Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 05-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 05-03*

Karya.  : SH Mintardja

“Tetapi ia tidak akan dapat memimpin pemerintahan yang berisikan watak dan sifat yang beraneka ragam dari manusia-manusianya.” berkata seorang perwira kepada kawannya.

“Ia akan menekan dadanya, dan mengendapkan kesalahan setiap orang di dalam hatinya. Ia akan melihat kepada dirinya sendiri, kenapa orang lain telah melakukan kesalahan. Dan dicarinya sebab kesalahan orang lain itu di dalam dirinya.” sahut kawannya.

Namun perintah itu telah mereka dengar. Mereka tidak akan melakukan kekerasan dalam bentuk apapun, selain sekedar menampakkan diri di alun-alun Kediri.

“Kami bukannya prajurit-prajurit yang bersenjata telanjang. Tetapi kami adalah penari-penari yang harus mempertunjukkan tari perang dengan senjata di dalam sarungnya.” desis seorang perwira muda yang berjambang hampir sepenuh wajahnya.

Senapati itu mengerti, kenapa para perwira di bawah pimpinannya itu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat melanggar perintah Mahisa Agni. Yang dilakukan kemudian adalah berusaha untuk meyakinkan mereka agar mereka tidak berbuat di luar pengawasannya.

Namun agaknya Tohjaya tidak segera teringat untuk memberikan perintah atau memanggil Mahisa Agni. Baru pada hari yang ketiga ia berbicara tentang pemerintahan Singasari yang ada di Kediri.

“Mahisa Agni harus dipanggil.” berkata seorang Panglima yang merasa dirinya ikut berkuasa.

“Siapakah yang akan pergi memanggil Pamanda Mahisa Agni.” bertanya Tohjaya.

“Sekelompok perwira tertinggi.” berkata Panglima itu, “Mahisa Agni adalah orang yang paling berbahaya.”

“Apa yang akan kita lakukan atasnya? Menangkapnya?”

“Tuanku.” berkata Panglima itu, “kita tidak akan dapat membiarkan Mahisa Agni berkeliaran. Ia adalah orang yang paling dekat dengan tuanku Anusapati. Kematian tuanku Anusapati tentu akan menumbuhkan dendam di dalam hatinya. Dan dendam itu akan sangat berbahaya bagi Singasari.”

“Jadi menurut pertimbanganmu Mahisa Agni harus ditangkap?”

“Dilenyapkan. Ia merupakan duri di dalam pemerintahan tuanku sekarang.”

“Apakah ia tidak mempunyai kekuatan?”

“Kita lihat. Kita akan mengirimkan beberapa orang perwira tertinggi untuk memanggil Mahisa Agni. Tetapi juga mengadakan pertemuan dengan Senapati yang ada di Kediri.”

“Senapati itu tentu berada di bawah pengaruh Mahisa Agni.”

“Kita dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Singasari sepenuhnya telah kita kuasai. Karena itu tidak akan ada gunanya untuk melawan.”

“Baiklah. Jika demikian, maka kau sajalah yang akan berangkat menemui pamanda Mahisa Agni dan membawanya kembali ke Singasari. Kau jugalah yang mendapat limpahan kekuasaanku untuk menemui Senapati itu.”

Tiba-tiba wajah Panglima itu menegang. Katanya, “Kenapa harus hamba tuanku. Bukankah tugas hamba masih terlampau banyak. Hamba harus melindungi tuanku dan mengamankan seluruh Singasari.”

Tohjaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Jadi siapa menurut pertimbanganmu?”

“Panglima Pelayan Dalam yang baru itu.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling memandang Panglima yang baru, menggantikan Panglima yang terbunuh oleh Kuda Sempana, dilihatnya wajah Panglima itu menjadi pucat.

Sejenak Tohjaya memandanginya. Tetapi agaknya ia dibayangi oleh keragu-raguan untuk memberikan perintah kepadanya. Panglima itu baru saja diangkatnya. Dengan demikian maka Tohjaya belum mengenal dengan pasti kemampuannya menjalankan tugasnya sebagai seorang Panglima.

Namun demikian, agaknya pantas juga tugas itu diberikan kepadanya sebagai ujian di dalam jabatannya yang baru.

Sejenak Tohjaya termangu-mangu. Dipandanginya Panglima Pelayan Dalam itu sejenak. Kemudian dipandanginya pula beberapa orang perwira tertinggi yang lain, yang sudah dikenalnya pula sebagai perwira yang baik dan setia kepadanya.

Karena itu, maka Tohjaya pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan memerintahkan beberapa orang perwira tertinggi di Singasari yang akan dipimpin oleh Panglima Pelayan Dalam yang baru aku angkat.”

Panglima itu menarik nafas dalam-dalam. Betapa kecut hatinya, namun ia tidak ingin segera terusir dari jabatannya yang baru saja diterimanya. Karena itu, dengan menyembunyikan debar di dadanya ia menyahut. “Ampun tuanku. Hamba tentu akan menjalankan tugas yang manapun yang dibebankan kepada hamba. Jangankan pergi ke Kediri sekedar memanggil tuanku Mahisa Agni atau menangkapnya. Bahkan menjadikan Kediri lautan api, hamba tidak akan ingkar.”

“Tentu tidak. Kediri kini merupakan bagian dari Singasari.” sahut Tohjaya, lalu, “tugasmu hanyalah memanggil pamanda Mahisa Agni dan membawanya menghadap kepadaku. Jika ia menolak, terserahlah kepadamu. Kau aku beri wewenang mempergunakan seluruh pasukan Singasari yang berada di Kediri dan sekitarnya.”

Panglima itu mengerutkan keningnya.

“Kau dapat membawa panji-panji dengan tunggul kerajaan. Kau merupakan wakil yang mendapat limpahan kekuasaan dari Maharaja di Kediri.”

Tiba-tiba saja Panglima itu membusungkan dadanya. Ia akan menerima panji-panji dan tunggul kerajaan sebagai bukti limpahan kekuasaan yang tidak terbatas. Karena itu maka katanya dengan nada bergetar. “Ampun tuanku. Adalah suatu kebanggaan yang tiada taranya, bahwa hamba diperkenankan untuk membawa panji-panji dan tunggul kerajaan. Hamba akan melakukan tugas hamba sebaik-baiknya. Hamba akan membawa tuanku Mahisa Agni menghadap.”

“Adalah wewenangmu. Kau harus membawanya hidup atau mati.”

“Hamba tuanku.”

“Tentu ia sudah mendengar tentang peristiwa di istana ini. Mungkin ia justru sudah menyiapkan pasukan. Tetapi panji-panji dan tunggul kerajaan itu akan menundukkan setiap hati dari prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri.” Tohjaya berhenti sejenak, lalu, “meskipun demikian, sebaiknya kalian mengirimkan satu dua orang yang akan memasuki kota lebih dahulu. Jika kota itu tidak dikelilingi oleh sebuah pertahanan yang kuat, maka kalian akan aman memasukinya.”

Demikianlah maka Panglima Pelayan Dalam diantar oleh beberapa perwira tinggi dan sepasukan pengawal segera mempersiapkan diri. Ketika matahari terbit dipagi berikutnya, maka mereka pun segera berangkat ke Kediri.

Di sepanjang jalan, prajurit-prajurit Singasari itu selalu dibayangi oleh berbagai macam perasaan. Kadang-kadang mereka berbangga melihat panji-panji dan tunggul kerajaan. Namun kadang-kadang mereka menjadi cemas, justru karena mereka mengetahui, siapakah Mahisa Agni itu.

“Tentu prajurit Singasari di Kediri sudah dipengaruhinya.”

“Aku belum yakin.” berkata Panglima Pelayan Dalam itu, “aku akan berbicara dengan Senapati tertingginya.”

Perwira-perwira yang lainpun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun menurut perhitungan mereka, kekuatan di Kediri memang tidak akan berani menentang Singasari.

Meskipun demikian sepercik kecemasan masih melekat pula di dalam hati para prajurit itu. Yang diperhitungkan sampai saat terakhir adalah kekuatan yang dapat dilihat di Singasari dan sekitarnya. Tetapi Singasari seluruhnya bukannya kota Singasari yang sekedar mengelilingi benteng istana.

“Mahisa Agni tidak akan berani berbuat apapun juga.” berkata Panglima itu sambil tersenyum, “sejak dipaseban sebenarnya aku sudah mempunyai gagasan yang tidak akan salah. Bukankah di halaman istana masih ada tuan puteri Ken Dedes dan beberapa orang putera dan puterinya? Nah, apakah yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni jika tuan Puteri Ken Dedes ada di bawah kekuasaan kami?”

Para perwira yang lain mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian merekapun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Kau benar. Ken Dedes dan putera-puteranya akan memudahkan usaha kita menangkap dan membawa Mahisa Agni menghadap Tuanku Tohjaya.”

Panglima Pelayan Dalam itupun kemudian menjadi yakin bahwa ia akan berhasil. Namun demikian ia masih tetap berhati-hati. Ia tidak segera membawa pasukannya masuk kota Kediri. Tetapi ia berhenti dalam jarak yang cukup dan mengirimkan dua orang petugas sandinya untuk melihat Kediri dari dekat.

“Cepat kembali. Jika kau tidak segera kembali, aku akan mengambil kesimpulan bahwa kau tertangkap, dan aku akan mengambil sikap khusus.” berkata Panglima itu, “aku tunggu sampai bintang gubug penceng tepat berada di atas ujung Selatan.”

Kedua orang prajurit sandi itu mendengarkan perintah Panglima Pelayan Dalam yang baru saja diangkat itu dengan saksama. Kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Kami akan melakukan tegas kami sebaik-baiknya. Sebelum bintang gubug penceng tepat berada di atas ujung Selatan, aku berdua tentu sudah kembali.”

“Cepat. Lakukanlah tugasmu baik-baik.”

Kedua orang itupun kemudian mendekati kota Kediri tanpa membawa kuda sama sekali. Mereka merayap dengan hati-hati mendekati regol kota. Namun agaknya regol itu nampak sepi. Yang bertugas tidak lebih dari beberapa orang prajurit seperti hari-hari yang lewat tanpa ada kesan bahwa telah terjadi perubahan dalam tata pemerintahan.

“Berapa orang?”

“Tidak lebih dari enam orang.”

Keduanya merayap semakin dekat. Dibawah lampu minyak yang redup mereka melihat dua orang berdiri sebelah menyebelah regol sedang empat orang yang lain berada di dalam gardu. Dua diantara mereka duduk bersandar tiang terkantuk-terkantuk. Agaknya mereka mendapat kesempatan lebih dahulu untuk tidur, meskipun hanya sekedar sambil bersandar.

“Kita masuk ke dalam.”

“Lewat regol?”

“Tidak. Kita akan terlampau banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.”

“Jadi?”

“Kita meloncati dinding batu.”

Keduanya pun kemudian bergeser menjauhi regol. Dengan hati-hati mereka merayap semakin maju. Di tempat yang gelap dan dibayangi oleh rimbunnya batang-batang perdu, maka keduanya pun kemudian meloncat ke atas dinding yang cukup tinggi.

Ternyata bahwa tidak seorang pun yang melihat mereka. Dengan leluasa mereka dapat menjelajahi daerah di sebelah dinding batu itu. Bahkan lewat lorong-lorong yang sempit dan gelap mereka berhasil melihat beberapa bagian dari Kota Kediri.

“Tidak ada persiapan apapun juga.” desis salah seorang dari mereka.

“Ya. Di dekat istana itu pun tidak banyak prajurit yang berjaga-jaga.”

“Bagaimana dengan Istana Mahisa Agni?”

Keduanya pun berhasil mendekati Istana Mahisa Agni.

Ternyata yang mereka lihat adalah keadaan seperti biasanya. Mereka tidak melihat kesibukan apapun juga. Obor yang terpancang di muka regol pun adalah obor yang redup, seperti yang dipasang sehari-hari.

Untuk beberapa lamanya mereka mengawasi regol itu. Karena tidak ada sesuatu yang menarik perhatian, maka salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kau yakin bahwa Mahisa Agni memiliki kemampuan yang sempurna seperti tuanku Sri Rajasa semasa hidupnya?”

“Mungkin sekali.” jawab yang lain.

“Aku kurang yakin.”

“Maksudmu?”

“Memang ia memiliki kelebihan, tetapi tidak lebih dari para Panglima kita.”

“Mungkin.”

Kawannya terdiam sejenak, namun tiba-tiba, “Aku ingin melihat keadaan di dalam halaman istananya.”

“Ah, jangan mencari perkara.”

“Kau takut?”

“Bukan takut. Tetapi kita sedang mengemban tugas. Jangan melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Mungkin akan dapat mendapatkan bencana.”

Kawannya tidak menyahut. Namun ia mengerti keberatannya sehingga karena itu, maka ia pun tidak memaksanya.

Dengan demikian, maka ketika mereka sudah yakin, bahwa Kediri sama sekali tidak menyiapkan pasukan untuk melawan kekuatan Tohjaya, maka kedua petugas itu pun segera kembali kepada induk pasukan kecilnya untuk melaporkan kepada Panglimanya.

Dalam pada itu, selagi para prajurit Singasari mempunyai kepastian bahwa Kediri akan dapat dengan mudah dikuasai, maka pada saat itu Mahasi Agni masih duduk dengan gelisah di dalam biliknya.

Meskipun ia berhasil menguasai perasaannya dengan nalar, karena ia seorang Senapati Besar yang mengabdikan dirinya semata bagi Singasari, namun sebagai manusia ia tidak segera dapat melepaskan diri dari goncangan perasaan. Beberapa malam, Mahisa Agni digelitik oleh perasaan yang rasa-rasanya justru semakin membara. Kematian Anusapati benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat diterimanya. Namun setiap kali jantung membara, maka mulailah membayang Singasari yang menjadi karang abang. Perempuan menangis melolong-melolong dan anak-anak berteriak memanggil nama ibu dan ayahnya. Perawan-perawan meratap kehilangan kekasih dan perempuan akan menjadi janda. Kematian akan berkuasa di seluruh kota Singasari. Darah akan membasahi jalan-jalan kota dan mayat bagaikan ditebarkan di sepanjang lorong.

“Perang selalu mengerikan.” berkata Mahisa Agni. Terbayang kematian yang saling susul menyusul. Kematian Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Sri Rajasa, Pangalasan Batil, disusul oleh Anusapati dan Kuda Sempana.

Meskipun Mahisa Agni tidak mendengar, tetapi rasa-rasanya ia yakin bahwa Empu Gandring tentu pernah melepaskan kutuk bagi Ken Arok yang membunuhnya.

Betapapun baik hati Empu Gandring tetapi mengalami perlakuan yang sama sekali tidak adil dari Ken Arok, maka Empu Gandring tentu tidak dapat menerimanya begitu saja. Apalagi ia tidak sempat berpikir dengan nalar, sehingga ia idak sempat memaafkan kesalahan Ken Arok.

“Meskipun tidak terucapkan, tetapi goncangan hatinya akan tercermin pada keris buatannya yang menuntut kematian demi kematian.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Apalagi ketika teringat olehnya kemarahan Empu Purwa ketika anak gadisnya yang bernama Ken Dedes itu hilang. Ia tanpa dapat mengendalikan dirinya telah memecahkan bendungan dan mengeringkan Panawijen sehingga harus dibuat sebuah padukuhan baru di padang Karautan. Kemudian betapa hatinya melonjak ternyata di dalam kutuknya, siapa yang ikut serta melarikan anak gadisnya, akan mati tertusuk keris.

“Kutuk dati dua orang Empu yang memiliki pancaran nurani yang tajam.” berkata Mahisa Agni di dalam hati. Dan kini ia melihat beberapa orang yang terlibat di dalam usaha untuk melarikan itu seorang demi seorang telah terbunuh. Tunggul Ametung, Kuda Sempana, dan Ken Arok yang meskipun pada waktu itu ia tidak lebih dari seorang prajurit yang belum tahu apa-apa, yang hanya sekedar mengikuti perintah Akuwu Tunggul Ametung. Sedang Witantra yang saat itu menyatakan tidak ikut campur dengan usaha penculikan itu, masih tetap selamat sampai hari tuanya.

“Jika dendam ini masih harus dinyalakan di dalam hati, maka Singasari tidak akan sempat mengemasi dirinya. Singasari tentu akan disibukkan saja oleh dendam yang tiada henti-hentinya.” berkata Mahisa Agni kepada dirinya sendiri.

Karena itulah, maka Mahisa Agni masih tetap berusaha mengekang diri, agar tidak terbakar oleh dendam di dalam dadanya. Ia sadar bahwa ia adalah seorang manusia biasa, manusia yang lemah hati. Meskipun kini ia berhasil menguasai perasaannya, namun Mahisa Agni sendiri sadar, bahwa hati yang goyah masih mungkin saja berubah pendirian jika ada sesuatu rangsangan yang tajam menyentuh perasaannya.

Namun Mahisa Agni masih selalu berusaha.

Ketika matahari di atas Singasari terbit di pagi berikutnya, maka pasukan kecil Singasari yang dipimpin oleh Panglima Pelayan Dalam yang baru itupun telah berkemas untuk memasuki kota Kediri.

Agar tidak menimbulkan kegelisahan, maka pasukan itu pun sama sekali tidak menunjukkan sikap yang garang. Meskipun mereka membawa tanda-tanda limpahan kekuasaan dari Maharaja Singasari, namun mereka mendekati kota dengan sikap yang tenang dan tidak tergesa-gesa.

Namun demikian, kehadiran mereka di pintu gerbang kota benar-benar telah menarik perhatian. Apalagi berita tentang kematian Anusapati benar-benar telah tersebar di seluruh pelosok kota. Sedangkan sebab kematian itu masih merupakan desas-desus yang bersimpang siur.

“Utusan tuanku Tohjaya, yang kini untuk sementara memegang kendali pemerintahan.” berkata seseorang yang berdiri di pinggir jalan menyaksikan iring-iringan itu memasuki kota.

“Tunggul Kerajaan.” berkata yang lain, “tentu ada perintah bagi tuanku Mahisa Agni di sini atas nama pimpinan tertinggi dari Kerajaan Singasari.”

Orang-orang yang menyaksikan tunggul dan panji-panji itu membuat penilaian sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Namun pada umumnya mereka menduga, bahwa akan jatuh perintah yang penting bagi Mahisa Agni dari Maharaja Singasari yang baru.

“Tuanku Mahisa Agni dekat sekali dengan tuanku Anusapati yang terbunuh itu.” berkata seseorang yang berjanggut putih.

“Ya. Mungkin tuanku Mahisa Agni akan ditarik dan diganti oleh orang lain yang dianggap lebih sesuai bagi Kediri.”

“Bukan bagi Kediri, tetapi yang dapat menyalurkan keinginan tuanku Tohjaya di Kediri.”

“Begitulah. Ya, begitu.”

Betapapun Panglima Pelayan Dalam itu berusaha, namun ternyata masih saja menumbuhkan kegelisahan dikalangan rakyat Kediri. Bahkan ketika berita itu sampai ke telinga para bangsawan yang masih mempunyai kekuasaan yang betapapun kecilnya, telah menumbuhkan dugaan yang bermacam-macam. Bagi mereka Mahisa Agni adalah orang yang paling baik karena Mahisa Agni dapat mengerti setiap keinginan mereka, meskipun tidak selalu terpenuhi. Namun bagi orang-orang dan para bangsawan Kediri, apa yang dilakukan Mahisa Agni adalah yang paling jauh dapat mereka jangkau.

“Apakah akan ada kemungkinan orang lain yang akan dikuasakan di Kediri?” desis para bangsawan.

Demikianlah maka pasukan kecil itupun kemudian berhenti di depan gerbang di dalam kota. Panglima yang memimpin pasukan itu memerintahkan dua orang mendahului dan menghadap Mahisa Agni untuk menyampaikan dengan resmi, bahwa utusan kerajaan dengan tanda-tanda kebesaran dan panji-panji serta tunggul kerajaan telah datang untuk menemui Mahisa Agni sebagai wakil pemerintah Singasari di Kediri sebelum utusan itu akan menguraikan dengan resmi sebab-sebab kematian Anusapati kepada para Senapati dan para bangsawan yang masih mempunyai jalur pemerintahan terhadap lingkungan keluarga mereka sendiri.

“Aku akan menerima dengan senang hati.” berkata Mahisa Agni yang memang sudah mengharap utusan itu datang di Kediri.

Kedua utusan itupun segera menyampaikan kepada Panglima Pelayan Dalam yang memimpin pasukan Singasari itu, bahwa Mahisa Agni sudah siap untuk menerimanya.

“Aku datang dengan tanda-tanda kebesaran.” berkata Panglima itu kepada anak buahnya, “dengan demikian maka aku datang seperti tuanku Tohjaya sendiri yang datang di Kediri.”

Para prajurit yang ada di dalam pasukannya menjadi semakin mantap, bahwa mereka telah mendapat kepercayaan ikut di dalam pasukan yang membawa kekuasaan tertinggi, seperti kekuasaan Maharaja Singasari itu sendiri.

Di istananya, Mahisa Agni pun segera mempesiapkan diri untuk menerima kedatangan utusan dari Singasari yang membawa amanat dari Maharaya Singasari yang baru itu.

Namun ternyata bahwa panji-panji dan tunggul kerajaan itu telah membuat Panglima yang baru itu merasa dirinya terlampau besar. Seakan-akan ia sendirilah yang telah menjadi Maharaja di Singasari.

Ketika Panglima itu memasuki istana Mahisa Agni, maka ia sama sekali tidak mau turun dari kudanya sebelum kudanya itu berhenti di depan tangga pendapa. Bahkan pasukannya pun mengikutinya pula di belakangnya.

Mahisa Agni menunggu di pendapa bersama beberapa orang Senapati yang telah dipanggilnya menahan gejolak perasaan yang bagaikan menghentak-hentak dada. Namun agaknya mereka tidak ingin membuat suasana menjadi bertambah keruh.

Ketika Panglima itu sudah meloncat turun dari kudanya, maka Mahisa Agnipun segera menyambutnya dan mempersilahkan mereka naik kependapa. Di pendapa telah tersedia beberapa buah tempat duduk dari batu yang paling keras berwarna kehitam-hitaman yang terukir lembut, dialasi dengan kulit rusa yang berwarna coklat kemerah-merahan. Sedang di sekitarnya terbentang tikar pandan putih yang tebal dengan hiasan berwarna hitam di sudut-sudutnya.

“Silahkanlah.” berkata Mahisa Agni mempersilahkan tamunya, “kami di Kediri menyambut kedatangan kalian dengan penuh gairah. Sudah lama kami tidak menerima kedatangan utusan dari Singasari.”

“Baru beberapa hari ini kami sempat mengingat kedudukan Singasari di Kediri.” jawab Panglima itu, “dan baru setelah aku menjabat kedudukanku sekarang, semua persoalan Singasari mulai dilihat satu demi satu dengan saksama.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Menarik sekali. Tentu seluruh rakyat Singasari mengharapkan hasil dari perubahan yang telah terjadi dalam pimpinan pemerintahan di Singasari.”

Panglima itu tertawa. Perlahan-lahan ia naik kependapa dan duduk di atas sebuah batu berukir yang besar di tengah-tengah pendapa itu. Sedang seorang Senapati duduk di sampingnya sambil memegangi panji-panji yang terikat pada tunggul kerajaan sebagai lambang kekuasaan yang dibawa oleh Panglima itu.

Sejenak Mahisa Agni sempat menanyakan keselamatan pasukan itu dan sedikit tentang keselamatan para pemimpin di Singasari.

Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut, tentang kepentingan kunjungan Panglima itu ke Kediri, maka Panglima Pelayan Dalam yang baru itu sudah mendahului “Kami datang dengan menjunjung perintah tuanku Tohjaya bagi Senapati Agung Mahisa Agni.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi di luar dugaannya, seorang Senapati yang tidak dapat menahan hati melihat sikap Panglima itu menyahut hampir di luar sadarnya. “Dan wakil Sri Maharaja di Singasari bagi Kediri.”

Panglima itu berpaling. Dilihatnya seorang Senapati yang masih muda memandanginya dengan tajamnya.

“O, ya.” berkata Panglima itu, “Senapati Agung dan yang dikuasakan oleh pimpinan pemerintah Singasari di Kediri.”

“Ya.” Senapati muda itu masih menyahut lagi.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dikedipkannya matanya untuk memberi isyarat kepada Senapati muda itu agar berusaha mengendalikan perasaannya.

“Bagus.” berkata Panglima Pelayan Dalam itu, “aku memang berhadapan dengan penguasa Singasari atas Kediri. Dan akupun mendapat perintah dari Maharaja Singasari bagi Mahisa Agni. Bukan sekedar sebuah kunjungan biasa dari seorang utusan, tetapi aku membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.”

“Dan karena itu, aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas.”

“Aku sudah mengerti. Tetapi yang tidak terbatas itu pun tentu ada batasnya. Kau hanya mendapat limpahan kekuasaan Maharaja di Singasari. Bukan kaulah Maharaja di Singasari itu.”

Panglima itu merenung sejenak. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya, dilihatnya beberapa orang Senapati tertinggi dari Singasari yang berada di Kediri memandanginya dengan tajamnya, sehingga Panglima itu pun kemudian menyadari, bahwa ia tidak dapat mengabaikan mereka di dalam setiap tindakannya di Kediri. Karena itu maka Panglima itupun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau benar Mahisa Agni. Tetapi bahwa aku sekarang berada dalam kedudukan tertinggi harus kau ketahui.”

“Aku mengerti. Dan aku menerima kau dalam kedudukanmu sekarang.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu, beberapa orang Senapati Singasari yang bertugas di Kediri menjadi panas. Meskipun mereka berusaha untuk menahan diri, namun tampak juga kegelisahan membayang di wajah mereka. Kebanyakan dari para Senapati itu mengenal, siapakah yang telah diangkat menjadi Panglima Pelayan Dalam, dan yang sekaligus mendapat kepercayaan tertinggi dari Tohjaya itu.

Tetapi karena Mahisa Agni masih tetap bersikap tenang, para Senapatipun tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan persoalan.

Sejenak kemudian maka Panglima itupun berkata, “Mahisa Agni. Kedatanganku kali ini membawa berita yang penting bagimu dan bagi para Senapati. Di dalam kesempatan berikutnya aku ingin bertemu dengan para Senapati dan pemimpin prajurit Singasari dalam jumlah yang lebih besar. Aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi.”

“Katakanlah. Aku dapat menyambung berita yang kau bawa dan menyampaikan kepada para Senapati dan prajurit.”

“Aku akan bertemu dengan mereka sendiri.”

“Apakah akan ada gunanya ?”

“Tentu.” jawab Panglima itu, “ingat, aku adalah Panglima yang mendapat limpahan kekuasaan tertinggi.”

“Jangan kau ulang-ulang. Aku sudah mengerti. Tetapi kaupun harus menyadari, bahwa kekuasaanmu yang tidak terbatas di dalam batas-batasnya itu, hanya berlaku untuk beberapa hari. Jika lusa kau kembali ke Singasari dan menyerahkan panji-panji dan tunggul kerajaan itu, kau tidak lebih dari seorang Panglima Pelayan Dalam. Sedang aku tanpa atau dengan panj dan tunggul kerajaan adalah penguasa dan wakil raja di Kediri.” sahut Mahisa Agni.

Panglima itu menjadi tegang sejenak. Namun ia menjawab, “Biarlah apa yang akan terjadi lusa. Tetapi sekarang kekuasaanku ada di atas kekuasaanmu. Di Singasari dan di Kediri, karena aku membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia keberatan membawa Panglima itu di hadapan Senapati yang lebih luas lagi dari Senapati tertinggi di Kediri. Jika mereka kehilangan kendali karena sikap Panglima yang tidak menarik sama sekali itu, maka keadaan akan menjadi kisruh, dan bahkan mungkin akan timbul akibat yang tidak menyenangkan. Bukan saja bagi Panglima itu, tetapi juga bagi Singasari.

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat menolak keinginan itu agar tidak timbul salah paham. Jika ia tetap menolak, maka Panglima itu akan menganggap bahwa ia takut kehilangan pengaruh di Kediri karena kedatangan Panglima itu.

“Aku minta kau dapat menyiapkan pertemuan itu secepatnya Mahisa Agni.” perintah Panglima itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika sekilas terpandang olehnya wajah para Senapati, maka rasa-rasan Mahisa Agni tidak akan sanggup mengendalikannya apabila terjadi pertemuan yang lebih besar lagi.

Namun demikian Mahisa Agni terpaksa mejalankan perintah itu, yang bernilai seperti perintah Maharaja di Singasari itu sendiri.

“Kapan pertemuan yang agak lebih besar dari pertemuan ini harus aku adakan?” bertanya Mahisa Agni.

“Secepatnya.”

“Ya, secepatnya. Tetapi kapan. Sekarang, atau nanti sore atau besok pagi? Cepat yang kau maksudkan tergantu sekali pada rencanamu berapa hari kau akan tinggal di Kediri.”

Panglima itu merenung sejenak, lalu, “Sore nanti. Mereka harus datang ke pendapa ini sebelum matahari menjadi kemerahan menjelang senja. Kita akan banyak berbicara, sehingga pertemuan itu akan berlangsung cukup lama.”

“Baiklah. Kami akan menyelenggarakannya.”

“Dan sebelumnya, sebaiknya kau mendengar lebih dahulu apa yang akan aku sampaikan kepada mereka.”

“Aku tidak berkeberatan.” jawab Mahisa Agni.

“Berkeberatan atau tidak berkeberatan, ini adalah kuwajibanmu.”

Terasa telinga Mahisa Agni menjadi panas. Tetapi ia tetap duduk dengan tenang di tempatnya.

“Nah, perintahkan kepada Senapatimu untuk memanggil Senapati-senapati bawahan mereka, dan para pemimpin prajurit yang lain.”

“Nanti akan aku perintahkan. Tetapi sebaiknya sekarang kau berbicara tentang keadaan di Singasari yang terakhir agar kami tidak selalu dibingungkan oleh berita-berita yang belum pasti kebenarannya.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya prajurit yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan itu sejenak, lalu katanya, “Baiklah. Atas nama Maharaja di Singasari tuanku Tohjaya, aku memberitahukan bahwa di Singasari telah terjadi perubahan pimpinan pemerintahan.”

Tidak seorangpun yang menyahut.

Panglima itupun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi di halaman istana, di arena sabung ayam.

“Yang mula-mula terjadi adalah sebuah kerusuhan kecil. Seorang Panglima dari Singasari telah terbunuh oleh seorang bekas Pelayan Dalam semasa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Agaknya hal itu menumbuhkan kemarahan pada para prajurit dan terlebih-lebih lagi Pelayan Dalam. Kerusuhan tidak dapat dicegah lagi, dan di luar kemampuan para pengawal maka tuanku Anusapati pun terbunuh oleh kebencian yang sudah terlalu lama tersimpan di hati rakyat.”

Yang mendengar keterangan Panglima itu mengerutkan keningnya. Berita serupa itulah yang tersiar di seluruh Singasari. Dan agaknya bahwa memang berita itulah yang disebarkan oleh Tohjaya dan orang-orangnya yang dipercayainya.

Beberapa saat Panglima Pelayan Dalam yang baru itu terdiam, sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Bagaimana kelanjutan dari keteranganmu itu?”

“Untuk kali ini aku tidak akan memberikan keterangan lebih dari itu.”

“Kami menunggu penjelasan. Bagaimana peristiwa itu terjadi. Dimana saat itu tuanku Anusapati berada. Dimana terjadinya kerusuhan itu dan bagaimana dengan keluarga istana yang lain lain.”

“Sudah aku katakan. Aku tidak akan memberikan keterangan lebih dari itu. Nanti sore aku akan menjelaskan persoalannya.”

“Kau belum memberikan gambaran yang jelas bagi kami.” desis Mahisa Agni.

“Memang. Tidak itu pun tidak mengapa. Sore nanti aku akan memberikan keterangan sejelas- jelasnya.”

Mahisa Agni tidak mendesaknya lagi. Katanya, “Baiklah. Berita itu sudah cukup bagi kami sekarang. Bahkan jika kau memberi penjelasan semakin panjang, semakin banyak pertanyaan akan timbul di hati kami.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak apa.”

“Tentu ada maksud tersembunyi pada kata-katamu.” Pelayan Dalam itulah yang mendesak.

“Persoalannya akan jelas jika aku sudah mendengar semua keterangan yang terperinci.” jawab Mahisa Agni.

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Namun iapun menjawab, “Baik. Semua persoalan akan menjadi jelas nanti sore. Sebelum para Senapati mendengar keterangan langsung daripadaku, mereka tidak boleh mendengar keterangan ini dari orang lain agar tidak terjadi salah paham. Jika aku menjelaskannya sekarang, maka setiap orang akan berusaha memberikan penjelasan menurut tanggapannya masing. Dan ini tidak boleh terjadi.”

Demikianlah maka pertemuan itupun berakhir. Mahisa Agni menyediakan ruang yang khusus bagi Pelayan Dalam yang mendapat limpahan kekuasaan Maharaja Kediri itu di dalam istananya, di sebelah biliknya sendiri. Sedang para pengikutnya ditempatkannya di gandok sebelah menyebelah, dipisahkan oleh sebuah longkangan kecil. Namun dalam pada itu dua orang pengawal Pelayan Dalam itu selalu berada di ruang dalam, berjaga-jaga di depan bilik Panglimanya.

Sementara itu Witantra pun masih tetap berada di istana. Namun ia berada di bilik belakang, sebuah bilik yang tersekat dari ruang dalam, yang disediakan bagi tamu-tamu yang kurang penting bagi jabatan Mahisa Agni. Namun Witantra, bukan karena ia kurang penting bagi Mahisa Agni, tetapi Witantra memang harus terpisah dari tamu-tamu yang datang dari Singasari itu. Tetapi dalam saat-saat tertentu Witantra dapat menemuinya tanpa menumbuhkan kecurigaan bagi tamu-tamunya dari Singasari.

Diluar pengetahuan Mahisa Agni, Panglima Pelayan Dalam itu telah memerintahkan beberapa orang perajuritnya untuk mengamati keadaan di Kediri. Apakah dalam waktu yang singkat itu Mahisa Agni telah mengadakan persiapan yang dapat membahayakan kedudukannya.

Tetapi ternyata Kediri tetap sepi. Tidak ada kesibukan pasukan sama sekali. Meskipun Mahisa Agni telah memerintahkan beberapa orang Senapati menghubungi kawan-kawannya dalam lingkungan yang lebih luas, namun kesibukan itu terbatas sekali pada para perwira saja.

“Mahisa Agni agaknya sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu, apalagi yang bersifat menentang kekuasaan pimpinan pemerintahan yang baru.” berkata salah seorang prajurit.

“Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” sahut yang lain.

“Seandainya demikian, seandainya ia mengerti bahwa tuanku Anusapati telah dibunuh oleh tuanku Tohjaya, namun Mahisa Agni harus mengingat, bahwa karma telah berlaku. Menurut dugaan beberapa orang, tuanku Anusapati pun telah membunuh tuanku Sri Rajasa dan merahasiakan pembunuhan itu. Bukankah berita yang tersiar, seorang Pangalasan telah membunuh tuanku Sri Rajasa dan kemudian dibunuh oleh tuanku Anusapati? Dan berita itupun tentu bukan berita yang sebenarnya.”

“Dan sekarang karma itu berlaku. Apakah dengan demikian akan terjadi bunuh membunuh tidak hentinya? Dan apakah dengan demikian seumur kita tidak akan mengalami masa tenang di Singasari?”

Prajurit yang lain tidak menyahut. Namun katanya kemudian, “Kita laporkan kepada Panglima bahwa tidak ada persiapan apapun di Kediri.”

Tetapi sebenarnyalah para prajurit yang menyamar sebagai rakyat biasa itu tidak melihat bahwa setiap prajurit justru telah bersiap di dalam barak masing-masing. Mereka seakan-akan tetap tenang, namun mereka selalu siap untuk berbuat sesuatu apabila diperlukan, karena persiapan yang diam itu justru sudah dimulai sejak Panglima dari Singasari itu belum datang di Kediri. Tetapi seperti yang dimaksud oleh Mahisa Agni, persiapan itu memang bukan suatu persiapan untuk perang, meskipun seandainya perang itu pecah, maka mereka tidak akan mengecewakan.

Ketika Panglima Pelayan Dalam itu mendengar laporan petugas-petugas sandinya, maka ia pun mulai tenang dan dapat beristirahat dengan tanpa dibayangi oleh kecurigaan. Ia menganggap bahwa Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat apa-apa di Singasari meskipun anggapan itu belum dapat diyakininya, karena masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi.

“Ada dua sebab, kenapa tidak ada tindakan apapun yang dilakukan oleh Mahisa Agni.” berkata Pelayan Dalam itu kepada pengawal kepercayaannya. “Mahisa Agni tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, atau Mahisa Agni tidak lagi mempunyai pengaruh yang luas di kalangan para prajurit Singasari di Kediri.”

Pengawal kepercayaan Pelayan Dalam itu mengiakannya saja.

Ketika matahari menjadi semakin condong ke Barat dan kemudian langit menjadi merah, para Senapati pun mulai berdatangan ke halaman istana Mahisa Agni. Mereka duduk di atas tikar pandan di pendapa. Sedang di sudut pendapa di hadapan mereka terdapat batu-batu berukir yang beralaskan kulit kijang berwarna coklat kemerah-merahan.

Ketika para Senapati dan pimpinan para prajurit Singasari dan beberapa orang pimpinan pasukan keamanan Kediri telah lengkap di pendapa, maka Panglima Pelayan Dalam yang mendapat limpahan kekuasaan Maharaja Singasari, dengan pertanda panji-panji dan tunggul kerajaan itupun keluar dari pintu tengah diiringi oleh Mahisa Agni dan pengawal-pengawal kepercayaannya serta tanda-tanda kebesaran itu.

Beberapa orang Senapati menundukkan kepala ketika terpandang oleh mereka panji-panji dan tunggul kerajaan itu. Ada semacam ketidak seimbangan di dalam tanggapan mereka. Mereka hormat kepada panji-panji dan tunggul Kerajaan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian terhadap Panglima yang kini mendapat limpahan kekuasaan dengan pertanda panji-panji dan tunggul itu.

Meskipun demikian para Senapati itu tetap duduk tenang sambil menundukkan kepalanya. Mereka mencoba untuk menenteramkan hati dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Panglima itu. Namun sebenarnya mereka telah membawa bekal di dalam hati, bahwa ada sesuatu yang tidak benar di dalam keterangan yang akan dikatakan oleh Panglima itu.

Tetapi para Senapati yang dekat dengan Mahisa Agni telah berpesan kepada mereka, jangan tunjukkan sikap yang dapat menimbulkan persoalan yang tidak dikehendaki. Jika mereka benar-benar seorang yang setia kepada Singasari, maka mereka harus dapat mementingkan persoalan Singasari di atas segala macam persoalan.

“Jika ternyata bahwa siapapun akan merugikan Singasari maka barulah kita akan berbuat sesuatu. Termasuk terhadap Tohjaya.”

Sebenarnya para Senapati tidak dapat mengerti pendirian Mahisa Agni, dan sebagian terbesar dari mereka mengangap bahwa sikap itu adalah sikap yang lemah sekali. Tetapi mereka masih dicengkam oleh pengaruh wibawa Mahisa Agni yang besar atas mereka.

“Tuanku Mahisa Agni tentu mempunyai perhitungan yang jauh lebih luas dari perhitungan kita yang sekedar menilai setiap keadaan berdasarkan tajamnya pedang.” berkata seorang Senapati kepada kawannya.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahanan tajamnya pedang itu tidak memotong leher kita sebelum kita menyadari apa yang telah terjadi sebenarnya.”

Keduanyapun terdiam. Dan kini mereka dihadapkan kepada seorang Panglima yang baru saja menjabat kedudukannya. Karena mereka adalah prajurit-prajurit Singasari, maka sebagian dari prajurit Singasari yang ada di Kediri telah mengetahui siapakah Panglima itu, dan sampai berapa jauh kemampuannya memegang pimpinan dan di dalam olah kanuragan.

Setelah memandangi para Senapati yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu, maka Panglima yang mendapat limpahan wewenang Maharaja Singasari itu mulai membuka pembicaraan. Disampaikannya salam sejahtera dari Maharaja Singasari kepada mereka. Mudah-mudahan merekapun selamat sejahtera.

Para Senapati masih tetap menundukkan kepalanya.

Sejenak kemudian maka mulailah Panglima itu memberikan keterangan tentang keadaan istana Singasari. Diberinya beberapa kata pengantar secukupnya untuk memberikan arah berpikir bagi para Senapati itu.

“Kami, para pemimpin yang ada di sekitar Tuanku Anusapati sudah berusaha untuk mengelakkan hal yang akan terjadi. Beberapa kali kami telah memberikan peringatan, agar sikap tuanku Anusapati dapat berubah sedikit demi sedikit, sehingga sakit hati yang semakin lama semakin bertimbun di hati rakyat itu dapat dikurangi.” Panglima itu berhenti sejenak, lalu, “namun agaknya tuanku Anusapati tidak menghiraukannya. Untunglah bahwa tuanku Tohjaya bersikap baik terhadap rakyat, bahkan ia sempat memberikan tempat hiburan yang mapan di halaman bangsalnya sendiri. Dengan sikap itu, maka rakyat menjadi segan untuk berbuat sesuatu terhadap tuanku Anusapati, justru karena mereka memandang kecintaan tuanku Tohjaya terhadap mereka. Tetapi tuanku Anusapati masih saja membuat banyak kesalahan. Sebagai seorang Maharaja yang masih cukup muda, maka ia terlampau banyak menaruh minat kepada perempuan. Dan yang parah, kadang-kadang perempuan-perempuan yang dikehendakinya itu adalah perempuan-perempuan yang sudah bersuami.”

Pendapa itu dicengkam oleh suasana yang aneh. Tetapi para Senapati itu pun masih tetap diam di tempatnya.

Panglima Pelayan Dalam yang sedang memberikan keterangan tentang keadaan di Singasari itu mencoba mengamati tanggapan dari kata-katanya. Tetapi para Senapati di Kediri itu menundukkan kepala sehingga kesan yang tersirat di wajah mereka tidak segera dapat dilihatnya.

“Akhirnya.” Panglima itu meneruskan, “terjadilah peristiwa yang menyedihkan itu. Semula yang terjadi adalah pertentangan kecil. Tidak seorang pun tahu dengan pasti sebab-sebabnya. Tetapi yang terjadi, Panglima Pelayan Dalam itu terbunuh. Tentu saja dengan licik. Kemarahan para prajurit telah menyebabkan orang yang menyebut dirinya Kuda Sempana itu mati. Tetapi kerusuhan tidak berhenti. Tanpa dapat dicegah lagi, rakyat yang sudah lama membenci tuanku Anusapati seolah-olah mendapat kesempatan. Maka terbunuhlah tuanku Anusapati. Untunglah tuanku Tohjaya ada di tempat itu, sehingga atas pengaruhnya maka kerusuhan yang lebih besar dapat dicegah.”

Terasa gejolak di setiap hati para Senapati yang ada di pendapa itu. Namun seperti pesan Mahisa Agni, mereka harus dapat menahan perasaan.

Seorang Senapati muda hampir pingsan justru karena ia menahan hati dan berusaha untuk tetap diam sambil mendengarkan keterangan yang bagaikan menyobek jantungnya.

Sejenak kemudian Panglima itu meneruskan, “Kalian kini berada di Kediri, agak jauh dari pusat pemerintahan. Tentu kalian tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Kalian tentu tidak dapat mengerti, kenapa rakyat yang marah itu tidak dapat dikuasai dan tidak dapat dicegah lagi membunuh Maharaja Singasari yang Agung. Tetapi sebaiknya kalian menyadari, bahwa kemarahan, kekecewaan dan ketidak pastian yang tertahan, pada suatu saat akan dapat meledak. Ledakan itu tidak mengingat lagi sasaran, akibat dan apapun yang akan terjadi.” Panglima itu berhenti sejenak, lalu, “sekali lagi aku katakan, hanya wibawa tuanku Tohjaya sajalah yang dapat menghentikan semuanya itu.”

Para Senapati itu semakin menundukkan kepalanya. Bukan karena mereka melihat kebenaran di dalam keterangan itu, namun justru karena mereka berusaha menyembunyikan perasaan yang tersirat di wajah mereka itu.

Karena Panglima itu sama sekali tidak dapat menjajagi tanggapan para Senapati yang mendengarkannya, maka ia menjadi agak ragu-ragu. Namun apabila disadarinya bahwa disisinya ada panji-panji dan tunggul kerajaan, maka hatinya menjadi kembang, dan mulailah ia berkata lagi dengan tegas. “Kalian harus menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Tuanku Tohjaya untuk sementara memegang pimpinan kerajaan. Tidak ada orang kuat yang lain yang pantas duduk di atas Singgasana Singasari selain tuanku Tohjaya itu.”

Beberapa orang Senapati hampir bersamaan mengangkat wajahnya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin mereka tanyakan. Tetapi tidak sepatah katapun yang terlontar dari mulut mereka ketika mereka melihat Mahisa Agni masih saja duduk dengan tenang, betapapun jantung di dadanya berdenyut semakin cepat.

“Nah.” berkata Panglima itu, “apakah ada yang ingin mendapatkan keterangan yang lain? Ketika kami baru saja datang di tempat ini, Mahisa Agni ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak aku jawab. Sekarang, aku persilahkan jika ada di antara kalian yang masih memerlukan penjelasan lebih banyak.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...