Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 13-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 13-03*

Karya.  : SH Mintardja

Keduanya pun kemudian bertempur dalam satu lingkaran arena. Keduanya mampu membentuk dinding perlawanan yang seakan-akan tidak akan tertembus meskipun usaha mereka untuk menyerang pun menjadi terbatas. Namun demikian, ternyata kedua anak-anak muda itu adalah anak-anak muda yang sangat berbahaya.

Untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur dengan sengitnya. Namun ternyata bahwa tiga orang yang sedang bertempur melawan dua orang anak-anak muda itu, sama sekali tidak mendapat kesempatan. Jangankan membunuhnya, sedang untuk menyentuh kulitnya pun mereka masih belum berhasil.

Dalam kegelapan hati, maka ketiga orang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, dengan senjata di tangan. Tetapi mereka masih tetap dalam kesulitan, apalagi ketika kedua anak-anak muda itu telah mencabut kerisnya.

“Senjata ini terlampau pendek.” desis yang muda.

“Apa yang akan kau pergunakan?” bertanya yang tua.

Yang muda tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia telah mengurai sebuah rantai berwarna putih berkilat-kilat dari bawah ikat pinggangnya sambil berlindung di belakang kakaknya yang herusaha menghalau setiap serangan.

“Baiklah.” berkata yang tua, “Pergunakan senjatamu, lalu setelah rantai itu terurai berikan kerismu kepadaku.”

Yang tua pun kemudian membawa dua bilah keris. Keris yang seolah-olah menjadi merah membara. Sedang yang muda telah mempergunakan sebuah rantai.

Dengan demikian, maka kedua anak-anak muda itu pun seakan-akan menjauhi yang satu dengan yang lain Namun dalam pada itu, keduanya masih tetap terikat dalam satu pasangan yang tidak terpisahkan.

Dengan rantai di tangannya, yang muda dari kedua bersaudara itu menjadi semakin lincah. Ujung rantainya berputaran dan kadang-kadang mematuk seperti kepala seekor ular.

“Gila.” teriak salah seorang dari ketiga lawannya.

Sementara perkelahian itu menjadi semakin seru, seperti yag dikatakan oleh kedua bersaudara itu, bahwa mereka telah menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Bahkan kemudian telah timbul keributan di antara mereka. Meskipun mereka tidak berani melerainya, namun beberapa orang yang memiliki sedikit keberanian, berusaha untuk mendekat dan di luar sadar, mereka telah membuat semacam lingkaran mengelilingi perkelahian itu, meskipun lingkaran itu terlampau luas.

“Apa yang terjadi.” desis salah seorang dari mereka.

“Kami tidak tahu.” jawab yang lain.

Dan tiba-tiba saja salah seorang berteriak, “He Ki Sanak Kenapa kalian berkelahi?”

Tiba-tiba saja yang muda di antara kedua anak Mahendra itu menyahut, “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka menyerang.”

“Persetan.” desis lawannya.

“Panggil prajurit.” teriak anak yang muda itu.

“Gila.” teriak lawannya pula. Bahkan kemudian, “Siapa yang berani memanggil prajurit, aku patahkan lehernya.”

“Jangan takut.” teriak yang muda pula, “Jika prajurit itu datang, ketiga orang ini akan ditangkap dan dihukum.”

Tetapi orang-orang itu masih juga termangu-mangu. Mereka bagaikan terpukau melihat perkelahian yang luar biasa, yang hampir tidak dapat mereka ketahui ujung dan pangkalnya.

Meskipun demikian, tetapi ada juga beberapa orang yang berpikir dengan baik. Agaknya memang lebih baik menyampaikan persoalan itu kepada mereka yang bertanggung jawab. Apalagi pada saat Singasari sedang berkabung.

Karena itulah, maka satu dua orang di antara mereka itu pun segera berlari-lari meninggalkan arena itu.

“Gila.” teriak salah seorang dari ketiga orang itu, “Siapa yang melaporkan kepada prajurit Singasari, akan aku cekik dan aku cincang di tengah jalan.”

Tetapi lawannya yang muda menyahut, “Bagaimana kau akan mencekik dan mencincang? Mereka sudah lari dan kau masih berada di sini bersamaku.”

“Gila.” kemarahan ketiga orang itu telah memuncak. Tetapi mereka tidak dapat memaksakan keadaan. Kedua anak-anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang tidak dapat ditembusnya betapapun mereka berusaha. Bahkan kemudian ketiga orang itu sudah bertempur dengan kasar dan liar.

Akhirnya ketiga orang itu harus mengakui, bahwa mereka memang tidak akan dapat membunuh kedua anak-anak muda itu. Mereka agaknya telah salah pilih. Kedua pemuda itu disangkanya tidak akan dapat berbuat apapun juga sehingga dengan mudahnya keduanya akan mereka bunuh dan mereka lemparkan kedepan para prajurit pengawal di pintu gerbang. Jika prajurit-prajurit itu ingin menangkap mereka bertiga, maka prajurit-prajurit itu pun akan mereka bunuh pula, karena ketiga orang itu menganggap dirinya mampu melawan lima bahkan sepuluh orang prajurit-prajurit kecil yang bertugas di pintu gerbang dalam keadaan damai dan tenang.

Tetapi ternyata bahwa terhadap kedua anak-anak muda itu pun mereka tidak sanggup berbuat lebih banyak daripada bertempur tanpa akhir.

Kenyataan yang tidak mereka ingkari itu gagaknya telah mendorong orang tertua di antara mereka untuk mengambil sikap. Jika benar-benar beberapa orang prajurit datang membantu kedua anak-anak muda itu, keadaannya tentu akan berbeda daripada mereka harus melawan sepuluh orang prajurit-prajurit dungu.

Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar isyarat dari mulutnya. Isyarat yang hanya dapat dimengerti oleh mereka bertiga. Tetapi yang maksudnya dapat diduga, bahwa mereka akan segera menarik diri dari arena.

Ternyata dugaan itu benar. Ketiganya pun tiba-tiba segera meloncat urut dan dengan serta merta meninggalkan arena perkelahian menerobos lingkaran orang-orang yang melihat perkelahian itu dari jarak yang agak jauh.

Yang muda dari kedua bersaudara itu akan mengejarnya. Tetapi kakaknya menahannya. Katanya, “Sudahlah. Kita tidak tahu siapakah yang berdiri di belakang mereka. Kita akan menyerahkan kepada yang berkuajiban, agar persoalan ini dapat diselesaikan. Setidak-tidaknya peristiwa ini dapat menjadi isyarat bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan oleh kekuasaan yang ada di Singasari sekarang ini.”

Dalam pada itu, orang yang semula berdiri melingkari arena meskipun pada jarak yang agak jauh, tiba-tiba telah berpencaran. Mereka berlari-lari menyibak, memberikan jalan kepada tiga orang yang berlari-larian sambil membawa senjata yang teracu.

“Tidak seorang pun yang berani menahan mereka.” desis yang muda dari kedua orang bersaudara itu.

“Sudah barang tentu. Mereka sudah melihat kemampuan ketiga orang itu.” jawab yang tua.

Sejenak keduanya termangu-mangu melihat beberapa orang yang menyibak dan kemudian berdiri mematung memandang tiga orang yang berlari semakin jauh itu.

“Kakang.” bertanya yang muda, “Benarkah tiga orang itu mampu melawan prajurit-prajurit Singasari?”

“Mungkin.”

“Apakah prajurit-prajurit Singasari itu terlampau lemah bagi mereka? Jika mereka gentar kepada prajurit-prajurit yang bertugas, mereka tidak akan berani berbuat demikian di dalam kota ini Dan bukankah mula-mula mereka sudah berkata bahwa mereka akan membunuh prajurit-prajurit yang mendekat ketika kita mengatakan bahwa akan ada prajurit-prajurit yang tertarik kepada perkelahian ini?”

Yang tua menarik nafas dalam-dalam. Ia masih berdiri ditempanya sambil membawa dua bilah keris.

“Ini kerismu.” katanya sambil menyerahkan keris itu. Yang muda itu pun segera menerima kerisnya dan menyarungkannya setelah ia melingkarkan rantainya kembali di bawah ikat pinggangnya.

“Apakah kita akan kembali ke istana sekarang?” bertanya yang muda.

Kakaknya tidak menjawab. Ia berdiri seolah-olah membeku memandangi orang-orang yang masih berada di tempatnya masing-masing. Orang-orang yang memandang kedua anak muda itu dengan ragua pula.

Namun sejenak kemudian, terdengar derap beberapa ekor kuda mendekat. Sejenak kemudian mereka pun melihat sekelompok prajurit berkuda, mendatangi arena perkelahian yang sudah menjadi beku itu.

Orang-orang yang sudah menyibak pada saat ketiga orang yang berkelahi itu berlari, semakin menyibak pula memberikan jalan kepada sekelompok prajurit berkuda yang lewat.

Beberapa langkah dari kedua anak-anak muda itu pun prajurit-prajurit itu berhenti. Sejenak mereka memandang kedua anak-anak muda itu. Baru kemudian pemimpin dari sekelompok prajurit itu bertanya, “Kaukah yang berkelahi?”

“Ya.” jawab yang tua, “Kami tiba-tiba saja diserang oleh orang-orang yang tidak kami kenal.”
Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Pemimpin mereka pun meloncat turun sambil berkata, “Aneh. Apakah kau benar-benar tidak kenal mereka itu?”

“Ya. Baru kali ini aku bertemu dengan mereka bertiga.”

“Jadi mereka bertiga?”

“Ya.”

“Berkatalah sebenarnya, barangkali kau dan mereka bertiga sudah saling mendendam, atau saling bermusuhan sejak lama. Kemudian kalian bertemu dalam suasana yang seharusnya tenang karena kita bersama-sama sedang berkabung.”

“Kami berdua sama sekali tidak mengenal mereka.”

Prajurit-prajurit yang lain pun kemudian berloncatan turun pula. Mereka tetap berada di tempatnya. Namun nampak pada wajah mereka, bahwa mereka pun tidak dapat mempercayai kata-kata kedua anak-anak muda itu.

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Kami tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Seandainya kalian sudah saling mendendam dan bermusuhan sejak lama, tetapi kalian memang tidak bersalah, kami tidak akan berbuat apa-apa. Namun dengan demikian keteranganmu akan mempermudah kami, sikap apakah yang harus kami ambil.”

Kedua anak-anak muda itu menjadi bingung. Yang muda dari keduanya, yang agaknya memang lebih banyak berbicara itu pun kemudian berkata, “Sebenarnya memang aneh. Kami pun merasa aneh bahwa tiba-tiba saja kami diserang oleh orang-orang yang tidak kami kenal. Jika sekiranya kami mengenalnya, tentu kami akan dengan senang hati menyebutnya agar mereka ditangkap. Apakah keberatan kami mengatakan yang sebenarnya?”

“Banyak sekali kemungkinan yang dapat memaksa kalian untuk berbohong. Mungkin kalian termasuk orang-orang yang memang bernasib buruk karena kalian terlibat dalam tindakan yang melanggar ketentuan pemerintah Singasari. Tetapi ketiga orang itu berhasil meloloskan diri.”

“Jadi, maksud tuan, kami telah merampok mereka di tengah kota ini?”

“Bukan sejauh itu. Tetapi mungkin serupa itu.” jawab pemimpin prajurit itu, “Atau tindakan lain yang melibatkan kalian dalam pelanggaran sehingga kalian tidak dapat berterus terang, karena jika orang-orang itu tertangkap, kalian akan tersangkut juga.”

“Gila.” geram yang muda, “Kamilah yang telah diserang. Mungkin mereka memang akan merampok kami meskipun kami tidak membawa apapun juga.”

“Anak-anak muda. Banyak keterangan yang dapat kau berikan. Tetapi untuk pengusutan selanjutnya, kalian berdua terpaksa kami tahan. Tidak ada jalan lain yang dapat kami tempuh. Jika ternyata kalian tidak bersalah, maka kalian akan segera kami bebaskan.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian yang tua berkata lebih sareh, “Tuan. Kami adalah orang-orang yang memang kurang beruntung. Kami telah mengalami sesuatu yang tidak pernah kami duga sebelumnya, bahwa di tengah-tengah kota seperti ini kami harus berkelahi. Apalagi kemudian justru kamilah yang akan ditangkap setelah penyerang-penyerang kami lari meninggalkan kami. Tuan, jika orang-orang itu tidak merasa bersalah, mereka tidak akan lari tunggang langgang ketika tuan datang kemari.”

“Bukan aku tidak mempercayai keteranganmu. Tetapi baiklah kalian ikut bersama kami. Kalian akan didengar segala keterangan tentang diri kalian dan tentang orang-orang yang kau katakan lari itu.”

“Aku sama sekali tidak dapat mengatakan apapun tentang mereka, kecuali bahwa kami telah mereka serang tanpa sebab.”

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Jangan menolak. Kami mempunyai wewenang untuk melakukannya.”

“Tetapi itu melanggar keadilan. Kami merasa diperlakukan tidak semestinya di sini.” bantah yang muda. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, yang tua telah menggamitnya dan berkata, “Tuan. Sebaiknya tuan percaya saja kepada keterangan kami. Kami tidak akan ingkar untuk memberikan keterangan. Kemana kami harus pergi, kami akan pergi. Kepada siapa kami harus menghadap, kami akan menghadap. Tetapi jangan menangkap kami seperti menangkap dua orang penjahat yang tersesat ke dalam kota. Barangkali tuan dapat bertanya kepada orang-orang yang masih ada di sekitar tempat ini, dan memandang kami dengan penuh pertanyaan itu. Apakah yang telah mereka lihat sebenarnya.”

“Jangan membantah.” pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja bersikap lebih keras, “Kami menjalankan tugas kami.”

“Kami adalah orang-orang yang dilindungi oleh ketentuan hukum.” sahut yang muda, “Tuan tidak dapat memperlakukan kami seperti itu. Lebih baik tuan memerintahkan kepada kami, kemana kami harus pergi. Dan seperti yang dikatakan oleh kakakku, kepada siapa kami harus menghadap.”

Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah kalian dapat kami percaya?”

“Jika pada saatnya kami tidak menghadap, tuan dapat datang menangkap kami dan memenggal kepala kami.”

“Jangan main-main seperti kanaka. Kemana kami harus menangkap kalian?” ia berhenti sejenak, lalu, “Sebaiknya, marilah, jangan membantah. Kau dapat menyebut seribu macam nama tempat. Tetapi kami belum pernah mengenal kalian di sini. Apakah kalian orang-orang Singasari?”

“Kami memang orang-orang Singasari, tetapi kami bukan orang dari kota raja ini.”

Para prajurit itu tiba-tiba melangkah maju. Sedang pemimpin nya berkata, “Jika kalian masih saja banyak bicara, kami akan menangkap kalian dengan kekerasan. Barangkali kau dapat berkelahi melawan tiga orang dan memaksa mereka lari. Tetapi kalian tidak akan dapat berbuat demikian.”

Darah kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya akan mendidih. Tetapi yang tua masih dapat mengendalikan dirinya, sedang yang muda berdesis, “Tiga orang itu mengatakan, bahwa mereka tidak takut terhadap prajurit-prajurit Singasari, apakah kita akan takut kepada mereka.”

“Tetapi mereka mempunyai wewenang untuk melakukan sesuatu tindakan.”

“Tidak tanpa sebab.” sahut yang muda, “Kami tidak bersalah.”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Sedang pemimpin prajurit yang akan menangkapnya telah berkata pula, “Menyerahlah. Kalian harus memberikan senjata kalian.”

“Kami tidak membawa senjata.”

“Keris itu.”

“Ah.” yang tua menjawab, “Ini keris pusaka, pemberian ayah. Aku tidak dapat memberikan kepada orang lain.”

“Kalian berkeras.”

Yang muda menjadi tidak sabar lagi. Dengan matanya ia menghitung jumlah prajurit berkuda itu.

“Hanya enam orang.” desis yang muda.

Yang tua menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya keenam pra jurit itu bukan prajurit pilihan. Mereka petugas yang setiap hari mengawasi keadaan dan ketenangan kota raja. Mereka agaknya bukan prajurit-prajurit pengawal, atau prajurit yang biasa berada di medan-medan pertempuran.

Sejenak anak-anak muda itu termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit itu mendesaknya lagi, “Serahkan kerismu. Atau kami akan melakukan kekerasan.”

“Tuan harus berpikir sebaik-baiknya. Tuan adalah petugas-petugas yang dapat menimbang baik dan buruk, bukan sekedar pelaksana tanpa pertimbangan apapun juga.”

“Persetan.” prajurit-prajurit itu menjadi marah. Mereka benai benar telah kehilangan kesabaran.

Orang-orang yang menyaksikan dalam lingkaran yang mengelilingi perbantahan itu menjadi termangu-mangu. Ada di antara mereka yang menyesalkan sikap anak-anak muda yang berani itu. Tetapi ada pula yang kecewa melihat anak-anak yang tidak bersalah itu harus ditangkap.

Seorang yang sudah berambut putih, tidak dapat membiarkan peristiwa yang tidak dikehendaki terjadi. Karena itu maka ia pun melangkah maju mendekati kedua anak-anak muda itu sambil berkata, “Angger, sebaiknya angger tidak membantah. Meskipun angger tidak bersalah, tetapi sebaiknya angger mengikutinya saja.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu, namun, “Apakah itu adil kakek. Aku bukan orang kota raja ini. Tetapi aku tidak mau diperlakukan tidak adil seperti ini.”

“Soalnya bukan adil atau tidak adil. Tetapi kalian wajib mentaatinya agar persoalan ini segera dapat dijernihkan. Bukan sebaliknya bahkan menjadi semakin rumit.”

“Sudah aku katakan.” jawab yang muda, “Aku akan pergi kemana aku harus pergi. Aku akan menghadap kepada siapa aku harus menghadap. Tetapi tidak ditangkap seperti penjahat.”

“Kalian tidak akan ditangkap seperti penjahat. Tetapi kalian akan diajak bersama-sama pergi ketempat mereka bertugas.”

Ketika yang tua sedang berpikir-pikir, yang muda berkata, “Tidak. Kami tidak akan pergi bersama-sama. Kami akan pergi kepada ayah kami lebih dahulu, baru kami akan menghadap kemana kami harus menghadap.”

“Jangan begitu anak muda.” berkata orang itu itu, “Biarlah nanti ayahmu diberitahu. Di manakah ayahmu sekarang? Di rumah atau di kota ini.”

“Ayah juga berada di kota ini.”

“Nah, sebaiknya kalian pergi saja mengikutinya. Bukankah saat ini kota dan seluruh Singasari sedang berkabung?”

“Jangan korbankan kami.” yang muda tidak sabar lagi, “Kami tetap pada pendirian kami.”

“Persetan.” pemimpin prajurit itu marah pula, “Kami akan menangkap kalian dengan kekerasan. Jika semula kami akan membawa kalian dengan baik, tetapi karena kalian melawan, maka kalian akan kami bawa dengan tangan terikat.”

“Tidak.” Yang muda menggeram, “Kami mempunyai harga diri. Dan kami tidak mau rasa keadilan kami tersinggung.”

“O, anak-anak nakal.” desis orang tua, “Mungkin peraturan di sini agak lebih tertib dari peraturan yang berlaku di padukuhanmu. Anak-anak, jangan membantah lagi ngger.”

“Aku tetap tidak mau diperlakukan seperti itu.”

“Itu tidak apa-apa. Orang yang melihat pun tidak akan segera mempunyai prasangka buruk terhadap kalian.”

“Kami tidak akan pergi.”

“Pergilah.” berkata pemimpin prajurit itu kepada orang tua yang mencoba meredakan kekerasan hati kedua anak-anak muda itu, “Biarlah aku mengurusnya.”

Tanpa diperintahkan lagi, maka prajurit-prajurit itu menyerahkan kendali kudanya kepada kawan-kawannya, sehingga empat orang di antara mereka melangkah maju di sebelah pemimpinnya.

“Tangkap mereka.” berkata pemimpin prajurit itu. Keempat prajurit itu pun segera melangkah mendekati kedua anak yang merasa dirinya tidak bersalah.

“Bukan maksud kami melawan prajurit-prajurit Singasari.” berkata yang tua, “Tetapi kami menuntut diperlakukan dengan adil.”

Keempat prajurit Singasari itu pun segera mengambil tempat. Berlima dengan pimpinan kelompok kecil itu, mereka telah mengepung kedua anak-anak muda yang berdiri termangu-mangu. Tetapi karena para prajurit itu agaknya benar-benar akan bersikap kasar, maka seperti pada saat mereka menghadapi ketiga orang yang tibaa saja akan membunuhnya, mereka pun segera berdiri beradu punggung.

“Anak dungu.” berkata pemimpin prajurit itu, “Jika kalian benar-benar menghendaki sikap kasar, kami akan bersikap kasar. Tetapi jika terjadi sesuatu dengan kalian, itu adalah salah kalian sendiri. Cobalah sebut namamu, agar jika terjadi sesuatu, kalian sudah dikenal nama dan barangkali tempat tinggalmu.”

Kedua anak-anak muda itu tidak menyahut.

“Cepat, sebut namamu.”

Keduanya masih ragu-ragu. Tetapi tiba-tiba yang tua berkata, “Memang ada baiknya. Jika aku mati di sini karena aku ingin diperlakukan adil, sebut namaku Mahisa Murti. Dan ini adalah adikku, Mahisa Pukat.”

“Hem, nama yang sangat baik. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi tingkah laku kalian benar-benar tingkah laku yang tercela. Dari sikap kalian aku dapat mengambil kesimpulan, bahwa kalianlah yang telah membuat keributan.”

“Jika kami membuat keributan, kami tidak akan tinggal di tempat kami, ketika tuan-tuan datang.” yang muda menjawab, “Tetapi ketiga orang itulah yang lari tunggang langgang ketika sekelompok prajurit berkuda datang ketempat ini.”

“Mereka tidak tahu siapakah yang datang. Tetapi agaknya mereka sekedar merasa mendapat kesempatan untuk lari dan agaknya kalian tidak sempat untuk melenyapkan diri karena kami tiba-tiba saja sudah ada di hadapan kalian.”

Yang muda menggeram. Kemarahannya sudah tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga ia pun berteriak, “Tangkaplah kami jika kalian memang ingin bertindak kasar dan tergesa-gesa.”

Tidak ada jawaban keempat prajurit dan pemimpinnya itu pun melangkah semakin mendekati kedua orang itu dari arah yang berbeda-beda. Tetapi mereka sama sekali tidak menarik senjata mereka dari sarungnya.

Kedua anak-anak muda itu pun menjadi ragu-ragu. Jika prajurit-prajurit itu menarik pedang mereka, maka anak-anak muda itu pun akan menarik senjata mereka pula. Tetapi prajurit-prajurit itu agaknya akan menangkap mereka dengan tangan.

Dalam keadaan yang semakin tegang itu, tiba-tiba terdengar seekor kuda berderap dengan lajunya. Namun ketegangan dan kerumunan orang-orang yang melingkari kedua orang yang akan ditangkap itu telah menarik perhatiannya.

Namun sebelum terjadi sesuatu dengan kedua anak-anak muda itu, terdengar orang yang berada di punggung kuda itu memanggil, “Mahisa Murti, he Mahisa Pukat. Apakah yang terjadi?”

Semua orang berpaling kepada penunggang kuda itu yang dengan tergesa-gesa meloncat turun.

“Paman Witantra.” teriak Mahisa Pukat, “Nah, cobalah paman mengadili sikap prajurit-prajurit ini.”

Prajurit-prajurit itu pun termangu-mangu sejenak. Mereka mengenal Witantra sebagai salah seorang yang sangat disegani, bukan saja oleh setiap prajurit Singasari, tetapi juga oleh Maharaja dan Ratu Angabhaya, karena kedudukannya, dan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya dan jarang ada duanya. Witantra memiliki nama yang hampir sejajar dengan Mahisa Agni, Hanya karena Mahisa Agni adalah saudara laki-laki tuan puteri Ken Dedes, maka kedudukan Mahisa Agni nampaknya agak lebih tinggi dari Witantra.

Karena itu prajurit itu pun tercenung beberapa saat di tempatnya.

Witantra berjalan mendekati kedua anak-anak muda itu sambil menuntun kudanya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya sekali lagi, “Apakah yang terjadi?”

Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi. la pun segera mengatakan apa yang dialaminya bersama kakaknya Mahisa Murti.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Di pandanginya pemimpin prajurit yang akan menangkap kedua anak-anak muda itu. Kemudian ia pun bertanya, “Kaukah yang memimpin prajurit-prajurit ini.”

Pemimpin prajurit itu mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Panji Pati-Pati.”

“Benarkah yang dikatakan oleh anak itu?”

“Kami masih belum bertanya selengkapnya.” jawabnya.

Dan pemimpin prajurit itu pun menceriterakan pula apa yang akan dilakukannya.

Witantra terdiam sejenak, la memandang kedua anak-anak muda itu berganti-ganti dengan pemimpin prajurit yang akan menangkapnya.

Prajurit-prajurit itu pun menjadi berdebar-debar. Witantra dapat berbuat apa saja atas mereka. Namun demikian, prajurit-prajurit itu bertanya di dalam hati, ada hubungan apakah antara Witantra dan kedua anak-anak muda itu?

Agaknya pertanyaan itu dapat dirasakan oleh Witantra meskipun tidak diucapkan oleh salah seorang dari mereka. Karena itu, maka Witantra pun berkata, “Kedua anak-anak itu adalah kemenakanku. Mereka adalah anak Mahendra, saudara mudaku. Kalian pun tentu sudah mengetahui, siapakah Mahendra itu.”

“O.” pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Sepercik keterangan telah menyentuh dadanya.

Namun ia menjadi bingung ketika Witantra pun kemudian berkata, “Tetapi jika menurut kebijaksanaanmu, kau akan menangkap kedua anak-anak itu, aku tidak akan merintanginya.”

Semua orang yang mendengar kata-kata Witantra itu tidak segera mengerti maksudnya. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa Witantra benar-benar menjadi marah kepada prajurit-prajurit yang akan menangkap kemanakannya itu.

“Jika Ki Panji Pati-Pati itu marah, maka kami akan di sapunya sampai bersih.” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hatinya, “Dan tidak seorang pun akan dapat menghalanginya. Apalagi hanya sekelompok kecil prajurit. Segelar sepapan pun akan gentar melihat kemarahannya.”

Agaknya Witantra melihat keragu-raguan itu. Maka ia pun segera mengulangi, “Aku hanya secara kebetulan saja lewat Aku tidak akan mencampuri persoalan ini. Jika kalian sudah mengambil sikap terhadap kedua anak-anak muda itu, lakukanlah.”

“Paman.” berkata Mahisa Murti, “Aku tidak mengerti, apakah yang akan paman lakukan sekarang ini.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya lewat. Dan karena itu, aku akan meneruskan perjalanan.”

“Tetapi prajurit-prajurit itu?”

“Mereka akan menangkap kalian.”

“Aku tidak mau.” teriak Mahisa Pukat, “Itu tidak adil. Paman harus meyakinkan mereka.”

“Kau tidak boleh melawan. Kau dapat memberikan keterangan nanti.”

“Tetapi kami tidak bersalah.”

“Ya. Karena itu jangan cemas.”

“Tidak paman.” berkata Mahisa Murti, “Bagaimana pun juga aku tidak senang diperlakukan sebagai tawanan. Apalagi mereka akan merampas pusaka-pusaka yang diberikan ayah kepada kami. Kami akan mempertahankan kebebasan kami dan pusaka-pusaka kami.”

“Aku senang mendengarnya Murti.” sahut Witantra, “Tetapi jika kau berbuat demikian terhadap prajurit-prajurit yang sedang bertugas adalah kurang tepat. Kau harus bersedia melakukan perintahnya. Kemudian kau akan didengar keteranganmu. Tidak akan berganti hari kau sudah bebas kembali dan pusaka-pusakamu akan kembali kepadamu.” Witantra berhenti sejenak, lalu berpaling kepada pemimpin prajurit itu, “Bukan kah begitu? Bukankah persoalannya akan selesai dalam waktu yang singkat?”

“Ya, ya Ki Panji.” pemimpin prajurit itu menjawab terbata-bata.

“Kalian akan diperlakukan dengan baik.” berkata Witantra seterusnya.

“Tetapi ayah tentu akan marah.”

“Ya. Ayahmu akan marah. Tetapi marah kepadamu berdua. Karena itu, tunduklah kepada perintahnya. Meskipun barangkali aku atau ayahmu atau pamanmu Mahisa Agni dapat minta kekhususan atas kalian berdua, tetapi itu tidak baik Meskipun kau anak Mahendra yang disegani oleh semua orang di Singasari, tetapi kau tidak dapat minta diperlakukan khusus.”

Kedua anak-anak muda itu tidak mengerti maksud Witantra, sehingga Mahisa Pukat masih berkata, “Mereka bertindak tergesa-gesa paman.”

“Patuhilah. Baru kemudian kalian memberikan penjelasan.”

“Bagaimana jika penjelasanku tidak didengar?”

Witantra berpaling kepada prajurit-prajurit itu. Katanya, “Tentu kalian akan mendengarkan penjelasan yang sebenarnya. Bukankah begitu?”

“Ya, ya Ki Panji Pati-Pati.”

“Nah kau dengar? Mereka tidak akan berbuat lain kecuali bersikap benar dan adil.”

Kedua anak-anak muda itu masih akan menjawab. Tetapi Witantra kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Aku akan meneruskan perjalanan. Aku ada sedikit keperluan. Jika kalian tidak kembali siang ini, ayahmu sudah mengetahui bahwa kau terlibat dalam persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi jangan cemas. Tidak akan ada apa-apa yang terjadi atas kalian jika sebenarnya memang demikian.” Sekali lagi Witantra berpaling kepada pemimpin prajurit itu dan berkata, “Lakukanlah tugasmu dengan baik, sesuai dengan garis ketentuan yang ada. Bukankah begitu?”

“Ya, ya Ki Panji.”

“Paman.” Mahisa Pukat masih akan berbicara. Tetapi Witantra memotongnya, “Aku tergesa-gesa.”

Sejenak kemudian kuda Witantra itu sudah berderap meninggalkan tempat itu, diikuti oleh tatapan berpuluh-puluh pandang mata yang kebingungan. Bukan saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi para prajurit dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi termangu-mangu pula.

Namun kemudian perlahan-perlahan tumbuh pengakuan dihati mereka, bahwa sikap Witantra itu adalah sikap yang paling bijaksana. Ia tidak mengajari kedua anak-anak, muda itu untuk berbuat salah di hari-hari mendatang. Kali ini mereka tidak bersalah. Tetapi jika melihat perlindungan yang mudah dari Witantra atas diri mereka, mungkin justru akan timbul akibat yang lain. Jika keduanya yang masih bersih, itu akan diracuni perlahan-lahan dengan sikap tinggi hati dan perasaan bebas dari setiap tuntutan meskipun bersalah, karena ayahnya, pamannya dan apalagi Mahisa Agni yang sangat berpengaruh di Singasari akan dapat dengan mudah melepaskannya dari tanggung jawab.

Tetapi para prajurit yang akan menangkapnya itu pun menjadi sangat canggung karenanya setelah mereka mengetahui kedudukan kedua anak-anak muda itu. Apalagi kemudian mereka pun mulai percaya, bahwa sebenarnya kedua anak-anak muda itu tidak bersalah sama sekali. Mereka telah berkata dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi.

Karena itu untuk beberapa saat pemimpin prajurit itu termangu-mangu. Ia tidak segera dapat mengambil sikap apa pun terhadap kedua anak-anak muda itu.

Adapun kedua anak-anak muda itu pun termangu-mangu pula. Mereka pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Menurut pamannya, kakak seperguruan ayahnya, mereka harus menurut semua perintah prajurit-prajurit itu.

Baru sejenak kemudian pemimpin prajurit itu dapat mengendalikan perasaannya. Ia telah menemukan kembali sikap keprajuritannya meskipun dengan cara yang agak berbeda.

Sambil menarik nafas, untuk mengatur susunan kata-katanya pemimpin prajurit itu mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sambit bertanya, “Bagaimana sikap kalian sekarang?”

Mahisa Murti menggigit bibirnya. Namun kemudian katanya, “Aku tidak dapat melanggar pesan paman Witantra.”

“Jadi kalian tidak akan melawan?”

“Tidak. Bukan karena aku takut. Tetapi agaknya memang harus demikian.”

“Ya. Kami pun tidak ingin menakuti-nakuti. Kami sekedar menjalankan tugas kami.”

“Tetapi hati-hatilah menyimpan pusaka-pusaka kami.” berkata Mahisa Pukat, “Pusaka-pusaka itu adalah pusaka pemberian ayah.”

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Yang kami perlukan adalah keterangan yang benar dan dapat kami percaya. Menilik sikap dan kata-kata kalian, apalagi kalian juga mengatakannya kepada paman kalian seperti yang kalian katakan kepada kami, maka kami sudah mempercayainya bahwa kalian tidak bersalah. Keyakinan itulah yang ingin kami dapat dari kalian. Jika kami membawa kalian berdua, adalah untuk memberikan kesaksian sehingga kami yakin bahwa yang kalian katakan itu benar. Karena itu, setelah kami kini meyakini kebenaran kata-katamu, bahwa kalian memang tidak bersalah, aku kira aku tidak memerlukan kalian berdua lagi saat ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Meteka menjadi bingung. Bingung karena sikap Witantra dan bingung oleh sikap pemimpin prajurit itu.

“Jelasnya, kalian tidak perlu lagi kami bawa. Tetapi setiap saat kalian kami perlukan, kami harap kalian tidak berkeberatan untuk datang.”

“Jadi kami boleh pergi?”

“Ya.” prajurit itu kemudian berkata bersugguh-sugguh, “Tetapi sadari. Bahwa yang terjadi tentu bukan hanya sekedar peristiwa yang kebetulan. Mungkin ada persoalan-persoalan yang akan menjadi berkepanjangan. Karena itu kalian harus berhati-hati. Dan bahkan Singasari harus berhati-hati. Agaknya masih ada orang-orang yang dengan sengaja menimbulkan kerusuhan.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Jika demikian kami akan kembali ke istana. Ayah berada di istana dalam rangka upacara penyelenggaraan jenazah tuan puteri Ken Dedes.”

“Sampaikan salam kami kepada ayah kalian. Kami tidak bermaksud mengganggu ketenangan kalian di sini.”

“Apakah dengan demikian berarti aku dapat kembali ke istana.”

“Silahkan. Tetapi hati-hatilah. Ketiga orang itu tidak akan menghentikan usahanya, justru setelah mereka mengetahui bahwa kalian adalah anak Mahendra.”

“Kenapa?”

“Kami tidak tahu pasti. Tetapi jika orang-orang itu adalah sisa-sisa pendukung Tohjaya, maka Mahendra termasuk salah seorang yang sangat dibencinya seperti juga Witantra dan Mahisa Agni.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami minta diri. Kami berdua akan kembali keistana.”

“ Silahkanlah.”

Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak segera beranjak dari tempatnya. Bahkan nampak keduanya menjadi bingung sehingga pemimpin prajurit itu bertanya, “Apakah masih ada sesuatu yang mengganggu?”

“Tidak. Tetapi kami menjadi bingung. Jalan manakah yang harus aku lalui menuju keistana?”

“O.” pemimpin itu tidak dapat menahan senyumnya, “Apakah kalian kehilangan arah?”

“Aku tentu akan dapat menemukannya karena kami tetap mengenal kiblat. Tetapi jalan yang paling dekat?”

“Berjalanlah melalui jalan ini. Tidak ada jalan lain. Ikuti sajalah. Jika jalan ini berbelok, ikut sajalah berbelok. Jangan menempuh jalan-jalan simpangnya. Jalan induk ini akan sampai ke alun-alun pungkuran.”

“Maksudmu halaman belakang istana?”

“Ya.”

“Terima kasih. Kami akan segera kembali. Ayah tentu sudah menunggunya. Jika paman Witantra tidak segera kembali, ayah akan menjadi sangat gelisah.”

Demikianlah kedua anak-anak muda itu pun kemudian berjalan tergesa-gesa mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemimpin prajurit itu. Mereka melalui deretan orang-orang yang menyibak dengan kepala tunduk.

Namun penyelesaian itu nampaknya memberi kepuasan kepada orang-orang yang menyaksikan persoalan itu sejak permulaan. Mereka menganggap bahwa kedua anak-anak muda itu adalah anak-anak muda yang jujur. Bukan maksudnya untuk menentang para prajurit. Tetapi bukan pula seharusnya mereka merasa terlindung oleh kedudukan ayah dan paman-pamannya.

Sejenak kemudian, maka kaki-kaki kuda prajurit-prajurit itu pun telah berderap di atas jalan-jalan kota. Namun satu hal yang menjadi perhatian mereka, tiga orang yang sengaja menumbuhkan kekacauan.

Hal itulah yang kemudian mereka sampaikan kepada pimpinan prajurit yang lebih tinggi. Yang terjadi itu tentu bukan sekedar usaha untuk membunuh anak Mahendra. Tetapi tentu jauh lebih besar lagi.

“Kita akan mempelajari persoalan ini.” berkata pemimpinnya, “Tetapi kita akan melaporkannya segera. Apalagi selama saat berkabung ini, penjagaan di seluruh kota harus ditingkatkan.”

Dengan demikian maka pasukan Singasari harus mengambil suatu sikap menghadapi peristiwa itu. Sikap yang harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Dan pemimpin sekelompok prajurit yang melihat peristiwa yang terjadi antara tiga orang tidak dikenal dengan kedua anaka Mahendra itu telah menyusun laporan selengkapnya.

Dalam pada itu, kedua anak-anak muda anak Mahendra itu pun telah berada di istana pula. Ketika ia menghadap ayahnya sudah duduk bersama Witantra.

“Kemarilah.” panggil Mahendra.

Sambil menundukkan kepalanya kedua anak-anak muda itu mendekat.

“Kalian cepat pulang? Apakah persoalan kalian sudah selesai?”

“Sudah, ayah.” jawab Mahisa Murti.

“Menurut pamanmu Wirantra, kalian akan ditahan oleh sekelompok prajurit.”

“Ya, ayah.”

“Dan kalian akan melawan?”

Kedua anak-anak muda itu tidak menjawab.

“Tetapi kenapa kalian begitu cepat pulang? Apakah kalian melarikan diri?”

“Tidak ayah. Kami memang diperkenankan pulang. Agaknya pemimpin prajurit itu telah mempercayai keterangan kami bahwa kami memang tidak bersalah.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Barangkali itulah keterangan yang benar. Jadi kalian dilepaskan bukan karena pamanmu Witnatra atau pamanmu Mahisa Agni atau karena aku sendiri. Mengertilah.”

“Ya, ayah.”

“Dan kalian harus mendengarkan nasehat yang sudah diberikan oleh pamanmu Witantra. Kalian tidak boleh melawan di dalam keadaan semacam itu.”

“Ya, ayah.”

“Sekarang berceriteralah apa yang sebenarnya telah terjadi sejelas-jelasnya.”

Kedua anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Ceritera itu sudah aku ka takan kepada pamanda Witantra.”

“Katakan sekali lagi, selengkapnya. Tetapi jangan berkepanjangan karena kami masih akan sibuk dengan tugas-tugas lain. “

Sekali lagi Mahisa Murti menceriterakan persoalannya kepada ayahnya, pamannya Witantra dan Mahisa Agni.

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Ceritera itu memang sangari menarik.

“Sekarang beristirahatlah.” berkata Mahendra kepada kedua anak-anaknya setelah mereka selesai berceritera, “Kalian tentu lelah setelah kalian mempertunjukkan setitik ilmu yang sebenarnya tidak berarti apa-apa bagi prajurit-prajurit Singasari. Untunglah belum cidera dan diseret kebarak setelah kalian bersikap melawan.”

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Ayah, tetapi ketiga orang yang menyerang kami itu berkata, bahwa mereka akan membunuh prajurit-prajurit yang berani mendekat. Apakah dengan demikian berarti bahwa ketiga orang itu memiliki ilmu yang tidak ternilai karena mereka dapat mengalahkan para prajurit Singasari yang pilih tanding.”

“Mungkin ketiga orang itu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.”

“Jadi bagaimana penilaian ayah tentang kami?”

“Maksudmu?”

“Ternyata ketiga orang itu tidak dapat membunuh kami yang hanya berdua.”

“He.” Mahendra membelalakkan matanya. Katanya, “Jangan salah menilai diri Pukat. Kau sangka bahwa karena mereka bertiga tidak dapat mengalahkan kalian berdua berarti bahwa kalian berdua lebih tangguh dari ketiga orang itu? Dan dengan demikian kau memiliki kemampuan yang berlipat ganda dari prajurit-prajurit Singasari?”

Witantra tidak dapat menahan senyumnya seperti juga Mahisa Agni. Tetapi mereka sama sekali tidak memperlihatkannya kepada kedua anak-anak itu.

Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Meskipun demiki an ia berkata, “Itu adalah urut-urutan jalan pikiranku ayah.”

Mahisa Murti menggamitnya, sehingga Mahisa Pukat pun kemudian terdiam.

“Pergilah kebelakang.” perintah Mahendra kemudian, “Kalian harus membersihkan diri dan beristirahat.”

“Baiklah ayah.” kedua anak-anak muda itu menjawab hampir berbareng.

Sepeninggal kedua anak-anak itu, Witantra dan Mahisa Agni tertawa pendek sambil bergeser mendekat. Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Nah, kau dengar sendiri jalan pikiran anak muda itu? Jangan marah. Jalan pikiran anakmu ternyata masuk akal.”

Mahendra pun tersenyum pula. Sebenarnya ia juga dapat mengerti jalan pikiran anaknya itu.

Namun dalam pada itu, ketiga orang itu pun kemudian terlibat dalam pembicaraan mengenai ketiga orang yang tidak dikenal itu. Yang menurut kedua anak-anaknya, dengan serta merta telah menyarangnya dan bahkan akan membunuhnya.

“Sebenarnya Singasari sudah mulai diliputi oleh suasana yang damai.” berkata Mahisa Agni, “Kepergian Ken Dedes untuk selamanya, umur kami yang menjadi semakin tua, yang pada suatu saat akan sampai pada titik terakhir, seharusnya tidak lagi diganggu oleh riak-riak kecil di wajah Singasari yang tenang.”

“Apakah sekedar riak-riak kecil?” bertanya Witantra.

“Itulah yang belum kita ketahui.” jawab Mahendra, “Tetapi aku kira bukan sekedar riak-riak kecil yang tidak berarti.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Setelah semuanya selesai, kita akan berbicara dengan para pemimpin Singasari yang sebenarnya.”

“Ya sebenarnya?”

“Ya bukankah kita bukan pemimpin-pemimpin yang sebenarnya dari Singasari?”

“Maksudmu tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Ya, dan sudah barang tentu pemimpin-pemimpin pemerintahan yang lain.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi menurut pendapatku, yang terjadi bukannya riak-riak kecil. Mungkin untuk beberapa saat, tidak akan nampak sesuatu yang dapat membahayakan ketenangan Singasari. Tetapi jika pada suatu saat terjadi ledakan-ledakan di mana-mana, maka tentu ledakan-ledakan itu memiliki hubungan dengan peristiwa yang nampaknya kecil ini.”

“Apakah kau tidak terlampau berprasangka?”

“Aku dipengaruhi oleh firasatku.” berkata Mahendra kemudian.

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Beberapa saat ia merenung saja. Namun ia pun sebenarnya memiliki pertimbangan yang serupa.

“Tetapi siapakah yang berada di belakang peristiwa ini sebenarnya.” tiba-tiba Witantra berkata perlahan-lahan, “Apakah tujuan mereka yang sebenarnya. Mungkin orang-orang itu dengan sengaja membuat Singasari kacau. Tetapi mungkin mereka sekedar ingin melepaskan dendamnya kepada Mahendra.”

“Tetapi menilik keterangan anak-anak itu, mula-mula orang-orang itu tidak tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak-anakku.”

“Jika demikian, maka mereka bertiga ingin membuat suasana menjadi keruh, justru pada saat Singasari berkabung.”

“Ya. Banyak yang dapat terjadi. Tetapi kita harus meyakinkannya, selain berusaha agar persoalan ini tidak mengeruhkan suasana di kota raja ini.”

“Biarlah kedua anak-anak itu tetap di halaman istana sampai saatnya kami kembali.”

“Tentu tidak menyenangkan bagi anak-anak itu. Mereka tentu ingin banyak melihat. Karena itu, biarlah mereka pergi bersama kita setelah semua tugas kita dalam penyelenggaraan jenazah ini selesai.”

“Tetapi selama kita sendiri sibuk?”

“Biarlah ia di bangsal ini.”

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat oleh ayahnya tidak diperkenankan pergi kemana-mana lagi jika hanya berdua saja. Mungkin ketiga orang yang bertempur melawan kedua anak-anak itu mendendam dan mereka akan datang dengan jumlah yang lebih besar atau orang-orang yang lebih kuat.

Sementara itu, pimpinan prajurit Singasari telah menerima laporan mengenai peristiwa itu dengan terperinci.

Pada umumnya mereka pun mempunyai kesimpulan, bahwa jika yang mengalami sergapan itu adalah anak-anak Mahendra, maka itu adalah kebetulan saja. Tujuan orang-orang itu tentu dengan sengaja ingin menimbulkan kekacauan di dalam kota yang sedang berkabung.

Karena itu, pemimpin tertinggi prajurit Singasari telah mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan pengawasan di pintu-pintu gerbang kota.

Setelah kedua putera Mahendra itu, mungkin ada sasaran lain. Mereka tentu kecewa karena mereka tidak berhasil membunuh kedua anak-anak itu. Mungkin karena akan melepaskan kekecewaan itu terhadap orang lain.

Perintah itu pun segera tersebar di seluruh kota. Tetapi para prajurit telah berusaha agar kesiagaan mereka itu tidak mempengaruhi ketenangan rakyat Singasari, sehingga karena itu, maka mereka menambah jumlah prajurit-prajurit yang bertugas dengan sangat berhati-hati.....

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...