TIGA
BAPA TERRIER dikenal sebagai orang berpendidikan. Ia tak hanya memelajari ilmu agama tapi juga banyak membaca filsafat, di samping sedikit tentang botani dan ilmu kimia. Ia agak memandang tinggi institusinya sendiri.
Tak seperti kebanyakan pendeta lain, ia tak pernah mempertanyakan kesahihan mukjizat, peramalan dan hal ihwal kebenaran sejati kandungan Alkitab, walaupun teks Alkitab memang tak bisa dijelaskan hanya dengan nalar yang malah cenderung mengontradiksi. Ia memilih untuk tidak mencampuri hal-hal seperti itu karena dirasa menjengahkan dan membuat gelisah serta stres.
Padahal nalar hanya bermanfaat jika seseorang memiliki keyakinan, rasa aman, dan ketenangan. Yang paling ia tentang adalah anggapan takhayul masyarakat kebanyakan dalam hal sihir-menyihir, kartu ramalan, penggunaan jimat, mata jahat, pengusiran setan, omong kosong saat bulan purnama, dan tetek bengek perilaku absurd lain.
Sungguh meresahkan melihat betapa kebiasaan seperti itu belum juga musnah, bahkan ribuan tahun sejak penetapan resmi
agama Kristen! Laporan-laporan perihal kerasukan setan atau perjanjian dengan Iblis yang paling muluk sekalipun, setelah ditelaah lebih dalam ternyata tak lebih dari
takhayul kuno semata.
Tapi ia juga menyadari bahwa mengingkari keberadaan setan sama saja dengan
mengingkari kewenangannya - dan Terrier juga enggan untuk sampai sejauh itu, karena badan-badan gereja di samping dirinya sendiri selaku seorang pendeta biasa, juga ditugaskan untuk menetapkan hal-hal semacam itu yang notabene sangat menyentuh dasar-dasar keagamaan.
Tapi di pihak lain rasanya sudah sangat jelas, bahwa ketika seorang biasa seperti ibu susu tadi bersikeras telah menyaksikan peristiwa kerasukan setan, si setan sendiri
tak mungkin punya andil di dalamnya.
Fakta bahwa wanita tersebut merasa telah menangkap basah perbuatan setan adalah bukti tak terbantahkan bahwa sama sekali tak ada apa pun yang berkaitan dengan setan, karena setan tidak mungkin sedemikian bodoh membiarkan diri tertangkap basah oleh seorang ibu susu seperti Jeanne Bussie. Apalagi dengan hidung sebagai alasan! Dengan organ seprimitif alat
penciuman yang merupakan indra paling dasar! Sama saja dengan mengatakan bahwa neraka pasti berbau belerang dan surga pasti berbau dupa serta parfum! Ini wujud
takhayul paling buruk yang berakar langsung dari sejarah kelam paganisme.
Saat manusia masih hidup seperti binatang. Tak punya kesadaran dan tak mampu
membedakan warna tapi menganggap diri mampu mencium bau darah, mampu membedakan mana kawan mana lawan, mengaku telah diendusi raksasa-raksasa
kanibal, serigala jadi-jadian dan peri - sementara di pihak lain mereka masih belum jauh dari ritual pengorbanan manusia.
Sungguh menjijikkan! Seperti kata pepatah,
“Orang bodoh melihat dengan hidung ketimbang mata."
Sungguh, anugerah nalar pemberian Tuhan tampaknya harus menunggu sampai ribuan tahun lagi sebelum sisa-sisa terakhir dari keyakinan primitif seperti itu terbasmi habis.
“Begitulah,” Bapa Terrier bergumam.
“Dan kau bayi kecilku yang malang! Makhluk yang belum lagi memiliki dosa! Terpuruk di keranjang dan terbuang tanpa menyadari kecurigaan jahat yang diarahkan kepadamu.
Wanita lancang itu berani-beraninya menuduhmu tak memiliki bau sewajarnya anak manusia lain. Benar-benar omong kosong konyol! Poohpeedooh!”
Ia menggendong dan mengayun keranjang dengan lembut di atas lutut, mengelus-elus kepala si bayi dengan jari sambil sesekali mengulang bergumam, “Poohpeedooh.”
Ini ekspresi yang dianggapnya lembut dan mampu menenangkan anak kecil.
“Katanya kau seharusnya berbau karamel. Sungguh omong kosong. Poohpeedooh!”
Setelah beberapa waktu ia menarik jarinya kembali, menariknya ke hidung dan mengendusi. Tapi tak tercium bau apa pun selain bau bubur gandum yang ia makan siang tadi.
Sejenak ia ragu, lalu matanya berkeliling untuk memastikan tak ada yang melihat. Bapa Terrier mengangkat keranjang dan mendekatkan hidungnya lebih dekat.
Berharap mencium sesuatu, ia mengendusi sekujur kepala si bayi. Begitu dekat sampai rambut merah si bayi menggelitiki lubang hidung. Ia tak tahu bagaimana mestinya bau kepala seorang bayi. Yang jelas bukan
karamel, karena karamel dibuat dari gula yang dicairkan.
Bagaimana mungkin seorang bayi yang hanya minum susu bisa berbau gula cair? Lebih masuk akal kalau ia berbau susu - seperti susu si ibu susu. Tapi toh tidak demikian.
Atau barangkali berbau rambut, seperti bau kulit dan rambut, dan sedikit bau keringat bayi. Terrier mengendus sedemikian rupa dengan harapan mencium bau kulit, rambut, dan keringat si bayi. Tapi tetap tak mencium apa pun sama sekali.
Tampaknya bayi tak memiliki bau, pikirnya. Dan pasti memang demikian. Bayi kan dipelihara dengan kebersihan, maka sewajarnya tak berbau. Kecuali kalau ia sudah bisa bicara, berjalan, atau menulis.
Hal-hal yang akan tumbuh seiring usia. Kalau mau ditelusuri, manusia pertama kali mengeluarkan bau badan saat ia menginjak pubertas. Memang demikianlah adanya.
Bukankah pujangga Horace sendiri telah menulis,
“Anak remaja berbau kesturi, sementara anak perawan berbau mekar bunga laksana narsis putih...”?
Orang Romawi yang biangnya paganisme pun mafhum akan hal ini! Bau tubuh manusia selalu bernuansa daging, atau lebih tepatnya bau dosa. Bagaimana mungkin seorang bayi yang belum kenal dosa ‐ bahkan dalam mimpinya sekalipun, bisa memiliki bau? Seperti apa baunya kalau memang iya? Poohpeedooh...
Sungguh tidak mungkin! Ia letakkan keranjang itu kembali ke atas lutut dan
mengayun lembut. Si bayi masih tertidur letap. Kepalan tinju kanannya begitu mungil dan kemerahan, menyembul dari balik selimut dan sesekali berkedut menggeseki pipi.
Menggemaskan sekali. Terrier tersenyum dan mendadak merasa amat nyaman. Sesaat ia membiarkan diri hanyut dalam lamunan bahwa dialah ayah si bayi. Bahwa ia belum
lagi jadi pendeta dan hanya orang biasa.
Seorang tokoh masyarakat, barangkali. Memiliki istri - kehangatan seorang istri beraroma susu dan wol, dan bahwa mereka
telah memiliki anak yang kini sedang digendong dan diayun lembut.
Darah dagingnya sendiri.
Poohpoohpoohpeedooh...
khayalan ini sungguh menyamankan. Begitu normal dan wajar. Seorang ayah menggendong anak di pangkuan.
Poohpeedooh.
Visi yang sudah setua umur dunia tapi selalu
terasa segar dan wajar - tentu saja selama dunia masih berputar. Oh, jagat Terrier begitu hangat dalam sentimentalitas.
Lalu si kecil terbangun. Dimulai dari hidungnya. Hidung kecil itu bergerak, mendorong ke atas dan mengendus.
Menghirup dan menghela napas dalam embusan-embusan pendek seperti bersin yang tak jadi. Lalu hidung itu berkerenyut dan matanya membuka. Warnanya sulit
dipastikan - antara kelabu tiram dan krem opal putih, tersaput semacam lapisan lendir tipis dan tampak tak terlalu biasa menatap cahaya.
Terrier mendapat kesan bahwa sepasang bola mata itu belum mampu menangkap
sosok dirinya. Tapi hidungnya tidak begitu.
Sementara mata “buta” si kecil menyipit dengan tatapan tak jelas, hidung itu seperti terpaku ke satu sasaran. Anehnya, Terrier merasa bahwa dialah sasaran tersebut.
Gumpalan daging mungil dengan dua lubang di wajah bayi itu mengembang seperti pucuk bunga merekah.
Atau barangkali lebih mirip bunga tanaman kecil pemakan daging yang tersimpan di taman botani kerajaan. Dan seperti tanaman itu, hidung si kecil seolah membuat isapan-isapan aneh dan menakutkan - Terrier merasa seolah si bayi menatapnya dengan lubang hidung. Melotot sedemikian rupa, memerhatikan dan memandang lebih tajam daripada mata mana pun di dunia. Seolah
menggunakan hidung untuk melahap sesuatu hidup-hidup.
Sesuatu dari dalam dirinya sendiri ‐ dari Terrier, dan ia tak mampu menahan atau menyembunyikan sesuatu itu. Sang bayi tak berbau kini membauinya tanpa malu-malu.
Ah, pasti begitu! Ia sedang mengenali dan menetapkan baunya! Seketika itu juga ia mendadak merasa berbau tak sedap.
Berbau keringat serta cuka, bubur gandum dan pakaian kotor. Serasa telanjang dan buruk - seolah ada yang ternganga menatap begitu tajam tanpa timbal balik membuka jati diri. Si bayi seolah mengendus sampai
menembus kulit dan seisi perut. Sampai ke emosi yang terdalam, segala pikiran kotornya terpapar begitu saja di hadapan hidung mungil nan rakus itu. Padahal bentuknya
pun tak bisa dibilang sempurna.
Hanya segumpal daging berbentuk hidung - sebuah organ dengan dua lubang yang tak benci mengernyit, mendengus, dan berkedut.
Bulu kuduk Terrier mendadak berdiri. Perut serasa mual. Ia menarik kembali hidungnya sendiri seolah membaui sesuatu yang tak sedap dan enggan berdekatan lebih jauh.
Lenyap sudah semua pikiran lembut yang semula membayangkan si bayi sebagai darah dagingnya sendiri.
Pupus sudah romantisme lamunan soal ayah dan anak serta istri - seperti ada orang yang tahu-tahu hadir dan membumihanguskan segala fantasi indah tentang ia dan si
bayi. Matanya kini hanya melihat sesosok makhluk aneh dan dingin tengah bernaung di lututnya - atau bahkan binatang buas.
Kalau saja ia bukan manusia berwatak
lembut, takut Tuhan , dan berakal sehat, pasti sudah digebahnya seperti orang tersengat laba-laba.
Terrier memaksa diri untuk bangkit dan meletakkan keranjang di atas meja. Hatinya didera keinginan untuk menyingkirkan benda itu sejauh dan sesegera mungkin.
Lebih cepat lebih baik.
Si bayi lalu mulai menangis. Ia mengerjapkan mata, membukanya lebar-lebar, dan melengkingkan jeritan sedemikian nyaring sampai pembuluh darah Terrier serasa beku.
Segera ia mengayun keranjang dengan kedua tangan dan berseru, “Poohpeedooh,” berusaha mendiamkan. Tapi si kecil malah menjerit makin nyaring sampai wajahnya membiru dan seperti mau meledak.
Harus segera menjauh! Begitu pikir Terrier. Pergi detik ini juga dari... ia hendak mengucap 'Iblis’, tapi segera sadar dan menahan diri.
Menjauh dari... monster ini! Dari anak
aneh ini! Tapi hendak kabur atau dijauhkan ke mana.? Ia kenal selusin ibu susu dan yayasan yatim piatu di kota ini, tapi rasanya masih terlalu dekat. Belum cukup jauh. Harus
menjauhkan benda ini sejauh mungkin.
Sejauh-jauhnya sampai tak terdengar lagi. Sampai benar-benar tak bisa dikirim balik ke biara lagi. Atau kalau mungkin dikirim saja ke gereja di wilayah lain - jika terletak di seberang sungai akan lebih baik. Pilihan terbaik adalah membuangnya ke Saint-Antoine. Aha, benar, itu dia! Tempat yang paling tepat untuk bayi penjerit ini.
Letaknya jauh di Timur, melewati
kota Bastille, di mana pintu gerbangnya selalu di kunci saat malam.
Jadilah ia mengemasi barang seadanya, menjinjing keranjang, bergegas. Berlari melewati labirin gang demi gang menuju Saint Antoine, ke Timur yang searah dengan
sungai Seine, keluar dari kota melangkah lebih jauh lagi ke jalan Charonne sampai nyaris mentok ke ujung jalan, ke sebuah alamat dekat biara Madeleine de Trenelle. Ia tahu di
situ tinggal seorang wanita bernama Madame Gaillard yang mau menerima anak-anak tanpa peduli umur atau apa pun asal ada yang bersedia membayar. Ke sanalah ia akan
menyerahkan anak ini ‐ yang masih saja menangis.
Membayar dengan bayaran penuh untuk setahun di muka, dan kabur kembali ke kota. Sekembalinya di biara nanti ia bersumpah akan segera membuang pakaian yang ia
kenakan seolah habis terciprat najis, mandi sebersih mungkin dari kepala sampai kaki, lalu merayap ke ranjang di kamarnya yang sempit, menyilang trinitas berulang-ulang, berdoa panjang-panjang dan akhirnya tidur dengan
lega.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar