kita berhasil, maka tugas kita di medan akan jauh berkurang.”
Kuda Sempana mengangguk-angguk. Lalu ia-pun bertanya, “Jadi apa yang akan kita lakukan?”
Kita akan berhubungan dengan Mahisa Agni. Tetapi aku kira kita akan menentukan, bahwa biarlah Putera Mahkota sajalah yang berpakaian Kesatria Putih. Kita akan selalu membayangi. Jika Putera Mahkota masuk kedalam suatu jebakan, kita akan membantunya. Bukan sebagai Kesatria Putih.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Malam ini semua rencana kita batalkan,” berkata Witantra, “Siapa tahu, bahwa guru Tohjaya itu sudah mulai bergerak dengan kekuatan yang besar.”
Demikianlah maka malam itu. Kuda Sempana membatalkan niatnya untuk membelah daerah itu yang didengarnya sedang diambah oleh kejahatan. Untunglah bahwa malam itu tidak terjadi apa-pun sehingga seandainya Kuda Sempana tetap berada di daerah itu-pun tidak akan dijumpainya seseorang.
Malam itu sebelum Anusapati masuk kembali ke regol istana, dikenakannya kembali ciri pakaian Kesatria Putih, supaya kehadirannya tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.
Dalam pada itu, guru Tohjaya sudah menempuh jarak yang jauh untuk menemui orang yang dikatakannya. Ia memutuskan untuk menemui kakak seperguruannya yang tertua. Juga segaris perguruan dengan Kiai Kisi.
Kedatangannya telah menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam sebuah padepokan yang terpencil. Padepokan yang dihiasi dengan berbagai macam kemuraman karena mereka yang tinggal dipadepokan itu bukanlah sekelompok orang-orang yang berhati putih.
“Kau masih ingat kepadaku?” berkata saudara tua seperguruan itu. “Sudah lama sekali kau tidak datang ke padepokan ini.”
“Aku tidak pernah melupakan kau kakang. Kesempatankulah yang masih belum ada. Tetapi sekarang aku memerlukan datang menemui kakang.”
“Tentu ada suatu kepentingan yang mendesak. Aku sudah mendengar kematian Kiai Kisi yang malang itu. Kedatanganmu tentu ada hubungan kelanjutan dari kematiannya.”
“Sebenarnya aku tidak akan segera mengatakannya, tetapi kakang sudah menebak tepat sehingga aku tidak akan ingkar.”
Kakak seperguruan yang tertua dari guru Tohjaya itu tertawa, katanya, “Aku tidak memaksa kau mengatakannya jika kau berkeberatan.”
“Bukan begitu. Maksudku, setelah aku berada disini sehari dua hari, barulah aku akan menyampaikannya.”
“Buat apa aku harus menebak-nebak selama sehari dua hari. Meskipun kau akan tinggal disini beberapa hari, tetapi masalahnya sudah aku ketahui.”
Guru Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku kira kau tidak lagi memerlukan aku setelah kau menjadi orang istana. Menjadi penasehat Hantu Karautan dan menjadi guru dari anaknya yang lahir dari Ken Umang itu.”
“Tidak kakang. Aku tidak lupa kepada siapapun.”
“Dalam kesulitan kau ingat kepada kami. Dan justru karena itu Kiai Kisi sudah menjadi korban perhitunganmu yang tidak cermat. Apakah kau sudah tahu siapakah yang telah membunuh Kiai Kisi itu?”
“Ya kakang. Aku sudah mengetahuinya kini, meskipun tidak dapat aku buktikan.”
“Hanya dugaan?”
“Dugaan yang didasarkan atas perhitungan.”
“Siapa yang telah membunuhnya?”
“Putera Mahkota sendiri.”
“Anusapati?” kakak seperguruannya terkejut.
“Apakah kakang belum mendengar hasil permainan sodoran di alun-alun Singasari?”
“Singasari sangat jauh dari tempat ini. Tetapi aku sudah mendengarnya, bahwa orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih ternyata adalah Putera Mahkota.”
“Nah, ternyata Kiai Kisi tidak berhasil membunuh Putera Mahkota saat itu. Justru ia sendiri telah terbunuh.”
“Kiai Kisi memang belum cukup masak untuk menghadapi lawan yang kuat. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”
“Tentu tidak mungkin. Aku orang istana.”
“Kau juga takut?”
“Tentu tidak kakang. Aku merasa bahwa aku tidak lebih jelek dari Kiai Kisi. Tentu aku dapat membinasakan Kesatria Putih. Tetapi sudah aku katakan, jika ada yang berhasil mengetahui persoalannya akan menjadi sangat buruk, karena aku adalah guru tuanku Tohjaya dan kadang-kadang juga diajaknya berbicara tentang keprajuritan di samping para Panglima.”
Kakak seperguruannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi kau bermaksud agar aku membunuh Kesatria Putih, begitu?”
Kakak seperguruannya mengerutkan keningnya ketika guru Tohjaya itu menggeleng, “Bukan Kesatria Putih.”
“He. Bukan Kesatria Putih? Jadi siapa?”
“Orang yang sebenarnya berdiri sebagai lawan Sri Rajasa.”
“Siapa?”
“Mahisa Agni yang justru menjadi wakil Mahkota di Kediri, mengawasi pemerintahan yang diserahkan kepada keluarga dan keturunan Maharaja di Kediri itu sendiri.”
“Mahisa Agni,” kakak seperguruannya itu menganggukkan kepalanya, “dari perguruan manakah orang itu?”
“Aku tidak tahu. Tetapi orang menyebutnya berasal dari Panawijen.”
Kakak seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar perguruan di padepokan Panawijen bertahun-tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli, ia berhenti sejenak. Lalu, “Apa yang harus kita kerjakan?”
“Membunuhnya.”
“Dimanakah ia tinggal?”
“Di Kediri. Kakang harus pergi ke Kediri. Kakang harus memasuki istananya dan membunuhnya di dalam istana itu.”
“Aku belum mengenal orangnya. Apakah aku harus pergi sendiri?”
“Tidak kakang. Menurut Sri Rajasa, kakang harus pergi bersama tiga atau empat orang yang akan didadar oleh Sri Rajasa sendiri.”
“He, jadi Sri Rajasa tidak percaya akan kemampuanku.”
“Bukan tidak percaya. Tetapi Sri Rajasa ingin berhati-hati menghadapi persoalan ini. Sudah beberapa kali rencananya gagal, sehingga karena itu, ia tidak mau gagal untuk kesekian kalinya.”
“Jadi maksudmu, kami harus menghadap ke istana dan berkelahi dengan Sri Rajasa?”
“Bukan begitu. Sri Rajasa hanya ingin mengetahui, betapa kekuatanmu bersama tiga atau empat orang yang lain agar Sri Rajasa mempunyai kepastian, rencananya kali ini tidak gagal.”
“Terserah saja. Aku tidak berkeberatan. Tetapi apa yang akan aku terima setelah aku berhasil membunuhnya?”
Penasehat Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau dapat berbicara sendiri dengan Sri Rajasa.”
Kakak seperguruannya itu mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar kemenangan Sri Rajasa atas Kediri. Dan ia juga mendengar seorang Senapatinya yang berhasil membunuh Senapati tertinggi dari Kediri yang hampir tidak terkalahkan. Orang itu agaknya yang bernama Mahisa Agni.
Ketika ia bertanya kepada guru Tohjaya, maka orang itu-pun mengiakannya.
“Memang tugas yang berat. Aku memang memerlukan kawan. Tetapi Sri Rajasa tidak usah kuwatir. Betapa tinggi kemampuannya, selagi kakinya masih berjejak di atas tanah, aku akan dapat membinasakannya meskipun tidak sendiri.” ia berhenti sejenak, lalu sekali lagi, “Apa yang akan aku terima dari Sri Rajasa?”
“Kelak kau akan mendengarnya sendiri.”
Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Aku percaya kepadamu meskipun sebenarnya aku tidak percaya kepada Sri Rajasa.”
“Kenapa kau tidak percaya kepada Sri Rajasa?”
“Aku bukan seorang yang bersih. Aku adalah seorang yang licik dan barangkali pengecut. Karena itu aku mangerti. Sri Rajasa sudah sampai hati berusaha membinasakan seorang Senapatinya yang telah berjasa besar kepadanya. Bahkan juga Putera Mahkota. Apakah masih ada orang yang dapat percaya kepadanya? Jika orang yang bernama Mahisa Agni itu dibunuhnya, apakah hal yang serupa tidak dapat terjadi atasku, atasmu dan siapapun? Karena itu, aku harus berhati-hati. Kau juga harus berhati-hati.”
Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan. Katanya, “Kau benar. Tetapi sampai saat ini aku masih dipercayanya meskipun kadang-kadang dibentak-bentaknya.”
“Baiklah. Aku akan menghadap ke istana. Berhadapan dengan orang selicik dan sejahat Sri Rajasa, aku-pun harus hati-hati.”
“Apakah Sri Rajasa termasuk seorang yang jahat?”
“Tentu. Tetapi ia mempunyai kelebihan dari aku. Ia berhasil membuat Singasari besar. Itu adalah jasa yang telah diberikan kepada tanah ini dan tidak akan dilupakan orang. Tetapi aku tidak berbuat apa-apa. Meskipun demikian, dihadapan kebenaran Sri Rajasa adalah orang yang pernah ingkar daripadanya.”
Penasehat Sri Rajasa itu menganggukakan kepalanya. Katanya, “Baiklah kakang datang ke istana. Terserah, apa yang akan kakang bicarakan.”
“Aku akan membawa dua orang saudara seperguruan kita yang tersisa dan dua orang muridku tertua dan yang sudah memiliki kemampuan penuh.”
Penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah. Tetapi Mahisa Agni pernah membinasakan Senapati tertinggi dari Kediri.”
Demikianlah, maka pada hari yang ditetapkan setelah beberapa lama penasehat Sri Rajasa tinggal dipadepokan saudara seperguruannya itu, mereka berangkat ke istana Singasari. Untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya, maka saudara tua panasehat Sri Rajasa itu mengenakan pakaian yang pantas bagi seorang tamu istana, sedang yang lain, untuk menghindarkan kecurigaan akan ditempatkan di luar istana, pada seorang kepercayaan penasehat Sri Rajasa itu.
Ternyata kehadiran tamu yang tidak dikenal bersama penasehat Sri Rajasa itu telah menarik perhatian Sumekar yang mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh penasehat itu atas Putera Mahkota. Karena itu, maka kehadiran orang yang tidak dikenal bersamanya, telah menumbuhkan kecurigaannya.
“Menilik bentuk wajahnya dan sorot yang tersirat dari tatapan matanya, ia bukan orang yang baik,” berkata Sumekar di dalam hatinya.
Karena itulah, maka timbullah niatnya untuk selalu mengawasinya. Mungkin ada sesuatu yang pantas dilakukan untuk keselamatan Putera Mahkota. Karena bagaimana-pun juga, seolah-olah Sumekar merasa dirinya telah terlibat didalam pertentangan tertutup antara Putera Mahkota dan Tohjaya.
Sumekar tidak dapat mengetahui, apa yang telah dibicarakan antara tamu yang aneh itu dengan Sri Rajasa. Tetapi ia tidak dapat mencegah keinginannya untuk mengetahui lebih dekat atas tamu itu.
Ketika istana Singasari kemudian disaput oleh gelapnya malam, maka Sumekar segera mengenakan pakaian hitamnya dan dengan hati-hati mendekati bangsal Sri Rajasa. Mungkin ia dapat melihat sesuatu yang dijadikannya bahan pertimbangan.
Dengan hati-hati pula ia memanjat sebatang pohon sawo sehingga ia dapat langsung melihat longkangan di belakang bangsal itu. Longkangan yang tertutup.
Namun dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia melihat Sri Rajasa, penasehatnya dan tamunya berada dilongkangan itu, bahkan seakan-akan mereka akan bertempur.
“Apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Sumekar di dalam hati.
Dari kejauhan ia melihat, Sri Rajasa telah bersiap berhadapan dengan tamunya.
“Apakah mataku tidak beres lagi malam ini,” Sumekar menggosok-gosok matanya.
Namun ia benar-benar melihat sejenak kemudian keduanya terlibat dalam suatu perkelahian. Semakin lama semakin seru disaksikan oleh penasehat Sri Rajasa yang juga menjadi guru Tohjaya, Sumekar menahan nafasnya. Meskipun ia berada agak jauh, tetapi ia mampu juga menilai keduanya.
“Sri Rajasa memang orang yang pilih tanding,” berkata Sumekar di dalam hatinya, meskipun ia tidak dapat mengatakan cara yang telah dipergunakan oleh Maharaja Si ngasari itu. Tandangnya kasar dan keras, namun kemampuannya benar-benar tidak ada duanya.
Lawannya adalah seorang yang bertempur dengan kasar dan keras pula. Tetapi lambat laun tampak, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak teratasi oleh lawannya.
Meskipun demikian, menurut penilaian Sumekar, orang yang berkelahi melawan Sri Rajasa itu-pun adalah seorang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi.
“Apakah akan terjadi sesuatu dengan Putera Mahkota?” pertanyaan itulah yang pertama-tama membelit dada Sumekar, sehingga ia mulai menilai kemampuan orang itu dengan kemampuan yang dimiliki oleh Anusapati.
“Tuanku Putera Mahkota masih terlalu muda menghadapinya apabila dipaksakan suatu tindakan kekerasan berhadapan oleh orang itu,” katanya di dalam hali.
Sejenak kemudian maka perkelahian itu-pun berakhir. Meskipun Sri Rajasa belum mengalahkan lawannya dengan mutlak, tetapi pastilah demikian jika mereka berkelahi terus.
Sumekar tidak tahu apa yang mereka bicarakan kemudian. Yang terlintas dikepalanya adalah cara-cara yang akan dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk menjebak Kesatria Putih seperti yang pernah dilakukan oleh Kiai Kisi terhadap Putera Mahkota.
Karena itu, maka ia-pun segera menyingkir dan mencoba mencari Putera Mahkota. Tetapi malam itu Sumekar tidak sempat menemukannya dan sudah tentu ia tidak akan dapat pergi ke bangsal Anusapati yang selalu mendapat pengawasan oleh para prajurit.
Meskipun prajurit yang bertugas di sekitar rumah Putera Mahkota adalah prajurit-prajurit yang baik terhadap Putera Mahkota, namun kehadirannya pasti akan menjadi buah bibir yang akan sampai ke telinga mereka yang tidak menyukainya.
Dalam pada itu, setelah Sri Rajasa selesai dengan perkelahiannya melawan kakak seperguruan penasehatnya itu, ia-pun kemudian berkata, “Kau cukup baik untuk melawan Mahisa Agni meskipun kalau kau bertempur sendiri, kau pasti akan dikalahkannya.”
“Apakah Mahisa Agni memiliki kemampuan setingkat dengan tuanku?”
“Aku tidak tahu pasti. Tetapi demikianlah kira-kira. Karena itu kau harus menyiapkan dirimu baik-baik. Jangan hanya berdua meskipun kawanmu setingkat dengan kemampuanmu.”
“Kami akan datang berlima,” jawab orang itu.
“Siapakah mereka?”
“Hamba sendiri dan dua orang saudara seperguruan hamba yang memiliki kemampuan tidak terpaut banyak dari hamba. Kemudian dua orang murid hamba yang tertua, yang memiliki kemampuan sepenuhnya dari ilmu hamba, meskipun masih belum masak benar. Tetapi keduanya sudah dapat dilepaskan berbuat sendiri di dalam saat-saat tertentu.”
“Baiklah. Hati-hatilah. Kau harus memasuki istana itu tanpa diketahui orang. Kau langsung masuk kedalam dan mencari biliknya. Jangan memberi kesempatan kepadanya untuk melawan meskipun kalian berlima. Meskipun barangkali Mahisa Agni tidak dapat mengimbangi kekuatan kalian berlima bersama-sama, tetapi ia mempunyai kemampuan memperhitungkan keadaan hampir sempurna. Dan itu sangat berbahaya, ia tidak saja berkelahi dengan tenaganya, tetapi terutama dengan otaknya.
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya sebaik-baiknya. Tetapi tuanku tidak usah cemas. Mahisa Agni pasti akan binasa. Ia tidak akan mengira bahwa hamba akan memasuki istananya.”
“Jaga, agar para petugas yang menjaga istana itu tidak melihat kalian. Mereka pasti akan sangat berbahaya apabila mereka sempat membunyikan tanda bahaya. Bersama-sama dengan Mahisa Agni, mereka tidak akan dapat kalian kalahkan, karena para prajurit pengawal itu berjumlah cukup banyak.”
“Hamba tuanku. Hamba akan berhati-hati. Dan hamba akan menjaga diri hamba sebaik-baiknya karena hamba masih ingin menikmati hadiah yang akan hamba terima dari tuanku.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku akan memberi hadiah sebanyak-banyaknya jika kau berhasil.”
“Jika hamba berhasil, apakah yang akan hamba terima tuanku.”
“Aku akan memberikan beberapa potong emas kepadamu.”
“Apakah hamba dapat menerima hadiah itu lebih dahulu? Hamba berniat untuk tidak kembali lagi ke istana ini setelah hamba menyelesaikan tugas hamba untuk menghindarkan kecurigaan orang. Hamba akan terus kembali kepadepokan hamba.”
Kerut merut yang dalam membayang di wajah Sri Rajasa. Namun kakak seperguruan penasehatnya itu segera menyambung, “Ampun tuanku, bukan maksud hamba, bahwa hamba akan mendahului titah tuanku. Tetapi hamba hanya sekedar ingin menjauhkan diri dari kecurigaan orang sepeninggal Mahisa Agni itu.”
Wajah Sri Rajasa perlahan-lahan menjadi tegang. Penasehatnya melihat perubahan itu sehingga dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata hal itu tidak berkenan dihati Sri Rajasa. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menengahi, “Tuanku. Sebenarnya tuanku tidak usah memberikan hadiah apa-pun juga kepada kakak seperguruanku. Jika tuanku berkenan dihati, biarlah ia mencari hadiahnya sendiri di istana Kediri itu. Berapa banyak yang dapat dibawa oleh lima orang itu, disana disediakan barang-barang perak dan emas.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya sejenak. Ia tahu, bahwa di istana wakil Mahkota itu memang terdapat beberapa potong perhiasan dari emas yang melekat ditiang pusat ruangan tengah. Sebuah tongkat kerajaan yang tergantung didinding dan berkepala emas pula. Sebuah patung kecil diatas bancik kayu yang tinggi terbuat dari tembaga berlapis emas.
Sejenak Sri Rajasa termenung. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Kau dapat mengambil semua perhiasan emas dan perak di dalam istana itu sebagai hadiahmu, kacuali tongkat kerajaan peninggalan Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri, dan sebuah patung yang berlapis emas, di atas bancik di bangsal dalam apabila belum dipindahkan oleh Mahisa Agni dan para pembantu rumah tangga di istana itu. Tetapi kau akan mengenal patung itu dengan segera, dan kau tidak boleh mambawanya.”
Kakak seperguruan Penasehat Sri Rajasa itu termenung sejenak. Ia tidak dapat membayangkan, apakah barang-barang yang ada itu memadai. Namun adik seperguruannya berkata, “Aku yakin, bahwa kalian merasa hadiah itu cukup banyak. Dan pembunuhan itu sendiri tidak akan terlalu lama dipersoalkan, karena masalahnya adalah masalah parampokan biasa. Perampok yang paling gila yang pernah ada sepanjang umur Kerajaan Kediri dan Singasari. Hal itu akan merupakan tantangan bagi Kesatria Putih. Kau mengerti kakang?”
Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu menganggukkan kepalanya. Namun ia masih ragu-ragu. Apa saja yang dapat dibawanya dari istana yang kini dihuni oleh Mahisa Agni, anak Panawijen itu. Apakah jika ada benda-benda itu masih ada ditempatnya.
Selagi ia ragu-ragu itu, penasehat Sri Rajasa berkata, “Kakang, sebagian barang-barang dari istana Kediri telah dipindahkan ke istana wakil Mahkota itu. Tetapi ingat, jangan kau bawa serta tongkat kerajaan serta patung emas itu, seperti yang dipesankan oleh Sri Rajasa, peninggalan dari Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri itu.”
Akhirnya kakak seperguruannya menganggukkan. Tetapi ia masih berkata, “Hamba terima perjanjian ini untuk sementara. Tetapi jika yang ada hanya barang-barang perak semata-mata, maka hamba akan mohon kebijaksanaan tuanku Sri Rajasa.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan takut. Aku bukan seorang yang sangat kikir. Semuanya yang aku janjikan akan aku penuhi jika kau sudah berhasil.”
“Baiklah tuanku. Hamba mohon diri. Hamba akan menyiapkan segala sesuatu yang perlu bagi hamba itu.”
“Kapan kau berangkat?”
“Besok pagi tuanku. Besok hamba akan berkumpul dengan kawan-kawan hamba, dan hamba akan segera pergi ke Kediri.”
Demikianlah, di pagi-pagi benar Sumekar sudah berada di halaman bangsal Putera Mahkota. Ketika seorang prajurit bertanya kepadanya maka jawabnya, “Aku harus memindah kembang kantil bajang di halaman ini. Untuk itu hanya dapat aku lakukan sebelum matahari terbit. Jika matahari sudah terbit, maka pohon kantil bajang yang sulit dicari ini akan mati.”
“Apakah Putera Mahkota sudah memerintahkan.”
“Kemarin Putera Mahkota sudah menyebut-nyebutnya. Tetapi aku sebenarnya ingin ketegasan. Apakah Putera Mahkota sudah bangun.”
“Sst, jangan berteriak-teriak,” potong prajurit itu, “kau berbicara terlalu keras.”
Namun usaha Sumekar memanggil Anusapati dengan caranya itu berhasil. Ternyata Putera Mahkota sudah duduk di serambi ketika Sumekar masuk ke halaman bangsalnya. Karena itu, maka ia-pun segera turun kehalaman sambil bertanya, “Ada apa juru taman?”
“Ha,” bisik prajurit yang bertugas, “kau sudah membangunkannya.”
“Memang itulah yang kuharapkan.”
“He, ada apa juru taman,” Anusapati mengulanginya.
“Ampun tuanku, hamba ingin bertanya tentang kantil bajang ini.”
“Bagaimana dengan kantil bajang itu.”
“Apakah yang tuanku perintahkan kemarin, harus kami lalakukan sekarang, mumpung matahari belum terbit.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Karena itu, maka ia-pun segera mendekat lagi sambil berkata, “Marilah kita lihat.”
Prajurit yang merasa tidak berkepentingan dengan pemindahan batang kantil bajang itu-pun tidak mengikutinya lagi. Ketika juru taman dan Putera Mahkota itu kemudian berjongkok di sebelah sebatang kantil bajang, maka prajurit itu-pun justru menjauh.
Dalam kesempatan itu, Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang dilihatnya, bahwa Sri Rajasa semalam telah mencoba kemampuan seseorang di belakang bangsal.
Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh Ayahanda Sri Rajasa. Apakah orang itu calon hamba istana yang akan menjadi pengawal Adinda Tohjaya atau petugas yang lain?”
“Hamba tidak tahu tuanku. Tetapi bagaimana-pun juga, tuanku wajib berhati-hati. Bukan maksud hamba berprasangka terhadap ayahanda tuanku. Tetapi penasehat ayahanda tuanku dan guru tuanku Tohjaya itu mempunyai banyak akal. Mungkin ia menghadapkan seorang hamba yang dapat menjadi pelindung atau guru atau apa-pun bagi tuanku Tohjaya, tetapi di samping itu ia dapat berbahaya bagi tuanku diluar pengetahuan Ayahanda Sri Rajasa atau …. “ Sumekar tidak meneruskan kata-katanya.
“Atau?” desak Anusapati.
“Atau setahu ayahanda.”
“Maksudmu?”
“Tidak apa-apa tuanku, tatapi ayahanda hanya sekedar mengangkat tuanku Tohjaya yang telah tuanku kalahkan di arena. Hanya itu. Tetapi yang hanya sekedar usaha menebus kekalahan itu dapat disalah gunakan oleh orang lain.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jika orang itu berada di istana ini, tuanku harus berhati-hati terhadapnya.”
“Terima kasih paman Sumekar. Aku akan memperhatikan.”
“Hamba mohon diri tuanku. Biarlah kantil bajang itu ditempatnya.”
Sumekar-pun kemudian meninggalkan Putera Mahkota Prajurit yang mengamatinya dari jauh itu-pun bertanya, “Bagaimana dengan pohon kantil bajang itu?”
“Tidak jadi. Putera Mahkota masih ragu-ragu. Biarlah pohon kantil itu disana.”
Prajurit itu tidak menghiraukan lagi. Dibiarkannya Sumekar meninggalkan bangsal Putera Mahkota, langsung menuju ke taman meskipun hari masih pagi. Tetapi langit sudah mulai cerah dan bayangan sinar matahari mulai membayang di langit.
Sumekar terkejut ketika ia melihat halaman depan. Ia melihat orang yang semalam berkelahi dengan Sri Rajasa itu meninggalkan istana, diantar oleh penasehat Sri Rajasa sampai ke regol.
Sumekar memperhatikan orang itu sampai hilang dibalik dinding. Namun ia tidak dapat mendapat penjelasan lebih banyak lagi. Ketika Penasehat Sri Rajasa kembali masuk istana, Sumekar berjalan menyilangnya sambil menjinjing lodong bambu berisi air.
Dihadapan penasehat Sri Rajasa Sumekar membungkuk hormat. Namun tiba-tiba saja lodongnya terlepas dari tangannya, sehingga isinya tumpah dan terpercik kepakaian penasehat itu.
“O, ampun tuan,” berkata Sumekar, “aku tidak sengaja.”
Sorot mata penasehat itu menjadi merah. Katanya, “Untung bukan tamuku yang kau kotori dengan air itu.”
“Aku tidak sengaja. Apalagi mengotori.”
“Sekali lagi kau lakukan, aku putuskan lehermu.”
“Ampun tuan. Aku tidak tahu bahwa tuan akan lewat atau aku sangka bukan tuanlah yang sedang lewat sepagi ini, sehingga aku terkejut dan tergopoh-gopoh memberikan hormat, sehingga lodong bambuku terlepas.”
“Pergi. Jangan ganggu lagi.”
Sumekar-pun kemudian memungut lodong bambunya. Namun ia masih juga mencoba bertanya, “Ampun tuan, siapakah tamu tuan sepagi ini.”
“Apa pedulimu he?” tiba-tiba matanya menjadi tajam menembus dada Sumekar.
“Tidak apa-apa tuan,” jawab Sumekar dengan serta merta sambil berjongkok, “aku hanya kagum melihat wajahnya yang keras dan berwibawa. Apakah tamu itu masih keluarga tuanku Sri Rajasa atau keluarga tuanku puteri Ken Umang?”
“Bukan keluarga Sri Rajasa dan bukan pula keluarga tuan Puteri Ken Umang, orang itu adalah saudaraku,” jawab penasehat itu.
“O, maksud tuan, kakak atau adik tuan?”
“Kakakku.”
“Pantas sekali. Memang tuan mirip sekali dengan tamu yang baru saja pulang. Tetapi kenapa pagi-pagi benar tamu itu sudah meninggalkan istana? Sejak kapan ia berada di sini?”
“Hanya satu malam.”
“O, kenapa hanya satu malam? Bukankah disini ia berada di rumah saudara mudanya sendiri?”
“Ada keperluan yang mendesak.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih lanjut. Penasehat Sri Rajasa itu segera meninggalkannya sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Ia mencoba untuk mencari alasan, kenapa orang itu datang, menjajagi kemampuannya melawan Sri Rajasa, kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
“Tentu untuk membinasakan Kesatria Putih.” kesimpulan itulah yang untuk sementara dapat diambilnya.
Ketika matahari naik, Sumekar berusaha untuk menjumpai Putera Mahkota lagi. Sambil membawa beberapa bibit pohon bunga ia datang kehalaman bangsal Putera Mahkota di istana. Sejenak ia berjongkok disudut sambil menanam pohon-pohon bunga itu. Tetapi ia tidak melihat Putera Mahkota didalam bangsalnya. Yang dilihatnya hanyalah isteri Putera Mahkota beserta puteranya.
Namun sejenak kemudian Sumekar justru melihat Anusapati baru datang memasuki halaman bangsalnya.
“O,” berkata Anusapati, “kau sudah ada disitu?”
“Inilah batang-batang pohon bunga yang tuanku pesan dari hamba.”
“Terima kasih,” Anusapati-pun segera mendekatinya. Namun yang mereka bicarakan kemudian bukanlah tentang pohon-pohon bunga itu.
“Orang yang hamba katakan kemarin telah meninggalkan istana tuanku. Agaknya ia akan melakukan tugasnya di luar istana, menghadapi tuanku selaku Kesatria Putih.”
“Tentu tidak paman,” jawab Anusapati, “baru saja aku dipanggil menghadap oleh ayahanda. Untuk beberapa hari aku diperlukannya setiap saat, sehingga aku tidak dibenarkannya keluar. Ada persoalan yang penting yang harus ditangani setiap saat dalam kedudukanku sebagai Putera Mahkota, justru karena ada tamu yang baru saja menghadap.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Sri Rajasa menyebut tamu itu langsung kepada Anusapati. Apakah Sri Rajasa juga mencurigai tamunya, bahwa ia akan mengancam Putera Mahkota?
“Barangkali ayahanda juga mencemaskan nasib tuanku.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin. Mungkin juga ayahanda mencurigainya bahwa orang itu akan mencelakai Kesatria Putih, sehingga ayahanda menahan aku agar aku tidak keluar dari istana.” Putera Mahkota berhenti sejenak. Lalu, “tetapi apakah orang itu mampu menandingi paman Witantra, Mahendra atau paman Kuda Sempana?”
“Kita dihadapkan pada suatu teka-teki tuanku. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi. Sebaiknya tuanku memang tetap tinggal di istana.”
“Tetapi bagaimana dengan paman-yang lain.”
“Apakah mereka tetap menjalankan tugas Kesatria Putih.”
“Tidak. Untuk beberapa hari. Tetapi mereka tetap menunggu hubungan. Jika aku tidak dapat keluar, paman aku harap pergi menemui salah seorang dari mereka.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari Anusapati ia mendapat petunjuk dimana mereka dapat menjumpai salah seorang dari ketiganya.
“Baiklah tuanku. Hamba akan mencoba menghubungi salah seorang yang kebetulan sedang bertugas menunggu tuanku.”
“Hati-hatilah. Kita memang dihadapkan pada teka-teki yang membingungkan. Kita hanya dapat menduga-duga. Tetapi kita akan berusaha memecahkan teka-teki ini bersama paman-paman yang berada di luar istana dan tentu saja paman Mahisa Agni di Kediri.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tuanku, setelah tuanku tidak lagi menyembunyikan kenyataan pada diri tuanku, maka yang mendapat sorotan para pemimpin Singasari tentu bukan saja tuanku. Orang yang tidak senang melihat kemenangan tuanku atas tuanku Tohjaya di dalam arena permainan sodoran itu, akan membuat penilaian yang cermat. Permainan sodoran itu sendiri barangkali tidak begitu berarti, baik bagi tuanku mau-pun bagi tuanku Tohjaya. Tetapi akibat daripadanyalah yang seakan-akan menentukan. Ternyata bahwa tuanku Putera Mahkota bukan orang yang lemah, yang selalu berada di bangsalnya menunggui isterinya. Dan itulah yang tidak menyenangkan bagi lawan-lawan tuanku.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Hampir saja ia bertanya pendapat Sumekar tentang Ayahanda Sri Rajasa. Namun pertanyaan yang sudah ada ditenggorokannya itu ditelannya kembali. Rasa-rasanya tidak pantas baginya untuk mencurigai ayah sendiri meskipun demikianlah yang sebenarnya bergejolak didalam nuraninya.
“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “aku yakin bahwa pamanda tuanku, Mahisa Agni, pasti sudah memperhitungkan pula, bahwa yang seakan-akan berada diujung runcingnya duri itu bukannya tuanku saja, tetapi juga pamanda tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Adinda Tohjaya dan gurunya pasti meyakini bahwa aku mendapatkan ilmuku dari Pamanda Mahisa Agni.”
“Nah, karena itu, maka yang harus selalu berhati-hati saat-saat terakhir adalah tuanku dan pamanda tuanku itu. Meskipun aku yakin bahwa pamanda tuanku selalu berhati-hati, tetapi pamanda tuanku tidak mengetahui apa yang telah terjadi di istana ini. Karena itu, tuanku Putera Mahkota, hamba harus memberitahukan, bahwa arah pembalasan dendam selain pada tuanku juga ditujukan pada Pamanda Mahisa Agni.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah,” berkata Putera Mahkota, “katakan kepada siapa-pun yang datang, bahwa pamanda harus meningkatkan kesiagaannya. Aku tidak dapat pergi untuk beberapa hari. Tetapi mungkin juga Tohjaya ingin tahu, jika terjadi keributan dan perampokan sementara aku berada di istana, apakah ada seorang Kesatria Putih yang lain yang bertindak.”
“Hamba akan membicarakan semuanya tuanku, sehingga pamanda tuanku Mahisa Agni akan mendapat gambaran yang jelas.”
Demikianlah ketika hari telah berlalu, dan malam turun perlahan-lahan, Sumekar sudah siap pergi keluar istana dengan diam-diam. Kali ini ia tidak keluar lewat regol sambil berlenggang menikmati waktu istirahatnya, tetapi ia meloncat lewat dinding yang dibayangi oleh kegelapan supaya tidak menumbuhkan bermacam-macam pertanyaan pada para penjaga jika ia kembali nanti jauh malam.
Seperti yang ditunjukkan oleh Anusapati, maka Sumekar-pun segera menuju kepingir kota. Seperti yang sudah diduganya, bahwa seseorang telah menunggu. Bahkan kali itu bukan hanya seorang, tetapi dua orang.
“Kalian berdua?” bertanya Sumekar kepada keduanya.
“Ya,” yang menjawab Witantra, “Mahendra ingin ikut saja malam ini. Kami mencemaskan nasib Putera Mahkota jika benar-benar ada sebuah jebakan, sehingga kami pergi berdua untuk membayanginya jika ia benar-benar akan pergi malam ini.”
“Tidak, barangkali sudah dikatakan, bahwa Putera Mahkota mempertimbangkan suatu teka-teki.”
“Yang dikatakannya tentang guru Tohjaya.”
“Ia datang membawa seorang tamu. Dan tamu itulah yang membuat teka-teki ini menjadi semakin kalut.”
“Mahisa Agni sudah sependapat, bahwa Anusapati dapat terus menjalankan tugasnya dibawah perlindungan kami.”
“Aku sependapat,” berkata Sumekar, “tetapi soalnya sekarang telah berkembang.”
Witantra dan Mahendra mengerutkan keningnya.
Dalam pada itu Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang diketahuinya di istana. Bahkan, ia berpendapat bahwa Sri Rajasa agaknya telah memutuskan untuk menyingkirkan Anusapati. Tetapi dugaan ini sama sekali tidak dikatakannya kepada Anusapati sendiri.
“Kau bijaksana,” berkata Witantra, “jika Anusapati mengerti bahwa ayahanda sendiri berusaha untuk menyingkirkan dalam arti yang sebenarnya, ia akan kehilangan pegangan.”
“Dan sekarang, Putera Mahkota menunggu, apakah yang harus dilakukan dalam perkembangan keadaan terakhir. Putera Mahkota justru tidak diperkenankan keluar istana untuk sementara.”
Witantra adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup di sepanjang hidupnya yang penuh dengan persoalan. Baik yang menyangkut dirinya sendiri, maupun persoalan di luar dirinya. Karena itu, maka setelah merenung sejenak, ia berkata, “Kita memang harus berhati-hati. Kau harus mengawasi Putera Mahkota. Mungkin jebakan itu justru berada di istana. Sedang kami akan pergi ke Kediri. Kami harus bertemu dengan Mahisa Agni secepatnya. Kita akan menempuh perjalanan disepanjang malam, agar kita dapat mencapai Kediri pada waktunya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bahaya itu mungkin berada di istana Singasari, tetapi juga mungkin di istana wakil Mahkota di Kediri.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia menjawab, maka ketiganya mengangkat wajahnya hampir bersamaan. Ternyata Mereka telah dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari laju dijalan yang melaju meninggalkan kota.
Karena itu, maka mereka bertiga-pun segera menyelinap bersama kuda-kuda mereka masuk kedalam semak-semak. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang berpacu dimalam hari.
Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berkuda dengan cepatnya lewat dijalan yang menjelujur meninggalkan kota itu.
Namun demikian mereka kuda-kuda itu lewat, Sumekar berdesis, “Apakah aku tidak salah lihat?”
Witantra dan Mahendra hampir berbareng bertanya, “Siapa?”
“Orang yang aku katakan itu,” jawab Sumekar, “orang yang berada di istana bersama penasehat Sri Rajasa dan yang bahkan telah mencoba kemampuannya dengan Sri Rajasa sendiri?”
“Apakah kau tidak keliru?”
“Aku memang agak ragu-ragu. Selain malam yang gelap, kuda itu berjalan cepat. Namun rasa-rasanya orang itulah yang aku lihat itu.”
Witantra mengerutkan keningnya, sejenak ia merenung, lalu katanya, “Baiklah aku mencoba mengikutinya kemana mereka pergi, meskipun hanya sekedar arahnya. Kami akan langsung pergi ke Kediri untuk menyampaikan semua persoalan kepada Mahisa Agni.”
“Baiklah. Meskipun hubungan kami agak jauh, tetapi aku berharap bahwa kami akan mendapat kabar dari kalian dua tiga hari mendatang.”
“Ya, kami akan kembali memberikan keputusan-keputusan yang akan kami ambil bersama Mahisa Agni. Hati-hatilah di istana Singasari, kau berdua dengan Anusapati kami harap dapat menjaga diri kalian sebaik-baiknya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kami minta diri sebelum mereka menjadi terlalu jauh.”
“Silahkanlah,” jawab Sumekar.
Witantra dan Mahendra-pun kemudian menggerakkan kekang kudanya. Sejenak kemudian kuda itu-pun telah berpacu pula menyusul beberapa ekor kuda yang telah mendahuluinya.
Demikianlah maka kuda-kuda itu-pun segera berderap diatas jalan berbatu-batu. Witantra dan Mahendra tidak berani mengikuti mereka terlalu dekat. Dengan demikian orang-orang berkuda itu akan dapat mencurigai mereka. Karena itu, keduanya mengikuti dari jarak yang agak jauh. Jika mereka menjadi ragu-ragu dikelokan jalan, maka mereka-pun segera membuat api dengan dimik-dimik belerang untuk mengetahui jejak kuda-kuda yang mendahuluinya itu.
Namun semakin lama kecurigaan dihati Witantra menjadi semakin tajam. Ternyata kuda-kuda itu berpacu kearah kota Kediri. Karena itu, maka Witantra dan Mahendra-pun berpacu semakin cepat. Jarak ke Kediri masih sangat jauh. Tetapi arah yang ditempuh telah menunjukkan kepada mereka, bahwa kuda yang mereka ikuti itu benar-benar menuju ke Kediri, “Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahendra.
Witantra mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak tahu pasti namun seperti suatu firasat yang tiba-tiba saja melonjak dikepalanya adalah, “Selain Anusapati, maka Mahisa Agnilah orang yang harus dilenyapkan dari Singasari.”
Ketika ia mengatakannya kepada Mahendra, maka Mahendra-pun menyahut, “Sumekar juga mengatakannya. Bukankah begitu?”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar