Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 06-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 06-03*

Karya.   : SH Mintaedja

Prajurit-prajurit yang lain, yang melihat dari kejauhan pembicaraan itu pun segera mendekatinya dan saling mendahului bertanya apa saja yang telah mereka percakapkan.

Kedua prajurit itu tidak dapat ingkar, bahwa mereka telah mengatakan, apakah tugas mereka sebenarnya.

“Aku tidak dapat berkata lain.“ prajurit yang seorang menjadi ketakutan, “aku tidak tahu apakah yang sudah aku katakan.”

“Tidak penting.“ tiba-tiba kawannya bergumam, “kau jelaskan atau tidak, Mahisa Agni tentu sudah tahu bahwa kami sedang mengawasinya. Nah, apakah kau tahu, apakah yang dilakukan oleh para pengawalnya di bangsal itu.”

Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya.

“Mereka semuanya menyelipkan keris mereka tidak di punggung, tetapi dilambung kanan. Di leher mereka tersangkut kain berwarna putih. Nah, kalian tahu artinya.”

Para prajurit itu menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka adalah prajurit yang cukup berpengalaman, namun mendengar keterangan kawannya itu, hati mereka menjadi berdebar. Dengan demikian mereka mengetahui bahwa para pengawal Mahisa Agni yang ditinggalkan di bangsal itu, telah pasrah untuk mati apabila diperlukan.

“Dibawah pimpinan Mahisa Agni, serombongan kecil orang-orang di bangsal itu akan merupakan kekuatan yang luar biasa. Kau tahu, ketika tuanku Anusapati terbunuh. Empat orang pengawal yang mengamuk ditambah seorang bekas Pelayan yang telah menjatuhkan korban yang tidak terhitung meskipun akhirnya mereka dapat dikuasai. Nah, berapa banyak korban yang bakal jatuh jika Mahisa Agni dan pengawalnya mengamuk.“ desis seorang prajurit.

Kawan-kawannya yang mendengarkan keterangan itu saling berdiam diri. Tetapi mereka semuanya sependapat, bahwa jika-benar-benar hal itu terjadi, maka halaman istana itu tentu akan kacau. Meskipun akhirnya Mahisa Agni akan dapat dikuasai, tetapi korban akan sangat banyak berjatuhan.

Dalam pada itu Mahisa Agni berjalan perlahan-lahan menuju ke bangsal Ken Dedes yang sudah lama tidak dikunjunginya. Setiap kali dilihatnya beberapa orang prajurit termangu-mangu mengawasinya. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang menegurnya.

Dalam pada itu, di bangsal yang lain Tohjaya sedang kebingungan. Apakah yang harus dilakukan oleh para Senapati terhadap Mahisa Agni. Namun selagi Tohjaya termangu-mangu para Panglima dan Senapati yang ada di bangsal itu berkata kepada diri masing-masing, “Mahisa Agni tentu sudah berada di bangsal tuan Puteri Ken Dedes sebelum tuanku Tohjaya menjatuhkan pilihan.”

Tohjaya yang termangu-mangu itupun akhirnya berkata keras, “He, kenapa kalian seperti kehilangan akal setelah Mahisa Agni itu ada di bangsalnya?”

Tidak seorangpun yang menjawab.

“He, kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi patung yang beku. Sekarang, pergilah dan tangkap Mahisa Agni dengan para pengawalnya. Bukankah Mahisa Agni membawa beberapa orang pengawal. Tentu pengawal-pengawal itu pengawal pilihan. Tetapi kalian adalah Panglima dan Senapati pilihan. Bawalah prajurit secukupnya.”

Senapati yang datang menghadap itu pun memberanikan diri untuk menyela, “Ampun tuanku. Memang tuanku Mahisa Agni membawa beberapa orang pengawal terpilih. Hamba mengenal beberapa di antara mereka. Mereka bukan saja prajurit pilihan, tetapi Senapati-senapati pilihan. Menurut laporan yang hamba terima, mereka tidak menyelipkan keris di punggung, tetapi di lambung. Sedang di leher mereka tersangkut sehelai kain berwarna putih.”

Dada Tohjaya menjadi semakin ber-debar-debar. Apalagi ketika ia melihat wajah-wajah para Panglima dan Senapati yang gelisah.

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan kalian? Bagaimana?”

Dalam keadaan yang serba tidak menentu itu, Panglima Pelayan Dalam yang pergi ke Kediri akhirnya mencoba untuk berkata, “Ampun tuanku. Menurut pendapat hamba, berdasarkan atas kenyataan yang kita hadapi, sebaiknya tuanku tidak menjatuhkan perintah untuk menangkap Mahisa Agni sekarang. Kita harus mengingat perkembangan keadaan. Jika keadaan memungkinkan, maka terserahlah kepada tuanku di saat mendatang. Tetapi adalah sangat berbahaya untuk melakukannya sekarang.”

“Kenapa?“ Tohjaya membelalakkan matanya.

“Berdasarkan atas pertimbangan yang luas. Hamba tahu tuanku, bahwa sebenarnya Mahisa Agni menolak tata pemerintahan Singasari di bawah pemerintahan tuanku Tohjaya, karena menurut pertimbangan Mahisa Agni, tuanku Anusapati masih mempunyai adik seibu.”

“Tentu, karena ia kakak ibunda Ken Dedes. Menurut kepentingan pribadinya, putera ibunda Ken Dedes memiliki hak lebih daripada aku. Tetapi aku adalah putera tertua dari ayahanda Sri Rajasa.”

“Demikianlah agaknya tuanku. Namun ternyata Mahisa Agni tidak dapat melakukan perlawanan. Ia dapat saja membunuh dirinya sendiri, menghasut perlawanan sampai mati. Mahisa Agni adalah seorang yang tidak takut mati untuk mempertahankan keyakinannya. Tetapi ia tidak melakukan karena ia ingin melihat Singasari yang tetap utuh itu saja.”

“Bohong. Bohong.“ teriak Tohjaya.

“Tuanku.“ Lembu Ampalpun kemudian menyela, “hamba sependapat tuanku. Kurang bijaksana untuk menangkap tuanku Mahisa Agni dalam keadaan seperti sekarang. Korban akan terlampau banyak di halaman istana ini, dan setelah itu, orang yang menyebut dirinya bernama Pati-pati dan disebut juga Witantra, bekas Panglima Pasukan Pengawal dimasa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung, dan yang sekarang berada di antara pasukan Singasari di Kediri itu tentu akan melakukan suatu tindakan. Ia tentu tidak akan membuat pertimbangan sejauh Mahisa Agni untuk mempertahankan persatuan dan keutuhan Singasari dan daerah-daerah yang sudah dipersatukan. Bahkan mungkin ia masih dibebani dendam pribadi. Dan itu pulalah agaknya Mahisa Agni memilihnya untuk menjadikannya penasehat Senapati yang dikuasakannya di Kediri.”

“Pengecut. Jadi kalian sudah menjadi pengecut sekarang. Kalian dalam jumlah yang banyak itu tidak berani menangkap Mahisa Agni?“ Tohjaya membentak, “dan setelah itu kalian pun takut menghadapi pemberontakan di Kediri? Jika demikian tidak ada artinya aku memilih kalian menjadi Panglima dan Senapati.”

Para Panglima dan Senapati itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak mengatakan apapun lagi.

“Lembu Ampal.“ teriak Tohjaya, “bagaimana pendapatmu he?”

“Bukankah sudah hamba katakan?”

“Kau tetap ketakutan? Dan bagaimana dengan kau?“ bertanya Tohjaya kepada Panglima Pelayan Dalam.

“Hambapun telah mencoba untuk menyatakan pendapat hamba tuanku.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata para Senapati dan Panglimanya tidak berani bertindak tegas atas Mahisa Agni sehingga karena itu, maka Mahisa Agni masih tetap dapat berbuat sesuka hatinya di halaman istana.

Namun Tohjaya sendiri pun tidak berani berbuat apa-apa. Ia hanya dapat berteriak memberikan perintah, aba dan marah. Namun ia sendiri bukannya seseorang yang memiliki kemampuan untuk bertindak jika para Panglima dan Senapatinya tidak mampu melakukannya.

Berbeda dengan Anusapati apalagi Sri Rajasa, bahwa mereka adalah orang-orang yang menghayati sendiri pertempuran-pertempuran jika diperlukan.

Menghadapi persoalan Mahisa Agni itu pun Tohjaya hanya dapat mengumpat-umpat karena para Panglima dan Senapatinya berpendapat lain. Mereka mengusulkan agar Tohjaya tidak menjatuhkan perintah untuk menangkapnya karena pertimbangan-pertimbangan yang luas.

“Jadi bagaimana menurut pendapat kalian sekarang? Apakah Mahisa Agni kita biarkan saja berkeliaran? Dan he, apakah gunanya Mahisa Agni itu dibawa kemari?“ bertanya Tohjaya sambil membentak-bentak.

Tidak seorangpun yang menjawabnya.

“Baiklah. Aku menunggu perkembangan keadaan. Nanti kita akan bertemu lagi di paseban. Sekarang, apakah yang pertama-pertama harus aku lakukan atas Mahisa Agni jika aku tidak menangkapnya?”

Para Panglima dan Senapati termangu-mangu sejenak. Tohjaya hampir tidak pernah mengambil sikap. Tetapi ia selalu bertanya kepada orang lain apapun yang akan dilakukannya.

“Tuanku.“ berkata Panglima Pasukan Pengawal, “tuanku dapat memanggilnya. Memberikan penjelasan tentang keadaan Singasari sekarang. Kemudian tuanku dapat memberikan perintah-perintah kepada Mahisa Agni untuk mengurangi kekuasaannya.”

“Perintah apa yang harus aku berikan?”

“Misalnya dengan menarik Mahisa Agni ke Singasari agar ia dapat mengawasi tuan puterti Ken Dedes yang sedang sakit. Untuk sementara Mahisa Agni dibebaskan dari tugasnya di Kediri sampai ada ketentuan lebih lanjut kelak.”

Tohjaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Persoalan ibunda Ken Dedes tentu menarik perhatiannya. Aku akan memanggilnya dan memerintahkan kepadanya untuk tetap berada di Singasari menunggui Ibunda Ken Dedes.” namun kemudian, “tetapi apakah hal itu justru tidak menjadi sangat berbahaya? Ia berada di dekat kita semuanya.”

“Kita kirimkan pengawalnya kembali ke Kediri.”

“Tetapi bagaimanakah jika ia berusaha melakukan pembalasan dengan cara yang pernah dilakukan oleh Anusapati terhadap Ayahanda Sri Rajasa.”

“Tuanku. Jika Mahisa Agni berada di halaman istana, maka kita akan dapat mengawasinya. Jika tidak, maka hal itu akan menjadi lebih berbahaya lagi. Jika ia kehendaki maka ia akan dapat masuk setiap saat ke halaman ini meskipun ia berada di luar. Dan jika ia menghendaki maka ia tentu akan dapat melakukan pembalasan dengan cara yang licik. Tetapi jika ia berada di dalam halaman, maka kita dapat selalu mengawasinya sehari semalam penuh dengan prajurit yang cukup.”

Tohjaya mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya, “Baik. Sekarang panggil Mahisa Agni.”

Seorang Senapatipun kemudian diperintahkan untuk memanggil Mahisa Agni. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, maka ia harus dicari di bangsalnya atau di bangsal tuan puteri Ken Dedes.

Dalam pada itu, Mahisa Agni memang sudah berada di dalam bilik Ken Dedes. Permaisuri Sri Rajasa dan ibu Anusapati itu hanya dapat menitikkan air mata menyambut kedatangan Mahisa Agni. Ia kini telah kehilangan semuanya. Sehingga karena itu maka hidup baginya sudah tidak ada gunanya lagi.

Mahisa Agni melihat keadaan badan Ken Dedes yang sudah menjadi semakin lemah dengan debar di dalam dadanya. Tetapi ia dapat mengerti sepenuhnya, bahwa betapa teguhnya hati, seorang ibu, namun jika ia mengalami peristiwa-peristiwa yang berturut-turut menimpa seperti yang dialami Ken Dedes, maka hatinya pasti akan menjadi kuncup.

“Sebaiknya tuan puteri melupakan semuanya.“ berkata Mahisa Agni kemudian.

“Apakah hal itu mungkin dilakukan oleh seseorang kakang?”

“Maksud hamba, tuan puteri tinggal menyerahkan diri kapada Yang Maha Agung. Tentu tuan puteri tidak dapat melupakan semuanya. Namun dengan pasrah diri, tuan puteri akan mendapatkan sekedar penghiburan. Daripada-Nyalah segalanya terjadi dan kepada Nyalah kita pasrah diri.”

Ken Dedes mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tidak ada lain dari kekuasaan dan kebesaran Yang Maha Agung yang harus dipuji. Dan aku memang sudah menyandarkan seluruh hidupku kepada-Nya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya hatinya bagaikan tergores duri melihat keadaan Ken Dedes yang nampaknya semakin mundur. Untunglah bahwa anaknya yang lain selalu mencoba membesarkan hati ibunya. Mahisa Wonga Teleng selalu datang membawa anaknya. Namun setiap kali Mahisa Wonga Teleng masih harus juga menjaga kakak ipar dan kemanakannya sepeninggal Anusapati.

Mahisa Agni melihat keluarga yang besar itu bagaikan belanga yang terbanting di atas batu hitam. Pecah berserakan berkeping-berkeping. Masing-masing saling menyimpan dendam di dalam hati. Dendam yang sulit untuk dihapuskan. Bahkan dendam itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin dalam. Tuntutan untuk membalas kematian dengan kematian pasti akan membakar Singasari yang akan hangus menjadi abu.

Dalam pada itu, selagi Mahisa Agni duduk menghadapi Ken Dedes yang keadaan jasmaniahnya menjadi semakin mundur, seorang Senapati masuk ke dalam bangsal itu dan mohon untuk menyampaikan pesan bagi Mahisa Agni.

“Pesan dari siapa?“ bertanya Mahisa Agni.

“Dari tuanku Tohjaya.“ jawab prajurit itu.

“Apa katanya?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Tuan dipanggil menghadap tuanku Tohjaya.”

“Kapan?”

“Sekarang tuan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, lalu katanya. “Baiklah aku akan segera menghadap. Tetapi tidak sekarang. Secepatnya jika aku sudah selesai.”

“Kakang Mahisa Agni.“ Ken Dedeslah yang memotong.

Mahisa Agni berpaling. Ditatapnya mata Ken Dedes sejenak, lalu sambil tersenyum ia berkata, “Aku sudah mempertimbangkannya tuan puteri.”

“Tetapi kakang, kini yang memegang kekuasaan adalah Ananda Tohjaya. Meskipun masih akan diadakan wisuda, namun ia sudah mengangkat dirinya menjadi Maharaja di Singasari. Dan kau tidak akan dapat menolak perintahnya.”

“Tentu tuan puteri. Hamba tidak akan dapat menolak perintahnya. Karena itu hamba akan datang menghadap. Tetapi tidak sekarang. Sebentar lagi, jika aku sudah puas menemui tuan puteri.”

Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Apakah itu berarti tantangan dari Mahisa Agni bagi Tohjaya? Jika demikian, apabila benar-benar terjadi benturan kekerasan, maka Singasari pasti akan menjadi semakin terkoyak-koyak dan akan hancur dengan sendirinya.

“Sudahlah tuan puteri.“ berkata Mahisa Agni kemudian sebelum Ken Dedes sempat mengatakan sesuatu, “sebaiknya tuan puteri tidak usah menghiraukan hamba. Hamba akan berbuat sebaik-baiknya tanpa menimbulkan keributan apapun. Hamba percaya akan kebesaran jiwa tuanku Tohjaya sehingga tidak akan menolak permohonan hamba itu.”

Ken Dedes hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, dan Mahisa Agni berkata pula kepada Senapati yang membawa pesan itu. “Berjalanlah dahulu. Aku akan segera menyusulmu memenuhi perintah tuanku Tohjaya.”

Tetapi Senapati itu menjadi bingung. Ia tidak biasa mendengar jawaban seperti itu jika ia sedang menjalankan perintah Maharajanya. Karena itu, maka ia tidak segera beranjak dari tempatnya.

“Kenapa kau menjadi bingung?“ bertanya Mahisa Agni, “pergilah dan katakan, aku akan segera menghadap. Sekarang aku masih berada di bangsal tuan puteri Ken Dedes untuk menengok kesehatannya. Kau dengar?”

“Ampun tuan. Tetapi tuanku Tohjaya memerintahkan kepada tuan untuk menghadap sekarang.”

“Aku tidak menolak perintah itu. Kau sudah menyampaikan perintah itu kepadaku. Dan aku sudah mendengarnya. Sekarang kau kembali menyampaikan apa yang kau lakukan dan kau dengar dari mulutku kepada tuanku Tohjaya. Dengan demikian kau sudah melakukan tugasmu dengan baik.”

Prajurit itu masih tetap bingung.

“Pergilah.“ ulang Mahisa Agni, “kau adalah seorang utusan. Dan kau sudah melakukan tugasmu. Nah, apalagi yang kau tunggu sekarang?”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sorot mata Mahisa Agni bagaikan meretakkan dadanya, sehingga Senapati itu merasa lebih baik ia mendengar Tohjaya membentak-bentak daripada harus menatap sorot mata yang tidak terlawan perbawanya itu.

Demikianlah maka Senapati itupun kemudian mohon diri sambil berkata, “Tuan. Hamba adalah sekedar seorang utusan. Hamba akan menyampaikan semuanya kepada tuanku Tohjaya. Hamba tidak tahu sikap apakah yang akan diambil oleh tuanku Tohjaya itu.”

“Tentu, kau tidak tahu apa-apa. Pergilah.”

Senapati itupun kemudian meninggalkan bangsal Ken Dedes dengan hati yang berdebaran. Ia tentu akan dibentak-bentak oleh Tohjaya. Tetapi baginya hal itu tidak banyak mempengaruhi perasaan.

Laporan Senapati itu telah menggetarkan jantung Tohjaya. Seperti yang sudah diduga, maka Tohjaya itupun kemudian membentak-bentak sambil berteriak, “Gila. Kau harus membawanya menghadap sekarang.”

“Hamba sudah mengatakannya tuanku. Tetapi tuanku Mahisa Agni mohon waktu beberapa saat. Ia sedang menengok kesehatan tuan puteri Ken Dedes.”

“Apa peduliku dengan ibunda Ken Dedes?“ teriak Tohjaya, “ia sama sekali tidak berarti bagiku.”

Kata-kata Tohjaya itu ternyata telah menyentuh setiap hati. Bagaimanapun juga orang-orang yang ada di ruangan itu mengenal, bahwa Ken Dedes adalah isteri tertua dari Sri Rajasa. Dan ia adalah ibu tiri dari Tohjaya. Bagaimanapun juga ia harus tetap menghormatinya.

Tetapi tidak seorang pun yang mengucapkannya. Para Panglima dan Senapati yang ada di ruangan itu justru menunggu, apa yang akan diperintahkan oleh Tohjaya.

“He.“ Tohjaya itupun kemudian berteriak lagi, “kenapa kalian diam saja. Berbuatlah sesuatu. Mahisa Agni tidak boleh menentang perintahku, siapapun dia. Jika ia masih saja mementingkan ibunda Ken Dedes dari perintahku, maka ibunda Ken Dedes akan aku singkirkan.”

“Ampun tuanku.“ tiba saja Panglima Pelayan Dalam yang baru saja menjabat kedudukannya itu berkata, “sebaiknya tuanku tidak berbuat demikian terhadap ibunda tuanku. Bagaimanapun juga ibunda tuanku adalah permaisuri dimasa pemerintahan ayahanda tuanku. Karena itu, jika tuanku marah kepada Mahisa Agni, tuanku dapat menjatuhkan perintah apapun yang akan kami lakukan. Tetapi menurut hamba, tuanku masih harus tetap mempertimbangkan keadaan.”

“Gila. Kau jangan mengajar aku. Aku mengerti apa yang patut aku lakukan atas ibunda Ken Dedes. Tetapi bagaimana dengan Mahisa Agni? Kalian harus berbuat sesuatu.”

“Kami menunggu perintah tuanku.“ berkata Panglima Pengawal.

Namun justru dengan demikian Tohjaya menjadi bingung. Sejenak ia termangu-mangu tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun.

Senapati yang memanggil Mahisa Agni itupun duduk dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia mencoba memandang wajah Tohjaya dengan sudut matanya.

Namun tiba-tiba saja ia terkejut ketika Tohjaya itu berteriak memerintahkan kepadanya, “Kau pergi sekali lagi kepadanya, dan bawa Mahisa Agni itu menghadap. Ia harus menghadap sekarang.”

Senapati itu menjadi berdebar-debar. Jika Mahisa Agni masih tetap tidak mau pergi bersamanya, apakah yang harus dilakukannya.

”Cepat. Kenapa kau menjadi bingung?”

“Ampun tuanku.“ Senapati itu memberanikan diri untuk bertanya, “Jika tuanku Mahisa Agni tetap tidak bersedia menghadap bersama hamba, apakah yang harus hamba lakukan.”

“Aku tidak peduli. Tetapi ia harus menghadap.”

“Apakah dengan demikian berarti bahwa hamba harus memaksanya dengan kekerasan.“

“Aku tidak peduli. Aku tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Tetapi Mahisa Agni harus menghadap. Ia tidak boleh menolak perintah seorang Maharaja. Akulah orang yang paling berkuasa sekarang di Singasari.”

Senapati itu masih saja menjadi bingung. Ia tidak mengerti maksud Tohjaya yang sebenarnya. Apakah dengan demikian ia akan dibenarkan apabila ia mempergunakan sepasukan prajurit untuk menangkap Mahisa Agni meskipun itu akan berarti sebuah peperangan kecil di halaman istana, karena tentu para Pengawal Mahisa Agni pun akan bertindak. Karena itu untuk beberapa saat ia masih tetap berada di tempatnya.

“He, apakah kau benar-benar menjadi gila?” bentak Tohjaya, “cepat pergi kepada Mahisa Agni dan bawa ia kemari apapun caranya.”

“Hamba tuanku. Jika demikian hamba akan menyiapkan sepasukan prajurit pilihan.”

Wajah Tohjaya menjadi tegang. Sejenak ia memandang Senapati itu dengan penuh kebimbangan.

“Ampun tuanku. Hamba mohon diri. Mudahkan hamba berhasil. Untuk itu hamba memerlukan sepasukan prajurit yang kuat, karena hamba harus menghadapi para pengawal tuanku Mahisa Agni.”

Tohjaya ternyata tidak dapat segera menanggapinya. Sehingga ketika Senapati itu bergeser, Panglima Pelayan Dalamlah yang berkata, “Tuanku, apakah tuanku sudah mengizinkannya?”

Tohjaya tidak segera menyahut.

“Hamba masih tetap pada pendirian hamba, bahwa tuanku harus mempertimbangkan segala segi untuk melangkah ke arah kekerasan.”

Senapati yang memancing persoalan itu menarik nafas. Dengan demikian sikap itu akan dibicarakan dan dipertanggung jawabkan bersama.

Namun selagi mereka sibuk berbincang tentang Mahisa Agni, maka seorang Senapati yang bertugas di luar merayap masuk ke dalam ruang itu.

“He, kenapa kau masuk tanpa dipanggil?“ bertanya Tohjaya yang masih kebingungan.

“Ampun tuanku. Tuanku Mahisa Agni mohon untuk menghadap.”

“Mahisa Agni.“ ulang Tohjaya.

“Hamba tuanku.”

“Suruh ia masuk.”

Senapati itu mundur dari ruangan untuk mempersilahkan Mahisa Agni. Sedang orang-orang yang ada di ruang itu menarik nafas dalam-dalam.

Seperti yang dikatakan oleh Senapati itu, maka sejenak kemudian Mahisa Agni pun memasuki ruangan. Meskipun iapun kemudian duduk di antara para Panglima namun kepalanya masih tetap tengadah dengan senyum di bibirnya.

Sebelum Tohjaya bertanya, maka yang tidak lazim telah dilakukan pula oleh Mahisa Agni, “Apakah tuanku Tohjaya memerlukan hamba?”

Pertanyaan yang tidak diduga-duga itu telah mengejutkan bukan saja Tohjaya, tetapi juga para Panglima dan Senapati. Namun beberapa orang di antara mereka harus mengakui betapa besar perbawa Mahisa Agni, sehingga pertanyaannya itu bagaikan telah mencengkam semua perhatian orang-orang yang mendengarnya.

Sejenak Tohjaya termangu-mangu. Ialah yang seharusnya bertanya lebih dahulu, baru Mahisa Agni menjawabnya. Tetapi karena Mahisa Agni lah yang telah bertanya lebih dahulu, maka Tohjayapun untuk sesaat dibayangi oleh keragu-raguan.

Namun kemudian Tohjaya menghentakkan giginya untuk mengatasi gejolak perasaan. Dengan suara yang lantang ia berkata, “Akulah yang harus bertanya kepadamu, kenapa kau terlambat menghadap?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum pula sambil menjawab, “Ampun tuanku. Hamba baru berada di bangsal tuan puteri Ken Dedes ketika utusan tuanku menjumpai hamba.”

“Seharusnya kau berjalan seiring dengan Senapati itu. Tetapi kenapa kau suruh ia berjalan dahulu?”

“O, apakah ada bedanya? Bukankah hamba sudah menghadap.”

“Tetapi kau harus berjalan bersamanya. Kau tidak boleh datang kemudian.”

“Baiklah tuanku. Lain kali hamba akan menyuruh utusan tuanku menunggu sampai selesai, supaya hamba dapat datang menghadap bersama utusan tuanku.”

Jawaban itu bagaikan sebuah goresan bara di telinga Tohjaya, sehingga karena itu wajahnya menjadi merah padam. Beberapa orang Panglima dan Senapati pun bergeser di tempat duduknya. Namun Mahisa Agni masih tetap tenang sambil tengadah.

Ketika tatapan mata Tohjaya yang membara membentur pandangan mata Mahisa Agni, terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya dan tanpa sesadarnya Tohjaya melontarkan tatapan matanya jauh-jauh.

Namun dengan demikian sekali lagi ia mencoba mengatasi kegelisahannya sambil berteriak, “Mahisa Agni. Kau sudah melakukan kesalahan. Kau tahu, bahwa tidak seorang pun yang menunda perintahku, perintah Maharaja Singasari yang besar. Kaupup tidak. Meskipun kau menjabat pangkat tertinggi dan memangku kedudukan yang tidak ada duanya, namun kau tetap hamba Maharaja Singasari yang besar. Dengan demikian kau tidak boleh membantah semua perintah yang aku berikan lewat siapapun juga. Karena utusanku yang membawakan perintah atau pesan itu tidak ubahnya seperti aku sendiri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Hamba tuanku. Hamba tidak akan menunda lagi perintah tuanku.”

Tohjaya mengerutkan keningnya, dan orang-orang yang ada di ruangan itupun menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Mahisa Agni tidak menjadi keras kepala.

Dan diluar dugaan maka Tohjaya kemudian menyahut, “Terima kasih paman. Aku harap kau dapat menempatkan dirimu di dalam suasana yang baru ini.“ namun kemudian segera disusul, “maksudku, kau harus patuh menjalankan semua perintahku. Aku tidak perlu mengucapkan terima kasih kepadamu. Itu sudah menjadi kuwajibanmu dan kuwajiban semua orang di dalam kerajaan Singasari ini. Semua orang harus mematuhi perintah Maharaja Singasari yang besar.”

“Hamba tuanku, Singasari yang besar memang harus mendapat tempat tertinggi di hati rakyatnya.”

Tohjaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Apa maksudmu?”

Mahisa Agni memandang Tohjaya dengan heran. Lalu, “Maksud hamba sudah jelas. Singasari memang sebuah negara yang besar. Dan tuanku adalah seorang Maharaja dari sebuah kerajaan yang besar.”

“Kedua-duanya.“ teriak Tohjaya, “bukan saja Singasari yang besar Tetapi aku adalah seorang Maharaja yang besar. Aku adalah Maharaja yang besar dari Singasari yang besar.”

Mahisa Agni mengangguk kecil, tetapi ia tidak menanggapinya.

“Paman.“ berkata Tohjaya kemudian, “apakah paman sudah mengetahui perkembangan keadaan di saat terakhir di Singasari?”

“Sudah tuanku.”

“Dari siapa kau tahu? Desas-desus atau kabar yang dibawa oleh pedagang, di sepanjang jalan?”

“Bukan tuanku, hamba mendengar langsung dari utusan tuanku, Panglima Pelayan dalam yang baru, yang datang ke Kediri sambil membawa panji-panji dan tunggul kerajaan sebagai lambang limpahan kekuasaan tuanku kepadanya.”

“O. jadi kau mendengar daripadanya?”

“Hamba tuanku. Bahkan tuanku Anusapati sudah tuanku singkirkan.”

“He, apa katamu.“ Tohjaya membelalakkan matanya. Wajahnya menjadi merah padam.

“O, maksud hamba, tuanku Anusapati terbunuh dalam kerusuhan yang terjadi di arena sabung ayam itu.“ lalu iapun berpaling kepada Panglima Pelayan Dalam, “bukankah begitu?”

Panglima itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu kepalanya terangguk kecil, “Ya. Tuanku Anusapati menjadi korban kekecewaan rakyat Singasari yang sudah lama tependam.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandang Tohjaya yang duduk di atas batu beralaskan kulit berwarna suram dilihatnya Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian iapun berkata, “Nah, kau dengar bahwa kakanda Anusapati telah menjadi korban kekecewaan hati rakyat? Dan itu adalah kekurangannya. Meskipun ia pernah dikagumi sebagai Kesatria Putih, namun ketika ia sudah menjadi seorang Maharaja, semua tingkah lakunya segera berubah. Rakyat yang semula mencintainya telah membunuhnya karena kekecewaan yang tidak tertahankan lagi.”

Mahisa Agni mengangguk kecil. Katanya. “Jika demikian tuanku, maka rakyat yang telah membunuh rajanya adalah pengkhianat. Hamba mohon tuanku sebagai penggantinya akan memegang pemerintahan dengan adil. Hamba mohon tuanku mengusut, mencari dan menghukum mereka-mereka yang telah melakukan pengkhianatan terhadap rajanya. Jika sekelompok rakyat yang tidak puas itu dibiarkan saja, maka hukum tidak akan berlaku sebaik-baiknya di Singasari.”

“Apa yang harus aku lakukan terhadap rakyat yang sedang marah itu? Tentu aku tidak dapat berbuat apa-apa sekarang, karena mereka menganggap kakanda Anusapati tidak adil dan tidak jujur di dalam pemerintahannya.”

“Dan bagaimana anggapan tuanku? Apakah tuanku juga termasuk orang yang menganggap bahwa tuanku Anusapati adalah orang yang tidak tepat berada di atas Singasari? Apakah tuanku Tohjaya juga menganggap bahwa tuanku Anusapati harus disingkirkan?”

“O, tentu tidak. Aku tidak beranggapan demikian.“ Dan tanpa diduga-duga Mahisa Agni memotong, “Jika demikian tuanku harus bertindak. Tuanku adalah seorang Maharaja. Jika tuanku menganggap bahwa tuanku Anusapati tidak bersalah, tidak seperti yang dituduhkan atasnya menurut keterangan tuanku sendiri, maka tuanku harus berbuat sesuatu. Hamba menuntut orang-orang yang telah membunuh tuanku Anusapati dicari dan ditangkap, kemudian dihukum sesuai dengan kesalahannya.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Sejenak ia termangu-mangu. Ketika ia memandang wajah Panglima dan Senapati merekapun agaknya menjadi bingung.

“Tuanku.“ berkata Mahisa Agni, “tuanku tidak usah berbuat apa-apa. Hamba bersedia menerima perintah tuanku, mengusut persoalan ini dan menghadap tuanku dengan membawa orang-orang yang bersalah itu menghadap.”

Sejenak Tohjaya tidak dapat menjawab. Gejolak perasaannya membayang di wajahnya yang kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak siap menghadapi persoalan yang dilontarkan oleh Mahisa Agni itu.

Namun ternyata bukan saja Tohjaya yang menjadi gelisah mendengar permintaan Mahisa Agni itu. Para Panglima yang terlibat di dalam hal itu menjadi gelisah pula. Demikian juga para Senapati yang berada di ruangan itu. Jika Mahisa Agni berhasil mendesak Tohjaya untuk mendapat perintah itu, maka persoalannya akan menjadi sulit bagi mereka.

Karena itu, maka Panglima Pengawal yang sebenarnya bertanggung jawab atas peristiwa itu berkata, “Tuan Mahisa Agni. Tuan adalah orang yang mendapat kekuasaan memerintah Kediri atas nama Singasari. Tuan adalah orang yang penting bagi jalur pemerintahan di Kediri. Karena itu mungkin tuan tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Dalam kerusuhan serupa itu, tidak seorang pun yang akan dapat dicari sebagai sumber kesalahan. Yang terjadi adalah tiba-tiba. Tiba-tiba saja. Sebagai pimpinan pemerintahan yang menghormati kehendak rakyat, maka kita tidak akan dapat melakukan pengusutan, apabila menjatuhkan hukuman kepada mereka yang menyatakan pendapat dengan caranya.”

“O.” Mahisa Agni meng-anggukkan kepalanya, “bagus sekali. Adalah menarik sekali jawaban itu. Aku sependapat bahwa Singasari harus menghormati pendapat rakyatnya. Tetapi jika setiap kelompok rakyat Singasari dapat bertindak sendiri atas siapapun juga. bahkan atas pimpinan pemerintahannya, apakah jadinya negeri ini. Pada suatu saat sekelompok rakyat bertindak sendiri atas tuanku Anusapati. Di hari mendatang, apakah kita akan dapat menjawab seperti jawaban itu jika sekelompok rakyat beramai-ramai membunuh tuanku Tohjaya karena tidak puas dengan sikap dan caranya memerintah?”

Panglima itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Itu memang tidak boleh terjadi. Yang terjadi pada tuanku Anusapati akan menjadi pengalaman yang pahit bagi Singasari sehingga hal serupa itu tidak boleh terulang.”

“Dan yang sudah terjadi biarlah terjadi tanpa pengusutan.”

“Pengusutan hanya akan menambah persoalan di saat serupa ini. Tuanku Tohjaya harus menunjukkan kebesaran jiwanya. Meskipun kakandanya terbunuh, namun ia tidak mendendam dengan syarat, bahwa rakyat akan menjadi tenang.”

“Jangan menjawab seperti kanak-kanak.“ wajah Mahisa Agni menegang, “jika pengusutan hanya akan menambah persoalan, maka tidak perlu kita mencari dan menemukan orang-orang yang telah melakukan kejahatan. Juga apabila kelak seseorang telah melakukan kejahatan atas tuanku Tohjaya.”

Panglima itu terdiam sejenak. Namun agaknya Tohjaya sendiri tidak dapat lagi menahan kemarahannya mendengar pembicaraan itu sehingga katanya, “Mahisa Agni. Sekarang
akulah yang berkuasa. Akulah yarig menentukan segala-galanya.”

Mahisa Agni memandang Tohjaya dengan tajamnya. Namun iapun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Tentu tuaku. Tuankulah yang sekarang paling berkuasa di Singasari setelah tuanku Anusapati tidak ada lagi. Nah, sekarang kita, rakyat Singasari akan menilai, apakah Maharaja yang sekarang akan berindak lebih baik atau tidak daripada Maharaja yang menjadi korban kekecewaan rakyat itu. Jika yang sekarang ini lebih baik, maka akan ada harapan, bahwa pemerintahan tuanku Tohjaya akan langgeng. Tetapi jika tidak maka pemerintahan ini umurnya tidak akan lebih panjang dari masa pemerintahan tuanku Anusapati yang pendek itu.”

Wajah Tohjaya menjadi semakin merah. Namun para Panglima dan Senapati justru menjadi semakin cemas. Mahisa Agni bukan seorang yang dungu. Bukan pula seorang yang mudah berputus asa dan kemudian membunuh diri. Jika ia berani menengadahkan dadanya di hadapan tuanku Tohjaya, tentu bukannya sekedar kebodohan, kesombongan atau suatu cara untuk membunuh diri. Apalagi Panglima yang melihat sendiri betapa kekuatan Singasari di Kediri sepenuhnya dikuasai oleh Mahisa Agni. Dan bahkan pasukan keamanan yang disusun oleh keluarga istana Kediri sendiri.

“Mungkin Mahisa Agni sudah menyiapkan pasukan itu, dan kini pasukan itu telah merayap mendekati kota Singasari dalam gelar yang mapan.“ berkata Panglima itu di dalam hatinya, “selagi kita di halaman ini terlibat dalam pertempuran dengan Mahisa Agni dan pengikutnya, maka dari luar, pasukan yang datang dari Kediri memecah gerbang dan menduduki seluruh kota Singasari.”

Dan ternyata angan-angan itu telah membuatnya lebih berhati-hati lagi menghadapi Mahisa Agni.

Tetapi dalam pada itu, Tohjaya yang merasa dirinya berkuasa, tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Ternyata jawaban Mahisa Agni itu membuatnya sangat marah, sehingga katanya dengan suara bergetar, “Mahisa Agni. Aku tahu bahwa kau adalah saudara ibunda Ken Dedes. Tetapi meskipun demikian hakmu sebagai seorang keluarga dari ibunda Ken Dedespun terbatas sebagai juga hakmu sebagai orang yang paling berhak di Kediri. Karena itu, jika perlu, aku dapat menjatuhkan perintah untuk menangkapmu, atau membunuhmu sama sekali.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian diedarkannya tatapan matanya kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Namun para Senapati dan Panglima itupun memalingkan wajahnya atau menundukkan kepalanya, jika tatapan mata mereka membentur tatapan mata Mahisa Agni.

Baru sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Tuanku Tohjaya. Memang tuanku mempunyai kekuasaan tertinggi, dan bahkan kekuasaan yang tidak terbatas. Tuanku memang dapat menangkap hamba dan bahkan membunuhnya sama sekali. Dan jika memang tidak ada cara yang lebih baik menurut pertimbangan tuanku, karena hanya ada satu-satunya cara untuk menenteramkan Singasari dengan jalan melenyapkan hamba pula, maka terserahlah kepada kebijaksanaan tuanku.”

Wajah Tohjaya menjadi semakin merah. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni adalah suatu tantangan. Tantangan bagi seorang Maharaja yang paling berkuasa.

Namun sebelum Tohjaya berkata dengan sepenuhnya luapan kemarahan, seorang Senapati yang dekat dengan Tohjaya selain para Panglima, yaitu Lembu Ampal, berkata, “Ampun tuanku. Sebaiknya tuanku segera menjatuhkan perintah yang wajar bagi tuanku Mahisa Agni. Bukankah dengan demikian segala macam kesalah pahaman dapat dikurangi. Dan bukankah menurut pertimbangan tuanku, tuan puteri Ken Dedes sedang menderita sakit yang semakin lama menjadi semakin parah? Dengan demikian, langkah baiknya jika tuanku Mahisa Agni bersedia untuk beberapa saat lamanya, menunggui tuan puteri Ken Dedes, karena menurut keterangan tuan Puteri sendiri, agaknya tuan puteri sudah rindu kepada tuanku Mahisa Agni. Jika kelak keadaan tuan puteri menjadi berangsur baik, maka akan diambil keputusan baru bagi tuanku Mahisa Agni. Apakah tuanku Mahisa Agni akan tetap berada di istana atau akan dikirim kembali ke Kediri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya, sedang Panglima Pelayan Dalam menyahut, “Hamba sependapat tuanku.”

Tetapi Tohjaya tetap ragu-ragu. Sejenak ia termenung. Dan karena ia tidak segera menyahut, maka Panglima pasukan Pengawalpun berkata, “Demikianlah tuanku. Itu adalah pemecahan suasana yang paling baik. Mungkin tuanku Mahisa Agni memang berniat demikian. Hanya karena kesetiaannya kepada tugasnya sajalah yang memaksanya untuk kembali ke Kediri jika tuanku tidak menjatuhkan perintah lain.”

Tohjaya merenungi kata-kata para Panglima dan Senapatinya. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan bahwa para Panglima dan Senapatinya tentu belum siap menghadapi peristiwa yang mungkin akan dipergunakan kekerasan. Karena itu, ia tidak dapat mengambil jalan lain daripada menyetujuinya seperti yang pernah mereka perbincangkan sebelumnya.

“Baiklah.“ berkata Tohjaya, “aku beri kau waktu untuk menunggui ibunda Ken Dedes. Tetapi setiap saat akan jatuh perintah yang lain atasmu. Mungkin kau harus kembali ke Kediri, dan mungkin kau akan mendapat tugas baru.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti arti perintah itu. Namun ia memang sudah menduga bahwa ia tidak akan segera dapat kembali ke Kediri.

Tetapi Mahisa Agni tidak menjadi gelisah karenanya. Ia sudah menunjuk seseorang yang dapat dipercaya di Kediri dan seorang penasehat yang bernama Witantra. Untuk waktu yang dekat pimpinan pemerintahan di Singasari tentu tidak akan dapat mengambil tindakan apapun atas mereka. Jika Tohjaya merencanakan untuk menarik perwira tertua yang diserahinya memegang kekuasaannya di Kediri, maka Tohjaya masih harus memikirkan akibatnya, karena Mahisa Agni sendiri masih belum kembali. Untuk itu Mahisa Agni akan dapat memerintahkan seorang pengawalnya untuk menyampaikan pesan kepada Witantra.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agni pun hanya dapat mengiakan saja perintah Tohjaya untuk menunggui Ken Dedes di istana. Bagi Mahisa Agni, perintah itu merupakan perintah yang paling baik baginya, daripada perintah-perintah dan tugas yang lain di istana. Apalagi jauh lebih baik daripada dimasukkan ke dalam bilik yang gelap dan tidak diperkenankan untuk keluar setiap saat.

Demikianlah maka Mahisa Agni pun kemudian diperkenankan meninggalkan ruangan itu, sementara para Panglima dan Senapati masih akan melanjutkan pembicaraan.

Sepeninggal Mahisa Agni, maka dengan cemas Tohjaya berkata, “Kalian memang tidak mempunyai otak. Bukankah ibunda Ken Dedes dapat mengatakan kepada Mahisa Agni, apa yang sebenarnya telah terjadi di istana Singasari atas kakanda Anusapati?”

“Tuanku.“ berkata Panglima Pelayan Dalam, “menurut dugaan hamba, sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, jika tuan puteri Ken Dedes mengatakannya juga, maka pengaruhnya tidak akan begitu besar lagi. Menurut penilikan hamba, Mahisa Agni memang tidak ingin melakukan tindakan kekerasan, justru karena Mahisa Agni tidak ingin melihat Singasari terpesah belah. Untuk sementara kita dapat memanfaatkannya. Tetapi jika keadaan memaksa, mungkin ia mengambil sikap lain, sehingga karena itu, maka kita harus berhati-hati menilai setiap sikapnya.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Mahisa Agni baginya merupakan persoalan yang ternyata jauh lebih gawat dari sepasukan prajurit yang menentang kehadirannya di atas tahta di daerah yang manapun juga dalam wilayah Singasari.

“Jika demikian.“ berkata Tohjaya kemudian, “kalian harus menempatkan Senapati-senapati pilihan untuk selalu mengawasinya. Di bangsalnya dan di bangsal ibunda Ken Dedes. Kalian harus juga memperhitungkan Adinda Mahisa Wonga Teleng yang nampaknya sampai saat ini tidak berani bertindak apapun juga. Tetapi meskipun masih terlampau muda, adinda Agnibaya harus mendapat perhatian yang khusus. Ia menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Usahakan agar ia tidak terlalu banyak bergaul dengan Mahisa Agni.”

“Tuanku.“ berkata seorang Senapati, “selain tuanku Mahisa Agni, di bangsal itu masih ada beberapa orang pengawal.”

“Biarkan saja.“ sahut Panglima Pelayan Dalam. Namun ketika ia sadar bahwa ia berada dihadapan Tohjaya, dengan tergesa-gesa ia menyambung, “Ampun tuanku. Maksud hamba, bahwa hamba berpendapat para pengawal itu tidak akan lebih berbahaya dari tuanku Mahisa Agni sendiri. Jika untuk beberapa saat kita dapat membendung perasaan tuanku Mahisa Agni, maka untuk beberapa saat kita tidak akan diganggunya.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Panglima yang lain dan para Senapati pun mempercayai kata-kata Panglima itu, karena Panglima itulah yang mengetahui dan melihat sendiri keadaan Mahisa Agni di Kediri dan kekuatan pasukannya. Seperti Panglima Pelayan Dalam itu, maka para Panglima dan Senapati berkata di dalam hati mereka, “Jika Mahisa Agni ingin mengangkat senjata, maka ia akan mulai dari Kediri. Tidak setelah ia berada di dalam lingkungan istana ini.”

“Tetapi bagaimana jika saat ini pasukan Kediri itu sedang merayap mendekati kota Singasari.“ pertanyaan itupun timbul pula di antara mereka. Sehingga para Panglima itu, meskipun tidak berjanji, berniat untuk mengirimkan petugas-petugas sandinya agar mereka mengawasi jalur-jalur jalan yang memasuki kota Singasari bukan saja dari arah Kediri, tetapi dari segala arah.

Karena persoalan Mahisa Agni dianggap untuk sementara sudah di atasi, dengan menahan agar Mahisa Agni tidak meninggalkan halaman istana, maka pembicaraan itu pun berkisar pada persoalan yang lain. Tohjaya memutuskan agar kedudukannya sebagai Maharaja segera diresmikan di dalam suatu upacara yang meskipun sederhana, tetapi berwibawa.

“Aku akan mengadakan paseban agung yang pertama. Semua pimpinan pemerintahan, para Panglima dan Senapati akan aku perkenankan menghadap.“ berkata Tohjaya kemudian, “aku akan menyatakan diri secara resmi dihadapan paseban agung, bahwa aku adalah Maharaja yang berkuasa di atas Singasari. Para Akuwu dan para bangsawanpun aku perkenankan hadir di dalam paseban agung itu.”

Para Panglima menarik nafas dalam-dalam. Itu berarti suatu tugas yang sangat berat bagi mereka. Mereka harus mengamankan sidang di paseban itu, sehingga memberikan kesan kewibawaan Maharaja yang baru itu.

Namun mereka sudah bersedia untuk mendukung kedudukan Tohjaya sehingga tugas itupun harus mereka lakukan sebaik-baiknya.

Di hari-hari berikutnya, Mahisa Agni yang merasa dirinya menjadi seorang yang selalu diawasi itu pun sama sekali tidak menghiraukan lagi. Ia berbuat apa saja yang ingin dilakukannya. Namun ia masih tetap berada di dalam batas-batas yang tidak memungkinkan timbulnya kerusuhan yang akan dapat menjalar dan membakar Singasari.

Waktunya sehari-hari selalu dipergunakannya untuk menengok Ken Dedes yang sebenarnya memang sedang sakit. Perasaan yang menekan membuatnya semakin parah.

Namun di saat-saat yang senggang, Mahisa Agni yang menjadi semakin tua itupun sempat bermain-main dengan kedua cucu Ken Dedes. Keduanya adalah anak Anusapati dan anak Mahisa Wonga Teleng.

Kadang-kadang Mahisa Agni merasa bahwa apa yang pernah terjadi di istana Singasari ini terulang kembali. Pada saat Anusapati masih terlampau muda. Pada saat itu, ia dengan sembunyi-sembunyi menurunkan ilmunya kepada Anusapati, sehingga Anusapati itu kemudian memiliki kemampuan yang cukup untuk bekal pada saat ia naik keatas tahta. Namun ternyata kelicikan telah terjadi, sehingga Anusapati sama sekali tidak sempat mempergunakan ilmunya, karena dalam keadaan yang tidak diduga-duga sebilah keris yang tidak ada duanya telah mengakhiri hidupnya.

Dan kini yang dihadapinya adalah dua orang anak yang masih sangat muda pula. Anak-anak yang memiliki jiwa yang membara seperti orang tua mereka.

Dalam kesempatan yang ada, Mahisa Agni sering mengajak kedua anak-anak yang masih sangat muda itu berjalan-jalan di halaman. Kemudian berlari-lari dan kadang-kadang berkejaran. Disaat yang lain diajaknya kedua anak-anak muda itu ke tempat yang sepi dan diajaknya anak-anak itu melonjak-lonjak dan meloncat-loncat menggapai cabang-cabang pepohonan. Kemudian diajaknya kedua anak-anak itu berguling-berguling di atas rerumputan.

Ternyata yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu telah membuat para pengawal yang mengawasinya menjadi cemas. Tidak seperti pada saat Anusapati mulai mempelajari ilmunya dahulu. Saat itu Mahisa Agni berhasil melepaskan diri dari pengawasan. Tetapi kini tidak. Setiap kali Mahisa Agni menyadari, bahwa para Senapati terpilih sedang mengawasinya dari kejauhan, apapun yang sedang dilakukannya.....

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...