*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 27-02*
Karya. : SH Mintardja
“Jika aku berhasil menangkapnya hidup atau mati, maka aku akan menjadi orang yang terpenting didalam lingkungan orang-orang berilmu hitam.” katanya didalam hati.
Tetapi ketika kemudian Kiai Dulang menyadari keadaannya dan keadaan anak muda itu, maka niatnya pun diurungkannya. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Setelah mengikuti jejak iring-iringan yang dipimpin oleh Empu Sanggadaru itu, ia nampaknya masih tetap segar. Sedang dirinya sendiri, telah dicengkam oleh perasaan lelah yang tidak terhingga, seolah-olah tulang belulangnya telah terlepas dari, tubuhnya.
Karena itu, maka Kiai Dulang pun tidak berbuat apa-apa selain hanya menarik nafas. Tetapi dengan demikian ia akan dapat melaporkan, bahwa Mahisa Bungalan yang telah berada kembali di Kota Raja itu, sering berkeliaran seorang diri tanpa pengawal seorangpun.
“Jika pada suatu saat kami dapat mengikutinya dan sempat memanggil beberapa orang kawan, alangkah baiknya jika anak muda itu dapat ditangkap hidup-hidup dan dapat menjadi salah seorang yang diumpankan pada upacara korban di saat purnama bulat” gumam Kiai Dulang didalam hatinya.
Mahisa Bungalan yang melihat Kiai Dulang termenung, kemudian berkata, “Aku akan meneruskan perjalananku.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Namun agaknya perasaannya benar-benar sudah diganggu oleh suatu keinginan untuk menangkap Mahisa Bungalan, meskipun nalarnya ternyata masih sempat memperingatkannya bahwa usaha itu adalah usaha yang sangat berbahaya.
“Kenapa kau termenung?” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.
“O, tidak apa-apa. Tidak apa-apa anak muda. Aku hanya berteka-teki didalam hati.”
“Apa yang ingin kau tebak?”
“Apakah anak muda ini sama sekali tidak merasa lelah mengikuti iring-iringan itu? Apakah anak muda juga datang dari arah dan tempat yang sama?“
Mahisa Bungalan tertawa.
“Aku baru mengikuti beberapa langkah, nafasku rasa rasanya sudah akan putus.”
“Kau sudah terlalu tua Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi aku masih muda.”
“Orang yang berpakaian seperti orang yang tinggal di tengah-tengah hutan yang terpencil itu pun sudah tua.”
Mahisa Bungalan tidak menyahut. Tetapi ia melangkah maju sambil menepuk bahu Kiai Dulang, “Sudahlah. Beristirahatlah. Biarlah yang muda-muda melakukan latihan-latihan yang berat bagi hari depannya.”
Terasa jantung Kiai Dulang bergejolak. Hampir saja ia menarik pisau belati yang tersembunyi dibalik kainnya selagi Mahisa Bungalan lengah. Namun selagi ia masih ragu-ragu Mahisa Bungalan sudah melangkah menjauhinya sambil bertata, “Aku akan berjalan menyusul mereka.”
“Silahkan anak muda” jawab Kiai Dulang. Namun nafasnya tiba-tiba saja terasa sesak.
Mahisa Bungalan pun kemudian melangkah meninggalkan Kiai Dulang yang termangu-mangu. Sejenak kemudian anak muda itu pun berloncatan di antara batu-batu padas mengikuti jejak iring iringan yang agaknya sudah semakin jauh.
Tetapi ketika Mahisa Bungalan berada di punggung sebuah gumuk, maka dilihatnya dikejauhan seperti titik-titik yang bergerak, merayapi tebing pegunungan.
“Tentu mereka” berkata Mahisa Bungalan didalam hatinya.
Mahisa Bungalan pun mempercepat langkahnya menuruni lereng yang rendah. Kemudian langkah menyelusur lembah dan sekali-sekali ia harus meloncati parit-parit yang telah digali oleh arus air hujan dilereng pegunungan.
Ketika Mahisa Bungalan kemudian turun dengan tergesa-gesa, dari balik gerumbul dipunggung bukit, Kiai Dulang mengikutinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bukan main. Anak ini benar-benar tidak kalah dengan anak-anak muda yang berada didalam iring-iringan itu.”
Untuk beberapa saat lamanya Kiai Dulang mengikuti langkah Mahisa Bungalan. Namun kemudian ia pun segera duduk dibawah sebatang pohon perdu yang rimbun.
Sekali ia menarik nafas dalam sekali. Kemudian melepaskannya sepuas-puasnya.
“Aku memang lelah sekali” desisnya sambil menyandarkan dirinya pada batang perdu yang rimbun itu.
Sementara itu Mahisa Bungalan telah berloncatan semakin jauh. Tetapi ia masih belum berhasil menyusul iring-iringan yang nampaknya seperti beberapa ekor semut yang merayap ditebing yang tingginya menyentuh langit.
Sambil menganyam angan-angannya Kiai Dulang memikirkan kemungkinan yang dapat dilakukannya. Terutama menghadapi kemungkinan yang sama atas Mahisa Bungalan.
“Jika ia terbiasa berjalan mengikuti iring-iringan itu seorang diri, maka kemungkinan untuk menangkapnya nampaknya bukannya suatu hal yang mustahil.”
Kiai Dulang menjadi bimbang. Apakah ia akan melanjutkan perjalanan ke Mahibit atau menyelesaikan kemungkinan yang dijumpainya itu.
Namun tiba-tiba saja telah tumbuh keinginannya untuk melihat barang satu dua kali lagi, apakah setiap kali Mahisa Bungalan setiap kali selalu mengikuti iring-iringan itu.
Itulah sebabnya maka Kiai Dulang tidak segera mencari Linggadadi. Baginya Mahisa Bungalan dan Linggadadi hampir tidak ada bedanya. Jika ia memilih mencari keterangan tentang Linggadadi lebih dahulu, karena menurut keterangan yang didengarnya, Mahisa Bungalan berada didalam lingkungan istana sehingga sulit baginya untuk mencari kemungkinan penangkapannya.
“Tetapi ternyata ia berkeliaran disini” katanya didalam hati, “jika ia berhasil ditangkap, maka ia merupakan korban yang paling berharga. Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih tentu menganggap bahwa korban itu juga merupakan korban untuk meredakan kemarahan kekuasaan di belakang sumber kekuatan yang disebut ilmu hitam itu.”
Sejenak Kiai Dulang masih merenung. Namun akhirnya ia berkata, “Apa salahnya aku tinggal di daerah ini barang satu dua pekan lagi. Mungkin aku menemukan sesuatu yang akan sangat berharga bagi ilmu hitam yang diajarkan menurut cara dan adat Empu Baladatu.”
Itulah sebabnya maka Kiai Dulang itu pun kemudian mencari tempat yang baik untuk dapat mengintip setiap iring-iringan kecil itu melakukan latihan yang aneh itu.
Dengan demikian maka Kiai Dulang dengan tekun berusaha selalu mengawasi regol padepokan Empu Sanggadaru. Dari hari kehari ia dengan sungguh-sungguh melakukan tugasnya.
Dihari-hari berikutnya, ia melihat beberapa orang cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru yang berada di luar regol meskipun tidak sedang melakukan latihan yang aneh itu. Tetapi yang sering terlihat olehnya hanyalah kedua orang anak muda yang ikut didalam iring-iringan para cantrik dalam latihan berjalan yang melelahkan itu.
“Ternyata Mahisa Bungalan tidak ada dipadepokan itu” desis Kiai Dulang, “jika demikian apakah artinya, bahwa Mahisa Bungalan telah mengikuti latihan berjalan jauh itu.
Kiai Dulang menjadi semakin yakin ketika ia sempat menunggu dua saat latihan berjalan jauh itu. Dan dikedua latihan itu, memang tidak melihat Mahisa Bungalan, dan ia tidak melihat anak muda itu mengikuti dari kejauhan atau menyusul kemudian.
“Mahisa Bungalan mempunyai kepentingan tersendiri” berkata Kiai Dulang didalam hatinya.
Agaknya Kiai Dulang merasa kecewa. Dengan demikian ia tidak mempunyai kesempatan untuk menjebak Mahisa Bungalan bersama beberapa orang dari gerombolan Serigala Putih atau Macan Kumbang, atau kedua orang pemimpin yang ditempatkan oleh Empu Baladatu dikedua padepokan itu.
“Bertiga, tentu aku dapat menangkap Mahisa Bungalan” berkata Kiai Dulang didalam hatinya. Namun kemungkinan itu agaknya masih belum dapat dilakukan.
Yang kemudian menjadi sasaran Kiai Dulang, selain Linggadadi adalah padepokan Empu Sanggadaru itu sendiri. Jika padepokan itu semakin lama menjadi semakin besar, maka Empu Baladatu tidak akan sempat melenyapkannya. Dengan demikian maka hambatan yang akan dihadapi oleh Empu Baladatu pun tidak akan berkurang, justru sebaliknya.
“Aku tidak tahu. Yang manakah yang lebih baik dilakukan.”
Tetapi Kiai Dulang pun kemudian melanjutkan perjalanannya seperti yang direncanakannya. Sebagai seorang pengemis ia pergi ke Mahibit. Ia ingin mendapatkan, beberapa keterangan, tentang Linggadadi yang juga disebut pembunuh orang-orang berimu hitam.
Ternyata bahwa Mahibit adalah suatu daerah seperti yang diduganya. Tidak ada tanda-tanda yang nampak pada kota itu. Tidak ada sesuatu yang menarik perhatian.
Namun dengan keadaannya, Kiai Dulang dapat tinggal di tempat itu tanpa dicurigai pula. Setiap hari ia berada di jalan-jalan kota. Setiap hari ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Dan setiap hari pula mendengar setiap pembicaraan.
Kiai Dulang berhasil mendapat keterangan tentang Linggadadi. Bahkan dengan dada yang berdebar-debar, ia, mengetahui bahwa Linggadadi adalah adik seorang yang bernama Linggapati.
Kiai Dulang adalah seorang yang cukup cerdik. Dengan tidak menimbulkan kecurigaan ia sempat bertanya tentang beberapa hal yang diperlukan. Tentang keadaan dan kebiasaan Linggadadi dan Linggapati.
“Tidak banyak orang yang mengetahui” jawab seseorang yang kebetulan sempat ditanya oleh Kiai Dulang.
Kiai Dulang tidak bertanya lebih banyak lagi. Namun dengan telatennya ia datang mengacukan batoknya ia minta dengan memelas belas kasihan. Namun kemudian ia sempat berbicara beberapa patah kata tentang keadaan kota itu.
Demikianlah berlaku bagi Kiai Dulang setiap hari, sehingga akhirnya ia mengenal beberapa orang di antara mereka yang dengan belas memberikan sekedar makanan kepadanya hampir setiap hari.
“Apakah rumah orang yang bernama Linggadadi itu juga di dalam kota ini,” pada suatu saat ia bertanya kepada seorang yang hampir setiap hari lewat ditikungan tempat ia sering duduk merenung dengan batok kelapa di tangan. Orang itu tertawa.
“Kau juga mengenal Linggadadi?” bertanya, orang itu.
“Aku pernah mendengar namanya. Ia adalah orang yang mendapat gelar pembunuh orang berilmu hitam.”
“Rumahnya ada di sudut jalan itu. Jika kau berjalan lurus, maka kau akan sampai ke tikungan. Kau akan mendapatkan sebuah halaman yang luas dikelilingi oleh dinding batu yang tinggi. Penuh dengan pohon buah-buahan yang beraneka.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Dengan suara yang tersendat-sendat ia bertanya, “Aku sudah mengelilingi kota ini dari ujung sampai keujung. Tetapi aku tidak melihat rumah berhalaman luas berdinding batu tinggi dan penuh dengan pohon buah-buahan yang terdapat ditikungan.”
“Apakah kau pernah berjalan lurus ke arah ini?”
“Sudah.”
“Kau temui tikungan?”
Kiai Dulang termangu-mangu.
Orang itu tertawa. Katanya, “Jalan ini panjang sekali. Baru setelah beberapa ratus tonggak kau akan sampai ke tikungan itu.”
“O” pengemis itu menarik nafas dalam, “baru aku tahu. Jalan ini memang sangat panjang. Ya, aku pernah berjalan sampai ketikungan. Jauh sekali. Dan aku memang menemukan rumah seperti yang tuan katakan.”
“Kau masuk kehalamannya dan minta sesuatu kepada penghuni rumah itu?”
Pengemis itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak menemukan regolnya.”
Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Itulah anehnya rumah ditikungan itu.
Kiai Dulang termangu-mangu. Ia menganggap bahwa orang itu sedang berkelakar. Karena itu, maka ia pun ikut ter tawa pula.
“Tuan lucu sekali” berkata Kiai Dulang.
Tetapi orang itu menjawab” Aku tidak sedang bergurau. Aku berkata sebenarnya. Halaman rumah itu sama sekali tidak mempunyai jalan keluar. Dinding batunya melingkar sepenuhnya.”
“Jadi bagaimanakah jika penghuni rumah itu akan keluar dan memasuki halaman?”
Di dalam lingkungan dinding batu itu adalah sebuah padepokan. Karena itu, halamannya sangat luas dan mempunyai bermacam-macam pohon buah-buahan. Dibagian belakang padepokan itu terdapat kebun bunga.”
“Menarik sekali. Tetapi sekali lagi aku ingin tahu, bagaimana seseorang akan masuk?”
“Meloncat dinding. Mereka memang orang-orang yang kikir sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang malas seperti kau untuk memasuki halamannya.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Tuan benar. Seharusnya orang-orang malas seperti aku ini tidak diberi kesempatan memasuki halaman rumah siapapun juga.” Ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi dengan demikian aku akan semakin banyak mengganggu orang dipinggir jalan seperti sekarang ini.”
Orang yang lewat itu pun tertawa. Lalu katanya, “Ah, aku tidak akan memperkatakan rumah diujung jalan itu lagi. Itu bukan urusanku..”
Kiai Dulang termangu-mangu.
“He, kenapa kau ikut mengurusi rumah itu?”
“Bukan. Bukan rumah itu tuan. Tetapi selama, pengembaraanku, aku sering mendengar nama Linggadadi dari Mahibit.”
“Ya. Itulah rumahnya. Hanya rumahnya.”
“Kenapa hanya rumahnya?”
Orang yang lewat itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu apa-apa. Sudahlah. Kau memang sudah mengganggu aku.”
Pengemis itu tertawa. Dengan nada yang rendah datar ia berkata, “Aku minta maaf. Tetapi lebih baik, aku minta uang.”
“Uh” desis orang yang lewat itu sambil melemparkan uang sekeping., “Bekerjalah. Jangan menjadi pemalas seperti itu.”
Tetapi pengemis itu hanya tersenyum saja. Senyum itu masih berkepanjangan ketika orang yang lewat Itu sudah melanjutkan perjalanannya meninggalkan tikungan. Sekali-kali pengemis itu memandang langkahnya yang kemudian hilang dibalik tikungan.
“Orang yang dungu” desis Kiai Dulang, “tetapi keterangan yang aku peroleh cukup banyak. Mudah-mudahan aku dapat melengkapinya. Jika benar halaman rumah itu tidak mempunyai regol pada dindingnya, tentu ada sebabnya dan temu ada rahasianya.”
Kiai Dulang pun kemudian memerlukan untuk melihat-lihat halaman rumah itu lagi. Sebagai seorang pengemis, maka tidak seorang pun yang akan mencurigainya jika ia mengelilingi dinding halaman itu dengan batok kelapa ditangan.
Ternyata bahwa tempurungnya merupakan senjata yang baik. Ketika ia mengelilingi dinding batu itu, ia kebetulan bertemu dengan seorang yang bertubuh tinggi tegap, berkulit kuning dan berdagu panjang. Orang itu seolah-olah mempunyai ciri yang asing baginya.
Tatapan matanya yang redup, bibirnya yang bagaikan terkatup meskipun kemudian bergerak juga ketika ia bertanya kepadanya, “He, apa yang kau cari?”
Dan Kiai Dulang pun menjawab dengan serta merta “Pintu tuan. Pintu regol.”
“Gila” orang itu menggeram. Tetapi ia tidak memberikan keterangan apapun juga tentang regol itu. Akhirnya Kiai Dulang yakin, bahwa dinding halaman itu memang tidak mempunyai regol.
“Tentu setiap orang yang memasuki atau keluar regol itu harus meloncat.” katanya didalam hati.
Tetapi Kiai Dulang tidak dapat melakukannya karena dengan demikian akan dapat mendatangkan bahaya baginya. Ia sama sekali tidak dapat melihat apakah yang ada dibalik dinding batu itu. Jika demikian ia meloncat dan jatuh keujung tombak penjaganya, maka kematian itu adalah kematian yang sia-sia.
Ketika dihari berikutnya ia bertemu lagi dengan orang yang selalu lewat dan berhenti bercakap-cakap barang sejenak sebelum melemparkan sekeping uang, maka Kiai Dulang pun berceritera tentang halaman rumah yang aneh itu.
“Agaknya kau sangat menaruh perhatian terhadap rumah itu.”
“Justru karena aneh. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginanku melihat sekali dua kali orang yang meloncat naik atau keluar dari halaman itu.”
“Apa gunanya.”
“Tidak apa-apa. Sekedar dongeng buat anak cucu, bahwa aku pernah melihat halaman rumah yang sangat luas, berdinding batu cukup tinggi, tetapi tidak mempunyai regol sama sekali.”
Orang itu pun tertawa. Sambil melemparkan sekeping uang ia berkata, “Sekali-kali kau dapat mencoba melihat bagian dalam halaman rumah itu.”
“Aku tidak berani.”
“Kenapa?”
Kiai Dulang justru menjadi heran mendengar pertanyaan orang itu. Dengan dahi yang berkerut merut ia ganti bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah wajar sekali jika aku takut melihat bagian dalamnya?”
Orang yang lewat itu menggeleng. Katanya, “Kau tidak usah takut. Halaman itu adalah halaman yang kosong.
“Tetapi aku melihat justru beberapa buah rumah didalam lingkaran dinding batu yang tidak beregol itu.”
“Memang ada beberapa buah rumah. Tetapi rumah itu kosong sama sekali. Aku sudah melihat semua rumah di halaman itu.”
“He? Kosong?”
“Ya.”
“Jadi dimanakah Linggadadi?”
Orang itu tertawa. Jawabnya, “Kau aneh. Tentu tidak seorang pun yang mengetahui. Tetapi bahwa rumah itu adalah rumahnya memang benar. Sebelum ia meninggalkan kota ini, ia adalah penghuni rumah itu.”
“Meninggalkan Mahibit?”
“Ya.”
“Kemana?”
“Tentu tidak seorang pun yang mengetahuinya.” Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar telah mengejutkannya. Dalam beberapa saat terakhir, orang-orang yang mudah dihubungi karena belas kasihannya itu dapat di peras keterangannya tentang berbagai segi kehidupan Linggadadi. Bahkan keterangan yang diperolehnya semakin lama semakin memberikan harapan kepadanya. Namun tiba-tiba ia mendengar berita bahwa Linggadadi sudah tidak berada di kota lagi.
“Rumah itu kosong” desis orang ditikungan itu. Pengemis itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi Linggadadi telah meninggalkan padepokannya ke tujuan yang tidak diketahui?”
“Ya.”
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Jika rumah di dalam halaman itu benar-benar telah dikosongkan, maka padepokan itu akan dapat diperbaiki dan dihuni.
“Kapan kau akan datang kerumah itu?”
“Ah” jawab pengemis” tidak perlu.”
“Datanglah. Mungkin ada satu atau dua buah nangka yang jatuh setelah masak dipohon.”
Orang yang selama itu menyamar menjadi pengemis itu termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia pun ingin melihat apakah yang ada didalam lingkaran dinding batu itu, sehingga karena itu maka ia pun ingin menerima undangan itu, meskipun ia sadar bahwa undangan itu bukannya undangan dari penghuni padepokan yang telah meninggalkannya.
Sebenarnyalah bahwa Kiai Dulang ingin melihat apakah yang ada dibalik dinding yang selalu tertutup itu.
Meskipun demikian ia tidak mengatakannya kepada orang yang selalu lewat itu, bahwa ia memang ingin datang ke halaman rumah yang tanpa regol dan sudah kosong sama sekali itu.
Tetapi Kiai Dulang menjadi ragu-ragu, ketika pada kesempatan lain ia bertanya kepada orang lain tentang halaman itu.
“Jangan bertanya tentang hal yang aneh-aneh” jawab orang itu, “sebaiknya kau memperhatikan tempurungmu daripada memperhatikan dinding halaman yang tidak berpintu itu.”
Kiai Dulang termangu-mangu. Namun ada dua atau tiga orang yang selalu menghindar jika dalam suatu saat ia ber kesempatan bertanya tentang halaman rumah itu.
Tetapi Kiai Dulang tidak pernah berputus asa, meskipun ia tetap tidak berhasil mengetahui keadaan halaman itu. Juga tentang penghuninya.
“Satu-satunya orang yang berani menceriterakan tentang halaman rumah itu adalah orang yang menyuruh aku datang untuk melihat bahwa halaman itu benar-benar sudah kosong” berkata Kiai Dulang didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, selagi ia masih tetap berusaha mengumpulkan keterangan tentang Linggadadi, Linggapati dan halaman rumah yang disebut rumahnya itu, ia mengalami kejutan yang telah membuatnya kehilangan pegangan.
Ketika ia berada di tempat yang biasa dipergunakannya untuk menengadahkan tempurungnya di sebelah kelokan jalan, maka datanglah seorang yang belum pernah dikenalnya. Orang yang belum pernah dilihatnya lewat dan apalagi memberikan sesuatu kepadanya.
Dengan serta merta orang itu langsung duduk di sisinya dan bertanya, “Apakah benar kau mencari Linggadadi?”
Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkannya. Karena itu dengan serta merta pula ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mencarinya.”
“Kau selalu bertanya tentang orang itu. Hampir kepada setiap orang yang kau kenal disini.”
Sekali lagi ia menjawab, “Tidak. Itu keliru. Aku memang pernah menyebut namanya. Tetapi hanya sekali.”
Orang yang duduk di sampingnya itu tertawa. Lalu ia pun bertanya, “Seandainya hanya sekali, apakah alasanmu menyebut namanya?”
“Sama sekali tidak ada alasannya, selain aku memang pernah mendengar nama itu. Linggadadi dari Mahibit yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku kira kau mempunyai keperluan tertentu. Setiap orang yang menyebut namanya tentu mempunyai keperluan tertentu.”
“Aku tidak.”
“Baiklah. Tetapi jangan ingkar bahwa sebenarnya kau datang memang untuk mencari Linggadadi.”
Orang yang menyamar dirinya sebagai pengemis itu menjadi bingung. Namun demikian ia tetap menggeleng sambil menjawab, “Aku sama sekali tidak berkepentingan secara pribadi. Aku hanya pernah mendengar namanya. Sesudah itu, tidak ada hubungan apapun juga.”
Orang itu tertawa. Lalu, “Bagaimana dengan padepokan yang dikelilingi oleh dinding batu tanpa regol sama sekali itu?”
“O” Kiai Dulang tiba-tiba saja ikut tertawa, “aku memang pernah mendapat kesulitan. Dua kali aku mengitari dinding batu itu.”
“Untuk apa?”
“Menilik halaman yang luas, maka aku mengira bahwa penghuninya tentu seorang yang kaya, baik hati dan pemurah. Itulah sebabnya aku ingin menemukan regol untuk memasuki halaman itu.”
Orang yang tidak dikenal oleh Kiai Dulang itu tertawa. Katanya, “Jawabmu memang masuk akal. Tetapi kau tidak dapat mengelabui aku.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Lalu dengan suara bergetar ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
“Akulah orang yang selalu kau tanyakan kepada setiap orang.”
“Linggadadi?” suara Kiai Dulang terasa tersendat.
Orang itu tertawa. Katanya, “Meskipun aku orang Mahibit, tetapi tidak semua orang mengenal aku. Jika aku duduk di sampingmu, maka tidak ada orang yang akan mengenalku lagi, karena aku kadang-kadang mengelilingi kota ini dengan seekor kuda yang tegar, diiringi oleh beberapa orang pengawal.”
Kiai Dulang termangu-mangu. Keringatnya mulai mengalir di punggungnya. Berturutan ia bertemu dengan orang-orang yang di sebut pembunuh orang berilmu hitam. Tetapi ketika ia bertemu dengan Mahisa Bungalan, nampaknya Mahisa Bungalan tidak menghiraukannya. Tetapi kali ini agaknya Linggadadi menaruh perhatian yang besar kepadanya.
“He” desak Linggadadi, “apakah kau masih ingkar bahwa kau sedang ingin mengetahui beberapa keterangan tentang Linggadadi?”
“Tidak. Aku memang tidak sedang melakukannya.”
“Kau kenal orang yang setiap hari kau tegur dan hampir setiap hari pula memberikan sekeping uang kedalam tempurungmu.”
Kiai Dulang ragu-ragu. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku mengenalnya justru karena ia seorang pemurah yang selalu memberi aku sekeping uang. Tetapi selebihnya, aku tidak mempunyai sangkut paut.”
“Kau tidak bohong?”
“Tidak, tentu tidak. Aku adalah orang yang paling tidak berharga dikota ini. Setiap orang hanyalah didorong oleh belas kasihan semata-mata jika sekali-kali mereka sudi berbicara dengan aku.”
“Aku tidak” sahut Linggadadi, “aku berbicara dengan kau sekarang sama sekali bukan karena belas kasihan. Tetapi justru sebaliknya.”
“Apa maksudmu?”
Linggadadi tertawa. Katanya, “Orang yang mendapat tugas untuk mengenali Linggadadi dan Linggapati tentu orang yang memiliki ilmu setinggi bintang yang bergayutan di langit.”
“Ah “
“Apakah kau sudah berhasil mengenali orang yang bernama Linggapati?”
“Aku tidak mengenal seorang, dan aku memang tidak ingin mengenali siapa pun disini, selain mereka yang dengan belas kasihan memberikan sekeping uang atau sesuap nasi.”
“Kau memang pandai berbohong. Tetapi baiklah. Jika kau benar-benar belum mengenal, biarlah aku beritahukan, bahwa orang yang sering lewat dan melemparkan sekeping uang, dan yang mengundang kau untuk melihat-lihat halaman didalam dinding batu yang buntu dan mencari buah nangka yang rontok karena tua, itulah kakak kandungku. Namanya Linggapati.”
“O” Kiai Dulang benar-benar terkejut. Tubuhnya terasa menjadi panas dan keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh tubuhnya.
“Nah, pengenalanmu sudah lengkap. Tetapi seperti yang kau ketahui, padepokanku memang sudah kosong. Aku dan para pengikutku telah meninggalkan padepokan itu untuk sementara. Pada saatnya kami akan kembali, dan memperluas padepokan ke seluruh kota ini dan keseluruh Singasari.”
Kiai Dulang menjadi semakin berdebar-debar. Sebelum ia menjawab Linggadadi berkata selanjutnya, “Nah, kau sudah banyak mendengar tentang aku. Padahal tidak ada orang yang boleh mengetahuinya sebanyak yang kau ketahui sekarang.”
Wajah Kiai Dulang menjadi semakin tegang. Terbersit di dalam hatinya, kesediaan untuk menghadapi setiap kemungkinan karena ia pun merasa mempunyai bekal ilmu meskipun dengain sadar ia mengetahui bahwa ilmunya tidak setinggi ilmu Linggadadi dan Linggapati. Tetapi jika terpaksa ia harus mati, maka ia memilih mati sebagai seorang laki-laki jantan daripada sebagai seorang pengemis yang ketakutan.
Dada Kiai Dulang menjadi semakin berdentangan ketika dari kejauhan ia melihat seseorang mendekatinya. Orang yang sering memberinya sekeping uang kedalam tempurungnya. Orang yang telah minta kepadanya untuk memasuki halaman yang sudah kosong, dan yang menurut orang yang duduk disampingnya, orang itu bernama Linggapati.
Untuk sesaat Kiai Dulang justru duduk membeku. Seolah-olah ia berada diantara dua mulut raksasa yang telah menganga. Ia sadar akan kemampuan Linggadadi dan tentu juga Linggapati, kakaknya. Jika Linggadadi digelari pembunuh orang berilmu hitam, maka Linggapati tentu mempunyai kemampuan juga untuk melakukannya.
Teringat olehnya, seorang anak muda bernama Mahisa Bungalan yang dijumpainya diperjalanan tanpa batas. Anak muda yang seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh perasaan lelah, karena kemampuannya menguasai diri sendiri, kemampuan mengatur segenap jalur kekuatan yang ada didalam dirinya dan kemampuannya menyerap kekuatan cadangan yang berada didalam dirinya dan didalam alam sekitarnya.
Ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukan sesuatu terhadap anak muda itu. Namun kini ia berada diantara dua kekuatan raksasa yang tidak terbatas.
Tetapi Kiai Dulang berusaha untuk menenangkan hatinya. Seolah-olah ia tidak mengetahui apa yang dapat terjadi atasnya.
Karena itu ketika orang yang disebut bernama Linggapati itu mendekatinya, maka sambil tersenyum ia berkata, “He, apakah benar bahwa tuan adalah kakak orang yang menyebut dirinya bernama Linggadadi ini? Dan benarkah bahwa tuan yang bernama Linggapati?”
“Sst” orang yang duduk di sampingnya itu menggamitnya, “suaramu dapat menarik perhatian orang yang lewat.”
“Apa salahnya?”
“Jangan pura-pura dungu. Kau harus menyadari bahwa sebentar lagi aku akan membunuhmu.”
“Membunuh?” Kiai Dulang benar-benar menjadi cemas, “apakah salahku..”
Tetapi Linggapati tersenyum. Katanya, “Kau benar. Aku adalah Linggapati. Tetapi seperti yang dikatakan adikku, jangan berteriak begitu supaya tidak menarik perhatian orang-orang yang lewat. Meskipun aku orang Mahibit, tetapi dalam keadaan seperti ini, tidak banyak orang yang mengenal kami berdua.”
“Aku sudah mengatakannya” potong Linggadadi.
“Nah, anggaplah bahwa kau tidak mengetahui bahwa kami adalah dua orang bersaudara yang disebut Linggapati dan Linggadadi.”
“He” Kiai Dulang menjadi bingung.
“Itu tidak mungkin kakang” sahut Linggadadi, “ia sudah mengetahui tentang kita. Kita harus membunuhnya.”
Tetapi Linggapati tersenyum. Katanya, “Orang ini sangat menarik. Agaknya ia termasuk salah seorang yang sedang menyelidiki sesuatu tentang Linggapati dan Linggadadi di Mahibit. Tetapi aku tidak berkeberatan bahwa ia mengetahui serba sedikit tentang kita seperti orang-orang lain mengetahuinya. Bukankah hampir setiap orang mengetahui bahwa padepokan yang tertutup tanpa regol itu adalah padapokan Linggapati dan Linggadadi? Tetapi mereka tidak akan dapat mengatakan kemanakah Linggapati dan Linggadadi sekarang berada. Orang ini pun tidak akan dapat mengatakannya, sehingga apa yang diketahuinya tidak lebih dari yang dapat diketahui oleh orang-orang lain.”
“Tetapi ia dengan sengaja mencari aku.”
“Tidak. Aku hanya pernah mendengar namamu.” Linggapati tertawa. Katanya, “Itu pun wajar bahwa seseorang akan tertarik mendengar nama, Linggadadi si pembunuh orang berilmu hitam. Apalagi orang itu memang berilmu hitam. Tetapi aku yakin menilik sikap dan pembicaraan yang setiap kali aku lakukan dengan orang itu, ia bukannya prajurit Singasari.”
“Tetapi ia tentu datang dari salah satu kelompok yang akan dapat mengganggu kita. Jika ia bukan prajurit Singasari atau petugas sandi, tentu ia orang yang memiliki ilmu hitam.”
“Aku berharap, bahwa ia adalah orang yang memiliki ilmu hitam seperti Empu Baladatu yang sudah menaklukkan gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang.”
“Tetapi itu adalah suatu kebodohan Empu Baladatu. Sebelumnya tidak ada orang yang pernah menyebut namanya. Tetapi dengan penaklukan kedua gerombolan yang cukup besar itu, maka setiap orang mempercakapkan namanya.”
Kiai Dulang sama sekali tidak menyahut.
“Kakang” berkata Linggadadi yang agaknya memang lebih kasar dari kakaknya, “kenapa kita membiarkannya hidup?”
“Biarlah ia memperkenalkan kita kepada gerombolannya. Sebenarnyalah bahwa kita tidak berkeberatan untuk menerima setiap uluran tangan. Kita ingin bekerja bersama siapa saja yang memang mempunyai cita-cita yang tinggi Tidak berhenti pada kepuasan sesat tanpa jangkauan masa depan sama sekali.”
“Tetapi orang ini berbahaya.”
Linggapati tertawa. Katanya, “Kita pernah mencurigai orang-orang tertentu yang sekarang justru merupakan orang-orang terbaik didalam lingkungan kita. Mungkin orang ini pun demikian.”
Linggadadi menjadi termangu-mangu. Sementara Linggapati berkata selanjutnya, “Biarlah ia berbuat apa saja. Biarlah ia kembali kedalam kelompoknya. Jika ia menyadari keadaannya, tentu ia akan kembali ke Mahibit dan akan berada di tempat ini pula. Tetapi jika ia tidak bersedia bekerja bersama kita, biarlah ia menjadi musuh yang paling berbahaya.”
Linggadadi memandang kakaknya dan Kiai Dulang berganti-ganti. Namun agaknya Kiai Dulang benar-benar mampu melakukan peranannya sehingga seolah-olah ia benar-benar bukan orang yang berbahaya bagi Linggapati dan Linggadadi.
Bahkan dengan wajah yang terheran-heran ia bertanya, “Apakah yang sebenarnya tuan bicarakan? Aku menjadi gemetar mendengar ancaman tuan yang menyebut dirinya bernama Linggadadi. Aku memang pernah mendengar nama itu sebagai seorang yang digelari Pembunuh orang berilmu hitam. Tetapi apakah karena itu tuan akan membunuh setiap orang yang tidak tuan senangi.”
Linggapati tertawa. Katanya, “Sudahlah. Diam sajalah.. Semakin banyak kau bicara, maka kau akan membuat kesalahan semakin banyak, sehingga adikku tentu semakin bernafsu untuk membunuhmu. Tetapi aku telah menempuh sesuatu kemungkinan yang mungkin memang membahayakan diriku. Tetapi apaboleh buat. Pergilah. Jika kau salah seorang yang tidak bergabung dalam induk kelompok yang manapun juga, kembalilah kepadaku. Kau akan mendapat tempat yang baik. Tetapi jika kau memang salah seorang dari kelompok yang dipimpin oleh Empu Baladatu dalam genggaman ilmu hitam, katakanlah kepadanya, bahwa Linggapati dan Linggadadi memang berada di Mahibit. Tetapi padepokannya yang tidak mempunyai regol ternyata telah kosong. Dan tidak seorang pun yang akan dapat mengenalnya, karena ia dapat merubah dirinya dalam seribu ujud.”
Kiai Dulang menjadi semakin berdebar-debar.
“Sudah tentu aku tidak dapat merubah wajahku. Demikian juga Linggadadi. Tetapi kami dapat mengenakan pakaian, kelengkapan dan mungkin sedikit gangguan diwajahku, sehingga orang Mahibit sendiri tidak dapat mengetahui dengan pasti, yang manakah sebenarnya Linggadadi dan Linggapati yang mereka kenal sebelumnya. Hanya jika ada sebuah pedati yang ditarik oleh empat ekor kuda yang tegar, itulah salah seorang dari dua orang bersaudara yang sangat ditakuti oleh setiap orang, atau bahkan kedua-duanya. Tetapi sudah tentu tidak seperti yang kau lihat sekarang ini.”
“Kakang telah membuka semua rahasia tentang diri kita” potong Linggadadi, “mungkin ia benar-benar seorang musuh yang sangat berbahaya.”
Linggapati tertawa. Katanya, “Pergilah. Dan aku menunggu kau disini. Kau pasti akan kembali. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau kembali sebagai kawan, atau sebagai lawan yang harus aku cincang sampai lumat, sebab aku mendengar bahwa cara yang dipergunakan orang berilmu hitam untuk membinasakan lawannya adalah sangat mengerikan. Tetapi kami mempunyai cara yang serupa meskipun kami bukan orang berilmu hitam dan menyadapnya dengan mengorbankan nyawa orang lain.”
Dada Kiai Dulang berdegup semakin keras. Tetapi ia masih tetap berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu sejauh dapat dilakukan.
“Nah, cepat pergilah” desak Linggapati, “kau masih mendapat kesempatan.”
“Baiklah” jawab Kiai Dulang, “aku akan pergi. Tetapi aku tidak tahu kemana aku akan pergi, karena aku memang tidak mempunyai tujuan tertentu. Mungkin aku akan pergi ke kota yang terdekat, atau kota yang jauh sama sekali. Jika aku tidak kembali, artinya bahwa aku mendapat tempat yang lebih baik untuk mencari nafkah. Jika tidak, aku akan kembali ke kota ini apapun yang akan kalian tuduhkan kepadaku, karena sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti yang kalian maksud.”
“Sudahlah, diamlah agar kau tidak keliru” potong Linggapati, “pergilah.”
Kiai Dulang pun kemudian bergeser surut. Perlahan-lahan ia berdiri dan dengan ragu-ragu melangkah pergi.
“He” panggil Linggapati.
Kiai Dulang berpaling dengan hati yang berdebaran. Tetapi dilihatnya Linggapati tertawa sambil melemparkan sekeping uang, “Kau memerlukannya bukan.”
“O” desis Kiai Dulang. Namun sekali lagi ia membuktikan bahwa ia dapat berperan dengan baik. Dengan tergesa-gesa uang itu dipungutnya sambil berkata, “Terima kasih.”
Lalu ditatapnya Linggadadi seolah-olah mengharapkan bahwa ia pun akan melemparkan sekeping uang seperti Linggapati. Tetapi Linggadadi justru membentak” Cepat pergi.”
“O “dengan tergesa-gesa Kiai Dulang pun melanjutkan langkahnya menjauhi kedua orang kakak beradik yang masih berdiri ditempatnya.
“Aku tidak terlalu yakin bahwa orang itu berbahaya“ berkata Linggapati, “nampaknya ia benar-benar seorang pengemis.”
“Ia mencari aku” desis Linggadadi.
“Ya. Ia memang bertanya tentang Linggadadi. Memang mungkin ia termasuk salah seorang dari mereka yang berilmu hitam. Namun agaknya ia akan dapat melihat sesuatu yang mungkin akan dapat menariknya bersama beberapa orang kawannya. Jika tidak, maka yang diketahuinya sama sekali tidak berarti. Ia tidak akan dapat menemukan tempat kita yang sebenarnya. Biar sajalah jika orang itu datang dan merampok buah-buahan di padepokan tertutup itu.”
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apakah aku diperbolehkan mengikutinya.”
“Itu tidak perlu. Aku kira jika ia mengetahui bahwa kau mengikutinya, ia pun akan dapat berbuat sesuatu untuk mengelabuimu.”
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya seolah-olah kepada diri sendiri, “Ia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Jika aku ingin membunuhnya, ia akan mati terkapar di pinggir jalan.”
“Dan itu sama sekali tidak perlu” sahut Linggapati, “berapa kali aku mencegah kau melakukan pembunuhan. Dan meskipun tidak seluruhnya, tetapi beberapa di antara mereka kini berada didalam lingkungan kami.”
Linggadadi tidak menjawab.
“Biarlah orang itu menemui Empu Baladatu seandainya ia memang orang dari lingkungannya. Biarlah ia mengatakan apa yang diketahuinya tentang kita.”
Linggadadi tidak menjawab.Tetapi ia tidak lagi memperhatikan langkah pengemis yang sudah semakin jauh dan kemudian hilang ditikungan.
Ketika Kiai Dulang sadar, bahwa ia sudah tidak terlihat lagi oleh kedua orang yang menyebut diri mereka Linggapati dan Linggadadi, maka ia pun segera mempercepat langkahnya. Sekali-sekali ia berpaling karena kegelisahan dihati sendiri. Ketika ia sampai pada sebuah tikungan, maka ia pun segera berbelok lagi untuk menghindarkan diri dari pengawasan seandainya Linggadadi dan Linggapati mengawasinya dari kejauhan.
Di dalam sebuah lorong yang sempit Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia sudah terlepas dari intaian kedua orang yang telah mendebarkan jantungnya itu.
Meskipun demikian Kiai Dulang tidak memperlambat langkahnya, seolah-olah ia ingin cepat-cepat keluar dari daerah Mahibit yang bagaikan menjadi sepanas bara.
Dengan cepat Kiai Dulang melangkah keujung lorong di kejauhan. Ia yang pernah menjelajahi kota itu sebagai seorang pengemis tahu benar, bahwa lorong itu akan sampai ke ujung padukuhan, kemudian sampai kebulak pendek. Ia akan melintasi bulak itu, dan akan sampai ke jalan yang lurus melintasi gerbang kota.
“Aku akan segera sampai keluar kota” desisnya.
Tetapi, ketika ia muncul dimulut lorong, terasa jantungnya bagaikan meledak. Seolah-olah tiba-tiba saja ia telah berdiri di hadapan seseorang yang duduk diatas sebuah batu di pinggir lorong tepat di simpang tiga.
“O” terloncat sebuah desah dibibir Kiai Dulang.
“Aku sudah memperhitungkan bahwa kau akan mengambil jalan ini untuk menghindarkan diri dari pengawasanku.” desis orang itu.
Kiai Dulang menjadi bingung, apakah yang harus dikatakannya. Karena itu, untuk beberapa saat ia berdiri bagaikan patung.
“Bagiku kau tetap berbahaya” desis orang itu, “kakang Linggapati memang terlampau percaya kepada diri sendiri. Tetapi sikapnya itu kadang-kadang sangat merugikan kami semuanya.”
“Tetapi, tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya akan pergi seperti yang kalian perintahkan.”
“Pergi dari kota ini memang mengurangi beban kami. Tetapi akan lebih lapang lagi dada kami, jika orang-orang seperti kau ini dibunuh saja sama sekali.”
“Tetapi aku tidak bersalah.”
“Kakang Linggapati tidak berkepentingan dengan kau. Tetapi aku mempunyai kepentingan langsung karena kau tentu salah seorang dari orang-orang berilmu hitam yang sedang menyelidiki tentang Linggadadi pembunuh orang-orang berilmu hitam. Dan seperti gelar itu, maka kau pun harus dibunuh.”
Kiai Dulang menjadi berdebar-debar. Ia tahu bahwa Linggadadi adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ia pun sadar, bahwa ia bukannya tidak berilmu sama sekali.
Meskipun demikian Kiai Dulang masih juga berusaha menghindari benturan. Katanya, “Tuan. Apakah yang sebenarnya tuan kehendaki daripadaku. Aku sudah memenuhi segala perintah tuan dan saudara tua tuan yang bernama Linggapati itu. Apakah masih ada yang salah?”
“Kau orang yang berbahaya bagiku. Tetapi tidak bagi kakang Linggapati. Karena itu, maka aku telah berusaha dengan diam-diam mencegatmu di sini, karena kakang Linggapati tidak mengijinkannya.”
“Aku benar-benar tidak merasa bersalah.”
Linggadadi mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Marilah. Kita berjalan bersama-sama sampai keluar pintu gerbang. Aku akan membunuhmu di luar kota. Aku akan berusaha bahwa kau tidak akan mengalami siksaan disaat matimu.”
“Tuan.”
“Jika kau melawan atau melakukan sesuatu yang dapat mengganggu usahaku membunuhmu tanpa kecemasan dan rasa sakit, maka akibatnya tentu kau sendirilah yang akan mengalami.”
“Tetapi” sahut Kiai Dulang, “bukankah aku tidak akan berbuat apa-apa?”
“Jangan berbohong lagi. Tidak ada gunanya.” desis Linggadadi, “sekarang marilah. Kau harus sadar, bahwa ilmuku masih berada diatas ilmu Empu Baladatu, sehingga murid-muridnya seperti kau dan yang lain-lain itu sama sekali tidak berarti bagiku.”
Wajah Kiai Dulang menjadi merah. Tetapi kecemasan kini benar-benar telah mencengkam jantungnya.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar