*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 18-03*
Karya. : SH Mintardja
“Tetapi dongeng itu sudah hampir lenyap. Tidak banyak lagi yang diketahui tentang orang-orang berilmu hitam itu.“ desis Linggapati.
“Tetapi ilmu itu sekarang telah tumbuh dan berkembang. Yang datang ke Singasari itu tentu bukan orang terpenting diantara mereka. Ada dua orang yang terbunuh di Singasari.“ sahut Linggadadi.
“Tetapi cobalah, kau ingat lagi ceritera Tapak Lamba tentang anak muda yang berada dipadukuhan yang disebutnya daerah bayangan hantu. Apakah mungkin anak muda yang berada di Singasari itu juga anak muda yang telah membunuh tiga orang berilmu hitam di daerah bayangan hantu itu?”
“Memang mungkin. Tetapi namanya berbeda. Orang yang menurut Tapak Lamba berbasil membunuh tiga orang berilmu hitam itu bernama Mahisa Bungalan. Ia menyebut dirinya anak Mahendra.”
“Siapakah Mahendra itu menurut pendengaranmu. Tentu kau pernah mendengar hubungan antara Mahendra dan Witantra.”
“Tetapi menurut pendengaranku, anak muda yang berada di Singasari itu bernama Pegatmega.”
“Dan orang yang bernama Witantra itu pernah disebut Sempulur.”
Keduanya mengangguk-angguk. Ternyata bahwa mereka telah hampir menemukan persamaan uraian tentang anak muda yang bernama Pegatmega itu. Beberapa orang yang mereka kirimkan untuk mengetahui kabar yang tersebar, berhasil mengumpulkan beberapa keterangan tentang Pegatmega dan Sempulur, sehingga akhirnya Linggapati mengambil kesimpulan. “Aku condong kepada dugaan bahwa Pegatmega adalah Mahisa Bungalan.”
“Apakah ia anak muda yang licik?“ sahut Linggadadi, “Kenapa ia harus bersembunyi dibalik nama lain? Apakah ia tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya?”
“Aku kira bukan atas kehendaknya sendiri. Jika ia menyebut namanya, maka ia akan menjadi pusat perhatian orang-orang berilmu hitam yang kehilangan kawan-kawannya di daerah bayangan hantu itu.”
“Apakah orang-orang berilmu hitam tidak akan sampai pada dugaan seperti kita bahwa orang yang dekat dengan Witantra itu adalah orang yang telah membunuh tiga kawannya?”
“Kita akan meyakinkan.“ berkata Linggapati kemudian, “Dan kita akan memalingkan perhatian orang-orang berilmu hitam itu dengan sebuah ceritera yang lain.”
“Tentang Mahisa Bungalan?“ bertanya Linggadadi.
“Ya. Seperti orang-orang Singasari yang dengan sengaja melindungi nama Mahisa Bungalan, maka kita dapat menyebar berita bahwa Mahisa Bungalan lah yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam, sedang Witantra membunuh salah seorang pembantu kita.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Desisnya, “Pendapat yang baik. Setidak-tidaknya kita dapat mengurangi ketegangan disaat yang pendek, sementara kita akan mengelilingi daerah di sekitar Singasari.”
“Mungkin ke daerah yang agak jauh.”
“Menyenangkan sekali. Kita dapat menikmati kemelutnya asap Gunung berapi, melihat hijaunya lembah-lembah dan mengenal berbagai macam ilmu yang mungkin kita jumpai di sepanjang perjalanan.”
“Tetapi masih ada kemungkinan lain.”
“Maksudmu?”
“Kita tidak akan dapat kembali lagi.”
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itupun akibat yang wajar yang dapat terjadi. Aku akan menerimanya jika memang harus demikian yang terjadi.”
“Bagus. Kita akan segera menentukan saat kita berangkat menyusuri daerah dongeng tentang orang berilmu hitam. Mungkin kita akan menyusuri pantai Selatan, sampai kepusar pulau ini. Mungkin kita akan berjalan lebih jauh.”
“Kita akan pergi berdua atau kita memerlukan satu dua orang kawan?”
“Kita akan pergi bertiga.”
“Siapakah yang seorang? Tapak Lamba?”
Linggapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Selama ini ia rajin sekali melatih diri. Tetapi ia masih jauh dari sempurna, sehingga aku kurang mempercayainya bahwa ia justru tidak menghambat perjalanan.”
“Jadi siapa?”
“Paman Daranambang.”
“Orang tua itu?”
“Justru ia orang tua. Tetapi kau tahu bahwa ia masih tetap memiliki kemampuan masa mudanya. Dan ia adalah seorang pengembara yang tidak ada duanya.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Gumamnya, “Baiklah. Ia dapat menjadi penunjuk jalan.”
“Tetapi ia juga dapat setidak-tidaknya menjaga dirinya sendiri meskipun seandainya kita bertemu dengan anak muda yang menurut pendengaranku bernama Pegatmega. Bahkan seandainya benar dugaan kita bahwa Pegatmega, kemanakan Witantra yang mengaku bernama Sempulur itu adalah anak Mahendra itu.”
“Lebih dari itu. Karena mungkin diperjalanan kita akan bertemu dengan Witantra dan Mahendra itu sendiri.”
Linggapati tersenyum. Katanya, “Aku justru ingin mengetahui kemampuan orang-orang yang merupakan orang terpenting di Singasari itu. Termasuk Mahisa Agni.”
Linggapati pun tersenyum pula. Ia mengenal betul sifat adiknya. Karena itu maka katanya kemudian, “Kau harus mencoba untuk mengendalikan dirimu Linggadadi. Bermain-main dengan Mahisa Agni dapat menumbuhkan akibat yang tidak kita kehendaki.”
“Tetapi kita belum pernah membuktikannya.”
“Adalah sulit untuk membuktikan dan kemudian mengakuinya, karena dapat terjadi bahwa kita akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui akhir dari pembuktian kita.”
Linggadadi tertawa berkepanjangan. Gumamnya di antara derai tertawanya. “Kau masih harus dipengaruhi oleh perasaan bahwa aku adalah seorang adik yang masih terlampau kanak-kanakan. Kakang Linggapati, lihatlah. Aku sudah terlalu tua untuk disebut sudah dewasa.”
“Benar Linggadadi. Tetapi kau harus selalu ingat, bahwa Mahisa Agni adalah rangkapan dari Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Aku kira, tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuan Sri Rajasa selain Mahisa Agni. Bahkan Witantra dan Mahendra pun tidak.”
“Sayang, bahwa Sri Rajasa itu pun sudah tidak ada lagi. Anaknya yang bernama Anusapati yang dianggap memiliki kemampuan mendekati Sri Rajasa pun tidak ada pula.”
“Jangan mengigau. Persiapkan dirimu untuk suatu perjalanan yang panjang. Dalam waktu yang agak lama kita tidak akan dapat berbuat apa-apa atas Singasari. Prajurit Singasari kini tentu telah bangun dan berjaga-jaga karena peristiwa yang bodoh, yang dilakukan oleh orang-orang berilmu hitam itu.”
“Baiklah kakang.“ jawab Linggadadi, “Aku akan berkemas. Agaknya perjalanan itu akan sangat menyenangkan. Aku ingin kita singgah di Kota Raja barang satu dua hari untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh prajurit-prajurit Singasari setelah mereka mengetahui peristiwa itu.”
Linggapati termenung sejenak. Kemudian iapun mengangguk kecil, “Baiklah Linggadadi. Tetapi kau jangan berbuat gila di Kota Raja agar perjalanan kita yang menyenangkan itu tidak terganggu sama sekali.”
“Baiklah kakang.”
“Kau harus berjanji.”
“Aku berjanji.”
Linggapati mengangguk-angguk. Meskipun ia agak ragu-ragu bahwa adiknya akan dapat mengekang diri selama perjalanan dan selama mereka singgah di Kota Raja.
“Tetapi ingat Linggadadi.“ berkata Linggapati kemudian, “Namamu sudah dikenal di Kota Raja, karena justru Witantra mendengar namamu disebut.”
“Aku tidak akan memasang selembar rontal bertuliskan nama di dadaku kakang. Tetapi kau pun harus menjaga agar kau tidak menyebut namaku di hadapan orang lain dan sebaliknya. Karena namamu pun mirip sekali dengan namaku.”
“Pokoknya kita harus berhati-hati selama kita berada di Kota Raja.“ potong Linggapati.
Demikianlah maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Seorang yang akan ikut bersama merekapun telah diberitahukannya pula.
“Akhirnya aku masih harus mengembara.“ desis Daranambang.
“Sebagai seorang pengembara maka pengembaraan ini pun akan dapat menyegarkan tubuhmu paman.“ berkata Linggapati.
“Mungkin Linggapati. Tetapi aku tentu sudah tidak setangkas beberapa puluh tahun yang lalu, ketika aku masih muda dan kuat.”
“Tetapi paman sekarang menjadi semakin masak. Ilmu yang paman miliki sekarang memang berbeda di dalam pengetrapannya dengan saat paman masih muda. Tetapi tentu tidak kalah berbahayanya.”
Daranambang tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi mengembara. Aku memang pernah mendengar dongeng tentang orang berilmu hitam yang mengerikan itu. Tetapi mereka bukan hantu atau dewa dari langit. Mereka terdiri dari kulit daging seperti kita. Bahkan menurut pendengaran kita. beberapa di antara mereka telah terbunuh.”
“Ya. Linggadadi pun telah melihatnya.”
“Baiklah. Baiklah. Menyenangkan sekali bertemu dengan mereka pada suatu saat. Tetapi jika mereka bersedia, apakah tidak sebaiknya mereka di bawa serta dalam lingkungan kita?”
“Mereka akan menelan kita.”
“Kita harus cekatan. Setelah kita tidak memerlukan mereka lagi, secepatnya harus kita hancurkan. Bukankah demikian pula yang akan kau lakukan atas Tapak Limba?”
“O, tidak paman. Tikus itu sama sekali tidak berbahaya. Aku hanya memerlukannnya untuk mempengaruhi bekas kawannya pada masa pemerintahan Tohjaya, agar mereka dapat kita hubungi dan setidak-tidaknya tidak mengganggu rencana kita kelak. Tetapi, Tapak Lamba sendiri akan berterima kasih dan tidak akan berbuat apa-apa, jika kepadanya aku berikan sekedar jabatan yang tidak penting.”
Daranambang mengangguk-angguk. Memang Tapak lamba tidak berbahaya bagi Linggapati. Apalagi pada saat-saat ia berada di dalam lingkungannya.
Demikianlah maka ketika semuanya sudah siap, ketiga orang itupun meninggalkan tempat tinggalnya, dan berusaha menempuh perjalanan yang tidak terbatas. Mereka ingin mengetahui keadaan yang masih samar-samar dari orang-orang berilmu hitam. Dengan demikian maka mereka akan dapat menentukan sikap. Apa kah golongan itu harus dibinasakan, atau dimanfaatkan. Atau jika mungkin dengan sengaja membenturkan mereka dengan kekuatan Singasari sebelum Linggapati sendiri akan tampil setelah Singasari menjadi semakin lemah karena benturan itu.
Sedangkan Linggadadi yang akan ikut dalam perjalanan itu menganggap bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang penuh dengan kegembiraan. Selain ia akan, dapat mengenal daerah yang lebih luas, maka pengalaman dan penglihatannyapun akan semakin bertambah.
“Sementara ini kita tidak mempunyai pekerjaan apapun di rumah.“ berkata Linggadadi, “Sudah tentu merupakan suatu masa yang menjemukan sekali. Kita tidak tahu sampai kapan kita harus menunggu prajurit Singasari tertidur kembali. Sementara itu orang-orang berilmu hitam akan selalu membangunnya setiap kali.”
“Tetapi perjalanan ini bukan perjalanan tamasya.“ berkata Daranambang, “Perjalanan kita adalah perjalanan yang dibayangi oleh bahaya.”
“Itulah yang menarik.“ sahut Linggadadi, “Perjalanan yang tidak ada gejolak antara manis dan pahit adalah perjalanan yang mati.”
Daranambang tidak menjawab lagi. Ia mengerti bahwa Linggadadi adalah seorang yang memiliki gejolak hidup yang bergelora di dalam dadanya. Sedangkan Linggapati yang lebih masak agak lebih tenang menanggapi keadaan.
Dengan demikian maka perjalanan mereka bertiga agaknya akan merupakan perjalanan yang diwarnai oleh ketiga sifat dari ketiga orang itu. Linggadadi yang bergejolak, Linggapati tenang tetapi cerdik, dan Daranambang yang tidak lagi banyak mempunyai rencana apapun selama perjalanan, selain mengikuti kedua orang kemanakannya.
Dalam pada itu, selagi ketiga orang itu mulai dengan perjalanannya, yang mula-mula akan singgah di Kota Raja, Mahisa Agni telah menyampaikan persoalan itu kepada Maharaja di Singasari.
Ranggawununi dan Mahisa Campaka yang memerintah Singasari tanpa dapat saling berpisah dalam banyak hal, mendengarkan keterangan Mahisa Agni dengan saksama.
“Nampaknya hanya persoalan kecil tuanku.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Seolah-olah hanyalah beberapa orang penjahat kecil yang saling bersaing memperebutkan sumber penghidupan. Tetapi jika ditelusur lebih jauh lagi, nampaknya akan menjadi persoalan yang cukup gawat.”
Ranggawuni mengangguk-angguk. Kemudian dengan nada yang datar ia bertanya, “Apakah paman sudah mendapatkan gambaran yang agak jelas tentang keduanya?”
Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Belum tuanku. Hamba masih belum dapat mengatakan, siapakah sebenarnya mereka itu. Dan siapakah sebenarnya orang yang berdiri di belakang mereka. Salah seorang dari orang-orang yang mungkin termasuk penting diantara mereka bernama Linggadadi. Selebihnya hamba tidak mengetahui apapun juga. Bahkan kakang Witantra yang terlibat langsung dalam pertempuran itupun tidak banyak dapat memberikan keterangan.”
Ranggawuni dan Mahisa Campaka yang bergelar Wisnuwardhana dan Narasinga, ternyata sangat tertarik kepada laporan itu. Bahkan seperti pendapat Mahisa Agni, bahwa persoalannya bukanlah sekedar persoalan kecil.
“Tuanku.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Rahasia yang sampat saat terakhir tidak dapat kami ketahui, kenapa orang-orang berilmu hitam itu setiap kali memasuki rumah seseorang, tidak mengambil lebih dari beberapa keping uang yang diperlukan, meskipun di dalam rumah itu ada berkampil-kampil uang dan perhiasan. Tentu hal itu mempunyai maksud tertentu, yang sampai saat terakhir masih belum dapat kita ketahui. Sayang bahwa kami tidak berhasil menangkap salah seorang dari mereka hidup-hidup.”
“Paman.“ berkata Ranggawuni, “Tentu kita harus meningkatkan kewaspadaan. Aku akan memerintahkan kepada para Senapati untuk bersiaga. Menilik tingkah laku mereka, maka akibatnya tentu akan berkepanjangan. Setidaknya antara kedua golongan itu akan timbul permusuhan yang dapat mengganggu ketenangan Singasari yang sedikit demi sedikit sudah dapat kita pulihkan.“
“Tentu tuanku. Sebenarnyalah bahwa setiap prajurit harus bersiaga. Namun selebihnya, hamba akan mohon diri, perkenankanlah hamba mengenang masa muda hamba dengan sebuah pengembaraan. Agaknya orang berilmu hitam itu sangat menarik perhatian.”
“Maksud paman?”
“Kami akan mencari sarang dari orang-orang yang disebut berilmu hitam.”
“Apakah paman dapat mengatakan, dimanakah kira-kira letaknya?”
“Ampun tuanku, hamba sama sekali tidak dapat menyebutkannya. Tetapi hamba akan mencoba mencari berdasarkan ceritera-ceritera lama yang pernah hamba dengar, daerah yang pernah menjadi sarang orang-orang berilmu hitam, meskipun kadang-kadang sumber itu bersimpang siur. Namun pengembaraan hamba mungkin akan sampai pada tujuannya jika hamba menyusuri segala tempat yang pernah hamba dengar itu, karena pada saat ini, kita tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa orang-orang berilmu hitam itu masih ada, dan bahkan berkembang. Mahisa Bungalan pernah menjumpai orang-orang berilmu hitam itu di dua tempat. Di daerah yang disebut daerah bayangan hantu, dan di dalam Kota Raja ini.”
Ranggawuni termangu-mangu sejenak Dipandanginya wajah Mahisa Cempaka, seolah-olah minta pertimbangannya.
Mahisa Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi bukan pencaharian yang mutlak paman. Maksudku, jika sekiranya paman harus segera kembali.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Mahisa Cempaka yang bergelar Narasimha, sebagai Ratu Angabaya di Singasari.
“Tuanku.“ berkata Mahisa Agni, “Hamba tidak akan menempuh perjalanan tanpa batas. Seandainya hamba masih mempunyai harapan untuk menemukan daerah hitam itu sekalipun, pada saat-saat tertentu hamba akan kembali. Tentu hamba akan sangat rindu kepada tuanku berdua.”
Ranggawuni yang bergelar Wisnuwardhana tersenyum. Katanya, “Terima kasih paman. Paman adalah orang tua kami. Istana ini akan menjadi sepi tanpa paman.”
“Tentu tidak tuanku. Pamanda tuanku masih ada di istana. Beberapa orang Senapati yang akan menjaga ketenangan Singasari. Dan masih banyak yang tuanku dapatkan di istana ini sebagai kawan berbincang dan barangkali juga berdebat.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Namun bagi mereka Mahisa Agni adalah guru dalam olah kanuragan, Tetapi juga guru yang banyak memberikan bimbingan jiwani kepada mereka berdua.
“Paman.“ berkata Ranggawuni kemudian, “Kapankah menurut pertimbangan paman, paman akan berangkat?”
“Hamba akan mengadakan persiapan secukupnya tuanku. Hamba akan menghubungi beberapa orang sahabat. Dan pada saatnya paman akan mohon diri kepada tuanku.”
“Baiklah paman. Selama ini paman harus mengadakan persiapan yang saksama. Bukankah keadaan pada saat terakhir nampak agak buram, justru karena perbuatan orang-orang berilmu hitam itu pula?”
“Ya, dan orang yang berada di dalam lingkungan gerombolan Linggadadi. Itupun harus diketahui sumbernya dan lingkungan luasnya.”
“Semuanya harus sudah dapat diatur mapan sebelum paman berangkat.”
Demikianlah maka di hari berikutnya Mahisa Agni dan beberapa Senapati telah mengatur penjagaan dan pengamanan Singasari dalam keseluruhan. Jika pada saat-saat tertentu orang-orang berilmu hitam itu datang ke Kota Raja, maka kesiagaan prajurit Singasari telah cukup mantap untuk menghadapi mereka. Juga kesulitan yang dapat timbul dari pihak manapun juga.
Gardu-gardu peronda menjadi semakin banyak dan perajurit-perajurit yang bertugaspun menjadi semakin banyak pula. Gelombang perondan di padukuhan-padukuhan yang dilakukan oleh anak-anak muda yang dibantu para prajuritpun berjalan semakin tertib.
Baru ketika Kota Raja dan sekitarnya sudah meyakinkan, maka Mahisa Agni mulai dengan sungguh-sungguh persiapan untuk menempuh perjalanan yang panjang.
Namun belum lagi ia berangkat, maka ia telah dikejutkan oleh desas-desus yang tersebar di Kota Raja, bahwa sebenarnya yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam di rumah saudagar ternak itu adalah Witantra dan seorang anak muda yang sebenarnya bernama Mahisa Bungalan, seorang anak muda yang mempergunakan nama samaran Pegatmega.
Desas-desus itu telah mendebarkan jantung Mahisa Agni. Nama Witantra memang sudah tidak perlu disembunyikannya lagi. Para prajurit pun kemudian mengetahui bahwa orang itu adalah Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati. Tetapi tidak seorang pun yang pernah mengatakan, bahwa Pegatmega itu sebenarnya adalah Mahisa Bungalan yang belum banyak dikenal di Kota Raja.
Dengan heran Witantra pun kemudian menemui Mahisa Agni untuk membicarakan desas desus yang mulai tersebar luas itu.
“Mungkin ada orang yang pernah mengenal Mahisa Bungalan dan melihatnya di rumah saudagar ternak itu.“ berkata Witantra, “Karena Mahisa Bungalan pun tidak dapat di katakan, tidak dikenal sama sekali di Singasari, Ia tentu mempunyai kawan yang tidak akan dapat dikelabuinya lagi dengan nama Pegatmega, kecuali mereka yang dengan sengaja sudah diberitahukan lebih dahulu, seperti di kalangan beberapa orang prajurit pengawal istana.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka persoalannya akan menjadi sangat sederhana. Meskipun akibatnya dapat merugikan Mahisa Bungalan. Tetapi jika ada pihak lain yang dengan sengaja menyebarkan ceritera itu, maka kita harus menemukan latar belakang dari ceritera itu.”
Witantra meng-angguk.
“Mahisa Bungalan memang pernah membunuh orang-orang berilmu hitam di padukuhan terpencil yang disebutnya daerah bayangan hantu Mungkin orang-orang berilmu hitam itu menganggap, bahwa pembunuhnya di Kota Raja ini adalah Mahisa Bungalan pula, karena di daerah Bayangan hantu itu ia sama sekali tidak merahasiakan dirinya.“ sambung Mahisa Agni.
“Jadi, apakah orang-orang berilmu hitam itu yang sengaja menyebarkan desas-desus tersebut.“ bertanya Witantra.
“Mungkin sekali. Tetapi kami tidak tahu, apakah orang-orang Linggadadi yang terlibat pula dalam perkelahian itu telah menyebarkan ceritera tersebut agar mereka terhindar dari kemungkian pembalasan dendam orang-orang berilmu hitam itu Dengan demikian mereka sudah berusaha untuk melawan ceritera yang tersebar sebelumnya, bahwa dua gerombolan telah saling berbenturan. Yang segolongan adalah mereka yang berilmu hitam, sedang yang lain adalah gerombolan Linggadadi.”
“Tetapi bagaimana mereka dapat menyebut nama Mahisa Bungalan.“ desis Witantra.
“Mahisa Bungalan sendiri masih terlampau muda untuk menyelebungi diri sebaik-baiknya.”
Witantra mengangguk-angguk. Ia pun menyadari bahwa Mahisa Bungalan yang memiliki ilmu yang sudah masak itu sebenarnya adalah anak muda yang kadang-kadang masih kekanak-kanakan. Bahkan di dalam arena yang gawat, ia masih juga mencoba-coba menjajagi ilmu lawannya yang hampir saja merenggut nyawanya.
“Jika memang sudah diketahui oleh semua pihak, maka aku kira memang tidak ada lagi gunanya untuk bersembunyi, selain harus berhati-hati.“ berkata Witantra.
“Ya.“ jawab Mahisa Agni, “Tetapi sebentar lagi, Mahisa Bungalan akan berada di dalam perjalanan pengembaraan.”
“Mungkin didalam pengembaraan itu ia akan terhindar dari kemungkinan yang berbahaya baginya.”
“Atau justru sebaliknya.”
Witantra mengangguk-angguk. Lalu katanya “Memang semua kemungkinan dapat terjadi. Aku memang kurang berpengalaman didalam pengambaraan seperti itu, karena pada masa mudaku aku terjerat pada jabatan keprajuritan di Tumapel, dan dimasa tuaku aku terbuang kealam keasingan di sebuah padepokan.”
“Ah.“ desis Mahisa Agni, “Pengalaman itu kau dapatkan dari segi yang lain. Tetapi jika kita akan pergi saat ini, mungkin sekali pengalamanku tidak akan dapat ditrapkan lagi, karena telah banyak sekali perubahan yang terjadi selama ini, sejak aku menjelajahi daerah Tumapel lama dan yang kemudian disatukan dalam daerah yang lebih luas yang bernama Singasari.”
Witantra mengangguk-angguk. Lalu, “Baiklah kita mencari pengalaman baru Mahisa Agni. Kita akan menempuh pengembaraan yang akan sangat menarik”
Ternyata Mahisa Agni tidak merubah rencananya meskipun nama Mahisa Bungalan justru sedang menjadi pembicaraan. Bahkan dengan sengaja ceritera itu mempertentangkan Mahisa Bungalan dengan orang-orang yang berilmu hitam, dengan memberikan gelar tersendiri bagi anak muda itu. Mahisa Bungalan pembunuh ilmu hitam.
Mahisa Bungalan sendiri agaknya tidak berkeberatan. Tetapi ketika ia bertemu dengan Mahisa Agni, maka ia mulai menyadari bahaya yang mengancamnya.
“Mungkin kau dapat berbangga dengan sebutan itu, Mahisa Bungalan.“ berkata Mahisa Agni, “Tetapi akibatnya, setiap saat kau harus memeluk senjatamu. Siang dan malam. Jaga atau tidur sekalipun.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Karena itu, kau memang harus bersiaga setiap saat menghadapi kemungkinan, karena gelar tidak resmi itu mempunyai akibat yang sangat luas. Dengan sengaja orang yang menyebarkan sebutan itu berusaha membenturkan kau dengan orang-orang berilmu hitam untuk menarik keuntungan bagi pihak itu sendiri. Ingat, bukankah ada tiga pihak yang bertempur di halaman itu?”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Nah, baiklah.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Kita akan meneruskan rencana kita menempuh perjalanan yang panjang. Pamanmu Witantra akan serta bersama kita.”
“Baiklah paman.“ berkata Mahisa Bungalan.
“Kita harus segera mempersiapkan diri. lahir dan batin. Kita akan segera berangkat dan berusaha bukan saja mencari lingkunugan orang-orang berilmu hitam, tetapi juga untuk mengetahui siapakah Linggadadi itu.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kita akan pergi bertiga untuk mencari yang belum dapat kami katakan dimana letaknya.“ tetapi anak muda itu kemudian tersenyum, “Menyenangkan sekali. Apakah kita akan singgah sebentar ke rumah untuk bertemu dengan ayah?”
“Tidak ada keberatan apapun juga Bungalan. Bahkan aku akan minta ayahmu untuk berada di Kota Raja pada saat-saat tertentu. Kadang-kadang tuanku Maharaja dan Ratu Angabaya memerlukan kawan berbincang selain para Senapati dan pimpinan pemerintahan yang lain.”
Namun Mahisa Agni tidak dapat begitu saja meninggalkan Kota Raja dalam bayangan ceritera yang beraneka ragam. Sebelum berangkat ia telah memberikan banyak gambaran tentang masalah yang dihadapi oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka.
“Para Senapati akan selalu menjalankan tugasnya dengan baik tuanku.“ berkata Mahisa Agni pada saat ia minta diri, “Semuanya sudah aku atur. Petugas-petugas sandi sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka akan selalu menyampaikan bahan-bahan penting bagi tuanku.”
“Terima kasih paman.”
“Mahendra akan berada di Kota Raja setiap kali. Ia akan dapat tuanku panggil menghadap dan berbincang tentang beberapa hal jika diperlukan. Sebagai seorang pedagang ia mempunyai hubungan yang luas di daerah-daerah yang jauh. Mungkin ceriteranya akan menarik perhatian.”
“Baiklah paman. Tetapi aku harap bahwa seperti yang paman katakan, setiap kali paman harus kembali ke kota Raja.”
“Hamba tuanku. Hamba akan selalu kembali pada saat-saat tertentu.”
Demikianlah setelah Witantra dan Mahisa Bungalan menghadap pula, maka ketiganya pun meninggalkan Kota Raja untuk menempuh suatu perjalanan. Justru pada saat-saat Linggadadi ada di Kota Raja bersama Linggapati dan pamannya Daranambang.
Namun para petugas sandi dan para prajurit Singasari telah bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan, sehingga Linggapati tidak banyak mendapat kesempatan untuk berbuat apapun juga di Kota Raja.
“Rumah itu selalu diawasi.“ desis Linggadadi pada saat-saat ia lewat di rumah saudagar ternak itu.
Linggapati mengangguk-angguk. Ia pun menyadari bahwa rumah yang ditunjukkan oleh Linggadadi sebagai ajang perkelahian itu memang mendapat pengawasan yang khusus. Sebuah gardu telah didirikan tepat di muka rumah itu. Bukan hanya dua tiga orang prajurit yang bertugas. Tetapi menurut penglihatan Linggapati, ada lima orang prajurit yang berada di luar gardu yang cukup besar itu. Bahkan mungkin masih ada satu dua yang ada di dalaminya.
“Kita tidak akan membuat keributan.“ berkata Linggapati, “Meskipun barangkali kita bertiga dapat melenyapkan lima orang prajurit itu. Tetapi dengan demikian mungkin akan dapat menimbulkan kesulitan jika Senapati-senapati Singasari ikut mencampurinya.”
“Ternyata saudagar ternak itu sama sekali bukan orang yang dapat dijadikan sumber penjelasan mengenai yang telah terjadi di rumahnya. Semuanya tentu telah diatur oleh Witantra untuk menjebak orang berilmu hitam itu. Tetapi kami yang tidak mengetahui persoalan itu telah terlibat, justru karena kami tidak menghendaki terjadinya kerusuhan di Singasari.”
“Sudahlah. Biarlah yang telah terjadi. Beberapa saat kemudian, prajurit-prajurit Singasari akan terlupa. Mereka akan tertidur lagi. Asal orang-orang berilmu hitam itu tidak membuat keonaran baru.”
“Kita akan dapat menentukan sikap kemudian.”
Yang lain mengangguk-angguk. Ternyata perjalanan mereka sekedar melihat-lihat keadaan kota yang telah bersiaga Nampaknya prajurit Singasari siap bertindak apapun juga terhadap siapa pun juga.
Namun ketiga orang itu sama sekali tidak mengetahui bahwa pada saat itu Mahisa Agni dan Witantra bersama Mahisa Bungalan telah meninggalkan kota.
“Tidak ada yang menarik di Kota Raja.“ berkata Linggapati, “Marilah kita mulai menempuh perjalanan kita yang agaknya akan sangat menyenangkan itu.”
“Baiklah.“ jawab Linggadadi, “Tetapi dengan demikian kau sudah melihat sendiri keadaan di Kota Raja.”
Demikianlah mereka bertiga pun meninggalkan Kota Raja setelah mereka bermalam satu malam. Mereka bermalam di sudut kota yang sepi yang hampir tidak pernah dijamah oleh penghuni kota itu.
Pagi-pagi mereka telah meninggalkan gerbang kota tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka nampaknya seperti orang kebanyakan yang hilir mudik keluar masuk kota untuk menjual hasil tanah dan membeli keperluan mereka sehari-hari.
Sementara itu Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah berada di rumah Mahendra. Dengan jelas mereka menguraikan maksud mereka untuk mengembara bersama Mahisa Bungalan, mencari daerah yang pernah mereka dengar dari ceritera-ceritera yang tersebar tentang orang berilmu hitam.
Mahendra mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak berkeberatan melepaskan Mahisa Bungalan pergi. Apalagi bersama kakang Witantra dan Mahisa Agni. Tetapi aku ingin berpesan kepada Mahisa Bungalan untuk sedikit mengekang diri.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Agaknya kau masih terlampau dikuasai oleh kemudaanmu. Memang tidak terlalu buruk untuk berbangga diri. Tetapi jika kemudian menjadi bentuk kesombongan, itu akan berbahaya bagimu.”
Mahisa Bungalan masih mengangguk-angguk.
“Nah jika demikian, kau tidak sewajarnya memperguna gelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Mahisa Bungalan terkejut Bahkan Witantra dan Mahisa Agnipun terkejut pula.
“Bukan maksudku memakai gelar itu ayah.“ jawab Ma hisa Bungalan.
“Jadi siapakah yang mengenakan gelar itu di belakang namamu?”
“Tentu bukan aku.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Namun Mahisa Agni lah yang kemudian bertanya, “Darimana kau dengar gelar itu Mahendra?”
“Hampir setiap orang sudah membicarakannya. Mahisa Bungalan, pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
“Jadi desas desus itu sudah kau dengar pula di padukuhan yang agak jauh dari Kota Raja ini?”
“Ya.”
“Itu bukan salah Mahisa Bungalan. Justru ada golongan tertentu yang akan membenturkan Mahisa Bungalan dengan mereka yang berilmu hitam itu.”
Mahendra mengerutkan keningnya.
Sementara itu Mahisa Agni pun berusaha menjelaskan kepada Mahendra tentang desas desus yang berkembang di Kota Raja.
Mahendra kemudian menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia berkata, “Jika demikian keadaan Mahisa Bungalan, kau memang harus benar-benar berhati-hati, sebab kau akan dapat menjadi sasaran dari kedua belah pihak.”
“Ya ayah.“ jawab Mahisa Bungalan.
“Tetapi aku percaya kepada kedua pamanmu, bahwa kau akan selalu mendapat perlindungannya, asal kau selalu menurut perintah dan nasehatnya. Kau jangan menuruti kesenanganmu sendiri dan mencoba-coba sesuatu yang dapat membahayakan jiwamu.”
“Baik ayah “ jawab Mahisa Bungalan dengan kepala tunduk.
Yang kemudian merengek-rengek agar diperbolehkan ikut dalam pengembaraan itu adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka yang merasa dirinya telah dewasa pula, ingin ikut dalam pengembaraan untuk mendapatkan pengalaman.
Tetapi Mahisa Agni berkata, “Jika kau berdua juga ikut pergi, siapakah yang akan membantu ayah di rumah. Mungkin ayah menghadapi pekerjaan yang banyak. Tetapi juga mungkin ayah menghadapi ancaman dari orang-orang yang tidak kalian kenal, karena orang-orang berilmu hitam itu mengetahui, bahwa Mahendra adalah ayah Mahisa Bungalan yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam di daerah bayangan hantu dan di Kota Raja. Kemudian datang sepuluh orang berilmu hitam. Nah, kalian berdua yang telah menjadi dewasa, wajib membantu ayah.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya, lalu, “Tentu bukan begitu. Paman tentu masih segan membawa kami berdua, karena kami masih akan menjadi beban paman.”
“Dan paman masih membayangkan masa kanak-anak kami. Merengek dan bahkan menangis karena lapar.“ sambung Mahisa Pukat.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Mungkin kedua-duanya. Karena kalian masih belum sepenuhnya dewasa, tetapi juga karena ayah memerlukan kalian di rumah.”
Wajah kedua anak-anak muda itu menjadi buram. Sementara Witantra pun berkata, “Pada suatu saat kalian akan pergi bersama kami. Seperti pesan Maharaja Wisnuwardhana dan Ratu Angabaya, bahwa kami harus kembali ke Kota Raja setiap kali. Dengan demikian maka perjalanan kami bukannya perjalanan pengembaraan yang panjang, tetapi terputus-putus.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kecewa tidak menyahut. Sekali-sekali ditatapnya wajah ayahnya yang kadang-kadang tegang, namun kadang-kadang membayangkan sebuah senyuman.
“Sudahlah Murti dan Pukat.“ berkata Mahendra kemudian, “Tinggallah di rumah untuk menyempurnakan ilmu kalian yang sebenarnya masih belum cukup kalian pergunakan sebagai bekal perjalanan. Aku tahu bahwa kedua pamanmu tidak mau menyakiti hatimu dengan mengatakan, bahwa kalian masih harus banyak belajar.”
“Ah sebenarnya bukan itu.“ potong Witantra, “Keduanya telah memiliki ilmu yang baik. Tetapi dibanding dengan medan yang akan ditempuh, maka sebaiknya kalian tinggal di rumah membantu ayah.”
Mahendra tertawa. Katanya, “Hanya nadanya saja yang berbeda.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memaksakan kehendaknya. Tetapi di dalam hati mereka berjanji kepada diri sendiri, bahwa mereka harus menjadi anak muda yang memiliki bekal cukup untuk melakukan pengembaraan serupa dengan kakaknya Mahisa Bungalan.
Ketika keduanya kemudian pergi ke ruang dalam, mereka saling berbincang, “Tetapi pada saat kami dianggap cukup memiliki bekal ilmu, mereka tidak pergi kemanapun juga. Semuanya sudah tenang, dan tidak ada persoalan apapun lagi.“ desis Mahisa Pukat.
“Kita dapat mengembara berdua. Setiap jaman kita tentu masih akan tetap memerangi kejahatan.“ sahut Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, seolah telah terbayang keduanya mengembara di sepanjang lembah dan ngarai, melawan setiap kejahatan, melindungi mereka yang lemah dan mengalami perlakuan yang tidak adil.
Sementara itu Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun segera mempersiapkan diri. Setelah mereka bermalam di rumah Mahendra, maka merekapun akan segera melanjutkan perjalanan mereka.
“Setiap kali, datanglah menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Campaka.“ berkata Mahisa Agni kepada Mahendra.
“Baiklah. Aku akan selalu datang menghadap.”
“Bawalah kedua anak-anakmu. Mungkin berbahaya bagi mereka di rumah tanpa kau, justru karena orang-orang berilmu hitam itu mengetahui bahwa Mahisa Bungalan adalah anak Mahendra.”
Demikianlah maka dengan kecewa Mahisa Murti dan Ma hisa Pukat melepaskan kakaknya pergi bersama Mahisa Agni dan Witantra. Namun untuk mengurangi perasaan kecewa itu, maka ayahnya berjanji untuk dalam waktu yang singkat memberikan kelengkapan ilmu kanuragan yang sudah dipelajarinya.
“Tinggal beberapa unsur gerak yang harus kau pelajari. Kemudian lengkaplah ilmu yang kalian terima. Soalnya kemudian adalah mematangkan ilmu itu dengan pengalaman.”
“Tentu sebuah perjalanan.“ sahut Mahisa Murti.
“Tidak selalu.“ jawab ayahnya, “Namun sebaiknya kalian dengan sungguh-sungguh memperdalam ilmu kalian.”
Seperti yang dijanjikan, maka dihari-hari kemudian, Mahendra lelah menempa kedua anaknya semakin tekun. Setiap saat ia berada di daerah yang terpisah dari tetangga-tetangganya untuk memberikan berbagai macam unsur gerak dari ilmunya yang masih harus dipelajari oleh kedua anaknya sebagai pelengkap ilmu yang sudah dimilikinya.
Ternyata bahwa kedua anaknya tidak mengecewakan. Mahendra yang pernah ikut membina Ranggawuni dan Mahisa Cempaka di masa mereka masih terlampau muda. telah melakukan yang serupa bagi anak-anaknya sendiri.
“Anak-anak itu pun harus menyerahkan pengabdian bagi sesama dan bagi Singasari sejauh dapat mereka lakukan.“ gumam Mahendra di dalam hatinya.
Karena itulah maka ia pun dengan sungguh-sungguh berusaha membuat anak-anaknya menjadi manusia yang berguna, lewat tempaan olah kanuragan yang tidak mengenal jemu. Apalagi kedua anaknya memang merupakan tempat penuangan ilmu yang sangat baik, sehingga seolah-olah apa yang diajarkannya, tidak pernah mengecewakannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang memiliki tetesan darah ayahnya didalam olah kanuragan. Betapapun beratnya latihan-latihan yang harus mereka lakukan, namun mereka sama sekali tidak mengeluh. Bahkan mereka merasa bahwa kemajuan mereka masih terlalu lamban. Mereka ingin meloncat maju sehingga mereka mendapat kesempatan seperti kakaknya, Mahisa Bungalan.
“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.“ berkata Mahendra ketika mereka sedang berlatih di pinggir hutan yang terlindung, “Agaknya ilmu yang aku wariskan kepadamu sudah hampir tuntas. Namun aku masih ingin memperkenalkan kepadamu, berbagai macam ilmu dengan ciri-cirinya yang khusus. Mungkin pada suatu ketika kau akan menjumpainya. Jika kau berdua sudah mengenal cirinya, maka kau dapat membuat pertimbangan-pertimbangan untuk menghadapinya.“ Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Selain itu, kau dapat memanfaatkan unsur-unsur gerak dari perguruan lain itu sebagai pelengkap dari unsur gerakmu sendiri, asalkan kau dapat menyusunnya sehingga luluh tanpa meninggalkan ciri-ciri perguruan kita.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Apapun yang baik dan bermanfaat bagi mereka berdua, akan mereka terima dengan senang hati.
Mahendrapun tidak lagi menunda-nunda ilmunya. Kedua anaknya yang muda itu agaknya sudah cukup mapan untuk menerima semua ilmu yang ada, meskipun tidak akan dengan sekaligus menjadi masak dan sempurna. Untuk menjadi matang, masih diperlukan jarak yang agak panjang, meskipun dengan berbagai usaha dapat dipercepat. Tetapi juga tidak terlalu tergesa-gesa.
Dengan demikian, maka disaat-saat berikutnya, di hari-hari dan dipekan-pekan mendatang, Mahendra telah memperkenalkan berbagai macam ilmu yang diketahuinya. Baik sebagai pengenalan sewajarnya maupun dalam rangka menjajagi penggunaan unsur-unsur gerak yang serasi dengan ilmunya sendiri.
“Kelak, jika pamanmu Mahisa Agni datang, ia akan dapat memberikan lebih banyak ciri-ciri perguruan Panawijen kepada kalian seperti yang diberikan kepada kakakmu Mahisa Bungalan. Bahkan pamanmu Mahisa Agni mengenal pula berbagai macam unsur gerak yang diperolehnya dari Empu Sada, dan bahkan dari ilmu yang paling kasar yang dimiliki oleh orang yang bersama Kebo Sindet. Di sebuah gundukan tanah terpencil di tengah-tengah rawa pamanmu Mahisa Agni pernah mempelajari dan mengetrapkan kemungkinan-kemungkinan dari luluhnya berbagai macam ilmu, sehingga akhirnya ia dapat mengalahkan penjahat yang paling ditakuti.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang merasa iri, bahwa seseorang mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai macam cabang ilmu kanuragan seperti Mahisa Agni. Namun setiap kali ayahnya berkata, “Kaupun akan mendapatkan kesempatan seperti pamanmu Mahisa Agni dan kakakmu Mahisa Bungalan. Pamanmu Mahisa Agni akan membimbingmu.”
Meskipun belum terjadi, namun rasa-rasanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah menjadi bangga atas kesempatan yang akan didapatinya itu.
Namun di samping olah kanuragan, Mahendra juga tidak hentinya memberikan bimbingan dalam olah kajiwan. Mahendra menginginkan anaknya memiliki jiwa pengabdian dan selebihnya adalah manusia yang baik dalam sikap dan tingkah laku.
“Kau harus mengabdi dengan penuh cinta kasih kepada dua sasaran utama.“ berkata Mahendra kepada anak-anaknya juga selalu dikatakannya kepada Mahisa Bungalan, “Yang pertama, kepada Yang Maha Agung, sumber dari segalanya. Kemudian, kau harus mengabdi dengan penuh cinta kasih pula kepada sesama.”
Kedua anak-anaknya yang muda itu selalu memperhatikan nasehat itu dengan saksama seperti kakaknya.
“Tetapi ingat.“ berkata Mahendra kepada kedua anak-anaknya itu, “Jangan menganggap bahwa olah kanuragan adalah akhir dari semuanya Di dunia ini, kadang-kadang olah kanuragan memang merupakan perisai yang baik bagi seseorang. Tetapi bahwa sikap yang lemah lembut dan budi yang luhur adalah sikap yang paling utama. Dengan kekerasan tidak semua persoalan dapat dipecahkan. Ada orang yang bersedia mati sebagai akibat ilmu yang dipelajarinya, sehingga dengan hati yang keras ia tidak mau tunduk kepada ilmu yang lain. meskipun ia harus mengingkari kenyataan. Tetapi dengan sikap yang lemah lembut dan budi yang luhur, kadang-kadang seseorang yang sama sekali tidak memiliki ilmu kekerasan dan kekasaran itu dapat menundukkan hati seorang yang lebih buas dari serigala lapar.”
Kedua anaknya mengangguk-angguk. Nasehat serupa itu merupakan bekal yang sangat berguna baginya dikemudian hari, karena betapapun juga, mereka akan dilontarkan oleh keadaan ke dalam lautan pergaulan yang luas. Sentuhan yang mungkin mempunyai banyak akibat diantara sesama dengan sifat, sikap dan watak yang berbeda-beda.
Dalam pada itu, keduanya pun dengan cepat menjadi semakin dewasa lahir dan batin. Sehingga pada suatu saat, ayahnya menganggap bahwa pelajaran yang dapat diberikannya sudah cukup lengkap.
“Tidak ada lagi yang dapat aku berikan kepada kalian berdua. Selebihnya kalian harus mencari sendiri. Di luasnya dunia ini, dan di dalam dirimu sendiri. Karena hubungan dunia yang luas ini dengan dunia di dalam dirimu adalah tali-temali dan tidak dapat diurai tanpa pendalaman yang tekun, dalam kedudukannya masing-masing.”
Bersambung..... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar