*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 08-03*
Karya. : SH Mintardja
“Paman, apakah benar Paman Lembu Ampal mendapat perintah dari Ibunda?”
Orang itu tersenyum. Katanya, “Ki Sanak. Baiklah aku memperkenalkan diri. Aku adalah penghuni padepokan ini. Dan dari kedua anak-anak muda ini aku mengenal namamu. Lembu Ampal.”
“Ya. Namaku Lembu Ampal,” sahut Lembu Ampal, “aku adalah seorang senapati. Kedua anak-anak muda ini tentu mengetahuinya.”
“Ya, keduanya sudah menyebut namamu dan jabatanmu. Mereka mengatakan bahwa Ki Sanak adalah seorang prajurit.”
“Karena itu, biarlah aku membawa keduanya.”
“Nanti dahulu. Jangan tergesa-gesa. Aku akan mempersilakan Ki Sanak singgah sebentar di padepokan. Biarlah aku membicarakannya dengan Kakang tentang kedua anak-anak muda ini. Aku kira, jika benar-benar kau mendapat perintah untuk mengambilnya, Kakang tidak akan berkeberatan.”
Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasanya ia selalu dikejar oleh waktu. Ia ingin cepat selesai dan kemudian cepat kembali ke Singasari.
Karena itu maka ia pun menjawab, “Aku kira tidak perlu Ki Sanak. Aku tidak perlu singgah di padepokanmu. Aku minta diri untuk membawa kedua anak-anak ini.”
“Ah, kau aneh. Keduanya harus minta diri dahulu. Keduanya harus mempersiapkan diri dan pakaian mereka. Mereka tentu tidak akan dapat pergi begitu saja tanpa bekal apapun. Mungkin kita orang-orang tua tidak banyak terganggu perasaan lapar dan haus di perjalanan. Tetapi kanak-kanak?”
“Banyak minuman dan makanan di sepanjang jalan. Seperti saat ia pergi, maka keduanya pun tidak membawa bekal apa-apa sama sekali.”
“Oh. Tetapi, kenapa mereka harus kembali setelah mereka pergi dengan tergesa-gesa dan tanpa membawa apapun juga?”
“Itu bukan persoalanmu,” Lembu Ampal berhenti sejenak lalu, “sebaiknya kau tidak mempersoalkannya lagi. Aku akan membawa keduanya.”
“Aku tidak dapat melepaskan Ki Sanak. Aku adalah pemomongnya di sini.”
“Aku pemomongnya di istana.”
Tetapi tiba-tiba saja Ranggawuni berkata, “Ah. Paman bergurau. Bukankah Paman seorang senapati? Tentu bukan seorang pemomong di istana. Paman adalah pemomong sepasukan prajurit di medan perang.”
Wajah Lembu Ampal menegang. Namun jantungnya berdesir ketika ia melihat wajah Ranggawuni yang bersih bening. Kata-kata itu diucapkan tanpa prasangka apapun juga.
Namun Lembu Ampal menghentakkan tangannya sambil berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu. Minggirlah!”
Lalu katanya kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, “Marilah Tuanku berdua. Hamba akan membawa Tuanku kembali ke istana.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi termangu-mangu. Sementara itu orang setengah umur yang menyertainya berkata, “Kedua anak-anak itu sudah mengerti, apa yang akan terjadi atas dirinya jika mereka kembali ke istana. Itulah sebabnya keduanya melarikan diri. Bahkan sampai saat ini pun keduanya masih selalu dikejar-kejar.”
Ia berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak, kenapa kau mencari keduanya sampai ke tempat terpencil itu? Kenapa kau tidak membiarkannya hidup tenang di sini? Keduanya tidak mempunyai kesalahan apapun juga.”
Wajah Lembu Ampal menjadi tegang. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jadi kau sudah mengetahui tentang kedua anak-anak itu, Ki Sanak? Kau mengetahui bahwa keduanya harus dibunuh?”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka terkejut mendengar pengakuan Lembu Ampal yang tiba-tiba. Meskipun mereka menyadari bahaya yang mengancam, tetapi mereka semula tidak menyangka bahwa Lembu Ampal yang datang dalam pakaian yang kumal dan wajah yang kehitam-hitaman dibakar oleh sinar matahari dan ditumbuhi oleh janggut dan kumis dengan tidak teratur itu adalah dalam rangkaian usaha pembunuhan itu pula.
“Baiklah aku tidak akan berbelit-belit lagi,” berkata Lembu Ampal, “aku minta kedua anak itu. Aku akan membunuhnya dan membawa bukti kematiannya kepada Tuanku Tohjaya.”
Orang yang mengawani kedua anak-anak muda itu justru tersenyum sambil berkata, “Sebaiknya kau berkata berterus terang. Tetapi aku kira kedua anak-anak muda itu tidak akan membiarkan dirinya terbunuh. Adalah haknya untuk membela diri mereka sendiri.”
Lembu Ampal menjadi tegang. Tetapi juga Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi tegang.
“Ki Sanak,” berkata orang yang bersama kedua anak-anak muda itu, “setiap makhluk hidup akan mempertahankan hidupnya secara naluriah. Seekor kelinci akan mencoba melarikan dirinya dari kuku-kuku anjing liar. Apalagi kedua anak-anak muda itu.”
“Aku tidak peduli!” teriak Lembu Ampal, “Membela diri atau tidak, keduanya akan aku bunuh.”
“Kami bertiga Ki Sanak. Kau hanya seorang diri.”
Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah artinya kalian bertiga. Apa artinya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Mungkin kau mempunyai sedikit kemampuan untuk mempertahankan diri beberapa saat. Namun keduanya tidak akan dapat membantumu.”
“Betapapun juga, kami akan bertahan. Jika perlu, aku akan berkelahi, sementara kedua anak-anak muda itu sempat melarikan dirinya.”
Sekali lagi Lembu Ampal tertawa. Katanya, “Setiap perlawanan akan membuat kalian bertiga semakin menderita menjelang hari-hari kematianmu.”
“Paman Lembu Ampal,” tiba-tiba saja Ranggawuni memotong, “aku tidak menyangka bahwa Paman adalah salah seorang dari mereka yang akan mencelakai aku. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami tidak akan menyerah tanpa berbuat apa-apa.”
Dan tiba-tiba saja Mahisa Cempaka menyela sambil memandang kepada orang yang menyertainya, “Jadi orang inikah yang Paman maksudkan sebagai kawan berlatih?”
Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya, inilah yang aku maksud.”
“Dari mana Paman tahu, bahwa ia berada di hutan ini?”
“Bukankah ia sendiri datang kepada kita?”
“Tetapi Paman tentu sudah tahu lebih dahulu. Sejak kita memasuki hutan ini, Paman sudah mengatakan bahwa Paman akan memberikan seorang kawan untuk berlatih.”
Lembu Ampal terkejut mendengar pembicaraan itu. Ternyata kedatangannya sudah diketahui terlebih dahulu. Dan itu sama sekali tidak diduganya.
Karena itu ia menjadi ragu-ragu. Siapakah yang sudah melihatnya berkeliaran di padepokan ini? Tentu orang-orang dari istana pula. Tidak ada orang lain yang dengan mudah mengenalnya jika orang itu tidak mengenalnya sehari-hari
Namun dalam pada itu, sebelum ia sempat bertanya, Ranggawuni telah berkata, “Paman Lembu Ampal. Sebenarnyalah bahwa kedatangan Paman benar-benar membuat aku gembira. Kehadiran salah seorang yang aku kenal dari lingkungan istana memberikan sedikit obat kerinduan terhadap keluargaku. Tetapi ternyata kedatangan Paman justru sebaliknya.”
Ranggawuni berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kami adalah anak-anak yang masih ingin hidup lebih lama lagi. Sudah tentu kami tidak akan menyerahkan leher kami, meskipun kepada Paman Lembu Ampal.”
Wajah Lembu Ampal menjadi merah. Anak-anak itu sudah berani menantangnya berkelahi. Mereka dengan berani menengadahkan wajah mereka memandang matanya. Mereka sama sekali tidak menjadi gemetar ketakutan.
Harga diri Lembu Ampal sebagai seorang senapati telah tersinggung. Ia berkeinginan, bahwa kedua anak-anak itu merengek dan minta ampun. Jika demikian, barangkali hatinya akan menjadi luluh dan mengurungkan niatnya. Tetapi anak-anak itu sudah menantangnya dengan berani.
Karena itu, untuk menguatkan sikapnya, Lembu Ampal pun menggeram, “Kalian akan mati karena kesombongan kalian. Sebenarnya aku tidak sampai hati melakukannya. Tetapi karena kalian menjadi sombong, aku akan membunuhmu segera.”
Tiba-tiba saja Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu bergeser saling menjauhi. Bahkan Mahisa Cempaka yang nampaknya selalu tidak bersungguh-sungguh itu tertawa, “Kita benar-benar mendapat kawan berlatih yang baik sekali. Aku tahu, Paman Lembu Ampal adalah seorang senapati. Jika kami dapat, setidak-tidaknya bertahan untuk beberapa saat lamanya, maka kami sudah memiliki kebanggaan.”
Ranggawuni memandang adik sepupunya sejenak. Tetapi ia menyadari bahwa itu adalah kebiasaannya.
Dalam pada itu kemarahan Lembu Ampal telah sampai ke puncaknya. Karena itu, ia sama sekali tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain lagi kecuali membunuh kedua anak-anak itu, dan kemudian orang yang menyaksikan pembunuhan itu.
Dengan demikian Lembu Ampal tidak berbicara terlalu banyak. Senjatanya masih berada di tangannya. Sementara itu Mahisa Cempaka masih juga berkata, “Sekarang aku tahu, kenapa Paman membawa senjata telanjang. Aku sangka bahwa perjalanan Paman yang berat, atau barangkali keragu-raguan Paman terhadap kamilah yang memaksa Paman untuk bersiaga dengan senjata itu. Ternyata bahwa sebenarnya senjata itu akan disarungkan di dalam tubuh kami berdua.”
Lembu Ampal tidak menjawab lagi. Dihentakkannya kakinya untuk menghindarkan segala macam pertimbangan yang lain. Kemudian ia pun segera meloncat menyerang Mahisa Cempaka.
Tetapi Mahisa Cempaka bukan anak-anak yang masih merengek dalam ketakutan melihat perang. Ia pun segera mengelak. Bahkan sekejap kemudian ia sudah menggenggam senjatanya pula. Senjata yang akan dipergunakannya untuk berlatih. Tetapi seperti yang diharapkannya, ia mendapat kawan berlatih yang lain dari biasanya.
Sementara itu, Ranggawuni pun telah siap pula dengan senjatanya pula. Sebuah pedang tipis seperti yang berada di dalam genggaman tangan Mahisa Cempaka.
Sikap dan tandang kedua anak muda itu mengejutkan Lembu Ampal. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keduanya sudah memiliki dasar-dasar olah kanuragan. Bahkan ternyata keduanya adalah anak yang lincah dan cekatan. Kemudian ia pun segera meloncat menyerang Mahisa Cempaka.
Sejenak kemudian maka Lembu Ampal sudah harus bertempur melayani kedua anak muda itu. Keduanya bertempur berpasangan. Dengan kemampuan yang sudah mereka miliki, maka mereka berusaha untuk mengurung Lembu Ampal dengan serangan-serangan yang tiada hentinya, agar Lembu Ampal tidak mempunyai banyak kesempatan.
Untuk beberapa saat Lembu Ampal hanya dapat menangkis dan menghindari serangan kedua anak-anak muda itu. Ia masih saja terheran-heran, bahwa dalam waktu yang singkat keduanya berhasil memiliki dasar-dasar olah kanuragan yang cukup.
Tetapi sesaat kemudian Lembu Ampal segera dapat mengatur dirinya. Ia adalah seorang senapati besar di Singasari. Sehingga karena itu, maka ia pun akan dengan segera dapat mengatasi kedua lawannya.
Perlahan Lembu Ampal kemudian menemukan sikap yang mapan. Ia sudah berhasil menyingkirkan pengaruh perasaannya yang heran melihat kemampuan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Dengan demikian maka Lembu Ampal pun kemudian mulai mengatur serangan-serangannya terhadap kedua anak-anak muda yang berkelahi berpasangan itu.
Dengan segera nampak, bahwa Lembu Ampal memang bukan lawan kedua anak muda itu meskipun keduanya berkelahi bersama-sama. Dalam beberapa saat kemudian keduanya segera terdesak. Sekali-kali keduanya harus menghindari serangan ganda Lembu Ampal yang berbahaya. Bahkan kadang-kadang mereka harus berloncatan menjauh.
Ketika kemungkinan untuk bertahan kedua anak itu semakin pudar, terdengar suara Lembu Ampal, “Tidak ada gunanya lagi perlawanan Tuan. Sebentar lagi Tuan berdua akan mati terkapar di tanah. Sebaiknya Tuan berdua mengetahui, bahwa aku akan membawa bukti kematian Tuan berdua. Bukti yang paling dapat dipercaya adalah membawa kepala Tuan berdua menghadap Tuanku Tohjaya. Sebenarnyalah Tuanku Tohjaya menghendaki kematian Tuan berdua, karena Tuan berdua dapat membahayakan kedudukannya yang didapatkannya, dengan kekerasan, karena Tuanku Tohjaya telah membunuh Anusapati.”
Terasa bulu tengkuk Ranggawuni dan Mahisa Cempaka meremang. Rasa-rasanya leher mereka sudah mulai terasa dingin, seolah-olah mata pedang Lembu Ampal telah mulai menyentuhnya.
“Berhentilah berkelahi,” teriak Lembu Ampal, “berjongkoklah, agar aku dapat memenggal kepala Tuan dengan mudah. Jika Tuan berdua masih saja melawan, mungkin aku akan mengambil sikap lain, dan membunuh Tuan berdua dengan cara yang tentu tidak akan Tuan sukai.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak segera menjawab. Mereka masih sibuk membebaskan diri dari serangan Lembu Ampal yang bagaikan arus banjir bandang.
“Cepat, lemparkan senjata Tuan,” teriak Lembu Ampal. Tetapi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak melepaskan senjatanya. Mereka masih berusaha melawan dengan gigihnya.
Lembu Ampal menjadi semakin marah, sehingga serangannya menjadi semakin berat. Katanya, “Tuan berdua memang sedang sekarat, tuan berdua memilih jalan yang pahit.”
“Kau akan dikutuk oleh rakyat Singasari,” teriak Ranggawuni kemudian, “kau pengkhianat seperti Pamanda Tohjaya. Kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagi kami.”
“Persetan!” bentak Lembu Ampal, “aku akan menyumpal mulutmu dengan ujung pedang.”
“K i Sanak,” tiba-tiba orang yang selama itu menyaksikan perkelahian yang sengit itu berkata, “kau tidak akan dapat membunuhnya di hadapan seorang saksi. Aku adalah saksi yang dapat menceritakan apa yang telah terjadi di sini.”
“Kau pun harus mati.”
“Tidak. Aku tidak mau mati.”
Jawaban itu mengejutkan Lembu Ampal. Namun kemudian ia menggeram, “Aku akan membunuhmu.”
Tetapi orang itu tertawa. Katanya, “Tentu Ranggawuni dan Mahisa Cempaka masih senang melakukan latihan yang agak berat itu. Namun dengan demikian mereka dapat mengukur sampai di manakah sebenarnya kemampuan mereka.”
Kemarahan Lembu Ampal telah mendesak kedua anak muda itu sehingga keduanya seolah-olah hanya dapat berloncat-loncatan bergantian. Untuk mengurangi tekanan pada yang seorang, yang lain mencoba menyerang. Namun semua pasti, bahwa mereka tidak akan mampu menyelamatkan diri berdasarkan atas kemampuan mereka itu sendiri.
Karena itulah, maka orang yang menyertainya itu pun maju beberapa langkah sambil berkata, “Agaknya latihan untuk hari ini sudah cukup. Kawanmu berlatih masih terlampau berat bagimu berdua.”
Kata-kata itu benar-benar tidak dapat dimengerti oleh Lembu Ampal. Yang terasa olehnya adalah suatu penghinaan yang tidak dapat dimaafkannya lagi.
Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun berusaha untuk melepaskan diri dari lawannya. Tetapi Lembu Ampal yang dibakar oleh kemarahan yang menyala di dadanya itu tidak mau melepaskan kedua anak-anak itu sama sekali.
“Baiklah,” berkata orang yang menyertai Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, “jika kau tidak mau memberi kesempatan kedua anak-anak itu berhenti, aku akan memaksanya berhenti.”
Kata-kata itu memang mendebarkan jantung. Tetapi Lembu Ampal tidak segera percaya bahwa orang itu mampu melakukannya.
Karena itu, ia masih memusatkan serangannya kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Keduanya harus mati. Dan bukti kematian keduanya akan membawanya kepada kedudukannya yang semula.
Tetapi betapa ia terkejut ketika tiba-tiba saja ia bagaikan terbentur pada kekuatan yang tidak diduganya sama sekali. Ketika pedangnya sedang memburu dan bahkan hampir saja mematuk tubuh Ranggawuni, terasa kekuatan yang luar biasa telah mendorong serangannya, sehingga serangannya itu pun terpotong karenanya. Bukan saja ia harus menarik senjatanya, namun terasa tangan dan lengannya menjadi sakit dan nyeri.
Sesaat Lembu Ampal mematung. Dengan wajah tegang dipandanginya orang yang telah berdiri di hadapannya. Dan yang lebih menegangkan adalah kenyataan bahwa orang itu sama sekali tidak memegang senjata apapun.
“Dengan apa ia memotong serangan pedangku,” bertanya Lembu Ampal di dalam hatinya.
Orang yang berdiri di hadapan Lembu Ampal itu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Maaf Ki Sanak. Aku sudah mengatakan, jika kau tidak mau memberi kesempatan kedua anak muda itu berhenti, maka aku terpaksa menghentikanmu.”
Lembu Ampal masih berdiri tegak. Ia masih mencoba mencari senjata apakah yang telah membentur senjatanya. Namun Lembu Ampal tidak menemukannya.
“Nah, sekarang terserah kepadamu,” berkata orang itu, “apakah kau masih ingin melanjutkan latihan ini. Tetapi karena kedua anak muda itu sudah lelah, maka biarlah aku yang mengawanimu bermain pedang.”
“Persetan!” Lembu Ampal menggeram, “Kau mencoba untuk menunjukkan kelebihanmu. Tetapi jangan sangka bahwa kau dapat menakut-nakuti aku dengan caramu itu.”
“Oh,” orang itu tersenyum, “kenapa aku menakut-nakutimu? Aku tidak berbuat apa-apa.”
“Siapakah kau sebenarnya? bertanya Lembu Ampal.
“Aku salah seorang cantrik dari padepokan ini. Padepokan ini adakah padepokan Panji Pati-pati. Seorang prajurit Singasari yang berada di Kediri.”
“Bohong! Aku mengenal semua prajurit Singasari yang ada di Kediri.”
“Kecuali yang satu itu. Ia adalah seorang prajurit baru yang diangkat oleh Tuanku Mahisa Agni sebelum ia dipanggil menghadap ke Singasari. Sebelumnya ia adalah seorang yang sudah mengasingkan diri di padepokan ini. Kini pun ia seakan-akan berada di dua tempat. Kadang-kadang di padepokan ini, kadang-kadang ia pergi ke Kediri untuk melakukan kewajibannya di sana. Jika demikian, maka akulah yang diserahi untuk mengawani kedua anak-anak muda ini.”
“Siapa kau sebenarnya? Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Aku seorang cantrik dari padepokan ini. Aku adalah cantrik yang paling dungu, sehingga aku tidak dibebani pekerjaan lain kecuali bermain-main dengan keduanya.”
“Cukup! Kau jangan mengigau. Apakah kau tidak berani menyebut namamu sendiri sehingga kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku bukan anak-anak yang dapat kau tipu. Kau sebut bahwa kau adalah cantrik yang paling dungu, agar aku membayangkan bahwa ada orang yang lebih baik dari kau. Apalagi gurunya itu adalah cara yang licik dan tidak masuk akalku.”
Orang itu menarik nafas dalam. Lalu, “Kau memang cerdas. Pantas kau mendapat tugas untuk membunuh kedua anak muda itu. Baiklah. Aku memang bukan cantrik yang paling dungu. Tetapi bahwa Panji Pati-pati sekarang tidak ada di padepokan itu benar. Ia memang sedang pergi ke Kediri seperti yang dilakukannya setiap kali. Tetapi karena ia sudah beberapa hari pergi, menurut rencananya, hari ini ia akan kembali.”
“Aku bertanya namamu.”
“Oh. Baiklah. Namaku Mahendra.”
“Mahendra. Apa hubunganmu dengan kedua anak muda itu?”
“Kita adalah sesama. Kita sama-sama dilahirkan oleh kuasa Yang Maha Pencipta. Seperti juga kau.”
“Jadi?”
“Kita wajib tolong menolong. Itulah hubungannya.”
Lembu Ampal menggeretakkan giginya. Kemudian dengan marahnya ia berkata, “Mahendra. Jika kau keras untuk melindungi kedua anak muda itu. maka aku akan membunuhmu. Aku sudah bertekad melakukan tugasku sebaik-baiknya.
“Kau memang akan membunuh aku. Jika aku tidak berbuat apa-apa pun kau sudah berniat membunuhku juga, karena aku akan dapat menjadi saksi di dalam pembunuhan ini. Karena itu, daripada aku bersalah terhadap kewajibanku bagi sesama, maka sebaiknya aku mencoba untuk mengurungkan niatmu.”
Lembu Ampal menjadi tidak sabar lagi. Sambil beringsut setapak mendekat ia berkata, “Jika demikian, kau yang harus aku bunuh lebih dahulu. Kemudian membunuh kedua kelinci itu tidak akan ada sulitnya.”
“Jika aku tidak mampu melawan kau seorang diri, kami akan bertempur bertiga. Agaknya kedua anak muda itu akan berpengaruh juga atas perkelahian kita, setelah ternyata mereka mempertahankan diri mereka untuk beberapa saat lamanya.”
Lembu Ampal tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian mempersiapkan dirinya. Selangkah ia maju lagi. Pedangnya pun kemudian mulai merunduk.
Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar melihat orang yang menyebut dirinya bernama Mahendra itu masih tetap berdiri di tempatnya tanpa memegang senjata apapun. Dengan demikian Lembu Ampal menduga, bahwa orang itu memang merasa dirinya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi daripadanya.
Namun Lembu Ampal tidak yakin. Ia adalah seorang senapati kepercayaan Tohjaya. Hanya Mahisa Agnilah orang yang pantas disegani di Singasari sepeninggal Anusapati dan Sri Rajasa.
Tetapi orang itu agaknya terlampau yakin akan dirinya sendiri.
Meskipun demikian. Lembu Ampal masih juga menggeram, “Cepat, ambil senjatamu!”
Mahendra tertawa. Katanya, “Aku tidak membawa senjata apapun, karena aku memang tidak berniat untuk berkelahi.”
“Ambil senjata anak-anak itu.”
“Biarlah mereka memegang senjata masing-masing. Mereka harus tetap waspada karena merekalah yang sebenarnya menjadi sasaranmu saat ini.”
Lembu Ampal menggeretakkan giginya. Sejenak ia memandang wajah Mahendra yang masih tetap tenang. Katanya dengan nada yang dalam, “Jika kau mati, itu adalah akibat dari kesombonganmu.”
Mahendra tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, meskipun nampaknya ia masih berdiri saja di tempatnya.
Lembu Ampal yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi itu pun mulai menjulurkan pedangnya. Sambil menggerakkan ujung pedang itu, ia pun mulai bergeser.
Mahendra merendahkan tubuhnya sedikit. Ia menghadap ke mana saja Lembu Ampal bergerak.
Namun tiba-tiba saja Lembu Ampal yang marah itu meloncat menyerang. Pedangnya tidak saja mematuk lawannya, tetapi pedang itu kemudian telah terayun mendatar menyambar leher Mahendra.
Mahendra yang sudah siap menghadapi kemungkinan itu, meloncat surut sambil merendahkan tubuhnya sehingga pedang itu terbang hanya sejengkal di atas kepalanya. Namun dalam pada itu. selagi tangan Lembu Ampal masih terayun. Mahendra dengan cepatnya memiringkan tubuhnya. Diangkatnya sebelah kakinya menyambar lambung lawannya.
Lembu Ampal masih sempat melihat serangan itu. Ia tidak menahan tangannya. Tetapi ia justru berputar setengah lingkaran dan kemudian berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang sambil menyilangkan pedang di dadanya.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Lembu Ampal cukup cekatan. Tetapi yang dilakukan oleh Mahendra adalah sekedar peringatan bagi lawannya, bahwa serangan yang tergesa-gesa itu sama sekali tidak akan dapat mengenai sasarannya.
Namun bagi Lembu Ampal, peringatan itu terasa mendebarkan jantungnya. Sejak semula ia sudah tergetar melihat sikap Mahendra. Dan ternyata Mahendra itu mampu bergerak lebih cepat dari ayunan pedangnya.
Meskipun demikian, Lembu Ampal tidak segera terpengaruh. Sekali lagi bersiap. Pedangnya kini bergerak lebih cepat. Seolah-olah pedang itu akan mematuk dari segala arah.
Mahendra bergerak selangkah. Dengan tajamnya ia memandang lawannya. Tidak pada ujung pedangnya, tetapi pada matanya.
Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Kadang-kadang mereka menjadi cemas. Namun kadang-kadang mereka tersenyum.
Ketika perkelahian itu kemudian berlangsung pula dan menjadi semakin sengit, keduanya benar-benar terpukau. Serangan-serangan Lembu Ampal dengan pedangnya meluncur bagaikan angin pusaran. Ujung pedangnya mematuk dari segala arah dan kemudian menyambar dengan dahsyatnya. Namun lawannya mampu mengimbangi kecepatan bergerak Lembu Ampal. Bahkan kadang-kadang Mahendra berhasil mendahuluinya. Selagi Lembu Ampal mengangkat pedangnya, tiba-tiba saja terasa lambungnya terdorong dengan kuatnya, sehingga hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Ternyata Mahendra mempergunakan saat itu dengan tepat, dan kakinya meluncur dengan derasnya menyambar tubuh lawannya.
Pada saat-saat berikutnya, agaknya Mahendra sudah mulai menekan lawannya. Perkelahian itu mulai nampak berat sebelah. Meskipun Mahendra tidak bersenjata, tetapi ia mampu menguasai Lembu Ampal yang bagaikan kehilangan akal. Pedangnya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun semakin lama justru semakin kehilangan arah.
“Gila!” Lembu Ampal mengumpat di dalam hati, “Setan manakah yang menyusup pada orang ini, sehingga ia mampu bergerak secepat burung sikatan.”
Tetapi Lembu Ampal tidak sempat berangan-angan terlalu lama. Setiap kali tangan dan kaki lawannya telah menyentuh tubuhnya. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya terasa semakin sakit dan nyeri.
Namun Lembu Ampal, adalah seorang senapati. Ia tidak mau menyerah pada keadaan yang sedang dihadapinya. Ia masih melawan dengan gigihnya. Segala ilmu yang ada pada dirinya diperasnya sampai tuntas.
Namun Lembu Ampal tidak berhasil mempertahankan dirinya lebih lama lagi. Ia menjadi semakin terdesak. Tubuhnya menjadi semakin lemah.
Ketika ia sempat melihat kedua anak muda yang berada di luar lingkaran perkelahian, hatinya menjadi berdebar-debar. Keduanya melonjak-lonjak kegirangan seperti sedang melihat ayam aduannya menang di arena.
Bahkan Mahisa Cempaka mengacu-acukan senjatanya sambil berteriak, “Ayo Paman. Tangkap saja. Nanti aku akan mencabuti kumis dan janggutnya.”
Lembu Ampal menjadi semakin marah. Tetapi ia pun menyadari bahwa tubuhnya menjadi semakin lemah. Perlawanannya menjadi semakin tidak berarti. Apalagi ketika ia sadar pula, bahwa lawannya masih tetap segar meskipun ia tidak bersenjata.
Bagaimanapun juga, sebagai seorang yang berpengalaman Lembu Ampal harus melihat kenyataan itu, bahwa lawannya benar-benar seorang yang mumpuni di dalam olah kanuragan.
“Aku tidak menyangka, bahwa di padepokan kecil ini masih ada orang yang mempunyai kemampuan bertempur demikian tinggi. Hampir seperti Mahisa Agni,” gumam Lembu Ampal di dalam hatinya.
Meskipun Lembu Ampal benar-benar pantang menyerah, tetapi perlawanannya sudah tidak berarti sama sekali. Pedangnya hampir tidak lagi dapat diayunkannya, karena tangannya menjadi sangat lemah, seolah-olah telah kehilangan tulang-tulangnya sama sekali.
Karena itu, ketika Mahendra menyerangnya mendatar dengan kakinya, Lembu Ampal yang sudah lemah itu tidak berhasil menghindarkan diri. Ia mencoba melindungi dirinya dengan menjulurkan pedangnya. Tetapi serangan mendatar itu tiba-tiba saja diurungkannya, ketika Mahendra melihat pedang itu masih mampu bergerak. Namun dengan sebuah loncatan, Mahendra tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah lawannya. Dengan tangannya, Mahendra memukul tengkuk Lembu Ampal.
Lembu Ampal yang memang sudah kehilangan tenaga itu terdorong beberapa langkah. Rasa-rasanya tengkuknya bagaikan menjadi patah. Sejenak ia kehilangan keseimbangan, dan matanya menjadi berkunang-kunang.
Lembu Ampal tidak dapat bertahan untuk berdiri. Tiba-tiba ia sudah terhuyung-huyung dan jatuh tertelungkup. Untunglah bahwa ia masih sadar, bahwa pedangnya akan dapat melukai tubuhnya sendiri, sehingga ia dapat menjulurkan pedangnya ke samping
Meskipun demikian Lembu Ampal tidak menyerah dan pasrah. Ia masih mencoba untuk bangkit berdiri. Tetapi tenaganya benar-benar telah sampai pada batas kemungkinannya. Sehingga meskipun ia berhasil bangkit dan berjongkok pada lututnya, namun Lembu Ampal sudah tidak dapat berdiri lagi meskipun ia bertelekan pada pedangnya.
Dengan nafas terengah-engah ia melihat Mahendra berdiri tegak di hadapannya. Dengan sorot mata yang bagaikan menusuk langsung ke pusat jantungnya. Mahendra memandang tubuh Lembu Ampal yang sudah tidak bertenaga lagi itu.
“Nah, apakah kau masih akan melawan?” bertanya Mahendra.
Lembu Ampal memandang Mahendra sekilas. Kemudian ditatapnya wajah kedua anak-anak yang sudah berada di belakang Mahendra.
Tetapi wajah anak-anak muda itu sudah berubah. Meskipun mereka masih menggenggam senjata, tetapi mereka tidak lagi bersorak-sorak dan berloncat-loncatan. Wajah mereka kini menjadi bersungguh-sungguh.
Lembu Ampal yang belum berhasil berdiri itu kemudian menggeram, “Aku akan membunuh mereka.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Jika kau seorang jantan, kau tentu mengakui bahwa kau tidak dapat memenangkan perkelahian ini. Apalagi sekarang kau sudah kehilangan segenap kekuatanmu. Berdiri pun kau sudah tidak mampu lagi. Jika aku berniat membunuhmu, maka aku akan dapat melakukannya dengan mudah.”
“Bunuhlah jika kau memang mampu melakukannya. Mati adalah kemungkinan yang sudah disadari akan terjadi atas seorang prajurit yang menjalankan tugasnya.”
“Jadi kau benar-benar tidak mau menyadari kekalahanmu dan kesalahanmu?”
“Aku tidak bersalah. Aku menjalankan tugas.”
“Kau yakin bahwa tugas yang dibebankan kepadamu itu benar?”
“Itu bukan urusanku.”
“Itulah kebodohanmu. Dan kebodohan seperti itulah yang dapat menjerumuskan Singasari ke dalam bencana.”
“Persetan! Kau bukan pemimpinku. Kau tidak dapat memberikan perintah kepadaku,” nafas Lembu Ampal bagaikan terputus, lalu, “cepat, kalau kau akan membunuhku lakukanlah.”
Mahendra berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu.
“Cepat!” Lembu Ampal berteriak, “Apakah kau ingin berbangga menikmati kemenanganmu berlama-lama?”
Mahendra mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia berbuat sesuatu, terdengar suara Ranggawuni, “Paman. Apakah Paman akan membunuh Paman Lembu Ampal?”
Mahendra berpaling. Tetapi ia tidak segera menjawab.
“Apakah Paman dapat membiarkannya hidup?” desak Ranggawuni.
Mahendra masih berdiam diri. Tetapi kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam.
“Jika kau membiarkan aku hidup, pada suatu saat aku akan membunuh anak-anak itu,” teriak Lembu Ampal yang merasa terhina.
Tetapi Mahisa Cempaka seolah-olah tidak mendengarnya dan berkata, “Jangan dibunuh, Paman. Paman Lembu Ampal sehari-hari adalah orang yang baik. Ia hanya sekedar menjalankan tugas seperti yang dikatakannya.”
Mahendra masih berdiri termangu-mangu. Sebenarnya bahwa ia memang tidak ingin segera mengambil keputusan untuk membunuh Lembu Ampal. Karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu.
Namun demikian sikap kedua anak-anak itu telah membuatnya menjadi heran. Anak-anak yang melonjak-lonjak melihat perkelahian yang terjadi itu karena mereka melihat kemenangan Mahendra, tiba-tiba dapat berpikir dengan sungguh-sungguh, dan bahkan menyatakan keberatannya apabila Lembu Ampal dibunuhnya.
Ternyata bukan saja Mahendra, tetapi Lembu Ampal sendiri menjadi bingung menanggapi sikap kedua anak-anak itu. Dorongan apakah yang telah membuat kedua anak-anak itu menjadi demikian sabar dan bahkan terasa agung.
“Apakah memang sudah ada sifat-sifat itu di dalam diri mereka berdua?” bertanya Lembu Ampal kepada diri sendiri, “sehingga mereka benar-benar akan menjadi orang yang berjiwa besar dan pengampun.”
Pertanyaan itulah yang kemudian membuat Lembu Ampal menjadi ragu-ragu untuk meneriakkan harga dirinya. Mulutnya yang sudah hampir terbuka dan mengumpat, tiba-tiba telah terkatup lagi.
“Ranggawuni dan Mahisa Cempaka,” Mahendralah yang kemudian berbicara, “kau sudah melihat sendiri apa yang terjadi. Kau sudah menyaksikan sikap dan tekad Lembu Ampal. Meskipun demikian, aku tidak akan mengambil keputusan. Kalian berdualah yang pantas menentukan, apakah yang sebaiknya diperbuat atas orang ini.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi termangu-mangu. Sesaat mereka menatap wajah Lembu Ampal. Namun wajah itu telah berubah. Wajah itu tidak lagi memancarkan kebencian dan dendam.
Sebenarnyalah di dalam diri Lembu Ampal telah terjadi pergolakan. Sekilas ia teringat kepada sikap pendeta istana yang bersedia mengalami apapun untuk keselamatan kedua anak-anak muda itu. Bahkan ia sendiri telah dicengkam deh keraguan sehingga keduanya mendapat kesempatan untuk melarikan diri sampai ke padepokan ini. Apalagi selama pengembaraannya, Lembu Ampal seakan-akan menemukan jalan yang lurus mendekati Yang Maha Agung. Tetapi ternyata ketika ia melihat kedua anak-anak itu nafsunya telah melonjak kembali untuk mendapatkan kamukten. Tetapi sekedar kamukten duniawi.
Meskipun demikian, sepercik harga diri masih terloncat dari bibirnya meskipun dengan nada yang datar dan dalam, “Kenapa Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak mengambil keputusan untuk membunuhku? Bukankah aku sudah berniat untuk membunuh Tuanku berdua?”
Namun terasa bahwa nada kata-kata Lembu Ampal telah berubah. Apalagi bagi Mahendra. Ketajaman inderanya segera menangkap geseran perasaan Lembu Ampal yang masih berdiri pada lututnya dan bertelekan pedangnya.
Sejenak orang-orang yang masih belum beranjak dari tempatnya itu saling berdiam diri. Tetapi Lembu Ampal sudah tidak lagi menengadahkan dadanya. Perlahan-lahan kepalanya menjadi tunduk.
Lembu Ampal sama sekali tidak menjadi cemas atas keselamatannya. Ia sama sekali tidak takut ujung pedang lawannya. Tetapi justru kebesaran jiwa kedua anak muda itu telah membuat hatinya menjadi luluh. Kedua anak muda yang sadar bahwa mereka akan dibunuh olehnya karena perintah Tohjaya yang tidak mau melihat keduanya menjadi dewasa penuh dan berpengaruh atas rakyat Singasari karena nama-nama orang tua mereka.
“Kenapa mereka tidak berniat untuk membunuhku saja,” ia mengeluh di dalam hatinya, “sikap itu sangat menyiksaku. Apalagi jika Lembu Ampal mengenang perkembangan sikapnya sendiri. Penyesalan yang mendalam mulai merayapi hatinya. Ia sudah hampir menemukan jalan yang benar. Tetapi kenapa ia tiba-tiba telah terjerumus kembali ke dalam ketamakan dan nafsu kebendaan semata-mata.
Dalam kebimbangan itu kemudian terdengar Mahendra berkata, “Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ambil suatu sikap. Aku akan mematuhinya.”
Ranggawuni memandang Mahendra sejenak, lalu dipandanginya Lembu Ampal yang tunduk. Katanya kemudian, “Paman. Apakah Paman dapat memaafkannya? Barangkali Paman Lembu Ampal dapat melepaskan diri dari tugasnya. Aku kira Paman Lembu Ampal sendiri tidak mempunyai kepentingan apapun untuk membunuhku.”
Mahendra menarik nafas. Katanya, “Jika itu keputusanmu aku tidak berkeberatan. Terserah kepada Lembu Ampal sendiri. Apakah ia dapat berbuat demikian?”
Ranggawuni memandang Lembu Ampal yang masih tunduk. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Mahisa Cempaka sudah mendahuluinya hampir di luar sadarnya, “Selama Paman Lembu Ampal masih terikat kepada pengabdiannya kepada Pamanda Tohjaya, maka Paman Lembu Ampal tentu akan tetap melakukan tugasnya. Karena itu, bagaimana jika Paman Lembu Ampal tidak usah kembali ke istana Singasari? Kita bertiga akan menjadi orang-orang buruan yang dengan aman bersembunyi di padepokan ini. Paman pun harus tetap bersembunyi jika Paman tidak berhasil melakukan tugas Paman sebaik-baiknya. Tetapi menurut pendapatku, hidup di padepokan yang tenang dan tenteram ini jauh lebih baik dari mati atau harus dikejar oleh dosa sendiri karena telah melakukan pembunuhan tanpa arti.”
Lembu Ampal menjadi semakin tunduk. Sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya, bahwa anak muda itu mampu berpikir sedemikian jauh dan jernih.
Tetapi Lembu Ampal tidak dapat segera menjawab. Terasa sesuatu berbenturan di dalam dadanya. Harga diri, penyesalan, kecurigaan dan campur baurnya kecemasan dan ketakutan atas dosa. yang akan mengejarnya.
Dalam pada itu, Mahendra pun kemudian berkata, “Ki Sanak, kau sudah mendengar pendapat kedua anak-anak muda itu. Cobalah meyakini bahwa kata-katanya bukan sekedar tata krama. Tetapi menurut anggapanku, yang dikatakan oleh Ranggawuni itu adalah kata hati nuraninya. Apakah kau merasakannya Ki Sanak?”
Lembu Ampal tidak segera menjawab.
“Kenapa kau masih tetap diam saja? Apakah kau masih dibayangi oleh kecurigaan?”
Lembu Ampal mengangkat wajahnya. Sekali lagi ia mencoba berdiri bertelekan pedangnya. Dan kali ini ia berhasil.
Mahendra memandang Lembu Ampal dengan ragu. Tetapi nampak bahwa ia telah mempersiapkan dirinya pula.
Sesaat mereka diam dalam ketegangan. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun menjadi tegang pula. Mereka memandang Mahendra dan Lembu Ampal berganti-ganti.
Namun tiba-tiba mereka melihat Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat pula Lembu Ampal mengangkat pedangnya di hadapan wajahnya. Namun kemudian nafas mereka pun bagaikan terhenti ketika mereka melihat Lembu Ampal justru melemparkan senjatanya sambil berkata, “Tuanku berdua. Betapa besar jiwa Tuanku berdua. Adalah pertanda kasih Yang Maha Agung, bahwa di dalam usia Tuanku yang masih semuda itu, Tuanku telah mempertimbangkan untuk memberikan maaf terhadap orang yang sudah bertekad untuk membunuh Tuanku.”
Mahendra memandang Lembu Ampal sejenak. Seakan-akan ia ingin meyakinkan sikap orang itu. Namun kemudian ia melangkah maju sambil berkata, “Terpujilah kebesaran jiwamu Ki Sanak. Ternyata kau benar-benar seorang senapati yang memiliki sikap sebenarnya jantan. Sikap jantan bukan berarti membunuh dirinya sendiri di peperangan karena putus asa. Tetapi berani melihat kenyataan dan mengakui kebenaran. Dan Ki Sanak sudah melakukannya.”
“Sebutan itu tidak sepantasnya bagiku. Aku memang seorang pengecut yang tidak berani mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatanku. Itulah sebabnya maka aku mohon maaf kepadamu Ki Sanak. Dan kepada kedua anak muda yang mulia itu.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian melangkah maju. Dengan wajah yang bening keduanya memandang Lembu Ampal yang tiba-tiba saja bersujud di hadapan mereka.
“Kau kenapa Paman?” bertanya Ranggawuni, “Berdirilah! Tidak pantas kau berlutut di hadapanku.”
“Tuanku. Ternyata selama ini aku telah tersesat. Aku adalah salah seorang yang telah mendukung usaha Tuanku Tohjaya untuk menduduki tahta. Dan setiap orang sebenarnya tahu apa yang sudah dilakukannya atas Tuanku Anusapati, ayahanda Tuanku Ranggawuni. Namun demikian, karena kebohongannya yang cukup besar, dan seolah-olah tanpa malu-malu memaksakan kenyataan yang palsu, Tuanku Tohjaya berhasil mempertahankan kedudukannya di atas tahta Singasari. Dan aku adalah salah seorang yang telah melibatkan diri di dalamnya.”
“Sudahlah,” potong Mahendra, “penyesalanmu adalah sebagian dari kebenaran yang sudah kau akui.”
Lembu Ampal memandang Mahendra sejenak, lalu sambil menundukkan kepalanya ia berkata, “Aku sudah tidak berhak lagi mengatakan tentang kebenaran.”
“Ah, tentu kau tetap berhak. Justru kau sudah menemukan kebenaran itu. Karena itu tangkaplah, dan peganglah dengan teguh, agar kebenaran itu tidak terlepas lagi dari tanganmu.”
Lembu Ampal termenung sejenak. Tetapi seakan-akan nampak di rongga matanya, bahwa sebenarnyalah ia telah berhasil menangkap kebenaran itu meskipun tidak seutuhnya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahendra, kebenaran itu memang sudah lepas lagi dari tangannya, justru ketika ia bertemu dengan kedua anak muda itu. Nafsunya telah membakar jantungnya. Ia masih disilaukan oleh kedudukan yang memberikan banyak keuntungan jasmaniah, sehingga ia telah terperosok kembali ke dalam niat jahatnya.
“Aku harus mengucapkan syukur, bahwa Ki Sanak berada di sini,” tiba-tiba saja suara Lembu Ampal bagaikan melingkar di dalam dadanya saja.
“Kenapa?” bertanya Mahendra.
“Ki Sanak telah melepaskan aku dari kejaran dosa dan penyesalan. Jika Ki Sanak tidak ada di sini, sehingga aku mendapat kesempatan untuk membunuh Tuanku berdua, maka hidupku untuk selamanya tidak akan mengalami ketenteraman dan kedamaian.”
“Bersukurlah kepada Penciptamu.”
“Ya, Ki Sanak. Aku bersukur kepada Yang Maha Agung.”
Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kemudian apakah yang patut aku lakukan?”
“Tidak ada yang harus kau lakukan selain selalu ingat akan penyesalan ini.”
“Mungkin aku harus menebus kesalahanku sekarang ini?”
“Aku tidak mengerti,” sahut Ranggawuni.
“Hutang harus dibayar. Hutang pati harus dibayar dengan jiwanya pula.”
“Maksudmu?”
“Tuanku Tohjaya telah berhutang jiwa.”
Ranggawuni mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang Mahisa Cempaka yang termangu-mangu.
Dan Lembu Ampal pun berkata pula, “Tuanku, berilah aku perintah. Aku akan melakukan apa saja. Seandainya Tuanku memerintahkan aku untuk membunuh Tuanku Tohjaya, maka aku akan melakukannya juga.”
“Ah,” Ranggawuni berdesah.
Mahendra menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak menyahut, ia ingin mendengar jawaban yang meloncat dari mulut Ranggawuni sendiri. Agaknya pertanyaan Lembu Ampal itu di luar sadarnya telah menjajaki watak dan sifat Ranggawuni.
Sejenak kemudian Ranggawuni pun menjawab, “Paman Lembu Ampal. Jika hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa maka kematian akan disusul dengan kematian. Setiap dendam akan menuntut. Dan dendam itu sendiri akan berkembang sejalan dengan perkembangan manusia. Tetapi akhirnya manusia akan lenyap ditelan oleh dendam mereka sendiri.”
Lembu Ampal bergeser selangkah, lalu, “Jadi maksud Tuanku?”
“Biarlah yang sudah terjadi. Aku merasa mendapat kedamaian hati di padepokan ini.”
Lembu Ampal yang berlutut itu pun kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam hampir menyentuh tanah. Katanya, “Tuanku memang berbudi luhur. Namun Tuanku harus mempertimbangkan. Bahkan Tuanku mempunyai kewajiban seorang kesatria. Tuanku tidak akan dapat membiarkan kebatilan terjadi dan berkembang.”
“Paman Lembu Ampal. Aku belum berbicara mengenai Singasari. Akan tetapi aku tidak sependapat, bahwa dendam harus dipelihara di dalam hati. Jika kelak aku berbuat sesuatu untuk Singasari, sama sekali bukan berdasarkan atas dendamku karena aku telah kehilangan bapakku.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar